Anda di halaman 1dari 9

Nama

: A.A. Lidya Nirmala Dewi

NIM

: P07134014008

Semester

: IV
TES ASTO

Tanggal praktikum

: 17 Maret 2016

Tempat praktikum

: Laboratorium Parasitologi Jurusan Analis Kesehatan

I.

TUJUAN
Untuk determinasi kualitatif dan semikuantitatif adanya ASTO (Anti
streptolisin O) dalam serum secara aglutinasi latex.

II.

METODE
Slide Aglutination test

III.

PRINSIP
Berdasarkan reaksi aglutinasi antara Streptolisin O sebagai antigen yang
terikat pada partikel latex polisterene dengan Anti streptolisin O (ASTO) yang
terdapat dalam serum sebagai antibodi.

IV.

DASAR TEORI
Streptolysin O adalah exoenzyme imunogenik toksin yang dihasilkan oleh
Streptococcus -hemolyticus grup A, C dan G. Mengukur antibodi ASO
berguna untuk diagnostik demam rematik, glomerulonefritis akut dan infeksi
streptokokus.

Demam

rematik

adalah

penyakit

peradangan

yang

mempengaruhi jaringan ikat dari beberapa bagian tubuh manusia seperti kulit,
jantung, sendi, dll, sedangkan glomerulonefritis akut adalah infeksi ginjal
yang mempengaruhi terutama bagian glomerulus ginjal. (Mascia Brunelli
S.p.A. 2015)

Tes serologis untuk antibodi streptolysin O (ASO) umumnya digunakan


untuk membantu dalam diagnosis pasca infeksi streptokokus. Sejak infeksi
streptokokus dinyatakan terkait dengan beberapa kondisi rematik, dokter dan
ahli reumatologi mengukur ASO titer sebagai faktor predisposisi untuk
penyakit rematik atau sebagai reaktan fase akut untuk mengevaluasi
keparahan dan aktivitas penyakit ini. (Abdulbaset M.E. Abusetta,dkk. 2014)
ASO titer diperkirakan dengan menggunakan lateks ASL reagen-kit. Tes
ini dilakukan dengan mengencerkan satu bagian dari serum ke 5 bagian dari
0,9% larutan salin dan kemudian menambahkan satu tetes reagen untuk satu
tetes serum yang telah diencerkan. Adanya aglutinasi setelah dua menit
menunjukkan reaksi positif. Aglutinasi positif dengan pengenceran 1:5
menunjukkan jumlah antibodi dari 200 IU / ml, sedangkan pengenceran 1:10
menunjukkan 400 IU / ml dan seterusnya. (Dr Lalit Une,dkk. 2013)
V.

ALAT DAN BAHAN


V.1.
Alat
1. Mikropipet
2. Yellow tip
3. Petak slide warna hitam
4. Pengaduk
5. Rotator
V.2.
Bahan
1. Reagen latex
2. Kontrol serum positif dan negatif
3. Sampel: Serum ( bila tidak segera diperiksa maka serum dapat
disimpan pada suhu 2 - 80 C sampai 24 jam atau suhu - 200 C sampai 4
minggu.

VI.

CARA KERJA
VI.1. Cara Kerja Kualitatif (untuk kadar minimal 200 IU/ml)
a. Alat dan bahan disiapkan pada meja praktikum.
b. Serum dipipet 50 mikron dan diteteskan pada petak slide.
c. Serum ditambahkan 1 tetes reagen ASTO latex.

d. Aduk selama 5 detik dan goyangkan selama 2 menit lalu amati


hasilnya.
e. Bandingkan dengan kontrol positif dan negatif.
Serum dengan hasil positif pada cara kulitatif (screening test) harus dilakukan
titrasi test (semi kualitatif test) untuk mengetahui titer ASTO dalam sampel.

VI.2. Cara Kerja Semi Kuantitatif


a. Lakukan pengenceran serum dengan menggunakan NaCl 0,85% atau
buffer saline , , 1/8, 1/16.
Pengencera

1/4

1/8

1/16

n
Buffer
Serum

100 l
100 l

100 l

100 l

100 l

100 l
100 l
100 l

b. Pengenceran tadi dipipet 50 mikron dan diteteskan pada petak slide.


c. Ditambahkan 1 tetes reagen ASTO latex.
d. Aduk selama 5 detik dan goyangkan selama 2 menit lalu amati
hasilnya.
e. Tentukan hasil akhir/titer yaitu pengenceran tertinggi yang masih
menunjukkan hasil positif.
Pengenceran
1:2
1:4
1:8
1 : 16
VII.

Kadar ASTO
400 IU/ml
800 IU/ml
1600 IU/ml
3200 IU/ml

INTERPRETASI HASIL
Kualitatif test ( kadar ASTO minimal 200 IU/ml)
Jika hasil positif, maka kadar ASTO minimal 200 IU/ml

Semi kualitataif test


Kadar ASTO dalam sampel dinyatakan dari titer dikalikan dengan
sensitivitas reagen. Contoh: Jika titer 1: 4 maka kadar ASTO = 4 x 200

IU/ml = 800 IU/ml.


Test negatif : bila tidak terjadi aglutinasi
Test positif : bila terjadi aglutinasi (gumpalan) latex.

TESTTEST
NEGATIF
(homogen)
NEGATIF

TEST POSITIF
(aglutination)
:::::::
:::::::
:::::::
:::::::

VIII. HASIL
Nama Probandus
Umur Probandus
Jenis Kelamin
Sampel
Hasil Uji Kualitatif

: Nurjanati
: 50 tahun
: Perempuan
: Serum
: Ada aglutinasi (+)
Jumlah Titer : 200 IU/ml

Gambar pemeriksaan ASTO :

Aglutinasi
IX.

PEMBAHASAN
Streptococcus pyogenes adalah salah satu patogen manusia yang paling
umum. Mereka menyebabkan beragam infeksi, dimana yang paling sering
adalah faringitis akut (radang tenggorokan) dan impetigo (pioderma).
Manifestasi lain dari infeksi Streptococcus pyogenes termasuk sinusitis, otitis,
peritonsillar abses, pneumonia, demam berdarah, erisipelas dan selulitis dan
infeksi jaringan lunak yang parah seperti myonecrosis dan necrotizing
fasciitis. Bakteri ini juga dikaitkan dengan

demam rematik

dan

glomerulonefritis akut. (Abdulbaset M.E. Abusetta,dkk. 2014)


Demam rematik, ditandai dengan reaksi autoimun dengan antigen dari
streptokokus. Diagnosis klinis demam rematik didasarkan pada kriteria mayor
dan minor. Kriteria mayor adalah: (a) karditis, dengan berbagai bentuknya ;
(b) migrasi arthritis polyarticular; (c) nodul subkutan; (d) eritema marginatum
dan (e) chorea Sydenham. Sebaliknya, kriteria minor meliputi: (a) demam; (b)

perpanjangan dari ruang PR elektrokardiografi; (c) arthralgia dan (d) kelainan


laboratorium (seperti laju endap darah dan peningkatan c-reactive protein,
leukositosis di hitung darah). (Alexandre B. Merlini,dkk. 2014)
Tes antibodi streptokokus digunakan untuk diagnosis infeksi yg
disebabkan oleh kelompok

streptokokus A

dan sangat berguna untuk

diagnosis demam rematik akut dan pasca infeksi streptokokus seperti


glomerulonefritis. Pengujian yang paling sering dilakukan adalah menentukan
anti streptomisin O (ASO) titer dan anti-DNase B (ADB) titer. Tes ASO titer
direkomendasikan untuk menentukan titer dalam fase akut dan kemudian
ditentukan lagi dalam fase penyembuhan 2-4 minggu kemudian, dengan hasil
positif didefinisikan sebagai kenaikan titer dari dua kali lipat atau lebih.
Peningkatan ASO hampir spesifik membuktikan infeksi streptokokus. Tes
ASO mencapai puncaknya 3 sampai 6 minggu setelah infeksi, sedangkan anti
DNase mencapai puncaknya 6 sampai 8 minggu. Dalam kenyataannya tidak
selalu memungkinkan untuk mendapatkan kedua sampel untuk penentuan
titer. Oleh karena itu, secara umum diterima bahwa jika hanya menggunakan
spesimen tunggal, dimana titer yang lebih besar dari batas normal pada
pengujian awal dapat dianggap bukti dugaan dari infeksi streptokokus.
Semakin tinggi titer semakin tinggi kemungkinan pasien mengalami demam
rematik. (Dr Lalit Une,dkk. 2013)
Pada praktikum ini, dilakukan tes asto terhadap sampel probandus
perempuan dewasa berumur 50 tahun. Tes asto dilakukan dimulai dari uji
kualitatif dan kemudian dilanjutkan dengan uji kuantitatif, namun karena
beberapa hal pada praktikum ini hanya dilakukan uji kualitatif. Pertama-tama
disiapkan sampel yang akan diuji. Sampel yang digunakan untuk tes asto ini
haruslah berupa serum. Untuk memperoleh serum maka digunakan sampel
darah yang disimpan dalam tabung vaccutainer tanpa antikoagulan. Darah
dibiarkan untuk mengalami clotting di dalam tabung vaccutainer dan

kemudian dipisahkan dengan sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15


menit. Setelah sel darah dan serum terpisah di dalam tabung, dipipet serum
dan dimasukkan ke dalam tabung ependorf. Untuk serum yang tidak segera
diperiksa dapat disimpan pada suhu 2-8C sampai 24 jam atau suhu -20C
sampai batas 4 minggu.
Sebelum dilakukan pemeriksaan, suspensi antigen atau reagen yang
diambil dari lemari pendingin harus dihomogenkan terlebih dahulu dan
dibiarkan dalam suhu ruang (18-30)C. Untuk pemeriksaan secara kualitatif
serum sebanyak 50 l dipipet dengan mikropipet kemudian diteteskan pada
slide lalu ditambahkan 1 tetes suspensi antigen, selanjutnya diaduk dengan
tusuk gigi selama 5 detik agar serum dan suspensi antigen tercampur dengan
baik kemudian digoyangkan selama 2 menit lalu diamati reaksi aglutinasi
yang terjadi. Dari hasil uji kualitatif didapatkan reaksi positif adanya
aglutinasi pada campuran serum dengan suspensi antigen latex. Dan karena
tidak dilanjutkan ke uji kualitatif maka didapatkan bahwa jumlah titer pada
serum pasien adalah 200 IU/ml
Titer ASO yang lebih dari 200 IU / ml dengan metode uji lateks dianggap
sebagai titik screening. Peningkatan titer ASO mendukung tetapi tidak
membuktikan diagnosis demam rematik. Titer tinggi palsu ASO dapat dilihat
pada kondisi yang berhubungan dengan hyperlipedemias seperti hati,
obstruksi

empedu,

nephrosis

dan

myeloma

karena

monoclonal

immunoglobulins. Selain itu, titer streptokokus bervariasi sesuai dengan


sejumlah faktor, termasuk usia dan status sosial ekonomi populasi. (Dr Lalit
Une,dkk. 2013)
ASO titer perlu disesuaikan dengan pola epidemiologi yang ada. Dalam
negara maju, dimana kejadian impetigo yang disebabkan oleh Streptokokus
Grup A jarang terjadi, titer pada orang sehat menunjukkan angka yang rendah

pada anak usia dini, naik ke puncak pada anak usia 5 sampai 15 tahun,
penurunan pada akhir remaja dan dewasa awal. Sebaliknya, pada populasi
dengan tingkat impetigo tinggi, titer anti-streptokokus sering sangat tinggi,
terutama pada anak-anak. Dikarenakan ASO berlangsung selama 4 sampai 6
bulan, ada kemungkinan bahwa orang yang sehat di daerah endemik mungkin
memiliki titer tinggi terus-menerus karena paparan berulang. Dengan
demikian perlu untuk mengumpulkan data dalam populasi masing-masing
untuk interpretasi yang lebih tepat. (Dr Lalit Une,dkk. 2013)
Berdasarkan keadaan ini, jika didapat hasil yang positif pada suatu tes
asto, seseorang tidak dapat begitu saja dikatakan sedang mengalami demam
rematik. Maka tes asto ini hanya digunakan sebagai tes penunjang, tidak dapat
digunakan sebagai suatu dasar diagnosis.
X.

SIMPULAN
Dari praktikum pemeriksaan ASTO pada serum pasien atas nama
Nurjanati, jenis kelamin perempuan didapatkan hasil titer antibodi ASTO
positif 200 IU/ml.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulbaset M.E. Abusetta,dkk. 2014. Detection of Anti-streptolysin O antibodies


among

Rheumatic

fever

patients

in

Tripoli.

[online]

tersedia

http://www.sciencepub.net/newyork/ny0702/010_23156ny070214_73_76.pdf
(Diakses: 22 Maret 2016 ; 21:47)
Alexandre B. Merlini,dkk. 2014. Prevalence of Group A Beta-Hemolytic
Streptococcus Oropharyngeal Colonization in Children and Therapeutic
Regimen Based on Antistreptolysin Levels: Data from a City From Southern
Brazil [online] tersedia : http://benthamopen.com/contents/pdf/TORJ/TORJ-813.pdf (Diakses : 22 maret 2016 ; 22:13)
Dr Lalit Une,dkk. 2013. Epidemiology of streptococcal infection with reference to
Rheumatic

fever.

[online]

tersedia:

http://www.ijmrr.in/~AuthorUpload/24PA.pdf (Diakses : 22 Maret 2016 ;


21:30)
Mascia Brunelli S.p.A. 2015. Qualitative determination of Anti-streptolysin or
(ASO). [online] tersedia : http://www.biolifeitaliana.it/public/cartellinaallegati-schede-certificazioni/schede-tecniche-inglese/TS-UA80315.pdf
(Diakses : 22 Maret 2016 ; 15:23)