Anda di halaman 1dari 3

Nama: STEPHANIE DWI HAPSARI P.

NIM : 145070200131001
NYERI PADA BAYI
Beberapa tahun yang lalu, dipercaya bahwa bayi tidak merasa sakit karena sistem syaraf
mereka yang belum sempurna. Bayi baru lahir dapat menunjukkan nyeri secara non verbal.
Respon nyeri pada bayi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis kelamin, perkembangan
syaraf, jenis dan lamanya nyeri, satus kesehatan, jenis kelahiran, berat penyakit, pengalaman
nyeri sebelumnya, dan respon orang tua terhadap nyeri pada bayi tersebut.
Perubahan fisiologis
Perubahan perilaku
Perubahan Biokimia
Peningkatan:
Perubahan ekspresi wajah: Peningkatan sekresi:
1. Denyut jantung
1. Meringis
1. Kortisol
2. Tekanan darah
2. Lekuk nasolabial yang 2. Katekolamin
3. Pernapasan
dalam
3. Glukagon
4. Konsumsi oksigen
3. Lidah membelok
4. Hormon pertumbuhan
5. Kekuatan otot
4. Pipi bergetar
5. Renin
6. Tekanan intrakranial
6. Aldosteron
7. Hormon antidiuretik
Perubahan autonom
1. Midriasis
2. Berkeringat
3. Merona
4. Pucat

Pergerakan tubuh
1. Jari mengepal
2. Mengangkat kepala

Penurunan sekresi:
1. Insulin

Bayi baru lahir seringkali memerlukan stimulus yang kuat untuk menghasilkan respon dan
kemudian dia akan merespon dengan cara menangis dan menggerakan seluruh tubuh.
Ekspresi wajah merupakan suatu parameter yang paling sensitif untuk menyatakan nyeri.
Penelitian menunjukkan bahwa ekspresi ini dapat dibaca bahkan oleh orang awam. Ekspresi
wajah yang diperlihatkan bayi yang mengalami nyeri yaitu kerutan di dahi dan di antara alis,
mata terpejam rapat, lipatan naso-labial menjadi lebih dalam, bibir terbuka, mulut terbuka,
mulut tertarik secara horizontal dan vertikal, lidah terjulur kaku (taut tounge), pipi bergetar
(chin quiver). Perubahan ekspresi wajah segera terlihat apabila sebelumnya bayi berada
dalam keadaan tenang dan waspada, dan menjadi kurang jelas apabila bayi sedang tidur
tenang. Satu penelitian menyatakan bahwa ekspresi wajah bayi perempuan lebih nyata
dibandingkan laki-laki walaupun hasil pengukuran skala nyeri multi-dimensionalnya tidak
berbeda. Suatu penelitian menyatakan bahwa bayi yang lahir kurang bulan menunjukkan
respon terhadap nyeri lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang cukup bulan. Bayi dengan
tahapan tidur dalam akan kurang menunjukkan ekspresi wajah dibandingkan bayi yang sadar
saat prosedur invasif minor.

Nama: STEPHANIE DWI HAPSARI P.


NIM : 145070200131001
PENGUKURAN NYERI PADA BAYI
Ada banyak metode untuk menilai beratnya nyeri pada bayi baru lahir. Respon fisiologis dan
perilaku merupakan indikator yang sangat sensitif namun tidak spesifik. Meskipun demikian
penilaian respon fisiologis dan perilaku tetap merupakan metode yang paling mudah dan
dapat diandalkan untuk menilai tingkat nyeri pada neonatus.
Penilaian nyeri pada bayi baru lahir dan balita yang belum bisa berbicara lebih mengandalkan
pengamatan perilaku (misalnya ekspresi wajah). Menangis berguna untuk menetukan urgensi
respon, tetapi tidak bermanfaat untuk mengetahui kuantitas nyeri. Bayi yang mengalami nyeri
mungkin akan menarik diri, menunjukkan perubahan pola makan dan tidur.
Penilaian fisiologis seperti parameter kardiovaskuler (misalnya nadi, ritme dan output
jantung) memberikan umpanbalik segera pada bayi baru lahir dan balita, tetapi tidak dapat
digunakan untuk bayi prematur.
Pengamatan perilaku dan fisiologis nyeri (misalnya menangis, ekspresi wajah, keluhan
verbal, gerakan, sentuhan) dapat diukur dengan teknik tertentu. Apapun skala yang
digunakan, konsistensi, kemudahan penggunaan, dan waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan pemeriksaan dan penilaian merupakan hal-hal yang penting untuk
dipertimbangkan.
Ada beberapa skala nyeri yang biasa digunakan pada bayi, yaitu:
1. Berdasarkan perubahan perilaku
a. Neonatal Facial Coding System (NFCS)
b. Liverpool Infant Distress Scale
c. Infant Body Coding System (IBCS)
d. Neonatal Infant Pain Scale (NIPS)
e. Pain Assestment in Neonates (PAIN)
f. Neonatal Assesment of Pain Inventory
g. Behavioral Pain Score
h. Clinical scoring system
2. Kombinasi fisiologis dan perbahan perilaku
a. Neonatal Postoperative Scale (CRIES)
b. Premature Infant Pain Profile (PIPP)
c. Pain Assessment Tool (PAT)
d. Scale For Use in Newborn (SUN)
Penggunaan suatu skala nyeri pada berbagai jurnal menunjukkan bahwa skala nyeri tersebut
merupakan skala nyeri yang sahih. American Academy of Pediatrics menyatakan PIPP,
NFCS, CRIES, NIPS sebagai skala nyeri yang dapat diandalkan. Premature Infant Pain
Profile merupakan skala nyeri yang banyak digunakan pada bayi usia nol sampai tiga bulan,
baik bayi kurang bulan maupun cukup bulan. Premature Infant Pain Profile memiliki tujuh
indikator yang merupakan skala nyeri multidimensional karena menilai parameter fisiologis,
perilaku, dan usia gestasi. Nilai PIPP berkisar antara nol sampai 21 yaitu kurang dari enam
menunjukkan tidak nyeri atau nyeri minimal, nilai antara tujuh sampai 12 menunjukkan nyeri
sedang, dan nilai lebih dari 12 menunjukkan nyeri hebat yang biasanya membutuhkan
intervensi farmakologi dan non-farmakologi. Nilai tertinggi untuk bayi kurang bulan yaitu 21
dan untuk cukup bulan 18. Cara melakukan penilaian skala nyeri PIPP yaitu pertama dengan
menentukan usia gestasi, kemudian nilai tahapan perilaku 15 detik sebelum prosedur invasif

Nama: STEPHANIE DWI HAPSARI P.


NIM : 145070200131001
dimulai, dicatat data dasar laju jantung dan saturasi oksigen. Observasi bayi selama 30 detik
setelah prosedur invasif, jumlahkan seluruh skor perubahan ekspresi wajah dan parameter
fisiologis.
Berikut adalah contoh Premature Infant Pain Profile.
Deskripsi
Nila
Proses
Indikator
0
1
2
3
i
Usia
36 minggu 32-35
28-31
28 minggu
gestasi
minggu 6
minggu 6
hari
hari
Skor 15
Tahapan
Aktif/
Tenang/
Aktif/tertidu Tenang/
detik
perilaku
bangun,
terbangun,
r mata
tertidur,
sebelum
mata
mata
tertutup, ada mata
dimulai
terbuka, ada terbuka,
gerakan
tertutup,
gerakan
tidak ada
wajah
tidak ada
wajah
gerakan
gerakan
wajah
wajah
Rekam
Laju
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Meningkat
rerata laju
jjantung
0-4 denyut
5-14 denyut 15-24 denyut 25 denyut
jantung:
maksimal per menit
per menit
per menit
per menit
Evaluasi
bayi setelah
30 detik
Observasi
Kerutan
Tidak ada
Minimal
Sedang (40- Maksimal
bayi setelah dahi
(9% waktu
(10-39%
69% waktu
(70%
30 detik
observasi)
waktu
observasi)
waktu
observasi)
observasi)
Observasi
Mata
Tidak ada
Minimal
Sedang (40- Maksimal
bayi setelah tertutup
(9% waktu
(10-39%
69% waktu
(70%
30 detik
rapat
observasi)
waktu
observasi)
waktu
observasi)
observasi)
Observasi
Lipatan
Tidak ada
Minimal
Sedang (40- Maksimal
bayi setelah nasolabial (9% waktu
(10-39%
69% waktu
(70%
30 detik
mendala
observasi)
waktu
observasi)
waktu
m
observasi)
observasi)

Sumber:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31215/Chapter
%20II.pdf;jsessionid=A2A48B8DD00BA61598D42C1DA781844D?sequence=4
Franck LS, Greenberg CS, Stevens B. Pain assessment in infants and children. Pediatr Clin
North Am 2000;47(3):487-512
Howard RF. Current status of pain management in children. JAMA 2003;290:2464-2469.