Anda di halaman 1dari 22

Biaya Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk


jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari
pembelian local, impor, atau cari pengolahan sendiri. Di dalam memperoleh bahan
baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan sejumlah biaya-biaya pembelian,
pergudangan, dan biaya-biaya perolehan lain.
System Pembelian
Transaksi pembelian local bahan baku melibatkan bagian-bagian produksi,
bagian gudang, bagian pembelian, bagian penerimaan barang, dan bagian
akuntansi. Dokumen sumber dan dokumen pendukung yang dibuat dalam transaksi
pembelian local bahan baku adalah surat permintaan pembelian, surat order
pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur dari penjual.
System pembelian local bahan baku terdiri dari prosedur permintaan
pembelian, prosedur order pembelian, prosedur penerimaan barang, prosedur
pencatatan penerimaan barang digudang, dan prosedur pencatatan utang yang
timbul dari pembelian bahan baku.
1. Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku. Jika persediaan bahan baku
yang ada di gudang sudah mencapai jumlah tingkat minimum pemesanan
kembali (reorder point), bagian gudang kemudian membuat surat permintaan
pembelian (purchase requisition) untuk dikirimkan ke bagian pembelian.

2. Prosedur Order Pembelian. Bagian pembelian melaksanakan pembelian atas


dasar surat permintaan pembelian dari bagian gudang. Untuk pemilihan
pemasok, bagian pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran harga
(purchase price quotation) kepada para pemasok, yang berisi permintaan
informasi harga dan syarat-syarat pembelian dari masing-masing pemasok
tersebut. Setelah pemasok yang dianggap baik kemudian dipilih, bagian
pembelian kemudian membuat surat order pembelian untuk dikirimkan kepada
pemasok yang dipilih.
3. Prosedur Penerimaan Bahan Baku. Pemasok mengirimkan bahan baku
kepada perusahaan sesuai dengan surat order pembelian yang diterimanya.
Bagian penerimaan yang bertugas menerima barang, mencocokkan kualitas,
kuantitas, jenis serta spesifikasi bahan baku yang diterima telah sesuai dengan
surat order pembelian, bagian penerimaan membuat laporan penerimaan
barang untuk dikirimkan kepada bagian akuntansi.
4. Prosedur Pencatatan Penerimaan Bahan Baku di Bagian Gudang. Bagian
penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok kepada
bagian gudang. Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan mencatat
jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card) pada kolom
diterima. Kartu gudang ini digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat
mutasi tiap-tiap jenis barang gudang. Kartu gudang hanya berisi informasi
kuantitas tiap-tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi
informasi mengenai harganya. Catatan dalam kartu gudang ini diawasi dengan
catatan yang diselenggarakan oleh bagian akuntansi yang berupa kartu

persediaan (sebagai rekening pembantu persediaan). Bagian gudang


disamping mencatat mutasi barang gudang dalam kartu gudang, juga mencatat
barang dalam kartu barang (inventory tag), yang ditempelkan atau
digantungkan pada tempat penyimpanan masing-masing jenis barang.
5. Prosedur Pencatatan Utang yang Timbul dari Pembelian Bahan Baku.
Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian
pembelian memberikan tanda tangan diatas faktur pembelian, sebagai tanda
persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi
syarat-syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan. Faktur pembelian
yang telah ditandatangani oleh bagian pembelian tersebut diserahkan kepada
bagian akuntansi. Dalam transaksi pembelian bahan baku, bagian akuntansi
memeriksa

ketelitian

perhitungan

dalam

faktur

pembelian

dan

mencocokkannya dengan informasi dalam tembusan surat order pembelian


yang diterima dari bagian pembelian dan laporan penerimaan barang yang
diterima dari bagian penerimaan. Faktur pembelian, yang dilampiri dengan
tembusan surat order pembelian dan laporan penerimaan barang dicatat oleh
bagian akuntansi dalam jurnal pembelian. Setelah dicatat dalam jurnal
pembelian beserta dokumen pendukungnya tersebut dicatat dalam kartu
persediaan (sebagai rekening pembantu persediaan bahan baku) pada kolom
diterima. Faktur pembelian dan dokumen pendukungnya kemudian dicatat
dalam kartu hutang (sebagai rekening pembantu utang) untuk mencatat
timbulnya hutang kepada pemasok yang bersangkutan.

A. Biaya yang diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang dibeli
Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk
menempatkannya dalam keadaan untuk siap diolah, merupakan unsur harga
pokok bahan baku yang dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan baku tidak
hanya berupa harga yang tercantum dalam faktur pembelian saja. Harga pokok
bahan baku terdiri dari harga beli (harga yang tercantum dalam faktur
pembelian) ditambah dengan biaya-biaya pembelian dan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk
diolah.
Harga beli dan biaya angkutan merupakan unsur yang mudah
diperhitungkan sebagai harga pokok bahan baku, sedangkan biaya-biaya
pesan, biaya penerimaan, biaya pembongkaran, biaya pemeriksaan, asuransi,
pergudangan, dan biaya akuntansi bahan baku, merupakan unsur-unsur biaya
yang sulit diperhitungkan kepada harga pokok bahan baku yang dibeli. Di
dalam praktek, pada umumnya harga pokok bahan baku hanya dicatat sebesar
harga beli menurut faktur dari pemasok. Hal ini dilakukan karena pembagian
biaya pembelian kepada masing-masing jenis bahan baku dalam faktur
seringkali memerlukan biaya akuntansi yang mungkin lebih besar bila
dibandingkan dengan manfaat ketelitian perhitungan harga pokok yang
diperoleh. Sebagai akibatnya, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
bahan baku dan untuk menjadikan bahan baku dalam keadaan siap untuk
diolah, pada umumnya diperhitungkan sebagai unsur biaya overhead pabrik.

Apabila didalam pembelian bahan baku, pemasok memberikan


potongan tunai (cash discount), maka potongan tunai ini diberlakukan sebagai
pengurangan terhadap harga pokok bahan baku yang dibeli. Seringkali
didalam pembelian bahan baku, perusahaan membayar biaya angkutan untuk
berbagai macam bahan baku yang dibeli. Hal ini menimbulkan masalah
pengalokasian biaya angkutan tersebut kepada masing-masing jenis bahan
baku yang diangkut. Perlakuan terhadap biaya angkutan ini dapat dibedakan
sebagai berikut:
1. Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku
yang dibeli. Apabila biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga
pokok bahan baku yang dibeli, maka alokasi biaya angkutan kepada
masing-masing jenis bahan baku yang dibeli dapat didasarkan pada :
perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang dibeli, perbandingan
harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli, biaya angkutan
diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan
tariff yang ditentukan di muka.
2. Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan
baku yang dibeli, namun diperlakukan sebagai unsur biaya overhead
pabrik. Dengan cara ini, biaya angkutan tidak diperhitungkan sebagai
tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli, namun diperlakukan
sebagai unsur biaya overhead pabrik. Pada awal tahun anggaran, jumlah
biaya angkutan yang akan dikeluarkan selama satu tahun ditaksir. Jumlah
taksiran biaya angkutan ini diperhitungkan sebagai unsur biaya overhead

pabrik. Biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan kemudian dicatat


dalam sebelah debit rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya.

B. Biaya Unit Organisasi yang Terkait dalam Perolehan Bahan Baku


Dalam pembelian bahan baku, unit organisasi yang terkait dalam
pembelian bahan baku adalah bagian pembelian, bagian penerimaan, bagian
gudang, dan bagian akuntansi persediaan. Oleh karena itu, apabila biaya
pembelian akan diperhitungkan sebagai harga pokok bahan baku, maka biayabiaya bagian pembelian, gudang, dan akuntansi persediaan harus
diperhitungkan.
Biaya-biaya masing-masing bagian yang terkait dalam pembelian
bahan baku tersebut sebagian besar belum dapat diperhitungkan pada saat
bahan baku yang dibeli diterima di gudang. Dengan demikian akan timbul
kesulitan dalam memperhitungkan biaya pembelian sesungguhnya yang harus
dibebankan kepada harga pokok bahan baku yang dibeli. Untuk mengatasi hal
ini perlu dibuat tariff pembebanan biaya pembelian kepada setiap jenis bahan
baku yang dibeli.
Jika biaya pembelian dibebankan kepada bahan baku yang dibeli atas
dasar tariff, maka perhitungan tariff biaya pembelian dilakukan sebagai
berikut:
1. Jumlah biaya tiap bagian yang terkait dalam transaksi pembelian bahan
baku tersebut diperkirakan selama satu tahun anggaran.

2. Ditentukan dasar pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut dan ditaksir


berapa jumlahnya dalam tahun anggaran.
3. Ditentukan tariff pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut dengan cara
membagi biaya tiap bagian dengan dasar pembebanan.
Tariff Pembebanan Biaya
Bagian

Dasar Pembebanan
Pembelian

Pembelian

Jumlah

frekuensi Tariff per transaksi pembelian

pembelian

atau atau tariff setiap jumlah harga

volume pembelian
Penerimaan

Jumlah macam bahan Tariff per macam bahan yang


yang diterima

Gudang

faktur pembelian

Jumlah

diterima
macam Tariff per macam bahan, per

bahan, kuantitas, atau meter kubik, atau per nilai rupiah


nilai rupiah

bahan baku yang disimpan di


gudang

Akuntansi

Jumlah

frekuensi Tariff per transaksi pembelian

persediaan

pembelian

Biaya-biaya yang sesungguhnya dikeluarkan oleh bagian pembelian,


penerimaan, gudang, dan akuntansi persediaan didebitkan dalam rekening
biaya masing-masing bagian yang dibebankan. Bila terjadi selisih dalam
rekening-rekening

biaya

masing-masing

bagian

yang

dibebankan,

perlakuannnya sama dengan perlakuan terhadap selisih yang terdapat dalam


rekening biaya angkutan.

C. Unsur Biaya yang diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang di
Impor
Apabila bahan baku diimpor, unsur harga pokoknya akan berbeda
dengan apabila bahan baku tersebut dibeli dari dalam negeri. Dalam
perdagangan luar negeri, harga barang yang disetujui bersama antara pembeli
dan penjual akan mempengaruhi biaya-biaya yang menjadi tanggungan
pembeli. Bahan baku dapat diimpor dengan syarat harga free alongside ship
(FAS), free on board (FOB), cost and freight (C & F), atau cost, insurance, and
freight (C.I. & F). Pada harga C&F pembeli menanggung biaya asuransi laut
dan penjual menanggung biaya angkutan lautnya. Pada harga C.I. &F, pembeli
hanya menanggung biaya-biaya untuk mengeluarkan bahan baku dari
pelabuhan pembeli dan biaya-biaya lain sampai barang tersebut diterima di
gudang pembeli. Dalam harga C.I.& F biaya angkutan laut beserta asuransi
lautnya sudah diperhitungkan oleh penjual dalam harga barang.

D. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku yang dipakai dalam Produksi


Karena dalam satu periode akuntansi seringkali terjadi fluktuasi harga,
maka harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dengan
yang lain. Oleh karena itu persediaan bahan baku yang ada di gudang
mempunyai harga pokok persatuan yang berbeda-beda, meskipun jenisnya

sama. Hal ini menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan baku
yang dipakai dalam produksi.
Untuk mengatasi maslah ini diperlukan berbagai macam metode
penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (materials
costing methods), diantaranya adalah:
1. Metode Identifikasi Khusus.
Dalam metode ini setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus
diberi tanda pada harga pokok persatuan berapa bahan baku tersebut
dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga per satuannya berbeda
dengan harga per satuan bahan baku yang sudah ada di gudang, harus
dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan
tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada
digudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan
baku dapat diketahui harga pokok per satuannya secara tepat.
Kesulitan yang timbul dari pemakain metode ini adalah terletak
dalam penyimpanan bahan baku di gudang. Meskipun jenis bahan bakunya
sama, namun jika harga pokok per satuannya berbeda, bahan baku tersebut
harus disimpan secara terpisah, agar mudah diidentifikasi pada saat
pemakaiannya nanti. Metode ini merupakan metode yang paling teliti
dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi,
namun seringkali tidak praktis. Metode ini sangat efektif dipakai apabila
bahan baku yang dibeli bukan merupakan barang standard dan dibeli untuk
memenuhi pesanan tertentu. Perusahaan yang memakai metode harga

pokok pesanan seringkali memakai metode identifikasi khusus untuk bahan


baku yang tidak disediakan dalam persediaan gudang dan memakai metode
penentuan harga pokok yang lain untuk bahan baku yang biasa dipakai
dalam produksi.

2. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama.


Metode ini menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa
harga pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang,
digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali dipakai.
Perlu ditekankan disini bahwa untuk menentukan biaya bahan baku,
anggapan aliran biaya tidak harus sesuai dengan aliran fisik bahan baku
dalam produksi. Metode ini digunakan untuk memperoleh keuntungan yang
banyak dan dengan keuntungan yang banyak maka pajaknya juga tinggi.

Misal pada tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian dan pembelian bahan baku selama Januari sbb:
06/1

Pemakaian

15/1

Pembelian 1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1

Pembelian

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

21/1

Pemakaian 1.000 Kg

Jumlah Pembelian

600 Kg

700 Kg

Rp 4.800.000,-

10

Saldo tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:


500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian 600 Kg, Rinciannya:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,100 kg @Rp 2.600,- = Rp
Biaya

260.000,-

= Rp 1.510.000,

Rerata harga bahan baku terpakai @Rp 2.516,67


Sisa Bahan Baku

200Kg

@Rp 2.600,-

Rp 520.000,-

15/1 Pembelian

1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1 Pembelian

700 Kg

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

Pemakaian 1000Kg, rinciannya:


200 Kg @Rp 2.600,-

Rp 520.000,-

800 Kg @Rp 2.700

Rp 2.160.000,-

Biaya

Rp 2.680.000,-

Rerata harga bahan baku terpakai @Rp 2.680,Sisa Bahan Baku


200Kg @Rp 2.700,-

Rp 540.000,-

700 Kg @Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

3. Metode Masuk Terkahir Keluar Pertama.


Metode ini menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok persatuan bahan

11

baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk


menentukan harga pokok bahan baku yang pertama kali dipakai dalam
produksi. Metode ini akan menghasilkan keuntungan sedikit, dengan
keuntungan sedikit maka pajaknya pun juga rendah, sehingga perusahaan
yang menggunakan metode ini perusahaan ingin menghindari pajak yang
tinggi.

Misal pada tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian dan pembelian bahan baku selama Januari sbb:
06/1

Pemakaian

600 Kg

15/1

Pembelian 1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1

Pembelian

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

21/1

Pemakaian 1.000 Kg

700 Kg

Jumlah Pembelian

Rp 4.800.000,-

Saldo tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:


500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian 600 Kg, Rinciannya:
300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,300 kg @Rp 2.500,- = Rp 750.000,Biaya

= Rp 1.530.000,

12

Rerata harga bahan baku terpakai @Rp 2.550


Sisa Bahan Baku

200Kg

@Rp 2.500,-

Rp 500.000,-

15/1 Pembelian

1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1 Pembelian

700 Kg

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

Pemakaian 1000Kg, rinciannya:


700 Kg @Rp 3.000,-

Rp 2.100.000,-

300 Kg @Rp 2.700

Rp 810.000,-

Biaya

Rp 2.910.000,-

Rerata harga bahan baku terpakai @Rp 2.910,Sisa Bahan Baku


200Kg @Rp 2.500,-

Rp 500.000,-

700 Kg @Rp 2.700

Rp 1.890.000,-

4. Metode Rata-Rata Bergerak.


Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang
dihitung harga pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga
pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga
pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok rata-rata per satuan
yang baru. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga
pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai
dengan harga pokok rata-rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
Metode ini disebut pula dengan metode rata-rata tertimbang, karena dalam

13

menghitung rata-rata harga pokok persediaan bahan baku, metode ini


menggunakan kuantitas bahan baku sebagai angka penimbangnya.

Misal pada tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian dan pembelian bahan baku selama Januari sbb:
06/1

Pemakaian

600 Kg

15/1

Pembelian 1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1

Pembelian

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

21/1

Pemakaian 1.000 Kg

700 Kg

Jumlah Pembelian

Rp 4.800.000,-

Saldo tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:


500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,= Rp 2.030.000 : 800 = Rp 2.537,5
Pemakaian 600 Kg, Rinciannya:
600 kg @Rp 2.537,5 = Rp 1.522.500,Sisa Bahan Baku
15/1 Pembelian

17/1 Pembelian

200Kg

@Rp 2.537,5

Rp 507.500,-

1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

1200 kg

@Rp 2.672,9

Rp 3.207.500,-

700 Kg

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

1900 kg

@Rp 2.793,4

Rp 5.307.500,-

14

Pemakaian 1000Kg, rinciannya:


1000 Kg@Rp 2.793,4

Rp 2.793.400,-

Sisa Bahan Baku


900Kg @Rp 2.793,4

Rp 2.514.100,-

5. Metode Biaya Standar.


Dalam metode ini bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu
persediaan sebesar harga standar (standart price) yaitu harga taksiran
yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan
datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun
anggaran tertentu. Pada saat dipakai, bahan baku dibebankan kepada
produk pada harga standar tersebut.

Misal pada tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian dan pembelian bahan baku selama Januari sbb:
06/1

Pemakaian

15/1

Pembelian 1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1

Pembelian

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

21/1

Pemakaian 1.000 Kg

Jumlah Pembelian

600 Kg

700 Kg

Rp 4.800.000,-

Misalnya dalam harga pasar terdapat harga bahan baku, 2500, 2600,
dan 2700, maka dari pihak manajemen menetukan harga standar 2600.

15

Saldo tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:


500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian 600 Kg, Rinciannya:
600 kg @Rp 2.600,- = Rp 1.560.000,Sisa Bahan Baku

200Kg

@Rp 2.600,-

Rp 520.000,-

15/1 Pembelian

1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1 Pembelian

700 Kg

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

Pemakaian 1000Kg, rinciannya:


1000 Kg

@Rp 2.600,-

Rp 2.600.000,-

Sisa Bahan Baku


900Kg @Rp 2.600,-

Rp 2.340.000,-

6. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan.


Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan penghitungan
harga pokok per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di
gudang. Harga pokok rata-rata per satuan ini kemudian digunakan untuk
menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam
bulan berikutnya.

Misal pada tgl 1 Januari terdapat bahan baku dengan harga sbb:
500 kg @Rp 2.500,- = Rp 1.250.000,300 kg @Rp 2.600,- = Rp 780.000,Pemakaian dan pembelian bahan baku selama Januari sbb:

16

06/1

Pemakaian

600 Kg

15/1

Pembelian 1.000 Kg

@Rp 2.700

Rp 2.700.000,-

17/1

Pembelian

@Rp 3.000

Rp 2.100.000,-

21/1

Pemakaian 1.000 Kg

700 Kg

Jumlah Pembelian

Rp 4.800.000,-

Jawab :
Persediaan awal

800kg

Rp 2.030.000,-

Pembelian

1700kg

Rp 4.800.000,-

2500kg

Rp 6.830.000,-

Jadi harga pokok bahan baku pada akhir bulan


Rp 6.830.000,- / 2500kg = Rp 2.732
Harga rata-rata tersebut akan digunakan untuk menghitung harga
pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi bulan berikutnya.
E. Prosedur Permintaan dan Pengeluaran Bahan Baku.
Bagian produksi yang membutuhkan bahan baku, mengisi bukti
permintaan barang. Kolom-kolom yang diisi informasi adalah kolom nomor
urut, nama, dan nomor kode kelompok, nomor urut barang dan jumlah satuan
yang diminta, dan pusat biaya (dalam hal ini bagian produksi) yang
memerlukan bahan baku. Setelah bukti permintaan barang tersebut di otorisasi
oleh yang berwenang, tiga lembar bukti permintaan barang tersebut dibawa ke
bagian gudang.

17

Bagian gudang menyiapkan bahan baku sesuai yang tercantum dalam


bukti permintaan barang, dan menyerahkannya kepada bagian produksi yang
membutuhkannya. Bagian gudang mengisi jumlah bahan baku yang diserahkan
pada kolom diserahkan dalam bukti permintaan barang, dan setelah di
otorisasi oleh kepala bagian gudang, bukti permintaan tersebut dikirimkan ke
bagian akuntansi.
Bagian gudang mencatat pemakaian bahan baku ini di dalam kartu
gudang pada kolom dipakai dan mencatatnya pula dalam kartu barang.
Bagian akuntansi mengisi informasi harga satuan dan menghitung dan
mencantumkan jumlah harga pokok bahan baku yang dipakai dalam bukti
permintaan barang tersebut. Informasi mengenai harga satuan diperoleh dari
kartu persediaan bahan baku yang bersangkutan. Bagian akuntansi kemudian
mencatat pemakaian bahan baku tersebut ke dalam kartu persediaan dan
menyerahkan bukti permintaan barang tersebut kepada pemegang jurnal umum
(atau pemegang jurnal pemakaian bahan baku, jika perusahaan menggunakan
jurnal khusus ini). Atas dasar bukti permintaan barang tersebut, pemegang
jurnal umum (pemegang jurnal pemakaian bahan baku) mencatat pemakaian
bahan baku ke dalam jurnal tersebut.

F. Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku


Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai
dalam produksi, metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan
metode persediaan fisik (physical inventory method). Dalam metode mutasi

18

persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan. Dalam
metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari
pembelian saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku
karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui
berapa biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi, harus dilakukan
dengan cara menghitung sisa persediaan bahan baku yang masih ada digudang
pada akhir periode akuntansi. Harga pokok persediaan awal bahan baku
ditambah dengan harga pokok bahan baku yang dibeli selama periode
dikurangi dengan harga pokok persediaan bahan baku yang masih ada pada
akhir periode merupakan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi
selama periode yang bersangkutan.
Metode persediaan fisik adalah cocok digunakan dalam penentuan
biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga pokok produksinya
dikumpulkan dengan metode harga pokok proses. Metode mutasi persediaan
adalah cocok digunakan dalam perusahaan yang harga pokok produksinya
dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.

G. Masalah-Masalah Khusus Yang Berhubungan Dengan Bahan Baku


Dalam bagian ini diuraikan akuntansi biaya bahan baku, jika dalam
proses produksi terjadi sisa bahan (scrap materials), produk cacat (defective
goods), dan produk rusak (spailed goods).
1. Sisa Bahan (Scrap Materials)

19

Di dalam proses produksi, tidak semua bahan baku dapat menjadi


bagian produk jadi. Bahan yang mengalami kerusakan di dalam proses
pengerjaannya disebut sisa bahan. Jika di dalam proses produksi
mengalami proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul
adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut.
Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai:
a. Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang
menghasilkan sisa bahan tersebut.
b. Pengurang terhadap biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
c. Penghasilan di luar usaha (other income).
Pencatatan sisa bahan : jika jumlah dan nilai sisa bahan relative tinggi,
maka diperlukan pengawasan terhadap persediaan sisa bahan. Pemegang
kartu persediaan di Bagian Akuntansi perlu mencatat mutasi persediaan
sisa bahan yang ada di gudang.
2. Produk Rusak (Spoiled Goods)
Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standart mutu
yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki
menjadi produk yang baik. Produk rusak berbeda dengan sisa bahan
karena sisa bahan merupakan bahan yang mengalami kerusakan dalam
proses produksi, sehingga belum sempat menjadi produk, sedangkan
produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya bahan, biaya
tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
3. Produk Cacat (Defective Goods)

20

Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standart mutu


yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan
kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat
disempurnakan lagi menjadi produk yang lebih baik. Masalah yang timbul
dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambahan
untuk mengerjakan kembali (rework cost) produk cacat tersebut. Perlakuan
terhadap pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip dengan yang telah
dibicarakan dalam produk rusak (spoiled goods).
Jika produk cacat bukan merupakan hal yang biasa terjadi dalam
proses produksi, tetapi karena karakteristik pengerjaan pesanan tertentu,
maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan sebagai
tambahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses
pengerjaan produk, maka biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan
kepada seluruh produksi dengan cara memperhitungkan biaya pengerjaan
kembali tersebut ke dalam tarif biaya overhead pabrik. Biaya pengerjaan
kembali produk cacat yang sesungguhnya terjadi di debitkan dalam
rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya.
Nama

: Fian Metal Angga P.

NIM

: 2012020129

Kelas

: Manajemen Semester 4 B2

Referensi:
Horngren, Charles Sinaga / Foster, George / Sinaga, Marinus. 2006. Akuntansi
Biaya : Suatu Pendekatan Manajerial Jilid 1. Jakarta: Erlanggga

21

Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta : Aditya Media


Mursyidi. 2010. Akuntansi Biaya : Conventional Costing, Just In Time, Dan
Activity-Based Costing. Bandung : Refika Aditama
RA Supriyono. 1999. Akuntansi Biaya Buku 1. Yogyakarta: BPFE
Supawi Pawenang. 2016. Modul Akuntansi Biaya. Surakarta: Uniba

22

Anda mungkin juga menyukai