Anda di halaman 1dari 3

Hijrahku , dakwahku, dan cintaku karenaNya.

Assalamualaikum wr.wb.....

Perjalanan, perjuangan, istiqomah. 3 kata itu yang saat ini tengah menjadi hal terpenting
dalam hidup seorang Ana. Keputusan berhijrah telah ditetapkan, niat berdakwah harus
dipersiapkan. Bukankah dalam hidup kita ditutuntut untuk selalu mencari ridhoNya?
Hijrahku hijrah cinta.
Hijrah? Sekedar berubah dari yang buruk menuju yang lebih baik kah? Sekedar sebuah
perjalanan kah? Tidak!. Disini Ana menganalogikan hijrah itu bagaikan kita ingin
menyebrangi lautan untuk menuju ke suatu pulau yang indah. Deburan ombak akan
menyambut kita, badai laut yang bisa saja terjadi, belum lagi masalah yang ada pada perahu
kita, jangan-jangan nanti perahunya kehilangan kendali lalu tenggelam, wallahualam. Itulah
hijrah bagi saya. Tidak cukup dikatakan hanya perjalanan tetapi juga perjuangan. Perjuangan
untuk selalu berkeyakinan teguh, perjuangan untuk berani memilih jalan lain yang lebih
benar, perjuangan untuk menerima semua tanggapan orang, perjuangan untuk tetap kuat dan
tak akan goyah dengan godaan apapun, dan yang terpenting adalah perjuangan dalam upaya
menyampaikan sebuah kebenaran. Dan semua ini berawal dari cinta. Iya, salah satu alasan
Ana untuk berhijrah adalah karena saat itu Ana sedang jatuh cinta. Setelah sekian lama hati
Ana kosong karena pengalaman yang sangat menyakitkan, akhirnya Allah menumuhkan rasa
cinta itu kembali pada hati Ana. Mungkin sebagian akan beranggapan negatif mengenai
hijrah karena jatuh cinta, tetapi bagi Ana semua tergantung dengan bagaimana menyikapi rasa
itu.
Semua berawal dari suatu pertemuan tak sengaja, tak tahu, tak kenal, hanya sekedar
melihatnya dari kejauhan. Ana merasa dia begitu bersinar dari yang lainnya (saat itu Ana
masih dalam keadaan belum berhijrah ukhti...hehe,masih jahiliyah dan belum bisa menjaga
pandangan). Ana menyimpan perasaan ini dalam-dalam, sendiri, penuh dengan berjuta rasa
ingin tahu semua tentangnya. Namun Ana tak berharap besar, sebab setelah itu Ana tidak
pernah berjumpa dengan dia lagi. Hingga suatu ketika Allah mempertemukan kita kembali
dalam suatu lingkup yang bisa Ana bilang sangat dekat. Iya,dialah pembimbing kelompok
ospek Ana. Sontak saat mengetahui dialah orangnya hati ini merasa sangat sakit dan bingung
harus melakukan apa, jujur selama Ana jatuh cinta sebelumnya Ana belum pernah merasa
aneh seperti ini. Dalam situasi ini Ana terus termotivasi untuk mencari segala sesuatu tentang

dia, dan akhirnya Ana menemukannya. Dia seorang muslim yang taat, pandai, dan bisa
dikategorikan alim . Lalu terbesitlah dalam diri Ana untuk berfikir, pantaskah diri ini jika
bersanding dengannya?, maukah dia nantinya menerima wanita yang tidak alim seperti
Ana?. Berbagai pertanyaan rasa ragu-ragu terus muncul di benak Ana. Sampai akhirnya
tiba-tiba suatu hari Ana merasa ingin memperbaiki diri, entah mengapa niat itu datang dengan
sendirinya. Tanpa mentoring, tanpa Ana membaca buku-buku apapun, niat itu datang dengan
sendirinya. Namun pada saat itu Ana salah dan belum meluruskan niat karenaNya tetapi
masih karena mas itu (hehe). Seiring berjalannya waktu Ana mulai belajar berhijab yang baik
dan benar, Ana mulai mendekati teman-teman Ana yang alim, dan akhirnya Ana berhasil
mencapai itu semua hingga saat ini. Dan sejak saat itu Ana juga mulai belajar untuk
meluruskan niat, berhijrah karenaNya. Memang perasaan itu tak hilang hingga saat ini, sebab
bayangan dia selalu menari-nari diatas lantunan ayat suci Al-Quran tiap Ana mengaji. Sejak
saat itu pula Ana tidak pernah lagi berani untuk menatapnya secara langsung, hanya bisa
melihatnya dari kejauhan. Hijrah Ana ini disebut Hijrahku hijrah cinta. Karena cintalah
yang membawa Ana untuk menjadi muslimah yang lebih baik, bukan hanya karena jatuh
cinta kepadanya namun juga cinta kepada diri ini yang membawa Ana untuk berniat
memperbaiki diri. Rasa cinta itu memang hingga saat ini tidak kunjung hilang, namun Ana
bersyukur sebab seiring dengan hal itu niat Ana untuk menjadi lebih baik semakin besar. Dan
layaknya wanita yang sedang jatuh cinta pada umumnya Ana juga berfikir bahwa
mungkinkah dia jodoh Ana? Mungkinkah perbaikan diri ini belum cukup sehingga Allah
belum mendekatkan kami? Mungkinkah ini petunjuk bagi Ana untuk terus memperbaiki diri?
Dan apakah perbaikan diri ini nantinya untuk memantaskan diri bersanding dengannya?.
Saat ini yang bisa Ana lakukan hanyalah berdoa dan pasrah terhadap ketentuan Allah SWT,
karena Ana yakin bahwa ketentuanNya jauh lebih baik dari apa yang Ana inginkan. Sambil
berhijrah sambil menikmati perjuangan yang panjang ini Ana niatkan jalan ini sebagai
dakwah. Dengan belajar dari buku-buku, mengikuti kajian-kajian kemuslimahan yang ada
Insyaallah sedikit demi sedikit ilmu baru bisa Ana dapat. Sehingga nantinya akan bisa Ana
sampaikan kepada muslimah-muslimah disekitar. Namun tak cukup disini, satu perjuangan
berat lagi yang Ana hadapi saat berdakwah yaitu komentar. Tidak sedikit yang berkomentar
tentang cara berpakaian Ana, cara Ana bersikap dengan laki-laki, dan yang terpenting adalah
komentar tentang khimar yang Ana gunakan. Sempat Ana dapatkan pujian dari seorang teman
saat Ana berkunjung tempat tinggalnya, begini Sok alim nih sekarang jilbabnya panjang
gitu.. Sedih ? iya pasti. Ditambah juga saat itu ketika Ana mulai memberitahu kepada teman
Ana mengenai bagaimana cara berjilbab yang baik yang sesuai syariat,teman Ana hanya

berkata islamnya yang biasa-biasa saja,jangan berlebihan. Setau Ana ajaran agama Islam itu
Cuma 1 yaitu yang sesuai sama tuntunan Allah SWT dan Rosulullah SAW. Tidak ada islam
biasa maupun luar biasa. Pada akhirnya lambat laun hal-hal tersebut mulai hilang dan
Alhamdulillah kini lingkungan sudah mulai bisa menerima penampilan Ana. Dan hal yang
paling Ana senangi adalah ketika kawan Ana banyak yang mulai berhijrah, mulai berani
untuk mengikuti kajian, dan mulai mendekati Ana dan kawan hijrah Ana lainnya. Ada
seorang teman Ana yang berniat berhijrah namun dia malu sebab takut dikomentari oleh
teman-teman lainnya. Kawan Ana itu selalu meminta solusi kepada Ana dan lambat laut dia
mulai berbenah diri, ingat umur katanya seperti itu. Senang sekali rasanya mulai berhasil
menjalankan misi dakwah, walaupun baru sedikit namun jika terus mencari ridhoNya maka
semua akan menjadi hal yang sangat bermanfaat. Perihal perasaan cinta hingga saat ini
Ana tak pernah berhenti menyebutnya dalam doa. Dan Ana mencintai dia karena begitu
besarnya cinta Ana kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW, dan sebab Ana tahu bahwa dia
juga memiliki kecintaan yang amat besar terhadap Allah SWT dan Rosulullah SAW

Sekian
Wassalamualaikum wr.wb