Anda di halaman 1dari 22

PLTA CIRATA

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA
ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8x126 Megawatt (MW)
sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata
1.428 Giga Watthour (GWh) pertahun.
Kapasita 1008 MW tersebut terdiri dari Cirata I yang memiliki empat unit masing-masing
operasi dengan daya terpasang 126 MW yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan daya
terpasang 504 MW, selain itu Cirata II juga dengan empat unit masing-masing 126 MW, yang
mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW. Cirata I dan II mampu
memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian dislaurkan melalui
jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali
(Jamali).
Guna menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 Gwh, dioperasikan delapan buah turbin dengan
kapasitas masing-masing 129.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh
efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3 perdetik.
PLTA Cirata dibangun dengan komposisi bangunan power house empat lantai di bawah tanah
yang menpengoperasiannya dikendalikan dari ruang control switchyard berjarak sekitar 2
kilometer (km) dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di power house.
PLTA tersebut merupakan pembangkit yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Perusahaan
Listrik Negara (PLN persero) yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang disalurkan melalui
saluran transmisi tenaga listrik 500 kilo volt (KV) ke sistem Jawa Bali yang diatur oleh
dispatcher PLN Pusat Pengatur Beban (P3B).Kontribusi utama Cirata terhadap sistem Jawa Bali
yaitu memikul beban puncak dan beroperasi pada pukul 17.00-22.00, dengan moda operasi LFC
(Load Frequency Control), dimana memiliki fasilitas line charging bila sistem Jawa Bali
mengalami Black Out dan Start up operasi/ sinkron ke jaringan 500 KV yang relatif cepat yaitu
kurang lebih lima menit.

PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan
Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Latar belakang pendirian PLTA ini, dengan letak
sungai Citarum yang subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi.
Pembangunan proyek PLTA Cirata merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi tenaga air di
Sungai Citarum yang letaknya di wilayah kabupaten Bandung, kurang lebih 60 km sebelah barat
laut kota Bandung atau 100 km dari Jakarta melalui jalan Purwakarta

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA
ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8x126 Megawatt (MW)
sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata
1.428 Giga Watthour (GWh) pertahun.
Kapasita 1008 MW tersebut terdiri dari Cirata I yang memiliki empat unit masing-masing
operasi dengan daya terpasang 126 MW yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan daya
terpasang 504 MW, selain itu Cirata II juga dengan empat unit masing-masing 126 MW, yang
mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW. Cirata I dan II mampu
memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian dislaurkan melalui
jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali
(Jamali).

Guna menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 Gwh, dioperasikan delapan buah turbin dengan
kapasitas masing-masing 129.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh
efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3 perdetik.
PLTA Cirata dibangun dengan komposisi bangunan power house empat lantai di bawah tanah
yang menpengoperasiannya dikendalikan dari ruang control switchyard berjarak sekitar 2
kilometer (km) dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di power house.
PLTA tersebut merupakan pembangkit yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Perusahaan
Listrik Negara (PLN persero) yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang disalurkan melalui
saluran transmisi tenaga listrik 500 kilo volt (KV) ke sistem Jawa Bali yang diatur oleh
dispatcher PLN Pusat Pengatur Beban (P3B).Kontribusi utama Cirata terhadap sistem Jawa Bali
yaitu memikul beban puncak dan beroperasi pada pukul 17.00-22.00, dengan moda operasi LFC
(Load Frequency Control), dimana memiliki fasilitas line charging bila sistem Jawa Bali
mengalami Black Out dan Start up operasi/ sinkron ke jaringan 500 KV yang relatif cepat yaitu
kurang lebih lima menit.
PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan
Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Latar belakang pendirian PLTA ini, dengan letak
sungai Citarum yang subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi.
Pembangunan proyek PLTA Cirata merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi tenaga air di
Sungai Citarum yang letaknya di wilayah kabupaten Bandung, kurang lebih 60 km sebelah barat
laut kota Bandung atau 100 km dari Jakarta melalui jalan Purwakarta

BANGUNAN TENAGA AIR WADUK CIRATA


Unit Pembangkitan (UP) Cirata mengoperasikan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) menggunakan
energi air dari waduk (danau) Cirata yang bersumber dari aliran sungai Citarum di Jawa Barat,
terletak di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru, Plered, Purwakarta, Jawa Barat, tepatnya
sekitar 60 km sebelah Barat Laut kota Bandung atau 100 km dari kota Jakarta melalui
Purwakarta. UP Cirata memiliki 8 unit pembangkit listrik dengan total daya terpasang 1.008 MW
dengan produksi energi listrik ratarata 1.428 GWh per-tahun.
UP Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara, dengan bangunan Power House4 lantai di
bawah tanah yang mengoperasikannya dikendalikan dari ruang kontrol Switchyardberjarak
sekitar 2 km dari mesinmesin pembangkit yang terletak di Power House.
Proses perjalanan air waduk cirata
.Pertama-tama air memutar turbin PLTA
saguling, jadilah listrik. Lalu air buangan dari PLTA ini masuk waduk cirata dan kemudian
memutar turbin PLTA Cirata, jadi listrik lagi. Air buangan dari
PLTA Cirata kemudian masuk waduk jatiluhur. Lagi-lagi mereka
memutar turbin PLTA
Jatiluhur dan menghasilkan energi yang sangat penting di kehidupan manusia modern ini

Gambar 1. Proses Penyaluran Air

Gambar 2. Waduk Cirata


Waduk Cirata, selain berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) danau yang
berketinggian sekitar 223 meter di atas permukaan laut
itu, dikelilingi bukit menjadikan keindahan alam yang sangat menarik. Danau Cirata akan
dikembangkan menjadi tempat educationol tourism bagi para
pelajar dan mahasiswa dan sarana rekreasi, terutama rekre
asi air seperti halnya Obyek Wisata Jatiluhur
1. Sejarah Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata

Latar belakang pendirian PLTA ini adalah letak sungai Citarum yang su
bur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi. PLTA Cirata, sejak pertama
dioperasikan pada tahun 1988 dikelola oleh PT. PLN (persero) Pembangkitan dan Penyaluran
Jawa Bagian Barat

pembentukan 2 anak perusahaan pada tanggal 3 Oktober 1995, yaitu

PT. PLN Pembangkit Tenaga Listrik Jawa-Bali (PT. PLN PJB 1) dan PT
PLN Pembangkit
Tenaga Listrik Jawa-Bali (PT. PLN PJB 11), sehingga Sektor Cirata masuk wilayah kerja PT
PLN Pembangkit Tenaga Listrik Jawa-Bali 11. Kemudian pada tahun 1997, Sektor
Cirata berubah nama menjadi PT PLN Pembangkit Tenaga Listrik J

awa Bali 11 Unit Pembangkit CIRATA (UP CIRATA).

Pembangunan PLTA Cirata selain dibiaya langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui dana
APBN dan Non APBN serta dana PLN juga mendapat bantuan pinjaman dari luar negeri
yaitu :
1. IBRD (International Bank for Recontruction and Development)
2. CDC (Commonth Wealth Development Cooperation)
3. SC (Suppliers Credits)
4. Pemerintahan Austria.
Total biaya pembangunan PLTA Cirata meliputi :
Cirata 1 sebesar $ 565.000.000,00 US Dollars

Cirata 2 sebesar terdiri :


- Rp. 132.272.182.061,00,- SFR 997.291,00,- (nilai kontrak dilaksanakan pada tahun 1993 dan 1994)
- NTD 207.933.845,00
- Yen 2.791.593.431

Gambar 3. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata


1. Produksi dan sistem pengoperasian
Kegiatan usaha inti dari PLTA Cirata adalah pembangkit ten
aga listrik dengan total daya terpasang 1.008 Mega Watt (MW), terdiri atas Cirata 1 (4 Unit
masing-masing operation daya terpasang 126 MW) yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan
total daya terpasang 504 MW, dan Cirata 11 (4 Unit masing-m

asing 126 MW) yang mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW.
Cirata 1 dan 11 mampu memproduksi energi listrik rata- rata 1.428 GWh per tahun yang
kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV ke system
interkoneksi JawaBali.
Tabel Kapasitas Daya Listrik dan Tanggal Mulai Beroperasi Masing-masing Unit Pembangkit
Jenis Pembangkit
PLTA Unit 1
PLTA Unit 2
PLTA Unit 3

Mulai Beroperasi
25 Mei 1988
29 Februari 1988
30 September
1988
10 Agustus 1988
15 Agustus 1997
15 Agustus 1997
15 April 1998
15 April 1998

Kapasitas
126 MW
126 MW
126 MW

PLTA Unit 4
126 MW
PLTA Unit 5
126 MW
PLTA Unit 6
126 MW
PLTA Unit 7
126 MW
PLTA Unit 8
126MW
Total
1008 MW
Untuk menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 GWh, di oper
asikan 8 buah turbin dengan kapasitas masingmasing 120.000 KW dengan putaran 187,5
RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter deng
an debit air meksimum 135 m3/detik. Turbin yang digunakan di waduk Cirata adalah Turbin
Francis, spesifikasinya adalah :
Tipe : Francis, Vertical Shaft
Produksi : VOEST-ALPINE
Rate Net Head : 106,8 m
Rated Output : 129,6 MW
Kecepatan : 187,5 rpm
Debit pada kondisi diatas : 132,5 m3/s
Runaaway speed : 400 rpm
Spiral Case inlet diameter : 4300 mm
Draft Tube outlet diameter : 6400 rpm
Diameter Runner : Dth = 3400 m
Jumlah Runner Blade : z = 16

Jumlah Guide Vane : z = 24


Bukaan maksimum Guide Vane : 260 mm
Ketinggian Guide Vane : 980 mm
Jumlah Servomotor : 2
Tekanan normal operasi guide vane : 55 kg/cm2
Tekanan oli minimum guide vane : 38,5 kg/cm2
Langkah servomotor : 440 mm
Diameter piston servomotor : 400 mm
Mengoperasikan unit pembangkit Cirata dapat dilakukan dengan 3 mode system
mengoperasikan :
1. Mode operasi local manual, yaitu sistem pengoperasian yang dilakukan oleh operator secara
manual dari panel unit kontrol Power house
2. Mode operasi local auto, yaitu sistem pengoperasian yaitu dilakukan oleh operator
secara automatic dari panel unit kontrol di ruang Power House.
3. Mode operasi remote, yaitu sistem pengoperasian yang komputerisasi d
imana unit dioperasikan dari control desk di ruang kontol Switchy
ard yang berjarak sekitar 2 Km dari lokasi pembangkit listrik.
Dalam mengoperasikan seluruh unit pembangkit list
rik di Cirata, kami mengutamakan menggunakan mode operasi remoteuntuk mengoperasikan dan
mengontrol semua sistem, karena lebih efisien dan efektif. Namun
demikian operator dilokasi rumah pembangkit selalu siap dengan mode operasi local
auto maupun mode operasi local manual.

Gambar 4. Tampilan/Window dari Remote Operation Mode


PLTA Cirata mempunyai 4 bangunan utama yakni waduk atau bendungan sebagai tempat
penampungan air, saluran air, powerhouse atau gedung unit pembangkit dan switchyard atau uni

t transmisi yang akan menyalurkan energi listrik ke konsumen-konsumen. PLTA ini memiliki
terowongan sebagai akses jalan menuju powerhouse. Di PLTA Cirata ini, powerhouse terletak
didalam perut bukit. Karena itulah dibuatlah terowongan ini sebagai akses jalan
menujupowerhouse.

Gambar 5. Terowongan Akses menuju Power House

Power house bawah tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 235 meter, lebar 35 meter, tinggi
49 meter, menjadikan power house PLTA cirata sebagai bangunan bawah tanah terbesar di
indonesia. Suasana didalampowerhouse sangat lembab dan panas. S
uasana siang hari atau malam hari tiada berbeda didalam powerhouse, karena sinar matahari
tidak pernah bisa mencapai ruangan tersebut. Dinding-dindingnya penuh dengan mur dan baut
dengan ukuran yang sangat besar. Mur dan baut ini adalah penahan dinding dari tekanan air
waduk yang pastinya sangat tinggi.

Gambar 6. Power House Bawah Tanah di PLTA Cirata


1. Manajemen Sumber daya Air
Air merupakan sumber energi utama yang digunakan untuk memutar turbin pembangkit tenaga
listrik sebanyak 8 unit. Oleh karena itu dibangun Waduk Cirata seluas 62 Km2 dengan elevasi
muka air banjir 223 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka air rendah 205 m,
sehingga volume air waduk 2.165 juta meter3 dan efektif waduk 796 juta m3. Air waduk ini
dikelola dengan baik mencakup jumlah maupun mutunya agar tidak mengganggu atau merusak
mesinmesin.
2. Manfaat Pembangunan PLTA Cirata

Pembangunan PLTA ini ternyata menimbulkan dampak positif yang sangat bermanfaat bagi
warga masyarakat maupun pemerintah, diantaranya adalah :
1. Menghasilkan listrik dengan daya terpasang 1008 MW dan energi pertahun 1.428.000.000 kilo
watt jam pertahun, sehingga menambah daya dan keandalan pada system kelistrikan di Jawa-Bali
khusus di Area 11.
2. Menghemat devisa (bahan bakar minyak) sebesar 428.000 ton pertahun.
3. Meningkatkan keandalan penyediaan air waduk Jati Luhur untuk air minum dan irigasi.
4. Memacu perkembangan industri/perekonomian.
5. Mengembangkan usaha perikanan dan pariwisata.
6. Menyediakan lapangan kerja baru.
3. Pemeliharaan Peralatan
Perawatan di PLTA Cirata dilakukan beberapa perawatan baik rutin, bulanan, maupun tahunan.
Perawatan tersebut dibagi mmenjadi 2 jenis, yaituMaintenance Preventif dan Maintenance
Inspection.
Maintenance Preventif yaitu pemeliharaan secara rutin dengan visual pemeriksaan dan
pengecekan tanpa pengukuran besaran. Pelaksanaan preventif dilakukan satu bulan sekali oleh
petugas preventif meliputi pemeriksaan dan pengecekan keadaan fisik peralatan, pemeriksaan
parameter, serta kebersihan peralatan dan area.
Maintenance Inspection yaitu pemeliharaan secara periodik tahunan dengan bongkar pasang
peralatan untuk mengetahui tanda-tanda peralatan mulai akan rusak dalam hal ini ditekankan
pada pengujian dan kalibrasi karakteristikrelay proteksi. Pelaksanaaan inspeksi pemeliharaan
dilakukan secara periodik yaitu setiap satu tahun sekali oleh tim Inspection (Senior Teknisi Relay
Proteksi).
PLTA Cirata mempunyai 2 jenis alat proteksi (relay) sebagai pengaman jaringan listriknya,
yaitu relay electromechanic induction disc dan DRS. Elemen relay electromechanic induction
disc mempunyai piringan metalik (disk) yang terbuat dari tembaga atau alumunium yang dapat
berputar diantara celah-celah elektromagnet. Relay ini tidak dapat digunakan untuk tegangan

searah (DC) dan cara kerja relay ini dipengaruhi oleh frekuensi sehingga memakan waktu yang
lama untuk men-reset (reset time). DRS merupakan relayberteknologi digital dengan perangkat
keras berupa card module kode DRS-VE. Set dan perangkat lunak berupa program khusus untuk
sistem produksi yang tersimpan pada EPROM card module. Relay ini dapat menggunakan
tegangan DC dan waktu resetnya relatif cepat.

PROSES PRODUKSI ENERGI LISTRIK PADA PLTA


Pada dasarnya energi adalah suatu besaran yang dimiliki oleh setiap benda
yang ada di alam ini, namun dari energi yang dikandung oleh setiap benda
tersebut ada yang dapat dimanfaatkan dengan mudah dan ada yang
memerlukan usaha yang keras untuk memanfaatkannya. Memang untuk
dapat menganbil manfaat dari energi yang terkandung pada suatu benda
diperlukan adanya suatu proses perubahan atau konversi energi terlebih
dahulu sehingga dapat bermanfaat dan berdaya guna.

Panas merupakan suatu bentuk energi yang dimiliki atau terkandung pada
bahan bakar seperti batubara atau minyak bumi. Namun energi panas yang
terkandung pada bahan bakar tersebut baru akan berguna jika telah melalui
suatu proses perubahan atau konversi energi. Minyak bumi mengandung
energi panas yang akan muncul lewat suatu proses pembakaran. Proses
paling sederhana untuk pemanfaatan bahan bakar minyak misalnya jika kita

memakai minyak tanah (kerosin) pada kompor minyak tanah. Pembakaran


minyak tanah akan menghasilkan panas yang dapat dipakai untuk memasak
makanan dan minuman.

Proses konversi energi lain yang sangat kita kenal adalah pada kendaraan
bermotor dimana bahan bakar minyak berupa premium atau solar dipakai
pada kendaraan bermotor. Premium atau solar tersebut merngalami proses
pembakaran pada ruang bakar mesin kendaraan bermotor. Dengan adanya
pembakaran bahan bakar maka akan timbul gaya dorong yang menimbulkan
gerak translasi pada piston, gerakan translasi piston tersebut selanjutnya
oleh poros

engkol

(crankshaft) diubah

menjadi

gerakan putar yang

diteruskan pada ban kendaraan bermotor sehingga menjadi alat transportasi


yang dapat membawa manusia dan barang ke tempat yang diinginkan.
Proses konversi energi dari bahan bakar menjadi gerakan kendaraan
bermotor tersebut merupakan contoh pemanfaatan energi setelah diubah
(dikonversi) pada bentuk energi lainnya yang lebih bermanfaat.

Salah satu bentuk energi yang sangat mudah dimanfaatkan bagi kehidupan
manusia pada zaman modern ini adalah energi listrik. Energi listrik ini sangat
bermanfaat bagi kehidupan manusia , mulai dari lingkungan rumah tangga
sebagai alat penerangan, peralatan rumah tangga seperti pompa, kipas
angin, rice cooker, air condition, radio, televise, computer, alat-alat
hiburan, sampai di pabrik-pabrik dan industry, transportasi, kesehatan,
pertanian, komunikasi, dan berbagai bidang kehidupan lainnya, tidak akan
terlepas dari pemanfaatan tenaga listrik.

Batubara misalnya merupakan sumber energi panas yang besar, energi


panas tersebut akan muncul jika terjadi proses pembakaran. Namun jika
energi

batubara

tersebut

diubah

menjadi

energi

listrik

maka

pemanfaatannya akan menjadi sangat beragam dan jauh berguna, karena


sebagaimana disebutkan di atas, energi listrik mempunyai kegunaan yang
sangat besar pada berbagai bidang kehidupan.

Proses perubahan energi panas yang terkandung pada batubara tersebut


menjadi energi listrik berlangsung pada sebuah pembangkit tenaga listrik,
yaitu pada sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar
batubara. Dengan demikian kita mengenal berbagai macam Pembangkit
Listrik yang berfungsi untuk mengubah atau mengkonversi energi-energi
primer menjadi energi listrik. Jenis-jenis pembangkit listrik lainnya adalah
PLTU minyak, PLTU gas, PLTG, PLTP, PLTN dan PLTA.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

PLTA adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan air sebagai energi


primernya. Pada dasarnya energi air yang dimanfaatkan tersebut adalah
energi potensial , yaitu energi yang berdasarkan pada perbedaan ketinggian.
Energi potensial tersebut akan timbul jika air mengalir dari tempat yang
tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Energi aliran air tersebut dapat
dimanfaatkan untuk memutar turbin air yang dihubungkan dengan sebuah
generator listrik. Putaran generator tersebut selanjutnya diubah menjadi
energi listrik.

Untuk dapat memahami proses perubahan dari energi potensial air menjadi
energi listrik yang berlangsung pada suatu PLTA, berikut kita lihat suatu
gambar skematik yang memperlihatkan susunan bangunan, khususnya
saluran air (waterway) pada suatu PLTA. Dalam hal ini penulis mengambil
contoh

saluran air pada

PLTA

Musi. Sedangkan gambar selanjutnya

merupakan gambar potongan yang lebih rinci pembangkit listrik tenaga air
mulai dari bendungan, pipa pesat, turbin, generator, trafo dan transmission
line.

Gambar skematik Waterway PLTA Musi dari Intake ke Reregulating Dam /


RRD
(sumber PLN Sektor Bengkulu)

Gambar potongan PLTA (sumber HowstuffWorks 2001)

Suatu PLTA biasanya dibangun pada suatu sungai yang mempunyai terjunan
air sehingga terdapat perbedaan ketinggian air antara bagian hulu sungai
dengan sebelah hilirnya. Semakin besar beda ketinggiannya maka akan
semakin besar energi listrik yang dapat dibangkitkan oleh PLTA tersebut.
Agar terdapat perbedaan ketinggian yang lebih besar pada suatu PLTA
biasanya dibuat waduk dengan cara membendung aliran sungai sehingga

elevasinya naik, waduk juga berfungsi untuk menampung dan menyimpan


air sehingga dapat dimanfaatkan pada musim kemarau dimana aliran air di
sungai tidak cukup untuk mengoperasikan PLTA.

Gambar Waduk PLTA Cirata

Waduk tersebut sebenarnya adalah sebuah danau yang dibuat dengan cara
membuat bendungan pada sungai. Dengan demikian jika PLTA tersebut
memanfaatkan air dari danau alam, maka tidak perlu lagi dibuat bendungan
atau waduk. Selanjutnya air yang tertampung pada waduk atau danau alam
dialirkan melewati pintu pengambilan air (intake) melewati saluran air.
Saluran air yang mendatar tersebut dapat berupa saluran terbuka (open
channel), maupun saluran tertutup (tunnel), jika merupakan saluran tertutup
disebut sebagai saluran tekan (headrace tunnel) selanjutnya dialirkan
melalui pipa pesat (penstock).

Sebelum melalui pipa pesat, air biasanya melewati bangunan yang disebut
tangki pendatar (surge tank) yang berfungsi sebagai pengaman pipa pesat
apabila terjadi perubahan tekanan secara tiba-tiba pada pipa pesat akibat
beroperasinya katup utama (inlet valve). Namun jika pipa pesat tidak terlalu
panjang seperti pada gambar kedua, maka tidak diperlukan tangki pendatar.
Setelah melewati pipa pesat, air masuk ke turbin air melalui katup utama
yang berfungsi untuk membuka dan menutup aliran air dari pipa pesat ke
turbin. Air tersebut memutar sudu-sudu turbin (runner) dan kembali ke
sungai melalui saluran pembuangan akhir (tailrace).

Poros turbin yang berputar tersebut dikopel dengan suatu generator


sehingga generator ikut berputar dan menghasilkan energi listrik pada
tegangan tertentu sesuai dengan generatornya. Selanjutnya tegangan
tersebut dinaikkan pada trafo utama (main transformer). Listrik yang telah
dinaikkan tegangannya oleh trafo utama tersebut disalurkan ke system
interkoneksi tenaga listrik melalui suatu gardu induk (sub-station).

Besar energi yang dapat dibangkitkan pada pembangkit listrik tenaga air
ditentukan oleh 2 (dua) faktor, yaitu :
1.

Beda ketinggian antara bagian atas aliran air sebelum masuk pipa

pesat dengan ketinggian air saat keluar pipa pesat, atau lazim disebut
sebagai Head.
2.

Debit aliran air yang mengalir melalui pipa pesat dan menggerakkan

turbin

Dengan

demikian

untuk

mengetahui

besar

daya

listrik

yang

dapat

dihasilkan dari sebuah sungai atau saluran, maka diperlukan data besar laju
aliran air serta head yang tersedia dari sungai tersebut. Debit atau laju aliran
air adalah besar air (dalam m3 atau liter) yang mengalir per satuan waktu
tertentu pada cross section dari sungai. Laju aliran air tersebut biasanya
diukur dalam meter kubik per detik (m3/s) atau liter per detik (l/s).

Sedangkan yang dimaksud dengan head atau tinggi jatuh adalah perbedaan
ketinggian (level) air antara reservoir atas (sebelum masuk pipa pesat)
dengan ketinggian tempat terletaknya turbin air.

Disamping faktor Head dan Debit tersebut di atas, maka yang tak kalah
pentingnya dalam menentukan besar daya yang akan dihasilkan oleh sebuah
pembangkit listrik tenaga air adalah faktor efisiensi. Efisiensi tersebut
merupakan perkalian dari efisiensi komponen-komponen yang dipakai pada
seuatu pembangkit listrik tenaga air, yaitu mencakup efisiensi laju aliran air
pada pipa pesat, efisiensi turbin, efisiensi sistem transmisi mekanik, efisiensi
generator, transformer dan sistem transmisi energi listrik.

Daya teoritis (P) yang dapat dihasilkan oleh laju aliran air dan ketinggian
tertentu berbanding lurus (proporsional) dengan head H dan laju aliran (Q),
sebagai berikut :

P = x g x Q x H x
dimana

:
P

= daya yang dihasilkan

= berat jenis air

= percepatan gravitasi

Q =

debit aliran air

( kW )
( kg / m3 )
( m / s2 )
( m3 /s )

Sebagai

= tinggi jatuh, head

(m)

= efisiensi total

contoh

dari

penggunaan

rumus

tersebut

dapat

kita

coba

menghitung daya PLTA Saguling yang terdiri dari 4 turbin dengan kapasitas
masing-masingnya 178,8 Mega Watt.

Dari brosur yang ada tercantum bahwa PLTA Saguling mempunyai Head
normal sebesar 355,7 meter dan debit pada Head normal sebesar 4 x 54,8
m3/detik.

Jika kita masukkan pada rumus di atas, maka kita akan peroleh angka
sebagai berikut :

178.800 kW = 9,8 x 1 x 54,8 x 355,7 x

Sehingga kita peroleh besar efisiensi

= 93,60 %

Angka 93, 60 % tersebut merupakan angka yang normal yang cukup baik
dari efisiensi turbin Francis pada suatu PLTA. Hal yang sama dapat kita
lakukan untuk PLTA-PLTA yang lain, yaitu dengan cara memasukkan data

kapasitas daya, debit dan head pada rumus di atas, sehingga diperoleh
besar efisiensi total.