Anda di halaman 1dari 22

Karsinoma nasofaring

Pendahuluan
Karsinoma nasofaring merupakan tumor
ganas yang paling banyak dijumpai di antara
tumor ganas THT di Indonesia, dimana
karsinoma nasofaring termasuk dalam lima
besar tumor ganas dengan frekwensi
tertinggi, sedangkan didaerah kepala dan
leher menduduki tempat pertama. Tumor ini
berasal dari fossa Rosenmulleri pada
nasofaring yang merupakan daerah
transisional dimana epitel kuboid berubah
menjadi epitel skuamosa.

Insidens karsinoma nasofaring


berbeda secara geografis dan etnik
serta hubungannya dengan EpsteinBarr Virus (EBV). Secara global, pada
tahun 2000 terdapat lebih kurang
65.000 kasus baru dan 38.000
kematian yang disebabkan penyakit
ini.

Data registrasi kanker di Indonesia


berdasarkan histopatologi tahun 2003
menunjukan bahwa karsinoma nasofaring
menempati urutan pertama dari semua
tumor ganas primer pada laki laki dan
urutan ke 8 pada perempuan. Karsinoma
nasofaring lebih sering pada laki-laki
dibanding perempuan dan dapat
mengenai semua umur, dengan insidens
meningkat setelah usia 30 tahun dan
mencapai puncak pada umur 40-60 tahun.

Anatomi Nasofaring
Nasofaring merupakan suatu ruang
atau rongga yang berbentuk kubus
yang terletak di belakang hidung.
Rongga ini sangat sulit untuk dilihat,
sehingga dahulu disebut rongga
buntu atau rongga tersembunyi

Batas batas Nasofaring


Di sebelah depan adalah koana
(nares posterior). Sebelah atas, yang
juga merupakan atap adalah basis
cranii. Sebelah belakang adalah
jaringan mukosa di depan vertebra
servikal. Sebelah bawah adalah
ismus faring dan palatum mole, dan
batas lainnya adalah dua sisi lateral.

Bagian yang terdapat di


nasofaring adalah:
Adenoid
Hanya terdapat pada anak-anak usia
kurang dari 13 tahun, pada orang
dewasa struktur ini telah mengalami
regresi
Fosa Nasofaring
Struktur ini berupa lekukan kecil yang
merupakan tempat predileksi fibroma
nasofaring atau angiofibroma nasofaring.

Torus Tobarius
Merupakan suatu tonjolan tempat
muara dari saluran tuba Eustachii
(ostium tuba)
Fosa Rosenmulleri
Fossa Rosenmulleri merupakan tempat
perubahan atau pergantian epitel dari
epitel kolumnar/kuboid menjadi epitel
pipih.

Karsinoma Nasofaring
Merupakan tumor ganas yang
menyerang daerah nasofaring

Epidemiologi
Meskipun banyak ditemukan di
negara dengan penduduk nonMongoloid, namun demikian di
daerah Cina bagian selatan masih
menduduki tempat tertinggi, yaitu
mencapi 2500 kasus baru per tahun
atau prevalensi 39,84 per 100.000
penduduk untuk Propinsi Guangdong.

Ras Mongoloid merupakan faktor


dominan timbulnya karsinoma
nasofaring, sehingga sering terjadi
pada penduduk Cina bagian selatan,
Hongkong, Vietnam, Thailand,
Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Diduga penyebabnya karena
memakan makanan yang diawetkan
dengan nitrosamin pada musim dingin.

Etiologi dan faktor resiko


Beberapa literatur menyebutkan bahwa
penyebab karsinoma nasofaring adalah
Virus Epstein-Barr, karena pada hampir
semua pasien dengan karsinoma
nasofaring didapatkan titer anti-virus EB
yang cukup tinggi, sedang pada
penderita karsinoma lain di saluran
pernapasan bagian atas tidak ditemukan
titer antibodi terhadap kapsid virus EB
ini.

Patofisiologi
Keganasan pada umumnya dapat
terjadi melalui dua mekanisme yaitu,
pertama pemendekan waktu siklus
sel sehingga akan menghasilkan
lebih banyak sel yang diproduksi
dalam satuan waktu. Kedua,
penurunan jumlah kematian sel
akibat gangguan pada proses
apoptosis.

Manifestasi Klinis

Gejala
Gejala
Gejala
Gejala
Gejala

Hidung/Nasofaring
Telinga
servical
Mata
Saraf

Klasifikasi
Stadium

Tumor

KGB

Metastasis

Stadium 0

T1s

N0

M0

Stadium I

T1

N0

M0

Stadium II A

T2a

N0

M0

Stadium II B

T1

N1

M0

T2a

N1

M0

T2b

N0, N1

M0

T1

N2

M0

T2a, T2b

N2

M0

T3

N2

M0

Stadium IV A

T4

N0, N1, N2

M0

Stadium IV B

Semua T

N3

M0

Stadium IV C

Semua T

Semua N

M1

Stadium III

T = Tumor Primer
T0 = Tidak tampak tumor
T1 = Tumor terbatas pada satu lokasi saja
(Nasofaring)
T2 = Tumor meluas ke jaringan lunak
T2a: Perluasan tumor ke orofaring dan atau
rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring
T2b: Disertai perluasan ke parafaring
T3 = Tumor menginvasi struktur tulang dan
atau sinus paranasal
T4 = Tumor dengan perluasan intracranial dan
atau terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa
infratemporal, hipofaring, orbita atau masticator

N = Pembesaran KGB
regional
NX = Pembesaran KGB tidak dapat dinilai
N0 = Tidak ada pembesaran KGB
N1 = Metastasi KGB unilateral, dengan ukuran
terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas
fossa supraklavikula
N2 = Metastasis KGB bilateral, dengan ukuran
terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas
fossa supraklavikula
N3 = Metastasis KGB bilateral dengan ukuran
lebih dari 6 cm, atau terletak di dalam fossa
supraklavikula
N3a: Ukuran lebih dari 6 cm
N3b: Di dalam fossa supraklavikula

M = Metastasis
Mx = Metastasis jauh tidak dapat
dinilai
M0 = Tidak ada metastasis jauh
M1 = Terdapat metastasis jauh

Klasifikasi Berdasarkan
WHO
Tipe Karsinoma Sel Skuamosa
Tipe Karsinoma Non Keratinisasi
Tipe Karsinoma Tanpa Diferensiasi

Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan Penunjang