Anda di halaman 1dari 141

ANALISIS MARJIN PEMASARAN

CABAi RA WIT HIJAU


Mata Rantai Laban Bndi Daya di Krawang dan Pasar Induk Kramat Jati
Pasar Reho Jakarta Timnr

Ade Lili Mutlihah

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (AGRIBISNIS)


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2006M

1!1i m1/11A'

ANALISIS MARJIN PEMASARAN


CABAi RA WIT HIJAU
Mata Rantai Laban Budi Daya di Krawang dan Pasar Induk Kramat Jati
Pasar Reho Jakarta Timur

Olch:

Ade Lili Muflihab


11011 092123348

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian

Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri SyarifHidayatullah Jakarta

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (AGRIBISNIS)


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSIT AS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2006M

PENGESAHAN U.JIAN

Skripsi yang bcrjudul " Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau Mata
Rantai Lahan Tludi Daya di Krawang dan Pasar lnduk Kramal Jati Pasar Rebo
Jakarta Timur ''. Telah di uji dan dinyatakan Lulus dalam sidang munaqasyah
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Pada hari Rabu, 15 Februari 2006. Skripsi ini telah di terima sebagai salah
satu syarat untuk mempcroleh gelar Sa~jana Strata Satu Jurusan Sosial Ekonomi
Pe1tanian.

Jakarta, Februari 2006


Tim Penguji
Penguji I

Prof. Dr. H. Aki Baihaki, M. Sc

Pcnguji II

Penguji Ill

yA~~~
Ors. Yudha Heryawan Asnawi, MMA

Dekan
r;~!WJ!i;.~~.~Sains dan Teknologi

M. Sis

.JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTAJ'<IAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SY ARIF HIDAY ATULLAH .JAKARTA

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang di tulis oleh:


Na ma
NIM
Progrram Studi
Judul Skripsi

: Ade Lili Muflihah


: 101092123348
: Sosial Ekonomi Pertanian
: Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawi! H\jau
Mata Rantai Lahan Budi Daya di Krawang dan
Pasar lnduk Kramat Jati Pasar Rebo Jakarta
Timur.

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk mempcroleh gelar

Sa~jana

Pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Februari 2006


Menyetujui
Dosen Pembimbing
Pembimbing I,

Pembimbing II,

Yh~'-

Drs. Yudha Heryawan Asnawi, MMA


Mengetahui,
Keti;a Jurusan Sosek Pertanian

('

~/>u,~
M. Sis

Ir. Mudatsir Najamuddfn, MM


NIP: 150 317 958

PERNYATAAN

DENGAN INI SAVA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI


BENAR-BENAR HASIL IURYA SENDIRI YANG BELUM
PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA
ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA
MANA PUN.

Jakarta, Februari 2006

Ade Lili Mutlihah


101092123348

RINGKASAN
ADE LILI MUFLIHAH, Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau Mata
Rantai Lahan Budi Daya di Krawang dan Pasar Induk Kramat Jati Pasar Rebo
Jakarta Timur.(Di bawah bimbingan YUDHA HERYAWAN ASNAWI dan
PRAYUDI SYAMSURI).
Masalah pemasaran dalam komoditi pertanian merupakan satu ha! yang
menarik untnk diteliti. Dimana pemasaran hasil pertanian yang efisien merupakan
suatn pra kondisi bagi kelancaran dan keseimbangan pembangunan sektor
pertanian. Sistem pemasaran yang baik, tentu akan mengarahkan aliran barang
dan jasa dari produsen atau konsumen dan memberikan indikasi tentang
perubahan-perubahan permintaan dan penawaran kepada produsen. Secara tidak
langsung sistem tataniaga ini akan mengalokasikan sumberdaya, menyesuaikan
produksi dan suplai dalam hal bentuk, tempat dan waktu. Produksi cabai nasional
pada 6 (enam) tahun terakhir 1998-2003 berfluktuasi dari tahun ke tahun dan
cenderung turun dari tahun 1998-2002 yakni sebesar 848.524 menjadi 635.289
tahun 2002. hal yang sama juga diperlihatkan oleh luas panen dan
produktivitasnya, dimana luas panen pada tahun 1998 164.944 dengan
produktivitas 5, 14 Ton/ha turun menjadi seluas 150.598 dengan produktivitas 4,22
Ton/ha pada tahun 2002. Tetapi kemudian pada tahun 2003 produksi cabai
perlahan mulai menanjak yakni sekitar 1.066.722 dengan luas lahan 176.264 dan
produktivitas yang dihasilkan sebesar 6,05 Ton/ha
Tujuan kegiatan penelitian ini adalah : (I) menganalisis saluran pemasaran
cabai rawit hijau di Pasar lnduk Kramat Jati. (2) menganalisis struktur pasar yang
terjadi pada pemasaran cabai rawit hijau di Wilayah DK! Jakarta. (3) menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasaran serta mengetahui besamya
marjin pemasaran di tiap saluran pemasaran
Penelitian ini dilakukan di pasar lnduk Kramat Jati sebagai pasar acuan,
karena pasar ini merupakan satu-satunya pasar grosir yang ada di wilayah DK!
Jakarta. Pasar ini menerima pasokan cabai merah dari daerah-daerah sentra
produksi di pulau jawa serta menyalurkannya ke seluruh DK! Jakarta. Sedangkan
untuk daerah produsen cabai penulis mengambil sample di daerah krawang
dengan pertimbangan daerah tersebut mewakili sentra daerah lain dalam
mensuplai pasokan cabai rawit hijau di pasar lnduk Kramat Jati. Penelitian
dilakukan selama dua bulan, mulai bulan Juni hingga Juli 2005. Data yang
digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Untuk
menganalisis saluran pemasaran dengan mengamati lembaga pemasaran yang
digunakan sebagai perantara dalam penyampaian produk dari podusen kc
konsumen. Masing-masing saluran yang ada akan memperlihatkan fuktor-faktor
yang mempengaruhi marjin pemasaran dan besaran sebaran marjin di tiap saluran
pemasaran.Untuk menganalisis struktur pasar cabai rawit hijau yang te1jadi di
wilayah OKI Jakarta, dapat di lihat berdasarkan saluran pemasaran yang ada,
jumlah lembaga pemasaran yang terlibat, mudah tidaknya masuk pasar, jenisjenis komoditi yang dipasarkan serta infonnasi pasar. Untuk menganalisis marjin
pemasaran digunakan untuk melihat efisiensi teknik pemasaran cabai rawit.

Marjin pemasaran di hitung berdasarkan pcngurangan harga penjualan dengan


harga pembelian pada setiap tingkat lembaga tataniaga. Besarnya marjin
pemasaran pada dasarnya merupakan penjumlahan dari biaya-biaya dan laba yang
diperoleh tiap lembaga tataniaga.
Di saat penelitian, cabai rawit hijau yang berada di Pasar Induk kramat Jati
berasal dari para pengumpul atau petani di berbagai daerah di pulau Jawa dan .
Sumatera. Pada umumnya didatangkan di daerah Rembang, Wates, Yogyakarta,
Tumanggung, Magelang, Bawangan, Krawang, Brebes, Jember, Pekalongan dan
Metro Lampung. Sedangkan konsumennya biasanya berasal dari sekitar wilayah
DKI Jakarta. Menurut data yang tclah diperoleh dari Koperasi Pasar lnduk Kramat
Jati, banyaknya jumlah cabai rawit h\jau yang masuk kc Pasar lnduk Kramat Jati
setiap minggunya dari mulai Mci-Juni 2005 adalah sebesar 1.539,38 Ton. Jumlah
ini sedikit lebih besar dibandingkan periode bulan Maret-April 2005 yakni sebesar
1.379, 67 Ton. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan dilapangan, saluran
pemasaran yang terjadi terhadap komoditi cabai rawit dari Krawang hingga ke
Pasar Induk Kramat Jati cukup panjang. Adapun pola pemasaran yang terjadi
dalarn pernasaran cabai rawit hijau di DK! Jakarta sebagai berikut :
Pola I : Petani Pedagang Pengulak
Pedagang Grosir Pedagang Pengecer
Konsumen Akhir
Pola 2 : Petani Pedag~ Grosir- Pedagang Pengecer Konsurnen Akhir
Hal ini sesuai dengan pola umum saluran pemasaran Produsen maupun Konsumen
yang dikenrnkakan olch Adiyoga dan Soetiarso (1995) pada Gambar 3, dimana
terdapat berbagai macam pola saluran pemasaran yang terbentuk dalam
pemasaran suatu komoditi.
Strul..-iur pasar yang terbentuk di tiap lembaga pemasaran yang terlibat
berbeda-beda diantaranya : (I) petani pada saat berhadapan dengan pengumpul,
struktur pasar yang tcrbcntuk bcrsifat monopolistis. Yakni peluang keluar masuk
pasar tennasuk sulit, produk yang dihasilkan petani berbeda corak, baik petani
hanya maupun pcngumpul memiliki market share yang kecil serta tidak
tcrdapatnya pcrsaingan harga untuk jenis dan kualitas yang sama. (2) pengumpul
pada saat berhadapan dengan pedagang grosir, struktur pasar yang terbentuk
bersifat oligopoli murni. lni menunjukkan pedagang pengumpul mendominasi
pasar produk walaupun dalam jumlah sedikit, barang yang dihasilkan berbeda
corak dan berstandarisasi ini dilakukan untuk dominasi pengaruh terhadap harga
dan praktek dari persaingan antar pengumpul. Rintangan untuk rnemasuki pasar
cukup selektif. (3) grosir pada saat berhadapan dengan pedagang pengecer,
struktur pasar yang terbentuk bersifat rnonopolistis. Ini menunjukkan bahwa
barang yang dihasilkan bersifat unik tidak adanya barang substitusi dan pedagang
grosir bersifat sebagai penentu harga serta besar-kecilnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk rnendatangkan produk tergantung dari situasi pasar. (4)
pedagang pengecer pada saat berhadapan dengan konsurnen akhir, stmktur pasar
yang terbentuk bersifat persaingan mumi (bersaing sempurna). Masing-masing
produsen secara individual dianggap kecil atau tidak mernpengaruhi pasar karena
harga yang terbentuk cenderung kearah tawar-rnenawar. Adanya kebebasan keluar
masuk pasar dengan mudah, produk yang dihasilkan bersifat homogen atau

dibedakan menurut kelas tertentu sehingga persaingan yang terbentuk adalah


persaingan harga.
Berdasarkan hasi I analisis marj in pemasaran terdapat perbedaan perolehan
marjin pemasaran yang cukup besar antar tiap lembaga pemasaran, yakni : (I) di
tingkat petani : dengan mcmanfaatkan jasa pengulak, memperoleh marjin
pemasaran sebesar Rp. 842, 14, sedangkan dengan menjual langsung ke pedagang
grosir, memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. 2.271,42. (2) di tingkat
pengulak : memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. 1.429,28. di tingkat
pedagang grosir : memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. 2.442,87 (4) di
tingkat pedagang pengecer Pasar lnduk Kramat Jati : memperoleh marjin
pcmasaran sebcsar Rp. 1.142,85 scdangkan pengecer Pasar Kramat Jati :
memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. 2.928,57.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan marjin pemasaran di tiap
lembaga pemasaran antara lain adalah biaya produksi dan biaya pemasaran. (I)
petani : Dengan bantuan pengulak hanya mengeluarkan biaya produksi, bila
menjual langsung kc pedagang grosir : biaya transportasi, pikul, restribusi dan
kemasan. (2) pengumpul : Biaya transportasi,pikul, restribusi dan kemasan. (3)
grosir. : Biaya transportasi, TK, bongkar muat, restribusi, nimbang, perawatan,
penyusutan dan lain-lain. (4) pengecer Pasar lnduk Kramat Jati : Biaya TK,
bongkar muat, perawatan, restribusi, penyusutan dan lain-lain. Dan pengecer
Pasar Kramat Jati : Biaya TK, transportasi, bongkar muat, perawatan, restribusi,
penyusutan dan lain-lain.

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat sang maha pencipta


Allah Azza WA Zalla, serta sang pemberi penerangan di zaman jahiliyah nabi
Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya semoga kita termasuk
pengikutnya di akhir zaman nanti.
Akhirnya dengan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, tiada
kata syukur yang tak terhingga akhirnya skirpsi yang merupakan salah satu syarat
untuk mencapai jenjang S-1 dapat penulis selesaikan. (Penderitaan demi meraih

sua/u lzifuan adalah nikmat yang tiada Iara).


Sebagai salah satu ciptaan-Nya yang tidak luput dari khilaf dan
kekurangan, maka apa yang dibcrikan dan harapkan mungkin jauh dari apa yang
disebut kesempurnaan.
Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih alas segala saran dan
bimbingannya maupun petunjuk-petunjuk yang sangat berguna baik moril
maupun materi, kepada :
1. Kedua Orang Tua ku tercinta (Muhammad dan Neneng Masfuah) yang
telah memberikan kescmpatan dan kepercayaan serta dukungan tanpa
hen ti.
2. Bapak Ors. Yudha Heryawan Asnawi, MMA, selaku pembimbing materi
yang telah meluangkan waktu serta sangat sabar dan bijaksana dalam
membcrikan arahan maupun bimbingan kepada penulis selama proses
penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Prayudi Syamsuri, SP. M Si, selaku pembimbing teknis yang telah
banyak mcmbanlu dalam memberikan bimbingan dan masukan yang
sangat berarti bagi penulis.
4. Bapak Prof. Dr. H. Aki Baihaki, M. Sc, selaku dosen penguji.
5. Bapak Jr. Mudatsir Najamuddin, MM, selaku Ketua Jurusan Sosial
Ekonomi Pcrlanian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Drs. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis, selaku Dekan Fakultas Sains
dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Pihak Koperasi Pasar lnduk (KOPPAS) yang memberi izin dan
kemudahan penulis dalam penelitian. Khususnya bapak Suminto yang
sangat membantu dalam kemudahan data yang sangat diperlukan penulis.
8. Para pedagang (baik grosir maupun Pengecer) di Pasar lnduk Kramat Jati
yang sangat mcmbantu dalam kelancaran pengumpulan data-data bagi
penulis.
9. Pimpinan

perpustakaan

yang

tel ah

memberikan

fasilitas

untuk

mengadakan studi kepustakaan.


I 0. Kakakku (Suci Lestari) tempat bertukar pikiran di saat kesulitan dan Adikadikku (Putihati llahiya dan Fariha Farha)
11. Keluarga besar Yayasan AL-Falah : Baba (KH. Saiman) dan uwa (aim Hj.
Siti Khodijah), Mamangku (Didi, Syamsudin, Jack Sholeh Jamil, Ahmad
Masturoh, khususnya Hasan Basri yang telah memberikan komputer dan
print gratis), Bibi (Siti Masyitoh) tanpa bosan memberikan pulsa gratis
untuk menghubungi doscn.

12. Aaku tercinta (Ahmad Wahyudin), atas dukungan maupun motivasinya


selama ini dan dengan sabar menemani untuk malalui semua ini.
13. My best friend (Mutia Syamsuri, Nur Aqidah, Nia Rusnia, Rosmiati dan
Lili Rusmawati), persahabatan selama ini sungguh indah walaupun kadang
berbeda pendapat. Semoga persahabatan ini akan selamanya tidak lekang
dimakan waktu.
14. Neneng Sutinah, Ruqiyah, Ida Farida dan Bahrul Luzi di Bogor, tanpa
henti memberikan dukungan untuk cepat menye!esaikan skripsi ini.
15. Temen satu bimbingan (Hermovana, Srimargowati, Siti Zenab dan
Khairul Rasyid), susah dan senang telah kita lewati tetapi perjuangan ini
belumlah berakhir.
16. Agung Supriyanto, llham Nurrochman dan Khotib, sudah mau menjadi
temen curhat dan diskusi.
17. Angkatan 2001 kelas A (Saparullah, Abdul Kadir, Asep Nornman, Ahmad
lsra', Siti Nurlaela, Mira Nurmaghriba, Rahmayanti Adi, Dian TW,
Andari, Hasan, Didin Mihiddin, Ahmad Naufal, Riko Saputra, Nurul
Mubarok, Delvin Raya S, Angga Ginanjar, Ahmad Riza} dan anak kelas B
(Kaswit, Khairil Anwar, Tri Aji, Taufan Sukmo S, Aditia Fajri, Gandhi M,
Susi S, Firmansyah, lrwan, Erwan, Abdul Husein, Moch. Faisal, Endang
BL, Dani, Candra ............. (mohon maaf apabila ada namanya yang tidak
tercantum)
18. Faris (Tl) dan Khoiri (Ekonomi), atas masukan dan pinjaman bukunya.

19. Angkatan 2000 (kak Tanti, kak Ina Nafilah, kak ridwan) makasih atas
motivasi dan masukannya.
20. Anak-anak agri angkatan 2002-2005
21. Sahabatku di nnnah (Murni Rejeki, Septi Ambar Rukmani,Vicky dan Tia)

dan juga para dewan guru di Tl' A AL FALAH ( kak Ani, kak Aisyah, kka
Sri, kak Nonna, kak Nur, Ana dan Nina)
22. Juga buat semua orang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Semoga segala kcbaikan dari semua pihak tcrsebut di terima oleh Allah
SWT dan mendapatkan pahala yang sctimpal dari- Nya. Akhir kata skripsi ini
kiranya dapat memberikan faedah serta kegunaann kelak dikemudian hari.

Jakarta, Februari 2006

Ade Lili Muflihah

DAFTARISI

Halaman Judul ..................................................................................................... i


Kata Pengantar .................................................................................................... ii
Daftar isi ............................................................................................................. vi

DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix


DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................ 7
l .3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 7
1.4 Kegunaan Pen el itian ........................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 9


2.1 Landasan Teori ................................................................................... 9
2.1.1 Sejarah Penyebaran Tanaman Cabai .......................................... 9
2.1.1.1 Klasilikasi Tanaman Cabai ........................................... 10
2.1.1.2 Syarat Tumbuh ............................................................. 12
2.1.1.3 Manfoat Tanaman Cabai. .............................................. 12
2.1.2 Definisi Pemasaran .................................................................. 13
2.1.3 Lcmbagan dan Saluran Pemasaran ........................................... 17
2.1.3.1 Fungsi- fungsi Pemasaran ............................................. 24
2.1.4 Struktur Pasar .......................................................................... 26
2.1.4.1 lnformasi Pasar ............................................................ 30
2. l .4.2 Harga ........................................................................... 31
2.1.5 Marj in Pemasaran .................................................................... 34
2.2 Penelitian Terdahulu ......................................................................... 39
2.3 Kerangka Pemikiran ......................................................................... 41

BAB IJI METODE PENELITIAN .................................................................. 42

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................ 42


3.2 Jenis dan Sumber Data .................................................................... .42

3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................... 43


3.4 Mctodc Pengolahan dan Analisis Data .............................................. 43
3.4.1 Analisis Saluran Pemasaran .................................................... .44
3.4.2 Analisis Struktur Pasar............................................................. 45
3.4.3 Analisis Saluran Pemasaran ..................................................... 45
BAB IV GAMBARAN UMUN LOKASI PENELITIAN .............................. 46

4.1 Sejarah dan Perkembangan Pasar lnduk Kramat Jati ........................ 46


4.1.1 Visi, Misi dan Tujuan Pasar lnduk Kramat Jati.. ........................ 49

4.1.2 Lokasi dan Keadaan Pasar lnduk Kramat Jati ............................ 49


4.1.3 Struktur Organisasi ................................................................... 50
4.l.4 Kegiatan Usaha ......................................................................... 51
4.2 Sejarah dan Perkembangan Daerah Malingling Desa Mulang Sari
Kecamatan Pangkalan Krawang Selatan ........................................... 51

4.2.1 Teknik Budidaya ....................................................................... 52


4.2. l. I Persiapan Tanah ................................................................ 52
4.2.1.2 Benih ................................................................................. 52

4.2.1.3 Persemaian ........................................................................ 53


4.2.1.4 Penanaman ........................................................................ 53
4.2.1.5 Pemupukan ........................................................................ 53
4.2. l .6 Pcmeliharaan ..................................................................... 53

4.2.1.6.1 Pengairan ........................................................................ 53


4.2.1.6.2 Pengendalian Gulma ....................................................... 54
4.2.1.6.3 Penggunaan Ajir ............................................................ 54
4.2.2. Pasea Panen ............................................................................. 54
4.2.3 Distribusi .................................................................................. 55
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 56

5.1 Analisis Saluran Pemasaran .............................................................. 56

5.2 Analisis Slruktur Pasar ..................................................................... 63


5.2.1 Truktur Pasar di Tingkat Petani.. .............................................. 63
5.2.2 Struktur Pasar di Tingkat Pengulak .......................................... 65
5.2.3 Struktur Pasar di Tingkat Grosir .............................................. 66
5.2.4 Struktur Pasar di Tingkat Pengecer .......................................... 70
5.3 Analisis Marj in Pemasaran ............................................................... 71
5.3.1 Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani. .................... 73
5.3.1.1 Marjin Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Petani ke
Pedagang Pengumpul ................................................... 73
5.3.1.2 Marj in Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Petani ke
Pedagang Gros ii Pasar Induk Kramat Jati.. ................... 74
5.3.2 Mai:jin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang
Pcngumpul kc Pcdagang Grosir Pasar lnduk Kramat Jati ......... 77
5.3.3 Marjin Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Pedagang Grosir ke
Pedagang Pcngcccr .................................................................. 80
5.3.4 Marjin Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Petani ke Pedagang
Pcngcccr kc Konsumcn Akhir .................................................. 84
5.3.4.1 Marj in Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Pedagang
Pengeccr Pasar lnduk Kramat Jati ke Konsumen
Akhir. .......................................................................... 84
5.3.4.2 Maijin Pemasaran Cabai Rawi! Hijau dari Pedagang
Pengecer Pasar Kramat Jati ke Konsumen Akhir .......... 87
5.3.5 Analisis Penycbaran Maijin Pemasaran .................................... 90

BAB VI KESIMl>ULAN DAN SARAN ........................... 98


5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 98
6.1 Saran .............................................................................................. 100

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 101


LAMPIRAN ..................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Komposisi Kimia Cabai dalam 100 gram Bahan Yang Dapat di
Makan ................................................................................................... 2
Tabel 2. Pcrkcmbangan Rata-rata Konsumsi Cabai Rawi! per Kapita
1990-2004 .............................................................................................. 3
Tabcl 3. Pcrkcmbangan Luas Pancn. llasil Cabai Tahun 1998- 2004 ................... 4
Tabel 4. Karakteristik (Ciri) Struktur Pasar Berdasarkan Sisi Penjual dan
Pcmbcli ............................................................................................... 30
Tabel 5. Fungsi Lcmbaga Pcmasaran Cabai Rawit Hijau di Tingkat Petani,
Pengulak, Grosir dan Pengecer ............................................................. 60
Tabel 6. Marj in Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani kc Pedagang
Pengumpul .......................................................................................... 73
Tabel 7. Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani ke Pedagang
Pengumpul .......................................................................................... 74
Tabel 8. Maijin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang
Pengumpul kc Pedagang Grosir Pasar lnduk Kramat Jati.. ................... 77
Tabel 9. Marj in Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang Grosir ke
Pedagang Pengecer .............................................................................. 80
Tabcl I0. Marj in Pcmasaran Cabai Ra wit Hijau dari Pcdagang Pengecer Pasar
Induk Kramat Jati ke Konsumen Akhir ................................................ 84
Tabel 11. Marj in Pcmasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang Pengecer Pasar
Kramat Jati ke Konsumen Akhir .......................................................... 88
Tebel 12. Analisis Penyebaran Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dengan
Pasar Acuan di OKI Jakarta ............................................................... 91
Tebel 13. Analisis Penyebaran Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dengan
Pasar Acuan di DK! Jakarta ............................................................. 93

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Saluran Pemasaran Konsumen .......................................................... 18
Gambar 2. Saluran Pemasaran Bisnis ................................................................. 19
Gambar 3. Pola Umum Saluran Pemasaran Produsen dan Konsumen ................. 20
Gambar 4. Pola Um um Saluran Pemasaran Produk Pertanian di Indonesia......... 23
Gambar 5. Hubungan Antara Marj in Pcmasaran dan Nilai Marj in Pemasaran .... 36
Gambar 6. Marj in Pemasaran yang Menurun, Konstan atau Menaik Secara
Absolut dcngan Semakinnya Bertambahnya Jumlah yang Diminta ... 38
Gambar 7. Kerangka Pcmikiran ......................................................................... 41
Gambar 8. Kondisi Pasar Induk Kramat Jati Sebelum Peremajaan .................... .47
Gambar 9. Kondisi Pasar lnduk Kramat Jati Setelah Peremajaan ..................... .48
Gambar l 0. Bagan Saluran Pemasaran Cabai Rawit Hijau di DK! Jakarta .......... 59
Gambar I l. Penyebaran Marj in Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petanl,
Tengkulak dengan Pasar Acuan di DKI Jakarta ............................... 94
Gambar 12. Penyebaran Marjin Pemasaran Cabai RawitHijau dari Petani
dengan Pasar Acuan di DK! Jakarta ................................................. 96

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Struktur Organisasi Pasar lnduk Kramat Jati ................................ 104
Lampiran 2. Tugas Tiap Divisi ........................................................................ 105
Lampiran 3 Fluktuasi Harga per Bulan Juni- Juli 2005 di Pasar lnduk
Kramat Jati. ................................................................................. 113

BABI
PENDAHULUAN
1.1 Latar Bclalrnng
Masalah pemasaran dalam komoditi pertanian merupakan satu hal yang
menarik untuk diteliti. Dirnana pemasaran hasil pertanian yang efisien rnerupakan
suatu pra kondisi bagi kclancaran dan keseimbangan pembangunan sektor
pertanian. Sistem pemasaran yang baik, tentu akan mengarahkan aliran barang
dan jasa dari produsen atau konsumen dan memberikan indikasi tentang
perubahan-perubahan pennintaan dan penawaran kepada produsen. Secara tidak
langsung sistem tataniaga ini akan mengalokasikan sumberdaya, menyesuaikan
produksi dan suplai dalam ha! bentuk, tempat dan waktu.
Dasar analisis ekonomi mikro memungkinkan kita untuk mengetahui
bagairnana para konsumcn dan produscn akan berhubungan satu sama lain dalam
ha! proses pertukaran clalam pasar. Akan tetapi, "pasar" itu tidak clapat dibatasi
secara khusus, dan dalam prakteknya terdapat banyak dan beranika ragam
lembaga yang mcmudahkan pcrtukaran. Lcmbaga-lembaga itu tim2bul sebagai
akibat dari pada konsumcn dan produscn mencoba mcngadakan kegiatan ekonomi
dengan meningkatkan spesialisasinya clan dengan mengurangi biaya-biaya dalam
pertukaran.
Salah

satu

komoditi

pertanian

yang

menjacli

primadona

untuk

diperdagangkan adalah cabai (Capsicum sp), sebab cabai di konsumsi masyarakat


tanpa memperhatikan tingkat sosial. Pada umumnya masyarakat mengkonsumsi
cabai sebagai bumbu rnasak, atau dalarn bentuk segar. Cabai di nilai cukup

penting sebagai penyedia gizi masyarakat sebagai salah satu komoditi sayuran
yang penting. Komposisi kimia yang terkandung dalam cabai dapat di lihat pada
Tabet I

Tabel 1. Komposisi Kimia Cabai dalam 100 gram Balian Yang


Dapat di Makan
Kompisisi Kimia

Jumlah

Kalori

31 Kalori

Protein

1,0 gam

Lemak

0,3 gram

Karbohidrat

7,3 gram

Kalsium

29 gram

Posfor

24mg2

Baesi

0,5 mg

Vitamin A

470 SI

Vitamin Bl

0,05 mg

VitaminC

18mg

Air

90,9 gram
..

Sumber : Dir3en Bma Produkst Hort1kultura (2003)

Sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan dan konsumsi


cabai dalam masyarakat setiap waktunya terus meningkat. Berdasarkan hasil
Susenas (BPS, 1999), menyatakan bahwa berdasarkan pemakaian cabai rata-rata
per kapita cabai rawit tiap tahunnya terus meningkat. (Tabet. 2)
sekal ipun ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi permintaan
terhadap cabai untuk kebutuhan sehari-hari dapat berfluktuasi, yang disebabkan
karena tingkat harga yang terjadi di pasar eceran. fluktuasi harga yang terjadi di
pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi

permintaan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi


penawaran. dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi
pada kondisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan jumlah yang diminta. hal inilah yang mengakibatkan harga akan sangat
tinggi. demikian pula sebaliknya apabila jumlah yang ditawarkna meningkat
sedangkan permintaan tetap maka harga yang terjadi bisa sangat rendah.

Tabel 2. Perkembangan Rata-rata Kons11msi Cabai Rawit per Kapita


Tahun 1990-2004
Tahun
1990 1993 l996 1999 2002 2004 Pertumbuhan Rata-Rata/
Growth Rate 2002 Over
2004
Konsu1nsi

Cabai Rawit

I, 14

1,06

0,00

0,94

1, 12

1,14

0,62

..

Su1nbcr: BPS (Data Suscnas) da/a111 Stat1st1k Pertan1an Deptan, 2005

I-lasil cabai nasional pada 7 (Tujuh) tahun terakhir 1998-2004 berfluktuasi


dari tahun ke tahun dan cenderung turun dari tahun 1998-2002 yakni sebesar 5, 14
Ton menjadi 42, 17 Ton tahun 2002. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh luas
panen, dimana luas panen pada tahun 1998 adalah 164.944 turun menjadi seluas
150.598 pada tahun 2002. Tetapi kemudian pada tahun 2003 hasil cabai perlahan
mulai menanjak yakni sebanyak 6,05 Ton dengan luas lahan I 76.264. Dan hasil
panen cabai mengalami penurunan kembali pada tahun 2004 dengan luas panen
l 94.588 hanya menghasilkan cabai 5,66 Ton.(Tabel 3).

Tabel 3. Perkembangan Luas Panen dan Hasil Cabai Tahon


1998-2004
Kenaikan/ Penurunan Terhadap Tahun

Cabai

Tahon

Sebelumnya

Lu as

llasil

Pan en

(Ton/Ila)

llasil

L.Panen
Ahsolut

Absolut

1998

164.944

5, 14

1999

183.347

5,50

18.403

11,16

0,35

6,94

2000

274.708

42.J 7

(8.639)

(44.71)

( 1.33)

(24,21)

2001

142.556

4,07

(32.152)

( 18,40)

(0,09)

(2,250)

2002

150.598

4,22

8.042

5,64

0,15

3,57

2003

176.264

6,05

25.666

17,04

1,83

43,51

2004

(39)
5,66
18.324
..
Sumber : BPS dan DirJcn Hort1kultura da/am Staltst1k Petaman Deptan, 2005
194.588

Seharusnya

dengan jumlah

produk.si

cabai

yang

perlahan terus

meningakat, seharusnya tidak akan terjadi ketidak seimbangan antara permintaan


dan penawaran cabai. Akan tetapi pada kenyataan tetap terjadi, ha! ini disebabkan
oleh beberapa faktor antara lain kurangnya pasokan ke pasar karena sedikitnya
produksi atau terhalangnya transportasi, berkurangnya jumlah pedagang cabai
yang beroperasi terutama mendckati hari-hari besar dan adanya permintaan dalam
jumlah besar yang dilakukan oleh industri pengolahan cabai yang sedikit banyak
mempengaruhi gejolak harga cabai.
Se lama ini hasi I panen komoditi cabai melalui mata rantai perdagangan
yang cukup panjang untuk sampai ke tangan konsumen (Dirjen Tanaman Pangan
dan Hortikultura, 1999). Sehingga kemungkinan untuk terjadinya fluktuasi harga
eceran cabai cukup tinggi. Penentu harga juga didasarkan atas pasokan dan
permintaan. Bila pasokan berkurang atau tetap, sedangkan permintaan meningkat
maka harga cabai akan mahal. Sebaliknya juka permintaan tetap sedangkan

pasokan bertambah maka harga cabai akan menurun. Sehingga penentu harga ini
bukan didasarkan oleh biaya produksi yang ditanggung oleh petani tetapi
mekanisme pasar yang terjadi. Hal ini mengakibatkan petani tidak dapat berkutik
bila harga hasil usahanya menurun.
Dari sisi penawaran menunjukkan bahwa proses penyediaan (produksi dan
dislribusinya) cabai rawil hijau bclum scpcnuhnya dikuasai para petani. Faktor
utama yang menjadi penyebab adalah bahwa petani cabai adalah petani kecil-keeil
yang proses pengambilan kepulusan produksinya diduga tidak ditangani dan
ditunjang dengan suatu peramalan produksi dan harga yang baik.
Campur tangan pemerintah merupakan sebab-sebab yang penting dari
berbagai bentuk praktek antipersaingan yang telah muncul mengemuka. Banyak
peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang
bersifat distortif. Namun demikian, campur tangan tersebut harus dibedakan:
apakah menciptakan iklim yang membuat mekanisme pasar tidak berjalan atau
menciptakan perilaku antipersaingan.
Pajak dan retribusi, pungutan lain yang dilakukan asosiasi atau pungutan
tidak resmi (pungli) yang dikenakan di suatu daerah tertentu merupakan hambatan
perdagangan dan disinsentif bagi perekonomian. Pengenaan pungutan ini tidak
menciptakan perilaku antipersaingan tapi bisa menghambat iklim persaingan.
Contoh : kcbijakan pengenaan pungutan formal dan informal antara lain adalah:
pengenaan jenis pajak dan retribusi terhadap hewan ternak di Lombok, penarikan
restribusi oleh asosiasi atas perdagangan ikan di Bengkalis, pungli pada
pengiriman sayur mayur di sepanjangjalan Kerawang ke Jakarta.

Pungutan-pungutan ini membuat harga lebih mahal dan terkesan ada


diskriminasi harga atau monopoli. Tapi, kemungkinan besar penyebab harga lebih
mahal adalah karena banyaknya pungutan tersebut, bukan karena perilaku
antipersaingan.
Begitu pula dengan kebijakan kuota perdagangan atau pengaturan pola
tanam yang mengakibatkan sistem insentif berdasarkan rnekanisrne pasar tidak
berjalan. Seharusnya jika suatu komoditi mengalami kenaikan harga maka ini
merupakan signal insentif bagi produsen untuk memproduksi lebih banyak.
Namun, karena ada keharusan memproduksi sesuai peraturan yang dikeluarkan,
sistcm inscntir bcrdasarkan mckanismc pasar tidak be1jalan. Contoh kebijakan ini
adalah pernbatasan pcngembangan sapi ternak selain sapi Bali di Pulau Sumbawa
dan pcmbatasan pengaturan pola tanam padi yang masih ditetapkan bupati di
banyak daerah.
Pemasaran cabai di Pasar Induk kramat Jati sendiri ditentukan oleh
lembaga pemasaran seperti pedagang grosir dan pedagang pengecer. Lembagalembaga pemasaran inilah yang akan berperan dalarn menentukan mekanisme
pasar. Oleh sebab itu, cukup menarik untuk melakukan penelitian, mengenai
aspek pernasaran cabai rawit hijau sehingga gejolak harga cabai yang terjadi dapat
diketahui sebabnya, mulai dari tingkat produsen (petani) hingga sampai ke Pasar
lnduk Kramat Jati selaku pasar Acuan (Grosir) bagi pasar lainnya yang berada di
sekitar daerah tersebut.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan pennasalahan di atas, maka cabai rawit hijau merupakan jenis
cabai yang banyak dikonsumsi olch masyarakat yang kccenderungan tiap
tahunnya meningkat, sehingga perlu dikaji lebih lanjut mengenai ketepatan sistem
pcmasaran sckaligus mcncrangkan lcbih lanjut terjadinya pcrkembangan struktur
pasar scrla pcrscbaran maijin cabai tcrbcsar. Oleh karena itu rumusan masalah
yang akan dikaji meliputi :
1. Bagaimana saluran

pemasaran komoditi cabai rawit hijau di Pasar lnduk

Kramat Jati ?
2. Bagaimana struktur pasar yang terjadi pada pemasaran cabai rawit hijau di
Wilayah OKI Jakarta?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi marjin pemasaran serta besamya
marjin pemasaran dari tiap saluran pemasaran?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Menganalisis saluran pemasaran cabai rawit hijau di Pasar lnduk Kramat Jati
2. Menganalisis struktur pasar yang terjadi pada pemasaran cabai rawit hijau di
Wilayah DK! Jakarta
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasaran serta
mengetahui besamya marjin pemasaran di tiap saluran pemasaran

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian

ini

diharapkan

dapat

berguna

bagi

pihak-pihak yang

berkepentingan, yaitu :
I. Peneliti, merupakan kesempatan untuk mempraktekan teori-teori yang selama
ini di dapat di bangku kuliah dalam rclisasinya di lapangan.
2. Petani dan Lembaga Pemasaran, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat
dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambikan keputusan mengenai
pemasaran cabai khususnya eabai rawit hijau, sehingga diharapkan akan
terbinanya kerjasarna yang sating rnenguntungkan (win-win solution) antar
lembaga pernasaran yang terlibat didalarnnya.
3. Masyarakat Um11111, hasil penelitian ini diharapkan dapat berfnngsi sebagai
salah satu sum ber dari sekian ban yak inforrnasi rnengenai komoditi cabai
rawit hijau tcrutama mcngenai aspck pernasaran.

BAB II
TIN.JAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1

Sejarah Penyebaran Tanaman Cabai


Tanaman cabai (Capsicum sp) berasal dari dataran benua Amerika,

tcpa!nya Amcrka Latin (mcksiko) dengan garis lintang 0 - 30 LU 0 30 LS. Cabai yang dulunya merupakan tanaman liar dan disebarkan oleh
burung. Christophorus Columbus menemukan benua Amerika (1492)
adalah salah seorang yang be1:jasa dalam penyebaran cabai. Beliau
mempopulerkan cabai dari benua Amerika ke Spanyol pada tahun 1492.
Cabai masuk ke daerah Makao dan Goa, kemudian masuk ke India,
Cina dan Thailand dibawa oleh bangsa Portugis. Kerajaan Usmani (1513)
menduduki wilayah Protugis di Hormuz, teluk Persia kemudian orang
Turki mulai mengenal cabai. Pada periode berikutnya Turki menduduki
J-longaria, cabai pun populer di J-longaria. Cabai masuk ke Indonesia
diduga dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh.
Ada pula yang menyebutkan bahwa cabai dibawa oleh bangsa Portugis
ketika

berekspansi

ke

Indonesia dan

daerah-daerah

Asia lainnya

(Sunaryono, 2003)
Cabai adalah tanaman sayuran yang memiliki nama ihniah

Capsicum sp. Orang Jawa biasa menyebutnya mengkreng/cengis (cabai


rawit), sedangkan clalam bahasa lnggris Hot Papper. Tanaman cabal

(Capsicum sp) sendiri diperkirakan ada sekitar 20 - 30 spesies yang

sebagian besar tumbuh di Amerika, diantara banyaknya spesies cabai

(Capsicum sp} yang ada beberapanya sudah akrab dengan kehidupan


manusia dan dibudidayakan

diantaranya : C. annum (C. annum var,

annum), c. frutesens, C. chinensis, C, baccatum dan C. pubescens. (Dirjen


Bina Produksi Hortikultura, 2003)
Scdangkan di Indonesia khususnya di pulau Jawa dari ke- 5 spesies
tersebut yang umum dibididayakan adalah cabai besar (C. annum) dan
cabai kecil (rawit). Yang termasuk dalam jenis cabai berbentuk besar
adalah cabai merah besar, cabai merah keriting dan cabai hijau. Sedangkan
untuk bentuk cabai kecil terdiri atas cabai rawit merah dan cabai rawit
hijau.

2.1.l.l Klasifikasi Tanaman Cabai

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan tanam cabai diklasifikasikan


sebagai berikut:

(Di~jen

Bina Produksi Hortikultura, 2003)

>t- Kingdom

: Platae

.t. Dcvisi

: Spcrmatophyta

.t. Subdensi

: Angiospermae

.t. Kelas

: Dicotyledoneae

>t. Subkelas

: Sympetalae

.t.Ordo

: Tubiflora (Solanales)

>t. Famili

: Solonaceae

it. Genus

: Capsicum

+ Spesies

: Capsicum Annum L

Dari klasifikasi di atas terlihat bahwa tanaman cabai termasuk


dalam famili Solanaceae. Menurut Sunaryono (2003) ada dua spesies
cabai yang terkenal, yakni cabai besar dan cabai merah (Capsicum
annum L). sinonim Capsicum annum ialah C. annum var. ceraciforme
Mill, C annum var longwn (DC) Sendt, C annum var grossum (L)
Send!. Tcrmasuk dalam jcnis cabai mcrah adalah paprika (bell pepper),
cabai manis (cayenne pepper) dan lainnya yang tidak terlalu pedas dan
agak n1an is.

Jenis satunya lagi adalah cabai kecil, yang termasuk ke dalam


jenis cabai ini adalah rawit dan cengek. Cabai kancing dan cabai udel
juga termasuk dalam golongan cabai kecil hanya biasanya di pelihara
sebagai tanaman hias. Cabai rawit sendiri terdiri dari 3 varietas, yaitu
cengek leutik yang buahnya kecil, berwama hijau dan berdiri tegak
pada tangkainya, cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih
besar dari cengek leutik, buah muda berwama putih, setelah tua
menjadi jingga, dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna
hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya dapat digunakan sebagai
sayuran, acar dan bun1bu masak .

Varietas cabai unggul yang digemari para petani adalah Hot


Beauty (457), Hero (459), Long Chili (455), Ever Flavor (462),
Passion (451), Amanda, Red Beauty, Hot Chili, Wonder Hot, Arimbi,
Hybrid TM-999, dan Hybrid TM-888. (Sunaryono, 2003)

2.1.1.2 Syarat Tumbuh


Menurut Sunaryono (2003), syarat tumbuh untuk tanaman
cabai ada tiga macam yaitu :
I. Tanah

Cabai dapat tumbuh di segala macam tipe tanah dan ketinggian


tempat, akan tetapi yang paling baik adalah di dataran rendah pada
tanah yang mengandung pasir yakni yang porositasnya cukup baik.
Serta mengandung humus (bahan organik) dan pH antara 5112 -

6112 dengan lapisan bunga tanahnya tebal.


2. lklim
Lebih bagus di tanam didaerah yang tipe iklimya lembab sampai
agak lembab (tipe B, C dan D). Curah hujan yang baik untuk
pcrtumbuhan tanaman cabai berkisar antara 600- 1200 mm per
tahun.
3. Suhu Udara
Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan dan pembuahan cabai
berkisar antar 21 - 28 mm per tahun.

2.1.1.3 Manfaat Tanaman Cabai


Menurut Sunaryono (2003), buah cabai dapat dimanfaatkan
untuk banyak keperluan, baik yang berhubungan dengan kegiatan
masak-mcmasak maupun untuk kcperluan yang lain seperti untuk
bahan ramuan obat tradisional. Konon buah cabai dapat bermanfaat
untuk membantu kerja pencernaan dalam tubuh manusia. Buah cabai

pun berperan bagi pecinta burung ocehan dan burung hias. Bubuk
cabai dapat dimanfaatkan sebagai bahan industri makanan dan
minuman untuk menggantikan fungsi lada clan sekaligus untuk
memancing selera makan konsumen. Ekstraksi bubuk cabai ini pun
sering dipakai dalam minuman ginger beer. Selain mengandung
capsaicin, cabai pun mengandung semacam minyak asiri, yaitu
capsicol. Minyak asiri ini dapat dimanfaatkan untuk menggantikan
fungsi minyak kayu putih. Konon minyak ini dapat mengurangi rasa
pegal, rematik, sesak napas dan gatal-gatal. Selain kegunaan tersebut,
bubuk cabai pun dapat dijadikan sebagai bahan obat penenang. Bahkan
kandungan

bioflavonoids yang ada di dalamnya, selain dapat

menyembuhkan

radang

akibat

udara

dingin,

juga

dapat

menyembuhkan polio.

2.1.2

Dcfinl~i

Pemasaran

lstilah pemasaran dalam bahasa inggris dikenal dengan nama


marketing. Sedangkan menurut Azzaino (dalam Gifriah, 2004) pemasaran
dapat pula dikatakan sebagai tataniaga (marketing) yang diartikan sebagai
suatu proses pertukaran yang meliputi kegiatan untuk memindahkan
barang atau jasa dari produsen ke konsumen.
Limbong dan Sitorus (1991), menyatakan bahwa tataniaga
(marketing) pertanian mencangkup segala kegiatan dan usaha yang
berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang
hasil petianian dan kebutuhan usaha pertanian dari produsen ke tangan

konsumen,

termasuk

didalamnya

kegiatan-kegiatan

tertentu yang

menghasilkan perubahan bentuk dari barang yang dimaksud untuk lebih


memudahkan penyalurannya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi
kepada konsumennya.
Sedangkan mcnurut Kotler (2002), definisi pemasaran terbagi dua,
yakni definisi pcmasaran secara sosial dan dcfinisi pemasaran secara
menajerial. Definisi pcmasaran secara sosial

merupakan suatu proses

sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang .


mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan
secara

mempertukarkan produk yang bemilai dengan pihak lain.

Sedangkan secara menajcrial Kotler menyatakan bahwa pemasaran adalah


proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi
serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran
yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.
Pemasaran merupakan suatu runtutan kegiatan atau jasa yang
dilakukan untuk mcmindahkan suatu produk dari titik produsen ke
konsumen. (Anindita, 2005). Mcnurutnya ada tiga hal yang perlu menjadi
tekankan dalam definisi tersebut:
I. Kegiatan yang di maksud sebagai jasa adalah suatu fungsi yang
dilakukan dalam kcgiatan pemasaran. Fungsi ini bertujuan mengubah
produk berdasarkan bentuk (form), waktu (time), tempat (place), atau
kepemilikan (pressession). Jasa menambah nilai dari suatu prosuk dan
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

2. Titik produscn adalah asal dari produk itu di jual pertama kali oleh
produsen atau petani.
3. Titik

konsumen.

Di

mana

tt!i uan

suatu

pemasaran

adalah

menyampaikan produknya ke konsumen akhir sebagai transaksi


terakhir.
Pemasaran dapat dikatakan produktif bila menciptakan kegunaan

(utility), yaitu proses mcnciptakan barnag dan jasa lebih berguna. Ada
empatjenis kegunaan yang dilakukan dalam pemasaran (Anindita, 2005):
I. Kegunaan bcntuk (from utility), yakni apabila suatu barang memiliki
persyaratan yang dubutuhkan untuk menjadi berguna. Contoh : rumah
pemotongan hewan melakukan pemotongan hewan hingga menjadi
daging yang siap di masak sehingga menambah bentuk kegunaan.
2. Kegunaan tempat (place utility), yaitu kegunaan yang ditimbulkan
ketika

hasil

produksi

di

suatu

tempat

yang

mensyaratkan

menginginkan barang tersebut.


3. Kegunaan waktu

(time utility) dilakukan dalam pemasaran ketika

produk tersedia pada saat yang diinginkan.


4. Kcgunaan milik (prossession utility) dilakukan ketika barang ditransfer
atau ditempatkan atas control dari scseorang yang diinginkan.
Hermawan Kertajaya (dalam Bukhori Alma) merumuskan definisi
pcmasaran yang tclah ada dari dahutu hingga saat ini sebagai bcrikut:

Pemasaran adalah menghubungkan penjual dengan pembeli potensial.

Pemasaran adalah menjual barang dan barang tersebut tidak kembali


ke orang yang menjualnya.

Pemasaran adalah memberikan sebuah standar kchidupan.

Pemasaran adalah sebuah disipli11 bisnis strategis yang mengarahkan


proses penciptaan, penawaran dan perubahan values dari suatu
inisiator kepada stakeholdernya.
Pada akhirnya Hermawan menekankan bahwa sebagai visi,

pemasaran harus mcnjadi suatu konsep bisnis strategis yang bisa


mcmbcrikan kcpuasan bcrkelanjutan, bukan kepuasan sesaat untuk tiga
stakeholder utama di setiap perusahaan yaitu pelanggan, karyawa:n dan
pemilik perusahaan.
Sebagai misinya pemasaran akan menjadi jiwa

bukan sekedar

salah satu anggota tubuh suatu pcrusahaan, karena setiap seksi atau orang
dalam perusahaan harus paham dan menjadi unsur pemasaran. Kemudian
dalam arti nilai bisnis apapun yang dijalankannya, perusahaan harus
merasa terl ibat dalam proses pemuasan pelanggan, baik secara langsung
atau tidak, bukan hanya sebagai pelaksaha yang di gaji, tapi harus secara
total melaksanakan pertambahan nilai dan memberikan kepuasan kepada
pelanggan.
Dalam hubungannya dengan kajian ini, maka pemasaran pertanian
dapat didefinisikan sebagai kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan
perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang hasil pertanian atau
kebutuhan usaha pertanian dari produsen ke konsmnen temiasuk

didalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan


bentuk dari

barang yang dimaksudkan untuk lebih memudahkan

penyalurannya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada


konsumen.

2.1.3

Lcmbaga clan Saluran Pcmasarau


Proses

penyaluran

produk

dari

produsen

ke

kousumen

mengikutsertakan berbagai pihak mulai dari produsen sendiri, lembagalembaga perantara sampai konsumen akhir. Salurau pemasaran ini sangat
penting bagi produsen, sebab produsen tidak akan sanggup meuyalurkan
hasil produksinya sampai ke tangan konsumen.
Di antara produsen dan leonsumen ada jarale yang bisa di isi oleh
berbagai perantara, yang lebih di leenal sebagai trade channels of

distribution yang melakukan berbagai fungsi. Karena adanyajarale tersebut


maka li.mgsi badan perantara sangat diharapkan leehadirannya untuk
menyalurkan barang dari produsen ke konsuen melalui aletivitas atau
lecgiatan yang dikenal scbagai perantara. Produsen tidak munglein
melaksanakan scndiri penyaluran hasil produlesinya, learena tidale efisien,
modal investasi yang besar, pengawasan lebih sulit, banyak personil dan
sebagainya. Merelea sulit menjangkau daerah geografis yang begitu luas.
Saluran

pemasaran

merupakan

himpunan

perusahaan

dan

perorangan yang mengambil alih hak atau membantu dalam pengalihan


hale atas barang atau jasa tertentu selama barang atau jasa tersebut
berpindah dari produsen lee leonsumen .Banyaknya lembaga yang terlibat

dalam saluran pemasaran dipengaruhi oleh jarak dari produsen ke


konsumen, sifat komoditi, skala produksi dan kekuatan modal yang
dimiliki.
Menurut

kotler

dan

Amstrong

(2004),

saluran

pemasaran

(distribusi) merupakan sekumpulan organisasi yang saling bergantung


yang terlibat dalam proses yang menjadikan produk atau jasa siap
digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen atau pengguna bisnis. Secara
umum saluran pemasaran konsumen menurut Kotler dan Amstrong (2004)
dapat di lihat pada Gambar I:

0- level

1- level

2- level

3- Ievel

Pabrikan

Pabrikan

Pabrikan

Pabrikan

P. Besar

P. Besar

Pengecer

Pemborong

Pengecer

Konsumen

Konsumen

Konsumen

Pengecer
Konsumen

Gambar l. Saluran Pemasarau Konsumen


Sun1bcr: Koller dan .1\1nstrong (2004)

Sedangkan saluran pemasaran bisnis yang tei:jadi menurut


Kotler dan Amstrong(2004) dapat di lihat pada Gambar 2 berikut ini :

0-level

1- level

2- level

3-level

Pabrikan

Pabrikan

Pabrikan

Pabrikan

Distributor Industri

Pelanggan
lndustri

Pelanggan
Industri

Perwakilan Pabrikan

Perwakilan Pabrikan

Distributor Industri

Distributor Industri

Pelanggan Industri

Pelanggan Industri

Gamhar 2. Saluran Pcmasaran Bisnis


Sumbcr: Koller dan Amstrong (2004)

Adiyoga dan Soetiarso ( 1995), berpendapat di daerah produsen


pat.la u111u111nya tcrdapat tiga 1naca1n saluran pc1nasaran cabai, yakni :

a. Petani Produsen-.+ Pedagang Pengumpul-1>Pedagang

antar

daerah
b. Petani Produscn -1> Pedagang antar daerah
e. Petani Produsen -1> Pcdagang grosir
Sedangkan di daerah konsumen terdapat tiga maeam saluran
distribusi, yakni :
a. Pedagang grosir -1> Pcdagang Pengeeer -1>

Konsumen

b. Pedagang grosir -1> Pcdagang grosir pembantu __..Pedagang


Pengecer
c. Pedagang grosir -

Konsumen
Leveransir

Konsumen lembaga

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Gambar 3 berikut ini :

Daerah produsen

Petani
Produsen
Pedagang Pengumpul
Pedagang Antar Daerah

'------->Pcdagang Grosir

Leveransir

Konsumen Lembaga

Pedagang Grosir
Pembantu

Pcdagang Pengecer

Rumah Tangga
Daerah Konsumen

Gambar 3. Pola Umum Saluran Pemasaran Produsen dan Konsumen


Sumber: Adiyoga dan Soetiarso (1995)

Bagi produsen menggunakan saluran pemasaran bebas akan sangat


bermanfaat, karena saluran pemasaran ini akan berfungsi sebagai :
Pemberi informasi tentang keadaan lapangan, daya saing, penerimaan
konsumen. selera konsumen dan lain-lain.
Penyalur dapat mengadakan promosi yang turut membantu kelancaran
pcmasaran atau produscn mcnyelenggarakan promosi scndiri yang
sangat membantu usaha penyaluran.
Negoisasi, dilakukan oleh penyalur dengan pihak konsumen tentang
harga, sistem penyaluran dan lain-lain.
Sedangkan

lembaga

pemasaran

menurut

Anindita

(2005)

merupakan suatu kelembagaan dalam pemasaran meliputi berbagai

pedagang perantara dan lembaga-lembaga lainnya yang melaksanakan


berbagai fungsi pemasaran yang terlibat dalam pembelian dan penjual
barang karena mereka ikut memindahkan barang dari produsen ke
konsumen. Menurut Lim bong dan Sitorus ( 1991 ), lembaga pemasaran
merupakan badan-badan atau lembaga yang berusaha dalam bidang
pemasaran, menggerakkan barang dari produsen ke konsumen melalui
penjualan.
Menurut F.L Thomson dalam Limbong dan Sitorus (1991)
lembaga perantara yang umum terlibat dalam bidang pemasaran produk
perlanian antara lain adalah :

I. Carlot Receiver, yaitu para pedagang yang melakukan kegiatan


pembelian produk pertanian tertentu secara bergerak (mobil) dari satu
tempat ke tempat lain dengan mengi,>unakan alat angkut truk (carload).
Biasanya, bila truk-truk yang digunakan telah penuh langsung dibawa
ke pasar-pasar di kota (daerah konsumen).

2. Jobber atau Wholesaler, adalah para pedagang hasil pertanian yang


biasanya menampung pembelian carlot receiver.
3. Broker.

adalah

pcrantara

yang

mempunyai

kegiatan

yang

menghubungkan antar penjual clan pembeli produk-produk pertanian.


Broker umumnya mempunyai kemampuan untuk : (a) Mengumpulkan

keterangan pasar setempat maupun yang lebih luas, (b) Mengetahui


persediaan

produk

pertanian

yang

ingin

diperjualbelikan,

(c)

Mengetahui pergerakan harga di pasar produk pertanian yang

dipasarkan, (d) Mengetahui tentang jenis dan kualitas hasil pertanian


yang diperdagangkan, dan (c) Menghubungkan penjual dan pembali .
./. Co111111isio11 Merchant, adalah pcdagang yang mcndapat kepercayaan

dari pemilik barang ataupun dari pembeli barang dengan kuasa


(menutup kontrak, mclakukan transaksi, dan lain-lain) dari pemilik
barang maupun dari pembeli barang. Alas kcgiatan yang dilakukannya,
commison merchant akan mendapatkan komisi.
5. Auctions, adalah lembaga pemasaran ynang melakukan penjulan

produk-produk pertanian secara terbuka di hadapan konsumen yang


akan membeli produk pertanian bersangkutan. Adapun harga yang
terjadi adalah konsumen yang mengajukan harga tinggi.
6. Chains/ore Buying Organization, adalah lembaga perantara pemasaran

hasil-hasil pertanian yang besar, yang memiliki bagian pembelian di


berbagai lempat atau kota. Karena dukungan modal yang besar dan
keefektifan

dalam

menjalankan organisasi maka kegiatan yang

dilakukannya sangat luas mulai dari pengumpul bahan-bahan (terutama


bahan pangan) sampai penyebarannya ke pasar konsumen akhir,
contohnya Bulog.
7. Service Wholesaler, merupakan gabungan kegiatan antara car/at
receiver

dengan

jobber

untuuk

mempersingkat

waktu

dan

memperlancar penyampaiaan produk pertanian (terutama yang mudah


rusak) ketangan konsumen mela!ui pedagang pengecer.

8. Speculator, adalah lembaga perantara dalam pemasaran pertanian yang


mencari keuntungan besar melaui spekulasi.

9. Retailer, adalah lembaga perantar pemasaran yang langsung menjual


produk pertanian bersangkutan langsung ke tangan konsumen akhir
(rumah tangga). Pcdagang cccran produk pcrtanian di Indonesia
umumnya bcrmodal kccil dan pcnyampaian produk kepada konsumen
dengan cara menunggu konsumen datang sendiri ke tempat pengecer,
tetapi banyak pula yang mendatangi konsumen seperti pedagang
pengecer yang menggunakan pikulan, bakul, gerobak dan lain-lain.
Adapun gambaran umum pola pemasaran produk-produk pertanian
di Indonesia adalah seperti terlihat pada Gambar 4 berikut ini :

Petani
Produsen

Koperasi

Pengecer

KUO

Konsumen
Akhir

~-----il>I TcngkuG;ji---..i Pcdagang Bcsar

Pabrik/ Eksportir

Gambar 4. Pola Um um Saluran Pemasaran Prodnk Pertanian di


Indonesia
Surnbcr: Syahroni (200 I)

Adapun faktor penting yang harus dipertimbangkan bila hendak


memilih pola saluran pemasaran (Limbong dan Sitorus, 1991) yaitu:

I. Pertimbangan pasar yang meliputi konsumen sasaran akhir mencangkup


potensi pembeli, geografi pasar, kebiasaan pembeli dan volume
pesanan.
2. Pertimbangan barang yang meliputi nilai barang per unit, besar, dan
berat barang, tingkat kerusakan, sifat teknis barang, apakah barang
tersebut memenuhi pesanan atau pasar.
3. Pertimbangan intern yang meliputi besarnya modal dan sumber
permodalan, pengalaman manajemen, pengawasan, penyaluran dan
pelayanan.
4. Pcrlimbangan lerhadap lcmbaga dalam rantai tataniaga, yang meliputi
segi kcmampuan terhadap lembaga pcrantara dan kesesuaian lembaga
pcranlara dengan kebijakan pcrusahaan.

2.1.3.l Fungsi-fungsi Pemasaran


Proses penyampaian barang dari tingkat produsen ke konsumen
memerlukan berbagai kegiatan atau tindakan yang dapat memperlancar
proses penyampaian barang atau jasa bersangkutan dan kegiatan
tersebut dinamakan fungsi-fungsi pemasaran.
Menurut Anindita (2005),

fungsi pemasaran merupakan

kegiatan utama yang khusus dilaksanakan untuk menyelesaikan proses


pemasaran. Fungsi-fungsi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga
(Anandita, 2005) yaitu :
1. Fungsi pertukaran, adalah kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam
pemindahan hak milik dari barang dan jasa dipasarkan. Dalam

pemasaran, fungsi merupakan titik di mana harga ditentukan.


Fungsi perlukaran terdiri dari dua fungsi, yaitu : (1) fungsi
pembclian, mcliputi kegiatan mencari barang dari sumber asal
produksi, pengumpulan barang dan kegiatan yang berkaitan dengan
pembelian, dan (2) fungsi penjualan, meliputi berbagai kegiatan
yang menyangkut penjualan seperti promosi, pemasangan iklan
dan berbagai kegiatan yang menciptakan pennintaan.
2. Fungsi fisik, adalah semua tindakan yang langsung berhubungan
atau melibatkan handling (perlakuan), pemindahan dan perubahan
fisik dari suatu komoditi. Fungsi ini melibatkan kapan, apa dan
dimana dalam proses pemasaran yang dapat dikategorikan sebagai
berikut :
a. Storage fimction, yakni fungsi penyimpanan yang ditujukan agar
barang tersebut tersedia pada waktu yang diinginkan, bertujuan
untuk membantu penawaran sebagai persediaan.
b. Tran.111ortation fimction, yakni fungsi pengangkutan dengan
penekanan terhadap penyediaan barang pada tempat yang
sesuai. Fungsi ini dapat be1jalan dengan baik dengan melakukan
pemilihan alternative rute danjenis transportasi yang digunakan.
Fungsi ini termasuk kegiatan bongkar dan muat barang.
c. Prossessing fimction, merupakan kegiatan dari suatu pabrik
yang bertujuan mengubah bentuk dari suatu barang.

3. Fungsi fasililtas, adalah semua tindakan yang bertujuan untuk


memperlancar fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Fungsi fasilitas
terdiri dari :
a) Fungsi standarisasi, yakni penetapan dan perlakuan terhadap
suatu produk agar seragam.
b) Fungsi pembiayaan dan
c) Fungsi informasi pasar.
Sedangkan

menurul

Lim bong dan

Sitorus ( 1991)

llmgsi

pemasaran mcrupakan kegiatan-kegiatan yang dapat memperlancar


proses penyampaian barang atau jasa.

2.1.4

Struktur Pasar
Struktur

pasar

pengambilan keputusan

adalah
oleh

suatu

dimensi

yang

menjelaskan

perusahaan maupun industri, jumlah

perusahaan dalam suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai


ukuran seperti size atau concentration, deskripsi produk dan diferensiasi
produk, syarat-syarat masuk dan sebagainya (Limbong dan Sitorus, 1991 ).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur pasar merupakan
derajat atau tingkat persaingan yang dihadapi oleh perusahaan maupun
industri dan dicirikan oleh adanya konsentrasi pasar, diferensiasi produk ,
dan kebebasan untuk keluar meupun masuk pasar.
Kotler (2000) mengklasifikasikan pasar menjadi dua macam strktur
pasar berdasarkan bentuk dan sifatnya, yaitu pasar bersaing sempurna dan
pasar tidak bersaing sempurna. Suatu pasar dikatakan pasar bersaing

sempurna apabila memiliki ciri-ciri antara lain : terdapat banyakjumlah


penjual maupun pembeli, pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian
kecil dari barang atau jasa yang dipasarkan sehingga tidak dapat
mempengaruhi harga pasar (penjual dan pembeli berperan sebagai price
taker), barang danjasanya bersifat homogen.
Sedangkan menurut Halcrow (1992), pasar dapat dibedakan dari
sisi penjual dan pembeli. Dari sisi penjual terdiri dari pasar persaingan
murni, monopolistik, monopoli, dan oligopoli. Dari sisi pembeli terdiri
dari pasar persaingan sempurna, monopsoni, oligopsoni dan monopolistik.
Dimana masing- masing model memiliki karakteristik yang
berbeda- beda. Hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1> Pasar Pcrsaingan Murni


Di sebut pula sebagai Pasar Persaingan Sempurna. Sedangkan untuk
model lainnya di sebut sebagai pasar persaingan tidak sempurna.
I. Memiliki penjual dalam jumlah yang besar satu sama lain, umumnya
penjual produk dilakukan dalam pasar struktur (organisasi tinggi).
2. Perusahaan yang bersaing menstandarisasi produk yang dijualnya
dalam bentuk kelas-kelas atau grade-grade tertentu.
3. Masing- masing produsen secara individual dianggap kecil atau tidak
dapat mempengaruhi pasar. Hal ini terjadi apabila jumlah produsen
cukup besar dan produk- produk yang dijual sudah terstandarisasi.

4. Ada kebebasan perusahaan untuk masuk dan keluar pasar. Tidak


adanya pembatasan seperti ijin, quota perdagangan atau pun
pengawasan pemerintah daerah.
5. Produk- produk yang di jual bersifat homogen (identical product)
atau produk- produk yang dipasarkan dibedakan menurut kelas atau
grade

tertcnlu,

schingga

lidak

memungkinkan

perusahaan-

perusahaan melakukan persaingan kecuali persaingan harga.


~ Pasar

Persaingan Monopolistik.

I. Jumlah perusahaan seeara nasional relatif lebih sedikit yaitu bekisar


antara 25-30 perusahaan. Masing- masing perusahaan mempunyai
bagian pasar (market share) yang sangat kecil.
2. Produk- produk yang dihasilkan oleh perusahaan secara perorangan
berbeda corak, baik fisik (real) maupun bukan fisik (imaginary).
Yang lerpcnling perbedaan ini dapat mempengaruhi pemikiran
pembeli.
3. Peluang masuk dan kcluar pasar relatif sulit dibandingkan dengan
pasar persaingan murni. Advertensi sangat diperlukan untuk
mempromosikan barang-barang baru yang masuk pasar.
~ Pasar

Persaingan Oligopoli

1. Terdapat sedikit perusahaan, tetapi mendominasi pasar produk.


2. Pada

umumnya

hanya

memproduksi

barang-barang

yang

berstandarisasi dan berbeda corak. Jni dilakukan untuk dominasi

pengaruh terhadap harga dan praktek-praktek dari persaingan antar


perusahaan.
3. Tingkat

pengawasan

terhadap

harga terbatas

atau

dibatasi

ketergantungan antar perusahaan yang menguntungkan. Pelakupelaku

oligopoli

pada

umumnya

menghindari

agresivitas

pcrsaingan harga yang dapat menimbulkan perang hargu..


4. Rintangan untuk masuk pasar cukup selektif.
5. Biaya yang clikeluarkan untuk advertensi dan promosi perdagangan
pada umunya cukup tinggi, terutama di antar pelaku oligopoli yang
menjual produk yang berbeda corak.
<$> Pasar Persaingan Monopoli
I. Barang yang dihasilkan bersifat unik, dalam arti tidak dij umpai

barang- barang substitusi.


2. Penjual monopoli besifat sebagai penentu harga, sehingga harga
perlu

diatur

secara

umum

atau

penentuan

harga

secara

kclembagaan.
3. Kebcradaan monopoli tcrgantung kepada perlindungan terhadap
masuknya perusahaan baru ke dalam pasar. Pelindungan ini dapat
bersifat ekonomi, legalisasi dan teknologi.
4. Memerlukan atau tidaknya advertensi dan promos1 semua ini
tergantung dari situasi pasar dan besarnya biaya advertensi dan
promosi penjualan.

Untuk lebih jelasnya karakteristik struktur pasar

dapat di Iihat

pada Tabel 4 berikut ini :

Tabel 4. Karakteristik (Ciri) Struktur Pasar Berdasarkan Sisi


Penjual dan Pembeli
Struktur Pemasaran Dari Sisi penjual dan Pembeli
Monopolistik

Persaingan

-"'"

==
.:a Jumlah Perusahan
....

Sifat Produk

.:.:
....

::.::"

Kemudahan

Murni
Sangat banyak
Homogen,
identik
Mudah

Ban yak
Diferensiasi,
beberapa corak
Relatif mudah

Monopoli

Oligopoli
Sedikit
Homogen
Diferensiasi
Sulit

atau

Satu
Unik
.

Dibatasi

Masuk Pasar

Kemampuan
Tidak dapat
Sedikit,
tetapi Mampu,
tetapi Mampu
Mempengaruhi
dibatasi oleh adanya memperhitungkan kecuali ada
_perilaku QCsaing
reguJasi
__ !~_!].~~--- ---------- --- .,------------- -barang substitusi
Su1nbcr: J lalero\v ( 1992)

2.1.4.l Informasi Pasar


lnformasi pasar merupakan suatu informasi yang dibutuhkan
oleh konsumen maupun produsen, baik dalam perencanaan maupun
dalam sistem pemasaran. Dahl dan Hammod (I 997) menyatakan
bahwa terdapat tiga jenis informasi pasar, yaitu :
I. Market News, yaitu informasi harian yang dikomunikasikan antara
pembeli dengan penjual yang terdiri dari harga, volume, kualitas
dan preferensi konsumen.
2. Market Outlook, merupakan proses analisis untuk perencanaan yang
akan datang. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh partisipan yang
kegiatan pemasarannya sudah besar.

3. Atfrertising, yaitu bcrguna untuk informasi pasar yang diperoleh


dari penjualan atau pemerintah mengenai harga, jumlah, mutu dan
sebagainya.
lnformasi pasar merupakan salah satu penentu struktur pasar
serta dapat mempengaruhi pemasaran suatu komoditas. lnformasi
pasar tersebut dapat di terima oleh produsen dan konsumen secara
utuh, sehingga dapat digunakan sebagai sinyal untuk menentukan
jumlah, harga maupun mutu produk yang dihasilkan atau di beli oleh
lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat (Dahl dan Hammond,
1997).
Keadaan informasi pasar yang baik cenderung membawa pasar
yang bersangkutan kepada struktur pasar bersaing dan menunjang
terbentuknya keterpaduan pasar yang kuat.

2.1.4.2 Harga
Harga suatu barang merupakan nilai pasar (nilai tukar) dari
barang

yang

pembentukan

dinyatakan
harga

dalam

digolongkan

jumlah
ke

uang.

dalam

Faktor-faktor

kekuatan-kekuatan

permintaan dan penawaran. Harga ditentukan oleh konsumen di tingkat


konsumen akhir.
Perubahan harga terjadi karena perubahan permintaan dan
penawaran barang bersangkutan, terdiri dari :
Perubahan harga umum mempengaruhi perubahan harga produk
pertanian, akibat dipengaruhi oleh tingkat upah dan biaya marjinal.

Perubahan musim terjadi akibat produk pertanian dipengaruhi musim


atau waktu tanam, sehingga adanya perubahan produksi dan
pemasarannya. Selain itu juga produk pertanian terbentur waktu
karena mudah rusak, cepat busuk dan lain sebagainya.
Fluktuasi harga jangka pendek, yaitu perubahan harga dari jam ke
jam, hari ke hari, maupun minggu ke minggu yang mengakibatkan
perubahan sementara dalam permintaan dan penawaran.
Sedangkan menurut Ratya Anindita (2004), secara umum
terdapat lima jenis fluktuasi (naik turunnya) harga, yaitu :
I. Variasi Harga M usiman.

Fluktuasi harga musiman

1111

biasanya terjadi di saat pola yang

relatif pada permintaan dan penawaran. lklim dan permintaan


musiman untuk beberapa komoditi adalah faktor yang penting yang
mempengaruhi fluktuasi harga musiman. Termasuk didalamnya
komoditi pertanian yang sangat berpengaruh terhadap iklim yang
scdang bcrlangsung.
2. Variasi Harga Tahunan
Fungsi permintaan dan penawaran akan menggambarkan sebagai
rata-rata hasil pertahun dengan harga tahunan yang mengubah
kenaikan dari beberapa fungsi. Khusus untuk komoditi pertanian
memiliki variasi harga tahunan yang besar, karena disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya :

Hasil panen mudah terpengaruh oleh kondisi cuaca dan hama


penyakit.
Luas lahan pertanian yang ditanami dan yang di panen setiap
tahun berubah.
Elastisitas harga dari permintaan untuk beberapa komoditi
perlanian adalah tidak elastis. Sehinggan apabila terjadi sedikit
pergeseran atau perubahan penawaran mengakibatkan fluktuasi
harga yang bcsar.
3. Trend
Trend yang lcrjadi pada beberapa harga komoditi pertanian
dikaitkan dengan tingkat inflasi dan deflasi di dalam perekonomian
dan beberapa faktor yang khusus dari produk pertanian hasil
pertanian. Hal ini termasuk perubahan-perubahan dalam selera

(taste) dan pilihan (preference) para konsumen. Kenaikan produksi


dan pendapatan serta perubahan teknologi yang juga digunakan
dalam proses produksi.
4. Pergerakan Harga Sesuai Siklus
Maksudnya adalah harga-harga dan jumlah yang ditawarkan
digambarkan saling berhubungan sebagai mata rantai kausalitas
yang berlangsung berulang-ulang. Siklus ini dapat dijelaskan
dengan model sarang laba-laba (Cobweb), yaitu teori yang
menjelaskan komponen siklus dari pasangan jumlah dan harga
tertentu melalui jalur waktu (time path). Harga yang tinggi akan

menyebabkan produksi yang tinggi, kemudian setelah terjadi


pcnawaran yang tinggi akan mengakibatkan harga yang rendah.
5. Pergerakan Harga Random
Pergerakan

ini mengacu pada pergeseran harga yang tidak

diperkirakan atau tidak diharapkan seperti penemuan, serangan


hama, kehancuran fisik dari angin topan atau banjir dan lain-lain. Di
samping itu pola pergerakan ramdom juga diamati karena adanya
perubahan siklus ekonomi, seperti adanya resesi atau depresi dan
recove1y.

Perubahan lain yang terjadi akibat adanya perubahan relatif


besar dinamakan perubahan struktural, seperti adanya krisis ekonomi,
jatuhnya rupiah, liberalisasi perdagangan dan peristiwa lain dimana
dampaknya dari perubahan dalam penawaran ataupun permintaan
dilakukan melalui dummy variabel.

2.1.5

Marjin Pcmasaran
Menurut

Limbong

dan

Sitorus

(1991),

marjin

pemasaran

merupakan nilai-nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan pemasaran mulai


dari produsen hingga ke tingkat konsumen akhir. Sedangkan secara teoritis
marjin pemasaran adalah perbedaan harga yang harus dibayarkan oleh
konsumen dengan harga yang di terima produsen.
Marjin pemasaran juga merupakan perbedaan jarak vertikal antar
kurva permintaan dan penawaran tingkat produsen dengan tingkat lembaga
pemasaran yang tcrlibat atau tingkat pcngecer pada pesaing sempurna,

yang terdiri alas biaya dan keuntungan tataniaga. Biaya pemasaran adalah
semua jenis biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang terlibat
dalam sistcm pemasaran suatu komoditas dalam proses peyampaian
barang atau komoditas mulai dari titik produsen ke titik konsumen.
Sctiap lcmbaga tataniaga yang ingin melibatkan diri dalam suatu
sistcm pcmasaran tcrlcntu, baik komoditas industri maupun komoditas
pertanian, pada dasarnya mempunyai motivasi atau tujuan untuk mencari
atau memperoleh keuntungan atau imbalan pengorbanan yang diberikan
oleh lembaga tersebut. Adanya perbedaan kegiatan dari setiap lembaga
akan menyebabkan pebedaan harga jual dari lembaga yang satu dengan
lembaga lainnya. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam
penyaluran di titik produsen dibandingkan harga yang dibayarkan
konsumen. Perbedaan harga komoditas ini disebut sebagai marjinal
pemasaran. Untuk lebih jelasnya, marjinal pemasaran dan nilai marjinal
pemasaran dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini :

Harga

Pr ------------------------

''
'
emasaran

' ai Marji

Marjin Pemasaran

'

Sr

' Q,,r

(P,- Pi)

Pr!-----------:~

!~Dr
'
'

"-----------'-----+Jumlah
Qr,f

Gambar 5. Hubungan Antara Marjin Pemasaran dellgan Nilai Marjlil


Pemasaran
Sumbcr : Dahl dan Hammond ( 1997)

Keterangan :
Pr

Harga di tingkat pengecer

Pr

Harga di tingkat pemasok

Sr

= Penawaran di tingkat pengecer (Supply Turlman)

S,

= Penawaran di tingkat pcmasok (Supply Primer)

D,

Permintaan di tingkat pengecer (Demand Primer)

Dr

Permintaan di tingkat pemasok (DemandTurunan)

Q,,r

Jumlah keseimbangan di tingkat pemasok dan di tingkat pengecer

'

Dari gambar tersebut dapat dilihat besamya nilai marjin pemasaran


merupakan hasil perkalian dari perbedaan harga pada dua tingkat lembaga
pemasaran (dalam hal ini selisih harga di tingkat pengecer dengan harga di
tingkat pamasok) dengan jumlah produk yang dipasarkan. Besarnya nilai
margin pemasaran sebesar daerah segi empat (P, - Pr) x Q,.f.. Sedangkan
nilai (P, - Pr) menunjukan besarnya marjin pemasaran suatu komoditi
persatuan atau per unit. Marjin pemasaran pada dasarnya terdiri dari
komponen, yaitu biaya dan keuntungan (marjin pemasaran = (P,- Pr) x Q,,r
=

biaya ditambah keuntungan) (Hermansyah, 1998)


Di dalam sludi pcmasaran, scluruh komponcn marjin pemasaran

ditampilkan sebagai biaya pemasaran dan keuntungan bersih. Keuntungan


bersih di dapat dari perbedaan antara marjin pemasaran dan biaya
pemasaran. Keuntungan bersih nmencerminkan pembayaran atas resiko,
manajemen dan modal yang dimasukkan dalam memindahkan prodt1k dari
satu tingkat pasar ke tingkat pasar yang lain.
Dengan adanya perbedaan kegiatan dari setiap lembaga akan
menyebabkan perbedaan harga jual antara lembaga yang satu deng!ln
lembaga yang lain sampai tingkat konsumen akhir. Semakin banyak
lembaga tataniaga yang terlibat dalam penyaluran suatu komoditas dari
titik produsen sampai titik konsumen, maim akan semakain besar
perbedaan harga komoditas tersebut di titik
dengan harga yang akan di bayar konsumen.

produsen dibandingkan

Berdasarkan beberapa penelitian mengenai cabai, disimpulkan


bahwa struktur pasar yang terjadi adalah tidak bersaing sempurna.
Sehingga gambaran maijin pemasaran untuk komoditi cabai akan naik
dengan bcrtambahnya jumlah cabai yang di minta. lni berarti bahwa kurva
permintaan cabai di tingkat pengecer dengan pennintaan cabai di tingkat
usahatani scmakin kecil. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Gambar
6 berikut ini :

Harga

Marj in
Pemasaran

Gambar 6. Marjiu Pcmasaran yang Mennrun, Konstan atan


Menaik Secara Absolut dcngan Semakin
Bcrtambahnya Jnmlah yang di Minta.
Keterangan : a. Menurun (decreasing)
b. Tctap (cons/an)
c. Menaik (increasing)
Sumbcr : Dahl dan Hammond, 1997

Marjin pemasaran cabai yang manaik ini disebabkan karena


bertambahnya pennintaan cabai juga menaikkan biaya pemasaran untuk
menyediakan cabai di pasar. Naiknya biaya pemasaran ini karena lembaga
pemasaran di daerah berusaha memasok cabai dari daerah yang semakin

jauh, akibatnya biaya transportasi pengadaan cabai semakin meningkat.


Apabila biaya pemasaran meningkat maka secara sistematis merjin
pemasaran juga kan meningkat.
Melalui analisis marjin dapat diketahui penyebab tingginya marjin,
sehingga dapat di cari pemecahan masalahnya agar distribusi marjin
menycbar sccara wajar di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat
didalamnya. Strategi perbaikan tataniaga juga ditempuh dengan cara
memperkecil marjin talaniaga, yaitu dengan cara mengurangi keunlungan
yang berlebihan atau mengurangi biaya tataniaga yang dikeluarkan.

2.2 Pcnclitian Terdahulu


Azir (2002) dalam penelitian kajian pemasaran dan integrasi pasar cabai
merah keriting di OKI Jakarta, menghasilkan kesimpnlan bahwa tidak terdapat
integrasi

jangka panjang antara pasar grosir dengan eceran. Hal ini

disebabkan perubahan harga yang terjadi di pasar grosir tidak dapat diteruskan
sepenuhnya ke pasar eceran karena adanya pola yang konstan dalam jangka
panjang antara penawaran dan permintaan di kedua pasar tersebut.
Muslikh (2000), berkesimpulan bahwa struktur pasar cabai rawit merah di
tingkat eeeran Pasar tanah Abang dan Pasar Jati Negara ketika berhadapan
dengan pedagang grosir tidak bersaing, melainkan cenderung bersifat
oligopoli homogen. Sedangkan ketika pedagang pengecer bertemu dengan
konsumen, lebih didasarkan pada proses tawar menawar. Oleh karena itu
pedagang pengecer dan konsumen tidak dapat mempengaruhi pasar.

Syamsuri (2002) dalam pcnclitian tcntang analisis cfisicnsi pemasaran


buah lokal dan buah import di DKI Jakarta. Mcndapatkan kesimpulan bahwa
saluran pemasaran buah yang masuk jakarta melalui Pasar lnduk Kramat Jati
sebagai pusat grosir buah. Buah lokal yang masuk berasal dari pedagang
pengumpul yang berada di sentra produsen, sedangkan buah impmt yang
masuk melalui importir yang berada di Jakaita. Sedangkan struktur pasar yang
te1jadi di tingkat pedagang pengumpul, importir dan grosir bersifat oligopoli,
sedangkan untuk pasar pengecer bersifat monopolistik. Marjin pemasaran
terbesar adalah di tingakt buah import sebab biaya pemasarannya di bawah l 0
persen dari hargajual.

2.3 Kerangka Pemikiran Deskriptif

Pasar

Sist0m Pemasaran
CabaiRawit

Strnktnr
Pasar

Saluran dan
Lembaga
Pemasaran

Fnngsi
Pemasarau

Iuformasi
Pasar
Uarga

Kompouen Biaya

1------,
I
I

r-------------------- ------.'

''
'''
''
''
''
'''
''
'

''
''
'

'--------------------,'

' Mctodc Analisis


Data

'''
'
'''
'''
''
''

M1
M1

'

''
'
''
'''
~Psi- Pill '
''
~Ci+ it1
''
''

'''
''
'''
'''

1. BiayaProduJiSi
2. Biaya
Pemasaran
- Transportas
TK
Restribusi
BougkarMuat
- Perawatan
Penynsutan
- Nimba11g
Kemasau
Pikul

--

- J>ll

'---------------------

'-------------------~
I
I
I
I
I

---------

Marjin Pcmasaran

Gambar 7. Keraugka Pcmikirau Deskriptif

:
''
''
''
''
'
''

BAB 111

METODE PENELlTIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di pasar Induk Kramat Jati sebagai pasar acuan,
karena pasar ini rncrupakan satu-satunya pasar grosir yang ada di wilayah DK!
Jakarta. Pasar ini mcncrima pasokan cabai merah dari daerah-daerah sentra
produksi di pulau jawa se11a menyalurkannya ke seluruh DK! Jakarta. Sedangkan
untuk daerah produsen cabai penulis rnengambil sample di daerah Daerah
Malingping Desa Mulangsari Kecarnatan Pangkalan Selatan.krawang dengan
pertirnbangan daerah tersebut mewakili sentra daerah lain dalam mensuplai
pasokan cabai rawit hijau di pasar Induk Kramat Jati. Penelitian dilakukan selama
dua bu Ian, mulai bu Ian Juni hingga Juli 200.5.

3.2 .Jcnis dan Snmber Data


Data yang digunakan bcrsurnbcr dari data primer dan data sckunder. Data
primer dipcroleh melalui wawancara dengan produsen cabai (petani), pedagang
pengecer, pengulak serta lembaga pernasaran yang terlibat dalam pengisian
kuesioner. Data primer rneliputi data biaya produksi di tingkat petani, harga
jualnya serta harga beli, biaya-biaya pemasaran, sertajalur pemasaran yang dilalui
komoditi cabai rawit hijau.
Sedangkan surnber data sckunder berupa informasi harga rningguan cabai
rawit hijau mulai awal Januari hingga Juli 2005 dari Pasar Induk Kramatjati. Data
sekunder lainnya berasal dari laporan seperti buletin, basil riset dan tulisantulisan

yang berkaitan dengan masalah. Sebagai data penunjang dikumpulkan informasi


dari media massa, internct,dan instansi terkait serta literature-literatur yang
berkaitan seperti dari

BPS, Direktorat Jendral Bina Hortikultura dan Koperasi

Pasar lnduk Kramat Jati (PD. Pasar Jaya). Data sekunder ini bersiifat kuntitatif
dan kualitatif.

3.3 Metodc Pcngumpulan Data


Mctode pengumpulan data scperti pengambilan responden yang digunakan
dalarn pcnclilian ini adalah

pc11ga111bilan

pcta11i

1nenggunakan .\'trat{fieci J(tJJu/0111 .~anJfJ/ing, yaitu

rcsfH)ndcn

dilakukan

sccara

sc11ga3a

bcrdasarkan

pertimbangan atau kriteria tertentu. Kriteria responden yang di pilih adalah para
pedagang yang menjual cabai rawit hijau dan para petani yang menanam khusus
cabai raw it hijau. Dengan jumlah populasi 5 orang petani dan 5 orang pengulak di
daerah produsen (krawang), 14 orang pedagang grosir di Pasar lnduk Kramat Jati,
I 0 orang pengecer di Pasar lnduk Kramat Jati dan 8 orang pengeeer di Pasar
Kramat jati.
Sedangkan penelitian responden lembaga pemasaran dilakukan dengan
mengikuti arus barang dalam proses penyalurannya dari

produ~en

sampai

konsumen akhir.

3.4 Metode Pcngolahan dan Analisis Data


Dalam penelitian ini, analisis data adalah proses pengelompokkan,
membuat suatu urutan, memanipulasi data statistik serta meningkatkan data
sehingga data mudah di baca dan difahami. Data yang terkumpul kemudian

dilakukan pengeditan dan pentabulasian data mentah. Data tersebut kemudian


dikelompokkan sebagaian dengan indikator-indikator yang akan dijadikan ukuran
penclitian. Data kuntitatifyang terkumpul diolah dengan menggunakan alat hitung
(kalkulator).
Proses analisis data dengan manipulasi statistik lanjut dan interprestasi atas
data yang dimasukkan sesuai dengan dasar teoritik yang di pakai. Dasar teori yang
di pakai dalam analisis ini adalah marjin pemasaran ..

3.4.1

Analisis Saluran Pemasaran.


Menganalisis

dengan

mengamati

lembaga

pemasaran

yang

digunakan scbagai perantara dalam mehyampaikan produk dari produsen


ke

konsumen

akhir.

Masing-

masihg

saluran

yang

ada

akan

memperlihatkan faktor- faktor yang 11iempcnganthi maijin pemasaran dah


besaran marjin di tiap saluran pcmasanin.

3.4.2

Analisis Struktur Pasar


Menganalisls struktur pasar cabai rawit hijau yang terjadi di

wilayah DKI Jakarta, dapat di lihat bcrdasarkan saluran pemasaran yang


ada, jmnlah lcmbaga pemasaran yang terlibat, mudah tidaknya masuk
pasar, jenis- jenis komoditi yang dipasarkan serta informasi pasar.

3.4.3

Analisis Marjin Pemasaran

Dirnana:
~Marj in

M;

pemasaran pada pasar tingkat ke-

" 1-larga jual pada tingkat ke-i


=

C;

Harga beli pada pasa1 tingkat ke-i

- Biaya pemasaran pada tingkat ke-i


- Keuntungan pcmasaran pada pasar tingkat ke-i
Penyebaran marjin pemasarari cabai rawit hijau dapat pula di ambil

berdasarkan pcrscntasc laba terhadap biaya yang dikeluarkan untuk


rnernasarkan cabai rawit hijau oleh niasing-rnasing lembaga pemasaran.
Pcrhitungan dilakukan dcngan rncnggunakan rumus:

Rasio Biaya - Kcuntungan (%)

= ~x

100

C;

Dimana:
11 1

= Keuntungan lembaga pemasaran

C;

=Biaya lembaga pemasaran

BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Scjarah dan Perkcmbangan Pasar lnduk Kramat Jati


Pada umumnya Pasar lnduk Kramat Jati merupakan pusat perdangan sayur
-mayur dan buah-buahan di Wilayah OKI Jakarta yang bersifat menyeluruh
dcngan fasilitas-fasilitas pcndukung yang dipcrlukan sebagai pusat perdagangan
sayur-1nayur.
Berbicara !entang Pasar lnduk Kramat Jati berkaitan pula dcngan PD
(Pcrusahaan Daerah ) Pasar Jaya. Di mana PD. Pasar Jaya merupakan pengelola
pasar yang berada di DK! Jakarta, salah satunya Pasar lnduk Kramat Jati (dari
sekitar I 50 pasar yang tersebar di 5 wilayah OKI Jakaita. Di mana tugas pokok
PD. Pasar Jaya

adalah : (I) Melaksanakan pelayanan urn um dalam bidang

pemasaran, (2) Membina para pelaku atau pedangan pasar, (3) Menciptakan
stabilitas harga serta membantu mendistribusikan barang dan jasa. Sedangkan
fungsi

utamanya

adalah

(l)

Melakukan

perencanaan,

pembangunan,

pemcliharaan dan pcngawasan fisik rasar, (2) Mclakukan pengclolaan pasar dan
fasilitas pcrpasaran lainnya, (3) Melakukan pembinaan terhadap pclaku pasar/
pedagang.
Berdasarkan keputusan Direksi PD. Pasar Jaya nomor 759 tahun I 995,
Pasar lnduk Kramat Jati berfungsi sebagai terminal pcngadaan, pennyimpanan
dan penyaluran sayur-mayur dan buah-buahan yang secara lingkup dan pengaruh
kegiatan perekonomian tidak hanya secara lokal, tetapi juga secara regional dan
nasional. Kegiatan yang juga rutin dilakukan adalah pengaturan pengai1gkutan,

bongkar-muat, penimbangan, pensortiran, standarisasi/ grading, pengepakan serta


pengadaan pencatatan produk yang keluar masuk dan harga yang berlaku sebagai
laporan harian yang dapat dipergunakan sebagai informasi pasar sayur-mayur dan
buah-buahan.
Sayur-mayur yang diperdagangkan di Pasar Induk Kramat Jati berasal dari
berbagai daerah di pulau Jawa dan Sumatera. Khusus untuk komoditi cabai pada
saat pengamatan dilapangan pada umumnya didatangkan di daerah Rembang,
Wates, Yogyakarta, Tumanggung, Magelang, Bawangan, Krawang, Brebes,
Jember, Pekalongan dan Metro Lampung. Jenis cabai yang didatangkan beragam
dari mulai cabai kriting, cabai merah besar, cabai rawit hijau dan cabai rawit
merah. Sejalan dengan waktu di Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya tersedia
sayur-mayur dan buah-buahan tetapi juga jenis komoditi umbi-umbian.
Seperti pasar kondisi pasar pada umunya, Pasar Induk Kramat Jati pun
mencerminkan kondisi pasar di Indonesia pada umumnya, di mana kondisi pasar
yang becek, semrawut, sampah dimana-mana dan yang pasti sangat bau sehingga
amat sangat tidak nyaman untuk berbelanja. (Gambar 6)

Gambar 6 Kondisi Pasar Induk Kramat Jati Sebelum Peremajaan

Mengacu kepada fungsi utamanya pihak pengelola Pasar Induk Kramat


Jati (PD. Pasar Jaya) melakukan peremajaan dan penataan tempat usaha sejak 28
Februari 2002 hingga tahun 2006. Ini dilakukan untuk membenahi diri akan
peforma yang lebih baik dalam bidang Manajemen, SOM, Kualitas Pelayanan,
Penyediaan Sarana dan Prasarana belanja serta Kualitas dan Kuantitas komoditi
yang di jual sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sehingga diharapkan citra pasar tradisional menjadi lebih baik dan
mendorong meningkatnya konsumen untuk berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati.
Dapat di lihat pada Gambar 7, dimana kondisi Pasar Induk Kramat Jati setelah
peremajaan (barn sebagian) mencerminkan pasar tradisional yang berkonsep
modem untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan maupun sarana dan
prasarana.

Gambar 7. Kondisi Pasar Indnk Kramat Jati Setelah Peremajaan


Selain itu pula akan mulai memberlakukan sistem online outlet di Pasar
Induk Kramat jati, sehingga pembeli dapat mengetahui harga pada saat itu juga.
Layanan tersebut mulai dapat dimanfaatkan awal 2006 nanti. Sehingga nantinya
diharapkan Pasar lnduk Kramat Jati akan menjadi Pusat Perdagangan Agrobisnis
Indonesia.

4.1.1 Visi, Misi dan Tujuan Pasar Induk Kramat Jati


Visi , Misi dan Tqjuan Perusahaan dapat tercennin dari peranan yang
dilakukan PD. Pasar Jaya sebagai berikut :
I. Memberikan lklim Usaha Yang Kondusif

a. Mcnyempurnakan Sistem Manajemen (Manual


Krama~ati)

Pasar Induk

: baik cara membeli, menjual, leading unloading,

pengangkutan barang, kendaraan, penanganan, kendaraan angkut,


mcmbcrikan fasilitas AGRO OUTLET bagi daerah.
b. Penyempurnaan Tata Niaga (pedagang adalah Asct Perusahaan)
Upaya bagaimana pcdagang mcndapatkan barang yang lebih
mu rah. continuitas

te~jamin/

kc~jasama

memangkas jalur distribusi.

dcngan MAKRO

program KOK! (kios keliling)


2. Mcmbcrikan Sarana Usaha Yang Layak
Fisik bangunan baik/memadai, penataan pasar dan lingkungan pasar.

3. Mengoptimalkan Nilai Prope1ty Pasar


Nilai prope1ty pasar yang dimiliki pedagang (20 thn) meningkat, bankeble

4.1.2 Lokasi dan Kondisi Pcrusahaan


Pasar lnduk Kramat Jati terletak di JI. Raya Margonda KM 17 Kelurahan
Kampung Tcngah, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur Telp. 8400859.
Mulai didirikan scjak tahun 1973, di atas areal seluas 14,70 l-lektar tetapi luas
lahan yang baru digunakan cfektif scbesar 11,00 l-lektar, dan disahkan
berdasarkan SK Gubernir OKI Jakaita No. D-V-a.18/1/19/74.

Dcngan mcmiliki tcmpat usaha sebanyak 3.864 tcrnpat dengan sifat


Jayanan grosir 2. I 24 tempat dan cceran 1740 tcmpat, khusus pedagang grosir
cabai sebanyak 130 tcmpat dan pcdagang pengecer 95 tempat dan di dukung
luas parkir 9.793

111 2

dengan waktu kegiatan 24 jam/ hari dan daerah distribusi

terbcsar di wilayah pasar DK! .laka1ta 75 pcrsen sedangkan pasar Botabek 20


persen Restoran 0,50 persen

Swalayan 0,50 persen dan luar Botabek 4,00

persen Hal inilah yang mettjadikan Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasar
acuan terbesar di wilayah DKI Jakarta.
Dengan berjalannya permajaan Pasar lnduk Kramat Jati, keadaan pasar
yang nyaman sudah dapat dinikmati, walau pun tahap pembangunannya barn
sckitar 80 perscn dan yang barn mcnikmati lokal barn adalah komoditi buahbuahan dan scbagian kccil sayur-mayur dan umbi-umbian.

4.1.3 Strnktur Organisasi Pcrnsahaan


Sruktur organisasi yang ada mengacu kepada keputusan rapat Direksi PD.
Pasar Jaya, selaku pcngelola Pasar lnduk Kramat Jati terdiri dari : Manager
Area, Wakil Manager, Asistcn Manager Administrasi dcngan staf Asisten
Manager Administrasi Umum dan Keuangan, Asisten Manager Operasional
PPTU dan Operasional dimana tiap- tiap staf membawahi supervisor
(Lampiran I). Beserta masing- masing tugas tiap divisi (Lampiran 2)

4.1.4 Kegiatan Usaha


Selain rnenyewakan (setiap tahun diperpanjang) kios bagi pedagang grodir
dan pengecer, Pasar lnduk Kramat Jati juga memiliki sarana dan prasarana
penunjang seperti :
0 Bank (Bank Dagang Negara dan Bank OKI)
0Koperasi Pcdagang Pa~ar (Koppas)
0Badan Pengelola Bongkar Muat (Bapengkar)
0Sarana Angkutan (berrnitra dengan PT. KABAPIN JAY A)
0Kebersihan (bermitra dengan CV. Giri Puri Sandi)
0 Kearnanan (bermitra dengan Nanggala Security Indonesia)
0 Poliklinik, MCK, Lapangan parkir serta Wartel

4.2 Sejarah dan Perkembangan Daerah Malingping Desa Mulangsari


Kecamatau Pangkalan Krawang Selatan.
Desa Malingping scperti kcbayakan dacrah lainnya di wilayah Krawang
Selatan. Para penduduknya harnpir 90 persen bekerja sebagai petani. Komoditi
pc1ianian yang banyak ditanam adalah padi. Khusus di desa malingping selain
menanam padi, para petani setelah musin panen padi selesai maka ladangnya akan
ditanami komoditi cabai. Jenis cabai yang di tanam hanyalah cabai rawit,
dipasaran lebih dikenal dengan nama cabai rawit jinggol.
Dengan di himpit olch kali Cigeuntis dan kali Cibeureut, desa Malingping
merniliki keuntungan akan ketersediaan air yang cukup untuk mengairi ladang.
Dibandingkan dengan desa sekitarnya, desa Malingping bisa dikatakan sebagai

dacrah yang subur. Hal ini pun bcrpengaruh kepada harga jual tanah yang cukup
tinggi dibandingkan denga daerah lainnya.
Jarak desa malingping dengan pasar terdekat cukup jauh, bahkan dengan
kota kabupaten. Sebab desa malingping terletak di perbatasan antara daerah
Bekasi dengan Kmwang dan Jonggol (Cileungsi).

4.2.1 Teknik Budidaya


4.2.1.1 Persiapan Tanah
Sctelah masa pancn padi telah selesai, tanah yang kan ditanami cabai di
bajak kembali serta dibcrsihkan dari rumput maupun alang-alang. Selanjutnya
dibcri pupuk kandang dcngan ditaburkan sccara mcrata. Bcbcrapa hari
mcnjelang tanam, tanah diratakan sambil pupuknya diaduk merata dengan
cangkul. Kemudian tanah dibuat bendengn dengan ukuran lebarnya sekitar 1,2
m-1,5 m. dan diantar bendengan di buat parit sedalam 50 cm dengan lebar 50
cm, ini dilakukan agar drainasenya akan lebih baik. Kegiatan terakhir membuat
lubang-lubang tanam dengan jarak 50 x 40 cm.

4,2.1.2 Benih
Benih

yang

digunakan

berasal

dari

pertanaman sendiri.

Dengan

menggunakan buah cabai yang sudah masak di pohon. Buah cabai yan gsudah
terpilih kemudian langsung di jemur tanpa dikupas. Setelah cukup kering di
kupas dan langsung ditanam atau sebagian disimpan untuk musim tanam
berikutnya. Keperluan benih untuk satu hektar 196-229 (gr/Ha) dengan asumsi
jarak tanam (cm) adalah 70 x 50 cm.

4.2.1.3 Persemaian
Tanah yang digunakan untuk perscmaian adalah campuran antara pupuk
kandang dcngan tanah dcngan perbandingan I : I. Bcnih disemai dcngan jarak

5 cm lalu di tutup dcngan lapisan tanah yang tipis. Kemudian diatasnya


dibuatkan seperti atap untuk menghindari teriknya sinar matahri secara
langsung maupun hujan.
Bibit dipindahkan setclah bcrumur sckitar 6 minggu sctelah di tabur atau
yang tclah mempunyai tinggi 10 cm dan sudah membcntuk daun 3-5 helai.

4.2.1.4 Penanaman
Penanaman bibit cabai dilakukan pada sore hari supaya tidak layu. Tanah
harus lembab tapi tidak bccek agar bibit cabai ccpat tumbuh. Bibit ditanam
tidak boleh lebih dalam dari daun p(:rtama. Penanaman bibit hams hati-hati
jangan sampai merusak akar sebab bibit cabai muda sangat sensitif.

4.2.1.5 Pemupukan
Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang sebanyak 8 Kuintal per
hcktarnya. lni diberikan ketika scbclum tanam bcrsama pupuk TSP. sedangkan
pupuk urea diberikan pada saat waktu tanam, umur satu bulan dan dua bulan
setelah tan am.

4.2.1.6 Pemeliharaan
4.2.1.6.1 Penyulaman
penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang pertumbuhannya
tidak bagus atau sakit. Dilakukan 2 minggu sctclah tanam paling lambat.

4.2.1.6.2 Pengairan
Dengan memanfaatkan kali yang ada untuk mengairi tanaman
cabai agar tidak kckcringan maupun mcmanfaatkan air hujan pada saat
musim hujan.

4.2.l.6.3 Pcngcndalian Gulma


Gulma

dapal

dihilangkan

dengan

cara

mencabutnya

atau

membcrsihkannya dari ladang scbab gulma dapat menghambat pe1tumbuhan


maupun produktifitas tanaman. Pcngendalian dilakukan sekitar 30-60 hari
setelah tanam.

4.2.l.6.4 Penggunaan Ajir


Ajir dibuat dari bambu yang diletakkan di tajuk tanaman terluar.
Masing-masing tanaman di beri satu ajir. Ujung ajir di beri keraat sedikit
untuk pengikat tali rafia yang menghubungkan ajir yang satu dengan yang
lainnya.

4.2.2 Pasca Panen


Panen dilakukan setiap 15 hari sekali. Panen maksimal terjadi pada saat
panen kc cmpat dan ke lima. Pancn cabai dilakukan pada saat pagi hari hingga
siang hari. Cabai yang tclah dipanen langsung dimasukkan kedalam karung dan
langsung dibawa oleh pengulak.
Oleh pengulak cabai disortir dari daun-daun maupun ranting-ranting
pohon dan tanah. Cabai langsung dikemas kedalam karung berukuran 85 Kg
dan kemudian diikat menggunakan tali rafia. Cabai yang telah dikemas

langsung dibawa kc Pasar lnduk Kramat Jati menggunakan mobil pick-up.


Tidak ada cabai yang disimpan scbab berapa banyak cabai yang ada akan
Iangsung di kemas dan di bawa kc Pasar Induk Kramat Jati.

4.2.3 Disribusi
Petani produsen di desa Malingping ada yang menjual sendiri hasil
produksiya dan ada pula yang tidak mcnjual sendiri. Bagi yang tidak menjual
sendiri, ini disebabkan karena adanya keterbatasan yang dimiliki petani seperti
tranpo1tasi, pengepakan, jaringan pcmasaran maupun kegiatan lainnya yang
bcrhubungan dcngan pcmasaran. Kadang-kadang petani juga menjual langsung
kc konsumcn mclalui pasar-pasar di tingkat dcsa satu pasar kccamatan

BABV
BASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Saluran Pemasaran


Di saat penelitian, cabai rawit hijau yang berada di Pasar lnduk kramat Jati
berasal dari para pengumpul atau petani di berbagai daerah di pulau Jawa dan
Sumatera. Pada umumnya didatangkan di daerah Rembang, Wates, Yogyakarta,
Tumanggung, Magelang, Bawangan, Krawang, Brebes, Jember, Pekalongan dan
Metro Lampung. Sedangkan konsumennya biasanya berasal dari sekitar wilayah
D Kl Jakarta.
Dimana petani maupun pengulak untuk menjual hasil usahanya ke para
konsumcn di DKl Jakarta hams transit terlebih dahulu di Pasar Induk Kramat Jati.
lni scsuai dcngan Pcraturan Dacrah OKI Jakarta No. 6 tahun 1992 tanggal 21 Juli
1992 yang 1ncnyatakan bahwa sctiap hasil usaha tani yang akan dipasarkan ke
OKI Jakarta harus melalui Pasar lnduk Kramat Jati.
Tetapi pada saat ini peran scrta Pasar Induk Kramat Jati sudah sangatjauh
bcrkurang. Banyak dari para pctani maupun pengulak yang menjual hasil usahnya
di daerah OKI Jakarta tidak transit terlebih dahulu di Pasar Induk Kramat Jati
tctapi langsung menuju pasar tujuan (Pasar Tabah Abang atau Pasar Jatinegara
maupun ke luar daerah).
Hal ini biasanya disebabkan harga komoditi cabai sedang mahal (di daerah
biasanya akan lebih mahal lagi), sehingga para grosir yang memiliki modal yang
cukup besar langsung mendatangkan komoditi cabai dari daerah asal ke daerahnya
tanpa transit terlebih dahulu di Pasar lnduk Kramat Jati.

Walaupun dcmikian pcran serta Pasar Induk Kramat Jati sangat penting,
khususnya sebagai pasar acuan bagi perkembangan harga yang terjadi setiap
harinya. Pasar lnduk Kramat Jati mcrupakan tempat bertemunya antara pengulak,
grosir dan pengecer bertcmu. Lembaga-lembaga pemasaran ini lah yang berperan
dalam pembentukan harga suatu komoditi yang akan sampai ke tangan konsumen.
Pasar lnduk Kramat .lati hanya mcmbcrikan pclayanan dalam bidang
pemasaran,

mcnciptakan

kcstabilan

harga

serta

membantu

dalam

mendistribusikan barang maupun jasa. Sebab Pasar lnduk Kramat Jati tidak hanya
menyewakan kios-kios penjulan tetapi juga menyewakan angkutan maupun
tenega kerja bahkan kredit bagi para pelaku usaha yang ingin memulai usahanya
di Pasar Induk Kramat Jati. Hal ini sesuai dengan keputusan Direksi PD. Pasar
Jaya no. 756 tahun 1995 bahwa Pasar lnduk Kramat Jati berfungsi sebagai
terminal pengadaan, penyimpanan dan penyaluran sayur-mayur dan buah-buahan
yang secara lingkup dan pengaruh ekonomi tidak hanya lokal, tetapi juga secara
regional.
Pasar lnduk Kramat Jati pada saal ini bukan hanya sebagai wadah bertemu
antar tiap lembaga pemasaran, tetapi juga merupakan wadah pertukaran informasi
terkini baik harga, kuantitas, kualitas maupun preferensi konsumen bagi lembaga
pemasaran yang terlibat. lnformasi pasar merupakan ha! yang sangat penting
sebab akan berkaitan dengan harga yang terbentuk. Karena perubahan harga yang
terjadi sangat cepat sekali, bila adanya keterbatasan informasi akan berakibat
sangat fatal (rugi).

Menurut data yang telah diperoleh dari Koperasi Pasar lnduk Kramat Jati,
banyaknyajumlah cabai rawit hijau yang masuk ke Pasar Induk Kramat Jati setiap
minggunya dari mulai Mei-Juni 2005 adalah sebesar 1.539,38 Ton. Jumlah ini
sedikit lebih besar dibandingkan periode bulan Maret-April 2005 yakni sebesar
1.379, 67 Ton.
Hal ini disebabkan pada periode bulan Mei-Juni 2005 kondisi cuaca di
Jakarta dan sekitarnya cukup bersahabat sehingga tidak mengalami kendali dalam
hal pendistribusiaan walaupun sebenarnya di beberapa daerah produsen cabai
belum mengalami masa panen. Situasi berbeda terjadi di bulan Maret - April
2005, dimana keadaan cuaca yang tidak bersahabat (hujan cukup deras)
mengakibatkan terjadinya banjir sehingga menghambat jalur distribusi cabai dari
daerah produsen ke Pasar Induk Kramat Jati, dan mengakibatkan banyaknya
jumlah cabai yang rusak diperjalanan sehinggajumlah cabai yang masuk ke Pasar
Induk Kramat Jati menurun.
Berdasarkan
pemasaran yang

hasil

te~jadi

observasi

dan

pengamatan dilapangan, saluran

terhadap komoditi cabai rawit dari Krawang hingga ke

Pasar lnduk Kramat Jati cukup panjang. Adapun pola pemasaran yang terjadi
dalarn pemasaran cabai rawit hijau di DK! Jakarta sebagai berikut:

Pola I : Petani _,,. Pedagang Pengulak


Pedagang Pengecer _,,.

_,,. Pcdagang Grosir

Konsumen Akhir

Pola 2 : Petani _,,. Pedagang Grosir _,,.


Konsumen Akhir

Pedagang Pengecer

---t>

Hal ini sesuai dengan pola umum saluran pemasaran Produsen maupun
Konsumen yang dikemukakan oleh Adiyoga dan Soetiarso (1995) pada Gambar 3,
dimana terdapat berbagai macam pola saluran pemasaran yang terbentuk dalam
pemasaran suatu komoditi. Untuk lebih jelasnya pola saluran pemasaran yang
te~jadi

dari Krawang hingga ke Pasar lnduk Kramat Jati dapat dilihat pada

Garn bar 10 berikut ini :

PETA NI

PENG LI LAI(

GROS IR

PENGl<:CER

KONSUMEN

AKHIR

Gambar 10. Bagan Saluran Pcmasanm Cabai Rawit Hijau di DKI Jakarta
Su1nbcr : l)ata P1in1cr Sctclah f)io!ah

Sedangkan fungsi pemasaran yang terjadi dari tiap-tiap lembaga yang


terlibat dalam pemasaran cabai hijau jclas berbeda-beda, masing-masing lembaga
pemasaran memiliki rutinitas kegiatan yang tidak sama, disesuaikan dengan
kebutuhan tiap- tiap lembaga. Fungsi pemasaran dari tiap-tiap lembaga yang ada
sefaham dengan teori yang dikemukakan oleh Ratna Anindita (2005) dimana
fungsi dari pemasaran yang ada harus memperlancar proses penyampaian barang
atau jasa. Untuk lebih jelasnya mengenai masing-masing fungsi pemasaran yang
telah dilakukan tiap lembaga pemasaran dapat di lihat pada tabel 5 berikut ini:

Tabcl 5. Fungsi Pemasaran Cabai Rawit Bijan di Tingkat Pctani, Pengulak


Grosir dan Pcngecer

Fungsi 1>en1asaran

l. Fungsi Pcmbiayaan

a. F. Pcmbeliaan
b. F. Penjualan

Pctani

Pengnlak

Grosir

pcngcccr

v
v

v
v

v
v

v
v

v
v

v
v
v

2. Fungsi Fisik
a. F. pengangkutan
b. F. Penyimpanan
c. F. Pengolahan

3. Fungsi
a.
b.
c.
d.
e.

Fasilitas
F. Sortasi
F. Standarisasi dan Grasing
F. Penanggungan Resiko
F. lnformasi Pasar
F. Pembiayaan

x
x

x
x
x
x
x

x
x

v
v
v

v
v
v

Stunbcr : l)ata Pruner Sctclah f)1oiah

Penjelasan sccara rinci tentang tabel 5 adalah :

Di tingkat Pctani : fungsi pemasaran yang dilakukan oleh petani hanya

fungsi penjualan saja, dimana petani menjual hasil panennya kepada


pengulak (pengumpul). karena biasanya petani tidak memiliki modal
maupun akses untuk masuk ke pasar grosir. Tetapi ada pula petani yang
memiliki modal yang cukup melakukan fungsi pemasaran yang dilakukan
oleh tengkulak.

Di tingkat Pcngnlak : fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pengulak


adalah : pembelian, penjualan, pengangkutan, penyimpanan, sortasi,
penanggungan resiko, informasi pasar, pembiayaan. Pengulak melakukan

pembelian dari beberapa petani cabai sesuai dengan kapasitas pasokan


yang diinginkan kemudian menjualnya kepada pedagang grosir dengan
pengangkutan yang dimiliki atau menyewa kendaraan, selama dalam
perjalanna apabila terdapt kerusakan pada cabainya akan ditanggung
resikonya oleh pemasok (Petani atau pengulak). Penyimpanan dilakukan
apabila pasokan yang ada bclum mencukupi

sehingga dikumpulkan

terlebih dahulu sampai mencapai jumlah yang diinginkan dan sebelumnya


cabai lclah disorlir schingga bcrsih dari daun-daun cabai maupun kotoran
lainnya. lnformasi pasar didapatkan dari sesama pengulak ataupun
pedagang grosir. Dan pengulakjuga melakukan fungsi pembiayaan kepada
petan~

dengan memberikan modal usaha, sehingga pada saat panen nanti

petani yang telah dipinjamkan modal harns menjual hasil panennya kepada
pengulak tersebut.

Pedagang Grosir

fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang

grosir hampir sama dengan pengulak yakni : pembelian, penjualan,


pengangkutan, penynnpanan, sortasi, penanggungan resiko, informasi
pasar, pembiayaan. Grosir melakukan pembelian dari beberapa pemasok
(baik pengulak maupun petani) cabai sesuai dengan kapasitas pasokan
yang diinginkan kemudian menjualnya kepada pedagang pengecer dengan
kendaraan pengangkutan yang sesuai kapasitas pasokan , apabila terdapat
kerusakan pada cabainya pada saat cabai telah sampai di Pasar lnduk
kramat

Jati

akan

ditanggung

resikonya

oleh

pedagang

grosir.

Penyimpanan dilakukan apabila pasokan yang ada tidak habis terjual,

sehingga akan dilakukan perawatan agar cabai dapat di jual kembali


keesokan harinya walupun dengan harga yang lebih rendah Karena
kualitas barangnya sudah menurun. Ketika cabai sampai di pedagang
grosir, dilakukan penymtiran apakah dalam kondisi masih bagus atau
tidak, karena akan mempengaruhi harga jual cabainya nanti. Informasi
pasar didapatkan dari sesama pengulak ataupun pedagang grosir. Pedagang
grosir juga melakukan fungsi pembiayaan kepada pemasok dengan
pemberian pinjaman kepada pemasok untuk mencari pasokan cabai di
daerah-daerah (karena biasanya pemasok dan grosir sudah memiliki
hubungan yang akrab, karena hubungan kekerabatan antar daerah maupun
karcna sudah lama

bekc~jasama

(rasa saling percaya yang tinggi).

Pedagang Pengecer : fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang


pengecer yakni : pembelian, penjualan, pengangkutan, penyimpanan,
sortasi, penanggungan resiko, informasi pasar. Pedagang pengecer
melakukan pembelian dari pedagang grosir cabai sesuai dengan kapasitas
pasokan

yang

diinginkan

kemudian

menjualnya

kembali

kepada

konsumen. Pedagang pengecer melakukan fungsi pengangkutan cabai dari


Pasar Induk Kramat Jati sampai ketempat dagangannya, apabila terdapat
kerusakan pada cabainya pada saat cabai telah sampai ditempatnya
sepenuhnya kerugian di tanggunga oleh pedagang pengecer. Penyimpanan
dilakukan apabila pasokan yang ada tidak habis terjual, sehingga akan
dilakukan pcrawatan agar cabai dapat dijual kembali kcesokan harinya
walupun dengan harga yang lebih rendah Karena kualitas barangnya sudah

mcnurun. Kctika cabai sampai di pcdagang pcngecer,

dilakukan

pcnyortiran apakah dalam kondisi masih bagus atau tidak, karena akan
mcmpcngaruhi harga jual cabainya nanti. lnformasi pasar didapatkan dari
sesama pcdagang pengccer.

5.2 Struktur Pasar


Analisis struktur pasar dilakukan dengan eara melihat kebebasan keluar
masuk pasar, jumlah pedagang yang terlibat, sifat produk yang dipe1jual belikan,
dominan atau tidaknya lembaga pemasaran dalam mengambil keputusan dalam
menentukan harga serta tingkat pengetahuan yang dimiliki antar partisipan yang
mcmbentuk informasi pasar. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Halcrow
( 1992).

5.2.1 Struktur Pasar di Tingkat Pctani

Jumlah Penjual dan Pcmbeli


Saat pcnclitian hampir 90 pcrscn penduduk sekitar adalah produsen cabai
rawit hijau, sehingga tingkat penjual cukup banyak sedangkan pembeli
relatif sedikit. Penulis mengambil sample sebanyak lima orang petani yang
menjual ke pengulak dan lima orang yang menjual ke grosir langsung.

Kondisi Produk
Produk yang ada bersifat homogen. Cabai rawit hijau di panen ketika pagi
hari ini dilakukan agar cabai tetap segar samapi di bawa ke pasar acuan
sehinga harga cabai pun cukup tinggi. Dan biasanya para pengumpul
sudah menunggu untuk dibawa dan di smtir.

Mudah Tidaknya Masuk Kcluar Pasar


Pada tingkat petani kesulitan untuk dapat memasuki pasar, ini diakibatkan
diperlukan modal yang cukup banyak untuk biaya usaha di tambah pula
apabila melakukan pcmasaran sendiri.

ltulah sebabnya lebih banyak

petani yang Jebih memanfaatkan jasa pengumpul dalam memasarkan hasil


komoditinya.
o

Kemampuan Mempengaruhi Harga


Dalam hal ini petani hanya menerima harga yang telah ditetapkan
pengulak, kctcrbatasan informasi mengenai harga terkini menyebabkan
posisi petani dalam menentukan harga menjadi lemah. Selain itu pengulak
baru membayarkan produksi petani ketika pengulak telah kembali dari
pasar acuan (grosir), mau tidak mau petani harus menerima dengan harga
yang ditetapkan pcngulak.

Informasi Pasar
Informasi tentang harga hanya didapatkan petani melalui pengulak itu
sendiri, ketiadaan akses menjadikan petani kesulitan dalam mengetahui
perkembangan harga cabai rawit terbaru.
Berdasarkan gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa .struktur

pasar yang terjadi di tingkat petani terhadap pedagang pengumpul bersifat


monopolistik, yakni bahwa kondisi cabai rawit hijau

yang ditawarkan ke

pedagang pengecer tidak terdapat persaingan harga untuk jenis dan kualitas
yang sama.

5.2.2 Struktur Pasar di Tingkat Pengnlak

Jumlah Penjual dan Pembeli


Jumlah pedagang pengulak di daerah produsen jumlalmya terbatas. Pada
saat penelitian penulis mengambil sample pengulak sebanyak lima orang.
Dan untuk di tingkat pembeli (grosir) pun sedikit.

Kondisi Produk
Prooduk yang ditawarkan biasanya bersifat homogen. Biasanya dilakukan
penyortiran terlebih dahulu sebelum dibawa ke pasar acuan. Kualitas cabai
rawit hijau pun sangat baik, sebab saat petani baru memetik tidak sampai
dua jam cabai rawit hijau sudah dikemas untuk dibawa ke pasar acuan,
dengan demikian diharapkan harga jual cabai rawit hijau tersebut cukup
tinggi.

Mudah Tidaknya Masuk Keluar Pasar


Hambatan yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah ketersediaan
modal yang cukup besar untuk dapat membeli cabai rawit hijau dari petani
harus memenuhi kapasitas (biasanya 2 ton), karena akan berpengaruh
kepada biaya transportasi.

Selain itu pengumpul juga bersaing dengan

para petani yang memiliki modal yang cukup untuk memasarkan hasil
usahanya scndiri, sehingga tidak jarang pengumpul kekurangan pasokan
sebab ada petani yangjuga berperan sebagai pengulak.

Kemampuan Mempengaruhi Harga


Di tingkat pengumpul ketetapan harga sangat dipengaruhi kondisi harga di
pasar acuan (grosir), pengumpul tidak dapat tawar-menawar harga dengan

pedagang grosir. Jika harga naik maka pengulak akan menerima harga
yang tinggi begitupun sebaliknya.

Informasi Pasar
Pedagang

pengulak

rnenggunakan

telp

seluler

untuk

mengetahui

perkem bangan harga terbaru dari pedagang grosir maupun dari sesama
pcdagang pengurnpul. Dengan dernikian pengumpul dapat rnemperkirakan
apakah cabai rawit hijau di jual pada saat yang tcpat untuk memperoleh
keuntungan sclain itu juga di dukung oleh pengalarnan bertahun- tahun
dalarn rnelihat perkernbangan pasar.
Bcrdasarkan gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa struktur
pasar yang terjadi di tingkat pedagang pengecer dengan petani bersifat
rnonopolistik, ini berarti bahwa kondisi cabai rawit hijau yang ditawarkan ke
pcdagang pengumpul tidak terdapat persaingan harga untuk jenis dan kualitas
yang sama. Sedangkan struktur pasar yang terjadi antara pedagang pengecer
pedagang grosir bersifat oligopoli rnurni, yakni bahwa cabai rawit hijau yang
dijual pedagang pengumpul ke pedagang pengecer memiliki sifat atau
karakteristik yang sarna serta kernampuan untuk menentukan harga tetapi tetap
dengan memperhitungkan pcrilaku pesaing.

5.2.3 Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Grosir

Jumlah Penjual dan Pembeli


Jurnlah penjual sedikit hanya sekitar 139 pedagang grosir, dibandingkan
dengang banyaknya pembeli baik dari sekitar wilayah DKl Jakarta
maupun luar Jawa.

Kondisi Produk
Kondisi cabai rawit hijau yang didatangkan dari daerah produsen pada
umumnya telah mengalami penyortiran dari pengulak maupun petani.
Walaupun dcmikian. ketika

cabai rawit hijau sampai di Pasar lnduk

Kramat Jati tctap dilakukan sortasi untuk memisahkan cabai rawit hijau
yang masih dalam kondisi baik dengan yang telah mengalami kerusakan
sebagai akibat dari lamanya perjalanan dari daerah produsen. Biasanya
banyak cabai rawit hijau yang mengalami penyusutan. Kualitas produk
yang ada sangat mcmpcngaruhi harga yang terjadi, sebab biasanya bila
kondisi produk tidak bagus harganya akan rendah dipasaran.

Mudah Tidaknya Masuk Keluar Pasar


Pada tingkat grosir, terdapat hambatan yang cukup sulit bagi pendatang
baru yang ingin mcmulai usahanya di Pasar Induk Kramat Jati. Hal ini
disebabkan oleh karena keterbatasan tempat, sehingga biaya sewa per
tahunnya cukup tinggi maka diperlukan modal yang cukup besar untuk
mcmbeli tempat usaha baik bcrupa kios maupun lapak. Biaya opcrasional
harian yang digunakan untuk membeli cabai rawi.t hijau maupun upah
tenaga kerja pun menjadi kendala bagi pemain baru untuk dapat berjualan
di Pasar Jnduk Kramat Jati. Hambatan lainnya adalah sulitnya memperoleh
izin tempat usaha, karena para pedagang baru harus dilakukan uji
kelayakan dalam kcmampuan bcrdagang di Pasar lnduk Kramat Jati. lni
dilakukan untuk menjamin keaktifan para pedagang. Karena pada
umumnya para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati adalah pemain lama

yang telah memiliki pengalaman, keterampilan dalam menjalankan fungsi


pemasaran. Umumnya para pedagang grosir telah memiliki habungan
kc1:jasama yang tclah lama te1:jalin dcngan pcmasok maupun petani.
Hubungan tersebut dapat berupa kerabat antar daerah maupun kerjasama
ekonomi dengan cara pemberian modal kepada pcdagang pengumpuL
Schingga faktor kcpercayaan sangat penting perananya untuk menjamin
kcterscdiaan pasokan setiap harinya.
e

Kemampuan Mempengaruhi 1-larga


Pada umumnya pembcntukan harga yang terjadi di tingkat grosir adalah
penawaran secara sepihak, walaupun memang terjadi tawar menawar
dengan pemasok. Tetapi biasanya grosir lebih leluasa menentukan harga,
ini disebabkan karena resiko kenaikan harga pada saat cabai rawit tiba di
Pasar lnduk Kramat Jati sepenuhnya di tanggung oleh grosir, karena itulah
kcmampuan pcdagang grosir dalam memperkirakan harga cabai rawit
dipasaran sangat bcrpcran. (Lampiran 3)
1-larga jual ditingkal grosir sesuai dengan mekanisme pasar, yaitu dimana
apabila banyaknya pasokan cabai rawit hijau dipasaran, maka akan terjadi
kelebihan

penawaran

dari

pemasok

dan

petani

sehingga

akan

mengakibatkan harga cabai rawit hijau rendah. Begitu pula sebaliknya


apabila pasokan cabai rawit h1aju dipasaran sedikit, Karena diakibatkan
oleh berbagai hal (gaga! panen, terhalang transportasi, dll) maka akan
menyebabkan harga cabai rawit hijau akan melambung tinggi. Dalam
kondisi sepe1ti ini pedagang grosir berada dalam posisi yang lebih kuat

dalam penawaran harga jual cabai rawit hijau. Sedangkan konsumen hanya
dapat menerima harga jual yang telah ditawarkan oleh pedagang. grosir.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang grosir, perubahan
harga yang terjadi dapat terjadi dalam hitungan jam setiap harinya
tergantung banyaknya cabai yang habis te1jual.

Informasi Pasar
lnformasi didapatkan pcdagang grosir dari pembentukan harga yang
terjadi sehari sebelumnya dan bayaknya jumlah cabai yang terjual maupun
yang tersisa atau discbut juga market news. Ini sesuai dengan Dahl dan
hammond ( 1997) kemukakan. lnformasi tcrsebut diperoleh dari pedagang
grosir lainnya seperti yang terdapat di Pasar Induk Cibitung Bekasi yang
disampaikan melalui telepon sebelum pedagang grosir mela.l;:ukan
transaksi dengan pen1asok.

Bcrdasarkan krilcria dialas, maka dapal ditarik kesimpulan bahwa

~\ruktur

pasar yang tcrjadi di tingkat pedagang grosir adalah tidak bersaing sempurna.
Dimana struktur pasar yang terjadi antara pedagang grosir dengan pemasok
bersifat oligopsoni homogen, artinya bahwa cabai rawit hijau yang diperoleh
dari pemasok memiliki sifat atau karakteristik yang sama serta kemampuan
untuk menentukan harga tctapi tetap dengan memperhitungkan perilaku pesaing.
Sedangkan struktur pasar yang terjadi ketika pedagang grosir berhadapan
dengan pedagang pcngecer cenderung bersifat monopolistik, ini berarti bahwa
kondisi cabai rawit hijau yang ditawarkan ke pedagang pengecer tidak terdapat
persaingan harga untukjenis dan kualitas yang sama.

S.2.4 Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengecer


o

Jumlah Penjual dan Pembeli


Jumlah penjual dan pembeli sangat banyak. Pada saat penelitian penulis
mengambil sample sebanyak 10 orang pengecer di Pasar Induk Kramatjati
dan 8 orang di Pasar Kramat Jati.

Kondisi Produk
Kondisi produk di mata konsumcn adalah homogen dalam arti pengecer di
Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Kramat Jati tidak membedakan harga
jual cabai rawit hijau asalkan kondisi cabai rawit tersebut bagus, tetapi bi la
sudah tidak bagus harganya akan sedikit turun. Sehingga pengecer
mclakukan perawatan agar cabai rawit hijaunya tetap terlihat segar.

Mudah ri<laknya Masuk Kcluar Pasar

Di tingkat pcdagang pcngcccr tidak lcrdapat hambalan alau permasalahan


yang berarli untuk dapat memasuki atau keluar dari pasar pengecer. Baik
dari segi modal

maupun produk yang diperlukan tidak terlalu banyak.

Bagi pedagaug baru yang ingin menjual produknya di pasar eceran dapat
memperoleh izin berjualan dengan mudah dari pihak pengelola pasar
apabila memang masih terdapat tempat bagi pemain baru.
Pedagang pengecer yang terdapat pada dua pasar tersebut tidak hanya
menjual cabai rawit hijau saja, tetapi juga berbagai jenis sayuran dan
bumbu dapur yang ditempatkan secara bersamaan dalam stu lapak. Hal ini
mengidikasikan bahwa para pedagang pengecer cabai rawit hijau dapat
keluar masuk pasar dengan mudah

Kcmampuan Mempengaruhi Harga


Biasanya harga cabai yang berlaku lebih konstan dibandingkan perubahan
harga di tingkat pedagang grosir. Kalaupun terjadi perubahan, ha! ini lebih
karena adanya kesepakatan tawar menawar antara pedagang pengecer
dengan konsumen akhir. lni berarti diantara pcdagang pengecer dan
konsumen akhir tidak ada yang dapat mempengaruhi pasar.

lnformasi Pasar
lnformasi harga yang didapatkan pedagang pengecer mengenai harga
cabai rawit hijau hanya berdasarkan harga beli dari Pasar Inquk Kramat
Jati.
Berdasarkan gambaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa struktur

pasar yang terjadi di tingkat pedagang pengecer di Pasar lnduk Kramat Jati dan
Pasar Kramat Jati dengaa pedagang grosir bersifat monopolistik. Sedangkan
struktur pasar yang terjadi antar pedagang pengecer dengan konsumen akhir
cenderung bersifat persaingan sempurna. Jumlah penjual dan pembeli yang
relatif banyak sehingga harga yang terbentuk merupakan basil akhir dari
interaksi tawar-menawar, karena pedagang pengecer dan konsumen akhir tidak
dapat mempengaruhi pasar, sedangkan komoditi yang ditawarkan besifat
homogen.

5.3 Analisis Marjin Pcmasaran


Penelitian dilakukan di Pasar lnduk Kramat Jati sebagai pasar acuan dan
petani cabai rawit hijau dari daerah Desa Mulang Sari-Malingping Kee. Pangkalan
Kerawang Selatan (yang di kenal dengan nama rawit jonggol) sedangkan para

pedagang pengecernya selain dari Pasar lnduk Kramat Jati juga dari Pasar Kramat
Jati.
Marjin pemasaran adalah selisih harga jual dan harga beli pada suatu
lembaga pemasaran tertentu, dimana marjin

pema~aran

tediri atas keuntungan

yang di peroleh dan biaya pemasaran yang dikeluarkan.


Maka dalam penclitian ini juga dilakukan pcrhitungan biaya-biaya
pemasaran yang dikeluarkan tiap lembaga pemasaran dalam menyampaikan cabai
rawit hijau kepada konsumen, seperti biaya upah tenaga kerja, transportasi, sewa
tempat, penyusutan, dan biaya lainnya yang di hitung satuan rupiah per Kg. hal ini
sesuai dengan rumus Dahl dan Hammond (1997) kemukakan untuk menghitung
ma1jin pemasaran dapat menggunakan rumus biaya-biaya di jumlah dengan
keuntungan.Sedangkan keuntungan pemasaran merupakan selisih yang di peroleh
tiap lembaga pemasaran antara marjin pemasaran dengan biaya pemasaran.
Pada saat penelitian, peneliti mengarnbil sample data dari petani sebanyak
sepuluh orang, dengan perinciaan lima orang memanfaatkan j asa pengulak dan
Hrna orang lainnya menjual sendiri ke pedagang grosir, dengan kapisitas cabai
rawit hijau rata- rata 2.000 Kg, pcngulak lima orang, pedagang grosir empat belas
orang dengan jumlah rata- rata cabai perharinya 3.321,43 Kg, pedagang pengecer
di Pasar lnduk Kramat Jati sepuluh orang dengan rata-ratajumlah pernbelian cabai
rawit hijau per hari sebanyak 956,98 Kg, sedangkan di pedagang pengecer Pasar
Kramat Jati delapan orang rata-rata jumlah cabai rawit hijau yang di beli sebanyak
32,41 Kg.

5.3.1

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani

5.3.1.1 Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pctani kc Pcdagang


Pengulak

Di tingkat petani yang menjual langsung hasil panen cabai rawitnya ke


tengkulak tidak perlu mengelurkan biaya pemasaran, sebab pengulak langsung
membelinya di ladang sehingga tidak ada biaya yang dikeluarkan kecuali biaya
produksi, untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Tabel 6.

Tabet 6. Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijan dari Petani ke


Pcdagang Pengulak, .Joni- .Juli 2005
Unsur

Biaya I Kg

Biaya Produksi

3.500

80,61

Keuntungan

842, 14

19,39

Marjin Pemasaran

842,12

19,39

Biaya Pemasaran

BIC Rasia

Harga Jual Petani

24,06
4.342, 14

100

Su1nbcr : Data Pnn1cr Sctelah Diolah

Dimana dengan perkiraan biaya produksi sekitar Rp. 3.500,- per Kg.
Dengan persentase biaya produksi terhadap harga jual sebesar 80,61 persen.
Petani mendapat keuntungan sebesar Rp. 842, 14 per Kg, dengan persentase
keuntungan terhadap harga jual sebesar 19,39 persen. Dengan hasil B/C rasio
adalah 24,06 persen per Kg. Ini menunjukan bahwa untuk setiap unit biaya yang
dikeluarkan, maka keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dari satu biaya
tersebut, yakni setiap satu rupiah biaya pemasaran yang dikeluarkan pengulak
maka akan memperoleh keuntungan sebesac Rp. 2,41 per Kg.

5.3.1.2 Marjin Pemasaran Caliai Rawit Hijan dari Petani kc Pedagang


Grosir Pasar Induk Kramat Jati

Komponen biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh petani dengan


tidak memanfaatkan jasa pengulak (menjual sendiri komoditi cabai rawit
hijaunya ke Pasar lnduk kramat Jati) ternyata cukup banyak meliputi biaya
transportasi, pikul, restribusi, dan pengemasan. Secara jelasnya komponen biaya
pemasaran beserta nilai keuntungan, ma1jin pemasaran dan B/C Rasionya dapat
di lihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabcl 7. Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani ke


Pcdagang Grosir Pasar Induk Kramat Jati, Jnni- Juli 2005
%

Biaya /Kg

Unsur

3.500

60,64

l 76,35

3,06

103,70

1,80

60

1,04

3. Restribusi

4,81

0,08

4. Pcngc1nasan

7,84

0,14

Keuntungan

2.095,07

36,30

Marjin Pemasaran

2.095,07

36,30

13iaya Produksi
Biaya Pemasaran :
I. Transportasi

2. Pikul

50,17

B/C Rasio
f-

Barga Jual Petam

5771,42

I 00,tl

Surnbcr : Data primer Setelah Diolah

Biaya transportasi merupakan biaya yang harus dikeluarkan sekiili angktlt


cabai rawit hijau menuju pasar tujuan. Biaya yang dikeluarkan untuk sekali
angkut sebesar Rp. 200.000,- per 2 ton muatan cabai, biasanya mereka
menggunakan mobil bak terbuka dengan menyewa atau pun mobil pribadi jenis

pick- up. Sehingga biaya transportasi yang dikeluarkan petani berkisar Rp.

I 03, 70 per Kg. Berdasarkan has ii analisis marjin pemasaran terlihat bahwa
persentase biaya transportasi terhadap hargajual sebesar l,80 persen.
Petani juga mengeluarkan biaya pikul, yakni biaya pengangkutan dari
ladang petani hingga ke tempat penimbangan (pengumpul). biaya yang
dikeluarkan sebesar Rp. 6000,- per Kuintal, sehingga rata- rata biaya pikul yang
harus dikeluarkan sekitar Rp. 60,- per Kg. Berdasarkan basil analisis marjin
pemasaran terlihat juga, persentase biaya transportasi sebesar 1,04 persen
terhadap harga jual.
Biaya restribusi aclalah biaya yang dikeluarkan selama dalam perjalanan
per sekali angkut. Biaya ini meliputi : pembayaran tol, parkir, karcis masuk dan
keluar, serta pungutan liar sepanjang dari Kerawang hingga Pasar lnduk Kramat
Jati. Biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 13.000,- per sekali pengiriman,
jadi rata- rata biaya restribusi yang hams dikelurkan sebesar Rp. 4,81 per Kg.
Berdasarkan analisis matjin pemasaran persentase restibusi terhadap harga jual
sebesar 0,08 persen
Biaya pengemasan adalah biaya yang dikeluarkan untuk untuk membeli
karung dan tali rafia untuk mengemas cabai rawit yang telah dikumpulkan agar
tidak tercecer sampai di tempat tujuan. Tiap- tiap karung berisi 85 Kg cabai
rawit hijau dengan harga tiap karung sebesar Rp. 666,67, maka rata- rata biaya
pengemasan yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 7,84 per Kg. Berdasarkan hasil
analisis marjin pemasaran terlihat juga bahwa persentase biaya pengemasan
terhadap har&rajual sebesar 0, 14 persen.

Komponen biaya pemasaran terbesar terjadi pada biaya transportasi


sebesar Rp. 280.000,- atau Rp. 103, 70 per kg, dengan persentase biaya
transportasi terhadap harga jual adalah 1,80 persen. Sedangkan komponen biaya
pemasaran terkecil adalah biaya restribusi sebesar Rp. 13.000 atau Rp. 4,81 per
kg, dengan persentase biaya restribusi terhadap hargajual adalah 0,08 persen.
Dalam perhitungan marjin ini tidak ada biaya penyusutan sebab cabai
rawit hijau yang di kirim adalah cabai rawit hijau yang tadi paginya baru saja di
petik, juga tidak ada resiko cabai menguap di perjalanan karena jarak
tempuhnya tidak terlalu jauh.
Selanjutnya dapat di lihat, bahwa marjin pemasaran yang diperoleh
petani sebesar Rp. 2.095,07 per Kg dengan biaya pemasaran yang harus
dikeluarkan sebesar Rp. 176,35 per Kg dan biaya produksi sebesar Rp.3.500,per Kg, maka keuntungan yang di dapat oleh tengkulak tiap Kg cabai rawit hijau
adalah Rp.2.095,07 dengan persentase keuntungan terhadap harga jual adalah
36,30 persen. Dcngan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran adalah 50, 17
persen per Kg. lni menunjukan bahwa untuk setiap unit biaya yang dikeluarkari,
maka keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dari satu biaya terselmt, yakhi
setiap satu rupiah biaya pemasaran yang dikeluarkan petani, maka akan
memperoleh keuntungan sebesar Rp. 5,02 per Kg.

5.3.2

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang Pengulak ke


Pedagang Grosir Pasar Induk Kramat Jati
Komponen biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh pengulak hingga

cabai rawitnya sampai di Pasar lnduk Kramat Jati meliputi biaya transportasi,
pikul, restribusi, dan karung. Secara jelasnya komponen biaya pemasaran beserta
nilai keuntungan, marjin pemasaran dan B/C Rasionya dapat di lihat pada Tabet 8
bcrikut ini.

Tabel 8. Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengulak ke


Pedagang Grosh Pasar Indnk Kramat Jati, Juni- Juli 2005
Unsur

--

Biaya I Kg

Barga Jual Petani

--

Harga Beli tengkulak

4342,14
4342, 14

75,24

176,35

3,06

l 03,70

l,80

60

1,04

3. Restribusi

4,81

0,08

4. Kemasan

7,84

0, 14

Keuntungan

1.252,93

21,70

Marj in Pemasaran

1.429,28

24,76

Biaya Pemasaran :
1. Transportasi

2. Pikul

B/C Rasia
Harga Jual Tengkulak

710
5771,42

100,0

Sutnbcr : Data pruner Sctclah Diolah

Dimana diperoleh hasil analisis matjin pemasaran bahwa besarnya biaya


yang dikeluarkan pedagang pengulak untuk membeli cabai rawit hijau dari petani
sebesar Rp. 4.342, 14 per Kg. Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran terlihat

persentase harga bcli sebesar Rp. 75,24 persen terhadap harga jual. Sedangkan
biaya pemasaran yang harus dikeluarkan akan dijelaskan berikut ini.
Biaya transportasi merupakan biaya yang harus dikeluarkan, sekali angkut
cabai rawit hijau menuju pasar tujuan. Biaya yang dikelurkan untuk sekali angkut
sebesar Rp. 200.000,- per 2 ton muatan cabai atau rata- rata biaya transportasi
yang dikeluarkan tengkulak berkisar

Rp. 103,70 per Kg. Biasanya mereka

menggunakan mob ii bak terbuka dengan menyewa atau pun mobil pribadi jenis

pick- up. Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran terlihat bahwa persentase
biaya transportasi terhadap harga jual sebesar 1,80 persen. Dimana biaya
transportasi menempati urutan pertama sebagai komponen biaya pemasaran
terbesar.
Pengulak juga mengeluarkan biaya pikul, yakni biaya pengangkutan dari
ladang petani hingga ke tempat penimbangan (pengumpul). biaya yang
dikeluarkan sebesar Rp. 6000,- per Kuiutal, sehingga rata- rata biaya pikul yang
harus dikeluarkan sekitar Rp. 60,- per Kg. Berdasarkan hasil analisis marjin
pemasaran terlihat juga, persentase biaya pikul sebesar 1,04 persen terhadap harga
jual.
Biaya restribusi adalah biaya yang dikeluarkan selama dalam perjalanan
per sekali angkut. Biaya ini meliputi : pembayaran to!, parkir, karcis masuk dan
keluar, serta pungutan liar sepanjang dari Kerawang hingga Pasar Induk Kramat
Jati. Biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 13.000,- per sekali pengiriman,
jadi rata- rata biaya restribusi yang harus dikelurkan sebesar Rp. 4,81 per Kg.
Berdasarkan analisis maijin pemasaran persentase biaya restribusi terhadap harga

jual sebesar 0,08 pcrsen. Komponcn ini merupakan komponen biaya terkecil
dibandingkan dengan komponen biaya pemasaran lainnya.
Biaya pembelian karung (pengemasan) adalah biaya yang dikeluarkan
untuk mengemas cabai rawit yang telah dikumpulkan agar tidak tercecer sampai
di tempat tujuan. Tiap- tiap karung berisi 85 Kg cabai rawit hijau dengan harga
tiap karung scbesar Rp. 666,67, maka rata- rata biaya pengemasan yang harus
dikeluarkan sebesar Rp. 7,84 per Kg. Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran
terlihat j uga bahwa pcrscntase bi aya pengemasan terhadap harga jual sebesar 0, 14
persen.
Dalam perhitungan marjin ini tidak ada biaya penyusutan sebab cabai
rawit hijau yang di kirim adalah cabai rawit hijau baru saja di petik, juga tidak ada
resiko cabai menguap di perjalanan karena jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.
Komponen biaya pcmasaran terbesar terjadi pada biaya transportasi
sebesar Rp. 280.000,- atau Rp. I 03, 70 per kg, dengan persentase biaya
transp01tasi tcrhadap harga jual adalah 1,80 persen. Sedangkan komponen biaya
pemasaran lerkccil adalah biaya restribusi sebesar Rp. 13.000 atau Rp. 4,81 per
kg, dengan persentase biaya rcstribusi terhadap hargajual adalah 0,08 persen.
Selanjutnya dapal di lihat, bahwa marjin pemasaran yang diperoleh
tengkulak scbesar Rp 1.429,28 per Kg dcngan biaya pemasaran yang harus
dikcluarkan sebesar Rp. 176, 75 per Kg maka keuntungan yang di dapat oleh
tcngkulak tiap Kg cabai rawit hijau adalah Rp. 1.252,93.

Dcngan rasio

keuntungan terhadap biaya pemasaran adalah 710 persen per Kg. lni menunjukan
bahwa untuk sctiap unit biaya yang dikeluarkan, keuntungan yang diperoleh akan

lebih besar dari satu biaya tersebut, yakni setiap satu rupiah biaya pemasaran yang
dikeluarkan tengkulak, maka akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 7, I 0 per Kg.

5.3.3

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Grosir ke Pedagaog


Pengecer

Sedangkan komponen biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang


grosir cukup beragam meliputi biaya transportasi, upah tenaga kerja, perawatan,
penyusutan, nimbang, restribusi dan lain- lain. Secara jelas marjin pemasaran,
keuntungan maupun B/C rasio dan nilainya dapat di lihat pada Tabel 9

Tabel 9. Marjin Pcmasaran di Tingkat Pcdagang Grosir ke Pedagang


Pcngeccr, Juni- .Juli 2005
Unsur

Biaya I Kg

Harga Jual Tengku lak

5771,42

Harga Beli Pedagang Grosir

5771,42

70,26

l. T ransporlas i

254,09

3, IO

2. Biaya TK

149,89

1,82

20

0,24

4. Restribusi

10,27

0,13

5. Nimbang

97,20

l,18

6. Perawatan

63,01

0,77

7. Penyusutan

196,96

2,40

8,50

0,11

Keuntungan

1642,95

20,00

Marjin Pemasaran

2442,87

0,78

205

205

8214,29

100,0

Biaya Pemasaran :

3. Bongkar Muat

8. Dll

BIC Rasio

Harga Jual Pedagang Grosir


Sumbcr : Data Pnmcr Setelah D1olah

Menurut Tabel 9, diperoleh hasil analisis marjin pemasaran bahwa


besarnya biaya yang dikeluarkan pedagang grosir untuk membeli cabai rawit hijau
dari tengkulak scbesar Rp. 5.771,42 per Kg. Berdasarkan

ha~il

analisis marjin

pemasaran terlihat persentase harga beli sebesar 70,26 persen terhadap harga jual.
Dimana pedagang grosir mengeluarkan biaya pemasaran sesuai dengan perlakuan
yang dilakukan dalam mcmbcli cabai rawit hijau dari lengkulak hingga di jual
kembali ke tangan konsumen.
Biaya transportasi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pedagang
grosir selama pembelian atau sekali angkut sesuai kapasitas cabai rawit hijau yang
diinginkan dari pulau jawa maupun luar pulau jawa. Biaya yang dikeluarkan
untuk satu kali angkut rata- rata sekitar Rp. 843.928,57, dengan biaya rata- rata
sekitar Rp. 254,09 per Kg cabai rawit hijau. Berdasarkan hasil analisis marjin
pemasaran terlihat juga bahwa persentase biaya transportasi terhadap harga jual
sebesar 3, 10 persen.
Biaya upah tenaga ke1ja adalah biaya yang dikeluarkan pedagang grosir
untuk

membayari

tenaga

kei:ja tetap,

yang

bertugas

untuk melakukan

penimbangan, melayani pembeli serta melakukan perawatan selama cabai rawit


hijau tidak habis terjual. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan
tersebut sekitar 4 - 7 orang. Besarnya upah tenaga kerja

adalah sekitar Rp.

85.000- Rp. 100.000 per hari, dengan rata -rata biaya untuk upah tenaga kerja Rp.
497.857,14. atau Rp. 149,89 per Kg cabai rawit hijau. Hasil analisis marjin
pemasaran juga menunjukan persentase biaya tenaga kerja sebesar 1,82 persen
terhadap harga j ual.

Biaya bongkar muat adalah biaya yang dikeluarkan untuk menurunkan


cabai rawit hijau dari mobil dan membawanya ke los (kios pedagang grosir).
Proses bongkar muat ini beke1jasama dengan pihak swasta yakni Badan Pengelola
Bongkar Muat (BAPENGKAR), dengan memanfaatkan jasa tenaga kerja lepas.
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhankan disesuaikan dengan jumlah cabai rawit
hijau yang ada, telapi biasanya jumlahnya sekitar 3 - 5 orang. Besarnya biaya
tcnaga kc1ja yakni Rp. 1700 per karung, dimana per karung berisi 85Kg cabai
rawit hijau, sehingga rata- rata biaya yang dikcluarkan untuk per Kg cabai rawit
hijau adalah Rp. 20,-. Hasil analisis marjin pemasaran juga menunjukan
pcrscntasc biaya bongkar muat terhadap harga jual sebesar 0,24 persen.
Biaya timbangan adalah biaya yang dikeluarkan oleh pedagang grosir
dalam melakukan proses penimbangan cabai rawit hijau dari kendaraan hingga ke
los (kios pedagang grosir). Proses penimbangan ini dilakukan oleh tenaga kerja
tetap, biasanyajumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses ini sekitar 3 -4
orang. Dengan biaya timbangan yang harus dikeluarkan rata- rata sebesar Rp.
322.857, 14 atau sebcsar Rp. 97,20 per Kg. Hasil analisis marjin pemasaran juga
mcnunjukan pcrscntase biaya timbangan sebesar l, 18 persen terhadap hargajual.
Biaya penyusutan adalah komponen biaya tertinggi ke dua setelah biaya
transportasi. Penyusutan

tc~jadi

ketika cabai rawit hijau mulai membusuk dan

tidak segar lagi saat tiba di Pasar lnduk Kramat Jati (selama penyimpanan)
maupun setelah dilakukan proses pemetikan tangkai buah. Biaya rata- rata yang
harus dikeluarkan oleh pedagang grosir untuk penyusutan cabai rawit hijau
sebesar Rp. 16. 714,29 atau Rp.196,96 per Kg.

Biaya restribusi adalah biaya yang dikenakan bagi setiap pedagang grosir
yang meliputi biaya pajak usaha, biaya kebersihan, biaya keamanan, biaya
penerangan. Biaya rata- rata yang harus dikeluarkan pedagang grosir sekitar Rp.
34.109,59 atau sebesar Rp. I 0,27 per Kg. Hasil analisis marjin pemasaran juga
menunjukan persentase biaya restribusi sebesar 0, 13 persen terhadap hargajual.
Biaya dll (dan lain- lain) adalah biaya telp yang harus dikeluarkan oleh
pedagang grosir, rata- rata biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 28.225,81
atau Rp. 0, 11 per kg.
Dimana komponen

biaya

pemasaran terbesar terjadi

pada biaya

transportasi sebesar Rp. 843.928,57 ,- atau Rp. 254,09 per kg, dengan persentase
biaya transportasi terhadap harga jual adalah 3, 10 persen. Sedangkan komponen
biaya pemasaran terkecil adalah biaya dll (telp) sebesar Rp. 28.225,81 atau Rp.
8,50 per kg, dengan persentase biaya di! (telp) terhadap harga jual adalah 0,11
persen.
Selanjutnya dapat di lihat, bahwa marjin pemasaran yang diperoleh
pedagang grosir sebcsar Rp. 2.442,87 per Kg dengan biaya pemasaran yang harus
dikeluarkan sebesar Rp. 799,92 per Kg maka keuntungan yang di dapat oleh
pedagang grosir tiap Kg cabai rawit hijau adalah Rp.1.642,95.
Dengan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran adalah 205 persen per
Kg. Ini menunjukan bahwa untuk setiap unit biaya yang dikeluarkan, maka
keuntungan yang diperoleh akan lebih bcsar dari satu biaya tersebut, yakni setiap
satu rupiah biaya pemasaran yang dikelurkan tengkulak, maka akan memperoleh
keuntungan sebesar Rp. 2,05 per Kg.

5.3.4

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijan dari Pedagang Pengecer ke


Konsumen Akbir

5.3.4.1

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Pedagang Pengecer


Pasar Induk Kramat Jati ke Konsumcn Akbir

Scdangkan

komponen biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh

pcdagang pengcccr mcliputi biaya

tcnaga kei;ja, perawatan, penyusutan, ,

restribusi dan lain- lain. Secara jelas marjin pemasaran, keuntungan maupun
B/C rasio dan nilainya dapat di lihat pada Tabel I 0

Tabel 10. Marjin Pemasaran di Tingkat Pengecer Pasar Induk


Kramat ,Jati kc Konsnmcn Akbir, Jnni- Juli 2005
Unsur

Biaya/Kg
8214,29

Harga Jual Pedagang Grosir


Harga Beli Pengecer

8214,29

87,79

Biaya Pcmasaran:

498,42

5,33

1. Biaya TK

I 02,92

I, I 0

2. Bongakar M uat

24,32

0,26

3. Pcra\vatan

95, 14

1,02

4. Restribusi

34,51

0,37

5. Penyusutan

215,93

2,31

6. Dll

25,.60

0,27

644,43

6,88

I 142,85

12,21

Keuntungan
Marj in Pemasaran
B/C Rasio
Harga Jual Pengecer Pasar Induk Kramat Jati
Sumbcr: Data Primer Sctelah D1olah

129,29
9357,14

100,0

Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran bahwa besarnya biaya yang


dikcluarkan pedagang pcngcccr di Pasar lnduk Kramat Jati untuk membeli cabai
rawit hijau dari pcdagang grosir sebesar Rp. 8.214,29 per Kg. Berdasarkan basil
analisis maijin pernasaran juga terlihat persentase harga beli sebesar Rp. 87,79
persen terhadap harga jual. Dimana pedagang pengecer mengeluarkan biaya
pemasaran scsuai dcngan perlakuan yang dilakukan dalarn membeli cabai rawit
hijau dari pedagang grosir hingga di jual kembali ke tangan konsumen.
Biaya upah tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan pedagang grosir
untuk rnembayari tenaga kerja tetap, yang bertugas untuk melakukan
penirnbangan, melayani pernbeli serta rnelakukan perawatan selama cabai rawit
hijau tidak habis tcrjual. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan
tersebut sekitar 3 - 5 orang. Besarnya upah tenaga kerja rata -rata biaya untuk
upah tenaga ke1ja Rp. I 02,98 per Kg cabai rawit hijau. Hasil analisis marjin
pcrnasaran juga rncnunjukan perscntase biaya tenaga kcrja sebesar I, I 0 persen
terhadap harga jual.
Biaya bongkar rnuat adalah biaya yang dikeluarkan untuk menimbang dan
membawa cabai rawit hijau dari pedagang grosir ke los (kios) pedagang
pengecer. Proses bongkar muat ini bekerjasama dengan pihak swasta yakni
Badan Pengelola Bongkar Muat (BAPENGKAR), dengan memanfaatkan jasa
tenaga ke1ja lepas. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhankan disesuaikan dengan
jumlah cabai rawit hijau yang ada, tetapi biasanya jumlahnya sekitar I - 2
orang. Besarnya biaya tenaga ke1ja yakni Rp. 2000 per karung, dimana per
karung berisi 82,21 Kg cabai rawit hijau, sehingga rata- rata biaya yang

dikeluarkan untuk per Kg cabai rawit hijau adalah Rp. 24,33-. Hasil analisis
marjin pemasaran juga menunjukan persentase biaya bongkar muat terhadap
harga jual sebesar 0,26 persen.
Biaya penyusutan adalah komponen biaya yang terjadi ketika cabai rawit
hijau mulai membusuk dan tidak segar lagi saat tiba di Pasar lnduk Kramat Jati
(selama penyimpanan) maupun setclah dilakukan proses pemetikan tangkai
buah. Biaya rata- rata yang harus dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk
penyusutan cabai rawit hijau sebesar Rp. 92.000,- atau Rp. 95, I 4 per Kg (sekitar
1-2 Kg per karungnya). Basil analisis marjin pemasaran juga menunjukan
persentase biaya penyusutan terhadap hargajual sebesar 1,02 persen.
Biaya restribusi adalah biaya yang dikenakan bagi setiap pedagang grosir
yang meliputi biaya pajak usaha, biaya kebersihan, biaya keamanan, biaya
penerangan. Biaya rata- rata yang harus dikeluarkan pedagang grosir sekitar Rp.
33.006,45 atau sebesar Rp. 34,51 per Kg. Hasil analisis marjin pemasaran juga
menur~jukan

perscntase biaya restribusi sebesar 0,37 persen terhadap hargajual.

Biaya dll (dan lain- lain) adalah biaya telp dan biaya pengcmasan (plastik)
yang harus dikeluarkan olch pcdagang pcneeer, rata- rata biaya yang harus
dikeluarkan sebesar Rp. 24.483,87 atau Rp. 25,60 per kg. Hasil analisis marjin
pemasaran juga menunjukan persentase biaya timbangan terhadap harga jual
sebesar 0, 7 persen.
Dengan

komponen

biaya

pemasaran terbesar terjadi

pada biaya

penyusutan sebesar Rp. 206.534,- atau Rp. 215,93 per kg, dengan persentase
biaya penyusutan terhadap harga jual adalah 2,3 I persen. Sedangkan komponen

biaya pemasaran tcrkecil adalah biaya bongkar muat sebcsar Rp. 23.260,- atau
Rp. 24,33 per kg, dengan persentase biaya bongkar muat terhadap harga jual
adalah 0,26 persen.
Selanjutnya dapat di lihat, bahwa marjin pemasaran yang diperoleh
pedagang pcngccer sebesar Rp. 1.142,85 per Kg dengan persentase marjjin
pcmasaran tcrhadap harga j ual scbcsar 12,21

pcrsen. Sedangkan bi aya

pemasaran yang harus dikcluarkan sebcsar Rp. 498,42 per Kg dengan persentase
biaya pemasaran terhadap harga jual adalah 5,33 persen, maka keuntungan yang
di dapat olch pcdagang grosir tiap Kg cabai rawit hijau adalah Rp.644,43 atau
6,88 persen terhadap harga j ual..
Dengan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran adalah 129,29 persen
per Kg. lni menunjukan bahwa untuk setiap unit biaya yang dikeluarkan, maka
keuntungan yang dipcrolch akan lcbih besar dari satu biaya tersebut, yakni
setiap satu rupiah biaya pemasaran yang dikelurkan tengkulak, maka akan
memperolch keuntungan scbesar Rp 1,29 per Kg.

5.3.4.2

Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijan dari Pedagang Pengecer


Pasar Kramat Jati kc Konsnmcn Akhir

Sedangkan komponen biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh


pedagang pengecer Pasar Kramat jati meliputi biaya tenaga kerja, perawatan,
penyusutan, restribusi dan lain- lain. Secarajelas marjin pemasaran, keuntungan
maupun B/C rasio dan nilainya dapat di lihat pada Tabel 11

Tabel 11. Marjin Pemasaran di Tingkat Pengecer Pasar Kramat Jati


kc Konsumen Akhir, Joni- Juli 2005
Unsur

Biaya I Kg

Harga Jual Grosir Pasar lnduk Kramat Jati

8.214,29

Harga Beli Pengecer Pasar Kramat jati

8.214,29

73,71

Biaya Pemasaran :

l.546,32

13,88

Transportasi

370,26

3,32

Tenaga Kerja

267,49

2,40

Penyusutan

449,60

2,77

Restribusi

308,55

4,03

Kemasan

150,42

1,35

Kcuntungan

1.382,25

12,40

Marj in Pemasaran

2.928,57

2,68

8939

B/C Rasia
-~---

Harga Jual Pengecer Pasar Kramat Jati


Sumber : Data Pnmer Setelah

f)t

11.142,86

100

olah

Biaya transportasi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pedagang


pengecer selama pembelian atau sekali angkut sesuai kapasitas cabai rawit hijau
yang diinginkan dari pasar acuan (Pasar Induk Kramat jati). Biaya yang
dikeluarkan untuk satu kali angkut rata- rata sekitar Rp. 12.000,- dengan biaya
rata- rata sekitar Rp. 370,26 per Kg cabai rawit hijau. Berdasarkan hasil analisis
marjin pemasaran terlihat juga bahwa persentase biaya transportasi terhadap
hargajual sebesar 3.32 persen.
Biaya upah tenaga kerja adalah

biaya yang dikeluarkan pedagang

pengecer untuk membayar tenaga ke1ja tetap, yang bertugas untuk melakukan
penimbangan, melayani pembeli serta melakukan perawatan selama cabai rawit

hijau tidak habis terjual. Jumlah tenaga ke1ja yang dibutuhkan dalam kegiatan
terse but adalah I orang. Besarnya upah tenaga kerja rata -rata biaya untuk upah
tenaga kerja Rp. 69.354,84 per hari per orang, maka biay per Kg menjadi
sebesar Rp, 267,49 per Kg cabai rawit hijau. Hasil analisis marjin pemasaran
juga menunjukan persentase biaya tenaga ke1ja sebesar 2,40 persen terhadap
harga jual.
Biaya penyusutan adalah komponen biaya yang te1jadi ketika cabai rawit
hijau mulai membusuk dan tidak segar lagi selama penyimpanan maupun
setelah dilakukan proses pemetikan tangkai buah. Biaya rata- rata yang harus
dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk penyusutan cabai rawit hijau sebesar
Rp. 14.571,43 atau Rp. 449,50 per Kg. Hasil analisis marjin pemasaran juga
mem11\jukan persentase biaya penyusutan terhadap harga jual sebesar 2,77
persen.
Biaya restribusi adalah biaya yang dikenakan bagi setiap pedagang
pengecer yang meliputi biaya pajak usaha, biaya kebersihan, biaya keamanan,
biaya penerangan. Biaya rata- rata yang harus dikeluarkan pedagang grosir
sekitar Rp. I 0.000,- per hari atau sebesar Rp. 308,55 per Kg. Hasil analisis
marjin pemasaran juga memmjukan persentase biaya restribusi sebesar 4,03
persen terhadap harga jual.
Biaya kemasan adalah biaya harus dikeluarkan oleh pedagang grosir, ratarata biaya yang harus dikeluarkan dalam pembelian plastik, koran maupun karet
gelang sebesar Rp. 4.875,- atau Rp. 150,42 per kg. Basil analisis marjin

pemasaran juga menunjukan pcrscntase biaya timbangan terhadap harga jual


scbcsar 1,35 pcrscn.
Dcngan

komponen

biaya

pemasaran

terbesar terjadi

pada

biaya

penyusutan scbesar Rp. 14.571,43 atau Rp. 449,60 per kg, dcngan persentase
biaya pcnyusutan terhadap harga jual adalah 2, 77 persen. Sedangkan komponen
biaya pemasaran terkecil adalah biaya kemasan sebesar Rp. 4.875,- atau Rp.
150,42 per kg, dengan persentase biaya bongkar muat terhadap harga jual adalah
1,35 persen.
Selanjutnya dapat di lihat, bahwa marjin pemasaran yang diperoleh
pedagang pengeccr sebesar Rp. 2. 928,25 per Kg dengan biaya pemasaran yang
harus dikeluarkan sebesar Rp. 1546,32 per Kg maka keuntungan yang di dapat
oleh pedagang grosir tiap Kg cabai rawit hijau adalah Rp. 1.382,25
Dengan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran adalah 89,39 persen
per Kg. lni menunjukan bahwa untuk setiap unit biaya yang dikeluarkan, maka
keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dari satu biaya tersebut, yakni
setiap satu rupiah biaya pemasaran yang dikelurkan tengkulak, maka akan
memperoleh keuntungan sebesar Rp. 8,94 per Kg.

5.3.5

Analisis Penyebarnn Marjin Pemasaran


Analisis penyebaran marjin pemasaran merupakan proses untuk melihat

besarnya penyebaran biaya dan keuntungan pada setiap lembaga pemasaran


dengan menggunakan perhitungan marjin pemasarannya. Salain itu analisis ini
juga dilakukan untuk mcngetahui farmer's share atau persentase harga jual di
tingakat petani terhadap harga yang telah diterima konsumen akhir. (Tabel 12)

Tabel 12. Analisis Penyebaran Marjin Pcmasaran Caliai Rawit Bijan


dari Petani kc Pengnlak dengan Pasar Aenan di DKI
Jakarta Jnni- Juli 2005
Unsur Biaya

Pasar Induk Kramat Jati Pengecer Pasar Jnduk Kramat Jati


Biaya (Rp/Kg)
% dari Barga
Jual

Petani
Biaya Produksi
Biaya Pemasaran;
Keuntungan
Marjin Pemasaran
Barga Jual Petani
Harga Beli Pengulak
Biaya Pemasaran :
l. Transportasi
2. Pikul
3. Restribusi
4. Kemasan
Keuntungan
Marjin Pemasaran
Harga Jual Pengulak
Harga Beli Pedagang Grosir
Biaya Pemasaran :
l. Transpo1tasi
2. Biaya TK
3. Bongkar Muat
4. Restribusi
5. Nim bang
6. Perawatan
7. Penyusutan
8. Oil
Keuntungan
Marj in Pemasaran
Harga Jual Pedagang Grosii
Barga Beli Pengecer
Biaya Pemasaran:
I. Biaya TK
2. Transportasi

3. Bongakru Muat
4. Pcra\vatan
5. Rcstribusi

6.

Pcnyusuta11

7. Dll
l(euntungan
Marjin Pemasaran
l-Iarga Jual Pengecer
Konsumen Akhir
Ket : * Farmer s Share

3.500

37,40

Pasar lnduk Kramat Jati Pengecer Pasar Kramat Jati


Biaya
% dari Barga
(Rp/Kg)
Jual
3.500

31,41

842,14
842, 14
4.342,14
4.342,14
176,35
103,70
60
4,81
7,84
1.252,93
l.429,28
5771,42
5771,42
799,92
254,09
149,89
20
10,27
97,20
63,01
196,96
8,50
1642,95
2442,87
8214,29
8214,29
498,42
102,92

8, l
8, 1
46,40*

842, 14
842,14
4.342,14

7,56
7,56
38,97*

1,88
l, 11
0,64
0,05
0,08
13,39
15,27
61,68

176,35
103,70
60
4,81
7,84
1.252,93
l.429,28
5771,42
5771,42
799,92
254,09
149,89
20
10,27
97,20
63,01
196,96
8,50
1642,95
2442,87
8214,29
8214,29
1.546,32
267,49
370,26

1,58
0,93
0,54
0,04
0,07
11,24
12,83
51,79

8,55
2,72
1,60
0,21
0, 11
1,04
0,67
2, 10
0,1
17,56
26, 11
87,79
5,33
1,1

24,32
95,14
34,51
215,93
25,.60
644,43
1142,85
9357, 14
9357, 14

0,26
1,02
0,37
2,31
0,27
6,89
12,21
100
100

7,18
2,28
1,35
0,18
0,1
0,87
0,57
1,77
0,08
14,74
21,92
73,71
13,88
2,40
3,32

308,55
449,60
150,42
1382,25
2.928,57
l l.142,86
11.142,86

2,77
4,03
1,35
12,40
2,68
100
100

Pcnycbaran mai:i in pcmasaran yang

tc~jadi

di pasar acuan dengan pcngecer

Pasar Induk Kramat Jati, marj in terbesar didapatkan oleh pedagang gosir di Pasar
Induk Kramat Jati yaitu sebesar Rp. 2.442,87 atau 26, 11 persen terhadap harga
jual. Sedangkan nilai Jamer 's share pada pasar pengecer Pasar Induk Kramat jati
adalah 46.40 persen. Tetapi apabila petani menjual langsung ke pedagang grosir

makafarmer's share yang diperolehnya akan menjadi 61,68 persen (Tabet 12).
Sedangkan maijin pemasaran yang terjadi antara pasar acuan dengan
pengecer Pasar Kram at J ati, marj in pemasaran terbesar diperoleh pedagang
pengecer Pasar Kramat Jati sebesar Rp. 2.928,57 atau 2,68 persen terhadap harga
jual. Dengan nilai farmer's share pada pasar pengecer Kramat Jati adalah 38,97
persen. Tetapi apabila petani menjual langsung ke pedagang grosir makafarmer 's

share yang diperolehnya akan menjadi 51, 79 persen (Tabel 13)

Tabet 13. Analisis Pcnycbaran Marjin Pcmasaran Cabai Rawit Hijau


dari Petaui dengan Pasar Acuan di DKI Jakarta Juni- Jnli

2005
Unsur Biaya

Petani
Biaya Produksi
Biaya Pemasaran;
I. Transportasi
2. Pisul
3. Restribusi
4. Kemasan
Kcuntungan
Marjin Pe1nasaran
t~Iarga Jual Petani
Barga Beli Pedagang Grosir
Biaya Pemasaran :
I. Transpo11asi
2. Biaya TK
3. Bongkar Moat
4. Restribusi
5. Nim bang
6. Perawatan
7. Penyusutan
8. Dll
Keuntungan
Marji n Pemasaran
Barga Jual Pedagang Grosir
Harga Beli Pengecer
Biaya Pemasaran:
I. Biaya TK
2. Transportasi
3. Bongakar Muat
4. Perawatan
5. Restribusi
6. Penyusutan
7. Dll
Keuntungan

Marjin Pe1nasaran
l-Iarga Jual Pcn&.~~I_ ____....
Konsumen Akhir
Ket:

* Jar111er s Share
~

Pasar Induk Kramat Jati Pengecer Pasar Induk Kramat Jati


Biaya (Rp/Kg)
% dari Harga
Jual
3.500
176,35
103,70
60
4,81
7,84
2.095,07
2.095,07
5771,42
5771,42
799,92
254,09
149,89

20
10,27
97,20
63,01
196,96
8,50
1642,95
2442,87
8214,29
8214,29
498,42
102,92

24,32
95,14
34,51
215,93
25,.60
644,43
1142,85
9357,14
9357,14

Pasar lnduk Kramat Jati Pengecer Pasar Kramat Jati


Biaya
% dari Harga
(Rn/Krr)
Jual
31,41
1,58
0,93
0,54
0,04
0,07
18,80
18,80
51,79*

3.500
176,35
103,70
60
4,81
7,84
2.095,07
2.095,07
5771,42
5771,42
799,92
254,09
149,89
20
10,27
97,20
63,01
196,96
8,50
1642,95
2442,87
8214,29
8214,29
1.546,32
267,49
370,26

0,26
l,02
0,37
2,31
0,27
6,89
12,21
100
100

308,55
449,60
150,42
1382,25
2.928,57
11.142,86
11.142,86

2,77
4,03
1,35
12,40
2,68
100
100

37,40
1,88
I, 11
0,64
0,05
0,08
22,39
22,39
61,68*
8,55
2,72
1,60
0,21
0, 11
1,04
0,67
2,10
0,1
17,56
26,11
87,79
5,33
I, 1

7,18
2,28
1,35
0,18
0,1
0,87
0,57
l,77
0,08
14,74
21,92
73,71
13,88
2,40
3,32

Untuk lebih jelasnya lagi mengenai penyebaran marjin pemasaran pada


Tabel 12 dan 13 dapat dilihat pada Gambar 11 dan 12 berikut ini:

4.342, 14

3.500

--- I

Petani

I 176,35.I

Pengulak

'

4.342, 14
M=842,14

5.771,42

I
'

8.214,29

799,92 1
. I 498,291 Pengecer

I Grostr 1

5.771,42

8.214,29

M = 1.429,28

M = 2.442,87

9.357, 14
M= 1.142,14

Gambar 11. Penyebaran Marjin Pemasaran Cabai Rawit Hijau dari Petani,
Pcngulak dcngan Pasar Acuau di DKI Jakarta Juni-Jnli 2005

Pada Gambar 11 dapat di lihat. bahwa dengan pola saluran pemasaran


yang ada pelani hanya mengcluarkan biaya produksi saat menanam saja (Rp.
3.500) akan mcmperolch keuntungan sebesar Rp. 842, 14 dengan asumsi harga
jual di tingkat petani sebesar Rp. 4.342, 14. Petani tidak mengeluarkan biaya
pemasaran karena semua biaya di tanggung oleh pengulak, sebab pengulak
langsung membeli cabia rawit hijau di ladang petani sehingga untuk biaya angkut
dan semacamnya dibebankan ke pengulak.
Pada
dibandingkan

kenyataannya
dengan

perolehan

lembaga

keuntungan

pemasaran

lainnya,

petani
padahal

sangat

kecil

resiko tidak

kembalinya modal cukup tinggi apabila gaga! panen. Tingkat harga beli pengulak
yang sangat rendah pun menjadi pemicu rendahnya keuntungan petani selain dari
tinggginya biaya produksi yang harus dikeluarkan saat menanam.
Di tingkat pengulak marjin pemasaran yang diperoleh sebesar Rp.
1.429,28 dengan harga jual pada saat itu sebesar Rp. 5.771,42 sedangkan harga

belinya sebesar Rp. 4.342, 14. pengulak mengeluarkan biaya-biaya pemasaran


untuk mendatangkan komoditi dari daerah produsen ke tangan pedagang grosir,
biaya yang harus dikeluarkan pengulak yakni Rp. 176,35 per Kg.
Pengulak biasanya sudah mengenal lama petani yang di beli hasil
usahanya. Pemberian pinjaman modal saat musim tanam maupun saat panen
sering dilakukan oleh pcngulak dengan ikbalan petani tersebut harus menjual hasil
usahanya kepada pengulak tersebut. lnilah yang terkadang membuat petani tidak
dapat memilih untuk menjual hasil usahanya kepada pengulak lain yang
menawarkan harga yang lebih bersaing karena telah terikat perjanjiann tersebut.
Perolehan marjin pemasaran di tingkat grosir adalah yang paling besar
yakni Rp. 2.442,28. Di mana grosir mematok jual harga cabai rawit cukup tinggi
Rp. 8.214,29 dengan hanya harga beli dari pengulak sebesar Rp. 5. 771,42. Biayabiaya pemasaran yang cukup tinggi yakni Rp. 799,92. lni disebabkan dalam
mendatangkan cabai rawit hijau tidak hanya mengandalkan pasokan dari dalam
daerah tetapi juga luar daerah ini yang mendorong semakin besarnya biaya
pemasaran dan akan mcnycbabkan marjin pemasaran yang diperoleh grosir pun
semakin besar. Berdasarkan pendapat Dahl dan Hammond (1997) bahwa apabila
biaya pemasaran meningkat malrn secara sistematis marjin pemasaran juga akan
meningkat.
Untuk pengecer dengan harga jual cabai rawit hijau sebesar Rp. 9.357, I 4
perolehan marjin pemasaran sebesar Rp. 1.142,14 dengan harga beli pada
pedagang grosir sebesar Rp. 8.214,29. Tetapi tergantung dengan jarak pasar
pengcer itu sendiri semakin jauh jarak pasar pengecer dengan pasar acuan (Pasar

lnduk Krarnat Jati) maka akan semakin meningkat marjin pemasaran di tingkat
pengecer hal ini discbabkan semakin besar biaya pemasaran yang harus
dikeluarkan (biasanya biaya transportsi yang sangat berpengaruh)
Sedangkan marjin pemasaran yang di terima petani lebih besar apabila
menjual langsung ke pedagang grosir adalah Rp. 2.271,42 (Gambar 12). Hal ini
disebabkan

karena

petani

yang

menjual

langsing

ke

pedagang

grosir

mengeluarkan biaya pemasaran (Rp. 176,35) tidak hanya biaya produksi (Rp.
3500). Sehingga biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam memasarkan cabai
rawit hijau meningkat apabila petani menjual langsung ke pedagang grosir
schingga mendorong pcrolehan maijin pemasaran pun meningkat (Dahl dan
hammond, 1997).

3.500
176,351

Petani

5.700
799,92,.1

Gros it

8.200
498,291 Pengecer

5.771,42

8.214,29

9.357,14

M = 2.095,07

M = 2.442,87

M= 1.142,14

Garn bar 12. T'cnycbaran Marj in Pcmasaran Cabai Rawit I-Iijan dari Petani,
dengan Pasar Acuan di DKI Jakarta ,Juui-Juli 2005

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai saluran pemasaran cabai rawit hijau di


Pasar Induk Kra1nal Jati tcrdapat dua pola saluran pernasaran, yakni :

Pola I :

Pola 2:

I Petani 1-1
L____P_e_t_an_i_

Pengulak

Grosir H.--P-e_n_g_e-ce-r--,

_j---1~~--G_r_o_s_ir_ __;---<~1>11

Pengecer

Struktur pasar yang terbentuk di tiap lembaga pemasaran yang terlibat


berbeda-beda diantaranya :
I. Petani pada saat berhadapan dengan pengulak, struktur pasar yang
terbentuk bersifat monopolistis. Yakni peluang keluar masuk pasar
termasuk sulit, produk yang dihasilkan petani berbeda corak, baik petani
hanya maupun pengulak memiliki market share yang kecil serta tidak
tcrdapatnya pcrsaingan harga untukjenis dan kualitas yang sama.
2. Pengulak pada saat berhadapan dengan pedagang grosir, struktur pasar
yang terbentuk bersifar oligopoli murni. lni menunjukkan pedagang
pengulak mendominasi pasar produk walaupun dalam jumlah sedikit,
barang yang dihasilkan berbeda corak dan berstandarisasi ini dilakukan
untuk dominasi pengaruh terhadap harga dan praktek dari persaingan antar
pengumpul. Rintangan untuk memasuki pasar cukup selektif.

3. Grosir pada saat berhadapan dengan pedagang pengecer, struktur pasar


yang terbentuk bersifat monopolistis. lni memmjukkan bahwa barang yang
dihasilkan bersifat unik tidak adanya barang substitusi dan pedagang
grosir bersifat sebagai penentu harga serta besar-kecilnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk mendatangkan produk tergantung dari situasi pasar.
4. Pedagang pengeccr pada saat berhadapan dengan konsumen akhir, struktur
pasar yang terbentuk bersifat persaingan murni (bersaing sempurna).
Masing-masing produsen secara individual dianggap kecil atau tidak
mempengaruhi pasar karena harga yang terbentuk cenderung kearah
tawar-menawar. Adanya kebebasan keluar masuk pasar dengan mudah,
produk yang dihasilkan bersifat homogen atau dibedakan menurut kelas
tertentu sehingga persaingan yang terbentuk adalah persaingan harga.

Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran terdapat perbedaan perolehan


marjin pemasaran yang cukup besar antar tiap lembaga pemasaran, yakni :
I. Di Tingkat Petani : dengan memanfaatkan jasa pengulak, memperoleh
marjin pemasaran sebesar Rp. 842,14, sedangkan dengan menjual
langsung kc pedagang grosir, memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp.
2.271,42
2. Di Tingkat Pengulak

memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp.

1.429,28
3. Di Tingkat Pcdagang Grosir : mcmperoleh marjin pemasaran sebesar Rp.
2.442,87

4. Di Tingkat Pedagang Pengecer : Pengeeer Pasar Induk Kramat Jati :


memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. I. I 42,85 sedangkan pengecer
Pasar Kramat Jati : memperoleh marjin pemasaran sebesar Rp. 2.928,57

Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan marjin pemasaran di tiap


lembaga pemasaran antara lain adalah biaya produksi dan biaya pemasaran.
I. Petani : Dcngan bantuan tengkulak hanya mengeluarkan biaya produksi,
hila mcnjual langsung kc pcdagang grosir : biaya transportasi, pikul,
restribusi clan kemasan.
2. Pengulak: Biaya transportasi,pikul, restribusi dan kemasan.
3. Grosir. : Biaya transportasi, TK, bongkar muat, restribusi, nimbang,
perawatan, penyusutan dan lain-lain.
4. Pengecer : Pengecer Pasar lnduk Kramat Jati : Biaya TK, bongkar muat,
perawatan, restribusi, penyusutan dan lain-lain. Dan pengeeer Pasar
Kramat Jati : Biaya TK, transportasi, bongkar muat, perawatan, restribusi,
penyusutan dan lain-lain.

6.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka perlu dilakukan tindakan nyata agar
perbedaan maijin pemasaran tidak terlalu besar antar tiap lembaga pemasaran,
yaitu:

Petani menjual basil usahanya langsung ke pedagang grosir, sebab marjin


pemasaran yang di peroleh lebih besar sehingga perolehan keuntungan pun
akan lebih besar.

Petani diharapkan dalam bertanam cabai melihat musim tanam dengan daerah
lainnya. Schingga tidak tcrjadinya panen yang bersamaan yang menyebabkan
harga cabai menjadi rendah.

Tiap lcmbaga pemasaran untuk lcbih mengoptimalkan pcnyebaran informasi


pasar yang ada, supaya pcrkembangan harga yang te1jadi setiap saat dapat
mudah dan ccpal dikclahui.

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, W dan T. A. Soetiarso. 1995. Aspek Agroekonomi Cabai. Makalah


Seminar. Agribisnis Club 27- 28 Juli. Jakarta

Anindita, Ratya. 2005. Pemasaran Hasil Pertanian. Lentera. Jakaita

Azir, Rizky.2002. Kajian Pemasaran dan Jntegrasi Pasar Cabai Merah Keriting
di DK! Jakarta (Studi Kasus : l'a.rnr lnduk Kramal .!ati. Pasa Tanah Abang
dan l'asar .Jati Negar). Jurusan llnrn- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.
lnstitut Pertanian Bogor. Bogor.

Alma, Bukhori. 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran .!asa.


Revisi. Alfa Beta. Bandung

Edisi

---------2001. Laporan Bulanan Perkembangan Harga Raia- rata Sayur- mayur


Tingkat Gmsir dan Konsumen di DK! Jakarta. Direktorat Jendrat Tanaman
Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman. Direktorat Jendral Tanaman Pangan
dan Hortikultura. Jakarta

---------2003. Pedoman Umum Budidaya Cabai Merah. Direktorat Jendral


Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman. Direktorat Jendral Tanaman
Pangan dan Hortiku ltura. Jakaita

---------2005. Laporan Bulanan Perkembangan Harga Raia- rala Sayur- mayur


dan Buah- buahan di DK! Jakarta. Koperasi Pasar Induk Kramat Jati.
Jakarta

-----------2005. Laporan Bulanan Perkembangan Pasokan Sayur- mayur dan


Buah- buahan di Pasar Jnduk Kramat Jati. Koperasi Pasar lnduk Kramat
Jati. Jakarta

----------2005. Statistik Pertanian. Depaitemen Pertanian. Jakaita

Biro Pusat Statistika.


2003. Perkembangan Produksi dan Ketersediaan
Konsumsi Sayuran dan Buah- buahan di Indonesia. BPS. Jakarta

Dahl dan Hammond, J. W. 1997. Markel and Price Analisys The Agricultural
lndustri. Mc. Graw- Hill Book Company. New York

Fatimah, Fita Siti. 1999. Analisis marjin Pemasaran dan Ke1e1paduan Pasar
Nfinyak Goreng di DKI Jakarla

Gifriah. 2004 Analisis Efisiensi Pemasaran Tanaman Anggrek Dendrobium Sp


di DK/ (Studi Kasus : Taman Anggrek Ragunan, Pasar Minggu- .Jakarta
Selatan) Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Sains dan Teknologi.
Universitas Islam Negeri Jakarta. Jakmta

Halcrow, G. Harold. 1992. Ekonomi Per/anian. Cet Pertama.


Muhammadiyah Malang (UMM) Press. Malang

Universitas

Hendra dan Kusnadi. 2002. Ekonomi Pertanian Untuk Perguruan Tinggi. Edisi
Revisi. Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI. Jakarta

Hermansyah. 1998. Analisis Deskripsi Sistem Tataniaga Cabai Merah : Studi


Ka.ms Pada 3 Kabupaten di .!mva Tengah. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian. lnstitut Pertanian Bogor. Bogor

Kotler, P. 1999. Nfanajemen Pemasaran di Indonesia Ana/isis, Perencanaan,


Imp/ementasi dan Pengendalian. Buku Satu. Salemba Empat PT :
Prenhallindo. Jakarta

Kotler, P dan Amstrong, G. 2004. Dasar- dasar Pemasaran. Jilid ke- 2 edisi ke9. PT: lndeks. Jakarta

Limbong, W. 1-1 dan Sitorus, P. 1991. Penganlar Talaniaga Perlanian. Jurusan


llmu- ilmu Sosial Ekonomi Perlanian. lnstitut Pertanian Bogor. Bogor

Manullang. 2000. Pe11f!,an1ar Ekonomi Perusahaan. Liberty. Yogyakarta

Mubyarto. 1991. l'engan/ar Ekonomo Pertanian. LP3ES. Jakarta

Mukhlis. 2000. Analisis Pemasaran dan Integrasi Pasar Cabai Rawit Merah di
DK/ Jakarta (Studi Kasus : Pasar Jnduk Kramat Jati, Pasa Tanah Abang
dan Pasar Jati Negara). Jurusan llmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nazir. 1998. Metode Peneltian. Ghalia Indonesia. Jakarta

Setiyanto, Y. Joko. 2005. Peranan PD. Pa.mr Jaya Prop. DK! Jakarta Sebagai
Se1ura Pendistribusian Produk Pertanian di DK! Jakarta. Makalah
Workshop. Dinas Dikmenti DKI Jakarta dan Fakultas Pertanian Universitas
Nasional Jakarta, 6- 7 April 2005. Jakarta

Sunaryono, H. Hendro. 2003. Budidaya Cabai Merah. Sinar Baru Algensindo


Offset. Bandung

Syahroni, Ridwan. 200 I. Ana/is is Saluran Pemasaran dan Keterpaduan Pasar


Beras di DK! Jakarta. Jurusan llmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Syamsuri, Prayudi. 2002. Ana/isis Ejisiensi Pemasaran Buah Lokal dan Buah
Import di DK! Jakarta. Makalah Seminar. Program Pasca Sajana lnstitut
Pertanian Bogar, Kamis 27 Juni 2002. Bogar

Lampiran I
Struktur Organisasi Pasar Induk Kramat Jati

MANAGER AREA

WAKIL MANAGER

ASISTEN MANAGER
OPERASIONAL

ASISTEN MANAGER
ADMINISTRASI

'
r----------------------------1
'

'

---------,

Staff Asisten
Manager Adminislt11Si

'

r------------------------~

'

'
---------...''------";

'

~----;;~ff Asist~;---

-.

.
Staff Asisten
,
j Manager Administrasi j

U1nu1n

Keuangan

-1

Manager Operaslonal

PPTU

Staff Asisten
;
Manager Opetasional i
'
Perawatan
'
'-------------'----~i

'

r--------------------------,-----------------------,-----------------------~

'
''
' ..
SUPERVISOR

;,.....____________+---------'

~---------- --------~

'

r------ ........-.1..' ------

i'

SUPERVISOR

i.

I----1---''

'

'

,.-swli~vlsoi-1

-swF:R"Vlsoi'

L ..- - - - - . - - - - - - - ;

'

r------1---------,.

Staf
i----~--'

Star

Staf

L ____________ J

Staf

L__--Hm--H~

........

-l

Lampiran 2
Tugas masing- masing tiap divisi
I. Staf Asistcn Manager Administrasi Umnm

a. Melaksanakan kegiatan tata usaha


b. Memonitor dan mengendalikan peralatan dan barang investaris
pada area

c. Merencanakan,

mengurus

pengadaan

dan

mendistribusikan

kebutuhan peralatan kantor, serta barang inventaris area


d. Memelihara dan merawat perlengkapan kantor
e.

Melaksanakan administrasi Sumber Daya Manusia

f.

Mengurus kcsejahteraan Sumber Daya Manusia

g. Mcngadakan pembinaan disiplin dan pengembangan Sumber Daya


Manusia
h. Melaksanakan pembuatan daftar gaji dan penghasilan lainnya
1.

Mcrncanakan clan mcngcndalikan pengamanan/ ketertiban pasar

.J.

Mcngadakan koordinasi dcngan instansi lain dalam menciptakan


keterti ban pasar

k. Melaksanakan

penutupan

sementara

tempat

usaha

clan

pembukaannya

I.

Menyiapkan dan mcneliti naskah kontrak kerjasama dan serah


terima pckerjaan

m. Menyampaikan saran dan pc1timbangan hukum kepada Manager


Area

n. Menerima dan meneliti pengaduan seta menyampaikansaran


penyelesaiannya
o. Mengkoordinasikan kegiatan peyelidikan atas masalah perpasaran
p. Mengkoordinasikan, menyusun rencana kerja dan laporan area
secara berkala
q. Menyusun Japoran kegiatan Staf Asisten Manager Adrninistrasi
Um um

2. Staf Asisten Manager Operasi Usaha dan Pengernbangan


a. Mengendalikan administrasi SIPT dan SPT
b. Meneliti dan memproses izin kontrak tempat usaha dan perubahan
jenis jualan
c. Memproses penutupan sementara tempat usaha dan pembukaannya
d. Memproses penerbitan Surat Pembatan Tempat Usaha
e. Merencanakan dan melaksanakn pemasaran tempat usaha dan
promosi penjualan

f.

Menrbitkan dan mendistribusikan Surat Penunjuk Tempat (SPT)

g. Mengadakan penelitian dan mengajukan harga jual tempat usaha


yang batal
h. Melaksanakan administrasi aktivitas tempat usaha
1.

Mengkoordinasikan pcmbinaan pedagang dan Koperasi Pedagang


Pasar (KOPP AS)

J.

Melaksankan dan mengkoordinasikan pengembangan pasar dan


usaha perusahaan

k. Menyusun laporan kegiatan Staf Asisten Manager Operasional


Usaha dan Pengembangan.

3. Staf Asistcn Manager Administrasi Kcmrngan


a. Menyiapkan dan menyusun rencana anggaran penerimaan dan
pengeluaran Area
b. Menghimpun dan menyusun realisasi penerimaan dan pengeluaran
Area
c. Menyusun dan mengusulkan rencana penerimaan dan pengeluaran
operasional bulanan
d. Melakukan analisa, pengandalian dan evaluasi atas pelaksanaan

anggaran
e. Mengusahakan sumber dana bagi pembalanjaan Area
f.

Mengendalikan clan melaksanakan penagihan piutang

g. Menelili dan memproses STSU dan SPMU bcserta dokumen


pendukungnya
h. Membukukan

transaksi

keuangan

sesuai

standar

akuntansi

keuangan yang berlaku umum berdasarkan bukti yang sah

i.

Menyusun proyeksi laporan keuangan secara berkala

j.

Meneliti, menyusun dan menyimpan bukti transakasi

k. Menerima dan menyimpan hasil penerimaan Area

I.

Melaksanakan pembayaran berdasarkan bukti yang sah

111.

Membuat laporan posisi kas I Bank dan menyusun cash flow Area

n. Membuat rekonsiliasi Bank

o. Menghitung, memungut dan membayar pajak


p. Mengurus hal-hal yang berhubungan dengan pajak
q. Menyusun dan melapor hasil kegiatan perpajakan area
r.

Menyusub

rencana

kebutuhan alat-alat tagih,

melaksanakan

perforasi dan mengendalikan pendistribisiannya

s. Mcnerbitkan dan mcngendalikan Surat Perintah Pembayarnn (SP!')


t.

Menyusun laporan kcungan Arca

4. Staf Asisten Manager Opcrasi l'crawatan


a. Menyusun rencana perbaikan dan pemeliharaan bangunan pasar
beserta fasilitasnya
b. Memproses permohonan izin dan mengendalikan pelaksanaan
pemasangan listrik, telcpon, AC, air, rollilng door, pembobokan,
reklame, penyatua tempat usaha, markis, mesin giling cabe, tepung,
bakso clan tempat pemarutan dan lain sebagainya
c. Mengendalikan pelaksanaan perawatan dan sarana kebersihan
pasar
d. Mengajukan perubahan tata ruang pasar (layout)
e. Menyusun rencana kebutuhan peralatan dan saran kebersilmn pasar
f.

Mempersiapkan dokumen lelang perawatan bengunan pasar, M &


E dan sarana pasar

g. Menyusun laporan kegiatan Staf Asisten Manage Operasi Perawat

5. Supervisor
a. Menyusun pelaksanaan penjualan sarana tcmpat usaha sesuai
dengan target yang ditetapkan
b. Menyusun laporan perkembangan pasar secara sistematis
c. Menyusun laporan menyangkut pennasalahan pemasaran tempat
usaha yang mengalami stagnasi untuk ditindak lanjuti Area
d. Memimpin kegiatan perawatan pasar baik bangunan maupun
instalasi
e. Mengarahkan strategi pengamanan dan ketertiban pasar

f.

Monitoring dan evaluasi produktivitas alat produksi

g. Memonitoring dan evaluasi kegiatan kebersihan


h.
1.

Mengendalikan kegiatan akuntansi dan keuangan pasar


mengkoordinasikan

kegiatan

pengembangan

Sumber

Daya

Manusia

6. Staf Supervisor
a. Melaksanakan kegiatan ketatausahaan
b. Memonitor dan mengendalikan peralatan dan baragng inventaris
pada kantor pasar
c. Merencankan, mengurus pengadaan kebutuhan peralatan kantor,
serta barang inventaris
d. Memclihara dan merawat perlengkapan kantor
e. Melaksanakan Sumber Daya Manusia

L Mcngadakan koordinasi dengan instansi lain dalam menciptakan


ketertiban pasar
g. Mengusulkan

penutupan

sementara

tempat

usaha

dan

pembukaannya
h. Mendistribusikan SIPT dan SPT
1.

Menerusakn permohonan izin kontrak tempat usaha dan perubahan


jenis jualan

J.

Melaksanakan

penutupan

sementara

tempat

usaha

dan

pembukaannya
k. Mengajukan penerbitan Surat Pembatan Ternpat Usaha

I.

Mengadakan penelitian dan mengajukan harga jual tempat usaha


yang balal

111.

Melaksanakan administrasi aktivitas tempat usaha

n. Mengkoordinasikan pembinaan pedagang dan Koperasi Pedagang


Pasar (KOPP AS)
o. Melaksankan dan mengkoordinasikan pengembangan pasar dan
usaha perusahaan
p. Menyusun

laporan

kegiatan

Manager

Operasi

Usaha

dan

Pengembangan
q. Menyiapkan dan menyusun rencana anggaran penerimaan dan
pengeluaran Area
r.

Menghimpun dan menyusun realisasi penerimaan dan pengeluaran


Area

s.

Menyusun dan mengusulkan rencana pcnerimaan dan pengeluaran


operasional bulanan

t.

Meneliti dan memproses STSU dan SPMU beserta dokumen


pendukungnya

u. Membukukan

transaksi

keuangan

sesuai

standar

akuntansi

keuangan yang berlaku umum berdasarkan bukti yang sah


v. Menyusun proyeksi Japoran keuangan secara bcrkala
w. Meneliti, menyusun dan menyimpan bukti transakasi
x. Menerima dan menyimpan hasil penerimaan Area
y. Menghitung, memungut dan membayar pajak
z. Mengurus hal-hal yang berhubungan dengan pajak
aa. Menyusun dan melapor hasil kegiatan perpajakan area
bb. Menyusun rencana kebutuhan alat-alat tagih, melaksanakan
perforasi dan mengendalikan pendistribisiannya
cc. Menerbitkan dan mengendalikan Surat Perintah Pembayaran (SPP)
dd. Menyusun laporan keungan Area
ee. Melaksanakan penagihan sewa

n:

Mengajukan usul perbaikan dan pemeliharaan bangunan pasar


beserta fasilitasnya pelengkapnya

gg. Mengajukan usu! permohonan izin pemasangan listrik, telepon,


AC, air, rollilng door, pembobokan, reklame, penyatua tempat
usaha, markis, mesin giling cabe, tepung, bakso dan tempat
pemarutan dan lain sebagainya

hh. Mclaksanaan pcrawatan dan sarana kebersihan pasar


ii. Mengajukan perubahan tata ruang pasar (layout)

jj. Mengusulkan rcncana kebutuhan peralatan dan saran kebersihan


pasar
kk. Mempersiapkan dokumen !clang perawatan bcngunan pasar, M &

Lampiran 3
Fluktuasi Harga Cabai Rawit Hijau Bulan Juni - Juli 2005
di Pasar lnduk Kramat Jati

9000

./kR

8000
7000

'"8
_.-Juni

6000
5000

Juli
.;i4929l

4000
3000
2000
1000
0
Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Sumber: Data Sekunder Setelah Diolab

Minggu 4

HARGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR 1.NDUK KRAMAT JATI
BULAN JUNI 2005

----..

---

:11
1
2
3
JENIS KOMODITI ------~--Rp/Kq
R J!<g
Rpll\!2
Rp/l\q
SAYUR MAYUR

---- -----------<ol

RATA-RATA

4
Rp/l\q

22

3858214

fax

TANGGAL

PERU

Mgg lni

Mgg lalu

Rp/l\g

Rp/l\g

Rp/Kg

Rp/Kg

BAHAN
%

Bufot

1,700

1.700

-.---1,GOO

~.700

1,600

1,600

1,650

1,650

1,729

<ombana Kol
Sawl

4,000

4,000

3,750

4,000

4,000

4,500

4,500

4, 107

3,929

4.55

1,300

1,200

1,200

1,200

1,229

1,200

2.38

:Juncls

2,750
2,300
2,500
300

-2,300

3,200

3,000

2,814

2,200

2,300
300

2,000
350
1,300

(8.14)
2.38
(11.65)

1,800
4,500

2,250
300
1,350
1,800
4,500

2,000

1,300

2,250
300
1,350

2,271
2,257
307
1,300

2,257
2.157
2,457
300
1,471

24.88

2,300

2,500
2,200

2,500

2,300

1,800
4,500

1,800
4,000

1,886
4,643

1.943
4,714

(2,94)
(1.52)
22.92

Nortel

rornat
;!bu Siani

rerong
rimun

1,200

- 1,200
.. ~- 1,300_
------2,750
3,000
2,2"00
2,50~

300

1,300
2,000

1,200

300
1,300

(4.55)

5.30

:;obo Meroh Kr!Ung


;aba March Besar

2,000
5,000

5,000

2,000
5,000

3,500

3,500

4,000

5,000

4,500

4,500

4,500

4,214

3,429

~abe

Rawit Merah

3,500

3,500

3,500

3,000

3,000

3,000

2,500

3,143

3,000

4,76

~ebe

Rawa Huiau

3,000

3,000

3,000

3,500

3,500

3,000

3,000

3, 143

2,500

25.71
(4.23)

~wang Merah
3awang Putih

4,500

~,500

5,000

5,000

5,000

5,000

5,000

4,857

5,071

6,300

6,300

6,300

G,300

6,300

6,300

6,300

6,300

6,200

1.6~

~awang

3,500

3,500
3,000

3,500
3,000

3,500
2,500

3,500

3,200

3,200

2,200

2,200

3,429
3,000

(0.42)

2,500

3,414
2,629

1,600
1,250

!.c'.29_ -

1,700
1,300

1,500
1,200
850

1,500
t,200

1,600
1,200

4,500

4,52.2_ f--~,000

Contang

4,500
2,300

:o!apa/Butir

1,200~-

2,300
1,200

2,300
1,200

700
1,000

(150

9C'O

000

650
1,000

850
4,500
2,100
1,200
750
1,000

1,600
1,236
829
4,643
2,271
1,200
679
971

1,929
1,200
814
4,214
1,986
1, 171

linQkong
Jbl Jalar

2,3)0
_:1.200
6SO

5,000
2,500
.1,200
650
1,000

1,600
1,200
850
4,500
2,100
1,200
700
1,000

6,500
4,500
1,200
1,500

6,500

7,000
4,$00

6,500
4,200
1,700
1,100
180,000

5,357
4,214
1, 114
1,600
6,286
4,271
1,657
1,057
181,429

5,071
4,429
1,229
1,500

6,000
4,?.00
1,700
1,100
180,000

6,000
3,500
1.000
1,700
6,000
4,500
1,700
1.100
185,000

22,000
3,500

22,000
3,500

23,000

22,857

leIon

22,000
3,500
2,600

3,571
2,700

a!ak Bali/peti

80,000

2,700
85,00C!

4,000
2,600
80,000

6,500

6,500

7,000

82,857
6,643

Daun
)aun S!edri
~angka

Muda

:eJsim

3,000

1,300

-BOO

lagung

!ongkol

r.oo
_

BOO

8::i0

586
1,000

(12.38)
(17.04)
2.98
1.75
10.17
14.39
2.44
15.85
(2.86)

lUAH-BUAHAN
1pel Lokal
llpukat
1
epaya
!anas
1

inang Ambon/Ko!i

eruk S!am
[!:mnngka TB
iomangktt Bl I
lnggur lnport

1nggur Lokaf/peti
!arkisah

!anggis

1ukuh
langga (HM)
1

urlan (Buah)

90,000

ttruk lmPort

eet lm~rVDoos

edondong

210,000
1,000

4~0

1,200
1,500

-- ----

1,200
1,600
6,500
4,500
1:100

1,100
180,000

6,500
4,000
1,600
1,000
180,000

6,000
4,000
1,100
1,600
6,500
4,000
1,600
1,000
180,000

6,000
3,500
1,000
1,700
6,000
4,500
1,600

1,000
185,000

24,000

2,800
85,000

24,000
3,500
2,800
85,000

85,000

2,600
80,000

G,500

6,500

6,500

7,000

- --- -----<10,000
D0,000
210,?00_
1,000

6,000
5,000
1, 100
1,GOO

210,000
1,000

---~

3,500
2,800

6,000

6,000

90,000
210,000
1,000

90,000
210,00(l
1,000

23,000
3,500

6,000

90,000
210,000
900

6,000

90,000
210,000
900

6,000

90,000
210,000
971

6,929

4,071
1,929
1.200
175,000
24,288
3,857
2,729
87, 143
6,357

87,857
210,000
671

5.63
(4.84)
(9.30)
6.67
(9.28)
4.91
(14,07)
111.90)
3.67
(5,88
(7.41)
(1.05)
(4.92)
4.49
#DIV/DI
#DIV/01
#DIVIOI
2.44

11.48

HARGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


P/\SAR INDUK KRAMAT JATI
BULAN ,JUN! 2005
fax

iu ke 2
JENIS KOMODITI

7
Ro/Kg

8
Rpi'::,o

TANGGAL

-9
Rp/Kg

3858214
RATA-RATA

10

11

12

13

Mgg lnl

Rp/Kg

Ro/Ko

Ro/Ko

Rp/Kq

Rp/Kg

23
PERU

BAHAN

Mgg Lalu
Rp/Kg

SAYUR MAYUR
1,600

1,500

1,400

1,400

4,000

3,750

4,000

Kambang Kor
Sewi

1,200

1, 100

1,300

4,000
1,300

1,300
3,500
1,200

Buncis

2,600

3,000

2,500

2,300

2,400

i Worte!

2,300

2,000

2,200

I Tomat
r Labu Siam
~ Terong
~ Timun
) Cabe Merah Kriting

2,100

2,300

1,600

300
1,250
1,700

300

300

2.200
1,600
300

2,400
1.600
300

1,200

1, 100

1,600

1,400

1,200
1,300

1,400

1,400

4,300

4,500

4,000

4,000

2,200
1.500
300
1,200
1,300
4,500

5,000

I Cabe Merah Besar

4,300
2,500

4,500

3,500

4,000

4,000

2 Cabe Rawit Merah

3,000

3,000

3,500

3,00U

3,000

3,000

3,200
2,800

$ Bawang Merah

5,200

5,300

5,600

6,000

. Kol Bulat
t

Cabe Rawit Hujau

1,400
3,500

1,429
3,679

1,650
4, 107

1,243
2,686

1,229
2,814

4,500

2,257
1,757
300
1,207
1,443
4,400

4,500

4,000

4,114

3,500
3,000

3,500
2,800

3, 171
2,943

2,271
2,257
307
1,300
1,886
4,843
4,214
3, 143
3,143

B,500

6,500

5,943

4,857

1,300
3,000

1,200

1,400

3,000
1,300

3,000
2,500
1,600

300
1,300

5 Bawang Putih

6,300

6,200

6,200

6,300

3,000
6,500
6,500

6,500

6,500

6,357

6,300

5 Bawang D<'un
7 Daun Sledri

3,000

2,600

2,500

2,500

2,300

2,300

2,300

2,500

3,414

2,500

3,000

2,500

2,300

2,500

2,500

3,000

2,614

2,629

B Nangka Muda

1,500

1,300

1,200

1,200

1,000

1, 100

1, 100

1,200

1,600

O Co!slm

1,300

1,<100

1,300

1,200

1,300

1,300

1,400

1.~14

1,236

o Janung

900

900

850

850

900

900

900

886

829

1 .!engkol

5,000

4,750

4,500

4,500

4,000

4,000

4,000

4,393

4,643

2 Kentang

2,300

2,200

2,200

2,300

2,300

2,300

1,300

2,271
1,200

5 Ubi Jalar

1,000

1,000

1,000

1, 100

1,200
850
1, 100

1,200

850

1,000
850

1, 100

4 Singkona

1,200
800

2,200
1,200

2,257

3 l<elapa/Butir

850

1, 100

850
1,000

1, 171
843
1,043

850

(13.42)
(10.43
1.16

(4.57)
(0.63)
(22.15
(2.33)
(7.14)
(23.48)
(5.23)
(2.37)
0.91
(6.36)
22.35
0.91
(26.78)
(0.54)
(25.00)
B.36

6.90
(5.38)
(0.63)
(2.38)

679
971

24.21
7.35
22.67

BUAH-BUAHAN
~o

6,500

6,000

6,500

7,000

7,000

6,500

6,571

5,357

7 Atpukal

4,000

4,000

4,500

4,500

4,000

4,500

4,500

4,286

4,214

1.69

6 Peoava

1,100

1,200

1,000

1, 100

1,000

1,100

1,200

1, 100

1, 114

(1.28)
(0.45)
(1.14
16.39

6 Apel Lokal

9 Nanas

1,600

1,600

1,650

1,600

1,500

1,600

1,600

1.593

1,600

O Pisang Ambon/Koll

6,500

6,500

6,000

6,500

6,000

6,000

6,000

6,214

6,286

.1 Jeruk Siam

4,500

5,000

5,000

5,300

5,000

5,000

5,000

4,971

4,271

,2 Semangka TB

1,600

1,700

1,800

1,700

i3 Semangka Biji

1,000

1,000

1, 100

1,000

185,000

185,000

180,000

1,600
1,100
180,000

1,650
1,000

185,000

1,600
1,100
180,000

1,684
1,043
182, 143

1,657
1,057
181,429

22,000

23,000

23,000

24,000

23,000

23,000

23,000

22,857

0.62

3,500

4,000

3,500

3,500

3,000

3,000

23,000
3,000

3,571

(6.00)

2,500
85,000

2,600

2,600

7,500

7,000

7,000

2,600
85,000
7,500

(3.70)
0.86

7,000

85,000
7,000

2,600
05,000
7,000

2,700

80,000

2,700
80,GOO

2,600

85,000

3,357
2,600
83,571
7, 143

6,000

6,000

6,000

6,000

,1 Mannna (HM)

8,000

6,500

6,071

6,000

,2 Durian (Buah)

8,000

14 Anggur lnport
~

Anagur Lokal/peti

16 Marklsah

-i7 Melon

18 Salak BaU/l'\Ati
19 Mannr.ls
,Q Dukuh

:3 Jeruk lmoort

.4 Apel lmport/Doos

:s

Kedondong

90,000
210,000

210,0~0

1,000

1,100

90,000

90,000
210,000

90,000
210,000

900

1,000

--i---..

90,000

90,000

210,000
1,000

210,000
1,000

180,000

85,000
215,000
1, 100

82,857
6,643
.

89,286

90,000

210,714
1,014

210,000
971

0.43
(1.35)
0.39

7.53
#DIV/OI
1.19
#DIV/01
(0.79)
0.34
4.41

HARGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR JNDUK KRAMAT JATJ
BULAN JUN! 2005
fax

1gu ke 3

TANGGAL
JENIS J<OMODITI

14

15

16

17

18

19

Rp/J<g

Rp/Kp

Rp/J<a

Rp/J<q

Ro/Ka

Rp/J<g

20
Ro/Ka

24

3858214

PERU

RATA-RATA

Mgg lni
Rp/Kg

Mgg Lalu

Rp/K9

BAHAN

SAYURMAYUR
1 Kol Bulat

1,400

1,450

1,400

1,500

1,400

1,400

1,400

2 Kembang Kol

3,000

3,500

3,000

3,000

3,000

3,000

3,500

1,421
3,143

1,300

1,300
2,800

1,300
2,800

1,257
2,971

2,300
1,400

2,300

2,286

1,450

1,414

3 Sawl

1,300

1,200

1,200

4 Buncls
5 Wortol

3,000

3,000

3,000

1,200
3,200

2,500

2,300

2,200

2,200

6 Tomat

1,600

1,400

1,450

7 labu Siam

300
1,300

300
1,200

300
1,200

1.200
300

t400
4,500

1,200

1,200

4,000

4,000

4,000

3,500

3,500

3,000

8 Toronp
9 Timun

Io Cabe Me rah Krit!ng


11 Cabe Merah Besar
12 Cabe Rawit Merah

3,000
2,200
1,400

1,429
3,679

(0.50)
(14.56)

1,243
2,686
2,257

1.15
10.64

1.757
300

(19.51)

1,207
1,443

(1.78)
(11.88)

1,27

300

300

300

300

1,100

1,200
1,300

1,200
4,500

4,400

(4.22)

3,500

4,500
3,500

1, 186
1,271
4,214

3,500

3,571

4,114

(13.19)

3,000

3,500

3,500

3,500

3,288

3, 171

3.60

3,000

2,771

2,943

(5.83)

3,500

1, 100
1.200
4,000
3,500

3,000

1,300

4,000

1,300

13 Cabe Rawit Hujau

2,800

2,600

2,500

2,500

3,000

3,000

14 Bawang Merah
t 5 Bawang Putih
16 Bawang Daun
17 Daun Sledri
18 Nangka Muda

6,500

7,000

7,000

7,000

7,000

7,000

7,000

6,929

5,943

16.59

6,500

6.300

6,200

6,300

6,300

6,200

6,200

S,286

6,357

(1.12)

2,300

2,400

2,400

2,600

2,600

2,500

2,500

2,471

2,500

(1.14)

3,000

2,500

2.500

2,500

2,500

2,600

2,600

2,600

2,614

(0.55)

1, 100

1, 100

1, 100

1, 100

1,100

1,000

1,000

1,071

1,200

(10.71}

19 Ceisim

1,400

1,300

1,200

1,200

1,300

1,271

900

900

900

900

1,200
900

1,300

Jagung

1,000

1,000

929

1,314
886

(3.26)
4.84

~o

21 Jengko!

4,000

4,000

4,000

4.000

4,500

4,500

5,000

4,286

4,393

(2.44)

22 Kentana

2,200

2,300

2,200

2,300

2,271

2,257

1,200

1, 100

1, 100

2,300
1, 100

2,300

23 Ketapa/Butir

2,300
1,100

1,200

1,200

1, 143

0.63
(2.44)

850
1,000

850
1,000

850
979

1, 171
843
1,043

6,500

6,500

6,286

6,571

5,000

5,000

4,643

4,286

24 Singkong

850

850

850

850

850

25 Ubi Ja1ar

1,000

1,000

950

950

950

26 Apel Lokal

6,500

B,500

6,000

6,000

27 A1pukat

4,500

4,500

4,500

4,500

6,000
4,500

28 Papaya

1,200

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,029

1, 100

29 Nanas

1.600

1,500

1,600

1,600

1,500

1,500

1,557

1,593

30 Pisang Ambon/Koli

6,000

6,000

6,000

1.600
6,500

6,500

6,000

6,000

31 Jeruk Siam

5,000
1,680

4,500
1,600

5,000
1,600

5,000
1,600

1,000

1,000

1,000

5,000
1,600
1,100

5,000
1 BOO
1,100

6,143
4,929
1,57Q
1,029

5,214
4,971

1,000

5,000
1,800
1,000

180,000
23,000

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

24,000

24,000

24,000

25,000

25,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,500

3,500

24,143
3, 143

182, 143
' 23,000

(1.18)

24,000

3,357

(6.38)
(1.65)

0.85
(6.16)

BUAH-BUAHAN

32 Somonak TA
33 Semangka Bijl
34 Anonur lnnnrt
35 Angaur Lokalfpetl
36 Mari<isah

37 Melon

38 Salak Bati/peti

39 Menggis

2,600

2,500

2,500

2,500

2,600

2,600

2,557

2,600

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

83,571

1.71

7,500

8,000

8,000

8,000

8,000

7,500

7,500

7,786

7,143

9.00

8,500

6,500

6,357

6,071

6,500

6,500

6,000

42 Durian (Buah)

44 Apel lmport/Doos

45 KedondOng

4.~7

2,600

6,500

43 Jeruk Import

(1.15)
(0.86)
15, 15
(1.37)

85,000

41 Mangga {HM)

40 Dukuh

1,604
1,043

(4.35)
8.33
(6.49)
(2.24)

6,000

#DIV/01
4.71
#DIV/DI

85,000

85,000

~5,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

89,286

(4.80)

215,000

210,000

210.000

210,000

210,000

210,000

210,000

1,100

1,100

1, 100

1,000

1,000

1, 100

1, 100

210,714
1,071

210,714
1,014

5,63

HARGA SAYUI'< MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR INDUK KRAMAT J/\TI
BULAN JUNI 2005

__

fax

IQr/U
..:;;..,:;.._,
ke 4

JENIS KOMODITI

).

TANGGAL
21
Rp/Kg

22
Rp/Kg

23

24

Rp/Kg

Rpil<g

25
Rp/Kg

26
Rpil<(l

27
Rn/Kq

25

3858214
RATA-RATA

PERU

Mgg lnl

Mgg Lalu

Rp/Kg

Rp/Kg

BAHAN

SAYUR MAYUR
1 t<ol Bulat

1,500

1,400

1,400

1,500

1,300

1,200

1,200

1,357

1,421

(4.52

2 Kembana Kol

4,000

4,000

4,000

3,600

3,300

3,000

3,000

3,557

3,143
1,257

13.16
(5.68)
/6.73)
(2.50)

Sawi

1,100

1,200

1,300

1,200

1.100

1,200

1,200

1,186

4 Buncis

3,000

2,800

3,000

2,800

2.600

2,600

2,600

5 Worte!

2,100

2.200

2,200

2.300

2.300

6 Toma!

1,300

1,200

1,300

1,300

7 Labu Siam

1,200
300

300

300

2,200
1,200
300

300

300

2,300
1,300
250

2,771
2,229
1,257
293

8 Terong

1,250

1,300

1,400

1,400

1,200

1,200

1,200

1,:279

1, 186

9 Timun

1,400

1,400

1,500

1,300

1,200

1,300

1,300

1,343

1,271

~1

2,971

2,288
1,414
300

10 Cnbo Murnti K1itin9

4,500

5,000

5,000

6,000

0,000

G,000

G,000

5,500

4,214

11 Cabe Merah Besar

3,500

5,000

5,000

5,000

5,000

4,000

5,000
4,000

4,000

4,857
4,000

3,571
3,286

3,800

3,800

3,800

3,771

2,771

12 Cabe Rawi! Merah

3.500

4,000

4,000

13 Cabe Ratit Hujau

3,000

4,000

4,000

5,500
4,500
4,000

(11.11)
(2.38)
7.63
6.62
30.51
36,00

21.74
36.08

14 Bawang Merah

7,000

7,000

7,500

8,000

7,600

7,600

7,600

7,471

6,929

7.84

15 Bawang Putih

6,300

6.300

6,200

6,300

6,300

6,200

6,200

6,257

6,286

(0.45)

16 8awang Daun

2.500

2,600

2,500

2,500

2,300

2,300

2,300

2,429

2,471

(1.73)

17 Daun Slodri

2,700

2.800

3.000

3,000

2,500

2,500

2,500

2,714

2,600

4.40

18 Nangka Muda

1,000

1,100

1,200

1,200

1,100

1,100

1, 100

1, 114

19 Ceisim

1,200

1.300

1,300

1,200

(2.25)

1,000

900

1,200
900

1,243

1,000

1,200
900

1,071
1,271

943

929

6,500

7,000

6,500

6,500

6,500

6,357

4,286
2,271

Jengkol

5.500

1,300
900
6,000

20 Jagung
21
2:.?
23
- 24
25

1,000

4.00
1.54
48.33

Kant;:ing

2,300

2,300

2,300

2,300

2,300

2,300

2,300

2,300

Kolapa/Butir

1,200

1,200

1,300

1,200

1,200

1,200

1,200

1,143

Singkong

850
1,000

850

900
1,000

1,000

900

900

1,000

1,100

1, 100

1,100

900
1.1'?,_0

1,214
900
1,057

850
979

6.25
5.88
8.03

26 Ape! Lokal

6.500

6,500

7,000

7,500

7,500

7,500

7,500

7,143

6,288

13.64

27 Alpukat

5,000

5,000

5,000

5,000

4,500

4,500

4,500

4,643

3.08

20
29
30
31
32

1,000

900

1,000

1,200

1,200

1,200

1,200

4,786
1,100

1,029

6.94

(0.92)

Ubi Jalar

-- "i3UAH-BUAHAN

--

Pepaya
Nanas

1,600

1,600

1,600

1,600

1,500

1,500

1,400

i.543

1,557

Pis11ng Ambon/Ko!i

0,000

6,000

6,500

6,500

G,000

6,000

6,500

6,214

6,143

1. 16

Jeruk Siam

5,000

5,000

5,000

4,500

4,500

4,500

4,714
1,566
1,014

4,929
1,579
1,029

(4.35)
0.45
'(1.39)

180,000
24.143
3, 143

(5.33)
16.62)

Semangka TB

1,500

1,600

1,600

1,600

1,600

1.600

4,500
1,600

33 Semangka Blji

1,000

1,000

1,000

1, 100

1,000

1,000

1,000

34 Anggur lnport

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

180,000

24,000

24,000

23,000

23,000

22,000

22,000

22,000

180,000
22,857
2,929

35 Anggur Lokal/pe\i

36 Markisah

3,500

3,000

3,500

3,000

2,500

2,500

2,500

37 Melon

2,600

2,500

2,600

2,600

2,600

2,600

2,600

Z,586

2,557

85,000

85,000

80,000

85,000

80,000

8,000

8,000

8,000

7,000

80,000
5,500

82,143
7,214

85,000

8,000

80,000
6,000

7,000

7,500

7,500

7,500

7,071

38 Salak BaJi/peti
39 Manggis

40 Duk uh
41 Mangga (HM}

6.500

6,500

7,000

42 Durian (Buah)

43 Jeruk Import

44

Ape! Import/Docs

45 )(odondong

.,

1.26

7,786

6,357

1.12
(3.36)
(7.34)
#DIV/01
11.24
#DIV/01

85,000

85,000

90,000

65,000

85,000

85,000

85,000

85.714

85,000

0.84

210.000

210.000

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

(0.34)

1,100

1,100

1,100

1,000

1,100

1, 100

1.100

1,086

210,714
1,071

rna"an harga cabe . karena ada perm1ntaan dan Bangka, Bhtung


3ta1n, dan sekltarnya jumlahnya cukup besar.

1.33

HN,G1\ S1\YUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR INDUK KRAMAT JATI
BULAN JULI 2005
u ke 1
,!ENIS KOMODITI

28
l'p/Kg

29
Rpil<g

TANGGAL

30

11p/Kg

l'\p/Kn

2
Rpll<g

3
Rp/Kg

fox

26

3858214

PERU

RAT A-RA TA

Mgg lni

Mgg l:ihi

Rp/Kg

Rp!l<g

Rp/Kg

OAl!AN

SAYUR MAYUR
Kot Bulat

1,200

1,000

1,000

1,000

1,200

1, 100

1,200

1, 100

1,357

Kembang Kol

3,500

3,000

3,500

3,000

2,750

2,750

3,036

3,557
1, 186
2,771
2,229

Sawi

1,300

1,200

1,400

1,100

1,200

2,750
1,200

1,200

1,229

, Buncis

2,500

2,500

2,600

2,500

2,400

2,400

2,350

2,464

; Wortel
i Tornat
' Labu Slam

2,000

2,000
1,200

2,300
1, 100

2,200

2,100
1,100

2,100

1,200

2,100
1, 114

300

300

300

300

300

1,400

1,300

1,200

1,200

300
1,250

2,000
1.100
300

1,250

1,250

1,:\00

1,300

1,500

1,f>OO

1,flOO

7,500

7,000

8,000

8,000

8,000

1,000

1, 100

1,257

3.61

(11.08)
(5.77)
(11.36)

I Tim11n

1,100

1 Cabe Merah Kriting

7,000

1,/00
-----
6,000

Cabe Merah Besar

6,000

5,500

5,500

5,500

6,500

4,500

5,000

7,500

5,000

6.500
6,500

6,500

Cabe Rawit Merah


Cabe Rawit Hujau

6,500

6,500

300
1,264
1,:11111
7,357
6,000
5,929

3,500

4,500

5,000

5,000

5,500

5,500

5,500

4,929

. Bawano Merah

7,600

8,000

7,500

7,500

7,500

7,500

7,5-00

7,586

7,471

1.53

Bawang Putih

6,300

G,300

6,200

6,200

6,000

6,000

6,000

6,143

6,257

(1.83)

; Bawang Daun

2,300

2,400

2,500

2,600

2,600

2,500

2,429

2,500

2,500

2,'100

2,500
2,300

2,600

Daun Stedri

2,400

2,500

2,600

2,443

2,714

2.94
(10.00)

, Nangka Muda

1, 100
1,200

1, ~ 00

1,000

1,000

1, 100

1,200

1,000

1,071

1, 114

(3.nS)

1.200

1,300

1,200

1,300

I, 100

1,200

1,214

1,213

(2.30)

1,000

l .~2.9._

1,100

1,000

1,000

1,000

900

1,000

943

6.06

7,DOO

7,500

3,000

7,500

7,000

7,000

7,000

7,286

G,357

14.61

2,3og_ 1---

2, 32_ -

2,300

2,200

2,300

2,200

2,200

2,257

2,300

1,200

1,100

1,100

1, 100

1,100

1, 100

t,100

1, 114

1,214

Singkong

900

900

900

900

900

893

900

1,000

850
1,000

900

Ubi Jalar

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,057

(1.86)
(8.24)
(0.79)
(5.41)

Apel Loka!
A!puknt

7,500

7,500

8,000

7,500

8,000

8,000

8,000

7,786

5,000

$,000

5,000

4,500

4,500

4,500

4,600

4,714

7,143
4,786

(1.49)

Pepavn

1, 100
1,500

1,000
1,600

1,000

1,000

1,100

(7.79)

1,600

1,600

1,000
1,600

1,014

1,600

1,000
1,500

1,000

Nanas

1,571

1,543

1.85

Pisang Ambon/Koli

6,000

6,500

6,500

6,000

6,000

6,000

6,000

6, 143

6,214
4,714

(1.15)
(0.30)
(1.41)

~
1

Torong

Celsim
; Jagung
Jengkol
Kontang
l<elapa/Butir

f--

293

(18.95)
(14.66)

1,279

2.44
(1.12)

1,343

:1. l{J

5,500

33.77

4,857

23.53

4,000

48.21

3,771

30.68

BUAH-BUAHAN

Jeruk Siam

5,000

5,000

5,000

4,600

4,300

4,500

..aman2ka Ta
Semangka Bri

1,700

1,f3QQ._ c -1,600
-

1.600
1,000

4,500
1,eoo
900

4,700
1,800
1,000

1,588
1,014

Anggur lnport
Angaur Lokal/pati
Markisah
Melon

Salak Bali/peti
Manggis

1,000

180,000

180,000

180,000

180,000

185,000

1,800
1,000
185,000

185,000

182,143

180,000

1.19

23,000
3,000

22,000

25,000

25,000

23,000

23,000

23,000

22,857

2.50

2,500

2,500

2,500

2,500

2,600

2,600

23,429
2,800

2,929

(11.22)

2,700

2,000

2,600

2,500

2,500

2,500

2,600

2,600

2,586

85,000

BS,OC10

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

82,143

4.000

4.500

4,500

85,000
4,000

3,500

3,501

3,502

3,929

7,214

7,071

12.12
#DIV/01
(0.83)

1, 100

7,500

Durian (Buah)

Joruk fm""'rt

Kodondong

O,UO

1,000

1,500
1,000

Dukuh
Mangga (HM)

Apel lmport/Doos

9.00

85,000
210,000
1,000

- --

--8,COO_

#OIV/O!

0,000

B,000

8,000

8,000

8,000

7,929

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,714

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

1.000 L_,1.000

1,000

1,000

1,000

1,000

210,000
1,000

05,00'2._
'210,000

0.55

3.48
(45.54)

1,086

(7.89)

H/,RGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR INDUK KRAMAT JATI
BULAN JULI 2005
fax

JU ke 2
TANGGAL
JENIS KOMODITI

Rp/Kg

Rp/KQ

Rp/Kg

Rp/KQ

Rp/KQ

27

3858214
RATA-RATA

PERU

10
Rp/KQ

11
Rp/KQ

1, 100
2,500

1,100

1,086

1, 100

2,500

2,800

3,036

(1.30)
(7.76
(15.12)

Mgglnl
Rp/Kg

Mgg Latu
Rp/Kg

BAHAN

SAYURMAYUR
I Kol Bulat

1,000

1,100

1, 100

1, 100

1, 100

! Kembano Kol

3,500

2,600

2,500

2,500

l Sawi

1,200

3,500
1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1, 100

1,043

1,229

! Buncis

2,500

2,GOO

2,500

2,500

2,500

2,500

2,500

2,514

2,464

2.03

i Wortel

2,000

1,900

2,000

2,000

2,000

2,000

2,000

1,966

2,100

(5.44)

l Tomat

1,200

1,300

1,300

1,300

1,400

1,400

1,400

1,329

1, 114

19.23

300

300

300

300

300

300

250

293

300

r Labu Siam

(2.38)

Terong

1,300

1,200

1,200

1,200

1,200

1,200

1,200

1,214

1,264

(3.95)

Timun

1,400

1,200

1,200

1, 100

1,000

1,000

1, 129

1,365

(18.56)

) Cabe Merah Kritino

8,500

8,500

8,500

0,000

1,000
9,000

9,000

6,500

8,714

7,357

18.45

I Cabe Merah Besar

7,500

7,000

7,500

7,500

6,000

B,000

7,500

7,571

6,000

26.19

2 Cabe Rawit Merah

9,500

9,500

11,000

15,000

12,000

5,929

7,000

7,500

7,500

15,000
7,500

15,000

6,000

7,000

6,785

4,929

102.41
37.68

8,500
6,000

6,571

7,586

(13.37)

6,000

6,143

(2.33)

2,500
2,300

2,586
2,400

2,500
2,443

3.43
(1.75)

Cabo Rawit Hujau

0,000
5,000

Bawanq Merah

7,000

6,500

6,500

6,500

6,500

6,500

5 Bawang Putih

6,000

6,000

6,000

6,000

6,000

6,000

S Bawang Oaun
7 Dnun Sledri

3,000
2,800

2,600

2,500

2,500
2,300

2,500

2,500

2,500
2,300

B Nangka Muda

1,000

1,000

1,000

1,000

1, 100

1,200

1,000

1,043

1,071

(2.67)

9 Ceislm

1,300

1,200

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,071

1,214

(11.76)

2,300

2,300

0 Jagung

1,000

1,000

1,100

1,000

1,000

1,000

1,000

1,014

1,000

1.43

1 Jenokol

8,000

7,000

7,500

7,000

7,000

7,000

7,000

7,214

7,286

(0.98)

2 Kentang

2,400

2,400

2,500

2,500

2,500

2,500

2,500

2,471

2,257

9.49

::i l<elapa/Butlr

1, 100

1,200

1, 100

1, 100

1, 100

1,100

1,000

1, 100

1, 114

(1.28)

4 Singkong

900

900

850

850

850

907

893

1.60

1,000

1,000
1, 100

1,000

5 Ubi Ja1ar

1,100

1,000

1,000

1,000

1,000

1,029

1,000

2.86

8,000
5,000

7,500

7,643

7,786

5,500

5,000

7,500
5,000

7,500

5,000

7,500
5,000

7,500

7 Alpukat

(1.83)
7.58

1,000

1,200

1,200

1,000

1, 100

1,100

5,071
1, 100

4,714

8 Pepaya

5,000
1,100

9 Nanas

1,600

1,600

1,500

1,500

1,500

1,800

1,600

1,557

1,571

8.45
(0.91)

Q Ploano Ambon/Koll

6,000

6,500

6,000

6,000

6,000

6,000

6,000

6,071

6,143

(1.16)

1 Jeruk Siam

5,000

4,500

4,500

5,000

4,500

4,500

4,500

4,643

4,700

(1.22)

2 Semanaka TB

1,600

1,700

1,700

1,700

1,750

1,750

1,686

1,600

5.36

3 Semangka Bl'i

1,100
180,000

1,000

1,000

185,000

1135,000

1,600
1,000
185,000

1,014
184,2BB

22,500

22,500

23,000

22,643

1,000
162,143
23,429

1.43
1. 18

22,500

1,000
185,000
22,500

1,000
185,000

23,000

1,000
185,000
22,500

(3.35)

6 Markfsah

3,000

2,500

2,500

2,500

2,500

2,500

2,500

2,600

(1.10)

7 Melon

2,700

2,750

2,750

2,700

2,700

2,700

2,700

2,571
2,714

2,600

85,000

80,000

80,000

80,000

80,000

80,000

80,000

80,714

85,000

4.40
(5.04)

4,000

3,500

3,500

3,500

4,000

4,000

3,788

3,929

8,000

8,000

8,000

8,000

7,500
-

7,500

8,000
-

4,000

7,857

7,929

BUAHBUAHAN
6 Apel Lokal

4 Anggur lnport

5 A;iggur Loka!/oeti

-0 Salak Ball/peti
9 Managls
O Dukuh

1 Mannoa (HM)

2 Durian rBuah}
3 Jeruk Import

.::!. Apel lmnortJDoos


5 Kedondong

6,000

1,014

(3.65)
#OJV/OI
(0.90)
#DIV/Of

85,000

85,000

65,000

05,000

85,000

85,000

85,000

85,000

85,000

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

210,000

215,000

210,714

210,000

0.34

1,000

1,000

1,000

1,000

1, 100

1,200

1, 100

1,057

1,000

5.71

HARGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR INDUK KRAMAT JATI
BULAN JULI 2005

fax

1ag ka 3

0. JENIS KOMODITI

12
Rp/Kg

13
Rp/K~

TANGGAL
'16
14
15
Rp/Kq
Rp/Kg RP/Kg

28

3858214

PERU

RATA-RAT A

17

18

Mgg lnl

Mgg Lalu

Rp/Kg

Rp/Kg

Rp/Kg

Rp/Kg

BAHAN

SAYUR MAYUR
1.100
2,871

1,006

1,32

2,800

2.55

1 l<ot Bulat

1, 100

1,200

1,200

1,000

1,000

1, 100

1, 100

2 Kembang Kol

2,500

3,000

3,000

3,300

3,000

2,800

2,500

3 Sav.i

1,100
2,500

1,200

1,200

1,000

1,100

1,057

1,043

1.37

2,500

2,500

2,500

2,500

(2.27)

2,000

2,100

2,200

1,986

10.07

1,400

1,300

1.400

2,200
1,400

2,000

6 Tomat
7 labu Siam
8 Terong

2,457
2,186
1,357

2,514

5 Wortel

2,200
2,300
1,200

900
2,500
2,500

900

4 Buncis

1,329

2, 15

300
1,300

300

300
1,300

300

250
1,200

293

293

1,300

300
1,200

1,300

1,214

7.06

9 Tlmun

1,200

1,250

1,250

1,300

1, 120

13,02

9,000
8,500

9,500
8,500

10,000
9,500

6,000
9,000

8,000
9,000

9,000

10,000

8,057

8,714
7,571

16.98

15,000

15,000

17,000

17,000

18,000

18,000

16,429

12,000

36.90

8,500

0,500

8,500

9,000

9,000

9,000

1,000
8,500
7,500
15,000
7,000

1,286

10,000

8,500

6,786

25.26

6,500

6,500
6,000

6,500

6,500

7,000

7,000

6,500

6,643

6,571

1.09

6,000

6,100

6,200

6,200

6,000

6,071

6,000

2,600
2,500

2,500
2,300

2,500

2,529

2,586

1,000
1,200

2,500
1,000
1,000

2,500
2,300

1,100
1, 100

2,500
2,500
1,000
1,000

2,400
1,043
1,071

1,000

1,000

1,000

1,000

8,000
2,700
1, 100
900
1,000

7,700
2,700
1, 100
900
1,000

7,500
2,700
1,200
800
1,000

7,500
2,700
1,200
800
1,000

1,000
1,000
1,000
7,000
2,500
1,000
650
1,000

2.429
1,043
1,057

7,000
2,700
1, 100
900
1,000

2,600
2,500
1,100
1,100
1,000
7,500
2,700
1, 100
900
-1,000

1.19
(2,21)

7,500
5,000
1,200
1,600
6,000

8,000
5,000
1,200
1,600
6,000

8,000
5,500
1, 100
1,700
6,000

7,500
5,500
1,200
1,700
5,500

7,500
5,000
1,200
1,500

7,500
5,000
1,200
1,800

4,500
1,750
1,000

4,500
1,800
000

4,500
1,700
900

4,000
1,500
900

6,000
4,000
1.500
800

185,000
23,000

165,000
22,000

185,000
22,000

105,000
22,000

2,500
2,700

2,500

2,500

2,600

18,000
25,000
3,000

2,600

2,300

2,300

Salak Balllpeti
Manggis
Duk uh

80,000
4,000

05,000

85,000
4,000

85,000
4,500

Mangga {HM)

8,000

8,000

8,000

0,000

7,000

7,000

7,500

7,643

7,657

11.32
#OIV/01
(2.73)

#DIV/01

85,000
220,000
1,000

85,000
220,000
1,000

85,000
215,000
1, 100

85,000
216,429

210,714

1,057

1,057

1o Cabe Marsh Krlting


11 Cabe Merah Besar
12 Cabe Rawit Merah
13
14
15
16
11
18

Caba Rawit Hujau


Bawang Merah
Bawang Pulih
Bawang Daun
Daun Sledri
Nangka Muda

19 Ceisim

20
21
22
23
24
25

Jegung
Jengkol
Kentang
Kelapa/But!r
Slngkong
Ubi Jalar

6,000
2,500
2,400
1,100
1,000
1,000

1,400
300
1,400
1,500

1,400
1,500

1,400

3,20

1.19

1,000

1,014

(1.33)
(1.41)

7,457
2,671
1, 114
664
1,000

7,214
2,471
1,100
907
1,029

3.37
8.09
1.30
(4.72)
(2.78)

7,500
5.000
1, 100
1,600

7,643
5, 143

7,643
5,071
1,100
1,557

6,000
4,000
1 500
800

6,000
4,500
1,750
1,000

5,929
4,286
1 614
000

4,643
1,666
1,014

180,000
25,000
3,000

185,000
23,000
2,500

2,500

2,500

194,286
22,643
2;571
2,714

90,000
4,500

90,000
4,500

2,700
80,000

160,429
23,143
2,657
2,614
85,000

60,714

4 214

3,706

BUAH-BUAHAN
26 Apel Lokal

.2

~kat

28 Pebaya

29 Nanas
30 Pisong Ambon/Koli
31 Jeruk Slam
32 Slllnit!Milkti TO

33 Semangka B!jl
34 Anngur lnport
35 Anggur Lokal/peti
36 Mari<isah
37 Melon
38
39
40
41
42
43
44
45

Durian {Buah)
Joruk Import
Apel lmport/Ooos

Kedondong

65,000
215,000
1, 100

4,000

85,000

85,000

215,000

215,000
1,000

1,100

85,000
215,000
1,100

4,000

1, 171

1,643

6,071

85,000

1.41
6.49
5.50
(2,35)
(7.69)
(4.24
111.27
(12.95)
2.21
3.33
(7.37)
5.31

2.71

HARGA SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN


PASAR INDUK KRAMAT JATI
BULAN JULI 2005

m ke,d

fax

'
JENIS KOMODITI

I.

19
Rp/Kg

20
Rp/Kg

TANGGAL
21
22
23
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg

3858214
RATA-RATA

24

25

Mgg lnl

Rp/Kg

Rp/KQ

Rp/Kg

29
PERU

Mgg lalu
Rp/Kg

BA HAN

SAYUR MAYUR
900
2,800

1,000

1,200

1.200

2,600
2,300

2,500
2,300

1, 100
2,500

1,200

1,300

250
1,600

1 Kol Bulat

1, 100

2 Kembang Kol

2.700

3 Sawl
4 Buncis
5 Wortel
6 Tomat
7 Lebu Siam

2,800

1,000
2,800

1,200

1,200

1,200

1,086

1,100

2,800

2,800
1.300
2,500
2,500
1,400
300
1,400
1,300
11,000
9,000

2,800
1,300
3,000
2,400
1,300
250
1,300
1,300

2.786
1,200
2,600
2,400
1,314
286
1,500
1,257

2;871
1,057
2,457

10,500

11,000

9,000

9,000
18,000
7,500

9,071
18,857

8,857
16,429

8,214

8,500

5,800

6,057

6,000
2,200

2,471

2,300

2,486

1,100
1,100

1, 114
1,200

6,643
6,071
2,529
2,429
1,043
1,057
1,000
7,457
2,671
1, 114
864
1,000

2,400

1, 100
2,500
2,400

2,600
2,500

1,200

1,300

1,300

1,400

300
1,600
1,200

300
1,600
1,200

300
1,400
1,300

1,200

300
1,600
1,300

1o Cabe Me rah Kriting

11,000

11,000

11,000

11,000

11,500

11 Cabe Merah Besar

9,500
20,000
( 10,000
6,500
6,000
2,700

9,500

8,500

9,000

~.ooo

20,000

20,000

18,000

8,500

7,000

18,000
7,,000

18,000

10,000
6,500

6,000

6,000

5,800

G,200

6,000

2,700

2,500

6,200
2,500

6,200
2,400

5,800
6,000
2,300
2,300

8 Terong
9 Tlmun

12 Cabe Rawit Merah


13 Cabe Rawit Hujau
14 Bawang Merah
I 5 Bawang Putih
16 Bawang Daun

17 Daun Sfedrl

2,700

2,700

2,500

2,500

2,400

18 Nangka Muda

1, 100

1,100

1, 100

1, 100

19 Celsfm

1,200

1,200

1,300

1,300

1,200
1,200
1, 100
7,000
3,000
1,100
900
1,000

ZO Jagung

1,000

1,000

1,000

1,000

~1

Jengko1

8,000

7,500

7,500

22 Kentang

2,700

2,700

23 Kelapat8utir

1,200
900
1,000

8,000
2,700
1, 100

2,700
1,200
900
1,000

~4 Singkong

25 Ubl Ja!ar

900

1,200
900

1,000

1,000

7,500

1, 100

1,100

6,006

2,186
1,357
293
1,300
1,286

(1.30)
(2.99)
13.51
5.81
9.80
(3.16)
(2.44)
15.38
(2.22
22.22
2.42
14.78

(3.36
(8.82)
0.24
(2.26)
2,35
6.85 I
13.51
. 1.43
(0.38)
7.49
5.13

1,000

1,000

1,014

7,000
3,200
1,200
900

7,000
3 100
1,200
900

1,000

1, 100

7,429
2,871
1, 171
900
1,014

6,500

6,500

5,500

5,500

1,200

1, 100

1,400

1,300

1,357

1,643

6,500
3,800
1,800
1,000
185,000

6,000
3,800
1,800
1,000
165,000

6,643
3,986
1,843
1,000
165,000

5,929

1,614
900
160,429

23,000

, 22,000

22,000

23, 143

15.32
14.94)
8.06

, , , 4, 13

1.43

1:1UAH-BUAHAN
rn Apel Lokal

8,000

8,000

8,000

8,000

~7 Atpukat

5,000

5,500

6,000

6,000

!8 Papaya

1,200
1,400
6,500

1,200

1,100

1, 100

!9 Nanas
10 Pisang Ambon/Koli

11 Jaruk Slam
12 Semanoka TB
13 Samanoka

BJI!

!4 Annnur lnport
15 Annour LoknVpotl

1,400

1,300

1,300

7,000
5,500
1,200
1,400

6,500

7,000
4,000
1,800
1,000

7,000

7,000

3,800
2,000
1,000
185,000
21.000

185,000

4.000
1,850
1,000
185,000

185,000

4,000
1,800
1,000
165,000

22,000

22,000

22,000

22,000

4,500
1,850
1,000

7,429
5,571
1, 157

7,643

8.33

1, 171

(1.22)
117.39)
12.05
(7,00)

4,286

16 Mnrklsah

2,500

3,000

3,000

3,000

3,000

2,800

2,800

2,871

2,657

17 Me!on

2,600

2,700

2,600

2,600

2,400

2,400

2,400

2,529

2,514

85,000

80,000

80,000

80,000

80,000

80,000

60,000

80,714

85,000

4,000

4,000

4,000

4,000

4,000

4,000

4,000

18 Salek BalUpeti
19 Manggis

;a Dukuh
.1 Mannna IHM)
2 Durian (Buah)
3 JanJk Import

..4--------
Apel Import/Docs
5 Kedondong

7,500

6,000

8,000

B5.000

215,000
1,200

8,000

8,000

--~\~~-~.- --~~.ooo

85,000

215,000

215,000

215,000

1, 100

1,100

1, 100

.
65,000
215,000
1,200

6,500

90,000
210,000
1, 100

4,000

4,214

.
6,500

7,500

7,843

.
85,000
210,000
1,200

85,714
213,571
1,143

(2.80)

5,143

.
.

85,000
216,429
1,057

14. 16

, , 11.11

0.57
(5.04)
(5.08)
llDN/01
(1.87
#DIV/01

o:84
(1.32
6.11