Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH SEMANTIK

POLISEMI DAN
HOMONIMI

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
JURUSAN S2 BAHASA ASING
KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG

Makalah disusun untuk presentasi matakuliah Semantik yang diampu


oleh
Prof. Dr. Djojok Supardjo dan Dr.Didik Nurhadi M.Pd., M.A

OLEH
WINARTO RAHARJO
(NIM 157835025)
2015
KEGANDAAN MAKNA
PENDAHULUAN
Salah satu cabang ilmu Linguistik yang menyangkut tentang studi makna kata adalah
Semantik. Semantik berasal dari bahasa yunani: semantikos yang berarti, tanda atau
memberikan tanda. Semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti
dan merupakan satu dari tiga jenis analisis bahasa: fonologi, gramatika dan semantik. Dalam

menganalisis semantik, seseorang harus menyadari bahwa bahasa itu bersifat unik dan
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya.
Seluruh makna yang terkandung dalam bahasa sering berhubungan satu sama lain.
Relasi makna dapat berwujud macam-macam. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin
menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna
(polisemi), ketercakupan makna (hiponim), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna
(redundasi), dan sebagainya. Pada makalah ini, hanya akan membahas tentang polisemi dan
himonimi.
A.

POLISEMI
Istilah polisemi (Inggris: polysemy) berasal dari bahasa Yunani poly banyak

+ sema tanda, lambang. Tanda atau lambang bahasa yang bermakna banyak. Polisemi
adalah kata-kata yang megandung makna lebih dari satu, tetapi makna itu masih berhubungan
dengan makna dasarnya.
Polisemi merupakan unsur fundamental tutur manusia yang dapat muncul dengan
berbagai cara. Disini akan dikemukakan lima sumber yang empat diantaranya terletak pada
bahasa yang bersangkutan dan yang satu lagi muncul dari pengaruh bahasa asing.
1) Pergeseran Penggunaan
Sebagian besar dari makna sebuah kata muncul karena pergeseran penggunaan
(pengaplikasian). Walaupun faktor lain seperti penggunaan kias ikut berperan
didalamnya.
Contoh : Makan
Kata makan semula hanya dipakai untuk manusia dan binatang, itupun dengan cara dan
proses yang berbeda-beda (bandingkan cara makan manusia, ayam, bebek, cacing,
buaya). Karena faktor kias, verba itu kadang dipakai untuk benda. Jarinya dimakan
mesin; dan pada manusia dengan makna yang berbeda : seorang bapak makan anak
tirinya sendiri.
Kata yang asalnya dipakai untuk benda-benda yang masuk ke mulut dan perut dipakai
juga untuk benda-benda yang tidak demikian. Misalnya, makan suap, makan angin,
makan hati, makan asam garam.
2) Spesialisasi dalam lingkungan social
Michel Breal mengemukakan bahwa dalam setiap situasi, dalam setiap lingkungan
dagang dan profesi, ada suatu gagasan tertentu yang selalu hadir dalam benak seseorang,

Polisemi dan Homonimi

Page 1

begitu jelasnya sehingga tampak tidak perlu lagi dinyatakan jika orang itu sedang
bertutur. Bagi seorang dokter, kata operasi menghadirkan dalam benaknya hal-hal seperti
penyakit, ruang dan pisau bedah. Namun bagi seorang polisi akan menghadirkan surat
kendaraan bermotor, helm, kelengkapan kendaraan dan lain sebagainya. Bagi seorang
pencopet atau pencuri kata itu mengacu kepada prilaku mereka dalam melakukan
kejahatan.
3) Bahasa Figuratif (Kiasan)
Sebuah kata dapat diberi dua atau lebih pengertian yang bersifat figuratif tanpa
menghilangkan makna orisinalnya, makna yang lama dan baru tetap berdampingan
sepanjang tidak ada kekacauan makna.
Contoh : mata
Kata mata bisa misalnya dapat dipakai untuk lingkup yang sangat luas disamping
acuannya pada organ tubuh. Seperti mata jarum, mata pisau, mata pencarian dan lain
sebagainya.
Kata ini juga bisa diterapka pada hal-hal abstrak yang lain seperti mata pelajaran, mata
duitan,atau yang lebih abstrak lagi mata bathin.
4) Homonim-homonim yang diinterprestasikan kembali
Jika dua buah kata mempunyai bunyi yang identik dan mempunyai makna yang tidak
begitu berbeda, kita cenderung memandangnya sebagai dua kata dengan dua pengertian.
Namun hal ini diinterprestasikan sebagai polisemi oleh generasi yang lebih muda
dikarenakan faktor ketidaktahuan akan asal kata yang berhonomini tersebut. Jenis ini
memang sangat jarang dan cenderung meragukan. Menurut Bloomfield, tingkat
kedekatan makna bukanlah jaminan ukuran yang tepat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karya Poerwadarminta, polisemi ditunjukkan
dengan angka Arab (1,2,3) sedangkan Homonimi ditunjukkan dengan angka Romawi
besar.
Contoh untuk uraian ini adalah kata Kening (1) bulu diatas mata dan Kening (2) berarti
dahi
5) Pengaruh Asing
Masuknya pengaruh bahasa asing kedalam suatu bahasa adalah dengan mengubah makna
dari kata aslinya. Kadang-kadang makna pinjaman ini mendesak kata yang lama. Hal ini
bisa dilihat pada saat dimana bahasa Arab sangat berpengaruh terhadap bahasa melayu,
dan pada saat jaman penjajahan, bahasa Belanda sangat dominan, dan pada masa
sekarang bahasa Inggris , dan pada tingkat tertentu juga bahasa daerah, terutama bahasa
jawa. Salah satu contohnya adalah kata butir dengan makna baru sebagai padanan kata
Polisemi dan Homonimi

Page 2

item dalam bahasa Inggris sehingga muncullah polisemi baru. Kita sekarang bisa
berbicara tentang butir padi dan juga butir soal.

B.

HOMONIMI

B.1

Pengertian Homonimi
Homonim berasal dari bahasa Yunani, homos dan onuma. Homos berarti sejenis atau

sama dan Onuma artinya nama. Dalam ilmu bahasa, istilah tersebut diartikan sebagai katakata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.
Kata yang berhomonimi baru akan terlihat perbedaan maknanya dengan jelas bila
sudah digunakan dalam kalimat.
Marilah kita amati beberapa contoh kata berhomonimi dalam kalimat berikut ini.
Misalnya kata Tongkol
1. Karena musim penghujan dan ombak meninggi, pelaut jarang melaut sehingga harga
Tongkol di pasar ikan saat ini menjadi mahal.
2. Untuk menghindari harga jagung yang anjlok di pasaran, maka para petani banyak
yang memipil jagungnya dengan cara memisahkan tongkol dengan jagung nya.
Kata tongkol pada contoh di atas, memiliki dua arti, yaitu ikan laut dan arti lainnya
adalah tempat butiran jagung melekat. Bila kita cermati kata tongkol mempunyai penulisan
yang sama tetapi memiliki dua arti yang berbeda.
Homonimi dalam bahasa Jepang juga bisa kita temukan. Bila dituliskan menggunakan
huruf Hiragana, banyak kata bahasa jepang yang berhomonimi. Misalnya kata (hashi).
Perhatikanlah contoh kalimat berikut ini.
1.
Suzuki san wa hashi de ramen o tabemasu.
(Suzuki makan mie ramen menggunakan sumpit)
2.
Suzuki san wa hashi o watarimasu.
(Suzuki menyebrang jembatan)

Polisemi dan Homonimi

Page 3

Kata hashi bila dituliskan dalam Hiragana memiliki lebih dari 2 makna, yaitu sumpit untuk
makan dan jembatan.
Homonimi tidak saja terjadi pada tataran kata saja, tetapi juga bisa terjadi pada tataran
morfem dan juga tataran kalimat. Kita sudah membicarakan Homonimi dalam tataran kata.
Dalam tataran morfem, misalnya morfem terikat nya. Perhatikan contoh kalimat berikut ini
1. Kemarin saya lupa membawa jaket, karena ruang kuliah dingin maka saya pinjam
jaketnya.
2. Lia, helmnya kamu taruh di mana?
Pada kalimat nomer 1 (satu), morfem nya, mengacu pada kata ganti orang.
Sementara morfem nya pada kalimat nomer 2 (dua) mengacu pada benda.
B.2

Sumber Homonimi
Menurut Ullman dalam Sumarsono menjelaskan bahwa banyaknya kata asing

yang masuk ke dalam suatu bahasa sangat mungkin menimbulkan homonimi dalam bahasa
Inggris dan bahasa-bahasa lainnya (2009:229). Maksudnya, Homonimi yang terjadi
dalam suatu bahasa sering dipengaruhi oleh adanya pengaruh bahasa asing lainnya.
Pengaruh bahasa asing membentuk homonimi dengan 2 (dua) cara, yaitu:
1. Mengkonvergennya perkembangan bunyi.
Menurut Ullman dalam Sumarsono menyebutkan bahwa
Manakala sebuah kata pinjaman menjadi kokoh mapan dalam
lingkungan baru, maka ia akan disesuaikan bunyinya dengan bahasa
baru itu, dan karenanya mengalami perubahan bunyi yang normal.
Lalu kata ini menjadi serupa dengan kata lain dalam bahasa yang
meminjam itu. (2009:229)
Misalnya kata buku yang berarti tulang sendi, menjadi homonym dengan kata
buku yang berarti kitab, yang asalnya dari kata bahasa Belanda boek. Kata boek,
disesuaikan dengan system bunyi bahasa Indonesia yang akhirnya dilafalkan
sebagai buku.
2. Peminjaman Makna (semantic borrowing)
Pengaruh bahasa asing dapat juga membawa ke arah homonimi lewat peminjaman
makna (semantic borrowing). Ini memang proses yang jarang terjadi. Dalam
bahasa Indonesia kata butir barang yang kecil-kecil (butir-butir pasir) atau kata
bantu bilangan (sebutir kelapa), sekarang juga dipakai untuk mengacu konsep
terhadap kata yang berasal dari bahasa Inggris, item (butir tes).
B.3

Benturan-benturan dalam Homonimi

Polisemi dan Homonimi

Page 4

Benturan dalam homonimi maksudnya adalah dua buah homonim yang maknanya
sangat jauh berbeda dapat saja muncul dalam suatu ujaran. Misalnya homonym antara son
dan sun. Ada seorang ibu yang bertanya pada putrinya yang sedang bermain boneka.
Ibu
Anak

: is the doll your son?


:No, that is my Sun (sambil menunjuk matahari yang di langit)

Untuk menghindarkan benturan dalam homonimi maka diperlukan penangkal khusus


untuk menanggulangi benturan homonimi, yaitu
1. Banyak Homonimi yang terjadi pada teori saja. Dalam prakteknya ternyata tidak ada
resiko akan adanya kerancuan makna, karena kedua kata yang berhomonimi tersebut
termasuk ke dalam kelas kata atau jenis kata yang berbeda.
Dalam bahasa Indonesia ada beberapa homonym yang anggotanya dari jenis kata
yang berbeda, misalnya nomina bisa (racun) dan adverbial bisa (dapat)
2. Dalam bahasa yang mempunyai penanda jenis atau gender, secara gramatikal orang
bisa membedakan homonimi yang beranggotakan nomina.
Misalnya dalam bahasa Perancis, misalnya kata le vase (vas) dan la vase (lumpur).
Dalam bahasa Jerman, misalnya kata der Kiefer (rahang) dan die Kiefer (pohon den).
Perhatikanlah perbedaan penanda gender (le dan la dalam bahasa Perancis. Dan der
dan die dalam bahasa Jerman).
3. Homonim yang termasuk dalam jenis kata yang sama, kadang-kadang dapat
dibedakan dengan infleksi (bentuk jamak).
Misalnya dalam bahasa Inggris to ring (membuat lingkaran atau cincin) yang
berbentuk jamak ringed dengan to ring (menelpon) membunyikan telpon atau
membunyikan bel, yang bentuk jamaknya adalah rang.
Sementara dalam bahasa Indonesia tidak kita temukan infleksi. Untuk menghindari
benturan homonym, kita bisa menambahkan imbuhan untuk membedakannya.
Misalnya bisa (racun) dapat ditambahkan imbuhan ber, menjadi berbisa. Tetapi
untuk kata bisa (dapat) tidak dapat diberi imbuhan.
4. Kadang-kadang kata majemuk atau frase-frase tertentu dibentuk untuk menunjukkan
mana diantara kedua homonimi.
Misalny kata dalam bahasa Inggris left-hand corner (sudut sebelah kiri), dipakai
untuk memperbaiki keambiguan dari kata yang tercetak miring lef-hand.
5. Dalam bahasa yang mempunyai tulisan non-fonetis, ejaan sering bisa menolong
membedakan kata-kata yang bunyinya identik.
Polisemi dan Homonimi

Page 5

Misalnya dalam bahasa Indonesia misalnya kata bang dan bank. Kedua kata ini
homonym, tetapi akan bisa dikurangi keambiguannya bila dituliskan. Contoh lainnya
adalah kata sah (resmi) yang berhomonimi dengan kata syah yang berarti raja).
6. Dalam beberapa hal, suatu kesulitan dapat dipecahkan dengan mengubah bentuk kata
yang berhomonimi. Contohnya dalam bahasa Indonesia kata panggul berubah
menjadi pinggul.
Jika dengan semua penangkal yang telah dijelaskan sebelumnya, benturan homonimi
masih saja terjadi, maka hasilnya akan lebih serius daripda konflik-konflik yang terjadi dalam
polisemi. dalam bentuk homonimis, satu kata bertabrakan dengan kata lainnya dan tidak
dapat dipisahkan oleh perabot fonetik atau perabot gramatikal maka salah satu atau kadang
kedua kata tersebut akan lenyap dan digeser dalam penggunaannya.
Kesenjangan atau hilangnya kata yang disebabkan oleh lenyapnya sebuah homonimi
dapat diisi dengan cara:
1. Diganti dengan bentuk derivative.
Misalnya dalam bahasa Perancis, kata clavis (kunci) dan clavus (jarum). Untuk
menghindari keambiguan kata yang berarti jarum diganti dengan clavel, dari kata
clavellus, yaitu bentuk diminutive (pengecilan) dari clavus.
2. Tempat yang diisi oleh sebuah homonym dapat dikosongkan kemudian diisi oleh
sinonim dari kata tersebut.
Misalnya dalam bahasa Indonesia, kata kali (waktu), kali (kelipatan) dan kali (sungai),
sebenarnya dapat dihindari dengan memakai kata waktu untuk kali yang pertama, dan
sungai untuk kali yang ketiga.
3.

Diganti oleh sebuah kata yang menunjukkan aspek khusus dari kata yang diganti.
4. Mengisi kesenjangan dengan istilah atau kata yang termasuk dalam alam pikiran
(spare of though) yang sama.

5.

Memungut kata dari bahasa asing untuk menggantikan kata yang lenyap.
6. Jika salah satu homonimi mempunyai makna yang tidak mengenakkan maka kata itu
akan disingkirkan dan diganti dengan kata yang menghaluskan (eufemisme)
C.

KEGANDAAN MAKNA SEBAGAI PERABOT GAYA


Sebagai bagian dari bahasa, Polisemi dan Homonimi merupakan sumber yang subur

yang sering digunakan dalam gaya bahasa dalam karya sastra. Misalnya digunakan untuk
menimbulkan kesan kejenakaan dan sindirian.

Polisemi dan Homonimi

Page 6

Sindiran atau kejenakaan yang didasarkan pada Polisemi secara keseluruhan lebih
menarik daripada yang didasarkan pada homonimi, karena di sana ada benang halus
permainan makna ketimbang persamaan bunyi yang terjadi secara kebetulan.
Permainan kata yang bersifat homonimi bekerja dengan cara yang hampir sama
dengan yang bersifat polisemi. Banyak contoh dari kedua jenis ini dapat ditemukan pada
karya-karya Shakespere. Sindiran yang implisit dalam karya Shakespere sarat dengan
signifikansi sinis.
Misalnya dalam karya Shakespere yang berjudul Macbeth, ada permainan kata yang cukup
keras atas homonimi dear (adik) dan deer (kijang), yang dianggap aneh oleh pembaca
modern, tetapi sangat wajar bagi pembaca zaman itu.
your castle is surprisd; your wife and babes
savagely slaughterd. To relate the manner
Were, on the quarry of these murderd deer,
To add the death of you
Membuat sindiran atau kejenakaan seperti perabot gaya, sangat sering dilakukan para
sastrawan di zaman Elizabethan. Hal ini menimbulkan pro dan kontra dari banyak kritikus
sastra. Yang harus digarisbawahi adalah sindiran merupakan bentuk bercandaan yang paling
rendah.
Tetapi harus disadari bahwa permainan kata membawa unsur kemudahan dan
kelenturan dalam menangani bahasa dan dapat menyajikan suatu wahana untuk humor dan
ironi, emphasis dan kontras, alusi dan ejekan serta berbagai efek stilistika lainnya.
Berikut ini adalah contoh humor atau permainan kata yang menggunakan Polisemi
dan homonimi dalam bahasa Indonesia:
A
B
A

:
:
:

Di mana dia berkerja sekarang?


Di pusat. Kau, bagaimana?
Kau sendiri tau, saya sendiri tidak suka di pusat. Saya lebih suka di
bawah pusat

Dari dialog di atas, pendengar atau pembaca tidak dapat menangkap pornonya jika
dia tidak tahu bahwa yang dimaksud dengan pusat pada kalimat terakhir adalah pusat di
perut.
Dalam sastra sering kita jumpai polisemi, misalnya, sudah satu bulan saya berbulan
madu. Setiap malam saya duduk di beranda sambil mengamati bulan di langit. Sementara
disebelah saya duduk bulan yang lainnya.
Atau para sastrawan juga menggunakan homonimi dalam karyanya, misalnya
Dosa apa?
Polisemi dan Homonimi

Page 7

Bisa mendekam di dada


Mana bisa menyurut
Mana bisa menyusut
Sebelum ajal direnggut
Masing-masing pengarang mempunyai gaya bahasanya sendiri. Banyak pengarang
yang menggunakan gaya bahasa personifikasi, metafora, eufinisme dan sebagainya. Tetapi
tidak banyak pengarang yang menggunakan Polisemi dan Homonimi dalam karyanya.

KESIMPULAN

1. Polisemi adalah kata-kata yang megandung makna lebih dari satu, tetapi makna
itu masih berhubungan dengan makna dasarnya.
2. Homonim diartikan sebagai kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama,
tetapi memiliki makna yang berbeda. Polisemi berarti suatu kata yang memiliki
banyak makna.
3. Cara Membedakan Antara Homonim dan Polisemi adalah dengan cara
menetapkan kata itu berdasarkan etimologi atau pertalian historisnya. Dengan
mengetahui prinsip perluasan makna dari suatu makna dasar, salah satunya adalah
metafora, Makna-makna yang ada dalam polisemi meskipun berbeda tetapi dapat
dilacak secara etimologi dan semantik, bahwa makna-makna itu masih
mempunyai hubungan. Makna-makna dalam dua bentuk homonim tidak
mempunyai hubungan sama sekali.

Polisemi dan Homonimi

Page 8

4. Sebagai bagian dari bahasa Polisemi dan Homonimi merupakan sumber yang
subur yang sering digunakan dalam gaya bahasa dalam karya sastra. Misalnya
digunakan untuk menimbulkan kesan kejenakaan dan sindirian.
Banyak pengarang yang menggunakan gaya bahasa personifikasi, metafora,
eufinisme dan sebagainya. Tetapi tidak banyak pengarang yang menggunakan
Polisemi dan Homonimi dalam karyanya.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2099. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Gajah Mada
University Pres.

Sumarsono. 2009. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Polisemi dan Homonimi

Page 9