Anda di halaman 1dari 3

Biofilm adalah lapisan yang merupakan koloni dari konsorsium mikroba yang menempel

dan menutupi suatu permukaan benda padat di lingkungan berair. Para ahli mikrobiologi
memperkirakan bahwa biofilm adalah cara hidup mikroorganisme yang dominan dibandingkan
dengan cara hidup melayang-layang di dalam cairan atau planktonis. Biofilm merupakan sebuah
struktur komunitas dari bakteri, algae atau jenis sel lainnya yang menghasilkan matriks polimerik
dan melekat pada permukaan. Bakteri kebanyakan hidup sesil (pada suatu permukaan),
membentuk komunitas kehidupan jika memungkinkan, yang dapat memberikan keuntungan
lebih dibanding hidup secara planktonik. Secara fisik, keberadaan biofilm dapat dicirikan sebagai
berikut (Yoo, ES.2000).
Jarak ketebalan dari beberapa mikron sampai lebih dari 1000 mikron.
Permukaan tidak rata (kasar)
Spesies heterogen
Tersusun dari dua bagian, yaitu dasar biofilm dan permukaan biofilm.

Biofilm lebih toleran terhadap bahan kimia dan sejenisnya. Oleh karena itu bisa
mengontrol dan mengeliminasi sel planktonik. Lebih dari itu,standar test membuktikan bahwa
komunikasi antar mikroorganisme yang terjadi dalam biofilm dapat membuat biofilm mereduksi
senywa kimia seperti detergen (Jasmin Gattlen et all, 2010).
Biofilm terbentuk khususnya secara cepat dalam sistem yang mengalir dimana suplai
nutrisi tersedia secara teratur bagi bakteri. Pertumbuhan bakteri secara ekstensif disertai oleh
sejumlah besar polimer ekstraseluller, menyebabkan pembentukan lapisan berlendir (biofilm)
yang dapat dilihat dengan kasat mata pada permukaan baik biotik seperti daun dan batang
tumbuhan air, kulit hewan-hewan air maupun abiotik seperti batu-batuan, bagian bawah galangan
kapal serta pada tempat lainnya. Walaupun banyak bakteri dapat tumbuh pada keadaan bebas
(free-living) atau planktonik, secara umum bakteri melekat ke suatu permukaan dengan
menghasilkan polisakarida ekstra seluller (EPS) atau pada beberapa kasus dengan menggunakan
holdfast. Pelekatan ini menghasilkan mikro koloni, sebagai awal perkembangan biofilm yang
dimulai dari satu sel tapi sering berkembang menjadi beberapa bakteri membentuk multilayers
dengan matrik yang hidup pada komunitas komplek. Dalam kenyataannya, hampir semua

permukaan berhubungan dengan cairan dan nutrisi akan dikoloni oleh mikroorganisme
(Rheinheimer G. 2000).
Contoh klasik dari biofilm adalah yang terdapat pada gigi, mengawali pembentukan gigi
berlubang (dental caries) bilamana bakteri seperti Streptococcus mutan memecah gula menjadi
asam-asam organik. Untuk dapat melihat biofilm lebih dekat dapat dilakukan dengan cara tidak
membersihkan pipa kamar mandi seminggu atau pada bebatuan pada aliran sungai di
pegunungan. Biofilm juga biasa ditemukan pada badan kapal, peralatan medis, kontak lensa
(contact lenses), pipa pada industri minyak, serta saluran-saluran yang tersumbat. Selain itu,
biofilm juga ditemukan di tempat-tempat (lingkungan) yang ekstrim, seperti di daerah kutub,
lingkungan dengan kadar garam yang sangat tinggi, daerah beracun atau kotor, sumber air panas
serta di daerah dengan kadar asam yang tinggi (Suriawiria, 2001).
Proses Terbentuknya Biofilm
Bakteri di habitat alamiah umumnya dapat hidup dalam dua lingkungan fisik yang berbeda:

Keadaan planktonik, berfungsi secara individu dan

Keadaan diam (sesil) dimana dia melekat ke suatu permukaan membentuk biofilm dan
berfungsi sebagai komunitas yang bekerjasama dengan erat.
Kepadatan populasi yang rendah adalah karakteristik umum dari komunitas planktonik

pada ekosistem mikroba di alam. Keadaan oligotropik dari ekosistem ini mendapatkan
ketidakcukupan masukan nutrisi untuk mendukung aktivitas mikroba. Jika kepadatan populasi
rendah, kompetisi antara bakteri secara individu untuk tempat, oksigen, serta faktor-faktor
pembatas lainnya hanya sedikit. Pada keadaan planktonik, kesempatan bagi induvidu untuk
terpisah dari komunitas, khususnya oleh arus dalam medium berair, relatif lebih besar. Hal ini
juga dialami oleh bakteri yang motil, termasuk respon kemotatis yang sesuai dengan gradien
nutrisi. Pada medium air, bakteri oligotropik tumbuh secara aktif walaupun lambat, sedangkan
banyak diantaranya tidak dapat mengambil makanan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan
lalu hanya bertahan pada keadaan kekurangan nutrisi. Keadaan ini memberikan beberapa
kesimpulan adanya kemampuan bakteri untuk bertahan (revert) dalam keadaan diam (sesil).
Seringkali kekurangan nutrisi disertai oleh mengecilnya ukuran dan respirasi endogenous,

peningkatan hidrofobisitas permukaan sel dan meningkatkan pelekatan. Faktor ini membuat
bakteri cenderung melekat ke permukaan padat, dimana kesempatan untuk mendapatkan nutrisi
lebih tinggi (Evi Damayanti, 2001).

REFERENSI
Evi Damayanti, 2001. Karakterisasi Biofilm pada Escherichia coli Enteropatogen. Skripsi.
Jurusan Biologi, FMIPA Institut Pertanian Bogor.
Jasmin Gattlen, Caroline Amberg, manfred Zinn, and Laurie Mauclaire. 2010. Biofilms Isolated
from Washing Machines from Three Continents and Their Tolerance to a Standard
Detergent. Biofouling Journal. Vol 26, no 8, November 2010, 873-882.
Rheinheimer, G. 2000. The Aquatic Microbiology. John Wileys & Sons, Chicester. Toronto.

Suriawiria. 2001. Mikrobiologi Air. Penerbit Alumni, Bandung.


Yoo, ES. 2000. Biological and Chemichal Mechanism of Reductive Decolorization od Azzo dyes
biofilm. The Dissertation. Genehmitge, Berlin.