Anda di halaman 1dari 10

Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada dewasa.

Diperkirakan pada
orang dewasa setipa tahun nya mengalami diare akut sebanyak

ANAMNESIS

Pasien dengan diare akut datang dengan keluhan diare yang berlangsung kurang
dari 15 hari. Diare karena karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak,
diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi, dan dehidrasi sering
didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja
berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin kebelakang.
Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, bias air, malabsorptif, atau
berdarah tergantung bakteri pathogen yang spesifik. Secara umum, pathogen usus
halus tidak invasive, dan pathogen ileokolon lebih mengarah ke invasive.
Pasien yang memakan toksin atau pasien yang mengalami infeksi toksigenik secara
khas mengalami nausea dan muntah sebagai gejala prominen bersamaan dengan
diare air tetapi jarang mengalami demam. Muntah yang mulai beberapa jam dari
masuknya makanan mengarahkan pada keracunan makanan karena efek toksin.
Gejala tipikal dari organisme yang menginvasi epitel usus dangan inflamasi minimal
ialah diare air. Biasanya disebabkan oleh virus enterik atau organisme yang
menempel tetapi tidak menghancurkan epitel.

PEMERIKSAAN FISIK
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam
menentukan beratnya diare. Status volume dinilai dengan memperhatikan
perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperature tubuh dan tanda
toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting.
Adanya dan kualitas bunyi usus adanya atau tidak adanya distensi andomen dan
nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan etiologi.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau diare berlangsung
lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tersebut ...pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin, hematokrit,
leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit serum, ureum, kreatinin,
pemeriksaan tinja, pemeriksaan Enzym-linked immunosorbent assay(ELISA)
mendeteksi giardiasis, test serologik amebiasis, dan foto x-ray abdomen.
Pasien dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis
leukosit yang normal atau limfositosis. Pasien dengan infeksi bakteri yang invasif
terhadap mukosa, memiliki leukositosis dengan kelebihan darah putih muda.
Neutropenia dapat timbul salmonellosis.
Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan volume cairan
dan mineral tubuh. Pemeriksaan tinja dilakukan untuk melihat adanya leukosit
dalam tinja yang menunjukkan adanya infeksi bakteri, adanya telur cacing dan
parasit dewasa.
Pasien yang telah mendapatkan pengobatan antibiotik dalam 3 bulan sebelumnya
atau yang mengalami diare di rumah sakit sebaiknya diperiksa tinja untuk
pengukuran toksin Clostridium difficile.
Rektoskopi atau sigmoidoskopi perlu dipertimbangkan pada pasien-pasien yang
toksik, pasien dengan diare berdarah, atau pasien dengan diare akut persisten.
Pada sebagian besar pasien. Sigmoidoskopi mungkin adekuat sebagai pemeriksaan
awal. Pada pasien dengan AIDS yang mengalami diare, kolonoskopi
dipertimbangkan karena kemungkinan penyebab infeksi atau limfoma didaerah
kolon kanan. Biopsi mukosa sebaiknya dilakukan jika mukosa terlihat inflamasi berat
ETIOLOGI
1. Virus :
Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70 80%). Beberapa jenis
virus penyebab diare akut :8,9
Rotavirus serotype 1,2,8,dan 9 : pada manusia. Serotype 3 dan 4 didapati pada
hewan dan manusia. Dan serotype 5,6, dan 7 didapati hanya pada hewan.
Norwalk virus : terdapat pada semua usia, umumnya akibat food borne atau
water borne transmisi, dan dapat juga terjadi penularan person to person.
Astrovirus, didapati pada anak dan dewasa
Adenovirus (type 40, 41)
Small bowel structured virus
Cytomegalovirus

2. Bakteri :
Enterotoxigenic E.coli (ETEC). Mempunyai 2 faktor virulensi yang penting yaitu
faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri ini melekat pada enterosit pada usus
halus dan enterotoksin (heat labile (HL) dan heat stabile (ST) yang menyebabkan
sekresi cairan dan elektrolit yang menghasilkan watery diarrhea. ETEC tidak
menyebabkan kerusakan brush border atau menginvasi mukosa.
Enterophatogenic E.coli (EPEC). Mekanisme terjadinya diare belum jelas.
Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel usus menyebabkan kerusakan dari
membrane mikro vili yang akan mengganggu permukaan absorbsi dan aktifitas
disakaridase.
Enteroaggregative E.coli (EAggEC). Bakteri ini melekat kuat pada mukosa usus
halus dan menyebabkan perubahan morfologi yang khas. Bagaimana mekanisme
timbulnya diare masih belum jelas, tetapi sitotoksin mungkin memegang peranan.
Enteroinvasive E.coli (EIEC). Secara serologi dan biokimia mirip dengan Shigella.
Seperti Shigella, EIEC melakukan penetrasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon.
Enterohemorrhagic E.coli (EHEC). EHEC memproduksi verocytotoxin (VT) 1 dan 2
yang disebut juga Shiga-like toxin yang menimbulkan edema dan perdarahan
diffuse di kolon. Pada anak sering berlanjut menjadi hemolytic-uremic syndrome.
Shigella spp. Shigella menginvasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon,
menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya ulkus. Shigella jarang masuk
kedalam alian darah. Faktor virulensi termasuk : smooth lipopolysaccharide cell-wall
antigen yang mempunyai aktifitas endotoksin serta membantu proses invasi dan
toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin) yang bersifat sitotoksik dan neurotoksik
dan mungkin menimbulkan watery diarrhea
Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). Manusia terinfeksi melalui kontak
langsung dengan hewan (unggas, anjing, kucing, domba dan babi) atau dengan
feses hewan melalui makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam dan air.
Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak langsung person to person.
C.jejuni mungkin menyebabkan diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus
besar.Ada 2 tipe toksin yang dihasilkan, yaitu cytotoxin dan heat-labile enterotoxin.
Perubahan histopatologi yang terjadi mirip dengan proses ulcerative colitis.
Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139. Air atau makanan yang terkontaminasi
oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Penularan melalui person to person jarang
terjadi.

e-USU Repository 2004 Universitas Sumatera Utara 3

V.cholerae melekat dan berkembang biak pada mukosa usus halus dan
menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan diare. Toksin kolera ini sangat mirip
dengan heat-labile toxin (LT) dari ETEC. Penemuan terakhir adanya enterotoksin
yang lain yang mempunyai karakteristik tersendiri, seperti accessory cholera
enterotoxin (ACE) dan zonular occludens toxin (ZOT). Kedua toksin ini menyebabkan
sekresi cairan kedalam lumen usus.
Salmonella (non thypoid). Salmonella dapat menginvasi sel epitel usus.
Enterotoksin yang dihasilkan menyebabkan diare. Bila terjadi kerusakan mukosa
yang menimbulkan ulkus, akan terjadi bloody diarrhea

3. Protozoa :
Giardia lamblia. Parasit ini menginfeksi usus halus. Mekanisme patogensis masih
belum jelas, tapi dipercayai mempengaruhi absorbsi dan metabolisme asam
empedu. Transmisi melalui fecal-oral route. Interaksi host-parasite dipengaruhi oleh
umur, status nutrisi,endemisitas, dan status imun. Didaerah dengan endemisitas
yang tinggi, giardiasis dapat berupa asimtomatis, kronik, diare persisten dengan
atau tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan endemisitas rendah, dapat terjadi wabah
dalam 5 8 hari setelah terpapar dengan manifestasi diare akut yang disertai mual,
nyeri epigastrik dan anoreksia. Kadang-kadang dijumpai malabsorbsi dengan faty
stools,nyeri perut dan gembung.
Entamoeba histolytica. Prevalensi Disentri amoeba ini bervariasi,namun
penyebarannya di seluruh dunia. Insiden nya mningkat dengan bertambahnya
umur,dan teranak pada laki-laki dewasa. Kira-kira 90% infksi asimtomatik yang
disebabkan oleh E.histolytica non patogenik (E.dispar). Amebiasis yang simtomatik
dapat berupa diare yang ringan dan persisten sampai disentri yang fulminant.
Cryptosporidium. Dinegara yang berkembang, cryptosporidiosis 5 15% dari
kasus diare pada anak. Infeksi biasanya siomtomatik pada bayi dan asimtomatik
pada anak yang lebih besar dan dewasa. Gejala klinis berupa diare akut dengan tipe
watery diarrhea, ringan dan biasanya self-limited. Pada penderita dengan gangguan
sistim kekebalan tubuh seperti pada penderita AIDS, cryptosporidiosis merupakan
reemerging disease dengan diare yang lebih berat dan resisten terhadap beberapa
jenis antibiotik.
Microsporidium spp
Isospora belli

Cyclospora cayatanensis

4. Helminths :
Strongyloides stercoralis. Kelainan pada mucosa usus akibat cacing dewasa dan
larva, menimbulkan diare.
Schistosoma spp. Cacing darah ini menimbulkan kelainan pada berbagai organ
termasuk intestinal dengan berbagai manifestasi, termasuk diare dan perdarahan
usus..
Capilaria philippinensis. Cacing ini ditemukan di usus halus, terutama jejunu,
menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan gejala klinis watery diarrhea dan nyeri
abdomen.

e-USU Repository 2004 Universitas Sumatera Utara 4

Trichuris trichuria. Cacing dewasa hidup di kolon, caecum, dan appendix. Infeksi
berat dapat menimbulkan bloody diarrhea dan nyeri abdomen.

EPIDEMIOLOGI

PATOFISIOLOGI
Diare dapat disebabkan oleh beberapa patomekanism sebagai berikut:
Osmolaritas intraluminal yang meninggi disebut diare osmotik
Sekresi cairan dan elektrolit meninggidisebut diae sekretorik
Malabsorpsi asam empedu dan lemak
Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit
Motilitas dan waktu transit usus abnormal
Gangguan permeabilitas usus

Inflamasi dinding usus disebut diare inflamatorik


Infeksi dinding usus disebut diare infeksi.

GEJALA KLINIS

Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya

DIAGNOSIS
ANAMNESI
S

Onset
Karakteristik
tinja

Nyeri abdomen
Penyakit usus
inflamasi
Penyakit usus

PEMERIKSAAN
FISIK

Pemeriksaan
rektal
Umum

REPLESI
CAIRAN/ELEKTROLIT

Abdomen
Nyeri
tekan
Distensi

Obatobatan

EVALUASI
LABORATORIUM
Pemeriksaan darah tepi
lengkap
Hemokonsentrasi
Diferensial leukosit
Sigmoidoskopi atau
kolonoskopi dengan biopsi

Terapi antibiotik
empirik
Terapi spesifik

Kimia darah
Elektrolit
Ureum
Kreatinin
Serologi
ameba

Pemeriksaan tinja
Pem.telur dan parasit
Antigen Giardia
Toksin Clostridium
difficile

Leukosit
tinja

Kultur
tinja

WORKING DIAGNOSIS

DIFERENSIAL DIAGNOSIS

PROGNOSIS

KOMPLIKASI

PENATALAKSANAAN
Pengelolaan diare yang dianjurkan menurut WHO, ada 4 yaitu pemberian cairan,
untuk mengobati dan mencegah dehidrasi; Diet, meneruskan ASI dan makanan
lainnya; obat-obatan, memakai antibiotik untuk kasus kolera dan disentri, WHO
merekomendasikan pemakaian zinc; edukasi atau penyuluhan.

1.Pemberian Cairan
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral dan parenteral. Pemberian
cairan peroral diberikan pada diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan sedang.
Sedangkan, pada diare dengan dehidrasi berat pemberian cairan dilakukan secara
parenteral, dan jika gagal dapat diberikan personde NGT dengan kecepatan
maksimal 20 ml/KgBB/jam. Atau pada diare dehidrasi ringan sedang yang gagal
URO terapi cairan dapat kita berikan secara parenteral. Tapi setelah rehidrasi
tercapai secepat mungkin beralih ke pemberian oral.
Pemberian cairan pada dehidrasi berat merupakan tindakan kedaruratan medis,
apalagi jika terjadi syok, berikan dulu loading cairan 20 ml/kgbb secepatnya.
Sedangkan penilaian lengkap status dehidrasi dilakukan setelah syok teratasi.
Tahapan-tahapan terapi rehidrasi cairan parenteral pada diare dengan dehidrasi
berat, antara lain terapi awal, ditujukan untuk memperbaiki sirkulasi dinamik dan
fungsi ginjal dengan cara reekspansi cepat volume CES; terapi lanjutan, ditujukan
untuk mengganti defisit air dan elektrolit dengan kecepatan pemberian cairan yang
lebih rendah; perhatikan status glikosa, karena pada saat diare terjadi kekurangan
kalori.
Untuk kepentingan terapi, diare dapat pula dikelompokkan menjadi diare murni dan
diare dengan penyulit atau komplikasi, seperti diare dengan penyakit jantung, diare
dengan BP, diare dengan bronkiolitis, diare dengan meningitis, diare dengan
ensefalitis, diare dengan penyakit ginjal dan diare dengan hipernatremia.
Pada diare akut murni tanpa penyulit rehidrasi ditujukan untuk mengganti previous
water loss (PWL). Pemberian rehidrasi cepat (3-6 jam) parenteral ditujukan untuk
memperbaiki sirkulasi dinamik dan mengganti defisit cairan yang terjadi.
Sedangkan, pada diare dengan penyulit pemberian cairan selama 24 jam, ditujukan
untuk mengganti kehilangan cairan yang terjadi atau PWL, mencukupi kehilangan
abnormal dari cairan yang sedang berlangsung atau concomitant water loss (CWL),
dan mengganti cairan yang hilang melalui keringat dan pernapasan atau inssible
water loss (IWL).
Pada diare dengan penyulit atau komplikasi, rehidrasi dilakukan selama 24 jam
(berbeda dengan diare murni yang hanya 3-6 jam), dengan ketentuan 4 jam
pertama cairan diberikan 1/3 sampai dengan 1/4 dan sisanya 20 jam kemudian.
Tujuannya, agar keadaan dehidrasi terutama yang berat cepat teratasi. Cairan yang
diberikan adalah cairan modifikasi Sutejo, mengandung Na 63,3 mEq/L, K 10,4
mEq/L, Cl 61,4 mEq/L, HCO3 12,6 mEq/L dan 200 kalori. Yang terdiri dari NaCl 15%
10 ml, KCl 10% 4 ml dan NaHCO3 2,5% 7 ml dalam 500 ml D5% atau menggunakan
KAEN 3A atau KAEN 3B. Cara pemberiannya, antara lain bila diare dehidrasi dengan
ringan sedang, maka 4 jam pertama 50 ml/kgbb dan 20 jam berikutnya 150
ml/kgbb. Sedangkan, pada diare dengan dehidrasi berat, maka 4 jam pertama 60
ml/kgbb dan sisanya 20 jam berikutnya 190 ml/kgbb.

2.Diet
Pasien diare tidak dianjurkan berpuasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien
dianjurkan justru minimum minuman sari buah, the, minuman tidak bergas,
makanan mudah cerna seperti pisang, nasi, keripik, dan sup. Susu sapi harus
dihindarkan karena adanya defisiensi lactase transien yang disebabkan oleh infeksi
virus dan bakteri. Minuman berkafien dan alcohol harus dihindari karena dapat
meningkatkan motilitas dan sekresi usus.
Prinsipnya, pada diare kebutuhan diet meningkat 50% untuk itu dianjurkan untuk
tetap memberikan ASI, makanan dan minuman seperti biasanya dengan
penambahan porsi. Pada diare dengan dehidrasi berat, makanan diberikan setelah
keadaan umum membaik. Ingat, pemberian diet secara dini dapat mempercepat
penyembuhan dan mencegah penurunan berat badan lebih lanjut.
3.Obat-obatan
Sebagian besar diare disebabkan oleh virus untuk itu, pemberian antibiotik tidak
diperlukan. Menurut WHO dan Depkes, antibiotik hanya digunakan pada kasus
kolera dan disentri. Atau antibiotik juga dapat dipertimbangkan penggunaannya
pada diare akut yang melanjut lebih dari 7 hari sambil menunggu hasil kultur dan
resistensi feses. Penggunaan antibiotik yang tepat adalah berdasarkan hasil kultur.
Pada kasus diare, WHO juga menganjurkan pemakaian zinc. Zinc merupakan
micronutrien esensial bagi tubuh. Zinc berperan dalam proses pertumbuhan dan
diferensiasi sel, menjaga stabilitas dinding sel dan ikut serta dalam proses ekspresi
dari gen dan pengaturan ion intraseluler. Disamping itu, defisiensi zinc
menyebabkan atropi timus akibatnya kandungan limfosit berkurang dan prekursor
limfosit di sum-sum tulangpun berkurang akibatnya limfosit dalam darah menurun
dan respons imun antibodi juga menurun, hal inilah yang menyebabkan anak rentan
terhadap infeksi terutama infeksi di GIT karena GIT memiliki kandungan limfosit
terbanyak setelah timus.
Dosis zinc untuk bayi kurang dari 6 bulan adalah 10 mg dan 20 mg untuk yang lebih
dari 6 bulan, diberikan selama 14 hari.

PENCEGAHAN
Diare dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Adapun
cara pencegehan diare dapat dilakukan dengan cara:
1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting yaitu: 1)
sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang bayi, 4)
setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;

2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan
cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga
(lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan
jamban dengan tangki septik.