Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih
dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah
dan pleura.
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan
atas.ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA
meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah,
ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. ISPA masih merupakan masalah
kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang
cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40%-60% dari
kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20%-30%.
Salah satu yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas
adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza,
bronchitis, dan juga sinusitis. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian
bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia.
Pneumonia merupakan predator balita nomor satu di negara berkembang.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan (Depkes RI, 2007). Pneumonia adalah proses
infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pnemonia
pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada
bronkus(biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas
cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas

cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada
anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih
pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2
bulan pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai)
kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah
ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari
5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia sangat berat, dengan
gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak
dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat
ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih
atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 memperkirakan kematian
balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19 persen atau berkisar 1,6
2,2 juta. Dimana sekitar 70 persennya terjadi di negara-negara berkembang,
terutama Afrika dan Asia Tenggara. Pada usia anak-anak, Pneumonia
merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang
termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia
diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan
diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.
Fakta yang sangat mencengangkan. Karenanya, kita patut mewaspadai setiap
keluhan panas, batuk, sesak pada anak dengan memeriksakannya secara dini
(Setiowulan, 2000).
Di salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan yaitu
Kabupaten Banyuasin pneumonia merupakan penyakit yang paling dominan
diderita oleh balita, bahkan dari awal tahun sampai akhir tahun 2011 telah
memakan korban jiwa dan dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Untuk
itu perlunya diketahui hal-hal yang berkaitan dengan pneumonia, hal yang
menyebabkan prevalensi penyakit tersebut, serta usaha yang dapat dilakukan

untuk mengatasi rasio terhadap penyakit tersebut di salah satu wilayah UPT
PUSKESMAS di kabupaten banyuasin yaitu UPT PUSKESMAS Pangkalan
Balai.

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah hal-hal yang berkaitan dengan pneumonia?
2. Mengapa ada insidensi/prevalensi penyakit pneumonia?
3. Bagaimana upaya mengurangi rasio pneumonia?
4. Bagaimana usaha untuk mengatasi rasio terhadap penyakit pneumonia di
wilayah puskesmas pangkalan balai?
C. Tujuan
1. Untuk menjelasakan hal-hal yang berkaitan dengan pneumonia
2. Untuk mengetahui faktor penyebab insidensi penyakit pneumonia
3. Untuk memberitahukan upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi
rasio pneumonia
4. Untuk mendeskripsikan usaha untuk mengatasi rasio terhadap penyakit
pneumonia di wilayah puskesmas pangkalan balai
D. Kerangka Berpikir
1. Kesehatan
2. Penyakit dan penyebabnya
3. Wilayah UPT PUSKESMAS
4. 10 penyakit terbanyak
5. Hal-hal yang berkaitan dengan pneumonia
6. Usaha untuk mengatasi penyakit pneumonia

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Data Primer
1. Letak Geografis Dan Wilayah Kerja Puskesmas Pangkalan Balai
Puskesmas Pangkalan Balai terletak di Kelurahan Pangkalan Balai
Kecamatan Banyuasin III (Ibukota Kabupaten Banyuasin). Wilayah kerjanya
meliputi 16 desa/kelurahan (dari 27 desa/kelurahan yang ada di Kecamatan
Banyuasin III) dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kecamatan Pulau Rimau.

Sebelah Timur : Kecamatan Sembawa.

Sebelah Selatan : Kecamatan Rantau Bayur dan Wilayah Kerja


Puskesmas Petaling Kecamatan Banyuasin III.

Sebelah Barat : Kecamatan Betung

Adapun 16 desa/kelurahan binaanya adalah sebagai berikut :


1. Kelurahan Pangkalan Balai
2. Kelurahan Kedondong Raye
3. Kelurahan Mulya Agung
4. Kelurahan Kayu Ara Kuning
5. Kelurahan Seterio
6. Desa Pangkalan Panji
7. Desa Regan Agung
8. Desa Lubuk Saung
9. Desa Suka Mulya

10. Desa Tanjung Agung


11. Desa Sri Bandung
12. Desa Langkan
13. Desa Tanjung Kepayang
14. Desa Tanjung Menang
15. Desa Rimba Balai
16. Desa Terlangu
Sebagian besar wilayah Kecamatan Banyuasin III merupakan daerah
dataran tinggi dan bergelombang yaitu 75 %, sedangkan daerah dataran
rendah dan rawa- rawa sebesar 25%.
2. Pencapaian Pembangunan Kesetahan di Puskesmas Pangkalan Balai
2.1 Moralitas

Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup


Berdasarkan jumlah kematian bayi di wilayah Pangkalan Balai pada

tahun 2011 ada 9 kasus kematian bayi dan 757 hidup dari 766 kelahiran, hal
ini menujukan

angka persentasi kematiaan dan

persentasi

kelahiran baik laki-laki maupun perempuan. Untuk jumlah kelahiran jenis


kelamin laki-laki yaitu 339 dengan 2 kasus kematian bayi dan 337 hidup,
sedangkan jumlah kelahiran jenis kelamin perempuan yaitu 427 dengan 7
kasus kematian bayi dan 420 hidup.

Angka Kematian Ibu Melahirkan per-100.000 Kelahiran Hidup


Jumlah kematian ibu di Wilayah kerja Puskesmas pangkalan Balai

pada tahun 2011 tidak ditemukan kasus kematian ibu melahirkan.

Umur Harapan Hidup Waktu Lahir


Umur Harapan Hidup (UHH) digunakan untuk mengukur kemajuan

pembangunan kesehatan, fisik, mental, social dan ekonomi suatu bangsa, dan
juga dapat digunakan untuk melihat tingkat kelangsungan hidup. Pada tahun
2011 jumlah bayi yang lahir adalah 766 sedangkan jumlah bayi mati ada 9
orang, jadi umur harapan hidup waktu lahir (98,8%).
2.2 Morbiditas
Berdasarkan laporan bulanan dari bidan desa dapat dilihat 10 (sepuluh)
penyakit terbanyak di UPT PUSKESMAS Pangkalan Balai Tahun 2011,
sebagai berikut.

Penyakit terbanyak di UPTD Puskesmas Pangkalan Balai Tahun 2011


diatas dapat dilihat bahwa penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak
kemudian, hypertensi, demam dengue, thypoid, diare, penyakit lainnya,
penyakit kulit alergi, DM, grastritis, dan malaria tanpa lab. Penyakit tersebut

disebabkan oleh lingkungan yang kurang sehat dan personal hygent. Pola
makan yang kurang baik.

Status Gizi
Indikator status gizi dapat dilihat dari Persentase Balita dengan gizi
buruk dan Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi. Balita dengan Gizi
Buruk adalah balita yang mempunyai berat badan di bawah garis merah pada
KMS (Kartu Menuju Sehat). Kecamatan Bebas Rawan Gizi adalah kecamatan
dengan prevalensi balita gizi kurang dan gizi buruk < 15 %.
Pada tahun 2011 dari sample 1.174 Balita didapat hasil sebagai berikut :
Status Gizi Buruk : 0 (0%)
Status Gizi Kurang : 44 (3,74%)
Status Gizi Baik
: 1.121 (95,48%)
Pada tahun 2011 Tidak Ditemukan Kasus Gizi Buruk berarti terjadi
peningkatan status gizi hal ini disebabkan kesadaran para orang tua akan
pentingnya makanan bergizi dan sehat bagi bayi dan balita mereka.
3. Keadaan Penduduk
Desa/Kelurahan yang terpadat penduduknya adalah Kelurahan
Kedondong Raye, sebesar 269.1 orang per Km, sedangkan yang kepadatan
penduduknya paling rendah adalah desa Tanjung Agung yaitu 17,9 orang per
Km.
3.1 Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat Pangkalan Balai masih rendah terlihat
dari masih tingginya persentase penduduk yang berpendidikan SD 5,509 (22
%) dan persentase pendidikan yang rendah pada Universitas sebanyak 400
orang (1,61%). belum pernah sekolah sebanyak 3,324 (13,44%), belum tamat
SD sebanyak 8,176 orang (33,06%), SLTP 3,650 orang (14,76%), SMA
sebanyak 3.092 orang (12,50%) dan Diploma sebanyak 570 Orang (2,32%)

3.2 Ekonomi
Dalam bidang ekonomi sebagian besar penduduk Pangkalan Balai
adalah petani karet 9.316 orang (42%), PNS 1.891 orang (9,8%), dan
Pedagang 1434 orang (19,7%), dengan rata-rata pendapatan penduduk
perbulan dari Rp 600.000 - 2.000.000,-.
Sebagai

daerah

dengan

wilayah

sebagian

besar

perkebunan,

mempunyai potensi yang besar terhadap beberapa jenis penyakit yang


mengancam masyarakat, seperti malaria, demam berdarah dengue, filariasis
dan penyakit lain dengan media penularan nyamuk. Penyakit lain yang juga
banyak dijumpai pada masyarakat Pangkalan Balai adalah diare, dan penyakit
berbasis lingkungan lainnya.

B. DATA SEKUNDER
1. Epidemiologi Penyakit
Di seluruh dunia setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian
balita karena pneumonia. Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan
penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk
Indonesia. Di Indonesia menurut Survey Kesehatan rumah Tangga tahun 2001
kematian balita akibat pneumonia adalah 5 per 1000 balita per tahun.(3).
Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai
21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250
hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.
Pada umumnya pneumonia disebabkan oleh pneumokokus. Di negara
dengan empat musim, pneumonia mencapi puncaknya pada musim dingin dan
awal musim semi, sedangkan kejadian pneumonia di Indonesia sering terjadi
pada musim hujan. Insiden pneumonia lebih banyak ditemukan pada usia
empat tahun ke bawah, yang kemudian berkurang dengan meningkatnya umur.
Angka karier tipe patogen tersebut tinggi di dalam suatu kondisi lingkungan
yang padat seperti rumah yatim piatu, taman kanak-kanak dan sekolahsekolah. Bayi dan balita lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon
imunitasnya masih belum berkembang dengan baik, anatomi saluran
pernafasan yang relatif senpit, malnutrisi, dan kegagalan mekanisme pertahan
tubuh lainnya.
Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh pneumokokus,
ditemukan pada orang dewasa dan anak, sedangkan bronkopneumonia lebih
sering ditemukan pada anak kecil dan bayi. Pada pneumonia bakteri sebagian
besar agen yang umum merupakan inhibition normal (penghambat normal)
dari saluran nafas bagian atas. Infeksi ini terjadi secara sporadik sepanjang
tahun tetapi yang sering pada musim dingin dan semi, dengan laki-laki terkena
dua kali lebih sering dari perempuan.
Klasifikasi penyakit

10

Berdasarkan Pedoman Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut


untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita Depkes 2002 Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) dapat diklasifikasi sebagai berikut:
1. Pneumonia berat
2. Pneumonia
3. Bukan pneumonia
2. Pneumonia
Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi
masalah utama kesehatan masyarakat. Dari seluruh kematian kematian balita,
proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian
ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut Sectish (2004),
pneumonia adalah suatu peradangan pada parenkim paru. Pada artikel ini akan
dibahas mengenai penyakit pneumonia pada balita yang mencakup tentang
definisi, permasalahan pneumonia balita
pneumonia,

klasifikasi

pneumonia,

gejala,

di Indonesia, epidemiologi
penyebab,

faktor

risiko

pneumonia , dan upaya pencegahannya. Metode yang digunakan dalam


membuat artikel ini adalah dengan menggunakan studi literatur.
Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama
di Indonesia. Peranannya dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat
cukup besar karena sampai saat ini penyakit infeksi masih termasuk ke dalam
salah satu penyebab yang mendorong tetap tingginya angka kesakitan dan
angka kematian di tanah air. Salah satu penyakit yang diderita masyarakat
adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA merupakan salah satu
penyebab kematian dan kesakitan pada balita di negara berkembang termasuk
Indonesia.
Di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga
setelah kardiovaskuler dan TBC. Dari seluruh kematian kematian balita,

11

proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30%. Kematian


ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia. Menurut laporan WHO
sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat
pneumonia.
Belum mengatakan masalah kesehatan adalah suatu masalah yang
sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar
kesehatan itu sendiri, demikian pula pemecahan masalah kesehatan
masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi juga dilihat
dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah sehat-sakit.
Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu
maupun kesehatan masyarakat.
Pneumonia merupakan penyakit yang terjadi pada balita yang
dipengaruhi oleh faktor: gizi, mekanisme pertahan tubuh, bibit penyakit, dan
lingkungan yang menguntungkan sebagai tempat perkembangan bibit penyakit
dan juga udara sebagai perantara dengan kualitas dan kuantitas tertentu.
Meskipun penyakit pneumonia sudah ada program dari Departemen
Kesehatan untuk penanggulangannya yaitu Program Pemberantasan Penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut, namun kondisi penyakit ini masih menjadi
tantangan serius bagi dunia kesehatan. Pencegahan terhadap penyakit ini juga
diharapkan dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan pemahaman mengenai penyakit Pneumonia pada Balita agar dapat
mencegah timbulnya penyakit tersebut terutama pada balita.

BAB III

12

PEMBAHASAN

A. Hal-hal yang Berkaitan dengan Pneumonia


1. Pneumonia
Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi
pada masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul
sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi.
Sedangkan menurut Elizabeth J. Corwin, Pneumonia adalah infeksi saluran
nafas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi akut jaringan paru oleh
mikroorganisme.
Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ
paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit di mana
pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari
atmosfer menjadi "inflame" dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga
disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari
penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol.
Namun penyebab yang paling sering ialah serangan bakteria streptococcus
pneumoniae, atau pneumokokus.
2.Kasifikasi Pneumonia
Berdasarkan Pedoman Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut
untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita Depkes 2002 Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) dapat diklasifikasi sebagai berikut:
1.Pneumonia berat
Pneumonia berat ini didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran
bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
pada anak usia 2 bulan- < 5 tahun. Untuk kelompok umur <2 bulan diagnosis
Pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast brehathing), yaitu

13

frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya


tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam.
2.Pneumonia
Klasifikasi pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau
kesukaran bernapas disertai adanya napas sesuai umur. Batas napas cepat pada
anak usia 2 bulan-<1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit
untuk anak usia 1-<5 tahun.
3.Bukan pneumonia
Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita
dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan
tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.
3. Jenis-jenis Pneumonia
Pneumonia terbagi dalam berbagai jenis berdasarkan dengan
penyebab, anatomik, dan berdasarkan asal penyakit ini didapat. Seperti berikut
:
1. Berdasarkan penyebab :
a. Pneumonia Lipid
b. Pneumonia Kimiawi
c. Pneumonia karena extrinsik allergic alveolitis
d. Pneumonia karena obat
e. Pneumonia karena radiasi
f. Pneumonia dengan penyebab tak jelas
(Dasar-dasar ilmu penyakit paru, 2006)

2. Berdasarkan Anatomik :

14

a. Pneumonia Lobaris
Merupakan pneumonia yang terjadi pada seluruh atau satu bagian
besar dari lobus paru dan bila kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai
pneumonia lobaris.
b. Pneumonia Interstisial
Merupakan pneumonia yang dapat terjadi di dalam dinding alveolar.
c. Bronchopneumonia
Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang
dapat tersumbat oleh eksudat mukopuren untuk membentuk bercak
konsolidasi dalam lobus.
(A. Aziz Alimul Hidayat :2006)
3. Berdasarkan asal penyakit :
a. Pneumonia komunitas atau community acquired pneumonia
Yaitu pneumonia yang didapat dari masyarakat.
b. Pneumonia nosokomial atau hospitality acquired pneumonia
Yaitu penyakit itu didapat saat pasien berada di rumah sakit atau
tempat pelayanan kesehatan.

4.PENYEBAB
Penyebab pneumonia adalah:
1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa)
1. Streptococcus pneumonia
Pneumonia yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia adalah
bentuk infeksi bakteri paru yang paling sering memerlukan perawatan di
rumah sakit, ia dapat terjadi pada setiap kelompok umur. Infeksi ditandai oleh
kenaikan suhu yang sangat cepat dan batuk produktif sputum seperti karat
besi. Penderita biasanya dispnea dan sering mengeluh nyeri dada pleuritis.

15

Angka mortalitas untuk bentuk pneumonia ini tetap pada 15-20% walaupun
tersedia terapi kuratif antibiotik.
2. Mycoplasma pneumoniae
Infeksi paru yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae paling
sering didiagnosis pada orang dewasa muda dan anak-anak. Pneumonia
mikoplasma umumnya ringan, dengan gejala demam dan batuk. Penyakit ini
mulanya perlahan-lahan dengan gejala nonspesifik seperti sakit kepala,
malaise, dan demam.
3. Legionella spesies
Legionella spesies adalah penyebab pneumonia yang relatif sering
pada orang dewasa, menyebabkan infeksi paru dari sebagian besar penderita
rumah sakit. Infeksi ini umumnya datang dengan kaku, demam, dan gejala
saluran pernapasan, tetapi permulaannya agak kurang mendadak daripada
pneumonia yang disebabkan oleh S. pneumonia.
4. Haemophilus influenzae
Haemophilus influenzae adalah penyebab lazim infeksi saluran
pernapasan bawah pada anak-anak, tetapi manifestasi paling dramatis epiglotis
atau meningitidis.
2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air).
3. Jamur tertentu.
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:
1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain

16

3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat


paru-paru.
Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri,
yang tersering yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus).
Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan,
dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia
paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.
5. Manifestasi Klinik/ Tanda dan Gejala
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas
atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu
tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada,
dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna merah karat (untuk
streptococcus pneumoniae), merah muda (untuk staphylococcus aureus), atau
kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas aeruginosa). Pada sebagian
penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan
sakit kepala.
Tanda dan Gejala berupa :
1. Batuk nonproduktif
2. Ingus (nasal discharge)
3. Suara napas lemah
4. Retraksi intercosta
5. Penggunaan otot bantu nafas
6. Demam
7. Krekels
8. Cyanosis
9. Leukositosis
10. Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar
11. Batuk
12. Sakit kepala
13. Kekakuan dan nyeri otot

17

14. Sesak nafas


15. Menggigil
16. Berkeringat
17. Lelah.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah :
1. Kulit yang lembab
2. Mual dan muntah
3. Kekakuan sendi.
Komplikasi
Komplikasi dari pneumonia adalah sebagai berikut :
1. Empisema
2. Gagal nafas
3. Perikarditis
4. Meningitis
5. Hipotensi
6. Delirium
7. Asidosis metabolik
8. Dehidrasi
B. Penyebab Insidensi/Prevalensi Penyakit Pneumonia
Faktor Risiko Pneumonia
1. Faktor Anak
1.Umur
Pneumonia dapat menyerang pada semua tingkat usia, terutama pada
balita karena daya tahan tubuh balita lebih rentan daripada orang dewasa.
Menurut Foster (1984), Faktor daya tahan tubuh turut berperan dalam kaitan
antara umur dan infeksi saluran pernapasan.

18

2.Jenis kelamin
Menurut Sutrisna (1993), Pengaruh jenis kelamin pada kejadian
pneumonia di Indramayu, yang merupakan study cohort selama 1,5 tahun
didapatkan persentase yang lebih besar pada laki-laki (52,9%) dibandingkan
perempuan. (5)
3.Status Gizi
Status gizi merupakan salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan
anak. Dalam keadaan keadaan gizi baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan
untuk mempertahankan tubuh terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi
menjadi buruk, maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti
kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi. Hasil
penelitian Sukarlan (2004), menunjukkan bahwa status gizi merupakan faktor
yang berpengaruh terhadap kejadian pneumonia balita.Intervensi potensial
untuk mencegah pneumonia balita pada negara-negara berkembang di
Amerika latin yaitu perbaikan gizi. (5)
4.Status Imunisasi Campak
Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pneumonia dapat dicegah
dengan adanya imunisasi campak dan pertusis. Penelitian Sutrisna di
Indramayu, 1997 menunjukkan hubungan antara status imunisasi campak dan
timbulnya kematian akibat pneumonia antara lain, anak-anak yang belum
pernah menderita campak dan belum mendapat imunisasi campak mempunyai
risiko meninggal yang lebih besar. (5)
5.Berat Badan Lahir Rendah
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram. Bayi dengan BBLR dapat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas karena rentan terhadap penyakit infeksi. BBLR berisiko pada

19

penurunan kecerdasan anak, pertumbuhan terlambat, imunitas rendah, terkena


hipoglikemia. Hipotermia, dan mengidap penyakit degeneratif saat dewasa.
2. faktor ibu
1. Pendidikan Ibu dan Pengetahuan Ibu
Menurut Ware (1984) tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu juga
berdampak besar dalam kejadian pneumonia balita. Tingginya morbiditas atau
mortalitas bukan karena ibunya tidak sekolah, melainkan karena anak-anak
tersebut mendapatkan makanan yang kurang memadai, ataupun terlambat
dibawa ke pelayanan kesehatan.
3.Faktor Lingkungan
1. Polusi Asap Rokok
Polusi udara menimbulkan masalah kesehatan di seluruh dunia serta
paling sering dihubungkan dengan pabrik, industri, dan dengan udara luar.
Tetapi sumber terbesar dari polusi udara yang berbahaya adalah asap rokok.
Disamping itu, bahaya polusi udara di dalam terhadap kesehatan ternyata
seringkali lebih buruk dibandingkan dengan polusi di luar, bahkan di sbuah
kota industri sekalipun.
Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan
yang dapat menimbulkan kanker. Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam
rokok juga mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang-orang di
sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak,
dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami
mereka merokok di rumah. Hal ini menyebabkan risiko lebih besar untuk
menderita kejadian berat badan lahir rendah, brochitis dan pneumonia, infeksi
rongga telinga dan asma.pada janin, bayi, dan anak-anak.
2.Kepadatan Hunian Kamar

20

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh hunian rumah biasanya


dinyatakan dalam m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai 3
m2/orang dan untuk mencegah penularan penyakit pernapasan, maka jarak
antara tempat tidur satu dengan tempat tidur lainnya minimum 90 cm. dalam
hubungan dengan penyakit ISPA khususnya kejadian pneumonia pada balita,
maka kepadatan hunian dapat menyebabkan infeksi silang. Dengan adanya
penderita ISPA di suatu ruangan maka penularan penyakit melalui udara
ataupun droplet akan cepat terjadi. Pada saat batuk, agen penyebab penyakit
keluar dalam bentik droplet dan akan terinspirasi ke udara yang selanjutnya
masuk ke host baru melalui saluran pernapasan.(3)
4.Kondisi Ekonomi
Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang
berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan
kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong
peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit
menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya
penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita.
C. Upaya Mengurangi Rasio penyakit Pneumonia
1. Pencegahan Terjadinya Pneumonia
Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program
Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA). Program
ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga
memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang
penanggulangannya.
Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok
usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan
usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan-pnemonia
mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala

21

peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding


dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain
batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis.
Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan
meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan
sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit IPD (Invasive Pneumococcal
Diseases) termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi
pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Menurut Atilla
yang juga bertugas di klinik khusus tumbuh kembang anak RSAB Harapan
kita, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%.
Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, menurut
penjelasan Atilla adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan,
4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Vaksin itu aman dan
dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun
Hepatitis B.
Selain imunisasi, para orang tua dapat melakukan pencegahan
pneumonia pada balita dengan memperhatikan tips berikut:
1. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara
dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
2. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
3. Membiasakan pemberian ASI.
4. Segera berobat jika mendapati anak mengalami panas, batuk, pilek.
Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot
diantara rusuk (retraksi).
5. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan
perbaikan. Dan segera ke rumah sakit jika kondisi anak memburuk.

22

2.Penanganan dan Pengobatan Penyakit Pneumonia


Penanganan dan pengobatan pada penderita Pneumonia tergantung dari
tingkat keparahan gejala yang timbul dan type dari

penyebab.Pneumonia

itu sendiri :
1.Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri akan diberikan
pengobatan antibiotik. Pengobatan haruslah benar-benar komplite sampai
benar-benar tidak lagi adanya gejala atau hasil pemeriksaan X-ray dan
sputum tidak lagi menampakkan adanya bakteri Pneumonia, jika tidak
maka

suatu

saat

Pneumonia

akan

kembali

diderita.

2. Pneumonia yang disebabkan oleh virus akan diberikan pengobatan


yang hampir sama dengan penderita flu, namun lebih ditekankan dengan
istirahat yang cukup dan pemberian intake cairan yang cukup banyak serta
gizi yang baik untuk membantu pemulihan daya tahan tubuh.
3. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur akan mendapatkan
pengobatan dengan pemberian antijamur. Disamping itu pemberian obat
lain untuk membantu mengurangi nyeri, demam dan sakit kepala.
Pemberian obat anti (penekan) batuk di anjurkan dengan dosis rendah
hanya cukup membuat penderita bisa beristirahat tidur, Karena batuk juga
akan membantu proses pembersihan secresi mucossa (riak/dahak) diparuparu.
D. Upaya yang dilakukan UPT Puskesmas Pangkalan Balai dalam
Program Pembanguan Kesehatan
Adapun untuk mengwujudkan Visi dan Misi UPT Puskesmas
Pangkalan Balai Dalam rangka memenuhi tuntutan terhadap pelayanan
kesehatan dan upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Puskesmas
Pangkalan Balai mempunyai program-program kegiatan yang direncanakan
pada awal tahun 2011-2012 adalah

23

Program Pokok Puskesmas


1. Promosi Kesehatan (Promkes)
Program promosi kesehatan dilaksanakan guna meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan akan nilai-nuilai
kesehatan masyarakat.
Tujuan
: Memberikan pengetahuan dan perilaku hidup sehat dalam
Sasaran

mengurangi timbulnya masalah kesehatan masyarakat.


: Seluruh masyarakat dalam wilayah kerja Puskesmas,

Kegiatan

instansi maupun organisasi kemasyarakatan.


: Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

2. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P)


Tujuan
: Menurunkan angka kesakitan dan kematian pada
masyarakat baik sebelum maupun sesudah terjadinya
Sasaran
Kegiatan

penyakit.
: Seluruh masyarakat dalam wilayah kerja Puskesmas
: Imunisasi, Program P2 Kusta, peningkatan penemuan
penderita TBC, peningkatan penemuan penderita
Filariasis, Penanggulangan DBD sejak dini, penanganan
secara dini Penyakit Diare.

3.Sanitasi (Kesehatan Lingkungan)


Tujuan
: Mewujudkan lingkungan sehat
Sasaran
: Seluruh masyarakat dalam wilayah kerja Puskesmas
Kegiatan
: Pemeriksaan sampel air bersih, penyuluhan kesehatan
lingkungan, Inspeksi Sanitasi, Klinik Sanitasi
4. Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB
Tujuan
: Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak,
Sasaran
Kegiatan

meningkatkan jumlah akseptor KB dan KB Mandiri


: Pasangan Usia Subur dan Anak
: Pemeriksaan ibu hamil, Memotivasi Bumil untuk
melahirkan pada petugas kesehatan, pelayanan kesehatan

24

ibu dan anak, Peningkatan Akseseptor KB MKJP dan


NON MKJP, MTBS,DDTK
5.Perbaikan Gizi Masyarakat
Tujuan
: Menanggulangi masalah Gizi dan Meningkatkan status
Sasaran

gizi masyarakat.
: Kelompok-kelompok yang berresiko menderita kelainan
Gizi antara lain : Bayi dan Balita, anak prasekolah dan
anak usia sekolah, Wanita Usia Subur (WUS), Semua

Kegiatan

Penduduk daerah rawan Gizi.


: Melakukan pemantauan hasil penimbangan dgn
SKDN, Pemberian kapsul Vit A, Fe 3 BUMIL, ASI
EKSLUSIF, Pemberian PMT pemulihan balita dengan
gizi buruk.

6.Upaya Kesehatan Perorangan


Tujuan
: Meningkatnya akses pelayanan kesehatan terhadap
Sasaran
Kegiatan

masyarakat.
: masyarakat/pasien
: pelayanan pengobatan baik di puskesmas maupun di
tempat pelayanan lain, pemberian obat secara rasional.

Program Penunjang Puskesmas


1. SIMPUS Puskesmas
Puskesmas Pangkalan Balai adalah salah satu puskesmas Pilot
Projek SCHS yang diberi bantuan untuk mempermudah proses
pengolahan data berupa: Family Folder, Simpus Entry dan Simpus
Individu yang sudah berjalan dari bulan Agustus 2007 sampai dengan
sekarang.
Tujuan

: meningkatkan kelengkapan dan keakurasian data

Sasaran
Kegiatan

puskesmas
: data puskesmas, Pustu dan Polindes
: Pembuatan Pelaporan dan Registrasi Pungguna Jasa
Pelayanan

2. Laboratorium Sederhana

25

Tujuan

: Untuk Membantu Mengetahui Penyakit yang tidak dapat

Sasaran
Kegiatan

didiagnosa secara Klinis saja.


: mayarakat diwilayah kerja puskesmas
: Pemeriksaan Darah Rutin, Urin Rutin, Sputum dan Hb.

3. Rontgen
Tujuan

: Untuk Membantu Mengetahui Penyakit yang tidak dapat

didiagnosa secara Klinis saja.


Sasaran
: masyarakat diwilayah kerja puskesmas
Kegiatan
: Foto Thorak, Foto Extrimitas atas dan bawah
Program Pengembangan Puskesmas

Kesehatan Jiwa
Tujuan

: Meningkatnya kemampuan Masyarakat dalam


memelihara kemampuan kesehatan jiwa dan
berprilaku sesuai dengan norma yang berlaku

Sasaran

: masyarakat yang mengalami gejala gangguan jiwa


diwilayah kerja puskesmas

Kegiatan

: Rujukan Pelayanan Sekunder ke RS.

Kesehatan Usila
Tujuan

: Meningkatnya derajat kesehatan dan mutu usia


lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan
berdaya guna dalam kehidupan.

Sasaran

: masyarakat lansia diwilayah kerja puskesmas

Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan pneumonia adalah
sebagai berikut :

26

1. Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui pemberian kompres.


2. Latihan bentuk efektif dan fisiotheraphy paru.
3. Pemberian oksigenasi (oksigen 1-2 liter/menit).
4. Mempertahankan kebutuhan cairan (IVFD dektrose 10% : NaCl 0,9%).
5. Pemberian nutrisi, apabila ringan tidak perlu diberikan antibiotik, tetapi apabila
penyakit berat dapat dirawat inap, maka perlu pemberian antibiotik berdasarkan
usia, keadaan umum, kemungkinan penyebab, seperti pemberian Ampisilin dan
Kloramfenikol.
6. Penatalaksanaan medis dengan cara pemberian pengobatan

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan
paru-paru (alveoli).
2. Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di
Indonesia yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita.
3. Secara epidemiologi, pneumonia umumnya banyak diderita oleh
balita, disebabkan oleh pneumokokus, di Indonesia sering terjadi

27

pada saat musim hujan, dan rentan terhadap kondisi lingkungan


yang padat.
4. Klasifikasi pneumonia dibedakan menjadi 3 macam yaitu
pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia.
5.

Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah batuk berdahak, nyeri


dada, sesak nafas, dll.

6. Pneumonia terbagi dalam berbagai jenis berdasarkan dengan


penyebab, anatomik, dan berdasarkan asal penyakit ini didapat
7. Faktor penyebab pneumonia adalah 2. Virus: virus influenza,
chicken-pox (cacar air).3. Jamur tertentu.
8. Penyebab pneumonia yang paling sering memerlukan perawatan
rumah sakit adalah pneumonia pneumokokus yang disebabkan oleh
Streptococcus pneumonia.
9. Faktor risiko pneumonia dapat dilihat dari faktor anak, ibu,
lingkungan, serta kondisi ekonomi.
10. Berbagai upaya juga dilakukan oleh UPT Puskesmas Pangkalan
Balai dalam program pembangunan kesehatan

B.Saran
Dalam pembuatan makalah tentang penyakit pneumonia ini,
penulis menyarankan agar masyarakat pada umumnya,serta khususnya
para ibu dan petugas kesehatan dapat lebih perduli tentang bagaimana
menjaga kesehatan dengan baik, menerapkan gaya hidup sehat dengan
pola makan yang teratur serta tidak sembarangan mengkonsumsi makanan
dan minuman. Dengan begitu, kita dapat terhindar dari penyakit
pneumonia dan tetap hidup sehat untuk menjalankan aktifitas sehari-hari.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasmaliah. 2004.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan

penanggulangannya dalam http://library.usu.ac.id. 29 Januari 2010.


19:05:10 WIB.
2. Supriyatno.

2003.

Waspada

Pneumonia

pada

www.kesonline.com. 29 Januari 2010. 19:25:15 WIB

29

Anak

dalam

3. Notoatmodjo S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar.


Jakarta: Rineka Cipta.
4. Depkes RI. 2002. Surve Kesehatan Nasional 2001. Laporan Studi
mortalitas 2001. Badan Litbangkes, Jakarta.
5. Machmud R. 2006. Pnneumonia Balita di Indonesia dan Peranan
Kabupaten dalam Penanggulangannya. Padang: Andalas University Press
6. 6. 2007. Waspada Pneumonia, bukan sekedar Panas Batuk Pilek dalam
http://cakmoki86.wordpress.com. 10 Januari 2010. 13:10:15 WIB.
7. 7. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta:
Depkes.
8. 8. 2009. Pneumonia Rentan Terjadi Pada Bayi Dan Balita dalam
http://www.surabaya-ehealth.org. 10 Januari 2010. 13:20:56 WIB
9. Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta:
Depkes
10. Pneumonia dalam http://www.indonesiaindonesia.com 29 Januari 2010.
19:05:10 WIB
11. http://penyakit.infogue.com/pengertian_penyakit
12. http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit

BIODATA PENULIS

30

Nama

: Hafiza Khoradiyah

TTL

: Bekasi, 8 November 1994

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Fakutas

: Kedokteran

Program Studi

: Ilmu Keperawatan

NIM

: 04121003033

Alamat Rumah

: JL, Sukabangun 2,jln.Soak Simpur lrng.Kaur Blok D

No 19
Kabupaten/Kota

: Palembang

Provinsi

: Sumatra Selatan

LAMPIRAN

31

Penderita Pneumonia pada balita

Berita tentang pneumonia

32

Sabtu, 10 November 2012 08:08 WIB


Dot Bayi Jadi Sumber Kuman dan Jamur?
Aliza Marcella

Dot bayi yang merupakan tempat subur untuk pertumbuhan bakteri dan jamur
yang berbahaya
Untuk membersihkan, dot juga bisa direndam dalam larutan baking soda dan
air
AMERIKA SERIKAT, Jaringnews.com - Sebuah penelitian di Amerika
Serikat menunjukkan bahwa dot bayi yang merupakan tempat subur untuk
pertumbuhan bakteri dan jamur yang berbahaya. Kuman yang dapat tumbuh di
sana juga cukup beragam, mulai dari Staphylococcus aureus dan Klebsiella
pneumonia, hingga jamur.
Dot bayi yang sudah terkena bakteri memunculkan biofilm, yaitu pelapis
bakteri yang mengubah keseimbangan mikroba dalam mulut dan sangat kebal
terhadap anti-biotik. Biofilm ini bisa menyebabkan infeksi telinga serta penyakit
lain di masa depan.Meski begitu, penelitian ini masih dilakukan dalam skala kecil.
Peneliti mengamati 10 dot milik bayi sehat dan tujuh dot baru. Dari semuanya,
peneliti menemukan ada lebih dari 40 macam bakteri pada dot milik bayi sehat.
Lima dot terkontaminasi Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia dan jamur.

Tapi para ibu tak perlu panik dulu. Untuk menghindari efek buruk kuman pada

33

bayi, sebaiknya dot selalu dicuci setelah keluar dari mulut bayi. Gunakan obat
cuci, seperti sabun cuci piring menggunakan air dingin, kemudian biarkan di
udara kering.Untuk membersihkan, dot juga bisa direndam dalam larutan baking
soda dan air. Simpan dot dalam kemasan plastik, atau bersihkan menggunakan
tisu. Membersihkan dot dengan teratur akan mencegah munculnya lapisan biofilm
pada dot, seperti dilansir NY Daily News (07/11)Walaupun begitu tak semua orang
setuju bahwa ladang bakteri pada dot ini bisa berpengaruh buruk. Salah satunya
adalah Dr Bruce Hirsch dari North Shore University Hospital di Manhasset, New
York.
"Dot yang kotor bisa berdampak baik bagi anak. Paparan terhadap beberapa jenis
bakteri di masa balita akan membantu bayi mengembangkan dan menguatkan
sistem kekebalan tubuhnya," jelasnya.

34