Anda di halaman 1dari 23

PENGOLAHAN LIMBAH SECARA

KIMIA FISIKA
SISTEM FLOTASI UDARA

Oleh :
1. Muhammad Akvis Fauzi
2. Kresna Thufail A.

( I 0512038 )
( I 0514030 )

Program Studi Sarjana Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Sebelas Maret Surakarta

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Usaha manusia untuk memanfaatkan dan menguasai sumber alam
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun usaha/aktivitas manusia
tersebut memiliki sisi lain yang tidak dikehendaki, yaitu akibat samping yang
negatif bagi lingkungan hidup. Gangguan yang terjadi pada sumber daya alam dan
lingkungannya akan menimbulkan masalah pencemaran.
Bahan pencemar yang dihasilkan dari usaha/aktivitas manusia harus
dilakukan penanganan terlebih dahulu (pengelolahan limbah). Salah satu limbah
yang dihasilkan dari usaha/aktivitas manusia berupa limbah cair. Pengolahan
limbah cair adalah upaya untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dari
berbagai proses produksi sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali. Proses ini
dimaksudkan untuk menghilangkan zat-zat berbahaya atau beracun yang
terkandung dalam limbah cair tersebut. Penanganan limbah tersebut dilakukan
agar tidak membahayakan kehidupan makhluk hidup lainnya saat limbah dibuang
atau dimanfaatkan kembali.
Proses pemisahan limbah suatu campuran dapat dilakukan dengan
berbagai metode. Metode pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen
penyusun campuran. Suatu campuran dapat berupa campuran homogen (suatu
fasa) atau campuran heterogen (lebih dari suatu fasa). Suatu campuran heterogen
dapat mengandung dua atau lebih fasa antaranya padat-padat, padat-cair, padatgas, cair-cair, cair-gas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya.
Pemisahan suatu campuran heterogen dapat dilakukan dengan proses pemisahan
flotasi.
Flotasi dikembangkan pertama kali untuk menyisihkan partikel halus dari
minyak oleh Hockley pada tahun 1892. Teknologi flotasi banyak diterapkan pada
industri pertambangan untuk memisahkan material yang diinginkan. Sekarang ini
kurang lebih sebanyak dua juta ton per tahun bahan tambang dihasilkan dengan
menggunakan teknik flotasi. Selain digunakan pada industri pertambangan, teknik
flotasi ini juga dapat diaplikasikan pada penanganan lingkungan.
Teknik flotasi dapat diterapkan untuk pengelolaan limbah yang dapat
mencemari lingkungan. Teknik flotasi yang digunakan berupa mikroflotasi,
berbeda dengan teknik flotasi yang digunakan pada industri pertambangan berupa
makroflotasi atau menggunakan gelembung udara berdiameter besar. Mikroflotasi
banyak digunakan untuk pemurnian air, pengolahan limbah industri dan domestik,
dan lumpur dari reaktor (Loewenberg 1994), serta limbah minyak-air (Aurelle
1991).

1.2 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk mendeskripsikan teknik flotasi dalam
mengendalikan limbah industri yang meliputi pengertian, proses/mekanisme,
keuntungan, jenis-jenis, faktor yang mempengaruhi, serta contoh design dan
perhitungan flotasi.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Flotasi adalah unit operasi yang digunakan untuk memisahkan partikel
padatan dari cairan. Pemisahan terjadi karena gelembung udara dimasukkan ke
dalam cairan (Metcalf 1972). Flotasi adalah suatu proses dimana padatan, cairan
atau zat terlarut dibawa ke permukaan larutan dengan memanfaatkan gelembung
udara. Zat yang diflotasi menempel pada permukaan gelembung udara, sehingga
terangkat ke permukaan larutan yang untuk selanjutnya dapat dipisahkan dari
larutan (Rickard 2007). Sedangkan Newerow (1978) menyatakan flotasi adalah
proses yang menjadikan bahan-bahan tersuspensi dan berbentuk koloid menjadi
terapung.
Pengertian lain disampaikan oleh Siregar (2009), flotasi merupakan proses
pemisahan pengapungan yang digunakan untuk memisahkan padatan dari air. Unit
flotasi digunakan jika densitas partikel lebih kecil dibandingkan dengan densitas
air sehingga cenderung mengapung. Oleh karena itu, dalam proses ini perlu
ditambahkan gaya ke atas dengan memasukkan udara ke dalam air, flotasi antara
lain digunakan dalam proses pemisahan lemak dan minyak (oil and grease
removal), pemisahan padatan pada pengolahan awal dan pengolahan lanjutan,
pemindahan floc setelah pengolahan kimia, dan pengentalan lumpur (sludge
thickening).
Menurut Prasetijo (2013), flotasi adalah suatu proses pemisahan suatu zat
dari zat lainnya pada suatu cairan atau larutan berdasarkan perbedaan sifat
permukaan dari zat yang akan dipisahkan, dimana zat yang bersifat hidrofilik
tetap berada pada fasa air, sedangkan zat yang bersifat hidrofobik akan terikat
pada gelembung udara dan akan terbawa ke permukaan larutan dan membentuk
buih, sehingga dapat dipisahkan dari cairan tersebut.
Nemerow (1978) menjelaskan beberapa keuntungan yang diperoleh dari
penggunaan fotasi, antara lain minyak dan padatan ringan secara alami dapat
dipisahkan. Proses flotasi menggunakan waktu retensi singkat. Dengan waktu
retensi singkat maka akan menurunkan kebutuhan ruang (ukuran tangki) dan
biaya konstruksi. Di samping itu, gangguan bau yang berasal dari limbah dapat
dicegah karena adanya penambahan udara dan waktu retensi yang singkat. Udara
yang diberikan dengan tekanan memungkinkan udara dapat larut dalam air
(Callely 1977). Teknik koagulan yang diikuti dengan flotasi dapat menghilangkan
warna mencapai 95%% pada limbah cair industri pulp dan kertas (Ackel 1998).
Flotasi juga dapat menurunkan nilai COD dan BOD sekitar 40% hingga 60%.
Pada kasus limbah rumah pemotongan hewan, flotasi dapat menghilangkan
maksimum 70% COD, 95% padatan tersuspensi, dan 98% lemak (fat) (Lovett
1986).

2.2 Proses / Mekanisme


Proses flotasi dapat berlangsung secara spontan atau alami. Pengapungan
secara alami terjadi pada minyak, pelumas, atau subsatansi lain yang lebih ringan
daripada air. Komponen ini secara alami akan naik ke permukaan air dan dapat
dipisahkan secara manual (Fair 1971).
Flotasi dengan penambahan udara dapat mengangkat partikel yang lebih
berat dari pada air. Udara menolong pengangkatan partikel tersebut. Dapat pula
ditambahkan bahan pembantu/reagen flotasi (Fair 1971). Flotasi melibatkan
penangkapan partikel padat oleh gelembung gas yang selanjutnya dibawa ke
permukaan. Kemudian partikel padat akan keluar dari tangki flotasi (Ives 1984).
Proses flotasi dengan memasukkan udara ke dalam air akan membuat
partikel-partikel terlarut didalam air berkumpul membentuk flok-flok, sehingga
menyebabkan ukuran partikel-partikel tersebut menjadi lebih besar dan mudah
terangkat oleh gelembung-gelembung udara. Terjadinya flotasi merupakan hasil
interaksi antara gelembung-gelembung udara dengan suatu fasa terdispersi,
dimana kecepatan gaya dorong ke atas sangat tergantung pada gaya gravitasi dan
dispersi. Flotasi juga dipengaruhi oleh konsentrasi permukaan dari fasa terdispersi
dan pemakaian bahan kimia sebagai penurun tegangan antara fasa terdispersi
terhadap media air.
Untuk dapat diflotasi, maka suatu zat harus bersifat hidrofobik, sehingga
dapat menempel pada gelembung udara. Zat yang bersifat hidrofilik dapat diubah
menjadi hidrofobik dengan penambahan suatu senyawa yang disebut kolektor.
Pada flotasi udara terlarut, ukuran diameter gelembung udara yang dihasilkan
rata-rata 10 hingga 100 mikron (Metcalf & Eddy 1988).
Mekanisme kontak gelembung dengan partikel diterangkan oleh Nemerow
(1978). Terdapat tiga mekanisme yang mungkin terjadi salah satu atau seluruhnya
dalam proses flotasi.
a. Pengepungan
Mekanisme ini lebih banyak terjadi pada material flok dimana gelembung
udara naik ke atas dan tertangkap atau terjebak oleh struktur material flok.
Dalam peristiwa ini ikatan terjadi antara gelembung udara dan partikel adalah
penangkapan secara fisik. Mekanisme diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Tertangkapnya gelembung udara yang naik ke atas permukan oleh


struktur flok
b. Penyerapan

Penyerapan gelembung gas ke dalam struktur flok padatan tersuspensi,


sehingga membentuk suatu struktur flok yang baru. Mekanisme diperlihatkan
pada Gambar 2.

Gambar 2 Mekanisme penyerapan gelembung gas


c. Pelekatan
Pelekatan terjadi karena daya tarik intra molekuler yang digunakan pada
suatu permukaan antara dua fase yang disebut tegangan permukaan.
Pelekatan antara gelembung udara dengan partikel terdapat pada Gambar 3.

Gambar 3 Mekanisme pelektan antara gelembung udara dan partikel


Sistem tiga fasa, yaitu udara-air-partikel memberikan pengaruh pada
mekanisme pelekatan gelembung udara dan partikel. Pelekatan ini dapat
diperkirakan dengan memperhitungkan besar sudut kontak terjadi. Sudut kontak
melibatkan tegangan permukaan udara-air, tegangan permukaan air-partikel dan
tegangan udara-partikel (Fair 1971).
Apabila tegangan permukaan yang terjadi antara partikel-udara sama atau
kurang dari tegangan permukaan partikel-air. Hal ini berarti lapisan cairan (air)
akan menghalangi kontak antara partikel dan udara, atau tidak terjadi kontak
antara partikel dengan udara. Tegangan permukaan partikel-udara lebih besar
daripada tegangan permukaan partikel-air menyebabkan gelembung udara
menempel (kontak) pada partikel (Ives 1984).

2.3 Jenis Flotasi


Pemisahan padatan tersuspensi dalam cairan dapat dilakukan dengan
bantuan gelembung udara yang dimasukan ke dalam tangki flotasi. Pada sistem
flotasi terdapat tiga metode pembuatan gelembung udara, yaitu metode Dispersed
Air Flotation, Vacuum Flotation, dan Dissolved Air Flotation (Ives 1984).
a. Metode Dispersed Air Flotation
Pemberian udara dilakukan dengan menggunakan impeler berputar.
Gelembung udara terbentuk disebabkan adanya tekanan udara yang masuk ke
dalam sistem melalui impeller yang berputar (Metcalf 1972).
Ukuran gelembung udara yang dihasikan mempunyai diameter sekitar
1000 mikron atau lebih. Ukuran gelembung udara yang besar tidak efektif
dalam penangkapan partikel, sehingga diperlukan komponen surface active
(Ives 1984). Metode Dispersed Air Flotation biasa digunakan dalam industri
metalurgi (Nemerow 1978).
b. Metode Vacuum Flotation
Flotasi sistem vakuum dilakukan dengan menjenuhkan cairan dengan
udara pada tekanan atmosfir. Selanjutnya cairan dimasukan ke dalam sistem
dengan penurunan tekanan. Sistem ini membutuhkan tangki tertutup yang
mempertahankan keadaan vakuum. Alat tambahan lain adalah tangki aerasi
yang berguna untuk menjenuhkan limbah cair (Metcalf 1972).
c. Metode Dissolved Air Flotation
Udara dimasukkan ke dalam tangki dengan menggunakan pompa. Udara
masuk bersamaan dengan masuknya limbah cair. Pemasukkan udara
dilakukan dengan tekanan tertentu, yang diikuti pelepasan tekanan sehingga
menjadi tekanan atmosfir (Ives 1984). Gelembung udra yang terbentuk cukup
halus, kira-kira 20 sampai 80 mikron (Metcalf 1972).

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Flotasi


Beberapa faktor yang mempengaruhi proses flotasi, antara lain:
a. Tekanan
Tekanan udara yang digunakan pada sistem flotasi merupakan faktor
penting karena menentukan jumlah udara yang dijenuhkan dan gelombang
udara yang dibentuk. Bila tekanan dinaikan, maka kelarutan udara akan
meningkat pula. Tekanan yang terlalu tinggi akan menyebabkan gelembung
menjadi pecah (Anonim 1980)
Tekanan yang diberikan pada udara juga mempengaruhi ukuran
gelembung. Gelembung yang terlalu besar menyebabkan permukaan yang
diperlukan untuk menggabungkan gelembung udara dan partikel menjadi
tidak cukup. Hal ini mempengaruhi daya apung flok. Umumnya uuran
diameter gelembung sekitar 100 mikron, tetapi lebih disukai yang berukuran
sekitar 50 mikron (Anonim 1980). Nemerow (1978) menjeaskan bahwa
kecepatan naiknya gelembung udara ke permukaan air dipengaruhi oleh
diameter gelembung udara, dapat dituliskan sebagi hukum Stoke.

V=kD
Kecepatan naik gelembung udara dinyatakan dalam V, sedangkan k adalah
faktor konversi Stroke, meliputi seluruh faktor yang mempengaruhi naik atau
turunnya gelembung seperti densitas atau viskositas cairan. Diameter
gelembung dinyatakan dengan D.
b. Suhu
Semakin kecil temperatur limbah cair sebagai input dalam proses
flotasi, maka kelarutan udara semakin meningkat. Kelarutan udara di dalam
air dapat digambarkan pada Gambar 4 dengan asumsi faktor-faktor lainnya
dianggap tetap (Nemerow 1978).

Gambar 4 Grafik pengaruh suhu terhadap kelarutan udara dalam flotasi


c. Lama retensi
Penanganan limbah cair berhubugan dengan aplikasinya dengan volume
yang besar, sehingga lama retensi merupakan faktor kritis. Lama retensi yang
tinggi menyebabkan proses penanganan limbah membutuhkan waktu yang
lama dan kapasitas tangki yang besar. Lama reatensi tergantung kepada
kecepatan gelembung udara naik ke permukaan air. Kecepatan gelembung
udara naik diterangkan dengan Hukum Stoke (Nemerow 1978).
Ukuran tangki flotasi yang tinggi membutuhkan kompresi udara yang
lebih tinggi pula, sehinngga menambah biaya operasi. Tangki yang terlalu
rendah menurunkan waktu kontak gelembung udara dengan air. Lama retensi
dapat bervariasi antara 10-30 menit (Anonim 1971).
Lovett (1986) menyatakan bahwa udara dapat ditambahkan pada air
limbah dengan tekanan berkisar 100-500 kPa selama 6-16 menit. Sedangkan
menurut Kofta (1987) lama retensi flotasi sekitar 8-15 menit.
d. Perbandingan udara dan input limbah
Perbandingan padatan dan udara merupakan parameter tanpa dimensi
yang dinyatakan dengan perbandingan A/S (Air/Solid) (Henry 1980). Nilai
A/S berhubungan dengan konsentrasi zat padat yang terkandung dalam
limbah cair suatu industri (Anonim 1980). Sistem flotasi yang dilengkapi

dengan lumpur aktif dapat menggunakan perbandingan A/S sebesar 0,03-0,02


(Anonim 1980). Nemerow (1978) menyatakan nilai A/S sebesar 0,03
digunakan dalam sistem flotasi Dissolved Air Flotation. Menurut Hendry
(1980) menyimpulkan dari hasil percobaan bahwa kondisi optimum A/S
berkisar 0,3 dengan input limbah cair yang mempunyai kandungan padatan
tersuspensi sebesar 60-500 mg/l.
Rasio udara dan input limbah cair mempengaruhi penampakan setelah
dilakukan proses flotasi. Parameter ini juga dapat dinyatakan sebagai
perbandingan udara yang ditambahkan dengan cairan input (Anonim 1971).
Ives (1984) menunjukan peningkatan besarnya ratio udara yang ditambahkan
dan input limbah cair dapat menurunkan beban pencemaran yang dideteksi
dengan parameter turbiditas.

2.5 Reagen Flotasi


Untuk membantu proses flotasi dengan mengubah sifat-sifat permukaan
partikel mineral perlu ditambahkan zat-zat kimia berupa reagen. Menurut
Shergold (1984), reagen-reagen yang digunakan dalam proses flotasi dapat
digolongkan sebagai berikut:
1. Collector
Collector adalah bahan yang dapat menyebabkan partikel mineral menjadi
suka udara, yaitu dengan cara melapisi permukaan polar dari partikel mineral
dengan reagent. Sehingga pada bagian luar dari mineral terjadi reaksi kimia
yang membentuk lapisan non polar yang mudah menarik udara, dan mineral
kan mudah menempel pada gelembung udara. Contoh collector untuk mineral
sulfida adalah xanthate dan Dithiophosphate. Sedangkan untuk mineral non
sulfida adalah fatty acid jenuh dan tidak jenuh.
2. Frother
Frother zat kimia yang digunkan untuk membantu menstabilkan
gelembung udara yang terbentuk, sehingga tidak mudah pecah. Gelembunggelembung udara yang terbentuk harus dapat bergerak bebas di dalam pulp
dan dapat mengambil partikel partikel mineral berharga, kemudian
diapungkan ke dalam pulp. Contoh dari frother adalah DOWFROTH
Flotation Frother Series, MIBC, deterjen dan Polyalkoxyparaffins.
3. Modifier (Modifying Agent)
Modifier digunakan untuk mengembalikan sifat permukaan ke yang
aslinya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan selectivity. Modifying agent
dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
a. Regulating dan dispersing agent
Regulor berfungsi untuk mengendalikan pH, menghilangkan pengaruh
gangguan slime, koloid, dan garam laut, contohnya adalah CaO,
Na2CO3. Dispersing agent berfungsi untuk melepaskan slime pada
pemukaan mineral, contohnya adalah Na2SiO3.
b. Aktivator

Penambahan aktivator bertujuan meningkatkan aktivitas permukaan


mineral agar dapat berinteraksi dengan kolektor, sehingga adsorbsi
kolektor pada permukaan partikel menjadi lebih baik. Contohnya
adalah Cu++ untuk mengapungkan sfalerit, dan Ca++ untuk
mengapungkan kuarsa.
c. Depresant
Depresant dapat mencegah pengapungan mineral tertentu tanpa
menghalangi pengapungan mineral lainnya. Digunakan apabila float
ability mineral yang tidak diinginkan mengapung sama dengan mineral
yang akan diapungkan oleh kolektor tertentu. Contohnya adalah CN(pyrit, sfalerit), dan Zn++(sfalerit).

PEMBAHASAN

3.1 Pemisahan Mineral


Menurut sifat permukaannya, mineral dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yaitu hidrofilik dan hidrofobik. Hidrofilik merupakan mineral yang
permukaannya mempunyai lapisan polar, sehingga sukar dibasahi air, tetapi
mudah melekat pada gelembung udara. Hidrofobik merupakan mineral yang
permukaannya mempunyai lapisan non polar, sehingga mudah dibasahi air, tetapi
sukar melekat pada gelembung udara. Keterapungan (float ability) dari suatu
mineral ditentukan dengan kecenderungannya untuk menempel pada permukaan
gelembung udara, dan hal ini dipengaruhi oleh sifat-sifat permukaan mineral.
Dengan menggunakan berbagai reagent flotasi, sifat-sifat permukaan mineral
dapat diubah dan dikendalikan.
Menurut Shergold (1984), prinsip pemisahan sistem flotasi yaitu,
penempelan partikel (mineral) pada gelembung udara, gelembung mineral harus
stabil, dan ada sifat float dan sink. Pelekatan mineral pada gelembung udara
tergantung pada kemampuan dan mineral dan gelembung mengatasi gaya-gaya
yang terdapat dalam lapis tipis air. Mekanisme pelekatan mineral pada gelembung
udara terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Gelembung atau mineral saling mendekat, kemudian menghasilkan suatu
lapisan tipis air di antaranya. Dalam kondisi ini, partikel mineral bergerak
sesuai dengan hukum hidrodinamika.
2. Mineral dan gelembung terus saling mendekat, hal ini mengakibatkan
lapisan tipis air (water film) semakin tipis dan akhirnya terjadi kerusakan
atau pecahnya lapis tipis.
3. Hilangnya lapis tipis akan diikuti dengan terjadinya penempelan minalgelembung. Pelekatan atau penempelan ini diawali dengan terbentuknya
kontak tiga fasa yang dengan cepat meluas dan stabil.
4. Adanya tiga gaya dalam film air yang harus diatasi samapi terjadinya
pelekatan gelembung-mineral yaitu, gaya tarik antar molekul (van der
wals), gaya elektrostatik yang timbul dari tarik menarik double layer di air
dan sekitar mineral, dan hydrasi dari group hydrophilic yang ada pada
permukaan mineral.

Gambar 5 Sistematika pelekatan mineral-gelembung


Menurut Will (1988), berdasarkan pada mineral yang diapungkan harus
stabil, flotasi dibagi menjadi dua tipe yatu flotasi langsung dan flotasi tidak

langsung. Pada flotasi langsung, mineral berharga diapungkan dan dikeluarkan


sebagai konsentrat dan sangat memerlukan mineral hidrfobik, sedangkan pada
flotasi tak langsung atau reverse flotation mineral gangue yang diapungkan akan
dikeluarkan sebagai tailing dan pada proses ini sangat memerlukan mineral
hidrofilik dan tetap berada di dalam air. Sifat float (flotability) atau kemampuan
apung didefinisikan sebagai kemampuan suatu mineral untuk dapat diapungkan.
Dalam hal ini, kemampuan apung menunjukkan kecenderungan mineral untuk
menempel pada permukaan gelembung udara.
Flotability suatu mineral sangat tergantung pada sifat permukaan mineral
tersebut, serta dalam aplikasinya sifat permukaan suatu mineral dapat dirubah dan
dikendalikan dengan cara pemberian reagent kimia tertentu. Setelah mineral
melekat atau menempel pada permukaan gelembung, maka terjadi kesetimbangan
tegangan antarmuka pada titik kontak tiga fasa. Pada Gambar 6 di bawah akan
menunjukkan kontak antara permukaan mineral kesetimbangan tegangan
antarmuka pada titik kontak tiga fasa.
Flotasi digunakan untuk mengambil mineral logam seperti tembaga, Pb,
dan seng. Perkembangan selanjutnya flotasi digunakan untuk pemisahan mineral
logam seperti nikel, molibdenum, mangan, kromium dan kobalt. Flotasi juga
dapat digunakan untuk pengolahan mineral non logam seperti mika, florit,
feldspar, dan batu bara, serta dimanfaat untuk mengambil mineral-mineral
berbahaya yang terdapat di dalam air. Adapun syarat Syarat penggunaan proses
pemisahan flotasi antaranya sebegai berikut:
1. Ada gelembung udara dalam cairan (0.5o 1o)
2. Ukuran partikel harus halus dan disesuaikan dengan butiran mineral (40
80 mm)
3. Derajat liberasi yang tinggi
4. Feed dalam bentuk pulp (lumpur)
5. Ada sudut kontak yang baik, yaitu sekitar 60-90 dapat diartikan bahwa
usaha adhesi yang digunakan besar, sehingga udara dapat menempel pada
permukaan mineral, yang mengakibatkan mineral dapat mengapung. Sudut
kontak merupakan sudut yang dibentuk antara gelembung udara dengan
mineral pada suatu titik singgung. Sudut kontak mempengaruhi daya kontak
antara biji dengan gelembung udara. Untuk melepaskan gelembung dan
mineral dibutuhkan usaha adhesi yang lebih besar.
6. pH kritis, merupakan pH larutan yang mempengaruhi konsentrasi kolektor
yang digunakan dalam pengapungan mineral.
Menurut Nelson (1978), mekasnisme terjadinya flotasi dengan
terbentuknya gelembung-gelembung udara karena adanya udara yang dihisap ke
dalam pulp, dan frother yang membentuk energi bebas permukaan pada antar
muka air dan udara. Untuk membantu proses flotasi, partikel-partikel mineral feed
harus berukuran halus. Hal ini karena walaupun densitasnya besar, ukuran partikel
yang halus akan menyebabkan densitas asosiasi partikel-gelembung menjadi lebih
kecil dari densitas air. Karena ion permukaan dilapisi melalui reaksi secara
adsorbsi fisik atau kimia dengan bagian ionik kolektor dan bagian organiknya
merubah sifat permukaannya misalnya menjadi hidrofobik. Dengan sifat tersebut
partikel menjadi adhesif terhadap gelembung udara, sehingga gelembunggelembung udara akan mengalami aerasi. Partikel-partikel mineral yang

menempel pada permukaan gelembung akan terbawa naik ke permukaan pulp, dan
terpisahkan. Serta variabel yang mempengaruhi proses flotasi diantaranya adalah:
1. Keadaan dan ukuran butir, ukuran butir mineral yang akan mempengaruhi
partikel mineral akan lebih besar dari density air, sedangkan jika terlalu
kecil akan menimbulkan slime yang akan mengganggu jalannya proses
flotasi.
2. Pulp preparation, penyediaan pulp diusahakan supaya cocok untuk proses
pengolahan yang umumnya berkaitan dengan persen solid yang sesuai.
3. Intensitas pengadukan dan pemberian udara, pengadukan dalam flotasi
dilakukan dengan mesin flotasi.
4. Kekentalan pulp, untuk suspensi pulp yang lebih kental akan diperoleh
recovery yang lebih baik.
5. Waktu kontak dan waktu flotasi, kenaikan recovery terjadi pada suatu
waktu tertentu, yang tergantung pada:
- Komposisi mineral bijih
- Keadaan dari partikel-partikel bijih
- Jumlah kolektor yang ditambahkan
- Lama pengadukan
- Ukuran kemudahan mengapung suatu mineral (float ability)
- Ukuran butir
6. Pengaruh pH, tujuan dari pengaturan pH adalah untuk menurunkan sudut
kontak.
7. Pengaruh Collector, yang harus diperhatikan adalah sifat-sifat dari
kolektor yang akan digunakan, misalnya xanthate sangat baik untuk
merubah sifat permukaan mineral-mineral sulfida dan batubara, mudah
larut dalam air dan tidak akan menimbulkan frother.
8. Pengaruh Frother, digunakan untuk menstabilkan gelembung udara untuk
waktu yang relatif lama.
Alat yang digunakan untuk proses flotasi memiliki standar alat yaitu,
mempunyai penerima pulp dan pengeluaran konsentrat, dapat menghasilkan atau
ada aliran udara yang dapat dimasukan ke dalam sistem tersebut, dan feed harus
dalam bentuk pulp. Sel flotasi berfungsi untuk menerima pulp dan dilakukan
proses flotasi. Berdasarkan cara pemasukan udaranya, jenis sel dibedakan menjadi
lima, yaitu:
1. Agitation Cell, alat ini jarang digunakan sebab adanya perkembangan
dengan ditemukannya sub aeration cell. Udara masuk ke dalam cell flotasi,
karena putaran pengaduk.
2. Sub Aeration Cell, udara masuk akibat hisapan putaran pengaduk dan alat
ini paling praktis, sehingga banyak digunakan.
3. Pneumatic Cell, alat ini jarang sekali digunakan karena udara langsung
dihembuskan ke dalam cell.
4. Vacum and Pressure Cell, udara bisa masuk karena tangki dibuat vakum
oleh pompa penghisap dan udara dimasukkan oleh pompa injeksi.
5. Cascade Cell, udara masuk karena jatuhnya mineral.
Sedangkan syarat cell yang distandarkan adalah:
1.
Pulp tidak mengendap (dilengkapi dengan alat agitasi).
2.
Ada pengatur tinggi pulp.

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ada daerah yang relatif tenang sehingga butiran yang menempel


gelembung udara mudah naik ke permukaan.
Konstruksi dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi short
circuit.
Mempunyai resirkulasi dan pengeluaran middling.
Harus mempunyai penerimaan pulp dan pengeluaran busa yang
menumpuk.
Mempunyai permukaan bebas untuk gelembung-gelembng yang
sudah mengandung mineral, sehingga tidak mempengaruhi agitasi.
Harus dilengkapi dengan pengeluaran froth.

3.1.1 Pemisahan logam


Pada industri logam-logam berat yang biasanya terkandung dalam limbahlimbah industri antara lain nikel, seng,tembaga, mangan dan besi. Berdasarkan
pemantauan BPLHD DKI Jakarta, kawasan Jakarta Barat merupakan kawasan
yang paling tinggi tingkat pencemaran air tanah oleh besi, yaitu mencapai 3,12
hingga 20,83% (Hanni 2003). Beberapa industri seperti pewarnaan, kertas,
(penambangan) inyak, pelapisan dan pengelasan logam, serta pembuatan
peralatan telepon melepaskan sejumlah tembaga yang tidak diharapkan Logam
berat perlu diolah lebih lanjut karena cenderung untuk dapat terbioakumulasi atau
terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dalam jangka waktu lama (Ghazy
2006).
Flotasi merupakan metoda pemisahan bahan dengan pengapungan oleh
gelembung gas sebagai diffuser. Penggunaaan ozon sebagai diffuser dalam proses
flotasi ini dipilih karena mempunyai banyak keuntungan. Antara lain ozon
merupakan zat oksidator kuat, lebih kuat dibandingkan dengan asam hipoklorit,
zat disinfektan yang sangat efektif dibanding dengan klor untuk menghancurkan
bakteri, virus, maupun protozoa dan dapat membantu proses flokulasi-koagulasi
sebagai zat koagulan. Pada proses flotasi ini digunakan bonding agent yang
berfungsi sebagai zat pengikat bagi partikel-partikel logam, sehingga dengan
bantuan udara maka logam-logam berat yang sudah terikat akan naik ke atas
kolom dan mengapung. Pada penelitian ini digunakan zeolit alam Lampung
sebagai bahan pengikat karena mudah diperoleh dan murah serta telah terbukti
mampu mengikat logam. Daya adsorpsi zeolit untuk logam berat relatif besar,
dapat dianalogikan dengan daya penghilangan amonia yang tinggi dalam perairan
biologis. Ada banyak parameter yang mempengaruhi keberhasilan proses flotasi,
diantaranya adalah waktu operasi, penambahan bahan kimia (bahan pengikat,
surfaktan, koagulan), laju alir diffuser yang digunakan, dan konsentrasi ion logam
dalam limbah. Skema alat flotasi penanganan limabh logam dapat dilihat pada
Gambar 7.

Gambar 7 Skema alat flotasi penanganan limbah logam


Analisis yang dilakukan meliputi pengukuran kandungan logam, nilai pH,
kandungan oksigen terlarut (DO), dan kebutuhan oksigen kimia (COD). Hasil
pemisahan logam berat dari limbah sintetik ini diperoleh dengan cara mengukur
konsentrasi logam berat awal dan akhir pada air hasil olahan, dengan persamaan
% pemisahan berikut:
CoCa
% Pemisahan Logam =
x 100%
Co
dengan, Co = konsentrasi logam awal, mg/L
Ca = konsentrasi logam akhir, mg/L
Nilai DO menunjukkan jumlah oksigen terlarut dalam air. Nilai DO pada
air hasil flotasi dapat dikatakan cenderung meningkat dibandingkan dengan
kondisi awal limbah. Hal ini dapat dijelaskan karena dengan semakin lamanya
proses flotasi, maka jumlah diffuser yang ditambahkan pun akan semakin banyak,
sehingga kandungan oksigen dari udara (kompresor) dan ozon juga akan semakin
banyak. Semakin lamanya proses flotasi akan menyebabkan ozon terdekomposisi
menjadi oksigen, sehingga menyebabkan kandungan oksigen terlarut dalam air
hasil flotasi cenderung meningkat.
Nilai COD merupakan nilai kebutuhan oksigen yang dibutuhkan untuk
dapat mengoksidasi senyawa-senyawa organik secara kimiawi. SLS merupakan
senyawa organik, salah satu penyumbang nilai COD dalam air limbah ini. Logam
besi dan tembaga berperan dalam menurunkan nilai COD air hasil proses dengan
cara mengoksidasi senyawa yang bersifat basa, yaitu SLS. Proses okdidasi ini
dapat dicapai apabila logam besi dan tembaga berada dalam keadaan basa. Namun
tidak halnya untuk logam nikel, yang tidak dapat mengoksidasi SLS pada kondisi
basa, yaitu pada pH pencampuran 9, sehingga tidak terjadi penurunan nilai COD
dengan semakin lamanya waktu proses flotasi.
Dengan meningkatnya nilai pH, maka SLS akan semakin sulit untuk
diolah dan akan menyebabkan tegangan permukaan semakin tinggi sehingga sulit
ditembus oleh ozon sebagai zat oksidatornya. Dengan semakin tingginya
kandungan logam awal dalam sampel, maka kinerja surfaktan dan koagulandalam
mengikat hidroksida-hidroksida besi menjadi flok pun akan semakin berat,
sehingga terdapat kondisi optimum yang diperlukan untuk proses flotasi pada
konsentrasi logam tertentu. Selain itu dengan adanya kenaikan konsentrasi logam
dalam sampel, maka koloid hidroksida yang terbentuk akan semakin banyak,
sedangkan jumlah bahan koagulan (PAC) dan surfaktan (SLS) yang ditambahkan
tetap, sehingga tidak mampu untuk mengubah semua partikel hidroksida tersebut
menjadi flok. Dengan demikian koloid hidroksida tersebut tidak dapat dipisahkan
ke permukaan dan akan tetap berada di tangki flotasi, sehingga pada akhirnya
diperlukan proses lanjutan (sedimentasi) untuk dapat mengukur kandungan logam
berat dalam effluent.

3.2 Pemisahan Minyak


Aplikasi flotasi pada industri dapat digunakan untuk pemisahan limbah yang
mengandung minyak yang dihasilkan pada industri emulsi atau minyak pangan.
Proses mikroflotasi pada industri tersebut mengunakan gelembung udara hasil
dari presipitasi udara terlarut disebut juga flotasi udara terlarut (dissolved-air
flotation/DAF). Proses DAF dapat diawali dengan menjenuhkan semua limbah
minyak-air, tanpa air terdispersi di tangki tekan pada tekanan yang tinggi.
Kemudian limbah terdispersi tersebut dilepaskan ke dalam tangki flotasi sehingga
pengurangan tekanan menuju tekanan atmosfer yang menyebabkan udara
terpresipitasi ke dalam larutan sebagai gelembung-gelembung kecil. Desain
penanganan limbah dengan cara flotasi dengan teknik udara terlarut atau DAF
dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Reaktor flotasi udara terlarut (Budianto et al. 2007)


keterangan:
1. Kolom flotasi
2. Tangki tekan
3. Kompresor udara
4. Tangki umpan
5. Pompa
6. Alat ukur debit air
7. Alat ukur debit udara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses flotasi udara terlarut pada
penyisihan minyak antara lain, kejenuhan air pendispersi, kesetimbangan
konfigurasi antar muka gelembung udara dan air/minyak, ukuran gelembung,
jenis dan ukuran droplet minyak (Budianto et al. 2007).
1. Kejernihan air.
Kejernihan air berpengaruh pada teknik mikroflotasi DAF.
Kejernihan ini dinyatakan sebagai jumlah udara yang terlarut di dalam air
dan dapat dihitung berdasarkan persamaan Henry:
Cs = kH*P
...(1)
keterangan: Cs : konsentrasi kejenuhan gas di dalam air (g/m3)
kH : koefisien Henry (g/m3. Pa)
P : tekanan gas parisal (Pa)

Koefisien Henry tergantung pada suhu dan jenis gas. Selain tekanan,
volume udara yang dapat terpresipitasi dari volume air dispersi juga
tergantung pada 1) efisiensi kejenuhan, antara lain tergantung pada jenis
tangki penjenuh yang digunakan; 2) komposisi udara di dalam tangki
penjenuh karena kenaikan tekanan parsial nitrogen di udara secara teoritis
dapat mengurangi kelarutan sekitar 9%; 3) efisiensi udara yang dilepaskan
(de Rijk 1993).
2. Kesetimbangan konfigurasi antar muka gelembung udara dan air/minyak.
Menurut Aurelle (1991), mekanisme yang mungkin terjadi pada
keadaan ini adalah konfigurasi trasitori dan konfigurasi stabil (Gambar 9
dan 10). Pada konfigurasi transitori gelembung berada di dalam fasa air
sesudah berinteraksi dengan fasa minyak. Sudut terlokalisasi dalam fasa
minyak, sudut kontak yang terjadi pada fasa ini adalah 180o. Besaran sudut
kontak ini dapat dihitung dengan mempergunakan persamaan Young, yang
didasarkan pada perbedaan tegangan permukaan dan tegangan antara
muka pada kedua fasa tersebut.

Gambar 9 Konfigurasi transisi

Gambar 10 Konfigurasi stabil

a
Analisis fisika-kimia antara muka emulsi menunjukkan bahwa
gelembung udara yang menempel pada droplet minyak berperilaku seperti
parasut yang bergerak ke atas (rising parachutes). Pergerakan ini
mengantarkan minyak ke bagian atas kolom flotasi. Pada bagian atas
kolom gelembung udara akan dilapisi oleh film minyak. Ketebalan lapisan
ini tergantung pada jumlah efisiensi impak antara gelembung udara dengan
droplet minyak. Gelembung udara yang dilapisi film minyak ini tidak

mudah bergerak bebas dan membentuk formasi busa (froth) di permukaan


kolom flotasi (Aurelle 1991).
3. Ukuran gelembung.
Ukuran gelembung udara yang dihasilkan menurut de Rijk (1993)
harus kecil (<100-120 m) karena 1) gelembung udara yang kecil
memiliki sudut kontak yang lebih kecil dibandingkan dengan gelembung
udara yang lebih besar (Hanisch 1959 dalam de Rijk 1993). 2)
kemungkinan tumbukan (collision) dan adhesi antara gelembung udara
dan partikel akan meningkat sesuai dengan jumlah gelembung udara yang
dihasilkan, yang tergantung pada ukuran gelembung (Flint dan Howarth
1971; Reay dan Ratcliff 1973 dalam de Rijk 1993). Secara kuantitas
ukuran gelembung harus sekecil mungkin untuk meningkatkan konsentrasi
gelembung. 3) Gelembung kecil memiliki kecepatan naik yang lebih
rendah dibandingkan dengan dengan gelembung yang besar, sehingga
waktu tinggal dalam reaktor flotasi menjadi lebih lama, dan berarti
kemungkinan tumbukan antara gelembung dan partikel juga meningkat; 4)
kecepatan naik dari gelembung yang besar (>2mm) memiliki gaya geser
yang terlalu besar pada agglomerat gelembung-flok dan menyebabkan flok
menjadi pecah (Jedele 1984 dalam de Rijk 1993).
4. Jenis dan ukuran droplet minyak.
Hidrokarbon atau minyak dapat bercampur dengan air dengan empat
cara (Aurelle 1991), yaitu 1) Hidrokarbon terlarut. Hidrokarbon dengan
polaritas besar dan berat molekul rendah, yaitu yang memiliki volatilitas
tinggi akan memiliki tingkat kelarutan paling tinggi di dalam air. Benzene
(cyclic hydrocarbons C6) memiliki tingkat kelarutan 1650 mg/l dan
hexyne-1 (straight chain hydrocarbons C6) tingkat kelarutan dalam air 360
mg/l; 2) Hidrokarbon berada dalam bentuk emulsi tanpa adanya surfaktan.
Emulsi ini terdiri dari dua jenis, yaitu emulsi primer (diameter droplet
>100 m) dan emulsi sekunder (diameter droplet <20 m); 3) Hidrokarbon
berada dalam bentuk emulsi dengan adanya surfaktan. Surfaktan akan
mengakibatkan tegangan antar muka minyak-air menurun sesuai dengan
meningkatnya konsentrasi surfaktan, sehingga emulsi akan lebih mudah
menyebar. Kosurfaktan membentuk mikroemulsi dengan diameter droplet
antara 100-600 Ao; 4) Hidrokarbon berada dalam bentuk lapisan (layer
atau film). Polutan hidrokarbon dalam bentuk ini paling mudah dideteksi,
karena efek pelangi yang ditimbulkannya.
Laju flotasi ditinjau dengan mempergunakan persamaan Aurelle:
3
H
n
Cs
1 =1e 2 V A d
...(2)
Co
T

Keterangan:

Vo
Ao

nT

: debit udara
: kecepatan emulsi di dalam reaktor flotasi
: luas potongan melintang reaktor
: faktor efisiensi adhesi
: faktor efisiensi tumbukan yang merupakan jumlah
efisiensi sedimentasi, intersepsi langsung, dan
difusi.

Persamaan Aurelle ini diturunkan berdasarkan proses coalescence


droplet minyak dengan mempergunakan bahan yang bersifat oleophilic.
Terlihat bahwa terdapat keserupaan antara proses coalescence dan flotasi.
Pada coalescence terdapat interaksi antara kolektor solid dan mikrodroplet
minyak. Pada flotasi terdapat jenis interaksi yang sama, hanya
perbedaannya bahwa kolektor pada flotasi adalah gelembung udara.
Konsekuensinya model transport yang digunakan pada coalescence
untuk menjelaskan dan menghitung jumlah interaksi antara kolektor dan
droplet, dapat ditranspos ke proses flotasi (Roques dan Aurelle 1991).
Model transport yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 11.

a
b
c
Gambar 11 Model transportasi untuk droplet hidrokarbon ke media coalescence
a) sedimentasi; b) intersepsi langsung; c) difusi. (Roques dan Aurelle
1991).
Metode perhitungan yang sama dapat digunakan untuk menentukan
efisiensi unit flotasi. Konsentrasi minyak di emulsi pada inlet reaktor
flotasi udara terlarut (Co) dihubungkan dengan outlet (Cs) diberikan oleh
persamaan 2 yang serupa dengan persamaan untuk coalescence (Roques
dan Aurelle 1991). Jumlah udara yang dilepaskan secara teoritis dari
larutan ketika tekanan dikurangi mencapai 1 atm, menurut Eckenfelder Jr.
(1989), dapat dihitung dengan persamaan:
fP
s=s a ( 1)
Pa
keterangan:
s
: jumlah udara yang dilepaskan pada tekanan atmosfer per satuan
volume pada kejenuhan 100% (cm3/L)
sa
: kejenuhan udara pada tekanan atmosfer (cm3/L)
P
: tekanan mutlak
Pa
: tekanan atmosfer
f
: fraksi kejenuhan di dalam tangki yang bernilai antara 0,8-0,9.
Menurut Metcalf & Eddy (1988) untuk limbah solid sludge,
faktor f (fraksi udara terlarut pada tekanan P) adalah 0,5. Karena
range nilai f yang cukup besar diantara dua peneliti tersebut,
maka perlu dicari nilai f untuk tangki tekan dan limbah minyak-

air yang dipergunakan dalam penelitian ini, dengan menggunakan


persamaan Bernoulli didapatkan (Finch dan Dobby 1990),

H
g=1 w 1
sl
L

)]

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Flotasi adalah suatu proses pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada suatu
cairan atau larutan berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan
dipisahkan. Proses flotasi dapat berlangsung secara spontan atau alami, dengan
penambahan udara dapat mengangkat partikel yang lebih berat dari pada air, atau
dapat pula ditambahkan bahan pembantu/reagen flotasi. Terdapat tiga mekanisme
yang mungkin terjadi salah satu atau seluruhnya dalam proses flotasi yaitu
pengepungan, penyerapan, dan pelekatan. Pada sistem flotasi, terdapat tiga
metode pembuatan gelembung udara, yaitu metode Dispersed Air Flotation,
Vacuum Flotation, dan Dissolved Air Flotation. Beberapa faktor yang secara
umum mempengaruhi proses flotasi antara lain tekanan, suhu, lama retensi, serta
perbandingan udara dan input limbah. Untuk membantu proses flotasi perlu
ditambahkan zat-zat kimia berupa reagen yang digolongkan menjadi collector,
frother, dan modifier (modifying agent).
Flotasi dapat digunakan untuk mengambil mineral logam seperti tembaga,
Pb, dan seng serta pemisahan mineral logam seperti nikel, molibdenum, mangan,
kromium dan kobalt. Flotasi juga digunakan untuk pengolahan mineral non logam
seperti mika, florit, feldspar, dan batu bara, serta dimanfaat untuk mengambil
mineral-mineral berbahaya yang terdapat di dalam air. Variabel yang
mempengaruhi proses flotasi mineral adalah keadaan dan ukuran butir, pulp
preparation, intensitas pengadukan dan pemberian udara, kekentalan pulp, waktu
kontak dan waktu flotasi, pengaruh pH, pengaruh collector, dan pengaruh frother.
Ada banyak parameter yang mempengaruhi keberhasilan proses flotasi,
diantaranya adalah waktu operasi, penambahan bahan kimia (bahan pengikat,
surfaktan, koagulan), laju alir diffuser yang digunakan, dan konsentrasi ion logam
dalam limbah.
Aplikasi flotasi juda dapat digunakan pada pemisahan limbah yang
mengandung minyak yang dihasilkan pada industri emulsi atau minyak pangan.
Proses flotasi pada industri tersebut mengunakan gelembung udara hasil dari
presipitasi udara terlarut disebut juga flotasi udara terlarut (dissolved-air
flotation/DAF). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses flotasi udara terlarut
pada penyisihan minyak antara lain kejenuhan air pendispersi, kesetimbangan
konfigurasi antar muka gelembung udara dan air/minyak, ukuran gelembung,
jenis dan ukuran droplet minyak.

4.2 Saran
Pengembangan sistem flotasi perlu dilakukan dengan optimalisasi proses
sehingga dapat memaksimalkan penanganan limbah. Penerapannya di industri
perlu dilakukan sehingga lingkungan dapat diminimalisir dari pencemaran.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1971. Water Quality and Treatment: A Handbook of Public Water


Supplies. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Anonim. 1980. Modern Pollution Control Technology. New York: Research and
Education Association.
Aurelle Y. 1991, Treatment of Oil-Containing Wastewater. Dept. of Sanitary Eng.,
Thailand: Chulalongkorn University. p. 69-70; 79-81.
Budiato H et al. 2007. Pengaruh Tinggi Reaktor Flotasi Udara Terlarut terhadap
Efisiensi Penyisihan Minyak. Jurnal Rekayasa Perencanaan. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
Callely, A. G., C. F. Forster dan Stafford. 1977. Treatment of Industrial Effluaents.
London: Hodder and Stoughton.
de Rijk S E, van der Graaf, JHJM Dan den Blanken. 1994. Bubble Size in
Flotation Thickening, Water earch, 28, h 473.
Eckenfelder Jr. 1989. Industrial Water Pollution Control, 2nd ed. New York: Mc
Graw Hill.
El-Sayed Ghazy, Shaban. 2006.Removal of Aluminium from Some Water Samples
by Sorptive Flotation Using Powdered Midified Activated Carbon as a
Sorbent and Oleic acid as a Surfaktan. Japan: Analytical science.
Fair, Gordon Maskew, John Charles Geyer dan Daniel A. 1971. Elements of Water
Supply and Wastewater Disposal. New York: John Wiley & Sons Inc.
Finch J A dan Dobby G S. 1990. Column Flotation. Toronto: Pergamon Press.
Hanni S Vincentia. 2003. Air Jakarta Semakin Tidak Sehat. Jakarta: Kompas 5
Juni 2003.
Henry, J. G. Dan R. Gehr. 1980. Assessing Flotation Behavior of Different Types
of Sewage Suspention. Toronto: University of Toronto.
Kofta, Milos dan Lawrence K. Wang. 1987. Flotation Technology and Secondary
Clarification. Tappi J. April: 92-96.
Langlais, Bruno DA, Recklew DR, dan Brink. 1991. Ozone in Water Treatment:
Aplication & Engineering, Lewis Publisher.Nelson L, Nemerow. 1978.

Industrial Water Pollution Origins Characteristic and Trearment, 2nd edition,


Massachusets: Addison Wesley.
Lovett, D. A. dan S. M. Travers. 1986. Dissolved Air Flotation for Abattoir
Wastewater. Great Britain: Pergamon Press Ltd.
Metcalf dan Eddy. 1972. Wastewater Engineering Collection Treatment Disposal.
New York: Mc Graw Hill Book Company.
Metcalf and Eddy. 1988. Wastewater Engineering Treatment, Disposal, Reuse,
2nd ed. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Nemerow, Nelson L. 1978. Industrial Water Poluttion, Origins, Characteristics
and Treatment. London: Addison-Wesley Publishing Co.
Prasetijo B. 2013. Flotasi. http://Smart-pustaka.com/flotasi (17 November 2013).
Rickard, T.A. 2007. Flotation. California: University of California, digitized by
Microsoft.
Roques H dan Aurelle Y. 1991. New Developments in Industrial Wastewater
Treatment, ed. Turkman A dan Uslu O. Netherlands: Kluwer Academic
Publisher.
Shergold H L. 1984. The Scientific Basis of Flotation, NATO ASI Series, K.J.
Ivesed, Martinus Nijhoff Publishers, Boston.
Siregar Sakti A. 2006. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Wills B A. 1988. Mineral Processing Technology, 4th ed. Pergamon Press.