Anda di halaman 1dari 17

AKUNTANSI CABANG

Perusahaan dalam melaksanakan usahanya semakin lama dapat


semakin berkembang sehingga kemungkinan untuk mebuka daerah
pemasaran yang baru semakin terbuka dan mendesak sehingga perlu
dilaksanakn. Akibat adanya perluasan daerah pemasaran ini akan
menimbulkan suatu masalah yaitu bagamana produk perusahaan dapat
sampai ketangan pembeli dengan cepat tanpa menimbulkan biaya angkut
yang bsanyak dan memakan waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah
tersebut, perusahaan dapat membentuk tempat-tempat penjualan pada
daerah-daerah atau kota-kota tertentu sehingga sarana untuk
memperluas daerah pemasaran dapat tercapai seperti apa yang
direncanakan.
Tempat tempat penjualan yang di bentuk tersebut dapat
berbentuk agen (Agency ) atau dapat berbentuk cabang (Branch) dari
perusahaan yang berkembang tersebut agen maupun cabang yang
dibentuk oleh pusat (dalam hal ini adalah perusahaan yang berkembang
tersebut) keduanya merupakan sarana untuk memperluas daerah
pemasaran dan menyalurkan produk perusahaan kepada pada pembeli
didaerahnya masing-masing. Meskipun agen dan cabang keduanya samasama merupakan suatu sarana,namun terdapat beberapa perbeadaan
pokok diantara keduanya yaitu dalam hal organisasi, pengelolaan
manajemen, dan pengelolaan akuntansinya.
Dalam hal organisasi maupun pengelolaan manajemen, agen
hanyalah merupakan tempat penjualan produk milik pusat dan agen tidak
perlu
dipisahkan
pengelolaan
manajemen
maupun
pencatatan
akuntansinya. Semua kebijakan dan catatan akuntasi dielola langsung
oleh pusat dan tugas agen hanya lah mencari pembeli yang selanjutnya
menghubungi pusat untuk mengirimkan sejumlah produk untuk pembeli
tersebut.
Sedangkan untuk
cabang,
pengelolaan manajemen
serta
pencatatan akuntansinya perlu diadakan pemisahan antara pusat dan
cabang sehinga dalam melaksanakan kebijakan yang ditentukan oleh
pusat, cabang mempunyai kebebasan untuk melaksanakan nya. Cabang
juga mempunyai wewenang untuk menjual produk sesuai dengan
keinginannya dan cabang diberi kebebasan pula untuk melakukan
pencatatan transaksi-transaksi sendiri. Sebagai pertanggung jawaban
cabang kepada pusat adalah cabang diwajibkan membuat laporan
keungan setiap periode tertentu yang dilaporkan kepada pusat.laporan
keungan cabang ini tidak disebarluaskan kepada pemegang saham atau
pun kepada umum, sebab laporan keuangan cabang ini hanya bersifat
intern yang khusus dilaporkan kepada pusat. Setelah menerima laporan

dari cabangnya selanjutnya pusat akan mengadakan konsolidasi untuk


menyusun laporan keunagan gabungan antara laporan keungan pusat
dengan laporan keungan cabang-cabangnya.
6.2. Akuntansi Untuk Pusat Dan Agen
Agen Adalah Suatu Perwakilan Yang Bekerja Sebagai Suatu Unit
Organisasi Penjualan Local Pada suatu daerah tertentu dibawah
pengawasan kantor pusat. agen tidak mengadakan pencatatan secara
komplit, tetapi pada umumnya agen cukup menyelenggarakan buku kas
untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran kas. penerimaan kas pada
suatu agen berasal dari hasil penjualan barang dagangan tetapi berasal
dari kantor pusat sebagai pengisian dana untuk modal kerja guna
membiayai operasi agen. pengeluaran kas pada suatu agen guna
membiayai operasi, biasanya dicatat dalam beberapa rangkap dan
tembusannya diberikan kepada kantor pusat.
Pengawasan dana yang diberikan kepada suatu agen, hamper sama
pelaksanaannya dengan sistem pengisian kas kecil (petty cash) yang
biasanya menggunakan sistem dana bersaldo tetap atau imprest fund
system.
Persediaan barang dagangan yang ada pada suatu agen, bukan
merupakan persediaan barang untuk dijual, tetapi hanya berupa sampel
(contoh/monster) saja. apabila terjadi pesanan dari pembeli, pesanan
tersebut diterima oleh again untuk dikirimkan langsung kekantor pusat
untuk dimintakan persetujuan. jika semua syarat sudah dipenuhi, kantor
pusat akan mengirimkan barang pesanan tersebut kepada pembeli
bersama-sama faktur penjualannya tanpa melalui agen. akan tetapi pada
hal-hal tertentu kantor pusat dapat dapat menyerahkan pembuatan faktur
kepada agen serta dapat pula menyerahkan pengawasan piutang serta
penagihannya kepada agen. semua biaya yang berhubungan dengan
agen, selain yang dikeluarkan dengan menggunakan modal kerja agen,
akan diganti oleh kantor pusat.
Untuk mencatat transaksi yang terjadi pada suatu agen digunakan
sistem saldo tetap, yaitu semua transaksi dicatat atas nama kantor pusat
sehingga tidak disediakan rekening tersendiri. hanya saja setiap transksi
yang berhubungan dengan agen diberikan tanda atau diberi nama agen
yang bersangkutan. semua transaksi akan dibukukan oleh kantor pusat.
Pembukuan transaksi-transaksi dengan agen oleh kantor pusat dapat
menggunakan dua metode pencatatan yaitu:
1.
Laba Atau Rugi Yang Diperoleh Dari Penjualan Melalui Agen Dicatat
Secara Terpisah, Dan
2.
Laba Atau Rugi Yang Diperoleh Dari Penjualan Mmelalui Agen Dicatat
Secara Tidak Terpisah.

Hubungan Kantor Pusat Dan Agen

Operasi (Usaha) Suatu Agen


A.
Beroperasi sebagai organisasi penjualan lokal di bawah petunjuk
kantor pusat
B.
Biaya operasi diperoleh berupa modal kerja dari kantor pusat.
Pengawasan modal kerja (kas agen) digunakan Imprest Fund System.
C.
Diserahkan pertanggung jawaban untuk operasi pengawasan piutang,
pembuatan faktur penjualan dan atau menagih piutang dagang.

Akuntansi Suatu Agen


Akuntansi di agen tidak diperlukan pembukuan lengkap, kegiatan
meliputi pengikhtisaran modal kerja yang diterima dan digunakan, serta
mencatatnya penjualan kepada langganan. Akuntansi suatu agen di
selenggarakan pada buku buku kantor pusat, dengan cara :
1.
Laba atau rugi aktivitas penjualan melalui tiap agen tidak ditentukan
secara terpisah. Cara ini menunjukkan bahwa seluruh transaksi penjualan
( rekening penjualan ) dan biaya -biaya ( rekening biaya ) yang terjadi di
tiap agen, dicatat dalam rekening pembukuan seperti halnya dengan
transaksi transaksi penjualan dan biaya reguler yang terjadi di kantor
pusat. Pada penutupan buku, saldo laba atau rugi menunjukan Catatan
hasil operasi kombinasi yaitu hasil operasi di tiap agen dan hasil operasi di
kantor pusat.
2.
Laba atau rugi aktivitas penjualan melalui tiap agen ditentukan
secara terpisah. Cara ini menunjukan bahwa diperlukan rekening
rekening khusus pembukuan
untuk agen, terutama
rekening
penghasilan
untuk mencatat
semua
transaksi
penjualan dan
rekening biaya untuk mencatat semua biaya yang terjadi pada agen.
Apabila kantor pusat mempunyai beberapa agen,
maka rekening
penghasilan dan rekening biaya diselenggarakan sbg rekening kontrol
( buku besar), sedangkan rekening penghasilan dan biaya untuk liap agen
diselenggarakan sbg rekening
rekening pembantu (tambahan). Pada
penutupan buku, saldo laba atau rugi menunjukan Catalan hasil operasi
tiap agen.

AKUNTANSI OPERASI KANTOR CABANG


PENGERTIAN AGEN DAN KANTOR CABANG PUSAT
Pembentukan unit penjualan yang menyalurkan dapat mengambil
bentuk sebagai agen atau pun sebagai cabang. Perbedaan antara kedua
bentuk ini didasarkan pada fungsinya dan pada kebebasannya
(independensi) dalam melaksanakan fungsi-fungsi. Organisasi penjualan
yang hanya mengambil pesanan untuk barang serta jasa, dan yang
beroperasi di bawah pengawasan langsung pejabat dari kantor pusat
disebut agen penjualan. Sedangkan organisasi penjualan, yang menjual
barang-barang dari persediaan yang diselenggarakan sendiri dan yang
bekerja sebagai kesauan usaha yang bebas disebut cabang
OPERASI AGEN PENJUALAN
Agen penjualan yang beroperasi semata-mata hanya sebagai
organisasi penjualan lokal di bawah pengawasan langsung kantor pusat,
pada umumnya tidak menyelenggarakan persediaan kecuali contoh dari
jenis produk yang ditawarkan untuk di jual. Contoh barang dagangan yang
ditawarkan sebagai promosi diberikan oleh kantor pusat. Agen penjualan
biasanya diberi dana kerja yang digunakan untuk membayar biaya yang
dapat dibayar dengan lebih mudah melalui agen penjual. Sistem sistem
seringkali digunakan untuk mengendalikan uang kas agen penjual.
Pesanan untuk barang dagangan yang diperoleh agen penjual
dikirimkan ke kantor pusat untuk di setujui. Jika harga jual dan syarat
kredit dapat diterima, maka kantor pusat mengisi pesanan ini dan
mengirimkan barangnya kepada pelanggan ybs. Beban operasi agen
penjual lainnya selain beban operasi yang dibayar oleh agen penjual dari
dana kerjanya dipenuhi oleh kantor pusat.

AKUNTANSI UNTUK AGEN PENJUAL


Agen penjual tidak membutuhkan penyelenggaraan seperangkat
buku yang lengkap. Cukup dengan penyelenggaraan ikhtisar penerimaan
dan pengeluaran dana kerja serta catatan penjualan kepada pelanggan.
Ikhtisar pengeluaran dana kerja yang disertai dengan bukti pendukung
dalam bentuk voucher yang dibayar dikirimkan ke kantor pusat. Apabila
manajer lokal dan atau tenaga penjual lokal memberi imbalan sesuai
dengan volume penjualan yang diselesaikan, maka catatan penjualan
mendukung informasi ini.

Apabila kantor pusat menyerahkan aktiva yang lain daripada uang


kas ke agen maka kantor pusat mendebet perkiraan aktiva yang
ditetapkan pada agen penjual, seperti perabot agen penjual, contohan
agen penjual, dan supplies agen penjual kemudian mengkredit perkiraan
aktiva yang bersangkutan untuk harga pokok barang yang diberikan.
Kantor pusat dapat mencatat transaksi agen penjual dalam
perkiraan pendapatan dan beban yang digunakan untuk transaksinya
sendiri, jika tidak dikehendaki perusahaan ikhtisar operasi agen penjual.
Setelah perkiraan ini ditutup, maka perkiraan ikhtisar laba rugi
melaporkan hasil operasi gabungan.
Jika kantor pusat ingin menetapkan laba bersih masing-masing agen
penjualannya dan laba bersihnya sendiri, maka kantor puat dapat
menyelenggarakan perkiraan pendapatan dan beban tersendiri untuk
masing-masing unit jual. Catatan pelengkap mengenai harga pokok
penjualan yang dijual oleh masing-masing unit penjualan juga harus
diselenggarakan. Catatan pelengkap ini memberikan data-data untuk
penyusunan ayat-ayat jurnal yang membebani masing-masing agen
penjual dan kantor pusat dengan harga pokok barang yang ditetapkan
pada masing-masing penjualan.
SISTEM AKUNTANSI KANTOR CABANG (HUBUNGAN CABANG
PUSAT)
Hubungan Kantor Pusat Dan Cabang
operasi suatu cabang
a
beroperasi sebagai unit usaha terpisah, dan di bawah pengendalian
kantor pusat.
b
modal kerja ( berupa uang tunai, barang-barang dagangan, aktiva
lainnya ) diberi oleh kantor pusat.
c
barang dagangan dapat dibeli dari pihak ketiga, untuk jenis barang
yang tersedia dari kantor pusat.
d
aktivitas penjualan yang dilaksanakan, dimulai untuk mendapatkan
pembeli ; mengirimkan barang / jasa ; membuat faktur penjualan ;
menagih piutang ; menyimpan dalam rekening banknya sendiri.
e
pembatasan keleluasaan cabang operasi dapat dilakukan kantor
pusat, seperti :
penerimaan kas dari hasil penjualan, pengumpulan piutang,
setiap harinya harus disetorkan atas nama rekening kantor pusat
dalam jumlah yang utuh.
pembentukan dana kas kecil untuk pengeluaran kas di cabang.
akuntansi suatu cabang

1. Pencatatan Kegiatan Kantor Cabang Dilakukan Kantor Pusat


Sifat kantor cabang memiliki sifat seperti agen, desentralisasi
akuntansi ( = pelaksanaan jurnal, buku besar atau seperangkat
buku yang terpisah ) pada kantor pusat. pencatatan data akuntansi
kantor cabang diperoleh kantor pusat melalui dokumen asli dan
ringkasan memo transaksi yang dilengkapi voucher, duplikat
sebagai arsip cabang.
2. Pencatatan Kegiatan Kantor Cabang Dilakukan Kantor Pusat
Dan Kantor Cabang
Pencatatan data akuntansi kantor cabang diperoleh kantor pusat
melalui duplikat jurnal, pencatatan dokumen asli ke dalam jurnal
dilakukan oleh kantor cabang. pencatatan yang dilakukan kantor
pusat ke dalam rekening kantor cabang yang terpisah atau
dimasukkan ke dalam buku besar umum kantor pusat. pada akhir
periosde akuntansi, kantor pusat melakukan penyesuaian
(adjusment) dan menutup pembukuan (closing) rekening kantor
cabang untuk menetapkan besarnya laba rugi cabang.
3. Pencatatan Kegiatan Kantor Cabang Dilakukan Kantor
Cabang
Pencatatan data transaksi ke dalam jurnal dan pemindah
pembukuan ke dalam buku besar umum. laporan keuangan disusun
secara periodik untuk di kirim ke kantor pusat, dan laporan
keuangan ini diperiksa oleh internal auditor kantor pusat.
penyelesaian penutupan saldo buku-buku dilakukan oleh kantor
cabang, maka hubungan kantor cabang dan kantor pusat terlihat.
Akuntansi untuk Kantor Pusat dan Kantor Cabang
Perusahaan-perusahaan besar atau yang sedang berkembang,
selalu berusaha meningkatkan volume penjualannya. Aspek pemasaran
merupakan aspek penting dalam usaha pencapaian tujuan ini. Oleh
karena itu, bagian pemasaran merupakan ujung tombak keberhasilan
suatu perusahaan.
Dalam rangka memperluas daerah pemasaran, perusahaan
melakukan pemetaan wilayah sehingga dapat diketahui pasar potensial
bagi produk atau jasa yang dihasilkan/ditawarkan. Dengan cara ini dapat
diketahui market share (bagian pasar yang dapat dimasuki) dari produk
atau jasa yang dihasilkan/ditawarkan perusahaan. Beberapa cara yang
dapat digunakan untuk menangkap peluang dari market share yang sudah
diketahui ini antara lain dengan cara membuka kantor agen atau bahkan
membuka kantor cabang.

Pada dasarnya kantor agen berbeda dengan kantor cabang. Kantor


agen hanya berfungsi mencarikan pembeli atau memperoleh order.
Penjualan kepada konsumen dilakukan langsung oleh kantor pusat.
Pembayarannya juga diterima langsung dari konsumen ke kantor pusat.
Kantor cabang mempunyai wewenang yang lebih luas dibandingkan
kantor agen, karena selain berfungsi mencari pembeli kantor cabang
dapat melakukan transaksi penjualan secara langsung kepada konsumen.
Wewenang yang lebih besar lagi adalah kantor cabang dapat membeli
barang dagangan dari luar.
AKUNTANSI KANTOR AGEN
Perbedaan paling mendasar pencatatan yang dilakukan kantor
cabang dan kantor agen berhubungan dengan kewenangan masingmasing dalam menangani konsumen akhir.
Kantor cabang mempunyai kewenangan penuh
Sehubungan dengan transaksi penjualan termasuk menerima
pembayaran secara langsung dari konsumen akhir, sedangkan kantor
agen tidak mempunyai kewenangan melakukan transaksi penjualan.
Pencatatan akuntansi hanya dilakukan oleh kantor pusat. Kantor cabang
melaksanakan pembukuan tersendiri karena Kantor cabang mempunyai
kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan. Kantor agen dalam
melakukan kegiatannya memperoleh fasilitas dari kantor pusat. Salah satu
fasilitas tersebut adalah berupa uang yang merupakan modal kerja bagi
kantor agen. Oleh karena itu, pencatatan yang dilakukan oleh kantor agen
hanya sebatas pertanggung jawaban atas modal kerja dari kantor pusat.
Karena modal kerja dari kantor pusat diterima dalam bentuk uang tunai,
maka dalam pengelolaannya seperti mengelola kas kecil dengan sistem
imprest. Bukti-bukti pemakaian modal kerja harus dikumpulkan oleh
kantor agen karena laporan ke kantor pusat dibuat berdasarkan buktibukti yang dikumpulkan tersebut.
Metode yang dapat dipakai oleh kantor pusat dalam melakukan
pencatatan
sehubungan dengan kegiatan di kantor agen, yaitu:
1. Laba atau rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi
Kantor Pusat.
2. Laba atau rugi kantor agen dipisahkan dengan laba atau rugi kantor
pusat.
Untuk tujuan pengendalian intern dan penilaian kinerja kantor pusat,
sebaiknya digunakan metode yang kedua yaitu laba atau rugi kantor agen
dipisahkan dengan laba atau rugi yang diperoleh kantor pusat sendiri.

Apalagi bila kantor Agennya lebih dari satu. Dalam praktik yang sering
digunakan adalah metode yang pertama atau laba/rugi kantor agen tidak
dipisahkan dengan laba atau rugi kantor pusat.
Penjelasan dari kedua metode adalah sebagai berikut:
1. Laba atau rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi
kantor
pusat
Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen tidak
dipisahkan dengan pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga
tidak bisa diketahui laba atau rugi kantor agen secara tersendiri.
Bila metode ini yang digunakan, kantor pusat hanya dapat
mengetahui laba atau rugi secara total/keseluruhan.
2. Laba atau rugi kantor agen dipisahkan dengan laba atau rugi kantor
pusat
Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen dipisahkan
dari pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga laba atau rugi
kantor agen bisa diketahui secara individual. Apabila metode ini
yang dipakai maka diperlukan rekening tersendiri. Rekeningrekening yang dibutuhkan bila digunakan metode ini antara lain:
a Modal kerja kantor agen
b Penjualan kantor agen
c BPP kantor agen
d Biaya pemasaran kantor agen
e Biaya administrasi dan umum kantor agen
Apabila kantor pusat mempunyai Kantor Agen lebih dari satu, maka
dapat digunakan salah satu dari cara berikut:
rekening masing-masing kantor agen disendirikan atau diberikan
kode berbeda
b Kantor pusat hanya memakai satu rekening buku besar untuk
seluruh Kantor Agen, sedangkan untuk masing-masing kantor
agen hanya dibuatkan rekening pembantu
a

AKUNTANSI KANTOR CABANG


Akuntansi kantor cabang membagi sistem akuntansi perusahaan
secara terpisah antara kantor pusat dan kantor cabang. Kantor puat terdiri
dari unit akuntansi pusat untuk perusahaan, sedangkan kantor cabang
terdiri dari tambahan sistem akuntansi untuk mencatat kegiatan setiap
cabang.
Seperti dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa kantor cabang
mempunyai kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan. Oleh
karena itu, kantor cabang melaksanakan pembukuan tersendiri. Jadi baik

kantor pusat maupun kantor cabang menyelenggarakan pencatatan


akuntansi sendiri-sendiri.
Pencatatan ini hanya berguna untuk pihak intern kantor pusat
maupun kantor cabang. Untuk kepentingan pihak ekstern kantor pusat
menyiapkan laporan konsolidasi yaitu laporan keuangan yang berisi
kinerja keuangan gabungan dari kantor pusat dan kantor cabang.
Berbeda dengan investasi kantor pusat di kantor agen yang hanya
berupa modal kerja awal saja, investasi yang ditanamkan oleh kantor
pusat ke kantor cabang meliputi semua kebutuhan awal kantor cabang.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kantor pusat bertindak sebagai
Investor (pihak penyandang dana) dan kantor cabang sebagai Investee
(pihak penerima dana). Oleh karena itu, diperlukan rekening yang bersifat
Resiprokal (timbal balik) antara kantor pusat dan kantor cabang untuk
menampung transaksi yang bersifat resiprokal ini, kantor pusat
menggunakan nama rekening kantor cabang, sebaliknya kantor cabang
menggunakan rekening kantor pusat. Rekening kantor cabang merupakan
hak kantor pusat sedangkan rekening kantor pusat merupakan kewajiban
kantor cabang. Dalam membuat laporan konsolidasi rekening resiprokal
harus dieleminasi.
1. Pengiriman Kekayaan Antar Cabang
Hubungan antara kantor pusat dan cabang dapat terus berkembang
sehingga ada kemungkinan kantor pusat akan mempunyai kantor cabang
lebih dari satu. Apabila hal semacam ini terjadi tidak tertutup
kemungkinan akan terjadinya transaksi antar cabang yang satu dengan
cabang yang lain.
Salah satu bentuk transaksi antar cabang adalah transaksi
pengiriman kekayaan antar cabang yang meliputi :
a Pengiriman uang ( transfer uang) antar cabang
b Pengiriman barang antar cabang
c Pengiriman barabg ke cabang di nota di atas harga pokoknya.
Dengan adanya transaksi antar cabang ini,kantor pusat harus
semakin meningkatkan pengawasannya terhadap masing-masing cabang
agar kegiatan usaha cabang-cabangnya dapat di pantau lebih lanjut.
Salah satu cara untuk mengadakan pengawasan terhadap cabangcabangnya adalah dengan membentuk sistem otorisasi yang di pegang
oleh kantor pusat. Sistem otorisasi ini dapat di buat dengan peraturan
setiap terjadi transaksi antar cabang harus di ketahui oleh kantor pusat
atau kantor pusat sendiri yang memerintahkan adanya pengiriman
kekayaan dari cabangnya ke cabang yang lain.

Dengan adanya peraturan sistem otorisasi yang ada di tangan


kantor pusat ini bukan berarti cabang tidak di beri wewenang tetapi dalam
hal transaksi pengiriman kekayaan antar cabang ini sistem otorisasi
tersebut di maksudkan agar usaha atau transaksi tersebut dapat lebih di
kontrol oleh kantor pusat.
Dalam pembahasan berikut ini masing-masing jenis pengiriman
kekayaan antar cabang akan di bahas.
2. Pengiriman Uang ( Transfer Kas ) Antar Cabang
Pengiriman uang antar cabang ini dapat terjadi karena cabang yang
satu mengirimkan sejumlah uang kepada cabang yang lain baik atas
kemuan sendiri mauppun kemauan atas kantor pusat.
Apabila sejumlah uang sudah di kirimkan ke cabang yang lain,kedua
cabang yang terlibat dalam transaksi pengiriman tersebut tidak perlu
membuat rekening khusus yang menyebutkan nama atau tempat masingmasing cabang tetapi transaksi tersebut akan di tangani oleh kantor
pusat dengan berdasarkan otorisasi yang diberikan.
Pencatatan di lakukan oleh masing-masing pihak yaitu cabang
penerima akan mengkredit rekening R/K kantor pusat seperti halnya
pada saat menerima dopping kas dari pusat dan mendebet rekening kas.
Untuk cabang pengiriman akan mendebit rekening R/K-kantor
pusat ,sebagai mana halnya dia menyatorkan uang ke pusat dan
mengkredit rekening kas.
Sedangkan untuk kantor pusat sendiri akan membut jurnal antar
cabang yaitu dengan mengkredit rekening R/K kantor cabang
pengiriman dan mendebit rekening R/K kantor cabang penerima.
3. Pengiriman Barang Antar Cabang
Yang dimaksud dengan pengiriman barang disini adalah pengiriman
barang dagangan (transfer of merchandise), seperti halnya pada transfer
kas pengiriman barang dagangan antara cabang ini otorisasi tetap ada
pada kantor pusat. Untuk pengiriman barang dagangan ini, menimbulkan
masalah tersendiri yaitu ongkos angkut untuk pengiriman barang
dagangan dari cabang pengirim dari cabang penerima.
Dalam hal pengiriman barang-barang dari pusat ke cabang biasanya
ongkos angkutnya untuk barang-barang tersebut di perhitungkan dan
menjadi beban untuk kantor cabang yaitu ditambahkan pada harga
barang-barang yang bersangkutan. Tetapi dalam hal pengiriman barang
antar cabang di lakukan atas perintah kantor pusat, maka perlakuan
terhadap ongkos angkut barang tersebut di atur sebagai berikut :
1. Ongkos angkut barang dari cabang pengirim ke cabang penerima,
terlebih dahulu dibayar oleh cabang pengirim dan nantinya akan di
perhitungkan sebagai beban kantor pusat.

2. Cabang penerima akan dibebani ongkos angkut sebesar ongkos


angkut apabila barang tersebut langsung di kirim dari kantor pusat,
bukan sebesar ongkos angkut dari cabang pengirim.
3. Apabila terjadi selisi ongkos angkut antar cabang pengirim ke
cabang penerima dengan ongkos angkut dengan kantor pusat
langsung ka cabang penerima, maka selisih ongkos angkut tersebut
dibebankan ke kantor pusat dan di catat kedalam rekening selisih
Ongkos Angkut Barang Antar Cabang.

PENGIRIMAN BARANG DAGANGAN DIATAS HARGA POKOK


Banyak perusahaan menggunakan harga transfer di atas harga
pokok untuk pengiriman internal ke cabang-cabang mereka. Beberapa
perusahaan menetapkan harga transfer di atas harga pokok untuk
pengiriman internal ke cabang-cabang mereka.
Beberapa perusahaan menetapkan harga transfer pada harga jual
normal, sementara yang lainnya menggunakan mark-up standar. Ada juga
perusahaan yang menetapkan harga transfernya melalui formula-formula
yang kompleks.
Alasan yang mendasari penetapan harga transfer di atas harga
pokok, antara lain adalah agar lokasi pendapatan antar unit dalam
perusahaan dilakukan dengan wajar, agar harga persediaan ditetapkan
dengan efisien dan agar margin laba dari tiap-tiap cabang diungkapkan
dengan sebenarnya.
Pengiriman ke cabang dicatat pada harga pokok
Ketika kantor pusat mengirim barang dagangan kepada cabangnya
dengan harga transfer di atas harga pokok, pencatatan akuntansi pada
buku kantor pusat harus disesuaikan dengan biaya aktual dari barang
yang dikirim. Ini dilakukan melalui akun tambahan laba cabang atau laba
yang belum direalisasi.
A. PERBEDAAN AGEN DAN CABANG
Secara umum setiap perusahaan memiliki tujuan yaitu untuk
memperoleh laba sebesar-besarnya, untuk mencapai tujuan tersebut
volume penjualan harus ditingkatkan yaitu dengan memperluas daerah
pemasaran. Beberapa alternatif langkah yang dapat ditempuh untuk
meningkatkan daerah pemasaran yaitu dengan konsinyasi, membuka

agen penjualan dan dengan membuka kantor

cabang. Adapun

perbedaan dari kantor agen dan kantor cabang yaitu dilihat dari 2 hal
yakni dari setruktur organisasi dan kegiatan.
Keterangan
Agen
Dari sisi struktur Berada
di
luar
organisai.
organisasi
perusahaan
(bendiri sendiri).
Dari sisi kegiatan
:
Tidak
Penjualan
melaksanakan
kepada
pihak
tetapi
ketiga.
dilaksanakan oleh
kantor pusat.
Persediaan
Tidak
memiliki,
barang dagang.
tetapi
tersedia
Penentuan
barang contoh.

Tidak menentukan
syarat
penjualan.
melainkan
ditentukan
oleh
Penanggungan
kantor pusat.
Tidak
beban
operasional dan
menanggung,
modal kerja.
tetapi ditanggung
oleh kantor pusat.

Cabang
Bagian
prusahaan.

dari

Melaksanakan
penjualan
Memiliki
persediaan.
Dapat menentukan.
Cabang mengelola
penjualan
dan
beban operasional
termasuk kas.

B. PERBEDAAN AKUNTANSI AGEN DAN CABANG


1. Akuntansi Kantor Agen
Kantor agen tidak menyelenggarakan akuntansi terhadap
kegiatannya tetapi diaksanakan oleh perusahaan yang diageni,
kegiatannya hanya terbatas pada usaha

untuk mencari calon

pembeli biasanya dilakukan dengan menggunakan modal kerja yang


berasal dari kantor pusat. Sebagai pertanggung jawabannya atas
penggunaan modal kerja tersebut dengan mengumpulkan buktibukti

pemakaiannya

yang

akan

digunakan

sebagai

dasar

pencatatan oleh kantor pusat.


Untuk mencatat kegiatan kantor agen tersebut, kantor pusat
dapat menggunakan 2 metode yaitu :
a) Rugi-laba kantor agen tidak dipisahkan

Dalam metode ini pendapatan dan biaya yang berhubungan


dengan kantor agen tidak perlu dipisahkan dengan pendapatan
dan biaya kantor pusat atau dengan kata lain rekeningnya
digabungkan.
b) Rugi-laba kantor agen dipisahkan
Dalam metode ini diadakan pemisahan antara pendapatan dan
biaya kantor pusat dan kantor agen. Untuk pencatatan kantor
agen diberi tanda nama agen. Pada umumnya rekening buku
besar yang berhubungan dengan kantor agen terbatas pada 5
rekening saja, yaitu :

Modal kerja kantor agen.

Penjualan kantor agen.

Harga pokok penjualan agen.

Biaya pemasaran kantor agen.

Biaya administrasi dan umum kantor agen.

2. Akuntansi Kantor Cabang


Ada 2 sitem yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan
akuntansi terhadap kantor cabang, yaitu :
a) Sitem sentralisasi
Didalam

sistem

ini

akuntansi

terhadap

kantor

cabang

diselenggarakan oleh kantor pusat, sedangkan kantor cabang


hanya mencatat kas kecil. Sitem ini cocok dipakai apabila kantor
cabang dekat dengan kantor pusat dan kegiatan kantor cabang
masih terbatas.
b) Sistem desentralisasi
Didalam sistem ini semua transaksi keuangan kantor cabang
akan dicatat oleh kantor cabang. Berdasarkan pihak yang terkait
teransaksi

keuangan

kantor

cabang

dapat

dikelompokkan

menjadi 2, yaitu :
1. Transaksi kantor cabang yang tidak ada hubungannya dengan
kantor pusat sehingga pencatatannya hanya dilakukan oleh
kantor cabang.

2. Transaksi kantor cabang

yang ada hubungannya dengan

kantor pusat sehingga dalam hal ini keduanya melakukan


pencatatan.
Di dalam sitem desentralisasi hubungan antara kontor pusat
dengan kantor cabang adalah hubungan antara investor dengen
investee. Untuk menunjukkan hubungan tersebut masing-masing
pihak menyelenggarakan rekening timbal balik, yaitu kantor pusat
akan menyelenggarakan rekening koran kantor cabang dan kantor
cabang akan menyelenggarakan rekening korang kantor pusat.
Transaksi yang mempengaruhi saldo kedua rekening tersebut
dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu :
a. Transaksi yang berakibat saldo rekening timbal balik bertambah.
Dilihat dari kantor pusat transaksi kelompok ini berakibat hak
terhadap kantor cabang bertambah. Oleh karena itu R/K kantor
cabang akan didebet. Dilihat dari kantor cabang transaksi kelompok
ini berakibat kewajiban kepada kantor pusat bertambah, oleh karena
itu R/K kantor pusat akan dikredit. Adapun transaksi yang termasuk
dalam hal ini diantaranya :
1) Pengiriman kas atau aktiva selain barang dagangan oleh kantor
pusat.
- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
R/K-kantor cabang .............................

xxxx

Kas (aktiva) ................................

xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Kas (aktiva) ......................................

xxxx

R/K-kantor pusat ........................

xxxx

2) Pengiriman berang dagangan oleh kantor pusat ke kantor cabang.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Dengan sistem fisik
R/K-kantor cabang .............................

xxxx

Pengiriman barang ke kantor cabang


Dengan sistem perpetual
R/K-kantor cabang .............................

xxxx

xxxx

Persediaan barang dagangan ....

xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Dengan sistem fisik
Pengiriman barang dari kantor pusat.
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

Dengan sistem perpetual


Persediaan barang dagangan............
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

3) Pembebanan biaya oleh kantor pusat kepada kantor cabang.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
R/K-kantor cabang .............................
Biaya .........................................

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Biaya ................................................
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

4) Perhitungan bunga atas investasi kantor pusat di kantor cabang.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
R/K-kantor cabang .............................
Pendapatan bunga ....................

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Biaya bunga .....................................
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

5) Pengakuan laba kantor cabang.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
R/K-kantor cabang .............................
Rugi-laba-kantor cabang ...........

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Rugi-laba ..........................................
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

6) Penagihan piutang kantor pusat oleh kantor cabang.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :

R/K-kantor cabang .............................


Piutang ......................................

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Kas ...................................................
R/K-kantor pusat ........................

xxxx
xxxx

b. Transaksi yang berakibat saldo rekening timbal balik berkurang.


Dilihat dari kantor pusat transaksi kelompok ini berakibat hak
terhadap kantor cabang berkurang. Oleh karena itu R/K kantor
cabang akan dikredit. Dilihat dari kantor cabang transaksi kelompok
ini berakibat kewajiban kepada kantor pusat berkurang. Oleh karena
itu R/K kantor pusat akan didebit. Adapun transaksi yang termasuk
kelompok ini adalah :
1) Pengiriman kas atau aktiva selain barang dagangan oleh kantor
cabang kekantor pusat.
- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Kas ...................................................
R/K-kantor cabang ......................

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


R/K-kantor pusat ................................
Kas ............................................

xxxx
xxxx

2) Pengembalian barang dagangan dari kantor cabang ke kantor


pusat.
- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Dengan sistem fisik
Pengiriman barang ke kantor cabang
R/K-kantor cabang.......................

xxxx
xxxx

Dengan sistem perpetual


Persediaan barang dagangan............
R/K-kantor cabang ......................

xxxx
xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


Dengan sistem fisik

R/K-kantor pusat.................................

xxxx

Pengiriman barang dari kantor pusat

xxxx

Dengan sistem perpetual


R/K-kantor pusat.................................

xxxx

Persediaan barang dagangan.....


3) Pembelian

aktiva

oleh

kantor

xxxx

cabang

yang

diselenggarakan oleh kantor pusat.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Aktiva ................................................

xxxx

R/K-kantor cabang ......................

xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


R/K-kantor pusat ................................

xxxx

Kas (utang) ................................

xxxx

4) Pengakuan rugi kantor cabang


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Rugi-laba kantor cabang ...................

xxxx

R/K-kantor cabang ......................

xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


R/K-kantor pusat ................................

xxxx

Rugi-laba ....................................

xxxx

5) Penagihan piutang kantor cabang oleh kantor pusat.


- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor pusat :
Kas ....................................................xxxx
R/K-kantor cabang ......................

xxxx

- Pencatatan yang dilakukan oleh kantor cabang :


R/K-kantor pusat ................................
Piutang ......................................

xxxx
xxxx

akuntansinya