Anda di halaman 1dari 32

farmasiq

Jumat, 17 Januari 2014


Ida #kecepatan disolusi

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

LATAR BELAKANG
Obat adalah suatu zat yang dimaksud untuk manusia untuk mengurangi rasa sakit,

menghambat, atau mencegah penyakit yang menyerangnya. Obat yang diberikan pada pasien
tersebut harus melalui banyak proses di dalam tubuh. Dan bahan obat yang diberikan
tersebut, dengan cara apapun juga harus memiliki daya larut dalam air untuk kemanjuran
terapeutiknya.
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan padat
ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan
suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus memiliki daya larut
dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-senyawa yang relatif tidak dapat
dilarutkan mungkin memperlihatkan absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu
sehingga menghasilkan respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari
senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak turunan yang larut,
seperti garam dan ester dengan teknik seperti mikronisasi obat atau kompleksasi.
Dalam bidang farmasi, laju disolusi sangat diperlukan karena menyangkut tentang
tentang waktu yang dibutuhkan untuk penglepasan obat dalam bentuk sediaan
dan diabsorbsi dalam tubuh. Jadi, semakin cepat disolusinya maka makin cepat
pula obat atau sediaan memberikan efek kepada tubuh.
I.2

MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM


I.2.1

Maksud praktikum

Adapun maksud percobaan ini adalah mengetahui dan memahami cara penentuan
dari konstanta laju disolusi distribusi suatu obat parasetamol.
I.2.2
1.

Tujuan praktikum

Menentukan kecepatan disolusi suatu zat

2.

Menggunakan alat penentu kecepatan disolusi suatu zat

3.

Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat.

I.3

PRINSIP PERCOBAAN
Penentuan konstanta kecepatan disolusi tablet parasetamol berdasarkan
kadar zat yang terdisolusi dalam media air suling pada suhu 37 0C dengan
menggunakan alat disolusi dimana pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 dipipet
larutan sampel dan ditentukan kadarnya absorbansinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DASAR TEORI
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat
yaitu bentuk tablet, kapsul dan salep (Martin,1993)
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorpsi. Dalam hal ini dimana kelarutan suatu obat
tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan
dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses
melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1989).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat atau
jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu,
laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggunpannya
menembeus pembatas membrane. Tetapi, jika disolusi untuk suatu partikel obat
lambat, misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang
diberikan, proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju
dalam proses absorbsi (Ansel, 1989)
Penentuan kecepatan pelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan metode:
(Effendi, 2005)
1.

Metode suspensi

Bubuk zatpadat ditambahkan pada pelarut tanpa pengontrolan yang eksak terhadap luas
pemukaan partikelnya.Sample diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang
terlarut ditentukan dengan cara yang sesuai.
2.

Metode permukaan konstan


Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya, sehingga variable perbedaan
luas permukaan efektif dapat dihilangkan. Biasanya zat dibuat tablet terlebih dahulu.
Kemudian sampel ditentukan seperti pada metode suspensi.
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan padat, koefisien
difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi pada waktu t. Kecepatan pelarutan
ini juga berbanding terbalik dengan tebal lapisan difusi. Pelepasan zat aktif dari suatu produk
obat sangat dipengaruhi oleh sifat fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat
aktif ditetapkan oleh kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan, dimana pelepasan zat
aktif ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya (Tjay, 2002).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam cairan pada
tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet
atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu
tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari
apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam
lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat fisikokimia
zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif biasanaya ditetapkan oleh kecepatan
pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya. Pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan biasanya
ditenmtukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya (Amir, 2007).
Disolusi adalah suatu jenis khusus dari suatu reaksi heterogen yang menghasilkan
transfer massa karena adanya pelepasan dan pemindahan menyeluruh ke pelarut dari
permukaan padat. Teori disolusi yang umum adalah: (Amir, 2007).
1.

Teori film (model difusi lapisan)

2.

Teori pembaharuan-permukaan dari Danckwerts (teori penetrasi)

3.

Teori Solvasi terbatas/Inerfisial


Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk sediaan

utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri. Kecepatan disolusi zat
aktif dari keadaan polar atau dari sediaannya didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang
terdisolusi per unit waktu di bawah kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi
media yang dibakukan (Shargel, 1988).

Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan zat aktif dari
satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu diketahui sebagai indikator
kualitas dan dapat memberikan informasi sangat berharga tentang konsistensi dari batch
satu ke batch lainnya. Tes disolusi ini didesain untuk membandingkan kecepatan
melarutnya suatu obat, yang ada di dalam suatu sediaan pada kondisi dan ketentuan yang
sama dan dapat diulangi (Shargel, 1988).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari kelayakan
sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada zat aktif yang
dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh terhadap kecepatan dan besarnya
ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika disolusi makin cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat
aktif dari sediaan padat (tablet, kapsul, serbuk, seppositoria), sediaan system terdispersi
(suspensi dan emulsi), atau sediaan-sediaan semisolid (salep,krim,pasta) mengalami disolusi
dalam media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam sirkulasi
sistemik (Voigt, 1995).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran cerna, obat
tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak
dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan
granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi,
deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari
bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau reaktivitas partikelpartikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan mengalami dua langkah berturut-turut:
(Gennaro, 1990)
1.

Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang tetap atau film
disekitar partikel

2.

Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.


Langkah pertama,. larutan berlangsung sangat singkat. Langka kedua, difusi lebih
lambat dan karena itu adalah langkah terakhir.
Adapun mekanisme disolusi dapat digambarkan sebagai berikut :
Massa larutan dengan konsentrasi = Ct
Kristal
Lapisan film (h) dgn konsentrasi = Cs

Difusi layer model (theori film)


Pada waktu suatu partikel obat memngalami disolusi, molekul-molekul obat pada
permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu lapisan jenuh obat-larutan
yang membungkus permukaan partikel obat padat. Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan
difusi. Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan
berhubungan dengan membrane biologis serta absorbsi terjadi. Jika molekul-molekul obat
terus meninggalkan larutan difusi, molekul-molekul tersebut diganti dengan obat yang
dilarutkan dari permukaan partikel obat dan proses absorbsi tersebut berlanjut (Martin, 1993).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau jika obat
diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu, laju obat yang
terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya menembus menembus pembatas
membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin
karena karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan , proses disolusinya sendiri
akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses absorbsi. Perlahan-lahan obat
yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin
tidak seluruhnya diabsorbsi atau dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah
pemberian ora, karena batasan waaktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam lambung atau
saluran usus halus (Martin, 1993).
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada kenyataan bahwa
tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan berhubungan dengan tersedianya obat di dalam
cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur hanya waktu yang diperlukan tablet untuk hancur
di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya partikel melalui saringan. Uji ini tidak
memberi jaminan bahwa partikel-partilkel tersebut akan melepas bahan obat dalam larutan
dengan kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah sebabnya uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet (Martin, 1993).
Pelepasan dari bentuk-bentuk sediaan dan kemudian absorpsi dalam tubuh dikontrol
oleh sifat fisika kimia dari obat dan bentuk yang diberikan, serta sifat-sifat fisika kimia dan
fisiologis dari system biologis. Konsentrasi obat, kelarutan dalam air, ukuran molekul, bentuk
kristal, ikatan protein, dan pKa adalah faktor-faktor fisika kimia yang harus dipahami untuk
mendesain system pemberian (Martin, 1993).

Obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan biasanya diabsorpsi lebih cepat
dibandingkan pemberian dalam bentuk padat, karena tidak membutuhkan prose melarut
(Ansel, 1989).
Disolusi dari suatu partikel obat dikontrol oleh beberapa sifat fisika-kimia, termasuk
bentuk kimia, kebiasaan kristal, ukuran partikel, kelarutan, luas permukaan, dan sifat-sifat
pembasahan. Bila data kelarutan kesetimbangan dirangkaikan, maka eksperimen disolusi
dapat membantu mengidentifikasi daerah masalah bioavailabilitas potensial (Lachman,
1994).
Obat dapat diubah dalam system saluran cerna menjadi berbagai bentuk yang
menjadikannya kurang atau lebih lambat tersedia untuk diabsorpsi. Perubahan ini mungkin
disebabkan oleh penggabungan atau berikatannya obat-obat dengan beberapa bahan lain yang
mungkin berupa suatu unsure yang normal dari system saluran cerna atau suatu bahan
makanan atau bahan obat lain. (Ansel, 1989)
Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan
karena kecepatan pelarutan suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap pembuatan
sediaan obat yaitu : tahap preformulasi, tahap formulasi, dan tahap produksi (Effendi, 2005).
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi disolusi adalah luas permukaan, bentuk
obat kristal dan amorf, bentuk garam, atau faktor lainnya yaitu keadaan hidrasi dari suatu
obat dapat mempengaruhi kelarutan dan pola absorpsi. Biasanya bentuk anhidrat dari suatu
molekul organic lebih mudah larut daripada anhidratnya (Ansel, 1989).
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis yang penting
dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis disolusi telah masuk persyaratan
wajib USPuntuk persyaratan tablet dan kapsul, sejak tahun 1960. Berbagai studi telah
berhasil dalam korelasi disolusi invivo dengan disolusi invitro. Namun, disolusi bukan
merupakan suatu peramal koefisien terapi, tetapi disolusi lebih merupakan parameter mutu
yang dapat memberikan informasi berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk
(Voigt, 1995).
Pengembangan dan penggunaan uji disolusi invitro untuk mengevaluasi dan
menggambarkan disolusi dan absorbsi invitro bertujuan : (Ansel, 1989).
a)

Untuk mengetahui kepentingan bahwa sifat-sifat fisikokimia yang ada dalam model
disolusi dapat berarti atau berpengaruh dalam proses invivo apabila dikembangkan suatu
model yang berhasil meniru situasi invivo

b)

Untuk menyaring zat aktif penting dikaitkan dengan formulasinya dengan sifat disolusi dan
absorbsinya sesuai.

c)

Sistem uji disolusi invitro dapat digunakan sebagai prosedur pengendalian mutu untuk
produk akhir.

d)

Menjamin kesetaraan hayati (bioekivalen) dari batch yang berbeda dari bentuk sediaan
solid apabila korelasi antara sifat disolusi dan ketersdiaan hayati telah ditetapkan.

e)
f)

Metode yang baik sekali dan handal untuk memantau proses formulasi dan manufaktur.
Penetapan kecepatan disolusi intrinsik berguna untuk mengetahui sifat disolusi zat aktif
yang baru.

g)

Agar sistem disolusi invitro bernilai maka system harus meniru secara dekat sistem invivo
sampai tingkat invitro-invivo yang konsisten tercapai. Oleh karena itu keuntungan dalam
biaya, tenaga kerja, kemudahan dapat diberikan dengan penggunaan sistem
Disolusi dapat terjadi langsung pada permukaan tablet, dari granul-granul bilamana
tablet telah pecah atau dari partikel-partikel halus bilamana granul-granul telah pecah. Pada
tablet yang tidak berdesintegrasi, kecepatan disolusinya ditentukan oleh proses disolusi dan
difusi. Namun demikian, bagi tablet yang berdesintegrasi, profil disolusinya dapat menjadi
sangat berbeda tergantung dari apakah desintegrasi atau disolusinya yang menjadi penentu
kecepatan (Ansel, 1989).

II.2 URAIAN BAHAN


Air Suling (DitjenPOM, 1979 : 96 )
Nama Resmi

: AQUA DESTILLATA

Nama Lain

: Air suling, aquadest

RM/BM

: H2O / 18,02

Rumus Struktur
Pemerian

: H-O-H
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berasa, tidak mempunyai bau.

Penyimapanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Sebagai pelarut

Parasetamol (DitjenPOM, 1979 : 37 )


Nama Resmi

: ACETAMINOPHENUM

Nama Lain

: Parasetamol

RM/BM
Pemerian

: C8H9NO2 / 151,16
: Hablur atau serbuk hablur putih: tidak
berbau : rasa pahit.

Penyimapanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Sebagai zat uji

II.3 Prosedur Kerja (Anonim, 2013)


1.

Pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi zat

Isilah bejana dengan 900 ml.

Pasang thermostat pada suhu 30oC.

Jika suhu air di dalam bejana mencapai 30 oC,masukkan 2 g asam salisilat dan hidupkan
motor penggerak pada kecepatan 50 rpm.

Ambil sebanyak 20 ml air dari bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15,20, 25, dan 30 menit
setelah pengadukan.Setiap selesai pengambilan sampel, segera digantikan dengan 20 ml air.

Tentukan kadar asam salisilat terlarut dari setiap sampel dengan cara titrasi asam-basa
menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator fenoftalein. Lakukan koreksi perhitungan kadar
yang diperoleh setiap waktu terhadap pengenceran yang dilakukan karena penggantian
larutan dengan air suling.

Lakukan percobaan yang sama untuk suhu 40oC dan suhu 50oC.

Tabelkan hasil yang diperoleh.

Buat kurva antara konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu untuk setiap
satuan waktu (dalam satu grafik).

2.

Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi zat

Isilah bejana dengan 900 ml.

Pasang thermostat pada suhu 30oC.

Jika suhu air di dalam bejana mencapai 30 oC,masukkan 2 g asam salisilat dan hidupkan
motor penggerak pada kecepatan 50 rpm.

Ambil sebanyak 20 ml air dari bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15,20, 25, dan 30 menit
setelah pengadukan.Setiap selesai pengambilan sampel, segera digantikan dengan 20 ml air.

Tentukan kadar asam salisilat terlarut dari setiap sampel dengan cara titrasi asam-basa
menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator fenoftalein. Lakukan koreksi perhitungan kadar
yang diperoleh setiap waktu terhadap pengenceran yang dilakukan karena penggantian
larutan dengan air suling.

Lakukan percobaan yang sama untuk kecepatan 100 dan 500 rpm.

Tabelkan hasil yang diperoleh.

Buat kurva antara konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu untuk
setiapmsatuan waktu (dalam satuan grafik).

BAB III
METODE KERJA
III.1 ALAT DAN BAHAN
1.

Alat-alat yang digunakan


Alat yang dipakai pada praktikum ini adalah alat uji disolusi tipe 2 (dayung), gelas
kimia 50 ml, kuvet, pipet volume 5 ml, pipet volume 10 ml, spektrofotometer dan vial.

2.

Bahan-bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air steril, etiket, parasetamol 500 mg
dan parasetamol p.a.
III.2 CARA KERJA

Prosedur penggunaan alat uji disolusi


1.

SWITCH ON pemanas lampu dan LED hijau akan menyala dan LCD juga akan menyala.

2.

Pesan akan nampak pada display yaitu: VEEGO TABLET DISSOLUTION.

3.

Kemudian pesan itu akan berubah menjadi: TANK WARMING 29,9o HEATER ON.

4.

Pemanas akan terus on hingga suhu mencapai 38,0o C.

5.

Ketika suhu telah mencapai 38,0o C akan timbul suara agak panjang dan pesan akan
berubah menjadi START TEST.

6.

Untuk mengatur tanggal dan waktu, tekan SET CLOCK , lalu atur waktu dan tanggal.

7.

Untuk mengatur interval waktu, tekan SET INTERVAL kemudian atur waktunya tekan
ENTER.

8.

Untuk mengatur suhu tekan SET TEMPT lalu atur suhunya dan tekan ENTER.

9.

Untuk mengatur kecepatan putar, tekan SET RPM atur RPMnya kemudian tekan ENTER.

10. Untuk mengatur no.batch tekan BATCH NO ketikkan no batch lalu tekan ENTER.
11. Pelaksanaan test tekan START TEST dan akan muncul pesan: BEAKER WARMING 36,9 oC
HEATER ON.
12. Setelah 45 menit suhu digelas kimia juga akan mencapai 37,0 oC dan akan muncul suara beep
agak panjang. Pesan berubah menjadi: INSERT SAMPLE ENTER TO START.
13. Masukkan tablet atau kapsul ke dalam keranjang kemudian tekan ENTER.
Prosedur penggunaan spektrofotometer
1.

Sambungkan ke sumber arus listrik

2.

Putar / set tombol turn ON

3.

Panaskan selama minimum 15 menit

4.

Putar / set zero (nol)

5.

Putar / set panjang gelombang

6.

Masukkan kuvet berisi blanko

7.

Putar / set skala penuh sampai jarum menunjukkan angka 0 (absorban) atau angka 100
(transmitan)

8.

Masukkan kuvet yang berisi sampel yang akan diukur

9.

Lihat / catat persen transmitan (%T) atau absorban (A)

10. Putar / set turn OFF


11. Lepaskan kabel / cabut dari sumber arus listrik
Pengukuran absorban paracetamol
1.

Disiapkan alat dan bahan.

2.

Disiapkan alat uji disolusi dan dimasukkan 900 ml air steril pada medium dan diuji dengan
menggunakan metode dayung.

3.

Dimasukkan tablet paracetamol ke dalam medium.

4.

Dilakukan pengadukan dengan kecepatan 50 rpm, dan tiap 5 menit dipipet 5 ml absorban
menggunakan pipet volume 5 ml. Bersamaan dengan diambil 5 ml dimasukkan lagi 5 ml air
steril ke dalam medium hingga menit ke 30.

5.

Dimasukkan setiap absorban yang dipipet pada interval waktu 5 menit ke dalam masingmasing vial dan ditutup dengan aluminium foil.

6.

Diukur nilai absorban air steril dengan menggunakan spektrofotometer.

7.

Diukur nilai absorban paracetamol menggunakan spektrofotometer.

8.

Dicatat hasilnya dan dibuat dalam tabel

I.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 DATA PENGAMATAN
IV.I.1 Hasil dan Perhitungan
a.

Tabel pembuatan Kurva baku

KURVA BAKU
PPM

a.

50

ABSORBAN
0.243

70

0.306

90

0.384

110

0.481

130

0.548

200

0.813

Tabel disolusi paracetamol 500 mg


Kekuatan obat (mg)

Waktu (menit)

rata"

500

500

500

500

500

500

500

500

10

500

500

500

500

15

500

500

500

500

20

500

500

500

500

25

500

500

500

500

30

500

500

500

500

%kadar obat dlm 900 mL

Kadar
Rata"

55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6

55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6

55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6

Absorban Absorban Absorban


(y)
(y)
(y)
1
0.001
0.004
0.007
0.004
0.002
0.004
0.004

Absorban
Rata"

55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6
55.5555555
6

2 Obat dalam
3 5 mL (ppm)
0.0003333
0
0
1
2
3 3

Rata"
0.04515ppm0.00385
4
2
0.04515 0.00385
0.002
0.003-11.7208859
0.003
4
2
11.4613092 11.7208859
11.6343604
0.0043333 0.04515 0.00385
0.004
0.0023
4
2
10.682579 11.2017326 10.9421559 10.942155
0.0026666 0.04515 0.00385
2
9
0.002
0.002
7
4
2
-11.2017326
0.0023333 0.04515 0.00385
9.90384911 10.682579
10.596053
0.002
0.003
3
4
2
2
6
0.04515 0.00385
-11.2017326
0.003
0.005
0.004
4
2
10.682579 11.2017326
11.0286814
0.04515 0.00385
2
0.008
0.003
0.005
4
2
-11.115207
11.2017326 11.2017326 10.9421559
10.682579 10.942155
10.682579
10.4230025
2
9
2
10.682579 9.6442724
10.423002
10.9421559
2
2
5

Obat dalam 5 mL (mg)

Rata"

0.0573065
5

-0.05860443

-0.0534129 -0.05600866
0.0495192
5

-0.0534129

-0.0534129 -0.05600866
0.0560086
6

-0.05600866

-0.0534129 -0.05471078
-0.0534129 -0.04822136

3
0.0586044
3
0.0547107
8
0.0560086
6
0.0560086
6
0.0547107
8
0.05211501
0.0547107
8

-0.0581718
-0.05471078
-0.05298027
-0.05514341
-0.05557603
-0.0534129
-0.05211501

Rata"

%obat yang terdisolusi


1

1.146130925
1.068257918
0.990384911
1.068257918
1.120173256
1.068257918
1.068257918

1.172088594
1.120173256
1.068257918
1.120173256
1.120173256
1.094215587
0.964427242

1.172088594
1.094215587
1.120173256
1.120173256
1.094215587
1.042300249
1.094215587

1.163436038
1.094215587
1.059605362
1.102868143
-1.1115207
1.068257918
1.042300249

Rata"

Faktor Koreksi
1

0
0.0063673
9
0.0123021
6

0.006511603

-0.0065116

-0.00646353

0.012734788

-0.01259058

-0.01254251

0.018669554

-0.01881376

-0.01842921

0.024892739

-0.02503695

-0.02455625

0.031115924

-0.03111592

-0.03073137

0.037194899

-0.03690648

-0.03666613

-0.0178043
0.0237390
6
0.0299622
5
0.0358970
2

Rata"

%kadar
terkoreksi
1

-1.1720886
1.1461309 1.1720886
-1.1007272
1.0746253 1.1266849
%disolusi
obat
-1.1327638
1.0026871 1.0809927
1
2
-1.138987
1.0860622-2.06303566
1.1388428
2.1097594
-1.145066 -1.1192525
7
1.1439123
-1.93432556
-1.0734162
2.0280327
1.0982202 1.1253315
5
-1.1311221
-1.80483673
1.1041549 1.0016221
1.9457868
7
-1.95491199 2.0499170
6
-2.05904218
2.06111879
-1.9767963
-

-1.163436
-1.1006791

Disolusi
Rata"

-1.0721479
3
-1.1212973 -2.09418487
-2.10975947
-1.136077
-1.98130894 -1.98122242
-1.0989893
-1.0789664 -1.92986617
-2.0389749

-2.05017664

-2.01833523

-2.01465456

-2.04493851

-1.93214911

-1.97818071

-1.98747888

Perhitungan

a.

Pembuatan Kurva baku

2.0255967
2
1.8029198
5

-2.03601972

-1.94213949

ppm =
untuk, 50 ppm =
70 ppm =
90 ppm =
110 ppm =
130 ppm =
200 ppm =
Jadi, untuk penentuan absorban kurva baku untuk 50 ppm dipipet 0,5 ml, 70 ppm 0,7 ml, 90
ppm 0,9 ml, 110 ppm 1,1 ml, 130 ppm 1,3 ml, dan 200 ppm dipipet 2 ml.
b.

Kecepatan disolusi paracetamol

1.

% paracetamol dalam 900 ml


=
=%
= 55,56 %

2.

Obat dalam 5 ml (ppm)(1)


Untuk 0 menit :
= = -11,4613
Untuk 5 menit :
= = -10,6825
Untuk 10 menit :
= = -9,9038
Untuk 15 menit :
= = -10,6825
Untuk 20 menit :
= = -11,2017
Untuk 25 menit :
= = -10,6825
Untuk 30 menit :

= = -10,6825
3.

Obat dalam 5 ml (ppm)(2)


Untuk 0 menit :
= = -11,7208
Untuk 5 menit :
= = -11,2017
Untuk 10 menit :
= = -10,6825
Untuk 15 menit :
= = -11,2017
Untuk 20 menit :
= = -11,2017
Untuk 25 menit :
= = -10,9421
Untuk 30 menit :
= = -9,6442

4.

Obat dalam 5 ml (ppm)(3)


Untuk 0 menit :
= = -11,7208
Untuk 5 menit :
= = -10,9421
Untuk 10 menit :
= = -11,2017

Untuk 15 menit :
= = -11,2017
Untuk 20 menit :
= = -10,9421
Untuk 25 menit :
= = -10,4230
Untuk 30 menit :
= = -10,9421

5.

Obat dalam 5 ml (mg) (1)


Untuk 0 menit :
= x 5 = -0,0573 mg
Untuk 5 menit :
= x 5 = -0,0534 mg
Untuk 10 menit :
= x 5 = -0,0495 mg
Untuk 15 menit :
= x 5 = -0,0534 mg
Untuk 20 menit :
= x 5 = -0,0560 mg
Untuk 25 menit :
= x 5 = -0,0534 mg
Untuk 30 menit :
= x 5 = -0,0534 mg

6.

Obat dalam 5 ml (mg) (2)


Untuk 0 menit :
= x 5 = -0,0586 mg
Untuk 5 menit :
= x 5 = -0,0560 mg
Untuk 10 menit :
= x 5 = -0,0534 mg
Untuk 15 menit :
= x 5 = -0,0560 mg
Untuk 20 menit :
= x 5 = -0,0560 mg
Untuk 25 menit :
= x 5 = -0,0547 mg
Untuk 30 menit :
= x 5 = -0,0482 mg

7.

Obat dalam 5 ml (mg) (3)

Untuk 0 menit :
= x 5 = -0,0586 mg
Untuk 5 menit :
= x 5 = -0,0547 mg
Untuk 10 menit :
= x 5 = -0,0560 mg
Untuk 15 menit :
= x 5 = -0,0560mg
Untuk 20 menit :
= x 5 = -0,0547 mg
Untuk 25 menit :
= x 5 = -0,0521 mg
Untuk 30 menit :
= x 5 = -0,0547 mg
8.

% obat yang terdisolusi (1)


Untuk 0 menit :
= x 100 = -1,1461 mg

Untuk 5 menit :
= x 100 = -1,0682 mg
Untuk 10 menit :
= x 100 = -0,9903 mg
Untuk 15 menit :
= x 100 = -1,0682 mg
Untuk 20 menit :
= x 100 = -1,1201 mg
Untuk 25 menit :
= x 100 = -1,0682 mg
Untuk 30 menit :
= x 100 = -1,0682 mg
9.

% obat yang terdisolusi (2)


Untuk 0 menit :
= x 100 = -1,1720 mg
Untuk 5 menit :
= x 100 = -1,1201 mg

Untuk 10 menit :
= x 100 = -1,0682 mg
Untuk 15 menit :
= x 100 = -1,1201 mg
Untuk 20 menit :
= x 100 = -1,1201 mg
Untuk 25 menit :
= x 100 = -1,0942 mg
Untuk 30 menit :
= x 100 = -0,9644 mg
10. % obat yang terdisolusi (3)
Untuk 0 menit :
= x 100 = -1,1720 mg
Untuk 5 menit :
= x 100 = -1,0942 mg
Untuk 10 menit :
= x 100 = -1,1201 mg
Untuk 15 menit :
= x 100 = -1,1201 mg
Untuk 20 menit :
= x 100 = -1,0942mg
Untuk 25 menit :
= x 100 = -1,0423 mg
Untuk 30 menit :
= x 100 = -1,0942 mg
11. Faktor koreksi (1)
Untuk 0 menit :
=
Untuk 5 menit :
=
-1,1461 + 0 = -0,0063
Untuk 10 menit :
=

) -1,0682 + (-0,0063) = -0,0123


Untuk 15 menit :
=
-0,9903 + (-0,0123) = -0,0178
Untuk 20 menit :
=
-1,0682 + (-0,0178) = -0,0237
Untuk 25 menit :
=
-1,1201 + (-0,0237) = -0,0299
Untuk 30 menit :
=
-1,0682 + (-0,0299) = -0,0358
12. Faktor koreksi (2)
Untuk 0 menit :
=
Untuk 5 menit :
=
-1,720 + 0 = -0,0065
Untuk 10 menit :
=
) -1,1201 + (-0,0065) = -0,0127
Untuk 15 menit :
=
-1,0682 + (-0,0127) = -0,0186
Untuk 20 menit :
=
-1,1201 + (-0,0186) = -0,0248
Untuk 25 menit :
=
-1,1201 + (-0,0248) = -0,0311
Untuk 30 menit :
=

-1,0942 + (-0,0311) = -0,0371


13. Faktor koreksi (3)
Untuk 0 menit :
=
Untuk 5 menit :
=
-1,720 + 0 = -0,0065
Untuk 10 menit :
=
) -1,0942 + (-0,0065) = -0,0125

Untuk 15 menit :
=
-1,1201 + (-0,0125) = -0,0188
Untuk 20 menit :
=
-1,1201 + (-0,0188) = -0,0250
Untuk 25 menit :
=
-1,0942 + (-0,0250) = -0,0311
Untuk 30 menit :
=
-1,0423 + (-0,0311) = -0,0369
14. % Kadar terkoreksi (1)
Untuk 0 menit :
= = -1,1461 %
Untuk 5 menit :
= ) = -1,0746 %
Untuk 10 menit :
= = -1,0026 %
Untuk 15 menit :
= = -1,0860 %
Untuk 20 menit :
= = -1,1439 %
Untuk 25 menit :
= = -1,0982 %
Untuk 30 menit :
= = -1,1041 %
15. % Kadar terkoreksi (2)
Untuk 0 menit :
= = -1,1720 %
Untuk 5 menit :
= ) = -1,1266 %
Untuk 10 menit :
= = -1,0809 %
Untuk 15 menit :

= = -1,1388 %
Untuk 20 menit :
= = -1,1450 %
Untuk 25 menit :
= = -1,1253 %
Untuk 30 menit :
= = -1,0016 %
16. % Kadar terkoreksi (3)
Untuk 0 menit :
= = -1,1720 %
Untuk 5 menit :
= ) = -1,1266 %
Untuk 10 menit :
= = -1,0809 %
Untuk 15 menit :
= = -1,1388 %
Untuk 20 menit :
= = -1,1450 %
Untuk 25 menit :
= = -1,1253 %
Untuk 30 menit :
= = -1,0016 %
17. % disolusi obat (1)
Untuk 0 menit :
= x 100 = -2,0630 %
Untuk 5 menit :
= x 100 = -1,9343 %
Untuk 10 menit :
= x 100 = -1,8048 %
Untuk 15 menit :
= x 100 = -1,9549 %
Untuk 20 menit :
= x 100 = -2,0590 %
Untuk 25 menit :

= x 100 = -1,9767 %
Untuk 30 menit :
= x 100 = -1,9874 %
18. % disolusi obat (2)
Untuk 0 menit :
= x 100 = -2,1097 %
Untuk 5 menit :
= x 100 = -2,0280 %
Untuk 10 menit :
= x 100 = -1,9457 %
Untuk 15 menit :
= x 100 = -2,0499 %
Untuk 20 menit :
= x 100 = -2,0611 %
Untuk 25 menit :
= x 100 = -2,0255 %
Untuk 30 menit :
= x 100 = -1,8029 %
19. % disolusi obat (3)
Untuk 0 menit :
= x 100 = -2,1097 %
Untuk 5 menit :
= x 100 = -1,9813 %
Untuk 10 menit :
= x 100 = -2,0389 %
Untuk 15 menit :
= x 100 = -2,0501 %
Untuk 20 menit :
= x 100 = -2,0146 %
Untuk 25 menit :
= x 100 = -1,9321 %
Untuk 30 menit :
= x 100 = -2,0360 %

c.

Koefisien laju Disolusi paracetamol


K = b x 2,303
= 0,003852 x 2,303
= 8.8 x 10-3 mg/menit

BAB V
PEMBAHASAN
Disolusi adalah suatu proses melarutnya senyawa aktif dari bentuk sediaan padat ke
dalam medium pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan
suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh.
Adapun aplikasi dalam bidang farmasi yaitu penentuan bentuk-bentuk sediaan yang
akan dibuat sesuai dengan sifat zat aktif sehingga dicapai kecepatan pelarutan dalam cairan
tubu sehingga dicapai kecepatan pelarutan dalam cairan tubuh sehingga cepat diabsorbsi dan
cepat memberikan efek farmakologinya.
Sampel yang digunakan pada praktikum ini yaitu parasetamol 500 mg, air steril
sebagai medium disolusi dan parasetamol p.a sebagai pembanding.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kecepatan disolusi dari
paracetamol 500 mg dan mengetahui cara penggunaan alat uji disolusi.
Pada percobaan ini ada 2 alat yang digunakan yaitu alat uji disolusi (tablet
dissolution test apparatus) tipe 2 (dayung) dan spektrofotometer.
Prinsip kerja dari tablet dissolution test apparatus yaitu pada saat tablet dimasukkan
ke dalam medium disolusi maka tablet akan mengalami proses disolusi sesuai dengan lama
waktu disolusi tablet tersebut.
Prinsip kerja dari spektrofotometer yaitu sinar/cahaya yang datang melalui sampel
sebagian akan diserap terhitung sebagai absorban (A) dan sebagian lagi dipantulkan terhitung
sebagai transmitan (% T).
Pada percobaan ini, akan dilihat disolusi parasetamol dengan menggunakan medium
air steril. Dalam percobaan ini digunakan air steril sebagai media disolusinya karena air
merupakan komponen terbesar yang terdapat di dalam tubuh manusia. Adapun volume dari
labu disolusi yang digunakan adalah 900 ml. Kemudian suhu yang digunakan yaitu
dipertahankan agar tetap 37C, agar sesuai dengan suhu tubuh manusia. Hal ini sebagai
pembanding jika obat tersebut berada dalam tubuh manusia. Selain itu alat disolusi juga
diatur kecepatan putarannya sebesar 100 rpm karena ini diumpamakan sebagai kecepatan
gerak peristaltik lambung.
Pemipetan larutan dilakukan pada waktu-waktu yang berbeda yaitu menit ke-5, 10,
15, 20, 25, dan 30. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pada menit ke berapa parasetamol
tersebut dapat terdisolusi dengan baik pada medium pelarutnya.

Pada percobaan ini, digunakan air suling sebagai media disolusi karena air merupakan
komponen paling besar yang berada di dalam tubuh manusia, jadi obat seakan-akan
berdisolusi di dalam tubuh, selain itu karena mengingat kelarutan dari obat yang digunakan.
Adapun volume dari labu disolusi yang digunakan adalah 900 ml. hal ini dianalogikan
terhadap suatu gelembung udara,maka gelembung udara tersebut akan masuk ke pori-pori
dan bekerja sebagai barier pada interfase sehingga mengganggu disolusi obat.
Waktu yang digunakan yaitu 30 menit karena waktu yang digunakan paracetamol
untuk dapat terdisolusi adalah 30 menit.
Untuk melakukan uji disolusi obat, terlebih dahulu alat uji disolusi diaktifkan,
kemudian diatur waktu, suhu, interval waktu, dan rpmnya, kemudian setelah 45 menit dan
terdengar suara beep yang panjang dari alat uji disolusi maka paracetamol dimasukkan
kedalam alat uji disolusi. Setelah obat dimasukkan ke dalam alat uji disolusi, dilakukan
pemipetean dalam tiap interval waktu 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit, tetapi pada saat
dilakukan pemipetan dari alat uji disolusi, maka larutan yang diambil dalam alat uji disolusi
harus diganti dengan air steril sesuai dengan volume yang diambil. Dilakukan triplo agar
hasil yang diperoleh dapat dibandingkan secara keseluruhan.
Setelah dipipet 5 ml, sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu dimasukkan lagi air
5 ml sebagai penggantinya. Hal ini diibaratkan dalam tubuh manusia, yang mana ketika ada
cairan yang keluar maka akan segera tergantikan.
Setelah dipipet tiap-tiap interval waktu, sampel dimasukkan ke dalam vial untuk
menampung kemudian dimasukkan didalam kuvet lalu ditentukan nilai absorban sampel dan
juga air steril dengan menggunakan spektrofotometer.
Pemipetan dilakukan pada waktu yang berbeda-beda untuk melihat kapan paracetamol
berdisolusi dengan optimal pada medium pelarut.
Pada saat suatu sediaan obat masuk ke dalam tubuh, selanjutnya terjadi
proses absorbsi ke dalam sirkulasi darah dan akan didistribusikan ke seluruh
cairan dan jaringan tubuh. Apabila zat aktif pada sediaan obat tersebut memiliki
pelarut yang cepat, berarti efek yang ditimbulkan juga akan semakin cepat,
begitu juga sebaliknya.
Pada percobaan ini ingin ditentukan konstanta kecepatan disolusi suatu
zat. Zat yang akan diukur kecepatan atau laju disolusinya adalah tablet
parasetamol yang melarut ke dalam media disolusi, dimana medium disolusi yang
digunakan adalah air suling.
Hasil yang diperoleh pada percobaan untuk data kurva baku pada 50 ppm absorbannya
0,243, 70 ppm absorbannya 0,306, 90 ppm absorbannya 0,384, 110 Rpm absorbannya 0,481,

130 ppm absorbannya 0,548, dan untuk 200 ppm absorbannya 0.813. Konstanta laju disolusi
paracetamol yaitu 8.8 x 10-3 mg/menitmg/menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin
banyak waktu yang dibutuhkan oleh suatu obat untuk berdisolusi maka semakin tinggi pula
konsentrasi (Kadar) zat tersebut dalam cairan (media pelarut).
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil laju disolusi obat paracetamol yaitu
sebesar 8.8 x 10-3mg/menitdan persentase disolusi rata-rata obat parasetamol sebesar 55,56
%. Hal ini tidak sesuai dengan literatur Ditjen POM yang menyatakan bahwa hasil disolusi
obat parasetamol adalah 80%.
Adapun ketidaksesuaian hasil praktikum ini dengan literatur, hal ini disebabkan
beberapa faktor kesalahan antara lain yaitu kesalahan dalam melakukan uji disolusi, suhu
yang tidak tepat, dan pengamatan yang kurang teliti
BAB VI
PENUTUP
VI.1 KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi


Suhu, medium, kecepatan perputaran, kecepatan letak vertical poros, vibrasi, gangguan pola
aliran, posisi pengambilan cuplikan, formulasi bentuk sediaan, dan kalibrasi alat disolusi.

2.

Hasil laju disolus parasetamol sebesar 8,8 x 10-3

3.

Disolusi rata-rata obat parasetamol sebesar 55,56 %


VI.2 SARAN
Sebaiknya dalam praktikum, praktikan harus lebih aktif dan saling bekerja sama dalam
kelompok. Praktikan juga harus lebih teliti dalam dalam melakukan pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA
Amir, Syarif.dr, dkk.2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. Gaya Baru. Jakarta.
Ansel, Howard C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV, UI Press, Jakarta
Ditjen POM.1979. Farmakope Indonesiaedisi III. Jakarta; Depkes RI.
Effendi, M. Idris, 2005, Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Universitas Hasanuddin Press,
Makassar
Gennaro, A. R., et all., 1990, Remingtos Pharmaceutical Sciensces, Edisi 18th, Marck
Publishing Company, Easton, Pensylvania
Lachman, Leon, dkk, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri I Edisi III, UI Press, Jakarta.
Martin, Alfred, dkk. 1993 . Farmasi Fisika: Dasar-dasar farmasi fisika dalam ilmu
farmasetika, diterjemahkan oleh Yoshita , edisi III , jilid II. Jakarta; penerbit UI.
Mirawati. 2013.Penuntun Praktikum Farmasi Fisika.Makassar;Jurusan Farmasi UMI.
Shargel, Leon, dan Andrew B.C.Y.U. 1988. Biofarmasi dan Farmakokinetika Terapan. Edisi
II. Penerjemah Dr. Fasich, Apt. dan Dra. Siti Sjamsiah, Apt. Airlangga University Press.
Surabaya.
Voigt, 1995. Buku
Press. Yogyakarta.

Pelajaran

Teknologi

Farmasi.

Universitas

Gadjah

Mada

Diposkan oleh halida syahrah di 19.38


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

2014 (9)

Agustus (1)

Januari (8)

Ida #kecepatan disolusi

ida #bobotjenis

ida #mikromeritik

ida #mikromeritik

ida #tonisitas

ida PH & dapar

ida #PH & dapar

ida #PH & dapar

2013 (1)
Mengenai
Saya

halida
syahrah
Lihat profil
lengkapku

Template Awesome Inc.. Gambar template oleh fpm. Diberdayakan oleh Blogger.

Uji Disolusi (1)


December 1, 2010

Sudah lama nggak nge-up load tulisan di blog, kangen jugahitung-hitung sambil belajar. Kali ini,
belajar pendahuluan tentang Uji Disolusiyang sekarang merupakan bagian tidak terpisahkan
dalam evaluasi sediaan farmasi, terutama yang terkait dengan pengujian pelepasan obat.
Disolusi adalah deorganisasi struktur kristal karena pengaruh medium disolusi dan menghasilkan
dispersi ionik atau molekuler. Dengan kata lain, disolusi bisa dianggap kebalikan dari kristalisasi.
Disolusi merupakan reaksi heterogen, yang terjadi dari rangkaian peristiwa yang berbeda-beda
yang secara skematis meliputi:
pertukaran partikel di permukaan solid
perubahan solid menjadi cairan
pemindahan zat terlarut ke medium disolusi.
Di dalam proses disolusi terjadi langkah simultan antara: liberasi dan rediposisi molekul terlarut
pada permukaan solid.

Terdapat beberapa macam teori disolusi, antara lain:


Teori film (Nerst, 1904)
Teori penetrasi (Surface renewal Theory)
Teori limit kecepatan solvasi (Trunner)
Teori film:
Terdapat lapisan tipis yang mengelilingi solid dengan ketebalan tertentu (h cm). Lapisan tersebut
merupakan stagnan (film yang tidak bergerak). Selanjutnya terjadi keseimbangan antara liberasi
dan rediposisi molekul di permukaan solid.
Alat uji disolusi menurut Farmakope Indonesia edisi IV:
Alat uji disolusi tipe keranjang (basket)
Alat uji disolusi tipe dayung (paddle)
Alat untuk uji pelepasan obat menurut USP 29, NF 24:
1. Alat uji pelepasan obat tipe keranjang (basket)
2. Alat uji pelepasan obat tipe dayung (paddle)
3. Alat uji pelepasan obat tipe reciprocating cylinder
4. Alat uji pelepasan obat tipe flow through cell
5. Alat uji pelepasan obat tipe paddle over disk
6. Alat uji pelepasan obat tipe silinder
7. Alat uji pelepasan obat tipe reciprocating holder
Medium Disolusi
Medium disolusi idealnya diformulasi semirip mungkin dengan pH in vivo (cairan gastrointestinal).
Misalnya, medium disolusi yang didasarkan pada 0,1 N HCl digunakan untuk menurunkan pH
mendekati pH lambung, yaitu sekitar 1-3.
10 Comments |

Akademik | Tagged: alat uji disolusi, medium disolusi, uji disolusi |

Posted by dhadhang

Permalink