Anda di halaman 1dari 11

Nama

: A.A. Lidya Nirmala Dewi

NIM

: P07134014008

Semester

: IV

WIDAL TEST

Tanggal praktikum

: 17 Maret 2016

Tempat praktikum

: Laboratorium Parasitologi Jurusan Analis Kesehatan

I.

TUJUAN
Untuk mengetahui adanya antibodi spesifik dalam serum terhadap antigen
salmonella secara kualitatif dan semikuantitatif berdasarkan reaksi aglutinasi.

II.

METODE
Slide Aglutination Test

III.

PRINSIP
Berdasarkan reaksi aglutinasi secara imunologis antara antibodi dalam serum
dengan suspense bakteri antigen yang homolog.

IV.

DASAR TEORI
Demam tifoid adalah penyakit demam berkepanjangan sistemik yang
disebabkan oleh serotipe Salmonella tertentu termasuk Salmonella typhi,
Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B dan Salmonella paratyphi C.
Manusia adalah satu-satunya reservoir host untuk demam tifoid. Penyakit ini
ditularkan melalui air dan makanan yang telah terkontaminasi di daerah
endemik terutama oleh petugas penyaji makanan yang merupakan carrier atau
pembawa. (Gizachew Andualem,dkk. 2014)

Diagnosis dini dan akurat sangat diperlukan untuk pengobatan yang tepat
dan efektif. Karena banyaknya laboratorium diagnostik di negara-negara
berkembang, terutama di daerah pedesaan, tidak memiliki fasilitas untuk
kultur darah, dengan demikian diagnosis serologis menjadi alat diagnostik
yang penting. Dalam tes widal, kualitatif slide aglutinasi dan semi kuantitatif
tabung aglutinasi (titrasi) dilakukan dengan menggunakan kit antigen demam
Salmonella typhi. Tes slide aglutinasi digunakan sebagai tes skrining untuk
kehadiran anti TO dan antibodi anti TH dalam serum pasien. Untuk aglutinasi
slide, setetes antigen Salmonella typhi O dan H ditambahkan pada setetes
serum pada slide dan diputar di 100 rpm selama satu menit dan dilaporkan
sebagai reaktif atau non reaktif. Bagi yang slide aglutinasinya reaktif ataupun
sedikit reaktif (ditentukan dari jumlah aglutinasi) maka titer telah dapat
ditentukan. Pada uji tabung aglutinasi (titrasi), sampel serum diencerkan
secara berseri dengan menggunakan larutan saline segar 0,95% dari 1:20
sampai 1: 640 untuk anti TO dan anti TH secara terpisah di 12 tabung reaksi.
Kemudian setetes O antigen dan antigen H yang ditambahkan dalam tabung
reaksi dengan jumlah yang sama dalam semua tabung. Berdasarkan hasil
manual, titer antibodi dari 1:80 atau lebih tinggi untuk anti TO dan 1: 160 atau
lebih tinggi untuk antibodi anti TH diambil sebagai nilai untuk menunjukkan
infeksi baru dari demam tifoid. (Gizachew Anduale,dkk. 2014)

V.

ALAT DAN BAHAN


a. Alat
- Mikropipet
- Yellow tip
- Slide
- Rotator
- Pengaduk plastic dalam kit
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
b. Bahan
Suspensi Antigen O :
-

- Salmonella Typhi O
Salmonella Paratyphi AO
Salmonella Paratyphi BO

Salmonella Paratyphi CO
Salmonella Paratyphi DO

- Salmonella Typhi H
Salmonella Paratyphi AH
Salmonella Paratyphi BH
Salmonella Paratyphi CH
Salmonella Paratyphi DH

Suspensi Antigen H :

Kontrol serum positif


Kontrol serum negatif
Buffer glisin saline
c. Sampel
- Serum
(Bila tidak segera diperiksa maka serum dapat disimpan pada suhu (28)C sampai 24 jam atau suhu -20C sampai 4 minggu)
VI.

CARA KERJA
a. Cara Kerja Kualitatif
1. Alat dan bahan disiapkan pada meja praktikum.
2. Serum di pipet 0,08 ml / 80 mikron dan diteteskan pada slide.
3. Serum ditambahkan dengan 1 tetes suspensi antigen
4. Serum dan suspense antigen diaduk selama 5 detik dengan tusuk gigi
dan goyangkan selama 1 menit lalu amati hasilnya. Bandingkan
dengan control positif dan negatif.
b. Metode Titrasi Slide (Rapid Slide Titration)
1. Masing-masing serum dipipet 0,08 ml ; 0,04 ml ; 0,02ml ; 0,01ml ;
dan 0,005ml yang tidak diencerkan pada gelas benda.
2. Masing-masing serum ditambahkan dengan 1 tetes suspensi antigen,
lalu diaduk selama 5 detik dan goyangkan selama 1 menit kemudian
amati hasilnya.
3. Tentukan hasil akhir atau titernya.
Volume serum
0,08ml
0,04ml
0,02ml
0,01ml
0,005ml

Ekuivalen Pengenceran
1:20
1:40
1:80
1:160
1:320

c. Metode Aglutinasi Tabung (Tube Aglutination Test)

1. Buat satu seri pengenceran serum dengan menggunakan saline atau


0,25 % fenol saline sebagai pengencer (diluent) sebagai berikut :
Nomor

Diluent

Serum (ml)

Pengenceran

Tabung
1
2

(ml)
1,9
1,0

0,1
1,0 (diambil dari campuran serum

1:20
1:40

1,0

dan diluent pada tabung 1)


1,0 (diambil dari campuran serum

1:80

1,0

dan diluent pada tabung 2)


1,0 (diambil dari campuran serum

1:160

1,0

dan diluent pada tabung 3)


1,0 (diambil dari campuran serum

1:320

1,0

dan diluent pada tabung 4)


1,0 (diambil dari campuran serum

1:640

1,0

dan diluent pada tabung 5)


1,0 (diambil dari campuran serum

1:1280

1,0

dan diluent pada tabung 6)


0,0

Kontrol

2. Tambahkan masing-masing serum dengan 1 tetes suspense antigen


pada setiap tabung pengenceran. Suspense antigen tidak perlu
diencerkan. Kocok semua tabung
3. Semua tabung diinkubasi pada:
- Suhu 50C selama 4 jam untuk pembacaan titrasi antigen O
- Suhu 50C selama 2 jam untuk pembacaan titrasi antigen H
4. Tentukan hasil akhir atau titer masing-masing antibodi
VII.

INTERPRETASI HASIL
Positif : Bila terjadi aglutinasi
Negatif : Bila tidak terjadi aglutinasi

VIII. HASIL PENGAMATAN


Nama probandus
: Hari
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Usia probandus
: 15 tahun
Sampel
: Serum

Hasil Uji

: 1. Uji Screening :
a. Suspensi Antigen O :
Antigen
O
OA
OB
OC

Hasil
-

Titer
-

b. Suspensi Antigen H :
Antigen
O
AH
BH
CH

Hasil
+
+
-

Titer
1:80
1:80
-

2. Rapid Slide Titration :


a. Pada pengenceran 1:160 (serum 10 mikron) :
Antigen
AH
BH

Hasil
+
-

Titer
1:160

b. Pada pengenceran 1:320 (serum 5 mikron) :


Antigen
AH

Gambar pemeriksaan widal :

Hasil
+

Titer
1:320

AGLUTINASI
IX.

PEMBAHASAN
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada sekitar 21 juta
kasus demam tifoid dengan > 600.000 kematian setiap tahunnya. Kasus-kasus
ini lebih banyak terjadi di India, Amerika Selatan dan Tengah, dan Afrika
yaitu di daerah dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, peningkatan
urbanisasi, serta air bersih, infrastruktur, dan sistem kesehatan yang terbatas.
Tingkat insiden tipus di wilayah-Asia Pasifik diperkirakan lebih dari 100
kasus per 100.000 penduduk per tahun dengan jumlah penderita tertinggi telah
terjadi pada anak-anak. (Tarique Aziz, 2012)
Demam enterik adalah demam akut yang mengancam jiwa disebabkan
oleh bakteri Salmonella serotype Typhi. Demam paratifoid adalah penyakit
serupa yang disebabkan oleh Salmonella serotipe Paratyphi A, B, atau C.
Demam enterik (tifoid dan paratifoid) merupakan masalah kesehatan bagi
masyarakat utamanya di negara berkembang. Diagnosis pasti demam enterik
tergantung pada isolasi Salmonella dari darah, feses, urin, sumsum tulang,
empedu atau cairan tubuh lainnya. Namun, di negara-negara berkembang,

fasilitas cultur tidak tersedia di mana-mana. Untuk alasan ini, diagnosis


laboratorium demam enterik sangat bergantung pada uji serologis seperti tes
Widal. (Naveen Saxena,dkk. 2013)
Diagnosis serologis widal tes untuk demam enterik didirikan pada tahun
1896 oleh Georges Fernand Isidore Widal. Tes ini berdasarkan reaksi
aglutinasi yang menunjukkan keberadaan aglutinin lipopolisakarida (LPS)
somatik (O) dan flagela (H) untuk Salmonella typhi dalam serum pasien
menggunakan suspensi dari antigen O dan H. Dalam kit, juga tersedia antigen
untuk Salmonella paratyphi A, B dan C. Metode yang direkomendasikan
dalam tes widal adalah teknik tabung aglutinasi dengan seri pengenceran dua
kali lipat dari serum subjek yaitu dari 1:20 ke 1: 1.280. (Tarique Aziz, 2012)
Tes aglutinasi widal biasanya mendeteksi IgM dan antibodi IgG untuk S.
typhi dalam serum pasien pada minggu kedua dari timbulnya gejala demam
tifoid. Antibodi IgM spesifik S. typhi dapat digunakan sebagai penanda awal
untuk mendeteksi infeksi baru. (Kinikar Anagha,dkk. 2012) Salah satu
kelemahan utama dari uji widal adalah reaktivitas silang karena ada beberapa
bakteri lain dari genus yang sama sering menghasilkan hasil positif palsu,
sehingga hasil yang positif harus dikorelasikan dengan gejala klinis sebelum
meresepkan obat. (Tarique Aziz, 2012)
Pada praktikum ini, dilakukan tes widal terhadap sampel probandus lakilaki remaja berumur 15 tahun. Tes widal dilakukan dimulai dari uji kualitatif
dan kemudian dilanjutkan dengan uji kuantitatif. Pertama-tama disiapkan
sampel yang akan diuji. Sampel yang digunakan untuk tes widal ini haruslah
berupa serum. Untuk memperoleh serum maka digunakan sampel darah yang
disimpan dalam tabung vaccutainer tanpa antikoagulan. Darah dibiarkan
untuk mengalami clotting di dalam tabung vaccutainer dan kemudian
dipisahkan dengan sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.
Setelah sel darah dan serum terpisah di dalam tabung, dipipet serum dan
dimasukkan ke dalam tabung ependorf. Untuk serum yang tidak segera

diperiksa dapat disimpan pada suhu 2-8C sampai 24 jam atau suhu -20C
sampai batas 4 minggu.
Sebelum dilakukan pemeriksaan, suspensi antigen atau reagen yang
diambil dari lemari pendingin harus dihomogenkan terlebih dahulu dan
dibiarkan dalam suhu ruang (18-30)C. Untuk pemeriksaan secara kualitatif
serum sebanyak 20 l dipipet dengan mikropipet kemudian diteteskan pada
slide lalu ditambahkan 1 tetes suspensi antigen, selanjutnya diaduk dengan
tusuk gigi selama 5 detik agar serum dan suspensi antigen tercampur dengan
baik kemudian digoyangkan selama 1 menit lalu diamati reaksi aglutinasi
yang terjadi. Dari hasil uji kualitatif didapatkan reaksi positif pada campuran
serum dengan suspensi antigen Salmonella Paratyphi AH dan Salmonella
Paratyphi BH. Kemudian dilanjutkan dengan uji kuantitatif untuk dua
suspensi ini.
Uji kuantitatif dilakukan dengan metode yang sama yaitu slide test dimana
serum dipipet sebanyak 10 l, dan dicampurkan dengan 1 tetes suspensi
antigen yang menghasilkan reaksi positif pada pemeriksaan secara kualitatif
sebelumnya yang pada praktikum ini yaitu suspensi antigen Salmonella
Paratyphi AH dan Salmonella Paratyphi BH, lalu diaduk selama 5 detik serta
digoyangkan selama 1 menit kemudian diamati reaksi aglutinasi yang terjadi.
Suspensi antigen yang positif mengalami aglutinasi adalah suspensi antigen
Salmonella paratyphi AH saja. Kemudian dilanjutkan ke pemeriksaan dengan
penipisan volume serum ke 5 l yang dicampurkan dengan 1 tetes suspensi
antigen Salmonella Paratyphi AH dan terjadi reaksi aglutinasi positif.
Sehingga berdasarkan hasil tes, titer antibodi terhadap Salmonella Paratyphi
AH adalah 1:320, dan titer antibodi terhadap Salmonella paratyphi BH adalah
1:80.
Dalam menginterpretasikan hasil uji tes widal, tidak dapat hanya
ditentukan dari adanya reaksi positif pada antara antibodi dengan suspensi
antigen, karena adanya reaksi silang dari bakteri lain. Selain itu juga ada

beberapa kesulitan yang berhubungan dengan evaluasi tes widal, salah


satunya adalah tingkat aglutinin terdeteksi dalam populasi non-terinfeksi dari
daerah yang berbeda sangat bervariasi tergantung pada endemisitas penyakit.
Biasanya hingga 70% dari orang dewasa menunjukkan kenaikan awal dari
titer antibodi pada minggu pertama infeksi. Titer antibodi mungkin tinggi
pada individu yang sehat terhadap antigen bereaksi silang, seperti malaria,
brucellosis, demam berdarah, carrier sehat, penyakit hati kronis, endokarditis
atau infeksi Enterobacteriaceae lainnya, dan vaksinasi dengan vaksin tifoid.
(Naveen Saxena,dkk. 2013) Dari penelitian yang dilakukan oleh Tarique Aziz.
tahun 2012 disebutkan bahwa akurasi dari tes aglutinasi tabung dan slide
widal seperti yang digunakan dalam penelitian ini dalam hal sensitivitas,
spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV) dan nilai prediktif negatif (NPV)
memiliki nilai sebesar 71%, 62%, 91% dan 31% berturut-turut. Dimana dapat
dinyatakan bahwa tes widal memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup
rendah.
Berdasarkan keadaan ini, jika didapat hasil yang positif pada suatu tes
widal, seseorang tidak dapat begitu saja dikatakan sedang mengalami demam
tifoid. Maka tes widal ini hanya digunakan sebagai tes penunjang, tidak dapat
digunakan sebagai suatu dasar diagnosis.

X.

KESIMPULAN
Dari hasil praktikum pemeriksaan widal pada serum pasien atas nama Hari,
jenis kelamin laki-laki, didapatkan hasil titer antibodi sebagai berikut :
Salmonella Paratyphi AH : + 1:320
Salmonella Paratyphi BH : + 1:80

DAFTAR PUSTAKA
Gizachew Andualem,dkk. 2014. A Comparative Study Of Widal Test With Blood
Culture In The Diagnosis Of Typhoid Fever In Febrile Patients. [online]
tersedia : http://bmcresnotes.biomedcentral.com/articles/10.1186/1756-05007-653 (Diakses : 18 Maret 2016, 20:09)
Kinikar Anagha,dkk. 2012. The Easy and Early Diagnosis of Thypoid Fever [online]
tersedia:http://www.jcdr.net/article_fulltext.asp?

issn=0973709x&year=2012&month=April&issue=2&id=2034 (Diakses : 18
Maret 2016 ; 20:09)
Naveen Saxena,dkk. 2013. Baseline Widal Titres Among Apparently Healthy
Individuals

In

Hadoti

Region,

Rajasthan

[online]

tersedia

http://www.jemds.com/latest-articles.php?at_id=953 (Diakses : 20 Maret 2016


; 22:05)
Tarique Aziz. 2012. Role of Widal Test in the Diagnosis of Typhoid Fever in Context
to

Other

Test

[online]

tersedia

http://article.sapub.org/10.5923.j.ajb.20120201.04.html (diakses : 20 Maret


2016 ; 22:10)