Anda di halaman 1dari 18

STANDAR PENGUKURAN KUALITAS UDARA

A. Parameter Pencemar Udara


1.

Sulfur oksida
Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk

gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3), dan keduanya
disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak
mudah terbakar di udara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur
oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia.
Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar, sedangkan jumlah SO 3 yang terbentuk
bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SO x. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan
dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :

S + O2
2SO2 + O2

SO2
2SO3

SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air sangat
rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO 3 dan uap air akan segera bergabung
membentuk droplet asam sulfat (H2SO4) dengan reaksi sebagai berikut:
SO3 + H2O

H2SO4

Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4 Tetapi jumlah
H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi SO 3 hal ini menunjukkan
bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme lainnya. Setelah berada diatmosfir sebagai

SO2 akan diubah menjadi SO3 (kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan
katalitik. Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk
jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari, Jumlah bahan
katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari atau kondisi lembab atau
selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air alkalin dan bereaksi pada kecepatan tertentu
untuk membentuk sulfat di dalam droplet.
Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia
dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia kebanyakan dalam
bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan
terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang
dibuat oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah
dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu.
Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Tetapi
pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran SO x, misalnya
pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya. Sumber SO x yang kedua adalah dari
proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat, industri peleburan baja
dan sebagainya.
Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan SOx. Hal ini
disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga (CuFeS 2
dan Cu2S), Seng (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS). Kebanyakan senyawa logam sulfida
dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah
tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehandaki didalam logam dan
biasanya lebih mudah untuk menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada menghasilkannya

dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk
samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara.
Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada
tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia
adalah iritasi sistim pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan
terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif
iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan
terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem
pernafasan kadiovaskular. Individu dengan gejala penyakit tersebut sangat sensitif terhadap
kontak dengan SO2, meskipun dengan kadar yang relatif rendah. Kadar SO2 yang berpengaruh
terhadap gangguan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Dampak SO2 pada Berbagai Konsentrasi


Konsentrasi (ppm)
35
8 12
20

50 100
400 -500

2.

Dampak
Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya
Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi
tenggorokan
Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata
Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan batuk
Maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrasi
dalam waktu lama
Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat (
30 menit )
Berbahaya meskipun kontak secara singkat

Nitrogen Dioksida
Nitrogen oksida (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfer yang

terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO 2). Walaupun ada bentuk oksida
nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar

udara. Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya
nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Nitrogen monoksida terdapat di
udara dalam jumlah lebih besar daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi
antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan
lebih banyak oksigen membentuk NO2. Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20%
Volume oksigen. Pada suhu kamar, hanya sedikit kecendrungan nitrogen dan oksigen untuk
bereaksi satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (di atas 1210C) keduanya dapat
bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan pencemaran udara.
Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya mencapai 1210 1765 0C, oleh
karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO
merupakan hasil samping dari proses pembakaran.
Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen (NOx) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang
terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi
pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata
sehingga jumlah nya menjadi kecil. Permasalahan muncul adalah akibat pencemaran NO yang
diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat
tertentu.
Kadar NOx di udara perkotaan biasanya 10100 kali lebih tinggi dari pada di udara
pedesaan. Kadar NOx udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya
CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NO x yang
diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh
kendaraan bermotor, produksi energy, dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NO x
buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin. Kadar NO x di udara

dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar mataharia dan
aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut :
a)

Sebelum matahari terbit, kadar NO dan NO2 tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi
dari kadar minimum sehari-hari.

b) Setelah aktifitas manusia meningkat (jam 6-8 pagi) kadar NO meningkat terutama karena
meningkatnya aktivitas lalulintas yaitu kendaraan bermotor. Kadar NO tetinggi pada saat ini
dapat mencapai 1-2 ppm.
c)

Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar NO 2 (sekunder)
kadar NO2 pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm.

d) Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar NO sampai 0,1 ppm.


e)

Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari ( jam 5-8 malam ) kadar NO
meningkat kembali.

f)

Energi matahari tidak mengubah NO menjadi NO2 (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi O3
yang terkumpul sepanjang hari akan bereaksi dengan NO. Akibatnya terjadi kenaikan kadar
NO2 dan penurunan kadar O3.

g) Produk akhir dari pencemaran NOx di udara dapat berupa asam nitrat, yang kemudian
diendapkan sebagai garam-garam nitrat di dalam air hujan atau debu. Mekanisme utama
pembentukan asam nitrat dari NO2 di udara masih terus dipelajari, tetapi peranannya
mungkin sangat kecil dalam menentukan jumlah asam nitrat di udara.
h) Kemungkinan lain pembentukan HNO3 di dalam udara tercemar adalah adanya reaksi
dengan ozon, pada kadar NO2 maksimum O3 memegang peranan penting dan kemungkinan
terjadi tahapan reaksi sebagai berikut :
O3 + NO2
NO3 + NO2

NO3 + O2
N2O5

N2O5 + 2HNO3

2HNO3

Reaksi tersebut di atas masih terus dibuktikan kebenarannya, tetapi yang penting adalah
bahwa proses-proses di udara mengakibatkan perubahan NOx menjadi HNO3 yang kemudian
bereaksi membentuk partikel-partikel.
Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan
bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan
terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Di udara ambien yang normal, NO
dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Penelitian terhadap hewan
percobaan yang dipajankan NO dengan dosis yang sangat tinggi, memperlihatkan gejala
kelumpuhan sistim syarat dan kekejangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tikus yang
dipajan NO sampai 2500 ppm akan hilang kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika kemudian
diberi udara segar akan sembuh kembali setelah 46 menit. Tetapi jika pemajanan NO pada
kadar tersebut berlangsung selama 12 menit, pengaruhnya tidak dapat dihilangkan kembali, dan
semua tikus yang diuji akan mati. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang
lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari
kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO 2
sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam
waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap
manusia mengakibatkan kesulitan bernafas.

3.

Dioksin
Dioksin merupakan kelompok zat-zat berbahaya yang termasuk ke dalam golongan

senyawa CDD (Chlorinated Dibenzo-p-Dioxin), CDF ( Chlorinated Dibenzo Furan ), dan PCB

(Poly Chlorinated Biphenyl). Terdapat ratusan senyawa yang termasuk dioksin, salah satunya
adalah TCDD (2,3,7,8- tetrachlorodibenzo-p-dioxin ) yang dikenal paling beracun (Mukerjee,
1998).
Dioksin berasal dari proses sintesis kimia pada proses pembakaran zat organik yang
bercampur dengan unsur halogen pada temperatur tinggi. Dioksin berasal dari pembakaran
limbah rumah tangga maupun industri yang mengandung senyawa klor seperti industri kimia,
pestisida, plastik, dan pulp kertas. Pembakaran karbon yang tidak sempurna menghasilkan
karbon monoksida dan partially oxidized hydrocarbons. Adanya suhu tinggi menyebabkan
sebagian kecil nitrogen akan teroksidasi menjadi nitrat oksidan dan nitrat dioksida. Adanya
sulfur dalam bahan bakar atau limbah akan teroksidasi menjadi sulfur dioksida dan sulfur
trioksida yang akan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat. Apabila limbah atau
bahan bakar mengandung halogen seperti klorin dan fluorin, dapat terjadi pembentukan dioksin
dari reaksi senyawa-senyawa yang telah disebutkan sebelumnya dengan air dan oksigen pada
suhu 250C 400C yang disebut sebagai de novo synthesis(Raghunathan and Gullett, 1996).
Berdasarkan Enviromental Protection Agency (1994), beberapa sumber utama dioksin berasal
dari hasil pembakaran sampah; hasil sampingan proses produksi pestisida; hasil pembakaran
pada proses produksi baja; dan air buangan industri, terutama industri kertas yang menggunakan
klor sebagai pemutih. Dioksin juga dapat dihasilkan dari kebakaran hutan dan aktivitas gunung
berapi (Tchobanoglous et al., 1993)
Terdapat banyak jenis aktivitas yang dapat memproduksi dioksin. Sekarang ini,
kebanyakan dioksin berasal dari pembakaran sampah, pembakaran hasil buangan rumah sakit
dan juga berasal dari pembakaran kayu yang terpapar oleh suatu senyawa kimia yang disebut
PCP (pentachlorophenol). PCP mengandung dioksin dan tetap terakumulasi di dalam kayu untuk

waktu yang lama. Dioksin juga terbentuk selama proses peleburan dan penyulingan logam, dan
pada pembakaran kayu serta batu bara. Dioksin ditemukan pada beberapa jenis pestisida yang
digunakan pada pertanian komersial maupun pada pestisida yang digunakan di perumahan.
Mereka juga terbentuk selama kebakaran hutan dan peristiwa-peristiwa alam lainnya (7).
Pembakaran sampah hasil rumah tangga juga dapat menghasilkan dioksin dalam jumlah
yang cukup banyak. Beberapa orang membakar sampah mereka di halaman rumah yang dapat
menghasilkan dioksin sebanyak yang dihasilkan oleh insinerator besar ketika membakar hasil
buangan rumah sakit dalam sehari. Dioksin dalam jumlah kecil juga diproduksi pada asap
buangan kendaraan bermotor, pembakaran kayu, dan produksi kertas (7).
Untuk terbentuknya dioksin dibutuhkan tiga hal, yaitu panas, bahan organik, dan klorin.
Dioksin terbentuk oleh insinerasi senyawa buatan manusia, seperti plastik, namun dioksin juga
terbentuk di alam. Dioksin dideteksi terdapat pada sedimen dari dasar laut, yang mana banyak
ilmuwan percaya bahwa dioksin tersebut kemungkinan diproduksi oleh kebakaran hutan purba
atau letusan gunung berapi (8).
Manusia menghasilkan jumlah klorin bebas secara besar-besaran, klorin bebas tidak
melekat pada senyawa atau atom lain. Klorin bebas merupakan limbah yang tidak diketahui
kegunaannya dan bersifat berbahaya. Kemudian dimanfaatkan menjadi produk yang berguna
dengan cara menempelkan atom-atom klorin pada molekul petrokimia hidrokarbon. Akibatnya,
selama tahun 1930-1940 tercipta berbagai produk klorinat-hidrokarbon yang mampu
meningkatkan perkembangan berbagai jenis pestisida, dan berbagai jenis pelarut, serta plastik
yang dihasilkan dari klorin bebas tersebut (9).
Pada saat klorinat-hidrokarbon tersebut diproses di pabrik, atau dibakar dalam
insinerator, terbebaskan produk hasil samping yang sangat tidak dikehendaki, yaitu dioksin,

suatu jenis kelompok senyawa kimia paling beracun yang pernah dipelajari dan diketahui
manusia (9).
Sebagian besar dioksin merupakan produk dari proses industri tetapi juga dapat sebagai
hasil dari proses alam, seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan. Dioksin merupakan
produk samping yang tidak diinginkan dari berbagai jenis proses industri termasuk peleburan
besi, proses pemutihan dengan menggunakan klorin pada pembuatan kertas dan industri pada
beberapa herbisida dan pestisida. Pengeluaran dioksin ke lingkungan, penyebab yang paling
utama adalah insinerasi sampah yang tidak terkontrol (sampah padat dan limbah rumah sakit),
sebagai dari pembakaran yang tidak sempurna. Teknologi telah mengembangkan insinerasi
sampah yang terkendali dengan sedikit emisi yang dihasilkan (8).

4.

Hidrokarbon (HC)
Struktur Hidrokarban (HC) terdiri dari elemen hidrogen dan karbon dan sifat fisik HC

dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar
udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon,
unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4
atom karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan
berbentuk cairan dan padatan.
HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan
bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan
membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu. Berdasarkan struktur
molekulnya, hidrokarbon dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu hidrokarban alifalik,

hidrokarbon aromatik dan hidrokarbon alisiklis. Molekul hidrokarbon alifalik tidak mengandung
cincin atom karbon dan semua atom karbon tersusun dalam bentuk rantai lurus atau bercabang.
Sebagai bahan pencemar udara, Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang
diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan
polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima
merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan
polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC
adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan
emisi industri sebesar 10 % berupa HC. Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi.
Kondisi mesin yang kurang baik akan menghasilkan HC. Pada umumnya pada pagi hari kadar
HC di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan
kemudian menurun lagi pada malam hari.
Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami
terutama proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan
minyak bumi dan sebagainya Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi
bahan organik pada permukaan tanah, Demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan dan
kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas
hidrakarbon di atmosfir.
Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan
baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah
industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan
merangsang terbentuknya sel-sel kanker.

5.

Partikel debu (Particulat Material/PM)


Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran

yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan
diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron.
Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan
melayang-layang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain
dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya
tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara. Partikel debu SPM
pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan
bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya. Karena Komposisi partikulat
debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak
istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan
dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti: Suspended Particulate Matter
(SPM), Total Suspended Particulate (TSP), black smoke. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada
tempat

di

saluran

pernafasan

dimana

partikulat

debu

dapat

mengendap,

seperti

inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap di saluran pernafasan bagian bawah,


yaitu di bawah pangkal tenggorokan (larynx). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM10
(partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur
fisiologi maupun metode pengambilan sampel.
Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh
angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari

bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas
organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat
debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga
terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara,
pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan
kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.
Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan
sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan
penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh
emisi kendaraan bermotor.
Inhalasi merupakan satu-satunya rute pajanan yang menjadi perhatian dalam
hubungannya dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senjawa
lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb) dan senyawa beracun
lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain. Pengaruh partikulat debu bentuk padat
maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu
bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran
partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai
dengan 10 mikron. Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat
udara yang dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini
bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena
partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan
iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2
yang terdapat di udara juga. Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa

angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata
(Visibility). Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara
merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya
mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara
Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi
sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara
yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang
besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada
partikulat patut mendapat perhatian.

6.

Timbal (Pb)
Timah hitam/timbal (Pb) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-

abu keperakan dengan titik leleh pada 327,50C dan titik didih 17400C pada tekanan atmosfer.
Senyawa Pb-organik seperti Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil merupakan senyawa yang penting
karena banyak digunakan sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya meningkatkan
angka oktan secara ekonomi. Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil berbentuk larutan dengan titik didih
masing-masing 1100C dan 2000C. Karena daya penguapan kedua senyawa tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan daya penguapan unsur-unsur lain dalam bensin, maka penguapan bensin
akan cenderung memekatkan kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil. Kedua senyawa ini akan
terdekomposisi pada titik didihnya dengan adanya sinar matahari dan senyawa kimia lain diudara
seperti senyawa holegen asam atau oksidator.
Pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor merupakan
bagian terbesar dari seluruh emisi Pb ke atmosfer berdasarkan estimasi skitar 8090% Pb di

udara ambien berasal dari pembakaran bensin tidak sama antara satu tempat dengan tempat lain
karena tergantung pada kepadatan kendaraan bermotor dan efisiensi upaya untuk mereduksi
kandungan Pb pada bensin.
Penambangan dan peleburan batuan Pb di beberapa wilayah sering menimbulkan masalah
pencemaran Tingkat kontaminasi Pb di udara dan air sekitar wilayah tersebut tergantung pada
jumlah Pb yang diemisikan tinggi cerobong pembakaran limbah topgrafi dan kondisi lokal
lainnya. Peleburan Pb sekunder, penyulingan dan industri senyawa dan barang-barang yang
mengandung Pb, dan insinerator juga dapat menambah emisi Pb ke lingkungan. Batubara seperti
juga mineral lainnya (batuan dan sedimen) pada umumnya mengandung Pb kadar rendah, maka
kegiatan berbagai industri yang terutama menghasilkan besi dan baja peleburan tembaga dan
pembakaran batubara, harus dipandang sebagai sumber yang dapat menambah emisi Pb ke udara.
Penggunaan pipa air yang mengandung Pb di rumah tangga terutama pada daerah yang
kesadahan airnya rendah (lunak) dapat menjadi sumber pemajanan Pb pada manusia. Demikian
juga didaerah dengan banyak rumah tua yang masih menggunakan cat yang mengandung Pb
dapat menjadi sumber pemajanan Pb.
Pemajanan Pb dari industri telah banyak tercatat tetapi kemaknaan pemajanan di
masyarakatvluas masih kontroversi. Kadar Pb di alam sangat bervariasi tetapi kandungan dalam
tubuh manusia berkisar antara 100400 g. Sumber masukan Pb adalah makanan terutama bagi
mereka yang tidak bekerja atau kontak dengan Pb. Diperkirakan rata-rata masukkan Pb melalui
makanan adalah 300 g per hari dengan kisaran antara 100500 g perhari. Rata-rata masukkan
melalui air minum adalah 20 g dengan kisaran antara 10100 g. Hanya sebagian asupan
(intake) yang diabsorpsi melalui pencernaan. Pada manusia dewasa absorpsi untuk jangka
panjang berkisar antara 510% bila asupan tidak berlebihan kandungan Pb dalam tinja dapat

untuk memperkirakan asupan harian karena 90% Pb dikeluarkan dengan cara ini. Kontribusi Pb
di udara terhadap absorpsi oleh tubuh lebih sulit diperkirakan. Distribusi ukuran partikel dan
kelarutan Pb dalam partikel juga harus dipertimbangkan biasanya kadar pb di udara sekitar 2
mg/m3 dan dengan asumsi 30% mengendap disaluran pernapasan dan absorpsi sekitar 14 mg/per
hari. Mungkin perhitungan ini bisa dianggap terlalu besar dan partikel Pb yang dikeluarkan dari
kendaraan bermotor ternyata bergabung dengan filamen karbon dan lebih kecil dari yang
diperkirakan walaupun agregat ini sangat kecil (0,1 mm) jumlah yang tertahan di alveoli
mungkin kurang dari 10%. Uji kelarutan menunjukkan bahwa Pb berada dalam bentuk yang
sukar larut. Hampir semua organ tubuh mengandung Pb dan kira-kira 90% dijumpai di tulang,
kandungan dalam darah kurang dari 1% kandungan dalam darah dipengaruhi oleh asupan yang
baru (dalam 24 Jam terakhir) dan Oleh pelepan dari sistem rangka. Manusia dengan pemajanan
rendah mengandung 1030 g Pb/100 g darah Manusia yang mendapat pemajanan kadar tinggi
mengandung lebih dari 100 g/100 g darah kandungan dalam darah sekitar 40 g Pb/100g
dianggap terpajan berat atau mengabsorpsi Pb cukup tinggi walau tidak terdeteksi tanda-tanda
keluhan keracunan. Terdapat perbedaan tingkat kadar Pb di perkantoran dan pedesaan wanita
cenderung mengandung Pb lebih rendah disbanding pria, dan pada perokok lebih tinggi
dibandingkan bukan perokok. Gejala klinis keracunan timah hitam pada individu dewasa tidak
akan timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah dibawah 80 g Pb/100 g darah namun
hambatan aktivitas enzim untuk sintesis haemoglobin sudah terjadi pada kandungan Pb normal
(3040 g).
Timah Hitam berakumulasi di rambut sehingga dapat dipakai sebagai indikator untuk
memperkirakan tingkat pemajanan atau kandungan Pb dalam tubuh Anak-anak merupakan
kelompok risika tinggi Menelan langsung bekas cat yang mengandung Pb merupakan sumber

pemajanan, selain emisi industri dan debu jalan yang berasal dari lalu lintas yang padat.
Keracunan Pb ada juga hubungannya dengan keterbelakangan mental tetapi belum ada bukti
yang jelas. Senyawa Pb organik bersifat neurotoksik dan tidak menyebabkan anemia Hampir
semua Pbtetraetil diubah menjadi Pb-Organik dalam proses pembakaran bahan bakar bermotor
dan dilepaskan ke udara. Pengaruh Pb dalam tubuh belum diketahui benar tetapi perlu waspada
terhadap pemajanan jangka panjang Timah Hitam dalam tulang tidak beracun tetapi pada kondisi
tertentu bisa dilepaskan karena infeksi atau proses biokimia dan memberikan gejala keluhan
garam Pb tidak bersifat karsiogenik terhadap manusia. Gangguan kesehatan adalah akibat
bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein
dan menghambat pembuatan haemoglobin. Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam
jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan
kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan
anggota badan, Kejang dan gangguan penglihatan.

B. Metode Pengukuran
1. Sulfur dioksida (SO2)
SO2 diukur menggunakan metode pararosaniline-spectrofotometri. Sampel udara yang
mengandung SO2 direaksikan dengan kalium tetra kloromerkurat membentuk komplek
diklorosulfitomerkurat. Hasil reaksi ini kemudian ditambahkan pararosanilin dan formaldehid
membentuk senyawa pararosaniline metil sulfonat yang berwarna ungu kemerahan. Intensitas
warna diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 548 nm. Absorbansi yang
didapat dibandingkan dengan absorbansi SO2 standar.
Metode pengukuran gas Sulfur dioksida (SO2) yang sering digunakan di Indonesia
adalah metode pararosanilin yang prosedurnya diatur pemerintah dalam Standar Nasional

Indonesia 19-7119.7-2005. Kelemahan dari pengukuran dengan metode ini adalah hasil
pengukuran tidak ditampilkan pada saat itu tetapi dua hari sesudahnya. Pada penelitian ini gas
SO2 dijerap dalam larutan penjerap tetrakloromerkurat (TCM) kemudian diukur dengan metode
spektroskopi sebagai tahapan awal pembuatan sensor kristal fotonik satu dimensi untuk
mendeteksi gas SO2. Gas SO2 bereaksi dengan larutan penjerap TCM menghasilkan larutan tak
berwarna dan panjang gelombang absorbansinya berada pada daerah ultraviolet, yaitu 280,11
nm. Penelitian ini mengkarakterisasi gas SO2 dengan metode spektroskopi, menghitung
konsentrasi gas SO2 yang terjerap, menentukan kurva kalibrasi, menentukan konsentrasi secara
real-time pada saat penjerapan beserta menentukan (absorpsivitas) sebagai dasar pembuatan
sensor kristal fotonik. Kurva kalibrasi yang diperoleh menunjukkan peningkatan konsentrasi gas
SO2 yang terjerap menyebabkan intensitas yang ditransmisikan semakin menurun secara
eksponensial. Nilai koefisien absorpsi yang diperoleh adalah 0,005 m2/g.

2. Nitrogen dioksida (NO2)


Gas NO2 dianalisis sesuai Metode Griess-Saltman. NO2 di udara direaksikan dengan
pereaksi Griess Saltman membentuk senyawa yang berwarna ungu. Intensitas warna yang terjadi
diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Selanjutnya, data absorbansi
sampel dibandingkan data absorbansi standar yang konsentrasinya telah ditetapkan.

3. Timbal (Pb)
Kadar timbal di udara diukur menggunakan metode kondensasi yang dilanjutkan dengan
analisis menggunakan atomic absortion sphectroscopy.

4. PM10
Pengukuran PM10 adalah partikulat atau debu dengan diameter 10 mikron. Untuk
pengukuran partikulat dengan diameter tersebut di atas diperlukan teknik pengumpulan impaksi,
dengan metode tersebut dimungkinkan untuk memisahkan debu berdasarkan diameternya.
Diameter yang lebih besar akan tertahan pada stage paling atas, semakin ke bawah, maka
semakin kecil diameter yang dapat terkumpulkan permukaan stage. Setiap Cascade Impactor
terdiri dari beberapa stage, ada yang 3, 5 sampai 9 stage (plate) tergantung pada keperluaannya.
Prinsip pengukuran kertas saring yang telah ditimbang, disimpan di masing-masing stage (plate)
yang terdapat pada alat Cascade Impactor. Selanjutnya udara dilewatkan ke dalam Cascade
Impactor flow rate tertentu dan dibiarkan selama 24 jam atau lebih tergantung kepada
konsentrasi debu di udara ambien. Setelah sampling selesai, debu-debu yang terkumpul pada
masing-masing stage ditimbang, menggunakan neraca analitik.