Anda di halaman 1dari 9

Ekofisiologi Tumbuhan : Korelasi Antara Stomata dan Pencemaran

Udara
Adliana, N., Mahendra, B. L., Safitri, R.N., dan Aprilya, F. D
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologin Sepuluh Nopember (ITS)
Jalan Arief Rahman Hakim, 60111 Surabaya, Indonesia
Abstrak
Tanaman Angsana (Pterocarpus indicus) merupakan pohon yang berfungsi sebagai
peneduh di tepi jalan ataupun di halaman suatu area. Karena peranannya sebagai pohon peneduh
di tepi jalan maka intensitas pohon Angsana (Pterocarpus indicus) untuk terkena pencemaran
udara sangat besar pada daerah kota. Salah satu indikasi tecemarnya suatu wilayah oleh polusi
udara adlah keadaan stomata pada tanaman di wilayah tersebut. Stomata merupakan bagian dari
tumbuhan yang berfungsi sebagai jalur keluar masuknya CO2 untuk fotosintesis. Tujuan dari
praktikum ini adalah mengetahui dan memahami prinsip dsar ekofisiologi serta mampu
memahami pengaruh pencemaran udara terhadap struktur dan mekanisme buka tutup stomata.
Dalam praktikum ini dilakukan metode pengambilan stomata pada daerah diduga tercemar dan
daerah yang diduga tidak tercemar kemudian jumla stomata yang rusak antara keduanya
dibandingkan agar dapat dilihat perbedaan yang terjadi. Hasil dari praktikum ini yaitu didapatkan
tingkat keruakan stomata yang tinggi pada daerah diduga trcemar dan tingkat kerusakan stomata
yang lebih rendah dari daerah yang diduga tidak tercemar.
Kata kunci : Abnorma, CO2, Normal, Pterocarpus indicus,
I.

PENDAHULUAN

Pencemaran udara berarti hadirnya satu


atau beberapa kontaminan di dalam udara
atmosfer di luar, seperti debu, busa, gas,
kabut, bau-bauan, asap atau debu dalam
kuantitas yang banyak dengan berbagai sifat,
hingga dapat meninmbulkan gangguangangguan terhadap kehidupan manusia,
tumbuhan atauhewan [1].Udara merupakan
salah satu unsur dari ekosistem yang luas
dan merupakan salah satu dari unsur abiotik.
Pembebasan suatu kontaminan yang tidak
dibatasi baik kuantitas,lama berlangsungnya
atau
potensialnyadapat
mengganggu
stabilitas dan kualitas sistem lingkungan.

Pencemaran, Stomata.

Kehadiran polutan pada dasarnya berasal


dari aktifitas manusia, dapat ditunjukkan
dengan pemaparan polutan ke dalam udara,
dimana terdapat 3 komponen utama yang
saling
berinteraksi
dan
menentukan
kelanjutannya untuk memenuhi kriteria
sebagai pencemaran atau tidak.Ketiga
komponen utama tersebut emisi, atmosfer
dan reseptor [2].
Daun merupakan suatu bagian tumbuhan
yang penting, daun biasanya tipis,
melebar,kaya akan suatu zat warna hijau
yang dinamakan klorofil.Daun memiliki
beberapa fungsi antara lain: pengambilan
zat-zat makanan (resorbsi), pengolahan

zatzat makanan (asimilasi), penguapan air


(transpirasi), pernafasan (respirasi). Air
beserta garam-garam diambil dari tanah oleh
akar tumbuhan, sedangkan gas asam arang
CO2 yang merupakan zat makananpula bagi
tumbuahn diambil dari udara melalui celahcelah yang halus yang disebut mulut daun
(stoma) masuk kedalam daun [3].
Laju transpirasi dan pembukaan
stomatamenunjukkan
adanya
variasi
diurnal.Pembukaan stomata pada beberapa
tanaman dan berbagai kondisi lingkungan
menunjukkan
adanya
perbedaan.
Pembukaan stomata pada tanaman Angsana
(Pterocarpus indicus) meningkat sampai
jam 09.00, kemudian menurun, dan
meningkat lagi pada sore hari apabila air
cukup. Apabila kekurangan air, maka tidak
terjadi peningkatan pembukaan stomata
setelah jam 09.00 [4]. Setelah itu terjadi
penurunan sekitar jam 15.00, dan meningkat
lagi pada jam 16.00, selanjutnya terjadi
penurunan [5].
Menurut
[6]
ada
4
tipe
stomataberdasarkan letak penebalan pada sel
penutupnya:
1. Tipe Amaryllidaceae
Sel penutup jika dilihat dari atas
berbentuk ginjal. Dinding punggung tipis,
tetapi dinding perutnya lebih tebal, dinding
atas dan bawah terjadi penebalan kutikula.
Sel-sel tetangga berbatasan dengan sel
penutup. Stomata tipe ini biasanya terdapat
pada kebanyakan tanaman dikotil, tetapi
kadang-kadang ada juga pada monokotil.
2. Tipe Helleborus
Sel penutup jika dilihat dari atas
berbentukginjal, tetapi pada dinding
punggung dan perut tipis. Dinding atas dan
bawah lebih tebal

3. Tipe Graminea
Bentuk sel penutup seperti halter,
dindingsel penutup bagian tengah tebal yang
merupakan penopang pada halter tersebut.
Masing-masing ujung dindingnya tipis,
sedangkan dinding atas dan bawah tebal.
Stomata tipe ini hanya terdapat pada
Gramineae/Poaceae dan Cyperaceae.
Tujuan dari praktikum ini adalah
mengetahui dan memahami prinsip dsar
ekofisiologi serta mampu memahami
pengaruh pencemaran udara terhadap
struktur dan mekanisme buka tutup stomata.
II.

METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel


stomata di Plaza Surabaya

Gambar 2. Lokasi pengambilan sampel


stomata di jurusan Biologi ITS
Praktikum ini dilakukan dalam dua tahap
yaitu pengambilan sampel dan pengamatan
stomata. Pengambilan sampel dilaksanakan
pada dua tempat yaitu di Jalan Pemuda
sekitar Plaza Surabaya sebagai tempat
diduga mengalami pencemaran dan di
sekitar Jurusan Biologi ITS sebagai tempat
yang diduga tidak mengalami pencemaran.
Pengambilan sampel dilakukan mulai pukul
09,00 WIB hingga pukul 10.00 WIB pada
hari Sabtu dan Minggu tanggal 26 dan 27
Maret 2016. Pengamatan Stomata dilakukan
pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2016 di
Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS) Surabaya.

dengan tipis dan searah, pengolesan kutek


dilakukan pada daun yang masih berada
pada tangkai daun, dikering anginkan.
Bagian abaxialdaun yang telah diolesi
kuteks ditempeli dengan isolasi dan
ditunggu 3-5 menit lalu isolasi diambil dan
dilekatkan pada gelas objek. Dilakukan
pengamatan
di
bawah
Mikroskop
compound. Dihitung jumlah stomata yang
rusak dan yang normal dari kedua tempat
kemudian dibandingkan tingkat kerusakan
antara kedua tempat tersebut dengan
menggunakan rumus perhitungan sebagai
berikut:
Jumlah stomata abnormal
jumlah stomata normal
III.

X 100 %

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Deskripsi Lokasi Pengambilan


2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
ini yaitu gunting, isolasi, gelas objek, tissue,
kamera, Mikroskop compound, dan alat
tulis.
Sedangkan
bahan-bahan
yang
digunakan dalam praktikum ini adalah daun
Pterocarpus indicusdan kuteks Revlon
bening.
2.3 Prosedur kerja
Prosedur kerja dalam pengambilan
sampel stomata pada daun Pterocarpus
indicusyaitu daun dibersihkan terlebih
dahulu
menggunakan
tissue
untuk
menghilangkan debu dan kotoran pada
permukaan daun.
Kemudian
bagian
abaxialdaun diolesi dengan kuteks bening

3.1.1 Tercemar
Lokasi pengambilan sampel daun yang
diduga mengalami pencemaran udara adalah
di daerah Plaza
Surabaya. Kendaraan
bermotor menjadi salah satu sumber utama
pencemaran udara, karena mengandung
berbagai bahan pencemar yang berbahaya
bagi manusia, hewan, tumbuhan dan
infrastruktur yang terdapat di sekitarnya.
Bahan pencemar (polutan) yang berasal dari
gas kendaraan bermotor umumnya berupa
gas hasil sisa pembakaran dan partikel
logam berat seperti timah hitam (Pb) [8].
Hal ini sesuai dengan literatur lain yang
menyatakan bahwa pencemaran yang terjadi
pada daerah Plaza Surabaya diakibatkan
aktivitas kendaraan bermotor. Proses
pembakaran pada kendaraan bermotor

menghasilkan gas CO dan CO2. Pada


pembakaran sempurna akan menghasilkan
gas CO2. Sedangkan gas CO dihasilkan
pada pembakaran tidak sempurna. Menurut
perhitungan udara Ambien pada daerah
Plaza Surabaya terdapat konsentrasi SO2
sebanyak 0,05 ppm dan CO sebanyak 5
ppm dan dapat dinyatakan daerah daerah
Plaza Surabaya tercemar [12].
3.1.2 Tidak Tercemar
Lokasi pengambilan sampel daun yang
diduga tidak mengalami pencemaran udara
adalah di Kantin Biologi ITS Sukolilo,
Surabaya. Kualitas udara di daerah Kantin
Biologi diduga bersih dan bebas dari polusi
udara karena merupakan lingkungan kampus
yang dan tidak dilaluioleh kendaraan
bermotor sehingga zat-zat atau gas beracun
yang menyebabkan polusi udara yakni CO2,
CH4, dan N2O di duga kuat sangat minimal
sekali atau bahkan tidak ada zat-zat dan gas
beracun yang merugikan tersebut. Ciri-ciri
daerah yang mempunyai kualitas udara yang
bersih dan sangat baik yaitu banyak
tumbuhan hijau yang tumbuh dengan subur,
hal ini seperti hal nya pada daerah Kantin
Biologi
ITS yang banyak ditemui
tumbuhan-tumbuhan hijau dan besar
sehingga membuat udara sekitar daerah
tersebut menjadi bebas polutan dan berperan
dalam pemenuhan kebutuhan oksigen dalam
udara sangat melimpah.
3.2 Pterocarpus indicus
3.2.1 Fungsi Pterocarpus indicus
Pada percobaan ini, digunakan daun
Pterocarpus indicus (angsana) dimana daun
angsana ini diambil pada tempat yang
berbeda yaitu di daerah Plaza Surabaya dan

di Kantin Biologi ITS sehingga daun


tersebut ada yang berpolusi dan ada yang
tidak berpolusi. Digunakan dua daun yang
diambil di tempat yang berbeda supaya kita
dapat melihat perbedaan antara bentuk
stomata pada daun yang berpolusi dan tidak
terkena polusi. Dimana sebelum diamati di
bawah mikroskop kedua daun tersebut
dibersihkan terlebih dahulu kemudian
diolesi dengan kutex bening kemudian
diletakkan selotip bening diatasnya. Hal ini
bertujuan
untuk
mengambil
bagian
epidermis bawah daun yang akan diamati
bentuk stomatanya.
Angsana atau kembang sono (
Pterocarpus indicus Willd) merupakan salah
satu tumbuhan berkayu berupa pohon dari
famili Leguminosae, dengan sub famili
Papilionideae. Tumbuhan ini telah dikenal
sejak lama di berbagai negara terutama di
kawasan Asia Tenggara baik sebagai
tumbuhan pelindung di sepanjang pinggir
jalan raya maupun sebagai hiasan [7].
Tanaman
Angsana
digunakan
sebagai
tanaman
pelindung
jalan
dikarenakan
Angsana
mampu
mengakumulasi Pb di daunnya [8]. Tanaman
Angsana memiliki kemampuan menyerap
karbon dengan jumlah yang cukup besar [9].
Pb yang terakumulasi di dalam daun
tanaman berasal dari hasil pembakaran
kendaraan bermotor. Pb dari hasil
pembakaran kendaraan bermotor dilepaskan
ke udara dan menyebabkan pencemaran
udara. Selain Pb, bahan pencemar yang
terdapat di dalam gas buang kendaraan
bermotor adalah karbon monoksida (CO),
berbagai senyawa hidrokarbon, berbagai
oksida nitrogen (NOx), sulfur (SOx) dan
partikulat debu termasuk timbal (Pb) [8].

3.2.2 Tipe Stomata Pterocarpus indicus


Stomata adalah celah diantara
epidermis yang diapit oleh 2 sel epidermis
khusus yang disebut sel penutup. Di dekat
sel penutup terdapat sel-sel yang
mengelilinginya di sebut sel tetangga. Sel
penutup dapat membuka dan menutup sesuai
dengan kebutuhan tanaman yang akan di
transpirasi, sedangkan sel-sel tetangga turut
serta dalam perubahan osmotik yang
berhubungan dengan pergerakan sel-sel
penutup. Stomata terdapat pada semua
bagian tumbuhan yang terarah ke udara,
tetapi lebih banyak terdapat pada daun [10].
Sistem
buka
tutup
stomata
dipengaruhi oleh cahaya, konsentrasi CO2,
kelembaban dan hormon. Cahaya dapat
menyebabkan
membukanya
stomata,
peningkatan
konsentrasi
CO2
dapat
menyebabkan menutupnya stomata, terdapat
hormon ABA (abscisic acid) yang dapat
menyebabkan menutupnya stomata dan
hormon auxin yang dapat menyebabkan
membukanya stomata[11].
Tipe stomata pada daun sangat
brvariasi, berdasarkan hubungan stomata
dengan sel epidermis dan sel tetangga. Tipe
stomata pada tumbuhan dikotil berdasarkan
susunan sel epidermis yang berdekatan
dengan sel tetangga dibagi menjadi 5.
Tanaman Angsana memiliki tipe stomata
Parasitik atau Rubiaceous yaitu tiap sel
penjaga sejajar dengan sel tetangga dan
apertur [10].
3.3 Keadaan Stomata
3.3. 1 Rusak
Berdasarkan praktikum yang sudah
dilaksanakan sample daun yang diambil

pada lokasi jalan pemuda,tingkat kerusakan


jauh lebih banyak jika dibanding
pengambilan di kantin biologi. Tingkat
kerusakandaun di jalan pemuda yang
didapatkan sebanyak 18.18% dan untuk di
kantin
biologi
yaitu
7.87%.Tingkat
kerusakan
tersebut
berdasarkan
penghitungan jumlah stomata abnormal dan
stomata normal.

Tingkat Kerusakan
18.18%

20.00%
15.00%
10.00%

7.87%

5.00%
0.00%
Biologi ITS

Plaza Surabaya

Grafik 1. Tingkat Kerusakan Stomata


Sebagian
besar
bahan-bahan
pencemar udara mempengaruhi tanaman
melalui daun, mekanisma tanaman untuk
pertahanan dari zat pencemar udara adalah
melalui
pergerakan
membuka
dan
menutupnya
stoma
Membuka
dan
menutupnya stomata merupakan mekanisme
adaptasi sehingga tangapan terhadap
konsentrasi gas yang diemisikan oleh
knalpot kendaraan bermotor yang bersifat
toksik terhadap tanaman terutama SO2
danCO2. Membukanya stomata di pengaruhi
oleh konsentrasi CO2, cahaya, suhu,
potensial air daun, kelembaban, angin dan
laju fotosintesis [15]. Membukanya stomata
berkurang jika kadar CO2 di ruang antar sel
bertambah,kehadiran
CO2
di
udara
merangsang membuka dan menutupnya
stomata yang keduanya diatur oleh
kelembaban relatif, konsentrasi SO2dan CO2
pada konsentrasi tinggi menyebabkan

stomatamenutup. Gas SO2 bila masuk ke


dalam tubuh tumbuhan akan bersifat
toksik,maka untuk mencegah gas SO2 tidak
banyak masuk ke tubuh tumbuhan
adalahdengan mengurangi stomata yang
membuka karena gas SO2 dan gas-gas
yanglain masuk tubuh tumbuhan melalui
stomata. Semakin banyak stomatamembuka
dan semakin besar ukuran stomata maka
akan semakin banyak pulakemungkinan
jumlah polutan yang dapat masuk ke dalam
tubuh tumbuhan.Gas SO2 ini menyebabkan
sel penutupmenjadi lebih lanjut sehingga
stomata dapat terbuka. Jika pada saat
stomatamembuka
dan
gas-gas
yang
diemisikan udara dimana kondisi udara
lembabmaka gas yang terserap tanaman
akan
menyebabkan
kerusakan
pada
tanamantersebut [4].

3.3.2 Normal
Berdasarkan
praktikum
yang
sudah
dilaksanakan sample daun yang diambil
pada lokasi jalan pemuda,jumlah stomata
normalnya jauh lebih banyak jika dibanding
stomata abnormalnya. Stomata terbuka yang
didapatkan sebanyak 16 stomata. Stomata
yang didapatkan lebih sedikit dibandingkan
stomata terbuka pada lokasi Biologi ITS
sebesar 52 stomata.

jumlah stomata yang


membuka
60
50
40
30
20
10
0

jumlah
stomata yang
membuka
Biologi ITS

Plaza
Surabaya

Grafik 2. Jumlah stomata membuka

Gambar 2. Stomata Rusak


(Dokumentasi pribadi, 2016)

Gambar 3. Stomata Rusak [13].

Pengambilan sample stomata dilakukan pada


pukul 09.30 pagi. Stomata dalam keadaan
terbuka yang didapatkan pada pukul 09.0010.00 sebanyak 63 buah stomata. Sedangkan
banyaknya stomata dalam keadaan tertutup
pada pukul 09.00-10.00 adalah 47 stomata.
Pada pagi hari stomata akan mulai membuka
lebar karena intensitas cahaya dan
temperature yang tidak terlalu tinggi serta
kelembapan yang menyebabkan turgor sel
penjaga meningkat. Pada kisaran waktu
pukul 09.00 10.00, peningkatan intensitas
cahaya berpengaruh terhadap peningkatan
suhu, namun kelembaban udara masih
tinggi. Intensitas cahaya dibutuhkan untuk
proses fotosintesis sehingga stomata sebagai

jalur masuknya CO2 akan membuka untuk


bersiap menerima CO2 sebagai bahan baku
untuk fotosintesis. Selain itu stomata juga
merupakan jalur lewatnya air untuk proses
fotosintesis. Keadaan lingkungan yang
lembab mengandung banyak air sehingga sel
penjaga
pada
stomata
harus
mempertahankan bentuknya saat menerima
air
yang
masuk
dalam
stomata.
Meningkatnya temperatur dengan RH yang
tetap tinggi akan meningkatkan gradien
tekanan uap antara daun dengan udara.
Kondisi ini memacu terjadinya transpirasi
yang ditunjukkan dengan pembukaan
stomata [13].

Gambar 5. Stomata membuka [13].


Dari sample daun stomata tertutup
yang teramati pada likaso Jalan Pemuda
sebesar 47 dan jumlah stomata tertutup pada
lokasi Biologi ITS sebesar 65.

80

jumlah stomata yang


tertutup

60
40
20
0
Biologi ITS

Gambar 4. Gambar stomata membuka


(dokumentasi pribadi, 2016)

Plaza
Surabaya

jumlah
stoamat yang
tertutup

Grafik 3. Jumlah stomata tertutup


Stomata akan menutup pada siang hari
karena adanya intensitas cahaya dan
temperature yang tinggi. Pada pukul 12.00
WIB intensitas cahaya dan suhu sangat
tinggi dan kelembaban sangat rendah.
Dengan semakin meningkatnya transpirasi,
maka terjadi kehilangan air. Kehilangan air
ini menyebabkan tekanan turgor sel penjaga
menurun. Pada kondisi seperti ini ABA akan
masuk sebagai akibatnya stomata akan
menutup. Penutupan ini bertujuan untuk

mengurangi kehilangan air yang berlebihan.


Selain itu, selama stomata membuka juga
terjadi difusi CO2 ke dalam sel mesofil.
Selanjutnya, akumulasi CO2 menyebabkan
stomata menutup [13]. Jika dibandingkan
dengan sample stomata yang diambil pada
lokasi Biologi ITS menunjukkan jumlah
stomata yang terbuka lebih banyak daripada
stomata tertutup. Penutupan stomata terjadi
ketika dua sel penjaga sekitarnya
pembukaan stomata kehilangan. Salah satu
factor yang mempengaruhi membukanya
stomata adalah CO2. Kadar CO2 yang kurang
kemungkinan tidak bisa merangsang stomata
untuk membuka seluruhnya. Penutupan
stomata memiliki efek negatif pada
penyerapan CO2, fotosintesis, transpirasi
pendinginan serta air dan serapan hara
penting untuk menutup stomata hanya ketika
manfaat dari retensi air melebihi efek
negatif. Untuk dapat menutup stomata
selama kondisi yang tidak menguntungkan
ada beberapa mekanisme dan jalur sinyal
menyebabkan penutupan stomata. ABA
serta peningkatan kadar CO2 mengaktifkan
jalur sinyal yang mengarah ke Penutupan
stomata. ABA diproduksi di akar dan daun
selama tekanan air dan diangkut ke sel
penjaga. Ukuran pembukaan stomata diatur
oleh tekanan turgor dan volume sel dari sel
penjaga [14].

Gambar 6. Stomata tertutup (Dokumentasi


Pribadi, 2016)

Gambar 7. Stomata tertutup [13].


IV.

KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan


dapat disimpulkan bahwa pencemaran
udara berpengaruh terhadap keadaan
stomata pada tumbuhan Angsana
(Pterocarpus
indicus).
Tingkat
kerusakan stomata di daerah Jalan
Pemuda, Plaza Surabaya lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah Biologi
ITS. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas
pencemaran udara yang dialami oleh
daun Angsana tersebut.
V.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kristanto, P. EkologiIndustri. Penerbit


ANDI. Yogyakarta (2002)
[2]
Haryanti
Sri.
OptimalisasiPembukaanPorus
stomata
daunkedelai (Glycine
max (L) meriril) Padapagi Hari dan Sore.
Bioma, Vol. 11 No. 1 hal 18-23 (2009) .
[3] Gembong, T. MorfologiTumbuhan.
UGM Press: Yogyakarta (2005).
[4] Singh KP, Malik RS, & Malik DS.
Diurnal Variation in Leaf Water Potential
and Stomata Conductance of Pigen Pea
(Cajanuscajan (L.) MILLSP) Cultivars as

Affected
by
Irrigation
Levels.
BiologiaPlantarum25 (1): 1-4 (1983).
[5] Will RE, &Teskey RE. Influence of Rate
of Change in Stomatal Conductance to
Fluctuating irradiance on estimate of Daily
Water Use by Pinustaeda leaves. Tree
Physiology 19: 761-765 (1999).
[6]
Sutrian,
Y.
PengantarAnatomiTumbuhtumbuhan.
EdisiRevisi. RinekaCipta. Jakarta (1992).
[7] Fatimah,C., Harapah ,U., Sinaga, I.,
Safrida., Ernawati.Uji Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Daun Angsana (Pterocarpus indicus
Wild) Secara In Vitro. Jurnal Ilmiah
PANNMED. Volume 1(1). Juli (2006).
[8] Yudha, G.P., Noli, Z.A., Idris, M.
Pertumbuhan Daun Angsana (Pterocarpus
indicus Wild) Dan Akumulasi Logam
Timbal (Pb). Jurnal Biologi UA. Volume
2(2) (2013).
[9]
Waryanti1,
Irawan,
S.,
Dasumiati.Angsana
(Pterocarpusindicus)
SebagaiBioindikatorUntukPolusi Di Sekitar
Terminal
LebakBulus.JurnalBiologi.
Volume 8 (1) (2015).
[10] Haryanti, S. Jumlah Dan Distribusi
Stomata Pada Daun Beberapa Spesies
Tanaman Dikotil Dan Monokotil. Buletin
Anatomi dan Fisiologi. Volume 18 (2)
(2010).
[11] Pharmawati , M., Defiani, M.R.,
Arpiwi, N.L. Ca2+ Intraseluler Terlibat
Dalam Mekanisme Pembukaan Stomata
Akibat
Pengaruh
Auxin.
Jurnal
Biologi.Volume 12 (1) )2008).
[12]www.badan.lingkungan.hidup.kotasurab
aya.silh.menlh.go.id. Diakses tanggal 31
Maret 2016.
[13] Fatonah, S., Asih, D., Mulyanti, D.,
Iriani,
D.
PenentuanWaktuPembukaan

Stomata
padaGulmaMelastomamalabathricumL. di
Perkebunan
Gambir
Kampar,
Riau.
Biospecies. Vol. 6. No. 2, hal. 15-22.(2013)
[14] Zhang, X., Zhang, L., Dong, F.C., Gao,
J.F, Galbraith, D.W., Song, C.P. Hydrogen
peroxide is involved in abscisic acidinduced stomatal closure in Viciafaba. Plant
Physiology 126: 1438-1448.(2001)
[15] Salisbury, F.B & C.W Ross. 1995.
PlantPhysiology.3 ed. Wadsworth Publishing
Co. Belmont California.