Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PENERAPAN SISTEM INFORMASI


MANAJEMEN DAERAH (SIMDA), PEMAHAMAN
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAHAN DAN
SUMBER DAYA APARATUR TERHADAP KINERJA
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN
WAROPEN
(Studi Empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen)

Diajukan oleh :
ZHELFYANUS MANGAPATI
..
Fakultas Ekonomi
Program Studi Magister Akuntansi

UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Menurut UU No 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5 Otonomi Daerah
adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah membawa
dampak perubahan yang baik dalam perencanaan dan pembangunan daerah.
Dalam rangka otonomi daerah di Kabupaten Waropen, pembangunan telah
dilakukan

diberbagai

bidang

meliputi

pembangunan

ekonomi,

pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur.


Pemerintah Kabupaten Waropen yang merupakan daerah pemekaran
kabupaten Yapen Waropen yang ditetapkan dalam UU no. 26 tahun 2002
tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten
Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang,
Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten
Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat,
Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama di Propinsi Papua
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 129, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4245).
Organisasi pemerintah (government organization) merupakan salah
satu bentuk dari berbagai bentuk organisasi nirlaba. Lembaga pemerintah
dibentuk umumnya untuk menjalankan aktivitas layanan masyarakat luas.
Tujuan yang ingin dicapai biasanya peningkatan keamanan dan kenyamanan
mutu pendidikan, mutu kesehatan, dan keimanan. Segala aktivitas tersebut
dilakukan semata-mata untuk menyediakan layanan dan kemampuan
meningkatkan layanan tersebut di masa yang akan datang.
Keberhasilan dalam pengelolaan keuangan sangat ditentukan oleh
kemampuan atau kompetensi para pegawai pengelola keuangan. Indikator
keberhasilan pengelolaan keuangan dapat dilihat dari beberapa indikator
misalnya Penetapan Perda APBD dan Perda P-APBD tepat waktu, Kualitas

Pendapatan diukur dengan total PAD terhadap total Pendapatan, Kualitas


Belanja diukur dengan total Belanja untuk kesejahteraan masyarakat
terhadap total Belanja, Tingginya prosentase realisasi APBD dan rendahnya
SiLPA dan Penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
tepat waktu serta indikator pokok keberhasilan adalah peningkatan Kualitas
Opini BPK atas LKPD yang meningkat. Indikator-indikator lainnya kalau
dijalankan dengan ketentuan yang berlaku tentunya opini BPK adalah Wajar
Tanpa Pengecualian. Menjadi tugas Biro Pengelolaan Keuangan, Inspektorat
dan seluruh SKPD dalam penatausahaan dan pengelolaan keuangan daerah
untuk mengupayakan LKPD beropini WTP (Utomo, 2012) dalam Sari Erna,
Aprila Nila dan Saiful, 2013.
Berdasarkan PP No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi
Keuangan Daerah, pemerintah daerah berkewajiban mengembangkan dan
memanfaatkan

kemajuan

teknologi

informasi

untuk

meningkatkan

kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan informasi


keuangan daerah kepada publik. Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi
informasi adalah dengan penggunaan perangkat lunak sebagai alat bantu
dalam sistem akuntansi dan keuangan daerah. Oleh karena itu, diperlukan
sistem pengelolaan keuangan yang baik dalam rangka mengelola keuangan
daerah secara akurat, tepat waktu, transparan, dan akuntabel.
Sistem akuntansi berfungsi sebagai mekanisme, prosedur kerja dan
alat kontrol dalam pengelolaan keuangan. Agar semua pelaksana keuangan
daerah mampu mengelola keuangan harus memahami sistem akuntansi, oleh
sebab itu pemahaman pengelola keuangan mengenai sistem akuntansi
keuangan daerah merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Hal ini
akan menunjang pengelola keuangan daerah dalam menyajikan laporan
keuangan daerah. Semua Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan
diharuskan memiliki sumberdaya aparatur yang benar-benar memahami
sistem akuntansi pemerintahan dan penatausahaan keuangan daerah.
Sesuai dengan visi BPKP sebagai Auditor Presiden yang responsif,
interaktif dan terpercaya untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara
yang berkualitas dalam mentransformasikan manajemen pemerintahan

menuju pemerintahan yang baik dan bersih serta sesuai amanat PP 60 tahun
2008 pasal 59 ayat (2) dan Inpres Nomor 4 Tahun 2011, BPKP, dalam hal ini
Deputi

Pengawasan

memandang

perlu

Bidang
untuk

Penyelenggaraan

memfasilitasi

Keuangan

Pemerintah

Daerah

Daerah,
dalam

mempersiapkan aparatnya menghadapi perubahan, mendorong pelaksanaan


tata kelola keuangan daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku, efisien,
efektif, transparan, akuntabel, dan auditabel. Hal ini penting guna
meningkatkan kualitas Laporan Keuangan pemerintah daerah menuju
terwujudnya good governance.
Menurut (Widjaja, 1995) bahwa aparat (aparatur) adalah keseluruhan
organ pemerintahan atau pejabat negara serta pemerintahan negara yang
bertugas melaksanakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan
kewajiban sebagai tanggung jawab yang dibebankan negara kepadanya.
Untuk itu sumber daya dalam organisasi pemerintah sering disebut
aparatur

yaitu

pegawai

negeri

yang

melaksanakan

tugas-tugas

kelembagaan. (Siagian, 2003), mengatakan bahwa baik untuk menghadapi


tuntutan sekarang maupun dan terutama untuk menjawab masadepan,
pengembangan sumberdaya aparat merupakan keharusan mutlak.
(Mardiasmo, 2003) menjelaskan bahwa kemampuan berasal dari
kata job competency yaitu kemampuan dan kerja. Arti kemampuan yaitu
kemampuan melakukan segala aktivitas secara optimal dengan segenap
potensi yang dimiliki oleh manusia berupa tenaga, pikiran, perasaan dan
kemauan untuk menghasilkan suatu aktivitas yang bermanfaat. Pekerjaan
berarti bentuk aktivitas kerja yang dilakukan untuk mendapatkan suatu
manfaat dan nilai dari aktivitas tersebut. Jadi, kemampuan adalah segala
aktivitas yang dilakukan secara optimal yang melibatkan tenaga, pikiran,
perasaan dan kemauan untuk melakukan aktivitas tersebut dalam
menghasilkan manfaat dan nilai manfaat atas apa yang dikerjakan.
(Sztompka, 2003), menjelaskan bahwa kemampuan bekerja dari individu
SDM yang bekerja dalam organisasi kerja dengan dinamika kerja yang
kompleks dan penuh dengan persaingan untuk menunjukkan kemampuan
yang unggul dan menguntungkan yang tercermin dari kemampuan individu.

Penelitian Ridwan (2009) mengenai Pengaruh penerapan aplikasi


sistem informasi manajemen daerah (SIMDA) keuangan terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah (studi pada SKPD pemerintah
Indramayu) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan
dari penerapan aplikasi sistem informasi manajemen daerah (SIMDA)
keuangan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
Penelitian Sari Erna, Saiful, Aprila Nila (2013) mengenai Pengaruh
pemahaman sistem akuntansi pemerintahan dan penatausahaan keuangan
daerah terhadap kinerja pengelola keuangan daerah (Studi pada Biro
Keuangan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Bengkulu) menunjukkan
bahwa pemahaman penatausahaan keuangan daerah berpengaruh positif
terhadap kinerja pengelola keuangan daerah.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang
menjadi masalah dalam penelitian ini adalah Pengaruh Penerapan Sistem
Informasi Manajemen Daerah (SIMDA), Pemahaman Sistem Akuntansi
Pemerintahan dan Sumber Daya Aparatur Terhadap Kinerja Pengelola
Keuangan Daerah Kabupaten Waropen.

1.3

Persoalan Penelitian
Berpijak dari perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka
persoalan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Penerapan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) berpengaruh
terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan?
2. Pemahaman Sistem Akuntansi Pemerintahan berpengaruh terhadap
Kinerja Pengelolaan Keuangan?
3. Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Penerapan
Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA)?
4. Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Pemahaman
Akuntansi Pemerintahan?
5. Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Kinerja
Pengelolaan Keuangan?

1.4

Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a. Untuk mengetahui pengaruh penerapan Sistem Informasi Manajemen
Daerah (SIMDA) terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan.
b. Untuk mengetahui pengaruh Pemahaman Sistem

Akuntansi

Pemerintahan terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan.


c. Untuk mengetahui pengaruh pemahaman Sumber Daya Aparatur
terhadap Penerapan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA).
d. Untuk mengetahui pengaruh pemahaman Sumber Daya Aparatur
terhadap Pemahaman Akuntansi Pemerintahan.
e. Untuk mengetahui pengaruh pemahaman Sumber Daya Aparatur
terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan
1.5

Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pihak-pihak
terkait antara lain :
a. Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk peningkatan
penerapan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA), peningkatan
pemahaman

akuntansi pemerintahan dan pembinaan sumber daya

aparatur untuk meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan daerah


kabupaten waropen.
b. Bagi Universitas Cenderawasih Papua
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi peneliti
yang ingin mengkaji permasalahan penerapan Sistem Informasi
Manajemen Daerah (SIMDA), Pemahaman

Akuntansi Pemerintahan

dan Sumber Daya Aparatur terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan


Daerah secara lebih mendalam.
c. Bagi Peneliti.
Penelitian ini dapat berguna sebagai sarana belajar untuk lebih
memahami permasalahan yang menjadi topik kajian.
1.6

Gambaran Obyek Penelitian


1.6.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah

Berdasarkan letak astronomis, Kabupaten Waropen terletak


pada posisi 1350 93 00 1370 42 00BT dan 30 35 00 20 12
00 LS.
Secara geografis, Kabupaten Waropen berbatasan dengan
Kabupaten Kepulauan Yapen di bagian utara, Kabupaten Puncak
Jaya dan Kabupaten Paniai di bagian selatan, Kabupaten Nabire di
bagian barat dan Kabupaten Mamberamo Raya di bagian timur.
Kabupaten Waropen secara keseluruhan memiliki luas wilayah
22.004,87 Ha. Wilayah terluas dimiliki oleh Distrik Kirihi dengan
luas mencapai 8,40 persen dari total luas wilayah kabupaten ini
selain luas Hutan Negara yang mencapai 60,84 persen dari total luas
kabupaten ini.
1.6.2

Topografi
Secara umum, wilayah Kabupaten Waropen memiliki topografi
yang beragam, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi.
Distrik yang memiliki topografi dataran tinggi adalah Distrik Kirihi
dengan ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Kesembilan
distrik lainnya selain Distrik Kirihi merupakan distrik-distrik yang
memiliki topografi dataran rendah dengan rata-rata ketinggian 11,67
meter di atas permukaan laut. Kampung-kampung di Kabupaten
Waropen memiliki topografi berupa hamparan, yaitu sebanyak 61
kampung, berupa lembah sebanyak 22 kampung, berupa puncak
sebanyak 3 kampung dan berupa lereng sebanyak 1 kampung.

Gambar 1.1
Persentase Topogarfi Kampung-Kampung di Kabupaten Waropen

Sumber : BPS Kab. Waropen Waropen Dalam Angka 2013

Gambar 1.2
Luas Wilayah Kabupaten Waropen Menurut Distrik

Sumber : BPS Kab. Waropen Waropen Dalam Angka 2013


1.6.3

Visi dan Misi


Visi dan Misi pembangunan Daerah Kabupaten Waropen untuk
Periode Tahun 2011 2015 disusun berdasarkan Visi dan Misi
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih. Hal-hal tersebut
disebabkan karena visi dan misi serta program Kepala Daerah
merupakan hasil proses politik terpilihnya Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah secara langsung oleh masyarakat sehingga dapat
dijadikan sebagai substansi dan rujukan utama penyusunan RPJMD
Kabupaten Waropen.
Visi dan Misi tersebut perlu dikembangkan dan dijabarkan
sesuai prinsip perencanaan pembangunan daerah, agar tujuan dan
sasaran pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun kedepan dapat
dijabarkan secara efektif.
Dalam periode pembangunan Kabupaten Waropen tahun 2011
2015, Visi pembangunan Kabupaten Waropen adalah :
a)

Visi : Di tahun 2015 Kabupaten Waropen, maju dan sejahtera


menuju kemandirian

Dari rumusan visi tersebut diatas terdapat 3 (tiga) kata kunci yaitu :
Kabupaten Waropen yang maju, rakyat sejahtera, mandiri.

1. Kabupaten Waropen Maju, dimana aksebilitas masyarakat


terhadap pelayanan sarana dan prasarana dasar terus meningkat.
Adanya pembangunan jalan untuk menerobos isolasi daerah.
Transportasi lancer, arus barang dan jasa serta penumpang terus
meningkat.
2. Rakyat Waropen yang Sejahtera merupakan refleksi dari tingkat
kesejahteraan masyarakat terus meningkat. Kondisi tersebut di
tandai dengan aksebilitas dan kualitas pendidikan, kesehatan,
ketenagakerjaan,

meningkatnya

IPM

terutama

rakyat

di

kampung-kampung.
3. Kemandirian dimana masyarakat Waropen harus bekerja keras,
rajin, memiliki kemampuan, memiliki daya saing, adanya
pembinaan dari pemerintah, memanfaatkan setiap peluang untuk
memperbaiki kehidupannya.
Oleh karena itu diharapkan seluruh stakeholder (Pemerintah
Daerah, Dunia Usaha, Toga, Todat, Todas dan seluruh rakyat
Kabupaten Waropen) bahu-membahu mengoptimalkan seluruh
kapasitas yang dimilikinya untuk mewujudkan Kabupaten Waropen
yang maju, sejahtera menuju kemandirian.
b)

Misi
Misi kita pada 5 (lima) tahun nanti adalah mengupayakan yang

kita harapkan dapat menjadi kenyataan. Membangun yang dicitacitakan merupakan suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang besar,
dan komitmen dari semua pihak untuk bersungguh-sungguh
melaksanakannya. Yang kita inginkan itu tidak bisa kita capai tanpa
perjuangan dari semua pihak. Diharapkan masyarakat, pemerintah
dan kalangan dunia usaha harus memiliki pemahaman dan tekad
yang satu untuk membangun Kabupaten Waropen yang maju,
sejahtera menuju kemandirian.
Berdasarkan Visi Kabupaten Waropen Tahun 2011-2015,
yaitu : Kabupaten Waropen yang maju, sejahtera, menuju
kemandirian maka dirumuskan Misi Kabupaten Waropen Tahun
2011-2015 sebagai berikut :

1.

Meningkatkan dan mempercepat pembangunan


prasarana dasar (infrastruktur) sampai ke wilayah terpencil,
meliputi prasarana perhubungan/transportasi kepada(darat, laut,
sungai dan udara), ketersediaan air bersih, ketersediaan energi
listrik, ketersediaan sistim telekomunikasi, ketersediaan rumah

2.

dan lingkungan yang bersih.


Mewujudkan sumber

daya

manusia

yang

berkualitas melalui peningkatan aksebilitas dan kualitas


3.

pelayanan pendidikan dan kesehatan serta ketenagakerjaan.


Memperkuat struktur ekonomi rakyat dalam
rangka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi
rakyat serta penciptaan iklim yang kondusif bagi investasi
berdasarkan rencana tata ruang wilayah dengan tetap

4.

memperhatikan aspek lingkungan.


Melakukan revitalisasi

dan

refungsionalisasi

lembaga-lembaga Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen dan


Lembaga Masyarakat menuju tata kelola pemerintahan daerah
yang bersih/bebas KKN, transparan dan profesional yang
5.

berorientasi pada pelayanan publik.


Peningkatan pembangunan

kampung

untuk

meningkatkan kesejahteraan rakyat di kampung.


1.6.4

Pemerintah Kabupaten Waropen


Kabupaten Waropen terdiri dari 10 (sepuluh) Distrik dengan 87
kampung/kelurahan. Dilihat dari komposisi jumlah kampung, Distrik
Walani merupakan distrik yang mempunyai jumlah kampung
terbanyak mencapai 16 kampung. Sedangkan distrik dengan kampung
paling sedikit adalah Distrik Masirei dan Risei Sayati yang memiliki
masing-masing 6 kampung. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum
(Pemilu) tahun 2009 jumlah keanggotaan DPRD Kabupaten Waropen
sebanyak 20 (dua puluh) orang. DPRD Kabupaten Waropen terdiri
dari 3 (tiga) fraksi, yaitu Fraksi Damai Sejahtera, dengan wakilnya
sebanyak 4 (empat) orang, Fraksi Partai Golkar, dengan wakilnya
sebanyak 4 (empat) orang dan Fraksi Gabungan yang jumlah
anggotanya 12 (dua belas) orang. Jumlah pegawai negeri sipil yang

bekerja di Lingkungan PEMDA Kabupaten Waropen pada tahun 2009


sebanyak 1,165 pegawai, dimana jumlah PNS laki-laki sebanyak 871
orang dan PNS perempuan sebanyak 294 orang. Sedangkan jika
berdasarkan latar belakang pendidikan PNS, ternyata paling banyak
pegawai yang berlatar belakang pendidikan SMA sebanyak 675 orang,
lalu yang berlatar belakang pendidikan S1 sebanyak 269 orang, yang
berlatar belakang pendidikan Diploma sebanyak 156 orang, lalu yang
berlatar belakang pendidikan SMP sebanyak 41 orang, yang berlatar
belakang pendidikan SD sebanyak 13 orang, dan yang berlatar
belakang pendidikan Pasca Sarjana sebanyak 12 orang.
1.6.5

Urusan Pemerintahan
Urusan Pemerintahan Kabupaten Waropen terbagi atas Urusan
Wajib 33 SKPD dan Urusan Pilihan 6 SKPD dengan rincian sebagai
berikut :
a.
Urusan Wajib
1. Dinas Pendidikan, Pemuda & Olah Raga
2. Dinas Kesehatan
3. Dinas Pekerjaan Umum
4. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
5. Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informatika
6. Kantor Lingkungan Hidup
7. Dinas Kependudukan Catatan Sipil & Tenaga Kerja
8. Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana
9. Dinas Kesejahteraan Sosial & Pemukiman
10. Dinas Kebudayaan & Pariwisata
11. Badan Kesatuan Bangsa Politik & Perlindungan Masyarakat
12. Sekretariat Daerah
13. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
14. Dinas Pendapatan Daerah
15. Inspektorat
16. Badan Pengelolaan Keuangan & Asset Daerah
17. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
18. Badan Kepegawaian, Pendidikan & Latihan
19. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja
20. Distrik Risei Sayati
21. Distrik Kirihi
22. Distrik Inggerus
23. Distrik Urei Fasei
24. Distrik Waropen Bawah
25. Distrik Oudate
26. Distrik Demba
27. Distrik Walani

10

28. Distrik Wapoga


29. Distrik Masirei
30. Distrik Soyoi Mambai
31. Distrik Wonti
32. Badan Pemberdayaan Masyarakat & Pemerintahan Kampung
33. Kantor Perpustakaan, Arsip & Dokumentasi
b.

Urusan Pilihan
1. Dinas Pertanian
2. Badan Pelaksana Penyuluh
3.
4.
5.
6.

Pertanian,

Perikanan

&

Kehutanan
Dinas Kehutanan
Dinas Pertambangan & Energi
Dinas Kelautan & Perikanan
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UKM

11

BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1

Telaah Pustaka
2.1.1 Kinerja Pengelola Keuangan Daerah
Kinerja pengelola keuangan daerah adalah prestasi kerja atau
performance para aparatur pegawai pemerintah daerah dalam
melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya khususnya
dalam

pengelolaan

keuangan

daerah

sesuai

dengan

aturan

perundang-undangan yang berlaku dan tujuan program/kegiatan


yang telah ditetapkan (Mahoney et.al, 1963 dalam Ratih, 2012).
Dengan demikian, kinerja pengelola keuangan daerah adalah
suatu hasil yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan
kerja

aparatur/pegawai

pengelola

keuangan

daerah

dalam

melaksanakan tugas sesuai dengan standar atau persyaratan yang


telah ditentukan sebelumnya seperti aturan perundangan-undangan
dan aturan lainnya dalam pengelolaan keuangan daerah. Kinerja
(prestasi kerja) pengelola keuangan daerah adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang aparatur/pegawai
pengelola keuangan daerah dalam melaksanakan tugasnya, sesuai
dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Indikator kinerja pengelola keuangan pemerintah yaitu
Kualitas kerja, kuantitas kerja, ketepatan waktu, Pengawasan
superior, Efektifitas biaya, Pengaruh rekan kerja (Astuti 2008).
Menurut Dessler (1997) dalam Nasaruddin (2008) indikator yang
digunakan untuk menilai kinerja karyawan/pegawai adalah: 1)
Kualitas kerja, mengacu pada pekerjaan yang telah sesuai dengan
prosedur, akurasi dan marjin kesalahan, serta kecakapan menjalankan
perintah atasan; 2) Kuantitas Kerja, mengacu pada jumlah produksi
atau hasil kerja dengan sistem pelayanan; 3) Kehadiran dan
ketetapan waktu, mengacu pada ketetapan disiplin dan ketaatan
jadwal kerja atau kehadiran sebagaimana yang telah ditugaskan; 4)
Tanggungjawab kerja, mengacu pada pelayanan dan penyelesaian

12

tugas; 5) Ketepatan waktu kerja, mengacu pada penyelesaian tugas


yang sudah ditetapkan; dan 6) Kerjasama dengan dengan rekan kerja.
2.1.2

Sistem Akuntansi Pemerintahan


Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan SKPD merupakan
sistem informasi akuntansi bagi pemerintahan daerah. Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 menyatakan bahwa
sistem akuntansi pemerintahan daerah merupakan serangkaian
prosedur

mulai

dari

proses

pengumpulan

data,

pencatatan,

pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka


mempertanggungjawabkan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) yang dapat dilakukan secara manual atau
menggunakan aplikasi komputer. Sistem Informasi Keuangan Daerah
diharapkan

dapat

mempermudah

pelaksanaan

pengelolaan

penatausahaan keuangan oleh setiap SKPD.


Sistem Akuntansi Keuangan Daerah adalah sistem yang
mendokumentasikan, mengadministrasikan, serta mengolah data
keuangan daerah dan data terkait lainnya menjadi informasi yang
disajikan kepada masyarakat dan sebagai bahan pengambilan
keputusan dalam rangka perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan
pertanggungjawaban (Bastian, 2006). Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah adalah serangkaian prosedur, mulai dari proses pengumpulan
data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan
dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer
(Maulidah, 2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun
2011 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah memberikan
ketentuan bahwa setiap pemerintah daerah wajib menerapkan sistem
akuntansi keuangan daerah minimal meliputi prosedur akuntansi
penerimaan kas, prosedur akuntansi pengeluaran kas, prosedur
akuntansi asset, dan prosedur akuntansi selain kas.

13

2.1.3

Penatausahaan Keuangan Daerah


Pada tahap penatausahaan keuangan daerah dilakukan
penatausahaan

terhadap

pendapatan,

belanja,

pembiayaan,

asset/kekayaan dan kewajiban daerah dengan berbagai ketentuan,


prosedur, dokumen dan lainnya untuk memberikan pengelolaan yang
baik terhadap keuangan daerah. Selanjutnya hasil dari penatausahaan
adalah

dilakukan

pertanggungjawaban

pengelolaan

keuangan

berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2010.


Tahap

akhir

adalah

dilakukan

pemeriksaan

terhadap

pertanggungjawaban pengelolaan keuangan oleh Badan Pemeriksa


Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI).
Penatausahaan

keuangan

daerah

berpedomaan

kepada

Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 yang diperbaiki dengan


Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, mengatakan bahwa penatausahaan keuangan
daerah meliputi: 1) Penatausahaan penerimaan tingkat Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) dan tingkat Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah (SKPKD); 2) Penatausahaan pengeluaran pada
tingkat SKPD dan pada tingkat SKPKD.
Penatausahaan

penerimaan

dilakukan

oleh

bendahara

penerimaan SKPD dengan menggunakan dokumen berupa Surat


Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD), Surat Ketetapan Pajak Daerah
(SKPD), Surat Tanda Setoran (STS), surat tanda bukti pembayaran,
dan bukti penerimaan lainnya yang sah. Selanjutnya, bendahara
penerimaan SKPD menatausahakan penerimaan tersebut ke dalam:
1) Buku Kas Umum; 2) Buku Pembantu per Rincian Objek
Penerimaan. 3) Buku Rekapitulasi Penerimaan Harian (Permendagri
21 tahun 2011). Bendahara penerimaan wajib membuat Surat
Pertanggungjawaban (SPj) administratif maupun fungsional paling
lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
Sementara itu, penatausahaan pengeluaran dilakukan oleh
bendahara pengeluaran SKPD dengan menggunakan dokumen

14

berupa Surat Permintaan Pembayaran (SPP), Surat Perintah


Membayar (SPM), Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) baik UP,
GU, dan TU maupun LS, Nota Pencairan Dana (NPD), dan
buktibukti pengeluaran yang sah lainnya. Selanjutnya, bendahara
pengeluaran SKPD menatausahakan belanja tersebut ke dalam: 1)
Buku Kas Umum Pengeluaran; 2) Buku Simpanan/Bank; 3) Buku
Pajak; 4) Buku Panjar; 5) Buku Rekapitulasi Pengeluaran Per
Rincian Objek; 6) Register SPP-UP/GU/TU/LS. Pada akhir bulan,
bendahara pengeluaran membuat SPj pengeluaran administratif
maupun fungsional paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
2.1.4

Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA)


Sistem Informasi Keuangan Daerah selanjutnya disingkat
SIKD

adalah

suatu

sistem

yang

mendokumentasikan,

mengadministrasikan, serta mengolah data pengelolaan keuangan


daerah dan data terkait lainnya menjadi informasi yang disajikan
kepada masyarakat dan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam
rangka perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pertanggung
jawaban pemerintah daerah.
Informasi Keuangan Daerah adalah segala informasi yang
berkaitan dengan keuangan daerah yang diperlukan dalam rangka
penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah.
Program SIMDA adalah Aplikasi yang dikembangkan oleh
BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) untuk
membantu Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pengelolaan
keuangan daerah.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemerintah
daerah

wajib

menyusun

laporan

keuangan

untuk

mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerahnya. Untuk


menghasilkan laporan keuangan tersebut diperlukan suatu sistem
yang dapat diandalkan (reliable), yaitu sistem yang mampu
mengolah data-data (input) dan menghasilkan informasi (output)

15

yang dapat digunakan oleh ,manajemen dalam pengambilan


keputusan.
2.1.5

Sumber Daya Aparatur


Menurut (Thoha, 2005) bahwa salah satu unsur
penyelenggaraan
memperoleh

pemerintahan

perhatian

dalam

yang

perlu

pelaksanaan

tata

kepemerintahan yang baik adalah penataan aparatur


pemerintah yang meliputi penataan kelembagaan
birokrasi

pemerintahan,

sistem,

dan

penataan

manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini


sumber daya pegawai (PNS). Pengembangan sumber
daya manusia aparatur merupakan suatu langkah
strategis dalam upaya menciptakan sumber daya
manusia aparatur yang lebih profesional, sinergis, dan
berwibawa dalam proses pelaksanaan pemerintahan
dan pembangunan daerah.
Manajemen menurut (Hasibuan, 1996) bahwa
manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan
yang

diinginkan.

memudahkan

Manajemen

terwujudnya

yang
tujuan

baik

akan

perusahaan,

pegawai dan masyarakat. Dengan manajemen unsurunsur manajemen menjadi efektif dan efisien dalam
penggunaannya.
Sedangkan Sumber daya manusia merupakan
elemen

utama

organisasi

dibandingkan

dengan

elemen lain seperti modal, teknologi, dan uang sebab


manusia itu sendiri yang mengendalikan yang lain.
Membicarakan sumberdaya manusia tidak terlepas
dari kegiatan-kegiatan atau proses manajemen lainnya
seperti

strategi

manajemen

dan

perencanaan,

pengembangan

pengembangan

organisasi.

16

Keterkaitan antara aspek-aspek manajemen itu sangat


erat sekali sehingga sulit bagi kita untuk menghindari
dari pembicaraan secara terpisah satu dengan lainnya.
Manajemen

sumber

daya

manusia

bersifat

universal, untuk meningkatkan pencapaian tujuan


organisasi.

Sebagaimana

menyatakan
manusia

bahwa,

menjadi

(Mangkunegara,

manajemen

penting

dan

sumber
utama

2006)
daya
dalam

memperkuat pencapaian tujuan organisasi.


Pengembangan SDM (development personnel)
pada dasarnya merupakan kegiatan terpadu yang
dilakukan manajemen dalam rangka meningkatkan
nilai

tambah

pegawai

guna

meningkatkan

produktivitas organisasi dan sekaligus dalam rangka


mempersiapkan pegawai untuk melaksanakan tugas
pada jenjang yang lebih tinggi.
Menurut (Martopo, 2004) bahwa dalam meningkatkan
kualitas individu sumber daya manusia, pengetahuan sangat berperan
dalam mempengaruhi tingkat kemampuan penerimaan inovasi,
adopsi dan inisiatif dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya
dalam suatu organisasi kerja. Menandakan bahwa pendidikan yang
sesuai dengan sistem pendidikan nasional merupakan salah satu
pertimbangan yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan suatu
penrekruitan individu sumber daya manusia yang berkualitas.
(Mardiasmo, 2003) menjelaskan bahwa kemampuan berasal dari kata
job competency yaitu kemampuan dan kerja. Arti kemampuan yaitu
kemampuan melakukan segala aktivitas secara optimal dengan
segenap potensi yang dimiliki oleh manusia berupa tenaga, pikiran,
perasaan dan kemauan untuk menghasilkan suatu aktivitas yang
bermanfaat. Secara umum aparatur dapat diartikan sebagai alat
negara

17

2.1.6

Laporan Keuangan
Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Nomor 71
Tahun 2010 dalam menyatakan bahwa : Laporan Keuangan
merupakan laporan terstruktur mengenai posisi keuangan dan
transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.
Sedangkan

menurut

Mahsun

&

Sulistiyowati

&

Purwanugraha (2011 : 92) dalam buku Akuntansi Sektor Publik


menyatakan bahwa : Laporan Keuangan Daerah adalah hasil proses
akuntansi keuangan daerah yang berisi Neraca, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan,
untuk digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, baik pihak
internal maupun pihak eksternal.
Dari uraian diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa
Laporan Keuangan merupakan gambaran/potret dari seluruh proses
akuntansi yang disusun secara sistematis dengan mengacu pada
prosedur akuntansi yang berlaku umum dalam satu periode akuntansi
pada suatu organisasi.

2.2

Kerangka Pemikiran
Program Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) adalah
Aplikasi untuk membantu Pemerintah Daerah dalam melaksanakan
pengelolaan keuangan daerah.
Sistem akuntansi berfungsi sebagai mekanisme, prosedur kerja dan alat
kontrol dalam pengelolaan keuangan. Agar semua pelaksana keuangan
daerah mampu mengelola keuangan harus memahami sistem akuntansi, oleh
sebab itu pemahaman pengelola keuangan mengenai sistem akuntansi
keuangan daerah merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Hal ini
akan menunjang pengelola keuangan daerah dalam menyajikan laporan
keuangan daerah.
Aparatur adalah keseluruhan organ pemerintahan atau
pejabat negara serta pemerintahan negara yang bertugas
melaksanakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan tugas

18

dan kewajiban sebagai tanggung jawab yang dibebankan


negara kepadanya. Untuk itu sumber daya dalam organisasi
pemerintah sering disebut aparatur yaitu pegawai negeri
yang melaksanakan tugas-tugas kelembagaan. Alur pemikiran
tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1
Gambar 1.3 Kerangka Pemikiran
Pemahaman
Sumber Daya
Aparatur

Pemahaman
Sistem
Akuntansi

Kinerja
Pengelolaan
Keuangan

Sistem Informasi
Manajemen
Daerah (Simda)

Sumber : Pemikiran peneliti 2014

H1 :

Pemahaman Sistem Akuntansi


Pengelolaan Keuangan.

berpengaruh

terhadap

Kinerja

H2 :

Pemahaman Penatausahaan Keuangan berpengaruh terhadap Kinerja


Pengelolaan Keuangan.

H3 :

Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Kinerja


Pengelolaan Keuangan.

H4 :

Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Pemahaman


Akuntansi.

H5 :

Pemahaman Sumber Daya Aparatur berpengaruh terhadap Pemahaman


Penatausahaan Keuangan.

19

20

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis dan Sumber Data
3.1.1. Jenis Data
1. Data Primer
Berupa data yang peneliti peroleh dari obyek penelitian
berupa Kuesioner.
2. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa data yang peneliti peroleh dari
obyek penelitian berupa Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Kabupaten Waropen Tahun 2013 dan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen Tahun 2013.
3.1.2. Sumber Data
1. Data Internal
Data internal yaitu data yang peneliti peroleh dari obyek
penelitian

berupa

data

penatausahaan

keuangan

daerah

Kabupaten Waropen, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


Kabupaten Waropen Tahun 2013 dan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen Tahun 2013.
2. Data Eksternal
Data eksternal yaitu data yang peneliti peroleh dari luar
obyek penelitian berupa literatur, dokumen, buku maupun media
elektronik terkait obyek penelitian.
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah 39 (tiga puluh
sembilan) Satuan Kerja Pemerintah.
3.2.2. Sampel
Sampling atau sampel berarti contoh atau sebagian dari seluruh
individu yang menjadi obyek penelitian. Adapun sampel dalam
penelitian ini adalah Pengguna Anggaran (PA), Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA), Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) dan
Bendahara. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik purposive
sampling yaitu digunakan dengan menentukan kriteria khusus
terhadap sampel, terutama orang-orang yang dianggap ahli.

21

3.2.3. Satuan Pengamatan dan Satuan Analisis


1. Satuan Pengamatan
Satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah 39 (Tiga
Puluh Sembilan) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Kabupaten Waropen.
2. Satuan Analisis
Satuan Analisis dalam penelitian ini adalah Pemerintah
Daerah Kabupaten Waropen.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menyebarkan kuesioner guna memperoleh data primer. Menurut
Sugiyono (2012: 199) kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada reponden untuk dijawabnya.
Dalam setiap penelitian diperlukan kemampuan memilih dan
menyusun teknik serta alat pengumpulan data yang relevan, disamping
menggunakan metode yang tepat juga diperlukan kecermatan dalam memilih
data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut :

1. Penelitian Kepustakaan
Peneliti memperoleh sumber data sekunder melalui studi
kepustakaan yang bertujuan untuk membandingkan hasil yang diperoleh
dengan teori yang telah didapat. Data yang diperoleh dari studi
kepustakaan ini adalah:
a. Data yang bersumber dari kepustakaan kampus diantaranya:
1) Teori tentang Sumber Daya Aparatur.
2) Teori tentang Sistem Akuntansi Pemerintahan.
3) Teori tentang Penatausahaan Keuangan Daerah.
4) Teori tentang Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah
b. Data yang bersumber dari Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen,
diantaranya :

22

1) Sejarah
2) Gambaran Umum Pemerintahan
3) Struktur organisasi
2. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan ini dilakukan peneliti secara langsung pada
obyek penelitian yaitu 39 (Tiga Puluh Sembilan) Unit Satuan Kerja
Perangkat Daerah) Kabupaten Waropen.
Dalam mengadakan penelitian lapangan ada beberapa metode
sebagai alat ukurnya :
a. Wawancara
Wawancara ini dilakukan secara langsung dan tidak langsung kepada
Pegawai Negeri Sipil Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
Kabupaten Waropen.
b. Study Dokumentasi
Dilakukan sebagai bahan untuk memperkuat penjelasan terhadap
bahan atau masalah yang diteliti.

3.4. Metode Analisis Data


Dalam menganalisis data digunakan metode kualitatif dan metode
kuantitatif. Pada metode kualitatif semua data yang terkumpul dianalisis
secara kualitatif berdasarkan pendapat para ahli sebagai landasan teori.
Kuesioner yang telah diisi oleh responden dikuantitatifkan terlebih dahulu
sehingga menghasilkan keluaran-keluaran berupa angka yang selanjutnya
dianalisis melalui program SPSS (Statistical Package for Social Science).
Setelah kuesioner terkumpul untuk melakukan analisis data perlu dilakukan
uji validitas dan uji reliabilitas. Kedua pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah alat ukur yang digunakan sesuai dengan yang diukur dan
juga konsistensi dengan data yang dikumpulkan dan dilakukan Uji
Normalitas, Heteroskedastisitas dan Multikolinearitas.
3.5. Definisi Operasional Variabel

23

1.

Kinerja pengelola keuangan daerah adalah prestasi kerja


atau performance para aparatur pegawai pemerintah daerah dalam
melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya khususnya dalam
pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan aturan perundang-undangan

yang berlaku dan tujuan program/kegiatan yang telah ditetapkan.


2.
Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan SKPD
3.

merupakan sistem informasi akuntansi bagi pemerintahan daerah.


Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah adalah
serangkaian prosedur, mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan,
pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara

manual atau menggunakan aplikasi komputer.


4.
Penatausahaan keuangan daerah berpedomaan kepada
Permendagri

Nomor

59 Tahun 2007

yang

diperbaiki

dengan

Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan


Keuangan Daerah, mengatakan bahwa penatausahaan keuangan daerah
meliputi: 1) Penatausahaan penerimaan tingkat Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) dan tingkat Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah
(SKPKD); 2) Penatausahaan pengeluaran pada tingkat SKPD dan pada
tingkat SKPKD.
5.

Sistem

Informasi

Keuangan

Daerah

selanjutnya

disingkat SIKD adalah suatu sistem yang mendokumentasikan,


mengadministrasikan, serta mengolah data pengelolaan keuangan daerah
dan data terkait lainnya menjadi informasi yang disajikan kepada
masyarakat dan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam rangka
perencanaan,

pelaksanaan,

dan

pelaporan

pertanggung

jawaban

pemerintah daerah.
6.
Sumber daya manusia merupakan elemen
utama organisasi dibandingkan dengan elemen lain
seperti modal, teknologi, dan uang sebab manusia itu
sendiri yang mengendalikan yang lain.
7.
Laporan Keuangan merupakan gambaran/potret dari
seluruh proses akuntansi yang disusun secara sistematis dengan mengacu

24

pada prosedur akuntansi yang berlaku umum dalam satu periode


akuntansi pada suatu organisasi.

25