Anda di halaman 1dari 23

HUBUNGAN STRUKTUR,KELARUTAN

DAN AKTIVITAS BIOLOGIS OBAT


KELOMPOK 1
Rifani Damacena
Sofiah Atika
Ade Vinska R.
Adibatul Fitriyah
Adiyat Anjas F.

(1041211151)
(1041311146)
(1041411001)
(1041411002)
(1041411004)

Aulia Nurwidyawati (1041411030)


Belinda Puteri A. (1041411036)
Beta Sukmawati
(1041411038)
Annisya Noor N
(1041511016)

Sifat hidrofilik atau lipofobik berhubungan dengan kelarutan dalam air,


sedang sifat lipofilik atau hidrofobik berhubungan dengan kelarutan
dalam lemak.
Gugus yang meningkatkan kelarutan molekul dalam air adalah gugus
hidrofilik (polar), sedangkan dalam lemak adalah gugus lipofilik
(nonpolar).
SIFAT

Hidrofilik

GUGUS

Kuat

-OSO2ONa, -COONa, -SO2Na, -OSO2H

Sedang

-OH, -SH, -O-, =C=O, -CHO, -NO2, -NH2, -NHR,


NR2 , -CN, -CNS, -COOH, -COOR, -OPO3 H2 , OS2O2H

Ikatan takjenuh
Lipofilik

-C CH, -CH=CH2
Rantai
hidrokarbon
hidrokarbon polisiklik

alifatik,

alkil,

aril,

Gugus halogen memiliki sifat yang khas,


walaupun mempunyai efek elektronegatif
relatif kuat tetapi bila disubtitusikan pada
cincin aromatik akan bersifat lipofilik.
Substitusi pada rantai alifatik gugus I, -Br,
dan Cl akan bersifat lipofilik, sedang gugus
F bersifat hidrofilik

Sifat kelarutan berhubungan dengan aktivitas biologis dari


senyawa seri homolog dan proses absorpsi obat. Keduanya
mempengaruhi intensitas aktivitas biologis obat.
Overton (1901) mengemukakan konsep bahwa kelarutan
senyawa organik dalam lemak berhubungan dengan
penembusan membran sel.
Senyawa non polar bersifat mudah larut dalam lemak
sehingga nilai koefisien partisi lemak/air besar dan mudah
menembus membran sel secara difusi pasif.

Hubungan koefisien partisi lemak/air (P) terhadap absorpsi tak


terionisasi beberapa obat turunan barbiturat
Heksetal

100
P
CHCl3/ air

Sekobarbital
50
Pentobarbital
10

Siklobarbital

Apobarbital
Fenobarbital

Barbital
0

20

40
% Obat yg diabsorbsi

60

4
5
Contoh hubungan sifat kelarutan
R
dalam lemak dan aktivitas
6
antivirus turunan isatin--tiosemikarbason

3
1
7

H
N N C NH2
S

N
H

Pada beberapa seri homolog senyawa sukar terdisosiasi, perbedaan


struktur hanya menyangkut perbedaan jumlah dan panjang rantai
atom C, intensitas aktivitas biologisnya tergantung pada jumlah
atom C.
Contoh senyawa semi homolog:
1. n-Alkohol, alkilresorsinol, alkilfenol dan alkilkresol
(antibakteri).
2. Ester asam para-aminobenzoat (anestesi setempat).
3. Alkil 4,4-stilbenediol (hormon estrogen).

A. AKTIVITAS BIOLOGIS
SENYAWA SERI HOMOLOG
Makin panjang rantai samping atom C, makin bertambah bagian
molekul yang bersifat non polar dan terjadi perubahan sifat fisik,
seperti kenaikan titik didih, berkurangnya kelarutan dalam air,
meningkatnya koefisien partisi lemak/air, tegangan permukaan dan
kekentalan.
Perubahan sifat fisik ini diikuti dengan peningkatan aktivitas
biologis sampai tercapai aktivitas maksimum.

Contoh Seri homolog


Hubungan struktur seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat
(PHB) dengan nilai koefisien partisi lemak/air dan aktivitas
antibakteri terhadap Staphylococcusaureus
Ester PHB

Koefisien Partisi

Koefisien Fenol terhadap


Staphylococcus aureus

Metil

1,2

2,6

Etil

3,4

7,1

n-Propil

13

15

Isopropil

7,3

13

Alil

7,6

12

n-Butil

17

37

Benzil

119

83

B. Hubungan Koefisien Partisi vs Efek Anestesi


Sistemik
Overton dan Meyer (1899) m e n g e m u k a a n b a h wa tiga postulat
yang berhubungan dengan efek anestesi suatu senyawa (teori lemak),
sbb :
1. Senyawa kimia yang tidak reaktif dan mudah larut dalam lemak,
seperti eter, hidrokarbon dan hidrokarbon terhalogenasi, dapat
memberikan efek narkosis pada jaringan hidup sesuai dengan
kemampuannya untuk terdistribusi ke dalam jaringan sel.
2. Efek terlihat jelas terutama pada sel-sel yang banyak mengandung
lemak, seperti sel saraf.
3. Efisiensi anestesi tergantung pada koefisien partisi (P) lemak/air atau
distribusi senyawa dalam fasa lemak dan fasa air jaringan.
Teori diatas menyatakan bahwa ada hubungan antara aktivitas
anestesi dengan P lemak/air.

C. Prinsip Ferguson
Fuhner (1904) menyatakan untuk mencapai aktivitas sama, anggota seri homolog
yang lebih tinggi memerlukan kadar lebih rendah, sesuai persamaan deret ukur
sbb. : 1/31, 1/32, 1/33, 1/34, ....... 1/3n
Perubahan sifat fisik suatu seri homolog, seperti tekanan uap, kelarutan dalam air,
tegangan permukaan dan distribusi dalam pelarut yang saling tidak campur
juga sesuai dengan deret ukur.

Model kerja farmakologis obat Senyawa berstruktur tidak


spesifik dan Senyawa berstruktur spesifik.

1. Senyawa Berstruktur Tidak Spesifik


Struktur kimia bervariasi
Tidak berinteraksi dengan reseptor spesifik
Aktivitas biologisnya lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia fisika,
seperti derajat ionisasi, kelarutan, aktivitas termodinamik,
tegangan permukaan dan redoks potensial
Efek biologis terjadi karena akumulasi obat pada daerah yang
penting dari sel sehingga menyebabkan ketidakteraturan rantai
proses metabolisme.

Karakteristik aktivitas fisik senyawa berstruktur


tidak spesifik
Efek biologis berhubungan langsung dengan aktivitas
termodinamik, dan memerlukan dosis yang relatif besar.
Walaupun
perbedaan struktur kimia besar, asal aktivitas
4.
Pengukuran
aktivitas
termodinamik
hampir sama akan memberikan efek yang sama.
Ada kesetimbangan kadar obat dalam biofasa dan fasa eksternal.
Bila terjadi kesetimbangan, aktivitas termodinamik masing6.
masing
fasa harus sama.
Pengukuran aktivitas termodinamik pada fasa eksternal juga
mencerminkan aktivitas termodinamik biofasa.

Senyawa dengan derajat kejenuhan sama, mempunyai


aktivitas termodinamik sama sehingga derajat efek biologis
sama pula. Oleh karena itu larutan jenuh senyawa dengan
struktur yang berbeda dapat memberikan efek biologis sama.
Aktivitas termodinamik (a) dari obat yang berupa gas atau uap:

a = Pt/Ps
Pt : tekanan parsial senyawa untuk menimbulkan efek biologis
Ps : tekanan uap jenuh senyawa.
Untuk obat yang berupa larutan : a = St/So
St : kadar molar senyawa untuk menimbulkan efek biologis
So : kelarutan senyawa.

Contoh senyawa berstruktur tidak spesifik :


1. Obat anestesi sistemik yang berupa gas
atau uap, seperti etil klorida, asetilen,
nitrogen oksida, eter dan kloroform.
2. Insektisida yang mudah menguap dan
bakterisida tertentu seperti timol, fenol,
kresol, n-alkohol dan resorsinol.

Hubungan kadar isoanestesi beberapa obat anestesi (uap atau


gas) dengan aktivitas termodinamik, pada manusia (37oC)
Nama Gas/Uap

P uap

Kadar Anestesi P parsial

(a)

(Ps) mm.

(% vol)

(Pt) mm.

(Pt/Ps)

Nitrogen oksida

59.3

100

760

0,01

Etilen

49.5

80

610

0,01

Asetilen

51.7

65

495

0,01

Etil klorida

1.78

38

0,02

Etil eter

830

38

0,05

Vinil eter

760

30

0,01

Etil bromida

725

1,9

14

0,02

Kloroform

324

0,5

0,01

Hubungan kadar bakterisid insektisida yang mudah menguap


terhadap Salmonella typhosa dengan aktivitas termodinamik
Nama
Insektisida

Kadar
(St), molar

Kelarutan
(So) molar, 25oC

(a)
(St/S o)

Timol

0,0022

0,0057

0,38

Oktanol

0,0034

0,004

0,88

o-Kresol

0,039

0,23

0,17

Fenol

0,097

0,90

0,11

Anilin

0,17

0,40

0,44

Sikloheksanol

0,18

0,38

0,47

Metilpropilketon

0,39

0,70

0,56

Metiletilketon

1,25

3,13

0,40

Butiraldehid

0,39

0,51

0,76

Propaldehid

1,08

2,88

0,37

Resorsinol

3,09

6,08

0,54

Aseton

3,89

0,40

0,33

Metanol

10,8

2. Senyawa Berstruktur Spesifik


Merupakan senyawa yang memberikan efek dengan mengikat
reseptor spesifik.
Aktivitas tidak tergantung pada aktivitas termodinamik (a < 0,01),
lebih tergantung pada struktur kimia yang spesifik.
Reaktifitas kimia, bentuk, ukuran dan pengaturan stereokimia
molekul, distribusi gugus fungsional, efek induksi dan resonansi,
distribusi elektronik dan interaksi dengan reseptor berperan
menentukan terjadinya aktivitas biologis.
Contoh obat berstruktur spesifik antara lain : analgesik (morfin),
antihistamin (difenhidramin), diuretika penghambat monoamin
oksidase (asetazolamid) dan -adrenergik (salbutamol).

Mekanisme kerjanya dapat melalui salah satu cara berikut yaitu :


a. Bekerja pada enzim, yaitu dengan cara pengaktifan,
penghambatan atau pengaktifan kembali enzim-enzim tubuh.
b. Antagonis, yaitu antagonis kimia, fungsional, farmakologis
atau antagonis metabolik.
c. Menekan fungsi gen, yaitu dengan menghambat biosintesis
asam nukleat atau sintesis protein.
d. Bekerja pada membran, yaitu dengan mengubah membran sel
dan mempengaruhi sistem transpor membran sel.

Karakteristik :
1. Efektif pada kadar rendah.
2. Melibatkan kesetimbangan obat dalam biofasa dan fasa
eksternal, pada keadaan ini aktivitas biologis maksimal.
3. Melibatkan ikatan kimia yang lebih kuat dibanding
senyawa berstruktur tidak spesifik.
4. Sifat fisik dan kimia berperan dalam menentukan efek
biologis.
5. Mempunyai struktur dasar karakteristik yang
bertanggung jawab terhadap efek biologis senyawa analog.

Pada senyawa berstruktur spesifik sedikit perubahan struktur


kimia dapat berpengaruh terhdap aktivitas biologis obat
O
+

Senyawa kolinergik

C O CH 2 CH 2 N (CH 3 ) 3

R
CH 3 :

Asetilkolin

NH 2

: Karbamilkolin - kolinergik, masa kerja panjang

CH CH 2 NH

HO

OH

TurunanFeniletilamin
feniletilamin
Turunan

HO
R
:

CH 3
CH(CH 3 ) 2 :

Obat anti kanker


Turunan pirimidin

- kolinergik, masa kerja pendek

OH
N
HO

Epinefrin

- menaikkan tekanan darah

Isoproterenol - menurunkan tekanan darah


R
CH
3 F

: Timin
- metabolit
normal
: 5-Fluorourasil - antimetabolit

Pada obat tertentu tidak mempunyai struktur yang mirip tetapi menunjukkan
efek farmakologis sama,
dan perubahan sedikit struktur tidak mempengaruhi efek.
Contoh : obat diuretik yang mempunyai struktur kimia bervariasi (turunan merkuri
organik, turunan sulfamid, turunan tiazid, dan spironolakton). Sedikit modifikasi
struktur tidak mempengaruhi aktivitas diuretik.
OCH3
H2NCONHCH2

CH

H3 COCHN
CH2 Hg .

S O 2 NH2

S
N

Cl

Asetazolamid

Klormerodrin
(Mengikat gugus SH enzim K,Na-dependent-ATP-ase)

(Penghambat enzim karbonik anhidrase)


O
CH3

Cl

H2 NO 2 S

H
CH3

N
NH
S O2

S COCH3

Hidroklorotiazid

Spironolakton

(Menghambat reabsorpsi Na di ginjal)

(Aldosteron antagonis)

Terima Kasih