Anda di halaman 1dari 25

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN TERAPI AKTIVITAS


KELOMPOK PADA ANAK USIA SEKOLAH
DI DUSUN KRAJAN KELURAHAN KRANJINGAN
KABUPATEN JEMBER

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Klinik VIII

Oleh
Kelompok 1B

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2016
BAB I. PENDAHULUAN

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

1.1 Latar Belakang


Bermain dapat didefinisikan sebagai respon motorik secara alamiah, yang
merupakan kepribadian total manusia. Sebagai salah satu penomena anak-anak yang
paling umum, bermain membentuk banyak eksperimen dan ekspresi emosi pada anak
yang berisi pengaruh sosiokultural psikologikal dan biologikal. Bermain merupakan
unsur yang paling penting dari perilaku manusia yang menyediakan ekspresi dan
tantangan bagi pengembangan organisme. Bermain juga mempunyai tujuan tuntuk
memudahkan pembentukan motor perceptual neuromuscular, sensomotorik, dan
perkembangan keterampilan interpersonal. Bermain digolongkan oleh kegembiraan
dan dirancang untuk hiburan yang mengasyikan. Melalui bermain anak akan dapat
membangun kemampuan berkenaan dengan lingkungannya, belajar mengenai diri
sendiri dan budayanya. Mengembangkan kepribadiannya dan menerima budaya.
Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan
anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak
memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental dan
perkembangan

emosinya. Dengan

bermain

anak juga dapat

menstimulasi

pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain


dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain
adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu
yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk
bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya
sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan
cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya

kurang mendapat

kesempatan bermain.
Di wilayah Krajan Kelurahan Kranjingan banyak anak usia sekolah namun
jarang menemukan terdapat grup bermain pada anak usia sekolah. Pada kegiatan
praktek belajar lapangan ini mahasiswa akan memberikan terapi aktivitas kelompok,
yaitu terapi bermain pada anak usia sekolah (6-12 tahun) dengan tujuan dapat melatih

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

koordinasi dengan teman sebaya, dapat mengutarakan pendapat, bekerjasama sebagai


tim dan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam kegiatan yang
akan dilakukan ini adalah pelatihan Terapi Aktivitas Kelompok Pada Anak Usia
Sekolah di Dusun Krajan Kelurahan Kranjingan Kecamatan Sumbersari
Kabupaten Jember.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi bermain pada anak 6-12 tahun selama 60 menit,
anak diharapkan bisa menaati peraturan yang ada,dan mengerjakan
pekerjaan sampai menghasilkan sesuatu.
.1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya;
2. Mengembangkan nilai dan moral anak dengan berdoa sebelum dan
sesudah kegiatan;
3. Melatih sosial emosi anak;
4. Mengenal pada anak sportifitas dalam kelompol;
1.4 Manfaat
1. Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol;
2. Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif
terhadap orang lain.
3. Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat.
BAB II. TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling universal,
meskipun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuan bahasa yang ada di

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

dunia. Melalui bermain, anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang mereka


inginkan. Menurut Groos (Schaefer et al, 1991) bermain dipandang sebagai ekspresi
insting untuk berlatih peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup
(Nuryanti, 2007).Bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak
bermasalah selain berguna untuk mengembangkan potensi anak. Menurut Nasution
(cit Martin, 2008), bermain adalah pekerjaan atau aktivitas anak yang sangat penting.
Melalui

bermain

akan

semakin

mengembangkan

kemampuan

dan

keterampilan motorik anak, kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia


nyata, menjadi eksis di lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi
manfaat lainnya (Martin, 2008). Bermain adalah cerminan kemampuan fisik,
intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk
belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri
dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu,
jarak, serta suara (Wong, 2000). Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dgn
keinginanya sendiri dan memperoleh kesenangan. (Foster, 1989).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah: Kegiatan yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan
kerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, belajar berkomunikasi
dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar mengenal dunia
dan meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.

2.2 Manfaat Bermain


1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan
rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan


rangsangan

taktil,audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan

sensorik dan motorik akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak
lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di
kemudian hari kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat
mengenal sesuatu yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila
sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya
pendengaran di kemudian hari anak lebih cepat berkembang di bandingkan
tidak ada stimulasi sejak dini.
2. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat
terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan
komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti
dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu
belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang
digunakan dalam permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian
akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana
pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang
lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak
sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses
sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermainmain berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang
bapak, menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah
sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak
mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak
mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar
pasang mobil-mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi
tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian
dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku,
membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal ini
dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di
rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada
beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak
boleh dilanggar.
2.3 Manfaat Bermain
Manfaat yang didapat dari bermain, antara lain:
1. Membuang ekstra energi.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan
organ-organ.
3. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang
hidupnya.
6. Meningkatnya daya kreativitas.
7. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar
anak.
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan
kedukaan.
9. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

11. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.


2.4 Macam-Macam Bermain
1.

Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium,
meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumahrumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan
teman-temannya.
d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.

2.

Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan

mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh ;
Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi
dsb.Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam
bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
a. Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk
aktif bermain.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.
2.5 Alat Permainan Edukatif (APE)

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat


mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat
perkembangannya, serta berguna untuk :
1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau
merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh
alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali,
dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape,
TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.
Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle,
boneka, pensil warna, radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu
dan anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan : alat permainan yang
dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dan lain-lain.
2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Bermain
1. Tahap perkembangan
2. Jenis kelamin anak
3. Status kesehatan anak
4. Lingkungan yang tidak mendukung
5. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai dengan anak
2.7 Petunjuk Perkembangan Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun)
Anak Usia 6-12 tahun adalah masa usia sekolah tingkat SD bagi anak yang normal.
Perkembangan anak masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sebagai
orang tua harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya terutama pada
usia ini karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat yang harus diimbangi dengan
pemberian nutrisi dan gizi yang seimbang.
2.8 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Bermain
1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.
BAB III RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1 Strategi Pelakasanaan
No
Terapis
1. a. Persiapan Pra Interaksi
b. Menyiapkan alat
c. Menyiapkan anak
2. Pembukaan (orientasi)
a. Mengucap Salam
b. Memperkenalkan diri
c. Anak yang akan saling berkenalan
d. Menjelaskan kepada anak maksud
melakukan terapi bermain
3. Kegiatan Kerja
a. Menjelaskan pada anak tujuan
bermain
b. Mengajak anak bermain dan
mengikut petunjuk terapis

Waktu
5 Menit

Subjek Terapis
Ruangan,peralatan dan
anak sudah siap

5 Menit

Anak menjawab
salam,anak saling
berkenalan dan anak
mendengarkan terapis

45Menit

Anak memperhatikan
terapis,anak melakukan
kegiatan yang diarahkan
oleh terapis,dan anak
merespon terapis dengan
baik

4.

5 Menit

Penutup (Terminasi)
a. Memberikan reward kepada anak
yang bermain dengan baik sampai
selesai,memberikan reward kepada
kelompok yang menang dalam
kompetisi
b. Mengajak anak untuk
mengucapkan selamat kepada
pemenang permainan dan
bersalaman
c. Mengucapkan terima kasih
d. Mengucapkan salam

3.2 Khalayak Sasaran

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

Khalayak sasaran pada kegiatan pendidikan kesehatan dan pelatihan ini yaituIbu
dengan pengalaman kejang demam pada balita.

3.3 Metode yang Digunakan


1. Jenis model pembelajaran: diskusi dan demonstrasi
2. Landasan teori: konstruktivisme
3. Langkah pokok
a. Menciptakan suasana pertemuan yang baik
b. Mengajukan masalah
c. Mengidentifikasi pilihan tindakan
d. Memberi komentar
e. Menetapkan tindak lanjut
3.4 Kegiatan
1) Perkenalan
Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin
oleh leader. Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok
2) Kerja
Klien mengikuti instruksi yang diberikan leader, melakukan perkenalan pada
anggota kelompok yang lain, melakukan perintah permainan dan memberikan
jawaban atas pertanyaan dari kelompok.
3) Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan
perasaan dan pendapatnya tentang kegiatan
4) Terminasi
Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan
kembali tujuan dan manfaat kegiatan.
3.5 Pengorganisasian Kelompok
No.
1.
2.
3.

Tugas
Leader
Co Leader
Observer

Sesi 1, 2 & 3
Ike Andriani
Tria Permata Sari
Dita Oktaviana Mentari

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

4.

Fasilitator

2016

Devi M.H.
Yeni D.A.
Sintya A.P.
Nuzulul K.F.
Rizka I.S.
Afan D.A.
Saltish A.

3.6 Standar Operasional Prosedur TAK


A. Persiapan Alat/Bahan:
1. Bahan menebak hewan
2. Kalimat berantai
3. Lagu anak
4. Bola
B. Metode:
1. Dinamika kelompok
2. Bermain bersama
C. Sesi 1: Stimulasi tumbuh kembang anak usia sekolah (menebak gerakan
hewan)
Tujuan: Melatih persepsi serta kreativitas klien
Setting:

Keterangan:
: Leader
: Wakil Leader
: Klien
: Fasilitator
: Observer

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

: Cameraman
Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat permainan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis pada klien
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut:
- Jika klien ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu setiap perwakilan kelompok akan mengambil
undian untuk memperagakan gerakan hewan kepada anggota kelompok.
b. Kelompok 1 memperagakan gerakan hewan pada anggota kelompok sesuai
undian yang didapat
c. Anggota kelompok 1 menebak gerakan yang diperagakan dalam waktu 10
detik.
d. Kelompok 2 memperagakan gerakan hewan pada anggota kelompok sesuai
undian yang didapat
e. Anggota kelompok 2 menebak gerakan yang diperagakan dalam waktu 10
detik.
f. Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

1) Terapis menganjurkan tiap anggota kelompok untuk berlatih kreatif dan


berpikir cepat.
2) Memasukkan kegiatan pada kegiatan harian klien
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja untuk menilai kemampuan melakukan TAK. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
sesi 1, dievaluasi kemampuan klien untu kreatif dan berpikir cepat.
D. Sesi 2: Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah (Kalimat Berantai)
Tujuan: Stimulasi daya ingat dan sportifitas klien.
Setting:

Keterangan:
: Leader

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

: Wakil Leader
: Klien
: Fasilitator
: Observer
: Cameraman
Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat permainan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis pada klien
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut:
- Jika klien ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu setiap perwakilan kelompok akan mengambil
undian untuk menyampaikan serangkaian kalimat kepada anggota
kelompok.
b. Kelompok 1 menyampaikan kalimat yang didapat dari orang pertama,
kemudian dilanjutkan ke orang kedua dan seterusnya.
c. Setiap kelompok diberi waktu 10 detik untuk menyampaikan kaliamat dari
orang pertama hingga terakhir.
d. Kelompok 1 menyampaikan kalimat yang didapat dari orang pertama,
kemudian dilanjutkan ke orang kedua dan seterusnya.
e. Setiap kelompok diberi waktu 10 detik untuk menyampaikan kaliamat dari
orang pertama hingga terakhir.
f. Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan.

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut
1) Terapis menganjurkan tiap anggota kelompok untuk berlatih kreatif dan
berpikir cepat.
2) Memasukkan kegiatan pada kegiatan harian klien
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja untuk menilai kemampuan melakukan TAK. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
sesi 2, dievaluasi kemampuan daya ingat serta sportifitas klien.
E. Sesi 3: Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah (Henti Lagu)
Tujuan: Stimulasi sportifitas dan keberanian klien tampil di depan umum.
Setting:

Keterangan:
: Leader
: Wakil Leader
: Klien
: Fasilitator

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

: Observer
: Cameraman
Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat permainan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis pada klien
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut:
- Jika klien ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu hidupkan lagu anak-anak dan edarkan bola
berlawanan arah jarum jam.
b. Pada saat lagu dimatikan, maka klien yang memegang bola dipersilahkan
maju ke depan untuk mengambil undian terkait apa yang harus dilakukan
(bernyanyi atau membaca dongeng).
c. Ulangi kegiatan hingga beberapa anggota mendapatkan giliran
g. Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan.
d. Tahap terminasi
c. Evaluasi
3) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
4) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
d. Tindak lanjut
3) Terapis menganjurkan tiap anggota kelompok untuk berlatih kreatif dan
berpikir cepat.
4) Memasukkan kegiatan pada kegiatan harian klien
Evaluasi

Laporan Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Klinik VIII

2016

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada


tahap kerja untuk menilai kemampuan melakukan TAK. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
sesi 3, dievaluasi sportifitas dan keberanian klien untuk tampil di depan
umum.

LEMBAR MONITOR EVALUASI


NO
1.
2.

3.
4.

5.
6.

7.

ASPEK YANG
DINILAI
Mempunyai teman tetap
untuk bermain
Menyukai dan ikut
berperan dalam
kegiatan kelompok
Berteman dengan
sesama jenis
Berkompetisi dengan
teman atau saudara
sebaya
Mampu menyelesaikan
tugas dari sekolah
Memiliki hobby: naik
sepeda, membaca buku,
majalah, cerita anak
Tidak ada bekas tandatanda luka
penganiayaan fisik dan
seksual

NAMA KLIEN
Berta Silvi Firman

Jaka

Bima

Dea

Nisa

Fatim

Nurul

Nuril

Isran

Ri
o

BAB IV. HASIL KEGIATAN


4.1 Hasil Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 29 April 2016 pukul 19.00 di posko
Kelompok 1 B Lingkungan Krajan, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari,
Kabupaten Jember. Kegiatan ini diikuti oleh 12 anak usia sekolah. Kegiatan ini
dilakukan bertujuan untuk menstimulasi tumbuh kembang anak usia sekolah.
Kegiatan diawali oleh pembukaan yaitu penjelasan mengenai kontrak waktu kegiatan,
maksud dan tujuan dari kegiatan yang dilakukan, kemudian langsung dilanjutkan
dengan permainan stimulasi tumbuh kembang yang terdiri dari tebak hewan, kalimat
berantai dan henti lagu. Ke-12 anak mengikuti intruksi yang diberikan selama
kegiatan. Anak-anak sangat antusias mengikuti permainan yang ada.
Pada permaianan pertama, ke-12 anak yang dibagi dalam 2 kelompok dapat
menebak gerakan yang diperagakan oleh perwakilan anggota kelompok. Namun, ada
beberapa anak yang malu untuk menjadi perwakilan kelompok. Pada permainan
kedua, 2 kelompok dalam keadaan seri karena kalimat berantai yang disampaikan
tidak dapat tersalurkan dengan baik pada anggota kelompok. Hal ini menunjukkan
bahwa daya ingat anak pada kalimat berantai masih kurang. Sedangkan pada
permainan ketiga, anak-anak berani tampil ke depan umum untuk menampilkan lagu
yang dinyanyikan ataupun membacakan dongeng. Namun, ada anak yang malu untuk
tampil. Tetapi setelah diberi support oleh anggota yang lain, anak tersebut menjadi
percaya diri dan mau tampil di depan umum.
Ketiga permainan yang dilakukan dapat diikuti oleh ke-12 anak. Anak-anak
tersebut kreatif, sportif serta kompak. Namun terkait daya ingat mereka masih
kurang. Oleh karena itu, masih diperlukan stimulasi terkait daya ingat pada anak usia
sekolah tersebut.
4.2 Dokumentasi

BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk anak usia sekolah yaitu terapi
bermain pada anak usia sekolah (6-12 tahun) dengan tujuan dapat melatih
koordinasi dengan teman sebaya, dapat mengutarakan pendapat, bekerjasama
sebagai tim dan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. Melalui bermain
akan semakin mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik anak,
kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi eksis di
lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi manfaat lainnya
(Martin, 2008). Oleh karena itu, untuk anak usia sekolah terapi yang sesuai
diberiak yaitu terapi bermain yang dapat menstimulasi tumbuh kembang sesuai
usianya.
5.2 Saran
Diharapkan untuk orang tua dapat memberikan stimulasi terkait tumbuh
kembang anak sesuai usianya melalui terapi bermain karena dunia anak adalah
bermain sehingga mereka dapat belajar melalui permainan tersebut. Selain itu
orang tua diharapkan dapat memberikan jenis permainan yang sesuai dengan usia
anak.

DAFTAR PUSTAKA