Anda di halaman 1dari 16

Nama : Inggita Galuh S.

NIM

: F0312064

Sistem Pengendalian Manajemen/B

HAKIKAT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


Konsep Dasar
Sistem adalah cara yang digunakan untuk melakukan suatu aktivitas dan dilakukan
2. Assesor
Perbandingan dengan ukuran standar
Perangkat
Kendali
1. Detector Informasi mengenai apa yang sedang terjadi
3. Effector Perubahan perilaku jika diperlukan
Perusahaan yang sedang dikendalikan

secara berulang, sedangkan pengendalian adalah penetapan aturan yang bertujuan untuk
mencapai sesuatu yang diinginkan. Sebuah organisasi harus dikendalikan untuk
memastikan bahwa tujuan strategis organisasi dapat dicapai.

Pada dasarnya sebuah sistem pengendalian memiliki empat elemen yang membangun,
yaitu:

Pelacak atau detector, adalah alat pengukur yang sebenarnya terjadi dalam proses
yang sedang dalam pengendalian.
Penilai atau assessor, adalah alat penentu signifikansi peristiwa aktual dengan
membandingkan dengan standar dari yang seharusnya terjadi.
Effector atau feedback, adalah alat untuk mengoreksi atas perbedaan signifikansi
jika pihak assesor membutuhkan hal tersebut.
Jaringan komunikasi, adalah alat untuk meneruskan informasi detector dengan
assessor dan assessor dengan effector.
AKTIVITAS

PRODUK

Perumusan Strategi

Tujuan, strategi, dan kebijakan

Pengendalian Manajemen

Penerapan strategi

Pengendalian Tugas

Kinerja yang efektif dan efisien

Pengendalian Manajemen
Pengendalian manajemen merupakan proses dimana manajer mempengaruhi anggota
organisasi agar menerapkan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan proses
pengendalian manajemen berarti manajemen senior (manajer seluruh tingkatan)
memastikan bahwa orang yang mereka awasi menerapkan aturan atau strategi tersebut.
Para manajer menggunakan sistem pengendalian manajemen sebagai alat atau cara
untuk melakukan pengendalian manajemen.
Anthony (1965, dalam Arachchillage dan Smith, 2013) mendefinisikan sistem
pengendalian manajemen sebagai proses dimana manajer memastikan bahwa sumber
daya diperoleh dan digunakan secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
organisasi. Di lain pihak, Simons (1995, dalam Arachchillage dan Smith, 2013)
memandang sistem pengendalian manajemen sebagai alat untuk mencapai keberhasilan
dalam menerapkan strategi dan mendefinisikannya sebagai suatu informasi resmi yang
berdasarkan aktivitas dan prosedur yang digunakan manajer untuk menjaga atau
mengubah pola kegiatan organisasi perusahaan.

Beberapa kriteria pengendalian manajemen yaitu:


1. Standar tidak ditetapkan terlebih dahulu, melainkan sebuah proses perencanaan
yang sadar.
2. Pengendalian manajemen tidak bersifat otomatis.
3. Pengendalian manajemen memerlukan koordinasi antar individu.
4. Tidak jelasnya hubungan dari diterimanya sebuah kebutuhan bagi tindakan
untuk menetapkan tindakan yang diperlukan sebagai upaya untuk memperoleh
hasil yang diinginkan.
5. Kebanyakan pengendalian manajemen bersifat self control, yaitu proses
pengendalian tidak dilakukan oleh sebuah perangkat regulasi eksternal akan
tetapi dilakukan oleh para manajer yang lebih memilih menggunakan penilaian
mereka daripada mengikuti instruksi yang telah diberikan oleh atasanya.
Aktivitas dalam pengendalian manajemen antara lain:
Planning
Merencanakan apa yang seharusnya dilakukan organisasi.
Coordinating
Mengoordinasi kegiatan dari beberapa bagian organisasi.
Communicating
Mengomunikasikan informasi.
Evaluating
Mengevaluasi informasi.
Deciding
Memutuskan tindakan yang harus diambil.
Influencing
Mempengaruhi orang-orang untuk mengubah perilaku mereka.
Sistem pengendalian manajemen harus didesain dan dijalankan sesuai dengan prinsip
keselarasan tujuan (goal congruence). Keselarasan tujuan menandakan bahwa tujuan
dari tiap individu yang merupakan anggota organisasi harus sejalan dengan tujuan
organisasi itu sendiri. Untuk menetapkan tujuan organisasi dan strategi untuk mencapi
tujuan tersebut perlu dilakukan perumusan strategi terlebih dahulu.
Perumusan Strategi
Perumusan strategi (formulasi strategi) merupakan proses memutuskan tujuan
organisasi dan strategi yang akan dilaksanakn untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Kebutuhan untuk memformulasikan sebuah strategi biasanya muncul untuk merespons


ancaman yang diterima atau adanya kesempatan.
Formulasi strategi merupakan prosen pengambilan keputusan strategi baru, dan
pengendalian manajemen adalah proses pengimplementasian atau penerapan dari
strategi-strategi tersebut.
Pengendalian Tugas
Pengendalian tugas adalah sebuah proses untuk memastikan bahwa tugas yang bersifat
spesifik telah dilaksanakan secara efektif dan efiseien. Pengendalian tugas bersifat
transaction-oriented, yaitu melibatkan kinerja tugas individu menurut aturan yang
dibuat dalam proses pengendalian manajemen.
Pengendalian tugas dan pengendalian manajemen walaupun sama-sama pengendalian
tetapi sesungguhnya keduanya berbeda. Perbedaannya antara lain:
1. Kebanyakan sistem pengendalian tugas bersifat scientific.
2. Pengendalian manajemen meliputi perilaku para manajer sehingga tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan.
3. Fokus pengendalian manajemen terletak pada unit organisasional.
4. Fokus pengendalian tugas terletak pada tugas spesifik yang dilakukan oleh unitunit organisasional.
5. Pengendalian manajemen memperhatikan secara luas aktivitas para manajer
yang memutuskan apa yang harus dilakukan dalam kendala strategis secara
umum.
6. Pengendalian

tugas

berhubungan

dengan

tugas

tertentu

yang

hanya

membutuhkan sedikit bahkan tidak ada pertimbangan untuk melaksanakannya.


Berikut ini contoh dari aktivitas ketiganya:
Formulasi Strategi

Pengendalian Manajemen

Pengendalian Tugas

- Mengakui bisnis yang

- Memperkenalkan produk baru

- Mengkoordinasikan

tidak terkait
- Membuka bisnis baru
- Menambahkan email

dengan lini produknya


- Menentukan anggaran

pemasukan order
- Ada penjadwalan

pengiklanan
- Menerbitkan hutang baru

produksi
- Memesan iklan dalam

penjualan

TV
Dampak Internet terhadap Pengendalian Manajemen
Pengaruh internet kepada dunia bisnis sudah menjadi monumental. Internet memberikan
fasilitas yang efektif dan efisien untuk koordinasi dan pengendalian melalui pemrosesan
informasi, namun internet tidak dapat menggantikan proses yang melibatkan
pengendalian manajemen. Ketersediaan akses data melalui elektronik kepada database
memberikan kontribusi yang kecil pada judgment yang dibutuhkan untuk mendesain
dan menjalankan sistem pengendalian secara optimal. Judgment tersebut meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Memahami tingkat keutamaan yang relatif


Menyelaraskan tujuan individu dengan organisasi
Mengembangkan tujuan tertentu
Mengomunikasikan strategi dan tujuan yang spesifik
Menjelaskan variabel kunci
Mengevaluasi kinerja aktual relatif
Menyelenggarakan pertemuan untuk meninjau kinerja
Mendesain struktur penghargaan yang tepat
Mempengaruhi individu untuk mengubah perilakunya

Sistem Pengendalian Manjaemen-- Suatu Paket


Masih sangat sedikit penelitian teoritis dan empiris eksplisit yang membahas tentang
konsep bahwa sistem pengendalian manajemen (MCS) sebagai paket, padahal ide dalam
manajemen literatur akuntansi telah ada selama beberapa dekade.
Ada beberapa alasan mengapa mempelajari gejala paket sistem pengendalian
manajemen dianggap penting:
1. Sistem pengendalian manajemen tidak bekerja dalam bagian yang terpisahpisah.
2. Mempelajari sistem pengendalian manajemen secara individual atau terpisah
dapat mempengaruhi cara kita dalam menarik kesimpulan.

3.

Memiliki pemahaman yang lebih luas tentang sistem pengendalian manajemen


sebagai sebuah paket dapat memfasilitasi pengembangan teori yang lebih baik
tentang bagaimana merancang berbagai pengendalian untuk mendukung tujuan
organisasi, aktivitas pengendalian, dan mendorong kinerja organisasi.

Meskipun terdapat alasan yang mendukung kita untuk mempelajari sistem pengendalian
manajemen sebagai paket, tetapi terdapat berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam
melakukannya (Malmi dan Brown, 2008):
1. Terdapat kesulitan dalam memahami konsep sistem pengendalian manajemen.
Ini termasuk membuat sebuah perbedaan antara MCS dan sistem dukungan
informasi/keputusan. Selain itu, jika kita fokus pada pengendalian daripada
pendukung keputusan, apakah yang seharusnya dikontrol oleh MCS? Apakah
perilaku manusia atau artefak, seperti uang tunai atau bahan arus; dan pada
tingkat apa, organisasi, unit bisnis, manajemen, atau individu?
2. Masalah kedua muncul dari apa yang secara konseptual merupakan paket MCS;

3.

apa yang disertakan, apa yang ditinggalkan, dan mengapa?


Ada tantangan dalam mempelajari paket MCS karena mereka merupakan sistem
yang sangat besar dan kompleks. Hal ini menimbulkan kesulitan untuk peneliti
lapangan dan/atau studi kasus dalam mengumpulkan dan memahami
kompleksitas yang ada pada masing-masing elemen dari paket MCS dan
kemudian melaporkan temuan mereka dalam artikel jurnal pada tingkat yang
cukup abstraksi untuk dipahami para pembaca.

Brown (2005, dalam Malmi dan Brown, 2008) memberikan tipologi konseptual paket
MCS. Tipologi ini dikembangkan dengan menganalisis dan mensintesis hampir empat
dekade penelitian MCS.
Kekuatan tipologi terletak pada ruang lingkup yang luas dari kontrol dalam MCS
sebagai sebuah paket, bukan kedalaman pembahasannya sistem individu. Terdapat lima
jenis kontrol dalam tipologi:
1.
2.
3.
4.
5.

Perencanaan
Pengendalian sibernetik
Penghargaan dan kompensasi
Pengendalian administrasi
Pengendalian budaya

PERILAKU DALAM ORGANISASI


Perilaku manusia dalam organisasi secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh sistem
pengendalian manajaemen yang ada dalam organinsasi tersebut. Sistem pengendalian
manajemen yang baik dapat dinilai baik apabila tindakan individu untuk meraih tujuan
pribadinya sekaligus akan membantu dalam meraih tujuan organisasinya itu sendiri.
Tujuan Organisasi
Pada kebanyakan organisasi umunya memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai yakni
antara lain:
Keuntungan
Kemampuan dalam menghasilkan keuntungan atau laba merupakan tujuan paling
penting yang dimiliki sebuah organisasi. Kemampuan organisasi dalam menghasilkan
laba ditunjukkan melalui yang rasio ROI yang merupakan pecahan dua bagian rasio:
ROI = [(Pendapatan Pengeluaran) / Pendapatan] x (Pendapatan / Investasi)
Rasio pertama dalam perhitungan ROI adalah presentasi margin laba (profit margin
percentage). Rasio yang kedua adalah perputaran investasi (investment turnover).
Risiko

Kemampuan organisasi untuk meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan laba


dapat dipengaruhi oleh kemauan pihak manajemen dalam mengambil risiko. Tingkat
pengambilan risiko bervariasi bergantung pada masing-masng individu dalam jajaran
manajemen.
Nilai pemegang saham
Tujuan lain bagi perusahaan pencari laba adalah memaksimalkan nilai pemgeang
saham. Memaksimalkan artinya mendapatkan jumlah maksimum yang dapat dihasilkan
oleh perusahaan.
Pendekatan multiple stakeholder
Yang dimaksud multiple stakeholder adalah pemegang saham, konsumen, pegawai,
pemasok, dan berbagai komunitas. Perusahaan memerlukan pendekatan terhadap
multiple stakeholders sebab perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap pihakpihak tersebut.
Keselarasan Tujuan
Tujuan utama dari sistem pengendalian manjaemen adalah memastikan keterpaduan
(keselarasan) antara tujuan organisasi dengan tujuan masing-masing individu
semaksimal mungkin. Untuk memastikan hal tersebut perlu dilakukan evaluasi terhadap
praktik-praktik pengendalian manajemen yakni melalui dua buah pertanyaan penting
berikut ini:
1. Tindakan apa yang akan dilakukan oleh tiap individu dalam mengedepankan
kepentingan atau tujuan mereka masing-masing?
2. Apakah tindakan tersebut bermanfaat, baik secara langsung maupun tidak
langsung, bagi organisasi?
Upaya untuk meraih keselarasan tujuan tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa
dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari eksternal maupun internal.
Faktor Eksternal
Norma-norma tentang perilaku yang diharapkan dalam kehidupan bermasyarakat
menjadi faktor yang berpengaruh dalam keselarasan tujuan yang berasal dari luar

perusahaan, sebab perusahaan merupakan bagian daripadanya. Norma tersebut


mencakup sikap atau etos kerja, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk loyalitas
anggota terhadap organisasi, keuletan, semangat dan kebanggan mereka dalam
melaksanakan tugas-tugasnya dalam organisasi.
Faktor Internal
Beberapa faktor dari dalam organisasi yang dapat mempengaruhi upaya dalam
menyelaraskan tujuan antara lain:
Budaya
Norma-norma budaya yang berpengaruh yakni keyakinan bersama, nilai hidup yang
dianut individu, norma perilaku, asumsi-asumsi yang baik secara diam-diam dianut atau
secara terbuka diterapakan oleh seluruh jajaran organisasi.
Gaya manajemen
Bagaimana para bawahan bersikap atau berperilaku biasanya merupakan refleksi atau
cerminan dari sikap para atasan mereka. Sikap atasan mereka tersebut juga merupakan
refleksi dari cara CEO bersikap.
Organisasi informal
Garis dalam grafik organisasi menunjukkan hubungan-hubungan formal organisasi.
Hubungan-hubungan yang terdapat dalam organisasi yang bersifat informal harus
dikenali arti pentingnya agar proses pengendalian manajemen yang berlangsung dapat
dipahami.
Persepsi dan komunikasi
Dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi, para manajer operasi harus mengetahui
dan paham apa yang menjadi tujuan dan tindakan-tindakan yang harus mereka ambil
untuk meraih tujuan tersebut. Mereka mendapatkan infromasi tentang hal itu dari
berbagai jalur, baik formal (seperti anggaran atau dokumen resmi lainnya) maupun
infromal (seperti bahan perbincangan yang tidak resmi). Tidak semua manajer dapat
mengetahui dan memahami dengan jelas apa yang sebenarnya diinginkan dan

diharapkan oleh manajer senior mereka. Hal itu tidak lain disebabkan karena persepsi
dan komunikasi masing-masing orang berbeda-beda.
Faktor lainnya yang memiliki pengaruh yang besar dapat diperoleh dari sistem yang
bersifat formal. Terdapat dua tipe sitem yang bersifat formal, yaitu sistem pengendalian
manajemen itu sendiri dan aturan-aturan.
Aturan-aturan merupakan seperangkat tulisan yang mengandung berbagai macam
instruksi atau perintah dan pengendalian, seperti: isntruksi jabatan, prosedur standar
operasi, pembagian kerja, dan tuntutan etis. Aturan dapat bersifat dalam beragam
macam, mulai dari yang sangat remeh sampai sangat penting. Sejumlah aturan juga ada
yang bersifat tuntutan kerja, juga bernilai positif.
Beberapa tipe aturan antara lain:
Pengendalian fisik
Seperti penjaga keamanan, pasword komputer, gudang-gudang yang terkunci, ruangan
besi, telivisi pengawas (cctv), dan pengendalian fisik lainnya yang termasuk dalam
bagian dari struktur pengendalian manajemen.
Manual-manual
Terdapat banyak pertimbangan untuk menetapkan aturan-aturan, seperti: yang manakah
yang akan harus ditulis dalam manual, manakah yang harus diklasifikasikan sebagai
tuntutan, seberapa banyak toleransi yang dapt diberikan, dan berbagai pertimbangan
lainnya.
Pengamanan sistem
Pengamanan dirnacang dan diterapkan ke dalam sebuah sistem pemrosesan informasi
untuk menjamin agar informasi yang mengalir dalam sistem tersebut bersifat akurat
serta untuk menminimalisasi atau mencegah dari berbagai kecurangan. Hal itu
mencakup:
1. Pemeriksaan silang secara terperinci
2. Pembubuhan tanda tangan atau bukti lain yang dapat menunjukkan bahwa
transaksi sudah dijalankan

3. Melakukan pemilihan
4. Menghitung uang yang ada dan aset-aset portable secara rutin
5. Prosedur lainnya
Sistem Pengendalian Tugas
Pengendalian tugas adalah sebuah proses untuk menjamin bahwa tugas-tugas tertentu
telah dijalankan secara efektif serta efisien. Mayoritas dari tugas-tugas tersebut
dikendalikan melalui peraturan organisasi. Jika tugas dijalankan dengan mesin otomat,
maka secara otomatis sistem otomat itu sendiri yang menyediakan sistem pengendalian.
Jenis-jenis Organisasi
Kualitas dan ukuran organisasi sangat beragam macamnya, tetapi dari berbagai macam
jenis tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum:
1. Struktur fungsional
Setiap manajer mempunyai

tanggung

jawab

terhadap

fungsi-fungsi

dispesialisasi, seperti produksi atau pemasaran.


2. Struktur unit bisnis
Para unit manajer mempunyai tanggung jawab terhadap aktivitas-aktivitas dari
masing-masing unitnya, dan unit bisnis mempunyai fungsi sebagai bagian semi
independen dari organisasi.
3. Struktur matriks
Unit-unit fungsional mempunyai tanggung jawab rangkap.
Organisasi-organisasi fungsional
Sebuah organisasi fungsional biasanya didirikan karena adanya gagasan tentang
perlunya seorang manajer yang mempunyai pengetahuan khusus untuk mengambil
keputusan yang terkait dengan fungsi spesifik, daripada manajer yang memiliki
kemampuan merumuskan tujuan tetapi tidak memiliki pengetahuan khusus mengenai
hal tersebut.
Struktur fungsional memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:

1. Terdapat ambiguitas ketika menentukan efektivitas manajer fungsional secara


terpisah sebab tiap fungsi tersebut sama-sama memberi sumbangan di hasil
akhirnya.
2. Pada organisasi yang terdiri dari beberapa manajer yang bekerja pada dalam satu
fungsi yang kemudian menyerahkan laporan kepada manajer pada level yang
lebih tinggi di fungsi tersebut dapat terjadi perselisihan antar para manajer dari
fungsi yang berbeda dan hanya bisa diselesaikan di tingkat atas walaupun
perselisihan berasal dari level organisasi yang lebih rendah.
3. Struktur fungsional tidak memadai apabila diterapkan oleh sebuah perusahaan
yang memiliki produk dan pasar yang beragam.
4. Kinerja dari masing-masing fungsi terhadap laba perusahaan tidak dapat diukur
disebabkan kontribusi dari masing-masing fungsi tersebut untuk kinerja
perusahaan tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa organisasi fungsional pada akhirnya cenderung
menciptakan sekat pada tiap fungsi yang dimilikinya.
Unit-unit Bisnis
Organisasi yang bersifat unit bisnis biasanya didirikan untuk memecahkan masalahmasalah yang terdapat dalam struktur fungsional. Organisasi unit bisnis atau dapat juga
disebut divisi bertanggung jawab terhadap seluruh fungsi yang terdapat dalam produksi
dan pemasaran sebuah produk.
Seperti halnya organisasi tipe lain, organisasi unit bisnis juga mempunyai keuntungan
dan kerugian. Keuntungan yang dimiliki organisasi berbentuk unit bisnis antara lain:
1. Secara umum dapat berfungsi sebagai tempat pelatihan untuk manajemen, sebab
seorang manajer dalam organisasi unit bisnis dituntut agar dapat menunjukkan
semangat kewirausahaannya seperti yang dimiliki oleh CEO organisasi tersebut.
2. Bagi produk-produknya, unit bisnis lebih bahkan sangat dekat dengan pasar
dibandingkan dengan kantor pusat.
Jika ada keuntungan maka pasti ada kerugian juga. Berikut ini adalah kerugian yang
dimiliki organisasi unit bisnis:

1. Masing-masing unit bisnis kemungkinan menduplikasi beberapa pekerjaan


dalam sebuah organisasi fungsional.
2. Jajaran staf organisasi unit bisnis lebih banyak memakan biaya (pengeluaran)
daripada nilai yang diperoleh (pendapatan) melalui divisionalisasi.
3. Jumlah tenaga spesialis yang terampil dalam melaksanakan fungsinya masingmasing sangat sedikit.
4. Organisasi unit bisnis kesulitan dalam memperoleh tenaga-tenaga yang
berkualitas.
5. Perselisihan di antara spesialis fungsional yang terjadi dalam sebuah organisasi
fungsional digantikan dengan perselisihan di antara unit-unit bisnis dalam
organisasi unit bisnis.
Fungsi Pengendali
Pengendali adalah seseorang yang mempunyai tanggung jawab untuk merancang dan
menjalankan sistem pengendalian manajemen. Fungsi-fungsi yang umumnya dijalankan
oleh seorang pengendali dalam sebuah organisasi yaitu:
1. Merancang dan mengoperasikan informasi juga sistem pengendalian
2. Menyiapkan pernyataan keuangan dan laporan keuangan
3. Menyiapkan dan menganalisis laporan kinerja, yang kemudian laporan tersebut
diinterpretasikan kepada para manajer
4. Menganalisis program dan proposal anggaran dari berbagai segmen perusahaan
serta mengonsolidasikannya ke dalam anggaran tahunan
5. Melakukan supervisi audit internal organisasi dan mencatat prosedur-prosedur
pengendaliannya
6. Menetapkan pengamanan yang sesuai dan memadai terhadap pencurian dan
kecurangan
7. Mengembangkan personel dalam organisasi dan ikut dalam pendidikan personal
manajemen
Fungsi pengendalian merupakan fungsi semua staf. Akan tetapi, fungsi pengendalian
sesungguhnya merupakan tanggung jawab yang mengalir mulai dari CEO organisasi
kemudian turun ke bawah melalui jalur organisasi.
Para pengendali mempunyai peranan penting dalam mempersiapkan perencanaan
strategis dan anggaran. Pengendali tidak membuat maupun mendorong pihak
manajemen untuk mengambil keputusan.

Pengendali Unit Bisnis


Pengendali
Perusahaan

Pengendali
Perusahaan

Manajer Unit
Bisnis

Pengendali
Unit Bisnis

Manajer Unit
Bisnis

Pengendali
Unit Bisnis

Para pengendali unit bisnis dituntut membagi loyalitas mereka, tidak memandang
apakah mereka bersedia atau tidak sebab itu adalah suatu keharusan. Di satu sisi,
mereka berhutang kepada pihak pengendali perusahaan sebab yang memegang
tanggung jawab pengoperasian sistem pengendalian secara keseluruhan adalah para
pengendali perusahaan. Di sisi lain, mereka juga mempunyai hutang terhadap para
manajer dalam unit mereka masing-masing sebab mereka adalah pihak yang diberikan
bantuan para stafnya.
Tantangan Perilaku Etis dalam Organisasi
Istilah etika akhir-akhir ini sering muncul dalam berita. Etika adalah sebuah istilah
filosofi yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti karakter atau kebiasaan
(Sims, 1992).
Tidak dapat dipungkiri di jaman yang sudah super canggih dan modern seperti sekarang
ini melakukan tindakan yang tak etis pasti telah dilakukan oleh banyak orang, terutama
dalam sebuah organisasi perusahaan. Tidak ada batas bagi potensi individu dan
organisasi untuk melakukan tindakan tidak etis. Beberapa alasan yang menyebabkan
seseorang bertindak tidak etis antara lain:
1. Tekanan
2. Kesempatan
3. Mudah terpengaruh

Organisasi harus memperbanyak perlatihan etika untuk memperkuat kerangka etis


pribadi tiap anggotanya. Sebuah budaya organsisi yang efektif tentunya harus dapat
mendorong periaku etis dan menahan perilaku tak etis.

REFERENSI

Anthony, R. N. dan V. Govindarajan. 2007. Management Control Systems. Edited by T.


Edition. New York: McGraw-Hill.
Arachchilage, N. D. K. dan M. Smith. 2013. The Effects of the Diagnostic and
Interactive Use of Management Control Systems on the Strategy-Performance
Relationship. Journal of Applied Management Accounting Research. 11 (1): 928.
Malmi, T. dan D. Brown. 2008. Management control systems as a package
Opportunities, Challenges and Research Directions. Management Accounting
Research. 19: 287-300.
Sims, R. R. 1992. The Challenge of Ethical Behavior in Organizations. Journal of
Business Ethics. 11 (7): 505.