Anda di halaman 1dari 15

Journal Reading

EFEK-EFEK PADA PERILAKU DAN EMOSIONAL


AKIBAT PEMBERIAN ANESTESI UMUM
YANG BERULANG PADA ANAK-ANAK

Oleh:
Ayu Sri Mega Astuti 0910311021
Metta Yulia Utami 1010313002
Tuti Angriani 1110313097

Preseptor:
dr. Boy Suzuky, Sp.An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2016

EFEK-EFEK PADA PERILAKU DAN EMOSIONAL


AKIBAT PEMBERIAN ANESTESI UMUM
YANG BERULANG PADA ANAK-ANAK

PENDAHULUAN
Para peneliti mempertanyakan keamanan anestesi umum untuk perkembangan
otak pada anak usia dini, karena jutaan anak-anak menjalani operasi dengan anestesi
umum di seluruh dunia setiap tahun. Banyak penelitian hewan dan manusia yang
telah dilakukan untuk mencoba menemukan jawaban untuk pertanyaan ini. Memang,
ada data preklinis dan klinis yang menunjukkan kemungkinan neurotoksisitas
pediatrik pada paparan anestesi umum.(1-4)
Studi eksperimental pada hewan telah menunjukkan bahwa ketika otak
mamalia yang sedang berkembang terpapar berbagai agen anestesi umum, dapat
menyebabkan apoptosis neuronal (kematian sel terprogram) atau neurodegenerasi .(6-9)
Paparan pada tikus muda terhadap inhalasi sevoflurane bisa menyebabkan defisit
belajar dan perilaku sosial yang abnormal yang mirip dengan gangguan autisme.
Sama halnya, anestesi dengan sevoflurane 3% selama 2 jam setiap hari selama 3 hari
menginduksi penurunan kognitif seperti fungsi mental yang buruk dan meningkatkan
kadar mediator inflamasi di otak pada tikus muda tapi tidak pada tikus dewasa.(9)
Ada beberapa kelompok obat anestesi umum yang berbeda yang digunakan
secara ntravena (IV), seperti benzodiazepin, barbiturat, ketamin, propofol, dan
etomidate; untuk anestesi inhalasi, seperti halotan, isofluran, sevofluran, desflurane,
dan nitrous oksida. Meskipun senyawa ini secara kimiawi berbeda, tetapi mekanisme
kerjanya dalam menghambat aktivitas neuron hampir sama.(10,11) Berbagai peneliti
mengembangkan modalitas pengukuran perilaku baru yang divalidasi dalam beberapa
penelitian dengan keandalan yang baik, seperti child behaviour checklist (CBCL)
untuk anak usia 1-5 tahun.(12) CBCL telah digunakan untuk menguji perilaku jangka
panjang setelah operasi di bawah anestesi umum. Tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui pengaruh paparan anestesi umum yang berulang (dua kali)
terhadap perilaku anak berusia 1-5 tahun, dibandingkan dengan kelompok kontrol
yaitu anak-anak yang sehat yang dating ke klinik vaksinasi dan tidak memiliki
riwayat anestesi.
BAHAN DAN METODE
Proposal penelitian dan pengumpulan data telah disetujui oleh rumah sakit
penelitian dan Komite Etika. Kelompok pertama dari penelitian ini adalah anak yang
menjalani operasi dan anestesi umum berulang (Kelompok I). Kelompok pertama
diambil dari anak yang datang ke klinik untuk penilaian rutin pra operasi setelah
paparan anestesi kedua, tapi sebelum operasi ketiga. Rekrutmen juga termasuk anakanak yang datang ke klinik rawat jalan bedah untuk tindak lanjut pasca operasi
setelah operasi kedua. Yang termasuk kriteria inklusi: Usia berkisar dari 1 sampai 5
tahun, American Society of Anesthesiologists (ASA) I-II, memiliki riwayat anestesi
umum dua kali dan bebas dari penyakit akut atau kronis. Dari beberapa yang datang,
35 orang tua anak-anak setuju untuk berpartisipasi. Kelompok studi disesuaikan
dengan jumlah yang sama dari anak-anak yang sehat, yang menghadiri klinik
vaksinasi, dan tidak memiliki riwayat anestesi, sebagai kelompok kontrol (kelompok
II). Tujuan penelitian dijelaskan kepada orang tua sebelum memperoleh persetujuan,
dan dilakukan penekanan pada pilihan untuk tidak berpartisipasi. Informasi dari
peserta dipastikan akan terjaga kerahasiaannya.
METODE PENGUMPULAN DATA
Data sosiodemografi yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah, usia
dalam bulan, jenis kelamin, tempat tinggal, dan berat badan melalui wawancara
dengan orang tua, terutama ibu, di dua kelompok penelitian. Wawancara dilakukan di
hari yang sama oleh perawat yang terlatih di bawah pengawasan para peneliti. Orang
tua diminta mendampingi anak-anak untuk mengisi CBCL dan DSM berorientasi
skala, yang merupakan kelompok kuesioner mandiri yang mensurvei berbagai
gangguan perilaku dan kognitif yang ditemui pada anak-anak berumur 1 sampai 5

tahun.(12) Waktu penyelesaian CBCL dan DSM adalah setelah 2 kali anestesi umum.
Adapun kelompok kontrol yang sehat, waktunya selama kunjungan klinik vaksinasi.
MANAJEMEN ANESTESI
Grafik pasien dalam kelompok anestesi dilihat secara retrospektif dari
frekuensi dan detail anestesi umum. Semua kasus dilakukan oleh tim anestesi yang
sama dalam jangka waktu 3-4 tahun, sehingga manajemen anestesi yang dilakukan
hampir sama. Semua anak datang ke Day Surgery Unit dan dipulangkan pada hari
yang sama. Semua anak diberi premedikasi midazolam oral 0,5 mg / kg 20-30 menit
sebelum induksi anestesi. Anak-anak diinduksi dengan sevoflurane 5-8% dalam 50%
O2-N2O, dan kemudian dihentikan ketika kesadaran hilang dan akses IV diperoleh.
Atropin diberikan dalam dosis 10-20 mcg / kg untuk mengobati bradikardia. Fentanyl
dan atracurium diberikan dalam dosis 1 mcg / kg dan 0,5 mg / kg, masing-masing,
untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal. Anak-anak dipertahankan pada ventilasi
tekanan-terkontrol dengan tekanan inspirasi dipertahankan antara 15 dan 19 cm H2O
dan frekuensi nafas disesuaikan untuk mempertahankan normocapnia. Anestesi
dipertahankan dengan sevoflurane dalam 50% campuran O2-N2O, dan injeksi
fentanil disesuaikan dengan keadaan hemodinamik. Pada akhir operasi sevofluran
dihentikan dan relaksasi otot diganti dengan neostigmin dosis 50 mcg / kg
dikombinasikan dengan atropin 10-15 mcg / kg, dan kemudian dilakukan ekstubasi.
Satu kasus (orkidopeksi) dari kelompok II, mengalami kejang ekstubasi yang di
tatalaksana langsung dan berhasil dengan ventilasi tekanan positif. Pasien dikirim ke
ruang pemulihan sekitar 30-45 menit, dan kemudian kebagian postrecovery. Anakanak dipulangkan ketika mereka memenuhi kriteria pulang. Untuk kasus gigi, tabung
endotrakeal dimasukkan melalui hidung dan dikeluarkan sebelum ekstubasi.
PENGUKURAN PEDIATRIK
Sebuah wawancara semi psikiatri terstruktur berdasarkan CBCL 1-5 dan
Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Keempat, kriteria Revisi
untuk anak dan kesehatan mental remaja diberikan kseluruh peserta.(14)

Dalam CBCL 1-5 terdapat 99 pertanyaan yang menggambarkan masalah


spesifik perilaku, emosional, dan sosial yang ada pada anak-anak prasekolah. Ada
juga item terbuka untuk menggambarkan masalah tambahan. Para orang tua diminta
untuk menjawab pertanyaan dengan skala nilai 0-3: 0 untuk tidak benar dari anak; 1
untuk agak atau kadang kadang benar, dan 2 untuk sangat benar atau sering benar.
Bagian CBCL perilaku/emosional dibagi menjadi dua dimensi: Internalisasi
(emosional) dan eksternalisasi (perilaku), dan dibagi lagi menjadi sub-skala. Bagian
yang bernilai pada skala sindrom itu ditetapkan sebagai reaksi emosional, cemas /
depresi, keluhan somatik, penarikan diri, gangguan perhatian, perilaku agresif, dan
masalah tidur. Skor untuk masalah internal dan eksternal dihitung berdasarkan
panduan CBCL. Pertanyaan terbuka meminta informasi tentang penyakit dan
kecacatan pada anak. Semakin besar skor berarti semakin besar gangguan perilaku
pada anak.
MANUAL DIAGNOSTIK DAN STATISTIK GANGGUAN MENTAL
Afektif, kecemasan, perkembangan yang pervasif, defisit perhatian/ hiperaktif,
dan permasalahan anak yang suka menantang. Seperti dalam kuesioner CBCL, orang
tua diminta untuk menjawab pertanyaan dengan nilai skala 0-3: 0 untuk tidak benar
anak, 1 untuk agak atau kadang-kadang benar, dan 2 untuk sangat benar atau sering
benar. Selanjutnya, semakin tinggi nilai semakin besar kemungkinan menderita. Versi
Arab dari CBCL dan tes DSM diberikan kepada peserta Arab dan validitas dan
reliabilitas untuk anak-anak Arab ini sudah dibuktikan dan distandardisasi.
ANALISIS STATISTIK
Semua variabel data diberi kode, masuk, dan dianalisis menggunakan Paket
Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS). Hipotesis penelitian adalah bahwa anestesi
berulang merupakan faktor risiko untuk masalah perkembangan psiko-perilaku pada
anak-anak berusia 1 -5 tahun. Untuk menjawab pertanyaan ini, data dirubah dari
data kuantitatif data kualitatif menggunakan CBCL 1-5 dan skala DSM berorientasi.

Titik potong dari masalah perilaku dan emosional dibagi menjadi hasil dikotomi
(<65) dan (65) untuk rentang normal dan makna klinis, masing-masing.
Uji deskriptif dilakukan dalam hal rata-rata, standar deviasi, atau persentase. T-test
dan uji Chi-squared dilakukan untuk menilai perbedaan antara kelompok penelitian,
tingkat signifikan statistik ditetapkan pada P <0,05. Untuk membandingkan hasil
antara kedua kelompok digunakan risiko relatif (RR) dan 95% confidence interval
(CI).
HASIL
Total populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 70 anak-anak, 35
diantaranya merupakan kelompok yang diteliti yang memiliki riwayat paparan
anestesi umum minimal sebanyak dua kali. Kelompok kontrol meliputi 35 anak-anak
sehat yang mengunjungi klinik vaksinasi dan tidak memiliki riwayat paparan anestesi.
Semua anak-anak yang dilibatkan dalam penelitian ini, baik pada kelompok yang
diteliti, maupun kelompok kontrol dicocokkan berdasarkan usia yang merupakan
mekanisme

pengukuran

utama

berdasarkan

klasifikasi

usia

CBCL

untuk

permasalahan perkembangan perilaku. Tabel 1 menunjukkan data demografik untuk


kedua kelompok penelitian. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik
dalam hal usia, berat badan, jenis kelamin, ataupun lokasi tempat tinggal antara
kelompok yang diteliti dengan kelompok kontrol.
Tabel 1. Data demografis untuk kedua kelompok penelitian
Variabel

Anak yang mendapat


paparan anestesi berulang
(n=35)

Kelompok control
(n=35)

38.310.7

39.815.9

0.6

14.11.5

14.62.6

0.3

Usia(Bulan)
Rata-rataSD
Berat (Kg)
Rata-rataSD
Jenis Kelamin n (%)

Laki-laki

17(48.6)

20(57.1)

Perempuan

18(51.4)

15(42.9)

Desa

13(37.1)

10(28.6)

Kota

22(62.9)

25(71.4)

0.6

Tempat tinggal n (%)


0.6

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok yang diteliti. SD :
Standard Deviation
Anak-anak pada kelompok yang mendapat paparan anestesi berulang
menjalani proses pembedahan yang berbeda-beda dibawah pengaruh anestesi umum
pada waktu yang berbeda-beda pula (operasi artrogram dan Hip spica cast untuk
kasus Developmental Displasia of the Hip, polydactyly, syndactyly, bibir sumbing,
graft luka bakar, sirkumsisi, orchidopexy, operasi hipospadi pada penis, hernia, dan
rehabilitasi dental). Durasi rata-rata paparan anestesi yang diterima anak-anak ini
adalah antara 87 39 menit. Kesemua anak-anak ini dengan status fisik pre-operatif
ASA I-II. Tabel 2 menampilkan scoring CBCL yang menunjukkan bahwa anak-anak
yang mendapat paparan anestesi berulang memiliki resiko mengalami kecemasan atau
depresi (RR; 95% CI = 11[1.5-80.7]), memiliki gangguan tidur (RR; 95% CI = 4.5
[1.1-19.4]), dan gangguan perhatian (RR; 95% CI = 8 [1.1-60.6]) jika dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan resiko mengalami
emosi yang reaktif, keluhan somatis, anak yang menjadi suka menyendiri, perilaku
agresif, permasalahan internalisasi atau eksternalisasi pada kedua kelompok anak
dalam penelitian ini.
Tabel 3 menampilkan scoring DSM yang menunukkan bahwa anak-anak yang
mengalami paparan anestesi berulang memiliki resiko mengalami gangguan
kecemasan (RR; 95% CI = 3.7 [1.1-12.0]), dan attention defisit/hyperactivity disorder
(ADHD) (RR; 95% CI = 3 [1.1-8.4]). Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan resiko
mengalami gangguan afektif, perkembangan yang pervasif, dan permasalahan anak
yang menjadi suka menantang antara kedua kelompok anak dalam penelitian ini.

DISKUSI
Kemungkinan terjadinya neurotoksisitas akibat proses anestesi selama
terjadinya paparan anestesi umum pada anak-anak dengan usia muda menyebabkan
peneliti mempertanyakan keamanan dari paparan anestesi selama masa anak-anak.
Penelitian ini memfokuskan kepada efek paparan anestesi umum yang berulang
terhadap perilaku anak-anak dengan usia prasekolah, yaitu antara usia 1 sampai 5
tahun. Kami menemukan bahwa anak-anak yang mendapat paparan anestesi umum
yang berulang memiliki resiko mengalami perubahan emosional dan perilaku jika
dibandingkan dengan anak-anak sehat pada kelompok usia yang sama yang tidak
mendapat paparan anestesi umum sama sekali. Kami tidak menyatakan adanya
sebuah hubungan sebab-akibat, tetapi lebih kepada hubungan antara paparan anestesi
berulang dengan konsekuensi perilaku yang ditimbulkannya.
Tabel 2. Analisis komparatif terhadap permasalahan perilaku antara anak-anak yang
mendapat paparan anestesi berulang dengan kelompok kontrol dengan menggunakan
CBCL skala 11/2-5
Variabel
Anak yang mendapat
Kelompok
RR,95% CI
paparan anestesi
control
berulang (n=35)
(n=35)
Reaktif secara emosional
Dalam batas normal (<65)

32(91.4)

34(97.1)

3(8.6)

1(2.9)

Dalam batas normal (<65)

24(68.6)

34(97.1)

Berpengaruh secara klinis


(65)

11(31.4)

1(2.9)

11(1.5-80.7)

33(94.3)

34(97.1)

2(0.2-21.1)

2(5.7)

1(2.9)

Berpengaruh secara klinis


(65)

3 (0.3-27.5)

Kecemasan/depresi

Keluhan somatic
Dalam batas normal (<65)
Berpengaruh secara klinis

(65)
Menyendiri
Dalam batas normal (<65)

32(91.4)

34(97.1)

3(8.6)

1(2.9)

Dalam batas normal (<65)

26(74.3)

33(94.3)

Berpengaruh secara klinis


(65)

9(25.7)

2(5.7)

Dalam batas normal (<65)

27(77.1)

34(97.1)

Berpengaruh secara klinis


(65)

8(22.9)

1(2.9)

Dalam batas normal (<65)

29(82.9)

33(94.3)

Berpengaruh secara klinis


(65)

6(17.1)

2(5.7)

Dalam batas normal (<65)

29(82.9)

34(97.1)

Berpengaruh secara klinis


(65)

6(17.1)

1(2.9)

Dalam batas normal (<65)

30(85.7)

33(94.3)

Berpengaruh secara klinis


(65)

5(14.3)

2(5.7)

Berpengaruh secara klinis


(65)

3(0.3-27.5)

Gangguan tidur
4.5(1.119.4)

Gangguan Atensi

8(1.1-60.6)

Perilaku Agresif

3(0.6-13.9)

Internalisasi

6(0.7-47.3)

Eksternalisasi
2.5(0.512.0)

RR : relative Risk; CI : Confidence Interval; CBCL : Child Behaviour Checklist

Efek yang ditimbulkan akibat paparan anestesi berulang pada masa postnatal
telah diteliti pada berbagai penelitian sebelumnya.[1-4] Ing dkk menemukan bahwa
anak-anak dengan usia muda yang mendapat paparan anestesi sebelum usia tiga tahun
memiliki resiko lebih tinggi mengalami defisit bahasa dan analisa pada usia 10 tahun
jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapat paparan anestesi sama
sekali.[4] DiMaggio dkk melaporkan bahwa anak-anak dengan usia dibawah 3 tahun
yang menjalani operasi repair hernia dengan anestesi umum memiliki kemungkinan
mengalami gangguan perkembangan dan perilaku dua kali lebih tinggi daripada anakanak yang tidak menjalani operasi repair hernia (dapat dikatakan juga anak-anak yang
tidak mendapat paparan anestesi umum). [2] Stargatt dkk menemukan bahwa paparan
anestesi pada anak-anak dengan usia muda dapat menyebabkan abnormalitas perilaku
yang berkepanjangan seperti gangguan tidur, suka mencari perhatian, penangis, dan
suka mengamuk, yang terjadi pada lebih dari 50% anak-anak yang mendapat paparan
anestesi pada usia muda.[15] Kain dkk mendasari hal ini kepada teori bahwa gejalagejala ini telah sering diteliti sebelumnya, yang didapatkan berhubungan dengan usia
pasien yang masih muda, tingkat keparahan nyeri postoperatif, dan akibat kurangnya
sedasi selama induksi anestesi.[16]

Tabel 3. Analisis komparatif terhadap permasalahan perilaku antara anak-anak yang


mendapat paparan anestesi berulang dengan kelompok kontrol dengan skala yang
berorientasi DSM
Variabel

Masalah afektif

Anak yang mendapat


paparan anestesi
berulang (n=35)

Kelompok
control
(n=35)

RR,95% CI

Dalam batas normal (<65)

27(77.1)

33(94.3)

Berpengaruh secara klinis


(65)

8(22.9)

2(5.7)

Dalam batas normal (<65)

24(68.6)

32(91.4)

Berpengaruh secara klinis


(65)

11(31.4)

3(8.6)

4(0.9-17.5)

Masalah kecemasan

37(1.1-12.0)

Permasalahan perkembagan yang pervasive


Dalam batas normal (<65)
Berpengaruh secara klinis
(65)

32(91.4)

34(97.1)

3(8.6)

1(2.9)

3(0.3-27.5)

Attention Deficit/Hiperactivity Disorder


Dalam batas normal (<65)

23(65.7)

31(88.6)

Berpengaruh secara klinis


(65)

12(34.3)

4(11.4)

Dalam batas normal (<65)

30(85.7)

32(91.4)

Berpengaruh secara klinis


(65)

5(14.3)

3(8.6)

3(1.1-8.4)

Permasalahan penentangan

1.7(0.4-6.5)

RR : relative Risk; CI : Confidence Interval; DSM : Diagnostic and Statistical


Manual of Mental Disorder.
Hasil temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Wilder dkk yang
menemukan bahwa dua kali atau lebih mendapatkan paparan anestesi umum pada
anak sebelum usia empat tahun berhubungan dengan peningkatan resiko gangguan
perhatian, gangguang kognitif, dan gangguan belajar(learning disabilities/LD).[1]
Kemudian, mereka juga menemukan bahwa satu kali mendapatkan paparan terhadap
anestesi tidak memiliki hubungan dengan kejadian LD, dan bahwa resiko mendapat

LD meningkat seiring dengan peningkatan durasi lamanya paparan anestesi tersebut.


Akan tetapi, mereka tidak bisa menentukan apakah anestesi itu sendiri yang
berkontribusi menyebabkan terjadinya gangguan atensi dan LD atau apakah
kebutuhan akan dilakukannya anestesi itu yang merupakan penanda untuk faktor
lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan atensi dan LD.[1] Analisis lebih
lanjut yang dilakukan oleh Flick dkk yang melaporkan bahwa anak-anak yang
mendapat dua kali atau lebih anestesi sebelum usia dua tahun, merupakan faktor
resiko independen terhadap terjadinya perkembangan LD setelah faktor resiko
lainnya yang berhubungan dengan LD disingkirkan.[3] Mereka juga mengonfirmasi
bahwa satu kali mendapat paparan anestesi umum tidak memiliki kaitan dengan
peningkatan terjadinya kasus LD.[3] Dengan metode penelitian kohor juga, Sprung
dkk melakukan penilaian terhadap hubungan antara insiden terjadinya Attention
Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) dengan paparan terhadap anestesi umum.
Mereka menemukan bahwa anak-anak yang terpapar anestesi umum yang berulang
sebelum usia dua tahun mengalami peningkatan resiko terjadinya ADHD di masa
mendatang.[17]
Akan tetapi, Kalkman dkk meneliti adanya tren munculnya gangguan atensi
dan gangguan kognitif dalam jangka panjang akibat adanya paparan anestesi umum di
usia muda, walaupun hanya satu kali, yang hal ini berlawanan dengan penelitianpenelitian sebelumnya, yang telah menunjukkan bahwa defisit kognitif dapat terjadi
akibat paparan anestesi yang didapat minimal dua kali.[13] Hudson dan Hemmings
menjelaskan bahwa factor neuro-developmental pada otak anak-anak dengan usia
muda dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya toksisitas anestesi umum pada
anak-anak dengan usia muda. Mereka mendasari hal ini kepada teori adanya efek dari
paparan anestesi umum di usia muda pada proses neurogenesis dan sinaptogenesis
yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi neurokognitif. [18] Kain dkk
menyatakan bahwa meningkatnya kecemasan perioperatif pada anak-anak memiliki
kaitan dengan meningkatnya nyeri, penggunaan obat-obatan anlgesik, kecemasan,
dan gangguan tidur yang terjadi postoperatif. Akan tetapi, mereka menyebutkan

bahwa sebagian besar gejala ini tidak bertahan sampai tiga hari postoperative.[19]
Memang, anak-anak yang diberi sedasi dengan midazolam sebelum operasi
menunjukkan insiden yang jauh lebih rendah terjadinya perubahan perilaku
maladaptif opsoperatif.[20] Berlawanan dengan hasil penelitian kami dan penelitianpenelitian yang telah disebutkan di atas, Kayaalp dkk melaporkan bahwa anestesi
umum yang berulang tidak tampak mempengaruhi kesehatan psikologi anak-anak,
jika manajemen perioperatif dilakukan dengan tepat, seperti ; penggunaan obatobatan dengan tepat, pengontrolan nyeri postoperative yang efektif, menjalin
hubungan yang baik dengan anak-anak tersebut, dan melakukan proses pembedahan
dan proses anestesi dengan system rawat jalan jika memungkinkan. [21] Fan dkk
memberikan pendapat yang berbeda. Mereka menyatakan bahwa anesthesia umum
yang dilakukan dengan sevofuran tidak memiliki efek buruk yang signifikan terhadap
fokus perhatian anak, maupun gangguan fungsi kognitif lainnya pada anak-anak
dengan usia antara 4 sampai 7 tahun setelah dilakukan evaluasi pada 1 bulan pertama
dan 6 bulan selanjutnya setelah mendapat paparan anestesi umum tersebut.[22]
Untuk mengontrol faktor yang berpotensi merancukan hasil penelitian, dan
mengatasi kekurangan dalam penelitian observasional ini, dua penelitian klinis
berskala besar lainnya sedang dilaksanakan untuk menilai efek anestesi umum
terhadap perilaku anak-anak. The Pediatric Anesthesia and Neuro-Developmental
Assessment (PANDA) merupakan penelitian yang berskala besar, mengambil lokasi
di banyak tempat, dan merupakan penelitian kohor di Amerika Serikat yang bersifat
ambi-directional-sibling-matched.

Penelitian

ini

akan

menilai

efek

neuro-

developmental yang ditimbulkan akibat adanya paparan anestesi umum selama


operasi hernia pada usia kurang dari 36 bulan. Penelitian kedua adalah General
Anesthesia Study (GAS), yang akan membandingkan hasil perkembangan neurodevelopmental antara dua teknik anestesi; anestesi umum dengan sevofuran dengan
anestesi regional, pada bayi yang dilakukan operasi repair hernia inguinal.
Diharapkan bahwa hasil dari kedua penelitian ini akan menyediakan kesimpulan yang
jelas mengenai efek neuro-developmental akibat anestesi umum pada anak-anak

dengan usia muda. Sampai dengan kita mendapatkan jawaban dari penelitian PANDA
dan GAS, data yang ada saat ini tidak mendukung perlunya perubahan yang
signifikan dalam praktek sehari-hari, melainkan hanya dapat memberikan
rekomendasi, seperti perlunya menunda operasi elektif, perlunya sedasi preoperatif
yang baik, pengontrolan nyeri perioperatif yang efektif, menjaga stabilitas
hemodinamik, menghibdari terjadinya hipoksia, penggunaan dosis agen anestesi yang
sesuai, meminmalisir durasi paparan anestesi, dan mempertimbangkan penggunaan
teknik anestesi regional jika memungkinkan. Akhirnya, saran yang diberikan
Davidson adalah ketika mendiskusikan permasalahan ini dengan orang tua, kita
perlu berhati-hati agar tidak terjadi kecemasan yang tidak semestinya, tetapi kita juga
harus tidak boleh gegabah dalam menyangkal segala kemungkinan.[23]
KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan utama dari penelitian ini adalah ukuran sampel yang kecil yang
mana tidak mampu mendeteksi efek pasti dari paparan anestesi berulang terhadap
perkembangan perilaku dan emosional. Kemudian, kami tidak mampu meneliti efek
manajemen nyeri postoperatif dan dampak prosedur operasi terhadap orang tua atau
wali anak-anak yang mengalami hal tersebut yang juga akan memberikan dampak
pada anak-anaknya. Faktor perancu lainnya merupakan permasalahan tambahan yang
hanya dapat diselesaikan dengan penelitian yang bersifat prospective-randomized.
Kami berfikir bahwa penelitian ini merupakan aplikasi pertama dari skoring CBCL
dan DSM dalam versi Arab pada anak-anak dengan kelompok usia tertentu yang
mendapat paparan anestesi berulang. Hasil penelitian ini menyediakan sebuah sudut
pandang tambahan bagi peneliti-peneliti lainnya mengenai efek neuro-behavioral
akibat paparan anestesi berulang dengan menggunakan kuesioner yang sederhana.
KESIMPULAN
Anak-anak dengan usia muda yang telah mengalami prosedur operasi yang
berulang dengan anestesi umum memiliki resiko mengalami gangguan perilaku dan
emosional. Manajemen perioperatif yang baik, dukungan sosial, dan menghindari

pengalaman operasi yang tidak menyenangkan dapat meminimalisir konsekuensi


yang tidak diinginkan ini. CBCL dan DSM merupakan alat yang hemat waktu dan
biaya yang dapat digunakan untuk menilai berbagai macam gangguan perilaku dan
emosional pada masa awal kehidupan anak-anak.
PERNYATAAN RESMI
Penelitian ini dilakukan tanpa pembiayaan dari pihak manapun.