Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

PEMERIKSAAN MATA

Revi Fitradewi
11310311
Pembimbing : dr. Rahmat Syuhada Sp.M
SMF ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016

Anatomi mata

PEMERIKSAAN FISIK PADA MATA


1. Anamnesa
a. Dilakukan dengan ramah
b. Mencatat identitas pasien
c. Menggali
1. keluhan utama
- penglihatan kabur
2. keluhan tambahan
- mata berair, lelah
- sering menyipitkan mata
- sakit kepala
- silau
- kelelahan setelah membaca
- mata terasa pedas
3. perjalanan penyakit
d. Mengetahui riwayat keluarga, pengobatan dan penyakit
terdahulu

2. INSPEKSI MATA
a). Inspeksi kelopak mata, bulu mata, dan
apartus lakrimal
>Kelopak mata: edem, lesi, ekimosis, entropion,
ekstropion, lagoftalmus, merah,ptosis
>bulu matadan alis mata: jaringan parut, trikiasis
>aparatus lakrimal: inflamasi, pembengkakan atau
air mata yang berlebihan
b). Inspeksi konjungitva
>konjungtiva tarsal superior: sikatriks, simblefaron
>konjungtiva tarsal inferior: sikatriks, hordeolum,
kalazion
>konjungtiva bulbi: injeksi konjungtival, injeksi siliar,
injeksi episklera

c). Inspeksi kornea, ruang anterior, dan


iris
>kornea: arkus senil, edema, infiltrat, sikatriks
>COA: dalam, dangkal, hifema, hipopion
>iris: kripta utuh/tidak, radang, atrofi
d). Inspeksi pupil
Periksa kesamaan ukuran, bentuk, reaksi
terhadap cahaya, dan akomodasi pada pupil
masing-masing mata.

3. Palpasi mata
Palpasi dengan perlahan adanya pembengkakan
dan nyeri tekan pada kelopak mata.
Kedua ujung jari telunjuk di kelopak mata di
atas sklera sementara klien melihat ke bawah.
Bola mata harus teras sama keras.
Palpasi kantong lakrinal dengan menekankan
jari telunjuk pada lingkar orbital bawah pada sisi
yang paling dekat dengan hidung klien
regurgitasi abnormal materi purulen atau air
mata
adanya sumbatan duktus nasolakrimal

PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN ( VISUS )


Menentukan visus tiap mata:
a. Snellen chart : 6/6
b. Menghitung jari : 1/60
6/60
c. Gerakan tangan : 1/300
d. Penyinaran dengan cahaya :
> pasien dapat mengenali saat disinari dan tidak disinari
dari segala posisi (nasal,temporal,atas,bawah) maka tajam
penglihatan V = 1/ ~ proyeksi baik (Light Perception/LP).
> Jika tidak bisa menentukan arah sinar maka penilaian V
= 1/ ~ (LP, proyeksi salah) .
Jika sinar tidak bisa dikenali maka tajam penglihatan
dinilai V= 0.

Ukur kekuatan lensa sferis


Dilakukan bila visus tidak normal(<6/6)
1.Pasang kacamata percobaan pada posisi yang
tepat (jauh)
2.Pasang penutup (occluder) di depan salah satu
mata yang belum akan diperiksa.
3.Kembali melihat Optotip Snellen.
Letakkan lensa S+ atau lensa S- tergantung
bertambah terang atau tidak pada mata yang
diperiksa. Tambah kekuatan lensanya sampai
didapat visus terbaik.
a. Bila miopia : dipilih untuk kacamata lensa Sterkecil yang memberi tajam penglihatan terbaik

Pada penderita yang mengeluh baca dekat (Presbyopia)

Umumnya diatas umur 39 tahun. Pemeriksaan


dilakukan sebagai berikut.
1.Beri lensa S+ umumnya disesuaikan umur S+1
(40 tahun), S+ 1,5 (45 thn)... S+3 (60 thn).
2.Membaca kartu baca dekat pada jarak baca yang
baik (+30cm, Jaegger.

REFLEKS PUPIL
-Anisokoria (beda , 1mm dianggap fisiologis).
-Kecil atau besar dari normal (3-4 mm).

PEMERIKSAAN FUNDUSKOPI
Oftalmoskop alat untuk melihat segmen posterior bola
mata:
Vitreus
Papil n. optik
Retina
Hasil Pemeriksaan Funduskopi:
1.Gambaran media ( termasuk Vitreus posterior)
2.Gambaran Papil N. Optik, pembuluh darah, retina,
makula dan fovea
3.Lakukan pada kedua mata

OFTALMOSKOP

PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG SECARA


KONFRONTASI
Tes konfrontasi I
Tes konfrontasi II
Kelainan:
-Hemianopsia bitemporal
-Hemianopsia binasal
-Hemianopsia homonimus
-Hemianospsia Heteronimus

Mengukur Tekanan Intraokular


Dengan pemeriksaan tonometri
Alat: TONOMETER SCHIOTZ
Tabel:

PEMERIKSAAN SENSIBILITAS KORNEA


TUJUAN : Untuk mengetahui apakah sensasi
kornea normal, atau menurun
Hasil
Pada tingkat sentuhan tertentu reflek mengedip
akan terjadi
Penilaian dengan membandingkan sensibilitas
kedua mata pada pasien tersebut

PEMERIKSAAN EVERSI KELOPAK MATA


Pemeriksaan untuk menilai konyungtiva tarsalis
Cara:
Cuci tangan hingga bersih
Pasien duduk didepan slit lamp
Sebaiknya mata kanan pasien diperiksa dengan
tangan kanan pemeriksa.
Ibu jari memegang margo, telunjuk memegang
kelopak bagian atas dan meraba tarsus, lalu balikkan.
Setelah pemeriksaan selesai kembalikan posisi
kelopak mata. Biasakan memeriksa kedua mata.

Pemeriksaan tambahan
1.Pemeriksaan anel : menyuntikkan cairan garam fisiologis melalui
pungtum lakrimalis dengan jarum bengkok yang tumpul.
2. Bila cairan masuk ke dalam hidung/tenggorokan disebut Anel +.
Berarti saluran lakrimal berfungsi baik. Bila tidak berarti ada
sumbatan saluran lakrimal (Anel-).
3. Pemeriksaan Buta Warna mempergunakan buku ishihara.
Ditetapkan buta warna total atau sebagian.
4. Uji Flouresin: untuk melihat adanya defek epitel kornea.
5. Uji festel: untuk mengetahui letak dan adanya kebocoran
kornea.
6. Uji plasido: untuk melihat lengkungan kornea.
7. Uji rasa: untuk fungsi ekskresi lakrimal.
8. Uji schirmer I: untuk pemeriksaan sekresi total air mata.
9. Ujia schirmer II: untuk refleks sekresi lakrimal.