Anda di halaman 1dari 26

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
Jl. Mayjen Sutoyo No. 2 Cawang Jakarta 13650

Sirkulus Willisi
Neuroanatomi
Disusun oleh : Reinaldi Octabiano Goenawan
(10.034)
Dosen pembimbing : dr. Jan Andries Tangkilisan,
MARS
KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT SARAF
PERIODE 26 JANUARI 28 FEBRUARI 2015

PENDAHULUAN
Otak merupakan organ yang metabolismenya paling aktif.
Walaupun beratnya hanya 2% dari berat badan, otak
menerima 17% curah jantung dan menggunakan 20%
konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme
aerobiknya.
Otak manusia sebagian besar mendapat suplai oksigen
melalui serangkaian pembuluh darah/ arteri yang berlokasi
di basis otak yang secara umum dikenal sebagai sirkulus
wilisi.
Yang terbentuk dari penyatuan atau anastomose dari arteri
basilaris yang merupakan fusi dari arteri vertebralis kanan
dan kiri serta arteri karotis interna.

Anatomi
Otak manusia sebagian besar mendapat suplai
oksigen melalui serangkaian pembuluh darah/
arteri yang berlokasi di basis otak yang secara
umum dikenal sebagai sirkulus wilisi. Yang
terbentuk dari penyatuan atau anastomose dari
arteri basilaris yang merupakan fusi dari arteri
vertebralis kanan dan kiri serta arteri karotis
interna.

Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu : arteri


karotis interna dan arteri vertebralis. Di dalam
rongga kranium, keempat arteri ini saling
berhubungan dan membentuk sistem anastomosis,
yaitu sirkulus arteri Willisi.
Dua pertiga jatah darah serebral dialirkan ke sebagian
besar serebrum dan diensefalon melalui sistem
karotis; dan sepertiga sisanya dialirkan ke medula
oblongata, pons, otak tengah, lobus temporal bagian
medial dan inferior, lobus parietal, lobus oksipital, dan
serebelum melalui sistem vertebralis.

Sirkulus Wilisi dibentuk oleh hubungan antara


arteri karotis interna, arteri basilaris, arteri serebri
anterior, arteri komunikans anterior, arteri serebri
posterior dan arteri komunikans posterior.
Arteri karotis interna berakhir pada arteri serebri
anterior dan arteri serebri media. Di dekat akhir
arteri karotis interna, dari pembuluh darah ini
keluar arteri komunikans posterior yang bersatu
ke arah kaudal dengan arteri serebri posterior.
Arteri serebri anterior saling berhubungan melalui
arteri komunikans anterior.

Pemberian darah ke korteks serebri terutama


melalui cabang-cabang kortikal dari arteri serebri
anterior, arteri serebri media dan arteri serebri
posterior, yang mencapai korteks di dalam
piamater.
Permukaan lateral masing-masing hemisferium
serebri mendapatkan darah terutama dari arteri
serebri media. Permukaan medial dan inferior
hemisferium serebri diperdarahi oleh arteri
serebri anterior dan arteri serebri posterior.

Arteri serebri media, suatu cabang terminalis dari


arteri karotis interna, memasuki fisura lateralis
serebri dan membagi diri menjadi cabang-cabang
kortikal yang memperdarahi lobus-lobus frontalis,
temporalis, parietalis dan oksipitalis.
Pembuluh-pembuluh nadi yang kecil, yaitu arteri
lenticulostriata, timbul dari bagian basal arteri
serebri media untuk memperdarahi kapsula interna
dan struktur-struktur yang berdekatan.

Arteri serebri anterior berjalan lebih medial dari


pangkalnya pada arteri karotis interna, menuju
ke dalam fisura longitudinalis serebri ke genu
korpus callosum, di mana arteri ini berbelok ke
posterior dekat dengan korpus callosum.
Arteri serebri anterior mengeluarkan cabangcabangnya ke lobus frontalis medius dan lobus
parietalis, serta ke korteks yang berdekatan di
sepanjang permukaan lateral medial dari lobuslobus ini.

Arteri serebri posterior muncul dari arteri


basilaris pada perbatasan rostral pontinus, lalu
melengkung ke dorsal di sekitar pedunculus
serebri serta mengirimkan cabang-cabangnya ke
permukaan medial dan inferior dari lobus
temporalis serta ke lobus oksipitalis medius.
Cabang-cabangnya meliputi arteri kalkarina dan
cabang-cabang yang menuju ke talamus poterior
serta subtalamus.

Arteri basilaris dibentuk dari persambungan


antara arteri-arteri vertebralis. Arteri basilaris
ini memperdarahi batang otak sebelah atas
melalui cabang-cabang paramedius brevis,
sirkumferensia brevis dan sirkumferensia
longus.

Mesensefalon diperdarahi oleh arteri basilaris, arteri


serebri posterior dan arteri serebeli superior. Pons
memperoleh darah dari arteri basilaris, arteri serebeli
anterior, arteri serebeli inferior dan arteri serebeli
superior.
Medula oblongata diperdarahi oleh arteri vertebralis,
arteri spinalis anterior, arteri spinalis posterior, arteri
serebeli posterior inferior, dan arteri basilaris.
Serebelum diperdarahi oleh arteri-arteri serebeli (arteri
serebeli superior, arteri serebeli anterior inferior dan
arteri serebeli posterior inferior)

Pleksus koroideus ventrikuli tertius dan lateralis


diperdarahi oleh cabang-cabang arteri karotis
interna dan arteri serebri posterior. Pleksus
koroideus ventrikulus quadratus diperdarahi
oleh arteri serebeli posterior inferior

Gangguan arteri karotis

Gejala penyumbatan artreri karotis


interna

- Buta mendadak (amaurosis fugaks)

- Disfagi bila gangguan terletak pada sisi


dominant

- Hemiparese kontra lateral dan dapat


disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan

Gejala penyumbatan arteri serebri


anterior

- Hemiparese kontralateral dengan


kelumpuhan tungkai lebih menonjol

- Gangguan mental (bila lesi di frontal)

- Gangguan sensibilitas pada tungkai yang


lumpuh

- Inkontinensia

- Bisa kejang-kejang

Gejala penyumbatan arteri serebri media

- Bila sumbatan di pangkal arteri terjadi


hemiparese yang sama

- Bila tidak di pangkal lengan lebih menonjol

- Hemihipestesi

- Gangguan fungsi luhur

Gangguan pada kedua sisi


Timbul gangguan pseudobulbar

- Hemiplegi dupleks

- Sukar menelan

- Gangguan emosional, mudah menangis

Gejala gejala penyumbatan sistem basilaris


Gejala penyumbatan pada arteri serebri
posterior :

- Hemianopsia homonym kontralateral dari


sisi lesi

- Hemiparesis kontralateral

-Hilangnya rasa sakit, suhu, sensorik


propioseptif (termasuk rasa getar) kontralateral
(hemianestesia).

Bila salah satu cabang ke talamus tersumbat,


timbulah sindrom talamikus, yakni:
- Nyeri talamik, suatu rasa nyeri yang terusmenerus dan sukar dihilangkan; pada
pemeriksaan raba terdapat anesthesia, tetapi
pada tes tusukan timbul rasa nyeri (anesthesia
dolorosa)
- Hemikhorea, disertai hemiparesis, disebut
sindrom Dejerine Marie

Gangguan /sumbatan pada arteri vertebralis :


Bila sumbatan pada sisi yang dominant dapat
terjadi sindrom Wallenberg. Sumbatan pada sisi
yang tidak dominan seringkali tidak
menimbulkan gejala.

Sumbatan / gangguan pada cabang kecil


a.basilaris (a. paramedian)ialah paresis nervi
kraniales yang nukleusnya terletak ditengahtengah N III, N IV, dan N XII,

DAFTAR PUSTAKA
Chusid,JG. Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional
Bagian I. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1990
McCaffrey,P. The Blood Supply, The Neuroscience on the
Web Series:
CMSD 620 Neuroanatomy of Speech, Swallowing and
Language, 2001. www.cmsd620.com
Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi: konsep klinis prosesproses penyakit = Pathophysiology. Clinical concepts of
disease processes; alih bahasa, Peter Anugerah; editor,
Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta :EGS, 1995
Soliman,E. Cerebral Aneurysm. An article, last update on
June 8, 2004. www.emedicine.com