Anda di halaman 1dari 14

Oleh :

Masir Rambe, MA
Kepala Seksi Urusan Agama Islam
pada Kantor Kementerian Agama Kota Sibolga

Dasar Hukum Perkawinan :


1. UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
2. PP No. 45 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun
1974;
3. PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian
bagi Pegawai Negeri Sipil;
4. PP No. 45 Tahun 1990 tentang Perubahan atas PP No. 10 Tahun
1983;
5. Kep. Menhankam/Pangab No. KEP/01/1980/ tentang Peraturan
Perkawinan, Perceraian dan Rujuk Anggota ABRI;
6. Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Pengajuan Perkawinan, Perceraian, dan Rujuk bagi Pegawai
Negeri pada Kepeolisian RI.

Pengertian :
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian
perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tujuan Perkawinan :
Tujuan perkawinan pada dasarnya adalah untuk memperoleh
keturunan yang syah dalam masyarakat, dengan mendirikan
sebuah kehidupan rumah tangga yang damai dan tenteram.

Perkawinan yang dianggap sah :


1. Jika dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya dan perkawinan tersebut dicatat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.

Syarat-syarat Perkawinan :
Menurut UU Pernikahan ini diatur dalam pasal 6 yaitu :
1. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon
mempelai;
2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum
mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang
tua;
3. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam
keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka
izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga
yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus
ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat
menyatakan kehendaknya.

Batas Usia yang Diizinkan dalam Suatu Perkawinan :


Menurut UU No. 1 Tahun 1974 Pernikahan ini diatur dalam
pasal 7 ayat (1) yaitu ;
1. Jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas)
tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam
belas) tahun.
2. Jika ada penyimpangan terhadap pasal 7 ayat (1) ini, dapat
meminta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain
yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun
wanita (pasal 7 ayat 2).

Perkawinan Dini/Perkawinan di Bawah Umur :


Pernikahan dini adalah pernikahan di bawah usia yang seharusnya
belum siap untuk melaksanakan pernikahan.

Faktor-faktor penyebab Pernikahan Dini :


1. Sebab dari anak :
a. faktor pendidikan, mis: putus sekolah;
b. faktor telah melakukan hubungan biologis;
c. hamil di luar nikah;
2. Sebab dari luar anak :
a. faktor pemahaman agama;
b. faktor ekonomi;
c. faktor adat dan budaya.

Dampak Pernikahan Dini :


1. Segi kesehatan :
Tingginya angka kematian ibu yang melahirkan, kematian bayi
serta berpengaruh pada rendahnya derajat kesehatan ibu dan
anak.
2. Segi fisik :
Belum mampu dibebani suatu pekerjaan yang memerlukan
keterampilan fisik, untuk mendatangkan penghasilan baginya,
dan mencukupi kebutuhan keluarganya.
3. Segi mental/jiwa :
Pasangan usia muda belum siap bertanggung jawab secara
moral, pada setiap apa saja yang merupakan tanggung
jawabnya. Mereka sering mengalami kegoncangan mental,
karena masih memiliki sikap mental yang labil dan belum
matang emosinya.

Dampak Pernikahan Dini (lanjutan) :


4. Segi pendidikan :
Pendewasaan usia kawin ada kaitannya dengan usaha
memperoleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan persiapan
yang sempurna dalam mengarungi bahtera hidup.
5. Segi kependudukan :
Perkawinan usia muda di tinjau dari segi kependudukan
mempunyai tingkat fertilitas (kesuburan) yang tinggi, sehingga
kurang mendukung pembangunan di bidang kesejahteraan.
3. Segi kelangsungan rumah tangga :
Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang masih rawan
dan belum stabil, tingkat kemandiriannya masih rendah serta
menyebabkan banyak terjadinya perceraian dan rentan
mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dampak Terhadap Hukum :


1. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan :
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah
mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur
16 tahun.
2. UU No, 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak :
Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak :
1). menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan,
bakat dan minatnya dan;
2.) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
3. UU No.21 tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (PTPPO) :
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi
anak, agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh
dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan,
eksploitasi dan diskriminasi.

Pengertian Perkawinan Siri :


Perkawinan siri merupakan bentuk perkawinan yang
dilaksanakan menurut agama telah memenuhi syarat dan
rukun nikah, sehingga perkawinan tersebut telah dinyatakan
sah menurut agama, akan tetapi menurut hukum negara tidak
diakui karena perkawinan siri tidak dicatatkan sehingga tidak
bisa dibuktikan dengan akta otentik berupa akta nikah yang di
dalamnya menyebutkan telah terjadi perkawinan.

Alasan Melakukan Perkawinan Siri :


Alasan melakukan Perkawinan Siri antara lain :
1. karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang,
misalnya pegawai negeri tidak boleh nikah lebih dari satu,
dan lain sebagainya;
2. pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbanganpertimbangan tertentu, misalnya karena takut
mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang
terlanjur menganggap tabu pernikahan siri;
3. karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa
seseorang untuk merahasiakan pernikahannya.

Perkawinan Siri Ditinjau dari segi hukum :


1. Pernikahan siri dinyatakan tidak sah karena menyimpang dari
UU No.1 Tahun 1974 pasal 2 ayat (2) tentang pencatatan
perkawinan.
2. Karena tidak sah secara hukum negara, maka Negara tak bisa
memberikan perlindungan hukum kepada korban nikah siri,
karena tidak ada bukti hukum berupa pencatatan.
3. Istri dari perkawinan siri dianggap istri tak sah. Karenanya, istri
tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami, serta tidak
berhak atas harta gono-gini. Begitu juga dengan anak hasil
perkawinan siri, ia bukan merupakan anak sah. Statusnya sama
dengan anak luar kawin. Ia hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya dan tak berhak atas nafkah, biaya
pendidikan, atau warisan dari ayahnya secara hukum negara.

Kewajiban Mencatatkan Perkawinan :


Sebagai warga negara yang baik, wajib mengikuti peraturan
pemerintah.
Berpijak dari tujuan meraih kemaslahatan dan menghindari
kemudaratan, maka pencatatan perkawinan seharusnya
dihukumi wajib.
Fungsi pencatatan di samping untuk mencapai ketertiban
umum, sekaligus memberikan perlindungan hukum terhadap
perempuan dan anak. Jika suatu saat terjadi pengingkaran
perkawinan, negara bisa memberikan sanksi hukum bagi yang
bersangkutan. Pencatatan sebagai bukti pertanggungjawaban
dalam perkawinan.

Selesai
Terima kasih