Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH KELOMPOK

ILMU TAFSIR

DISUSUN OLEH:
NURFATMAN AWAI
PUJA DIBRIANTI

PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2016

DAFTAR ISI
Daftar Isi ............................................................i
Kata Pengantar...................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.................................iii
BAB II PEMBAHASAN..................................1
BAB III ANALISIS..........................................25
BAB IV PENUTUP.........................................26
Daftar Pustaka..................................................

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah tentang "Adab Terhadap Orang Tua" ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar
kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan
yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah
serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang
menjadi tugas pendidikan agama dengan judul "Adab Terhadap Orang Tua".
Disamping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung
sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat
dan jangan lupa ajukan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya
bisa diperbaiki.
Pekanbaru,Mei 2016
Penyusun

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Quran adalah wahyu allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebagai kitab yang dijadikan pedoman dan petunjuk dalam mencapai kebahagiaan di dunia
dan di akhirat. Kitab Allah SWT yang terakhir yaitu Al-quran ini adalah sumber pokok dan
sebagai sumber ajaran-ajaran Islam. Kitabullah ini yang penuh dengan petunjuk, undangundang, dan hukum diturunkan sebagai pokok-pokok keterangan yang tidak dapat disangkal
kebenarannya. Namun didalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang tidak bisa dipahami secara
tekstual dan juga terdapat ayat-ayat yang masih global.
Al-Hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW setelah diutus menjadi
Nabi oleh Allah SWT. Oleh karena itu tugas Nabi SAW yaitu menjadi panutan atau teladan
bagi umatnya.sedangkan Ilmu Hadits adalah Ilmu yang membahas tentang tatacara
persambungan hadits sampai kepada Rosulullah SAW dari segi sisi seluk beluk para
perawinya, kedhabitan, keadilan dan dari bersambung dan tidaknya mata rantai sanad.
Telah disebutkan diatas tadi bahwasannya didalam Al-Quran itu masih ada ayat yang bersifat
global atau belum bisa dipahami. Disinilah fungsi hadits sebagai penjelas apa yang masih
global di dalam Al-Quran. Dan apabila didalam Al-Quran itu belum ada hukum tentang
sesuatu masalah, maka Hadits dijadikan sumber hukum setelah Al-Quran. Untuk mengetahui
apakah suatu Hadits itu bisa diterima, maka muncullah Ilmu Hadits yang akan dibahas dalam
makalah ini.
Dalam memahami dan menjelaskan Al-Quran dan Al-Hadits ini, tidak sembarang orang bisa
melakukannya. Dalam menjelaskan Al-Quran ini butuh yang namanya Ilmu Tafsir dan untuk
memahami Al-Hadits yang sebagai penjelas atau sumber hukum setelah Al-Quran seseorang
butuh yang namanya Ilmu Hadits. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai Ilmu Tafsir
dan Ilmu Hadits beserta Perkembangannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Ilmu Tafsir?
2. Apa pengertian Ilmu Hadits?
3.

Bagaiman perkembangan Ilmu Tafsir?

4.

Bagaimana Perkembangan Ilmu Hadits?

iii

BAB II
PEMBAHASAN
A. Ilmu Tafsir
1.

Pengertian Ilmu Tafsir

yang mengikuti
Definisi Tafsir secara bahasa, Berasal dari bahasa arab yaitu kata

dan menjadi kata
yang mana mempunyai arti terang dan

wazan kata



nyata. Dan dapat dikatakan juga sebagai pembalaikan dari
yang mempunyai arti
bersinar. Menurut Imam Az-Zurkani Tafsir memiliki arti menjelaskan atau menerangkan.

Kemudian dalam pembahasan tentang ilmu tafsir ini, kata ilmu yang mendahului kata tafsir
tersebut menunjukkan atau mempengaruhi perubahan makna dalam kata tersebut, dan
menjadikannya perbedaan antara Tafsir dan Tafsir yang didahului dengan kata Ilmu. Karena
pada dasarnya Ilmu Tafsir itu membahsa tentang tatacara atau bagaimana menghasilkan
penafsiran yang baik dan benar serta dapat diterima oleh masyarakat luas. Sedangkan
menurut bahasa sendiri, Ilmu Tafsir berarti Ilmu untuk menafsirkan, yang tanpa memiliki
ilmu tersebut seseorang akan gagal dalam penafsirannya. Tetapi bukan gagal total hanya
permasalahannya, hasil tafsiran yang dihasilkan oleh mufassir itu bisa diterima di masyarakat
umum dan tidak melenceng kepada patokannya atau hanya menjadi koleksi pribadi yang
kurang bisa di terima oleh masyarakat atau menyeleneh.
Sedangkan secara Istilah adalah Ilmu yang membahsa tentang hal ihwal Al-Quran, dari segi
turunnya, sanadnya, cara menyebutkan, segi lafazh-lafazhnya dan makna-maknanya yang
berhubungan dengan lafazh-lafzh maupun yang berhubungan dengan hokum . Jadi ilmu
untuk menafsirkan ini meliputi banyak ilmu, dari ilmu sejarahnya, dari susunan kalimat,
makna-makna yang terkandung didalamnya, hubungan dengan kalimat lain, tentang nasihk
mansukh, dan lain sebagainya.
Obyek pembahsab ilmu Tafsir adalah Al-Quran, terutama menyangkut pemahaman maknamakna yang ada didlam isi kandungan Al-Quran. Dalam Ilmu Tafsir ini dibicarakan masalah
kaidah dalam menafsirkan, syarat untuk menafsirkan, istilah-istilah yang digunakan dalam
tafsir. Dan Masih banyak lagi. Ilmu Tafsit ini merupakan cabang dari ilmu Al-Quran.

2.

Perbedaan Tafsir dengan Ilmu Tafsir

a)

Dilihat dari segi tujuan mempelajarinya :

Tujuan seseorang dalam mempelajari Ilmu Tafsir sendiri, supaya mampu menafsirkan AlQuran dengan baik dan benar, tidak menyimpang dari isi kandungan Al-Quran. Sedangkan
mempelajari Tafsir bertujuan untuk mengetahui apa makna yang di maksud dari Al-Quran,
kemudian menjadikan tau apa maksudnya. Lebih jelasnya Kalau ilmu Tafsir Itu Bagaiman
memahami Isi kandungan Al-Quran sedangkan Tafsir Apa isi kandungan Al-Quran yang
dikehendaki oleh Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Quran.
b) Dilihat dari segi kedudukannya:
Jika dilihat dari sedi kedudukannya, Maka Ilmu Tafsir itu bias diartikan sebagai alat dalam
menafsirkan Al-Quran, sedangkan Tafsir adalah hasil dari seorang mufassir dalam
menafsirkan Al-Quran. Yaitu yang berupa kitab-kitab yang berisi tentang memahami
maksud-maksud ayat Al-Quran. Jadi tafsir itu hasil yang di dapat dari pengunaan ilmu-ilmu
tafsir tersebut.
c)

Dilihat dari segi sebab akibatnya:

Sebatnya dia bisa menafsirkan karena mempunyai ilmu-ilmu tafsir. Seseorang dengan
menguasai Ilmu Tafsir mampu menafsirkan Al-Quran, sejauh ilmu yang dimiliknya. Sedang
dengan menguasai Tafsir belum tentu membuat seseorang dapat menafsirkan Al-Quran.
namun seseorang tersebut mampu memahaminya, walupun belum bisa menafsirkannya
sendiri.
d) Dilihat dari segi kitab-kitab atau materinya :
Kitab-kitab Ilmu Tafsir didalamnya memuat pembahasan Ulumul Qur-an dan yang
berhubungan dengan pemahaman makna ayat-ayat Al-Quran. Sedang kitab-kitab Tafsir
adalah kitab yang disusun secara khusus untuk memahami makna-makna yang terkandung
dalam Al-Quran. Jadi Kitab ilmu tafsir itu tidak memuat hasil dari penafsiran tersebut,
sedangkan tafsirnya itu memuat hasil dari olahan olahan pemikiran yang di dasari dengan
ilmu-ilmu yang sesuai dan yang dimiliki oleh seorang mufassir.

3.

Syarat-Syarat dan Keutamaan Muffasir

Syarat dan keutamaan inilah yang menjadikan atau penyebab kualitas dan di teriam atau di
tolak di kalangan masyarakat. Namun Sebelum menjajaki ke pembahasaan syarat dan
keutamaan mufassir, disini akan dijelaskan terlebih dahulu siapa atau apa yang di sebut
mufassir itu?. Mufassir adalah orang yang mampu menafsirkan Al-Quran. Dalam
menafsirkan kalamullah ini, mufassir harus memenuhi kriteria agar hasil tafsirannya tidak
menyimpang dari apa yang dimaksud dan dapat diterima. Syarat dan keutamaan mufassir
yaitu:
a) Akidah Yang Benar
Para muffasir itu di anjurkan supaya mempunyai akhlak yang benar. Karena akidah Mufassir
sangat mempengaruhi dalam karyanya, yang apabila mempunyai akidah yang kurang baik
akan memyebabkan ketidak hati-hati atau dalam menafsirkannya itu asal-asalan. Sehingga
sangat dibutuhkan untuk mengetahui akidahnya agar tak tersesat.
b) Bersih Dari Hawa Nafsu
Seorang mufassir dalam menafsirkannya itu harus bersih dari yang namanya nahsu, Sebab
hawa nafsu akan mendorong pemiliknya untuk membela kepentingannya sendiri atau
kepentingan golongannya, atau mazhabnya. sehingga ia menipu manusia dengan kata-kata
halus dan keterangan menarik. Supaya terpengaruh oleh kata-katanya.
c)

Menafsirkan, lebih dahulu, Al-Quran dengan Penjelasan Al-Quran

Dalam menafsirkan Al-Quran sebaiknya mendahulukan mencari penjelasan di dalam AlQuran Karena Al-Quran adalah sumber hokum yang paling utama.
d) Mencari penjelasan dari Hadits
Kemudian sumber hokum yang kedua ini adalah Al-Hadits. Al-Hadits ini dipakai apabila
dalam Al-Quran Masih terdapat kata-kata atau kalimat-kalimat yang masih global(umum)
kemudian dijelaskan oleh Hadits. Karena Hadits itu berasal dari Nabi yang diutus oleh Allah
SWT sebagai penjelas.
e) Mengambil pendapat sahabat apabila tidak ditemukan dalam Al-Quran dan Hadits.
Dalam pengambilan pendapat para sahabat ini, ketika di dalam Al-Quran dan Al-Hadits tidak
ditemukan. Kemudian baru lah mencari pendapat sahabat, karena para sahabat, menyaksikan
kondisi ketika Al-Quran diturunkan. Dan ada beberapa sahabatyang semasa dengan Nabi
SAW. Disamping itu juga para sahabat mempunyai pemahaman yang kuat atau sempurna,
ilmu yang shahih, dan amal yang baik serta.

f) Mengambil pendapat ulama apabila tidak ditemukan dalam Al-Quran, Hadits, dan
Sahabat.
Yang dimaksud imam disini adalah para Tabiin. Tabiin adalah generasi setelah sahabat.
Dan pengambilan pendapat ini dilakukan karena pada masa tabiin itu masih mendapatkan
penjelasan dari sahabat, yang masih terjaga simpang siurnya.
g) Mengetahui bahasa arab dan cabang-cabangnya
Al-Quran sendiri itu memakai Lisan bahasa arab, Maka dalam menafsirkan Al-Quran itu
juga harus memahami Bahasa Arab. Tidak hanya itu di dalam bahasa arab sendiri mempunyai
cabang-cabang yang digunakan untuk merangkai atau menyusun kata-kata- supaya makna
yang dimaksud itu bisa tertuju. Cabang-cabangnya meliputi nahwu, sorof, balaghoh, dll.
h) Mengetahui Ilmu Ushul yang berkaitan dengan Al-Quran
Ilmu ushul Seperti menguasai Qira'at yang karenanya mampu mengetahui tata cara
mengucapkan al-quran dan mengetahui kelebihan diantara lainnya. dan menguasai ilmu
Tauhid. yang karenanya tidak menta'wil ayat al-quran yang ada kaitannya dengan Allah dan
sifat-sifat-NYA, dengan ta'wil yang tidak patut bagi Allah. Dan juga mengetahui pokok tafsir
seperti Asbabunnuzul, Nasikh-mansukh, Mujmal muqayyad dll.
i)

Mempunyai pemahaman yang kuat

Dalam hal ini pemahaman seorang sangat diperlukan karena dengan pemahaman yang kuat
mampu mengunggulkan makna satu dan lainnya, atau mampu mengambil hukum makna
yang cocok beserta nash-nash syariat.

4.

Adab Mufassir

a.

Berniat Baik dan bertujuan benar

Mufassir dalam menafsirkan Al-Quran harus berniat dan bertujuan dengan baik. sebab amal
perbuatan itu tergantung pada niatnya. Orang yang mempunyai ilmu-ilmu syariat hendaknya
mempunyai tujuan dan tekad membangun kebaikan. maka dari itu selayaknya mufassir telah
menata niatnya sebelum mulai menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Hal ini juga di arahkan
supaya mufassir menjauhkan diri dari tujuan-tujuan duniawi yang akan mendatangkan
madlorot bagi dirinya sendiri.

b.

Berakhlak baik

Seorang mufassir itu harus berakahlak baik, karena mufassir bagai seorang pendidik yang
dididiknya itu tidak akan berpengaruh ke dalam jiwa tanpa ia menjadi panutan yang diikuti
dalam hal akhlak dan perbuatan mulia. Seperti halnya pendidik, terhadap yang dididik. Yang
dididik itu akan condong meniru kepada pendidik. Jadi supaya yang dididik itu tidak
melakukan yang buruk-buruk maka sebagai pendidik itu seharusnya memberikan teladan
yang baik.
c.

Taat dan beramal

Taat dan beramal, keataan itu dilakukan oleh mufassir untuk menunjukkan kesungguhannya
dalam menafsirkan Al-quran. kemudian dibarengi dengan beramal supaya apa yang
diusahakan oleh seorang mufasssir itu lancer, dan doa-doanya itu mudah dikabulkan.
d. Berlaku jujur dan teliti dalam penukilan
Berlaku jujur harus diterapkan untuk setiap mufassir, karena jujur itu akan mendapatkan
pahala, dan meneliti dalam hal penukilan, dalam hal ini mufassir tidak berbicara atau menulis
kecuali setelah menyelidiki apa yang diriwayatkannya. Dengan cara inilah seorang mufassir
akan terhindar dari kesalahan dan kekeliruan.
e.

Tawadu dan lemah lembut

Seorang mufassir itu harus mempunyai sikap tawadu dan lemah lembt karena jikalau tdak
tawadu dan lemah lembut, kemanfaatan ilmunya itu akan berkurang atau malah tidak ada
manfaatnya. Dan jika seorang mufassir itu mempunyai sifat kesombongan terhadap ilmunya
maka akan menghalangi antara seorang yang alim terhadap kemanfaatan ilmunya.
f.

Berjiwa mulia

Seharusnya seorang mufassir itu mempunyai jiwa yang mulia, karena yang demikian ini akan
membawa mufassir kepada kewibawaan. Dan juga mempengaruhi diterima atau ditolaknya
hasil penafsiran oleh seorang mufassir tersebut.
g. Vokal dalam menyampaikian
karena jihad yang paling utama adalah memyampaikan kalimat kepada penguasa yang
dzalim. Kemudian dalam menyampaikannya itu dengan lugas dan jelas. Supaya yang
menerima dengan mudah dan tidak diragukan.

h.

Berpenampilan baik

Dalam berpakaian sebaiknya berpakaian dengan baik sehingga dapat memberikan kesan
wibawa yang dapat menjadikan mufassir berwibawa dan terhormat dalam semua
penampilannya secara umum, juga dalam cara duduk, berdiri, dan berjalan. Yang sedemikian
ini seorang mufassir akan terlihat kewibawaannya.
i.

Tenang dan mantap

Mufassir hendaknya tidak tergesa-gesa dalam bicara, tapi hendaknya ia berbicara dengan
tenang, mantap, dan jelas kata demi kata. Agar dalam pembicaraannya tersebut tidak salah
dalam pengucapannya
j.

Mendahulukan yang lebih utama daripada dirinya

Seorang mufassir harus hati-hati menafsirkan dihadapan orang yang lebih pandai,
menghargainya dan belajar darinya. Dalam hal ini berhubungan dengan sifat lemah lembut,
karean sifat rendah diri seorang mufassir ini terlihat dari mendahulukan orang yang lebih
utama dari dirinya.
k. Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah penafsiran secara ilmiah dan sistematik
seperti memulakannya dengan menyebut asbab al-nuzul, arti perkataan, mnerangkan susunan
kalimat, menjelaskan segi-segi balagah dan irab yang padanya bergantung penentuan makna.
Kemudian memjelaskan makna umum dan memnghubungkan dengan kehidupan sebenarnya
yang dialami oleh umat manusia pada masa itu serta membuat kesimpulan dan menentukan
hukum.

5.

Perkembangan Ilmu Tafsir

Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena
pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari
yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga
di zaman modern sekarang ini. Namun terdapat banyak perbedaan-perbedaan cara atau ilmu
dalam menafsirkannya. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi enam periode
yaitu :

1) Pertama, pada zaman Nabi


Sebagai utusan Allah, tugas Nabi adalah menjelaskan dan menerangkan apa yang tidak dapat
dipahami yang ada didalam Al-Quran. Rosulullah menjelaskan apabila ada sahabat yang
tidak paham pada masa itu. Namun penjelasan atau penafsiran yang dilakukan oleh
Rosulullah hanyalah melibatkan sebagian ayat saja, yaitu hanya ayat atau kalimat yang
memerlukan penjelasan dan penerangan seperti lafazd am, khas, mujmal, dan sebagainya.
Rosulullah juga memberi tunjuk kepada para sahabat agar untuk menafsirkan ayat Al-Quran
mengunakan ayat Al-Quran atau bertanya langsung kepada Rosulullah.
Kegiatan penafsiran Al-Quran pada periode ini masih berupa penyampaian dari mulut ke
mulut yang menurut istilah ahli hadits adalah musyafahah. Dan juga sunnah Rosulullah
sebagai penafsiran Al-Quran pada umumnya tidak di tulis oleh para sahabat. Tafsir AlQuran pada zaman ini dan pada masa awal pertumbuhan islam disusun pendek-pendek dan
tampak ringkas, karena penguasaan bahasa arab yang murni pada saat itu cukup untuk
memahami gaya dan susunan kalimat Al-Quran.
2) Kedua, pada zaman sahabat
Para sahabat dalam mempelajari tafsir tidak sukar karena mereka menerima Al-Quran
langsung dari Rasulullah dan mempelajari tafsir Al-Quran pun dari beliau. Mereka
bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya.
Mereka mempelajari Al-Quran dengan mudah memahaminya karena Al-Quran diturunkan
dalam bahasa kaumnya (bahasa arab), serta suasana-suasana dan peristiwa-peristiwa turunnya
ayat dapat mereka saksikan dan Al-Quran diturunkan pada masa keemasan sastrawansastrawan arab.apabila mereka tidak mengetahui makna suatu lafadz Al-Quran atau maksud
suatu ayat segara mereka tanyakan kepada Rosul sendiri atau sesama sahabat. Namun
tidaklah semua sahabat sederajat didalam memahami isi Al-Quran, baik secara global atau
terperinci, akan tetapi mereka berbeda-beda tingakat pemahamannya sesuai dengan tingkat
ketinggian akal fikirannya, bahkan ada yang tidak sanggup didalam memahami arti kata-kata
dari Al-Quran.

Secara keseluruhan, merekalah orang-orang yang paling mampu untuk memahami Al-Quran
apabila dibandingkan dengan generasi-generasi setelahnya. Para sahabat pada masa ini dalam
menafsirkan Al-Quran berpedoman pada empat sumber pokok yaitu:
a. Al Quran Al Karim
b. As Sunnah Nabi SAW
c.

Pemahaman dan Ijtihad

d. Ahli kitab dari orang Yahudi dan Nasrani

Ahli Tafsir pada masa sahabat


As suyuthi berkata, bahwa sahabat yang terkemuka dalam bidang tafsir ada 10 orang:
1. Abu Bakar
2.

Umar bin Khatab

3.

Utsman bin Affan

4. Ali bin Abi Thalib


5. Abdullah ibnu Masud
6. Abdullah ibnu Abbas
7.

Ubay bin Kaab

8.

Zaid bin Tsabit

9. Abu Musa Al-Asyari


10. Abdullah bin Zubair
Pada masa ini ilmu tafsir dipelajari masih seperti pada masa Rosulullah dengan melalui
penyampaian mulut ke mulut dan apabila ada yang belum jelas bertanya langsung kepada
Rosulullah atau bertanya kepada Sahabat yan lain yang lebih mengerti.
3) Ketiga, pada zaman tabiin
Sebagaimana sebagaian sahabat terkenal dengan ahli tafsir, maka sebagian tabiin terkenal
dengan ahli tafsir dimana para tabiin mengambil tafsir dari mereka sumber-sumbernya
berpegang kepada sumber-sumber yang ada pada masa sebelumnya. disamping adanya ijtihad
dan penalaran.
8

Sumber tafsir pada masa tabiin:


1.

Kitabullah

2.

Riwayat dari sahabat dari Rosulullah

3.

Riwayat dari sahabat dari penafsiran mereka sendiri

4.
Pengambilan dari ahli kitab berdasarkan apa yang datang dari mereka dalam kitab
mereka
5.
Ijtihad dan pemahaman yang diberikan Allah kepada para tabiin untuk mengetahui
makna Al-Quran.
Ahli tafsir pada masa tabiin:
1. Di Makkah terdapat perguruan yang dipimpin oleh ibnu abbas dan murid-muridnya: Said
bin Jubair, Mujahid, Ikrimah Maula Ibnu Abbas, Atha bin Abi Rabbah.
2. Di madinah terdapat perguruan yang didirikan oleh Ubay bin Kaab dan muridnya dari
kalangan tabiin: Zaid bin Aslam, Abu Aliyah dan Muhammad bin Kaab Al Qurazhi.
3. Di irak terdapat perguruan yang dipimpin oleh ibnu masud dan murid yang terkenal
dengan ahli tafsir yaitu aswad bin Yazid, Murrah Al Mahadani, Amir Asy Syabi, dll.

Pada periode tabiin ini, menafsirkan dirasakan samar pemahamannya oleh sebagian mereka
dan kesamaran pemahaman itu bertambah secara terus menerus. Setiap kali manusia jauh dari
masa Nabi SAW, dan sahabat, maka orang-orang yang berkecimpung didalam tafsir dari
tabiin merasa butuh untuk membicarakan kekurangan ini. Lalu mereka menambahkan tafsir
sesuai dengan tambahnya kesamaran mereka. Kemudian sesudah mereka datanglah generasi
yang menyempurnakan tafsir quran dengan berpegang dengan:
1.

Bahasa Arab dan segi-seginya yang mereka ketahui

2.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya Al-Quran yang dipandang shahih

3. Alat alat pemahaman dan pembahasan yang lain.

Penafsiran pada zaman tabiin tafsir belum terhimpun dalam suatu kitab. Pada masa ini tafsir
tetap konsisten dengan cara khas, penerimaan dan periwayatan. Akan tetapi setelah banyaak
ahli kitab yang masuk islam, para tabiin banyak yang menukilkan dari cerita-cerita israiliyat
yang kemudian dimasukkan ke dalam tafsir.
4) Keempat, pada zaman pembukuan
Pada permulaan abad kedua hijriyah, yaitu dikala banyak pemeluk agama islam yang bukan
dari bangsa arab dan dikala bahasa arab telah dipengaruhi oleh bangsa asing, barulah ulama
merasa perlu membukukan tafsir, agar dapat dipahamkan maknanya oleh mereka yang
kurang paham mengenai bahasa arab. Pembukuan dimulai diakhir akhir masa Bani Umayah
dan awal Bani Abbasiyah. Mencangkup pembukuan beberapa bab yang bermacam-macam
dan tafsir salah satu bab ini.
Setalah masa sahabat dan tabiin, ada perkembangan baru yaitu mulai dibukukannya AlHadits yang terdiri dari bermacam-macam bab, dimana tafsir termasuk salah satu bab dalam
buku Hadits tersebut. Tafsir belum dibukukan tersendiri. Kemudian muncul ulama ulama
yang memisahkan dari Al-Hadits dan menjadikan tafsir, ilmu yang berdiri sendiri dan tafsir
disusun sesuai dengan tertib surat dan ayat dalam mushhaf Al-Quran. Pekerjaan ini
dilakukan oleh sekelompok ulama:
(1) Ibnu Majjah (273 H)
(2) Ibnu Jarir Ath Thabari ( 310 H)
(3) Abu Bakar Al Mundzir An Naisaburi (318 H)
(4) Ibnu Abi Hatim (326 H)
(5) Abu Syaikh bin Hibban (369 H)
(6) Hakim (405 H)dan lain lain
Semua tafsir tersebut memuat riwayat-riwayat dengan sanad yang bersambung sampai
kepada Rosulullah, Sahabat, Tabiin, Tabi Tabin.

10

Dan Ahli-ahli tafsir pada masa abad kedua Hijriyah ini:


1.

As Suddy (127 H)

2.

Ibnu Juraij (150 H)

3.

Muqatil (150 H), dll

5) Tafsir pada Abad IV Hijriyah s/d abad XI H


Diantara ulama-ulama tafsir abad keempat ini terdapatlah ulama tafsir yang bersungguhsungguh menafsirkan Al-Quran dengan dasar dirayah yakni menafsirkan Al-Quran bil
Maqul.
Mulailah segolongan Mufassirin mengoreksi riwayat-riwayat yang berasal dari israiliyat dan
mulailah pemeriksaan itu didasarkan atas petunjuk-petunjuk akal dan keterangan keterangan
yang nyata.
Mulai abad keempat inilah segala tafsirpun mempunyai sandaran yang lebih kuat lagi, karena
para mufassirin itu tidak menerima lagi dari riwayat-riwayat yang dinukilkan, melainkan
yang shahih-shahih saja dan diterima oleh akal yang sejahtera atau sehat, atau diterima oleh
kaedah-kaedah ilmu bahasa. Ringkasnya golongan ini mengosongkan kitab tafsir yang
mereka susun dari israiliyat.
Ahli tafsir pada abad IV s/d XI hijriyah :
1.

Az-Zamaksari, kitabnya Al Kasysyaf dari segi rahasia-rahasia balaghah Al-Quran

2.

Abu Bakar Ibnu Araby 542 H : kitabnya Ahkamul Quran

3.

Al-Hafidz Ibnu katsir (772 H) tafsirnya Al-Quranul Azhim, dll

6) Tafsir pada abad XII -sekarang(modern)


Sumber tafsir pada masa ini ialah Nakliyah dan Ijtihadiyah:
Para ulama melakukan penafsiran secara Nakliyah dan disertai oleh Ijtihadiyah ini karena
dalam Al-Quran dan Al-hadits penjelasannya kuran terperinci, sehingga menimbulkan
simpang siur terhadap apa yang ada pada zaman sekarang ini.

11

Ahli-ahli Tafsir pada periode ini ialah:


1. Al-imam As Syaukani (1250 H), tafsirnya Fathul Qodir
2. Al Alamah Al Alusy (1270 H), tafsirnya Ruhul Maani
3. Al Alamah Ismail Haqqi, tafsirnya Ruhul Bayan, dan lain lain.
Dan di indonesia pada abad keempat belas sampai sekarang lahir beberapa tafsir bahasa
indonesia yang disusun oleh ulama-ulama kita, diantaranya ialah:
1. Tafsir Al-Quranul Karim disusun oleh Al-Ustad Abdul Karim Hasan dan Ustadz Zaenal
Arifin Abbas
2. Tafsir An-Nur, disusun oleh Prof . Dr. Hasby As Shidiqqy
3. Tafsir departemen agama
4. Tafsir Al-Furqon disusun oleh Ustadz Ahmad Hasan, dan lain lain

6.

Metode Penafsiran

Metode penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir


a. pertama, Tafsir Bil Matsur atau Bir Riwayah. Metode ini terfokus kepada riwayat yang
shohih, dengan mengunakan penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran, penafsiran Al-Quran
dengan Sunnah, Penafsiran Al-Quran dengan perkataan Sahabat dan penafsiran Al-Quran
dengan perkaataan Tabiin. Dalam metode ini hasil penafsiran lebih sejalan dan mudah
diterima oleh kalangan masyarakat.

b. kedua, Tafsir Bil Rayi atau Diroyah, ialah tafsir yang didalam memjelaskan maknanya,
mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulannya didasarkan pada
rayu semata. Dalam metode penafsiran yang hanya menggunakan kemampuan diri sendiri
ini hasil penafsiran masih kurang sejalan atas apa yang dimaksd dari kandungan Al-Quran.
karena biasanya dalam menggunakan akalnya sendiri ini, masih diselubungi oleh nafsu-nafsu
duniawi

[1] Jalaludin as-suyuthi, pengantar ilmu al-quran dan tafsir. 1993 hal.245
[2] Az-Zarqani, pangantar ilmu Tafsir.1988. hal.182

13

Ilmu Hadits
1)

Pengertian Ulumul Hadits

Ulumul Hadits terdiri dari dua kata, yaitu ulum dan al-Hadits. Ulum dalam bahasa Arab
adalah ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada
Nabi Muhammad SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir, atau sifat. Dengan demikian, ulumul
hadits mengandung pengertian ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadist
Nabi SAW
Menurut para ulama mutaqoddimin ilmu hadis yaitu :
Ilmu yang membahas tentang tatacara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW
dari sisi-beluk para perawinya, kedhabitan dan keadilan dan dari bersambung dan tidaknya
matarantai sanad.
Secara garis besar, ilmu hadits terbagi atas dua bagian, yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu
hadits dirayah.

2)
A.

Tarif Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah


Ilmu Hadits Riwayah

Menurut Ibn al-Akfani, ilmu hadits riwayah adalah ilmu hadis yang khusus berhubungan
dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi SAW
dan perbuatannya, serta periwayatannya, pencatatannya, dan penguraian lafaz-lafaznya.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa ilmu hadis riwayah membahas tentang tata cara
periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW.
Ilmu Hadits Riwayah mempunyai objek kajian yaitu dari segi periwayatan dan
pemeliharaannya. Hal itu mencakup :
i. Cara periwayatan Hadis, baik dari segi cara penerimaan
dan juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain.
ii. Cara pemeliharaan Hadis, yaitu dalam bentuk penulisan,
penghafalan, dan pembukuannya.
Adapun tujuan dan manfaat dari mempelajari ilmu hadits riwayah ini adalah untuk
menghindari adanya kesalahan dalam mengakses atau menukil hadits dari sumbernya yang
pertama, yaitu Nabi Muhammad SAW dan pemeliharaan terhadap Hadits Nabi SAW agar
tidak lenyap dan sia-sia.

14

B.

Ilmu Hadits Dirayah

Kebanyakan ulama mentaarifkan ilmu hadits dirayah adalah ilmu untuk mengetahui keadaan
sanad dan matan dari jurusan diterima atau ditolak dan yang bersangkutpaut dengan itu.
Objek pembahasan ilmu hadits dirayah antara lain :
1. Keadaan para perawi, baik yang berkaitan dengan sifat kepribadian (seperti perilaku
kesehariannya, watak dan kualitas daya ingatannya) maupun masalah sambung tidaknya
rangkaian mata rantai para perawinya.
2. Keadaan yang diriwayatkan, baik dari sisi keshahihan dan kedlaifannya maupun dari sisi
lain yang berkaitan dengan keadaan matan.
Sedangkan manfaat mempelajari ilmu hadits dirayah banyak sekali, diantaranya :
1.
Mengetahui perkembangan hadits dan ilmu hadits dari masa kemasa, mulai dari zaman
Rasulullah SAW sampai sekarang.
2.
Mengetahui para praktisi hadits beserta usaha yang telah mereka lakukan dalam
mengumpulkan, memelihara, dan meriwayatkan.
3.
Mengetahui kaidah-kaidah yang dipergunakan para praktisi hadits dalam
mengklasifikasikan hadits lebih lanjut.
4.
Mengetahui istilah-istilah,nilai-nilai dan kriteria-kriteria hadits sebagai pedoman dalam
beristinbath.

3)

Cabang-cabang Ilmu Hadits

a)

Ilmu Rijal Al-Hadits

Ilmu Rijal Al-Hadits merupakan ilmu yang membahas para perawi hadits, baik dari sahabat,
dari tabiin, maupun dari angkatan-angkatan sesudahnya. Objek kajian dari ilmu ini adalah
matan dan sanad. Oleh karena itu mempelajari ilmu ini penting, sebab nilai suatu hadits dapat
dipengaruhi oleh karakter dan perilaku serta biografi perawi itu sendiri.

15

Sedangkan para perawi yang menjadi objek kajian ilmu rijal al-hadits adalah

a.
Para sahabat, sebagai penerima pertama dan sebagai kelompok yang dikenal sebutan
thabaqat awwal atau dikenal sebagai sanad terakhir lantaran sebagai penerima langsung dari
Nabi Muhammad SAW.
b.

Para tabiin, yang dikenal sebagai thabaqat tsani

c.
Para muhadlramin, yaitu orang-orang yang mengalami hidup pada masa Jahiliyyah
dan masa Nabi Muhammad SAW dalam kondisi Islam, tetapi tidak sempat menemuinya dan
mendengarkan hadis darinya
d.
b)

Para mawaliy, yaitu para perawi hadits dan ulama yang awalnya berstatus budak.
Ilmu Jarh wa at-Tadil

Ilmu ini membahas tentang keadaan para perawi hadits dari sisi diterima dan ditolaknya
periwayatan mereka. Untuk itu, ilmu ini dapat dijadikan salah satu alat untuk
mengungkapkan sifat negatif (ketercelaan/jarakh) dan positif (keadilannya/tadil) para perawi
hadits.
c)

Ilmu Asbab al-Wurud

Ilmu Asbab al-Wurud merupakan suatu ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi
Muhammad SAW menuturkan sabdanya. Ilmu ini penting untuk diketahui, sebab ilmu ini
dapat membantu dalam memahami hadits.
d)

Ilmu Nasikh wal-Mansukh

Ilmu ini membahas problem hadits-hadits yang secara lahiriyah berlawanan, yang diantara
keduanya tidak memungkinkan untuk dipertemukan sebab adanya materi bertentangan,
padahal hakikatnya saling hapus menghapus. Hukum yang datangya dahulu dikenl dengan
sebutan mansukh dan datangnya kemudian dikenal dengan sebutan nasikh.

16

Untuk mengetahui nasikh dan mansukh dapat dilihat dari ada tidaknya hal-hal sebagai
berikut :
i.Adanya penjelasan Nabi Muhammad SAW sendiri dalam haditsnya

ii.Adanya penjelasan dari sahabat

iii.Adanya keterangan sejarah

iv. Adanya ijmaulama.

Adapun pelopor pembahasan ada tidaknya nasakh-mansukh dalam hadits yaitu

i. Al-nasikh wal mansukh, karya Qatadah bin Daamah al-Dausy

ii.Nasikh al-hadits wa mansuhihi, karya Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al-Astram

iii.Nasikh al-hadits wa mansukhihi, karya Abu Hafsh, Umar Ahmad al-Baghdadiy (Ibnu
Syahin/297-385 H) lalu Imam Syafiiy, dilanjutkan oleh Ahmad Ibnu Hambal dan Ahmad bin
Ishaq al-Dinariy (318 H), lalu disusul dengan kitab

iv. Al-itibar fi al-nasikhi wa al-mansukhi min al-atsar, karya Abu Bakar Muhammad bin
Musa al-Hazimiy al-Hamdaniy.

17
e)

Ilmu Ilal al-Hadits

Menurut istilah Ilmu Ilal al-Hadits merupakan ilmu yang membahas tentang sebab-sebab
tersembunyi yang dapat membuat hadits shahih itu tercemar seperti menyatakan hadits
muttashil pada hadits yang hakikatnya munqathi, menyatakan hadits marfu pada hadits yang
pada hakikatnya mauquf atau memasukan hadits ke dalam hadits lain dan sebagainya.[7]
Ilmu ini berpautan dengan keshahihan hadits. Di antara para ulama yang menulis ilmu ini
yaitu Ibnu al-Madiny (234 H), Ibnu Abi Hatim (327 H), Imam Muslim (261 H), AdDaruquthny (375 H), dan Muhammad ibn Abdillah al-Hakim.
f)

Ilmu Gharib al-Hadits

Ilmu Gharib al-Hadits merupakan ilmu yang mengungkapkan arti kosa kata matan hadits
yang sulit dimengerti dan rumit dipahami lantaran kosa kata tersebut memang asing dan tidak
dikenal. Objek dari ilmu ini yaitu kata-kata yang sulit atau susunan yang sulit dipahami
maksud sebenarnya.
Adapun metode untuk mencari penafsiran yang benar pada hadits yang mengandung kosa
kata asing, dibutuhkan standarisasi penafsiran, diantaranya adalah :

i. Adanya hadits yang sanadnya berlainan dengan matan yang mengandung kosa kata asing

ii. Adanya penjelasan sahabat yang memang menjadi perawi hadits

iii. Adanya penjelasan sahabat lain yang tidak meriwayatkannya tetapi ia paham betul makna
kosa kata asing tersebut.

iv. Adanya penjelasan dari perawi hadits yang selain sahabat.

18

g)

Ilmu Mukhtalif al-Hadits

Ilmu Mukhtalif al-Hadits merupakan ilmu yang membahas hadits-hadits yang secara
lahiriyyah saling bertentangan, lalu dihilangkannya atau keduanya dikompromikan,
sebagaimana membahas masalah hadits-hadits yang kandungannya sulit dipahami atau sulit
dicari gambaran yang sebenarnya, lalu kesulitan tersebut dihilangkan dan dijelaskan hakikat
yang sebenarnya. Objek pembahasan ilmu ini adalah hadits-hadits yang secara lahiriyyah
saling bertentangan, sehingga dengan menggunakan ilmu ini tingkat kesulitan bisa teratasi.
h)

Ilmu Tashif wa Tahrif

Ilmu ini merupakan ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya atau
syakal (yang dinamai mushahhaf dan bentuknya yang dinamai muharraf.
Diantara kitab yang membahas ilmu ini yaitu, kitab Ad-Daruquthny (385 H) dan kitab AtTashhif wa At-Tahrif, karya Abu Ahmad al-Askary (283 H)

4)

Perkembangan Ilmu Hadits


I. Tahap Pertama (Kelahiran Ilmu Hadits)

Pada tahap ini berlangsung pada masa sahabat hingga abad pertama Hijriyah.
Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka para sahabatlah yang menyampaikan segala
sesuatu yang diajarkan Oleh Nabi Muhammad SAW. Pada waktu itu, mereka telah menguasai
dan memelihara hadits Nabi. Dalam pemeliharaan hadits ini, mereka didukung oleh beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut :
a)

Kejernihan dan kuatnya daya hafal

Bangsa Arab dahulu dikenal dengan bangsa yang ummi. Mereka hanya mengandalkan
ingatan. Kesederhanaan kehidupan dan jauhnya dari hiru pikuk peradaban kota menjadikan
mereka berhati jernih. Oleh karena itu, mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat daya
hafalnya dan kecerdasan mereka sangat mengagumkan.
b)

Minat yang kuat terhadap agama

Bangsa Arab meyakini bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia, tidak ada keberuntungan di
akhirat, dan tidak ada jalan menuju kem uliaan dan kedudukan terhormat kecuali dengan
agama Islam. Oleh karena itu, mereka mempelajari seluruh hadits Nabi Muhammad SAW
dengan penuh perhatian. Minat seperti inilah, Nabi Muhammad SAW memberikan himbauan
agar mereka mengahafal haditsl dan menyampaikan kepada orang lain.

19

c)

Kedudukan hadits dalam Agama Islam

Hadits merupakan sendi asasi yang telah membentuk pola pikir sahabat serta sikap perbuatan
dan etika mereka. Mereka senantiasa ikut dan tunduk kepada Rasulullah SAW dalam segala
hal. Setiap kali mereka mendapat suatu kalimat dari Rasulullah SAW, maka kalimat tersebut
akan mendarah daging dan menjelma dalam perilaku mereka.
d) Nabi tahu bahwa para sahabat akan menjadi pengganti beliau dalam mengemban
amanah dan menyampaikan risalah.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW menempuh beberapa metode dalam menyampaikan hadits,
diantaranya :
i.
ii.
iii.
e)

Rasulullah SAW tidak menyampaikan hadits secara beruntun, melainkan sedikit demi
sedikit agar mereap ke dalam hati.
Rasulullah SAW tidak berbicara panjang lebar, melainkan dengan sederhana.
Rasulullah SAW seringkali mengulang pembicaraanya agar dapat ditangkap oleh hati
orang-orang yang mendengarnya.
Cara Nabi SAW menyampaikan hadits

Rasulullah SAW telah dianugerahi kemampuan yang jarang dimiliki oleh orang lain, karena
itu, Al-Quran menyebutkan Hadits sebagai Al-Hikmah. Dengan demikian, tidak diragukan
lagi bahwa penjelasan yang baligh, akan dapat menguasai hati orang yang mendengarnya.
f)

Penulisan Hadits

Penulisan menjadi suatu media dalam upaya pemeliharaan hadits, meskipun dalam hal ini
terdapat sejumlah riwayat yang berbeda dan pandangan yang beraneka ragam, baik di zaman
dahulu maupun di zaman belakangan.
II. Tahap Kedua, Tahap Penyempurnaan
Tahap ini berlangsung awal abad kedua hingga abad ketiga, yang ditandai dengan sejumlah
peristiwa yang menonjol, diantaranya :
a.
Melemahnya daya hafal di kalangan umat Islam, sebagaimana disebutkan oleh alDzahabi dalam kitab Tadzkirat al -Huffazh.
b.
Panjang dan bercabangnya sanad-sanad hadits sebab bentangan jarak waktu dan
semakin banyaknya rayi.
c.
Muncullah sejumlah kelompok Islam yang menyimpang dari jalan kebenaran seperti
Mutazilah, Jabbariyah, Khawarij dan sebagainya. Untuk mengantisipasi kekacauan yang
mungkin timbul, para imam Islam bangkit dengan beberapa langkah, diantaranya :

20

i. Pembukuan hadits secara resmi

ii. Sikap para ulama yang kritis terhadap para rawi hadits dalam upaya jarh wa tadil

iii. Sikap tawaqquf apabila mendapatkan hadits dari seseorang yang tidak mereka kenal
sebagai ahli hadits.

iv. Sikap menelusuri sejumlah hadits untuk mengungkapkan kecacatan yang mungkin
tersembunyi di dalamnya, kemudian untuk setiap hal yang baru, mereka membuat kaidah dan
formula khusus dalam upaya mengenalkannya.

[3] DR. Nawir Yuslem, MA, Ulumul Hadis,PT.Mutiara Sumber Widya, Jakarta,2008,hlm.1
[4] Drs. Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Musthalah Hadits, Departemen
Agama Ri, Jakarta,2007,hlm.97
[5] Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis,
Pustaka Rizki Putra, Semarang,2002,hlm.112
[6] Drs. Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Musthalah Hadits, Departemen
Agama Ri, Jakarta,2007,hlm.100
[7] Drs. Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Musthalah Hadits, Departemen
Agama RI, Jakarta,2007,hlm.116-117

21

III.

Tahap Ketiga, Tahap Pembukuan Ilmu Hadits secara Terpisah

Tahap ini berlangsung dari awa bad ketiga hingga pertengahan abad keempat. Abad ketiga
merupakan masa pembukuan hadits dan merupakan zaman keemasan sunnah, sebab dalam
abad inilah sunnah dan ilmu-ilmunya dibukukan dengan sempurna.
Tahap ini juga ditandai dengan inisiatif para ulama untuk membukukan hadits Rasul
secara khusus. Untuk itu, mereka menyusun kitab-kitab musnad untuk menghimpun hadits
Rasul yang mereka kelompokkan berdasarkan nama-nama sahabat, sehingga hadits-hadits
yang diriwayatkan dari Abu Bakar misalnya, dikumpulkan dalam satu tempat dengan judul
Musnad Abu Bakar. Setelah iti, datanglah al-Bukhari dengan inisiatif baru, yaitu
membukukan hadits-hadits sahih secara khusus dan disusun berdasarkan bab-bab tertentu,
agar mudah dicari dan dipahami hadits-haditsnya. Kitab yang disusunnya diberi nama alJamiash-Shahih.
Para ulama telah mempelajari dan meneliti seluruh matan dan sanad hadits dengan
sempurna. Istilah-istilah sekitar hadits telah masyhur dan baku di kalangan ulama hadits.
Akan tetapi, dalam tahap ini belum dijumpai tulisan yang pembahasannya mencakup seluruh
kaidah-kaidah cabang-cabang ilmu dengan batasan-batasan istilah-istilahnya, sebab mereka
masih mengandalkan hafalan dan penguasaannya terhadap semua itu kecuali kitab yang
berjudul al-Ilal al-Shaghir karya Imam at-Turmudzi.

IV.
Tahap Keempat, Penyusunannya Kitab-kitab Induk Ulum al-Hadits
dan Penyebarannya
Tahap ini berlangsung pada pertengahan abad keempat dan berakhir pada awal ketujuh. Para
ulama periode ini menekuni dan mendalami kitab-kitab yang telah disusun oleh para ulama
sebelumnya.
Mereka menghimpun keterangan-keterangan yang berserakan dan melengkapinya dengan
berlandaskan keterangan-keterangan ulama lain yang diriwayatkan dengan sanad yang
sampai kepada pembicaranya. Kemudian keterangan-keterangan itu diberi komentar dan
digali hukumnya.

22

V.
al-Hadits

Tahap Kelima, Kematangan dan Kesempurnaan Pembukuan Ulum

Tahap ini bermula pada abad ketujuh dan berakhir pada abad ke sepuluh. Dalam tahap ini
pembukuan ulum al-hadits mencapai tingkat kesempurnaan dengan ditulisnya sejumlah kitab
yang mencakup seluruh cabang ilmu hadits. Bersama itu dilakukan pula penghalusan
sejumlah ungkapan dan penelitian bberbagai masalah dengan mendetail.
VI.

Tahap Keenam, Masa Kebekuan dan Kejumudan

Tahap ini bermula dari abad kesepuluh sampai awal abad keempat belas Hijriah. Pada tahap
ini ijtihad dalam masalah ilmu hadits dan penyusunan kitabnya nyaris berhenti total. Tahap
ini ditandai dengan lahirnya sejumlah kitab hadits yang ringkas dan praktis, baik dalam
bentuk syair dan prosa. Para penulis sibuk dengan kritikan-kritikan terhadap istilah-istilah
yang terdapat dalam kitab tanpa ikut menyelami inti permasalahannya, baik melalui
penelitian maupun ijtihad.
VII.

Tahap Ketujuh, Kebangkitan Kedua

Tahap ini berlangsung dari permulaan abad keempat belas Hijriah. Pada tahap ini, umat Islam
terbangkitkan oleh sejumlah kekhawatiran yang setiap saat bisa muncul sebagai akibat
persentuhan antara dunia Islam dengan dunia Timur dan Barat, bentrokan militer yang tidak
manusiawi, dan kolonialisme pemikiran yang lebih jahat dan lebih bahaya.
Oleh sebab itu, muncullah informasi yang mengaburkan eksistensi hadits oleh para orientalis
dan diterima begitu saja oleh orang-orang yang mudah terbawa arus asing. Mereka turut
mengumandangkannya dengan penuh keyakinan.
Kondisi ini menuntut disusunnya kitab-kitab yang membahas seputar informasi tersebut guna
menyanggah kesalahan-kesalahan dan kedustaan mereka. Para ulama berupaya memenuhi
tuntutan ini dengan karya masing-masing dan banyak karya ulama pada tahp terakhir ini yang
telah dicetak.
Upaya para ulama pengabdi sunnah itu berantai dan berkesinambungan dalam jumlah yang
mutawattir untuk menerima dan menyampaikan hadits Rasulullah SAW, baik dalam bentuk
ilmu pengetahuan, pengalaman, kajian, maupun dalam bentuk uraian, sejak dari zaman
Rasulullah SAW hingga sampai saat ini.

23

BAB III
ANALISIS
Berdasakan materi yang kami kaji tentang ilmu tafsir, ilmu hadits dan perkembangannya.
Banyak sekali ilmu-ilmu yang membahas tentang tafsir. Dari zaman Rosulullah sampai
sekarang ini. Banyak juga cara penafsiran tentang isi kandungan Al-Quran yaitu mulai dari
penjelasan Rosulullah dan penjelasan dari sahabat, yang dilakukan pada masa Rosulullah dan
sahabat. Ijtihad dan lain sebagainya.
Begitu pula bagi mufassir itu sendiri mempunyai ketentuan-ketentuan dan adab dalam
penafsiran Al-Quran. Syarat dan ketentuan atau keutamaan itu supaya hasil penafsirannya
dapat diterima oleh masyarakat. Dan tidak menyimpang dari yang dimaksud oleh Al-Quran
itu sendiri.

24

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu tafsir merupakan ilmu yang membahas tentang hal ihwal Al-Quran, dari segi turunnya,
sanadnya, cara menyebutkan, sagi lafazh-lafazhnya dan makna-maknanya yang berhubungan
dengan lafazh-lafazh maupun yang berhubungan dengan hukum. Ilmu tafsir sendiri
mengalami perkembangan sejak dari zaman Rasulullah SAW hingga sampai sekarang. Dalam
perkembangannya, ilmu tafsir terbagi atas enam periode yaitu, tafsir pada masa Rosulullah
SAW, tafsir pada zaman sahabat, tafsir pada zaman tabiin, tafsir pada zaman pembukuan,
tafsir pada abad iv hijriyah s/d abad xi H, dan tafsir pada abad xii -sekarang(modern).
Ilmu Hadist merupakan ilmu yang membahas tentang tatacara persambungan hadits sampai
kepada Rasulullah SAW dari sisi-beluk para perawinya, kedhabitan dan keadilan dan dari
bersambung dan tidaknya matarantai sanad. Secara garis besarnya, ilmu hadits terbagi dalam
dua bagian, yaitu ilmu hadits riwayah dan hadits dirayah. Dari kedua ilmu tersebut terdapat
perbedaan, yaitu dalam hal objek pembahasan dan manfaat yang diperoleh dari mempelajari
ilmu tersebut. Sama halnya dengan ilmu tafsir, ilmu hadits juga mengalami pekembangan
yang dimulai dari tahap kelahiran ilmu hadits hingga tahap kebangkitan kedua.

25

DAFTAR PUSTAKA
Amanah, Siti. 1993. Pengantar Ilmu Al-Quran dan Ilmu Tafsir. Semarang: Asy Syifa
Nawawi, Rifat Syauqi. 1992. Pengantar Ilmu Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang
Al-Qhattan, Manna; Khalil, 1973. Studi ilmu-ilmu al-quran. Jakarta: Puataka litera antar
nusa
Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. 2012. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits.
Semarang: Pustaka Rizki Putra
Nuruddin. 1995. Ulum Al-Hadits I. Bandung: Remaja Rosdakarya
Zein, Muhammad Mashum. 2007. Ulumul Hadits & Musthalah Hadits. Jakarta: Departemen
Agama RI.
Yuslem, Nawir. 2008.Ulumul Hadis. Jakarta:PT.Mutiara Sumber Widya