Anda di halaman 1dari 91

PENGUKURAN KADAR BIOETANOL AMPAS TEBU (Saccharum

officinarum L.) DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI RAGI


ROTI 0,5% BERDASARKAN PERBEDAAN LAMA
FERMENTASI 0, 3, 6 DAN 9 HARI SECARA
GAS CROMATOGRAPHY (GC)
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan pada
Program Studi D-3 Analis Farmasi dan Makanan
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi YAYASAN PHARMASI Semarang

Muhammad Nur Arif


1021211049

PROGRAM STUDI D3 ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2015
i

PENGUKURAN KADAR BIOETANOL AMPAS TEBU (Saccharum


officinarum L.) DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI RAGI
ROTI 0,5% BERDASARKAN PERBEDAAN LAMA
FERMENTASI 0, 3, 6 DAN 9 HARI SECARA
GAS CROMATOGRAPHY (GC)

Oleh :
Muhammad Nur Arif
1021211049
Program Studi D-3 Analis Farmasi dan Makanan
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi YAYASAN PHARMASI
Pada tanggal : 5 Juni 2015
Mengetahui,
Program Studi D-3 Analis Farmasi dan Makanan
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
YAYASAN PHARMASI
Pembimbing

Ketua

Bekti Nugraheni, M.Sc., Apt.

Bekti Nugraheni, M.Sc., Apt.

Penguji :
1. Dra. Uning Rininingsih, EM., M.Si.
2. F.X. Sulistiyanto W.S., S.Si., M.Si., Apt.
3. Bekti Nugraheni, M.Sc., Apt.

__________________
__________________
__________________

MOTTO DAN PERSEMBAHAN


ii

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya


kepada Engkaulah kami memohon pertolongan (Alfatihah : 5)
Sesungguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan (AlInsirah : 6)
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah
kembali(mu) ( Al-Alaq : 8)
Barang siapa yang menghendaki pahala di dunia saja
(maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia
dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat (An-Nisaa : 134)

Dengan mengharap ridlo Allah SWT kupersembahkan Karya Tulis ini untuk :
Papah, mamah dan adik tercinta yang telah mendoakan saya selama ini,
Dosen-dosen yang telah mengajar dan membimbing saya dengan baik,
Teman-teman seperjuangan D3 Anafarma angkatan 2012,
Orang-orang yang telah memberikan semangat dan doa untuk saya.

iii

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul
Pengukuran Kadar Bioetanol Ampas Tebu (Saccharum officinarum L.) Dengan
Penambahan Konsentrasi Ragi Roti 0,5% Berdasarkan Perbedaan Lama
Fermentasi 0, 3, 6 dan 9 Hari Secara Gas Cromatography (GC).
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan guna memenuhi salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan pada Program Studi D-3 Analis Farmasi
dan Makanan di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi YAYASAN PHARMASI
Semarang.
Dalam penelitian dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak
mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Dra. Erlita Verdia Mutiara, M.Si., Apt, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
YAYASAN PHARMASI Semarang.
2. Bekti Nugraheni, M.Sc., Apt, Ketua Program Studi D-3 Analis Farmasi dan
Makanan Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi YAYASAN PHARMASI Semarang.
3. Bekti Nugraheni, M.Sc., Apt., Dosen pembimbing dan penguji yang telah
memberikan kritik dan saran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah Program
Studi D-3 Analis Farmasi dan Makanan Yayasan Pharmasi Semarang.
4. Dra. Uning Rininingsih, EM., M.Si., Dosen penguji 1 yang telah memberikan
kritik dan saran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah Program Studi D-3
Analis Farmasi dan Makanan Yayasan Pharmasi Semarang.

iv

5. F.X. Sulistiyanto W.S., S.Si., M.Si., Apt., Dosen penguji 2 yang telah
memberikan kritik dan saran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah Program
Studi D-3 Analis Farmasi dan Makanan Yayasan Pharmasi Semarang.
6. Dra. Eka Susanti, Hp., Apt., Dosen wali yang senantiasa memberikan
semangat selama menempuh masa pendidikan.
7. Segenap dosen, staf, dan karyawan Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan
Pharmasi Semarang.
8. Rekan-rekan mahasiswa angkatan 2012 dan semua pihak yang telah
membantu dalam pelaksanaan penelitian ini yang tidak dapat penulis sebutkan
satu per satu.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari tidak ada sesuatu yang
sempurna, demikian dengan penyusunan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu
kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan. Semoga karya tulis
ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, 18 April 2015

Penulis

SARI
Pemakaian bahan bakar sangat tinggi sedangkan sumber bahan bakar
minyak bumi yang dipakai saat ini semakin menipis. Perlu adanya bahan alternatif
yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi. Salah satu energi alternatif
yang menjanjikan adalah bioetanol. Bioetanol diperoleh dari proses fermentasi
gula dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan mikroorganisme.
Pengembangan bioetanol dapat dilakukan dari limbah-limbah pertanian
(biomassa) yang mengandung banyak lignoselulosa seperti bagasse (limbah padat
industri gula). Selulosa yang terdapat dalam ampas tebu (bagasse) merupakan
karbohidrat yang dapat digunakan dalam proses fermentasi dengan menghidrolisis
selulosa menjadi gula sederhana yaitu glukosa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama
fermentasi terhadap kadar bioetanol dari ampas tebu (Saccharum officinarum L.)
dengan pemberian ragi roti konsentrasi 0,5% dan untuk mengetahui kadar
bioetanol tertinggi hasil fermentasi dari ampas tebu (Saccharum officinarum L.).
Hasil fermentasi didestilasi dan penentuan kadar bioetanol dilakukan dengan
Kromatografi Gas.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode fermentasi
dan hasil diukur dengan alat kromatografi gas merk Agilent 6890 dengan kolom
jenis Capillary coloumn yang memiliki temperatur maksimal sebesar 300 oC,
temperatur detektor 250oC dengan gas jenis Helium dan waktu retensi 10 menit.
Hasil pengukuran bioetanol menggunakan kromatografi gas diperoleh hasil
dengan pemberian ragi roti konsentrasi 0,5% dengan waktu fermentasi 3 hari
sebesar 0,48%, fermentasi 6 hari sebesar 0,66% dan fermentasi 9 hari sebesar
0,96%. Ada perbedaan terhadap kadar bioetanol dengan waktu fermentasi yang
berbeda. Kadar bioetanol dengan konsentrasi ragi roti 0,5% terbesar adalah
dengan waktu fermentasi 9 hari yaitu sebesar 0,96%.
Kata kunci : Ampas Tebu (bagasse), Bioetanol, Fermentasi, Kromatografi Gas

vi

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
iii
PRAKATA
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
iv
..........................................................................................................................
SARI
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
vi
DAFTAR ISI
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
vii
DAFTAR TABEL
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
xi
BAB I PENDAHULUAN

vii

............................................................................................................
............................................................................................................
1
1.1 Latar
Belakang
....................................................................................................................
....................................................................................................................
1
1.2 Rumusan
Masalah
....................................................................................................................
....................................................................................................................
3
1.3 Tujuan
Penelitian
....................................................................................................................
....................................................................................................................
4
1.4 Manfaat
Penelitian
....................................................................................................................
....................................................................................................................
4
1.5 Batasan
Penelitian
....................................................................................................................
....................................................................................................................
4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
............................................................................................................
............................................................................................................
5
2.1 Ampas
Tebu
...................................................................................................................
...................................................................................................................
5
2.2 Bioetanol
...................................................................................................................
...................................................................................................................
6
2.3 Karbohidrat
...................................................................................................................
...................................................................................................................
9
2.4 Ragi
...................................................................................................................
...................................................................................................................
11

viii

2.5 Saccharomyces
cerrevisiae
...................................................................................................................
...................................................................................................................
12
2.6 Fermentasi
...................................................................................................................
...................................................................................................................
15
2.7 Destilasi
...................................................................................................................
...................................................................................................................
18
2.8 Kromatografi
Gas
...................................................................................................................
...................................................................................................................
20
BAB III METODE PENELITIAN
............................................................................................................
............................................................................................................
26
3.1 Objek
Penelitian
...................................................................................................................
...................................................................................................................
26
3.2 Sampel
dan
Teknik
Sampling
...................................................................................................................
...................................................................................................................
26
3.3 Variabel
Penelitian
...................................................................................................................
...................................................................................................................
26
3.4 Teknik
Pengumpulan
Data
...................................................................................................................
...................................................................................................................
27
3.4.1

Metode
Analisa
.......................................................................................................
.......................................................................................................
27

3.4.2

Alat
dan
Bahan
.......................................................................................................
.......................................................................................................
27
ix

3.4.3

Prosedur
Kerja
.......................................................................................................
.......................................................................................................
27

3.4.4

Hipotesa
.......................................................................................................
.......................................................................................................
30

3.4.5

Skema
Kerja
.......................................................................................................
.......................................................................................................
31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


............................................................................................................
............................................................................................................
33
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
............................................................................................................
............................................................................................................
44
5.1 Simpulan
...................................................................................................................
...................................................................................................................
44
5.2 Saran
...................................................................................................................
...................................................................................................................
44
DAFTAR PUSTAKA
............................................................................................................
............................................................................................................
45
LAMPIRAN
............................................................................................................
............................................................................................................
49

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman

1. Hasil Analisis Serat Bagasse


6
2. Hasil Penetapan Kadar Glukosa
35
3. Hasil

Pengukuran

Kadar

Bioetanol

41

ix

dengan

Kromatografi

Gas

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

1. Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme


15
2. Bagan Alat Kromatografi Gas
21
3. Reaksi Emden-Mayerhof-Parnas Pathway pembentukan Etanol
37
4. Reaksi Perubahan Asam Piruvat Menjadi Alkohol
39
5. Kurva Linier Standar Etanol
40
6. Kromatogram Standar Bioetanol 1,0%
41
7. Kromatogram Sampel Lama Fermentasi 9 Hari
43

xi

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran

Halaman

1.

Pembuatan Reagen Penetapan Kadar Karbohidrat...........................

49

2.

Perhitungan Penetapan Kadar Karbohidrat......................................

52

3.

Perhitungan Kadar Bioetanol...........................................................

55

4.

Peta Lokasi Pabrik Gula Trangkil....................................................

58

5.

Penetapan Kadar Karbohidrat..........................................................

59

6.

Ampas Tebu......................................................................................

60

7.

Ragi Roti..........................................................................................

61

8.

Fermentasi dan Destilasi..................................................................

62

9.

Alat Kromatografi Gas.....................................................................

63

10.

Hasil Pengukuran Standar Etanol.....................................................

64

11.

Hasil Pengukuran Sampel................................................................

68

ix

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini pemakaian bahan bakar sangat tinggi sedangkan sumber
bahan bakar minyak bumi yang dipakai saat ini semakin menipis. Perlu adanya
bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi. Bioetanol
dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pemecahan masalah energi pada saat
ini. Saat ini sedang diusahakan secara intensif pemanfaatan bahan-bahan yang
mengandung serat kasar dengan karbohidrat yang tinggi, dimana semua bahan
yang mengandung karbohidrat dapat diolah menjadi bioetanol.
Salah satu energi alternatif yang menjanjikan adalah bioetanol. Bioetanol
merupakan etanol hasil fermentasi biomassa. Bioetanol digunakan sebagai bahan
bakar terbarukan mengingat kuantitas minyak bumi saat ini terus menipis. Alasan
bioetanol digunakan sebagai bahan bakar, karena penggunaan etanol murni akan
menghasilkan CO2 13%, lebih rendah dibanding premium. Selain itu, bioetanol
dapat menurunkan kadar emisi gas rumah kaca hingga 80% dari hasil
pembakarannya, sehingga dapat menurunkan efek rumah kaca tersebut (Hermiati
dkk, 2010).
Bioetanol merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber
karbohidrat (pati) menggunakan bantuan mikroorganisme. Produksi bioetanol dari
tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses

konversi karbohidrat menjadi gula atau glukosa dengan beberapa metode


diantaranya dengan hidrolisis asam dan secara enzimatis. Metode hidrolisis secara
enzimatis lebih sering digunakan karena lebih ramah lingkungan dibandingkan
dengan katalis asam. Glukosa yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses
fermentasi atau peragian dengan menambahkan yeast atau ragi sehingga diperoleh
bioetanol (Khairani, 2007).
Pembuatan bioetanol dari bahan bergula ataupun berpati sudah makin
terbatas karena bahan-bahan bergula dan berpati yang digunakan untuk
memproduksi bioetanol tersebut juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Misalnya ubi jalar, umbi kayu, pisang dan lain-lain. Banyak peneliti
mengungkapkan bahwa limbah yang mengandung selulosa dapat digunakan
sebagai sumber gula yang murah dan mudah didapat untuk menggantikan bahan
pati dalam proses fermentasi (Kamara dkk, 2007). Misalnya ampas tebu sebagai
hasil samping pada pabrik gula.
Ampas tebu termasuk bahan lignoselulosa, karena komponen utamanya
adalah lignin dan selulosa. Fujita dan Harada (1991) menjelaskan selulosa,
hemiselulosa, dan lignin yang berada dalam kayu yang merupakan salah satu
bahan lignoselulosa. Selulosa adalah senyawa kerangka yang menyusun 40- 50%
bagian kayu dalam bentuk selulosa mikrofibril, sedangkan hemiselulosa adalah
senyawa matriks yang berada di antara mikrofibril-mikrofibril selulosa. Lignin
adalah senyawa yang keras yang menyelimuti dan mengeraskan dinding sel. Peran
ketiga komponen kimia ini dalam dinding sel dapat dianalogikan seperti bahan
konstruksi yang terbuat dari reinforced concrete (beton yang kuat). Selulosa,

lignin, dan hemiselulosa berperan sebagai rangka besi, semen, dan bahan penguat
yang memperbaiki ikatan di antara mereka. Biomassa lignoselulosa sangat sulit
untuk dibiotransformasi baik dengan mikroba maupun enzim. Hal ini yang
membatasi penggunaannya dan menghambat konversinya menjadi produk bernilai
tambah. Pada limbah lignoselulosa terdapat lignin yang berperan sebagai
pelindung selulosa terhadap serangan enzim pemecah selulosa. Komposisi kimia
dan struktur yang demikian membuat bahan yang mengandung selulosa bersifat
kuat dan keras, sedangkan adanya ikatan hidrogen menyebabkan selulosa tidak
larut dalam air. Lignoselulosa perlu diberi perlakuan delignifikasi untuk
mengurangi atau menghilangkan hambatan-hambatan tersebut (Hermiati dkk,
2010).
Proses hidrolisa asam dilakukan untuk mengubah selulosa dari ampas tebu
menjadi glukosa yang kemudian dilanjutkan dengan proses fermentasi yang
merupakan proses pembuatan alkohol dengan memanfaatkan aktivitas yeast
(Saccharomyces cerevisiae). Penelitian ini dilakukan guna untuk mengolah hasil
limbah yang tidak terpakai lagi menjadi produk yang memiliki manfaat dan
berguna bagi masyarakat luas.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.

Berapa kadar rata-rata bioetanol ampas tebu (Saccharum officinarum L.)


dengan lama waktu fermentasi 0, 3, 6 dan 9 hari ?

2.

Berapa kadar tertinggi bioetanol hasil dari fermentasi ampas tebu (Saccharum
officinarum L.) ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui berapa kadar rata-rata bioetanol fermentasi ampas tebu
2.

(Saccharum officinarum L.) dengan lama fermentasi 0, 3, 6, dan 9 hari.


Mengetahui kadar tertinggi bioetanol hasil dari fermentasi ampas tebu
(Saccharum officinarum L.).

1.4 Manfaat Penelitian


1.

Memberikan informasi ilmiah mengenai potensi ampas tebu (Saccharum


officinarum L.) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar bio kepada
masyarakat.

2.

Memperkenalkan produk bioetanol dari bahan alam kepada masyarakat.

1.5
1.
2.
3.
4.
5.

Batasan Masalah
Ampas tebu diperoleh dari pabrik gula daerah Trangkil, Pati.
Saccharomyces cerevisiae yang digunakan ragi roti yang dijual di pasaran.
Konsentrasi ragi roti yang digunakan adalah 0,5%.
Destilasi yang dilakukan menggunakan destilasi sederhana.
Penetapan kadar karbohidrat menggunakan metode Luff Schoorl.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ampas Tebu


Tanaman tebu (Saccharum officinarum. L) dimanfaatkan sebagai bahan
baku utama dalam industri gula. Bagian lainnya dapat pula dimanfaatkan dalam
industri jamur dan sebagai hijauan pakan ternak (Farid, 2003). Tanaman tebu
biasanya tumbuh baik pada daerah yang beriklim panas dengan kelembaban untuk
pertumbuhan adalah > 70%. Suhu udara berkisar antara 28-34 oC. Tanah yang
terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang (Farid, 2003).
Ampas tebu atau lazimnya disebut bagasse, adalah hasil samping dari
proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu. Dari satu pabrik dihasilkan ampas tebu
sekitar 3540% dari berat tebu yang digiling (Indriani dan Sumiarsih, 1992).
Husin (2007) menyatakan, berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan
Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu
giling. Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Panjang seratnya
antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu
ini dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan buatan.
Bagase mengandung air 48-52%, gula rata-rata 3,3% dan serat rata-rata 47,7%.
Serat bagase tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari selulosa,
pentosan dan lignin (Husin, 2007).
Penelitian Husin (2007) menyatakan analisis serat bagasse adalah seperti
dalam tabel berikut :

Tabel .1 Hasil analisis serat bagasse


Kandungan
Abu
Lignin
Selulosa
Sari
Pentosan
SiO2

Kadar (%)
3,82
22,09
37,65
1,81
27,97
3,01

Tiap berproduksi, pabrik gula selalu menghasilkan limbah yang terdiri dari
limbah padat, cair dan gas. Limbah padat, yaitu : ampas tebu (bagasse), abu boiler
dan blotong (filter cake). Ampas tebu merupakan limbah padat yang berasal dari
perasan batang tebu untuk diambil niranya. Limbah ini banyak mengandung serat
dan gabus. Ampas tebu selain dimanfaatkan sendiri oleh pabrik sebagai bahan
bakar pemasakan nira, juga dimanfaatkan oleh pabrik kertas sebagai pulp
campuran pembuat kertas. Kadangkala masyarakat sekitar pabrik memanfaatkan
ampas tebu sebagai bahan bakar. Ampas tebu ini memiliki aroma yang segar dan
mudah dikeringkan sehingga tidak menimbulkan bau busuk. Limbah padat yang
kedua berupa blotong, merupakan hasil endapan (limbah pemurnian nira) sebelum
dimasak dan dikristalkan menjadi gula pasir. Bentuknya seperti tanah berpasir
berwarna hitam, memiliki bau tak sedap jika masih basah. Bila tidak segera kering
akan menimbulkan bau busuk yang menyengat (Hamawi, 2005).

2.2 Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi dari
sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme (Bustaman, 2008).
Alkohol juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan minuman dengan kadar

tertentu. Minuman yang mengandung alkohol disebut minuman beralkohol.


Contohnya adalah tuak. Secara umum tuak merupakan salah satu contoh minuman
beralkohol yang dikenal oleh masyarakat di Indonesia adalah jenis minuman yang
disebut arak. Bagi masyarakat Batak Toba tuak merupakan minuman sehari-hari
(Ikegami, 1997). Tuak merupakan minuman beralkohol yang bahan dasarnya nira
aren (Arenga pinnata) mengandung alkohol dengan kadar 4% (Sutanto, 1993).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.151/A/SK/V/81 bahwa minuman atau
obat tradisional yang tergolong dalam minuman keras mengandung alkohol >1%.
Etanol adalah bahan bakar yang bersih dan terbarukan yang dapat diproduksi
secara ekonomis dengan metode yang ramah lingkungan.
Etanol merupakan produk fermentasi yang dapat dibuat dari substrat yang
mengandung karbohidrat (gula, pati atau selulosa). Etanol merupakan kependekan
dari etil alkohol (C2H5OH) sering pula disebut sebagai grain alcohol atau
etanol (Judoamidjojo dkk, 1992 : 247).
Etanol mengandung tidak kurang dari 92,3% v/v dan tidak lebih dari 93,8%
v/v, setara dengan tidak kurang dari 94,9% v/v dan tidak lebih dari 96,0% v/v,
C2H5OH, pada suhu 15,56C. Cairan mudah menguap, mudah terbakar, jernih atau
tidak berwarna. Memiliki bau khas dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah.
Mudah menguap walaupun pada suhu rendah dan mendidih pada suhu 78C.
Dapat bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut organik
(Depkes RI, 1995 : 63).
Bioetanol berasal dari dua kata yaitu bio dan etanol yang berarti sejenis
alkohol yang merupakan bahan kimia yang terbuat dari bahan pangan

(Prihandana, 2007). Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu:
a. Bahan gula
Bahan-bahan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain nira tebu, nira
sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan lain-lain.
b. Bahan berpati
Bahan-bahan yang termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan yang
mengandung pati atau karbohidrat. Bahan-bahan tersebut antara lain ketela
rambat, ketela ungu, sorgum biji, jagung, sagu, ubi kayu, ubi jalar, kentang dan
lain-lain.
c. Bahan berselulosa (lignoselulosa )
Bahan berselulosa (lignoselulosa) artinya adalah bahan tanaman yang
mengandung selulosa (serat), antara lain kayu, jerami, batang pisang, dan lainlain.
Berdasarkan ketiga jenis bahan baku tersebut, bahan berselulosa merupakan
bahan yang jarang digunakan dan cukup sulit untuk dilakukan. Hal ini karena
adanya lignin yang sulit dicerna sehingga proses pembentukan glukosa menjadi
lebih sulit (Prihandana, 2007).
Pemanfaatan bioetanol dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan, baik
oleh industri maupun masyarakat umum. Pemanfaatan bioetanol dalam kehidupan
sehari-hari meliputi:
1. Sebagai antiseptik
2. Pereaksi dan pelarut organik

3. Digunakan dalam industri minuman dan parfum


4. Dalam industri farmasi digunakan sebagai bahan tambahan obat
5. Bahan bakar

2.3 Karbohidrat
Karbohidrat adalah suatu senyawa yang terdiri dari molekul-molekul karbon
(C), Hidrogen (H), dan oksigen (O) atau karbon dan hidrat (H2O) sehingga
dinamakan karbohidrat. Senyawa ini dibentuk melalui proses fotosintesis antara
air (H2O) dengan karbondioksida (CO2) dengan bantuan sinar matahari atau UV
menghasilkan senyawa sakarida dengan rumus (CH2O)n. Fungsi karbohidrat
dalam industri pangan, farmasi maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari
diantaranya sebagai sumber kalori atau energi, sebagai bahan pemanis dan
pengawet, sebagai bahan pengisi dan pembentuk, sebagai bahan penstabil, sebagai
sumber flavor (caramel) dan sebagai sumber serat (Sastrohamidjojo, 2009).
Karbohidrat memegang peran penting dalam alam karena merupakan
sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah.
Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Melalui proses fotosintesis,
klorofil tanaman dengan bantuan sinar matahari mampu membentuk karbohidrat
dari karbon dioksida (CO2) berasal dari udara dan air (H2O) dari tanah.
Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat sederhana (glukosa). Di samping
itu dihasilkan oksigen (O2) yang dilepas di udara (Almatsier, 2002 : 28-29).
Karbohidrat yang penting dalam ilmu gizi dibagi dalam dua golongan, yaitu
karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Sesungguhnya semua jenis

10

karbohidrat terdiri atas karbohidrat sederhana atau gula sederhana. Karbohidrat


kompleks mempunyai lebih dari dua unit gula sederhana di dalam satu molekul
(Almatsier, 2002 : 28-29).
Karbohidrat sederhana terdiri atas :
1. Monosakarida yang terdiri atas jumlah atom C yang sama dengan molekul air,
yaitu (C6(H2O)6) dan (C5(H2O)5)
2. Disakarida yang terdiri atas ikatan 2 monosakarida di mana untuk tiap 12 atom
C ada 11 molekul air (C12(H2O)11)
3. Gula alkohol merupakan bentuk alkohol dari monosakarida
4. Oligosakarida adalah gula rantai pendek yang dibentuk oleh galaktosa, glukosa
dan fruktosa.
Metode yang digunakan dalam penetapan kadar karbohidrat yaitu metode
Luff Schoorl yang didasarkan pada reaksi sebagai berikut:
R-CHO + 2CuO

R-COOH + Cu2O..(1)

2Cu2+ + 4I-

Cu2I2 + I2......(2)

2S2O32- + I2

S4O62- + 2I-....(3)

Metode Luff Schoorl merupakan metode untuk mengukur kadar karbohidrat


dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua
cara pengukuran yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I 2 dan
menggunakan prosedur Lae-Eynon (Gusmailina, 2009).

2.4 Ragi
Ragi atau dikenal dengan sebutan yeast merupakan semacam tumbuhan
bersel satu yang tergolong dalam keluarga cendawan. Ragi mempunyai

11

kemampuan dapat memfermentasi gula yaitu glukosa, galaktosa, sukrosa, maltosa,


laktosa, dan polisakarida. Oksigen tidak ikut serta pada proses peragian karena
peragian glukosa oleh ragi merupakan peristiwa anaerob (Schegel, 1994).
Ragi adalah mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi, dalam
fermentasi ragi roti berperan sangat krusial. Nama latin ragi roti adalah
Saccharomyces sacharomycae atau Saccharmyces cereviseae. Saccharomyces
cereviseae dapat menguraikan gula menjadi alkohol.
Mikroorganisme yang digunakan dalam ragi umumnya terdiri atas berbagai
bakteri dan fungi (khamir dan kapang), yaitu Rhizopus, Aspergillus, Mucor,
Amylomyces, Endomycopsis, Saccharomyces, Hansenula anomala, Lactobacillus,
Acetobacter, dan sebagainya. Ragi terbagi menjadi 3 jenis ragi, berdasarkan cara
penggunaan, dan penyimpanannya :
1.

Ragi segar/basah (fresh yeast)


Kemasan berbentuk balok dengan menggunakan kertas kedap air. Harus

disimpan dalam lemari es temperatur 1-5oC. Ragi ini mengandung 30% zat padat
dan 70% zat cair. Cara penggunaan bisa langsung dicampurkan bersamaan
dengan bahan lainnya. Penggunaan dengan cara diremas-remas lalu dicampur ke
dalam adonan roti (tahan 3-4 minggu) (Apriyantono, 1995).
2.

Ragi instan (instant yeast)


Berbentuk butiran halus dikemas dalam pembungkus dari bahan alumunium

foil dalam keadaan vakum (hampa udara), dan diisi gas nitrogen. Ragi
mengandung 98% zat padat dan 2% zat cair. Cara pemakaian, bisa langsung dan
tidak langsung.

Dicampurkan bersamaan dengan bahan lainnya, tanpa harus

12

dicairkan terlebih dahulu. Cara penyimpanan dalam suhu normal bila bungkus
belum dibuka, dan bila sudah terbuka simpan dalam lemari pendingin, usahakan
jangan dikeluarkan dari kemasan asli atau kemasan kedap udara (Susanto dan
Saneto, 1994).
3.

Ragi koral (active dry yeast)


Berbentuk butiran agak besar dan biasa dikemas dalam kaleng tertutup

rapat. Ragi ini mengandung 92% zat cair dan 8% zat padat. Cara pemakaian,
sebelum digunakan harus direndam dahulu dengan air hangat bertemperatur 30oC
selama 15 menit. Penyimpanan cukup ditutup rapat di tempat yang sejuk dan
kering setelah digunakan (tahan sampai 12 bulan). Jumlah pemakaian 1,5-2 kali
dari pemakaian ragi instan (Apriyantono, 1995).

2.5 Saccharomyces cerevisiae


Saccharomyces cerrevisiae termasuk khamir dalam kelas Saccharomycetales
yang berbentuk oval-bulat dan memanjang. Saccharomyces cerevisiae adalah jenis
khamir utama yang berperan dalam produksi minuman beralkohol seperti bir,
anggur, dan juga digunakan untuk fermentasi adonan dalam perusahaan roti dan
fermentasi tape. Kultur yang dipilih harus dapat tumbuh dengan baik dan
mempunyai toleransi yang tinggi terhadap alkohol serta mampu menghasilkan
alkohol dalam jumlah banyak (Irianto, 2006). Saccharomyces cerevisiae
merupakan khamir yang umum digunakan dalam industri fermentasi etanol.
Biasanya khamir yang digunakan sebanyak 5% dari volume. Proses fermentasi
membutuhkan waktu sekitar 28-72 jam, tetapi biasanya 44 jam untuk

13

menghasilkan etanol dengan konsentrasi 810% dengan suhu optimum berkisar


32330C (Riegel, 1992).
Dalam ragi banyak terdapat Sacharomoces cerevisae yang mempunyai daya
konversi gula yang sangat tinggi karena menghasilkan enzim zimase dan
intervase. Perubahan sukrosa menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa).
Sedangkan enzim intervase mengubah glukosa menjadi alkohol (Judoamidjojo,
dkk., 1990).
Berdasarkan sifat metabolismenya Saccharomyses cerevisiae merupakan
khamir yang bersifat fermentatif kuat, yaitu dapat memecah glukosa melalui jalur
glikolisis (fermentasi alkohol). Tetapi dengan adanya oksigen, Saccharomyses
cerevisiae dapat bersifat oksidatif, yaitu mengoksidasi gula menjadi karbon
dioksida dan air. Oleh karena itu, tergantung dari kondisi pertumbuhan,
Saccharomyses cerevisiae dapat mengubah system metabolismenya dari
fermentative menjadi oksidatif. Saccharomyses cerevisiae sering digunakan dalam
industri terutama industri roti dan bir (Fardiaz, 1992: 229-245).
Ada empat macam fase pertumbuhan mikroorganisme yaitu :
1. Fase lag
Merupakan fase adaptasi, yaitu fase penyesuaian mikroorganisme pada
suatu lingkungan baru. Ciri fase lag adalah tidak adanya peningkatan jumlah sel,
yang ada adalah peningkatan usuran sel. Lama fase lag tergantung pada kondisi
dan jumlah awal mikroorganisme dan media pertumbuhan. Bila sel-sel
mikroorganisme diambil dari kultur yang sama sekali berlainan, maka yang sering

14

terjadi adalah mikroorganisme tersebut tidak mampu tumbuh dalam kultur


(Pratiwi, 2008 : 105).
2. Fase log (fase eksponensial)
Pada fase ini pembiakan bakteri berlangsung paling cepat. Jika kita ingin
mengadakan piaraan yang cepat tumbuh, maka bakteri dalam fase ini baik sekali
untuk dijadikan inokolum (Dwidjuseputro, 1998). Sel akan membelah dengan
laju yang konstan massa menjadi dua kali lipat dengan laju yang sama, aktivitas
metabolit konstan dan keadaan pertumbuhan yang seimbang (Pelczar, 2005).
Setelah memperoleh kondisi ideal dalam pertumbuhannya, sel melakukan
pembelahan. Karena pembelahan sel merupakan persamaan ekponensial, maka
fase itu disbut juga fase eksponensial. Pada fase perbanyakan jumlah sel
meningkat pada batas tertentu (tidak terdapat pertumbuhan bersih jumlah sel),
sehingga memasuki fase statis. Pada fase perbanyakan sel melakukan konsumsi
nutrien dan proses fisiologis lainnya. Pada fase itu produk senyawa yang di
inginkan oleh manusia terbentuk, karena senyawa terbentuk merupakan senyawa
yang di inginkan pada fase perbanyakan adalah etanol, asam laktat dan asam
organik lainnya (Purwoko, 2007).
3. Fase stasioner
Fase stasioner merupakan saat laju pertumbuhan bakteri sama dengan laju
kematiannya, sehingga jumlah bakteri keseluruhan akan tetap. Keseimbangan
jumlah keseluruhan bakteri ini terjadi karena adanya pengurangan derajat
pembelahan sel. Hal ini disebabkan oleh kadar nutrisi yang berkurang dan terjadi
akumulasi produk toksik sehingga mengganggu pembelahan sel. Fase stasioner ini

15

dilanjutkan dengan fase kematian yang ditandai dengan peningkatan laju kematian
yang melampaui laju pertumbuhan (Volk dan Wheeler, 1993).
4. Fase kematian
Jumlah sel yang mati meningkat, faktor penyebabnya adalah ketidaksediaan
nutrisi dan akumulasi produk buangan yang toksik. Kurva fase pertumbuhan dari
mikroorganisme ditunjukkan pada gambar 1 (Pratiwi, 2008 : 106).

Gambar 1. Kurva fase pertumbuhan mikroorganisme


(Pratiwi, 2008: 106)

2.6 Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses dimana komponen - komponen kimiawi
dihasilkan sebagai akibat adanya pertumbuhan maupun metabolisme mikroba.
(Fardiaz, 1992).
Kata fermentasi (fermentation dalam bahasa Inggris) berasal dari kata
latin ferfere yang artinya mendidihkan. Ini dapat dianggap sebagai suatu
peninggalan pada waktu ilmu kimia masih sangat muda sehingga terbentuknya
gas dari suatu cairan kimia hanya dapat dibandingkan dengan keadaan seperti air
mendidih. Pada masa itu memang belum diketahui bahwa kejadian tersebut dapat

16

pula terjadi gas-gas lain dalam cairan. Apalagi gas CO 2 yang terbentuk oleh proses
fermentasi (Judoamidjojo dkk, 1992).
Fermentasi pada umumnya adalah seperangkat proses yang di dalamnya
terdapat mikroba yang dibiakkan dalam suatu fermentor. Fermentor atau alat
untuk melakukan fermentasi adalah suatu tangki atau tong biasa yang berisi
mikroba dalam medium bahan makanan. Medium biakkan ini mengandung
sumber karbon seperti glukosa, pati hidrolisis atau sumber protein molase; sumber
protein atau nitrogen berupa tepung kedelai, air rebusan jagung atau tepung biji
kapas; sumber vitamin, seperti ekstrak ragi; mineral, dan beraneka bahan nutrisi
lain. Fermentor juga dilengkapi dengan alat kontrol yang mengatur temperatur,
pH, dan pemasukan oksigen ke dalam kaldu tempat sel tumbuh (Dinata, 2012:
196).
Faktorfaktor yang mempengaruhi fermentasi:
1. Jenis Khamir
Jenis khamir yang sering digunakan untuk fermentasi alkohol adalah jenis
Saccharomyces cerevisiae. Syarat yang digunakan untuk memilih khamir
fermentasi alkohol antara lain: cepat berkembang biak, tahan terhadap alkohol,
mempunyai sifat stabil, cepat mengadakan adaptasi dengan media yang
difermentasi. Jumlah khamir yang digunakan juga harus diperhatikan karena akan
mempengaruhi hasil fermentasi.
2. Konsentrasi Gula
Konsentrasi gula yang baik untuk fermentasi yaitu sekitar 10-18%. Bila
konsentrasi gula lebih dari 18% maka akan menghambat pertumbuhan dari

17

khamir, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi menjadi lebih lama
dan banyak gula yang tidak terfermentasi. Bila konsentrasi gula kurang dari 10%,
jumlah alkohol yang dihasilkan akan lebih kecil. Hal ini disebabkan karena unsur
karbon dari alkohol digunakan mikroba untuk tumbuh (Suharni, 2007).
3. pH Larutan
Suhu dan pH adalah faktor penting bagi pertumbuhan bakteri. Karena
masing-masing spesies bakteri mempunyai suhu dan pH optimum bagi
pertumbuhannya (Waluyo, 2007).
4. Suhu atau Temperatur
Suhu optimum untuk pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae adalah 2830C sehingga untuk fermentasi alkohol digunakan temperatur 28-30C.
5.

Oksigen

Udara atau oksigen selama proses fermentasi harus diatur sebaik mungkin
untuk memperbanyak atau menghambat pertumbuhan mikroba tertentu, misalnya
Acetobacter aceti yang penting dalam pembuatan cuka yang termasuk dalam
contoh bakteri aerobik, yaitu bakteri yang memerlukan oksigen. Ragi yang
menghasilkan etanol dari gula akan lebih baik dalam keadaan aerobik. Setiap
mikroba memerlukan oksigen yang berbeda jumlahnya untuk pertumbuhan atau
membentuk sel-sel baru dalam fermentasi. Saccharomyces cerevisiae dan
Saccharomyces ellipsoideus keduanya akan melakukan fermentasi terhadap gula
jauh lebih cepat dalam keadaan anaerobic (Fardiaz, 1992).

18

2.7 Destilasi
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk unit operasi
kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa
pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya
(Sutrisno dan Nurminabari, 2010).
Destilasi dapat dilakukan dengan cara :
1. Destilasi sederhana
Prinsip destilasi ini adalah perbedaan titik didih antara sampel dengan cairan
pengotornya, dimana zat pencampurnya memiliki titik didih tinggi. Maka dalam
proses destilasi ini harus diketahui titik didih sampel. Senyawa yang terdapat
dalam campuran akan menguap pada titik didih masing-masing (Walangare dkk,
2013).
2.

Destilasi bertingkat
Merupakan cara pemurnian zat cair dengan proses destilasi yang melibatkan

lebih dari satu kali penguapan dan pengembunan. Cara ini digunakan untuk
pemurnian senyawa yang titik didihnya rendah dan tidak berbeda jauh dengan
titik didih senyawa yang dimurnikan.
Destilasi bertingkat sebenarnya adalah suatu proses destilasi berulang.
Prinsipnya sama dengan destilasi sederhana, hanya pada destilasi bertingkat ini

19

memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan
dua komponen yang memilki perbedaan titik didih yang berdekatan. Untuk
memisahkan dua jenis cairan yang sama-sama mudah menguap dapat dilakukan
dengan destilasi bertingkat (Sutrisno dan Nurminabari, 2010).
3.

Destilasi uap
Merupakan cara pemisahan zat cair dengan air, umumnya dengan

mengalirkan uap air kedalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap
menjadi uap air pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan
langsung. Cara ini digunakan untuk zat cair yang memiliki titik didih tinggi,
sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya zat cair sudah terurai,
teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan. Destilasi uap didasarkan pada
volatilitas dari beberapap senyawa organik terhadap uap yang terjadi pada suhu
kurang dari 1000C (Sastrohamidjojo, 2004).
4.

Destilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang

sulit dipisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat
memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi
(Walangare dkk, 2013).
5.

Destilasi kering
Memanaskan material padat untuk mendapatkan fase uap dan cairnya.

Biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu
bata.
6.

Destilasi vakum

20

Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, metode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1
atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang
digunakan untuk mendestilasinya tidak perlu terlalu tinggi (Van Winkel, 1997).

2.8 Kromatogafi Gas


Kromatografi gas adalah proses pemisahan campuran menjadi komponenkomponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati
suatu lapisan serapan (sorben) yang diam. Fase gerak adalah gas dan zat terlarut
terpisah sebagai uap, pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas
bergerak (Adnan, 1997).
Kromatografi gas adalah suatu cara untuk memisahkan senyawa atsiri
dengan melewatkan arus gas melalui fase diam. Bila fase diam berupa zat padat
disebut kromatografi gas padat (GSC). Didasarkan pada sifat penyerapannya
kemasan kolom untuk memisahkan cuplikan terutama cuplikan gas. Kemasan
kolom yang lazim dipakai adalah silika gel, ayakan molekul dan arang. Bila fase
diam berupa cair disebut kromatografi gas cair (GLC). Fase cair disaputkan
berupa lapisan tipis pada zat padat pembawa dan pemisahan didasarkan pada
partisi, cuplikan yang masuk ke dan keluar dari lapisan zat cair. Banyak fase cair
yang dapat digunakan sampai suhu 400C mengakibatkan kromatografi gas cair
merupakan bentuk kromatografi gas yang paling serba guna dan selektif (Rohman
dan Ganjar, 2007).

21

Gambar 2. Bagan Alat Kromatografi Gas (Khopkar, 1990).


Keterangan dari bagan alat kromatografi gas adalah :
1. Silinder tempat gas pengangkut atau pembawa
Fase gerak pada kromatografi gas juga disebut dengan gas pembawa karena
awalnya adalah untuk membawa solut ke kolom, karenanya gas pembawa
tidak berpengaruh pada selektifitas. Gas pembawa yang paling sering dipakai
adalah helium (He), argon (Ar), nitrogen (N 2), hidrogen (H2), dan
karbondioksida (CO2). Keuntungannya adalah karena semua gas ini tidak
reaktif dan dapat dibeli dalam keadaan murni dan kering yang dikemas dalam
tangki tekanan tinggi. Pemilihan gas pembawa tergantung pada detektor yang
dipakai. Gas pembawa harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain,
harus inert (tidak bereaksi dengan sampel, pelarut sampel, material dalam
kolom), murni, dan mudah diperoleh (Agusta, 2000).
2. Pengatur aliran dan pengatur tekanan
Pengatur tekanan, tekanan diatur pada sekitar 1-4 atmosfer, sedangkan aliran
diatur 1-1000 liter gas per menit.

22

3. Tempat injeksi cuplikan atau gerbang suntik


Lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel secara cepat dan efisien.
Desain yang populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam
yang dilegkapi dengan septum karet pada satu ujung yang mengakomodasi
injeksi dengan syringe. Karena helium (gas pembawa) mengalir melalui
tabung, sejumlah volume cairan yang diinjeksikan (biasanya antara 0,1-3,0L)
akan segera diuapkan untuki selanjutnya dibawa ke kolom (Rohman, 2009).
4. Kolom
Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya
terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada
kromatografi gas. Keberhasilan suatu proses pemisahan terutama ditentukan
oleh pemilihan kolom. Kolom dapat terbuat dari tembaga, baja tahan karet,
aluminium, atau gelas. Kolom dapat berbentuk lurus, melengkung, atau
gulungan spiral sehingga lebih menghemat ruang (Agusta, 2000).
5. Detektor
Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat
keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan.
Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi
mengubah sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya
menjadi sinyal elektronik. Sinyal elektronik detektor sangat berfungsi untuk
analisis kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang
terpisah di antara fase diam dan fase gerak.

23

Beberapa detektor bersifat universal, yang berarti detektor bersifat peka


untuk tiap senyawa yang terelusi dari kolom. Pada sisi yang lain, ada
detektor yang bersifat selektif yang hanya peka terhadap senyawa tertentu,
yang menghasilkan suatu kromatogram tidak kompleks. (Rohman dan
Ganjar, 2007).
6. Pencatat atau recorder
Recorder berfungsi menampilkan kromatogram dan informasi-isnformasi lain
dengan mengguanakn grafik berwarna, merekam data kalibrasi, retensi, serta
perhitungan-perhitungan dengan statistik dan menyimpan data parameter
analisis untuk analisis senyawa tertentu (Rohman, 2009).
Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan senyawa yang mudah
menguap (dan stabil terhadap panas) bermigrasi melalui kolom yang mengandung
fase diam dengan suatu kecepatan yang tergantung pada rasio distribusinya. Pada
umumnya, solut akan terelusi berdasarkan pada peningkatan titik didihnya,
kecuali jika ada interaksi khusus antara solut dan fase diam. Pemisahan pada
kromatogfrafi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan
semua interaksi yang mungkin terjadi antara solut dan fase diam. Fase gerak yang
berupa gas akan mengelusi solut dari ujung kolom lalu menghantarkannya ke
detektor. Penggunaan suhu yang meningkat (biasanya pada kisaran 50-3500C)
bertujuan untuk menjamin bahwa senyawa akan menguap dan cepat terelusi
(Rohman dan Ganjar, 2007 : 364).
Syarat suatu senyawa dapat dianalisis dengan komatografi gas adalah
senyawa tersebut harus bersifat mudah menguap. Kromatografi ini dapat
digunakan untuk tujuan analisis kualitatif dan analisi kuantitatif, serta dapat

24

digunakan untuk tujuan preparatif. Gas pembawa berupa gas permanen yang
mempunyai kapasitas adsorpsi yang sangat rendah. Fungsi gas pembawa adalah
membawa sampel ke dalam system kromatografi gas. Pada injector dalam kolom,
sampel dimasukkan secara langsung ke dalam kolom. Teknik injeksi langsung ke
dalam kolom digunakan senyawa-senyawa yang mudah menguap. Suhu kolom
merupakan salah satu parameter yang menentukan dalam analisis dengan
kormatografi gas.
Pada garis besarnya, detektor kromatografi gas termasuk detektor
diferensial, yakni respon yang keluar dari detector memberikan hubungan yang
linier dengan kadar atau laju aliran massa komponen yang terpisah. Kromatogram
yang merupakan hasil pemisahan fisik komponen-komponen oleh kromatografi
disajikan oleh detektor sebagai deretan luas puncak terhadap waktu (Rohman,
2007).
Keuntungan kromatografi gas untuk analisis fisiko-kimia adalah:
1. Aliran fase mobile (gas) sangat terkontrol dan kecepatan tetap.
2. Sangat mudah terjadi pencampuran uap sampel ke dalam aliran fase mobile
3. Pemisahan fisik terjadi di dalam kolom yang jenisnya banyak sekali, panjang,
dan temperaturnya dapat diatur.
4. Banyak macam detektor yang dapat dipakai pada kromatografi gas dantanggap
detektor adalah proporsional dengan jumlah tiap komponen yang keluar dari
kolom.
5. Kromatografi gas sangat mudah di gabung dengan instrumen fisiko-kimia
yang lainnya, contoh: GC/FT-IR/MS (Mulja dan Suharman, 1995 : 149-150).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Obyek Penelitian


Obyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kadar
bioetanol pada ampas tebu yang difermentasi dengan ragi roti (Saccharomyces
cerrevisiae).

3.2 Sampel dan Teknik Sampling


Sampel pada penelitian ini adalah limbah berupa ampas tebu yang
dikumpulkan dan diperoleh dari pabrik gula daerah Trangkil, Pati.
Teknik sampling yang digunakan adalah teknik random sampling dimana
setiap ampas tebu (Saccharum officinarum L.) mempunyai kemungkinan yang
sama untuk digunakan sebagai sampel.

3.3 Variabel Penelitian


1.

Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini adalah perbedaan lama fermentasi 0, 3, 6
dan 9 hari.

2.

Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah kadar bioetanol pada limbah ampas
tebu.

25

26

3.

Variabel kontrol
Variabel kontrol pada penelitian ini adalah alat dan bahan, suhu destilasi,
konsentrasi ragi roti dan metode analisa yang digunakan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data


3.4.1 Metode Analisa
Metode analisa yang digunakan adalah pengukuran menggunakan instrumen
Gas Cromatography (GC).

3.4.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian : alatalat gelas, Corong Buchner,
blender, neraca digital (AND, GF-600), penangas air (waterbath), rangkaian alat
destilasi, batu didih, kain flannel, Kromatografi Gas.
Bahan yang digunakan sebagai berikut : ampas tebu, ragi roti yaitu
Saccharomyces cerrevisiae, H2SO4 2N, H2SO4 25%, Aquadest, KI 20%,
CH3COOH 3%, reagen Luff Schoorl, Na2S2O3 0,1N, Amylum 1%, NaOH 30%,
HCl 3% dan es batu.

3.4.3

Prosedur Kerja

2.4.3.1 Persiapan Sampel


1. Ampas tebu disortasi, diambil yang bagus, tidak terserang penyakit bercak
merah, jamur dan gangguan lain.

27

2. Dicuci dan diperas dengan bantuan air sampai hilang kadar kemanisannya
(tidak berasa).
3. Ampas tebu dipotong-potong ukuran 2 cm dan dikeringkan dalam
kabinet dryer suhu 50C selama 12 jam. Setelah kering ampas tebu
digiling dan diayak dengan ayakan 100 mesh.

3.4.3.2 Proses Penetapan Karbohidrat


1. Sampel halus ditimbang dengan seksama 5 gram kedalam erlenmeyer 500
mL.
2. Ditambahkan HCl 3% sebanyak 100 mL dan didihkan selama 3 jam
dengan pendingin tegak.
3. Larutan didinginkan dan dinetralkan dengan larutan NaOH 30% (uji
kualitatif dengan kertas lakmus atau Phenolphthalein) dan ditambahkan
sedikit CH3COOH 3% agar suasana larutan agak sedikit asam.
4. Pindahkan isinya kedalam labu ukur 500 mL, dan akuades ditambahkan
sampai tanda batas, kemudian saring.
5. Filtrat dipipet sebanyak 10 mL kedalam Erlenmeyer 500 mL dan
ditambahkan

larutan

Luff

Schoorl

sebanyak

25

mL,

kemudian

ditambahkan air suling sebanyak 15 mL dan beberapa batu didih.


6. Campuran tersebut dipanaskan dengan nyala yang tetap. Diusahakan agar
larutan dapat mendidih dalam waktu 3 menit (menggunakan stopwatch)
didihkan terus sampai 10 menit.
7. Dinginkan dengan es batu dalam bak.

28

8. Setelah dingin ditambahkan KI 20% sebanyak 15 mL dan H2SO4 25%


sebanyak 25 mL perlahan-lahan.
9. Titrasi secepatnya dengan larutan Na2S2O3 0,1 N (gunakan indikator
amilum 1%).
10. Dilakukan titrasi blanko.

3.4.3.3 Proses Fermentasi


1. Sampel yang telah siap, ditambahkan air hingga 400 ml kemudian
dididihkan hingga 100oC selama 30 menit.
2. Diambil 150 ml sebagai starter dan 250 ml sebagai bubur ampas tebu.
3. Starter setelah dingin, ditambah larutan H2SO4 2N secukupnya, diaduk.
4. Dilakukan pemeriksaan pH 5.
5. Bubur ditutup rapat lalu dibiarkan selama 1 jam.
6. Setelah 1 jam, dimasukkan ragi roti (bread yeast) 0,5% (b/v).
7. Erlenmeyer ditutup rapat, dilakukan fermentasi secara anaerob dan suhu
dijaga pada 28-32oC selama 6 jam.
8. Dicampur 250 ml bubur dengan starter.
9. Dilakukan fermentasi selama 0, 3, 6 dan 9 hari.
10. Larutan disaring, dilakukan destilasi.
11. Dilakukan pengulangan sampai 2 kali.

3.4.3.4 Proses Destilasi


1. Larutan hasil fermentasi dimasukkan ke dalam alat destilasi.

29

2. Dilakukan destilasi pada suhu 70-80oC dengan menggunakan waterbath.


3. Ditampung destilat pada labu takar.

3.4.3.5 Penetapan Kadar


Penetapan kadar bioetanol hasil fermentasi dilakukan dengan metode
kromatografi gas (GC), yang dilakukan di laboratorium kimia di fakultas MIPA
UNNES. Dihitung kadar bioetanol dengan membandingkan luas area sampel
dengan baku yang dihasilkan dari kromatogram.

3.4.3.6 Hipotesa
1. Didapatkan kadar rata-rata bioetanol ampas tebu (Saccharum officinarum L.)
dengan lama waktu fermentasi 0, 3, 6 dan 9 hari.
2. Didapatkan kadar tertinggi bioetanol hasil fermentasi ampas tebu (Saccharum
officinarum L.)

30

3.4.4

Skema Kerja

2.4.4.1 Penetapan Kadar Karbohidrat


Ditimbang 5 gram serbuk ampas tebu

Ditambah 100 ml HCl 3%


Didihkan selama 30 menit dengan pendingin tegak

Dinetralkan + NaOH 30%


Diuji kualitatif dengan kertas lakmus sampai netral
Ditambah CH3COOH 3%

Dipindah dalam labu takar 500ml + akuades ad


tanda batas
Disaring
Filtrat dipipet 10,0 ml
Ditambah Luff Schoorl 25 ml + akuadest 15 ml +
batu didih

Dipanaskan sampai 10 menit

Didinginkan dengan es batu dalam bak

Ditambah KI 20% 15 ml + H2SO4 25%


25ml

Dititrasi dengan dengan Na2S2O3 0,1N +


Amylum 1%
Dilakukan
titraisdalam
blangkoAmpas Tebu
2.4.4.2 Penetapan Kadar
Bioetanol

31

Ditimbang 5g serbuk

Ditambah air hingga 400 ml

Dipanaskan 100C selama 30 menit

250 ml bubur ampas tebu

Diambil 150 ml sebagai starter


Setelah dingin, ditambah H2SO4 2N
Dicek pH 5

Ditutup rapat, dibiarkan selama 1 jam


Diaduk
Ditambah ragi roti 0,5%

Diaduk
Difermentasi selama 6 jam

Dicampurkan

Difermentasi 0, 3, 6 dan 9 hari

Didestilasi
Dihitung kadar etanol dengan
kromatografi gas
Dilakukan pengulangan sampai 2kali

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pemanfaatan ampas dari tanaman tebu (Saccharum


officinarum L.) atau disebut bagasse sebagai bahan baku pembuatan bioetanol
dengan proses fermentasi menggunakan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae).
Ampas tebu adalah hasil samping dari proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu.
Digunakan ampas tebu karena ampas tebu merupakan hasil sisa yang tidak
terpakai dan tidak memiliki nilai ekonomis. Ragi roti (Saccharomyces cerevisiae)
mengandung nutrisi tambahan yang menunjang viabilitas sel Saccharomyces
cerevisiae yang diawetkan dalam kemasan (Reed, 1991).
Ampas tebu diambil yang bagus, tidak terserang penyakit bercak merah,
jamur atau gangguan lain. Kemudian ampas tebu dicuci dan diperas dengan
bantuan air untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel dan untuk
menghilangkan kadar kemanisannya (tidak berasa). Setelah dicuci ampas tebu
dipotong-potong ukuran 2 cm agar mudah dalam peroses penyerbukan dan
dikeringkan dalam kabinet dryer suhu 50 C selama 12 jam. Setelah kering ampas
tebu diblender dan diayak dengan ayakan 100 mesh. Sampel ampas tebu dibuat
dalam bentuk tepung tujuannya agar lebih awet dari gangguan mikroorganisme
dan tahan lama sebagai cadangan sampel.
Pertama dilakukan penetapan kadar gula dalam ampas tebu. Pada penetapan
kadar gula ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula yang terkandung dalam
ampas tebu, karena kandungan gula yang terkandung akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan khamir dari ragi roti tersebut. Konsentrasi gula (glukosa) yang baik

32

33

untuk pertumbuhan khamir adalah tidak lebih dari 18% (Suharni, 2007). Kadar
gula dari ampas tebu diperoleh 21,90%.
Dilakukan penetapan kadar gula pada sampel ampas tebu dengan metode
Luff Schoorl. Metode Luff Schoorl merupakan cara penentuan monosakarida
dengan cara kimiawi. Pada penentuan metode ini, yang ditentukan bukannya
Cu2O yang mengendap tapi dengan menentukan Cu2O dalam larutan sebelum
direaksikan dengan gula reduksi (titrasi blanko) dan sesudah direaksikan dengan
sampel gula reduksi (titrasi sampel). Penentuan kadar gula dilakukan titrasi
dengan menggunakan Na-tiosulfat. Selisih titrasi blanko dengan titrasi sampel
ekuivalen dengan Cu2O yang terbentuk dan juga ekuivalen dengan jumlah gula
reduksi yang ada dalam bahan / larutan. Reaksi yang terjadi selama penentuan
karbohidrat cara ini mula- mula Cu2O yang ada dalam reagen akan membebaskan
iod dari garam KI. Banyaknya iod yang dibebaskan ekuivalen dengan banyaknya
Cu2O. Banyaknya iod dapat diketahui dengan titrasi dengan menggunakan Natiosulfat. Untuk mengetahui bahwa titrasi sudah cukup maka diperlukan indikator
amilum. Apabila larutan berubah warnanya dari biru menjadi putih, adalah
menunjukkan bahwa titrasi sudah selesai. Reaksi yang terjadi dalam penentuan
gula secara Luff schoorl dapat dituliskan sebagai berikut :
R COH + 2CuO

Cu2O + R-COOH .(1)

H2SO4 + CuO

CuSO4 + H2O ....(2)

CuSO4 + 2KI

Cu2 I2 .....(3)

I2 + Na2S2O3

Na2S4O6 + NaI....(4)
(Sudarmadji, 1997)

34

Pada penetapan kadar glukosa menghasilkan kadar glukosa seperti yang


terdapat dalam tabel berikut.
Tabel 2. Hasil Penetapan Kadar Glukosa
Replikasi

Kadar Gula
Sebelum Inversi
21,87%
21,76%
22,07%
21,90% 0,16

Replikasi I
Replikasi II
Replikasi III
X SD

Kadar Karbohidrat
19,68%
19,58%
19,86%
19,71% 0,14

Dari tabel 2 dapat disimpulkan ampas tebu memiliki kadar glukosa 21,90%.
Konsentrasi gula yang baik untuk fermentasi yaitu sekitar 10-18% (Suharni,
2007). Konsentrasi gula yang didapat lebih dari 18%, maka akan menghambat
pertumbuhan dari khamir, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi
menjadi lebih lama dan banyak gula yang tidak terfermentasi. Dapat dijelaskan
dari data di atas bahwa ampas tebu dapat dibuat menjadi produk bioetanol karena
mengandung

selulosa

yang

dapat

menjadi

nutrient

bagi

pertumbuhan

Saccharomyces cerevisiae pada ragi roti saat fermentasi terjadi dan dapat
digunakan sebagai substrat pembuatan bioethanol. Substrat yang dimaksudkan
dalam ampas tebu ini adalah selulosa.
Lignoselulosa merupakan senyawa karbohidrat poliskarida yang banyak
terdapat dalam ampas tebu yang sulit dilakukan fermentasi secara langsung karena
Saccharomyces cerevisiae tidak dapat memecah polisakarida menjadi alkohol
sehingga dilakukan proses hidrolisis (penguraian) polisakarida secara mekanik
dan kimia terlebih dahulu.

35

Proses

hidrolisis

bertujuan

untuk

mengubah

polisakarida

menjadi

monosakarida dan disakarida. Ditambahkan larutan H2SO4 2N agar proses


perubahan berjalan lebih cepat dan juga sebagai katalisator sekaligus pengontrol
suasana asam karena Saccharomyces cereviceae tumbuh optimal pada pH antara
4,5-5. Pada saat berlangsungnya proses fermentasi akan dihasilkan lagi asam,
sehingga akan menambah derajat keasaman dari medium akan dan dapat
mempengaruhi perkembangbiakan dari khamir (Suharni, 2007: 209-212).
Dikondisikan pH 5 agar Saccharomyces cerevisiae masih tetap hidup selama
proses fermentasi, karena pada saat proses fermentasi berjalan akan dihasilkan
lagi asam sehingga derajat keasaman dari medium akan bertambah dan dapat
mempengaruhi perkembangbiakan dari khamir.
Pembuatan

starter

bertujuan

untuk

mempercepat

fase

log

dari

Saccharomyces cerevisiae sehingga fase log akan cepat tercapai. Fase log adalah
fase saat mikroba membelah dengan cepat, peningkatan jumlah mikroba yang
melakukan aktivitas metabolisme menghasilkan kadar etanol yang tinggi
(Suriawiria, 1995 : 80). Tujuan mempercepat pencapaian fase log karena alkohol
dihasilkan pada fase ini. Sehingga dengan bertambahnya jumlah mikroba maka
bertambah juga etanol yang dihasilkan.
Dalam ragi roti terkandung khamir Saccharomyces cerevisiae yang akan
menghasilkan enzim zimase, invertase, karboksilase dan maltase selama proses
fermentasi berlangsung. Proses hidrolisis menghasilkan maltosa yang akan
dihidrolisis lagi menjadi glukosa oleh enzim zimase dan enzim maltase yang
dihasilkan oleh khamir Saccharomyces cerevisiae. Glukosa yang terbentuk akan

36

mengalami glikolisis atau proses pemecahan glukosa melalui jalur EmbdenMayerhoff-Parnas (EMP). Pemecahan glukosa yang terjadi mengikuti jalur
Embden-Mayerhorff-Parnas (EMP) karena pemecahan glukosa melalui jalur EMP
ini terjadi pada fungi, kebanyakan bakteri, serta pada hewan dan manusia
(Fardiaz, 1992: 58) dan pada fermentasi ini digunakan ragi roti dimana penyusun
utamanya adalah khamir Saccharomyces cerevisiae yang merupakan golongan
fungi. Proses glikolisis atau pemecahan glukosa melalui jalur Embden-MayerhoffParnas (EMP) terdiri dari 10 tahap. Reaksi yang terjadi dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 3. Reaksi Embden-Mayerhof-Parnas Pathway pembentukan etanol


(Judoamidjojo dkk, 1992)
Tahap pertama terjadi fosforilasi glukosa, yaitu pemindahan ikatan fosfat
yang mempunyai energi tinggi dari ATP ke dalam glukosa pada atom C nomor

37

enam. Reaksi ini berlangsung dengan enzim kinase. Kemudian pada tahap kedua
terjadi reaksi isomerasi dari glukosa-6-fosfat yaitu fruktosa-6-fosfat, dengan
pertolongan enzim isomerase. Reaksi ini suatu reaksi bolak-balik.
Tahap ketiga adalah pemindahan fosfat baru dari ATP ke fruktosa-6-fosfat
pada atom C nomor satu, dengan pertolongan enzim kinase. Hasilnya adalah
fruktosa-1,6-difosfat dan reaksinya berjalan satu arah.
Tahap keempat adalah pecahnya fruktosa 1,6-difosfat pada ikatan antara
atom C nomor tiga dan nomor empat menjadi bentuk aldol, yaitu dengan
pertolongan enzim aldolase. Reaksi tersebut berjalan bolak-balik dengan hasil
reaksinya adalah dehidroksi-asetonfosfat dan gliseraldehida-3-fosfat.
Tahap kelima terjadi oksidasi dari aldehida dengan pertolongan enzim
dehidrogenase. Reaksi ini bersifat bolak-balik menghasilkan asam 1,3-difosfat
gliserat. Energi yang dihasilkan dari oksidasi ini digunakan untuk membentuk
ikatan kimia yang mempunyai energi tinggi. Tahap keenam terjadi perpindahan
ikatan kimia yang mempunyai energi tinggi dari atom C nomor satu ke ADP
dengan menghasilkan ATP dan asam 3-fosfogliserat, dengan pertolongan enzim
kinase. Reaksi ini bersifat bolak-balik.
Tahap ketujuh terjadi isomerasi fosfat pada asam gliserat dari atom C nomor
tiga ke atom C nomor dua, dengan pertolongan enzim isomerase menjadi 2fosfogliserat (Fardiaz, 1992 : 41-43).
Kemudian terjadi pembentukan ikatan rangkap (dehidrasi) antara atom C
nomor dua dan nomor tiga, sehingga 2-fosfogliserat menjadi fosfoenol piruvat
dengan bantuan enzim enolase. Reaksi ini disertai dengan dehidrogenasi yang
menghasilkan H2O dan berjalan bolak-balik. Pelepasan H2O pada tahap ketujuh

38

akan dapat meninggikan energi dari ikatan fosfat, sehingga pada tahap kedelapan
ikatan fosfat akan berpindah ke ADP untuk membentuk ATP dengan pertolongan
enzim kinase. Hasilnya adalah asam piruvat, dan reaksi ini berjalan bolak-balik.
Tahap yang terakhir asam piruvat yang dihasilkan dari proses glikolisis ini
selanjutnya mengalami dekarboksilasi yaitu kehilangan satu gugusan karboksil
menjadi asetaldehid. Kemudian asetaldehid tereduksi oleh NADH menjadi etanol
dengan pelapasan NAD+ (Fardiaz, 1992 : 41-43).

Gambar 4. Reaksi perubahan asam piruvat menjadi alkohol


(Fardiaz, 1992).
Pada penelitian ini digunakan waktu fermentasi selama 0, 3, 6 dan 9 hari
untuk mengetahui waktu fermentasi yang optimum. Karena masa fermentasi
optimum dari ragi roti adalah 3-14 hari untuk menghasilkan enzim dalam
mengubah alkohol dengan kadar alkohol 0-1%. Kemudian dilakukan destilasi
untuk membantu memisahkan alkohol dengan air.
Setelah dilakukan proses fermentasi kemudian dilakukan proses destilasi
yang bertujuan untuk memisahkan alkohol dengan air. Destilasi yang digunakan
adalah destilasi sederhana. Pada saat destilasi, pemanasan dilakukan dengan
penangas air (waterbath) dan suhu pemanasan dijaga antara 78-80oC karena titik
didih dari alkohol adalah 78,4oC. Ditambahkan 5 butir batu didih di dalam alas

39

bulat bertujuan untuk mencampur dan meratakan pemanasan sehingga pendidihan


teratur pada semua bagian dalam labu alas bulat.
Hasil

destilat

kemudian

diukur

dengan

menggunakan

instrumen

Kromatografi Gas (GC) untuk mengukur kadar alkohol. Hasil pengukuran akan
diperoleh luas area dari masing-masing konsentrasi sampel dan dibandingkan
dengan standar alkohol 4 titik yaitu 0,2; 0,4; 0,8 dan 1,0%. Digunakan standar
etanol 0,2; 0,4; 0,8 dan 1,0% karena hasil luas area dan peak yang dihasilkan oleh
sampel adalah kecil. Apabila digunakan standart 20-100% maka hasilnya tidak
masuk dalam range linieritas dari standar. Sehingga terbentuk garis linier seperti
pada gambar 5 dengan bentuk peak pada kadar 1,0% dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 5. Kurva linier standar etanol

40

Gambar 6. Kromatogram Standar Bioetanol kadar 1,0%


Pada pengukuran dengan Kromatografi Gas digunakan gas jenis Helium
dengan Kolom yang digunakan jenis Capillary Coloum dengan temperatur
maksimal yang dapat digunakan kolom 300C. Detektor yang digunakan adalah
FID (Flame Ionization Detektor).
Tabel 3. Hasil Pengukuran Kadar dengan Kromatografi Gas
Replikasi
Replikasi I
Repilkasi II
X
SD

0 hari
0
0
0%
0

Lama Fermentasi
3 hari
6 hari
0,50%
0,65%
0,45%
0,66%
0,48%
0,66%
0,03535
0,00707

9 hari
0,92%
1,00%
0,96%
0,05656

Kadar alkohol dalam sampel tergolong sangat rendah. Hal ini disebabkan
karena tidak dilakukannya proses delignifikasi terlebih dahulu pada sampel.

41

Hambatan proses hidrolisis selulosa baik secara asam maupun enzimatis


adalah adanya struktur kristalin dan lignin yang berfungsi sebagai pelindung
selulosa. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pemberian perlakuan pendahuluan
(pretreatment) terhadap bahan yang akan dihidrolisis. Salah satu metode
perlakuan pendahuluan secara kimia adalah perlakuan delignifikasi menggunakan
natrium hidroksida (NaOH). Delignfikasi dilakukan dengan larutan natrium
hidroksida (NaOH), karena larutan ini dapat menyerang dan merusak struktur
lignin, bagian kristalin dan amorf, memisahkan sebagian lignin dan hemiselulosa
serta menyebabkan penggembungan struktur selulosa (Rohana dkk, 2013).
Seperti yang diketahui pada limbah lignoselulosa, selulosa terikat dengan
lignin sehingga sulit sekali dilakukan hidrolisis selulosa tanpa memecah
pelindung lignin ini terlebih dahulu. Untuk memecah pelindung lignin perlu
dilakukan perlakuan pendahuluan terhadap bahan baku yaitu dengan proses
delignifikasi. Delegnifikasi adalah proses perendaman dengan larutan basa
(NaOH, NH4OH). Menurut Suparyana (2010), konsentrasi larutan NaOH 6% dan
lama perendaman 12 jam dengan perbandingan substrat 1:15 terhadap NaOH,
menghasilkan serbuk ampas tebu terdelignifikasi terbaik dengan kadar selulosa,
hemiselulosa, lignin, dan nilai retensi air berturut-turut adalah 72,49; 9,09; 11,88
dan 15,90% (Gunam dkk, 2011).
Ampas tebu memiliki struktur yang kompleks. Oleh sebab itu, biomassa
ampas tebu merupakan material yang lebih sulit didegradasi dan dikonversi
dibandingkan material berbahan dasar dari pati. Hidrolisis ampas tebu relatif
prospektif, karena juga menghasilkan monomer-monomer gula. Hidrolisis ampas

42

tebu dapat dilakukan dengan hidrolisis asam dan hidrolisis enzimatis (Rohana
dkk, 2013). Atau juga dapat dilakukan proses delignifikasi. Lignoselulosa perlu
diberi perlakuan delignifikasi untuk mengurangi atau menghilangkan hambatanhambatan tersebut (Hermiati dkk, 2010). Berdasarkan penelitian (Ariyani dkk,
2013) pembuatan bioetanol dari jerami didapatkan kadar etanol paling tinggi
sebesar 6,41% dengan proses hidrolisa asam menggunakan HCl 21% dan lama
fermentasi selama 13 hari.
Ampas tebu memiliki kandungan lignin yang cukup tinggi yaitu 22,09%.
Karena tidak dilakukan proses delignifikasi substrat lignin pada sampel tidak
dapat terurai atau terpecah. Sehingga polisakarida tidak dapat terpecah menjadi
glukosa yang dapat diubah menjadi alkohol dengan proses fermentasi
menggunakan bantuan yeast Saccharomyces cerevisisae yang memengaruhi kadar
bioetanol yang dihasilkan. Tidak terpecahnya ikatan lignin dan selulosa, sehingga
selulosa tidak dapat diubah menjadi glukosa dengan proses hidrolisis asam.
Sehingga kadar bioetanol yang dihasilkan sangat rendah. Dan juga karena destilasi
yang digunakan adalah destilasi sederhana.
Dari hasil pengukuran kadar bioetanol yang didapat, kadar bioetanol yang
paling tinggi adalah pada sampel yang difermentasi selama 9 hari. Dapat dilihat
pada gambar 7 berikut :

43

Gambar 7. Kromatogram sampel lama fermentasi 9 hari


Kadar bioetanol tertinggi yang dihasilkan dari fermentasi ampas tebu
sebesar 0,96%. Dari kadar tersebut bioetanol tidak dapat digunakan sebagai
pengganti bahan bakar minyak bumi, tetapi masih dapat digunakan dalam industri
minuman beralkohol.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
1. Kadar rata-rata bioetanol yang diperoleh dari lama fermentasi 0 hari, 3 hari, 6
hari dan 9 hari adalah 0%, 0,48%, 0,66% dan 0,96%.
2. Kadar bioetanol tertinggi yaitu 0,96% dari konsentrasi ragi roti 0,5% dengan
waktu fermentasi selama 9 hari.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan menggunakan bahan dasar
pembuatan bioetanol yang berbeda.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan perbandingan konsentrasi 1,0%
menggunakan proses delignifikasi pada sampel yang memiliki kandungan
lignoselulosa agar pemecahan polisakarida menjadi glukosa dapat terjadi dan
memperoleh kadar bioetanol yang maksimal.
3. Perlu dilakukan proses fermentasi sampai 14 hari.
4. Proses destilasi sebaiknya dilakukan secara bertingkat untuk mendapatkan
etanol yang lebih murni.

44

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Anlisis Bahan Makanan.


Yogyakarta : Andi Offset.
Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Ilmu Gizi.Jakarta: PT Gramedia.
Bustaman, S. 2008. Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku.
Perspektif, 7,6579.
Agusta, Andria. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung :
ITB
Apriyantono, A. 1995. Analisis Pangan. Pusbangtepa IPB : Bogor.
Depkes. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. Halaman 63.
Dinata, Deden Indra. 2012. Bioteknologi Pemanfaatan Mikroorganisme dan
Teknologi Bioproses. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Dwidjoseputro. (1998). Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Farid. B. 2003. Perbanyakan Tebu (Saccharum officinarum L.) Secara In Vitro
Pada Berbagai Konsentrasi IBA dan BAP. J. Sains dan Teknologi. 3:103109.
Fujita, M., and Harada, H. 1991. Ultrastructure and formation of wood cell wall.
p. In Hon, DNS and Shiraishi, N. Ed. Wood and Cellulosic Chemistry.
Inc. New York. Marcel Dekker 56: 357.
Gunam, I.B.Y., Wayan Redi Aryanta, W.R., dan Darma, I.B.N.S. 2011. Produksi
Selulase Kasar Dari Kapang Trichoderma viride Dengan Perlakuan
Konsentrasi Substrat Ampas Tebu Dan Lama Fermentasi. Jurnal Biologi
XV (2) : 29 33
Gusmailina, 2009. Pelatihan Produksi Bio-Ethanol. Bogor
Hamawi, M. 2005, Blotong Limbah Busuk Berenergi, Pradya Paramita, Jakarta.
Husin, 2007, Analisis Serat Bagas, (http://www.free.vlsm.org/, diakses
tanggal 29 November 2014)

45

46

Hermiati, E., Mangunwidjaja, D., Sunarti, T.C., Suparno, O., dan Bambang
Prasetya, B. 2010. Pemanfaatan Biomassa Lignoselulosa Ampas Tebu
Untuk Produksi Bioetanol. Jurnal Litbang Pertanian, 29(4), 2010.
Ikegami, 1997. Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang
Aspek Sosial- budaya Penggunaan Nira", Shigehiro, Annual Report of
the University of Shizuoka, Hamamatsu College, No.11-3, Part 5.
Indriani dan Sumiarsih. 1992. Pembudidayaan Tebu di Lahan Sawah dan Tegalan.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Irianto, K. 2006, Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 2, CV.
Yrama Widya. Bandung.
Judoamidjojo, Darwis, A.A., Said, E.G., 1990, Teknologi Fermentasi, PAU
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Juduamidjojo, M., Darwis, AA, dan Said, E.G. 1992.
Jakarta : Rajawali Press.

Teknologi Fermentasi.

Khopkar, S. M.. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta. Penerbit


Universitas Indonesia.
Kamara, D. S., S .D. Rachman, S. Gaffar. 2007. Degradasi Enzimatik Selulosa
Dari Batang Pohon Pisang untuk Produksi Glukosa dengan Bantuan
Aktivitas Selulolitik Trichoderma viride. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Padjadjaran, Bandung.
Khairani, Rini. 2007. Tanaman Jagung Sebagai Bahan Bio-fuel
http://www.Macklintmip unpad. net/ Biofuel/ Jagung/ Pati.pdf. diakses
tanggal 10 Desember 2014
Mulja, M. dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya : Airlangga
University Press.
Pelczar, M. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI: Jakarta.
Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Erlangga.
Prihandana, dkk. 2007. Bioetanol Ubi Kayu: Bahan Bakar Masa Depan. PT
AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Purwoko,T. 2007, Fisiologi Mikroba. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Reed, G, and Nagodawithana, T.W. 1991. Yeast Technology,2nd ed: Van Nostrand
Reinhold, New York pp 304-305.

47

Riegel, R., 1992. Riegels Handbook of Industrial Chemistry. Van Nostrad


Reinhold, New York.
Rohana, N.A., Mardiah, E., Afrizal. 2013. Produksi Selulase Dari Aspergillus
niger Dan Kemampuannya Menghidrolisis Ampas Tebu. Jurnal Kimia
Unand (ISSN No. 2303-3401), Volume 2 Nomor 2, Mei 2013.
Rohman, A. 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Rohman, A. dan Ginanjar I.G. 2007. Metode Kromatografi Untuk Analisis
Makanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
__________________. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Penerbit
Pustaka Pelajar
Sastrohamidjojo, H., (2004), Kimia Minyak Atsiri, Penerbit Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
__________________. 2009. Kimia Organik, Stereokimia, Karbohidrat, Lemak,
dan Protein. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Schegel, H. G. (1994). Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press.
Sudarmadji S., Bharyono, dan Suharti. 1997. Prosedur Analisa untuk Bahan
Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.
Suharni, Theresia, Nastiti dan Juni. 2007. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta :
Universitas Atmajaya.
Suriawiria, U. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa : Bandung.
Susanto, T. dan B. Saneto, 1994. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina
Ilmu, Surabaya.
Sutanto. 1993. Perbaikan Fermentasi Chiu (Etanol) dan Proses Penyulingannya.
Jakarta : Balai Pustaka.
Sutrisno, E.T. dan Nurminabari, I.S.2010.Penuntun Praktikum Kimia Dasar.
Universitas Pasundan : Bandung.
Van Winkle, (1997), Distillation, Mc Graw Hill, New York, p.604 641
Volk, W.A and M.F. Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Edisi Kelima. Jilid 1.
Penerbit Erlangga. Jakarta

48

Walangare, K.B.A., Lumenta, A.S.M., Wuwung, A,J.O., dan Sugiarso, B.A.


Rancang Bangun Alat Konversi Air Laut Menjadi Air Minum Dengan
Proses Destilasi Sederhana Menggunakan Pemanas Elektrik . Jurnal
Teknik Elektro dan Komputer. 2013
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Lingkungan. Malang : UMM Press.

Lampiran 1. Pembuatan Reagen Penetapan Kadar Karbohidrat


1.

Larutan Luff Schoorl, sebanyak 250 ml.


Di timbang

: 10,42 gram CuSO4.5H2O dilarutkan dalam 50 mL


akuades, 20,83 gram Asam sitrat dilarutkan dalam 50 mL
akuades, 59,92 gram Na2CO3, dilarutkan dalam 50 mL air
mendidih.

Cara pembuatan : 10,42 gram CuSO4.5H2O dilarutkan dalam akuades, 5


gram asam sitrat dilarutkan dalam akuades, 20,38 gram
Na2CO3 dilarutkan dalam akuades, secara perlahan lahan
asam sitrat dan Na2CO3 di dalam labu takar 250 ml, lalu
ditambah CuSO4.5H2O dan ditambah dengan akuades
samapai tanda batas.
2. Larutan Na2S2O3 0,1 N, sebanyak 250 mL
N=

a
1000
x
x val
Mr
Vol
a

1000

0,1 = 248,17 x
x1
250
a

= 6,204 gram

Cara pembuatan : di larutkan 6,204 gram Na2S2O3 dengan akuades dalam


labu takar 250 mL.
3. Larutan HCL 3 % sebanyak 600 mL
V1.N1= V2.N2
V1.32 % = 600.3 %
V1 = 56,25 mL
Cara pembuatan : 56,25 mL HCL 32% ditambah akuades ad 600 mL
4. Larutan NaOH 30% sebanyak 50 mL
NaOH =

30 gram
100 mL

50 mL = 15 gram

Cara pembuatan : ditimbang 15 gram NaOH dilarutkan dengan akuades


sebanyak 50 mL, dihomogenkan.
5. Larutan CH3COOH 3% sebanyak 50 mL
49

50

V1.N1 = V2.N2
V1.98% = 50.3%
V1

= 1,5 mL

Cara pembuatan : diukur 1,5 mL CH3COOH ditambah akuades ad 50 mL.


6. Larutan KI 20% sebanyak 70 mL
20 gram
x 70 mL = 14 gram
100 mL

KI =

Cara pembuatan : ditimbang KI 14 gram dilarutkan dalam 70 mL akuades.


7. Larutan H2SO4 25% sebanyak 100 mL
V1.N1 = V2.N2
V1.98% = 100.25%
V1

= 25,5 mL

Cara pembuatan : diukur H2SO4 sebanyak 25,5 mL dimasukkan dalam


beaker glass yang berisi 1/3 bagian akuades ditambah
akuades sampai 100 mL.
8. Larutan Amylum 1% sebanyak 50 mL
Amylum =

1 gram
x50mL 0,5 gram 500mgram
100 mL

Cara pembuatan : ditimbang amylum 500 mgram ditambah akuades 50 mL


diaduk dan dipanaskan hingga jernih.
9. Larutan KI 10 % sebanyak 50 mL
10 gram
x50mL 5 gram
100 mL

KI =

Cara pembuatan : ditimbang 5 gram KI ditambah akuades 50 mL dalam


beaker glass.
10. Larutan Baku KIO3 0,1 N sebanyak 100 mL
N=

a
1000
x
x val
Mr
Vol

0,1 =

a
1000
x
x6
214
100

a = 0,356 gram = 356 mgram


Cara pembutan : ditimbang 178 mgram KIO3, dimasukkan dalam labu
takar 100 ml, ditambah akuades sampai tanda batas.

Lampiran 2. Penetapan Kadar Karbohidrat


1.

Data Pembakuan
Penimbangan KIO3 = K + Z = 1,0290 gram
0,6626 gram 0,3664 gram
Normalitas KIO3 =
=

a
1000
x
x val
Mr
Vol
0,3664
1000
x
x6
214
100

= 0,1027 N
Data Titrasi Pembakuan Na2S2O3 dengan KIO3 0,1027N
No
1
2
3

Volume Sampel mL
10,0 mL
10,0 mL
10,0 mL

Volume Titrasi mL
10,40 mL
10,40 mL
10,42 mL

Normalitas Pembakuan
V1.N1= V2.N2
10,0.0,1027 = 10,41.N2
N1 = 0,0987 N
Jadi Normalitas Na2S2O3 yang sebenarnya adalah 0,0987 N
2.

Data Penetapan Kadar Karbohidrat


Penimbangan Sampel

No
1
2
3
4

K + Z gram K + S gram
5,6251
0,6239
5,9360
0,9320
5,6535
0,7437
Blangko
Perhitungan Karbohidrat
A. F1 = (25,25 16,33) x

Zat gram
5,0012
5,0040
4,9098

0,0987
0,1

= 8,80 mL
51

Volume Titran mL
16,33
16,37
16,42
25,25

52

Interpolasi
0,8039
0,20

8,00 mL

19,8 mg

8,80 mL

9,00 mL

22,4 mg

X1 = 19,8 +

0,80
x 2,6 21,88
1

X2 = 22,4 -

0,20
x 2,6 21,88
1

2,6

21,88x250/10

Kadar = 5,0012x1000 x100% 21,87%


Kadar Karbohidrat = 0,90 x 21,87% = 19,68 %
B. F1 = (25,25 16,37 ) x

0,0987
0,1

= 8,76 mL
Interpolasi
0,7639
0,24

8,00 mL

19,8 mg

8,76 mL

9,00 mL

22,4 mg

X1 = 19,8 +

0,76
x 2,6 21,76
1

X2 = 22,4 -

0,24
x 2,6 21,76
1

2,6

21,76x250/10

Kadar = 5,0040x1000 x100% 21,76%


Kadar Karbohidrat = 0,90 x 21,76% = 19,58 %
C. F1 = (25,25 16,42 ) x

0,0987
0,1

= 8,72 mL
Interpolasi
0,72
0,28

8,00 mL

19,8 mg

8,72 mL

2,6

53

9,00 mL

22,4 mg

X1 = 19,8 +

0,72
x 2,6 21,67
1

X2 = 22,4 -

0,28
x 2,6 21,67
1

21,67x250/10

Kadar = 4,9098x1000 x100% 22,07%


Kadar Karbohidrat = 0,90 x 22,07% = 19,86 %
Kadar Rata-rata Gula sebelum inverse
=

21,87% 21,76% 22,07%


21,90%
3

Kadar Rata-rata Karbohidrat =

19,68% 19,58% 19,86%


19,71%
3

54
Lampiran 3. Perhitungan Kadar Bioetanol

Sample kode
3 hari -1
3 hari -2
6 hari -1
6 hari -2
9 hari -1
9 hari -2

Area (p.A)
2315,88391
2594,37621
3360,48045
3460,31920
4810,28129
5241,99901

%
0,45
0,50
0,65
0,66
0,92
1,00

a = -35,62939
b = 5271,00011
r = 0,998
y = 5271,00011x + (-35,62939)

y = 5271,00011x 35,62939

Lama fermentasi 3 hari


I. Kadar : y = 5271,00011x 35,62939
2315,88391= 5271,00011x 35,62939
x = 0,45
II. Kadar : y = 5271,00011x 35,62939
2594,37621= 5271,00011x 35,62939
x= 0,50

55
Lama Fermentasi 6 hari
I. Kadar : y = 5271,00011x 35,62939
3360,48045 = 5271,00011x 35,62939
x = 0,65
II. Kadar : y = 5271,00011x 35,62939
3460,31920 = 5271,00011x 35,62939
x = 0,66

Lama Fermentasi 9 hari


I. Kadar : y = 5271,00011x 1312,635696
4810,28129 = 5271,00011x 1312,635696
x = 0,92
II. Kadar : y = 5271,000117x 1312,635696
5241,99901 = 5271,00011x 1312,635696
x = 1,00

Lampiran 4. Peta Lokasi Pabrik Gula Trangkil

56

Lampiran 5. Penetapan kadar glukosa

57

Lampiran 6. Ampas Tebu

58

Lampiran 7. Ragi Roti

59

Lampiran 8. Fermentasi dan Destilasi

Lampiran 9. Alat Kromatografi Gas


60

Lampiran 10. Pengukuran Standar Etanol


1. Gambar Standar Etanol 0,2%
61

62

63
2. Gambar Standar Etanol 0,4%

64
3. Gambar Standar Etanol 0,8%

65

4. Gambar Standar Etanol 1,0%

Lampiran 11. Hasil Pengukuran Sampel


3. Sampel 3 hari-1

66

67

68
4. Sampel 3 hari-2

69

70
5. Sampel 6 hari-1

71

72
6. Sampel 6 hari-2

73

74
7. Sampel 9 hari-1

75

76
6. Sampel 9 hari-2

77