Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KIMIA MEDISINAL
HUBUNGAN STRUKTUR, KELARUTAN DAN
AKTIVITAS BIOLOGIS OBAT

DISUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Rifani Damacena
Sofiah Atika
Ade Vinska Rahmawati
Adibatul Fitriyah
Adiyat Anjas Firshada
Aulia Nurwidyawati
Belinda Puteri Arsita
Beta Sukmawati
Annisya Noor Nikmah

(1041211151)
(1041311146)
(1041411001)
(1041411002)
(1041411004)
(1041411030)
(1041411036)
(1041411038)
(1041511016)

STIFAR YAYASAN PHARMASI SEMARANG


TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin
masih banyak

kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat

mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Semarang, November 2015


Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
I.

LATAR BELAKANG................................................................................. 1

II. TUJUAN................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
I.

AKTIVITAS BIOLOGIS SENYAWA SERI HOMOLOG................................4

II.

HUBUNGAN KOEFISIEN PARTISI DENGAN EFEK ANESTESI SISTEMIK. .8

III.

PRINSIP FERGUSON...........................................................................9

1. Senyawa Berstruktur Tidak Spesifik...................................................13


2. Senyawa Berstruktur Spesifik............................................................15
BAB III.......................................................................................................... 19
PENUTUP...................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 20

iii

BAB I
PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG
Sifat fisika kimia partikel-partikel obat memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam kinetika pelarutan. Secara umum pelarutan obat dalam media berair
memiliki peran yang penting sebelum diabsorpsi dalam suatu sistem biologi. Obat
harus berada dalam bentuk terlarut pada saluran cerna agar dapat diabsorpsi
dengan baik oleh tubuh.
Parameter kelarutan suatu obat memiliki korelasi terhadap kecepatan
absorpsi membran dalam sistem biologis. Kelarutan suatu senyawa obat bergantung
pada struktur senyawa obat tersebut dan struktur media. Suatu senyawa obat harus
mampu menembus membran biologis dan mencapai jaringan target dalam jumlah
yang cukup untuk dapat memberikan aktivitas. Parameter sifat fisika kimia yang
paling

berperan

dalam

proses

distribusi tersebut adalah parameter lipofilik.

Parameter sifat lipofilik yang sering digunakan dalam hubungan kuantitatif struktur
aktivitas salah satunya adalah logaritma koefisien partisi.
Koefisien partisi (log P) merupakan salah satu sifat fisika kimia yang penting
dalam menggambarkan aktivitas biologis suatu senyawa. Koefisien partisi dapat
digunakan untuk menunjukkan kemampuan suatu molekul dalam menembus
membran biologis yang bersifat seperti halnya lapisan lemak . Koefisien partisi
digunakan dalam persamaan matematika yang mencoba menghubungkan aktivitas
biologis suatu obat dengan karakteristik fisika dan kimianya.

II. TUJUAN
1. Untuk mengetahui hubungan antara struktur, kelarutan dan aktivitas biologis
obat
2. Untuk mengetahui pengaruh kelarutan dan koefisien partisi terhadap aktivitas
biologis obat
1

BAB II
PEMBAHASAN

Kelarutan pada umumnya berhubungan dengan kelarutan senyawa dalam media


yang berbeda dan bervariasi diantara dua hal yang ekstrem, yaitu pelarut polar, seperti
air, dan pelarut nonpolar seperti lemak. Sifat hidrofilik atau lipofobik berhubungan
dengan kelarutan dalam air, sedang sifat lipofilik atau hidrofobik berhubungan dengan
kelarutan dalam lemak.
Gugus-gugus yang dapat meningkatkan kelarutan molekul dalam air disebut gugus
hidrofilik (lipofobik atau polar), sedang gugus yang dapat meningkatkan kelarutan
molekul dalam lemak disebut gugus lipofilik (hidrofobik atau nonpolar).
Contoh gugus hidrofilik dan lipofilik
Sifat
Hidofilik (makin Kuat
ke kanan makin Sedang

Gugus
-OSO2ONa, -COONa, -SO2Na, -OSO2H
-OH, SH, -O-, =C=O, -CHO, -NO2, -NH2, -NHR,

menurun)

-NR2, -CN, -CNS, -COOH, -COOR, -OPO 3H2,


Ikatan

-OS2O2H
tak -CCH, -CH=CH2

jenuh
Lipofilik

Rantai hidrokarbon alifatik, alkil, aril, hidrokarbon,


polisiklik

Gugus halogen memiliki sifat yang khas, walaupun mempunyai efek


elektronegatif relatif kuat tetapi bila disubtitusikan pada cincin aromatik akan bersifat
lipofilik. Substitusi pada rantai alifatik gugus I, -Br, dan Cl akan bersifat lipofilik,
sedang gugus F bersifat hidrofilik

Gambar 1. Hubungan sifat hidrofilik dan Lipofilik dari Senyawa


Sifat kelarutan pada umumnya berhubungan dengan aktivitas biologis dari
senyawa seri homolog. Sifat kelarutan juga berhubungan erat dengan proses absorpsi
obat. Hal ini penting karena intensitas aktivitas biologis obat tergantung pada derajat
absorpsinya.
Overton (1901), mengemukakan konsep bahwa kelarutan senyawa organik
dalam lemak berhubungan dengan mudah atau tidaknya penembusan membran sel.
Senyawa nonpolar bersifat mudah larut dalam lemak, mempunyai nilai koefisien partisi
lemak/air besar sehingga mudah menembus membran sel secara difusi pasif.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa makin besar nilai koefisien partisi (P)
kloroform/air dari bentuk tak terionisasi turunan barbiturat, makin besar persentase obat
yang diabsorpsi.

Gambar 2. Hubungan koefisien partisi lemak/air (P) terhadap absorpsi bentuk tak
terionisasi beberapa obat turunan barbiturat
3

Pada Tabel 2 terlihat bahwa semakin meningkat sifat kelarutan dalam kloroform
dari turunan isatin--tiosemikarbason makin meningkat aktivitas antivirusnya, oleh
karena makin besar kelarutan dalam lemak makin mudah senyawa menembus membran
sel virus.
4
5
3

1
7

H
N N C NH2
S

N
H

Struktur Umum
Substituen (R)
7-COOH

Kelarutan dalam Kloroform Aktivitas antivirus relatif


0
0

5-OCH3

0,03

4-CH3

3,4

4-Cl

10

8,6

6-F

16

39,8

7-Cl

29

85

Tidak tersusbtitusi 32
100
Tabel 2. Hubungan sifat kelarutan dalam lemak dan aktivitas antivirus turunan isatin-tiosemikarbason

I.

AKTIVITAS BIOLOGIS SENYAWA SERI HOMOLOG


Pada beberapa seri homolog senyawa sukar terdisosiasi, yang perbedaan
struktur hanya menyangkut perbedaan jumlah dan panjang rantai atom C, intensitas
aktivitas biologisnya tergantung pada jumlah atom C.
Contoh senyawa semi homolog:
1. n-Alkohol, alkilresorsinol, alkilfenol dan alkilkresol (antibakteri).
2. Ester asam para-aminobenzoat (anestesi setempat).
3. Alkil 4,4-stilbenediol (hormon estrogen).
Makin panjang rantai samping atom C, semakin bertambah bagian molekul
yang bersifat non polar dan terjadi perubahan sifat fisik, seperti kenaikan titik didih,
4

berkurangnya kelarutan dalam air, meningkatnya koefisien partisi lemak/air,


tegangan permukaan dan kekentalan. Perubahan sifat fisik ini diikuti dengan
peningkatan aktivitas biologis sampai tercapai aktivitas maksimum. Bila panjang
rantai atom C terus ditingkatkan akan terjadi penurunan aktivitas sacra drastis. Hal
ini disebabkan dengan makin bertambah jumlah atom C, makin berkurang kelarutan
senyawa dalam air, yang berarti kelarutan dalam cairan luar sel juga berkurang,
sedang kelarutan senyawa dalam cairan luar sel berhubungan dengan proses transpor
obat ke tempat aksi atau reseptor. Oleh karena itu kelarutan dan koefisien partisi
lemak/air merupakan sifat fisik penting senyawa seri homolog untuk menghasilkan
aktivitas biologis.
Hal di atas digambarkan dalam bentuk grafik oleh Ferguson, dengan
memplot log kadar toksik terhadap dua mikroorganisme dan log kelarutan dari nalkohol, seperti yang terlihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan kelarutan dan aktivitas anti bakteri n-alkohol primer terhadap
kuman Bacillus typhosus (A) dan Staphylococcus aureus (B). C adalah garis
kejenuhan.

Gambar 4. Hubungan jumlah atom C dengan aktivitas antibakteri seri homolog nalifatis alkohol
Dari grafik pada diatas terlihat adanya garis kejenuhan (C). senyawa di
bawah garis kejenuhan menunjukkan bahwa pada kadar tersebut larutan jenuhnya
dapat menimbulkan efek antibakteri, sedang di atas garis kejenuhan senyawa tidak
mempunyai kelarutan yang cukup untuk memberikan efek bakterisid.
Titik potong antara garis aktivitas senyawa seri homolog dan garis
kejenuhan tergantung pula pada daya tahan bakteri. Bakteri yang lebih kebal
(resisten) memerlukan kadar senyawa yang lebih tinggi untuk membunuhnya,
sehingga titik potong terjadi lebih awal.
Contoh seri homolog :
1.
Seri homolog n-alkohol
Seri homolog n-alifatik alkohol primer, pada jumlah atom C1-C7menunjukkan
aktivitas antibakteri terhadap Bacillus thyposus yang semakin meningkat dan
mencapai maksimum pada jumlah atom C = 8 (oktanol). Hal ini disebabkan makin
panjang rantai atom C, makin bertambah bagian molekul yang bersifat non polar,
koefisien partisi lemak/air meningkat, penembusan senyawa ke dalam membran
bakteri meningkat, sehingga aktivitas antibakteri juga meningkat, sampai tercapai
aktivitas maksimum.
Pada jumlah atom C lebih besar 8, aktivitas menurun secara drastis. Hal ini
disebabkan senyawa mempunyai kelarutan dalam air sangat kecil, yang berati

senyawa praktis tidak larut dalam cairan luar sel, sedang kelarutan senyawa dalam
cairan luar selberhubungan dengan proses transpor obat ke tempat aksi atau reseptor.
Terhadap Staphylococcus aureus aktivitas mencapai maksimum pada jumlah atom C
= 5 (amilalkohol).
Rantai alkohol yang bercabang, seperti alkohol sekunder dan tersier, mempunyai
kelarutan dalam air lebih besar, nilai koefisien partisi lemak/air lebih rendah
dibanding alkohol primer sehingga aktivitas antibakterinya lebih kecil. Contoh :
aktivitas n-heksanol 2 kali lebih besar dibanding heksanol tersier.
Adanya ikatan rangkap dapat meningkatkan kelarutan dalam airdan menurunkan
aktivitas antibakteri. Alkohol dengan berat molekul besar, seperti setilalkohol,
praktis tidak larut dalam air sehingga tidak berkhasiat sebagai antibakteri.
2.
Seri homolog 4-n-alkilresorsinol
Aktivitas
antibakteriseri
homolog

4-nalkilresorsinol

terhadap Bacillus

typhosus mencapai maksimum pada jumlah atom C = 6, yaitu 4-n-heksilresorsinol


(Gambar 4), sedang terhadap Staphylococcus aureusaktivitas mencapai maksimum
pada jumlah atom C = 9 (4-n-nonil-resorsinol). Hal tersebut menunjukkan bahwa
ada perbedaan sensitivitas dari senyawa seri homolog terhadap kuman yang berbeda.

Gambar 4. Aktivitas antibakteri seri homolog 4-n-alkilresorsinol terhadapBacillus


typhosus.

3.

Seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat

Hubungan perubahan struktur seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat (PHB),


koefisien partisi lemak/air dan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus
aureus dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hubungan Struktur seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat dengan
nilai koefisien partisi lemak/air dan aktivitas antibakteri terhadapStaphylococcus
aureus
Ester PHB

Koefisien Partisi

Koefisien

Fenol

terhadapStaphylococcus
aureus
Metil

1,2

2,6

Etil

3,4

7,1

n-Propil

13

15

Isopropil

7,3

13

Alil

7,6

12

n-Butil

17

37

Benzil

119

83

Dari Tabel 3 terlihat bahwa turunan isopropil dan alil mempunyai koefisien
fenol yang lebih rendah dibanding turunan n-propil, karena adanya percabangan dan
ikatan rangkap akan menurunkan nilai koefisien partisi lemak/air, penembusan
membran bakteri jadi menurun, sehingga aktivitas antibakterinya juga menurun.
Juga terlihat bahwa makin besar nilai koefisien partisi lemak/air, makin meningkat
aktivitas antibakteri senyawa, dan belum mencapai keadaan optimum.

II.

HUBUNGAN KOEFISIEN PARTISI DENGAN EFEK ANESTESI SISTEMIK


Koefisien partisi pertama kali dihubungkan dengan aktivitas biologis, yaitu
efek

hipnotik

dan

anestesi,

oleh Overtondan Meyer (1899).

obat-obat
Mereka

penekan

memberikan

sistem
tiga

saraf

pusat

postulat

yang

berhubungan dengan efek anestesi suatu senyawa, yang dikenal dengan teori lemak,
sebagai berikut :
8

a. Senyawa kimia yang reaktif dan mudah larut dalam lemak, seperti eter,
hidrokarbon dan hidrokarbon terhalogenasi, dapat memberikan efek narkosis
pada jaringan hidup sesuai dengan kemampuannya untuk terdistribusi ke dalam
jaringan sel.
b. Efek terlihat jelas terutama pada sel-sel yang banyak mengandung lemak,
seperti sel saraf.
c. Efisiensi anestesi atau hipnotik tergantung pada koefisien partisi lemak/air atau
distribusi senyawa dalam fasa lemak dan fasa air jaringan.
Dari postulat di atas disimpulkan bahwa ada hubungan antara aktivitas
anestesi dengan koefisien partisi lemak/air. Teori lemak hanya mengemukakan
afinitas suatu senyawa terhadpa tempat aksi saja dan tidak menunjukkan bagaimana
mekanisme kerja biologisnya dan juga tidak dapat menjelaskan mengapa suatu
senyawa yang mempunyai koefisien partisi lemak/air tidak terlalu dapat
menimbulkan efek anestesi.
Teori anestesi di atas kemudian dilengkapi dengan teori-teori anestesi
sistemik lain, yang berdasarkan sifat fisik yang lain yairu ukuran molekul
(teoriWulf-Featherstone) dan pembentukan mikrokristal (teori Pauling).

III.

PRINSIP FERGUSON
Banyak senyawa kimia dengan struktur berbeda tetapi mempunyai sifat fisik
sama, seperti ester, kloroform dan nitrogen oksida, dapat menimbulkan efek narkosis
atau anestesi sistemik. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik lebih berperan
dibanding sifat kimia.
Dari percobaan diketahui bahwa efek anestesi cepat terjadi dan
dipertahankan pada tingkat yang sama asalkan ada cadangan obat dalam cairan
tubuh. Bila cadangan tersebut habis maka efek anestesi segera berakhir. Hal tersebut
menunjukkan bahwa ada keseimbangan kadar obat pada fasa eksternal atau cairan
luar sel dan biofasa, yaitu fasa pada tempat aksi obat dalam organisme. Pada banyak
senyawa seri homolog aktivitas akan meningkat sesuai dengan kenaikan jumlah
atom C.

Fuhner (1904), mendapatkan bahwa untuk mencapai aktivitas sama, anggota


seri homolog yang lebih tinggi memerlukan kadar lebih rendah, sesuai persamaan
deret ukur sebagai berikut : 1/31, 1/32, 1/33, ......... 1/3n
Hal tersebut terjadi pada seri homolog obat penekan sistem saraf pusat,
seperti turunan alkohol, keton, amin, ester, uretan dan hidrokarbon.
Perubahan sifat fisik tertentu dari suatu seri homolog, seperti tekanan uap,
kelarutan dalam air, tegangan permukaan dan distribusi dalam pelarut yang saling
tidak campur, kadang-kadang juga sesuai dengan deret ukur.
Nilai logaritma sifat-sifat fisik n-alkohol primer bila dihubungkan dengan
jumlah atom C ternyata memberikan hubungan yang linier dan hal ini dapat dilihat
pada Gambar 5.
Menurut Ferguson, kadar molar toksik sangat ditentukan oleh keseimbangan
distribusi pada fasa-fasa yang heterogen, yaitu fasa eksternal, yang kadar
senyawanya dapat diukur, dan biofasa. Ferguson menyatakan bahwa sebenarnya
tidak perlu menentukan kadar obat dalam biofasa atau reseptor karena pada keadaan
kesetimbangan kecenderungan obat untuk meninggalkan biofasa dan fasa eksternal
adalah sama, walaupun kadar obat dalam masing-masing fasa mungkin berbeda.
Kecenderungan obat untuk meninggalkan fasa disebut aktivitas termodinamik.
Untuk menjelaskan kecenderungan obat dalam meninggalkan biofasa dan
fasa eksternal, derajat kejenuhan masing-masing fasa merupakan pendekatan yang
cukup beralasan.

10

Gambar 5. Hubungan sifat-sifat n-alkohol primer dengan jumlah atom C.


Keterangan :
1. Kelarutan dalam air (mol x 10-6/l)
2. Kadar toksis terhadap Bacillus typhosus (mol x 10-6/l)
3. Kadar yang diperlukan untuk menurunkan tegangan permukaan air menjadi
50dynes/cm (mol x 10-6/l)
4. Tekanan uap pada 25C (mm x 104)
5. Koefisien partisi air/minyak biji kapas ( x 10-3)
Aktivitas termodinamik (a) dari obat yang berupa gas atau uap dapat dihitung
melalui persamaan sebagai berikut :
a = Pt/Ps
Pt

tekanan parsial senyawa dalam larutan, yang diperlukan untuk

menimbulkan efek biologis.


Ps : tekanan uap jenuh senyawa.
Aktivitas termodinamik (a) dari obat yang berupa larutan dapat dihitung melalui
persamaan sebagai berikut :
a = St/So
St : kadar molar senyawa yang diperlukan untuk menimbulkan efek biologis.
So : kelarutan senyawa.
Karena harga Ps dan So tetap maka dimungkinkan untuk menentukan dan
mengamati perubahan Pt dan St. Bila senyawa memiliki tekanan parsial tinggi atas
kadar dalam fasa eksternal tinggi maka perbandingan P t/Ps ataun St/Sobesar, biasanya
berkisar antara 1-0,01, hal ini berarti bahwa senyawa didistribusikan ke seluruh
organisme tanpa diikat secara tetap dalam sel dan keseimbangan terjadi pada fasa
eksternal dan biofasa.
Demikian pula sebaliknya bila perbandingan Pt/Ps ataun St/So rendah,
biasanya kurang dari 0,01, senyawa akan terikat pada reseptor tertentu dalam sel
organisme dan keseimbangan antara obat dan reseptor terjadi pada sel atau di
dalamnya.

11

Pada tabel berikut terlihat bahwa senyawa 1 sampai 4, menunjukkan aktivitas


termodinamik yang lebih besar dari 0,01, dan aktivitas biologis dihasilkan oleh sifat
kimia fisika tertentu dari senyawa dan struktur senyawa bersifat tidak spesifik.
Tabel 4. Penghambatan enzim suksinat dehidrogenase dan aktivitas termodinamik
Senyawa

Kadar

molar

yang

menyebabkan

Aktivitas

penghambatan 50% masukan oksigen

termodinamik

1.

Etiluretan

0,65

0,117

2.

Feniluretan

0,003

0,20

3.

Propionitril

0,48

0,24

4.

Valeronitril

0,08

0,36

5.

Vanilin

0,011

0,0002

Vanilin mempunyai nilai aktivitas termodinamik sangat rendah, lebih kecil


dari 0,01, dan diduga aktivitas biologisnya dihasilkan oleh struktur kimia obat yang
spesifik.
Berdasarkan model kerja farmakologisnya, secara umum obat dibagi menjadi
dua golongan yaitu senyawa berstruktur tidak spesifik dan senyawa berstruktur
spesifik.
1.

Senyawa Berstruktur Tidak Spesifik

Senyawa berstruktur tidak spesifik adalah senyawa dengan strutkur kimia bervariasi,
tidak berinteraksi dengan reseptor spesifik, dan aktivitas biologisnya tidak secara
langsung dipengaruhi oleh struktur kimia tetapi lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat
kimia fisika, seperti derajat ionisasi, kelarutan, aktivitas termodinamik, tegangan
permukaan dan redoks potensial. Terlihat bahwa efek biologis terjadi karena
akumulasi obat pada daerah yang penting dari sel sehingga menyebabkan
ketidakteraturan rantai proses metabolisme.
Senyawa berstruktur tidak spesifik menunjukkan aktivitas fisik dengan karakteristik
sebagai berikut :
a.

Efek biologis berhubungan langsung dengan aktivitas termodinamik, dan


memerlukan dosis yang relatif besar.
12

b.

Walaupun perbedaan struktur kimia besar, asal aktivitas termodinamik hampir

c.
d.

sama akan memberikan efek yang sama.


Ada kesetimbangan kadar obat dalam biofasa dan fasa eksternal.
Bila terjadi kesetimbangan, aktivitas termodinamik masing-masing fasa harus

e.

sama.
Pengukuran aktivitas termodinamik pada fasa eksternal juga mencerminkan

f.

aktivitas termodinamik biofasa.


Senyawa dengan derajat kejenuhan sama, mempunyai aktivitas termodinamik
sama sehingga derajat efek biologis sama pula. Oleh karena itu larutan jenuh
dari senyawa dengan struktur yang berbeda dapat memberikan efek biologis
sama.

Contoh senyawa berstruktur tidak spesifik :


a.

Obat anestesi sistemik yang berupa gas atau uap, seperti etil klorida, asetilen,
nitrogen oksida, eter dan kloroform. Kadar isoanestesi bervariasi antara 0,05-

b.

100% sedang aktivitas termodinamik variasinya berkisar antara 0,01-0,05.


Insektisida yang mudah menguap dan bakterisida tertentu seperti timol, fenol,
kresol, n-alkohol dan resorsinol.

Nama

uap

Gas/Uap

mm.

(Ps)

Kadar
Anestesi

P parsial (Pt)
(%

(a) (Pt/Ps)

mm.

vol)
Nitrogen
oksida
Etilen
Asetilen
Etil klorida
Etil eter
Vinil
klorida
Etil

59.300

100

760

0,01

49.500

80

610

0,01

51.700

65

495

0,01

1.780

38

0,02

830

38

0,05

760

30

0,01

725

1,9

14

0,02

324

0,5

0,01

13

bromida
Kloroform

Tabel 5. Hubungan kadar isoanestesi beberapa obat anestesi, yang berupa uap atau
gas, dengan aktivitas termodinamik, pada manusia (pada suhu 37C)

Nama Obat

Kadar Bakterisid

Kelarutan

(St), molar

molar, 25C

(So)

(a) (St/So)

14

Timol

0,0022

0,0057

0,38

Oktanol

0,0034

0,004

0,88

o-Kresol

0,039

0,23

0,17

Fenol

0,097

0,90

0,11

Anilin

0,17

0,40

0,44

Sikloheksanol

0,18

0,38

0,47

Metilpropilketon

0,39

0,70

0,56

Metiletilketon

1,25

3,13

0,40

Butiraldehid

0,39

0,51

0,76

Propaldehid

1,08

2,88

0,37

Resorsinol

3,09

6,08

0,54

Aseton

3,89

0,40

Metanol

10,8

0,33

Dengan membandingkan nilai St dan So dari metanol dan oktanol dapat diketahui
bahwa obat yang aktivitasnya tinggi mempunyai kelarutan dalam air rendah atau
kelarutan dalam lemak besar.

2.

Senyawa Berstruktur Spesifik

Senyawa berstruktur spesifik adalah senyawa yang memberikan efeknya dengan


mengikat reseptor atau aseptor yang spesifik.

Mekanisme kerjanya dapat melalui salah satu cara berikut yaitu :


a.

Bekerja pada enzim, yaitu dengan cara pengaktifan, penghambatan atau


pengaktifan kembali enzim-enzim tubuh.

15

b.

Antagonis, yaitu antagonis kimia, fungsional, farmakologis atau antagonis

c.

metabolik.
Menekan fungsi gen, yaitu dengan menghambat biosintesis asam nukleat atau

d.

sintesis protein.
Bekerja pada membran, yaitu dengan mengubah membran sel dan
mempengaruhi sistem transpor membran sel.

Aktivitas biologis senyawa berstruktur spesifik tidak tergantung pada aktivitas


termodinamik, nilai a lebih kecil dari 0,01, tetapi lebih tergantung pada struktur
kimia yang spesifik.
Kereaktifan kimia, bentuk, ukuran, dan pengaturan stereokimia molekul, distribusi
gugus fungsional, efek induksi dan resonansi, distribusi elektronik dan interaksi
dengan reseptor mempunyai peran yang menentukan untuk terjadinya aktivitas
biologis.
Senyawa berstruktur spesifik mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.
b.
c.

Efektif pada kadar yang rendah.


Melibatkan kesetimbangan kadar obat dalam biofasa dan fasa eksternal.
Melibatkan ikatan-ikatan kimia yang lebih kuat dibanding ikatan pada senyawa

d.
e.
f.

yang berstruktur tidak spesifik.


Pada keadaan kesetimbangan aktivitas biiologisnya maksimal.
Sifat fisik dan kimia sama-sama berperan dalam menentukan efek biologis.
Secara umum mempunyai struktur dasar karakteristik yang bertanggung jawab

g.

terhadap efek biologis senyawa analog.


Sedikit perubahan struktur dapat mempengaruhi secara drastis aktivitas biologis
obat.

Contoh obat berstruktur spesifik antara lain : analgesik (morfin), antihistamin


(difenhidramin), diuretika penghambat monoamin oksidase (asetazolamid) danadrenergik (salbutamol).

1.

Senyawa Kolinergik

16

2.

Turunan feniletilamin

3.

Obat antikanker turunan pirimidin

Perbedaan antara senyawa berstruktur spesifik dan non spesifik tidak cukup
dipandang dari satu atau dua perbedaan karakteristik senyawa tetapi harus dipandang
sifat atau karakteristik secara keseluruhan.
Sering pada obat tertentu tidak mempunyai struktur yang mirip tetapi menunjukkan
efek farmakologis yang sama, dan perubahan sedikit struktur tidak mempengaruhi
efek.
Sebagai contoh adalah obat diuretik yang mempunyai struktur kimia sangat
bervariasi, contoh turunan merkuri organik, turunan sulfamid, turunan tiazid, dan
spironolakton. Sedikit modifikasi struktur tidak mempengaruhi aktivitas diuretikdari
masing-masing turunan. Ini merupakan salah satu karakteristik dari senyawa
berstruktur tidak spesifik, padahal kenyataannya obat diuretik termasuk golongan
senyawa berstruktur spesifik. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa obat diuretik
17

menghasilkan respons farmakologis yang sama tetapi masing-masing turunan


mempengaruhi proses biokimia yang berbeda, jadi mekanisme aksinya berbeda.

Turunan merkuri organik, seperti klormerodrin, bekerja sebagai diuretik dengan


mengikat gugus SH enzim Na, K-dependent ATP-ase, yang bertanggung jawab
terhadap produksi energi yang diperlukan untuk reabsorpsi Na di membran tubulus,
turunan sulfamid, seperti asetazolamid, bekerja dengan menghambat enzim
karbonik anhidrase, turunan tiazid, seperti hidriklorotiazid, menghambat reabsorpsi
Na di tubulus ginjal, dan spironolakton bekerja sebagai antagonisaldosteron,
senyawa yang mengatur keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Fenomena di atas menunjang pengertian bahwa mekanisme aksi obat pada
tingkat molekul dapat melalui beberapa jalan, dan ini memberi penjelasan mengapa
obat dengan tipe struktur berbeda dapat menunjukkan respons farmakologis yang
sama. Sebenarnya sulit memisahkan antara senyawa berstruktur tidak spesifik dan
spesifik karena banyak senyawa yang berstruktur spesifik, seperti antibiotika turunan
penisilin, tidak berinteraksi secara spesifik dengan reseptor pada tubuh manusia,
tetapi berinteraksi dengan reseptor spesifik yang terlibat pada proses pembentukan
dinding sel bakteri. Jadi aktivitas antibakterinya terutama ditentukan oleh sifat kimia
fisika seperti sifat lipofilik dan elektronik yang berperan pada proses distribusi obat
sehingga senyawa dapat mencapai jaringan target dengan kadar yang cukup besar.

18

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sifat kelarutan pada umumnya berhubungan dengan aktivitas biologis dari senyawa seri
homolog. Sifat kelarutan juga berhubungan erat dengan proses absorpsi obat. Hal ini
penting karena intensitas aktivitas biologis obat tergantung pada derajat absorpsinya.

19

DAFTAR PUSTAKA

Siswandono dan Soekardjo, Bambang. 2000. Kimia Medisinal Edisi Kedua Jilid I.
Surabaya: Airlangga University Press

20