Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Blok

Metodologi

Penelitian

dan

Evidence

Based

Medicine

adalah

blokkedelapanbelas pada semester VI dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan


Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Pada kesempatan
ini dilaksanakan studi kasus skenario Dr. Emma baru 6 bulan bekerja sebagai dokter
Puskesmas Agung Mulia, mendapat laporan dari petugas bahwa di desa Jaya Utama
terdapat banyak anak-anak menderita Pneumonia. Setelah melihat data rekam medik,
ternyata sebagian besar anak yang menderita pneumonia juga menderita gizi buruk dan
tidak pernah dilakukan imunisasi dasar.Dr. Emma ingin melaporkan kasus tersebut ke
Dinas Kesehatan, tapi ia masih bingung apakah ada hubungan gizi buruk dan imunisasi
dengan penyakit Pneumonia. Sehingga dr. Emma berfikir untuk melakukan penelitian
awal terhadap kejadian tersebut.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode
analisis pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Data Tutorial
Tutor

:dr. Rury Tiara Oktariza

Moderator

:Ahmad Ramadhanu

Sekretaris

:Putri Utami Pratiwi

Notulen

: Usmel Ramadhania

Waktu

: 1. Senin,02Mei 2016
2. Kamis, 04 Mei 2016
Pukul. 13.00 14.30 WIB.

Peraturan

: 1.
2.
3.
4.
5.

Alat komunikasi dinonaktifkan.


Semua anggota tutorial harus mengeluarkanpendapat/aktif.
Mengacungkan tangan saat akan mengutarakan pendapat.
Izin terlebih dahulu saat akan keluar ruangan.
Tidakboleh membawa makanan dan minuman pada saat

proses tutorial berlangsung.


6. Dilarang memotong pembicaraan ketika ada yang sedang
memberikan pendapat.
7. Dilarang berbisik-bisik dengan teman.
2.2 Skenario Kasus
Dr. Emma baru 6 bulan bekerja sebagai dokter Puskesmas Agung Mulia,
mendapat laporan dari petugas bahwa di desa Jaya Utama terdapat banyak anakanak menderita Pneumonia. Setelah melihat data rekam medik, ternyata sebagian
besar anak yang menderita pneumonia juga menderita gizi buruk dan tidak pernah
dilakukan imunisasi dasar.
Dr. Emma ingin melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan, tapi ia masih
bingung apakah ada hubungan gizi buruk dan imunisasi dengan penyakit
Pneumonia. Sehingga dr. Emma berfikir untuk melakukan penelitian awal terhadap
kejadian tersebut.

2.3 Klarifikasi Istilah

1.

Puskesmas

: Pusat Kesehatan Masyarakat / unit pelaksana dinas tingkat

2.
3.
4.
5.
6.

Laporan
Rekam medik
Pneumonia
Penelitian
Imunisasi

:
:
:
:
:

Gizi buruk

penyakit tertentu atas tubuh manusia


: kondisi tubuh yang buruk (malnutrisi)

7.

kota yang bertanggung jawab di bidang kesehatan


Segala sesuatu yang diberitahukan
Catatan riwayat pengobatan dan kesehatan pasien
Radang paru-paru disertai eksudasi dan konsolidasi
Pemeriksaan / penyelidikan yang dilakukan secara teliti
Tindakan untuk memberikan kekebalan terhadap suatu

2.4 Identifikasi Masalah


1. Dr. Emma baru 6 bulan bekerja sebagai dokter Puskesmas Agung Mulia, mendapat
laporan dari petugas bahwa di desa Jaya Utama terdapat banyak anak-anak
menderita Pneumonia. Setelah melihat data rekam medik, ternyata sebagian besar
anak yang menderita pneumonia juga menderita gizi buruk dan tidak pernah
dilakukan imunisasi dasar.
2. Dr. Emma ingin melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan, tapi ia masih
bingung apakah ada hubungan gizi buruk dan imunisasi dengan penyakit
Pneumonia. Sehingga dr. Emma berfikir untuk melakukan penelitian awal terhadap
kejadian tersebut.
2.5 Analisis Masalah
1. Dr. Emma baru 6 bulan bekerja sebagai dokter Puskesmas Agung Mulia, mendapat
laporan dari petugas bahwa di desa Jaya Utama terdapat banyak anak-anak
menderita Pneumonia. Setelah melihat data rekam medik, ternyata sebagian besar
anak yang menderita pneumonia juga menderita gizi buruk dan tidak pernah
dilakukan imunisasi dasar.

a. Bagaimana peran dokter puskesmas jika mendapat laporan tentang insiden


suatu penyakit ?
Jawab:
Mencari data-data tentang insiden tersebut dan melaporkannya dalam bentuk
laporan agar dicarikan cara meminimalisir insiden tersebut.
b. Bagaimana epidemiologi dari pneumonia?
Jawab:
Sekitar 80% kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran
nafas yang terjadi di masyarakat. Pneumonia merupakan bentuk infekso
saluran nafas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 1520% di Indonesia (Dahlan, Z. 2009).
c. Bagaimana etiologi dari pneumonia?
Jawab:
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme yaitu
bakteri, virus, jamur, protozoa, yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri.
Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram,
Streptococcus pneumonia yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri
staphylococcus aureus dan streptococcus aeruginosa. Pneumonia lainnya
disebabkan oleh virus, misalnya influenza (Djojodibroto, 2009).
Infeksi Bakteri
Streptococcus pneumoniae
Haemophillus influenza
Klebsiella pneumoniae
Pseudomonas aeruginosa
Gram-negatif (E. Coli)

Infeksi Atipikal
Mycoplasma pneumoniae
Legionella pneumophillia
Coxiella burnetii
Chlamydia psittaci

Infeksi Jamur
Aspergillus
Histoplasmosis
Candida
Nocardia

Infeksi Virus
Influenza
Coxsackie
Adenovirus
Sinsitial respiratori

Infeksi Protozoa
Pneumocytis carinii
Toksoplasmosis
Amebiasis

Penyebab Lain
Aspirasi
Pneumonia lipoid
Bronkiektasis
Fibrosis kistik

Menurut Djojodibroto ( 2009), cara terjadinya penularan berkaitan dengan


jenis kuman, misalnya:
1. Melalui droplet sering disebabkan oleh Strepcoccus pneumoniae.
2. Melalui slang infus sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus.
3. Melalui ventilator sering disebabkan oleh P. aeruginosa dan
Enterobacter.
d. Bagaimana faktor risiko dari pneumonia?
Jawab:
Menurut Nurjazuli (2011), faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian
pneumonia terbagi atas:
1. Faktor instrinsik meliputi umur, jenis kelamin, status gizi, Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR), status imunisasi, pemberian Air Susu Ibu (ASI),
dan pemberian vitamin A.
2. Faktor ekstrinsik meliputi kepadatan tempat tinggal, polusi udara, tipe
rumah, ventilasi, asap rokok, penggunaan bahan bakar, penggunaan obat
nyamuk bakar, serta faktor ibu baik pendidikan, umur, maupun
pengetahuan ibu
e. Bagaimana teknik dari pengumpulan data?
Pengumpulan data menurut Sastroasmoro (2014), dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu:
1. Data primer
Data primer adalah data yang langsung di ambil dari sumbernya. Ada 3
-

cara pengumpulan data primer yaitu:


Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

melakukan pengamatan. Data yang di hasilkan adalah data yang kualitatif.


Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan mengajukan pertanyaan secara lisan, biasanya dilakukan jika ingin

diketahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden.


Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada

responden untuk di jawab.


2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil dari gasil mengumpulkan orang
lain, contohnya: data yang dimiliki suatu perusahaan atau data BPS

f. Bagaimana teknik pengumpulan data pada kasus?


Jawab:
Teknik pengumpulan data pada kasus menggunakan data sekunder yang
didapat dari rekam medik.
g. Bagaimana hubungan rekam medik dengan penelitian?
Jawab:
Menurut Zalukhu (2010), rekam medik merupakan salah satu cara
pengumpulan data sekender untuk sebuah penelitian. Adapun manfaat dari
rekam medik dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 749 a tahun 1989
menyebutkan:
1) Sebagai dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pesien
2) Sebagai bahan pembuktian dalam perkara hukum
3) Bahan untuk kepentingan penelitian
4) Sebagai dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan
5) Sebagai bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan
h. Apa saja isi dari rekam medik?
Jawab:
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis, BAB II Jenis dan Isi
Rekam Medis Pasal 3 yaitu:
1) Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan
kesehatan sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas pasien;
b. Tanggal dan waktu;
c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan
d.
e.
f.
g.
h.
i.

riwayat penyakit;
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
Diagnosis;
Rencana penatalaksanaan;
Pengobatan dan/atau tindakan;
Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien;
Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik;

dan
j. Persetujuan tindakan bila diperlukan.
2) Isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari
sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas pasien;
b. Tanggal dan waktu;
c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan
riwayat penyakit;
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik:

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Diagnosis;
Rencana penatalaksanaan;
Pengobatan dan/atau tindakan;
Persetujuan tindakan bila diperlukan;
Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan;
Ringkasan pulang (discharge summary);
Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan

tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan;


l. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu;
dan
m. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik.

3) Isi rekam medis untuk pasien gawat darurat, sekurang-kurangnya


memuat:
a. Identitas pasien;
b. Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan;
c. Identitas pengantar pasien;
d. Tanggal dan waktu;
e. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan
f.
g.
h.
i.

riwayat penyakit;
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
Diagnosis;
Pengobatan dan/atau tindakan
Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit

gawat darurat dan rencana tindak lanjut;


j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan
tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan;
k. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan
dipindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lain; dan
l. Pelayanan lain yang telah diberikan
i. Apa makna sebagian besar anak yang menderita pneumonia juga menderita
gizi buruk dan tidak pernah dilakukan imunisasi dasar?
Jawab:
Maknanya yaitu kemungkinan terdapat hubungan antara penderita pneumonia
dengan gizi buruk dan imunisasi.
j. Bagaimana cara menentukan populasi?
Jawab:
Populasi dalam penelitian adalah sekelompok subyek dengan karakteristik
tertentu. Cara menentukan populasi menurutSastroasmoro (2014):
1. Populasi target adalah populasi yang merupakan sasaran akhir penerapan
hasil penelitian; sementara ahli menyebutnya ranah atau domain. Populasi
target bersifat umum yang pada penelitian klinis biasanya ditandai dengan
karakteristik demografis (misalnya kelompok usia, jenis kelamin) dan
karakteristik klini (misalnya sehat, OA). Contoh populasi target:
- Anak sehat
- Remaja pengguna narkoba
- Pasien usia subur
2. Populasi terjangkau disebut pula populasi sumber adalah bagian populasi
target yang dapat dijangkau oleh peneliti. Contoh: Pasien Morbus Hansen
yang berobat di RSMH pada tahun 2011. Dengan kata lain populasi
terjangkau adalah bagian populasi target yang dibatasi oleh tempat dan

waktu. Dari populasi terjangkau ini dipilih sampel, yang terdiri atas subyek
yang akan langsung diteliti
k. Bagaimana cara menentukan jumlah sampel?
Jawab:
Menurut Sugiyono (2002), cara untuk menentukan jumlah sampel dalam
penelitian kuantitatif, dapat diperoleh melalui 4 (empat) cara, yaitu:
1. Penghitungan rumus Slovin
Slovin (1960), menentukan ukuran sampel suatu populasi yang diasumsikan
terdistribusi normal dengan persamaan sebagai berikut.

Dengan:

2. Tabel Isaac dan Michael


Isaac dan Michael (1981), membuat tabel yang bisa digunakan dalam
penentuan jumlah sampel dengan didasarkan atas kesalahan 1%, 5%, dan
10%. Peneliti dapat secara langsung menentukan besaran sampel
berdasarkan jumlah populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.

3. Tabel Krejcie dan Morgan


Krejcie dan Morgan (1970), membuat tabel yang bisa digunakan dalam
penentuan jumlah sampel dengan didasarkan atas kesalahan 5%, atau
dengan tingkat kepercayaan 95% terhadap populasi. Untuk Tabel
KrecjieMorgan seperti table berikut.

10

4. Tabel Yount (berdasarkan persentase)


Yount (1999), apabila jumlah anggota populasi kurang dari 100, lebih baik
seluruhnya diambil sebagai sampel sehingga penelitian merupakan
penelitian populasi atau sensus. Penentuan besarnya sampel menurut Tabel
Yount seperti tabel berikut.

Teknik pemilihan sampel (sampling) menurut Sugiyono (2002), adalah sebagai


berikut.
1) Random sampling (propbiality sampling)

11

Merupakan pengambilan sample secara acak. Dalam teknik random


sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau
bersamasama diberik kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota
sample. Teknik ini sampai sekarang dipandang sebagian teknik yang paling
baik. Untuk menentukan anggota sample dalam random sampling dapat
dilakukan dengan cara undian, ordinal, randomisasi dari tabel bilangan
random .
Jenis-jenis sample yang diperoleh dari teknik random sampling
(probiality sampling) ada tiga, yaitu simple random sampling, stratified
random sampling dan cluster random sampling.
2) Non random sampling (non probiality sampling)
Adalah teknik pengambilan sample dimana tidak semua individu dalam
populasi diberi peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sample.
Teknik ini mempunyai kemungkinan lebih rendah dalam menghasilkan
sample yang representatif.
Jenis-jenis sample non random sampling (non probiality sampling)
adalah: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive
sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
2. Dr. Emma ingin melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan, tapi ia masih
bingung apakah ada hubungan gizi buruk dan imunisasi dengan penyakit
Pneumonia. Sehingga dr. Emma berfikir untuk melakukan penelitian awal terhadap
kejadian tersebut
a. Bagaimana langkah-langkah melakukan penelitian awal?
Jawab:
Berikut sistematika usulan penelitian menurut Sastroasmoro (2014):
1) Menentukan judul yang menggambarkan keseluruhan

isi rencana

penelitian
2) Menentukan latar belakang masalah
3) Identifikasi dan merumuskan masalah
4) Merumuskan hipotesis sebagai pernyataan atau jawaban dari pertanyaan
5)
6)
7)
8)
9)

penelitian
Tentukan tujuan penelitian
Tentukan manfaat penelitian
Membuat tinjauan pustaka
Menentukan desain penelitian
Menentukan tempat dan waktu penelitian

12

10)
11)
12)
13)
14)
15)
16)
17)
18)
19)

Menentukan populasi penelitian


Menentukan sampel dan cara pemilihan sampel
Estimasi besar sampel
Tentukan kriteria inklusi dan eksklusi
Informed consent dari calon subjek penelitian
Menentukan cara kerja
Identifikasi variable penelitian
Menentukan definisi operasional
Rencana pengolahan dan analisis data
Membuat daftar pustaka dan lampiran

b. Apa jenis-jenis penelitian pada bidang kedokteran?


Jawab:
Menurut Sugiyono (2013), penelitian berdasarkan tingkat eksplanasinya
(tingkat kejelasan) dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Penelitian diskriptif
Penelitian diskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui
nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa
membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain.
2. Penelitian komparatif
Penelitian

komparatif

adalah

suatu

penelitian

yang

bersifat

membandingkan. Disini variabelnya masih sama dengan variabel mandiri


tetapi untuk sample yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.
3. Penelitian asosiatif
Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh ataupun juga hubungan antara dua variabel atau
lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan tertinggi dibandingkan dengan
diskriptif dan komparatif karena dengan penelitian ini dapat dibangun
suatu teori yang dapat berfungsi unguk menjelaskan, meramalkan dan
mengontrol suatu gejala.
Adapun menurut Sastroasmoro (2014), terdapat 2 jenis penelitian yaitu:
1) Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif, data kualitatif adalah data yang berbentuk kata,
skema, dan gambar.
2) Penelitian Kuantitatif

13

Penelitian kuantitatif, adalah penelitian dengan memperoleh data yang


berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan.
c. Apa jenis-jenis desain penelitian?
Jawab:
Menurut Sastroasmoro (2014), jenis-jenis desain penelitian ialah sebagai
berikut:
1. Berdasarkan pada ruang lingkup penelitian
- Penelitian klinis
- Penelitian lapangan
- Penelitian laboratorium
2. Berdasarkan pada waktu
- Penelitian transversal
- Penelitian longitudinal
3. Berdasarkan pada substansi
- Penelitian dasar
- Penelitian terapan
4. Berdasarkan pada ada atau tidaknya analisis hubungan antar-variabel
- Penelitian deskriptif
- Penelitian analitik
5. Desain khusus
- Uji diagnostic
- Analisis kesintasan
- Meta-analisis
d. Apa desain penelitian pada kasus?
Jawab:
Desain penelitian yang cocok pada kasus ialah penelitian observatif analitik
(cross sectional atau case control)
e. Bagaimana kerangka dalam penelitian?
Jawab:
Menurut Sastroasmoro ( 2014), sistematika usulan penelitian adalah:
Judul
I Pendahulaun
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Hipotesis
- Tujuan
- Manfaat
II

Tinjauan Pustaka

Kerangka Konsep
III Metodologi

14

Desain
Tempat dan waktu
Populasi dan sampel
Kriteria inklusi dan eksklusi
Besar sampel
Cara kerja
Identifikasi variabel
Rencana manajemen dan analisis data
Definisi operasional
Masalah etika

IV Daftar Pustaka
V

Lampiran

f. Bagaimana jenis-jenis variabel dalam penelitian?


Jawab:
Menurut Sugiyono (2013), variabel dalam penelitian meliputi:
1) Variabel Independen (variabel stimulus / predictor / antecendent / eksogen
/ bebas) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
2) Variabel dependen (variabel output/kriteria/ konsekuen/endogen/ terikat)
adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabel bebas.
3) Variabel moderator (variabel independen kedua), adalah variabel yang
mempengaruhi (memperkuat/ memperlemah) hubungan antara variable
independen dengan variabel dependen.
4) Variabel intervening (variabel penyela/antara), adalah variabel yang secara
teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat
diamati atau diukur.
5) Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak
dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.
6) Variabel luar (epsilon ()) adalah variabel yang secara teoritis
mempengaruhi variabel dependen/endogen akan tetapi tidak diteliti.
g. Apa jenis variabel apa pada kasus ini?
Jawab:
Variabel dependen (tergantung): pneumonia

15

Variabel independen (bebas): status gizi dan imunisasi


h. Bagaimana cara menentukan latar belakang penelitian?
Jawab:
Menurut Syahdrajat, T. (2015), latar belakang hendaknya mencakup 4 hal
yang lebih mudah diikuti bila disusun dalam urutan menurut sebagai berikut :
1. Pernyataan tentang masalah penelitian serta besaran masalah
2. Apa yang sudah diketahui
3. Apa yang belum diketahui
4. Apa yang dapat diharapkan dari penelitian yang direncanakan untuk
menutup apa yang belum diketahui tersebut.
i. Bagaimana cara merumuskan suatu masalah?
Jawab:
Rumusan masalah pada umumnya merupakan ringkasan uraian dari latar
belakang dan dibuat secara singkat dan spesifik. Masalah yang dirumuskan
adalah syarat agar kita dapat memilih metode, pengumpulan data relevan,
memilih teori yang selaras. Perumusan masalah dapat berupa pertanyaan
penelitian atau pernyataan masalah. Pertanyaan bersifat spesifik dengan
menyebutkan variable penlitian. (Syahdrajat, T. 2015)
j. Bagaimana rumusan masalah pada kasus?
Jawab:
Rumusan masalah pada kasus:
1. Bagaimana hubungan antara gizi buruk dan riwayat imunisasi tidak
lengkap dengan kejadian pneumonia pada anak di Puskesmas Agung
Mulia?
k. Bagaimana tujuan dari penelitian dr. Emma?
Jawab:
Tujuan masalah pada kasus:
1. Tujuan umum:
1) Untuk mengetahui hubungan antara gizi buruk dan riwayat imunisasi
tidak lengkap dengan kejadian pneumonia di Puskesmas Agung Mulia
2. Tujuan khusus:
1) Untuk mengetahui gambaran kejadian pneumonia pada anak di
Puskesmas Agung Mulia
2) Untuk mengetahui insiden anak yang menderita pneumonia dengan
keadaan gizi buruk di Puskesmas Agung Mulia
3) Untuk mengetahui insiden anak yang menderita pneumonia dengan
riwayat imunisasi tidak lengkap di Puskesmas Agung Mulia

16

4) Untuk mengetahui hubungan antara gizi buruk dan riwayat imunisasi


tidak lengkap dengan kejadian pneumonia pada anak di Puskesmas
Agung Mulia
l. Bagaimana cara menentukan hipotesis dari suatu penelitian?
Jawab:
Menurut Sastroasmoro (2014), cara merumuskan hipotesis ialah dengan
tahapan sebagai berikut: rumuskan Hipotesis penelitian, Hipotesis operasional,
dan Hipotesis statistik.
1. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ialah hipotesis yang kita buat dan dinyatakan dalam
bentuk kalimat.Contoh:Ada hubungan antara gaya kepempininan dengan
kinerja pegawai, Ada hubungan antara promosi dan volume penjualan.
2. Hipotesis Operasional (1)
Hipotesis operasional ialah mendefinisikan hipotesis secara operasional
variable-variabel yang ada didalamnya agar dapat dioperasionalisasikan.
Misalnya gaya kepemimpinan dioperasionalisasikan sebagai cara
memberikan

instruksi

terhadap

bawahan.

Kinerja

pegawai

dioperasionalisasikan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan.


3. Hipotesis Operasional (2)
Hipotesis operasional dijadikan menjadi dua, yaitu Hipotesis 0 yang
bersifat netral dan Hipotesis 1 yang bersifat tidak netral Maka bunyi
Hipotesisnya:
H0: Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap
bawahan dengan tinggi rendahnya pemasukan perusahaan
H1: Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan
dengan tinggi rendahnya pemasukan perusahaan.
4. Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik ialah Hipotesis operasional yang diterjemahkan kedalam
bentuk angka-angka statistik sesuai dengan alat ukur yang dipilih oleh
peneliti.
Dalam contoh ini asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30%, maka
Hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:

H0: P = 0,3

H1: P 0,3

17

m. Bagaimana hipotesis dari penelitian dr. Emma?


Jawab:
H0: Tidak terdapat hubungan antara gizi buruk dan tidak imunisasi dasar
dengan insiden pneumonia pada anak.
H1:Terdapat hubungan antara gizi buruk dan tidak imunisasi dasar dengan
insiden pneumonia pada anak.
n. Bagaimana cara menganalisa data hasil penelitian?
Jawab:
Cara menganalisa data, pertama tentukan terlebih dahulu jenis analisis
statistika yang akan dipergunakan. Bila terdapat beberapa set variabel yang
akan di analisis, dirinci cara analisis yang akan dipakai untuk tiap set variabel.
Demikian pula bila terdapat lebih dari satu desain. Ditentukan pula batas
kemaknaan yang dipakai, apakah interval kepercayaan (confidence interval)
akan disertakan, dan tingkat kemaknaan statistika yang dipilih (Sastroasmoro,
2014).

18

o. Bagaimana pandangan islam pada kasus ini?


Jawab:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik


membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS
Al-Hujuraat Ayat : 6).
2.6 Kesimpulan
Dr. Emma melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian
observasional analitik dengan desain cross sectional / case control untuk
mengetahui hubungan gizi buruk dan imunisasi tidak lengkap dengan penyakit
pneumonia pada anak di Puskesmas Agung Mulya.
2.7 Kerangka Konsep
Tingginya Insiden pneumonia

Gizi buruk

Imunisasi tidak lengkap

hubungan gizi buruk dan imunisasi tidak lengkap dengan penyakit pneumonia pada anak di Puske

Melakukan penelitian dengan metode obsevasional analitik

Desain cross sectional / case control

19

DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Z. 2009. Pneumonia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed. V.
Jakarta: Interna Publishing.
Djojodibroto, Darmanto. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis. Tersedia
di:

http://dinkes.surabaya.go.id/portal/files/permenkes/dok_dinkes_87.pdf

(diakses tanggal 3 Mei 2016)


Nurjazuli, 2011. Faktor Risiko Dominan Kejadian Pneumonia pada Balita. (online)
ejournals1.undip.ac.id/index.pdf (diakses pada tanggal 2-5-2016).
Sastroasmoro, S dan Ismael, S. 2014. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Ed-5.
Jakarta: Sagung Seto
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta
Syahdrajat, T. 2015. Panduan Menulis Tugas Akhir Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Zalukhu

WO.

2010.

Aspek

Hukum

Rekam

Medis.

Tersedia

di:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21393/4/Chapter%2011.pdf
(diakses tanggal 3 Mei 2016)

20