Anda di halaman 1dari 19

FERMENTASI ASAM SITRAT

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan
segala rahmat serta karuniaNya sehingga penyusun telah dapat menyelesaikan Tugas
Tekhnologi Bioproses Pembuatan Asam Sitrat Secara Fermentasi oleh Aspergilus niger,
dimana tugas ini merupakan tugas yang diberikan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan mata kuliah bioproses Program Studi Teknik Kimia, Politeknik Negeri
Ujung Pandang.
Tugas Tekhnologi Bioproses Pembuatan Asam Sitrat Secara Fermentasi oleh
Aspergilus niger ini disusun berdasarkan pada beberapa sumber yang berasal dari
beberapa literatur , data-data , majalah kimia, dan internet. Pada kesempatan ini penyusun
mengucapkan terima kasih atas segala bantuan baik berupa saran, sarana maupun
prasarana sampai tersusunnya tugas teknologi bioproses ini kepada Bapak Muhammad
Saleh, S.T., M,Si selaku dosen mata kuliah Tekhnologi Bioproses yang telah memberikan
petunjuk, bimbingan serta arahan yang sangat bermanfaat dalam penyelesaian tugas ini.
Penyusun menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, karena itu segala
kritik dan saran yang membangun penyusun harapkan dalam sempurnanya tugas ini.
Sebagai akhir kata, penyusun mengharapkan semoga tugas yang telah disusun ini
dapat bermanfaat khususnya bagi mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan
Teknik Kimia.

Makassar, Juni 2013

Penulis

Page 1

FERMENTASI ASAM SITRAT


DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................................1
Daftar Isi...........................................................................................................................2
I.

BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang ..................................................................................................3
I.2. Rumusan Masalah..............................................................................................4
I.3. Tujuan Penulisan................................................................................................4
I.4. Manfaat Penyusunan..........................................................................................4

II.

BAB. II PROSES PMBENTUKAN ASAM SITRAT


II.1. Bahan baku pembuatan asam sitrat....................................................................5
II.2. Mikroba yang berperan dalam pembentukan asam sitrat...................................6
II.2.1. Aspergilus niger......................................................................................6
II.3. Mekanisme pembentukan asam sitrat.................................................................8
II.4. Proses pembuatan asam sitrat dari aspergilus niger...........................................10

III.

BAB. III MANFAAT ASAM SITRAT


III.1. Dalam industri...................................................................................................14
III.2. Industri makanan...............................................................................................15
III.3. Industri Farmasi, Kosmetik Dan Pewangi........................................................16
III.4. Industri lainnya.................................................................................................17

IV.

BAB.IV PENUTUP
IV.1. Kesimpulan ......................................................................................................18
IV.2. Saran.................................................................................................................18
Daftar pustaka............................................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini industri bioteknologi merupakan salah satu bidang yang menunjang
perekonomian di Indonesia. Bioteknologi didefinisikan sebagai suatu bidang penerapan
biosains dan teknologi yang menyangkut penerapan praktis organism hidup atau komponen
Page 2

FERMENTASI ASAM SITRAT


subselulernya pada industri jasa dan manufaktur serta pengelolaan lingkungan bioteknologi
memanfaatkan bakteri, ragi, alga, sel tumbuhan atau sel jaringan hewan yang dibiakkan
sebagai konsituen berbagai proses.
Teknologi fermentasi sebagian besar merupakan teknologi yang menggunakan
mikroorganisme baik secara seluler maupun subseluler untuk produk makanan dan
minuman seperti keju yogurt minuman alkohol asam-asam organik acar sosis kecap dan
lain-lain. Asam sitrat merupakan padatan kering atau putih dengan rumus kimia C 6H8O7 dan
memiliki berat molekul 192,12. Senyawa ini terdapat sebagai konstituen alami dalam buahbuahan, seperti jeruk, nanas, apel dan anggur. Asam sitrat untuk pertama kalinya diisolasi
dari sari buah jeruk oleh pada tahun 1784.
Asam sitrat yang diperoleh dengan ekstraksi ini disebut sebagai asam sitrat alami.
Pada tahun 1880, Grimoux dan aadm menemukan cara pembuatan asam sitrat secara sintesa
kimia. Jalan reaksinya didasarkan pada reaksi antara gliserol derivate 1,3-dikloroaseton
dengan sianida.
Wehmer pada tahun 1893, pertama kali mendiskripsikan produksi asam sitrat dengan
proses fermentasi kapang yaitu Citromyces pfefferianus dan Citromyces glaber dari larutan
sukrosa yang mengandung kalsium karbonat. Curie pada tahun 1917 menyatakan bahwa
sejumlah strain Aspergillus niger memiliki kemampuan produksi paling baik di dalam
fermentasi asam sitrat. Sejak ditemukannya cara fermentasi asam sitrat dari larutan-larutan
yang

mengandung

gula,

peranan

dari

asam

sitrat

alami

semakin

menurun

(tjokroadikoesoemo, P.S, HFS dan industri ubi kayu lainnya. PT. Gramedia Jakarta 1993
hal 160)

Pembentukan asam sitrat di dalam fermentasi larutan gula didasarkan pada teori
bahwa asam piruvat yang terbentuk dari glukosa dapat dihasilkan asetil coA yang di dalam
kondensasi dengan asam oksaloasetat menghasilkan asam sitrat (siklus krebs). Proses
fermentasi asam sitrat diterapkan secara besar-besaran untuk pertama kalinya oleh negara
jerman pada awal abad ke-20 ini. Dewasa ini hampir 90% dari seluruh produksi asam sitrat
di Amerika serikat dihasilkan dengan cara fermentasi.(sri kumaningsih,1995). Dengan

Page 3

FERMENTASI ASAM SITRAT


mendirikan pabrik asam sitrat ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan bahan yang
ada dan diharapkan pula ketergantungan terhadap luar negeri dapat berkurang.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
Apa yang dimaksud dengan asam sitrat?
Bagaimana mekanisme yang terjadi pada asam sitrat?
Apa kegunaan asam sitrat?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
Untuk mengetahui apa yang dimaksud asam sitrat.
Untuk mengetahui mekanisme yang terjadi dari asam sitrat.
Untuk mengetahui kegunaan asam sitrat.
1.4 Manfaat Penyusunan
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu agar kita bisa mempelajari produksi
asam sitrat pada proses fermentasi menggunakan A. niger. dan bisa mengaplikasikan di dalam
kehidupan terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

BAB II
PROSES PEMBENTUKAN ASAM SITRAT
2.1 Bahan Baku Pembuatan Asam Sitrat
Mikroorganisme : Aspergillus niger berumur 5 hari.
1. Medium propagasi untuk inokulum terdiri dari:
Gula pasir 15 gram
Ekstrak tauge 20% (b/v) 11 ml
(NH4)2SO4 450 mg
Page 4

FERMENTASI ASAM SITRAT


KH2PO4 225 mg
Semuanya bahan kemudian dilarutkan dalam 100 ml akuades, pH 6,0
2. Medium fermentasi terdiri dari:
Gula pasir 15% (b/v)
(NH4)2SO4 0,6% (b/v)
KH2PO4 0,3% (b/v)
pH medium fermentasi 6,0
3. Kondisi fermentasi :
Suhu : 29oC
Agitasi 150 rpm
Lama 5 hari
4. Sumber karbon dalam proses fermentasi

Pada proses fermentasi ini, sumber gula yang digunakan adalah sukrosa.
Sukrosa akan dipecah menjadi fruktosa dan glukosa. Menurut Kubicek dan Rohr
(1989) sukrosa baik untuk dijadikan sebagai sumber glukosa oleh A. niger karena
memiliki ikatan intervase mycelium ekstraselular yang kuat dan aktif pada pH
rendah sehingga hidrolisis sukrosa relatif lebih cepat. Gupta et al. (1976), Hossain et
al. (1984) dan Xu et al. (1989) melaporkan keunggulan penggunaan sukrosa dari
pada glukosa dan fruktosa pada proses fermentasi asam sitrat.
Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, tabung reaksi, gelas ukur,
timbangan, vortex, erlenmeyer, labu ukur, pipet, kertas pH, shaker, autoklaf, kertas
saring, oven, alat titrasi dan alat vakum.
2.2 Mikroba yang Berperan dalam Pembentukan Asam Sitrat
2.2.1 Aspergilus Niger
Aspergilus niger merupakan fungi dari filum ascomycetes yang berfilamen,
mempunyai hifa berseptat, dan dapat ditemukan melimpah di alam. Fungi ini
biasanya diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, dan udara di dalam ruangan. Koloninya
berwarna putih pada Agar Dekstrosa Kentang (PDA) 25 C dan berubah menjadi
Page 5

FERMENTASI ASAM SITRAT


hitam ketika konidia dibentuk. Kepala konidia dari A. niger berwarna hitam, bulat,
cenderung memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar seiring dengan
bertambahnya umur.
1. Habitat Aspergillus Niger
A. niger dapat tumbuh optimum pada suhu 35-37 C, dengan suhu minimum
6-8 C, dan suhu maksimum 45-47 C. Selain itu, dalam proses pertumbuhannya
fungi ini memerlukan oksigen yang cukup (aerobik). A. niger memiliki warna dasar
berwarna putih atau kuning dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap
sampai hitam.
2. Metabolisme Aspergilus Niger
Dalam metabolismenya A. niger dapat menghasilkan asam sitrat sehinga
fungi ini banyak digunakan sebagai model fermentasi karena fungi ini tidak
menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. A. niger dapat tumbuh
dengan cepat, oleh karena itu A. niger banyak digunakan secara komersial dalam
produksi asam sitrat, asam glukonat, dan pembuatan berapa enzim seperti amilase,
pektinase, amiloglukosidase, dan selulase.
Selain itu, A. niger juga menghasilkan gallic acid yang merupakan senyawa
fenolik yang biasa digunakan dalam industri farmasi dan juga dapat menjadi substrat
untuk memproduksi senyawa antioksidan dalam industri makanan.
A. niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat makanan
yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa
dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah
dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa enzim ekstra
seluler seperti protease, amilase, mananase, dan -glaktosidase. Bahan organik dari
substrat digunakan oleh Aspergillus niger untuk aktivitas transport molekul,
pemeliharaan struktur sel, dan mobilitas sel.

Page 6

FERMENTASI ASAM SITRAT

Gambar 1. Aspergillus niger


Mikrograf dari A. niger yang ditumbuhkan pada medium Sabouraud agardengan
perbesaran 100x
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Eukaryota
Kerajaan:
Fungi
Filum:
Ascomycota
Upafilum:
Pezizomycotina
Kelas:
Eurotiomycetes
Ordo:
Eurotiales
Famili:
Trichocomaceae
Genus:
Aspergillus
Spesies:
A. niger
Nama binomialAspergillus nigervan Tieghem 1867
2.3 Mekanisme Pembentukan Asam sitrat

Page 7

FERMENTASI ASAM SITRAT

Gambar 2. Skema reaksi metabolik dalam produksi asam sitrat


Mekanisme pembentukan asam sitrat dapat dilihat pada gambar 2. Langkah
pertama dari siklus tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A oksaloasetat untuk
membentuk asam sitrat. Pertama-tama, asetil ko-A hasil dari reaksi antara
(dekarboksilasi oksidatif) masuk ke dalam siklus dan bergabung dengan asam
oksaloasetat membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil masuk ke dalam
siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian,
asam sitrat mengalami pengurangan dan penambahan satu molekul air sehingga
terbentuk asam isositrat.
Page 8

FERMENTASI ASAM SITRAT


Lalu, asam isositrat mengalami oksidasi dengan melepas ion H+, yang
kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan melepaskan satu molekul CO2 dan
membentuk asam a-ketoglutarat (baca: asam alpha ketoglutarat). Setelah itu, asam aketoglutarat kembali melepaskan satu molekul CO2, dan teroksidasi dengan
melepaskan satu ion H+ yang kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu,
asam a-ketoglutarat mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil koA. Setelah terbentuk suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus,
sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinil ko-A
menjadi asam suksinat menghasilkan cukup energi untuk menggabungkan satu
molekul ADP dan satu gugus fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP.
Kemudian, asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua ion H+, yang
kemudian diterima oleh FAD dan membentuk FADH2, dan terbentuklah asam
fumarat. Satu molekul air kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan
menyebabkan perubahan susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu
asam fumarat berubah menjadi asam malat.
Terakhir, asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion
H+, yang kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH, dan asam
oksaloasetat kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini kemudian akan kembali
mengikat asetil ko-A dan kembali menjalani siklus Krebs.
Pada A. niger, fosfoenol piruvat dapat diubah langsung menjadi oksaloasetat
(tanpa melalui piruvat) oleh enzim fosfoenol piruvat karboksilase. Reaksi tersebut
membutuhkan ATP sebagai sumber energi, Mg2+, atau Mn2+, dan K+, atau NH4+.
Judoamidjojo dan Darwis (1992) menyatakan bahwa apabila sumber karbon
bukan glukosa, misalnya asam asetat, atau senyawa alifatik berantai panjang (C9
C23), maka isositrat liase akan terinduksi sehingga dengan asam isositrat diubah
menjadi glioksilat, selanjutnya glioksilat diubah menjadi malat oleh sintetase. Bila
glukosa ditambahkan siklus tersebut akan terhambat.
Pada pembentukan asam sitrat dalam proses fermentasi dibatasi oleh
ketersediaan beberapa unsur kelumit (P, Mn, Zn). Peranan ion logam dalam proses
ini belum diketahui secara menyeluruh. Nilai pH optimum sekitar 1,7 2,0. Jika pH
Page 9

FERMENTASI ASAM SITRAT


lebih tinggi (alkalis) menyebabkan pembentukan asam asam oksalat dan glukonat
dalam jumlah banyak. Karenanya pengendalian kondisi proses secara cermat
merupakan prasyarat untuk mempertahankan keteraturan metabolik dan mendukung
pembentukan asam sitrat yang lebih banyak. Kondisi yang sesuai tersebut
memungkinkan stimulasi glikolisis untuk penyediaan aliran karbon yang tidak
terbatas ke dalam metabolisme antara. Akumulasi sitrat selanjutnya tergantung pada
pemasokan oksaloasetat (Mangunwidjaja & Suryani 1994).
Mangunwidjaja & Suryani (1994) juga menjelaskan bahwa kekurangan
mangan akan menurunkan aktivitas enzim dalam siklus asam trikarboksilat yang
diikuti oleh penurunan anabolisme. Gangguan metabolisme ini menyebabkan
perbedaan tingkat ion amonium intraselluler yang dapat membantu menghilangkan
penghambatan enzim fosfofruktose oleh sitrat. Mangan juga terlibat dalam biokimia
permukaan sel dan morfologi hifa. Kebutuhan oksigen yang tinggi memungkinkan
reoksidasi sitoplasma NADH tanpa pembentukan ATP dan melibatkan suatu cabang
respirasi alternatif yang berbeda dari rantai respirasi normal.

2.4 Proses Pembuatan Asam Sitrat dari Aspergilus Niger


Berikut adalah contoh proses pembuatan asam sitrat dari Aspergilus niger :
1. Membuat media propagasi dengan komposisi yang sudah ditentukan. Namun, gula
Melakukan inokulasi dengan suspense spora A.niger sebanyak 2% (v/v). Selanjutnya
hasil inokulasi pada media propagasi yang telah diinkubasi ini disebut inokulum.
2. Kemudian lakukan inkubasi pada incubator goyang pada suhu 29oC (suhu kamar)
selama 24 jam.
Page 10

FERMENTASI ASAM SITRAT


3. Bioreaktor tangki pengaduk (CSTR) yang akan digunakan juga dilakukan sterilisasi.
4. Membuat media fermentasi dengan komposisi yang telah ditentukan dalam
Erlenmeyer 1000 ml dengan melarutkan 900 ml media dan inokulum 100 ml. Namun
gula dan bahan lainnya dpisahkan. Kemudian disterilisasi pada suhu 121oC, 15 menit
dan dinginkan.
5. Kemudian melakukan inokulasi inokulum.
6. Pengambilan sample dilakukan setiap hari selama 5 hari.
7. Pada setiap pengamatan, yang diamati adalah sebagai berikut :
8. Dipisahkan dari bahan lainnya. Lalu semua bahan disterilisasi pada suhu 121oC
selama 15 menit dan dinginkan.
a) pH : dilakukan dengan mengukur pH cairan fermentasi dengan pH meter
b) Biomassa : dilakukan dengan menyaring cairan fermentasi pada kertas saring
yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Biomassa dihitung sebagai bobot
residu kering hasil penyaringan per ml cairan kultivasi
c) Gula sisa : dilakukan dengan metoda DNS. Memasukkan 1 ml sampel ke dalam
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan pereaksi DNS sebanyak 3 ml. Lalu larutan
dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit, kemudian didinginkan pada suhu
kamar. Blanko dibuat dengan mengganti sampel dengan 1 ml akuades. Lalu
mengukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang
550 nm. Kurva standar dibuat untuk pengukuran gula dengan metode DNS. Hasil
mengukuran diplotkan pada kurva standar sehingga dapat diketahui kadar gula sisa.

d) Total asam : Pengukuran asam organic dilakukan dengan metode titrasi. Mengambil
10 ml sampel kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0.1 N yang telah
distandarisasi. Titrasi dilakukan dengan bantuan indicator PP. Titrasi dihentikan bila
telah terbentuk warna merah muda. Penentuan kadar total asam organic tertitrasi
adalah :

Total Asam :

Page 11

ml NaOH x Normalitas NaOH x 192


mg / ml
10 ml sampel

FERMENTASI ASAM SITRAT


Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas sebagai berikut:
1. Derajat keasaman (pH)
Hal ini merupakan hal yang sangat penting dallam proses fermentasi, pH
pada media juga mempengaruhi produksi asam sitrat dari A. niger karena
beberapa enzim yang berperan dalam siklus TCA sensitif terhadap pH. pH yang
rendah selama fermentasi untuk produksi asam sitrat yang optimal diperlukan pH
sekitar 2. Jika kondisi tersebut tidak diperoleh hasil produksi akan berkurang
(Mattey, 1992). Papagianni (1995) & Papagianni et al. (1999) melaporkan bahwa
pH mempengaruhi morfologi dan produktivitas asam sitrat dari A. niger dari hasil
data kuantitatif. Morfologi dengan agregat yang kecil dan filament yang pendek
berkaitan dengan meningkatnya produksi asam sitrat pada pH sekitar 2,0 0,2.
Pada pH 1,6 morfologi akan berkembang abnormal (bulbous hyphae) dan
produksi asam sitrat akan menurun secara drastis. Pada pH 3,0 agregat
mempunyai bentuk perimeter yang lebh panjang dan terbentuk asam oksalat.
2. Suhu
Suhu medium fermentasi merupakan salah satu factor yang penting dalam
produksi asam sitrat. Suhu 300C adalah suhu yang paling baik. Jika suhu medium
rendah, aktivitas enzim juga rendah sehingga mempengaruhi produksi asam tetapi
jika suhu meningkat di atas 300C, biosintesis asam sitrat akan menurun dan terjadi
akumulasi produk samping seperti asam oksalat.

3. Konsentrasi Substrat
Pengaruh konsentrasi substrat terhadap jumlah sel : pada konsentrasi 2200
g/l jumlah sel lebih sedikit dibandingkan pada konsentrasi di bawahnya karena
sebagian besar glukosa yang ada digunakan mikroba untuk menghasilkan produk
bukan untuk berkembang biak.
Pengaruh konsentrasi substrat terhadap konsentrasi glukosa :konsentrasi
glukosa tertinggi berada pada konsentrasi substrat 2200 g/l karena semakin besar
konsentrasi substrat maka konsentrasi glukosanya akan semakin besar pula.
Page 12

FERMENTASI ASAM SITRAT


Pengaruh konsetrasi substrat terhadap konsentrasi asam sitrat :semakin tinggi
konsentrasi substrat maka konsentrasi asam sitrat jugaaka semakin tinggi karena
semakin banyak jumlah glukosa yang dapat dirubah menjadi produk oleh
mikroba.
4. Konsentrasi Glukosa
Pengaruh konsentrasi glukosa terhadap jumlah sel : dari hasil penelitian
didapatkan bahwa penurunan konsentrasi glukosa menyebabkan penurunan
jumlah sel,karena semakin sedikit makanan dan nutrisi yang tersedia untuk
mikroba.

Pengaruh konsentrasi glukosa terhadap konsenrasi asam sitrat :

semakin besar konsentrasi glukosa semakin banyak jumlah glukosa yang dapat
diubah menjadi asam sitrat.

BAB III
MANFAAT ASAM SITRAT
3.1 Dalam Industri
Industri makanan dan farmasi menggunakan asam sitrat dikarenakan alasan
keamanan secara umum, dapat memberikan rasa asam yang memuaskan,
kelarutannya yang tinggi didalam air dan sebagai buffering dan chelating agent.
Untuk industri kosmetik dan wewangian digunakan sebagai buffering agent. Serta
Page 13

FERMENTASI ASAM SITRAT


secara luas digunakan sebagai buffering dan chelating agent di berbagai macam
industri. Berikut ini adalah penggunaan asam sitrat dalam industri-industi tersebut.
3.1.1 Industri Makanan
1. Minuman
Asam sitrat digunakan secara extensive dalam industri minuman untuk
memberikan rasa asam pada minuman dan sebagai komplemen pada rasa berry pada
minuman. Pada minuman yang tidak berkarbonisasi asam sitrat dapat memberikan
pH yang beragam pada minuman, selain itu asam sitrat pada minuman jus buah
merupakan komponen alami yang tercampur secara baik dengan aroma dari
minuman tersebut. Untuk minuman berkarbonisasi asam sitrat digunakan sebagai
adiculant atau penguat rasa.

2. Jeli dan selai


Asam sitrat digunakan sebagai pemberi rasa asam pada jeli dan selai serta
digunakan untuk menyesuaikan pH.

Page 14

FERMENTASI ASAM SITRAT

3. Kembang Gula
Asam sitrat digunakan untuk memberikan rasa asam dan meminimalkan
inversi sukrosa pada produk kembang gula.

4. Makanan Beku
Asam sitrat digunakan sebagai chelating agent dan pengatur pH sehingga
memungkinkan pengoptimalan kestabilan dari makanan beku dengan meniadakan
aktivitas antioksidan dan menon-aktifkan enzim.

3.2 Industri Farmasi, Kosmetik dan Pewangi

1. Farmasi
Page 15

FERMENTASI ASAM SITRAT


Asam sitrat digunakan sebagai bahan dasar tablet effervescence, dimana
asam sitrat bila bereaksi dengan zat yang mengandung bikarbonat atau karbonat
dalam air akan membentuk gas karbondioksida dan garam dari asam tersebut. Selain
itu asam sitrat digunakan sebagai buffering agent dan pemberi rasa asam pada obatobatan.

Gambar 2. Obat-obatan dari Asam Sitrat


2. Kosmetik dan Pewangi
Dalam industri ini asam sitrat digunakan sebagai pengatur pH dan sebagai
antioxidan pada metallic-ion chelator.

Gambar 3. Kosmetik dan Pewangi yang Terbuat dari Asam Sitrat


3.3 Industri Lainnya

Page 16

FERMENTASI ASAM SITRAT


Untuk industri-industri lainnya asam sitrat digunakan untuk industri detergen,
agrikultur, fotografi, tekstil, kertas dan lain sebagainya. Selain itu dalam industri
asam sitrat dapat digunakan sebagai pembersih metal dan pengabsorbsi sulfur
dioxide dan dapat digunakan pula dalam proses treatment pada limbah. (Othmer,
K.,Encyclopedia of Chemical Technology,3rd ed. 1987)
Berikut ini komposisi penggunaan asam sitrat secara umum :
1. Industri makanan dan minuman : 75 %
2. Farmasi : 10 %
3. Industri lainnya : 15 %

Gambar 4. Deterjen yang Terbuat dari Asam Sitrat

Page 17

FERMENTASI ASAM SITRAT


BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Asam sitrat termasuk salah satu asam organik dengan nama kimia 2-hydroxy1,2,3-propanetricarboxylic acid. Asam sitrat merupakan asam organik yang larut
dalam air dengan citarasa yang menyenangkan dan banyak digunakan dalam industri
pangan, kosmetik, farmasi dan lain lain. Kebutuhan dunia akan asam sitrat terus
meningkat dari tahun ke tahun dan produksi asam sitrat tiap tahun meningkat 2 3
%. Berdasarkan kenyataan bahwa penggunaan asam sitrat yang luas dalam dunia
industri, maka kebutuhan pemenuhan bagi asam sitrat baik di dalam maupun luar
negeri masih sangat besar.
Asam sitrat digunakan dalam industri untuk mengikat (squester) ion,
menetralkan basa dan berperan sebagai buffer. Dalam kosmetika, asam sitrat
digunakan sebagai buffer untuk pengatur pH produk. Beberapa jenis sitrat,
khususnya garam sodiumnya, dipakai luas dalam produk makanan, farmasi dan
detergen. Ester dari asam sitrat dipakai secara komersial sebagai plasticizer dalam
penyiapan komposisi polimer, coating dan adhesive.
Dalam proses fementasi pembuatan asam sitrat harus dilakukan pada
laboratorium steril dan khusus yang terpisah dari laboratorium lain. Hal ini
dimungkinkan untuk menghindari terjadinya kontaminasi akibat Aspergiilus Niger
dan hal-hal yang berpengaruh dalam proses fermentasi harus diperhatikan untuk
menghasilkan asam sitrat yang optimal.
4.2 SARAN
Dalam proses fermentasi pembuatan asam sitrat harus dilakukan pada
laboratorium steril dan khusus yang terpisah dari laboratorium lain. Hal ini dimungkinkan
untuk menghindari terjadinya kontaminasi akibat Aspergiilus Niger dan hal-hal yang
berpengaruh dalam proses fermentasi harus diperhatikan untuk menghasilkan asam sitrat
yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Page 18

FERMENTASI ASAM SITRAT


http:// Pengertian Dan Manfaat Asam Sitrat Ilmu-Pintarku.htm
http://Hasil Penelusuran Gambar Google untuk http bp.blogspot.com P7FQp5qvvt0
UAt8BOVqbnI AAAAAAAAAfc JIiTuxglPxI s1600 tabel4.jpg.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/AsamSitrat
http://makalah-pembuatan-asamsitrat.html
www.wikipedia.org/wiki/Apergillusniger
Schlegel, Hans dan Karin Schmidt. 1972. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta: Gajahmada
University Press.
Soedarmaji. 2000. Diktat Mikrobilogi Industri. Semarang: Universitas Diponegoro.

http://dokumen.tips/documents/makalah-asam-sitrat-biodocx.html 18 mei 2016 pukul


00.25 WIB

Page 19