Anda di halaman 1dari 18

Malaria

3.1.1. Definisi
Penyakit demam menular yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium, yang
merupakan parasit pada sel darah merah; malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles dan
ditandai adanya serangan menggigil, demam, dan berkeringat, yang terjadi pada interval yang
bergantung pada waktu yang diperlukan untuk berkembangnya generasi baru parasit di dalam
tubuh.

3.1.2. Geographical aspects


Distribution

P. falciparum paling sering di sub-Saharan Africa dan Melanesia (Papua New Guinea
dan Solomon Islands);

P. vivax terutama ditemukan di Central dan South America, North Africa, Middle East
dan Indian subcontinent;

P. ovale paling sering ditemukan di West Africa tetapi dapat juga di Asia; dan

P. malariae terjadi di seluruh dunia, walaupun paling banyak kasus terjadi di Africa.

Daerah dengan kasus malaria klinis tinggi dilaporkan dari Kawasan Timur Indonesia
antara lain dari provinsi Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi
1

Tenggara. Di Kawasan lain angka malaria dilaporkan masih cukup tinggi antara lain di
provinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Riau.
Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P.
vivax, sedangkan P. malariae dapat ditemukan di beberapa provinsi antara lain : Lampung,
Nusa Tenggara Timur dan Papua. P. ovale pernah ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan
Papua.
Epidemiology
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001, terdapat 15 juta kasus malaria
dengan 38.000 kematian setiap tahunnya.
Sejak lima tahun terakhir, angka kesakitan malaria meninjukkan penurunan. Di JawaBali Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2000 sebesar 0.81% turun menjadi 0.15%
pada tahun 2004. Untuk diluar Jawa-Bali, Annual Malaria Incidence (AMI) pada tahun 2000
sebesar 31.09% turun menjadi 20.57% pada tahun 2004.
Namun demikian, sejak 1997-2005 kejadian luar biasa (KLB) malaria masih sering
terjadi, dengan jumlah kasus 32.987 penderita dan 559 kematian akibat malaria. Case fatality
rate (CFR) malaria berat yang dilaporkan dari beberapa rumah sakit berkisar 10-50%.
The vector

Malaria ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk anopheline.

Transmisi malaria tidak dapat terjadi pada temperatur di bawah 16C atau di atas
33C, dan pada ketinggian lebih dari 2000 m di atas permukaan laut karena
perkembangan di dalam nyamuk (sporogony) tidak dapat terjadi.

Kondisi optimal untuk transmisi adalah kelembaban yang tinggi dan temperatur
lingkungan antara 20 dan 30C.

Malaria biasanya rainy season disease bersamaan dengan peningkatan banyaknya


nyamuk.

Meskipun curah hujan menyediakan tempat perkembangbiakan untuk nyamuk, curah


hujan yang terlalu berlebihan dapat menghanyutkan larva dan pupa nyamuk.

The human host

Endemicity malaria secara tradisional ditentukan dengan istilah spleen atau parasite
rates pada anak usia antara 2 dan 9 tahun.

Hypoendemic: spleen rate atau parasite rate 0-10%.

Mesoendemic: spleen atau parasite rate 10-50%.

Hyperendemic: spleen atau parasite rate 50-75% dan adult spleen rate juga tinggi.

Holoendemic: spleen atau parasite rate di atas 75%, dan adult spleen rate rendah.
Parasite rates pada tahun pertama kehidupan tinggi.

Clinical epidemiology

3.1.3. Etiology
3

Table 203-1 Characteristics of Plasmodium Species Infecting Humans

Finding for Indicated Species


Characteristic

P. falciparum

P. vivax

P. ovale

P. malariae

Duration of
5.5
intrahepatic phase
(days)

15

Number of
merozoites
released per
infected
hepatocyte

10,000

15,000

15,000

48

50

72

30,000

Duration of
48
erythrocytic cycle
(hours)
Red cell
preference

Younger cells Reticulocytes and Reticulocytes


(but can invade cells up to 2 weeks
cells of all
old
ages)

Older cells

Morphology

Usually only
ring formsa;
banana-shaped
gametocytes

Irregularly shaped
large rings and
trophozoites;
enlarged
erythrocytes;
Schffner's dots

Infected
erythrocytes,
enlarged and oval
with tufted ends;
Schffner's dots

Band or
rectangular
forms of
trophozoites
common

Pigment color

Black

Yellow-brown

Dark brown

Brown-black

Ability to cause
relapses

No

Yes

Yes

No

Parasitemias of >2% are suggestive of P. falciparum infection.

3.1.4. Faktor risiko

Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu
hamil, selain itu malaria secara langsung menurunkan produktivitas kerja.

3.1.5. Gambaran Klinis


Incubation period

Gejala prodromal berlangsung selama 2-3 hari dan gejala-gejalanya meliputi


headache, fatigue, anorexia, myalgia, slight fever, dan pain di chest, abdomen, atau joints.
Mixed infections
Infeksi bersamaan P. falciparum dengan P. vivax menurunkan risiko severe malaria
sebanyak empat kali, mengurangi derajat anemia, dan menurunkan P. falciparum gametocyte
carriage. Beberapa peneliti mengatakan bahwa P. vivax adalah vaksin malaria falciparum
yang paling baik saat ini.
Pyrogenic density

Parasitaemia yang menyebabkan terjadinya demam (>37,3C) disebut pyrogenic


density.

Beberapa pasien non-immune akan menjadi febrile sebelum parasit terlihat di dalam
apus darah (yaitu masa inkubasi lebih pendek daripada prepaten period), sedangkan
immune adults pada saat kejadian dapat tahan sampai 100.000 P. falciparum
parasites/l tanpa adanya demam.

Pyrogenic density untuk P. vivax secara umum lebih rendah daripada P. falciparum,
pada 76% kasus yang dilaporkan oleh Kitchen pyrogenic density nya < 100
parasites/l.

Ada kekurangan data untuk pyrogenic densities P. malariae, tetapi tampaknya lebih
tinggi daripada P. vivax; nilainya di atas 500/l ditemukan pada 38% dari kasusnya
Boyd.

Data terbatas untuk P. ovale, tetapi bukti yang tersedia menunjukkan pysogenic
density nya sama dengan P. vivax.

Pyrogenic density adalah penanda dari immunity. Pyrogenic densities yang tinggi
mengindikasikan premunition, dan risiko rendah dari penyakit yang parah.

Uncomplicated malaria

Classical malaria fever charts, dan teeth-chattering rigors dan profuse sweats adalah
karakteristik paroxysm.

Temperature biasanya meningkat tinggi dari normal atau levelnya sedikit meningkat
untuk melebihi 39C.

Saat temperature mulai meningkat terdapat intense headache dan muscular


discomfort.

Pasien merasa cold, clutches at blankets, dan curls up shivering dan uncommunicative
(the chill).

Terdapat peripheral vasoconstriction, dan sering goose-pimples.

Dalam beberapa menit limbs mulai shake dan teeth chatter, dan temperature
meningkat cepat mencapai puncak (biasanya antara 39 dan 41.5C).

Rigor biasanya berlangsung selama 10-30 menit, tetapi dapat juga sampai 90 menit.

Akhir dari rigor terdapat peripheral vasodilatation dan kulit terasa panas.

Timbul profuse sweat.

Tekanan darah relatif rendah dan dapat symptomatic orthostatic hypotension.

Pasien merasa kelelahan dan akan tertidur.

Defervescence biasanya 4-8 jam.

Relapse

Baik P. vivax dan P. ovale mempunyai kecenderungan untuk relapse setelah resolusi
infeksi primer.

Relapse diakibatkan oleh pematangan dari persistent hypnozoites di liver.

Pada suatu saat bila imunitas tubuh turun, akan menjadi aktif sehingga dapat
menimbulkan relaps (kambuh).

Relapse terjadi dalam waktu minggu atau bulan (atau tahun) setelah infeksi primer.

Pola relapse ditentukan secara luas oleh geografik origin dari infeksi. Infeksi
subtropical P. vivax cenderung mempunyai selisih yang panjang antara relapse,
sedangkan tropical strains mempunyai interval yang pendek (3-6 minggu).

Gejala relapse mulai lebih tiba-tiba daripada infeksi primer. Dapat mulai dengan
menggigil yang tiba-tiba atau rigor.

Receudescence

Disebabkan karena pengobatan yang tidak lengkap.

P. falciparum adalah penyebab dari infeksi recrudescent dan cenderung muncul 2-4
minggu mengikuti pengobatan ( tetapi dapat juga selama 10 minggu mengikuti
pengobatan mefloquine).

3.2. Non Falcifarum malaria (P VIVAX, P OVALE, P MALARIAE)

Nonfalciparum malaria: chills dan peningkatan demam, diikuti oleh defervescence


dan fatique. Siklus setiap 48-72 jam.

Falciparum malaria: peningkatan demam dan chills, sering noncyclic dan


berhubungan dengan progresivitas symptom sitemik yang cepat.

Sign dan symptoms


Awalnya pasien mengalami chill, yang diikuti oleh demam. Pasien malaria sering
bergejala nonspesifik seperti weakness, malaise, headache, dan myalgia. Sebagai progresifitas
penyakit, tanda anemia seperti konjuctiva pucat. Terdapat splenomegaly dan mild
hepatomegaly.
Laboratory
Pada blood smear, mendeteksi plasmodium species dan ditemukannya hemolysis, tetapi
derajatnya lebih rendah dibanding infeksi yang disebabkan oleh P falciparum.
Imaging
Hepatosplenomegaly dan komplikasi splenic seperti rupture, yang mungkin terlihat
dengan CT Scan atau MRI.
Plasmodium-Assosiated syndrome
P Vivax / P ovale

Cyclic episode terdiri dari chill yang diikuti oleh


demam, diikuti dengan defervescence dan diaphoresis;
siklus setiap 48 jam

P Malariae

Cyclic episode terdiri dari chill yang diikuti oleh


demam, diikuti dengan defervescence dan diaphoresis;
8

siklus setiap 72 jam; berkemungkinan immunecomplex-mediated glomerulonephritis.


P Falciparum

Continuous
mungkin
damage

fever

dengan

hyperparasitemia
dan

compromise.

peningkatan
dengan
Ini

irregular,

microvascular

adalah

medical

emergency pada nonimmune.


Microvascular compromise berperan terhadap central
nervous system damage, renal dan pulmonary failure,
dan kematian.

3.3. Falcifarum malaria (severe malaria)


Severe malaria atau malaria dengan gejala yang berat biasanya hanya diakibatkan
oleh plasmodium falcifarum, Hal ini dikarenakan plasmodium falcifarum memiliki sifat
sitoadherence yang sangat kuat yang dapat membuat eritrosit yang terinfeksi melekat satu
sama lain membentuk rossete form dan juga berikatan dengan dinding endothelium.
Akumulasi rossete form di pembuluh darah kecil dalam organ vital akan mengakibatkan
manifestasi klinis yang berat.
Clinical features
- a change of behaviour, confusion or drowsiness
- impaired consciousness or unrousable coma
- multiple convulsions
- deep breathing, respiratory distress
- difficulty in breathing or pulmonary oedema
- circulatory collapse or shock
- jaundice
- black water fever
- a bleeding tendency
- prostration, i.e.. generalized weakness so that the patient cannot walk or sit up
without assistance

Laboratory findings
- hypoglycemia
- acidosis, metabolic acidosis
- severe anemia (hematocrit < 20%, Hb < 7 g/dl)
- haemoglobinuria
- hyperparasitemia
- hyperlacatemia
- renal impairment,
- pulmonary oedema (radiological)

3.4. Diagnosis Malaria


ANAMNESIS:
1. Keluhan utama:
Demam
Menggigil
Berkeringat disertai:
Sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot/pegal-pegel
2. Riwayat kunjungan:
Bermalam 14 minggu ke daerah endemik malaria
3. Riwayat tinggal di daerah endemik
4. Riwayat sakit malaria
5. Riwayat minum obat malaria 1 bulan terakhir
6. Riwayat mendapat tranfusi darah
7. Tanda dan gejala pada malaria berat:
Gangguan kesadaran beragam derajat
Keadaan umum lemah (tidak bisa berdiri/duduk)
Kejang
Panas sangat tinggi
Mata/tubuh kuning
Perdarahan hidung, gusi, saluran pencernaan
Nafas cepat/sesak
Muntah terus tidak bisa makan minum
Warna kencing seperti teh kehitaman
Oligouria sampai anuria
Telapak tangan sangat pucat
FISIK:
1. Demam 37,5o C
2. Konjungtiva / telapak tangan pucat
10

3. Splenomegali
4. Hepatomegali
5. Pada malaria berat:
Suhu rectum 40o C
Nadi cepat/lemah/kecil
Tekanana darah sistol < 70 mmHg pada dewasa dan pada anak < 50 mmHg
Nafas > 35 x permenit pada dewasa atau > 40 x permenit pada balita, anak < 1
tahun > 50 x permenit
GCS turun < 11
Petekie, purpura, hematom
Tanda dehidrasi (mata cekung, turgor turun, bibir kering, oligouria)
Anemia berat (konjungtiva pucat, telapak tangan pucat, lidah pucat, dll)
Mata ikterik
Ronki pada kedua paru
Splenomegali/hepatomegali
Gagal ginjal oligouria/anuria
Gejala neurologi (kaku kuduk, refleks patologik)

LAB:
1. Sediaan darah tebal & tipis:
(+) atau (-) parasit dengan pewarnaan Giemsa/Gram
Utama untuk diagnosis
Darah diambil dari ujung jari
Spesies dan stadium plasmodium
Kepadatan parasit:
Semi kuantitatif:
o (-)
: tidak ada parasit dalam 100 LPB
o (+)
: 1 10 parasit dlm 100 LPB
o (++) : 11 100 parasit dlm 100 LPB
o (+++) : 1 10 parasit dlm 1 LPB
o (++++): > 10 dlm 1 LPB
Kuantitatif:
o Hitung jumlah parasit mikroliter pada sediaan darah tebal (leukosit)
tipis (eritrosit) 1500 parasit per 200 lekosit , jumlah lekosit 8000/uL
= 8000/200 x 1500 = 60.000 parasit/uL
o Pada malaria berat :
1. Jika pertamanya (-) perikas ulang tiap 6 jam ampe 3 hari
berturut-turut
2. Bila sediaan tebal 3 harinya masih (-) no malaria!!!
2. Rapid tes diagnostic:
Deteksi antigen malaria mertode immunokromatografi dipstick hanya
untuk emergensi dan daerah terpencil yang ga punya lab
Mengandung:
a. HRP-2 (Histidine rich protein 2) diproduksi oleh tropozoid, skizon
dan gametosit muda P. falciparum
11

b. p-LDH (parasit laktat dehidrogenase) diproduksi parasit bentuk


aseksual daan seksual P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. malariae
Sensitivitas alatnya 95% dan spesifisitasnya 95%
3. Untuk malaria berat ditunjang:
HB dan Hct
Leukosit, trombosit
Kimia darah (gula, bilirubin, SGOT, SGPT, ALP. Albumin/globulin, ureum,

kreatinin, Na, K, BGA)


EKG
Foto toraks
Analisis CSF
Biakan darah dan serologi
Urinalisis

3.5. Patogenesis Malaria


Demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan
bermacam-macam antigen. Antigen ini akan merangsang sel-sel makrofag, monosit atau
limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, antara lain TNF (tumor necrotic factor).
TNF akan dibawa aluran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengaturan suhu tubuh
dan terjadi demam. Proses skizon pada ke empat plasmodium memerlukan waktu yang
berbeda-beda. P. falcifarum memerlukan waktu 36-48 jam, P. vivax/ovale 48 jam, dan P.
malariae 72 jam. Demam pada P. falcifarum dapat terjadi setiap hari, P. vivax/ovale selang
waktu satu hari, dan P. malariae demam timbul selang waktu 2 hari.
Anemia terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak
terinfeksi. Plasmodium falciparum menginfeksi semua jenis sel darah merah, sehingga
anemia dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis. Plasmodium vivax dan P. ovale hanya
menginfeksi sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah
merah, sedangkan Plasmodium malariae menginfeksi sel darah merah tua yang jumlahnya
hanya 1% dari jumlah sel darah merah. Sehingga anemia yang disebabkan oleh P. vivax, P.
ovale dan P. malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis.
Splenomegali. Limpa merupakan organ retikulosit, dimana plasmodium dihancurkan oleh
sel-sel makrofag dan limfosit. Penambahan sel-sel radang ini akan menyababkan limpa
membesar.
12

Malaria berat akibat Plasmodium falciparum mempunyai pathogenesis yang khusus.


Eritrosit yag terinfeksi P. falciparum akan mengalami proses sekuestrasi yaitu tersebarnya
eritrosit yang berparasit tersebut ke pembuluh kapiler alat dalam tubuh. Selain itu pada
permukaan eritrosit yang terinfeksi akan membentuk knob yang berisi berbagai antigen
Plasmodium falciparum. Pada saat terjadi proses sitoadherensi, knob tersebut akan berikatan
dengan reseptor sel endotel kapiler. Akibat dari proses ini terjadilah obstruksi (penyumbatan)
dalam pembuluh kapiuler yang menyebabkan terjadinya iskemia jaringan. Terjadinya
sumbatan ini juga didukung oleh proses terbentuknya rosette yaitu bergerombolnya sel
darah merah yang berparasit dengan sel darah merah lainnya.
Pada proses sitoadherensi ini diduga juga terjadi proses imunologik yaitu terbentuknya
mediator-mediator antara lain sitokin (TNF, interleukin) di mana mediator tersebut
mempunyai peranan dalam gangguan fungsi pada jaringan tertentu.

3.6. Patofisiologi Malaria


Akibat dari

Rusaknya eritrosit
Parasit yang hidup bebas di pembuluh darah
Host reaction

Respon imun
Respon imun
Transient humoral berespon terhadap
sporozoit antigen
Serum IgG, IgM, IgA meningkat

Cell mediated response


Sel T sitotoksik tidak dapat secara
langsung melawan eritrosit yang
terinfeksi

Tidak berhubungan terhadap protein


Karena eritrosit tidak mengekspresikan
HLA
Toksisitas dan Sitokin
Parasit malaria merangsang pengeluaran sitokin
TNF

IL-1 dan IFN-

Disfungsi

Paroxysm

Pro-inflamatory
IL-8, IL-12, IL-18

Anti-inflamatory
IL-6 dan IL-10

Berpengaruh terhadap:
13

serebral

Menggigil
Ekstremitas dingin
Sakit kepala
Kedinginan
Spike of fever
Terkadang
kekakuan
diikuti oleh berkeringat
Vasodilatasi
Defevescence

Disfungsi plasenta
Supresi eritropoiesis dan menghambat
glukoneogenesis
Menyebabkan demam
Up-regulates ICAM menyebabkan
sitoadheren
Memediasi
pembunuhan
parasit
dengan mengaktifasi leukosit

Sequestration
Sewaktu eritrosit menempel tidak dapat masuk ke sirkulasi
kembali
-

Melekat hingga pecah


Terbanyak di otak (white matter)
Kebanyak di jantung, mata, hati, ginjal, sal. Perncernaan, jaringan lemak
Paling sedikit di kulit

Fenomena resetting menyebabkan obstruksi mikrovaskulatur


oleh malaria falsiparum
Mengaktifkan endotel vaskular dan penurunan suplai substrat O2
Menyebabkan glikolisis anaerob, asidosis laktat, dan disfungsi selular
Proses Imunologis
- Cerebral malaria diakibatkan dari rusaknya specific immune mediated
- Infeksi malaria akut berhubungan dengan malaria antigen specific
unresponsive
Penurunan sel T di sirkulasi
Permeabilitas
Peningkatan mild generalized pada permeabiltas vaskular
Pada otak
Pembengkakan otak
Koma peningkatan tekanan
intrakranial
Meninggal

14

Gagal Ginjal
Vasokontriksi renal dan sebagai akibat hipoperfusi
ARF
Edema Paru
Peningkatan permeabilitas kapiler di paru-paru secara tiba-tiba
Edema paru

Anemia
Penyebab yang multifaktorial
Destruksi eritrosit yang
berisi parasit tahap
merogoni

Percepatan penghancuran
dari eritrosit yang tidak
berparasit

Diseritropoiesis sum-sum
tulang

Anemia
Koagulopati dan Trombositopenia
Peningkatan coagulopathy cascade akibat dari terisinya eritrosit oleh parasit:
- Peningkatan fibrinogen turn over
- Penggunaan anti-trobotic III
- Penurunan faktor III
- Peningkatan konsertrasi FDP
Trombositopenia disebabkan oleh:
- Peningkatan splenic platelet clearance
- Peningkatan konsentrasi trombosit
- Peningkatan makrofag CSF
Stimulasi aktivitas makrofag
Penigkatan penghancuran platelet
Limpa
Pembesaran limpa
-

Peningkatan kapasitas untuk bersihan eritrosit oleh


1. Fc receptor mediated (immune) mechanism
2. Recognition of reduced deformability of entire red cell population
Memodulasi sitoadheren

Pembatasan ekspansi akut dari infeksi malaria dengan pembuangan eritrosit yang berparasit
Disfungsi Saluran Pencernaan
15

Gut sequestration dan vasokonstriksi viseral


Penuruan perfusi splanchnic

Malabsorpsi gula, lemak, dan asam amino


Permeabilitas usus meningkat berhubungan
dengan pertahanan lokal melawan toksi bakteri
Nyeri abdomen kejadian akut
Minor stress ulceration kejadian kronik

Disfungsi Hepar
Jaundice is common other evidence:
- Penurunan sintesis faktor pembekuan
- Penurunan metabolism clearence of antimalaria drugs
- Kegagalan glukoneogenesis
Lactic acidosis dan hipoglikemia
Asidosis
Obstruksi
mikrovaskulatur

Kegagalan hepatic and renal lactate


clereance

Produksi laktat oleh


parasit

Glikolisis anaerob
jaringan
Laktat asidosis
Hipoglikemia
- Peningkatan metabolic demand of febrille illness
- Obligatory demand of parasites dimana menggunakan glukosa sebagai bahan utama
- Kegagalan glukoneogenesis dan glikogenolisis hati
Peningkatan peripheral requirment of glucose
Disfungsi Plasenta
Sequestration of erythrocyte pada
plasenta

Aktivasi lokal sitokin


proinflamatori

Anemia
maternal

Insufisiensi plasenta
Fetal tumbuh retardasi
Infeksi Bakteri
Pasien dengan malaria berat
Mudah diserang oleh bakteria infeksius
16

3.7. Patomekanisme

Infeksi pada manusia dimulai ketika nyamuk anopeles betina menyuntikan sporozoit plasmo
selama menghisap darah

Bentuk mikroskopik motil parasit malaria diedarkan dengan cepat melalui pembuluh dar

Ke hati menyerang sel parenkim hati dimulainya reproduksi aseks


(disebut intrahepatik atau pre-eritrosit skizogomi atau merogoni)
Satu sporozoit menghasilkan 10.000-30.000 merozoit

Pecahnya skizon hati yang membengkak mengeluarkan merozoit motil ke pembuluh darah
P. malar
P. ovale
P. vivax
Merozoit dengan segera menyerang eritrosit dan menjadi tropozoit
*Penempelan merozoit pada eritrosit dimediasi oleh:
- P. vivax berhungan dengan Duffy blood group antige
- P. falsiparum merozoite protein EBA 175, anggota
(DBL) superfamily of gene
- P. malariae dan P. ovale tidak diketahui

Selama fase awal pada stadium darah (<12 jam) ring form kecil terl
Selama tumbuh merozoit darah memakan isi eritrosit Hb

Proteolisis Hb mengeluarkan asam


pertumbuhan parasit men
haem bentuk toxic ferri

Dimerisasi sponta
untuk
substansi
haemozoin (pigmen
Untuk memperoleh asam amino dan nutrisi lainnya, merozoit darah memasang transporter spesifik dan kimiaw
*Membuat eritrosit

Lebih permeabel
Kurang elastis dan mudah ru
Lebih membulat
Eritrosit yang berisi penuh merozoit kemudian pecah dan
mengeluarkan merozoit dan menghancurkan eritrosit
Menyerang eritrosit lain dan memulai siklus aseksual

Berkembang ke dalam bentuk seksual (gametosit


dengan d
nyamuk
Makrogametosit dan mikrogametosit bergabung
Zigot

Ookinet penetrasi ke dalam dindin


17

Oosit
Sporozoit kemudian bermigrasi ke

*Pada P. falsiparum

Pada 12-14 jam perkembangan, P. falsiparum mulai mempresentasikan:


High molecul weight strain spesific variant antigen (PfEMP1) pada permukaan erit

knob like projection memediasi penempelan ke en

Secara progresif eritrosit menghilang dari sirkulasi dengan menempel/sitoadheren ke dinding venulada
- Reseptor vaskular
ICAM pada otak
Kondroitin sulfat B pada plasenta
CD 36 pada kebanyakan organ lain
- Eritrosit yang terinfeksi mungkin adhesi ke:
Eritrosit yang tidak terinfeksi membentuk rosette
Eritrosit yang terinfeksi lainnya aglutinasi

18