Anda di halaman 1dari 12

MEWUJUDKAN WILAYAH PERBATASAN NEGARA DI MALUKU

MENJADI HALAMAN DEPAN BANGSA


Maluku merupakan salah satu di antara 8 (delapan) provinsi yang
diumumkan Pemerintah Indonesia pada tanggal 19 Agustus 1945, 2 (dua)
hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pada Tahun 1999

Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku


Utara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999
tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan
Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Provinsi Maluku merupakan Provinsi berciri kepulauan, memiliki luas
wilayah lautan 658.294,69 kilometer persegi atau 92,4 persen dan luas
wilayah daratan 54.185 kilometer persegi persen atau 7,6 persen, dengan
karakteristik pulau-pulau kecil yang membentuk gugusan pulau dan laut
pulau. Berdasarkan Analisa Citra Landsat 7, Maluku terdiri dari 1.412
buah pulau, diantaranya pulau besar (Pulau Seram dan Pulau Buru) dan
pulau-pulau kecil; berbatasan dengan 3 (tiga) negara tetangga, yakni
Australia, Timor Leste dan Papua New Guinea. Wilayah-wilayah yang
berbatasan

langsung

dengan

negara-negara

tetangga

merupakan

Kawasan Perbatasan Negara (KPN) dan berfungsi sebagai Halaman


Depan Bangsa. Wilayah-wilayah di Provinsi Maluku yang berada pada
Kawasan Perbatasan Negara adalah Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Kabupaten Maluku Barat Daya dan Kabupaten Kepulauan Aru.
Karakteristik Kawasan Perbatasan Negara didominasi pulau-pulau kecil
yang mengelompok menjadi Gugus Pulau dengan Kawasan Laut Pulau
yang luas; terdapat 5 (lima) Gugus Pulau pada kawasan ini, antara lain
Gugus Pulau Kepulauan Aru di Kabupaten Kepulauan Aru; Gugus Pulau
Tanimbar, Gugus Pulau Babar, Gugus Pulau Leti, Moa, Lakor (LEMOLA) dan
Gugus Pulau-Pulau Terselatan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Ada 18 (delapan belas) pulau kecil baik yang berpenduduk maupun tidak
berpenduduk

yang

berbatasan

langsung

dengan

negara

tetangga

Australia dan Timor Leste, masing-masing (a) di Kabupaten Kepulauan


Aru 8 (delapan) pulau yaitu Pulau Ararkula, Pulau Karaweira, Pulau
Panambulai, Pulau Kurtubai Utara, Pulau Kurtubai Selatan, Pulau Karang,
Pulau Enu dan Pulau Batu Goyang; (b) di Kabupaten Maluku Tenggara
Barat 4 (empat) pulau yaitu Pulau Larat, Pulau Asutubun, Pulau Selaru,
Pulau Batarkusu dan (c) di Kabupaten Maluku Barat Daya 6 (enam)
pulau yaitu Pulau Masela, Pulau Meatimiarang, Pulau Leti, Pulau Kisar,
Pulau Wetar dan Pulau Lirang.
Kawasan Perbatasan Negara di Maluku dilalui jalur pelayaran dan
penerbangan

internasional

melalui

penetapan

Alur

Laut

Kepulauan

Indonesia (ALKI) sebagai implementasi dari diterimanya Konvensi Hukum


Laut 1982 melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang
Pengesahan International Convention on the Law of the Sea 1982. Khusus
ALKI

III yang terdiri dari 3 (tiga) jalur pelayaran dan penerbangan

internasional, seluruhnya melalui perairan Kepulauan Maluku, yaitu:


(a)

ALKI III A melalui Laut Sawu, Selat Ombai, Laut Banda (Barat
Pulau Buru), Laut Seram (Timur Pulau Mangole), Laut Maluku terus
ke Samudra Pasifik;

(b)

ALKI III B melalui Laut Timor, Selat Leti, Laut Banda (Barat Pulau
Buru) dan terus ke ALKI IIIA;

(c)

ALKI III C melalui Laut Arafura, Laut Banda (Barat Pulau Buru)
terus ke utara ke jalur ALKI IIIA.

Kawasan Perbatasan Negara di Maluku memperlihatkan karakteristik yang


spesifik karena:
1.

Merupakan kawasan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir yang


sangat panjang.

2.

Pengembangan Kawasan Perbatasan Negara di Maluku dalam


rangka

mewujudkan

pembangunan

dan

keamanan

kawasan,

memerlukan partisipasi masyarakat/kelompok masyarakat yang akan


2

berfungsi

sebagai

subjek

kunci

dari

keberhasilan

pelaksanaan

pemerintahan, pembangunan dan pengamanan kawasan kepulauan


perbatasan. Masyarakat dan atau kelompok masyarakat dalam hal ini
meliputi Masyarakat Adat Masyarakat Pesisir dan Masyarakat Lokal.
3.

Sesuai dengan pembagian wilayah biografis, flora dan fauna di


Maluku terutama di Kawasan Perbatasan Negara, tergolong ke dalam
kesatuan biogeografis Wallacea, yang memiliki flora dan fauna yang
khas (endemik), tetapi juga mengandung unsur-unsur dari Wilayah
Oriental dan Wilayah Australesia. Di lain pihak, Kawasan Perbatasan
Negara di Maluku memiliki potensi perikanan sebagai potensi ekspor
serta menjadi perhatian masyarakat internasional terutama high
migration species seperti tuna dan lain-lain, serta sumberdaya mineral
yang tinggi nilainya;

4.

Pengembangan Kawasan Perbatasan Negara di Maluku, dilakukan


dengan memperhatikan kawasan interaksi berbasis Gugus Pulau, Laut
Pulau dan Pintu Jamak (multigate system).
Pendekatan yang digunakan antara lain :

Pendekatan Prosperity bersamaan dengan Security.


Kawasan Perbatasan Negara selalu dianggap sebagai wilayah yang
rawan konflik dengan negara tetangga, sehingga lebih diutamakan
pendekatan keamanan (security).

Di lain pihak, masyarakat yang

mendiami pulau-pulau kecil merupakan masyarakat tertinggal dan


miskin secara struktural. Oleh karena itu, penanganan Kawasan
Perbatasan Negara di Maluku, hendaknya kesejahteraan masyarakat
dilaksanakan

bersamaan

dengan

peningkatan

keamanan

wilayah

secara proporsional.

Pendekatan Gugus Pulau, Laut Pulau dan Pintu Jamak.


Kawasan Perbatasan Negara di Maluku didominasi pulau-pulau kecil
yang

membentuk

gugusan

pulau.

Oleh

karena,

pendekatan

penanganan kawasan ini, hendaknya berbasis pada Gugus Pulau, Laut


Pulau

dan

Pintu

Jamak,

dalam

suatu

sistem

penyelenggaraan

administrasi daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 32


Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
3

Pendekatan Kultural Berbasis Masyarakat Hukum Adat.


Penanganan Kawasan Perbatasan Negara di Maluku untuk mewujudkan
kesejahteraan

masyarakat

dan

keamanan

kawasan,

memerlukan

partisipasi masyarakat yang akan berfungsi sebagai subjek kunci dari


keberhasilan

pelaksanaan

pemerintahan,

pembangunan

dan

pengamanan kawasan kepulauan perbatasan.

Pendekatan Pembangunan Bertahap dan Terpadu.


Pola Penanganan Kawasan Perbatasan Negara di Maluku ini, memiliki
posisi strategis sebagai instrumen yang menyatukan tahap-tahap
pembangunan tersebut secara terpadu.

Kawasan Perbatasan Negara di Maluku memperlihatkan adanya sejumlah


masalah yang mesti menjadi perhatian dalam kebijakan Pemerintah
secara holistik.
Isu dan Permasalahan Kawasan Perbatasan Antar Negara di Provinsi
Maluku meliputi :
1. Aspek Delimitasi dan Demarkasi Batas
2. Aspek Kesenjangan Wilayah
3. Aspek Politik, Hukum, dan Keamanan
1.

Aspek

Deliminasi

dan

Demarkasi

Batas

meliputi

belum

disepakatinya beberapa segmen garis batas laut.


Kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi

di laut sebagaimana

diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004


tentang Pemerintahan Daerah, hendaknya sejauh 12 (dua belas) mil
laut, diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik terluar dari
pulau-pulau atau karang-karang terluar wilayah Provinsi Kepulauan
Maluku sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 17
Tahun 1985 tentang Pengesahan International Convention on the
Law of the Sea dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang
Perairan Indonesia, sedangkan kewenangan Daerah Kabupaten/Kota
di laut diatur dengan Peraturan Daerah Provinsi Maluku.
2.

Aspek Kesenjangan wilayah, meliputi


4

a. Rendahnya Aksesibilitas yang Menghambat Tumbuhnya


Perekonomian Kawasan, seperti infrastruktur fisik (jalan &
jembatan, pelabuhan, dan bandara)
Kapal-kapal yang melayari pelayaran inter berupa kapal perintis dan
kapal rakyat yang berbobot mati kecil dengan jarak tempuh dan
waktu jelajah yang cukup besar sehingga frekwensi pelayaran
menjadi kecil. Selain itu jumlah kapal yang melayari pelayaran inter
masih sangat terbatas, karena itu tingkat pelayanan terhadap
muatan

baik

penumpang

maupun

barang

masih

sangat

memprihatinkan.
Hampir sebagian besar pulau-pulau terluar Kawasan Perbatasan
Negara, belum memiliki prasarana perhubungan laut yang memadai
bahkan ada yang belum tersedia sama sekali. Begitu pula dengan
pelayaran ke pulau-pulau tersebut secara reguler belum ada,
sehingga interaksi penduduk dari dan ke wilayah pulau-pulau terluar
sangat kecil.
Prasarana transportasi udara berupa lapangan terbang di wilayah
Provinsi

Maluku,

masih

terbatas

di

beberapa

pulau.

Sarana

transportasi udara juga relatif masih menghadapi berbagai kendala


baik aspek kapasitas maupun jumlahnya. Jaringan penerbangan
antar Kota Ambon dan kota-kota lain di dalam wilayah Provinsi
Maluku

dilayani

oleh

penerbangan

perintis

dengan

frekwensi

penerbangan rata-rata sekali per minggu. Sebagian besar pulaupulau terluar wilayah perbatasan negara belum memiliki lapangan
terbang kecuali Pulau Larat dan Kisar. Frekwensi penerbangan ke
kedua lapangan terbang tersebut hanya sekali dalam satu minggu
dengan menggunakan pesawat berukuran kecil sesuai tipe dan
kelas landasan. Fasilitas transportasi udara di kedua lapangan
tersebut masih sangat terbatas.

Untuk pulau-pulau terluar Kawasan Perbatasan Negara hampir


seluruhnya belum terdapat jalan raya.

Pulau Larat memilki jalan

raya lingkar Pulau Larat sekitar 20 kilometer dan di Pulau Wetar


dengan ruas jalan Ilwaki Lurang sepanjang 50 kilometer.
Pelayanan penyeberangan ASDP baru melayani trayek Tual Dobo
Tual Larat Saumlaki. P.P. dengan frekwensi pelayaran sekali
seminggu.
b. Minimnya Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendukung
Ekonomi seperti pasar, lembaga keuangan.
c. Penyediaan Sarana dan Prasarana

Dasar yang Belum

Memadai, seperti halnya sarana pendidikan, kesehatan, air


bersih, listrik, & permukiman.
Prasarana

pendidikan

yang

tersedia

di

kecamatan-kecamatan

dimana terdapat pulau-pulau terluar pada Kawasan Perbatasan


Negara di Maluku (Kabapaten MTB dan Kabupaten Kepulauan Aru),
umumnya hanya sampai di tingkat SLTP. Prasarana pendidikan
setingkat

SLTA,

baru

terdapat

di

beberapa

Kecamatan

yaitu

Kecamatan Tanimbar Utara dan Kecamatan Wetar yang termasuk


dalam wilayah Kawasan Perbatasan Negara. Prasarana pendidikan
kejuruan (SMK) masih kurang pada kecamatan-kecamatan tersebut.
Kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Kawasan
Perbatasan

Negara

masih

rendah

kualitasnya

bahkan

memprihatinkan. Aksesibilitas penduduk yang mendiami desa-desa


pada

pulau-pulau

terluar

ke

sekolah-sekolah

yang

umumnya

terdapat di kota kecamatan atau desa-desa tertentu sangat sulit,


dikarenakan belum tersedianya sarana dan prasarana transportasi
laut maupun darat yang memadai.
Fasilitas kesehatan berupa Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan
Posyandu terdapat di semua Kecamatan yang termasuk dalam
Kawasan Perbatasan Negara. Tenaga paramedis yang ditempatkan
6

pada Puskesmas, Puskesmas Pembantu maupun Posyandu sangat


terbatas. Tenaga Dokter hanya terbatas di kota kabupaten atau kota
kecamatan tertentu. Peralatan medis di Puskesmas, Puskesmas
Pembantu dan Posyandu juga sangat terbatas. Tingkat pelayanan
kesehatan bagi penduduk yang berada di kawasan pulau-pulau
terluar dan perbatasan negara sangat rendah karena belum
tersedianya sarana dan prasarana transportasi yang memadai
sehingga memudahkan pergerakan penduduk atau paramedis

ke

tempat pelayanan kesehatan atau tempat pemukiman penduduk.


Kebutuhan air bersih untuk memenuhi sebagian besar penduduk
yang mendiami pulau-pulau terluar di Kawasan Perbatasan Negara
diperoleh dari air sungai, air tanah atau air hujan. Air tanah yang
digunakan oleh penduduk di pulau-pulau tersebut ternyata adalah
air payau yang tingkat kebersihannya sangat rendah.
Kebutuhan tenaga listrik di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB)
di pasok dari PLTD yang dimiliki oleh Perusahaan Listrik Negara
(PLN).

Di beberapa desa di pulau terluar tersebut terdapat

pembangkit
terpasangnya

listrik

tenaga

sehingga

surya

hanya

yang

sangat

diperuntukkan

terbatas
bagi

daya

keperluan

terbatas.

Rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan bekerja


terbatas di sektor-sektor tradisional yang cenderung bersifat
subsisten.

Pulau-pulau kecil terluar sebagai lokasi titik dasar belum


dikelola dengan baik.

Aspek ketiga, yaitu Aspek Politik, Hukum dan Keamanan, meliputi

3.

terjadinya penyelundupan dan pencurian hasil-hasil laut. Kawasan


Perbatasan Negara di Maluku telah dan atau dapat menjadi:
-

Ladang Pencurian Ikan Oleh Kapal-Kapal Asing


Kawasan Perbatasan Negara di Maluku tidak terlepas dari masalah
pencurian ikan oleh kapal-kapal nelayan asing. Data Kejaksaan
Tinggi Maluku memperlihatkan rata-rata dalam satu bulan ada 2
(dua) kapal ikan asing tertangkap di perairan kepulauan perbatasan
Maluku (terutama Kepulauan Aru).

Transit Point Kejahatan Internasional


Masalah pelanggaran peraturan perundangan-undangan berkaitan
dengan bea cukai, fiskal, imigrasi atau sanitasi sebagaimana
tercantum dalam Pasal 33 Konvensi Hukum Laut Tahun 1982, dapat
terjadi mengingat kepulauan perbatasan pada wilayah-wilayah ini
terdiri dari pulau-pulau yang tidak berpenduduk (kosong) sehingga
dapat bebas dari pengawasan baik aparat penegak hukum maupun
masyarakat. Kawasan kepulauan perbatasan negara ini menjadi
transit point dari kejahatan transnasional serta internasional seperti
terorisme, pembajakan dan lain-lain.

Transaksi Perdagangan Gelap (Internasional)


Kawasan Perbatasan Negara di Maluku dapat menjadi locus delicti
dari

transaksi-transaksi

perdagangan

internasional

ilegal.

Perdagangan senjata ilegal (illegal weapon), penangkapan ikan


secara

ilegal

(illegal

fishing),

perdagangan

manusia

maupun

perbudakan (women and child trade), perdagangan kayu ilegal


(illegal logging) dan lain-lain dapat saja terjadi.
-

Infiltrasi Faham-Faham Separatis


Dari segi geoposisi dan geopolitik, Kawasan Perbatasan Negara di
Maluku

dapat

menjadi

kawasan

bagi

infiltrasi

faham-faham

separatis yang dapat menjadi ancaman bagi keutuhan Negara


Kesatuan Republik Indonesia.

Di lain pihak, dilihat dari aspek pengembangan wilayah, maka pada


Kawasan Perbatasan Negara di Maluku terdapat masalah keterbatasan
sarana dan prasarana keamanan
(a)

Prasana dan sarana atau infrastruktur kelautan yang masih kurang


menjadi perhatian Pemerintah melalui alokasi dana dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga pengembangan
kelautan di Kepulauan Maluku terutama pada Kawasan Perbatasan
Negara

belum

mensejahterakan

masyarakat

tetapi

justru

memiskinkan masyarakat;
(b)

Sumber daya manusia yang diandalkan untuk membangun sektor


perikanan di Maluku kurang diperhitungkan melalui pengembangan
pendidikan profesional, sehingga menjadi lemah atau kurang berdaya
dalam memasuki dan menghadapi pasar bebas di era globalisasi.

Potensi utama Kawasan Perbatasan Negara di Provinsi Maluku terutama


pada sektor Perikanan, Pertambangan dan Pariwisata.
Di bidang Perikanan terdapat pengembangan usaha perikanan tangkap,
perikanan budidaya (Rumput Laut, Ikan Kerapu dan Mutiara) dan Industri
Pengolahan Hasil Perikanan.
Di bidang Pertambangan terdapat potensi bahan galian tambang seperti
emas, tembaga, nikel, batu gamping dan belerang.

Sedangkan potensi

energi meliputi minyak bumi, gas, panas bumi, arus laut, dan sumberdaya
air untuk pembangkit tenaga listrik.
Kawasan Perbatasan Negara di Maluku yang berbatasan langsung dengan
Australia, Timor Leste maupun Papua New Guinea, memiliki fungsi
strategis sebagai Halaman Depan Bangsa dilihat dari:
a) Aspek ekologis; kawasan ini masih mendapat pengaruh yang kuat dari
daratan besar Papua, sehingga pengelolaan Kawasan Perbatasan
Negara di Maluku membutuhkan penanganan yang komprehensif
apabila muncul pengaruh-pengaruh penurunan kualitas perairan dan
9

penurunan stok sumberdaya hayati laut akibat eksploitasi yang tidak


terkendali;
b) Aspek ekonomi; kawasan ini akan memberikan sumbangan potensi
sumberdaya

alam

hayati

yang

beragam

untuk

dikelola

bagi

kepentingan peningkatan perekonomian daerah maupun nasional;


c) Aspek sosial budaya; kawasan ini akan sangat bermanfaat sebagai
penyangga terhadap nilai-nilai baru serta memiliki peluang interaksi
sosial yang tinggi dengan wilayah dan negara tetangga. Secara positif,
posisi kawasan dalam konteks neighbourhood brother merupakan
potensi untuk pengembangan interaksi sosial budaya dalam rangka
pariwisata maupun keamanan kawasan.
d) Aspek politik; kawasan ini merupakan kawasan dimana pengambilan
keputusan untuk kepentingan pengelolaan sangat tergantung pada
kesepakatan bersama antara negara dan negara tetangga dalam
bentuk perjanjian internasional;
e) Aspek pertahanan dan keamanan; kawasan ini berperan sebagai
penyangga terhadap upaya-upaya yang mengancam integrasi bangsa
terutama keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam

rangka

penanganan

dan

percepatan

pembangunan,

maka

Pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara (KPN) di Provinsi Maluku


berdasarkan RPJMD Provinsi Maluku Tahun 2008-2013 adalah :
1. Koordinasi penyelesaian masalah batas perbatasan antar daerah;
2. Sosialisasi Kebijakan Pemerintah dalam

penyelesaian perbatasan

antar negara;
3. Koordinasi penetapan rencana tata ruang perbatasan;
4. Penyusunan perencanaan pengembangan perbatasan;
5. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.

10

Program Prioritas Yang Diharapkan Dapat Diimplementasikan Dalam


Rangka

Percepatan

Pengembangan

Kawasan

Perbatasan

Negara

di

Provinsi Maluku Periode 2011 2014 adalah :


1.

Pembangunan transportasi intermoda Trans Maluku di Kawasan


Perbatasan Negara;

2.

Pembangunan Prasarana dasar di Kawasan Perbatasan Negara;

3.

Pengembangan Perikanan dan Kelautan di Kawasan Perbatasan


Negara;

4.

Peningkatan produktifitas komoditas pertanian dan perkebunan


rakyat di Kawasan Perbatasan Negara;

5.

Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi di


Kawasan Perbatasan Negara.
PENUTUP

Kawasan Perbatasan Negara di Maluku yang terdiri dari lautan dan 18


pulau

kecil

terluar,

merupakan

kawasan

yang

potensial

untuk

dikembangkan tetapi juga memiliki potensi konflik yang cukup rawan jika
tidak ditangani secara tepat. Dengan panjangnya garis perbatasan serta
banyaknya pulau-pulau di wilayah perbatasan negara di Maluku ini, maka
diperlukan Pola Penanganan Kawasan Perbatasan Negara yang mencakup
kebijakan,

strategi,

dan

program

yang

mampu

mengarahkan

pembangunan di Kawasan Perbatasan Negara secara efektif dan efisien.


Kebijakan, Strategi dan Program Pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara
secara

terpadu

perlu

mengedepankan

pendekatan

kesejahteraan

(prosperity approach) dan pendekatan keamanan (security approach).


Pada

implementasinya,

Perbatasan

Negara

di

program-program
Maluku

yang

telah

penanganan
ditetapkan,

Kawasan
diperlukan

perencanaan secara terpadu dan koordinasi yang baik dengan

seluruh

stakeholder terkait.

11

Pola Penanganan Kawasan Perbatasan Negara di Maluku ini diharapkan


dijadikan acuan dalam percepatan pembangunan wilayah perbatasan
sebagai Halaman Depan Bangsa, sehingga hasil-hasil pembangunan
yang dilakukan dapat dinikmati oleh segenap masyarakat di wilayah
tersebut

serta

terjaminnya

pertahanan

keamanan

nasional

serta

Kedaulatan Wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia.

12