Anda di halaman 1dari 17

DASAR GENETIKA

PEMULIAAN TERNAK
Anisa Kartika
200110140099
Sydad M. Ridha
200110140232
Agung Permana
200110140287
Satria Herpratama R.
200110140307
Redita Cahya Riffani
200110140316

LATAR BELAKANG
Ilmu pemuliaan (Ing. breeding science) merupakan
penerapan biologi, terutama genetika, dalam bidang
peternakan untuk memperbaiki produksi atau kualitas. Ilmu
ini relatif baru dan lahir sebagai implikasi berkembangnya
pemahaman manusia atas asas-asas pewarisan sifat secara
genetik.

Bagaimana korelasi antara


pemuliaan ternak dengan
genetika?
Apa saja perhitungan genetika
yang digunakan dalam
pemuliaan ternak?

Cabang-cabang murni genetika :


genetika molekular
genetika sel (sitogenetika)
genetika populasi
genetika kuantitatif
genetika perkembangan
Cabang-cabang terapan genetika :
genetika kedokteran
ilmu pemuliaan
rekayasa genetika atau rekayasa gen

1. Korelasi Genetika dengan


Pemuliaan Ternak
Pembahasan tentang korelasi genetik berkaitan dengan
hubungan antara suatu sifat dengan sifat lain secara genetik.
Alasan mengapa korelasi genetik sangat penting adalah jika
dua sifat berkorelasi secara genetik, maka seleksi untuk suatu
sifat akan menyebabkan perubahan pada sifat lain.

2. Perhitungan Genetika dalam


Pemuliaan Ternak
Hukum Hardy-Weinberg
Menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip suatu populasi
(gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan
kondisi tertentu. Kondisi-kondisi yang menunjang Hukum
Hardy-Weinberg sebagai berikut:
Ukuran populasi harus besar
Ada isolasi dari polulasi lain
Tidak terjadi mutasi
Perkawinan acak
Tidak terjadi seleksi alam

Formulasi hukum Hardy-Weinberg dapat


dijelaskan berikut ini :
p + q = 1, maka p = 1 q dan q = 1 p
Pada suatu lokus, gen hanya mempunyai
dua alel dalam satu populasi. Para ahli
genetika populasi menggunakan
huruf p untuk mewakili frekuensi dari satu
alel dan huruf q untuk mewakili frekuensi
alel lainnya.

Perubahan Perbandingan Frekuensi Gen


(Genotip) pada Populasi
Beberapa faktor yang menyebabkan perubahan
keseimbangan hukum Hardy-weinberg dalam populasi yaitu
adanya:
Hanyutan genetik (genetic drift),
Arus gen (gene flow),
Mutasi,
Perkawinan tidak acak, dan
Seleksi alam

Penentuan sex
Pada hewan terdapat sepasang kromosom yang berbeda
pada hewan jantan dan betina. Kromosom tersebut disebut
kromosom seks (sex chromnosome), kromosom yang biasa
(yang bukan kromosom seks) disebut autosom, Kebanyakan
hewan betina mempunyai dua X kromosom seks, sedang
hewan jantan mempunyai satu. X dan satu Y kromosom seks.
Perpasangan dan pemisahan dalam meiosis berjalan seperti
pada autosom sehingga semua telur akan membawa satu
kromosom X dan mempunyai peluang yang sama besar untuk
dapat dibuahi oleh spermatozoa yang membawa kromoson X
atau Y.

Kaitan Sex
Di samping menentukan jenis seks, kromosom X dan Y mem
bawa pula gen yang mengontro1 sifat (bukan seks) tertentu.
Gen yang dibawa oleh kromosom X tidak mempunyai allel
pada Y kromosom. Pada keadaan demikian apabila individu
jantan adalah heterogenetik, maka efek gen tersebut baik
dominan ataupun resesif, pada individu jantan akan terlihat.
Apabila suatu gen terdapat pada kromosom Y, maka hanya
individu heterogenetik yang dapat memunculkan efeknya.

Epistasis dan interaksi gen


Dari persilangan suatu dihibrida pada F2 dapat diamati angka
banding empat bentuk fenotipe yakni 9 : 3 : 3 : 2. Keadaan
demikian dapat terjadi apabila ada gen yang terlibat
mempunyai efek yang terpisah dan terletak pada kromosom
yang berbeda (tidak ada kaitan).

Kemampuan yang dimiliki oleh satu gen menutupi manifestasi gen lain
disebut epistasis. Gen-gen epistatik menutupi atau mempengaruhi gengen hipostatik ( hypostatic gen). Apabila ada epistatis dan interaksi gen,
maka contoh angka banding 9 : 3 : 3 : 1 akan berubah, kemungkinan
yang dapat timbul adalah sebagai berikut.
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.

Tidak ada interaksi


Epistatis resesif (A, gen epistatik ), (B, gen hipostatik)
Epistatis dominan
Gen Komplementer
Gen Supresor
Gen Duplikat
Gen Aditif
Seleksi
Mutasi
Migrasi
Genetik Drift

Reproduksi seksual dan


kombinasi
Adanya berbagai alela dalam suatu populasi menentukan variabilitas
genetik populasi itu. Organisma-organisma yang berproduksi secara
seksual cenderung memproduksi keturunan yang berfariasi secara
genetis karena pilihan acak gen dalam sel-sel benih menyusul
meiosis, dan fenomena rekombinasi. Sng sama degregasi
(pemisahan) alela secara normal adalah akibat meiosis yang
menjamin pemindahan (transmisi) yang sama dari anggota-anggota
sepasang alela. Namun, diketahui ada contoh-contoh kelaianan
transmisi, seperti pada kasus beberapa alela t resesif. Jantan-jantan
yang heterozigotik (+/t) lebih sering memindahkan alela t itu daripada
alela + oleh sebab-sebab yang tidak diketahui.
Variabilitas genetik dalam gamet-gamet organisme yang
bereproduksi secara seksual sebenarnya mungkin lebih dipengaruhi
oleh rekombinasi antara kromosom-kromosom dari pada oleh
berbagi mutasi.

Perkawinan acak dan perkawinan


keluarga
Perkawinan acak tida berlaku bagi banyak populasi, terutama
pada populasi manusia, karena sifat-sifat fisik tertentu sering
merupakan dasar bagi pemilihan teman hidupnya selain daripada
itu, terdapat beberapa populasi dengan tingkat perkawinan antar
individual yang sekeluarga yang tinggi disebabkan oleh bbagai
aturan keagamaan. Perkawinan individual-individual yang
mempunyai hubungan keluarga dkenal sebagai perkawinan
keluarga (inbreeding). Pada manusia hal ini dinyatakan sebagai
perkawinan konsanguinus (consanguineous marriage).
Konsekuensi genetik dari perkawinan tidak acak dan perkawinan
keluarga adalah suatu penurunan variabilitas genetik dan suatu
peniingkatan homozigotik.

Arus genetik
Arus genetik adalah suatu faktor yang dapat mempengaruhi
keseimbangan genetis. Jika sepasang alela dalam suatu
homozigot harus dipindahkan secara sama kepada
keturunannya. Jika suatu alela leebih sering dipindahkan
daripada yang lain, populasi kemudian akan mengalami suatu
arus kearah frekuensi yang tidak sama dari kedua alela
tersebut.

Seleksi
Seleksi yaitu suatu kekuatan yang besar yang mempengaruhi
frekuensi berbagai alela dalam suatu populasi. Secara
sederhana, seleksi menyatakan apakah ciri yang ditentukan
oleh suatu alela menyebabkan individual dapat bertahan hidup
dan bereproduksi atau tidak.

Silang dalam (inbreeding) dan


silang luar (outbreeding)
Silang dalam adalah salah satu bentuk isolasi secara genetik.
Jika suatu populasi terisolasi, maka silang dalam cenderung
terjadi karena adanya keterbatasan pilihan dalam proses
pekawinan. Jika silang dalam terjadi antargrup ternak maka
yang tidak terisolasi secara geografis akan berpengaruh
terhadap sesamanya. Oleh karena itu, silang dalam
merupakan silang buatan. Namun, jika silang luar dilakukan
pada suatu populasi yang memiliki rasio jenis kelamin yang
sama dengan frekuensi gen pada suatu lokus yang sama
pada kedua jenis kelamin maka fekuensi gen tidak akan
berubah akibat pengaruh langsung silang luar.