Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

MANAJEMEN RUMAH SAKIT


MANAJEMEN PELAYANAN RAWAT INAP

UNIVERSITAS ANDALAS

Oleh:

Mesha Ferzica Nanda


1311211013
Kelompok

Dosen Pembimbing:
Dr. Adilla Kasni Astiena, MARS

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat dan karunia yang telah diberikan
oleh Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini ditulis sebagai tugas pada mata kuliah Manajemen Administrasi Rumah
Sakit di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas Padang.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada ibu Dr. Adilla Kasni Astiena,
MARS sebagai dosen pembimbing dan teman-teman yang membantu dalam
penyelesaian makalah ini serta semua pihak yang telah membantu kelancaran
pembuatan makalah ini.
Penulis telah menyelesaikan makalah ini dengan segenap kemampuan dan
pikiran, namun penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca agar makalah ini dapat mencapai kesempurnaan dan dapat
bermamfaat bagi pembaca.

Padang, Februari 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................3
2.1 Pengertian Rawat Inap........................................................................................3
2.2 Sejarah Rawat Inap Rumah Sakit.......................................................................4
2.3 Tujuan Pelayanan Rawat Inap............................................................................5
2.4 Klasifikasi Rawat Inap di Rumah Sakit..............................................................6
2.5 Kualitas Pelayanan Rawat Inap..........................................................................6
2.6 Prosedur Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit...............................................7
2.6.1 Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan di Ruangan.............................................9
2.6.2 Metode Penugasan.......................................................................................9
2.6.3 Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) dan
Anggota Tim.......................................................................................................12
2.6.4 Prosedur Pemulangan Pasien.....................................................................14
2.7 Pelayanan Rawat Inap.......................................................................................15
2.8 Indikator Mutu Pelayanan Rawat Inap.............................................................15
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................18
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................18
3.1 Saran.................................................................................................................18

3
DAFTAR PUSTAKA

Adikoesoemo, Suparto. 2003. Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan.
Aditama, Yoga Tcandra. 2006. Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Edisi 2.
Jakarta: UI Press.
Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan 3rd edition. Binarupa aksara.
Sumbarsehat.com diakses pada 13 Februari 2015 pukul 11.14
Anekakawan.blogspot diakses pada 13 Februari 2015 pukul 11.21

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang membutuhkan
perbaikan di segala bidang,misalnya: Bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya,
terutama bidang kesehatan. Karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia
yang mutlak dipenuhi,sebelum memenuhi kebutuhan yang lain.Perbaikan di bidang
kesehatan ini meliputi ; segi pelayanan, tenaga kesehatan, dan fasilitas yang
memadai.
Rumah sakit sebagai suatu badan usaha, tentu mempunyai misi tersendiri
sama seperti badan usaha lainnya. Produk utama rumah sakit adalah (a) Pelayanan
Medis, (b) Pembedahan, dan (c) Pelayanan perawatan orang sakit, sedangkan sasaran
utamanya adalah perawatan dan pengobatan nyawa dan kesehatan para penderita
sakit. Namun perkembangan berikutnya bahwa rumah sakit harus mampu
mendapatkan

penghasilan

(bukan

keuntungan),

untuk

mempertahankan

kelangsungan hidup dan perkembangannya. Hal tersebutlah yang akhirnya


memperluas kegiatan rumah sakit dalam memberikan pelayanan medis kepada
pasien. Sebagai salah satu bagian dari rumah sakit, maka Unit Rawat inap dirumah
sakit juga perlu memperhatikan penghasilan sebagai sasaran yang harus dicapai,
disamping tetap menjalankan perawatan orang sakit sebagai fungsi utama.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam makalah ini penulis
membahas tentang Manajemen Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit dan Indikator
Efisiensi Pelayanan Rawat Inap
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari materi ini adalah :
a.

Apa yang dimaksud dengan Rawat Inap ?

b.

Bagaimanan sejararah Rawat Inap?

c.

Apa tujuan Pelayanan Rawat Inap ?

d.

Apa saja klasifikasi Rawat Inap di Rumah Sakit ?

e.

Bagaimana kualitas Pelayanan Rawat Inap ?

f.

Bagaimana Prosedur Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit ?

g.

Apa saja kegiatan Pelayanan Rawat Inap ?


1

2
h.

Bagaimana indikator mutu Pelayanan Rawat Inap ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a.

Mengetahui pengertian dari rawat inap

b.

Mengetahui sejarah dari rawat inap

c.

Mengetahui tujuan dari pelayanan rawat inap

d.

Mengetahui klasifikasi rawat inap di rumah sakit

e.

Mengetahui kualitas pelayanan rawat inap

f.

Mengetahui prosedur pelayanan rawat inap di rumah sakit

g.

Mengetahui kegiatan pelayanan rawat inap

h.

Mengetahui indikator mutu pelayanan rawat inap

BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Rawat Inap
Rawat inap merupakan suatu bentuk perawatan, dimana pasien dirawat dan
tinggal di rumah sakit untuk jangka waktu tertentu. Selama pasien dirawat, rumah
sakit harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien (Posma 2001 yang
dikutip dari Anggraini (2008).
Rawat inap (opname) adalah istilah yang berarti proses perawatan pasien oleh
tenaga kesehatan profesional akibat penyakit tertentu, di mana pasien diinapkan di
suatu ruangan di rumah sakit. Perawatan rawat inap adalah perawatan pasien yang
kondisinya memerlukan rawat inap. Kemajuan dalam pengobatan modern dan
munculnya klinik rawat komprehensif memastikan bahwa pasien hanya dirawat di
rumah sakit ketika mereka betul-betul sakit, telah mengalami kecelakaan, pasien
yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Ruang rawat inap adalah ruang tempat pasien dirawat. Ruangan ini dulunya
sering hanya berupa bangsal yang dihuni oleh banyak orang sekaligus. Saat ini,
ruang rawat inap di banyak rumah sakit sudah sangat mirip dengan kamar-kamar
hotel. Pasien yang berobat jalan di Unit Rawat Jalan, akan mendapatkan surat rawat
dari dokter yang merawatnya, bila pasien tersebut memerlukan perawatan di dalam
rumah sakit, atau menginap di rumah sakit.
Instalasi rawat inap merupakan unit pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat inap.
Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di
rumah sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan.
Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah sakit
yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi, diagnosa, terapi,
rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes RI 1997 yang dikutip
dari Suryanti (2002)).
Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit meliputi:
1. Kamar perawatan

Kelas II (dua) rumah sakit umum pemerintah, atau

Kelas III (tiga) di rumah sakit TNI/Polri/BUMN/Swasta

4
2. Lama hari rawat ditanggung maksimum 60 hari/kasus/tahun kalender, termasuk
20 hari/kasus/tahun kalender untuk perawatan khusus
3. Visite dokter yang merawat maksimum 1x sehari
4. Konsultasi dokter spesialis yang diperlukan secara medis
5. Pemberian obat-obatan sesuai indikasi medis yang merujuk pada standar obat
JPK PT Jamsostek (Persero)
6. Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti laboratorium, rontgen, elektromedis,
dan patologi
7. Tindakan Medis
8. Perawatan khusus (ICCU, ICU, HCU,NICU, dan ICU Anak)
9. Operasi sesuai klasifikasi operasi dengan penyetaraan setinggi-tingginya setara
dengan operasi besar
10. Alat Kesehatan tidak habis pakai (Pin, Plate, Screw, korset, collar neck, Intra
Ocular Lens, Double J, peritoneal stein, dan jaring untuk hernia) ditanggung
oleh PT JAMSOSTEK (Persero) sebesar 60% nilai barang, atau setinggitingginya Rp 500.000,- sisanya ditanggung oleh peserta
Standart pasien rawat inap dibagi dalam 3 kelompok :
a. Pasien yang tidak urgen, penundaan perawatan pasien tidak akan menambah
gawat penyakitnya.
b. Pasien yang urgen tetapi tidak gawat darurat dapat dimaksudkan ke dalam daftar
tunggu.
c. Pasien gawat darurat , langsung dirawat.
Gawat darurat pasien yang sudah diseleksi pemeriksaan kegawatannya dapat
dirawat pada ruangan khusus sebelum dikirim ke ruangan rawat bisa di rumah
sakit dan system penyelenggaraan rekam medic dimulai dari pengumpulan pada
saat penerimaan pasien selanjutnya data didistribusikan menurut jenis pelayanan
yang dibutuhkan pasien (unit pelaksana pelayanan).
2.2 Sejarah Rawat Inap Rumah Sakit
Kemajuan dalam pengobatan modern dan munculnya klinik rawat
komprehensif memastikan bahwa pasien hanya dirawat di rumah sakit ketika mereka
betul -betul sakit, telah mengalami kecelakaan atau sakit parah.

5
Perawatan rawat inap mulai dikenal sejak tahun 230 Masehi di India dimana
Asoka yang Agung mendirikan 18 rumah sakit. Bangsa Romawi juga mengadopsi
konsep rawat inap dengan membangun sebuah kuil khusus untuk pasien yang sakit
pada 291 AD di pulau Tiber. Hal ini diyakini menjadi sejarah rawat inap pertama di
benua Amerika yang didirikan oleh bangsa Spanyol di Republik Dominika pada
tahun1502. Dan Rumah Sakit de Jess Nazareno di Mexico City didirikan pada tahun
1524 yang menyediakan juga perawatan inap.
Mungkin penyedia rawat inap yang paling terkenal

adalah Florence

Nightingale yang merupakan seorang advokat terkemuka yang secara terus menerus
beruapaya meningkatkan perawatan medis di pertengahan abad ke-19. Ms
Nightingale mendapatkan ketenaran selama Perang Krimea di mana dia dan 38
perawat sukarelawan wanita pergi ke Krimea untuk mengobati tentara yang terluka.
Selama musim dingin pertama di rumah sakit, 4077 prajurit tewas di rumah sakit
tersebut. Dia kemudian menggunakan pengalaman ini untuk mengubah arah rawat
inap dengan berfokus pada peningkatan kondisi sanitasi dan kondisi kehidupan yang
lebih baik dalam rumah sakit.
Florence Nightingale dikenal sebagai "The Lady dengan Lampu" dan masih
dianggap sebagai pendiri keperawatan modern. Sekolah Keperawatan Nightingale
berlanjut hingga saat ini. Dan gambarnya selalu dipampang setiap tahun pada hari
perawat.
2.3 Tujuan Pelayanan Rawat Inap
Adapun tujuan pelayanan rawat inap yaitu:
1.

Membantu penderita memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehubungan dengan

2.

penyembuhan penyakitnya.
Mengembangkan hubungan kerja sama yang produktif baik antara unit maupun

3.
4.

antara profesi.
Menyediakan tempat/ latihan/ praktek bagi siswa perawat.
Memberikan kesempatan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan

5.

keterampilannya dalam hal keperawatan.


Meningkatkan suasana yang memungkinkan timbul dan berkembangnya

6.

gagasan yang kreatif.


Mengandalkan evaluasi yang terus menerus mengenai metode keperawatan

7.

yang dipergunakan untuk usaha peningkatan.


Memanfaatkan hasil evaluasi tersebut sebagai alat peningkatan atau perbaikan
praktek keperawatan dipergunakan.

2.4 Klasifikasi Rawat Inap di Rumah Sakit


Klafikasi rawat inap di rumah sakit yaitu sebagai berikut:
a. Klasifikasi perawatan rumah sakit telah ditetapkan berdasarkan tingkat
fasilitas pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit, yaitu seperti berikut:
1) Kelas Utama (termasuk VIP)
2) Kelas I
3) Kelas II dan Kelas III
b. Klasifikasi pasien berdasarkan kedatangannya
1) pasien baru
2) pasien lama
c. Klasifikasi pasien berdasarkan pengirimnya
1) Dikirim oleh dokter rumah sakit
2) Dikirim oleh dokter luar
3) Rujukan dari puskesmas dan rumah sakit lain
4) Datang atas kemauan sendiri
2.5 Kualitas Pelayanan Rawat Inap
Menurut Jacobalis (1990) kualitas pelayanan kesehatan di ruang rawat inap
rumah sakit dapat diuraikan dari beberapa aspek, diantaranya adalah:
1.

Penampilan keprofesian atau aspek klinis, Aspek ini menyangkut pengetahuan,

2.

sikap dan perilaku dokter dan perawat dan tenaga profesi lainya.
Efisiensi dan efektifitas, Aspek ini menyangkut pemanfaatan semua sumber

3.
4.

daya di rumah sakit agar dapat berdaya guna dan berhasil guna.
Keselamatan Pasien, Aspek ini menyangkut keselamatan dan keamanan pasien
Kepuasan Pasien, Aspek ini menyangkut kepuasan fisik, mental, dan sosial
pasien terhadap lingkungan rumah sakit, kebersihan, kenyamanan, kecepatan
pelayanan, keramahan, perhatian, biaya yang diperlukan dan sebagainya.
Menurut Jacobalis (1993), pelayanan kesehatan di ruang rawat inap rumah

sakit erat kaitanya dengan:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Dokter, perawat atau petugas kesehatan


Aspek hubungan antar manusia.
Kemanusiaan.
Kenyamanan atau kemudahan fasilitas dan lingkungan.
Peralatan dan perlengkapan.
Biaya pengobatan.

2.6 Prosedur Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit


Alur proses pelayanan pasien unit rawat inap akan mengikuti alur sebagai
berikut :

7
1) Bagian Penerimaan Pasien ( Admission Departement )
2) Ruang Perawatan
3) Bagian Administrasi dan Keuangan
Prosedur Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit
1. Pasien yang membutuhkan perawatan inap atas sesuai indikasi medis akan
mendapatkan surat perintah rawat inap dari dokter spesialis RS atau dari UGD
2. Surat perintah rawat inap akan ditindak lanjuti dengan mendatangi bagian
pendaftaran untuk konfirmasi ruangan sesuai hak peserta dengan membawa KPK
asli dan fotocopy sehingga peserta bisa langsung dirawat
3. Bila ruang perawatan sesuai hak peserta penuh, maka ybs berhak dirawat 1 (satu)
kelas diatas/dibawah haknya. Selanjutnya peserta dapat pindah menempati kamar
sesuai haknya dan bila terdapat selisih biaya yang timbul maka peserta membayar
selisih biaya perawatan
4. Bagian Pendaftaran rawat inap di RS akan menerbitkan Surat Keterangan
Perawatan RS dan selanjutnya akan diteruskan ke Kantor Cabang PT Jamsostek
(Persero) dapat melalui faksimil agar segera dapat diterbitkan surat jaminan
rawat inap
5. Bidang Pelayanan atau Bidang Pelayanan JPK Kantor Cabang PT Jamsostek
akan menerbitkan Surat Jaminan Rawat Inap berdasarkan Surat Keterangan
Perawatan RS dan akan dikirim melalui faksimil ke RS. Surat jaminan harus
sudah diurus selambat-lambatnya 2x24 jam terhitung peserta rawat inap di rumah
sakit
6. Bila pasien membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostik lanjutan atau
tindakan medis, maka yang bersangkutan harus menandatangani Surat Bukti
Pemeriksaan dan Tindakan setiap kali dilakukan
7. Setiap selesai rawat inap, peserta/orangtua peserta bersangkutan harus
menandatangani Surat Bukti Rawat Inap dan pasien akan mendapatkan perintah
untuk kontrol kembali ke spesialis yang bersangkutan
8. Pasien akan membawa surat perintah kontrol kembali dari dokter spesialis ke
dokter PPK I untuk mendapatkan Surat Rujukan PPK I ke dokter spesialis di RS
yang ditunjuk.
9. Selanjutnya berlaku prosedur rawat jalan dokter spesialis di RS

8
10. Jawaban rujukan dari dokter spesialis dapat diberikan kembali kepada dokter
keluarga di PPK I
Pasien yang masuk ke rumah sakit dan memerlukan rawat inap, harus
diregrestasi terlebih dulu. Tujuan selain untuk mendata pasien, yang lebih penting
adalah untuk menyiapkan perkembangan medis atau catatan perkembangan
penyakitnya melalui file rekam Medik. Untuk itu tiap pasien memiliki nomor rekam
medik tersendiri. Sehingga jika ada pasien yang sebelumnya sudah tercatat di rumah
sakit tertentu, untuk kunjungan mereka berikutnya cukup dengan menunjukkan
nomor rekam medic melalui kartu berobat yang diberikan sebelumnya oleh pihak
rumah sakit.
Pada pendataan pasien ketika akan dirawat inap, selain identitas pasien seraca
lengkap penting pula untuk dicantumkan penanggungjawab, yang biasanya memiliki
hubungan keluarga dengan pasien, seperti orang tua, saudara atau paman dan lainlain. Selain penanggungjawab ini, perlu pula dipastikan identitas seorang yang
bertanggungjawab terhadap pembiayaan selama dirawat di rumah sakit. Hal ini
terutama diperlukan bagi pasien yang tidak ditanggung asuransi yang dirawat di
rumah sakit swasta.
Informasi umum yang wajib diketahui pasien atau keluarganya harus
disampaikan saat pendaftaran tersebut. Hak-hak apa yang didapat pasien dan
kewajiban apa yang harus dipenuhi serta aturan rumah sakit yang harus diketahui
untuk dipatuhi pasien atau keluarganya. Ketika ini pula pasien / kelaurga diberikan
keluluasaan untuk menentukan kelas perawatan yang dipilih. Tentu sebelumnya
dijelaskan pula oleh petugas apa perbedaan pada masing2 kelas perawatan. Jika
pasien merupakan anggota dari suatu rekanan kerja sama dengan rumah sakit atau
menjadi salah satu tanggungan asuransi kesehatan, mestinya sudah didata sejak awal.
Dan jika penderita merupakan pasien yang sudah dirujuk untuk dilakukan tindakan
medis, seperti pembedahan, informasi prakiraan pembiayaan tindakan tersebut sudah
dapat diberikan saat pasien melakukan regristrasi di tempat pendaftaran pasien rawat
inap.
Sebelum pasien diantar untuk masuk kamar perawatan, pada rumah sakit
tertentu pasien akan ditempatkan dulu di ruang tertentu, sambil menunggu kesiapan
kamar yang akan ditempatinya. Terutama ruangan ini juga biasa diperlukan untuk
pasien yang menjalani preoperatif sesaat setelah terdaftar sebagai pasien rawat inap.

2.6.1 Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan di Ruangan


Kegiatan layanan kesehatan terutama dilakukan oleh perawat.

Yang

terpenting untuk kesembuhan pasien adalah berkolaborasi dengan dokter untuk


menjalankan intruksi dokter, baik dalam meberikan obat, menunjang fisiotherapi
pasien, merawat luka dan tindakan invasive lainnya.
Disamping itu secara team perawat ruangan juga menjalankan pemeriksaan
rutin terhadap kondisi pasien, utamanya terhadap vital sign penderita. Perawat juga
membantu pasien untuk menjalani aktifitas rutin mereka sehari-hari, misal mandi,
bergerak semasih belum bisa terlepas dari tempat tidur, bila perlu makan dan
sebagainya.
Dalam hal pemberian obat, petugas kesehatan bekerja sama dengan petugas
farmasi untuk memberikan dosis dan waktu yang tepat kepada pasien. Selain
petugas farmasi, petugas gizi akan memberikan arahan terhadap jenis makanan yang
dikonsumsi pasien. Fisiotherapies membantu pasien melakukan gerakan gerakan
fisik yang menunjang penyembuhan.
Pencatatan medis secara rutin harus dikerjakan perawat di lembaran catatan
yang terdapat dalam rekam medis tiap penderita. Sedangkan pencatatan yang
berkaitan dengan pelaporan dan uran non medis lainnya, dikerjakan oleh tenaga
administrasi ruangan.
2.6.2 Metode Penugasan
Prinsip pemilihan metode penugasan adalah jumlah tenaga, kualifikasi staf
dan klasifikasi pasien. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saat
ini adalah sebagai berikut:

a. Metode Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu
karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat
hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi, misalnya merawat luka
kepada semua pasien di bangsal.
Kelebihan :

10
1) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelas
dan pengawasan yang baik.
2) Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga.
3) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan
perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum
berpengalaman.
Kelemahan :
1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses
keperawatan.
3) Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan
ketrampilan saja.
b. Metode Perawatan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat
profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan
konsep kooperatif & kolaboratif (Douglas, 1992)
Tujuan Metode Tim :
1) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif
2) Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar
3) Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda
Konsep Metode Tim :
1) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai
teknik kepemimpinan.
2) Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
3) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
4) Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik
jika didukung oleh kepala ruang.
Kelebihan :
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.

11
3) Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan
memberikan kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan :
1) Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi
tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan
pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu )
2) Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk
bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu.
3) Jika pembagian tugas tidak jelas, maka tanggung jawab dalam tim kabur
c. Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh
selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai
keluar rumah sakit. Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan
antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai
dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat
yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan
keperawatan selama pasien dirawat.
Konsep dasar metode primer :
1) Ada tanggungjawab dan tanggunggugat
2) Ada otonomi
3) Ketertiban pasien dan keluarga
Kelebihannya :
1) Model praktek professional
2) Bersifat kontinuitas dan komprehensif
3) Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan pengembangan diri kepuasan perawat
4) Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya
Kelemahannya :

12
1) Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction,
kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik,
akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2) Biaya lebih besar
d. Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh
kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda
untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang
yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu
pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk
perawatan khusus seperti : isolasi, intensive, care.
Kelebihan :
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
1) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
sama
2.6.3 Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) dan
Anggota Tim
Secara umum, masing kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim memiliki
tanggungjawab yang berbeda-beda, antara lain :
1) Tanggungjawab Karu

Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf

Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan

Memberi

kesempatan

katim

kepemimpinan dan managemen

Mengorientasikan tenaga baru

untuk

mengembangkan

keterampilan

13

Menjadi narasumber bagi tim

Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset keperawatan

Menciptakan iklim komunikasi terbuka

2) Tanggung Jawab Katim :

Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga

Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana keperawatan


(renpra),

menerapkan tindakan keperawatan dan mengevaluasi renpra

Kepala Ruang

Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yang


konsisten

Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas asuhan


keperawatan

Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggota


tim

Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan

3) Tanggung Jawab Anggota Tim :

Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim

Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasien

Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada di


tempat

Berkontribusi thd perawatan


observasi terus menerus
ikut ronde keperawatan
berinterkasi dgn pasien & keluarga
berkontribusi dgn katim/karu bila ada masalah

Prosedur Pemulangan Pasien


Melalui pencatatan yang baik dan rapi, ketika pasien dinyatakan boleh pulang
oleh dokter yang merawatnya, semestinya pasien tidak memerlukan waktu
menunggu terlalu lama untuk bisa benar benar keluar dari rumah sakit. Kendala yang

14
biasa dihadapi oleh management rumah sakit adalah urusan adminstrasi, khususnya
pembayaran sebelum pasien boleh keluar dari lingkungan rumah sakit.
Dengan komputerisasi yang terintegrasi penyelesaian urusan administrasi dan
pembayaran bisa diselesaikan dengan lebih cepat. Yang perlu diperhatikan adalah
intruksi dokter setelah pasien ada di rumah, pesan baik lisan maupun tertulis terhadap
apa-apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dihindari. Termasuk juga obat-obat
yang mesti dikonsumsi penderita di rumah beserta jadwal control kembali ke dokter
yang merawat sebelumnya.
Jika berkaitan dengan asuransi, jaminan pembiayaran pasien sudah harus
didapatkan sebelum tenaga administrasi memberikan ijin untuk meninggalkan rumah
sakit. Akan lebih dipermudah jika pihak asuransi penanggung telah memiliki
perjanjian kerja sama dengan pihak rumah sakit.
2.6.4 Prosedur Pemulangan Pasien
Melalui pencatatan yang baik dan rapi, ketika pasien dinyatakan boleh pulang
oleh dokter yang merawatnya, semestinya pasien tidak memerlukan waktu
menunggu terlalu lama untuk bisa benar benar keluar dari rumah sakit. Kendala yang
biasa dihadapi oleh management rumah sakit adalah urusan adminstrasi, khususnya
pembayaran sebelum pasien boleh keluar dari lingkungan rumah sakit.
Dengan komputerisasi yang terintegrasi penyelesaian urusan administrasi dan
pembayaran bisa diselesaikan dengan lebih cepat. Yang perlu diperhatikan adalah
intruksi dokter setelah pasien ada di rumah, pesan baik lisan maupun tertulis terhadap
apa-apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dihindari. Termasuk juga obat-obat
yang mesti dikonsumsi penderita di rumah beserta jadwal control kembali ke dokter
yang merawat sebelumnya.
Jika berkaitan dengan asuransi, jaminan pembiayaran pasien sudah harus
didapatkan sebelum tenaga administrasi memberikan ijin untuk meninggalkan rumah
sakit. Akan lebih dipermudah jika pihak asuransi penanggung telah memiliki
perjanjian kerja sama dengan pihak rumah sakit.
2.7 Pelayanan Rawat Inap
Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang
terdapat di rumah sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi

15
pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu
perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Menurut Revans (1986) bahwa pasien yang masuk pada pelayanan rawat inap
akan mengalami tingkat proses transformasi, yaitu:
1.

Tahap Admission, yaitu pasien dengan penuh kesabaran dan keyakinan dirawat

2.

tinggal di rumah sakit.


Tahap Diagnosis, yaitu pasien diperiksa dan ditegakan diagnosisnya. Tahap
Treatment,yaitu berdasarkan diagnosis pasien dimasukan dalam program

3.

perawatan dan therapi.


Tahap Inspection, yaitu secara continue diobservasi dan dibandingkan

4.

pengaruh serta respon pasien atas pengobatan.


Tahap Control, yaitu setelah dianalisa kondisinya, pasien dipulangkan.
pengobatan diubah atau diteruskan, namun dapat juga kembali ke proses untuk
didiagnosa ulang.

2.8 Indikator Mutu Pelayanan Rawat Inap


Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui
tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator
berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
1.

BOR

(Bed

Occupancy

Ratio

Angka

penggunaan

tempat

tidur)

BOR menurut Huffman (1994) adalah the ratio of patient service days to
inpatient bed count days in a period under consideration. Sedangkan menurut
Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat
pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah
antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Rumus
BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah
hari dalam satu periode)) X 100%
2.

AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


AVLOS menurut Huffman (1994) adalah The average hospitalization stay of
inpatient discharged during the period under consideration. AVLOS menurut

16
Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini
disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan
gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat
dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai
AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus:
AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
3.

TOI

(Turn

Over

Interval

Tenggang

perputaran)

TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur
kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus:
TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) Hari perawatan) / Jumlah pasien
keluar (hidup +mati)
4.

BTO

(Bed

Turn

Over

Angka

perputaran

tempat

tidur)

BTO menurut Huffman (1994) adalah ...the net effect of changed in


occupancy rate and length of stay. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah
frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur
dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu
tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus:
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
5.

NDR (Net Death Rate)


NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat
untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran
mutu pelayanan di rumah sakit.

17
Rumus:
NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X
1000
6.

GDR (Gross Death Rate)


GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap
1000 penderita keluar.
Rumus:
GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati))
X 1000

BAB 3 : PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rawat inap (opname) adalah istilah yang berarti proses perawatan pasien
oleh tenaga kesehatan profesional akibat penyakit tertentu, di mana pasien diinapkan
di suatu ruangan di rumah sakit . Instalasi rawat inap merupakan unit pelayanan non
struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan
rawat inap.
Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah sakit
yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi, diagnosa, terapi,
rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes RI 1997 yang dikutip
dari Suryanti (2002)).
3.1 Saran
Dari pembahasan mengenai manajemen pelayanan rawat inap dan indicator
efesiensi pelayanan rawat inap dapat kita ambil ilmu untuk penerapannya di dunia
kerja nantinya.Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dari penulisan
makalah ini,untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari
pembaca untuk kemajuan penulisan makalah di masa mendatang.

18