Anda di halaman 1dari 7

PARTISI ENERGI PADA BIDANG BATAS ANTAR LAPISAN

A. Aplikasi pada boundary condition (Bidang Batas)


AVO (Amplitude Variation With Offset) muncul sebagai akibat dari partisi energi pada
bidang batas lapisan. Variasi dari amplitudo pada refleksi energi seismik dari sumber ke
penerima bergantung pada perubahan sifat material sepanjang permukaan yang menyebabkan
refleksi. Variasi ini tapak sebagai suatu anomali, yaitu pertambahan amplitudo sinyal
terpantul terhadap pertambahan jarak sumber gelombang ke penerima, bila gelombang
seismik dipantulkan oleh suatu lapisan berisi fluida gas. Jarak (offset) ini berhubungan
langsung dengan sudut datang gelombang seismik (angle of incidence) terhadap lapisan
pemantul, makin besar offset makin besar pula sudut datangnya.

Variasi amplitudo terhadap pertambahan jarak. (Allen & Peddy, 1994)

AMPLITUDO PERPINDAHAN ENERGI


Pada saat sebuah gelombang bidang kompresional atau gelombang datang P mengenai
suatu batas permukaan, antara 2 media elastik homogen isotropis, akan terjadi konservasi
serta pembagian energi dari amplitudo gelombang datang P tesebut menjadi komponen
gelombang P dan S. Energi amplitudo gelombang datang P itu sendiri, serta sebagian lagi
akan dikonversikan menjadi gelombang S.

Gambar, Refleksi dan transmisi pada suatu bidang batas antara suatu gelombang-P
(Castagna, 1993)
Besar sudut sinar datang, refleksi dan transmisi, mengikuti perumusan dari hukum
Snellius :

dimana :
p = parameter gelombang
VP1 = kecepatan gelombang P medium ke-1; 1 = sudut datang gelombang P

VP2 = kecepatan gelombang P medium ke-2; 2 = sudut transmisi gelombang P


VS1 = kecepatan gelombang S medium ke-1; 1 = sudut refleksi gelombang S
VS2 = kecepatan gelombang S medium ke-2; 2 = sudut transmisi gelombang S
Koefisien refleksi dan transmisi untuk gelombang P maupun gelombang S, didefinisikan
sebagai :

Koefisien refleksi gelombang P atau RPP(1) merupakan perbandingan antara

amplitudo refleksi gelombang P terhadap amplitudo gelombang P.


Koefisien refleksi gelombang P atau TPP(2) merupakan perbandingan antara

amplitudo refleksi gelombang P terhadap amplitudo gelombang P.


Koefisien refleksi gelombang S atau RPS(1) merupakan perbandingan antara

amplitudo refleksi gelombang S terhadap amplitudo gelombang P.


Koefisien refleksi gelombang S atau TPS(2) merupakan perbandingan antara

amplitudo refleksi gelombang S terhadap amplitudo gelombang P.


Koefisien RPP, RPS, TPP, dan TPS untuk berbagai sudut datang 1 akan sangat
dipengaruhi oleh kecepatan gelombang P dan S serta densitas, serta parameter
tersebut dipengaruhi oleh sifat fisik dari medium seperti litologi, porositas dan
kandungan fluida.

B. Partisi pada normal incidences


Pada normal incidence tidak terjadi konversi gelombang menuju gelombang S, dan
koefisien refleksi gelombang P (RP) diberikan oleh :

IP merupakan profil kontinyu impedansi gelombang P.


IP1 = VP1 1, impedansi akustik medium ke-1
IP2 = VP2 2, impedansi akustik medium ke-2
IP = (IP1 + IP2)/2, impedansi akustik rata-rata sepanjang interface
IP = IP2 - IP1, selisih impedansi medium ke-2 dan ke-1

dimana :
VP1 = kecepatan gelombang P medium ke-1
VP2 = kecepatan gelombang P medium ke-2
1 = densitas medium ke-1
2 = densitas medium ke-2
Aproximasi logaritmik yang memungkinkan untuk harga koefisien refleksi adalah lebih
kecil atau sama dengan 0.5. Koefisien transmisi (TP) pada normal incidence diberikan oleh
TP= 1 RP
C. Partisi pada nonnormal incidence
D. Variasi amplitude dengan sudut (AVA)
Persamaan Zoeppritz dan persamaan Shuey (yang merupakan aproksimasi dari
persamaan Zeoppritz) sangat tergatntung dari besaran sudut datang ketika gelombang datang
mengenai suatu reflektor. Data seismik direkam sebagai fungsi dari jarak sumber ke
penerima. Karena pada dasarnya terdapat kesamaan antara jarak dan sudut, maka hubungan
nonlinier dari kedua domain yang dapat dihitung untuk digunakan dalam skema analisis data
processing bila proses tersebut menuntut digunakannya data sudut daripada jarak. Skema
anailisis data ini dikenal sebagai analisis AVA (Amplitude Variation with Angle).

Contoh transformasi tersebut ditunjukkan oleh Gambar 5 berikut :

Gambar 1
(a) merupakan respon AVO dan (b) menunjukkan hasil transformasi dari (a) yaitu dalam respon
AVA (amplitude variation with angle) (Western Geophysical, 1994)
Gambar 1a menunjukkan sebuat offset gather dan Gambar 1b menunjukkan ekuivalensinya
yaitu sebuah angle gather. Pada puncak setiap gather tersebut terdapat skematik geometri
sinar gelombang yang menggambarkan refleksi untuk setiap trace masing-masing gather.
Untuk mentransformasikan konstanta jarak ke konstanta sudut perlu diketahui hubungan
antara X dan . Untuk solusi lengkap diperlukan penyelesaian full ray tracing. Aproksimasi
terbaik yang digunakan ialah suatu sinar gelombang yang lurus, pada kasus ini dapat
diketahui bahwa :

dimana :
= sudut datang
X = jarak (offset)

Z = kedalaman
Apabila kecepatan pada lapisan daerah interest diketahui, maka persamaan tersebut dapat
ditulis :

dimana :
V = velocity (RMS atau rata-rata)
t0 = total zero offset travel time
dengan mensubtitusikan persamaan 1 ke persamaan 2 maka diperoleh :

sehingga penyelesaian untuk X yang memungkinkan transformasi jarak-waktu :


dengan menggunakan persamaan diatas maka amplitudo pada offset gather dapat
diungkapkan dalam amplitudo angle gather.

E. Head waves
head wave adalah gelombang yang melewati lapisan pertama lalu merambat disepanjang lapisan
kedua. Syarat terjadinya head wave adalah sudut tembak gelombang harus melewati critical angle
dan lapisan kecepatan lapisan tersebut harus lebih cepat dari lapisan sebelumnya.
Gambar