Anda di halaman 1dari 17

Acara I

SUSU PASTEURISASI
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU

Disusun oleh:
Nama

: Irene Okthie Ratnasari

NIM

: 13.70.0142

Kelompok : A2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1. TOPIK DAN TUJUAN


1.1. Topik
Topik dari praktikum ini adalah susu pasteurisasi. Pasteurisasi merupakan salah satu
tindakan yang dapat dilakukan untuk mematikan bakteri patogen. Namun,melalui
pasteurisasi, bakteri yang berspora masih tahan hidup sehingga susu pasteurisasi
hanya memiliki masa kedaluwarsa sekitar satu minggu.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui efektivitas susu dengan
pemanasan metode pasteurisasi dalam mengontrol jumlah bakteri.

2. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan susu pasteurisasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Susu Pasteurisasi


Kel
A1

A2

A3

A4

A5

Perlakuan
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit

Jumlah Total Bakteri


(CFU/ml)
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 8,0 x 10
<3,0 x 103 5,0 x 102
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 1,8 x 102
<3,0 x 102 2,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 3,0 x 10
<3,0 x 102 5,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
5,7 x 102
2
<3,0 x 10 3,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
3,3 x 102
<3,0 x 102 1,5 x 102

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa bahwa jumlah total bakteri tertinggi
adalah pada susu sebelum pasteurisasi pada semua kelompok.. Secara umum, jumlah
total bakteri setelah pasteurisasi lebih rendah dibandingkan sebelum pasteurisasi. Pada
kelompok A1 dan A3 jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 72C
selama 15 detik lebih rendah dibandingkan jumlah total bakteri pada susu setelah
pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit. Namun, pada kelompok A2, A4,dan A5 jumlah
total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik lebih rendah
dibandingkan jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3
menit.

3. PEMBAHASAN

Bahan baku utama dalam praktikum ini adalah digunakannya susu segar. Menurut
Ningsih et al (2014) dalam jurnal Kualitas Susu Cair Pasca Pasteurisasi Setelah
Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi Talas Kimpul (Xanthosoma sagittifolium
Schott.) menyatakan bahwa susu termasuk sumber gizi utama yang dibutuhkan oleh
manusia. Penyusun utama dari susu sapi secara umum adalah air (87,10%); laktosa
(4,8%); lemak (3,9%) yang didominasi oleh lemak jenuh; protein susu (3,4%); dan
kadar abu (0,72%). Menurut Suwito (2010) dalam jurnal Bakteri yang Sering
Mencemari Susu: Deteksi, Patogenesis, Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya,
bahwa secara alami susu mengandung mikroorganisme kurang dari 5x103/ ml jika
dilakukan proses pemerahan yang benar dan dari sapi yang sehat. Berdasarkan SNI 016366-2000, batas cemaran mikroba dalam susu segar adalah Total Plate Count (TPC) <
3 x 104 cfu/ml, koliform < 1 x 101 cfu/ml, Staphylococcus aureus 1 x 101 cfu/ml,
Escherichia coli negatif, Salmonella negatif, dan Streptococcus group B negatif.
Sedangkan beberapa bakteri seperti Listeria monocytogenes, Camphylobacter jejuni,
E.coli, dan Salmonella sp mengontaminasi susu dengan prevalensi kecil.

Susu yang dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin adalah susu yang telah melalui
proses pasteurisasi. Oleh sebab itulah pada praktikum ini dilakukan proses pasteurisasi
susu untuk melihat pengaruh pasteurisasi dalam mengontrol total mikroba. Menurut
Suwito (2010) pasteurisasi merupakan salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk
mematikan bakteri patogen. Namun,melalui pasteurisasi, bakteri yang berspora masih
tahan hidup sehingga susu pasteurisasi hanya memiliki masa kedaluwarsa sekitar satu
minggu. Pasteurisasi dilakukan dengan waktu tertentu seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Suhu dan waktu yang digunakan untuk proses pasteurisasi.

Menurut Salman & Hagar (2013) dalam jurnal Some Bacterial and Physical Quality of
Pasteurized Milk in Khartoum, susu sapi segar sangat rentan ditumbuhi bakteri, adapun
bakteri yang sering ditemukan adalah Escherichia coli. Selain e.coli, bakteri lain yang
ditemui pada susu adalah jenis Lactobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, dan
Micrococcus sp. Bakteri dan kapang yang dapat tumbuh pada susu ini dapat
menimbulkan kerusakan pada susu dan menimbulkan bahaya kesehatan bagi konsumen
karena sifatnya yang patogen. Bakteri yang patogen pada susu antara lain Coxiella
burnetii, Mycobacterium tuberculosis, dan Escherichia coli. Coxiella burnetii dapat
menyebabkan penyakit demam, Mycobacterium tuberculosis dapat menyebabkan
penyakit tuberkulosis, dan Escherichia coli dapat menimbulkan penyakit pada
pencernaan (Srujana et al, 2011). Keberadaan bakteri ini disebabkan karena kondisi
sanitasi yang buruk terutama pada proses pemerahan dan lingkungan sekitar peternakan
dan pengolahan. Banyak penelitian mengemukakan bahwa produksi susu yang
berkualitas bergatung pada kondisi mikrobiologis pada bahan baku. Kerusakan susu
umumnya disebabkan karena aktivitas bakteri, kontaminasi setelah proses pasteurisasi,
jenis mikroorganisme yang resisten terhadap proses pasteurisasi terutama pada proses
HTST, suhu dan lama pasteurisasi, serta suhu penyimpanan susu setelah pasteurisasi.
Selain bakteri, mikroorganisme yang dapat tumbuh pada susu antara lain adalah kapang.
Pertumbuhan mikroorganisme tersebut akan mengubah kualitas susu segar yang
ditandai dengan perubahan aroma, warna, dan rasa susu segar.

Menurut Hilpy & Alli (2013) dalam jurnal Milk Flash Pasteurization by the
Microwave and Study its Chemical, Microbiological

and Thermo Physical

Characteristics, 2 proses pemanasan yang paling sering digunakan pada produk dairy
adalah pasteurisasi dan sterilisasi. Poin penting yang terdapat dalam pasteurisasi dapat
dibagi menjadi 2 yakni yang pertama adalah pengurangan jumlah mikroorganisme
patogen dengan kisaran 95-99% dari jumlah mikroorganisme yang ada di susu.
Sedangkan poin penting yang kedua adalah peningkatan umur simpan dari susu dengan
cara menjaga susu agar tidak terkontaminasi mikroorganisme selama penyimpanan.
Menurut The Food and Health Bureau of United States the US Food and Drug
Administration yang terdapat dalam jurnal Milk Flash Pasteurization by the
Microwave and Study its Chemical, Microbiological

and Thermo Physical

Characteristics, proses pasteurisasi yang umum dilakukan adalah bergantung pada


suhu dan waktu pemanasan yakni 62.8C selama 30 menit, 71.6C selama 15 detik,
88.4C selama 0.1 detik , 95.6C selama 0.05 detik dan 100C selama 0.01 detik. Proses
pasteurisasi pada suhu 100C selama 0.01 detik dapat disebut sebagai flash
pasteurization.

3.1. Pembuatan Susu Pasteurisasi


Pada praktikum ini, 2 buah botol kaca bekas roof beer (botol A dan botol B) yang bersih
disterilisasi dengan menggunakan autofklaf dan masing-masing diisi dengan 200 ml
susu sapi segar. Sterilisasi botol kaca bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang
terdapat pada pada botol kaca sehingga tidak akan mengkontaminasi susu. Menurut
Suriawiria (2005), proses sterilisasi dapat membunuh mikroorganisme patogen maupun
non patogen pada suatu peralatan atau media. Kemudian dilakukan pengukuran suhu
menggunakan termometer. Setelah itu sebanyak 2 ml sampel diambil untuk dilakukan
pengujian jumlah mikroba awal. Lalu botol A yang sudah diisi 200 ml susu segar
dipanaskan pada suhu 72C selama 15 detik dengan waterbath. Sedangkan botol B yang
juga telah diisi dengan 200 ml susu segar dipanaskan pada suhu 62C selama 3 menit
dengan waterbath. Cara untuk mengukur suhu susu yakni dengan cara termometer
dimasukkan ke dalam botol berisi susu, setelah mencapai suhu 62C ditunggu selama 3
menit kemudian botol dapat ditutup, cara pengukuran ini juga berlaku untuk suhu 72C
selama 15 detik.

Menurut Syarif & Harianto (2011), penggunaan suhu 72C selama 15 detik merupakan
metode HTST (High Temperature Short Time), sedangkan penggunaan suhu 62oC
selama 3 menit merupakan metode LTLT (Low Temperature Long Time). Menurut
Tamime (2009), semakin tinggi suhu pasteurisasi yang digunakan, semakin cepat waktu
yang dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme. Setelah dilakukan proses
pasteurisasi maka dilakukan kembali pengambilan 2 ml susu yang sudah dipasteurisasi
secara aseptis untuk uji jumlah mikroba akhir. Setelah dianalisa, botol bisa ditutup
dengan rapat dan disimpan di refrigerator atau bisa langsung diminum. Menurut
Millogo et al (2015), susu sebaiknya disimpan pada suhu rendah 4C. Hal ini untuk

mencegah pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri selama proses penyimpanan


sehingga susu memiliki umur simpan yang lebih lama.

3.2. Pengujian Susu Secara Mikrobiologis


Pada pengujian susu secara mikrobiologis digunakan 2 ml susu sebelum dan setelah
pasteurisasi. Aquades steril digunakan untuk proses pengenceran susu. Pengenceran sel
dapat membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar.
Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan media dengan jumlah
koloni yang umumnya terlalu rendah (Hadioetomo, 1990). Untuk susu sebelum
pasteurisasi, susu diencerkan dengan aquades steril hingga mencapai pengenceran 10-6.
Hasil pengenceran yang diinokulasikan adalah pengenceran 10-5 dan 10-6. Sedangkan
untuk susu setelah pasteurisasi susu diencerkan dengan aquades steril hingga mencapai
pengenceran 10-3. Hasil pengenceran yang diinokulasikan adalah pengenceran 10-1, 10-2,
dan 10-3.

Perbedaan tingkatan pengenceran pada susu segar dengan susu yang telah dipasteurisasi
disebabkan karena menurut Tamime (2009), pasteurisasi merupakan aplikasi panas pada
susu untuk membunuh mikroorganisme patogen yang terdapat pada susu. Sehingga
seharusnya jumlah mikroorganisme pada susu yang belum dipasteurisasi lebih tinggi
dibandingkan yang sudah dipasteurisasi. Oleh sebab itu, pengenceran yang dilakukan
untuk susu yang belum dipasteurisasi dilakukan hingga konsentrasi larutan lebih rendah
dibandingkan konsentrasi pengenceran untuk susu yang sudah dipasteurisasi. Hal ini
untuk membantu pengamatan jumlah mikroorganisme. Proses inokulasi dilakukan
secara aseptis dengan digunakan metode pour plate. Metode ini pun telah sesuai dengan
metode yang dilakukan Ningsih et al (2014) dalam jurnal Kualitas Susu Cair Pasca
Pasteurisasi Setelah Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi Talas Kimpul (Xanthosoma
sagittifolium Schott.) bahwa untuk proses penghitungan total bakteri dilakukan
pengenceran sampel susu hingga mencapai pengenceran 10-3. Pada proses inokulasi,
hasil pengenceran diambil 2 ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Cawan
petri kemudian ditutup dan inokulum diratakan dengan digoyang-goyang. Kemudian
media NA steril diambil dan dituang ke cawan petri yang sudah diberi inokulum.
Cawan petri kemudian ditutup dan digoyang-goyang agar media dan inokulum tersebar

merata, kemudian ditunggu hingga media memadat baru kemudian cawan petri dapat
diinkubasi dalam keadaan terbalik.

Proses inokulasi secara aseptis dan penggunaan cawan petri dan media yang steril
bertujuan untuk menghindari kontaminasi. Hal ini berdasarkan pada teori Hadioetomo
(1993) bahwa perlakuan aseptis bertujuan agar kultur yang ditumbuhkan pada suatu
media tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang tidak diinginkan. Kontaminasi
dapat berasal dari lingkungan seperti udara, tetapi dapat juga berasal dari praktikan
sendiri seperti pada tangan praktikan yang dapat digunakan untuk tempat hidup
mikroorganisme. Oleh sebab itu, tangan praktikan harus disemprot dengan alkohol.
Praktikan harus menggunakan masker. Meja juga harus disemprot dengan alkohol.
Pnggunaan alkohol ini sesuai dengan teori dari Adji et al (2007) bahwa alkohol
merupakan denaturan protein, yakni suatu sifat yang terutama memberikan iktiuitar
antimikrobial

pada alkohol. Disarnping itu,alkohol juga merupakan pelarut lipid

sehingga dapat merusak membran sel. Alkohol yang umum dipakai adalah konsentrasi
70% karena efektif memecah protein yang ada dalam miktnorganisme .Selain itu yang
harus diperhatikan adalah ketika melakukan kegiatan pemindahan, semua peralatan
harus dekat dengan api (pemanas) dan kapas tidak boleh jatuh ke meja. Sebelum
digunakan, peralatan dan media perlu disterilisasi, tetapi harus diperhatikan bahwa
pemanasan yang terlalu lama dapat merusak media dan peralatan yang akan digunakan.

Media NA digunakan sebagai media pertumbuhan pada praktikum ini karena media NA
bersifat umum dimana dapat digunakan untuk menumbuhkan seluruh tipe mikroba
termasuk bakteri. Hal ini didukung oleh Merck (1998), bahwa media Nutrient Agar
(NA) dapat digunakan untuk menumbuhkan seluruh tipe mikroorganisme terutama
bakteri dan dapat berfungsi untuk mengisolasi koloni-koloni yang individu dari bahan
yang mengandung spesies Proteus. NA termasuk media umum. Karena tergolong media
umum, NA memiliki kekurangan yakni tidak dapat digunakan untuk menumbuhkan
mikroba secara selektif..

Menurut Fardiaz (1992) dengan metode cawan, hanya sel yang masih hidup yang dapat
dihitung dan dapat menghitung beberapa jenis mikroba sekaligus. Hasil perhitungan

metode cawan menunjukkan jumlah koloni sel (bukan jumlah sel sebenarnya). Terdapat
dua metode pada hitungan cawan yaitu dengan spread plate dan pour plate. Metode
pour plate sudah sesuai dengan yang dilakukan saat praktikum yaitu kultur yang akan
ditumbuhkan dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Setelah itu media padat yang
telah dicairkan dituangkan ke cawan petri dan digoyang-goyang agar kultur dan media
tersebar merata. Menurut Suriawiria (2005), pada metode pour plate, koloni yang
terlihat lebih sedikit, hal ini karena mikroorganisme tumbuh di dalam medium.
Dilakukannya proses inkubasi secara terbalik akan membantu kultur dapat tumbuh
dengan baik di dalam media dan tidak hanya menempel di bagian dasar cawan petri.

3.3. Hasil Pengamatan Jumlah Mikroorganisme


Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa jumlah total bakteri tertinggi adalah
pada susu segar sebelum pasteurisasi disemua kelompok. Menurut Srujana et al (2011),
hal ini karena susu sapi segar sangat rentan ditumbuhi bakteri akibat kandungan
nutrisinya yang tinggi. Jenis bakteri yang sangat sering ditemui pada susu adalah jenis
Lactobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, dan Micrococcus

sp. Bakteri yang

patogen pada susu antara lain Coxiella burnetii, Mycobacterium tuberculosis, dan
Escherichia coli. Bakteri-bakteri tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan
konsumen.Kontaminasi bakteri pada susu segar dapat berasal dari kondisi yang tidak
higienis saat proses handling susu. Kontaminasi bakteri dapat berasal dari udara,
peralatan yang digunakan untuk pemerahan, serta berasal dari kandang yang tidak
bersih seperti dari sisa feses, tanah, dan rumput. Kontaminasi bakteri Escherichia coli
pada susu sapi segar menandakan kondisi sanitasi yang kotor selama handling susu
(Srujana et al, 2011).

Pada tabel 1 dapat diketahui bahwa secara umum jumlah total bakteri setelah
pasteurisasi lebih rendah dibandingkan sebelum pasteurisasi. Hal ini karena pasteurisasi
memang ditujukan untuk membunuh mikroorganisme khususnya bakteri patogen,
kapang, dan bakteri pembusuk tanpa merusak cita rasa khas susu sehingga dapat
memperlama umur simpan susu (Tamime, 2009). Berdasarkan hasil pengamatan pada
kelompok A1 dan A3, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 72C
selama 15 detik (HTST) lebih rendah dibandingkan jumlah total bakteri pada susu

10

setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit (LTLT). Selain itu jumlah total bakteri
terendah ada pada kelompk A3 pada perlakuan suhu suhu 72C selama 15 detik . Hasil
ini sudah sesuai dengan teori Tamime (2009) yang menyatakan bahwa semakin tinggi
suhu pasteurisasi yang digunakan, kemungkinan terbunuhnya mikroorganisme dengan
jenis yang lebih beragam sangat besar karena mikroorganisme memiliki suhu tumbuh
yang berbeda. Pasteurisasi dengan suhu yang lebih tinggi lebih efektif untuk membunuh
mikroorganisme. Ditambahkan pula oleh Maitimu et al (2013) dalam jurnal
Karakteristik mikrobiologis, kimia, fisik dan organoleptik susu

pasteurisasi

dengan

penambahan ekstrak daun aileru (Wrightia calycina) selama penyimpanan yang


menyatakan,bahwa nilai keasaman (pH) susu pasteurisasi yang rendah, berkisar
antara 5,0 sampai 6,9) juga berfungsi sebagai antibakteri dengan menghambat
pertumbuhan bakteri patogen yang tumbuh optimum pada pH 6-7.

Akan tetapi pada kelompok A2,A4,A5,dan A6 terjadi pebedaan hasil dengan teori
karena jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
(HTST) lebih tinggi dibandingkan jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi
suhu 62C selama 3 menit. Ketidaksesuaian dengan dasar teori Tamime (2009) ini dapat
terjadi akibat kondisi yang kurang aseptis selama proses inokulasi sehingga terjadi
kontaminasi mikroba dan hasil perhitungan jumlah mikroorganisme menjadi lebih
banyak. Menurut teori Hadioetomo (1993) bahwa perlakuan aseptis bertujuan agar
kultur yang ditumbuhkan pada suatu media tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme
yang tidak diinginkan. Kontaminasi dapat berasal dari lingkungan seperti udara, tetapi
dapat juga berasal dari praktikan sendiri seperti pada tangan praktikan yang dapat
digunakan untuk tempat hidup mikroorganisme.

4.

KESIMPULAN

Pasteurisasi merupakan salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk


mematikan bakteri patogen walaupun bakteri yang berspora masih tahan hidup.

Bakteri yang dapat ditemui pada susu adalah jenis Lactobacillus, Streptococcus,
Staphylococcus, dan Micrococcus sp, sedangkan bBakteri yang patogen pada
susu antara lain Coxiella burnetii, Mycobacterium tuberculosis, dan Escherichia
coli.

Kontaminasi bakteri pada susu segar dapat berasal dari kondisi yang tidak
higienis saat proses handling susu.

Penggunaan suhu 72C selama 15 detik merupakan metode HTST (High


Temperature Short Time), sedangkan penggunaan suhu 62oC selama 3 menit
merupakan metode LTLT (Low Temperature Long Time).

Semakin tinggi suhu pasteurisasi yang digunakan, semakin cepat waktu yang
dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme.

Media Nutrient Agar (NA) dapat digunakan untuk menumbuhkan seluruh tipe
mikroorganisme terutama bakteri dan dapat berfungsi untuk mengisolasi kolonikoloni yang individu dari bahan yang mengandung spesies Proteus.

Nilai keasaman (pH) susu pasteurisasi yang rendah, berkisar antara 5,0 6,9) juga berfungsi sebagai antibakteri dengan enghambat pertumbuhan bakteri
patogen yang tumbuh optimum pada pH 6-7.

Jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
(HTST) lebih tinggi dibandingkan jumlah total bakteri pada susu setelah
pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit karena kondisi yang kurang aseptis
selama proses inokulasi sehingga terjadi kontaminasi mikroba

Semarang, 23 Mei 2016


Praktikan,

Asisten Dosen :
- Graytta Intannia
- RR.Panulu. R.M

Irene Okthie Ratnasari


13.70.0142

11

5.

DAFTAR PUSTAKA

Adji, D; Zuliyanti; Larashanty, H. 2007. Perbandingan Efektivitas Sterilisasi Alkohol


70%, Inframerah, Otoklaf, dan Ozon Terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus
Subtilis. J.Sain VeL Vol.25 No.I. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan I. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hadioetomo, R.S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. Gramedia. Jakarta.
Hillpy, A dan Ali, H. (2013). Milk Flash Pasteurization by the Microwave and Study its
Chemical,Microbiological and Thermo Physical Characteristics. J Food Process
Technol No4 Vol 7. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Maitimu,C; A. M. Legowo; danA. N. AlBaarri.(2013).Karakteristik
mikrobiologis,
kimia, fisik dan organoleptik susu pasteurisasi dengan penambahan ekstrak daun
aileru (Wrightia calycina) selama penyimpanan. Jurnal Aplikasi Teknologi
Pangan Vol 2 No 1. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Merck, E. (1998). Handbook of Microbiology 1st Supplement. Merck KGaA Publisher.
Darmstadt.
Millogo, V., M. Sissao, A.G. Sidib, and G.A. Oudraogo. (2015). Effect of storage
time and temperature on raw milk composition of dairy cattle in tropical
conditions. African Journal of Dairy Farming and Milk Production; 2 (1): 104108.
Ningsih, M; Tri, Rima Setyawati, Mukarlina. (2014). Kualitas Susu Cair Pasca
Pasteurisasi Setelah Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi Talas Kimpul
(Xanthosoma sagittifolium Schott.).Jurnal Protobiont Vol 3 No 2. Diakses tanggal
23 Mei 2016.
Salman, A dan Hagar, E.(2013). Some Bacterial and Physical Quality of Pasteurized
Milk in Khartoum. Journal of Applied and Industrial Sciences, Volume 1 No 2.
Diakses tanggal 23 Mei 2016.
Srujana, G., A.R. Reddy, V.K. Reddy, and S.R. Reddy. (2011). Microbial Quality Of
Raw And Pasteurized Milk Samples Collected From Different Places Of
Warangal District, (A.P.) India. International Journal of Pharma and Bio Sciences;
2(2): 139-143.
Suriawiria, H.U. (2005). Mikrobiologi Dasar. Penerbit Papas Sinar Sinanti. Jakarta.
Suwito, W. (2010). Bakteri yang Sering Mencemari Susu: Deteksi, Patogenesis,
Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya.Jurnal Litbang Pertanian Volume 29 No
3.
Diakses
tanggal
23
Mei
2016.

12

13

Syarif, E.K. and B. Harianto. (2011). Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Agro
Media Pustaka. Jakarta.
Tamime, A.Y. (2009). Milk Processing and Quality Management. Blackwell Publishing
Ltd. Chichester.

6.

LAMPIRAN

6.1.

Perhitungan

Rumus:

Sebelum Pasteurisasi

Kelompok 1
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit

14

15

Kelompok 2
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit

Kelompok 3
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit

16

Kelompok 4
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit

Kelompok 5
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit

17

6.2.Abstrak Jurnal
6.3.Laporan Sementara