Anda di halaman 1dari 15

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Lamun
2.1.1. Pengertian
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang
seluruh proses kehidupan berlangsung di lingkungan perairan laut dangkal
(Susetiono, 2004). Lamun merupakan satu satunya tumbuhan angiospermae
atau tumbuhan berbunga yang memiliki daun, batang, dan akar sejati yang
telah beradaptasi untuk hidup sepenuhnya di dalam air laut (Tuwo, 2011).
Pola hidup lamun sering berupa hamparan, maka dikenal juga istilah
padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup
suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan
kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya membentuk padang lamun
yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari
yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal
dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan
untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil
metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun (Hendra, 2011).
Tumbuhan lamun mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya
hidup dilingkungan laut, yaitu : 1) mampu hidup di media air asin; 2) mampu
berfungsi normal dalam kondisi terbenam; 3) mempunyai sistem perakaran
jangkar yang berkembang baik; 4) mampu melakukan penyerbukan dan daun
generafit dalam keadaan terbenam (Kordi, 2011).
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan
menyebarkan bibit seperti halnya tumbuhan darat. Klasifikasi lamun adalah
berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis
memiliki morfologi yang berbeda sehingga perbedaan spesies dapat
dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi (Tengke, 2010).
2.1.2. Morfologi
Lamun (seagrasses) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae),
yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut.

Tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup di


lingkungan laut, yaitu mampu hidup di media air asin, mampu berfungsi
normal dalam keadaan terbenam, mempunyai sistem perakaran jangkar yang
berkembang baik, mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif
dalam keadaan terbenam. Lamun mempunyai perbedaan yang nyata dengan
tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti makroalgae atau
rumput laut (seaweeds). Tumbuhan lamun memiliki bunga dan buah yang
kemudian berkembang menjadi benih (Dahuri, 2003).
Tumbuhan lamun terdiri dari rhizoma (rimpang), daun, dan akar.
Rhizoma merupakan batang yang terbenam dan merayap secara mendatar,
serta berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang
tegak keatas, berdaun dan berbunga, serta tumbuh akar. Dengan rhizoma dan
akar inilah tumbuhan tersebut menampakan diri dengan kokoh di dasar laut
sehingga tahan terhadap hempasan ombak dan arus. Lamun sebagian besar
berumah dua, yaitu dalam satu tumbuhan hanya ada satu bunga jantan saja
atau satu bunga betina saja. Sistem pembiakan bersifat khas karena mampu
melakukan penyerbukan di dalam air dan buahnya juga terbenam di dalam air
(Nainggolan, 2011).
Lamun secara struktural dan fungsional memiliki kesamaan dengan
tumbuhan (rumput) daratan. Seperti tumbuhan daratan, lamun dapat
dibedakan kedalam morfologi yang tampak seperti daun, tangkai, akar, dan
struktur reproduksi (bunga dan buah). Karena lamun hidup dibawah
permukaan air baik sebagian atau seluruh siklus hidupnya, maka sebagian
besar melakukan penyerbukan di dalam air. Perkembangbiakan lamun secara
vegetatif tergantung pada pertumbuhan dan percabangan rhizoma (Yusuf,
2014).
Akar-akar lamun memiliki beberapa fungsi yang sama dengan
tumbuhan daratan, yaitu untuk menancapkan tumbuhan ke substrat dan
menyerap zat-zat hara. Karena lamun mendiami lingkungan perairan, maka
akar-akarnya tidak berperan penting dalam mengambil air (dibandingkan
dengan akar-akar tumbuhan daratan), dan zat-zat hara juga langsung diserap
dari kolom air melalui daun-daunnya. Lamun mempunyai saluran udara yang

berkembang di daun dan tangkainya, sehingga tidak menjadi masalah dalam


mendapatkan oksigen meskipun lamun berada di bawah permukaan air
(Kiswara, 1985).

2.2. Jenis-jenis Lamun


Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 55 jenis lamun. Hampir
semua substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai
berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan disubstrat
lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang
(Bengen, 2002).
Secara umum ada 3 (tiga) tipe vegetasi padang lamun (Karyono, 2010) yaitu:
1. Padang lamun vegetasi tunggal (monospesific seagrass beds), dimana hanya
terdapat satu spesies saja.
2. Padang lamun yang berasosiasi dengan dua atau tiga spesies, dimana lebih
sering dijumpai dibandingkan vegetasi tunggal.
3. Padang lamun vegetasi campuran (mixed seagrass beds), umumnya terdiri
dari spesies-spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea
rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium, Halodule
uninervis dan Halophila ovalis.
Padang lamun menyebar hampir di seluruh kawasan perairan pantai
Indonesia. Tipe perairan tropis seperti Indonesia, padang lamun lebih dominan
tumbuh dengan koloni beberapa jenis (mix species) pada suatu kawasan tertentu
yang berbeda dengan kawasan temperate atau daerah dingin yang kebanyakan di
dominasi oleh satu jenis lamun (single species). Penyebaran lamun memang 10
sangat bervariasi tergantung pada topografi pantai dan pola pasang surut. Jenis
lamun beranekaragam, di Indonesia bisa dijumpai 12 jenis lamun dari sekitar 50
jenis lamun di dunia dengan dominasi beberapa jenis diantaranya Enhalus
acoroides, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodulepinifolia,
Halodule univervis, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa,
Halophila decipiens, Syringodium isoetifolium, Thallasia hemprichii dan
Thalassodendron ciliatum (Ali, 2008).
Jenis-jenis lamun di Indonesia menurut (Yusuf, 2014) antara lain:

a. Enhalus acoroides
Ujung daun membulat kadang-kadang terdapat serat-serat kecil yang menonjol
pada waktu muda, tepi daun seluruhnya jelas, bentuk garis tepinya seperti melilit,
tumbuh diperairan dangkal dengan substrat berpasir dan berlumpur atau kadangkadang diterumbu karang
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Hydrocharitales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Enhalus

Spesies

: Enhalus acoroides

Gambar 1. Enhalus acoroides

b. Thalassia hemprichii
Helaian daun berbentuk pita, terdapat spuluh sampai tujuh belas tulang-tulang
daun yang membujur, pada helaian daun terdapat ruji-ruji hitam yang pendek,
ujung dauunya membulat, tidak terdapat ligula, tumbuh didaerah substrat berpasir
dan berlumpur, dan kadang-kadang di terumbu karang
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

:Thalassia .

Spesies

:Thalassia hemprichii
Gambar 2. Thalassia hemprichii

c. Cymodocea serrulata
Memiliki rizhoma yang halus, tiap-tiap tunas terdiri dari dua sampai lima
helaian daun, daunnya membentuk segitiga yang lebar, dan menyempit pada
bagian pangkalnya, daunnya berwarna ungu pada tumbuhan yang masih hidup,
tepi daunnya tampak jelas.

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Potamogetonaceae

Genus

: Cymodocea

Spesies

: Cymodocea serrulata

Gambar 3. Cymodocea serrulata

d. Cymodocea rotundata
Memiliki rizhoma yang halus dan bersifat herbaceous, tunas pendek dan tegak
lurus pada setiap node, helaian daunnya berkembang baik dan berwarna ungu
muda, ujung daunnya licin (halus) membulat dan tumpul dan terkadang berbentuk
seperti hati, terdapat lingual.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Cymodoceaceae

Genus

: Cymodocea

Spesies

: Cymodocea rotundata

Gambar 4. Cymodocea rotundata

e. Syringodium isoetifolium
Rhizomanya tipis dan bersifat herbaceous, pada setiap node terdapat tunas
tegak yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Cymodoceaceae

Genus

: Syringodium

Spesies

: Syringodium isoetifolium

Gambar 5. Syringodium isoetifolium

f. Halodule uninervis
Tulang daun tidak lebih dari tiga, daun selalu berakhir pada tiga titik, yang jelas
pada ujung daun, ujung dau seperti trisula, bagian tengah tulang daun yang hitam
biasanya mudah robek menjadi dua pada ujungnya
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Cymodoceaceae

Genus

: Halodule

Spesies

: Halodule uninervis
Gambar 6. Halodule uninervis

g. Halodule pinifolia
Daunnya lurus dan tipis, tulang daunnya tidak lebih dari tiga, biasanya pada
bagian tengah dari tulang-tulang daun mudah robek menjadi dua pada ujungnya,
pada ujung daun terdapat tiga titik yang jelas.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Cymodoceaceae

Genus

: Halodule

Spesies

: Halodule pinifolia

Gambar 7. Halodule pinifolia

h. Halophila ovalis
Seperti tanaman semanggi, daunnya memiliki sepasang tangkai, daunnya
mempunyai 10-25 pasang tulang daun yang menyilang, bagian tepi daun halus,
rhizomanya tipis mudah dan halus.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Halophila

Spesies

: Halophila ovalis

Gambar 8. Halophila ovalis

i. Halophila spinulosa
Daun berbentuk bulat panjang, setiap kumpulan daun terdiri dari 10-25 helaian
daun yang saling berlawanan, tepi daun tajam, rhizomanya tipis dan kadangkadang berkayu.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Halophila

Spesies

: Halophila spinulosa

Gambar 9. Halophila spinulosa

j. Halophila minor
Daun berbentuk bulat panjang seperti telur, daun memiliki empat sampai tujuh
pasang tulang daun, pasangan daun dengan tegakan pendek, panjang daun
berkisar 0,5-1,5 cm.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Halophila

Spesies

: Halophila minor

k. Halophila decipiens

Gambar 10. Halophila minor

Memiliki daun yang berpasangan, helai-helai daunnya berbulu, tembus cahaya


dan tipis menyolok, pada bagian tengah daun terdapat enam sampai Sembilan
pasang tulang yang menyilang, tepi daun bergerigi, rhizomanya berbulu dan
sering tampak kotor karena sedimen yang menempel.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Halophila

Spesies

: Halophila decipiens

Gambar 11. Halophila decipiens

l. Thalassodendrom ciliatum
Rhizomanya sangat keras dan berkayu, daun-daunnya berbentuk sabit dimana
agak menyempit pada bagian pangkalnya, ujung daun membulat seperti gigi,
tulang daun lebih dari tiga.
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Alismatales

Family

: Cymodoceaceae

Genus

: Thalassodendron

Spesies

: Thalassodendron ciliatum

Gambar 12. Thalassodendron ciliatum

2.3. Faktor Pertumbuhan Lamun


Pertumbuhan bisa diartikan dari perubahan bentuk seperti pertambahan
panjang dan perubahan ukuran pada morfologi suatu tumbuhan. Pertumbuhan
lamun dapat dilihat dari pertambahan panjang bagian-bagian tertentu seperti daun

dan rhizomanya. Pertumbuhan rhizoma lebih sulit diukur pada jenis-jenis tertentu
karena umumnya berada dibawah substrat, penelitian pertumbuhan daun lamun
berada di atas substrat, sehingga lebih mudah diamati (Ali, 2008).
Pertumbuhan daun lamun berbeda-beda antara lokasi yang satu dengan yang
lainnya, hal ini dikarenakan kecepatan atau laju pertumbuhan dipengaruhi oleh
faktor-faktor internal seperti fisiologi, metabolisme dan faktor-faktor eksternal
seperti zat-zat hara, tingkat kesuburan substrat dan parameter lingkungan lainnya.
Lamun juga memiliki produktivitas tinggi dengan pertumbuhan daun lamun di
Teluk Banten rata-rata untuk jenis Enhalus acoroides sebesar 16,89 mm/hari dan
Thallasia hemprichii 4,51 mm/hari untuk daun lama (Kiswara, 1985).
Menurut Karyono (2010), laju pertumbuhan lamun Enhalus acoroides di
pulau Pari Kepulauan Seribu berkisar antara 0,5045 0,8208 cm/hari. Sedangkan
menurut Yusuf (2014), di Pantai Sayang Heulang Garut pertumbuhan daun muda
jenis Cymodocea rotundata memiliki laju pertumbuhan 0,74 cm/hari selama dua
minggu, sedangkan daun tuanya memiliki laju pertumbuhan 0,36 cm/hari selama
dua minggu. Daun muda jenis Thalassia hemprichii memiliki laju pertumbuhan
0,40 cm/hari selama dua minggu, sedangkan daun tuanya memiliki laju
pertumbuhan 0,32 cm/hari selama dua minggu.
2.4. Biota dalam Ekosistem Lamun
Lamun mempunyai beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa
perlindungan bagi invertebrata dan ikan kecil. Daun-daun lamun yang padat dan
saling berdekatan dapat meredam gerak arus, gelombang dan arus materi organik
yang memungkinkan padang lamun merupakan kawasan lebih tenang dengan
produktifitas tertinggi di lingkungan pantai di samping terumbu karang.
Melambatnya pola arus dalam padang lamun memberi kondisi alami yang sangat
di senangi oleh ikan-ikan kecil dan invertebrata kecil seperti beberapa jenis udang,
kuda laut, bivalvia, gastropoda dan echinodermata. Hal terpenting lainnya adalah
daun-daun lamun berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan epifit yang
merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil tadi. Epifit ini
dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun lamun dan

sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan kecil
(Karyono 2010).
Padang lamun sebagai istana bagi beberapa biota laut, seperti sapi laut
(dugong), dugong mengasuh anak-anaknya di padang lamun karena lamun
menjadi makanan pokok baginya. Begitu pula penyu yang memakan lamun jenis
Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii (Karyono, 2010).
Menurut Yusuf (2014), terdapat beberapa jenis ikan yang umum dijumpai di
padang lamun yaitu, famili Elopidae (Elop hawaensis), Plotosidae (Plotus
anguillaris), Belonidae (Tylossurus sp.), Hemirhampidae (Hemirhampus quoyi,
Zenarcopterus dispar), Bothidae (Pseudorhombus arsius), Synganathidae
(Shyngnatoides biaculeatus), Scaridae (Scarrusgoban, Sparisoma viridae),
Gerridae (Gerres macrosoma, G. abreviatus, G. oyena), Labridae (Cheilio 12
imermis, Choerodon anchorago, Haliocheres scapularis), Cahetodontidae
(Parachaetodon ocellatus), Nemipteridae (Pentapodus caninus), Mullidae
(Upeneus tragula), Monacanthidae (Achreichthys hajam), Mugilidae (Mugil
cephalus), Leiognathidae (Leiognathus fasciatus, L. quulus, L. elongates),
Gobiidae (Glossogobius binuensis, Oplopomus oplopomus), Apogonidae (Apogon
margaritiphorus), Lethrinidae (Lethrinus harak, L. lentjan), Lutjanidae (Lutjanus
fulviflamma), Tetraodonthidae (Arothron hispidus).
Menurut Kadi & Atmajaya, (1988), lokasi dengan habitat pasir kebanyakan
ditumbuhi oleh alga hijau terutama Halimeda sp. dan alga coklat seperti Padina
sp. dan Sargassum sp. Selain itu juga ditemukan vegetasi lamun antara lain
Enhalus acoroides, Halodule sp. dan Thalassia sp. Pada habitat batu ditemukan
alga coklat Turbinaria sp., Hormophysa sp. dan Sargassum sp., Selai itu tumbuh
pula Caulerpa sp. dan Codium sp. dari alga hijau. Halimeda sp. memiliki
kemampuan untuk tumbuh dengan cara menancap dan menempel.
Lamun berasosiasi dengan berbagai varietas makroalga. Sebagai contoh
Kiswara (1985) menyatakan bahwa, Gracillaria lichenoides yang bernilai
ekonomis penting merupakan salah satu makropifit yang dominan pada padang
lamun (Ali, 2008) menyatakan bahwa species makroalga yang bernilai ekonomis
seperti Eucheuma arnoldi, E. spinosum, Gelidiella acerosa, Gelidiopsis intricate,
Gracilaria eusheumoides, G. lichenoides dan Hypnea cervicornis hidup pada

padang lamun campuran yang terdiri dari Cymodocea serrulata, Halodule


uninervis, Thalassia hemprichii dan Thallasodenrom ciliatum.
2.5. Metode Line Transect
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki.
Tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan
lingkungan, atau untuk mengetahui jenis vegetasi yang ada di suatu lahan secara
cepat. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan
semakin pendek (Ramzahas, 2012).
Menurut Ali (2008), menyatakan bahwa transek merupakan garis sampling
yang ditarik menyilang pada sebuah bentukkan atau beberapa bentukan. Transek
juga dapat dipakai dalam studi altituide dan mengetahui perubahan komunitas
yang ada.
Transek adalah jalur sempit meintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki.
Metode Transek bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan
perubahan lingkungan serta untuk mengetahui hubungan vegeterasi yang ada
disuatu lahan secara cepat (Odum, 1998).
Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variable-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai
penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan
dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan
ditentukan berdasarkan panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan
dapat merupakan presentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat
oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Heddy, 1996). Frekuensi
diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis
yang disebar (Ali, 2008)
a. Line transect (transek garis)
Dalam metode ini garis garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman
yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan beberapa kali dijumpai.
b. Belt transect (transek sabuk)
Belt transect merupakan jalur vegetasi yang lebar nya sama dan sangat
panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat sifat vegetasinya untuk menunjukan

bagan yang sebenarnya. Panjang transek tergantung pada tujuan penelitian,


dimana setiap segmennya dipelajari vegetasinya (Soerianegara, 1998).
Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Nilai
kerapatan, Kerapatan Relatif, Frekuensi, Frekuensi Relatif, Dominasi, Dominasi
Relatif, dan Indeks Shannon Wienner dimaknai dengan mengkaitkannya terhadap
pengolahan dan kelesterian hasil vegetasi (Michael, 1997).

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Iqbal. 2008. Analisis Vegetasi 1. http://iqbalali.wordpress.com. (diakses 10
Mei 2016)
Atmajaya, W.S., 1992. Sebaran dan Beberapa Aspek Vegetasi Rumput Laut
(Makro Alga) Di Perairan Terumbu Karang Indonesia. Puslitbang
Oseanologi LIPI. Jakarta.
Bengen, D.G. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
Heddy, S dan Kurniati, M. 1996. Prinsip-prinsip Dasar Ekologi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Kadi, dan Atmajaya, W. S., 1988. Rumput Laut (Alga), Jenis, Reproduksi,
Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. LIPI. Jakarta.
Karyono. 2010. Ekosistem Padang Lamun. Jurusan Ilmu Kelautan. FIKP.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Karyono. 2010. Ekosistem Padang Lamun. Jurusan Ilmu Kelautan. FIKP.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Kiswara, Wawan. 1985. Habitat dan Sebaran Geografik Lamun. Oseana, Volume
X, Nomor 1 : 21- 30.
Michael, P. 1997. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.
Jakarta. UI-Press.
Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Jakarta. UGMP
Ramzahas.

2012. Analisa

Vegetasi.

http://www.nakertrans.go.

id/statistik_trans/INFO%20 lainnya/A.php. (diakses 10 Mei 2016)


Soerianegara. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Bandung. Laboratorium Ekologi
Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
Yusuf, M. F. 2014. Karakteristik dan Morfologi Lamun. Universitas Negeri
Gorontalo. Gorotalo

I.
1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia, laut Indonesia

merupakan laut yang luas pula. Laut Indonesia memiliki kekayaan biota, flora
maupun fauna yang sangat melimpah. Berbagai biota dan kekayaan laut yang
dimilki memiliki banyak manfaat bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Laut Indonesia memiliki banyak ekosistem yang terdir dari terumbu karang,
mangrove dan juga lamun. Ekosistem tersebut memiliki peranan masing-masing
yang saling berkesinambungan dengan ekosistem yang lainnya. Kekayaan
ekosistem bisa dihitung dengan beberapa metode.
Perhitungan dengan beberapa metode inilah yang berguna untuk menghitung
keanekaragaman atau keseragaman suatu ekosistem serta mengetahui distribusi
dari ekosistem yang bersangkutan.
Salah satu metode perhitungan adalah metode transek garis (line transect),
metode ini berguna juga untuk mengetahui apa saja biota atau makhluk hidup apa
saja yang berada di ekosistem tersebut dan dapat dianalisa lebih lanjut.
1.2.

Tujuan
1. Mengetahui keanekaragaman biota di ekosistem padang lamun.
2. Mengetahui presentase penutupan lamun, kerapatan,

indeks

keanekaragaman dan dominasi di lokasi praktikum.


3. Mengetahui hubungan/interaksi antar biota pada ekosistem padang lamun.
4. Mampu menganalisa faktor pertumbuhan antar biota yang terdapat pada
ekosistem padang lamun.
1.3.

Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui keanekaragaman biota di ekosistem padang lamun.
2. Mahasiswa mengetahui presentase penutupan lamun, kerapatan, indeks
keanekaragaman dan dominansi di lokasi praktikum.
3. Mahasiswa mengetahui hubungan/interaksi antar biota pada ekosistem
padang lamun.

V.

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Keanekaragaman biota seperti hewan di ekosistem padang laut Teluk
Awur, Jepara tidak ditemukan, jenis lamun yang ditemukan adalah
Enhalus acroides.
2. Presentase penutupan lamun di padang lamun Teluk Awur, Jepara sebesar
11,75%, indeks keaneka ragaman = 0 termasuk dalam kategori rendah dan
indeks dominasi = 1 termasuk dalam kategori sedang.
3. Tidak adanya hubungan/interaksi antar biota pada ekosistem padang lamun
Teluk Awur, Jepara, karena tidak ditemukannya biota lain selain lamun
Enhalus acoroides pada daerah transek yang diamati.
4. Faktor pertumbuhan antar biota yan terdapat pada ekosistem padang
lamun Teluk Awur, Jepara adalah cahaya matahari, suhu, salinitas, pH,
arus dan kecerahan.
5.2. Saran
1. Praktikan sebaiknya tidak banyak bergerak di daerah padang lamun agar
substrat dan sedimen tidak teraduk sehingga menyulitkan pengamatan.
2. Praktikan lebih teliti pada saat pengamatan biota yang ada di padang
lamun.