Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

REFORMASI KELEMBAGAAN PENYELENGGARA PELABUHAN


MENUJU SISTEM KEPELABUHANAN YANG EFISIEN DAN KOMPETITIF
MATA KULIAH KELEMBAGAAN TRANSPORTASI

Andi Hardianto/24212008
Kuncoro Wijayanto/24212009
Gatot Arozi WM/24212
Amiruddin Akbar Fisu/

Magister Transportasi
Sekolah Arsitektur, Perencanaan Dan Pengembangan Kebijakan

Institut Teknologi Bandung


2013

HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA


DALAM PENYELENGGARAAN KOTA PELABUHAN
ABSTRAKSI
Transportasi laut merupakan salah satu bagian dari Sistem Transportasi
Nasional yang memegang peranan penting dan strategis dalam mobilitas penumpang,
barang, dan jasa baik di dalam negeri maupun dari dan ke luar negeri. Transportasi laut
juga menjadi urat nadi kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan
keamanan serta sebagai sarana untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan
masyarakat. Pelabuhan laut yang merupakan salah satu sub sistem transportasi laut
adalah suatu titik atau node dimana pergerakan barang dan atau penumpang dengan
menggunakan moda laut akan dimulai, diakhiri, atau melakukan perpindahan atau
transit. Seiring dengan berkembangnya sektor pelabuhan telah mendorong munculnya
kota-kota pelabuhan. Pelabuhan (Port) dan kawasan hunian di sekitarnya (kota) memiliki
peran yang saling mendukung (komplementer) dalam perkembangannya. Kota akan
menyediakan berbagai fungsi penting untuk mendukung pelabuhan, diantaranya adalah
sumber daya manusia, kawasan perindustrian, dukungan logistik, pasokan energi,
kawasan pemukiman, kawasan wisata dan menyediakan dukungan berupa peluang
ekonomi turunan lainnya yang belum tentu terkait dengan kegiatan kepelabuhanan.
Dalam

kajian

ini

akan

dibahas

mengenai

hubungan

kelembagaan

dalam

penyelenggaraan kota pelabuhan di Penang, Malaysia dan Surabaya, Indonesia.


Perbedaan kepentingan antara kota dengan pelabuhan semakin berkembang seiring
dengan perkembangan kota dan pelabuhan itu sendiri. Konflik seringkali timbul karena
masing-masing lembaga memiliki kepentingan dan kurangnya sinergi dan koordinasi
antar lembaga. Hal ini akan menyebabkan pelayanan jasa kepelabuhanan yang tidak
optimal. Guna meningkatkan pelayanan jasa kepelabuhanan dan pengembangan
kawasan

kota

pelabuhan

diperlukan

upaya

peningkatan

melalui

penataan

penyelenggaraan kepelabuhanan, reformasi kelembagaan, serta memberikan peran


serta pemerintah daerah dan swasta secara proporsional dalam penyelenggaraan dan
perencanaan pengembangan pelabuhan. Untuk menjawab tantangan kota pelabuhan
dalam kompetisi global, maka perlu dilakukan kajian mengenai reformasi kelembagaan
dalam mewujudkan kota pelabuhan yang efisien, kompetitif dan responsif yang
mendukung perdagangan internasional dan domestik serta mendorong pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan wilayah.
Kata Kunci : Pelabuhan, reformasi, kelembagaan, kompetitif, kota

1. PENDAHULUAN
Transportasi laut merupakan salah satu bagian dari Sistem Transportasi Nasional
yang memegang peranan penting dan strategis dalam mobilitas penumpang, barang,
dan jasa baik di dalam negeri maupun dari dan ke luar negeri. Transportasi laut juga
menjadi urat nadi kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan
keamanan serta sebagai sarana untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan
masyarakat. Pelabuhan laut yang merupakan salah satu sub sistem transportasi laut
adalah suatu titik atau node dimana pergerakan barang dan atau penumpang dengan
menggunakan moda laut akan dimulai, diakhiri, atau melakukan perpindahan atau
transit. Selain itu pelabuhan laut berperan besar dalam pencapaian sistem transportasi
laut yang efektif dan efisien.
Sebagai negara kepulauan yang pertumbuhan ekonominya sangat tergantung
kepada transportasi laut, beroperasinya pelabuhan secara efisien di Indonesia menjadi
prioritas utama. Selain dalam rangka pemberdayaan industri angkutan laut nasional,
Undang-undang Pelayaran No. 17 tahun 2008 lebih lanjut menjabarkan prioritas yang
berkaitan dengan peningkatan efisiensi dan kesinambungan pembangunan pelabuhan,
keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim. Arah
kebijaksanaan

untuk

bidang

kepelabuhanan

menekankan

kepada

penataan

penyelenggaraan kepelabuhanan, reformasi kelembagaan, peningkatan persaingan,


penghapusan monopoli dalam penyelenggaraan pelabuhan, pemisahan antara fungsi
regulator dan operator serta memberikan peran serta pemerintah daerah dan swasta
secara proporsional dalam penyelenggaraan dan perencanaan pengembangan
pelabuhan, serta penyiapan sumber daya manusia yang profesional untuk memenuhi
kebutuhan sektor pemerintah dan swasta.
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai 17.508 pulau, dengan garis
pantai sekitar 81.000 km. Luas daratan Indonesia mencapai 1,9 juta km2 dan luas
perairan laut 7,9 juta km2. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah
teritorial berupa perairan yang memiliki ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai
dengan Merauke. Letak Indonesia juga sangat strategis karena berada diantara dua
benua yaitu Asia dan Australia serta berada diantara dua Samudra yaitu Hindia dan
Pasifik. Sebagai negara maritim kegiatan pelayaran dan kepelabuhanan sangat
diperlukan

untuk menghubungkan kegiatan antar pulau. Peranan pelayaran adalah

sangat penting bagi kehidupan sosial, ekonomi, pemerintahan, pertahanan/keamanan.

Meskipun pelabuhan nyata-nyata memiliki peran yang sangat penting bagi


perekonomian nasional, Indonesia tidak memiliki sistem pelabuhan dengan kinerja yang
baik menurut sudut pandang para penggunanya. Dari 134 negara, menurut World
Economic Forum 2011, kinerja pelabuhan Indonesia berada di peringkat ke- 46, sedikit
meningkat dari posisi 2008 yang berada di urutan ke- 54. Namun, posisi Indonesia itu
kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kelemahan pelabuhan di Indonesia
terletak pada kualitas infrastruktur,kelembagaan dan suprastruktur.
Tabel 1 Kinerja Pelabuhan Indonesia
Negara

Rangking

Nilai

Switzerland

5.74

Singapore

5.63

Sweden

5.61

Finland

5.47

United Kingdom

10

5.39

Australia

20

5,11

Malaysia

21

5,08

Thailand

39

4,52

Indonesia (54)

46

4,38

South Africa

50

4,34

Sumber : World Economic Forum 2011


Seiring dengan berkembangnya sektor pelabuhan telah mendorong munculnya
kota-kota pelabuhan. Pelabuhan (Port) dan kawasan hunian di sekitarnya (kota) memiliki
peran yang saling mendukung (komplementer) dalam perkembangannya. Kota akan
menyediakan berbagai fungsi penting untuk mendukung pelabuhan, diantaranya adalah
sumber daya manusia, kawasan perindustrian, dukungan logistik, pasokan energi,
kawasan pemukiman, kawasan wisata dan menyediakan dukungan berupa peluang
ekonomi turunan lainnya yang belum tentu terkait dengan kegiatan kepelabuhanan.
Dalam

kajian

ini

akan

dibahas

mengenai

hubungan

kelembagaan

dalam

penyelenggaraan kota pelabuhan di Penang, Malaysia dan Surabaya, Indonesia.


Perbedaan kepentingan antara kota dengan pelabuhan semakin berkembang
seiring dengan perkembangan kota dan pelabuhan itu sendiri. Konflik seringkali timbul
karena masing-masing lembaga memiliki kepentingan dan kurangnya sinergi dan
koordinasi antar lembaga. Hal ini akan menyebabkan pelayanan jasa kepelabuhanan

yang tidak optimal. Masalah kelembagaan yang timbul dalam penyelenggaraan kota
pelabuhan misalnya tumpang tindih kewenangan dalam penegakan hukum. Para
pengguna jasa mengeluhkan banyaknya lembaga yang dapat melakukan pemeriksaan,
penangkapan, dan penahanan kapal sehingga tumpang tindih kewenangan. Misalnya
kesatuan penjagaan laut dan pantai (KPLP), polisi perairan, bea cukai, dan TNI
Angkatan Laut. Selain itu terdapat juga permasalahan kurangnya sinergi antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam perencanaan pelabuhan. Pemerintah
Daerah yang memiliki wewenang dalam pengaturan tata ruang kewilayahan seringkali
memiliki pandangan yang berbeda dengan Pemerintah Pusat dalam perencanaan
pengembangan pelabuhan. Perencanaan pelabuhan harus mampu mengantisipasi
dinamika pertumbuhan kegiatan ekonomi dan terintegrasi kedalam penyusunan rencana
induk pelabuhan khususnya dikaitkan dengan MP3EI/koridor ekonomi, sistem
transportasi nasional, sistem logistik nasional, rencana tata ruang wilayah serta
melibatkan masyarakat setempat.
Dalam

penulisan

kajian

hubungan

kelembagaan

penyelenggaraan

kota

pelabuhan dapat digambarkan sebagai berikut, Pada bab pendahuluan dijelaskan


mengenai potret pelabuhan Indonesia serta masalah-masalah terkait kelembagaan yang
timbul di sektor pelabuhan. Pada bab dua (II) akan diulas mengenai jurnal yang
dijadikan referensi serta kritik terhadap jurnal tersebut. Pada bab tiga (III) akan
dijelaskan mengenai tatanan penyelenggaraan pelabuhan di Indonesia, Lembaga yang
berwenang dalam penyelenggaraan transportasi laut, serta masalah kelembagaan yang
timbul dalam penyelenggaraan kota pelabuhan di Indonesia. Pada bab empat (IV) akan
dikaji mengenai perbedaan penyelenggaraan sistem kepelabuhanan di Indonesia dan
Malaysia, kemudian dijelaskan juga mengenai upaya-upaya menyelesaikan masalah
kelembagaan dalam penyelenggaraan sistem kepelabuhanan. Selanjutnya di bab lima
(V) ditutup dengan kesimpulan dan rekomendasi yang dapat dilakukan dalam
mewujudkan sistem kepelabuhanan yang efisien, kompetitif dan responsif yang
mendukung perdagangan internasional dan domestik serta mendorong pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan wilayah.