Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Glass Ionomer Cement (GIC)
Semen ionomer kaca adalah bahan restorasi yang paling akhir berkembang
dan mempunyai sifat perlekatan yang baik. Semen ini melekat pada enamel dan
dentin melalui ikatan kimia. Kekurangan GIC jika dibandingkan dengan bahan
tumpatan lain adalah kurang estestik, sulit dipolish, dan mempunyai sifat brittle
(Robert, 2002).
Semen ionomer kaca terdiri dari campuran bubuk dan cairan yang
kemudian dicampur dengan air. Bubuk semen ionomer kaca adalah kaca
aluminosilikat dan cairannya adalah larutan dari asam poliakrilik. Beberapa sifat
yang dimiliki semen ionomer kaca adalah bersifat biokompatibilitas terhadap
jaringan gigi, sifat perlekatan baik secara kimia terhadap dentin dan enamel, serta
mempunyai beberapa sifat fisis (Robert, 2002).
Semen ionomer kaca melepaskan ion fluor dalam jangka waktu yang cukup lama
sehingga dapat menghilangkan sensitivitas dan mencegah terjadinya karies
sekunder. Kemampuan dalam melepaskan ion fluor terhadap compressive strength
dari bahan restorasi Semen ionomer kaca, mengakibatkan korelasi negatif antara
pelepasan ion fluoride dengan compressive strength. Bahan material yang memiliki
tingkat pelepasan ion fluoride yang lebih tinggi, secara umum mempunyai
kekuatan yang lebih rendah dari material yang memiliki tingkat pelepasan ion
fluoride yang rendah (Robert, 2002).
Semen ionomer kaca sering disebut dengan ASPA (Alumine Silicate and
polyacrylic acid ). Reaksi yang terbentuk dari Semen ionomer kaca adalah reaksi
antara alumina silikat kaca dalam bentuk powder dengan asam poliakrilik sebagai
liquid. Selain sebagai bahan restorasi, Semen ionomer kaca dapat
digunakansebagai bahan perekat, bahan pengisi untuk restorasi gigi anterior dan
posterior, pelapiskavitas, penutup pit dan fisur, bonding agent pada resin komposit,
serta sebagai semen adhesif pada perawatan ortodontik. Ukuran partikel gelas Semen

ionomer kaca bervariasi, yaitu sekitar 50 m sebagai bahan restorasi dan sekitar
20 m sebagai bahan luting (Robert, 2002).
2.1.1 Komposisi Glass Ionomer Cement (GIC)
a. Komposisi Bubuk
Bubuk Semen Ionomer Kaca adalah kaca alumina-silikat. Walaupun
memiliki karakteristik yang sama dengan silikat tetapi perbandingan aluminasilikat lebih tinggi pada semen silikat (Anusavice, 2003).
b. Komposisi Cairan
Cairan yang digunakan semen Ionomer Kaca adalah larutan dari asam
poliakrilatdalam konsentrasi kira-kira 50%. Cairan ini cukup kental cenderung
membentuk gel setelah beberapa waktu. Pada sebagian besar semen, cairan asam
poliakrilat adalah dalam bentuk kopolimer dengan asamitikonik, maleic atau asam
trikarbalik. Asam-asam ini cenderung menambah resktifitas dari cairan,
mengurangi kekentalan dan mengurangi kecenderungan membentuk gel
(Anusavice, 2003).
Asam tartarik juga terdapat dalam cairan yang memperbaiki karakteristik
manipulasi dan meningkatkan waktu kerja, tetapi memperpendek pengerasan.
Terlihat peningkatan yang berkesinambungan secara perlahan pada kekentalan
semen yang tidak mengendung asam tartaric. Kekentalan semen yang
mengandung asam tartaric tidak menunjukkan kenaikan kekentalan (Anusavice,
2003).
Ketika bubuk dan cairan semen ionomer kaca dicampurkan, cairan asam
akan memasuki permukaan partikel kaca kemudian bereaksi dengan membentuk
lapisan semen tipis yang akan mengikuti inti. Selain cairan asam, kalsium,
aluminium, sodium sebagai ion-ion fluoride pada bubuk semen ionomer kaca
akan memasuki partikel kaca yang akan membentuk ion kalsium (Ca2+)
kemudian ion aluminium (Al3+) dan garam fluor yang dianggap dapat mencegah
timbulnya karies sekunder. Selanjutnya partikel-partikel kaca lapisan luar
membentuk lapisan (Anusavice, 2003).

2.1.2 Sifat Glass Ionomer Cement (GIC)


a. Sifat Fisis
1. Anti karies
Ion fluor yang dilepaskan terus menerus membuat gigi lebih tahan
terhadap karies.
2. Thermal ekspansi sesuai dengan dentin dan enamel
3. Tahan terhadap abrasi
ASPA tahan terhadap abrasi, ini penting khususnya pada penggunaan
dala restorasi dari groove yang abrasi servikalnya.
b. Sifat Mekanis
1.
2.
3.
4.

Compressive strength : 150 MPa, lebih rendah dari silikat


Tensile strength : 6,6 MPa, lebih tinggi dari silikat
Hardness : 49 KHN, lebih lunak dari silikat
Frakture toughness : Beban yang kuat dapat terjadi fraktur

c. Sifat Biologi
1. Semen Ionomer Kaca memiliki sifat biokompabilitas yang cukup baik
artinya tidak mengiritasi jaringan pulpa sejauh ketebalan sisa dentin ke
arah pulpa tidak kurang dari 0,5 mm.
2. Saliva selama penumpatan dan sebelum semen mengeras sempurna
akan merugikan tumpatan karena semen akan mudah larut dan daya
adhesi akan menurun.
d. Sifat Kimia
1. Semen Ionomer Kaca melekat dengan baik ke enamel dan dentin,
perlekatan ini berupa ikatan kimia antara ion kalsium dari jaringan
COOH dari Semen Ionomer Kaca.
2. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar daripada ikatannya dengan
dentin.
3. Dengan sifat ini maka kebocoran tepi tambalan dapat dikurangi.
4. Semen Ionomer Kaca tahan terhadap suasana asam.
2.1.3 Klasifikasi Glass Ionomer cement (GIC)
a. Berdasarkan Sifat Fisik dan Kimia:
1. Semen Ionomer Kaca Konvensional

Semen ionomer kaca secara luas digunakan untuk kavitas Klas V,


hasil klinis dari prosedur ini baik meskipun penelitian in vitro berpendapat
bahwa semen ionomer kaca modifikasi resin dengan ketahanan fraktur
yang lebih tinggi dan peningkatan kekuatan perlekatan memberikan hasil
yang jauh lebih baik (McCabe, 2008).
GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972
oleh Wilson dan Kent. Berasal dari asam polyalkenoat cair seperti asam
polyacrilic dan komponen kaca yang biasanya adalah fluoroaluminosilikat.
Saat bubuk dan cairandi campur terjadi reaksi asam basa kemudian asam
polyalkenoat mengalami percepatan hingga terjadi pengentalan sampai
semen mengeras. Ini dapat dijadikan sebagai bubuk kaca yang melepaskan ion dan
larut dengan campuran yang mengandung asam polyacrilic cair dengan
dikeringkan melalui pembekuan untuk dicampur dengan air murni. Pabrik
juga dapat menanbahkan sedikit asam tartaric pada air yang dapat
memperkirakan reaksi pengerasan yang lebih tepat (Gladwin, 2009).
2. Semen Ionomer Hybrid
Komponen bubuk terdiri dari partikel kaca ion-leachable
fluoroaluminosilicate dan inisiator untuk light curing atau chemical curing.
Komponen cairan biasanyaterdiri dari air dan asam polyacrylic atau asam
polyacrilyc yang dimodifikasidengan monomer methacrylate hydroxyethyl
methacrylate. Komponen yang dua terakhir bertanggung jawab untuk
polimerisasi. Reaksi pengerasan awal dari bahan ini terjadi melalui
polimerisasi dari gugus methacrylate. Reaksi asam basayang lambat pada
akhirnya akan bertanggung jawab pada proses pematangan yangunik dan
kekuatan akhir. Kandungan air secara keseluruhan lebih sedikit untuk tipe
ini untuk menampung bahan yang berpolimerisasi (Gladwin, 2009).
3. Semen Ionomer Tri-cure
Terdiri dari partikel kaca silicate, sodium florida dan monomer yang
dimodifikasi polyacid tanpa air. Bahan ini sangat sensitif terhadap cairan,
sehingga biasanya disimpan didalam kantong anti air. Pengerasan di awali

oleh foto polimerisasi dari monomer asam yang menghasil bahan yang
kaku. Selama restorasi digunakan bahan yang telah di pasang menyerap air
di dalam saliva dan menambah reaksi asam basa antara gugus fungsi asam
dengan matrix dan partikel kaca silicate. Reaksi asam basa yang di induce
memungkinkan pelepasan floridakarena tidak adanya air dalam formulasi,
pengadukan semen tidak self-adhesiveseperti semen ionomer kaca
konvensional dan hibrid. Sehingga dentin-bondingagent yang terpisah di
perlukan untuk kompomer yang digunakan sebagai bahan restorasi (Gladwin,
2009).
4. Semen Ionomer Kaca yang diperkuat dengan Metal
Semen glass ionomer kurang kuat, dikarenakan tidak dapat
menahan gaya mastikasi yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap
keausan penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti
komposit dan keramik (Anusavice, 2004).
b. Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Merk :
1. Type I Luting cements
SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen
mahkota, jembatan,veneer dan lainnya. Dapat digunakan sebagai liner
komposit. Secara kimiawi berikatan dengan dentin enamel, logam mulia
dan porselen. Memiliki translusensiyang baik dan warna yang baik,
dengan kekuatan tekan tinggi. SIK yang diberikanpada dasar kavitas akan
menghasilkan ion fluorida serta berkurangnya sensitifitasgigi,
perlindungan pulpa dan isolasi. Hal ini mengurangi timbulnya
kebocoranmikro ( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen inlay
komposit atau onlay (Craig, 2004).
2. Type II Restorasi
Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup
memuaskan, SIK juga digunakan untuk mengembalikan struktur gigi yang
hilang seperti abrasi servikal. Abrasi awalnya diakibatkan dari iritasi
kronis seperti kebiasaan menyikat gigi yang terlalu keras (Craig, 2004).

3. Type III Liners and Bases


Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti dentine,
dan komposit sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan lining dipersiapkan
dengan cepat untuk kemudian menjadi reseptor bonding pada resin
komposit (kelebihan air pada matriks SIK dibersihkan agar dapat
memberikan kekasaran mikroskopis yang nantinya akan ditempatkan oleh
resin sebagi pengganti enamel (Anusavice, 2009).
4. Type IV Fissure Sealants
Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant.
Pencampuran bahan dengan konsistensi cair, memungkinkan bahan
mengalir ke lubang dan celah gigi posterior yang sempit (Powers, 2008).
5. Type V - Orthodontic Cements
Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan bahan
resin komposit. Namun SIK juga memiliki kelebihan tertentu. SIK
memiliki ikatan langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion Polyacrylate
dan kristal hidroksiapatit, dengan demikian dapat menghindari etsa asam.
Selain itu, SIK memiliki efek antikariogenik karena kemampuannya
melepas fluor. Bukti dari tinjauan sistematis uji klinis menunjukkan tidak
adanya perbedaan dalam tingkat kegagalan braket Ortodonti antara resin
modifikasi SIK dan resin adhesif (Powers, 2008).
6. Type VI Core build up
Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core),
mengingat kemudahan SIK dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang
dihasilkan, dan baik dalam koefisien ekspansi termal. Saat ini, banyak SIK
konvensional yang radiopaque lebih mudah untuk menangani daripada
logam yang mengandung bahan-bahan lain. Namun demikian, banyak yang
menganggap SIK tidak cukup kuat untuk menopang inti (core). Maka
direkomendasikan bahwa gigi harus memiliki minimal dua dinding utuh
jika menggunakan SIK (Powers, 2008).

7. Type VII - Fluoride releasing


Banyak laboratorium percobaan telah mempelajari fluorida yang
dihasilkan SIK dibandingkan dengan bahan lainnya. Namun, tidak ada
review sistematis dengan atau tanpa meta-analisis yang telah dilakukan.
Hasil dari satu percobaan, dengan salah satu tindak lanjut periode
terpanjang, menemukan bahwa SIK konvensional menghasilkan fluorida
lima kali lebih banyak daripada kompomer dan 21 kali lebih banyak dari
resin komposit dalam waktu 12 bulan. Jumlah fluorida yang dihasilkan,
selama 24 jam periode satu tahun setelah pengobatan, adalah lima sampai
enam kali lebih tinggidari kompomer atau komposit yang mengandung
fluor (Craig, 2004)
8. Type VIII - ART (atraumatic restorative technique)
ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk digunakan
dinegara-negara dimana tenaga terampil gigi dan fasilitas terbatas namun
kebutuhan penduduk tinggi. Hal ini diakui oleh organisasi kesehatan
dunia. Teknik menggunakan alat-alat tangan sederhana (seperti pahat dan
excavator) untuk menerobos enamel dan menghapus karies sebanyak
mungkin. Ketika karies dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi dengan
menggunakan SIK viskositas tinggi. SIK memberikan kekuatan beban
fungsional (Craig, 2004).
9. Type IX - Deciduous teeth restoration
Restorasi gigi susu berbeda dari restorasi di gigi permanen karena
kekuatan kunyahdan usia gigi. Pada awal tahun 1977, disarankan bahwa
semen ionomer kaca dapat memberikan keuntungan restoratif bahan dalam
gigi susu karena kemampuan SIK untuk melepaskan fluor dan untuk
menggantikan jaringan keras gigi, serta memerlukan waktu yang cepat
dalam mengisi kavitas. Hal ini dapat dijadikan keuntungan dalam merawat
gigi pada anak-anak. Namun, masih diperlukan tinjauanklinis lebih lanjut
(Craig, 2004).

10

2.1.4 Kelebihan dan Kekurangan


a. Kelebihan
GIC dapat berikatan langsung dengan dentin dan enamel. Ikatan pada
dentin adalah ikatan hidrogen (Van noort, 2002). Kekuatan untuk berikatan
dengan enamel selalu lebih tinggi dari dentin karena semakin besarnya kandungan
anorganik dari enamel dan homogenitas yang lebih besar. GIC mempunyai
biokompatibilitas yang tinggi. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa ion
fluorida yang dilepaskan dari GIC dapat menghambat perkembangan karies
sekunder (Anusavice, 2003).
Glass Ionomer Cement menghasilkan fluor sehingga diindikasikan untuk
pasien yang rentan terhadap karies, selain itu juga memiliki kekuatan yang besar
dan dapat menahan beban saat oklusi. Sampai saat ini, dalam study klinis selama
tiga tahun bahkan lebih, GIC merupakan material yang mengahasilkan tingkat
retensi sebesar 100% di karies kelas V tanpa retensi mekanik atau etsa enamel.
GIC merupakan material yang dapat menghambat perlekatan bahan-bahan kimia
dalam permukaan gigi. GIC bersifat translucent sehingga cocok digunakan untuk
fungsi estetik. Kekuatan kompresif dari GIC lebih besar daripada zinc phosphate
cement. Modulus elastisitas GIC lebih besar daripada zinc polyacrilate cement,
serta GIC memiliki ikatan yang baik dengan enamel, stainless steel, timah oksidadilapisi platinum, dan gold alloy (Craig, 2002).
b. Kekurangan
Selain memiliki kelebihan, glass ionomer cement juga memiliki beberapa
kekurangan. Kekurangan tersebut diantaranya adalah ketahanan terhadap fraktur
dan jangka pemakaian rendah apabila dibandingkan dengan komposit atau
amalgam, GIC tradisional untuk penggunaan preparasi perbaikan oklusal
memiliki kekuatan yang rendah pada bagian dengan GIC yang tipis, hal ini dapat
mengakibatkan marginal chipping (Garg and Garg, 2013). GIC tradisional
cenderung lebih opaque dibandingkan dengan RMGIC (Resin modified glass
ionomer cement). Umumnya pada GIC tradisional dapat muncul noda yang
berasal dari eksogen (Noble, 2012).

11

GIC lebih rapuh dan juga rentan terhadap elastic deformation. GIC
memiliki initial setting yang lambat dan dapat menyebabkan iritasi pulpa, untuk
itu perlu diberi varnish terlebih dahulu (Koudi and Patil, 2007). Ketika ion dari
logam berat digunakan, hasil akhir dari material GIC akan tampak radiopaque
jika dilihat dengan sinar-x. Permukaan glass ionomer cement sensitif terhadap
kelembaban. GIC memiliki kekurangan mudah larut / solubility (Poor abrasion
resistance). Dengan kelarutan yang tinggi, mengalami banyak kehilangan material
dalam mulut (Craig, 2002).
2.1.5 Indikasi dan Kontraindikasi
a. Indikasi
1. Restorasi pada lesi erosi/abrasi tanpa preparasi kavitas
2. Penumpatan pit dan fisura oklusal
3. Restorasi gigi sulung
4. Restorasi lesi karies kl. V
5. Restorasi lesi karies kl. III lebih diutamakan yang pembukaannya arah
lingual
6. Reparasi kerusakan tepi restorasi mahkota (Craig, 2004).
b. Kontrandikasi
1. Kavitas-kavitas yang ketebalannya kurang
2. Kavitas-kavitas yang terletak pada daerah yang menerima tekanan
tinggi
3. Lesi karies kelas IV atau fraktur insisal
4. Lesi yang melibatkan area luas pada email labial yang menggutamakan
faktor estetika (Craig, 2004).
2.2 Reaksi Pengerasan Glass Ionomer Cement (GIC)
Reaksi pengerasan dimulai saat cairan asam polielektrolit berkontak
dengan permukaan kaca aluminosilikat yang kelak akan menghasilkan pelepasan
sejumlah ion.

12

Gambar 2.1. Reaksi pengerasan pada SIK.


(Sumber: Craigs Restorative Dental Materials)
SIK mengalami 3 fase reaksi pengerasan yang berbeda dan saling
overlapping. Fase pertama adalah fase pelepasan ion yang diawali reaksi
ionisasiradikal karboksil (COOH) yang terdapat dalam rantai asam (asam
poliakrilat)menjadi ion COO- (ion karboksilat) dan ion H+. Ion H+ bereaksi
pertama kalipada permukaan partikel kaca menyebabkan terlepasnya ion-ion
seperti Ca2+ dan Na+ ke dalam cairan. Kemudian ion H+ tersebut berpenetrasi
kembali hinggamencapai struktur yang kurang terorganisasi menyebabkan
terlepasnya ion Al3+. Saat fase ini, dilepaskan panas dengan suhu berkisar antara
3oC sampai 7oC. Semakin besar rasio bubuk dan cairan SIK maka panas yang
dilepaskan akan semakin besar (Craig, 2004).
Selama tahap awal tersebut terjadi, SIK berikatan dengan struktur gigi.
Secarafisik SIK terlihat berkilau. Penempatan pada struktur gigi harus dilakukan
padafase ini karena matriks poliasam bebas yang dibutuhkan untuk perlekatan ke
gigitersedia dalam jumlah yang maksimum. Pada tahap akhir dari fase pelepasan
ionini, yang ditandai dengan hilangnya tampilan berkilau SIK, matriks
poliasambebas bereaksi dengan kaca sehingga kurang mampu berikatan dengan
strukturgigi atau struktur lainnya (Craig, 2004).
Fase kedua dari reaksi pengerasan SIK adalah fase hidrogel. Fase hidrogel
terjadi 5 sampai 10 menit setelah pencampuran dilakukan. Selama fase ini, ion-

13

ionkalsium yang dilepas dari permukaan kaca akan bereaksi dengan rantai
poliasam polianionik yang bermuatan negatif untuk membentuk ikatan silang
ionik. Pada fase hidrogel ini mobilitas rantai polimer berkurang sehingga
menyebabkan terbentuknya gelasi awal matriks ionomer. Selama fase hidrogel
berlangsung,permukaan SIK harus dilindungi dari lingkungan yang lembab dan
kering karena ion kalsium yang bereaksi dengan rantai poliasam polianionik
mudah larutdalam air. Jika SIK tidak dilindungi, maka ikatan silang ionik yang
mudah laruttersebut akan melemahkan SIK secara keseluruhan dan terjadi
penurunan derajat translusensi sehingga turut mempengaruhi estetika (Craig,
2004).
Pada fase hidrogel ini, SIK memiliki bentuk yang keras dan opak.
Opaksitastersebut disebabkan adanya perbedaan yang besar pada indeks refraksi
antarafiller kaca dan matriks. Opaksitas SIK ini sifatnya sementara dan
akanmenghilang selama reaksi pengerasan akhir terjadi. Fase terakhir adalah gel
poligaram, yang terjadi ketika SIK mencapai pengerasan akhir, dapat berlanjut
selama beberapa bulan. Matriks yang terbentuk akan menjadi mature ketika ionion aluminium, yang pelepasannya dari permukaan kaca lebih lambat, terikat ke
dalam campuran semen membantu membentuk hidrogel poligaram yang
menyebabkan semen menjadi lebih kaku (Anusavice, 2003).
Fase gel poligaram ini menyebabkan SIK terlihat lebih menyerupai gigi,
disebabkan indeks refraksi gel silika yang mengelilingi filler kaca hampir sama
dengan matriks. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya penyebaran cahaya dan
opaksitas. Jika SIK masih terlihat opak, maka hal tersebut mengindikasikan
bahwa gel poligaram tidak terbentuk disebabkan karena adanya kontaminasi air.
SIK yang telah mengeras secara sempurna terdiri atas tiga komponen, yaitukaca
pengisi, gel silika, dan matriks poliasam (Anusavice, 2003).
2.3 Prinsip-prinsip Preparasi Kavitas
Beberapa aturan preparasi yang perlu diikuti untuk restorasi gigi permanen
yang karies. Restorasi gigi sulung masih mengikuti prinsip preparasi Black
dengan beberapa modifikasi (Abu, 2002).
Prinsip prinsip Black untuk preparasi kavitas ada tujuh, yaitu :

14

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Outline form.
Removal of caries (Membuang jaringan karies).
Resistance form (Membuat bentuk resistensi).
Retention form (Membuat bentuk retensi).
Convenience form.
Finishing the enamel margin (Menghaluskan dinding / tepi kavitas).
Toilet of the cavity (Membersihkan kavitas dari debris) (Abu, 2002).

1. Outline form
Outline form yaitu pola menentukan bentuk luar suatu preparasi kavitas
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan outline form antara
lain:Tempat atau permukaan yang mudah diserang karies harus dimasukkan dalam
outline form:
a) Semua pit, fisur dan developmental groove yang terkena karies harus
dimasukkan dalam outline form
b) Tonjol tonjol gigi sebaiknya tidak dimasukkan dalam outline form.
c) Harus diusahakan jangan samapi ada dinding enamel yang tipis.
d) Extention for prevention dari Black menyatakan bahwa tepi tepi
kavitas harus ditempatkan pada daerah daerah gigi yang imun
terhadap karies, yaitu pada tempat tempat di mana kemungkinan
terjadinya karies kecil (Abu, 2002).
Perluasan preparasi dapat dilakukan ke arah :
a. Oklusal.
b. Mesial, distal
c. Bukal, lingual, palatinal
d. Servikal, gingival. Pelebaran ke arah oklusal dalam prinsipnya harus
dimasukkan pit dan Fisur
e. Jangan membiarkan overhanging enamel yang tidak didukung oleh dentin
yang sehat karena enamel yang demikian sangat rapuh.
f. Bila ada dua kavitas pada fisur dipisahkan oleh lapisan enamel yang tipis,
maka lapisan enamel itu sebaiknya dipreparasi juga (Abu, 2002).
2. Removal of caries (Membuang jaringan karies)
Membuang jaringan karies atau yang diduga akan karies digunakan
ekskavator atau bur bulat kecepatan rendah. Pada kvitas yang dangkal dilakukan
serentak karena jaringan karies sudah terambil ketika membentuk resistance dan
retention form. Karies tidak boleh ditinggalkan dalam kavitas karena bila terjadi

15

kebocoran tumpatan, bakteri yang tinggal di kavitas akan menjadi aktif (Abu,
2002).
3. Resistance form (Membuat bentuk resistensi)
Resistance form bertujuan membentuk preparasi kavitas sedemikian rupa
sehingga gigi dan tumpatan cukup kuat menerima tekanan serta menahan daya
kunyah. Hal hal yang perlu diperhatikan adalah enamel yang tidak disokong
dentin yang sehat dibuang. Bila pada kavitas Klas II overhanging enamel
sedemikian besar, enamel yang tidak disonkong dentin sehat perlu dihilangkan.
Dengan demikian akan menyebabkan sisa jaringan gigi menjadi tipis. Dalam hal
ini perlu diisi terlebih dahulu bagian undermine (dasarnya) dengan semen Zn
fosfat (Abu, 2002).
4. Retention form
Retention form bertujuan membentuk kavitas sedemikian rupa sehingga
tumpatan tersebut memperoleh pegangan yang kuat dan tidak mudah bergeser
terhadap daya kunyah. Tumpatan tidak lepas ketika gigi berfungsi (Abu, 2002).
5. Convenience form
Convenience form adalah upaya membentuk kavitas sedemikian rupa
sehingga memudahkan untuk bekerja dengan alat alat, baik dalam hal preparasi
maupun memasukkan bahan tumpatan ke dalam kavitas. Pembuatan conviniece
form untuk preparasi tumpatan amalgam diperlukan juga sehingga meluaskan
lapangan penglihatan pada waktu preparasi.

6. Finishing the enamel margin (Menghaluskan dinding / tepi kavitas)


Finishing the enamel margin adlah tindakan untuk membuat dinding yang
halus dan rata dengan tujuan mendapatkan kontak marginal yang baik (Abu,
2002).
7. Toilet of the cavity (Membersihkan kavitas debris / sisa sisa preparasi)
Toilet of cavity yaitu bertujuan membersihkan kavitas dari debris / sisa sisa
preparasi. Tingkatan pekerjaan preparasi kavitas yang terakhir ini ialah :
a. Kavitas dibersihkan dari debris dengan air.

16

b. Kavitas diperiksa lagi pada kavitas, mungkin masih terdapat jaringan karies
yang harus segera dikeluarkan.
c. Kemudian dinding dinding kavitas, diulas dengan alkohol atau stelirizing
agent lain, dan dikeringkan dengan semprotan udara. Kavitas yang telah
memenuhi syarat tersebut di atas harus tetap dijaga terhadap semua kotoran
kotoran, kuman kuman dan saliva dengan memblokir kelenjar ludah dengan
cotton roll sebelum pemberian basis dan mengisi tumpatan (Abu, 2002).
2.4 Teknik Preparasi
a. Kelas III
Lesi akibat karies terdapat pada permukaan proksimal pada gigi anterior
sulung sering dijumpai di daerah kontak dan hal ini menunjukkan keadaan karies
yang aktif. Anak dengan lesi tersebut memerlukan suatu tindakan pencegahan
yang efektif. Bila setelah pembuangan jaringan karies tampak kedalaman karies
belum mengenai dentin dan tidak melibatkan bagian insisal, maka dapat ditumpat
dengan teknik restorasi klas III konvensional. Bahan tumpatan yang dipilih adalah
bahan tumpatan sewarna dengan sistem ikatan.
Restorasi kelas III GIC
Alat yang diperlukan: hand piece, bur (seperti bur diamond, stone bur, bur
sikat dan rubber cup), pinset, ekskavator, burnisher, spatula, glass slab. Sedangkan
bahannya adalah bahan restorasi GIC (Fuji IX)

Cara Preparasi Kavitas :


1. Tentukan batas garis luar kavitas
2. Untuk mendapat akses ke dentin yang terkena karies. Jika gigi tetangga
masih ada maka dilakukan dengan bur tungsten carbide atau bur intan
dengan kecepatan tinggi melalui ridge tepi email dan aspek palatal
(gambar 2).
3. Dinding labial sebaiknya dipertahankan
4. Perluasan dinding email dipermukaan palatal ke arah palatal, insisal
maupun gingival dilakukan dengan bur bulat kecil.

17

5. Retensi (groove stabilisasi) dibuat dengan bur bulat kecil ke arah gingival
dan insisal
6. Kavitas siap untuk ditumpat (gambar 3).

Gambar 2. Akses lesi melalui palatal

Gambar 3. Kavitas siap ditumpat

1. Kavitas dibersihkan dengan menggunakan dentin kondisioner selama 30


detik, kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan dan semprotan udara
(tidak boleh terlalu kering).
2. Sisipkan celluloid strip diantara gigi.
3. Campur GIC sesuai dengan petunjuk pabrik.

18

4. Letakkan GIC pada kavitas dengan plastis instrument yang datar,


perhatikan jangan sampai ada bagian yang kurang.
5. Lingkari celluloid strip pada gigi dan tahan di tempatnya. Buang kelebihan
GIC yang keluar, strip ditahan sampai GIC mengeras.
6. Varnish tumpatannya.
7. Pemolesan Glass Ionomer Cement (GIC)
8. Pada kunjungan berikutnya penghalusan akhir bisa dilakukan dengan
menggunakan bur batu putih (white stone), bur tungsten carbide dan karet
abrasif dengan kecepatan rendah.
b. Kelas V
Karies klas V : karies yang terdapat pada 1/3 cervical dari permukaan bukal /
labial atau lingual/ palatal dari seluruh gigi (Williams, 1979).
Tahap preparasi (Williams, 1979) :
1. Desain outline tergantung pada karies yang mengenai gigi, bisa
seperti ginjal pada sepertiga servical , kurang lebih 1 mmm dari
servikal.
2. Dengan menggunakan round bur di tengah-tengah outline dengan
kedalaman kurang lebih 2,5 mm
3. Dilanjutkan dengan menggunakan fissure bur pada dindingdinding kavitas. Preparasi diperluas sampai cavo surface line angel
didukung dentin yang utuh. Dinding preparasi bisa dibuat divergen
ke arah oklusaluntuk mendapatkan margincavosurface yang 90
derajat.
4. Retensinya berupa undercut pada dinding insisal dan dinding
gingival dengan inverted bur atau round bur kecil.
5. Bevel dibuat pada seluruh bagian preparasi yang dikelilingi oleh
email tetapi tidak dibuat pada preparasi yang berakhir pada
sementum.

19

Gambar 1. Sebuah kelas V rongga di tengah gigi seri atas kanan.

Gambar 2. Penyusunan rongga ini diprakarsai oleh scribing alur circumferentially


ke kedalaman lesi membusukkan gigi atau tulang menggunakan GW-1 tetapi
karbida.

Gambar 3. Lapisan dentin membusukkan gigi atau tulang yang memisahkan diri
dengan sapuan kuas seperti menggunakan GW-330 tetapi karbida.

20

Gambar 4. Sebuah RA-6 Smartbur digunakan pada 650 rpm untuk


menghapus sisa dentin yang terinfeksi unremineralizable dan menghindari
eksposur pulpa yang tidak perlu.

Gambar 5. Untuk mencapai transisi yang harmonis, halus, dan estetika di


antarmuka marjinal, sebuah cekukan miring dibuat menggunakan Diamond Bur
868-024 berbentuk kasar.

2.5 Prosedur Restorasi Glass Ionomer Cement (GIC)


Prinsip prinsip Black untuk preparasi kavitas ada tujuh, yaitu outline form,
removal of caries (membuang jaringan karies), resistance form (membuat bentuk
resistensi), Retention form (membuat bentuk retensi), convenience form, finishing
the enamel margin (menghaluskan dinding / tepi kavitas), toilet of the cavity
(membersihkan kavitas dari debris).

21

Prosedur yang harus dilakukan yaitu:


a. Isolasi gigi
Isolasi memerlukan pemasangan isolator yang tepat. Alat ini akan mengisolasi
ruang pulpa dari saliva dan darah serta melindungi gingival dari instrument.
b. Preparasi kavitas:
- Membuka kavitas dengan round bur, bersihkan jaringan kariesnya dengan
ekskavator.
- Dengan bur fissure bentuk dinding-dinding kavtas sesuai dengan outline
form yaitu bentuk ginjal.
- Beri retensi berupa undercut di seluh tepi kavitas dengan inverted/ round bur
yang kecil.
c. Aplikasi dentin conditioning yaitu asam poliakrilat 25% selama 10 detik
Dentin kondisioner merupakan bahan yang digunakan untuk meningkatkan
perlekatan bahan glass ionomer dan dentin, dengan cara menghilangkan smear
layer dentin bagian luar untuk membantu ikatan bahan restorasi adhesif
seperti bahan bonding dentin. Hal ini berperan dalam mencegah penetrasi
mikroorganisme atau bahan-bahan kedokteran gigi yang dapat mengiritasi
jaringan pulpa. Bahan yang biasanya digunakan adalah asam poliakrilat 25%
yang diaplikasikan selama 10-20 detik. Kemudian dilakukan pembilasan,
pembilasan merupakan hal penting untuk mendapatkan hasil yang diinginkan,
setelah itu kavitas dikeringkan.4
d. Manipulasi glass ionomer cement
Ada beberapa cara untuk memanipulasi GIC, antara lain:5
1. Mekanis, untuk GIC pada sediaan kapsul, menggunakan amalgamator.
2. Manual, ada 3 cara yaitu circular motion (gerakan memutar berlawanan arah
jarum jam), figure eight motion (gerakan membentuk angka 8 biasanya untuk
sediaan pasta), dan fold and press motion (diusapkan ke arah tengah
kemudian ditekan).
e. Masukan semen yg telah diaduk kedalam kavitas dan tempatkan matrik/
f.
g.
h.
i.

celluloid strip yang sesuai


Biarkan mengeras sesuai petunjuk pabrik (umumnya 4-6 menit)
Lepaskan matrik & secepatnnya ulaskan varnish
Potong kelebihan semen dengan menggunakan eskavator
Finishing & polishing setelah 24 jam, dengan menggunakan grinding

strip/paper disk yang diberi vaselin/ bur alpine putih yang diberi vaselin.
j. Pemolesan dilakukan dengan Arkansas yang diolesi dengan Vaseline.
2.6 Alat Tumpat

22

a. Agate Spatel, sebagai pencampur / pengaduk bahan tumpatan GIC

b. Paper Pad, sebagai alas pencampur bahan GIC

c. Ball Applicator, digunakan untuk memasukkan bahan tumpat kedalam


kavitas yang dalam

d. Sonde, untuk mengukur atau menilai apakah bahan elah setting

e. Plastis Filling Instrument, digunakan untuk memasukkan bahan tumpatan


ke kavitas yang kurang dalam
f. Condenser, digunakan untuk memadatkan bahan tumpatan GIC.
2.7 Faktor yang mempengaruhi keberhasilan penumpatan
Berikut adalah beberapa factor yang berpengaruh terhadap keberhasilan
Restorasi plastis, diantaranya yaitu:
1. Teknik isolasi yang baik.
Teknik isolasi yang baik akan dapat membantu terciptanya keberhasilan
restorasi yang dilakukan. Isolasi yang baik akan memberikan wilayah kerja yang
tepat, tanpa mengganggu daerah gigi tetangga, dan memberikan batas yang baik
agar daerah yang dipreparasi tidak terkontaminasi dengan saliva. Bila terdapat
kontaminasi air sebelum setting pada bahan yang mengandung zinc, akan timbul

23

reaksi antara zinc (anoda) dan bahan logam lain yang bersifat katoda dan air
sebagai elektrolit, hydrogen terlepas sebagai hasil reaksi ini serta tekanan uap
hydrogen dapat menyebabkan pergeseran amalagam sehingga terjadi ekspansi
yang mungkin tidak kelihatan dalam 24 jam tetapi dapat muncul beberapa hari
setelah penambalan.
2. Pemilihan bahan tumpatan yang tepat.
Bahan tumpatan dipilih berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan yang
melibatkan posisi restorasi. Apabila bahan tumpat yang biasa digunakan untuk
restorasi kavitas di bagian anterior dipakai untuk restorasi kavitas posterior, maka,
tentunya bahan tersebut tidak akan mampu menahan beban mastikasi di bagian
posterior dan sebaliknya.
3. Design kavitas yang sesuai.
Design kavitas yang baik hendaknya mempertimbangkan segi retensi,
resistensi, convenience, dan ekstension for prevention. Apabila hal keempat
tersebut terpenuhi, maka karies sekunder sulit sekali timbul, dan daya tahan
restorasi akan menjadi semakin lama. Karies sekunder biasanya disebabkan oleh
preparasi yang tidak memenuhi criteria ekstension for prevention, yaitu pit dan
fissure yang dalam harus diikutsertakan pada preparasi walaupun tidak terkena
karies. Juga criteria removal of caries, yaitu penghilangan jaringan yang
terinfeksi. Apabila kedua criteria tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi karies
sekunder.

4. Teknik manipulasi bahan restorasi plastis.


Cara manipulasi bahan restorasi plastis berbeda-beda untuk tiap bahan,
dengan berbagai ketentuan tertentu. Apabila hal ini tidak diikuti dengan baik,
maka akan berpengaruh terhadap kekuatan sifat mekanisnya, ekspansifnya, dan
dikhawatirkan akan menyebabkan mikroporositas yang menjadi penyebab karies
sekunder. Pengetahuan akan teknik manipulasi beserta cara pengaplikasian bahan
menjadi syarat utama dalam keberhasilan restorasi yang dilakukan.
5. Proses polishing.

24

Proses polishing dilakukan sesuai dengan waktu pengerasan sempurna


tiap-tiap bahan. Polishing pada GIC boleh dilakukan setelah 5 menit, namun
polishing pada amalgam tidak boleh dilakukan sebelum tumpatan mencapai 24
jam karena reaksi pengerasan amalgam terjadi secara sempurna setelah 24 jam
atau lebih, apabila polishing dilakukan kurang dari 24 jam maka akan
mempengaruhi kekuatan amalgam. Kekuatan amalgam akan turun dan ketika
dilakukan polishing kemungkinan bisa pecah.
6. Teknik finishing.
Untuk stone hijau digunakan untuk finishing tumpatan amalgam
sedangkan stone putih digunakan untuk finishing tumpatan GIC atau komposit.
Apabila tidak dilakukan finishing maka permukaan amalgam menjadi kasar
sehingga adanya penumpukan makanan dan menyebabkan suasana asam yang
dapat menyebabkan karies sekunder pada gigi sekitar tumpatan dan dapat
menyebabkan tarnish (pada permukaan dan tidak merusak restorasi) dan korosi
(hasil dari reaksi kimia yang dapat berpenetrasi ke dalam tumpatan amalgam
sehingga menjadi rusak).
2.8 Bahan Pelindung GIC
Keluar masuknya air dari GIC dalam 24 jam pertama akan menurunkan
sifat fisik dan estetik, sehingga diperlukan lapisan pelindung yang kedap air.
Beberapa lapisan pelindung yang saat digunakan adalah varnis dan bonding
Varnis merupakan larutan resin, shellac, copal, sandarac, dan medikamen
lain dalam pelarut yang mudah menguap seperti eter atau alkohol. Pada
penguapannya, varnis membentuk lapisan tipis yang lengket atau film yang
merupakan barier terhadap efek berbahaya dari cairan atau bahan pengiritasi.
Varnis yang diaplikasikan di atas permukaan GIC bertujuan untuk mencegah
kontaminasi air dan saliva selama 24 jam pertama setelah penempatan tumpatan
GIC di dalam kavitas.15 Selain itu, varnis juga digunakan untuk melindungi GIC
yang belum mengeras secara sempurna dari pengeringan akibat perubahan
mekanisme hilangnya air. Komposisi yang terdapat di dalam varnis yang
digunakan sebagai bahan pelindung GIC di bawah ini:
a. Komposisi % komponen kimia berdasarkan berat

25

b. Asetat isopropyl 60-70%


c. Aseton 14%
d. Kopolimer kloride vinil dan asetat vinil 14%

Komposisi manipulasi

Aplikasi pelindung

rasio bubuk dan cairan

setelah 5 menit
pengaplikasian GIC

SIK

Desikasi

KEKERASAN

absorpsi
Keterangan: Walaupun komposisi, manipulasi, dan rasio bubuk serta cairan
pada SIK telah diperhitungkan dengan cermat, namun bahan tambal GIC ini
tetap rentan terhadap absorpsi dan desikasi terhadap air pada tahap awal setelah
dilakukan pengadukan, sehingga diperlukan aplikasi pelindung GIC yang
kedap air seperti varnis dan bonding agent pada 5 menit pertama setelah
manipulasi GIC. Dengan aplikasi pelindung GIC ini maka penurunan sifat
fisik, seperti kekerasan dapat dicegah.

2.9 Atrisi, Abrasi dan Erosi


a. Atrisi
Atrisi adalah hilangnya struktur oklusal atau insisal gigi akibat dari
gesekan gigi kegigi yang kronis meskipun keadaan tersebut terjadi paling
sering pada orang tua, gigi sulung dari anak muda juga dapat mengalami.
Atrisi biasanya merupakan keadaan yang menyeluruh yang di percepat
oleh bruksisme.

26

b. Abrasi
Abrasi adalah hilangnya struktur gigi secara patologis akibat dari keausan
mekanis yang abnormal. Berbagai hal dapat menyebabkan abrasi, tetapi
bentuk yang paling umum adalah abrasi sikat gigi yang membuat lekuk
berbentuk V dibagian servikal dari permukaan vasial suatu gigi.

c. Erosi
Erosi adalah hilangnya atau rusaknya lapisan permukaan gigi atau enamel
yang di sebabkan oleh zat yang bersifat asam, untuk menghindari
terjadinya erosi harus kumur setelah mengkonsumsi makanan ataupun
minuman yang mengandung asam dan biasakan menggunakan sedotan
pada saat minum yg mengandung asam agar tidak langsung mengenai
permukaan gigi.