Anda di halaman 1dari 16

Acara III

SUSU KENTAL MANIS


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU

Disusun oleh:
Nama

: Irene Okthie Ratnasari

NIM

: 13.70.0142

Kelompok : A2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1. TOPIK DAN TUJUAN


1.1. Topik
Topik dari praktikum ini adalah susu kental manis. Susu kental manis adalah
produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan
sebagian besar air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan
tertentu, atau merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula,
dengan atau tanpa penambahan bahan lain
1.2. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan susu kental manis
dan karakteristik susu kental manis.

2. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan karakteristik dan kandungan gula susu kental manis dapat dilihat
pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik dan Kandungan Gula Susu Kental Manis


Kel
A1
A2
A3
A4
A5

Warna
++++
++
+++
+++
+++

Rasa
+++
+++
++++
++
++

Aroma
+++
+
++
++
+

Kekentalan
++++
++
+++
+
++

Kandungan gula (brix)


57,7
54,5
57,0
51,5
53,9

Keterangan:
Warna
+
: agak putih
++
: putih
+++
: putih kekuningan
++++ : kuning

Rasa
+
++
+++
++++

: kurang manis
: agak manis
: manis
: sangat manis

Aroma
+
++
+++
++++

Kekentalan
+
++
+++
++++

: kurang kental
: agak kental
: kental
: sangat kental

: aroma susu kurang kuat


: aroma susu agak kuat
: aroma susu kuat
: aroma susu sangat kuat

Dari tabel hasil pengamatan tersebut susu kental manis dari kelompok A1, A2, dan A3
mengalami penambahan gula pada tahap awal sedangkan kelompok A4 dan A5
mengalami penambahan gula pada tahap akhir. Dengan penambahan gula sebelum
evaporasi, kelompok A1 menghasilkan kuning, kelompok A2 menghasilkan warna
putih, sedangkan pada kelompok A3 menghasilkan warna putih kekuningan. Dengan
penambahan gula di akhir evaporasi, kelompok A4 dan A5 menghasilkan warna putih
kekuningan. Rasa susu kental manis yang dihasilkan kelompok A1 dan A2 adalah
manis, kelompok A3 rasa yang dihasilkan sangat manis, sedangkan kelompok A4 dan
A5 menghasilkan rasa yang agak manis. Aroma susu yang kuat diperoleh oleh
kelompok A1. Aroma susu yang agak kuat diperoleh oleh kelompok A3 dan A4.
Sedangkan kelompok A2 dan A5 menghasilkan aroma susu yang kurang kuat. Tingkat
kekentalan susu tertinggi ada pada kelompok A1, kelompok A3 menghasilkan susu
yang kental, kelompok A2 dan A5 menghasilkan susu yang agak kental, sedangkan
kelompok A4 menghasilkan susu yang kurang kental. Secara keseluruhan, kandungan

gula berkisar antara 51,5-57,7Brix. Kandungan gula tertinggi pada kelompok A1 yaitu
57,7Brix sedangkan yang terendah ada pada kelompok A4 yakni 51,5Brix .

3.

PEMBAHASAN

Susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan
menghilangkan sebagian besar air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat
kepekatan tertentu, atau merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan
gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain (Utami,2009). Ditambahkan pula oleh
Koswara (2009) susu kental manis dapat ditambah lemak nabati dan vitamin. Susu
kental manis dapat juga tidak dari susu segar atau susu evaporasi, yang disebut susu
kental manis rekonstitusi. Susu kental manis rekonstitusi terbuat dari bahan-bahan
seperti susu bubuk skim, air, gula, lemak, vitamin dan lain-lain, sehingga diperoleh susu
dengan kekentalan tertentu. Tahap-tahap pembuatan SKM dengan cara rekonstitusi
meliputi

pancampuran

bahan-bahan,

penyaringan,

homogenisasi,

pasteuriasi,

pengentalan dan pengalengan.


Menurut Olaoye (2015) dalam jurnal A study on quality parameters and shelf stability
of sweetened condensed vegetable milks produced from four varieties of soybeans
(Glycine max) dikatakan bahwa susu kental manis merupakan salah satu cara untuk
mengawetkan susu sehingga susu dapat bertahan lama karena kadar air yang berkurang
dan kadar gula yang tinggi. Berdasarkan United Kingdom Condensed Milk and Dried
Milk Regulations, susu kental manis yang baik mengandung minimal 31% padatan susu
dan 9% lemak (Ranken & Kill, 1993). Berdasarkan SNI 01-2971-1998, syarat mutu
susu kental manis yang baik memiliki bau dan rasa yang normal, warna susu putih
hingga kekuningan, dan konsistensi susu yang kental dan homogen. Kadar air susu
kental manis sebanyak 20-30%. Susu kental manis mengandung abu sekitar 1,4-2,2%,
lemak minimal 8%, protein berkisar 7-10%, kandungan laktosa minimal 10%, dan
mengandung sakarosa (gula) sebanyak 43-48%. Susu kental manis tidak mengandung
bahan pengawet, bahan pewarna, pemanis buatan, mikroorganisme (kapang, khamir,
dan bakteri), serta logam berbahaya. Akan tetapi dibalik semua kelebihan yang terdapat
pada susu kental manis, menurut Kalinina et al (2014) dalam jurnal Investigation of
viscosity of whole hydrolyze sweetened condensed milk, untuk sebagian orang yang
mengidap lactose intolerant tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi susu kental
manis karena mereka kandungan laktosa yang cukup tinggi. Sehingga dibutuhkan enzim

dalam pembuatan susu kental manis yang dapat mengubah bentuk disakarida laktosa
menjadi monosakarida (glukosa dan galaktosa).

3.1. Pembuatan Susu Kental Manis


Menurut Arni (1992), tahap-tahap proses pengolahan susu kental manis meliputi
persiapan bahan baku, pencampuran, penyaringan, homogenisasi, pasteurisasi, deaerasi,
pendinginan, penyimpanan dan pengalengan. Ditambahkan pula oleh Castilho & Filho
(2010) dalam jurnal The history of infant nutrition bahwa pada proses pembuatan
susu kental manis terdapat 2 tahap utama yang penting dilakukan yakni proses
pemanasan untuk menghilangkan sebagian air serta proses penambahan gula, sehingga
produk susu kental manis yang dihasilkan steril serta tidak dapat digunakan untuk
pertumbuhan mikroorganisme karena sifat hyperosmolarity akan menghambat
pertumbuhan mikroba. Pada pembuatan susu kental manis dalam praktikum ini
digunakan 215 ml susu full cream dan 45 g gula pasir. Susu full cream adalah susu
dengan kandungan lemak yang tinggi. Susu

full cream diproduksi dengan cara

sentrifugasi susu segar hingga diperoleh bagian cream dan skim. Kemudian dilakukan
standarisasi untuk memperoleh susu dengan kandungan lemak tertentu. Susu kemudian
dihomogenisasi agar krimnya merata dan stabil (Robinson, 2002).

Tahap pertama yang dilakukan adalah untuk kelompok A1-A3, 45 gram gula pasir
ditambahkan ke dalam 215 ml susu diawal sebelum dilakukan proses pemanasan,
setelah itu dilakukan proses pemanasan pada suhu 80C sambil terus diaduk.
Pemanasan dilakukan hingga volume susu mencapai separuh dari volume awal (50% air
teruapkan) yakni 100 ml. Untuk mengecek volume dilakukan dengan cara menuang
susu ke dalam gelas ukur. Jika volume susu belum mencapai separuh dari volume awal,
susu kembali dipanaskan. Besaran api harus dijaga agar suhu tetap terjaga konstan yakni
800C. Kemudian untuk kelompok A4 dan A5 proses yang dilakukan hampir sama
dengan kloter lainnya, hanya saja penambahan 45 gram gula pasir dilakukan ketika
volume susu saat dipanaskan mencapai 120 ml. Kemudian dilakukan pemanasan
kembali hingga volume susu mencapai 100 ml.

Pemanasan yang dilakukan yakni pada suhu 80oC berfungsi untuk proses pasteurisasi,
inaktivasi enzim, modifikasi protein dan lemak susu, serta untuk mengevaporasi
kandungan air pada susu. Ditambahkan pula oleh Van Den Berg (1990) bahwa
pemanasan harus dilakukan pada suhu 80C dan tidak boleh sampai mendidih, hal ini
dikarenakan pre-heating pada suhu di atas 100C dapat berakibat pada penurunan
kemampuan susu untuk mengental. Dengan melakukan pemanasan pada suhu 80oC,
mikroorganisme patogen, pembusuk, dan kapang dapat dihambat pertumbuhannya.
Selain itu dapat terjadi inaktivasi enzim seperti jenis enzim lipase dan enzim proteolitik
(protease) sehingga protein dan lemak susu akan termodifikasi menjadi lebih stabil. Hal
ini dapat meningkatkan kestabilan koagulasi susu terhadap panas. Pengadukan yang
dilakukan selama proses pemanasan bertujuan untuk mencegah pemecahan krim pada
susu (Early, 1998). Selain berperan dalam proses pasteurisasi, suhu 800c digunakan pula
untuk proses evaporasi. Evaporasi untuk menghasilkan susu kental manis dilakukan
pada suhu 60C-80C. Proses evaporasi akan menurunkan kadar air pada susu. Dalam
pembuatan susu kental manis, kadar air harus diturunkan hingga mencapai standar
tertentu sesuai dengan jumlah total padatan akhir yang diinginkan. Proses evaporasi
akan akan meningkatkan viskositas pada produk (Syarif & Harianto, 2011).

Kemudian, susu kental manis

yang telah berkurang volumenya menjadi 100 ml

diletakkan di dalam wadah stainless steel yang ditempatkan di atas air es (suhu air es
sekitar 25C) sambil tetap diaduk. Hal ini untuk menghindari pembentukan kristal
laktosa. Menurut Ozer & Evrendilek (2014), setelah dilakukan evaporasi, susu
didinginkan hingga suhunya di bawah 30C (cooling) sambil terus diaduk. Penggunaan
suhu di bawah 30C karena pada suhu tersebut, kristal laktosa mengalami supersaturasi.
Hal ini akan menghasilkan warna susu kental manis yang keruh mengkilap. Pengadukan
dapat mencegah terjadinya pengendapan kristal laktosa. Semakin banyak jumlah kristal
yang mengendap, akan tercipta tekstur susu kental manis yang kasar karena
terbentuknya kristal gula yang besar. Selain dapat dilakukan penambahan kristal
laktosa, untuk mencegah terbentuknya kristal laktosa yang besar, maka dapat
ditambahkan seed lactose pada awal proses pendinginan (seeding). Akan tetapi pada
praktikum

ini

tidak

dilakukan

penambahan

biji

laktosa

tersebut.

Setelah susu kental manis terbentuk, dilakukan pengamatan karakteristik fisik susu
(warna, rasa, aroma, dan kekentalan) serta kandungan gula dengan menggunakan alat
refraktometer. Refraktometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur jatuhnya
sinar bias. Sinar yang masuk akan dibiaskan ketika melalui perbedaan medium.
Berdasarkan prinsip kerjanya, refraktometer dapat digunakan untuk mengukur jumlah
padatan pada suatu sampel cair (Arpah,1993). Pada praktikum kali ini refraktometer
digunakan untuk mengukur kandungan gula pada susu kental manis.

3.2. Uji Karakteristik Fisik dan Kandungan Gula Susu Kental Manis
Pada hasil pengamatan tabel 1, terdapat 5 parameter utama pengamatan yakni warna,
rasa, aroma, kekentalan, dan kandungan brix. Parameter pertama adalah warna.
Berdasarkan hasil pengamatan, dengan penambahan gula diawal, kelompok A1
memiliki warna kuning, kelompok A2 menghasilkan warna putih, sedangkan pada
kelompok A3 menghasilkan warna putih kekuningan. Warna susu kental manis yang
putih kekuningan hingga berwarna kuning ini dapat terjadi akibat terjadinya reaksi
Maillard selama proses evaporasi. Hal ini karena penambahan gula dilakukan di awal
proses evaporasi. Menurut Asaduzzaman et al (2007), penambahan gula di awal atau di
tengah proses evaporasi

memiliki kelemahan yaitu dapat memicu terjadinya

pencoklatan akibat reaksi Maillard. Reaksi Maillard selama proses evaporasi dapat
menyebabkan warna susu kental manis menjadi kecoklatan. Ditambahkan pula oleh
Krupa et al (2011) dalam jurnal Synergy of dairy with non-dairy Ingredients or
product, SKM dapat menciptakan flavor karamel serta warna kecoklatan yang bersifat
stabil karena kadar air yang rendah dan adanya penambahan gula. Akan tetapi pada
kelompok A2 justru warna yang dihasilkan putih, hal ini tentu tidak sesuai dengan teori.
Faktor yang menyebabkan yakni karena pengamatan yang dilakukan tidak bersifat
kuantitatif karena menggunakan panelis yang memiliki kemungkinan kesalahan dalam
mengidentifikasi warna dari susu.

Perbedaan waktu penambahan gula berfungsi untuk membandingkan kualitas susu


kental manis yang dihasilkan dengan pemberian gula sebelum dan di akhir evaporasi.
Akan tetapi penambahan gula sebaiknya dilakukan di akhir evaporasi. Menurut
Asaduzzaman et al (2007), penambahan sirup gula kental di tengah proses evaporasi

atau penambahan gula di bagian akhir proses evaporasi akan meminimalkan terjadinya
reaksi Maillard karena gula tidak akan terkena panas dalam waktu yang lama jika
dibandingkan dengan gula yang ditambahkan di awal evaporasi. Hal ini tidak sesuai
dengan hasil yang diperoleh dimana warna susu kental manis dengan penambahan gula
di akhir relatif berwarna putih kekuningan yakni pada kelompok A4 dan A5.
Seharusnya warna yang dihasilkan adalah agak putih atau putih. Perbedaan hasil ini
dapat disebabkan karena warna gula sebelum dimasukkan mungkin berwarna kuning
sehingga menghasilkan susu yang berwarna kuning pula, selain itu dapat pula
disebabkan suhu yang digunakan mungkin melebihi 800C setelah gula dimasukkan ke
dalam susu. Suhu yang tinggi ini dapat mempercepat proses terjadinya reaksi maillard
dari gula yang ditambahkan di akhir. Berdasarkan SNI 01-2971-1998 yaitu syarat mutu
susu kental manis yang baik memiliki warna susu putih hingga kekuningan.Berdasarkan
hasil pengamatan disemua kelompok, semua susu kental manis yang dihasilkan seluruh
kelompok sudah sesuai dengan standar SNI tersebut karena kisaran warnanya putih
tulang hingga putih kekuningan.

Parameter kedua adalah rasa. Rasa susu kental manis yang dihasilkan seluruh kelompok
adalah manis dengan tingkat kemanisan yang berbeda-beda, pada kelompok A1 dan A2
rasa yang dihasilkan adalah manis, kelompok A3 memiliki rasa sangat manis,
sedangkan kelompok A4 dan A5 memiliki rasa agak manis. Penambahan gula yang
dilakukan pada pembuatan susu kental manis akan menghasilkan rasa dan aroma manis
seperti karamel. Meskipun gula ditambahkan pada bagian akhir evaporasi, gula akan
terpapar suhu panas pada susu sehingga mulai terjadi reaksi Maillard, meskipun
pencoklatan belum terjadi. Reaksi Maillard akan terjadi ketika protein dan gula
dipanaskan. Hasil dari reaksi Maillard adalah aroma dan rasa manis karamel yang khas
dan kuat serta diikuti perubahan warna menjadi kecoklatan (Pennington & Baker,
1990). Sehingga hasil yang didapat ini telah sesuai dengan teori tersebut.

Pada kelompok A2, meskipun warna susu kental manis putih, tetapi rasanya manis.
Seharusnya warna kekuningan akan diikuti dengan rasa yang manis. Berdasarkan teori
Pennington & Baker (1990) yang menyatakan bahwa hasil dari reaksi Maillard adalah
aroma dan rasa manis karamel yang khas dan kuat serta diikuti perubahan warna

10

menjadi kecoklatan. Hasil yang diperoleh ini tidak sesuai dengan teori tersebut.
Seharusnya rasa manis yang dihasilkan tidak kuat. Jika dilihat dari aromanya, aroma
susu yang dihasilkan kurang kuat, kekentalannya agak kental, dan kandungan gulanya
rendah yakni 54,5Brix. Sedangkan pada kelompok A1 yang menggunakan
penambahan gula di awal, warna yang dihasilkan kuning dengan rasa yang manis pula
sama seperti A2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi kesalahan panelis dalam
mengidentifikasi karakteristik sensori rasa pada kelompok A2.

Parameter ketiga adalah aroma. Aroma susu yang kuat diperoleh oleh kelompok A1.
Aroma susu yang agak kuat diperoleh oleh kelompok A3 dan A4. Kelompok A2 dan A5
menghasilkan aroma susu yang kurang kuat. Aroma susu kental manis sebenarnya
adalah perpaduan rasa manis dan susu. Aroma susu kental manis dipengaruhi oleh
waktu dan suhu evaporasi. Suhu evaporasi yang tinggi akan menghasilkan reaksi
Maillard karena pada susu juga sudah mengandung laktosa (Early, 1998). Menurut
Hasan et al (2015) dalam jurnal Physio-chemical evaluation of skimmed and
condensed milk of Buffalo, hasil akhir dari terjadinya reaksi maillard pada susu adalah
terbentuknya flavor karamel dimana flavor karamel yang terlalu kuat untuk beberapa
industri merupakan flavor yang tidak dikehendaki dalam susu kental manis. Hasil yang
diperoleh oleh semua kelompok dimana dihasilkan aroma susu walaupun dengan
tingkatan aroma yang berbeda-beda tetapi setidaknya masih terdapat aroma susu. Pada
kelompok A2 dan A5 aroma susu yang dihasilkan kurang kuat dapat disebabkan karena
suhu yang digunakan selama pemanasan tidak stabil atau terlalu tinggi sehingga
senyawa volatil pada susu yang berperan dalam pembentukan aroma menjadi
berkurang. Akan tetapi dengan adanya aroma susu dan adanya rasa manis menunjukkan
bahwa susu kental manis yang dihasilkan sudah sesuai dengan SNI. Menurut SNI 012971-1998, syarat mutu susu kental manis yang baik memiliki bau dan rasa yang
normal dan menurut Early (1998) aroma susu kental manis sebenarnya perpaduan rasa
manis dan susu yang khas.

Parameter pengujian fisik keempat adalah kekentalan. Tingkat kekentalan susu sangat
kental ada pada kelompok A1, kelompok A3 menghasilkan susu yang kental, kelompok
A2 dan A5 menghasilkan susu yang agak kental, sedangkan kelompok A4

11

menghasilkan susu yang kurang kental. Dihasilkannya susu kental manis dengan tingkat
kekentalan yang agak kental dan kurang kental dapat disebabkan karena kandungan
padatan dalam susu yang kurang atau tidak homogen sehingga kemungkinan pada
kelompok A2 mendapatkan susu dengan kandungan padatan yang kurang sehingga
sekalipun sudah dilakukan proses pemanasan akan tetapi tetap kurang/agak kental. Hasil
yang diperoleh pada kelompok A2,A4, dan A5 tidak sesuai dengan SNI sebab menurut
SNI 01-2971-1998, syarat mutu susu kental manis yang baik memiliki konsistensi yang
kental. Menurut Asaduzzaman et al (2007), kekentalan susu dipengaruhi proses
evaporasi susu. Semakin lama waktu dan tinggi suhu evaporasi, semakin banyak
kandungan air susu yang teruapkan sehingga dihasilkan susu yang kental dengan
kandungan bahan padatan seperti gula yang tinggi. Bahan padatan pada susu tergantung
dari komposisi awal susu.

Secara keseluruhan, kandungan gula berkisar antara 51,5-57,7Brix. Kandungan gula


tertinggi pada kelompok A1 yaitu 57,7C. Menurut Asaduzzaman et al (2007), semakin
lama waktu dan tinggi suhu evaporasi, semakin banyak kandungan air susu yang
teruapkan sehingga dihasilkan susu yang kental dengan kandungan bahan padatan
seperti gula yang tinggi. Bahan padatan pada susu tergantung dari komposisi awal susu.
Berdasarkan dasar teori tersebut, pada kelompok A1 evaporasi berjalan lebih lama
sehingga banyak kandungan air susu yang teruapkan dan dihasilkan susu dengan
kandungan bahan padatan seperti gula yang tinggi. Menurut Early (1998), dengan suhu
evaporasi yang tinggi dan waktu yang lama, warna susu semakin kekuningan karena
reaksi Maillard, rasa yang dihasilkan manis dan aromanya khas susu, kekentalan
meningkat, dan kandungan padatannya seperti gula relatif tinggi.

4. KESIMPULAN

Susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh
dengan menghilangkan sebagian besar air dari campuran susu dan gula hingga
mencapai tingkat kepekatan tertentu, atau merupakan hasil rekonstitusi susu
bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.

Susu kental manis yang baik mengandung minimal 31% padatan susu dan 9%
lemak.

2 tahap utama pada proses pembuatan susu kental manis yakni proses pemanasan
untuk menghilangkan sebagian air serta penambahan gula.

Warna susu kental manis yang putih kekuningan hingga berwarna kuning dapat
terjadi akibat terjadinya reaksi Maillard selama proses evaporasi.

Perbedaan waktu penambahan gula berfungsi untuk membandingkan kualitas susu


kental manis yang dihasilkan dengan pemberian gula sebelum dan di akhir
evaporasi,tetapi penambahan gula sebaiknya dilakukan di akhir evaporasi.

Penambahan sirup gula kental di tengah proses evaporasi atau penambahan gula
di bagian akhir proses evaporasi akan meminimalkan terjadinya reaksi Maillard
karena gula tidak akan terkena panas dalam waktu yang lama jika dibandingkan
dengan gula yang ditambahkan di awal evaporasi.

Hasil dari reaksi Maillard adalah aroma dan rasa manis karamel yang khas dan
kuat serta diikuti perubahan warna menjadi kecoklatan

Aroma susu kental manis dipengaruhi oleh waktu dan suhu evaporasi.

Semakin lama waktu dan tinggi suhu evaporasi, semakin banyak kandungan air
susu yang teruapkan sehingga dihasilkan susu yang kental dengan kandungan
bahan padatan seperti gula yang tinggi.

Semarang, 23 Mei 2016


Praktikan,

Asisten Dosen :
-Tjan,Ivanna Chandra

Irene Okthie Ratnasari


13.70.0142

12

5. DAFTAR PUSTAKA
Arni, Y. (1992). Penyehatan Lingkungan Industri Susu Kental Manis. Paper. Fakultas
Teknologi Pertanian IPB. Bogor.
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Asaduzzaman, M., M.Y. Miah, A.K.M.A. Mannan, M E. Haque, A. Ara, M.M.H.
Khan, M. Dawlatanae, and M. Rahime. (2007). A Study on the Quality of
Sweetened Condensed Milk Available in the Local Market of Bangladesh.
Bangladesh Journal Science and Industrial Research; 42(2): 147-156.
Badan Standarisasi Nasional Indonesia. (1998). SNI 01-2971-1998: Susu Kental Manis.
Castilho,S & Filho, Antonio. (2010). The history of infant nutrition. Journal de Pediatria
Volume 83 No 6. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Early, R. (1998). Technology of Dairy Products. Blackie Academic & Professional.
London.
Hassan, S. M., Khaskheli M., Shah, A. H., Shah M. G., Umer M., Nisha A. R., Tariq
M., Rahman A.. dan Khan M. S. (2015). Physio-chemical evaluation of skimmed
and condensed milk of Buffalo. Journal of Chemical and Pharmaceutical
Research, 7(2):698-707. www.jocpr.com. Diakses tanggal23 Mei 2016.
Kalinina,olena; Oleksandr Kovalenko; & Olga Kornilova. (2014). Investigation of
viscosity of whole hydrolyze sweetened condensed milk. Ukrainian Food Journal
Volume 3 Issue 2. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Koswara, S. (2009).Teknologi Pengolahan Yoghurt. E-book pangan Unimus.
tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/.../Teknologi-Pembuatan-Yoghurt.
pdf. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Krupa,M; Jana Atanu H; dan Patel H. G. (2011). Synergy of dairy with non-dairy
Ingredients or product:A review. African Journal of Food Science Vol. 5(16),.
Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Olaoye, O.(2015). A study on quality parameters and shelf stability of sweetened
condensed vegetable milks produced from four varieties of soybeans (Glycine
max). International Food Research Journal Volume 22 no 6.
http://www.ifrj.upm.edu.my Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Ozer, B. & G.A. Evrendilek. (2014). Dairy Microbiology and Biochemistry: Recent
Developments. CRC Press. Boca Raton Florida.
Pennington, N.L. and C.W. Baker. (1990). Sugar: User's Guide To Sucrose.Van
Nostrand
Reinhold.
New
York.

13

14

Ranken, M.D. and R.C. Kill. (1993). Food Industries Manual. Springer Science. New
York.
Robinson, R.K. (2002). Dairy Microbiology Handbook: The Microbiology of Milk and
Milk Products. 3rd Ed. John Wiley and Son, Inc. New York.
Syarif, E.K. and B. Harianto. (2011). Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Agro
Media Pustaka. Jakarta.
Utami, I. (2009). Pengolahan Produk Susu. Literatur Universitas Indonesia.
lib.ui.ac.id/file?file=digital/125768-S-5675-Hubungan%20antara-Literatur.pdf.
Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Van Den Berg, J.C.T. (1990). Evaporated and Condensed Milk. Ministry of Agriculture
and Fisheries.Netherlands.

6. LAMPIRAN

6.1. Tabel SNI Susu Kental Manis

15

16

6.2. Abstrak Jurnal


6.3. Laporan Sementara