Anda di halaman 1dari 102

makalah gangguan haid

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Haid atau yang sering disebut dengan menstruasi merupakan pelepasan lapisan dalam
(endometrium) yang disertai pendarahan, terjadi berulang setiap bulan secara periodik,
kecuali pada saat hamil. Sedangkan siklus haid adalah waktu sejak hari pertama haid sampai
datangnya haid periode berikutnya.
Siklus haid setiap perempuan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, bukan saja
antara beberapa perempuan, tetapi juga pada perempuan yang sama. Juga pada kakak beradik
bahkan saudara kembar siklus haidnya tidak terlalu sama.
Sebelum datangnya haid, setiap perempuan umumnya mengalami sindrom bulanan atau yang
lebih dikenal dengan sindrom pra-haid. Sindrom ini sangat mengganggu aktifitas perempuan,
terutama mereka yang aktif bekerja diluar rumah.
Selain itu, gangguan haid juga sering terjadi seperti: dismenorea, hipermenorea, hipemenorea,
amenorea, dan masih banyak gangguan haid lainnya yang sering dialami oleh para
perempuan.
Karena kurangnya pengetahuan serta informasi yang dimiliki oleh sebagian besar perempuan
tentang siklus haid, sindrom pra-haid, serta gangguan haid dalam masa reproduksi, maka
penulis tertarik untuk membahas tentang masalah yang sering dialami oleh setiap perempuan
ini.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah mengenai siklus haid, sindrom pra-haid,
serta gangguan-gangguan haid apa saja yang dialami oleh perempuan dalam masa reproduksi.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar para perempuan lebih mengetahui tentang sindrom pra-haid, siklus haid, gangguangangguan selama haid, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan haid.
2. Agar perempuan aktif dapat mengatur siklus haidnya tanpa mengalami gangguan selama
beraktifitas.

3. Agar perempuan tahu bagaimana cara mengurangi sindrom pra-haid yang sering
mengganggu aktifitas mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan
(deskuamasi) endometrium (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG , 2005: 103).
Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi setiap bulan berupa darah dan
jaringan, yang dimulai pada masa pubertas, ketika seorang perempuan mulai memproduksi
cukup hormon tertentu (kurir kimiawi yang dibawa didalam aliran darah) yang
menyebabkan mulainya aliran darah ini (Robert P. Masland dan David Estridge, 2004: 51).
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubah
Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi setiap bulan berupa darah dan
jaringan, yang dimulai pada masa pubertas, ketika seorang perempuan mulai memproduksi
cukup hormon tertentu (kurir kimiawi yang dibawa didalam aliran darah) yang
menyebabkan mulainya aliran darah ini (Robert P. Masland dan David Estridge, 2004: 51).
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi karena adanya
serangkaian interaksi antara beberapa kelenjer didalam tubuh (Virnye Winiastri,dkk, 2002:
19).
2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya haid antara lain :
1) Faktor hormon
Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita yaitu:
FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh Hipofise
Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium
LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise
Progesteron dihasilkan oleh ovarium
2) Faktor Enzim
Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang berperan dalam sintesa
protein, yang mengganggu metabolisme sehingga mengakibatkan regresi endometrium dan
perdarahan.

3) Faktor vascular
Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional
endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula arteria-arteria, vena-vena
dan hubungan antaranya. Dengan regresi endometrium timbul statis dalm vena-vena serta
saluran-saluran yang menghubungkannya dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan
perdarahan dengan pembentukan hematom, baik dari arteri maupun dari vena.
4) Faktor Prostaglandin
Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi endometrium,
prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi myometrium sebagai suatu faktor untuk
membatasi perdarahan pada haid.
Secara khusus, perempuan mengalami haid pada usia dua belas dan tiga belas tahun, tetapi
selalu terdapat perempuan yang mengalaminya pada usia lebih awal, kira-kira sepuluh tahun,
dan beberapa diantaranya bahkan lebih dini. Dilain pihak , beberapa perempuan mungkin
belum mengalami haid pada usia lima belas atau enam belas tahun. Ini semua bergantung
pada produksi dan pelepasan hormon.
Cepat atau lambatnya haid (kematangan seksual) ini kecuali ditentukan oleh konstitusi fisik
individual, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan
milieu yang melingkungi anak. Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak
gadis, umpamanya bisa memperlambat tibanya menstruasi.
Selanjutnya , rangsangan-rangsangan kuat dari luar, umpamanya saja berupa film-film sex
(blue film) buku bacaan dan majalah-majalah bergambar sex godaan dan rangsangan dari
kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan sex/coitus, semua itu tidak hanya
meningkatkan memuncaknya atau semakin panasnya reaksi-reaksi sexual saja, akan tetapi
juga mengakibatkan kematangan sexual yang lebih cepat pada diri anak. Maka pengaruh
kultur dan peradaban itu tampaknya ambivalen sifatnya, artinya kultur dan peradapan dapat
memperlambat atau mempercepat tempo kematangan sexual anak. Jadi, juga memperlambat
atau mempercepat awal dari haid anak gadis.
2.3 Sindrom Pra-Haid
Beberapa saat sebelum mulai haid, atau bisa pada hari-hari haid, sejumlah gadis dan
perempuan biasanya mengalami rasa tidak enak. Mereka biasanya merasakan satu atau
beberapa gejala yang disebut sebagai kumpulan gejala sebelum haid atau istilah populernya
Pre-menstrual syndrome (PMS).
Sindrom pra-haid adalah sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari
pertama hingga hari keempat belas sebelum masa haid dimulai dan diikuti dengan tahap
bebas gejala jika masa ini telah lewat (Anthony Tan,2002:23).
Beberapa dokter percaya bahwa sindrom pra-haid dialami oleh separuh dari total perempuan
yang berada pada masa reproduktif. Sekitar lima persen dari perempuan yang mengalami
PMS disarankan untuk mengurangi kegiatan sehari-hari mereka karena mereka sangat

terganggu. Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah teori sedang diteliti. PMS
mungkin berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap bulan, rendahnya kadar gula,
kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals didalam otak yang
mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah satunya.
Gejala-gejala atau perubahan-perubahan fisik dan mental yang sering dikeluhkan oleh para
penderita sindrom pra-haid diantaranya yaitu:
a) Gejala fisik:
Kenaikan berat badan
Perasaan bengkak dan Pembengkakan (perut, jari, tungkai, pergelangan kaki, dll)
Ketidaknyamanan buah dada (pembesaran, nyeri tekan, terasa berat, terasa kaku)
Sakit kepala dan serangan migren
Pegal dan nyeri pada otot
Dismenore kongestif, yaitu sakit perut atau sakit pinggang bagian bawah
Berkurangnya air kencing
Perubahan kulit, termasuk bisul, jerawat, bercak putih, dan pembengkakan-pembengkakan
lain
Perubahan nafsu makan (kehilangan nafsu makan atau keinginan makan makanan yang
berlemak)
Perubahan tidur ( kurang tidur atau tidur berlebihan)
Tidak ada gairah untuk aktif serta badan terasa lelah
Mata terasa sakit, hidung tersumbat, dan timbul reaksi alergi
Mual, pingsan, asma, dan epilepsy
Kejang, terjadi karena dinding-dinding otot uterus dengan perlahan akan mengkerut untuk
membantu mengeluarkan lapisan.
b) Gejala mental (psikis)
Ketegangan dan cepat marah (emosional)
Depresi, termasuk kurang percaya diri dan perasaan tidak berharga
Stres
Kelesuan

Berkurangnya daya konsentrasi dan daya ingat berkurang


Kecenderungan kearah keagresifan dan/atau kekerasan fisik
Control emosi yang rendah dan reaksi emosi yang tidak logis
Penurunan efisiensi, terutama dalam memecahkan masalah mental
Kurang atau tidak ada dorongan seks
Dorongan yang kuat untuk banyak makan, tidak ada hubungan dengan nafsu makan
Bertambahnya kecenderungan minum obat, tablet, dsb.
Sindrom ini dirasakan juga sangat mengganggu dalam keadaan-keadaan khusus, misalnya
ketika ingin melakukan perjalanan jauh, beraktifitas, ujian, pertandingan olahraga, ibadah
puasa, serta ibadah haji.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat dasar fisiologis pada sindroma pra-haid. Meskipun
satu sebab tunggal dari sindroma pra-haid belum ditemukan, para ilmuwan menyarankan
bahwa sindroma pra-haid disebabkan oleh tali-temali yang rumit antara ketidakseimbangan
hormon, stress, dan kekurangan gizi.
Sindrom pra-haid ini sangat menyiksa, karena hampir semua perempuan mengalaminya.
Namun banyak juga perempuan yang mengalami kesulitan untuk mengenali sindrom pra-haid
ini pada dirinya sendiri, terutama bagi mereka yang baru mengenal konsep sindrom pra-haid.
Berbagai faktor gaya hidup tampaknya menjadikan gajala-gajala lebih buruk termasuk stress,
jumlah kegiatan fisik luar yang tidak memadai, dan diet yang mengandung gula, karbohidrat
yang diolah, garam, lemak, alkohol dan kafein yang tinggi.
Empat kelompok gejala utama sindrom pra-haid telah diidentifikasi. Setiap perempuan dapat
mengalami gejala-gejala dalam satu atau beberapa kelompok.
1) Ketegangan Pra-haid berciri khas ketegangan syaraf, perubahan suasana hati, rasa
terganggu dan kecemasan.
2) Hiperhidrasi, atau sindroma hiperhidrasi, ditandai oleh penambahan berat badan,
pembengkakan ditangan dan kaki, kelunakan buah dada, dan kembungnya perut.
3) Hasrat makan yang berarti bertambahnya selera dengan hasrat makan makanan-makanan
manis atau asin, gejala-gejala pun mencakup sakit kepala, kelelahan, pusing, dan jantung
yang berdebar.
4) Depresi pun umum dan mencakup mudah lupa, menangis, kebingungan dan sukar tidur.
Para perempuan yang diganggu oleh sindrom pra-haid dapat memperbaiki gejala-gejala
mereka dengan melakukan perubahan-perubahan diet sebagai berikut:

Mengurangi jumlah gula yang dimakan


Menambah serat
Makan makanan yang berprotein tinggi karena dapat menyebabkan lebih banyak air yang
keluar tubuh , sehingga mengurangi rasa penuh diperut bagian bawah
Meminum ramuan tradisional
Mencakup satu hingga dua sendok makan minyak safflower dalam diet
Mengurangi jumlah lemak yang dimakan
Mengurangi jumlah garam yang dimakan jika retensi cairan merupakan masalah, karena
garam menyebabkan tubuh berusaha menyimpan air dalam tubuh, sehingga menyebabkan
rasa penuh diperut bagian bawah
Menghindari kafein dan beberapa minuman ringan seperti cola, teristimewa jika kecemasan
dan kelunakan buah dada merupakan masalah
Selain itu :
Mencakup kegiatan fisik dalam kegiatan sehari-hari, dan
Mempraktekkan teknik-teknik pengurangan stress secara teratur.
Banyak perempuan telah berkurang penderitaannya dengan ancangan gaya hidup yang
moderat ini dan dianjurkan untuk pengobatan awal bagi sindroma pra-haid.
2.4 Siklus Haid
Siklus haid merupakan waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode
berikutnya. Sedangkan panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang
lalu dan mulainya haid berikutnya (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG ,2005:103).
Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak
diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat
diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan 1 hari.
Dalam satu siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari produksi hormonhormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim makin menebal sebagai persiapan jika terjadi
kehamilan.
Siklus haid perempuan normal berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15 persen perempuan
yang memiliki siklus haid 28 hari. Panjangnya siklus haid ini dipengaruhi oleh usia
seseorang. Rata-rata panjang siklus haid gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada perempuan
usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada perempuan usia 55 tahun 51,9 hari.

Siklus haid perempuan tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan
oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia. Pada masa remaja biasanya memang
mempunyai siklus yang belum teratur, bisa maju atau mundur beberapa hari. Pada masa
remaja, hormon-hormon seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus haid
menjadi lebih teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena faktor stres atau
kelelahan.
Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 16 cc. pada wanita yang lebih tua biasanya yang
keluar lebih banyak. Pada wanita dengan anemia defisiensi besi jumlah darah haidnya juga
lebih banyak. Jumlah darah haid lebih dari 80 cc dianggap patologik.
Setiap bulannya, haid berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima dari siklus haid,
endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya
kehamilan. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, endometrium meluruh dan
terjadilah siklus berikutnya.
Siklus haid selama 1 bulan dapat kita bedakan dalam 4 masa (stadium):
1) Stadium Menstruasi atau desquamasi
Pada masa ini endometrium dicampakkan dari dinding rahim disertai dengan perdarahan,
hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan stratum basale. Stadium ini berlangsung
selama 4 hari.
Jadi, dengan haid itu keluar darah, potongan-potongan endometrium dan lendir dari servix.
Darah itu tidak membeku karena ada fermen yang mencegah pembekuan darah dan
mencairkan potongan-potongan mucosa. Hanya kalau banyak darah keluar maka fermen
tersebut tidak mencukupi hingga timbul bekuan-bekuan darah dalam darah haid. Banyaknya
perdarahan selama haid normal adalah 50 cc.
2) Stadium Post menstruum atau stadium regenerasi
Luka yang terjadi karena endometrium dilepaskan, berangsur-angsur ditutup kembali oleh
selaput lendir baru yang terjadi dari sel epitel kelenjer-kelenjer endometrium.
Pada saat ini tebalnya endometrium 0,5 mm, stadium ini sudah mulai waktu stadium
menstruasi dan berlangsung 4 hari.
3) Stadium Intermenstruum atau stadium proliferasi
Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal 3,5 mm.
Kelenjar-kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain hingga berkelok.
Stadium proliferasi berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari hari pertama haid.
4) Stadium Praemenstruum atau stadium sekresi

Pada stadium ini endometrium kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk kelenjar berubah menjadi
panjang dan berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah tertimbun glycogen
dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur. Memang maksud dari
perubahan ini tidak lain dari pada mempersiapkan endometrium untuk menerima telur.
Pada endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat (stratum compactum) yang
hanya ditembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar-kelenjar, lapisan mampung (stratum
spongiosum), yang banyak lubang-lubangnya karena disini terdapat rongga dari kelenjarkelenjar dan lapisan bawah yang disebut stratum basale.
Stadium sekresi ini berlangsung dari hari ke-14 sampai 28. Kalau tidak terjadi kehamilan
maka endometrium dilepaskan dengan perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi.
2.5 Siklus Haid Perempuan Aktif
Kini perempuan aktif yang sibuk bekerja, diluar maupun didalam rumah, dimungkinkan
dapat mengatur sendiri siklus haid mereka. Mengatur siklus haid dapat dilakukan dengan
berbagai cara, yaitu dengan cara menunda haid atau menjarangkannya. Haid dimungkinkan
tidak terjadi setiap bulan, tetapi dalam kurun waktu tertentu, misalnya empat kali dalam
setahun.
Namun, hal ini hanya dapat terjadi jika perempuan mengkonsumsi kontrasepsi oral yang
mengandung hormon estrogen dan hormone progesterone. Dengan demikian, maka bagi
perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji atau ibadah puasa sekarang tidak akan
terganggu lagi. Juga bagi kita yang akan melakukan perjalanan jauh pun tidak akan
mengalami gangguan haid lagi.
Karena siklus haid ini rutin terjadi pada setiap perempuan
maka sebaiknya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Menjaga kebersihan dengan mandi dua kali sehari menggunakan sabun mandi biasa, pada
saat mandi organ reproduksi luar perlu cermat dibersihkan.
b) Mengganti pembalut minimal empat kali sehari terutama sehabis buang air kecil.
c) Bila perut, terutama daerah sekitar rahim, terasa nyeri, dan masih dapat diatasi (ringan),
tidak usah dibiasakan minum obat penghilang rasa sakit, kecuali sangat mengganggu kegiatan
sehari-hari, seperti misalnya hingga menyebabkan pingsan.
d) Makan makanan bergizi terutama yang banyak mengandung zat besi dan vitamin, seperti
hati ayam/sapi, daging, telur, sayur-sayuran, dan buah-buahan.
e) Aktivitas harian tidak perlu diubah kecuali bila ada aktivitas fisik yang berlebihan
misalnya olahraga berat.
2.6 Gangguan Haid
Adapun tanda-tanda gangguan haid adalah:

Bagi perempuan tertentu, tidak teraturnya haid merupakan keadaan wajar, namun bagi
perempuan lainnya keadaan ini dapat merupakan tanda bagi penyakit menahun, kekurangan
darah (anemia), gangguan gizi (malnutrisi), atau mungkin adanya infeksi atau tumor dalam
rahim (uterus).
Apabila haid tidak terjadi pada saat yang seharusnya, hal ini mungkin menunjukkan tanda
kehamilan. Akan tetapi masa haid yang tidak teratur atau tidak mendapat haid sering
merupakan keadaan yang wajar bagi banyak remaja yang baru saja mendapatkan haid dan
bagi perempuan yang berusia diatas 40 tahun. Kecemasan dan gangguan emosional dapat
menyebabkan seorang wanita tidak mendapatkan haid.
Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal ini hampir selalu menjadi tanda
permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian bayi didalam kandungan)
Apabila masa haid berlangsung lebih dari enam hari, dan darah yang dikeluarkan banyak dan
tidak seperti biasanya, atau haid lebih dari satu kali dalam sebulan, maka anda harus meminta
nasehat dokter.
Gangguan haid dan siklusnya, khususnya dalam masa reproduksi, dapat digolongkan
kedalam:
kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid:
a. hipermenorea atau menoragia
b. hipomenorea
kelainan siklus:
a. polimenorea
b. oligomenorea
c. amenorea
perdarahan diluar haid:
a. metroragia
gangguan lain yang ada hubungan dengan haid:
a. premenstrual tension (ketegangan prahaid)
b. mastodinia
c. Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)
d. Dismenorea
2.6.1 Hipermenorea (Menoragia)

Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari
normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya
adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan
kontraktilitas yang terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada
waktu haid, dan sebagainya. Pada gangguan pelepasan endometrium biasanya terdapat juga
gangguan dalam pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan pelepasannya
pada waktu haid.
Terapi pada hipermenorea pada mioma uteri niscaya tergantung dari penanganan mioma
uteri, sedangkan diagnosis dan terapi polip endometrium serta gangguan pelepasan
endometrium terdiri atas kerokan.
2.6.2 Hipomenorea
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa.
Sebab-sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah
miomektomi), pada gangguan endokrin, dan lain-lain. Kecuali jika ditemukan sebab yang
nyata, terapi terdiri atas menenangkan penderita. Adanya hipomenorea tidak mengganggu
fertilitas.
2.6.3 Polimenorea
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasa ( kurang dari 21 hari). Perdarahan
kurang lebih sama atau lebih banyak dari haid biasa. Hal yang terakhir ini diberi nama
polimenoragia atau epimenoragia.
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan
ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah kongesti ovarium karena
peradangan, endometriosis, dan sebagainya.
2.6.4 Oligomenorea
Di sini siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Apabila panjangnya siklus lebih dari 3
bulan, hal itu sudah mulai dinamakan amenorea. Perdarahan pada oligomenorea biasanya
berkurang.
Oligomenorea dan Amenorea sering kali mempunyai dasar yang sama, perbedannya terletak
tingkat. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas
cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari
biasa.
2.6.5 Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya tiga bulan berturut-turut.
Lazim diadakan pembagian antara amenorea primer dan amenorea sekunder. Amenorea
primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun keatas tidak pernah dapat haid, sedangkan

pada amenorea sekunder penderita pernah mendapat haid tetapi kemudian tidak dapat lagi.
Amenorea primer umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk
diketahui, seperti kelainan-kelainan congenital dan kelainan-kelainan genetic. Adanya
amenorea sekunder lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang timbul kemudian dalam
kehidupan wanita, seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor-tumor, penyakit
infeksi, dan lain-lain.
2.6.6 Premenstrual Tension (Tegangan Prahaid)
Premenstrual tension merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai
beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun
kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti. Gejala-gejala yang tidak seberapa
berat banyak dijumpai, terutama pada wanita berumur antara 30 dan 45 tahun. Keluhankeluhan terdiri atas gangguan emosional berupa iritabilitas, gelisah, insomia, nyeri kepala,
mudah tersinggung, sukar tidur, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa nyeri pada
mamma, dan sebagainya. Sedangkan pada kasus yang berat terdapat depresi, rasa ketakutan,
gangguan konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejala fisik tersebut diatas.
2.6.7 Mastalgia
Gejala mastalgia adalah rasa nyeri dan pembesaran mamma sebelum haid. Sebabnya edema
dan hiperemi karena peningkatan relative dari kadar estrogen. Pada pemeriksaan harus
diperhatikan adanya radang atau neoplasma.
Terapi biasanya terdiri atas pemberian diuretikum, sedang pada mastalgia keras kadangkadang perlu diberikan metiltestosteron 5 mg sehair secara sublingual. Bromokriptine dalam
dosis kecil dapat membantu pengurangan penderitaan.

2.6.8 Mittelschmerz
Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid, pada
saat ovulasi. Rasa nyeri yang terjadi mungkin ringan, tetapi mungkin juga berat. Lamanya
mungkin hanya beberapa jam, tetapi pada beberapa kasus sampai 2-3 hari. Rasa nyeri dapat
disertai atau tidak disertai dengan perdarahan, yang kadang-kadang sangat sedikit berupa
getah berwarna coklat, sedang pada kasus lain dapat merupakan perdarahan seperti haid
biasa.
Diagnosis dibuat berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak mengejang,
tidak menjalar, dan tidak disertai mual dan muntah.
Penanganan umumnya terdiri atas penerangan pada wanita yang bersangkutan.
2.6.9 Dismenorea

Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering
menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena
gangguan ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekwensi
dismenorea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal, namun sampai sekarang
patogenesisnya belum dapat dipecahkan.
Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak dibawah perut sebelum dan
selama haid dan sering kali rasa mual, maka istilah dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid
demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan
atau cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari.
Penanganan dismenorea ini dapat dilakukan dengan cara penerangan dan nasehat, pemberian
obat analgesic, terapi hormonal, teapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin, dilatasi
kanalis servikalis, dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Haid atau menstruasi merupakan ciri khas kematangan biologis seorang perempuan. Haid
merupakan salah satu perubahan siklik yang terjadi pada alat kandungan sebagai persiapan
untuk kehamilan.
Setiap perempuan normal akan mengalami haid setiap bulannya, yang dipengaruhi oleh
faktor hormon, enzim , vascular, dan prostaglandin.
Sebelum datangnya haid perempuan akan mengalami sindrom pra-haid yang dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari, yang berupa perubahan-perubahan atau gejala-gejala fisik
maupun mental. Sindrom pra-haid ini berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap
bulan, rendahnya kadar gula, kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals
didalam otak yang mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah
satunya.
Sindrom pra-haid ini tidak selalu sama pada setiap orang, begitu juga dengan siklus haid juga
berbeda antara setiap perempuan walau saudara kembar sekalipun. Siklus haid biasanya 28
hari, yang berlangsung selama 3-7 hari. Siklus ini tidak selalu sama setiap bulannya.
Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia.
Siklus haid ini berlangsung dalam 4 masa (stadium) yaitu stadium menstruasi, stadium post
menstruum, stadium inter menstruum, dan stadium pramenstruum.
Sekarang para perempuan aktif yang sibuk bekerja, baik didalam maupun diluar rumah, tidak
perlu khawatir lagi, karena mereka dapat mengatur siklus haid mereka dengan cara
mengkonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung hormone estrogen dan progesterone.
Adapun gangguan haid yang terjadi dalam masa reproduksi seperti hipermenorea,
hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorea, premenstrual mention, mastalgia,

mittelschmerz, disminorea, dan masih banyak gangguan haid lainnya yang sering dirasakan
oleh setiap perempuan.

3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:
a) Kepada setiap perempuan, agar selalu memperhatikan siklus haidnya, untuk menghindari
terjadinya gangguan-gangguan yang berhubungan dengan haid.
b) Untuk menghindari terjadinya sindrom pra-haid, setiap perempuan dianjurkan untuk
melakukan perubahan-perubahan diet atau mengatur pola makan seperti yang telah dijelaskan
pada bab pembahasan.
c) Kepada setiap orang tua, terutama orang tua perempuan, agar dapat menjelaskan tentang
haid kepada anak-anaknya sedini mungkin, untuk mengurangi rasa takut yang sering dialami
oleh anak-anak ketika menghadapi menarche (haid yang pertama kali datang).
d) Kepada tenaga kesehatan, agar dapat menjelaskan mengenai segala hal yang berhubungan
dengan haid, terutama gangguan-gangguan selama haid.

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Biran. 1996. Gangguan Haid pada Remaja dan Dewasa. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta.

Burns, August,dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan. Yayasan Essentia
Medica: Yogyakarta.
Masland, Robert, dkk. 2004. Apa yang Ingin Diketahui Remaja tentang Seks. Bumi Aksara:
Jakarta.
Shreeve, Caroline. 1993. Sindrom Pramenstruasi. Arcan Penerbit Umum: Jakarta.
Tan, Anthony. 2002. Wanita dan Nutrisi. Bumi Aksara: Jakarta.
Werner, David, dkk. 1999. Apa Yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter. Yayasan
Essentia Medica dan Andi Offset: Yogyakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo:
Jakarta.
Winiastri, Virnye, dkk. 2002. Pengalaman Materi Membantu Remaja Mengatasi Dirinya.
Deputi Bidang KB dan Kespro BKKBN: Jakarta.
Zein, Asmar Yetty, dkk. 2005. Psikologi Ibu dan Anak. Fitramaya: Yogyakarta

rhosmidwife Beranda materi tips animasi power poin Minggu, 16 Februari 2014 KTI
Oligomenore (haid yang tidak teratur) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Remaja
adalah aset sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi bangsa
di masa mendatang. Remaja adalah mereka yang berusia 10-20 tahun, dan ditandai dengan
perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuh, fungsi tubuh, psikologi dan aspek fungsional.
Dari segi umur remaja dapat dibagi menjadi remaja awal (early adolescence ) 10-13 tahun,
remaja menengah (middle adolescence) 14-16 tahun dan remaja akhir (late adolescence) 1720tahun.(tarwoto 2010:1) Menurut WHO remaja (Adolescence) adalah priode usia antara 10
sampai 19 tahun, sedangkan perserikatan bangsa bangsa (PBB) menyebutkan kaum muda
(Youth) untuk usia antara 15 sampai 24 tahun. Menurut the healt resources and services
administrations guidelines Amerika Serikat, usia remaja adalah 11 sampai 21 tahun. Masa
remaja akan di awali dengan masa pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin
sekunder, dan berakhir sudah ada kemampuan reproduksi, pada tahap ini remaja mengalami
suatu perubahan fisik, emosional, sosial sebagai ciri dalam masa pubertas, dan kondisi
lingkungan dan gizi juga mempengaruhi cepatnya pertumbuhan remaja, masa pubertas
ditandai dengan datangnya masa menstruasi Biro Pusat statistic mencatat populasi remaja
indonesia sebesar 30% dari 200 juta penduduk (Perdede, 2002). Tahun 2008, data profil
kesehatan Indonesia mencatat penduduk Indonesia yang tergolong usia 10-19 tahun adalah
sekitar 44 juta jiwa atau 21% yang terdiri dari 50,8% remaja laki-laki dan 49,2% remaja
perempuan (Depkes, 2008). Pada remaja wanita umumnya mengalami mentruasi. Menstruasi
yang terjadi pertama kali merupakan tanda bahwa seorang sedang mengalami pubertas. Pada
masa ini, kadar luteinizing hormone dan follicle stimulating hormone akan meningkat
sehingga merangsang pembentukan hormon seksual. Peningkatan hormon tersebut
menyebabkan dimulainya siklus mentruasi. Menstruasi atau yang kita kenal dengan istilah
haid adalah peristiwa alamiah yang terjadi pada wanita normal. Hal ini terjadi karena
lepasnya lapisan endometrium uterus. Haid biasanya terjadi setiap bulan dengan siklus setiap
orang berbeda, ada yang 28 hari, ada yang kurang atau bahkan lebih dari itu antara usia
remaja sampai menopause.(andira, 2010:30) Kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa
faktor yang mempunyai sistem saraf pusat dengan pancaindranya, sistem hormonal,
perubahan pada ovarium dan uterus, serta rangsangan estrogen dan progesterone pada
pancaindra langsung pada hipotalamus dan melalui perubahan emosi. Semakin dewasa umur
wanita semakin besar pengaruh rangsangan dan emosi terhadap hipotalamus Kesehatan
reproduksi remaja khususnya remaja wanita erat kaitannya dengan menstruasi. Dimana tidak
setiap wanita mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Umumnya sebagian perempuan

mengalami ketidaknyamanan yang dirasakan sebelum menstruasi dengan gejala bervariasi,


sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh Pelayanan
Kesehatan Ramah Remaja (PKRR) dibawah naungan WHO tahun 2005 menyebutkan bahwa
permasalahan remaja di Indonesia adalah seputar permasalahan mengenai gangguan
menstruasi (38,45%), masalah gizi yang berhubungan dengan anemia (20,3%), gangguan
belajar (19,7%), gangguan psikologis (0,7%), sertya masalah kegemukan (0,5%) Wanita akan
merasa terganggu bila hidupnya mengalami perubahan, terutama bila haid menjadi lebih lama
dan atau banyak, tidak teratur, lebih sering atau tidak haid sama sekali (amenorea). Penyebab
gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik atau disfungsional) atau dapat pula
karena psikologik seperti keadaan keadaan stress dan gangguan emosi atau gangguan
biologik dan psikologik. Siklus menstruasi mempunyai hubungan tertentu terhadap keadaan
fisik dan psikologik wanita Para remaja putri pada masa awal menstruasi sering mengalami
haid datang tidak teratur tiap bulannya. Haid yang datang tidak teratur disebut juga
oligomenore. Oligomenore adalah kondisi wanita yang sebelumnya haid teratur sebelum
mengalami masalah haid yang datang tidak teratur. Oligomenorea merupakan suatu keadaan
dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap
sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan mengalami menstruasi yang lebih jarang
daripada biasanya, sehingga akan mengalami haid 4-9 kali dalam setahun. Namun, jika
berhentinya siklus menstruasi ini berlangsung selama lebih dari 3 bulan, maka kondisi
tersebut dikenal sebagai amenorea sekunder. Komplikasi yang paling menakutkan pada
wanita yang mengalami siklus haid yang tidak normal atau oligomenore adalah terganggunya
fertilitas dan stress emosional pada penderita sehingga dapat meperburuk terjadinya kelainan
haid lebih lanjut. (Medicastore.com) Menurut laporan WHO (2008) prevalensi oligomenore
pada wanita sekitar 45%. Penelitian Bieniasz J et al, dalam Sianipar et al (2011) mendapatkan
prevalensi gangguan menstruasi di dunia ditaksirkan amenorea primer sebanyak 5,3%,
amenorea sekunder 18,4%, oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran
sebanyak 15,8%. Kelaianan siklus menstruasi Oligomenorea di Indonesia menyerang 16,7%
remaja menurut Penelitian Siegberg dkk,2007) Menurut Wolfenden (2010), dalam Putri
(2011: 7) siklus mentruasi yang tidak teratur seperti oligomenore dapat disebabkan karena
beberapa faktor seperti Stres, beban pikiran atau stress sangat berpengaruh terhadap kondisi
tubuh, termasuk periode menstruasi.Stress tahap I merupakan tahapan stress yang paling
ringan,stress tahap II timbul keluhan-keluhan,stress tahap III keluhan semakin nyata,stress
tahap IV untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit,stress tahap V kelelahan
fisik dan mental yang semakin mendalam,stress tahapan VI tahapan klimaks seseorang
mengalami serangan panik. Kondisi pikiran yang tidak stabil dapat menyebabkan kelenjar
adrenal mengeluarkan kortisol. Hal ini berefek pada estrogen, progesteron dan menurunkan
produksi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) sehingga menghambat terjadinya ovulasi
atau menstruasi. Penelitian Isnaeni (2010) yang dilakukan terhadap 89 responden di SMK
Paku, didapatkan bahwa sebagian besar responden (64,9%) memiliki Siklus menstruasi yang
normal dan sebanyak 35,1% mengalami siklus menstruasi Terganggu yaitu polimenore
23,1%, oligomenore 69,2% dan amenore 7,7%. Hasil wawancara dari Kepala sekolah dan
Guru BP di SMK Paku, di dapatkan data siswa kelas 1, 2 dan 3 sebanyak 562 siswa, siswa
laki-laki sebanyak 305 dan siswa perempuan sebanyak 257. (profil SMK Paku kecematan
Binuang kabupaten polewali mandar tahun 2014) Berdasarkan Study pendahuluan yang
dilakukan peneliti pada tanggal 09 januari 2014 yang bertempat di SMK Paku, Hasil angket
dan wawancara terstruktur terhadap 21 siswi SMK menunjukkan bahwa keluhan terbesar
yaitu oligomenore 12 siswi (57%), dan 9 siswi (43%) mengalami polimenore. Hasil
wawancara dengan 12 remaja putri yang menyatakan mengalami oligomenore 8 diantaranya
menyatakan siklus menstruasinya tidak teratur mulai dari pertama kali haid dan 4 diantaranya
menyatakan mengalami haid yang tidak teratur sejak kelas 2 SMK. Berdasarkan latar

belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Gambaran
pengetahuan remaja putri tentang oligomenore di SMK Paku kecematan binuang kabupaten
polewali mandar . 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis
membuat rumusan masalah sebagai berikut Bagaimana gambaran pengetahuan remaja putri
di SMK Paku kecematan Binuang kabupaten Polewali Mandar tentang oligomenore? 1.3.
Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang
oligomenoredi SMK Paku kecematan Binuang kabupaten Polewali Mandar 1.3.2 Tujuan
Khusus 1.3.2.1 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang pengertian
oligomenore 1.3.2.2 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang penyebab
oligomenore 1.3.2.3 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaj putri tentang penaganan
oligomenore 1.4. Manfaat 1.4.1 Manfaat teoritis Diharapkan karya tulis ilmiah ini dapat
menjadi kontribusi/kajian wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan khususnya
tentang Gambaran masalah siklus haid yaitu oligomenore 1.4.2 Manfaat praktis 1.4.2.1 Bagi
institusi Diharapkan hasil penelitian dapat menambah bahan perpustakaan dan pengetahuan
bagi Mahasiswa Akademi kebidanan pada umumnya dan Akademi Kebidanan Stikes Bina
Generasi Polewali Mandar pada khususnya 1.4.2.2 Bagi penulis Menambah pengalaman dan
pengetahuan kepada penulis tentang pemahaman penelitian terhadap masalah oligomenore
pada remaja putri serta pengetahuan tentang karya tulis ilmiah 1.4.2.3 Bagi tempat penelitian
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang oligomenore, penyebab oligomenore dan cara
penanganan oligomenore pada remaja putri 1.4.2.4 Bagi pembaca Menambah pengetahuan
dan masukan tentang masalah siklus menstruasi khususnya pengertian oligomenore serta
penyebab dan penaganan oligomenore BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Tinjauan tentang Pengetahuan 2.1.1.1 Pengertian pengetahuan Pengetahuan adalah hasil
Tahu dari manusia dan terjadi setelah seorang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni : indra penglihatan,
pendengaran, rasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata
dan telinga, pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang penting dalam membentuk
tindakan seseorang. (Notoadmodjo soekidj.2007:143) pengetahuan dapat diperoleh dari
pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain. Pengetahuan (knowledge) merupakan
hasil dari tahu manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca
indra manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
(Notoatmodjo.2010) 2.1.1.2 Tingkatan pengetahuan 1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai
mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (comprehension) Memahami
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang
diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. 3. Aplikasi
(application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada suatu situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya penggunaan rumus static dalam perhitungan
hasil penelitian. 4. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu metode kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya. 5. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada
sesuatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun,
merencanakan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah
ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justification atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian tersebut
didasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat
dilakuakan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin
diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur, dapat disesuaikan dengan tingkat domain di atas.(Notoatmojo, 2010). 2.1.1.3
faktor-faktor yang mempengeruhi pengetahuan Menurut Notoatmodjo, faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah: 1. Umur Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan
dalam penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan dan kematian didalam hampir
semua kesadaran menunjukkan hubungan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya
dengan mudah dan melihat pola kesakitan maupun kematian menurut golongan umur
personal yang dihadapi adalah apakah umur yang di laporkan tepat, apakah panjang interval
dalam pengelompokan cukup umur tidak menyembunyikan peranan umur pada pola
kesakitan dan kematian, atau apakah pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan
pengelompokan umur pada penelitian orang lain. 2. Pendidikan Secara luas pendidikan
mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa
interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Proses dan
kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok.
Kegiatan pendidikan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar dengan
tujuan akan terjadai perubahan perilaku,yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak
mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. 3. Sumber-sumber informasi
Sumber informasi adalah semua bentuk informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan
pasien, sumber informasi kesehatan biasanya berasal dari petugas kesehatan. Stimulasi
tentang suatu penyakit dan melakukan sosialis tentang pemakaian produk-produk baru
kesehatan, sedangkat informasi melalui media massa adalah media elektronik, media cetak,
maupun billboard (berisi informasi kesehatan yang dipasang di pinggir jalan). Sumber
informasi kesehatan yang tepat mempunyi peran yang besar dalam meningkatkan
pengetahuan individu seseorang (Notoatmodjo 2003). 2.1.2 Tinjauan tentang Remaja 2.1.2.1
Pengertian Remaja Remaja atau adolescence (Inggris), berasal dari bahasa latin Adolescere
yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya
kematangan fisik, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Masa remaja adalah masa
transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis, masa remaja yakni
antara usia 10 sampai 19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi
manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa
anak ke - masa dewasa. Pada masa remaja tersebut terjadilah suatu perubahan organ-organ
fisik (Organobiologik) secara cepat, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan
perubahan kewajiban (mental emosional). Terjadinya perubahan besar ini umumnya
membingungkan remaja yang mengalaminya. Dalam hal inilah bagi para ahli dalam bidang
ini, memandang perlu akan adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan
sekitarnya, agar dalam system perubahan tersebut terjadi perubahan tersebut terjadi
pertumbuhan dan perkembangan yang sehat sedemikian rupa sehingga kelak remaja tersebut
menjadi manusia dewasa yang sehat secara jasmani, rohani dan sosial. Terjadinya
kematangan seksual atau alat alat reproduksi yang berkaitan dengan system reproduksi,
merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian
khusus, karena bila timbul dorongan dorongan seksual yang tidak sehat akan menimbulkan
perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Inilah sebabnya maka para ahli dalam bidang
ini berpendapat bahwa kesetaraan perlakuan terhadap remaja pria dan wanita diperlakukan

dan mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja, agar dapat tertangani secara tuntas
(Widiyastuti, 2009 ). 2.1.2.2Tingkatan Remaja Batas usia remaja menurut WHO (2009)
adalah 12 sampai 24 tahun menurut Depkes RI (2009) adalah antara 10 sampai 19 tahun dan
belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun. Dari segi umur remaja dapat
dibagi menjadi : 1. remaja awal (early adolescence ) 10-13 tahun 2. remaja menengah (middle
adolescence) 14-16 tahun 3. remaja akhir (late adolescence) 17-20tahun.(tarwoto 2010:1)
2.1.3 Tinjauan umum tentang menstruasi/ haid 2.1.3.1 pengertian menstruasi Menstruasi atau
haid ialah perdarahan secara periodik siklik dari uterus, di sertai pelepasan (deskuamasi)
endometrium. (sarwono prawirohardjo.2009.104) Kata haid berasal dari bahasa Arab yang
berarti mengalir. Sedangkan pengertian haid menurut fiqh, adalah darah yang kelur secara
alami dari rongga rahim seorang wanita pada waktu yang diketahui dan tanpa melalui sebab.
Atau menstruasi merupakan darah kotor yang setiap bulannya keluar melalui rahim kaum
wanita (yang telah cukup umur) yang memugkinkan untuk hamil. (Ety
Rachmayunita,2007:20) Haid merupakan peristiwa alamiah yang dialami oleh setiap wanita
terhadap haid dapat berbeda-beda: wanita dengan keseimbangan psikologis yang baik
menganggap haid sebagai suatu hal yang biasa, sedangkan pada wanita yang emosional haid
sebagai hal yang dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatannya. Diperkirakan selama usia
reproduksi wanita akan mendapatkan haid sampai 400 kali. Banyaknya sifat-sifat
gangguannya akan sangat individual bergantung pada pandangan wanita tersebut terhadap
haid, apalagi jika haidnya tidak teratur atau bahkan tidak teratur sama sekali. (Bambang
basuki.2006 .Hal:261) Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah
sedikit-sedikit, kemudian ada yang sampai 7-8 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2
16cc. Pada wanita yang lebih tua biasanya darah keluar lebih banyak. Kebanyakan wanita
tidak merasakan gejala-gejala pada waktu haid, tetapi sebagian kecil merasa berat di panggl
dan merasa nyeri. Masa reproduksi ini berlangsung 30-40 tahun dan berakhir pada masa mati
haid atau baki (menopause). (sarwono prawirohardjo.2009:104) 2.1.3.2 Proses menstruasi
Pada proses menstruasi dengan ovulasi (terjadi pelepasan telur), hormon ektrogen yang
dikeluarkan makin meningkat yang menyebabkan lapisan dalam rahim mengalami
pertumbuhan dan perkembangan (fase proliferasi). Peningkatan ekstrogen ini menekan
pengeluaran hormon perangsang folikel (FSH), tetapi merangsang hormon luteinizing (LH),
sehingga dapat merangsang folikel Graaf yang telah dewasa, untuk melepaskan telur yang
disebut sebagai proses ovulasi. Telur ini akan ditangkap oleh rumbai pada Tuba Fallop, dan
dibungkus oleh korona radiata yang akan memberi nutrisi selama 48 jam . folikel Graaf yang
mengalami ovulasi menjadi korvus rubrum dan segera menjadi kurpus luteum dan
mengeluarkan 2 macam hormon indung telur yaitu ekstrogen dan progesteron. Hormon
ekstrogen yang menyebabkan lapisan dalam rahim (endometrium) berkembang dan tumbuh
dalam bentuk proliferasi, setelah dirangsang oleh korvus luteum pengeluaran ekstrogen dan
progesteron lapisan dalam rahim berubah menjadi fase sekresi, sehingga pembuluh darah
makin dominan dan mengeluarkan cairan (fase sekresi). Bila tidak terjadi pertemuan antara
spermatozoa dan ovum (telur), korpus luteum mengalami kematian. Korpus luteum berumur
8 hari, sehingga setelah kematiannya tidak mampu lagi mempertahankan lapisan dalam
rahim, oleh karena hormon ekstrogen dan progesteron berkurang sampai menghilang.
Berkurang dan menghilangnya ekstrogen dan progesteron, menyebabkan terjadi fase
vasokonstriksi (pengerutan) pembuluh darah , sehingga lapisan dalam rahim mengalami
kekurangan aliran darah (kematian). Selanjutnya diikuti dengan vasodilatasi (pelebaran
pembuluh darah) dan pelepasan darah dalam bentuk pendarahan yang disebut menstruasi.
Pengeluaran darah menstruasi berlangsung antara 3-7 hari, dengan jumlah darah yang hilang
sekitar 50-60 cc tanpa bekuan darah. Bila pendarahan disertai bekuan darah menunjukkan
terjadi perdarahan banyak, yang merupakan keadaan abnormal pada menstruasi. (Ida
AyuChandranita.2009:55) 2.1.3.3 Gangguan menstruasi Pembagian gangguan menstruasi

dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Gangguan dalam jumlah darah a. Hipermenorea


(menoragia) yaitu Darah banyak keluar saat menstruasi dan Jumlah napkin lebih dari 5
buah/hari b. Hpomenorea yaitu Darah kurang dengan siklus normal dan Jumlah napkin
kurang dari 3 buah/hari 2. Kelainan siklus a. Polimenorea yaitu siklus kurang dari 20 hari b.
Oligomenorea yaitu siklus di atas 35 hari c. Amenorea yaitu terlambat menstruasi selama 3
blan berturut-turut 3. Pendarahan diluar siklus menstruasi metroragia 4. Gangguan lain yang
menyertai menstruasi , yaitu; a. Premenstrual tension b. Mastodinia c. Mittelschmerz d.
Dismenorea e. Vicarious menstruation 2.1.3.4 Bentuk keluhan terkait menstruasi 1. Gangguan
Emosional seperti mudah tersinggung, gelisah, sukar tidur, sakit kepala dan perut kembung 2.
Gangguan yang berat seperti depresi, rasa takut dan gangguan konsentrasi. (Ida Ayu
Chandranita.2009:59) 2.1.3.5 Siklus menstruasi / haid siklus haid ialah jarak antara tanggal
mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya pendarahan disebut
hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu
keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus
mengandung kesalahan 1 hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai
siklus haid yang klasik ialah 28 hari. Panjang siklus haid yang biasa pada manusia ialah 2532 hari, dan kira-kira 97% wanita yang berovulasi siklus haidnya berkisar antara 18-42 hari
dan tidak teratur. Jika siklusnya kurang dari 18 hari dan lebih dari 42 hari dan tidak teratur,
biasanya siklusnya tidak berovulasi (anovatoar). (sarwono prawirohardjo.2009:103) Siklus
haid atau menstruasi yang terjadi pada wanita tidak selamanya teratur, sebagian remaja putri
mengalami masalah terkait dengan gangguan siklus menstruasi yaitu : a. polimenorea Pada
kelainan ini, siklus mentruasi memendek. Siklus mentruasi yang biasanya terjadi sekitar 28
hari, pada kasus polimenorea akan terjadi kurang dari 28 hari. Yaitu sekitar 21 hari dan darah
yang keluar bisa sama atau lebih banyak dari pada biasanya. Kelainan ini biasanya terjadi
karena adanya gangguan hormonal atau adanya endometriosis (terdapat jaringan serupa sel
rahim di luar rahim) atau adanya peradangan b. oligomenore Pada kelainan ini, Siklus
mentruasi menjadi lebih panjang, yaitu lebih dari 35 hari dan perdarahanya biasanya hanya
sedikit. Kelainan ini biasnya terjadi karena adanya kelainan hormonal, gangguan gizi, dan
gangguan kejiwaan seperti stres atau karena penyakit-penyakit tertentu. c. amenore Keadaan
di mana tidak terjadinya mentruasi selama 3 bulan berturut-turut. Amenorea ini di bagi 2,
yaitu; Amenorea primer dan Amenorea sekunder. (Andriyani, 2012). 2.2 konsep variabel
yang diteliti 2.2.1. Konsep dasar tentang oligomenorea 2.2.1.1. Pengertian oligomenorea a.
Oligomenorea merupakan salah satu kelainan siklus menstruasi dimana siklus haid lebih
panjang, lebih dari 35 hari. (sarwono prawirohardjo.2009:205) b. olligomenorrhea atau
oligomenore yaitu tidak mendapat haid padahal sudah masuk ke periode biasnya. Pada saat
itu dia sudah beberapa kalimengalami menstruasi, dan tidak sedang dalam keadaan hamil.
(Andri Priyatna.2009:67) c. Kamus kedokteran mendefenisikan oligomenore sebagai haid
yang tidak teratur atau haid yang sedikit sekali. Tetapi para dokter mencoba mempersempit
defenisi tersebut sehingga diagnosa oligomenore adalah wanita yang sebelumnya haid secara
teratur sebelum mengalami masalah haid yang datang tidak teratur.
(http://www.doktergaul.com ) Gejala dari oligomenore meliputi: 1. Periode siklus menstruasi
yang lebih dari 35 hari sekali dan biasanya hanya mendapatkan haid 4-9 kali dalam setahun 2.
Haid yang tidak teratur dengan jumlah yang tidak tentu 3. Pada beberapa wanita yang
mengalami oligomenore terkadang juga mengalami kesulitan untuk hamil. (Medicastore.com)
Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitas dan setres emosional pada
penderita sehingga dapat memperburuk terjadinya kelainan haid lebih lanjut. Prognosa akan
memburuk bila oligomenorea mengarah pada fertilitas atau tanda dari keganasan
(Zumrohhasanah, 2008, oligominorea, http:/www, diakses pada tgl 02 februari 2014, jam
15:00). 2.2.1.2. Penyebab oligomenore Berikut ini beberapa penyebab haid yang tidak teratur
(Oligomenore) : a. adanya kista di indung telur , fimbroid atau masalah rahim lainnya b.

penyakit hipotiroid/hipertiroid ( kurang atau berlebihnya hormon tiroid) c. penyakit cushing


(kelenjar adrenal yang operatif) d. disfungsi kelenjar pititary e. efek samping dari obat-obatan
seperti kortison (prednison),digoxin, antikoagulan (wartarin), obat anti kolinergik, dan obatobatan yang berkaitan dengan otak seperti benzodiazepines (valium, ativan), obat serotonin
reuptake inhibitor/SSRI seperti prozac Effexor. f. Pemakaian IUD atau progestin g. Adanya
ketidak seimbangan hormon, yaitu hormon ekstrogen terlalu dominan di banding hormon
progesteron. (Ummu Azzam.2012:56) Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidak
seimbangan hormonal seperti pada awal pubertas. Oligomenore yang menetap dapat terjadi
akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang
kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh
pengaruh psikis atau pengaruh penyakit. Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom
ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadar
pada wanita normal. Oligomenore dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit
kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk.
(http://www.scribd.com/doc/85045549/oligomenorea diakses tanggal 10 februari 2014, jam
14.00) Menurut dr.Suparyanto, Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali disebabkan
karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur.
Hipotalamus merupakan bagian otak yang mengatur suhu tubuh, metabolisme sel dan fungsi
dasar seperti makan, tidur dan reproduksi. Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang
mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar pituari akan merangsang produksi hormon
yang mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi. Pada awal dan akhir masa reproduksi
wanita, beberapa hormon tersebut dapat menjadi kurang tersinkronisasi, sehingga akan
menyebabkan terjadinya haid yang tidak teratur. 2.2.1.3 Penaganan oligomenore a. perbanyak
komsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat. Asupan serat sekurang-kurangnya 20-30
gram per hari b. minumlah vitamin B6 (piridoksin) 50-100 mg per hari untuk 2 minggu tiap
bulan. c. minumlah magnesium 200-400 mg per hari d. ikuti prosedural terapi oksigen dan
program pembersihan liver e. bila perlu, gunakab evening primrose oil, herbal vitex, atau
krim progesteron alami bila ada dominasi ekstrogen. (Ummu Azzam.2012:57) Menurut dr.
Suparyanto, penaganan oligomenore dapat berupa Pengobatan. Berikut ini pengobatan
oligomenore tergantung dengan penyebab, berikut uraiannya: a. Pada oligomenore dengan
anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan
terapi. b. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki
keadaan oligomenore. c. Oligomenore sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki
ketidak seimbangan hormonal. d. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin
diperlukan: Adanya tumor yang mempengaruhi pengeluaran hormon estrogen, maka tumor
ini perlu di tindak lanjuti seperti dengan operasi, kemoterapi, dll e. Pengobatan alternatif
lainnya dapat menggunakan akupuntur atau ramuan herbal. BAB III METODOLOGI
PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian digunakan adalah deskriptif, yaitu
suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau
deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif yang digunakan untuk memecahkan atau
menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. 3.2 Kerangka Konsep
Pengetahuan remaja putri Pengetahuan remaja putri : 1. Pengertian Oligomenore 2. Penyebab
Oligomenore 3. Penaganan Oligomenore 1. Tahu 2. Memahami 3. Aplikasi 4. Sintesis 5.
Analisis 6. Evaluasi Baik Cukup Kurang : Diteliti Text Box: : Berpengaruh Gambar 3.2.1
Kerangka konsep 3.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah ukuran atau ciri yang
dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh
kelompok yang lainnya. Definisi lain mengatakan bahwa variable adalah sesuatu yang
digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didaptkan oleh satuan penelitian
tentang suatu konsep pengertian tertentu (Natoatmodjo, 2010 :103). Variabel pada penelitian
ini adalah remaja putri SMK Paku tentang Pengertian Oligomenore, penyebab Oligomenore

dan penaganan Oligomenore. 3.4 Definisi Operasional Definisi operasional adalah penjelasan
semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga
akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian.
(Notoatmodjo,2010:112). No Variabel Sub variabel Defenisi operasinal Alat ukur Hasil ukur
Skala 1. Pengetahuan remaja putri tentang oligomenore 1. Pengertian oligomenore 2.
Penyebab Oligomenore 3. Penaganan oligomenore Suatu ganggua siklus haid. Dimana siklus
menstruasi lebih panjang, lebih dari 35 hari. Segala sesuatu yang berhubungan dengan
penyebab oligomenore Segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk menghentikan atau
mengurangi masalah oligomenore Koesioner Pertanyaan: Benar Skor 1 Salah Skor 0 Baik:
76%-100% cukup 56%-75% Kurang :<55% ordinal Tabel 3.4.1 Defenisi operasional 3.5
Populasi dan sampel 3.5.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek
yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010:115). Dalam penelitian ini populasinya adalah semua
remaja putri yang terdata di SMK Paku kecematan Binuang, kabupaten Polewali mandar dari
bulan Januari sampai bulan Desember tahun 2013 yang berjumlah 257 siswa. (data SMK
Paku,2013) 3.5.2 Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan sampling
tertentu untuk bisa mewakili atau memenuhi populasi. (Nursalam dan pariami,2006). Rumus
sampel: Text Box: n = N 1+N (d) Dalam penelitian ini sampelnya adalah remaja putri yang
terdaftar di SMK Paku berjumlah 72 orang. 3.5.3 Tekhnik sampling Tekhnik sampling
merupakan suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang
ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada. Adapun tekhnik
sampel yang diambil adalah Random sampling yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan
memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi
sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang
representatif. (Tatang M. amirin,2009) Rumus sampling : Text Box: x nn N Kelas Polpulasi
sampel 1 2 3 92 85 80 Text Box: x 72 = 2692 257 Text Box: x 72 = 2485 257 Text Box: x 72
= 2280 257 Jumlah 257 72 orang Gambar 3.5.3.1 3.6 Pengumpulan data dan Analisa
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada sabjek dan proses pengumpulan
karaktek subjek yang diperlukan. (Nursalam,2003). Dalam penelitian ada dua data yang
dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. 3.6.1 Pengumpulan data 3.6.1.1 Data
primer Data primer adalah data yang diambil dari sumber data secara langsung oleh peneliti
atau yang diwakilinya. Dimana peneliti melakukan pengukurn sendiri yaitu berupa koesioner.
(jonikriswanto,2008) 3.6.2.1. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
instansi yang terkait dengan penelitian ini yaitu di SMK Paku. 3.6.2 Waktu dan tempat
Penelitian akan dilakukan di SMK Paku dan akan dilaksanakan pada bulan Maret - Mei tahun
2014 3.6.2 Rencana pengolahan data 3.6.3.1. Instrumen penelitian Alat pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah koesioner. Koesioner adalah sejumlah pertanyaan
tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan
dalam pribadinya atau hal-hal yang dia ketahui. (Arikunto,2006:151) Koesioner yang disusun
secara terstruktur dan dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan konsep teoritisnya dengan
jumlah 30 pertanyaan, yaitu 10 pertanyaan tentang pengertian Oligomenore, 10 pertanyaan
tentang penyebab Oligomenore dan 10 pertanyaan tentang penaganan Oligomenore. Sebelum
digunakan untuk mengumpulkan data dilapangan, koesioner perlu dilakukan Uji validitas dan
Uji reabilitas yaitu di SPP-SMK Rea Timur. a. Uji validitas Validitas adalah suatu ukuran
yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalitan dan suatu instrumen. (Arikunto,2006:168). Uji
validitas dengan menggunakan tekhnik korelasi product moment dengan rumus sebagai
berikut: XY = XY ( x2) ( y2) Keterangan : r = Koefisien kerelasi x = Variabel bebas y
= Variabel terikat b. Uji reabilitas Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen
cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen
tersebut sudah baik. (Arikunto,2006:178). Bisa digunakan rumus spearman Brown, yaitu : 2 x
r 1/21/2 r11 = ( 1 + r 1/21/2 ) Keterangan : r11 : Koefisien reliabilitas internal seluruh item

r1/21/2 : rxy korelasi produk momen antara belahan 3.6.3.2 Cara penelitian angket Bila
responden menjawab Benar maka diberi Skor 1 (satu) dan bila menjawab salah maka diberi
Skor 0 (nol) 3.6.3.3 Pengelolaan data a. Editing data yaitu meneliti setiap pertanyaan yang
telah diisi untuk melihat kelengkapan data. b. Coding data Dilakukan guna memudahkan
dalam mengolah data, langkah digunakan adalah memberikan kode angka yang telah
ditentukan penulis. c. Entri data Adalah perumusan data dalam program pengolahan data
melalui software yang dipilih penulis. d. Cleaning Data Yaitu pengecekan terakhir terhadap
data yang sudah diberi untuk memastikan adanya kesalahan data, selanjutnya untuk
melakukan pengolahan data hasil penelitian dari setiap jawaban berdasarkan kuesioner. e.
Tabulating Melakukan pengolahan data berdasarkan hasil kuesioner untuk mempermudah
hasil pemahaman, maka data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel. 3.6.3 Analisi data
Teknik analisa data aspek pengetahuan adalah menggunakan prosentase. Selanjutnya data
ditabulasi, diinterventasi kemudian diproses secara statistic dengan menggunakan rumus : P =
N X 100% X Keterangan : P : Persentase N : Jumlah alternatis jawaban yang benar X :
Jumlah keseluruhan soal Hasil perhitungan persentase dimasukkan kedalam stndar criteria
object : a. 76% - 100% = Baik b. 56% - 75 % = Cukup c. <55% = Kurang 3.7. Etik dalam
penelitian Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi objek penelitian,
maka peneliti harus memahami hak-hak manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam
menentukan dirinya sehingga penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung
tinggi kebebasan manusia. (Alimul Aziz,2007), Oleh karena itu perlu diperhatikan : 3.7.1
voluntary (keinginan sendiri) Peneliti harus bersifat sukarela tidak ada unsur paksaan atau
tekanan secara langsung maupun tidak langsung, atau paksaan secara halus atau adanya
ketergantungan. 3.7.2 Informed consent (Lembar persetujuan) Informed consent adalah
merupakan bentuk persejuan antara peneliti dan responden peneliti dengan memberikan
lembar persetujuan. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan
penelitian., mengetahui dampaknya. 3.7.3 Anonymity (Tanpa nama) Masalah etika
keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam menggunakan subjek
penelitian dalam dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada
lembar ukur dan hanya kode pada pengumpulan data dan atau hasil penelitian yang akan
disajikan. 3.7.4 Condfidentiality (Kerahasiaan) Masalah ini merupakan masalah etika dengan
memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik itu informasi maupun masalahmasalah lainnya. Hanya kelompok atau data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJ PUTRI TENTANG
OLIGOMENORE DI SMK PAKU POLEWALI MANDAR TAHUN 2014 Petunjuk
pengisian koesioner 1. Bacalah baik-baik setiap pertanyaan dan alternatif jawaban yang benar
telah tersedia 2. Pilih salah satu jawaban yang paling tepatText Box: Identitas responden
Nama : Umur : Jenis kelamin : Pekerjaan : Alamat : A. Pertanyaan tentang pengertian 1. Apa
yang dimaksud dengan oligomenore? a. siklus yang kurang dari 20 hari b. terlambat
menstruasi selama 3 bulan berturut-turut c. siklus diatas 35 hari 2. Gejala apa saja yang
dirasakan oleh penderita Oligomenore? a. Periode siklus menstruasi yang lebihdari 35 hari,
haid yang datang tidak teratur serta terkadang mengalami kesulitan untuk hamil b. Periode
siklus menstruasi yang tidak pernah mendapatkan haid selam 3 bulan berturut-turut dan
merasakan nyeri perut c. Periode siklus menstruasi yang kurang dari 20 hari dan terkadang
merasakan sakit kepala dan stres 3. Oligomenore adalah gangguan ? a. Siklus menstruasi b.
Gangguan dalam jumlah darah c. Pendarahan diluar haid 4. Oligomenore biasa juga disebut
dengan istilah? a. Haid yang datang tidak teratur b. Haid yang datang teratur c. Haid yang
datang terlalu cepat 5. Apa saja keluhan-keluhan oligomenore? a. Haid yang datang terlambat
dan sedikit b. Haid yang datang terlambat dan banyak c. Haid yang datang cepat dan sedikit
6. Jika ada wanita yang siklus haidnya lebih panjang lebih dari 35 hari maka ia di sebut
mengalami? a. Oligomenore b. Polimenore c. Amenore 7. Manakah yang merupakan

perbedaan antara oligomenore dan amenore? a. Oligomenore adalah siklus haid yang teratur
sedangkan amenore adalah haid yang datang tidak teratur b. Oligomenore adalah siklus haid
yang lebih dari 35 sedangkan amenore siklus haid kurang dari 20 hari c. Oligomenore adalah
siklus haid yang lebih dari 35 hari sedangkan amenore haid yang tidak datang selama 3 bulan
berturut-turut. 8. Oligomenore biasanya menyerang kaum? a. Perempuan b. Laki-laki c.
Keduanya 9. Diagnosa oligomenore adalah? a. Haid yang sebelumnya teratur kemudian tidak
teratur b. Haid yang sebelumnya tidak teratur kemudian teratur c. Haid yang tidak pernah
teratur 10. Seorang wanita dikatakan mengalami oligomenore apabila? a. Sebelumnya tidak
mendapat haid padahal sudah masuk ke periode biasanya dan pada saat itu sudah mengalami
haid beberapa kali serta tidak dalam keadaan hamil. b. Sebelumnya ia tidak pernah
mengalami haid sama sekali c. Sebelumnya mendapat haid kemudian berhenti dalam
beberapa hari lalu mendapatkan haid kembali B. Pertanyaan tentang penyebab 11. Apakah
yang dimaksud dengan penyebab oligomenore? a. Segala sesuatu yang memungkinkan
wanita mengalami masalah siklus menstruasi b. Segala sesuatu yang dapat memungkinkan
wanita pusing dengan keadaan hormonnya c. Segala sesuatu yang menyebabkan wanita stress
dan bingung. 12. Manakah dibawah ini yang bukan penyebab dari oligomenore? a. Adanya
ketidak seimbangan hormon, yaitu hormon ekstrogen terlalu dominan dibanding hormon
progesteron b. Adanya kista di indung telur atau masalah rahim lainnya c. Efek samping dari
pengguanaan obat-obatan d. Terlalu banyak tidur dan makan 13. Kurangnya Sinkronisasi
hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur dapat menyebabkan seorang wanita mengalami
? a. Masalah polimenore b. Masalah nyeri haid c. Masalah hipermenore 14. Sindrom ovarium
polikistik adalah salah satu penyebab dari oligomenore karena? a. Menghasilkan anrogen
yang lebih tinggi b. Menghasilkan progesteron yang lebih tinggi c. Menghasilkan ekstrogen
yang lebih tinggi 15. Apakah komplikasi yang palig berbahaya apabila penyebab oligomenore
tidak ditangani dengan cepat dan tepat ? a. Terganggunya fertilitas dan gangguan emosional
b. Terganggunya aktifitas sehari-hari c. Terganggunya masalah pelajaran 16. Penyebab umum
oligomenore pada remaja adalah? a. Stres b. Sering keluar malam c. Sering menggunakan
pakaian yang ketat 17. Obat-obatan apa sajakah yang dapat menyebabkan oligomenore a.
obat-obat yang terkait dengan otak seperti benzodiazepines (valium, ativan) b. obat-obatan
analgetik c. obat-obatan antibiotik 18. oligomenore pada remaja sering disebabkan karena ? a.
Kurangnya Sinkronisasi hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur b. Kurangnya nafsu
makan c. Kurangnya pengetahuan tentang personal hygine 19. Bila siklus haid seseorang
tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh? a. Pengaruh psikis atau pengaruh penyakit
b. Pengaruh pertumbuhan badan c. Pengaruh masalah diluar sekolah 20. mengapa stres dapat
menyebabkan seseorang mengalami haid yang tidak teratur? a. Karena Hormon stres, kortisol
berdampak pada jumlah estrogen dan progesteron dalam tubuh (Jumlah hormon yang terlalu
banyak dalam darah) b. Karena hormon hipotalamus lebih meningkat c. Karena hormon
ekstrogen dan progesteron menurun C. Pertanyaan tentang penaganan 20. apakah pengertian
dari penaganan oligomenore? a. Upaya yang dilakukan untuk menghentikan atau
menurunkan masalah haid yang datang tidak teratur b. Upaya yang dilakukan untuk
menghentikan pendarah yang berlebih c. Upaya untuk menghentikan nyeri perut saat haid 21.
Penaganan atau pengobatan oligomenore tergantung pada ? a. Keinginan pasien b.
Kemampuan materi pasien untuk memilih pengobatan c. Penyebabnya. 22. Penaganan
oligomenore dapat berupa? a. Pengobatan b. Penggunaan alat kontrasepsi c. penggunaan
softex saat haid 23. pengobatan alternatif oligomenore dapat menggunakan ? a. minum jamu
anti kuat b. akupuntur atau ramuan herbal c. berurut ke dukun 24. bagaimanakah cara
penaganan oligomenore pada wanita yang mengalami gangguan nutrisi? a. Perbaiki status
gizi b. Perbanyak minum air c. Perbanyak konsumsi obat-obatan anti nyeri 25. Apakah
manfaat pil untuk penaganan oligomenore ? a. Untuk menjaga bentuk tubuh wanita b. Untuk
menambah stamina pada wanita c. Untuk memperbaiki ketidak seimbangan hormon 26.

Bagaimanakah cara penaganan oligomenore pada wanita yang mengalami tumor ? a.


Melakukan suntik insulin b. Melakukan tindakan operasi dan kemoterapi c. Meminum
banyak obat 27. Vitamin apakah yang baik untuk penaganan oligomenore? a. Vitamin B b.
Vitamin B6 c. Vitamin C 28. Berapa banyakkah asupan serat yang dibutuhkan tubuh untuk
mengobati haid yang datang tidak teratur ? a. 20-30 gram/hari b. 20-35 gram / hari c.
30-60 gram / hari 29. Oligomenore memerlukan penaganan dengan cepat karena ? a.
Berdampak pada fertilitas b. Berdampak pada tumbuh kembang c. Berdampak pada tingkat
pengetahuan 30. Oligomenore sering diobati dengan pil KB karena ? a. Pil KB memperbaiki
kinerja otak seseorang b. Pil KB mudah dijumpai di apotik c. Pil KB memperbaiki ketidak
seimbangan hormon Diposkan oleh rhos di 04.07 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi
ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Tidak ada komentar: Poskan Komentar
Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) widgets Mengenai Saya Foto
Saya rhos Lihat profil lengkapku foto my & friends waktu Arsip Blog 2014 (1)
Februari (1) KTI Oligomenore (haid yang tidak teratur) 2012 (3) Windows Live
Messenger + Facebook Ada kesalahan di dalam gadget ini Template Travel. Diberdayakan
oleh Blogger. s e g i b e f i w d i m e h t s o h r
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

HUBUNGAN
BERAT BADAN DENGAN GANGGUAN MENSTRUASI
PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 2 TAMBUN SELATAN
JURNAL
HAINUN NISA
PROGRAM STUDI
D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MEDISTRA INDONESIA
BEKASI
2012
PENDAHULUAN
Gangguan siklus
menstruasi adalah pengaruh
dari berat badan, aktivitas fisik serta proses ovulasi
dan adekuatnya fungsi luteal. Perhatian khusus saat
ini juga ditekankan pada perilaku diet dan stres pada
atlet wanita. Berat badan dan perubahan berat badan
akut dan sedang
menyebabkan gangguan pada fungsi
ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium
dan lamanya penurunan berat badan. (Kusmiran,
201
1
).
Sindrom Ovarium Polikistik merupakan
kelainan endrokriopati yang paling banyak dijumpai
pada wanita. Sindrom ini ditan
dai dengan kumpulan
beberapa gejala seperti gangguan haid, gangguan
ovulasi, hiper androgenism dan gambaran ovarium
polikistik. Kurang lebih 60
70% wanita dengan berat
badan lebih, dan 40
50% dapat menunjukkan gejala
gangguan haid dan gangguan ovulasi. Ten
tu saja hal
ini menjadi terkait erat dengan kondisi infertilitas
(gangguan kesuburan) terutama yang terkait dengan

siklus yang tidak berovulasi.


Di seluruh dunia, sekitar 50 % kaum remaja putri
pernah mengeluh karena sakit waktu haid pada masa
remaja deng
an postur tubuh obesitas. Biasanya
gangguan ini mencapai puncaknya pada umur 17
25
tahun , dan berkurang atau sembuh setelah pernah
mengandung (Jones, 2005). WHO dan Bank Dunia,
2005 memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di
seluruh dunia menderita gan
gguan menstruasi dan
7,6 juta di antaranya dengan postur tubuh obesitas.
Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang
akan menderita gangguan menstruasi dan 17 juta
karenagangguan menstruasi pada tahun 2030
.
Berdasarkan Survei Nasional tahun 2002, j
umlah
remaja putri di Indonesia sebesar 24,6% yaitu yang
berusia 10
19 tahun dengan postur tubuh kurus dan
obesitas (Prantiko, 2003). Di Indonesia, remaja yang
mengalami masalah dalam menstruasi diperkirakan
sebesar 20%, gangguan menstruasi tersebut dibare
ngi
dengan nyeri di perut, mulas, muntah
muntah, sakit
kepala, hingga berakhir dengan pingsan, emosi
menjadi tidak terkontrol dan badan menjadi lesu
(Dhanti, 2007).
Perubahan hormonal atau perubahan pada sistem
reproduksi bisa terjadi akibat timbunan lemak
pada
perempuan obesitas. Timbunan lemak itu memicu
perubahan hormon, terutama esterogen. Esterogen ini
tidak hanya berasal dari ovarium tetapi juga dari
lemak yang berada dibawah kulit. Hal ini
menyebabkan keluarnya luitenizing hormone (LH)
sebelum waktun
ya. LH yang terlalu cepat keluar
menyebabkan telur tidak bisa pecah dan progesteron
tidak terangsang, sehingga siklusnya berantakaan,
jumlah haid yang keluar cukup banyak, dan juga
masa haid yang lebih lama. LH yang keluar terlalu
cepat
akan

merangsang
kel
uarnya
hormon
progesteron dan androgen.
Menurut Eny Kusmiran tahun 2012 dengan judul
Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita yang
melakukan penelitian di Sekolah Menengah dari 10
siswi yang mengalami obesitas 8 siswi yang
mengalami gangguan menstruasi, t
erdapat hubungan
berat badan dengan gangguan menstruasi karena
menyebabkan pada fungsi ovarium, tergantung
derajat tekanan pada ovarium dan lamanya
penurunan berat badan.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang
dilakuakan di SMAN 2 Tambun Selatan dari 5
r
esponden siswi putri yang mengalami kegemukan
hanya terdapat 4 siswi yang mengalami gangguan
menstruasi.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis
tertarik untuk mengetahui sejauh mana Hubungan
berat badan dengan gangguan menst
ruasi di SMAN 2
Tambun Sel
atan
METODE PENELITIAN
Desain penelitian merupakan semua proses
yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan
penelitian (Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian ini
menggunakan
analisis korelatif
yaitu rancangan
penelitian yang bertujuan mencari hubungan antar
variabel, dengan pendekatan
cross sectional study
yang merupakan rancangan penelitian dengan
melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat
bersamaan (sekali waktu) berdasarkan teori dan
kete
rbatasan variabel penelitian yang ada
Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian
ini adalah siswi kelas X, XI, XII di SMAN 2 Tambun
Selatan tahun 2012, yang berjumlah 710 siswi. Kelas
X berjumlah 230 siswi, kelas XI berjumlah 274 siswi
dan kelas
XII berjumlah 206 siswi.
Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan


peneliti yaitu dengan menggunakan
stratifiedrandom
sampling
yaitu suatu populasi terdiri dari unit yang
mempunyai karakteristik yang berbeda
beda atau
heterogen (Notoatmodjo,
2010). Yang berjumlah
710 siswi. Kelas X berjumlah 230 siswi, kelas XI
berjumlah 274 siswi dan kelas XII berjumlah 206
siswi.
Penyajian data
Data yang di sajikan dalam bentuk tekstular
tabular dan tabel berdasarkan variabel yang di teliti.
Teknik penya
jian data ini merupakan cara penyajian
data yang baik dan mudah di pahami.
a.
Analisa univariat
Analisa univariat adalah analisa yang di lakukan
terhadap setiap variabel dari hasil penelitian yang
akan menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap
variabel
(
N
otoadmodjo, 20
10
).
Dalam penelitian ini analisa univariat di gunakan
untuk
menganalisis
distribusi
frekuensi
tiap
variabelBerat
badan
dan
variabel
Gangguan
menstruasi
pada
remaja putri
di
SMAN 2 Tambun
Selatan periode Agustus tahun 201
2
, analisa ini di
l

akukan dengan cara komputerisasi dengan program


SPSS 17.
b.
Analisa bivariat
Analisa bivariat adalah analisa yang di gunakan
terhadap data variabel yang di duga berhubungan
atau korelasi (
N
otoadmodjo, 20
10
).
Dalam penelitian ini, analisa bivariat digunakan
untuk menganalisis hubungan berat badan dengan
gangguan menstruasi
di
SMAN 2 Tambun Selatan.
Analisa yang di gunakan adalah uji chi squre, yaitu
uji yang di gunakan untuk menguji perbedaan
proporsi / present
ase antara beberapa kelompok data
dan untuk mengetahui hubungan antara variabel
kategorik. Dengan nilai mutlak = 0,05 dengan
program SPSS 17.

Hasil Penelitian
Analisa Univariat
Tabel
1
Distribusi Frekuensi Berat Badan pada
remaja Putri di SMAN 2 Tambun Selatan periode Agustus 2012
Berat Badan
Kurus
Normal
Kegemukan
Obesitas
Total
Frekuensi
9
112
120
15
256
Presentase
3,5 %
43,8 %
46,9 %
5,9 %
100,0 %
Dari hasil analisa table
1 distribusi frekuensi Berat
badan pada remaja putri di SMAN 2 Tambun Selatan

tahun 2012 sebanyak 256 responden, mayoritas


remaja putri mempunyai berat badan kegemukan 120
siswi (46,9 %).
Tabel
2
Distribusi frekuensi Gangguan menstruasi pada
Remaja putri di SMAN 2 Tamb
un Selatan periode Agustus
2012
Gangguan Menstruasi
Ya
Tidak
Total
Frekuensi
135
121
256
Persentase
52,7 %
47,3 %
100,0 %
Berdasarkan tabel
2 distribusi frekuensi Gangguan
menstruasi pada remaja putri di SMAN 2 Tambun
Selatan tahun 2012, dapat di interpretasikan bahwa
dari 256siswi yang mengalami gangguan menstruasi
sebanyak 135 siswi (52,7%).
Analisa bivariat
T
abel
3
Distribusi Frekuensi Hubungan Berat badan dengan Gangguan menstruasi pada
remaja putri di
SMAN 2 Tambun Selatan periode agustus 2012
Berat badan
Kurus
Normal
Kegemukan
Obesitas
Total
Gangguan Menstruasi
ya tidak total
p value
(f) (%) (f) (%) (f) (%)
6 66,7 % 3 33,3% 9 3,5 %
28 25,0 % 84 75,0 % 112 43,8 %
0,0005
88 73,9 % 31 26,1 % 119 46,9 %
13 86,7 % 2 13,3 % 15 5,9 %
135 52,9 % 121 47,1% 256 100,

0%
Berdasarkan tabel
3 distribusi frekuensi
Hubungan Berat badan dengan Gangguan menstruasi
pada Remaja Putri di SMAN 2 Tambun Selatan
periode Agustus 2012, Jumlah yang paling banyak
siswi yang mengalami gangguan menstruasi dengan
berat badan Kegemukan dari 120 siswi (46,9 %)
terdapat 88 siswi (75,9 %) yang mengalami gangguan
menstruasi,
dan
yang
mengalami
gangguan
menstruasi dengan berat badan kegemukan dari 120
siswi (43,8 %) terdapat 31 siswi (26,1 %) yang tidak
mengalami gangguan menstruasi.
Berdasarkan hasil uji statistik
diperoleh nilai
p value
= 0,0005 dengan nilai kemaknaan lebih kecil
dari = 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0
ditolak, dimana hasil analisanya menunjukkan bahwa
adanya hubungan berat badan dengan gangguan
menstruasi pada remaja putri di SMAN 2 Tambun
selatan periode Agustus 2012
PEMBAHASAN
Berdasarkan dengan judul penelitian yaitu
hubungan berat badan dengan gangguan menstruasi
pada remaja putri di SMAN 2 Tambun Selatan
periode Agustus 2012 . pada bab ini peneliti akan
membahas mengenai hasil penelit
ian yang dilakukan
melalui
pengambilan
data
primer
kemudian
dibandingkan dengan teori yang ada
Berat badan
Dari hasil analisa table IV
1 distribusi frekuensi
Berat badan pada remaja putri di SMAN 2 Tambun
Selatan tahun 2012 sebanyak 256 responden, yang
berat badan kurus 9 siswi (3,5 %), berat badan
normal 112 siswi (43,8 %), berat badan kegemukan
120 siswi (4
6,9 %), berat badan obesitas 15 siswi (5,9
%).

Faktor
faktor yang mempengaruhi
berat badan
menurut (Nirmala Devi, 2012) yaitu: Karbohidrat
sebagai penyumbang energi utama m
engandung
empat kalori sertiap gramnya. Lemak
merupakan
salah satu penyumbang energi yang mengandung
sembilan kalori setiap gramnya. Protein
diperlukan
dalam pengaturan pengangkutan zat gizi dari usus
halus ke dinding usus halus , selain itu protein
diper
lukan untuk pembentukan zat imun untuk
melawan infeksi tubuh. Vitamin dan mineral
merupakan komponen penting dalam menjaga
keseimbangan tubuh yang bersal dari sayur mayur
dan lain
lain .
Menurut Badriah, 2011 pevalensi IMT kurang
atau kurus berkisar antar
30 %
40%. Kurus
merupakan masalah gizi yang umunya lebih banyak
ditemukan pada remaja wanita. Karena ada motto
bahwa kurus itu indah bagi remaja wanita sering
melakukan diet tampa pengawasan dari dokter atau
ahli gizi sehingga zat
zat gizi penting tidak
terpenuhi.
Padahal masa remaja merupakan masa rawan gizi
karena kebutuhan akan gizi sedang tinggi
tingginya.
Kecukupan
gizi
merupakan
kesesuaian
baik
dalam hal
kualitas
maupun kuantitas zat
zat
gizi

sesuai dengan kebutuhan faali


tubuh
. Energi
Kebutuhan
energi
diperlukan untuk kegiatan sehari
hari maupun untuk proses metabulisme tubuh. Cara
sederhana untuk mengetahui kecukupan
energi
dapat
dilihat
dari
berat
badan
seseorang.
Pada
remaja
perempuan 10
12 tahun kebutuham
energinya 50
60 kal/kg BB/ hari dan usia 13
18 tahun
sebesar
40
50
kal/
kg
BB/
hari.
(
http://www.lusa.web.id/gizi
seimbang
pada
remaja
dan
dewasa/
diakses tanggal 11 Agustus 2012 pukul
09.00wib)
Menurut Misnadiaely, 2007. Sebab umum
terjadinya kegemukan adalah kel

ebihan
intake
kalori
yang berlangsung lama sehingga menimbulkan
obesitas akan memberikan akibat
akibat: Patologik,
Dikatakan bahwa kegemukan yang dimulai sejak
masa kanak
kanak akan mengakibatkan kenaikan
jumlah sel
sel lemak disamping penambahan isi sel
i
tu sendiri. Setelah masa pubertas penambahan kalori
yang masih tetap berlangsung akan mengakibatkan
bertambah besarnya sel lemak saja. Karena itu
keberhasilan upaya penurunan berat badan pada dua
golongan tersebut berbeda. Pada yang pertama
jumlah sel lema
k tidak dapat diturunkan. Metabolik,
retensi insulin Pada obesitas sering ditemukan
hiperinsulinemi
(jumlah insulin dalam darah lebih
normal) disertai
hiperglikemi
(kadar gula dalam
darah lebih dari normal). Hal ini diduga karena
terjadinya resistensi rese
ptor insulin pada sel
sel
target. Karena itu sering dijumpai walau dalam
jumlah kecil adanya
Berdasarkanpenelitian
yang
telahdilakukanolehpeneliti,
mayoritassisw
iremaja
putri
yang
berpostur
tubuh
normal
dan
kegemukan
.
Karena
kurangnya

pengetahuannnya
remaja
tentang gizi seimbang serta pengaruh era
globalisasi yang mengatakan kurus itu indah.
Sehingga remaja membatasi untuk memeberikan
asupan nutrisi kepada tubuhnya. Namun pada kasus
yang mengalami kegemukan karena aktivitas fisik
mereka yang tidak pernah b
erolahraga, dan hanya
berolahraga saat mata pelajaran olahraga serta
mayoritas remaja putri di SMAN 2 tambun selatan
dan tidak mengikuti ekstrakulikuler olahraga seperti
voly, basket dl. Asupan nutrisi yang berlebihan akibat
kurangnya mengetahui kadar gizi
seimbang sehingga
mereka memakan apa yang disediakan dirumah serta
saat di sekolah para remaja putri SMAN 2 Tambun
selatan sering mengkonsumsi makanan junk food dan
mengandung banyak lemak seperti memakan
makanan gorengan, coklat, mie instan dll. Memakan
makanan yang seimbang serta aktivitas olahraga
dapat membuat para remaja putri memiliki postur
tubuh yang normal dan membatasi makan
makanan
instan atau junk foood.
Gangguan Menstruasi
Berdasarkan tabel IV
2 distribusi frekuensi
Gangguan menstruasi
pada remaja putri di SMAN 2
Tambun Selatan tahun 2012, dapat di interpretasikan
bahwa dari 256siswi yang mengalami gangguan
menstruasi sebanyak 135 siswi (52,7%), dan yang
tidak mengalami gangguan menstruasi 121 siswi
(47,3%).
Menurut teori Eny Kusmiran (2
011) gangguan
menstruasi berhubungan dengan naik atau turunnya
kadar esterogen dan progesteron yang terjadi selama
siklus menstruasi. Esterogen menyebabkan penahan
cairan, yang mungkin menyebabkan bertambahnya
berat badan, pembekakan jaringan, rasa nyeri p
ada
payudara serta perut kembung.
Gangguan siklus menstruasi adalah pengaruh dari
berat badan, aktivitas fisik serta proses ovulasi dan
adekuatnya fungsi luteal. Perhatian khusus saat ini
juga ditekankan pada perilaku diet dan stres pada

atlet wanita. Bera


t badan dan perubahan berat badan
akut dan sedang menyebabkan gangguan pada fungsi
ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium
dan lamanya penurunan berat badan. (Kusmiran,
2012).
Menurut sarwono (2008) Haid adalah perdarahan
secara periodik dan sik
lik darinuterus, disertai
pelepasan (deskuamasi) edometrium. Panjangnya
siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid
yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari ini
mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus.
Karena jam mulainya haid tidak
diperhitungkan dan
tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri
eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus
mengandung kesalahan 1 hari. Panjang siklus haid
yang normal atau dianggap sebagai siklus haid yang
klasik adalah 28 hari, tetapi variasi
nya cukup luas,
Panjangnya siklus haid dipengaruhi oleh usia
seseorang. Rata
rata panjang siklus haid pada gadis
usia 12 tahun ialah 25,1 hari. Pada wanita usia 43
tahun 27,1 hari, pada wanita usia 55 tahun ialah 51,9
hari. Jadi, sebenarnya panjang siklus
yang biasa pasa
manusia ialah 25
32 hari, dan kira
kira 97% wanita
yang berovulasi siklus haidnya berkisar antara 18
42
hari. Jika siklusnya kurang dari 18 hari atau lebih dari
42 hari dan tidak teratur, biasanya siklusnya tidak
berovulasi (anovulator).
L
ama haid biasanya antara 3
5 hari, ada yang 1
2
hari diikuti darah sedikit
sedikit kemudian, dan ada
yang sampai 7

8 hari. Pada setiap wanita biasanya


lama haid itu tetap. Jumlah darah yang keluar rata
rata 33,2 16 cc. Pada wanita yang lebih tua biasanya
darah yang keluar lebih banyak. (Sarwono, 2008).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti
banyak siswa yang mengalami gangguan menstruasi
dikarenakan remaja tidak pernah mengetahui siklus
normal menstruasi serta macam
macam gangguan
menstruasi d
an kebanyakan siswi mempunyai tingkat
stres yang tinggi menghadapi pelajaran dan
kurangnya mengatur pola makan yang baik dengan
gizi seimbang. Karena stres menyebabkan perubahan
sistemik dalam tubuh, khususnya sistem persarafan
dan hipotalamus melalui per
ubahan
prolaktin
atau
endogeneus opiat
yang dapat mempengaruhi elevasi
kortisol
basal dan menurunkan hormon lutein (LH)
yang
menyebabkan
amenorrhoe.
Pada
anak
remaja
kudapan berkontribusi 30 % atau
lebih dari total asupan
kalori
remaja
setiap hari.
Tetapi asupan ini sering mengandung tinggi
lemak
,
gula dan
natrium
dan dapat meningkatkan resiko
kegemukan
dan
karies
gigi.
Oleh
karena
itu,

remaja
harus didorong untuk
lebih memilih
asupan
yang
sehat.
Bagi
remaja
,
makanan
merupakansuatu
kebutuhan
pokok
untuk
pertumbuhan
dan
perkembangan
tubuhnya.
Hubungan berat badan dengan gangguan
menstruasi
Berdasarkan tabel IV
3 distribusi frekuensi
Hubungan Berat badan dengan Gangguan menstruasi
pada Remaja Putri di SMAN 2 Tambun Selatan
periode Agustus 2012, dapat di interpretasikan bahwa
yang mengalami gangguan menstruasi dengan berat
badan kurus dari 9 (
3,5 %) terdapat 6 (66,7 %) yang
mengalami gangguan menstruasi, dan yang tidak
mengalami gangguan dengan berat badan kurus dari
9 (3,5 %) terdapat 3 (33,3 %) yang tidak mengalami
gangguan menstruasi. Yang mengalami gangguan
menstruasi dengan berat badan Nor
mal dari 112 siswi
(43,8 %) terdapat 28 siswi (25,0 %) yang mengalami
gangguan menstruasi, dan yang tidak mengalami
gangguan menstruasi dengan berat badan Normal
dari 112 siswi (43,8 %) terdapat 84 siswi (75,0 %)
yang tidak mengalami gangguan menstruasi. Y
ang
mengalami gangguan menstruasi dengan berat badan
Kegemukan dari 119 siswi (46,9 %) terdapat 88 siswi
(75,9 %) yang mengalami gangguan menstruasi, dan
yang mengalami gangguan menstruasi dengan berat
badan kegemukan dari 112 siswi (43,8 %) terdapat 31
si
swi (26,1 %) yang tidak mengalami gangguan
menstruasi. Yang mengalami gangguan menstruasi
dengan berat badan obesitas dari 15 siswi (5,9%)

terdapat 13 siswi (86,7 %) yang mengalami gangguan


menstruasi, dan yang tidak mengalami gangguan
menstruasi dengan be
rat badan obesitas dari 15 siswi
(5,9 %) terdapat 2 siswi (13,3%) yang tidak
mengalami gangguan menstruasi
.
Secara medis memang faktor kegemukan pada
wanita termasuk salah satu penghabat kesuburan,
selain karena faktor hormonal juga ikut berpengaruh.
Per
ubahan hormonal atau perubahan pada sistem
reproduksi bisa terjadi akibat timbunan lemak pada
perempuan obesitas. Timbunan lemak itu memicu
perubahan hormon, terutama esterogen. Pada wanita
yang kelebihan berat badan, esterogen ini tidak hanya
berasal dari
ovarium tetapi juga dari lemak yang
berada dibawah kulit. Hal ini menyebabkan
keluarnya luitenizing hormone (LH) sebelum
waktunya.
LH
yang
terlalu
cepat
keluar
menyebabkan telur tidak bisa pecah dan progesteron
tidak terangsang, sehingga siklusnya beranta
kaan,
jumlah haid yang keluar cukup banyak, dan juga
masa haid yang lebih lama. LH yang keluar terlalu
cepat
akan
merangsang
keluarnya
hormon
progesteron dan androgen. Pada perempuan obesitas,
androgen yang keluar terlalu cepat tidak akan diubah
menjadi es
tradiol karena hormon androgen yang
keluar itu yang tidak berikat. Inilah yang membuat
sel telur tidak berkembang. Akibatnya ovulasi tidak
terjadi
.
Menurut teori Eny Kusmiran (2011)
gangguan menstruasi berhubungan dengan naik
atau turunnya kadar esterogen
dan progesteron
yang terjadi selama siklus menstruasi. Esterogen
menyebabkan penahan cairan, yang mungkin

menyebabkan
bertambahnya
berat
badan,
pembekakan jaringan, rasa nyeri pada payudara
serta perut kembung. Berikut ini adalah penyebab
dari gangguan men
truasi : 1) Kelainan bawaan
pada sistem kelamin, misalnya tidak memiliki
rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina,
serfiks yang sempit serta lubang pada selaput
yang menutupi vagina terlalu sempit
himen
imporferata.
2) Tingkat stres yang tinggi.
Menurut
psikolog klinis, Dr. Richard Malter
tingkat stres yang tinggi dapat membuat tubuh
mengalami ketidakseimbangan hormonal dan
memicu estrogen lebih banyak dari progesteron.
3) Penggunaan alat KB oral atau suntikan,
hormone replacement therapy
( dari estrogen
)
konfensional. 4) Kekurangan gizi ( terutama
magnesium, seng / zinc, tembaga, dan vitamin B
komplek. 5) Berat badan karena kelebihan sel
lemak membuat kelebihan esterogen.
Menurut Eny Kusmiran tahun 2011
dengan judul Kesehatan Reproduksi Remaja dan
Wanita yang melakukan penelitian di Sekolah
Menengah dari 10 siswi yang mengalami obesitas
8 siswi yang mengalami gangguan menstruasi,
terdapat hubungan berat badan dengan gangguan
menstruasi karena menyebabkan pada fungsi
ovarium, tergantung derajat teka
nan pada ovarium
dan lamanya penurunan berat badan.
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
dilakukan oleh peneliti, peneliti menyimpulkan
bahwa ada hubungan berat badan dengan
gangguan menstruasi. Hal ini sesuai dengan data
yang diperoleh bahwa mayoritas
berat
badan
kurus, kegemukan dan obesitas namun pada berat
badan yang normal masih banyak siklus

menstruasi yang normal. Banyak siswi yang


berpostur
tubuh
gemuk
yang
mengalami
gangguan menstruasi. Kebanyakan para remaja
yang berpostur tubuh gemuk dan obesitas
m
engalami
amenorrhea
yaitu tidak adanya haid
selama 3 bulan atau lebih dan dyminorea yaitu
nyeri sewaktu haid. Nyeri ini terasa dibagian
perut bawah. Nyeri dapat terasa sebelum lama dan
sesudah haid. Dapat bersifat kolik dan terus
menerus. Nyeri diduga kare
na adanya kontraksi.
Karena kurangnya pendidikan di sekolah tersebut
tentang gangguan menstruasi banyak siswi yang
beranggapan hal tersebut normal. Sehingga para
remaja tidak pernah memeriksakan hal tersebut ke
tenaga kesehatan. Serta para remaja yang
berp
ostur tubuh normal dan kurus yang
mengalami
gangguan
menstruasi
seperti
polymenorrhoe
yaitu sering datang, jadi siklus
pendek, kurang dari 25 hari.
Padasaatpenelitimelakukanpenelitianmen
genai
gangguan menstruasi
yang dilakukan di
SMAN
2
Tambun
Selatan
adabeberapakendalayaitusalahsatunyarespondena
walnya
malu
untukmengisikuisioner
yang
bersangkutandengan
gangguan
menstruasi
karenarespondenberfikirnantiapabilarespondenme
njawabdenganjujurnantiakan

ditertawakan dengan
temannya yang menurut mereka adalah sebuah
aib
akantetapisetelahpenelitimenjelaskankepadares
pondendanakanmenjagakerahasianjawabandarires
pondenakhirnyarespondenmaumenyetujuilembarp
ersetujuanmenjadirespondendanmaumengisikuisi
oner yang diberikanolehpenelitidenganmenjawab
yang sejujur
jujurnya.
Pada saa
t melakukan
observasi berat badan dan tinggi badan responden
merasa malu dengan temannya untuk itu peneliti
memakai ruangan khusus saat melakukan
observasi berat badan dan tinggi badan sehingga
responden bersedia untuk diobservasi berat badan
dan tinggi ba
dannya.
Demikianlah proses
penelitian di
SMAN 2 Tambun Selatan
telahselesaidilaksanakan,
kendala
kendalatersebutdijadikanpenulissebagaitantangan
yang
positifuntukmenyelesaikanpenelitian,
dengankendalatersebutmenjadikanpenelitilebihma
ndiridanmampuberusahake
rasuntukmenyelesaika
nnyasehinggadapatmemetikhasil
yang
baikdikemudianhari.
Simpulan
Berdasarkan
pembahasan
yang
telah
dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa dari hasil
penelitian tentang Hubungan Berat badan dengan
Gangguan menstruasi pada remaja putri di
SMAN 2
Tambun Selatan periode Agustus 2012 dapat
disimpulakn sebagai berikut:
1.
Distribusi frekuensi berat badan pada remaja
putri yang mempunyai postur tubuh kurus
sebanyak 9 siswi (3,5%), postur tubuh normal

112 siswi (43,8%), postur tubuh Kegemukan


120
siswi (46,9%), postur tubuh Obesitas 15
siswi (5,9%).
2.
Distribusi frekuensi gangguan menstruasi
remaja putri yang mengalami gangguan
menstruasi 135 siswi (52,7%) dan yang tidak
mengalami gangguan menstruasi (47,3%)
3.
Distribusi frekuensi hubungan berat badan
dengan gangguan menstruasi, Ada hubungan
antara
Berat
badan
dengan
gangguan
menstruasi pada remaja putri di SMAN 2
Tambun Selatan periode Agustus 2012.
Dengan nilai
p value
= 0,0005 lebih kecil dari
nilai = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
H0 ditolak
dan H1 gagal ditolak.
Saran
SMAN 2 Tambun Selatan
Diharapkan agar pihak sekolah yang terkait
dapat memberikan pendidikan kesehatan reproduksi
dan gizi seimbang pada remaja serta penanganan
yang baik bagi remaja yang tidak mengalami
gangguan menstruasi.
Institusi Pendidikan
Peneliti berharap institusi untuk menambah
buku
buku tentang kesehatan reproduksi wanita, gizi
seimbang pada remaja, gangguan menstruasi pada
remaja yang berkaitan dengan kebutuhan anak remaja
sebagai referensi untuk membuat Karya Tuli
s Ilmiah
dan peneliti berharap Karya Tulis Ilmiah yang dibuat
ini dapat dijadikan sebagai tambahan bahan pustaka
di perpustakaan khususnya tentang Berat badan
dengan gangguan menstruasi
Peneliti
Diharapakan
dapat
memperkaya
dan

mengembangkan ilmu pengetah


uan serta wawasan
yang telah didapat dari pembuatan Karya Tulis
Ilmiah ini dan mampu mengaplikasikan ilmu yang
telah didapat tentang berat badan dengan gangguan
menstruasi ke lingkungan tempat tinggal.

Senin, 17 November 2014


MAKALAH GANGGUAN MENSTRUASI
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Gangguan Menstruasi dan
hukum kesehatan yang berjudul Gangguan Menstruasi Makalah ini diselesaikan
karena bantuan beberapa pihak,maka kami ucapkan terima kasih kepada :
1.

Guru Mata Pelajaran

2.

Teman-teman seperjuangan yang telah ikut menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat
membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima
dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pasarwajo, 17 November 2014


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Haid atau yang sering disebut dengan menstruasi merupakan pelepasan


lapisan dalam (endometrium) yang disertai pendarahan, terjadi berulang setiap
bulan secara periodik, kecuali pada saat hamil. Sedangkan siklus haid adalah
waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode berikutnya.
Siklus haid setiap perempuan berbeda antara yang satu dengan yang
lainnya, bukan saja antara beberapa perempuan, tetapi juga pada perempuan
yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar siklus haidnya
tidak terlalu sama.
Sebelum datangnya haid, setiap perempuan umumnya mengalami
sindrom bulanan atau yang lebih dikenal dengan sindrom pra-haid. Sindrom ini
sangat mengganggu aktifitas perempuan, terutama mereka yang aktif bekerja
diluar rumah.
Selain itu, gangguan haid juga sering terjadi seperti: dismenorea,
hipermenorea, hipemenorea, amenorea, dan masih banyak gangguan haid
lainnya yang sering dialami oleh para perempuan.
Karena kurangnya pengetahuan serta informasi yang dimiliki oleh
sebagian besar perempuan tentang siklus haid, sindrom pra-haid, serta
gangguan haid dalam masa reproduksi, maka penulis tertarik untuk membahas
tentang masalah yang sering dialami oleh setiap perempuan ini.

B.

Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah mengenai siklus haid,
sindrom pra-haid, serta gangguan-gangguan haid apa saja yang dialami oleh
perempuan dalam masa reproduksi.

C. Tujuan Penulis

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :


1.

Agar para perempuan lebih mengetahui tentang sindrom pra-haid, siklus haid,
gangguan-gangguan selama haid, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan
haid.

2.

Agar perempuan aktif dapat mengatur siklus haidnya tanpa mengalami


gangguan selama beraktifitas.

3.

Agar perempuan tahu bagaimana cara mengurangi sindrom pra-haid yang


sering mengganggu aktifitas mereka.

BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN MENSTRUASI

A. Pengertian Haid

Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG ,
2005: 103).
Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi setiap bulan berupa
darah dan jaringan, yang dimulai pada masa pubertas, ketika seorang
perempuan mulai memproduksi cukup hormon tertentu (kurir kimiawi yang
dibawa didalam aliran darah) yang menyebabkan mulainya aliran darah ini
(Robert P. Masland dan David Estridge, 2004: 51).
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi karena
adanya serangkaian interaksi antara beberapa kelenjer didalam tubuh (Virnye
Winiastri,dkk, 2002: 19).

B.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya haid antara lain :

1.

Faktor hormon

Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita yaitu:


a.

FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh Hipofise

b.

Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium

c.

LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise

d.

Progesteron dihasilkan oleh ovarium

2.

Faktor Enzim

Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang


berperan dalam sintesa protein, yang mengganggu metabolisme sehingga
mengakibatkan regresi endometrium dan perdarahan.

3.

Faktor vascular

Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam


lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh
pula arteria-arteria, vena-vena dan hubungan antaranya. Dengan regresi
endometrium timbul statis dalm vena-vena serta saluran-saluran yang
menghubungkannya dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan
dengan pembentukan hematom, baik dari arteri maupun dari vena.

4.

Faktor Prostaglandin

Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi


endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi myometrium
sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid.
Secara khusus, perempuan mengalami haid pada usia dua belas dan tiga
belas tahun, tetapi selalu terdapat perempuan yang mengalaminya pada usia
lebih awal, kira-kira sepuluh tahun, dan beberapa diantaranya bahkan lebih dini.
Dilain pihak , beberapa perempuan mungkin belum mengalami haid pada usia
lima belas atau enam belas tahun. Ini semua bergantung pada produksi dan
pelepasan hormon.
Cepat atau lambatnya haid (kematangan seksual) ini kecuali ditentukan
oleh konstitusi fisik individual, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa,
faktor iklim, cara hidup, dan milieu yang melingkungi anak. Badan yang lemah
atau penyakit yang mendera seorang anak gadis, umpamanya bisa
memperlambat tibanya menstruasi.
Selanjutnya , rangsangan-rangsangan kuat dari luar, umpamanya saja
berupa film-film sex (blue film) buku bacaan dan majalah-majalah bergambar sex
godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap
perbuatan sex/coitus, semua itu tidak hanya meningkatkan memuncaknya atau
semakin panasnya reaksi-reaksi sexual saja, akan tetapi juga mengakibatkan
kematangan sexual yang lebih cepat pada diri anak. Maka pengaruh kultur dan
peradaban itu tampaknya ambivalen sifatnya, artinya kultur dan peradapan
dapat memperlambat atau mempercepat tempo kematangan sexual anak. Jadi,
juga memperlambat atau mempercepat awal dari haid anak gadis.

C. Sindrom Pra-Haid

Beberapa saat sebelum mulai haid, atau bisa pada hari-hari haid, sejumlah
gadis dan perempuan biasanya mengalami rasa tidak enak. Mereka biasanya
merasakan satu atau beberapa gejala yang disebut sebagai kumpulan gejala
sebelum haid atau istilah populernya Pre-menstrual syndrome (PMS).
Sindrom pra-haid adalah sejumlah perubahan mental maupun fisik yang
terjadi antara hari pertama hingga hari keempat belas sebelum masa haid
dimulai dan diikuti dengan tahap bebas gejala jika masa ini telah lewat (Anthony
Tan,2002:23).
Beberapa dokter percaya bahwa sindrom pra-haid dialami oleh separuh
dari total perempuan yang berada pada masa reproduktif. Sekitar lima persen
dari perempuan yang mengalami PMS disarankan untuk mengurangi kegiatan
sehari-hari mereka karena mereka sangat terganggu. Meskipun penyebabnya
belum diketahui, sejumlah teori sedang diteliti. PMS mungkin berkaitan dengan
meningkatnya kadar hormon setiap bulan, rendahnya kadar gula, kekurangan
vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals didalam otak yang
mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah satunya.

Gejala-gejala atau perubahan-perubahan fisik dan mental yang sering


dikeluhkan oleh para penderita sindrom pra-haid diantaranya yaitu :

Gejala fisik:

Kenaikan berat badan

Perasaan bengkak dan Pembengkakan (perut, jari, tungkai, pergelangan kaki,


dll)

Ketidaknyamanan buah dada (pembesaran, nyeri tekan, terasa berat, terasa


kaku)

Sakit kepala dan serangan migren

Pegal dan nyeri pada otot

Dismenore kongestif, yaitu sakit perut atau sakit pinggang bagian bawah

Berkurangnya air kencing

Perubahan kulit, termasuk bisul, jerawat, bercak putih, dan pembengkakanpembengkakan lain

Perubahan nafsu makan (kehilangan nafsu makan atau keinginan makan


makanan yang berlemak)

Perubahan tidur ( kurang tidur atau tidur berlebihan)

Tidak ada gairah untuk aktif serta badan terasa lelah

Mata terasa sakit, hidung tersumbat, dan timbul reaksi alergi

Mual, pingsan, asma, dan epilepsy

Kejang, terjadi karena dinding-dinding otot uterus dengan perlahan akan


mengkerut untuk membantu mengeluarkan lapisan.

Gejala mental (psikis)

Ketegangan dan cepat marah (emosional)

Depresi, termasuk kurang percaya diri dan perasaan tidak berharga

Stres

Kelesuan

Berkurangnya daya konsentrasi dan daya ingat berkurang

Kecenderungan kearah keagresifan dan/atau kekerasan fisik

Control emosi yang rendah dan reaksi emosi yang tidak logis

Penurunan efisiensi, terutama dalam memecahkan masalah mental

Kurang atau tidak ada dorongan seks

Dorongan yang kuat untuk banyak makan, tidak ada hubungan dengan nafsu
makan
Bertambahnya kecenderungan minum obat, tablet, dsb.

Sindrom ini dirasakan juga sangat mengganggu dalam keadaan-keadaan


khusus, misalnya ketika ingin melakukan perjalanan jauh, beraktifitas, ujian,
pertandingan olahraga, ibadah puasa, serta ibadah haji.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat dasar fisiologis pada sindroma
pra-haid. Meskipun satu sebab tunggal dari sindroma pra-haid belum ditemukan,
para ilmuwan menyarankan bahwa sindroma pra-haid disebabkan oleh talitemali yang rumit antara ketidakseimbangan hormon, stress, dan kekurangan
gizi.

Sindrom pra-haid ini sangat menyiksa, karena hampir semua perempuan


mengalaminya. Namun banyak juga perempuan yang mengalami kesulitan untuk
mengenali sindrom pra-haid ini pada dirinya sendiri, terutama bagi mereka yang
baru mengenal konsep sindrom pra-haid.
Berbagai faktor gaya hidup tampaknya menjadikan gajala-gajala lebih
buruk termasuk stress, jumlah kegiatan fisik luar yang tidak memadai, dan diet
yang mengandung gula, karbohidrat yang diolah, garam, lemak, alkohol dan
kafein yang tinggi.

Empat kelompok gejala utama sindrom pra-haid telah diidentifikasi. Setiap


perempuan dapat mengalami gejala-gejala dalam satu atau beberapa kelompok.
1)

Ketegangan Pra-haid berciri khas ketegangan syaraf, perubahan suasana hati,


rasa terganggu dan kecemasan.

2)

Hiperhidrasi, atau sindroma hiperhidrasi, ditandai oleh penambahan berat


badan, pembengkakan ditangan dan kaki, kelunakan buah dada, dan
kembungnya perut.

3)

Hasrat makan yang berarti bertambahnya selera dengan hasrat makan


makanan-makanan manis atau asin, gejala-gejala pun mencakup sakit kepala,
kelelahan, pusing, dan jantung yang berdebar.

4)

Depresi pun umum dan mencakup mudah lupa, menangis, kebingungan dan
sukar tidur.

Para perempuan yang diganggu oleh sindrom pra-haid dapat memperbaiki


gejala-gejala mereka dengan melakukan perubahan-perubahan diet sebagai
berikut:

Mengurangi jumlah gula yang dimakan

Menambah serat

Makan makanan yang berprotein tinggi karena dapat menyebabkan lebih


banyak air yang keluar tubuh , sehingga mengurangi rasa penuh diperut bagian
bawah

Meminum ramuan tradisional

Mencakup satu hingga dua sendok makan minyak safflower dalam diet

Mengurangi jumlah lemak yang dimakan

Mengurangi jumlah garam yang dimakan jika retensi cairan merupakan


masalah, karena garam menyebabkan tubuh berusaha menyimpan air dalam
tubuh, sehingga menyebabkan rasa penuh diperut bagian bawah

Menghindari kafein dan beberapa minuman ringan seperti cola, teristimewa jika
kecemasan dan kelunakan buah dada merupakan masalah

Selain itu :

Mencakup kegiatan fisik dalam kegiatan sehari-hari, dan

Mempraktekkan teknik-teknik pengurangan stress secara teratur.

Banyak perempuan telah berkurang penderitaannya dengan ancangan


gaya hidup yang moderat ini dan dianjurkan untuk pengobatan awal bagi
sindroma pra-haid.

D. Siklus Haid

Siklus haid merupakan waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya
haid periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus haid adalah jarak antara
tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya (Prof. dr. Hanifa
Wiknjosastro, SpOG ,2005:103).
Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam
mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium
uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung
kesalahan 1 hari.
Dalam satu siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat
dari produksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim makin menebal
sebagai persiapan jika terjadi kehamilan.
Siklus haid perempuan normal berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15
persen perempuan yang memiliki siklus haid 28 hari. Panjangnya siklus haid ini
dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus haid gadis usia 12
tahun ialah 25,1 hari, pada perempuan usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada
perempuan usia 55 tahun 51,9 hari.
Siklus haid perempuan tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan
siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia. Pada
masa remaja biasanya memang mempunyai siklus yang belum teratur, bisa
maju atau mundur beberapa hari. Pada masa remaja, hormon-hormon

seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus haid menjadi lebih
teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena faktor stres atau
kelelahan.
Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 16 cc. pada wanita yang lebih
tua biasanya yang keluar lebih banyak. Pada wanita dengan anemia defisiensi
besi jumlah darah haidnya juga lebih banyak. Jumlah darah haid lebih dari 80 cc
dianggap patologik.
Setiap bulannya, haid berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima
dari siklus haid, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan
terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak
terjadi pembuahan, endometrium meluruh dan terjadilah siklus berikutnya.

Siklus haid selama 1 bulan dapat kita bedakan dalam 4 masa (stadium):

Stadium Menstruasi atau desquamasi Pada masa ini endometrium dicampakkan


dari dinding rahim disertai dengan perdarahan, hanya lapisan tipis yang tinggal
yang disebut dengan stratum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari.
Jadi, dengan haid itu keluar darah, potongan-potongan endometrium dan lendir
dari servix. Darah itu tidak membeku karena ada fermen yang mencegah
pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mucosa. Hanya kalau
banyak darah keluar maka fermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul
bekuan-bekuan darah dalam darah haid. Banyaknya perdarahan selama haid
normal adalah 50 cc.

Stadium Post menstruum atau stadium regenerasi Luka yang terjadi karena
endometrium dilepaskan, berangsur-angsur ditutup kembali oleh selaput lendir
baru yang terjadi dari sel epitel kelenjer-kelenjer endometrium. Pada saat ini
tebalnya endometrium 0,5 mm, stadium ini sudah mulai waktu stadium
menstruasi dan berlangsung 4 hari.

Stadium Intermenstruum atau stadium proliferasi Pada masa ini endometrium


tumbuh menjadi tebal 3,5 mm. Kelenjar-kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari
jaringan lain hingga berkelok. Stadium proliferasi berlangsung dari hari ke-5
sampai hari ke-14 dari hari pertama haid.

Stadium Praemenstruum atau stadium sekresi Pada stadium ini endometrium


kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan
berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah tertimbun glycogen
dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur. Memang maksud
dari perubahan ini tidak lain dari pada mempersiapkan endometrium untuk
menerima telur.

Pada endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat


(stratum compactum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran keluar dari

kelenjar-kelenjar, lapisan mampung (stratum spongiosum), yang banyak lubanglubangnya karena disini terdapat rongga dari kelenjar-kelenjar dan lapisan bawah
yang disebut stratum basale.
Stadium sekresi ini berlangsung dari hari ke-14 sampai 28. Kalau tidak
terjadi kehamilan maka endometrium dilepaskan dengan perdarahan dan
berulang lagi siklus menstruasi.

E.

Siklus Haid Perempuan Aktif

Kini perempuan aktif yang sibuk bekerja, diluar maupun didalam rumah,
dimungkinkan dapat mengatur sendiri siklus haid mereka. Mengatur siklus haid
dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara menunda haid atau
menjarangkannya. Haid dimungkinkan tidak terjadi setiap bulan, tetapi dalam
kurun waktu tertentu, misalnya empat kali dalam setahun.
Namun, hal ini hanya dapat terjadi jika perempuan mengkonsumsi
kontrasepsi oral yang mengandung hormon estrogen dan hormone progesterone.
Dengan demikian, maka bagi perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji
atau ibadah puasa sekarang tidak akan terganggu lagi. Juga bagi kita yang akan
melakukan perjalanan jauh pun tidak akan mengalami gangguan haid lagi.
Karena siklus haid ini rutin terjadi pada setiap perempuan, maka
sebaiknya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)

Menjaga kebersihan dengan mandi dua kali sehari menggunakan sabun mandi
biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar perlu cermat dibersihkan.

2)

Mengganti pembalut minimal empat kali sehari terutama sehabis buang air
kecil.

3)

Bila perut, terutama daerah sekitar rahim, terasa nyeri, dan masih dapat diatasi
(ringan), tidak usah dibiasakan minum obat penghilang rasa sakit, kecuali sangat
mengganggu kegiatan sehari-hari, seperti misalnya hingga menyebabkan
pingsan.

4)

Makan makanan bergizi terutama yang banyak mengandung zat besi dan
vitamin, seperti hati ayam/sapi, daging, telur, sayur-sayuran, dan buah-buahan.

5)

Aktivitas harian tidak perlu diubah kecuali bila ada aktivitas fisik yang
berlebihan misalnya olahraga berat.

F.

Gangguan Haid

Adapun tanda-tanda gangguan haid adalah:

Bagi perempuan tertentu, tidak teraturnya haid merupakan keadaan wajar,


namun bagi perempuan lainnya keadaan ini dapat merupakan tanda bagi
penyakit menahun, kekurangan darah (anemia), gangguan gizi (malnutrisi), atau
mungkin adanya infeksi atau tumor dalam rahim (uterus).

Apabila haid tidak terjadi pada saat yang seharusnya, hal ini mungkin
menunjukkan tanda kehamilan. Akan tetapi masa haid yang tidak teratur atau
tidak mendapat haid sering merupakan keadaan yang wajar bagi banyak remaja
yang baru saja mendapatkan haid dan bagi perempuan yang berusia diatas 40
tahun. Kecemasan dan gangguan emosional dapat menyebabkan seorang wanita
tidak mendapatkan haid.

Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal ini hampir selalu
menjadi tanda permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian bayi didalam
kandungan)

Apabila masa haid berlangsung lebih dari enam hari, dan darah yang
dikeluarkan banyak dan tidak seperti biasanya, atau haid lebih dari satu kali
dalam sebulan, maka anda harus meminta nasehat dokter.

Gangguan haid dan siklusnya, khususnya dalam masa reproduksi, dapat


digolongkan kedalam:
Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid:
a.

hipermenorea atau menoragia

b.

hipomenorea
kelainan siklus:

polimenorea

oligomenorea

amenorea
Perdarahan diluar haid:

metroragia
gangguan lain yang ada hubungan dengan haid:

premenstrual tension (ketegangan prahaid)

mastodinia

Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)

Dismenorea

Hipermenorea (Menoragia)

Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal,


atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada
kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan permukaan
endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktilitas yang terganggu,
polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada waktu haid, dan
sebagainya.
Pada gangguan pelepasan endometrium biasanya terdapat juga gangguan dalam
pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan pelepasannya pada
waktu haid.
Terapi pada hipermenorea pada mioma uteri niscaya tergantung dari
penanganan mioma uteri, sedangkan diagnosis dan terapi polip endometrium
serta gangguan pelepasan endometrium terdiri atas kerokan.

Hipomenorea
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih
kurang dari biasa. Sebab-sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita,
pada uterus (misalnya sesudah miomektomi), pada gangguan endokrin, dan lainlain. Kecuali jika ditemukan sebab yang nyata, terapi terdiri atas menenangkan
penderita. Adanya hipomenorea tidak mengganggu fertilitas.

Polimenorea
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasa ( kurang dari 21
hari). Perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak dari haid biasa. Hal yang
terakhir ini diberi nama polimenoragia atau epimenoragia.
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan
gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah
kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya.

Oligomenorea
Di sini siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Apabila panjangnya
siklus lebih dari 3 bulan, hal itu sudah mulai dinamakan amenorea. Perdarahan
pada oligomenorea biasanya berkurang.

Oligomenorea dan Amenorea sering kali mempunyai dasar yang sama,


perbedannya terletak tingkat. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan
wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga
ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa.

Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya tiga bulan
berturut-turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorea primer dan
amenorea sekunder. Amenorea primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun
keatas tidak pernah dapat haid, sedangkan pada amenorea sekunder penderita
pernah mendapat haid tetapi kemudian tidak dapat lagi. Amenorea primer
umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk
diketahui, seperti kelainan-kelainan congenital dan kelainan-kelainan genetic.
Adanya amenorea sekunder lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang timbul
kemudian dalam kehidupan wanita, seperti gangguan gizi, gangguan
metabolisme, tumor-tumor, penyakit infeksi, dan lain-lain.

Premenstrual Tension (Tegangan Prahaid)


Premenstrual tension merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu
minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang
sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid
berhenti. Gejala-gejala yang tidak seberapa berat banyak dijumpai, terutama
pada wanita berumur antara 30 dan 45 tahun. Keluhan-keluhan terdiri atas
gangguan emosional berupa iritabilitas, gelisah, insomia, nyeri kepala, mudah
tersinggung, sukar tidur, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa nyeri pada
mamma, dan sebagainya. Sedangkan pada kasus yang berat terdapat depresi,
rasa ketakutan, gangguan konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejala fisik
tersebut diatas.

Mastalgia
Gejala mastalgia adalah rasa nyeri dan pembesaran mamma sebelum
haid. Sebabnya edema dan hiperemi karena peningkatan relative dari kadar
estrogen. Pada pemeriksaan harus diperhatikan adanya radang atau neoplasma.
Terapi biasanya terdiri atas pemberian diuretikum, sedang pada mastalgia keras
kadang-kadang perlu diberikan metiltestosteron 5 mg sehair secara sublingual.
Bromokriptine dalam dosis kecil dapat membantu pengurangan penderitaan.

Mittelschmerz

Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan


siklus haid, pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang terjadi mungkin ringan, tetapi
mungkin juga berat. Lamanya mungkin hanya beberapa jam, tetapi pada
beberapa kasus sampai 2-3 hari. Rasa nyeri dapat disertai atau tidak disertai
dengan perdarahan, yang kadang-kadang sangat sedikit berupa getah berwarna
coklat, sedang pada kasus lain dapat merupakan perdarahan seperti haid biasa.
Diagnosis dibuat berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak
mengejang, tidak menjalar, dan tidak disertai mual dan muntah. Penanganan
umumnya terdiri atas penerangan pada wanita yang bersangkutan.

Dismenorea
Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling
sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan
pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya
sukar dinilai. Walaupun frekwensi dismenorea cukup tinggi dan penyakit ini
sudah lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat
dipecahkan.
Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak dibawah
perut sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual, maka istilah
dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa
penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya
sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari.
Penanganan dismenorea ini dapat dilakukan dengan cara penerangan dan
nasehat, pemberian obat analgesic, terapi hormonal, teapi dengan obat
nonsteroid antiprostaglandin, dilatasi kanalis servikalis, dan lain sebagainya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Haid atau menstruasi merupakan ciri khas kematangan biologis seorang


perempuan. Haid merupakan salah satu perubahan siklik yang terjadi pada alat
kandungan sebagai persiapan untuk kehamilan.
Setiap perempuan normal akan mengalami haid setiap bulannya, yang
dipengaruhi oleh faktor hormon, enzim , vascular, dan prostaglandin.
Sebelum datangnya haid perempuan akan mengalami sindrom pra-haid
yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, yang berupa perubahanperubahan atau gejala-gejala fisik maupun mental. Sindrom pra-haid ini
berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap bulan, rendahnya kadar
gula, kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals didalam
otak yang mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan
salah satunya.
Sindrom pra-haid ini tidak selalu sama pada setiap orang, begitu juga
dengan siklus haid juga berbeda antara setiap perempuan walau saudara
kembar sekalipun. Siklus haid biasanya 28 hari, yang berlangsung selama 3-7
hari. Siklus ini tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan
oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia.
Siklus haid ini berlangsung dalam 4 masa (stadium) yaitu stadium menstruasi,
stadium post menstruum, stadium inter menstruum, dan stadium
pramenstruum.
Sekarang para perempuan aktif yang sibuk bekerja, baik didalam maupun
diluar rumah, tidak perlu khawatir lagi, karena mereka dapat mengatur siklus
haid mereka dengan cara mengkonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung
hormone estrogen dan progesterone.
Adapun gangguan haid yang terjadi dalam masa reproduksi seperti
hipermenorea, hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorea,
premenstrual mention, mastalgia, mittelschmerz, disminorea, dan masih banyak
gangguan haid lainnya yang sering dirasakan oleh setiap perempuan.

B.

Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:


1.

Kepada setiap perempuan, agar selalu memperhatikan siklus haidnya, untuk


menghindari terjadinya gangguan-gangguan yang berhubungan dengan haid.

2.

Untuk menghindari terjadinya sindrom pra-haid, setiap perempuan dianjurkan


untuk melakukan perubahan-perubahan diet atau mengatur pola makan seperti
yang telah dijelaskan pada bab pembahasan.

3.

Kepada setiap orang tua, terutama orang tua perempuan, agar dapat
menjelaskan tentang haid kepada anak-anaknya sedini mungkin, untuk
mengurangi rasa takut yang sering dialami oleh anak-anak ketika menghadapi
menarche (haid yang pertama kali datang).

4.

Kepada tenaga kesehatan, agar dapat menjelaskan mengenai segala hal yang
berhubungan dengan haid, terutama gangguan-gangguan selama haid.

DAFTAR PUSTAKA

Book Referensi ( Bacaan )

Affandi, Biran. 1996. Gangguan Haid pada Remaja dan Dewasa. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
Burns, August,dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan.
Yayasan Essentia Medica: Yogyakarta.
Masland, Robert, dkk. 2004. Apa yang Ingin Diketahui Remaja tentang
Seks. Bumi Aksara: Jakarta.
Shreeve, Caroline. 1993. Sindrom Pramenstruasi. Arcan Penerbit Umum:
Jakarta.
Tan, Anthony. 2002. Wanita dan Nutrisi. Bumi Aksara: Jakarta.
Werner, David, dkk. 1999. Apa Yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter.
Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset: Yogyakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo: Jakarta.
Winiastri, Virnye, dkk. 2002. Pengalaman Materi Membantu Remaja
Mengatasi Dirinya. Deputi Bidang KB dan Kespro BKKBN: Jakarta.
Zein, Asmar Yetty, dkk. 2005. Psikologi Ibu dan Anak. Fitramaya:
Yogyakarta.

Diposkan oleh Djariadin Ronalko di

. Diberdayakan oleh Blogger.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32790/1/Appendix.pdf

http://jurnal-griyahusada.com/awal/images/files/Penelitian%202.pdf
https://rizkyuhee.wordpress.com/2014/11/22/karya-tulis-ilmiah-gangguan-haidpada-akseptor-kb-suntik-3-bulan-di-pustu-desa-bandung-kecamatan-diwekkabupaten-jombang/

Search

Sakinah Sehat Kreatif


Manisnya Berbagi, Indahnya Memberi, We Care We Share!

Home

Kumpulan Askep

Dunia Perawat

Melancong

Pojok Islami

Cuap-Cuap

Recomended Blog

Gangguan Menstruasi
00:39 Perawat 1 comment
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fisiologi Menstruasi

Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik


dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. Sekarang diketahui
bahwa dalam proses ovulasi, yang memegang peranan penting adalah hubungan
hipotalamus, hipofisis, dan ovarium (hypothalamic-pituitary-ovarium axis).
Menurut teori neurohumoral yang dianut sekarang, hipotalamus mengawasi
sekresi hormon gonadotropin oleh adenohipofisis melalui sekresi neurohormon
yang disalurkan ke sel-sel adenohipofisis lewat sirkulasi portal yang khusus.
Hipotalamus menghasilkan faktor yang telah dapat diisolasi dan disebut
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) karena dapat merangsang pelepasan
Lutenizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dari hipofisis.

2.2.1 Siklus Haid


1.

Siklus ovarium terbagi menjadi 3 fase:


a. Fase Folikuler

Dimulai dari hari pertama sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan
terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena terjadi
pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Pada pertengahan fase folikuler, kadar
FSH sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3 30 folikel
yang masing-masing mengandung 1 sel telur, tetapi hanya 1 folikel yang terus
tumbuh, yang lainnya hancur. Pada suatu siklus, sebagian endometrium
dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan
progesteron. Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan
tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan
menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah
dilepaskan. Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3 7 hari, rata-rata
selama 5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28 -283 gram. Darah menstruasi
biasanya tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat.

Fase ovulasi

Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur.
Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16 32 jam setelah terjadi
peningkatan kadar LH. Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan
ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini

beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya, nyeri ini
dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit
sampai beberapa jam.
a

Fase Luteal

Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah
melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk
korpus luteum yang menghasilkan sebagian besar progesteron. Progesteron
menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase lutuel dan tetap tinggi
sampai siklus yang baru dimulai. Peningkatan suhu ini bisa digunakan untuk
memperkirakan terjadinya ovulasi. Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur
dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan. Jika telur
dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (hormone chorionic
gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan
progesterone sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri. Tes kehamilan
didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.
1

Siklus menstruasi dapat dibedakan 4 fase, yaitu :


a. Fase Menstruasi atau dekuamasi

Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai perdarahan,
hanya lapisan tipis yg disebut stratum basale yang tinggal selama empat hari.
Dengan haid keluar darah, potongan endometrium, dan lendir dari servik. Darah
ini tidak membeku karena ada fermen ( Biokatalisator ) yang mencegah
pembekuan darah dan mencairkan potongan mukosa, banyaknya perdarahan
selam haid kira-kira 50 cc.
a

Fase post haid atau fase regenerasi

Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan sebagian besar berangsurangsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari
sel-sel endometrium. Pada masa ini tebal endometrium kira-kira 0,5 mm dan
berlangsung kurang lebih 4 hari.
a

Fase Proliferasi

Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. kelenjar-kelenjar
tumbuh lebih cepat dari jaringan laen, berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke14 dari siklus haid. Fase proliferasi dibagi menjadi 3 tahap, yaitu :
1. Fase proliferasi dini (early proliferation phase)
Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenal dari epitel
permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut
kelenjar.

Fase proliferasi madya (mid proliferation phase)

Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk
transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan
tinggi. Tampak adanya banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang (nake
nukleus).
1

Fase proliferasi akhir (late proliferation)

Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenal
dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel
kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stoma bertumbuh aktif dan padat.
a

Fase pra haid atau fase sekresi

Pada fase ini endometrium tebalnya tetap, bentuk kelenjar berubah menjadi
panjang, berliku-liku, dan mengeluarkan getah. Di dalam endometrium tertimbun
glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi.
Pada endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat ( Stratum
kompaktum) yang hanya di tembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar,
lapisan stratum spongeosum yang banyak lubang-lubangnya karena disini
terdapat rongga dari kelenjar dan lapisan bawah disebut stratum bassale. Fase
ini dimulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28, jika
tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepas dengan perdarahan dan
berulang lagi siklus menstruasi. Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu :
1. Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase
sebelumnya karena kehilangan cairan.
2. Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium
berkembang dan menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai
mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.
Akhir masa ini, stroma endometrium berubah kearah sel-sel;
desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh
arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi (Hanafiah,
1997).
2.2.2 Normal Haid
Sebagian besar wanita pertengahan usia reproduktif, menstruasi terjadi setiap
25-35 hari dengan siklus haid 28 hari. Wanita dengan siklus ovulatorik, selang
waktu antara awal menstruasi hingga ovulasi fase folikular bervariasi
lamanya. Siklus yang diamati terjadi pada wanita yang mengalami ovulasi.
Selang waktu antara awal perdarahan menstruasi fase luteal relatif konstan
dengan rata-rata 14 2 hari pada kebanyakan wanita (Grenspan, 1998).

Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi. Pada umumnya lamanya 4


sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal.
Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan

endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu.


Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar,
bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Rata-rata
banyaknya darah yang keluar pada wanita normal selama satu periode
menstruasi menurut beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb
normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini
mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama
dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut. (Cunningham,
1995).

2.2.3 Gangguan Haid


Gangguan haid adalah perdarahan haid yang tidak normal dalam hal: panjang
siklus haid, lama haid, dan jumlah darah haid. Melibatkan hipotalamus, hipofisis,
ovarium dan endometrium fisiologi haid normal. (Dr. Asrul Sani)

Gangguan haid merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan haid,


baik itu gangguan menurut ritme (siklus menstruasi), gangguan menurut
perdarahan (banyaknya dan lamanya) maupun gangguan yang terjadi diluar haid
dan pada saat haid. Gangguan yang terjadi saat haid dinilai masih normal jika
terjadi selama dua tahun pertama setelah haid kali pertama. Artinya, bila
seorang perempuan telah mendapatkan haid pertamanya saat berusia 11 tahun,
maka hingga usia 13 tahun haidnya masih tidak teratur. Tapi bila setelah usia 13
tahun haidnya masih tidak teratur juga, dipastikan ia mengalami gangguan haid.

2.2 Definisi
Terjadinya menstruasi atau haid merupakan perpaduan antara kesehatan alat
genitalia dan rangsangan hormonal yang kompleks yang berasal dari mata rantai
aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium (Manuaba, 1998). Oleh karena itu, gangguan
haid dan gangguan siklus haid dapat terjadi dari kelainan kedua faktor tersebut.

Gangguan menstruasi merupakan kelainan pada keadaan menstruasi yang dapat


berupa kelainan atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya
perdarahan.Konsep disfungsi menstruasi secara umum adalah terjadinya
gangguan dari pola perdarahan menstruasi, seperti menorraghia (perdarahan
banyak dan lama), oligomenorrhea (menstruasi yang jarang, polymenorrhea
(menstruasi yang sering),amenorrhea (tidak haid sama sekali) (Eny K., 2011).
Gangguan perdarahan menstruasi dapat menimbulkan risiko patologis apabila
dihubungkan dengan banyaknya kehilangan darah, mengganggu aktivitas
sehari-hari, adanya indikasi inkopatibel ovarium pada saat kosepsi atau adanya
tanda-tanda kanker.

2.3. Klasifikasi
Menurut Manuaba (1998 & 2004) terdapat beberapa bentuk kelainan haid dan
siklus haid masa reproduksi aktif sebagai berikut:
1. Kelainan tentang banyak dan lama perdarahan
a. Hipermenorea/ menoragia
Jadwal siklus haid tetap, tetapi kelainan terletak pada jumlah perdarahan lebih
bayak dan disertai gumpalan darah dan lamaya perdarahan lebih dari 8 hari
(Manuaba, 1998). Menurut Manuaba (2004), hipermenorea dapat disertai dengan
gangguan psikosomatik. Terjadinya hipermenorea berkaitan dengan kelainan
pada rahim, yaitu mioma uteri, polip endometrium dan gangguan pelepasan
endometrium.
b. Hipomenorea
Siklus menstruasi (haid) tetap, tetapi lama perdarahan memendek kurang dari 3
hari (Manuaba, 1998). Hipomenorea dapat disebabkan kesuburan endometrium
kurang karena keadaan gizi penderita yag rendah, penyakit menahun dan
gangguan hormonal.

2. Kelainan siklus haid


a. Polimenorea
Terdapat siklus menstruasi yang memendek dari biasa yaitu kurang dari 21 hari,
sedangkan jumlah perdarahan relatif tetap (Manuaba, 1998).
b. Oligomenorea
Siklus di atas 35 hari (Manuaba, 1998), namun perdarahannya biasanya kurang.
Penyebabnya adalah gangguan hormonal, ansietas dan stress, penyakit kronis,
obat-obatan tertentu, bahaya di tempat kerja dan lingkungan, status penyakit
nutrisi yang buruk, olahraga yang berat, penurunan berat badan yang signifikan.
c. Amenorea
Merupakan gejala atau keadaan klinis dengan ciri belum mendapatkan
menstruasi atau terlambat menstruasi selama tiga bulan berturut-turut
(Manuaba, 1998). Menurut Manuaba (2004), amenorea dapat bersifat:
1) Fisiologis:
Amenore bersifat fisiologis pada perempuan usia prapubertas, hamil
pascamenopause, di luar itu amenore menunjukkan adanya disfungsi atau
abnormalitas dari sistem reproduksi (Sylvia & Lorraine, 2006).

2) Bersifat patologis
a. Primer amenorea
Amenore primer adalah tidak terjadiya menstruasi sampai usia 17 tahun, dengan
atau tanpa tanda perkembangan seksual sekunder (Sylvia & Lorraine,
2006).Amenorea primer adalah tidak terdapatnya menstruasi pada pasien
berusia 16 tahun dengan ciri-ciri seksual sekunder yang normal atau tidak
terdapatya menstruasi pada pasien berusia 14 tahun tanpa tanda-tanda
pematagan seksual (Linda J. & Danny J., 2008).

Sekunder amenorea

Amenorea sekunder adalah tidak terdapatnya tiga siklus menstruasi atau tidak
adaya perdarahan menstruasi selama 6 bulan (Linda J. & Danny J., 2008).
Amenore sekunder berarti tidak terjadinya menstruasi selama 3 bulan atau lebih
pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi (Sylvia & Lorraine, 2006).

3. Perdarahan di luar haid


a. Metroragia
Merupakan kondisi dimana perdarahan terjadi terus menerus dan
berkepanjangan yang biasanya terjadi karena penyakitpenyakit organic
misalnya fibroid dan karsinoma.

4. Keadaan lain berkaitan dengan haid

a. Ketegangan pra-haid/Premenstrual tention

Merupakan keluhan yang menyertai menstruasi dan sering dijumpai pada masa
reproduksi aktif (Manuaba, 1998). Sindrom pramenstruasi (PMS/Premenstrual
syndrome) atau premenstrual tension (PMT) adalah gabungan dari gejala-gejala
fisik dan psikologis yang terjadi selama fase luteal siklus menstruasi dan
menghilang setelah menstruasi dimulai (Sylvia & Lorraine, 2006). Pada sekitar
10% perempuan gejala pramestruasi cukup berat hingga memerlukan perawatan
medis (Sylvia & Lorraine, 2006).

Faktor penyebabnya adalah kejiwaan yang labil dan angguan keseimbangan


estrogen-progesteron. Adapun gejala yang muncul berupa kelainan hubungan di
lingkungan keluarga dan terlalu peka terhadap perubahan hormonal. PMS dapat
menyebabkan retensi natrium dan air, payudara terasa bengkak dan sakit; dan
berat badan bertambahdisertai edema tungkai.

Penanganan PMS tidak memerlukan pengobatan, karena akan hilang setelah


menstruasi. Namun demikian, dapat diberikan obat penenang dan untuk
mengurangi gejala klinis dapat diberikan diuretik ringan dan testosteron sebaga
anti estrogen sebanyak 5 mgr selama 7 hari.

b. Mastodinia/ Mastalgia

Merupakan rasa berat dan bengkak pada payudara menjelang menstruasi


(Manuaba, 1998). Hal ini disebabkan oleh pengaruh estrogen yang menyebabkan

retensi natrium dan air pada payudara serta terjadi tekanan ujung saraf yang
menimbulkan rasa nyeri.

c. Perdarahan ovulasi/ Mittelschmer

Merupakan rasa nyeri yang terjadi saat ovulasi. Namun, hal ini jarang diasakan
oleh wanita (Manuaba, 1998).

d. Dismenorea

Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot
uterus (Sylvia & Lorraine, 2006). Rasa nyeri sering digambarka sebagai nyeri
kram pada abdomen bagian bawah yang terjadi selama haid (William M., 2005).
Dismenore primer apabila tidak terdapat gangguan fisik yang menjadi peyebab
dan hanya terjadi selama siklus-siklus ovulatorik (Sylvia & Lorraine, 2006).
Penyebabnya adalah adanya jumlah prostaglandin F2 yang berlebihan pada
darah menstruasi, yang meragsang aktivitas uterus (Sylvia & Lorraine, 2006).

Gejala utama adalah nyeri, dimulai pada saat awitn menstruasi. Nyeri dapat
tajam, tumpul, siklik atau menetap; dapat berlangsung dalam beberapa jam
sampai 1 hari, namun dapat melebihi 1 hari namun tidak sampai lebih dari 72
jam. Gejala-gejala sistemik yang menyertai berupa mual, diare, sakit kepala dan
perubahan emosional. Dismenore sekunder timbul karena adanya masalah fisik
seperti endometriosis, polip uteri, leiomioma, stenosis serviks atau penyakit
radang panggul (PID) (Sylvia & Lorraine, 2006).

e. Various menstruasi

Merupakan perdarahan yang terjadi pada organ lainnya yang tidak ada
hubungan endometrium (Manuaba, 2004). Pada organ tersebut dapat terjadi
perdarahan sesuai dengan siklus menstruasi. Organ tersebut yaitu hidung
meimbulkan epistaksis dan lambung.

2.2 Etiologi
Penyebab gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik atau
disfungsional) atau dapat pula karena psikologik seperti keadaan keadaan

stress dan gangguan emosi atau gangguan biologik dan psikologik. Siklus
menstruasi mempunyai hubungan tertentu terhadap keadaan fisik dan psikologik
wanita. Banyak penyebab gangguan haid , yaitu berdasarkan kelainan yang
dijumpai seperti:
1.

fungsi hormon terganggu

haid terkait dengan system hormone yang diatur otak, tepatnya dikelenjar
hipofisa. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk
memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu, otomatis terjadi
gangguan pada menstruasi.
1

Kelainan sistemik

Tubuhnya sangat gemuk atau kurus dapat mempengaruhi siklus haid karena
sistem metabolism di dalam tubuhnya tak bekerja dengan baik, atau wanita
yang menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi sistem
merabolisme sehingga haid pun tidak teratur.
1

Stress

Stress akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh, karena stress,


wanita akan menjadi mudah lelah, berat badan menurun drastis, bahkan sakitsakitan, sehingga metabolisme terganggu. Jika metabolisme terganggu, haid pun
juga ikut terganggu.
1

Kelenjar gondok

Terganggunya fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa menyebabkan tidak


teraturnya haid. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu
tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid) yang dapat mengakibatkan
sistem hormonal tubuh ikut terganggu.
1

Hormon prolaktin berlebih

Hormon prolaktin dapat menyebabkan seorang wanita tidak haid, karena


memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada wanita yang tidak sedang
menyusui hormon prolaktin juga bisa tinggi, biasanya disebabkan kelainan pada
kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala.

Manifestasi Klinis

Tanda-tanda gangguan datang bulan (haid) : (David Werner, dkk 2010)


Bagi wanita-wanita tertentu, tidak teraturnya datang bulan merupakan keadaan
yang wajar, namun bagi wanita lainnya, keadaan ini dapat merupakan tanda

bagi penyakit menahun, kekurangan darah (anemia), gangguan gizi (malnutrisi),


atau mungkin adanya infeksi atau tumor dalam rahim (uterus)

Apabila datang bulan (haid) tidak terjadi pada saat yang seharusnya, hal ini
mungkin menunjukkan tanda kehamilan Akan tetapi masa datang bulan yang
tidak teratur atau tidak mendapatkan bulanan sering merupakan keadaan yang
wajar bagi banyak gadis yang baru saja mendapatkan bulanannya dan bagi
wanita yang berusia di atas 40 tahun. Kecemasan dan gangguan emosional
dapat menyebabkan seorang wanita tidak mendapatkan bulanannya.

Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal ini hampir selalu
menjadi tanda permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian bayi di dalam
kandungan). Apabila masa haid berlangsung lebih dari 6 hari, dan daerah yang
dikeluarkan banyak dan tidak seperti biasanya, atau datang haid lebih dari satu
kali dalam sebulan, maka pasien harus segera meminta nasihat dari dokter.

Menurut Dr. Salma dalam majalahkesehatan.com pada 14 Oktober 2010,


perempuan dapat memiliki berbagai masalah dengan menstruasi/haid
mereka. Masalah tersebut dapat berupa tidak mengalami menstruasi sama sekali
sampai menstruasi berat dan berkepanjangan.

Pola haid boleh saja tidak teratur, tetapi jika jarak antar menstruasi kurang dari
21 hari atau lebih dari 3 bulan, atau jika haid berlangsung lebih dari 10 hari
maka Anda harus mewaspadai adanya masalah ovulasi atau kondisi medis
lainnya.
1.

Amenore

Amenore adalah tidak ada menstruasi. Istilah ini digunakan untuk


perempuan yang belum mulai menstruasi setelah usia 15 tahun (amenore
primer) dan yang berhenti menstruasi selama 3 bulan, padahal sebelumnya
pernah menstruasi (amenore sekunder).
Amenore primer biasanya disebabkan oleh gangguan hormon atau
masalah pertumbuhan. Amenore sekunder dapat disebabkan oleh rendahnya
hormon pelepas
gonadotropin (pengatur siklus haid), menyusui, stres,
anoreksia, penurunan berat badan yang ekstrem, gangguan tiroid, olahraga
berat, pil KB, kista ovarium dan masalah organ reproduksi lainnya.

Pada usia remaja dan tengah baya, amenore tidak selalu menunjukkan
gangguan. Menstruasi cenderung sangat tidak teratur pada beberapa tahun
pertama menstruasi dan dapat menjadi tidak teratur lagi saat seorang wanita
mendekati menopause.
1

Sindrom Pramenstruasi (SPM)

Sindrom pramenstruasi (SPM) adalah sekelompok gejala fisik, emosi, dan


perilaku yang umumnya terjadi pada minggu terakhir fase luteal (seminggu
sebelum haid). Gejala biasanya tidak dimulai sampai 13 hari sebelum siklus, dan
selesai dalam waktu 4 hari setelah perdarahan dimulai. SPM mempengaruhi
sebanyak 75% wanita.
Beberapa gejala SPM yang sering dirasakan:

Kram perut

Nyeri payudara

Depresi, mudah tersinggung, murung dan emosi labil (mood swing)

Tidak tertarik seks (libido menurun)

Jerawat berkala

Perut kembung

Sakit kepala atau sakit persendian

Sulit tidur

Sulit buang air besar (BAB)

Sebagian besar wanita yang menderita SPM hanya mengalami beberapa dari
gejala di atas. Ketika gejala SPM sangat parah, kondisinya disebut gangguan pramenstruasi disforik (pre-menstrual dysphoric disorder). Sekitar tujuh persen
wanita mengalaminya (sumber: MayoClinic).
Penyebab SPM tidak diketahui dengan pasti. Namun, ada teori tentang faktorfaktor yang dapat menyebabkan sindrom. Gejala tampaknya berubah mengikuti
fluktuasi hormon, yang menunjukkan bahwa siklus perubahan hormon dapat
menjadi
penyebab
utamanya.
Perubahan
kadar
serotonin,
suatu
neurotransmitter yang terlibat dalam pengendalian mood, juga dapat
menyebabkan SPM. Aspek-aspek tertentu dari diet seperti rendahnya tingkat
vitamin dan mineral juga dapat bertanggung jawab atas beberapa gejala SPM.
Makanan asin dapat menyebabkan SPM dengan meningkatkan retensi air.

Tipe dan gejalanya Tipe PMS bermacam-macam. Dr. Guy E. Abraham, ahli
kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagi PMS
menurut gejalanya yakni PMS tipe A, H, C, dan D. Kadang-kadang seorang wanita
mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara bersamaan. Berikut
gejala-gejala yang timbul sesuai tipe PMS masing-masing:
1. PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas,
sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita
mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat
haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen
dan progesteron: hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan
hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang
dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti
mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan vitamin B6
dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengonsumsi
makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi.
2. PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema(pembengkakan),
perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan
kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat
juga dirasakan bersamaan dengan tipe PMS lain. Pembengkakan itu
terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel)
karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita.
Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air
dan natrium pada tubuh hanya mengurangi gejala yang ada. Untuk
mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi
asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum
sehari-hari.
3. PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengonsumsi
makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat
sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah
menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia
seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang kadangkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran
hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap
makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet
makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau
kurangnya magnesium.
4. PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin
menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam
mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul
rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D
berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari
selururh tipe PMS benar-benar murni tipe D. PMS tipe D murni
disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan
estrogen, di mana hormon progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi
dibandingkan dengan hormon estrogennya. Kombinasi PMS tipe D dan
tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan
asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal di tubuh,
atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6).
Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan

magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang


terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.
Untuk mengatasi PMS, biasanya dokter memberikan pengobatan diuretika untuk
mengatasi retensi cairan atau edema (pembengkakan) pada kaki dan tangan.
Pemberian hormon progesteron dosis kecil dapat dilakukan selama 8 10 hari
sebelum haid untuk mengimbangi kelebihan relatif estrogen. Pemberian hormon
testosteron dalam bentuk methiltestosteron sebagai tablet isap dapat pula
diberikan untuk mengurangi kelebihan estrogen.
1

Dismenore

Dismenore adalah menstruasi menyakitkan. Nyeri menstruasi terjadi di perut


bagian bawah tetapi dapat menyebar hingga ke punggung bawah dan paha.
Nyeri juga bisa disertai kram perut yang parah. Kram tersebut berasal dari
kontraksi dalam rahim, yang merupakan bagian normal proses menstruasi, dan
biasanya pertama dirasakan ketika mulai perdarahan dan terus berlangsung
hingga 32 48 jam.
Dismenore yang dialami remaja umumnya bukan karena penyakit (dismenore
primer). Pada wanita lebih tua, dismenore
dapat disebabkan
oleh
kondisi/penyakit tertentu (dismenore sekunder), seperti fibroid uterus, radang
panggul, endometriosis atau kehamilan ektopik.

Dismenore primer dapat diperingan gejalanya dengan obat penghilang


nyeri/anti-inflamasi seperti ibuprofen, ketoprofen dan naproxen. Berolah raga,
kompres dengan botol air panas, dan mandi air hangat juga dapat mengurangi
rasa sakit. Bila nyeri menstruasi tidak hilang dengan obat pereda nyeri, maka
kemungkinan merupakan dismenore sekunder yang disebabkan penyakit/kondisi
tertentu.
1

Menoragia

Menoragia adalah istilah medis untuk perdarahan menstruasi yang berlebihan.


Dalam satu siklus menstruasi normal, perempuan rata-rata kehilangan sekitar 30
ml darah selama sekitar 7 hari haid. Bila perdarahan melampaui 7 hari atau
terlalu deras (melebihi 80 ml), maka dikategorikan menoragia.
Penyebab utama menoragia adalah ketidakseimbangan jumlah estrogen dan
progesteron
dalam
tubuh.
Ketidakseimbangan
tersebut menyebabkan
endometrium terus terbentuk. Ketika tubuh membuang endometrium melalui
menstruasi, perdarahan menjadi parah. Menoragia juga bisa disebabkan oleh
gangguan tiroid, penyakit darah, dan peradangan/infeksi pada vagina atau leher
rahim.

Perdarahan Abnormal

Perdarahan vagina abnormal (di luar menstruasi) antara lain:

Pendarahan di antara periode menstruasi

Pendarahan setelah berhubungan seks

Perdarahan setelah menopause

Perdarahan abnormal disebabkan banyak hal. Dokter mungkin memulai dengan


memeriksa masalah yang paling umum dalam kelompok usia pasien. Masalah
serius seperti fibroid uterus, polip, atau bahkan kanker dapat menjadi sebab
perdarahan abnormal.
Menurut Prof. Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) Divisi Imuno Endokronologi
-Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta , Gangguan haid adalah
darah haid yang keluar tidak memenuhi syarat suatu haid yang normal, dan
darah yang keluar biasanya disebut sebagai perdarahan yang menyerupai haid.
Gangguan haid atau perdarahan dapat disebabkan oleh penyakit tertentu,
misalnya tumor jinak/ ganas pada rahim, mulut rahim atau pada indung telur,
atau disebabkan oleh infeksi pada alat kelamin perempuan. Perdarahan dapat
juga disebbakan oleh efek samping obat-obat tertentu yang kebetulan sedang
digunakan oleh seorang perempuan. Kelainan sistem hormonal pada seorang
perempuan dapat juga menyebabkan perdarahan.

Berbagai gangguan haid yaitu antara lain :


a. Bila haid datang sebulan dua kali (<21 hari), yang disebut dengan
istilah polimenorea
b. Seorang perempuan mendapatkan haid terlalu jarang, di atas 35 hari
sekali, yang disebut sebagai oligomenorea
c. Tidak mendapatkan haid 6 bulan atau lebih, yang disebut sebagai
amenorea
d. Seorang perempuan mendapatkan haid tidak teratur, bisa 2 atau 3, 4
bulan sekali
e. Mengalami perdarahan bercak (spotting) sebelum haid datang, atau
pada pertengahan siklus, ataupun setelah selesainya haid
f.

Keluarnya darah haid terlalu banyak, ganti pembalut sampai 6-7


kali/hari, yang disebut sebagai hipermenorea

g. Keluarnya darah haid terlalu sedikit, ganti pembalut <2 kali/hari,


disebut dengan hipomenorea

h. Keluarnya darah haid lebih dari 6-7 hari, yang disebut sebagai
menoragia. Darah yang keluar dapat sedikit ataupun banyak

Patofisiologi Gangguan Haid

Berikut ini akan dijelaskan patofisiologi dari beberapa macam gangguan haid.
1.

Premenstrual Tension (Ketegangan Prahaid)

Meningkatnya kadar estrogen dan menurunnya kadar progresteron di dalam


darah akan menyebabkan gejala deprese dan khususnya gangguan mental.
Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk
vitamin B6 (piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti-depresi karena
berfungsi mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan
syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dapat mengakibatkan depresi.
Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah
prolaktin. Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi
jumlah estrogen dan progresteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah
prolaktin yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme
tubuh yang mengontrol produksi kedua hormone tersebut. Wanita yang
mengalami sindroma pre-menstruasi dapat memiliki kadar prolaktin yang tinggu
atau normal.

Selanjutnya adalah karena gangguan metabolisme prostaglandin akibat


kurangnya gamma linolenic acid (GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk
mengatur sistem reproduksi (mengatur efek hormone estrogen dan
progresteron), sistem saraf, dan sebagai anti peradangan.
1

Disminorea
a. Disminorea Primer

Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan mengalami regresi dan
hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar progresteron. Penurunan ini akan
menyebabkan labilisasi membrane lisosom, sehingga mudah pecah dan
melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini akan menghidrolisis
senyawa fosfolipid yang ada di membrane sel endometrium dan menghasilkan
asam arakhidonat. Adanya asam arakhidonat bersama dengan kerusakan
endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat yang akan
menghasilkan prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan
disminorea primer didapatkan adanya peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa di
dalam darahnya, yang akan merangsang miometrium dengan akibat terjadinya
pningkatan kontraksi dan disritmi uterus. Akibatnya akan terjadi penurunan

aliran darah ke uterus dan ini akan mengakibatkan iskemia. Prostaglandin sendiri
dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan selanjutnya menurunkan
ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen nervus pelvicus terhadap
rangsang fisik dan kimia.
a

Disminorea Sekunder

Adanya kelainan pelvis, misalnya : endometriosis, mioma uteri, stenosis serviks,


malposisi uterus atau adanya IUD akan menyebabkan kram pada uterus
sehingga timbul rasa nyeri.
1

Perdarahan Uterus Abnormal

Perdarahan abnormal biasanya merupakan gejala dari penyakit lain. Banyak


penyebab perdarahan uterus abnormal, yang dapat dikelompokkan dalam empat
kategori utama, yaitu komplikasi kehamilan, lesi organic, penyakit konstitusional,
dan perdarahan uterus disfungsi sejati. Berikut ini adalah patofisiologi beberapa
kasus terkait perdarahan uterus abnormal yang paling sering terjadi :
a. Hipermenorea (Menorraghia)
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi gonadotropin releasing
hormone (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan follicle
stimulating hormone (FSH). Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan folikel di
ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing
hormone (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan estrogen yang berfungsi menstrimulasi endometrium agar
berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan, kadah FSH dan LH rendah. Folikel yang
telah kehilangan ovum akan berkembang menjadi korpus luteum yang akan
mensekresi progresteron. Progresteron menyebabkan poliferasi endometrium
untuk berdeferensiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah
menstruasi. Menstruasi berasal dari peluruhan endometrium sebagai akibat dari
penurunan kadar estrogen dan progresteron akibat involusi korpus luteum.
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi
awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga
terjadi pada beberapa kondisi patologis.

Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari
FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak
ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progresteron yang disekresi.
Endometrium berproliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi
estrogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi
berlangsung dengan perdarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi
endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan perdarahan hebat.

Amenorea

Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagau bagian dari sindrom
hemaprodit seperti testicular feminization, adalah penyebab utama dari amenore
primer. Testicular feminization disebabkan oleh kelainan genetic. Pasien dengan
amenorea primer yang diakibatkan oleh hal ini menganggap dan menyampaikan
dirinya sebagai wanita yang normal, memiliki tubuh feminism. Vagina kadangkadang tidak ada atau mengalami kecacatan, tapi biasanya terdapat vagina.
Vagina tersebut berakhir sebagai kantong kosong dan tidak terdapat uterus.
Gonad, yang secara morfologi adalah testis berada di kanal inguinalis. Keadaan
seperti ini yang menyebabkan pasien mengalami amenorea yang permanen.
Amenorea primer juga dapat disebabkan karena kelainan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropik amenorrhoea menunjukkan
keadaan dimana terdapat sedikit sekali kadar FSH dan LH dalam serum.
Akibatnya, ketidakadekuatan hormone ini menyebabkan kegagalan stimulus
terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progresteron. Kegagalan
pembentukan estrogen dan progresteron akan menyebabkan tidak menebalnya
endometrium karena tidak ada yang merangsang. Terjadilah amenorea. Hal ini
adalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau hipofisis
anterior, seperi adenoma pituitary.

Hypergonadotropik amenorrhoea merupakan salah satu penyebab amenorea


primer. Hypergonadotropik amenorrhoea adalah kondisi dimana terdapat kadar
FSH dan LH yang cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak
mampu menghasilkan estrogen dan progresteron. Hal ini menandakan bahwa
ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari
hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau premature menopause adalah
penyebab yang mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda
dapat menunjukkan adanya hypergonadotropik amenorrhoea. Disgenesis gonad
menyebabkan seorang wanita tidak pernah mengalami menstruasi dan tidak
memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan gonad (ovarium) tidak
berkembang dan hanya berbentuk kumpulan jaringan pengikat.

Amenorea sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi hipotalamushipofisis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium
dapat bekerja secara fungsional. Amenorea yang terjadi mungkin saja
disebabkan oleh adanya obstruksi terhadap aliran darah yang akan keluar
uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium seperti
kelebihan androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.

Pemeriksaan gangguan haid

1.

Pemeriksaan umum
a. Keadaan tubuh penderita tidak jarang memberi petunjuk, penderita
pendek atau tinggi, ciri kelamin sekunder, hirsutisme.
b. Pemeriksaan ginekologik

Biasanya didapatkan adanya aplasia vagina, keadaan klitoris, aplasia uteri,


tumor ovarium
2. Pemeriksaan Psikologi (distress/tidak)

3. Pemeriksaan Penunjang
Apabila pemeriksaan klinis tidak memberikan gambaran yang jelas dapat
dilakukan pemeriksaan :
1. Rontgen : thorax terhadap tuberkulosis serta sella tursika
2. Sitologi vagina
3. Tes toleransi glukosa
4. Pemeriksaan mata untuk mengetahui tanda tumor hipofise
5. Kerokan uterus
6. Pemeriksaan metabolisme basal atau T3 dan T4 tiroid
7. Laparoskopi
8. Pemeriksaan kromatin seks
9. Pemeriksaan kadar hormon

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Diagnosa


dismenore didasari oleh ketidaknyamanan saat mengalami menstruasi.
Perubahan apapun pada kesehatan reproduksi, termasuk hubungan badan yang
dirasa sakit dan perubahan pada jumlah dan lamanya menstruasi, memerlukan
pemeriksaan ginekologis; perubahan-perubahan seperti itu dapat menandakan
sebab dari dismenore sekunder. Secara umum pemeriksaan untuk menentukan
diagnosa biasanya harus dilakukan anamnesis terlebih dahulu, pemeriksaan fisik,
USG, hysterosalpinogogram, laparoskopi, histeroskopi, dilatasi dan kuretasi.
Untuk pemeriksaan dismenore primer, pada pemeriksaan fisik biasanya normal,
tidak didapatkan massa pada bagian abdomen dan pelvis. Pemeriksaan
rectovaginal juga normal. Diluar dari pemeriksaan nyeri atau kram pelvis,
biasanya didapatkan nyeri sedang pada pergerakan dan tekanan dari uterus dan

cerviks. Evaluasi episode pertama nyeri, kemungkinan infeksi pelvis dan


kehamilan pasien juga harus dievaluasi (Gunawan, 2002).

2. Penatalaksanaan
a

Amenorea

Penatalaksanaan untuk kasus amenore tergantung kepada penyebabnya. Jika


penyebabnya adalah penurunan berat badan yang drastis atau obesitas,
penderita dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat. Pengobatan di berikan
bergantung pada penyebab amenorea. Terapi hormonal dan konseling sebagai
gangguan konsep diri dapat diberikan kepada pasien Jika penyebabnya adalah
olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk menguranginya. Jika
seorang anak perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi (amenore
primer ) dan selama hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan
setiap 3 6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya.
Untuk merangsang menstruasi bisa diberikan progesteron. Untuk merangsang
perubahan pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum membesar
atau rambut kemaluan dan ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan estrogen.
Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk
mengangkat tumor tesebut.
a

Oligomenorea

Penatalaksanaan
yang diberikan kepada penderita oligomenorea akan
disesuaikan dengan penyebabnya. Oligomenorea yang terjadi pada tahun-tahun
pertama setelah haid pertama dan oligomenorea yang terjadi menjelang
menopause tidak memerlukan pengobatan yang khusus. Sementara
oligomenorea yang terjadi pada gangguan nutrisi dapat diatasi dengan terapi
nutrisi dan akan didapatkan siklus menstruasi yang reguler kembali.
Pada umumnya, disamping mengatasi faktor yang menjadi penyebab
timbulnya,penderita oligomenorea juga akan diterapi dengan menggunakan
terapi hormone.Jenis hormon yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis
hormon yang mengalami penurunan dalam tubuh (yang tidak seimbang). Pasien
yang menerima terapi hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi
diberikan, dan kemudian 6 bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi.
a

Polimenorea

Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat sembuh dengan


sendirinya. Penderita polimenorea harus segera dibawa ke dokter jika
polimenorea berlangsung terus menerus. Polimenorea yang berlangsung terus
menerus dapat menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh akibat darah yang

keluar terus menerus.Disamping itu, polimenorea dapat juga akan menimbulkan


keluhan berupa gangguan kesuburan karena gangguan hormonal pada
polimenorea mengakibatkan gangguan ovulasi (proses pelepasan sel telur).
Wanita dengan gangguan ovulasi seringkali mengalami kesulitan mendapatkan
keturunan.
a

Menoragia atau Hipermenore

Pengobatan menorrhagia sangat tergantung kepada penyebabnya. Untuk


memastikan penyebabnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan
seperti pemeriksaan darah, tes pap smear, biopsi dinding rahim, pemeriksaan
USG, dan lain sebagainya. Jika menoragia diikuti oleh adanya anemia, maka zat
besi perlu diberikan untuk menormalkan jumlah hemoglobin darah.
Terapi zat besi perlu diberikan untuk periode waktu tertentu untuk menggantikan
cadangan zat besi dalam tubuh. Selain itu, menorrhagia juga dapat diterapi
dengan pemberian hormon dari luar, terutama untuk menorrhagia yang
disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal.

Terapi hormonal yang diberikan iasanya berupa obat kontrasepsi kombinasi atau
pill kontrasepsi yang hanya mengandung progesteron. Menorrhagia yang terjadi
akibat adanya mioma dapat diterapi dengan melakukan terapi hormonal atau
dengan pengangkatan mioma dalam rahim baik dengan kuretase ataupun
dengan tindakan operasi.
a

Hipomenorea

Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang
dari biasa. Hipomenorrhea adalah suatu keadan dimana jumlah darah haid
sangat sedikit (<30cc). Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan
endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun
gangguan hormonal(kekurangan estrogen maupun progesteron)
a

Metroragia

Suatu perdarahan vagina antara periode menstruasi teratur merupakan bentuk


disfungsi disfungsi menstruasi yang paling signifikan karena hal itu dapat
menunjukkan adanya kanker, tumor jinak uterus, dan masalah-masalah psikologi
lainnya. Kondisi ini menegakkan diagnosa dan pengobatan dini. Meskipun
pendarahan antara periode menstruasi pada wanita yang menggunakan
kontraseptif oral biasanya bukan masalah yang serius, namun perdarahan tak
teratur pada wanita yang mendapat terapi penggantian hormon harus dievaluasi
lebih lanjut.
a

Dismenorea

Terapi medis untuk klien disminorea diantaranya :


1. Pemberian obat analgesik
2. Terapi hormonal
3. Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
4. Dilatasi kanalis serviksalis (dapat memberikan keringanan karena
memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya)
5. Komplikasi yang sering timbul adalah syok dan penurunan kesadaran
h. PMS (Sindrom Premenstruasi)
1. Kurangi asupan makanan manis, garam, kopi, teh, cokelat, minuman
bersoda, lemak hewan, susu, keju, mentega, dan utamakan istirahat
2. Untuk mengurangi retensi natrium dan cairan, maka selama 7-10 hari
sebelum haid penggunaan garam di batasi dan minum sehari-hari
dikurangi
3. Tingkatkan asupan vitamin B dan sayur-sayuran hijau
4. Pemberian obat diuretik
5. Progesteron sintetik dapat diberikan selama 8-10hari sebelum haid
untuk mengimbangi kelebihan relatif dari estrogen
6. Pemberian testosteron dalam bentuk methiltestosteron
diberikan dalam mengurangi kelebihan estrogen.

WOC

dapat

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 KASUS
Nona J, 21 tahun datang ke rumah sakit dengan mengeluh lemas, letih, dan lesu
serta nyeri hebat pada bagian perut ketika haid, sampai tidak mampu melakukan
aktivitas karena nyeri abdomen akan bertambah. Pasien juga mengeluh mual,
muntah, dan pusing.Pada pemeriksaan TTV didapatkan TD = 90/60 mmHg, N =
80x/menit, S = 37oC, RR = 21x/menit.

1
1.
Nama

Pengkajian
Identitas :
: Nn. J

Jenis Kelamin : Perempuan


Umur

: 21 tahun

Status

: Belum menikah

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Sidoarjo

Suku
1

: Indonesia
Keluhan Utama :

Pasien mengeluh nyeri hebat pada bagian perut


1

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien merasakan nyeri ketika haid, badan lemas, mual, dan muntah
1

Riwayat Penyakit Dahulu :


Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada
1

Riwayat Menstruasi :

Menarche
: umur 13 tahun
Siklus
hari 3x pembalut Lamanya : 7 hari
Keluhan
: nyeri haid
1

: teratur ( ) Banyaknya

Pemeriksaan Fisik :

Head To Toe :
Kepala, mata, kuping, hidung dan tenggorokan :
a. Kepala:
Bentuk
Keluhan
a

: Normal, tidak ada pembengkakan


: Tidak ada keluhan
Mata:

Kelopak mata
Gerakan mata
Konjungtiva

: Kulit kelopak mata normal


: Deviasi normal dan mistagmus
: Normal

: 1

Sklera

: Normal

Pupil

: Reflek cahaya normal


a

Hidung:

Reaksi alergi
Sinus
a

: Tidak ada alergi


: Tidak ada nyeri tekan sinus

Mulut dan Tenggorokan:

Gigi geligi
: Normal
Kesulitan menelan : Tidak ada
a

Dada dan Axilla

Mammae
: Membesar (
Areolla mammae : Normal
Papila mammae
Colostrum
a

) ya

: Normal
:-

Pernafasan

Jalan nafas
Suara nafas

: Normal
: Normal

Menggunakan otot-otot bantu pernafasan: a

Sirkulasi jantung

Kecepatan denyut apical: Takikardi


Irama
: normal teratur
Kelainan bunyi jantung: a

Abdomen

Mengecil
Linea & Striae

::-

Luka bekas operasi: Kontraksi

:-

Lainnya sebutkan : Nyeri pada abdomen


i.
Perineum

Genitourinary
: Normal

( ) tidak

Vesika urinaria
a

: Oliguri

Ekstremitas ( Integumen/Muskuloskletal )

Turgor kulit
Warna kulit

: Normal
: Normal

Kontraktur pada persendian ekstremitas: Tidak ada


Kesulitan dalam pergerakan: Tidak ada kesulitan

Pemeriksaan Abdomen
Abdomen lunak tanpa adanya rangsangan peritoneum atau suatu keadaan
patologik yang terlokalisir. Bising usus normal
Pemeriksaan Pelvis
Pada kasus dismenore primer, pemeriksaan pelvis adalah normal.

Analisa Data

No.

Data

Masalah
Keperawatan

Etiologi
Haid

Peningkatan
prostaglandin

produksi

- Data subjektif :
Klien mengeluh nyeri pada
bagian perut.
1`

- Data objektif :
Keringat
banyak,
memegang daerah
sakit, menangis.

Nyeri

Kontraksi uterus
klien
yang
Terjadi hipersensitivitas
saraf nyeri uterus

Nyeri

- Data subjektif:

Produksi
berlebih

prostaglandin

Respon
sistemik

inflamasi

Spasme otot uterus

Klien mengeluh mual dan


Gangguan
muntah
gastrointestinal
- Data objektif:

Perubahan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan tubuh

Berat
badan
menurun,
klien tampak lemas
Mual, muntah

Nutrisi
kurang
kebutuhan tubuh

dari

3.4 Diagnosa Keperawatan


a.

Nyeri berhubungan dengan meningkatnya


hipersensitivitas, dan saraf nyeri uterus

b.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


adanya mual dan muntah

c.

Intoleransi
abdomen

d.

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan penyebab nyeri


abdomen

aktivitas

berhubungan

dengan

kontraktilitas

kelemahan

akibat

uterus,

nyeri

3.5 Intervensi Keperawatan


1.

Diagnosa: Nyeri berhubungan dengan. Meningkatnya


uterus, hipersensitivitas, dan saraf nyeri uterus

kontraktilitas

Tujuan:dalam waktu 1x24 jam nyeri dapat berkurang


Kriteria hasil: Skala nyeri 0-1, pasien tampak rileks

No.

Intervensi

Rasional

Mandiri
1

Pantau/catat karakteristik nyeri, kaji Untuk mendapatkan indikator dan


lokasi dan intensitas nyeri
skala nyeri

Hangatkan bagian perut

Dapat menyebabkan terjadinya


vasodilatasi
dan
mengurangi
kontraksi spasmodik uterus

Masase daerah perut yang terasa Mengurangi nyeri karena adanya


nyeri
stimulus sentuhan terapeutik

Lakukan latihan ringan

Dapat memperbaiki aliran darah ke


uterus dan tonus otot

Lakukan teknik relaksasi

Mengurangi
tekanan
mendapatkan rileks

Berikan diuresis natural


tidur dan istirahat

(vitamin)

untuk

Mengurangi kongesti

Kolaborasi
7

Pemberian
analgetik
fenasetin, kafein)

Terapi
diometasin,
naprosen

(aspirin, Diperlukan untuk mengurangi rasa


nyeri agar dapat istirahat
ibuprofen,

Biasanya
digunakan
menormalkan
prostaglandin

untuk
produksi

Diagnosa: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan adanya mual dan muntah

Tujuan: Setelah diberikan askep


menunjukkan perbaikan nutrisi
Kriteria hasil: Mual muntah teratasi

selama

124

jam

diharakan

pasien

No.

Intervensi

Rasional

Timbang BB setiap hari

Agar
dapat
mengetahui
perubahan berat badan setiap
harinya

Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat

Nutrisi yang adekuat dapat


meningkatkan berat badan.

Beri suasana
makan

Beri porsi kecil tapi sering

Beri makanan dengan protein dan


Meningkatkan asupan energi
kalori yang tinggi

menyenangkan

saat Dapat
makan

meningkatkan

nafsu

Mengurangi
rasa
mual
dan
muntah yang timbul saat makan

Diagnosa: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan. Kelemahan akibat


nyeri
abdomen

Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam pasien dapat beraktivitas seperti semula
Kriteria hasil:
Pasien
dapat
mengidentifikasi
memperringan intoleransi aktivitas

faktor-faktor

yang

memperberat

dan

Pasien mampu beraktivitas

No.

Intervensi

Beri lingkungan yang tenang dan periode istirahat tanpa gang

Tingkatkan aktivitas secara bertahap

Berikan bantuan sesuai kebutuhan

Diagnosa: Ansietas berhubungan dengan. Kurang pengetahuan penyebab


nyeri abdomen

Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam pasien menunjukkan perasaan tenang


Kriteria hasil: Pasien menunjukkan relaksasi dan perilaku untuk mengatasi
stress
No.

Intervensi

Rasional

1.

Keterlibatan akan membantu pasien


Libatkan pasien/ orang terdekat merasa
stress
dalam rencana perawatan
berkurang,memungkinkan
energi
untuk ditujukan pada penyembuhan

2.

Memindahkan pasien dari stress luar


Berikan lingkungan tenang dan
meningkatkan relaksasi; membantu
istirahat
menurunkan ansietas

Bantu
pasien
untuk Perilaku yang berhasil dapat dikuatkan
mengidentifikasi/
memerlukan pada penerimaan masalah stress saat
perilaku koping yang digunakan ini, meningkatkan rasa control diri
pada masa lalu
pasien

Bantu pasien belajar mekanisme Belajar cara baru untuk mengatasi


koping baru, misalnya teknik masalah dapat membantu dalam
mengatasi stress
menurunkan stress dan ansietas

DAFTAR PUSTAKA

Bedaiwy Mohamed A, Liu James. 2010. Pathophysiology, diagnosis, and surgical


management of endometriosis: A chronic disease. SRM e-journal Vol. 8, No. 3 , 18
september 2014.
Benson R.C & Martin L.P.2009.Buku Saku Obstetri & ginekologi edisi 9.jakarta :
EGC. Hal.666.
Dr. Salma. 14 Oktober 2010. http://majalahkesehatan.com/5-jenis-gangguanmenstruasi-haid/ diakses pada Sabtu, 13 September 2014 pukul 16.17 WIB.
Giudice Linda C. 2010. Endometriosis. N Engl J Med 2010;362:2389-98.
Heffner, Linda J. dan Danny J. Schust. 2008. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi
Kedua. Erlangga Medical Series: Jakarta.
Kursiman, Eny. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta:
Salemba Medika.

Manuaba, Ida B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Peyakit Kandungan & Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC: Jakarta.
Priyatna, Andi. 2009. Be A Smart Teenager! For Boys and Girls. Jakarta : Elex
Media Komputindo halaman 105
Prof. Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) Divisi Imuno Endokronologi - Departemen
Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta. 10 Mei 2012. Mengenal Berbagai
Gangguan Haid http://www.anakku.net/mengenal-berbagai-gangguan-haid.html
diakses pada Sabtu, 13 September 2014 pukul 17.37
Schwartz, William M. 2005. Pedoman Klinis Pediatri. EGC: Jakarta.
Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri & Gynekologi. Jakarta : Widya
Medika
Spero, F Leon. 2005. Clinical Gynecologic
Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins.

Endocrinology

and

Infertility.

Sylvia, Price A. dan Lorraine M. Wilson. 2004. Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit Vol. 2 Ed. 6. EGC: Jakarta.
Tambayong, Jan. 2012. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
VitaHealth. 2007. Endometriosis : Informasi Lengkap untuk Penderita dan
Keluarga. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama halaman 19-21.
Werner, David, Carol Thuman, Jane Maxwell. 2010. Apa yang Anda kerjakan bila
tidak ada Dokter. Yogyakarta : Andi halaman 332.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/122/jtptunimus-gdl-itatrisian-6081-2babii.pdf ( diakses pada 16 september 2014 pukul 18.21 WIB)
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311124/BAB%20II.pdf
(diakses pada 16 september 2014 pukul 18.44 WIB)

0 0 Google +2 190

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook


Newer Post Older Post Home

1 comments:

1.
Ace Maxs1 June 2015 at 09:49

terimakasih banyak untuk informasinya, sangat membantu sekali...


http://obatasliindonesia.com/obat-herbal-nyeri-haid-terbaik/
Reply
Load more...

Mari kita budayakan berkomentar yang baik dan santun ya sobat.


Social Profiles

Popular

Tags

Blog Archives

Entri Populer

Konsep Dasar Ekonomi Kesehatan


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Ekonomi Kesehatan 2.1.1
Ekonomi Ekonomi adalah ilmu untuk membuat pilihan. Sumber ...

Gangguan Jiwa Waham


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Waham adalah suatu keyakinan
yang dipertahankan secara kuat terus-menerus, tetapi tidak sesuai...

Neuralgia Trigeminal (NT)


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Anatomi dan Fisiologi Nervus Trigeminus Saraf
trigeminal atau saraf kranial ke 5 terutama memberi persara...

Fasial Paralisis (Bell's Palsy)


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Anatomi dan Fisiologi Saraf Fasial Saraf fasialis
juga merupakan saraf sensorik yang menghantarkan rasa ...

ASKEP Klien dengan Masalah Penyalahgunaan NAPZA


BAB II KONSEP 2.1 DEFINISI Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan
obat/ bahan berbahaya. Selain narkoba, istilah lain...

Kisah Rasul dan Masjid Dhirar, Urgensi Memerangi Tempat Maksiat


Gambar dari: surabaya.bisnis.com Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa'id bin
Jubair, Urwah, Qatadah, dan lainnya bahwa di Madinah ada se...

Gangguan Menstruasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiologi Menstruasi Haid adalah


perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pele...

STATISTIK
- See more at: http://sakinahkreatif.blogspot.co.id/2015/01/gangguanmenstruasi.html#sthash.Eg6Ot4Hf.dpuf

http://lppm.stikesnu.com/wp-content/uploads/2014/02/3-Jurnal-Bu-Muntari-desiklik.pdf

2.1.Suhu badan
Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat. Dapat
pula dikatakan sebagai ukuran panas / dinginnya suatu benda
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca
melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan
normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum,
suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI,
kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada
endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan
suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.
2.2.Nadi
Nadi adalah aliran darah yang menonjol dan dapat diraba di berbagai tempat
pada tubuh. Nadi merupakan indikator status sirkulasi. Sirkulasi merupakan alat
melalui apa sel menerima nutrien dan membuang sampah yang dihasilkandari
metabolisme. Supaya sel berfungsi secara normal, harus ada aliran darah yang
kontinu dan dengan volume sesuai yang didistribusikan darah ke sel-sel yang
membutuhkan nutrien.
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan,
denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang
melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau
perdarahan post partum.
2.3.Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika
darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah
normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg.
Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah.
Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat
diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum
merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal
tersebut sangat jarang terjadi.
2.4.Pernafasan
Proses menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon dioksida,uap
air dan sisa oksidasi dari paru paruPernafasan Menurut Tempat Terjadinya
Pertukaran Gas.Pernapasan internal adalah pertukaran oksigen dan karbon
dioksida antara darah dalam kapiler dengan sel-sel jaringan tubuh.Pernapasan
eksternal adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang terjadi antara
udara dalam gelembung paru-paru dengan darah dalam kapiler.Frekuensi
pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu
post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu
dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan
selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak

normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan


khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi
lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.