Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Paduan aluminium merupakan material rekayasa yang banyak digunakan
untuk kepentingan konstruksi kedirgantaraan karena sifatnya yang ringan dan
kuat. Kedua sifat tersebut merupakan syarat utama suatu material dapat dijadikan
bahan dasar struktur pesawat terbang. Terdapat beragam paduan aluminium,
namun seri 7075 T62 merupakan paduan terbanyak yang dipergunakan pada
hampir keseluruhan rangka pesawat terbang yang di produksi oleh PT. Dirgantara
Indonesia. Paduan aluminium tersebut membutuhkan serangkaian proses untuk
meningkatkan kekuatan material sebelum digunakan sebagai bahan struktur
pesawat terbang.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kekuatan suatu
paduan logam, yaitu melalui proses perlakuan panas (heat treatment). Dari
diagram fasa sistem paduan, dapat diketahui rentang suhu yang akan
dipergunakan dalam pembentukan struktur mikro tertentu untuk meningkatkan
sifat mekanik (mechanical properties) paduan. Rangkaian perlakuan panas yang
umum, antara lain adalah solid-solution treatment, quenching, aging, annealing,
tempering, dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan utama yang
akan dibahas dalam penelitian ini adalah proses penguatan presipitasi untuk
paduan aluminium 7075 dilakukan pada temperatur kamar, dengan waktu 96 jam
(4 hari) untuk mendapatkan nilai kekerasan yang paling optimum [2]. Waktu
tersebut dicoba untuk dipersingkat melalui proses aging di atas temperatur kamar
(artificial aging) sehingga pada akhirnya dapat disarankan temperatur dan waktu
aging yang lebih efektif dan singkat untuk mencapai nilai kekerasan yang sama.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur aging pada
proses perlakuan panas paduan aluminium 7075 T62 terhadap perubahan struktur
mikro dan nilai kekerasan paduan, dengan demikian dapat diketahui waktu aging
yang paling optimum untuk mendapatkan nilai kekerasan yang diinginkan.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan maksimal, maka ruang
lingkup penelitian pengaruh waktu aging terhadap kekerasan dan morfologi
struktur mikro paduan aluminium 7075 T62, adalah sebagai berikut:
1. Pada penelitian ini digunakan paduan aluminium 7075 T62 yang
digunakan sebagai rangka pesawat BOEING di PT. Dirgantara
Indonesia.
2. Penelitian dilakukan dengan membuat variasi pada temperatur aging,
antara lain pada suhu 100C, 150C, dan 200C, dan diukur
kekerasannya setiap 4, 6, 8, dan 10 jam menggunakan Universal
Microhardness Tester.
3. Penentuan kekerasan paduan (HBN) dilakukan menggunakan
Universal Microhardness Tester dengan mengacu pada standar ASTM

E:10-15a. Pengukuran dilakukan pada arah longitudinal (L),


longitudinal-transversal (L-T), dan short transversal (S-T) dengan
kondisi pengujian sebagai berikut: diameter indentor 12,5 mm, beban
yang digunakan 10 kP, lama pembebanan 15 detik. Diameter indentasi
diukur menggunakan mikroskop pembesaran rendah[7].
4. Struktur mikro diamati menggunakan mikroskop optik setelah paduan
dietsa menggunakan reagen Kellers 3A[3]. Perubahan struktur mikro
ini merupakan data kualitatif untuk mendukung data nilai perubahan
kekerasan terhadap waktu aging.

sawat terbang, material


yang banyak
digunakan untuk membuat komponen pesawat terbang adala
1.5 Metodologi
Penelitian
peratur aging yang tepat dapat mengoptimalkan waktu proses sehingga didapatkan kekerasan yang
Penelitian yang berjudul pengaruh temperatur aging terhadap nilai
kekerasan dan morfologi struktur mikro paduan aluminium 7075 T62 hasil proses

itasi untuk paduan perlakuan


aluminium
7075
dilakukan pada
temperatur
dengan waktu
panas
dilatarbelakangi
oleh lamanya
waktukamar
yang dibutuhkan
untuk 96 jam untuk
proses penuaan alamiah paduan aluminium 7075, yaitu sekitar 96 jam, untuk
mencapai nilai kekuatan optimum paduan. Waktu penahanan tersebut cukup lama

PERCOBAAN:
TUDI LITERATUR:
yang digunakan
aluminium
dan kurang efektif untuk Sampel
kepentingan
manufakturpaduan
industri.
Penelitian7075
ini T62 tebal 1 mm
emperatur maksimum artificial aging Al seri 7xxx adalah 250C
Proses solution heat treatment dengan Bogie-hearth furnace.
tandar uji kekerasan ASTM E10-15a.
dilakukan untuk mempersingkat
waktu
aging menggunakan
melalui variasiuniversal
peningkatan
Pengujian
kekerasan
microhardness teste
Pengujian metalografi.

temperatur aging pada rentang temperatur tertentu. Gambar 1.1 menunjukkan


metodologi penelitian yang dibuat berdasarkan studi literatur.

Kriteria:
Nilai kekerasan 150
HBN

ANALISA
GambarKESIMPULAN
1.1 Metodologi Penelitian

1.6 Hipotesa
Setiap variasi temperatur akan memberikan kecepatan pengintian dan
pertumbuhan fasa presipitat serta penguatan yang berbeda-beda untuk jangka
waktu tertentu. Semakin tinggi temperatur artificial aging, maka semakin cepat
nilai kekerasan optimum dicapai.
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan proposal penilitian terdiri dari tiga Bab dan Daftar
Pustaka. Bab I adalah pendahuluan yang di dalamnya terdiri dari latar belakang
masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian,
metodologi penelitian, hipotesa dan sistematika penulisan. Bab II merupakan
tinjauan pustaka yang meliputi karakteristik aluminium, proses perlakuan panas
aluminium, serta mekanisme penguatan presipitat. Bab III adalah metodologi
penelitian yang di dalamnya berisi: diagram alir penelitian, alat dan bahan yang
digunakan dan prosedur percobaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aluminium
Aluminium adalah salah satu logam yang banyak digunakan dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia, mulai dari skala rumah tangga hingga
industri[4]. Salah satu industri yang tentunya melibatkan banyak konsumsi
aluminium adalah pesawat terbang, terkait dengan sifat aluminium yang ringan
sehingga cocok untuk kebutuhan transportasi udara.
Aluminium sendiri merukapan salah satu logam dengan simbol Al pada
tabel periodik unsur dengan nomor atom 13. Biasanya logam Al ditemukan
dengan warna putih keperakan dengan sifatnya yang lembut dan ulet. Aluminium
dalam kondisi naturalnya di alam biasanya akan berikatan dengan banyak unsur
lain membentuk suatu mineral, namun mineral yang dominan untuk keberadaan
dari aluminium adalah bauksit[1].
Aluminium juga sangat identik sebagai logam dengan densitas yang sangat
rendah serta memiliki ketahanan korosi yang baik diakibatkan oleh fenomena
pasivasi pada permukaannya ketika terpapar kondisi atmosferik. Aluminium (Al)
mempunyai massa atom 27 (hanya ada satu isotop natural), densitas 2,79 g/cm,
titik lebur 660,4oC dan titik didih 2467oC[1].
Mengingat sifatnya yang lunak dan ulet pada kondisi logamnya, maka
aluminium pada tahap aplikasi digunakan sebagai paduan dengan menambahkan

beberapa unsur pemadu untuk kemudian meningkatkan sifat fisiknya demi


mendukung fungsi tertentu. Basis paduan aluminium secara umum dijelaskan oleh
gambar 2.1.

Gambar 2.1 Basis Paduan Aluminium Secara Umum[3]

Berdasarkan unsur pemadu yang ditambahkan kepada logam aluminium


pada saat proses alloying, paduan-paduan tersebut tentu memiliki keunggulan
masing-masing untuk menunjang fungsi tertentu. Berikut adalah keterangan
lengkap tentang kode penamaan paduan aluminium[1]:
a) 1xxx (Unalloyed Aluminium)
Golongan ini merupakan golongan dengan kondisi aluminium murni
mendekati 100% dengan sifat lunak dan ulet. Biasanya pengotor yang ditemukan
untuk aluminium golongan ini berupa besi dan silikon dengan kadar total
maksimal 1,5%. Mengingat sifatnya yang sangat ulet, biasanya aluminum
golongan ini dibentuk menjadi lembaran untuk pemenuhan kebutuhan industri
makanan dan kimia.

b) 2xxx (Aluminium - Copper Alloys)


Golongan paduan aluminium seri 2 merupakan paduan aluminium dengan
unsur pemadu doniman adalah tembaga. Paduan ini memerlukan proses perlakuan
panas untuk menghasilkan paduan dengan sifat mekanik yang optimum. Paduan
golongan ini sulit melalui pengerjaan dingin kecuali pada kondisi annealed.
Ketahanan korosinya relatif rendah sehingga memerlukan perlindungan tambahan
serta relatif sulit untuk dilas. Aplikasi paduan ini adalah untuk badan pesawat
terbang.
c) 3xxx (Aluminium - Manganease Alloys)
Paduan aluminium seri 3 merupakan paduan aluminium dengan
penambahan mangan ke aluminium yang dapat meningkatkan kekuatan tanpa
mengurangi keuletan dari aluminium murni. Paduan ini digunakan untuk aplikasi
yang memerlukan kekuatan tinggi diiringi ketahanan korosi yang baik. Paduan ini
biasanya digunakan untuk aplikasi panel kendaraan bermotor.
d) 4xxx (Aluminium - Silicon Alloys)
Paduan aluminium seri 4 merupakan paduan aluminium hasil penambahan
unsur silikon pada aluminium murni yang menyebabkan penurunan titik leleh dari
aluminium. Penurunan titik leleh ini dimaksudkan untuk penggunaan aplikasi
kawat las atau filler pengelasan aluminium yang tentunya memerlukan temperatur
leleh lebih rendah dari aluminium sebagai parent metal.
e) 5xxx (Aluminium - Magnesium Alloys)
Paduan aluminium seri 5 dihasilkan dengan penambahan unsur magnesium
ke aluminium sehingga dihasilkan kombinasi yang baik antara kekuatan tinggi

dan ketahanan korosi. Paduan ini memiliki weldability yang baik namun tidak
dapat dilakukan perlakuan panas. Aplikasi dari paduan ini adalah pressure vessel,
struktur kapal, dan pabrik kimia.
f) 6xxx (Aluminium - Magnesium - Silicon Alloys)
Paduan aluminium seri 6 dihasilkan dengan memanfaatkan kombinasi unsur
magnesium dan silika untuk menghasilkan kekuatan yang tinggi, ketahanan
korosi, kemudahan untuk dibentuk, dan kemudahan untuk diproteksi. Aplikasi
dari paduan seri 6 antara lain sebagai struktur bangunan.
g) 7xxx (Aluminium - Zinc - Magnesium Alloys)
Paduan aluminium seri 7 adalah paduan dengan unsur pemadu dapat berupa
seng dan magnesium namun terkadang juga ditambahkan tembaga. Paduan ini
merupakan paduan dengan kekuatan terbaik sejauh pengembangan paduan
aluminium. Kandungan seng dan magnesium membuat paduan ini dapat diperkuat
melalui perlakuan panas. Walaupun memiliki kekuatan yang tinggi, pembuatan
paduan ini relatif sulit dan memerlukan teknologi yang baik sehingga hanya
digunakan untuk aplikasi tertentu salah satunya adalah kebutuhan militer. Tabel
2.1 menunjukkan komposisi kimia paduan aluminium 7075.
Tabel 2.1 Paduan Aluminium 7075[8]
No.
Kandungan Unsur
1.
Tembaga
2.
Magnesium
3.
Zink
4.
Silikon, Besi, Mangan,
Titanium, Krom
h) 8xxx (Aluminium - Another Element Alloys)

Persentase (%)
1,2 1,6
2,1 2,5
5,6 6,1
<0,5

Paduan seri ini merupakan paduan dengan unsur pemadu lain yang tidak
disebutkan sebelumnya. Salah satu contoh seri ini adalah paduan aluminium
dengan unsur lithium untuk kepentingan badan pesawat terbang.

2.2 Paduan Aluminium


Sesuai dengan tabel penamaan untuk sistem standar paduan aluminium yang
digunakan dalam pemenuhan berbagai kebutuhan, berikut akan disampaikan detail
penjelasan mengenai tiap golongan aluminium tersebut yakni antara lain:
2.2.1 Wrought Alloys dan Casting Alloys
Suatu produk hasil dari proses pembuatan logam aluminium serta kemudian
dipadu menggunakan unsur tertentu pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua
golongan yang tentunya memiliki aplikasi yang berbeda. Golongan pertama
adalah wrought alloys yang merupakan bentuk fisik aluminium setelah proses
biasanya dicetak dalam bentuk ingot. Setelah pencetakan, paduan akan dibentuk
sesuai dengan kebutuhan melalui proses pembetukan secara fisik misalnya rolling
atau forging untuk memperoleh bentuk tertentu. Sedangkan golongan kedua
adalah casting alloys yaitu golongan paduan dimana paduan aluminium secara
langsung dicetak menjadi bentuk yang diinginkan tanpa melalui proses
pembentukan fisik terlebih dahulu.

2.2.2 Non-heat Treatable alloys dan Heat Treatable Alloys


Paduan aluminium dengan unsur pemadu tertentu tentunya akan
menghasilkan sifat yang berbeda baik secara fisik maupun kimia. Salah satu

10

perbedaan utama yang dihasilkan atas penambahan beberapa pemadu antara lain
kemampuan untuk paduan tersebut diperkuat melalui proses perlakuan panas.
Beberapa pemadu menghasilkan paduan yang tidak dapat diperkuat melalui
perlakuan panas yang kemudian kita kenal dengan non-heat treatable alloys.
Untuk kategori ini mekanisme penguatan hanya dapat dilakukan dengan
pengerjaan dingin.
Hal ini berbeda untuk beberapa paduan yang menghasilkan heat treatable
alloys atau paduan yang dapat diperkuat melalui proses perlakuan panas tertentu.
Perlakuan panas akan memberikan perubahan pada mikrostruktur sehingga terjadi
perubahan sifat mekanik paduan. Selain dapat diperkuat dengan perlakuan panas,
pengerjaan dingin juga dapat diberlakukan untuk paduan jenis ini.
2.3 Proses Solution Heat Treatment Aluminium 7075
Paduan aluminium seperti yang telah dipaparkan sebelumnya salah satunya
dapat digolongkan kedalam paduan yang dapat dilakukan perlakuan panas dan
yang tidak. Untuk paduan yang dapat dilakukan perlakuan panas, mekanisme
penguatannya dapat melalui memberikan suatu proses dalam temperatur tertentu
sehingga memunculkan presipitat dalam paduannya sehingga akan merubah sifat
mekanis dari paduan tersebut sesuai dengan aplikasi dan spesifikasi yang
diinginkan.
Secara definisi umum perlakuan panas diartikan sebagai suatu operasi atau
kombinasi operasi yang melibatkan pemanasan dan pendinginan terkontrol
terhadap suatu logam atau paduan logam dalam keadaan padatan untuk tujuan
memodifikasi struktur mikro sehingga diperoleh perubahan sifat sesuai dengan

11

diinginkan[2]. Perlakuan panas pada paduan logam memegang peranan penting


dalam rekayasa mengingat fakta bahwa hampir semua komponen teknik yang
terbuat dari logam memerlukan paling tidak satu tahap perlakuan panas yang
biasanya diterapkan pada atau dekat dengan tahap akhir dari siklus produksi
dengan tujuan memenuhi prasyarat sifat-sifat yang diinginkan. Tujuan utama dari
suatu proses perlakuan panas antara lain adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Memperlunak.
Menghilangkan tegangan sisa.
Melakukan homogenisasi.
Meningkatkan ketangguhan.
Memperkeras.
Menambahkan unsur kimia melalui permukaan.
Meningkatkan sifat fisik.

Solution heat treatment adalah proses perlakuan panas dimana paduan akan
dipanaskan pada temperatur dibawah temperatur eutektik. Proses solution heat
treatment memiliki tujuan untuk meningkatkan maksimum kelarutan dari senyawa
terlarut menjadi larutan padat pada temperatur dibawah temperatur eutektik
kemudian ditahan pada durasi yang cukup untuk terbentuknya larutan padat.
Setelah proses solution heat treatment, paduan kemudian akan didingikan
secara cepat untuk membentuk larutan padat jenuh. Proses homogenisasi menjadi
sangat penting dalam proses solution heat treatment dikarenakan apabila ada
ketidakseragaman pada paduan akan menyebabkan titik tersebut mengalami
penurunan temperatur leleh. Mengingat proses ini dilakukan dekat dengan
temperatur eutektik maka apabila ada bagian paduan yang temperatur lelehnya
dibawah temperatur proses akan menyebabkan terjadinya pelelehan lokal dan

12

menyebabkan cacat yang tentunya tidak diinginkan. Berikut adalah alur proses
solution treatment dari paduan aluminiun 7075 dengan kode proses BAC 5602 :
a. Preheating
Pada proses ini tanur dipanaskan terlebih dahulu untuk menaikkan
temperatur tanur hingga mencapai temperatur operasi. Hal ini dilakukan untuk
menyeragamkan temperatur tanur sehingga siap untuk digunakan. Untuk
temperatur yang relatif tinggi, pemanasan biasanya dilakukan secara bertahap
untuk menghindari thermal shock serta memastikan keseragaman temperatur
dalam tanur.
Untuk solution treatment paduan aluminium 7075, tanur dipanaskan
hingga mencapai temperatur 488C498C yang ditandai dengan penunjuk angka
dari seluruh sensor thermal pada tanur.
b. Loading
Proses loading ini dilakukan oleh seorang operator di ruang kontrol. Selain
durasi proses loading yang memerlukan waktu, pembukaan tanur juga akan
menyebabkan ruangan dalam tanur berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi ini
menyebabkan temperatur tanur akan turun dengan rentang untuk seluruh sensor
thermal antara 300o 450oC sampai seluruh proses loading ini benar-benar selesai
atau dengan kata lain hingga tanur telah tertutup kembali.
c. Conditioning
Proses conditioning adalah proses pengondisian ulang temperatur operasi
tanur ke temperatur standar yang telah ditentukan pasca penurunan temperatur
akibat proses loading material. Proses ini secara umum dinyatakan berakhir

13

apabila sensor thermal terakhir telah menunjukkan temperatur minimum proses


yaitu 488oC sehingga dapat dikatakan lingkungan tanur telah mencapai standar.
d. Holding
Proses holding adalah proses penahanan material pada temperatur operasi
yang telah ditentukan. Perhitungan untuk waktu penahanan dimulai seketika
setelah proses conditioning berakhir yaitu ketika sensor thermal terakhir telah
menunjukkan temperatur operasi minimum yaitu 488oC.
Menurut standar proses BAC 5602 proses solution treatment untuk paduan
aluminium 7075 ini dilakukan selama 20-30 menit untuk benar-benar telah
membentuk larutan padat yang homogen sebelum akhirnya dikeluarkan untuk
pendinginan.
e. Quenching
Setelah proses solution treatment dilakukan, material akan dikeluarkan dari
tanur untuk kemudian didinginkan secara cepat untuk mempertahankan sifat saat
solution treatment sehingga dapat diproses lebih lanjut. Media pendinginan yang
digunakan di PT. Dirgantara Indonesia adalah air.
Mengacu kepada standar proses yang sama, pendinginan cepat untuk kedua
aluminium paduan tersebut dilakukan dengan media air yang mengsyaratkan
temperatur media pendingin maksimal adalah 37,77oC sehingga untuk PT.
Dirgantara Indonesia menggunakan air dengan temperatur awal sekitar 32,2 oC
yang akan naik mencapai temperatur 37,77oC. Saat proses pendinginan cepat ini,
temperatur lingkungan juga akan naik dari 25oC menjadi 29oC.

14

Sebelum diangkat dan diproses ke tahap selanjutnya, material dibiarkan


dalam media pendingin sekitar 2-5 menit. Hal ini dilakukan tentunya untuk
memastikan keseragaman temperatur mengingat degradasi temperatur yang relatif
tinggi sehingga memerlukan waktu untuk homogenisasi. Proses ini tentu bertujuan
untuk memperoleh keseragaman struktur yang akan menghasilkan keseragaman
sifat mekanik mengingat kebutuhan kesempurnaan material yang akan digunakan
dalam industri pesawat terbang.
Temperatur dari media pendinginan juga harus mengalami pengontrolan
yang ketat mengingat hal ini akan berpengaruh kepada laju pendinginan dari
material.

Laju

pendinginan

yang

tidak

sesuai

akan

mengakibatkan

ketidaksempurnaan sifat mekanik yang diperoleh sehingga akan mengurangi


efektivitas bahkan kelayakan material tersebut untuk diproses lebih lanjut.
f. Preparation
Tahap preparasi atau persiapan merupakan tahap perantara antara
pendinginan dan penyimpanan sebelum diproses dalam pembentukan mekanik.
Proses yang ada di tahapan ini adalah mentransportasikan material dari kolam
pendinginan ke dalam cool box untuk penyimpanan serta sample material menuju
ke laboratorium untuk diuji merusak demi memastikan kualitas.
g. Cool Box
Cool box adalah nama tempat penyimpanan material pasca solution
treatment. Temperatur penyimpanan dalam cool box mengikuti standar proses
yaitu -25o 5oC. Penyimpanan dalam cool box dilakukan agar sifat makanik

15

aluminium pasca solution treatment tetap terjaga sambil menunggu proses


pembentukan.
h. Aging
Setelah selesai melakukan proses solution heat treatment, aluminium 7075
akan dilakukan proses artificial aging. Proses aging ini adalah proses difusi
senyawa pemadu dalam matriks logam dasar sehingga membentuk presipitat. Hal
ini terjadi dikarenakan ketika quenching atau pendinginan cepat paduan
membentuk larutan padat lewat jenuh sehingga relati tidak stabil. Ketidakstabilan
terjadi karena menurut diagram fasa, unsur terlarut ternyata melewati batas
maksimumnya sehingga cenderung mencari kesetimbangan baru.
Proses aging ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu natural aging, artificial
aging dan over aging. Natural aging adalah aging yang dilakukan pada
temperatur kamar, sedangkan artificial aging dilakukan pada tempertatur tertentu.
Artificial aging dilakukan pada temperatur tertentu untuk memicu dekomposisi
senyawa larutan padat membentuk presipitasi sehingga akan meningkatkan
kekuatan dari paduan tersebut. Over aging adalah dimana proses penuaan
dilakukan dalam waktu yang terlalu lama atau temperatur terlalu tinggi, pada
tahap ini presipitat dan matriks dalam keadaan seimbang. Over aging ini dapat
menurunkan kekuatan yang telah dicapai sebelumnya. Kondisi over aging
merupakan kondisi yang tidak diinginkan. Mekanisme proses aging ditunjukkan
pada gambar 2.2.

16

Gambar 2.2 Proses Presipitat Hardening (Aging)


Sebagai pembanding dengan baja, proses aging relatif meningkatkan
kekuatan dari paduan pada nilai tertentu. Hal ini dikarenakan terbentuknya
presipitat yang menghalangi pergerakan dislokasi atau sering dikenal dengan
presipitation hardening. Pada proses artificial aging menggunakan tanur, tahapan
proses yang dilalui material secara umum sama dengan ketika solution treatment.
Hal yang berbeda hanya pada tahapan pendinginannya saja. Proses artificial
aging dimaksudkan untuk memastikan dekomposisi senyawa dari paduan
berlangsung optimal dan membentuk presipitat sehingga dapat meningkatkan
kekuatan paduan. Proses ini merubah aluminium paduan dari T0 menjadi T62.
Setelah proses aging berlangsung, paduan akan didinginkan. Hal yang berbeda
dengan solution treatment adalah pendingian dilakukan relatif lama atau dengan
kata lain tanpa proses quenching atau pendinginan cepat.
Semakin tinggi temperatur aging, semakin singkat waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai kekuatan tertentu. Pemilihan penggunaan metode pengerasan
paduan bergantung pada jenis paduan yang ingin kita tingkatkan kekerasannya [6].

17

Untuk paduan yang mempunyai reaksi presipitasi lambat, selalu dilakukan


pengendapan pada temperatur di atas suhu kamar (artificial aging), sedangkan
untuk yang memiliki reaksi pengendapan cepat cukup dengan melakukan natural
aging untuk memperoleh sifat mekanik yang diinginkan.
Secara umum proses dalam industri relatif berbeda apabila dibandingkan
dengan teori yang telah dipelajari. Hal ini terlihat salah satunya pada tahapan
perlakuan panas dimana ketika loading terdapat penurunan temperatur yang
signifikan sehingga diperlukan penyesuaian sehingga akhirnya masuk ke tahapan
holding. Berikut adalah gambar skematik perbandingan proses heat treatment
teoritik (gambar 2.3) dengan praktik di PT Dirgantara Indonesia (gambar 2.4):

Gambar 2.3 Gambar Skematik Proses Perlakuan Panas Teoritik

18

Gambar

2.4

Gambar Skematik Proses Perlakuan Panas Praktik di PT Dirgantara Indonesia


2.4 Kondisi Proses Pada Paduan Aluminium
Dalam proses pemanfaatan paduan aluminium tentunya beragam proses
harus dilalui terlebih apabila aplikasi yang dimaksud memerlukan tuntutan
keamanan 100% seperti pada aplikasi pesawat terbang. Hal ini tentunya akan
memberikan beberapa kesepakatan baik secara kondisi proses, spesifikasi
penanganan, serta penamaan yang khusus untuk paduan tertentu. Hal ini tentu
dimaksudkan untuk menyeragamkan seluruh proses dalam satu standar terutama
untuk penggunaan yang melibatkan beberapa industri manufaktur. Berikut adalah
beberapa keterangan standar dalam kondisi proses pada paduan aluminium
terutama dalam proses perlakuan panas.
Menurut jenis perlakuan temper, aluminium paduan dapat dibedakan
menjadi berberapa macam, diantaranya F, O, W dan T[3].
F:

As fabricated. Diterapkan pada paduan yang mengalami proses pembentukan


tanpa adanya perlakuan panas maupun pembatasan sifat mekanik secara
khusus.

19

O:

Annealed. Paduan tempa yang dianil untuk meningkatkan keuletan dan


mempertahankan bentuk paduan.

W: Solution heat treated. Merupakan kondisi temper yang tidak stabil dan hanya
dapat digunakan untuk paduan yang mengalami penuaan alamiah secara
spontan pada suhu ruangan. Kondisi temper ini akan menjadi spesifik hanya
pada saat lamanya penuaan alamiah setelah paduan diberi perlakuan panas
pelarutan terindikasi, contoh: W 1/2h (setelah 30 menit penuaan alamiah).
T:

Thermally treated. Merupakan kondisi temper untuk paduan yang diberikan


perlakuan panas tertentu untuk menghasilkan struktur yang lebih stabil.
Kondisi T ini dibagi ke dalam beberapa bagian yang lebih spesifik, antara

lain:
T4. Pada kondisi ini, paduan telah diberi perlakuan panas pelarutan kemudian
dibiarkan mengalami penuaan alamiah hingga mencapai kondisi yang stabil.
T42. Paduan mengalami perlakuan panas yang sama dengan kondisi T4, tetapi
dilakukan dari kondisi O atau F.
T6. Paduan telah diberi perlakuan panas pelarutan kemudian dipanaskan pada
rentang suhu tertentu untuk penuaan buatan (artificially aged).
T62. Paduan mengalami perlakuan panas yang sama dengan kondisi T6, tetapi
dilakukan dari kondisi O atau F.
2.5 Mekanisme Penguatan Presipitasi
Penguatan presipitasi bertujuan untuk memunculkan fasa-fasa presipitat
penguat (fasa kedua) yang tersebar merata di dalam matriks paduan. Fasa kedua

20

tersebut dapat dimunculkan dengan transformasi fasa melalui serangkaian proses


perlakuan panas yang telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya.
Dalam proses penguatan presipitasi paduan Al 7075 maupun yang
sekelasnya, dapat diidentifikasi lima jenis struktur yang dapat terbentuk, yaitu:
GP1, GP2, dan , , (Al 2Cu)[6]. Secara keseluruhan, proses pembentukan fasafasa di atas dapat dijelaskan dan dapat dijelaskan melalui Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Kurva kekerasan paduan Al-Cu terhadap waktu aging pada
temperatur aging 130C[6]
Presipitat-presipitat yang tidak berada dalam kesetimbangan (GP1, GP2,
dan ) merupakan presipitat-presipitat yang koheren. Kehadiran presipitatpresipitat tersebut akan meningkatkan kekuatan paduan. Namun apabila telah
terbentuk suatu endapan fasa yang stabil maka kekuatannya akan turun dan
menandakan paduan berada dalam kondisi over-aged.
Penguatan tertinggi disebabkan karena kehadiran fasa koheren GP2 ().
Pada fasa yang koheren dengan matriksnya, pergerakan dislokasi harus dilakukan
dengan memotong presipitat (dislocation cutting). Energi yang dibutuhkan untuk
melakukan cutting cukup besar sehingga dislokasi sulit bergerak dan memberikan
penguatan terhadap paduan.

21

Kehadiran fasa akan menurunkan koherensi antarmuka presipitat dengan


matriks. Pada tahap terakhir adalah ketika fasa bertransformasi menjadi
kesetimbangan fasa inkoheren, CuAl2 (). Pada antarmuka yang inkoheren dengan
matriksnya, dislokasi tidak akan memotong presipitat, melainkan membusur dan
mengitarinya dengan meninggalkan loop dislokasi di sekeliling presipitat
tersebut[6].

22

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian


Paduan aluminium 7075

Solution heat treatment


Quenching

Artificial aging

Temperatur
100C

Temperatur

Temperatur

150C

200C

Pengujian laboratorium:
Uji kekerasan
Uji metalografi

Data Pengamatan

Pembahasan

Literatur

Kesimpulan
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

23

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian, diantaranya:
1. Bogie-hearth furnace
2. Mesin uji kekerasan universal microhardness tester
3. Mikroskop optik
4. Mikrometer sekrup
5. Mesin cutting
6. Cetakan mounting
7. Mesin grinding dan polishing
8. Ampelas
9. Dryer
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian, diantaranya:
1. Paduan aluminium 7075
2. Resin
3. Cairan hardness
4. Larutan kellers
3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi beberapa
tahapan, yaitu:
1. Preparasi sampel paduan aluminium 7075 dengan ketebalan 1 mm.
2. Proses solution heat treatment solution treatment paduan aluminium
7075, Bogie-hearth furnace dipanaskan hingga mencapai temperatur
488C498C dan dilakukan penahanan temperatur selama 20-30
menit.
3. Setelah proses solution treatment dilakukan, material akan dikeluarkan
dari tanur untuk kemudian di dinginkan secara cepat dengan
menggunakan media pendingin air.

24

4. Setelah itu spesimen diberi perlakuan artificial aging dengan variasi


temperatur 100C, 150C dan 200C selama variasi waktu yang telah
di tentukan.
5. Mengukur nilai

kekerasan

dengan

menggunakan

universal

microhardness tester dengan mengacu pada standar ASTM E:10-15a.


6. Melakukan pengujian metalografi.
a) Mempersiapkan sampel yang akan di uji metalografi.
b) Melakukan proses pemotongan di kedua ujung sampel dengan
bentuk yang diinginkan untuk dilakukan proses mounting.
c) Melakukan proses mounting dengan menggunakan resin dengan
campuran sedikit hardener untuk mengeraskan resin dengan
lama pengerasan 4 jam.
d) Setelah hasil mounting mengeras, dilakukan proses grinding
yang bertujuan untuk menghilangkan goresan dari amplas
kekasaran 240#, 500#, 800# dan 1000#.
e) Setelah sampel mulai terliat halus, dilakukan proses polishing
dengan menggunakan pasta diamond dan cairan pendingin DPLubricant blue.
f) Setelah proses polishing selesai sampel dikeringkan.
g) Setelah sampel kering dilakukan proses etsa menggunakan
larutan Kellers dengan perbandingan 1:4 dengan air.
7. Mengamati struktur mikro paduan dengan menggunakan mikroskop
optik.

25

DAFTAR PUSTAKA

[1] ASM Handbook, vol. 2, Properties and Selection: Nonferrous Alloys and
Special-Purpose Materials. ASM International.

[2] ASM Handbook, vol. 4, Heat Treating. ASM International.


[3] ASM Handbook, vol. 9, Metallography and Microstructures. ASM
International.
[4] Djaka, Tri. 2013. Diktat kuliah Pengujian Logam. Fakultas Teknik,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa : Cilegon Banten.
[5] ESDM. 2013. Analisis Prospek Perkembangan Bauksit. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.
http://litbang.esdm.go.id/images/stories/majalah_me2013/sept_2013prospek_bauksit.pdf.
[6] Mahmoud M. Tash, S. Alkahtani. Aging and Mechanical Behavior of BeTreated 7075 Aluminum Alloys. International Journal of Chemical,
Molecular, Nuclear, Materials and Metallurgical Engineering Vol:8, No:3,
2014.
[7] ASTM E10-15a. Standard Test Method for Brinell hardness of Metallic
Materials.
[8] Davis, J.R., Ed. Alloying: Understanding the Basics. ASM International.

Ohio. 2001.