Anda di halaman 1dari 10

Cara Membuat Biogas Dari Kotoran Sapi

Cara Membuat Biogas Dari Kotoran Sapi. Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari
dekomposisi anaerobik dengan bantuan mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi
harus dalam keadaan anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang
sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon
dioksida, gas inilah yang disebut biogas.
Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55 C, dimana pada
suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan bahan organik secara optimal. Hasil
perombakan bahan bahan organik oleh bakteri adalah gas metan seperti yang terlihat pada
tabel dibawah ini:
Berikut adalah komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa
pertanian Peralatan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi :

a. Bak Penampungan Sementara


Terbuat dari kotak dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m berguna sebagai tempat
mengencerkan kotoran sapi.
b. Digester
Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi untuk menampung
gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling
banyak digunakan adalah model continuous feeding dimana pengisian bahan organiknya
dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak
yamg dihasilkan dan banyaknya biogas yang diinginkan. Lahan yang diperlukan sekitar 16
m2. Untuk membuat digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu
koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon.

c. Plastik Penampungan Gas


Terbuat dari bahan plastik tebal berbentuk tabung yang berguna untuk menampung gas
methane yang dihasilkan dari digester. Gas metan kemudian disalurkan ke kompor gas.
d. Kompor Gas
Berfungsi sebagai alat untuk membakar gas metan untuk menghasilkan api. Api inilah yang
digunakan untuk memasak.
e. Bak penampungan Kompos
Bak ini dapat dibuat dengan cara mengali lobang ukuran 2 m x 3 m dengan kedalaman 1 m
sebagai tempat penampungan kompos yang dihasilkan dari digester.

Tahapan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi.


Setelah peralatan digester selesai dipasang maka selanjutnya adalah tahapan pembuatan
biogas dari kotoran sampi dengan cara sebagai berikut :
1. Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1
pada bak penampung sementara. Pada saat pengadukan sampah di buang dari bak
penampungan. Pengadukan dilakukan hingga terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
2. Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di alirkan ke digester. Pada
pengisian pertama digester harus di isi sampai penuh.
3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi
rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas
digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses
fermentasi.
4. Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10 sedangkan pada hari ke -1 sampai ke
- 8 gas yang terbentuk adalah CO2. Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27% maka
biogas akan menyala.
5. Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada
kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa
menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti
bau kotoran sapi.
6. Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan biogas
yang optimal.

7. Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak penampungan kompos. Kompos
cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika ingin di kemas dalam karung maka
kompos harus di keringkan.
Demikian informasi tentang cara membuat biogas dari kotoran sapi dan baca juga cara
membuat kompos dari kotoran sapi.

Pengertian Biomassa

Biomassa merupakan sumber energi terbarukan yang mengacu pada bahan


biologis yang berasal dari organisme yang belum lama mati (dibandingkan
dengan bahan bakar fosil). Sumber-sumber biomassa yang paling umum adalah
bahan bakar kayu, limbah dan alkohol.
Biomassa merupakan sumber energi terbarukan karena tanaman dapat kembali
tumbuh pada lahan yang sama.
Kayu saat ini merupakan sumber yang paling banyak digunakan untuk biomassa.
Di Amerika Serikat, misalnya, hampir 90% biomassa berasal dari kayu sebagai
bahan bakar.
Ada tiga jenis proses yang digunakan untuk mengkonversi biomassa menjadi
bentuk yang energi yang berguna yaitu: konversi termal dari biomassa, konversi
kimia dari biomassa, dan konversi biokimia dari biomassa.
Biomassa adalah sumber energi terbarukan tetapi ini tidak berarti biomassa
adalah sumber energi yang benar-benar ramah lingkungan. Pertanyaan apakah
kita harus menggunakan biomassa atau tidak telah menimbulkan banyak
kontroversi di beberapa tahun terakhir. Para penentang mengatakan bahwa
biomassa dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca yang besar (dari
pembakaran kayu), bahkan lebih besar daripada gas rumah kaca yang berasal
dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Di sisi lain, para pendukungnya mengatakan bahwa konsep biomassa


berkelanjutan relatif mudah dicapai dengan menerapkan peraturan yang sangat
ketat mengenai bahan yang digunakan dan bagaimana mereka dibakar.
Biomassa dianggap sebagai karbon netral, ini berarti biomassa mengambil
karbon dari atmosfer pada saat tanaman tumbuh, dan mengembalikannya ke
udara ketika dibakar. Karena itulah, setidaknya menurut teori, terjadi siklus
karbon tertutup tanpa peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
Biomassa saat ini memberikan kontribusi sekitar 1,5% dari pasokan listrik total
Amerika Serikat. Kapasitas biomassa di seluruh dunia adalah 58 GW pada tahun
2011.
Categories: biomassa
Newer Post Older Post

Cari di IndoEnergi

Komunika Edisi 9, Mei 2012

Usaha pencarian dan pengembangan energi alternatif (terbarukan) non bahan


bakar minyak (BBM) terus diupayakan. Hal ini untuk mengatasi persoalan krisis
energi berbahan fosil (minyak bumi/BBM) yang belakangan ini jumlahnya
semakin terbatas. Salah satunya adalah pemanfaatan kekayaan sumber daya
peternakan Indonesia yang menyimpan potensi energi terbarukan, yakni
biogas. Biogas merupakan sumber energi alternatif yang berasal dari kotoran
sapi.
Sektor pertanian memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai penghasil pangan semata,
melainkan diharapkan mampu menghidupi industri pengolahan dan hasil-hasilnya.
Melihat posisi tersebut, perlu adanya dukungan pemenuhan kebutuhan energi yang
mencukupi dengan sistem yang terintegrasi.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) Gunung Kidul, Yogyakarta telah
memunculkan suatu sistem pertanian terintegrasi atau terpadu tersebut. Sistem
Pertanian Terpadu ini berangkat dari pengembangan peternakan sapi yang menghasilkan
kotoran melimpah, diolah dengan alat biogas untuk menopang kebutuhan pertanian.
Artinya, alat biogas mampu menghasilkan energi bagi kebutuhan rumah tangga petani
dan olahannya. Selain itu, efluen(sampah) biogas bisa digunakan sebagai sumber pupuk
organik yang dipakai untuk bercocok tanam maupun tambahan hijauan pakan ternak.
Terintegrasi berarti seperti sebuah siklus. Semua komponen dalam sistem bekerja dan

menghasilkan manfaat yang memberi nilai tambah ekonomi, ungkap Satriyo Krido
Wahono, Peneliti UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
Menurutnya, selain memadukan pertanian dan peternakan, sistem ini juga merambah
pada budidaya perikanan. Ada keterkaitan antara biogas dari kotoran sapi sebagai
sumber energi yang juga termanfaatkan untuk pupuk organik, dengan olahan sampah
biogas untuk media budidaya ternak lain, seperti ikan, tambahnya.

Alat Biogas
Salah satu kunci utama dalam sistem pertanian terpadu adalah penggunaan alat
pengolah kotoran sapi menjadi biogas. Melihat secara teknis, Satriyo menjelaskan, alat
biogas atau sering disebut digester biogas biasanya dibuat sesuai kebutuhan di lingkup
peternakan maupun pertanian yang ada.
Hardi Julendra, Peneliti sekaligus Kepala UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mengungkapkan,
penerapan sistem pertanian terpadu berbasis alat biogas salah satunya diujicobakan
dalam penelitian di daerah Kapitan Meo, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penelitian dilakukan dengan membuat unit biogas dengan kapasitas 27.000 liter,
ungkapnya.
Ia menjelaskan, alat biogas itu dibuat dengan ukuran nominal penampung gas diameter
3 meter (m) dan tinggi 2,4 m. Volume tersebut diasumsikan untuk menampung kotoran
sapi sebanyak 9 ekor. Bahan pembuatan digestermenggunakan beton bertulang,
saluran pengumpan dan efluen-nya (saluran sampah) dari pipa PVC diameter 4 inchi,
imbuhnya.
Kemudian, Andi Febrisiantosa, Peneliti UPT BPPTK LIPI Yogyakarta lainnya
menambahkan, bak pengumpan dan efluen berasal dari pasangan bata batako dengan
diameter 300 cm, tinggi 240 cm dan kapasitas tampungnya 15.000 liter.

Proses Kerja
Andi menjelaskan, sistem kerja alat biogas bermula dari pengumpanan digester
dilakukan dengan pengglontoran dan pengenceran kotoran sapi. Pengenceran dilakukan
melalui penyampuran kotoran dengan air sehingga berbentuk lumpur. Lumpur kotoran
dialirkan melalui parit yang dilengkapi jeruji pada posisi dekat lubang pemasukan
digester (alat biogas) untuk memisahkan sisa pakan. Dengan adanya jeruji pemisah
tersebut, sisa pakan akan tertahan sedangkan lumpurnya masuk ke dalam digester,
tambahnya.
Dikatakan Andi, alat biogas akan memproses lumpur dan menghasilkan gas yang
disalurkan ke perumahan dan digunakan sebagai bahan bakar kompor dan generator set
(genset) berbahan bakar gas dengan kapasitas 750 watt 220 volt. Bahan bakar gas
yang diharapkan adalah CH4 atau gas metana, tandas Andi.
Selain menghasilkan gas untuk listrik, Satriyo menambahkan, sisa sampah biogas yang
keluar dari pipa pembuangan dalam bentuk lumpur dapat pula dimanfaatkan sebagai

pupuk organik. Caranya dilakukan pemisahan antara padat dengan cair dengan
pengendapan dan penyaringan. Padatan diendapkan satu malam serta cairannya disaring
selanjutnya dianalisa kandungan mineralnya, urainya.
Keduanya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik asal kandungannya sesuai yang
disyaratkan. Tak hanya itu saja, dia menuturkan, sisa biogas tersebut juga bisa dipakai
untuk media budidaya ikan maupun cacing (pakan ikan). Sistem pertanian terpadu
berbasis biogas berupaya mengoptimalisasi pemanfaatan limbah yang terbentuk agar
lebih ramah lingkungan, pungkasnya.

Pengoptimalan Gas Metana dengan Filter Biogas


Terkadang hasil pengolahan kotoran sapi dari digester (alat biogas) belum menghasilkan
gas CH4 alias metana (gas yang berperan untuk energi listrik maupun lainnya) secara
maksimal. Hasilnya adalah energi gas untuk menghidupkan kompor maupun genset
kurang optimal.
Satriyo Krido Wahono, Peneliti UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mengatakan, untuk mengatasi
persoalan tersebut, pihaknya telah menciptakan alat filter biogas. Tujuan filter adalah
meningkatkan performa biogas dengan pemurnian, ujarnya.
Ia menjelaskan, spesifikasi alat ini berukuran berat 2.500 gram per paket berbentuk
silinder dengan panjang antara 50-70 cm dan diameter (ukuran tengah) 10-12 cm.
Filter tersebut terpisah dari digesterdan harga di pasaran sekitar Rp 1 juta per paket,
tambahnya.
Adapun keunggulan alat itu, Satriyo menyebutkan bahwa materi penyerap mempunyai
sifat/kemampuan multi-adsorpsi (membersihkan) semua gas pengotor biogas. Dengan
penggunaan filter, kadar gas metana dalam biogas dapat meningkat sebesar 5-20 % dari
kadar metana awal, tandasnya.
Keunggulan lain, lanjutnya, biogas hasil penyaringan mampu meningkatkan efisiensi
konversi (pengubahan) energi listrik dengan menggunakan genset. Energi listrik yang
dihasilkan maksimal dan sesuai yang diharapkan, imbuh dia.
Tak hanya itu saja, lelaki kelahiran Blitar Jawa Timur tersebut menuturkan, filter juga
mengurangi potensi korosi pada kompor atau mesin konversi energi lainnya. Untuk
pengembangan lanjutan, filter dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pemurnian
berbagai macam gas yang bersifat sebagai polutan (penyebab polusi udara), baik di
cerobong asap pabrik, kendaraan bermotor dan lainnya.
Satriyo menambahkan, alat berbentuk silinder hasil penelitiannya bersama tim tersebut
mengandung material penyerap berbahan padat berbasis material lokal Indonesia. Kami
membuat alat ini dengan komponen utama berasal dari dalam negeri, tutupnya.

Penerapan Penelitian di Beberapa Daerah

Manfaat sistem pertanian terpadu telah dirasakan di sejumlah kawasan Indonesia.


Sistem ini mampu menggerakan usaha peternakan yang dipandang sebagai usaha hulu
dan budidaya tanaman pangan sampai pengolahan hasil pertanian sebagai usaha hilir.
Usaha hilir yang berkembang akan memberikan peluang pada usaha hulu agar
berkembang lebih besar lagi. Perputaran siklus tersebut akan terus saling menguatkan
komponen-komponen kegiatannya dan mampu menekan beban lingkungan akibat
pemanfaatan limbah yang dihasilkan.
Kepala UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, Hardi Julendra menyebutkan bahwa Sistem Pertanian
Terpadu dengan titik tolak alat biogas telah diterapkan di beberapa daerah sebagai lokasi
penelitian sejak tahun 2007. Selain diterapkan di Gunung Kidul dan Bantul
(Yogyakarta), sistem tersebut juga telah merambah Wonosobo, Temanggung dan
Purwokerto (Jawa Tengah) serta Belu (NTT), urainya.
Ia berharap, sistem pertanian terpadu yang telah dikembangkan itu mampu berjalan
secara berkesinambungan. Tidak hanya berjalan saat penelitian saja, melainkan
masyarakat diharapkan mampu menerima alih teknologi dan menggunakannya dalam
jangka panjang.
Ditekannya, muara akhir penciptaan sistem pertanian terpadu adalah meningkatkan nilai
tambah kehidupan masyarakat. Terutama, kehidupan masyarakat pedesaan maupun
perbatasan yang menggantungkan hidupnya pada pertanian. (Purwadi/Humas BKPI LIPI)

Kotoran Sapi sebagai Biomassa Bahan Baku Energi


Alternatifdalam Pemanfaatan Potensi Lokal Sumbawa
Oleh : Kurniawan Eka Putra

Dahulu Indonesia telah dikenal sebagai negara agraris yang memiliki rekam jejak gemilang,
kemudian meredup beberapa tahun belakangan. Selain menyandang gelar sebagai negara
agraris, Indonesia juga memiliki kekayaan dalam sumber daya peternakan. Untuk
mengoptimalisasi sumber daya tersebut, Indonesia kini telah merancang berbagai program,
mulai dari pemberdayaan masyarakat, hingga memaksimalkan potensi peternakan daerah
guna mewujudkan swasembada peternakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang
semakin meningkat terutama permintaan terhadap daging sapi.
Salah satu program yang dilakukan oleh kementerian pertanian adalah Bumi Sejuta Sapi
(BSS) di provinsi Nusa Tenggara Barat. Program ini merupakan langkah untuk optimalisasi
sumber daya peternakan di daerah, salah satunya kabupaten Sumbawa. Dengan adanya
program ini, maka kegiatan peternakan di daerah lebih berkembang karena adanya perhatian
yang besar dari pemerintah.
Program BSS sangat mengedepankan optimalisasi peternakan sapi di Nusa Tenggara Barat
dan Sumbawa khususnya, terutama masalah pakan dan asupan nutrisi. Akan tetapi
pemerintah bahkan para peternak sapi hanya berorientasi pada penyediaan nutrisi untuk
menghasilkan ternak unggulan berbadan sehat dan gemuk kemudian dijual, sebagai wujud
bentuk wirausaha mandiri masyarakat peternak. Padahal lebih jauh lagi, potensi daerah yang
sangat besar ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, jika pemerintah dan peternak cermat
melihat situasi. Apalagi potensi untuk daerah Sumbawa saja mencapai lebih dari 196.000
ekor pada tahun 2012 (Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa), dan tentu potensi ini sangat
besar jika dioptimalkan perannya.
Peran peternakan yang dapat diaplikasikan yaitu penyediaan sumber energi alternatif melalui
hasil buangan peternakan, berupa kotoran atau feses sapi. Penyediaan sumber ini sebagai
jawaban atas krisis energi dan listrik yang melanda provinsi Nusa Tenggara Barat, terutama
Sumbawa, karena hingga kini mandiri energi masih jauh dari harapan. Pemadaman listrik

bergilir dan kelangkaan minyak tanah atau naiknya harga elpiji menjadi satu masalah pelik
yang menjerat dan menghambat roda perekonomian masyarakat Sumbawa.
Beberapa solusi dapat dijadikan jalan keluar menuju mandiri energi dengan memanfaatkan
sisa metabolime atau kotoran sapi yang terkadang hanya teronggok sebagai perusak estetika
sejauh mata memandang, sebagai bahan baku biogas dan briket.
Biogas
Konsep biomassa, atau diartikan sebagai bahan organik yang terdiri atas bagian tubuh
makhluk hidup yang telah mati atau masih hidup, saat basah atau kering ataupun kotoran
hasil metabolisme pada tumbuhan dan hewan, telah dikenal sejak dulu dan digunakan
sebagai salah satu bahan baku energi alternatif. Dahulu biomassa digunakan sebagai bahan
bakar yaitu kayu yang dibakar untuk memasak, akan tetapi dengan kemajuan teknologi dan
perkembangan ilmu pengetahuan terutama dibidang mikrobiologi, akhirnya ditemukan bahwa
terdapat bakteri metanogen bakteri penghasil gas metan yang terdapat dalam kotoran sapi
dan kotoran organisme lain, dan gas inilah salah satu pencetus aroma tidak sedap dalam
kotoran hasil metabolisme makhluk hidup. Dari fakta inilah ditemukan bahwa dengan
kotoran sapi dapat digunakan sebagai bahan bakar gas alami atau biogas sebagai pengganti
gas dari dalam bumi yang tidak dapat diperbaharui. Bahkan menurut beberapa penelitian
didapatkan bahwa dari sebuah reaktor tempat penyimpanan dan pemprosesan biogas
dengan kapasitas 18 m3 kotoran sapi diperoleh hingga 6 m3 biogas yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber energi menyalakan lampu penerangan sebanyak 0,23 m3 per jam atau kompor
gas sebanyak 0,30 m3 per jam, dan jika dianalisis lebih jauh, sebanyak lebih dari 196.000
ekor sapi yang ada di Sumbawa pasti akan mampu untuk menyukseskan daerah mandiri
energi yang kita idamkan, dan kini hanya tinggal bagaimana usaha dari masyarakat dan
pemerintah untuk proaktif melakukan terobosan mengganti masa kelam kelangkaan energi
dengan masa mandiri energi yang gemilang kelak.
Briket
Kotoran sapi biasanya digunakan sebagai biogas ketika masih basah karena pada kondisi ini
bakteri metanogen aktif bekerja sebagai penghasil gas metan, dan ditandai juga dari tempatur
kotoran yang lebih panas beberapa derajat dibandingkan ketika kering.
Kotoran sapi bak keniscayaan dalam penyelesaian masalah kelangkaan energi di tanah
Sumbawa, sebagai bagian dari program Bumi Sejuta Sapi. Bukan hanya sebagai bahan bakar
gas, tetapi kotoran sapi dapat juga dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam bentuk lain
untuk menjawab permasalahan ketika kotoran sapi didalam reaktor yang telah habis
mengeluarkan zat metan kemudian mengering.
Briket. Merupakan suatu bentuk pemanfaatan biomassa makhluk hidup untuk dijadikan
semacam arang yang melewati proses penggilingan atau menghaluskan bahan, kemudian
penambahan bahan lain dan bahan perekat lalu diproses dan dikeringkan hingga menjadi
arang dan siap digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu yang kini dilarang digunakan
karena penggunaan kayu bakar sama saja dengan melakukan penebangan hutan atau

deforestasi yang kini menjadi ancaman serius bagi kita, negara dengan hutan hujan tropis
terbesar kedua di dunia.
Penggunaan briket berbahan dasar kotoran sapi sisa biogas agaknya menjadi sebuah jalan
pintas untuk menghasilkan produk briket dengan waktu singkat dan biaya lebih murah.
Dalam pembuatan briket digunakan bahan serat yang dihaluskan sebagai bahan utamanya.
Inilah keuntungannya dalam hal efisiensi waktu dan biaya, dimana kotoran sapi yang telah
menjadi serat serat pendek dalam satu kesatuan kotoran hasil sisa metabolisme kemudian
dimanfaatkan sebagai biogas, yang artinya tidak perlu lagi tenaga lebih untuk
menghancurkannya menjadi bubuk sebagai bahan baku dalam pembuatan briket. Briket yang
dihasilkan dalam proses ini pun tidak kalah dengan briket dari sekam gergaji atau dari kulit
durian yang sempat menjadi berita utama dibeberapa stasiun televisi beberapa waktu lalu.
Kemampuan yang tidak jauh berbeda ini karena bahan baku dalam pembuatan briket berasal
dari satu bahan, yaitu serat dengan atom karbon yang terdapat didalamnya, dan tentunya
briket dari bahan ini lebih baik karena selain pemanfaatan limbah kotoran ternak hasil sisa
dari pemanfaatan sebelumnya biogas, juga memberi andil dalam pencarian bahan baku
energi alternatif, sebagai solusi bagi kelangkaan energi yang terjadi di masyarakat.
Dapur tetap mengepul dan kebutuhan akan energi tetap terjamin, akan menjadi sebuah slogan
yang dimiliki oleh ibu ibu rumah tangga yang hidup berdampingan dengan peternakan sapi
di Sumbawa, jika masyarakat dan pemerintah bekerjasama lalu proaktif dalam pemanfaatan
peternakan sapi sebesar besarnya, bukan hanya diberi makan kemudian sehat, berbadan
besar dan dijual sebagai orientasi utama seorang peternak, tetapi dalam proses menuju tujuan
utama itu kita dapat memanfaatkan segala peluang yang ada untuk menjawab tantangan yang
kini kita hadapi bersama, yaitu memenuhi kebutuhan energi tanpa menggantungkan diri
kepada bahan bakar minyak bumi dan gas alam, tetapi dengan sumber energi alternatif yang
bukan hanya memenuhi kebutuhan dapur tetapi juga menambah nilai guna atau manfaat suatu
barang yang tidak lagi menjadi perhatian, kotoran sapi.