Anda di halaman 1dari 22

BAB III

ANALISA HIDROLOGI
3.1. Analisa Data Hidrologi
3.1.2. Curah Hujan Rata-Rata Daerah
Mengingat kawasan di lokasi studi memiliki persebaran hujan yang beragam dalam
arti dalam waktu yang sama belum tentu daerah yang berdekatan mempunyai curah hujan
yang sama ataupun tercatat hujan. Kerapatan pemukiman dan pepohonan hutan hujan
menyebabkan nilai evapotraspirasi yang sedang, ketika uap berada di atmosfer terjadi
kondensasi dan pergerakan angin membawa uap air tersebut berpindah dari area
sebelumnya. Kemudian terjadi titk jenuh kulminasi sehingga titik air tersebut tidak mampu
lagi mempertahankan berat sendiri, Disinilah proses presipitasi bermula. Dengan alasan
inilah maka dipilih dua stasiun hujan yaitu Stasiun terdekat yaitu Stasiun Kapas dan
Stasiun Klepek.
Tabel 3.1. Perhitungan Curah Hujan Maksimum Rerata Daerah
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012

St.Kapas
Data
Tanggal
96
6-Apr
94
17-Dec
102
24-Feb
76
25-Feb
105
5-Dec
76
15-Feb
74
8-Mar
0
8-Nov
102
28-Feb
102
28-Feb

St. Klepek
Data
Tanggal
21
6-Apr
96
17-Dec
52
24-Feb
113
25-Feb
54
5-Dec
109
15-Feb
2
8-Mar
78
8-Nov
91
28-Feb
91
28-Feb

Hujan Maksimum
St.Kapas St.Klepek
96
21
94
96
102
52
76
113
105
54
76
109
74
2
0
78
102
91
102
91

Rerata(mm
)
58.5
95
77
94.5
79.5
92.5
38
39
96.5
96.5

Sumber: Hasil Perhitungan


3.1.2. Uji Homogenitas Data (Rescaled Adjusted Partial Sums)
Data-data hujan yang ada sebelum digunakan untuk menghitung curah hujan
rancangan (tiga harian) dan curah hujan efektif (sepuluh harian), perlu diuji dulu kualitas
dari data tersebut.
Pengujian homogenitas data dengan menggunakan metode RAPS untuk curah hujan
satu harian adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2. Hasil Perhitungan dengan Metode RAPS
No

Tahun

Hujan

Sk*

[Sk*]

Dy2

Sk**

[Sk**]

R max
(Tahuna
95
94.5
92.5
39
96.5

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
Rerata
Jumlah

119.58
92.22
84.16
97.49
110.91
84.15
95.82
75.48
100.82
84.23
94.49

25.10
-2.26
-10.33
3.01
16.42
-10.34
1.33
-19.01
6.34
-10.25

25.10
2.26
10.33
3.01
16.42
10.34
1.33
19.01
6.34
10.25
10.44

62.997
0.513
10.669
0.903
26.962
10.681
0.177
36.134
4.015
10.516

1.963
-0.177
-0.808
0.235
1.284
-0.808
0.104
-1.486
0.495
-0.802

1.963
0.177
0.808
0.235
1.284
0.808
0.104
1.486
0.495
0.802

163.567

Sumber: Hasil Perhitungan


Contoh perhitungan :
-

Misalkan data yang digunakan sebagai contoh perhitungan adalah data tahun
2005 dengan hujan harian maksimum dalam satu tahun sebesar 119,58 mm dan
curah hujan rerata sebesar 94,49 mm.

Sk* = (x x )= (119,58

[Sk*] = nilai mutlak Sk* = 25,10

D y

Sk

Dy =

Dy
Sk
Dy

94,49 ) = 25,10

(25,10)
10

= 62,997

162,997 = 12,789
25,10
12,789

Sk** =

= 1,963

[Sk**] = nilai mutlak dari Sk** = 1,963

Dari hasil analisa diatas, kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis lanjutan
untuk mengetahui ketidak-sesuaian (inconsistency) data. Berikut ini hasil analisa
tersebut:

= 10 (jumlah data)

[Sk**] maksimum = 1,963

[Sk**] minimum

= -1,486

Q = |Sk** maks |

= 1,963

R = Sk** maks

Sk** min = 1,963 1,486) = 3,449


Q
n

Tabel 3.3. Nilai probabilitas

90%
1.05
1.1
1.12
1.14
1.17
1.22

10
20
30
40
100

Q/n0.5
95%
1.14
1.22
1.24
1.27
1.29
1.36

99%
1.29
1.42
1.48
1.52
1.55
1.63

90%
1.21
1.34
1.4
1.44
1.5
1.62

dan

R
n

R/n0.5
95%
1.28
1.43
1.5
1.55
1.62
1.75

99%
1.38
1.6
1.7
1.78
1.85
2

Sumber: Sri Harto, 1993: 168

Q
n

1,963
10

Q
n

tabel diambil dengan probabilitas 90% dan n = 10 (tabel 3.3)

R
n

R
n

tabel diambil dengan probabilitas 99% dan n= 10

3,449
10

= 0,621

dari

= 1,091 dari

Q
n

R
n

tabel = 1,05 (OK!)

tabel = 1,210 (OK!)

(tabel 3.3)

Kesimpulan dari hasil uji homogenitas data hujan 1 harian di Stasiun Tabak
Kanilan adalah:

Nilai

Q
n

dan

R
n

hitung, lebih kecil dari nilai

pada tabel 3.3

Syarat analitis diterima (masih dalam batasan homogen)

3.1.3. Uji Abnormalitas Data (Uji Inlier-Outlier)

Q
n

dan

R
n

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data maksimum dan minimum dari
rangkaian data yang ada layak digunakan atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji InlierOutlier. Dimana data yang menyimpang dari dua batas ambang, yaitu ambang bawah (X i)
dan ambang atas (XH) akan dihilangkan. Rumus dari uji ini terdapat pada bab II, subbab
2.12, sedangkan langkah-langkah untuk menghitung uji abnormalitas data dengan
menggunakan metode Inlier-Outlier adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4. Hasil Perhitungan Uji Abnormalitas Data (Inlier-Outlier)
No.

Data terurut
Tahun
Rn (mm)

Log X

Keterangan

2007

39.33

1.5947

Stdev =

2012

39.50

1.5966

Rerata log X =

3
4
5
6

2014
2006
2008
2010

42.97
47.13
49.55
51.80

1.6331
1.6733
1.6951
1.7144

nilai Batas atas, Xh :

2013

54.23

1.7342

Xh =

8
9

2009
2011

55.27
59.08

1.7425
1.7714

nilai Batas bawah, Xi :

10

2005

64.45

1.8092

Xi =

Sumber: Hasil Perhitungan

Kn =

0.072
3
1.696
5
2.036

69.77
6

35.41
7

3.1.4. Curah Hujan Rancangan


Dalam studi ini menggunakan analisa frekuensi dengan Distribusi Normal, dikarenakan
metode ini lebih fleksibel dan efektif dapat digunakan untuk semua sebaran data serta
umum digunakan dalam perhitungan analisa curah hujan rancangan.
Tabel 3.5. Perhitungan Curah Hujan Rancangan Distribusi Normal
Kala Ulang
P
1.11
90.09
2
50
5
20
10
10
20
5
25
4
50
2
100
1
200
0.5
500
0.2
1000
0.1
Sumber: Hasil Perhitungan

Dis. Normal
39.643
50.332
57.323
60.978
63.996
64.875
67.393
69.657
71.730
74.241
76.003

3.2. Analisa Klimatologi


Analisis klimatologi bertujuan untuk menghitung besarnya evapotranspirasi potensial yang
terjadi di daerah studi. Hal ini dikarenakan dalam perhitungan parameter curah hujan, juga
terdapat parameter evapotranspirasi sebagai salah satu komponen analisis. Evapotranspirasi
merupakan laju penguapan dari tanaman pendek yang menutupi tanah secara sempurna,
tinggi yang seragam dan berada dalam keadaan cukup air

Tabel 3.6. Data Klimatologi


Bulan JD
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agust
Sep
Okt
Nop
Des

15
46
74
105
135
166
196
227
258
288
319
349

ea
kPa
3.39
3.27
3.,42
3.52
3.48
3.48
3.42
3.51
3.78
3.88
3.73
3.56

ea-ed

dr

Ra
Rs
ETo
kPa (kPa/C) (MJ/kg) (kPa/C)
(rad)
(rad) MJ/m2/hari
(mm/hari)
0.59 0.200
2.44
0.067 0.106 0.919 -0.370 1.032 1.62
38.82
27.37
5.26
0.46 0.194
2.44
0.067 0.105 0.874 -0.231 1.023 1.60
38.97
26.50
4.58
0.51 0.202
2.44
0.067 0.101 0.883 -0.048 1.010 1.58
37.96
26.01
4.84
0.63 0.207
2.44
0.067 0.102 0.874 0.165 0.992 1.55
35.21
23.94
5.00
0.73 0.205
2.44
0.067 0.108 0.874 0.328 0.977 1.53
32.05
21.79
5.10
0.70 0.205
2.44
0.067 0.106 0.856 0.407 0.968 1.51
30.20
20.23
4.55
0.96 0.202
2.44
0.067 0.120 0.856 0.375 0.968 1.52
30.83
20.66
5.76
1.11 0.207
2.44
0.067 0.123 0.856 0.240 0.976 1.54
33.54
22.47
6.81
1.44 0.220
2.43
0.067 0.126 0.865 0.038 0.991 1.57
36.61
24.71
8.38
1.24 0.225
2.43
0.067 0.113 0.874 -0.168 1.008 1.59
38.36
26.09
7.76
0.91 0.217
2.44
0.067 0.105 0.892 -0.334 1.023 1.62
38.69
26.69
6.41
0.66 0.209
2.44
0.067 0.102 0.892 -0.407 1.032 1.63
38.57
26.61
5.45

Sumber: Data
3.3. Debit Banjir Rancangan
Perhitungan Parameter Hitung HSS Nakayasu :

Tg untuk L > 15 km = 0.4 + 0.058 L


= 0.4 + 0.058. 85.1
= 3.126 jam

T0,3

= x Tg
= 2 x 3.126
= 6.252 jam

Tr

= 1 x Tg
= 1 x 3.126
= 3.126 jam

Tp

= Tg + (0,8 x Tr)
= 3.126 + (0,8 x 3.126)
= 5.627 jam

0,5 T0,3

= 0.5 x 6.252

= 3.126 jam

1,5 T0,3

= 1.5 x 6.252
= 9.378 jam

2 T0,3

= 2 x 6.252
= 12.504 jam

Tp + T0,3

= 5.627 + 6.252
= 11.879 jam

Tp + T0,3 + 1,5 T0,3 = 5.627 + 6.252+ 9.378


= 21.257 jam

Qp

= (CA x Ro) / (3.6 x (0.3 Tp + T0.3)


= (85,1 x 1) / (3,. x (0.3 x 5.627 + 6.252)
= 2.979 m3/det/mm

Tabel 3.7. Perhitungan Hujan Efektif HSS Nakayasu

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 3.8 Hidrograf Banjir Per Kala Ulang


T

Debit Banjir m3/det

U(t,1)

Ja
m3/det/mm
m
Tr 1.11 th
1
2
3
1
0.000
0.000
2
0.047
1.093
3
0.249
6.052
4
0.658
16.962
5
1.313
35.622
6
2.244
63.678
7
3.475
102.554
8
5.031
153.341
9
1.886
100.007
10
1.556
86.762
11
1.283
73.901
12
1.058
59.490
13
0.873
42.635
14
0.720
35.167
15
0.594
29.007
16
0.490
23.926
17
0.530
22.662
18
0.467
20.129
19
0.411
17.907
20
0.361
15.996
21
0.318
14.355
22
0.280
12.629
23
0.246
11.111
24
0.216
9.775
Sumber: Hasil Perhitungan

Tr 2 th
4
0.000
1.388
7.684
21.536
45.227
80.848
130.206
194.687
126.972
110.156
93.827
75.530
54.131
44.649
36.828
30.377
28.773
25.557
22.735
20.309
18.226
16.035
14.107
12.411

Tr 5 th
5
0.000
1.580
8.752
24.527
51.510
92.079
148.293
221.731
144.610
125.458
106.861
86.022
61.651
50.852
41.944
34.597
32.770
29.107
25.893
23.130
20.758
18.262
16.067
14.135

Tr 10 th
6
0.000
1.681
9.310
26.091
54.794
97.949
157.748
235.867
153.829
133.456
113.674
91.507
65.581
54.094
44.618
36.803
34.859
30.963
27.544
24.605
22.081
19.426
17.091
15.036

Tr 25 th
7
0.000
1.788
9.905
27.759
58.296
104.210
167.830
250.942
163.661
141.986
120.939
97.355
69.773
57.551
47.470
39.155
37.087
32.941
29.305
26.177
23.492
20.668
18.183
15.997

Tr 50 th
8
0.000
1.858
10.289
28.836
60.558
108.254
174.343
260.680
170.012
147.496
125.632
101.133
72.480
59.784
49.312
40.674
38.526
34.220
30.442
27.193
24.404
21.470
18.889
16.618

Tr 100 th
9
0.000
1.858
10.305
28.933
60.854
108.920
175.599
262.778
173.227
150.392
128.154
103.130
73.760
60.840
50.183
41.392
39.118
34.752
30.921
27.628
24.803
21.821
19.198
16.890

Gambar 3.1 Hidrograf Banjir Rancangan


Sumber: Perhitungan
3.4. Potensi Sumberdaya Air Metode F.J. Mock
Perhitungan ketersediaan air/debit andalan pada Daerah Aliran Sungai (DAS)
menggunakan metode F. J. Mock. Metode F. J. Mock ini memperhitungkan data curah
hujan, evapotranspirasi, dan karakteristik hidrologi daerah pengaliran sungai, dengan
asumsi dan data yang diperlukan.
Metode ini menganggap bahwa hujan yang jatuh pada catchment sebagian akan
hilang sebagai evapotranspirasi, sebagian akan langsung menjadi direct run off dan
sebagian lagi akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi). Infiltrasi ini pertama-tama akan
menjenuhkan top-soil dulu baru kemudian menjadi perkolasi ke tampungan air tanah yang
nantinya akan keluar ke sungai sebagai base flow. Dalam hal ini harus ada keseimbangan
antara hujan yang jatuh dengan evapotranspirasi, direct run off dan infiltrasi sebaai soil
moisture dan ground water discharge. Aliran dalam sungai adalah jumlah aliran yang
langsung dipermukaan tanah (direct run off) dan base flow.

Gambar 3.2 Struktur Model F.J. Mock


Parameter Karakteristik DAS
Pada model F. J. Mock ada tiga parameter yang menggambarkan karakteristik DPS yang
besar pengaruhnya terhadap keluaran system, yaitu:
1. Singkapan lahan (m)
2.

Singkapan

lahan

disesuaikan

dengan

penggunaan tata guna lahan. Prosentase singakapan


lahan ini berpengaruh terhadap evapotranspirasi
aktual yang terjadi, yang membedakan dengan
evapotranspirasi potensial.
3. Koefisien Infiltrasi
Infiltrasi adalah gerakan air dari atas ke dalam permukaan tanah. Gerakan air ini
disebabkan antara lain oleh berat air sendiri, rekahan tanah (celah tanah) yang cukup
dan tingkat kejenuhan dari tanah tersebut. Koefisien infiltrasi (Ci) ditentukan
berdasarkan kondisi porositas tanah dan kemiringan daerah pengaliran.
4. Kapasitas kelembaban tanah (soil moisture capacity)

Kapasitas kelembaban tanah untuk ditaksir berdasarkan kondisi porositas lapisan


tanah atas. Biasanya kapasitas kelembabab tanah ini ditaksir berkisar antara 50 mm
sampai dengan 250 mm.
5. Initial Storage
Initial Storage adalah besarnya volume air pada saat awal perhitungan.
6. Faktor Resesi Air tanah
Dalam perhitungan kandungan air tanah (Ground Water Storage) terdapat faktor
resesi aliran air tanah (k), yakni perbandingan air tanah pada suatu bulan dengan
aliran air tanah pada awal bulan.
Langkah Perhitungan
Metode Mock mempunyai dua prinsip pendekatan perhitungan aliran permukaan
yang terjadi di sungai, yaitu neraca air di atas permukaan tanah dan neraca air bawah tanah
yang semua berdasarkan hujan, iklim dan kondisi tanah.
Rumus untuk menghitung aliran permukaan terdiri dari:
Hujan netto R net = ( R Eta)
dimana :
Eta

= Etp E

= Etp . Nd/30.m

Nd

= 27 3/2. Nr

Neraca air di atas permukaan (WS) = Rnet SS


dimana :
SS

= SMt + SMt-1

SMt

= SMt-1 + Rnet

Neraca air di bawah permukaan


dVt = Vt Vt-1
dimana:

= C1 . WS

Vt

= (1+k).I + k. Vt-1

Aliran permukaan
RO = BF + DRO
Dalam satuan debit

Q = 0,0116 . RO. A/H


dimana :
BF

= I dVt

DRO

= WS I

Dimana notasi rumus di atas:


Rnet

= hujan netto, mm

= hujan, mm

Etp

= evapotranspirasi potensial, mm

Eta

= evapotranspirasi aktual, mm

Nd

= jumlah hari kering (tidak hujan), hari

Nr

= jumlah hari hujan, hari

WS

= kelebihan air, mm

SS

= daya serap tanah atas air, mm

SM

= kelembaban tanah, mm

dV

= perubahan kandungan air tanah, mm

= kandungan air tanah, mm

= laju infiltrasi, mm

Ci

= koefisien resapan (<1)

= koefisien resesi aliran air tanah (<1)

DRO = aliran langsung, mm


BF

= aliran air tanah (mm)

RO

= aliran permukaan, mm

= jumah hari kalender dalam sebulan, hari

= luas DPS, km2

= debit aliran permukaan, m3/det

= waktu tinjau (periode sekarang t dan yang lalu t-1)

Perhitungan secara lengkap debit andalan dengan menggunakan metode F.J. MOCK
hujan 10 harian akan ditampilkan akan ditampilkan pada tabel berikut

Tabel 3.9 Debit Rerata F.J. MOCK

No

Tahun

Debit Rerata
(m3/dtk)

Tahun

Debit
Terurut
(m3/dtk)

Probabilitas (%)

2005

2.536

2012

1.158

9.09

2006

1.958

2006

1.958

18.18

2007

2.553

2014

1.981

27.27

2008

2.610

2005

2.536

36.36

2009

3.049

2007

2.553

45.45

2010

2.944

2008

2.610

54.55

2011

2.677

2011

2.677

63.64

2012

1.158

2010

2.944

72.73

2013

3.520

2009

3.049

81.82

10

2014

1.981

2013

3.520

90.91

Sumber: Hasil Perhitungan


Debit andalan adalah debit yang dipakai sebagai andalan persediaan air sungai pada
daerah studi, karena pada sungai di lokasi studi tidak terdapat stasiun duga air, maka debit
andalan dihitung dengan menggunakan metode simulasi hujan menjadi aliran (Rainfall runoff model). Secara umum debit sungai dapat dibagi menjadi empat karakteristik
(Suyono, 1980: 202). Pembagian karakteristik debit sungai tersebut antara lain:
a. Debit air cukup (affluent), yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 95
hari dalam setahun (P = 26,03 %)
b. Debit air normal, yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 185 hari
dalam setahun (P = 50,68 %)
c. Debit air rendah, yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 275 hari
dalam setahun (P = 75,34 %)
d. Debit air musim kering, yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 355
hari dalam setahun (P = 97,26 %).
Dalam studi ini dihitung besarnya debit andalan dengan tingkat keandalan 80 %, dengan
probabilitas tersebut dihitung dengan metode Basic Year:
Pr
Dengan :

= m / (n+1) * 100 %
Pr

= probabilitas (%)

= nomor urut data

= jumlah data
Tabel 3.10 Debit Air Musim Kering 2013

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 3.11 Debit Air Musim Andalan 2009


No
1

10

11

12

Bulan
Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Aug

Sep

Oct

Nov

Dec

Periode

Jumlah
Hari

Debit (m3/dtk)

Volume
(m3)

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

11

9.515

9043502
3693834

10

4.275

II

10

0.752

650004

III

26.807

20845162

10

3.714

3209328

II

10

0.752

650004

III

11

2.911

2766341

10

4.211

3637948

II

10

4.506

3893254

III

10

5.667

4896314

10

0.752

650004

II

10

4.178

3609990

III

11

0.684

650004

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

10

0.752

650004

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

11

0.684

650004

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

11

0.684

650004

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

10

0.752

650004

10

0.752

650004

II

10

0.752

650004

III

11

0.684

650004

10

0.752

650004

II

10

8.026

6934064

III

10

8.474

7321749
650004

10

0.752

II

10

0.795

686458

III

11

5.046

4795289

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 3.12 Debit Air Musim Rendah 2010


No
1

10

11

12

Bulan
Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Aug

Sep

Oct

Nov

Dec

Periode

Jumlah
Hari

Debit (m3/dtk)

Volume
(m3)

10

1.072

925956

II

10

5.561

4804744

III

11

8.851

8412404

10

11.380

9832367

II

10

8.307

7177150

III

4.379

3026850

10

10.946

9457354

II

10

3.856

3331677

III

11

7.724

7340643

10

0.834

720742

II

10

1.294

1118309

III

10

3.419

2954412

10

1.517

1311113

II

10

8.411

7266915

III

11

2.974

2826851

10

0.762

658665

II

10

1.453

1255390

III

10

0.762

658665

10

0.762

658665

II

10

0.762

658665

III

11

0.693

658665

10

0.762

658665

II

10

0.762

658665

III

11

0.693

658665

10

0.762

658665

II

10

0.762

658665

III

10

0.762

658665

10

0.762

658665

II

10

0.762

658665

III

11

0.693

658665

10

2.755

2380159

II

10

0.762

658665

III

10

0.849

733261

10

6.643

5739676

II

10

0.762

658665

III

11

2.523

2398106

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 3.13 Debit Air Musim Normal 2008


No
1

10

11

12

Bulan
Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Aug

Sep

Oct

Nov

Dec

Periode

Jumlah
Hari

Debit (m3/dtk)

Volume
(m3)

10

3.206

2770400

II

10

0.659

569105

III

11

0.735

698087

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

8.682

6001237

10

21.789

18825838

II

10

7.411

6403126

III

11

4.600

4371874

10

2.987

2581085

II

10

0.659

569105

III

10

0.659

569105

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

11

0.599

569105

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

10

0.659

569105

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

11

0.599

569105

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

11

0.599

569105

10

0.659

569105

II

10

0.659

569105

III

10

0.659

569105

10

2.462

2126901
569105

II

10

0.659

III

11

0.599

569105

10

6.167

5327977

II

10

1.191

1028888

III

10

9.378

8102824

10

0.659

569105

II

10

8.476

7323401

III

11

0.599

569105

Sumber: Hasil Perhitungan

3.5. Analisa Kebutuhan Air Irigasi


Analisis kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi dan palawija
meliputi beberapa tahapan perhitungan antara lain :
a

Pola tata tanam

Penentuan koefisien tanaman

Evapotranspirasi konsumtif

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan

Perkolasi

Penggantian lapisan air

Curah hujan efektif

Efisiensi irigasi
Formulasi perhitungan kebutuhan air irigasi dapat dinyatakan sebagai

berikut :
a

Kebutuhan bersih air di sawah untuk padi

Kebutuhan bersih air di sawah untuk palawija

Kebutuhan bersih air irigasi di pintu pengambilan

Dengan :
NFR = Kebutuhan bersih air di sawah (mm)
Etc

= Evapotranspirasi konsumtif (mm)

Pd

= Kebutuhan air untuk pengolahan tanah (mm)

= Kehilangan air akibat perkolasi (mm)

Re

= Curah hujan efektif (mm)

= Efisiensi irigasi

WLR = Penggantian lapisan air (mm)

Dr

= Kebutuhan air di pintu pengambilan (l/det)

Tabel 3.14 Harga Koefisien Tanaman

Analisa kebutuhan air irigasi pada proyek ini menggunakan metode PU dengan 12
masa periode awal tanam, sebagai berikut:
1. Pola tata tanam Padi-Palawija-Palawija
-

Masa tanam awal pada 1 Januari

Masa tanam awal pada 2 Januari

Masa tanam awal pada 3 Januari

Masa tanam awal pada 1 Desember

Masa tanam awal pada 2 Desember

Masa tanam awal pada 3 Desember

2. Pola tata tanam Padi I-Padi II-Padi III


-

Masa tanam awal pada 1 Januari

Masa tanam awal pada 2 Januari

Masa tanam awal pada 3 Januari

Masa tanam awal pada 1 Desember

Masa tanam awal pada 2 Desember

Masa tanam awal pada 3 Desember

Dari perhitungan pola tata tanam diatas, diambil debit kebutuhan air
irigasi yang paling besar. Pola tata tanam Padi I-Padi II-Padi III awal
masa tanam 3 Januari menghasilkan debit yang paling besar.

Tabel 3.15. Pola Tata Tanam


Sumber: Hasil Perhitungan