Anda di halaman 1dari 99

KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DAN

LINGKUNGAN RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
PERIODE MEI - JULI 2012

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir


Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Bandung

ANDHIKA YUDI HARTONO


10100108020

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


FAKULTAS KEDOKTERAN
2012

KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DAN


LINGKUNGAN RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
PERIODE MEI-JULI 2012

SKRIPSI

ANDHIKA YUDI HARTONO


10100108020

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang telah dibuat oleh nama yang
disebutkan di atas telah diperiksa dan direvisi, secara lengkap dan
memuaskan, sehingga dapat diajukan dalam sidang skripsi.

Bandung, September 2012


Pembimbing I

Titik Respati, drg., M.Sc., PH


NIK : 10.0.533

Pembimbing II

Julia Hartati, dr.


NIK : D.06.0.429

KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DAN


LINGKUNGAN RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
PERIODE MEI-JULI 2012

SKRIPSI

ANDHIKA YUDI HARTONO


10100108020

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang telah dibuat oleh


nama yang disebutkan di atas telah diperiksa dan direvisi,
secara lengkap dan memuaskan.

Bandung, 15 September 2012


Pembimbing I

Titik Respati, drg., M.Sc., PH


NIK : 10.0.533

Pembimbing II

Julia Hartati, dr.


NIK : D.06.0.429

Skripsi ini telah dipertahankan oleh penulis di dalam


seminar yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Bandung
Pada 10 September 2012
Yang dihadiri oleh

Ketua
Sekretaris
Penguji I
Penguji II
Penguji III

:
:
:
:
:

Dr. H. Adjat S., dr., AIF., M.Kes


Julia Hartati, dr.
Dr. H. Adjat S., dr., AIF., M.Kes
Yani Triyani, dr., Sp.PK., M.Kes
Ike Rahmawati, dr.

MOTTO :

Tuhanmulah yang melancarkan pelayaran kapal-kapal di lautan


guna kepentinganmu, agar kamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.
Apabila kamu ditimpa marabahaya di lautan, hilanglah segala
yang kamu puja-puja itu dari ingatanmu, kecuali Dia. Tetapi
setelah

kamu

diselamatkan-Nya

ke

daratan,

lantas

kamu

berpaling lagi. Memang manusia itu tidak tahu berterima kasih.


(QS. Al-Isra : 66-67)

Karya tulis ini kupersembahkan untuk


Ayah dan Ibu tercinta yang telah memberikan kekuatan
Berupa doa dan kasih sayang yang takkan pernah bisa terbalaskan.
Saudara-saudaraku tersayang Rika, Bima, dan Dinda serta sahabatku Asyifa 2008
Kasih sayang dan semangat kalian telah memberiku
Motivasi luar biasa dalam menjalani semua ini.

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) Paru adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah
di dunia. Di Indonesia, TB Paru menjadi salah satu masalah utama kesehatan
masyarakat dan sampai saat ini belum dapat ditangani walaupun sudah dilakukan
upaya penanggulangan melalui program TB oleh pemerintah. Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan faktor yang mempengaruhi terjadinya TB Paru
melalui gambaran umum karakteristik penderita TB Paru dan lingkungan
rumahnya.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Subjek
penelitian adalah penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Padalarang,
Kabupaten Bandung Barat. Data didapatkan dengan menggunakan kuesioner dan
observasi langsung pada lingkungan rumah.
Pada penelitian ini diperoleh 42 subjek penelitian yang terdiri dari 73,8%
kelompok umur dewasa, 54,8% laki-laki, 59,5% berpendidikan menengah, 80,9%
berstatus ekonomi rendah, 38,1% bekerja sebagai buruh, 71,4% mempunyai
riwayat orang di sekitar TB Paru, dan 71,4% telah menyelesaikan pengobatan
lengkap. Lingkungan rumah menunjukkan terdapat 57,1% berjendela pada kamar
tidur dan 52,4% pada ruang keluarga, 76,2% berventilasi ruangan tidak baik,
57,1% berpencahayaan ruangan baik, 78,6% kepadatan hunian yang tidak baik,
38,1% berpekarangan rumah yang bersih, 54,8% terletak berhimpitan, 85,7%
terletak di dalam gang, serta 78,5% bersanitasi selokan terbuka. Sebanyak 54,8%
mempunyai perilaku tidak pernah membuka jendela pada kamar dan ruang
keluarga, dan 78,6% menghuni rumah yang dikategorikan rumah tidak sehat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB Paru di Kabupaten Bandung
Barat adalah berjenis kelamin laki-laki pada kelompok usia dewasa, berstatus
ekonomi rendah, memiliki riwayat tinggal atau dekat dengan penderita TB Paru,
dan memiliki rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Kesemua faktor
tersebut memberikan kontribusi pada transmisi TB Paru.
Kata Kunci : Tuberkulosis Paru, Karakteristik Penderita, Lingkungan Rumah.

ABSTRACT

Pulmonary Tuberculosis (TB) is an infectious disease that still has became the
world concern. In Indonesia, pulmonary tuberculosis is still major community
health problem eventhough the goverment have already develop TB program
since decade ago. The purpose of this research is to describe factors contributing
to pulmonary tuberculosis through general characteristic of the pulmonary TBs
patients dan their environmental especially housing condition.
This is descriptive study using cross sectional approach. Subjects of this
research are pulmonary TBs Patients in Puskesmas Padalarang, Kabupaten
Bandung Barat. Data collected using questionare and by direct observation of the
housing environment.
In these research there were 42 subjects that composed from 73,8% were
adults, 54,8% were mens, 59,5% have middle education, 80,9% were in low
economic status, 38,1 work as laborer, 71,8% had the history of living with TBs
people, and 71,4% had completed treatment. The housing environment showed
that, there were 57,1% with a window in the bedroom and 52,4% in the living
room, 76,2% had poor ventilation, 57,1% had good light, and 78,6% were
crowded. 38,1% had a clean yard, 54,8% had narrow space with other house,
85,7% were at narrow street, and 78,5% had open sanitary. 54,8% of the subject
have never open the window in the bedroom and living room, and 78,6% living in
unhealthy house.
The result of this research shows that TBs patient in Kabupaten Bandung
Barat were adult men with low economic status, had the history of living
near/with pulmonary TBs patient, and live in a unhealthys house category. All
those factors contributing to the risk for pulmonary TB transmission.
Key word : Pulmonary Tuberculosis, Patients characteristic, Environmental
house

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.


Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat, dan
ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang
merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Dokter di Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Bandung.
Dalam proses penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis telah banyak
mendapat bimbingan, dorongan, saran, dan pendapat dari berbagai pihak, maka
atas budi baik dan semua bantuannya penulis berdoa agar Allah SWT dapat
menerima dan membalas amal baiknya.
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : Prof. Dr. H. M.
Thaufiq Siddiq Boesoirie, dr., M.S., Sp.T.H.T., K.L.(K) sebagai Rektor
Universitas Islam Bandung. Prof. Hj. Dr. Ieva B. Akbar, dr., AIF sebagai Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Titik Respati, drg., M.Sc., PH
sebagai Pembimbing I, yang telah banyak membantu dan memberikan bimbingan
dalam penyusunan skripsi ini dan Julia Hartati, dr. sebagai Pembimbing II, yang
banyak mendorong sekaligus memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi
ini. Siti Annisa Devi Trusda, dr., M.Kes sebagai dosen wali yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan moril kepada penulis sejak tahun pertama.
Ayah dan Ibu penulis yang telah banyak memberikan dukungan dan dorongan,
baik moril maupun materil, serta doa yang tidak henti-hentinya, kakak dan adik-

iii

adik penulis tersayang Rika, Bima, Dinda, serta sahabat-sahabat penulis (Monika,
Susin, Vileta, Rieza, Irma R, Doddy, Bimo, Regi, Erni, Devi, Annisa, Rizky
Dwikane, dan Rizcky Ramdhani), yang selalu memberikan semangat dan
dukungan setiap saat. Kepada Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat,
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian, Kepala
Puskesmas dan seluruh staff di Puskesmas Padalarang yang telah membantu
penulis dalam melaksanakan penelitian. Para responden yang telah bersedia
meluangkan waktu untuk diwawancara dan diobservasi lingkungan rumahnya,
teman-teman mahasiswa FK Unisba angkatan 2008, dan juga semua pihak yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas
bantuan yang diberikan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun
pembaca pada umumnya dan dapat berguna untuk penelitian lebih lanjut.
Wassalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Bandung, September 2012


Penulis

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ............................................................................................
ABSTRACT ..........................................................................................
KATA PENGANTAR ..........................................................................
DAFTAR ISI .........................................................................................
DAFTAR TABEL .................................................................................
DAFTAR GAMBAR ............................................................................
DAFTAR SINGKATAN ......................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................

Halaman
i
ii
iii
v
vii
viii
ix
x

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................


1.1. Latar Belakang ............................................................................
1.2. Identifikasi Masalah ....................................................................
1.3. Tujuan Masalah ...........................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ......................................................................
1.4.1. Manfaat Teoritis .............................................................
1.4.2. Manfaat Praktis ..............................................................

1
1
5
5
6
6
6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ..


2.1. Tuberkulosis ................................................................................
2.1.1. Epidemiologi ..................................................................
2.1.2. Faktor Resiko .................................................................
2.1.3. Cara Penularan ...............................................................
2.1.4. Gejala Klinis Tuberkulosis ............................................
2.1.5. Pemeriksaan Dahak Mikroskopik ..................................
2.1.6. Diagnosis Tuberkulosis .................................................
2.2. Kriteria Rumah Sehat ..................................................................
2.2.1. Definisi Rumah Sehat ....................................................
2.2.2. Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal .........................
2.3. Kerangka Pemikiran ....................................................................

7
7
7
8
14
15
15
16
17
17
18
21

BAB III SUBJEK DAN METODE PENELITIAN ..............................


3.1. Subjek Penelitian .........................................................................
3.1.1. Subjek Penelitian ...........................................................
3.1.2. Populasi Penelitian .........................................................
3.2. Metode Penelitian ........................................................................
3.2.1. Rancangan Penelitian .....................................................
3.2.2. Tahapan Penelitian .........................................................
3.2.3. Definisi Operasional ......................................................
3.2.4. Pengujian Kuesioner ......................................................
3.2.5. Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data ...................
3.2.6. Pengolahan Data ............................................................

25
25
25
25
25
25
26
26
29
29
30

3.2.7.
3.2.8.

Tempat dan Waktu Penelitian ........................................


Aspek Etik dan Hukum Penelitian .................................

30
30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................


4.1. Hasil Penelitian ...........................................................................
4.1.1. Karakteristik Penderita TB Paru ....................................
4.1.2. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru ...
4.2. Pembahasan .................................................................................
4.3. Keterbatasan Penelitian ...............................................................

32
32
32
34
38
48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................


5.1. Kesimpulan .................................................................................
5.2. Saran ............................................................................................
5.2.1. Bagi Penderita Tuberkulosis Paru .................................
5.2.2. Bagi Puskesmas dan Pemerintah ...................................
5.2.3. Bagi Penelitian Selanjutnya ...........................................

50
50
51
51
51
52

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................


LAMPIRAN ..........................................................................................
RIWAYAT HIDUP ..............................................................................

53
56
84

vi

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1.

Definisi Operasional ...........................................................

27

Tabel 4.1.

Karakteristik Demografi Penderita TB Paru ......................

33

Tabel 4.2.

Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Komponen Fisik Rumah ...............................

35

Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Komponen Sanitasi Rumah ...........................

36

Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Komponen Perilaku Penghuni Rumah ..........

36

Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Penilaian Rumah Sehat .................................

37

Tabel 4.3.

Tabel 4.4.

Tabel 4.5.

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.

Estimasi Insidensi Tuberkulosis ...................................

Halaman
8

Gambar 2.2.

Alur Diagnosis Tuberkulosis Paru ...............................

17

Gambar 2.4.

Kerangka Pemikiran .....................................................

24

viii

DAFTAR SINGKATAN

1. TB

Tuberkulosis Paru

2. WHO

World Health Organization

3. BTA

Basil Tahan Asam

4. Depkes

Departemen Kesehatan

5. ASEAN

Association of South East Asian Nation

6. ARTI

Annual Risk of Tuberculosis Infection

7. SPS

Sewaktu-Pagi-Sewaktu

8. UPK

Unit Pelayanan Kesehatan

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1

Lembar Persetujuan...................................................

56

Lampiran 2

Lembar Kuesioner ....................................................

57

Lampiran 3

Daftar Penilaian Rumah Sehat ..................................

61

Lampiran 4

Hasil Rekapan Kuesioner Data Demografi ...............

66

Lampiran 5

Hasil Rekapan Kuesioner Data Komponen Rumah ..

79

Lampiran 6

Hasil Rekapan Data Komponen Sanitasi ..................

72

Lampiran 7

Hasil Kuesioner Komponen Perilaku .......................

75

Lampiran 8

Hasil Kuesioner Lingkungan Rumah ........................

78

Lampiran 9

Dokumentasi .............................................................

81

Lampiran 10

Hasil Validitas ..........................................................

82

Lampiran 11

Surat Perizinan ..........................................................

83

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) paru adalah suatu penyakit menular yang menjadi perhatian
dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga penduduk
dunia terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan lima sampai sepuluh persen
dari orang-orang yang terinfeksi bakteri ini akan menjadi sakit atau menularkan
kepada orang lain selama hidupnya. Data WHO dalam Global Tuberculosis
Control 2010, menyatakan bahwa terdapat 9,4 juta insiden TB dengan 1,1 juta
penderita meninggal dunia di seluruh dunia. Jumlah insiden TB tertinggi terdapat
di kawasan Asia Tenggara, 35% dari insiden total TB di dunia dengan prevalensi
280 per 100.000 penduduk.1,2
Di Indonesia, TB Paru merupakan salah satu masalah utama kesehatan
masyarakat. Jumlah pasien TB Paru di Indonesia berada pada peringkat empat
dunia setelah India, Cina, dan Afrika Selatan dengan prevalensi TB 285 per
100.000 penduduk atau sebanyak 302.861 kasus pada tahun 2010.2 Profil
Kesehatan Indonesia 2010 menyatakan bahwa provinsi dengan persentase pasien
TB Paru BTA positif terhadap suspek TB Paru terbanyak adalah Maluku Utara
sebesar 22,9%, Kepulauan Riau sebesar 18,7%, dan DKI Jakarta sebesar 16,3%.
Sedangkan rata-rata secara nasional persentase pasien TB Paru BTA positif
terhadap suspek TB Paru hanya sebesar 10,9%.3

Di Provinsi Jawa Barat, persentase pasien TB Paru BTA positif terhadap


suspek TB Paru sebesar 11,5%, dengan kasus TB Paru BTA positif sebanyak
29.413 (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2007).4 Angka kejadian TB Paru di
Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 2010 dan tahun 2011 menunjukkan angka
sebesar 1.349 dan 1.393 kasus secara berurutan. Data tersebut menunjukkan
terjadi kenaikan angka kejadian dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebanyak 44 kasus
atau tiga persen. Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2011 menunjukkan angka
kejadian kasus TB Paru di Puskesmas Padalarang pada tahun 2011 sebanyak 40
kasus dengan 24 kasus merupakan TB Paru BTA positif baru.5
Diperkirakan 95% kasus TB Paru dan 98% kematian akibat TB Paru di dunia
terjadi pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sebanyak 75%
pasien TB Paru mengenai kelompok usia produktif secara ekonomis yang
berumur sekitar 15-50 tahun. Diperkirakan seorang pasien TB Paru dewasa akan
kehilangan rata-rata waktu kerjanya selama tiga sampai empat bulan dengan
akibat kehilangan pendapatan tahunan rumah tangga sekitar 20-30%. Jika pasien
meninggal akibat TB Paru, maka kehilangan pendapatannya akan meningkat
menjadi sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB paru juga
memberikan dampak buruk lainnya secara sosial dan terdapat kemungkinan untuk
dikucilkan oleh masyarakat.6
Bakteri M. tuberkulosis berkembang dan menyebabkan penyakit dipengaruhi
oleh kesehatan lingkungan. H.L. Blum menyatakan dalam the environment of
health model bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kesehatan
manusia, yaitu lingkungan, perilaku, genetik, dan sarana kesehatan. Faktor yang

paling berpengaruh terhadap kesehatan manusia adalah faktor lingkungan dan


diikuti oleh perilaku, genetik, serta sarana kesehatan. 7
Tuberkulosis ditularkan melalui droplet dan penularannya akan sangat
dipengaruhi oleh lingkungan rumah terutama kepadatan ruangan, pencahayaan,
dan juga ventilasi. Menurut Kepmenkes RI No. 829 Tahun 1999, ruangan dengan
luas delapan meter persegi tidak dianjurkan untuk dihuni lebih dari dua orang
karena akan memudahkan penularan mikroorganisme patogen. Pencahayaan
ruangan yang efektif harus masuk melalui ventilasi dengan minimal luas 10% dari
luas lantai merupakan faktor yang sangat mempengaruhi karena cahaya matahari
dapat membasmi bakteri patogen. Sedangkan ventilasi sendiri berfungsi dalam
pertukaran udara yang

akan mempengaruhi kelembaban dari ruangan.

Kelembaban dapat menjadi media yang baik bagi perkembangan bakteri patogen
seperti basilus TB.8, 9
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan pentingnya faktor risiko
penderita seperti umur, jenis kelamin, status ekonomi dan faktor lingkungan
rumah seperti kepadatan hunian, pencahayaan ruangan, dan luas ventilasi dengan
kejadian tuberkulosis paru. Penelitian Bambang dkk dan Hill dkk, pada tahun
2006, serta penelitian Suswati dan Wildan dkk, pada tahun 2007, menunjukkan
hubungan umur dan jenis kelamin dengan kejadian TB Paru. 10-13 Penelitian lain
yang mendukung mengenai umur dan jenis kelamin dengan kejadian TB Paru
adalah penelitian Ajis dkk, 2009, dan Ogboi S.J. dkk, 2010.14,15 Hubungan status
ekonomi dengan kejadian TB Paru diperkuat oleh penelitian Davidow dkk, 2003,
dan Coker dkk pada tahun 2006.16,17 Penelitian lain yang menegaskan penelitian

Davidow dan Coker adalah penelitian Bambang dkk, pada tahun 2006, Wildan
dkk, 2007, dan Ajis dkk, 2009.10,12,14 Penelitian Bambang dkk, 2006, Wildan dkk,
2007, dan Ajis dkk, 2009, menjelaskan terdapat hubungan anatara pendidikan
dengan kejadian TB Paru. Penelitian Bambang dkk, 2006, menunjukkan terdapat
hubungan antara pekerjaan dengan kejadian TB Paru. Penelitian Bambang dkk,
2006, Hill dkk, 2006, dan Sudarso, 2008, menunjukkan terdapat hubungan
kepadatan hunian rumah dengan kejadian TB Paru. 10,11,18 Penelitian Bambang
dkk, 2006, dan Sudarso, 2008 menunjukkan ada hubungan antara luas ventilasi
dan pencahayaan ruangan dengan kejadian TB Paru.8,18
Dari beberapa faktor risiko di atas, diketahui Kabupaten Bandung Barat dari
data Kementerian Kesehatan RI masih memiliki masalah kepadatan penduduk
sebesar 1.131 jiwa/km2 atau berada di urutan ke-14 dari 26 kabupaten/kota di
Jawa Barat. Persentase TB Paru yang sembuh di Kabupaten Bandung Barat
sebesar 57,55% dari capaian nasional sebesar 78,3% di tahun 2010 atau berada di
urutan ke 21 dari 26 kabupaten/kota di Jawa Barat. Jumlah rumah sehat di
Kabupaten Bandung Barat masih sangat rendah yaitu, sebesar 27,22% dari target
nasional tahun 2010 sebesar 80% atau berada di urutan terakhir kabupaten/kota di
Jawa Barat.19
Berdasarkan pengamatan penulis, belum ada penelitian di wilayah kerja
Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mengenai karateristik penderita
TB Paru dengan lingkungan rumah tinggal terutama mengenai usia, jenis kelamin,
status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, riwayat orang di sekitar dengan TB Paru,
riwayat pengobatan, kepemilikan jendela, kepadatan hunian, pencahayaan

ruangan, luas ventilasi, letak rumah, pekarangan, sanitasi rumah, perilaku


penghuni rumah, dan penilaian rumah sehat. Penelitian ini akan sangat menarik
untuk dilakukan agar dapat mengetahui karakteristik penderita TB Paru dengan
lingkungan rumah tinggal untuk dijadikan dasar usaha pencegahan, sehingga
peneliti bermaksud mengadakan penelitian mengenai Karakteristik Penderita
Tuberkulosis Paru dan Lingkungan Rumah di Wilayah Kerja Puskesmas
Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, indentifikasi masalah yang didapat adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja
Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat?
2. Bagaimana karakteristik lingkungan rumah penderita tuberkulosis paru di
wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat?

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Untuk menggambarkan karakteristik penderita tuberkulosis paru di wilayah
kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
2. Untuk menggambarkan karakteristik lingkungan rumah penderita tuberkulosis
paru di wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah :
1. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan sebagai
referensi mengenai faktor risiko lingkungan rumah pada kejadian tuberkulosis
paru.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan data awal pengambilan kebijakan dinas
kesehatan dan instansi lainnya untuk menanggulangi tuberkulosis paru di
Kabupaten Bandung Barat.

1.4.2. Manfaat Praktis


Manfaat praktis dari penelitian ini adalah :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan
untuk melakukan penyuluhan mengenai faktor-faktor lingkungan rumah yang
dapat menjadi risiko terjadinya tuberkulosis paru.
2. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperbaiki
lingkungan rumah agar menjadi tempat tinggal yang sehat dengan
memperbaiki keadaan lingkungan rumah dan perilaku penghuni rumah yang
menjadi faktor risiko terjadinya tuberkulosis paru. Serta masyarakat dapat
melakukan pencegahan penularan dari penderita tuberkulosis paru kepada
orang lain dengan menggunakan masker atau menutup mulut ketika batuk dan
bersin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tuberkulosis (TB)


Tuberkulosis Paru adalah suatu infeksi bakteri yang berkembang tidak saja di
paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ lainnya.20 Departemen Kesehatan
Republik Indonesia (Depkes RI), mendefinisikan TB Paru sebagai suatu penyakit
menular

langsung

yang

disebabkan

oleh

kuman

TB

(Mycobacterium

tuberculosis).6

2.1.1. Epidemiologi
Data WHO dalam Global Tuberculosis Control 2010, menyatakan terdapat 9,4
juta insiden TB Paru dan lebih dari 90% dari seluruh insiden TB Paru di dunia
terjadi di negara berkembang seperti ASEAN (35%), Afrika (30%), Pasifik Barat
(21%), dan Timur Tengah (7,1%). Kematian tertinggi akibat TB Paru terjadi di
Asia Tenggara sebanyak 480.000 kasus kematian dan merupakan angka tertinggi
dibandingkan seluruh kawasan lain di dunia. 1 Di Indonesia, prevalensi kematian
akibat TB Paru pada tahun 2010 adalah sebesar 27 per 100.000 penduduk.3
Insiden TB Paru meningkat berhubungan dengan masalah ekonomi dan sosial
seperti meningkatnya tunawisma, kemiskinan, penyalahgunaan obat terlarang, dan
tingginya angka HIV/AIDS.21

Gambar 2.1. Estimasi Insiden Tuberkulosis (per 100.000 populasi)


Sumber : World Helath Organization. Global Tuberculosis Control :
estimate of the prevalence of TB. 2012.21

2.1.2. Faktor Risiko


Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan TB menginfeksi manusia
antara lain adalah :
1) Umur
Insiden tertinggi tuberkulosis paru adalah pada usia dewasa muda. Di
Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru merupakan kelompok usia
produktif yaitu berusia antara 15 sampai 50 tahun.6 Pada usia ini orang-orang
banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk bekerja. Selain itu orangorang banyak berinteraksi dengan orang lain yang kemungkinan menderita TB
Paru dan meningkatkan risiko terinfeksi bakteri TB.10 Penelitian Suswati di
Kabupaten Jember Tahun 2007 menunjukkan sebanyak 54% dari 200

responden merupakan pasien dengan usia 15 sampai 35 tahun dan penelitian


Bambang dkk dari 91 responden merupakan pasien dengan usia 31 sampai 50
tahun.10,13 Penelitian Hill dkk di Gambia tahun 2006 menunjukkan penderita
TB Paru memiliki umur 15 sampai 75 tahun.11 Penelitian Ogboi S.J. dkk di
Nigeria tahun 2010 menunjukkan sebanyak 39,7% dari 694 responden berusia
20 sampai 29 tahun.15 Penelitian Wildan di Puskesmas Sedati tahun 2007
menunjukkan sebanyak 81,4% dari 43 responden berusia 20 sampai 54
tahun.12
2) Kepadatan Hunian Kamar Tidur
Luas lantai bangunan berdasarkan standar rumah sehat harus disesuaikan
dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Luas yang
tidak sesuai menyebabkan anggota keluarga yang terinfeksi kuman
tuberkulosis mudah menularkan kepada anggota keluarga yang lain karena
satu orang penderita TB Paru dapat menularkan rata-rata kepada dua sampai
tiga orang yang tinggal serumah.11 Penelitian yang mendukung adalah
penelitian Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006 menunjukkan
sebanyak 52,7% dari 91 responden memiliki rumah yang padat penghuni. 10
Penelitian Hill dkk di Gambia tahun 2006 menunjukan sebanyak 60,3% dari
300 responden memiliki penghuni rumah kurang dari empat orang dan kamar
tidur digunakan oleh sedikitnya empat orang.11 Penelitian Sudarso di
Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo tahun 2008 menunjukkan hasil
perhitungan odd rasio untuk kepadatan hunian adalah 5,07 atau kepadatan
hunian yang tidak memenuhi syarat merupakan faktor risiko TB Paru.18

10

Penelitian Coker dkk di Rusia tahun 2006 menunjukkan responden yang


memiliki kondisi rumah yang padat akan meningkatkan risiko terkena
tuberkulosis sebesar tiga kali lipat.17
3) Keadaan Sosial Ekonomi dan Status Gizi
Tingkat sosial ekonomi terutama penghasilan sangat berpengaruh kepada
pemenuhan kebutuhan sehari-hari seseorang dan keluarga. Penghasilan yang
rendah akan membuat kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari menjadi terbatas terutama pemenuhan kebutuhan gizi, lingkungan
rumah yang sehat, dan kebutuhan akan kesehatan. Apabila pemenuhan gizi
kurang, maka status gizi buruk akan menyebabkan kekebalan tubuh menurun
sehingga memudahkan seseorang terkena infeksi TB Paru. Penelitian yang
memperkuat adalah penelitian Wildan di Puskesmas Sedati tahun 2008 yang
menunjukkan bahwa sebanyak 58,1% dari 40 responden memiliki status
ekonomi rendah.12 Penelitian Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006
menunjukkan sebanyak 71,4% dari 91 responden memiliki status ekonomi
yang rendah.10 Penelitian Ajis di Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2009
menunjukkan status ekonomi yang rendah meningkatkan risiko terkena TB
Paru 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan status ekonomi tinggi. 14
4) Sistem Imun Tubuh
Orang dengan kemampuan imun tubuh yang rendah seperti orang dengan
penyakit HIV/AIDS, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga
meningkatkan risiko terinfeksi oleh M. tuberculosis.20

11

5) Frekuensi Kontak Dengan Penderita TB


Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.
Pasien TB Paru dengan dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko
penularan lebih besar dibandingkan pasien TB Paru dengan BTA negatif.
Risiko penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of
Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko
terinfeksi TB selama satu tahun. Annual Risk of Tuberculosis Infection sebesar
10% berarti 10 orang terinfeksi diantara 1000 penduduk setiap tahunnya.
Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB,
hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menderita penyakit TB.
Annual Risk of Tuberculosis Infection di Indonesia bervariasi antara satu
sampai tiga persen.6
6) Jenis kelamin
Tuberkulosis paru tidak menyerang manusia dengan jenis kelamin tertentu,
tetapi pada beberapa penelitian menyatakan bahwa TB Paru lebih banyak
diderita laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan lakilaki dituntut untuk bekerja lebih keras untuk mencari nafkah dan akan
berinteraksi dengan banyak orang, sehingga peluangnya lebih besar untuk
tertular kuman TB. Penelitian yang mendukung adalah penelitian Bambang
dkk di Kabupaten Karo tahun 2006 yang menunjukkan sebanyak 60,4% dari
91 responden adalah laki-laki.10 Penelitian Wildan di Puskesmas Sedati
menegaskan sebanyak 58,1% dari 43 responden merupakan laki-laki.12
Penelitian Ajis dkk di Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2007 menunjukkan

12

sebanyak 116 dari 218 responden adalah laki-laki. 14 Penelitian Ogboi S.J. dkk
di Nigeria menunjukkan sebanyak 58,4% dari 694 responden adalah laki-laki,
tetapi penelitian Suswati di Kabupaten Jember Tahun 2007 menunjukkan
bahwa sebanyak 55% dari 200 responden merupakan wanita. 13, 15
7) Pendidikan
WHO menyatakan bahwa tuberkulosis paru tidak hanya menyerang
masyarakat pada usia produktif, tetapi juga menyerang masyarakat dengan
pendidikan yang rendah. Hal ini karena tingkat pendidikan berpengaruh
terhadap tingkat pengetahuan masyarakat terhadap informasi mengenai
pemenuhan gizi seimbang dan pencegahan serta pengobatan TB Paru. Tetapi
penelitian yang ada berbeda dengan pernyataan WHO, penelitian ini adalah
penelitian Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006 yang menunjukkan
sebanyak 51,6% dari 91 responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas
(SMA).10 Penelitian Wildan di Puskesmas Sedati menegaskan sebanyak
58,1% dari 43 responden, memiliki pendidikan SMA.12 Penelitian Ajis dkk di
Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2007 menunjukkan sebanyak 42 orang
(38,53%) dari 109 responden adalah berpendidikan SMA. 14
8) Pekerjaan
Jenis pekerjaan seseorang mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga.
Karena pendapatan keluarga akan berdampak terhadap pola hidup sehari-hari
diantaranya konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan. Penelitian yang
mendukung adalah penelitian Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006

13

yang menyatakan sebanyak 38 orang (48,1%) penderita TB Paru memiliki


pekerjaan sebagai buruh.10,13
9) Pencahayaan
Cahaya alami atau cahaya matahari dapat membunuh bakteri-bakteri
patogen di dalam rumah, salah satunya adalah bakteri tuberkulosis. Karena itu
rumah harus memiliki minimal 20% luas jendela dari seluruh luas rumah,
supaya cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah dan membunuh bakteri
TB.18 Penelitian yang mendukung peran cahaya tersebut adalah penelitian
Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006 menunjukkan bahwa 49,5% dari
91 rumah responden tidak ada sinar matahari yang masuk ke rumah. 10 Selain
itu penelitian Sudarso di Kecamatan Tanggulangi, Kabupaten Sidoarjo tahun
2008 menyatakan odd rasio untuk pencahayaan ruangan sebesar 5,06 atau
merupakan faktor risiko terjadinya TB Paru.18
10) Kelembaban Udara
Kelembaban udara dalam ruangan berperan dalam kenyamanan penghuni,
dimana kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar
22 sampai 30C. Kelembaban di atas 60% dapat membuat bakteri
tuberkulosis bertahan hidup selama beberapa jam dan dapat menginfeksi
penghuni rumah.18
11) Perilaku
Perilaku seseorang terdiri dari pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pengetahuan
penderita TB Paru yang kurang mengenai cara penularan, bahaya, dan cara
pengobatan TB Paru akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang.

14

Karena ketidaktahuan mengenai cara penularan dan perilaku yang menjadi faktor
risiko TB Paru, maka tidak ada perubahan perilaku untuk mencegah TB Paru.
Contoh perilaku yang menjadi faktor risiko adalah merokok. 9

2.1.3. Cara Penularan


Penderita TB Paru dapat menularkan penyakit TB Paru melalui beberapa cara,
yaitu :
1) Sumber penularan adalah pasien TB dengan hasil Basil Tahan Asam (BTA)
positif.
2) Pada waktu bersin atau batuk, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan
sekitar 3000 percikan dahak.
3) Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dengan paparan dahak yang
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat
bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
4) Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi tingkat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut.
5) Faktor yang memungkinkan seseorang terpapar kuman TB ditentukan oleh
konsentrasi percikan ke udara dan lamanya menghirup udara tersebut.6

15

2.1.4. Gejala Klinis Tuberkulosis


Gejala yang timbul pada penderita TB Paru adalah batuk produktif atau
berdahak selama lebih selama dua sampai tiga minggu atau lebih. Batuk dapat
diikuti dengan gejala tambahan, yaitu dahak bercampur darah, sesak nafas,
berkeringat pada malam hari, badan lemas, nafsu makan turun, malaise, dan
demam meriang selama lebih dari satu bulan. 6,20,21

2.1.5. Pemeriksaan Dahak Mikroskopik


Pemeriksaan

dahak

berfungsi

untuk

menegakkan

diagnosis,

menilai

keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak


untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan tiga spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa SewaktuPagi-Sewaktu (SPS) :
1) S (sewaktu) : dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung
pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk
mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
2) P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah
bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Unit
Pelayanan Kesehatan (UPK).
3) S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan
dahak pagi.6

16

2.1.6. Diagnosis Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis paru didiagnosis dengan beberapa tahapan diagnosis :
1) Semua suspek TB diperiksa tiga spesimen dahak dalam waktu dua hari, yaitu
sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
2) Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya
kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui
pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan
lain seperti foto toraks, biakan, dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai
penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
3) Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto
toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB
paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.6

17

Gambar 2.2. Alur Diagnosis Tuberkulosis Paru


Sumber : Panduan Nasional Tuberkulosis Tahun 2007.6

2.2. Kriteria Rumah Sehat


2.2.1. Definisi Rumah Sehat
Menurut Undang-undang RI No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman, rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau
hunian dan sarana pembinaan keluarga.22 Sedangkan yang dimaksud dengan sehat
menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan yang sempurna
baik fisik, mental, maupun sosial budaya, bukan hanya keadaan yang bebas dari
penyakit dan kelemahan (kecacatan).8

18

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Rumah Sehat


sebagai tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristirahat sehingga
menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial
budaya.8

2.2.2. Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999
tentang Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal, rumah sehat haruslah memenuhi
beberapa syarat sebagai berikut :
1) Bahan bangunan tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang
dapat membahayakan kesehatan, seperti kadar timah hitam tidak melebihi
300 mg/kg, debu total tidak lebih dari 150 mg/m3, asbes bebas tidak lebih dari
0,5 fiber/m3/4 jam, serta tidak terbuat dari bahan yang tempat berkembangnya
mikroorganisme patogen.8
2) Komponen dan penataan ruang rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan
biologis sebagai berikut :
a) Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.
b) dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara,
kedap air, dan mudah dibersihkan.
c) Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.
d) Rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan
penangkal petir.

19

e) Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu,
ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi, dan
ruang bermain anak.
f) Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap. 8
3) Pencahayaan ruangan ada dua macam, yaitu penerangan alami atau sinar
matahari dan pecahayaan buatan atau pencahayaan lampu. Penerangan alami
sangat penting dalam menerangi rumah untuk mengurangi kelembaban dan
untuk membunuh kuman penyebab penyakit tertentu. 18 Untuk itu pencahayaan
alam atau buatan langsung atau tidak langsung harus dapat menerangi seluruh
bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.8
4) Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a) Tidak berbau dan berwarna.
b) Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C.
c) Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%.
d) Terjadi pertukaran udara.
e) Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm per delapan jam.8
5) Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar ke dalam dan pengeluaran
udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun mekanis.
Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia,
sehingga apabila suatu ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik
dan over crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan
kesehatan. Standar luas ventilasi rumah, menurut Kepmenkes RI No. 829
tahun 1999, adalah minimal 10% luas lantai. 8 Kurangnya ventilasi juga

20

mengakibatkan bakteri tidak dapat disalurkan ke luar rumah dan berpotensi


menjadi sumber penyakit.18 Penelitian yang mendukung adalah penelitian
Bambang dkk di Kabupaten Karo tahun 2006 yang menunjukkan sebanyak
83,5% dari 91 responden tidak memiliki luas ventilasi yang memenuhi
syarat.10 Penelitian Sudarso di Kecamatan Tanggulangi, Kabupaten Sidoarjo
menunjukkan odd rasio sebesar 8,05 yang berarti luas ventilasi yang tidak
memenuhi syarat merupakan faktor risiko kejadian TB Paru.18
6) Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak. Dimana air dalam kebutuhan sehari-hari harus memenuhi minimal
60L/hari/orang. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai
berikut :
a) Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
b) Syarat Kimia : Contoh kadar Besi maksimum yang diperbolehkan sebesar
0,3 mg/l.
c) Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml
air).8
7) Limbah cair yang berasal dari rumah tidak boleh mencemari sumber air, tidak
menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah. Sedangkan limbah
padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau serta tidak menyebabkan
pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.8

21

8) Kepadatan hunian rumah harus memiliki luas ruang tidur minimal sebesar
delapan meter persegi dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang
tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak di bawah umur lima tahun.8
9) Binatang dapat menjadi sumber penyakit atau menjadi sarana bagi suatu
mikroorganisme untuk hidup dan berkembang biak dalam siklus hidupnya.
Contoh binatang yang dapat menularkan penyakit adalah tikus dan lalat.
Sehingga rumah harus bersih dari binatang penular penyakit. 8
10) Kebersihan makanan akan mempengaruhi kesehatan secara langsung dari
orang-orang yang mengkonsumsinya. Makanan tidak boleh tercemar oleh
kotoran yang terbawa oleh binatang terutama tikus ataupun serangga. Oleh
karena itu sarana penyimpanan makanan harus aman dan higienis. Sehingga
makanan tidak menjadi sumber penyakit bagi penghuni rumah. 8

2.3. Kerangka Pemikiran


Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita Tuberkulosis
paru terbanyak di dunia setelah India, Cina, dan Afrika Selatan.2 Di Provinsi Jawa
Barat, persentase pasien TB Paru BTA positif terhadap suspek TB Paru sebesar
11,5% atau berada di urutan ke-13 dari 33 provinsi di Indonesia.3 Di Kabupaten
Bandung Barat memiliki angka kejadian TB Paru sebesar 1.393 kasus. 5
Angka kejadian tuberkulosis paru di Kabupaten Bandung Barat tinggi
disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor lingkungan, agen infeksi, dan host.
Faktor risiko dari host adalah usia, jenis kelamin, dan status ekonomi. Faktor

22

risiko dari lingkungan adalah kepadatan hunian, pencahayaan ruangan, dan luas
ventilasi.
TB Paru sering menyerang usia produktif dikarenakan pada saat usia produktif,
orang-orang memiliki kegiatan diluar rumah. Kegiatan di luar rumah membuat
orang-orang akan berinteraksi dengan orang lain, sehingga kemungkinan
berkontak dengan penderita TB Paru dan terinfeksi oleh kuman TB menjadi lebih
besar.6,10-13,15
Jenis kelamin laki-laki sering menjadi penderita tuberkulosis paru karena pada
umumnya laki-laki diharuskan untuk bekerja supaya dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Sehingga laki-laki akan sering beraktifitas di luar rumah dan
meningkatkan risiko tertular kuman TB dari penderita TB Paru di lingkungannya
bekerja.10,12-15
Faktor pekerjaan akan mempengaruhi status ekonomi keluarga dan ikut
berpengaruh dalam kejadian tuberkulosis paru. Keluarga yang memiliki status
ekonomi rendah memiliki kemampuan yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Sehingga keterbatasan dalam memenuhi gizi akan mengakibatkan
keluarga tersebut memiliki keadaan kurang gizi dan membuat kekebalan tubuh
menurun untuk melawan infeksi kuman. Tetapi selain faktor status ekonomi
keluarga, faktor pendidikan juga akan berpengaruh terhadap pengetahuan
pemenuhan gizi serta akses terhadap informasi kesehatan. 10,12,14
Keluarga dengan status ekonomi rendah juga membuat pemenuhan kebutuhan
untuk lingkungan rumah yang sehat tidak terpenuhi karena keluarga akan lebih
mengedepankan pemenuhan kebutuhan primer. Sehingga banyak orang dengan

23

status ekonomi rendah memiliki rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
seperti kepadatan hunian yang tidak baik, pencahayaan ruangan yang tidak
mencukupi, dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat. Kepadatan hunian
yang terlalu padat akan membuat anggota keluarga mudah terinfeksi kuman TB
jika anggota keluarganya ada yang menderita TB Paru. 10,11,17,18 Selain itu rumah
dengan pencahayaan yang kurang akan membuat kuman tumbuh dengan baik
karena tidak ada sinar matahari yang membunuh kuman di dalam rumah. 10,18 Luas
ventilasi yang tidak memenuhi syarat yaitu kurang dari 10% dari luas rumah akan
membuat bakteri di dalam rumah tidak terbuang ke luar beserta dengan pergantian
udara melalui ventilasi.8,10,18 Hal ini membuat bakteri banyak berkembang di
dalam rumah. Faktor-faktor risiko di atas akan meningkatkan kejadian
tuberkulosis paru.

24

Tuberkulosis Paru Indonesia urutan ke-5 dunia


Tuberkulosis Paru Jawa Barat tinggi
Tuberkulosis Paru Bandung Barat tinggi
Faktor Risiko Tuberkulosis Paru

Faktor Agen Infeksi

Faktor Host

Usia produktif

Jenis kelamin
laki-laki

Kegiatan sehari-hari
dan kontak dengan
banyak orang
Kemungkinan
tertular TB dari
penderita TB Paru
lebih besar

Faktor Lingkungan

Pendidikan

Bekerja di luar
rumah

Pemenuhan gizi kurang


Kekebalan tubuh
menurun

Luas ventilasi
tidak memenuhi
syarat
Kuman TB tidak
tereliminasi

Status ekonomi
rendah
Keluarga
mengedepankan
pemenuhan
kebutuhan primer
Lingkungan rumah
tidak sehat

Pencahayaan
rumah kurang
Memungkinkan
kuman TB
berkembang

Pekerjaan

Kepadatan
hunian rumah
Memudahkan
penularan kuman TB

Kejadian Tuberkulosis Paru tinggi


Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran

BAB III
SUBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1. Subjek Penelitian


Subjek penelitian ini adalah penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja
Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

3.1.1. Populasi Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah penderita tuberkulosis paru di wilayah
kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

3.2. Metode Penelitian


3.2.1. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian
yang dilakukan pada satu waktu untuk menentukan apakah paparan berkaitan
dengan penyakitnya. Penelitian cross sectional menyediakan gambaran frekuensi
dan karakteristik suatu penyakit pada populasi pada suatu waktu, tetapi tidak
menyatakan suatu hubungan sebab akibat.23

25

26

3.2.2. Tahapan Penelitian


Tahap penelitian ini adalah peneliti mengumpulkan data dari laporan
penemuan pasien tuberkulosis paru mengenai jumlah kasus tuberkulosis paru di
wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2011.
Peneliti selanjutnya melakukan persiapan mengenai perizinan penelitian ke Dinas
Kesehatan Kabupaten Bandung Barat dan Puskesmas Padalarang. Peneliti
membuat kuesioner adaptasi untuk bahan penelitian dan melakukan uji kuesioner
sebelum dilakukan penelitian. Pengambilan data responden berdasarkan usia, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, riwayat orang di sekitar dengan
TB Paru, dan riwayat pengobatan dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
Kepemilikan jendela, kepadatan hunian, pencahayaan ruangan, luas ventilasi
rumah, dan lingkungan sekitar rumah dilakukan dengan mengobservasi keadaan
rumah. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk
selanjutnya dilakukan penyajian data dalam bentuk deskriptif dan dalam bentuk
tabel.

3.2.3. Definisi Operasional


Definisi operasional ini untuk menyamakan pengukuran atau pengamatan
terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat
ukur). Definisi operasional dapat dilihat pada tabel 3.1.

27

Tabel 3.1. Definisi Operasional


No.
Definisi Operasional
1. Penderita TB Paru adalah orang
dengan gejala klinis batuk
produktif lebih dari 2-3 minggu,
memiliki hasil pemeriksaan BTA
positif, atau pernah didiagnosis
TB Paru.
2. Usia responden adalah usia yang
dihitung berdasarkan ulang tahun
terakhir.
3.
4.

Jenis kelamin adalah identitas


biologis responden.
Pendidikan
adalah
jenjang
pendidikan formal yang pernah
diikuti oleh seseorang.

5.

Pekerjaan adalah suatu kegiatan


yang dilakukan responden untuk
mendapatkan atau memperoleh
imbalan.

6.

Status ekonomi adalah status


ekonomi keluarga diukur melaui
upah
minimum
regional
Kabupaten Bandung Barat.
Riwayat orang di sekitar dengan
TB Paru adalah riwayat keluarga,
teman kerja, atau tetangga
menderita TB Paru.
Riwayat
pengobatan
adalah
riwayat
menjalani
suatu
pengobatan penyakit.
Jendela kamar atau ruang
keluarga adalah komponen rumah
tempat cahaya atau udara masuk.
Luas ventilasi adalah luas seluruh
ventilasi dibandingkan dengan
luas lantai.

7.

8.

9.

10.

Kategori
1. Penderita TB Paru
2. Bukan penderita TB Paru

Skala
Nominal

1. Anak-anak (0-14 tahun)


2. Remaja (15-24 tahun)
3. Dewasa (25-64 tahun)
4. Lanjut usia ( 65 tahun)
1. Laki-laki
2. Perempuan
1. Rendah (tidak sekolah atau
tamatan SD)
3. Menengah (Tamat SMP atau
SMA)
5. Tinggi (Lulus PT)
1. Pelajar / Mahasiswa
2. PNS / POLRI / TNI /
Pensiunan
3. Wiraswasta / Pegawai Swasta
4. Buruh
5. Petani
6. Lain-lain
1. Rendah (< Rp. 1.236.991)
2. Tinggi ( Rp. 1.236.991)

Ordinal

Nominal
Ordinal

Nominal

Ordinal

1. Ada
2. Tidak ada

Nominal

1. Masih menjalani
2. Pengobatan Lengkap

Nominal

1. Ada
2. Tidak ada

Nominal

1. Baik (luas ventilasi 10%


luas lantai).
2. Tidak baik (luas ventilasi
<10% luas lantai).

Nominal

28

No.
Definisi Operasional
11. Pencahayaan ruangan adalah
cahaya yang menerangi ruangan
baik cahaya matahari atau cahaya
lampu sebesar 60 lux.
12. Kepadatan hunian rumah adalah
banyak orang yang tidur dalam
satu ruangan dengan luas minimal
ruangan 8 m2.
13. Pekarangan
rumah
adalah
halaman yang menjadi bagian
rumah.
14. Letak rumah adalah jarak antara
rumah satu dengan rumah
disekitarnya.
15. Jalan depan rumah adalah jalan
umum
yang
digunakan
masyarakat yang terletak di depan
rumah responden.
16. Sanitasi air limbah adalah sarana
yang digunakan untuk membuang
air limbah rumah tangga.

17.

18.

19.

20.

21.

Kategori
1. Tidak terang
2. Kurang terang
3. Terang

Skala
Ordinal

1. Baik (ruangan tidur dihuni


oleh 2 orang).
2. Tidak baik (ruangan tidur
dihuni > 2 orang).
1. Tidak ada
2. Ada dan kotor
3. Ada dan bersih
1. Berhimpitan
2. Ada jarak

Nominal

1. 2 m.
2. > 2m.

Ordinal

1. Tidak ada
2. Sumur resapan yang dekat
dari sumber air
3. Selokan terbuka
4. Sumur resapan yang jauh dari
sumber air
5. Selokan tertutup
Perilaku membuka jendela kamar 1. Tidak pernah
adalah
kebiasaan
membuka 2. Kadang-kadang
jendela kamar yang dilakukan di 3. Setiap hari
rumah setiap harinya.
Perilaku membuka jendela ruang 1. Tidak pernah
keluarga
adalah
kebiasaan 2. Kadang-kadang
membuka jendela ruang keluarga 3. Setiap hari
yang dilakukan di rumah setiap
harinya.
Komponen fisik adalah komponen 1. Baik (skor 372 sampai 405)
bangunan fisik rumah yang 2. Tidak Baik (skor < 372)
dijadikan penilaian rumah sehat.
Komponen Sanitasi adalah sarana 1. Baik (skor 300 sampai 375)
pembuangan
limbah
rumah 2. Tidak Baik (skor < 300)
tangga yang dijadikan penilaian
rumah sehat.
Komponen
perilaku
adalah 1. Baik (skor 352 sampai 440)
kebiasaan
sehari-hari
yang 2. Tidak Baik (skor < 352)
dijadikan penilaian rumah sehat.

Ordinal

Nominal

Ordinal

Ordinal

Ordinal

Nominal

Nominal

Nominal

29

No.
Definisi Operasional
22. Rumah sehat adalah rumah yang
memiliki
skor
minimal
berdasarkan penilaian komponen
rumah, sarana sanitasi, dan
perilaku penghuni (Kemenkes
RI).

Kategori
1. Memenuhi syarat (skor 1068
sampai 2000).
2. Tidak memenuhi syarat (skor
< 1.068)

Skala
Nominal

3.2.4. Pengujian Kuesioner


Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian setelah dilakukan uji
validitas dan reliabilitas.
1) Uji validitas
Sebuah kuesioner dikatakan valid jika kuesioner itu mampu mengukur
sesuatu yang seharusnya diukur menurut situasi dan kondisi. Validitas adalah
suatu indeks yang menunjukkan alat itu mengukur dengan tepat apa yang
diukur.
2) Uji realibilitas
Uji realibilitas telah dilakukan sebelum kuesioner digunakan. Realibilitas
adalah tingkat konsistensi hasil yang dicapai oleh sebuah alat ukur, meskipun
digunakan secara berulang-ulang pada subjek yang sama atau berbeda. 24

3.2.5. Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dengan
prosedur pengumpulan data kuesioner yang memuat karakteristik responden dan
karakteristik lingkungan rumah. Pertanyaan diajukan secara tertulis dan dijawab

30

oleh responden. Penilaian lingkungan rumah dilakukan oleh peneliti dengan


mengobservasi lingkungan rumah responden dengan menggunakan daftar tilik.

3.2.6. Pengolahan Data


Data dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, status ekonomi,
kepadatan hunian rumah, pencahayaan ruangan, luas ventilasi rumah, dan jalan
depan rumah. Data selanjutnya dihitung angka kejadiannya serta dilihat
karakteristik responden dan lingkungan rumah penderita tuberkulosis paru di
wilayah kerja Puskesmas Padalarang. Data yang telah dikelompokkan diolah
dengan menggunakan SPSS versi 18.

3.2.7. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Padalarang,
Kabupaten Bandung Barat periode Mei Juli 2012.

3.2.8. Aspek Etik dan Hukum Penelitian


Aspek etik dan hukum penelitian ini akan dipenuhi dengan meminta izin
kepada Puskesmas Padalarang sebelum dilakukan penelitian. Responden
diberitahukan mengenai tujuan dari penelitian ini sebelum dilakukan pengambilan
data dan responden menyatakan kesediaannya dengan mengisi lembar inform
consent. Selanjutnya dilakukan pengisian kuesioner dan observasi lingkungan
rumah. Responden akan diberikan informasi bahwa data yang diperoleh peneliti

31

hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian dan nama responden terjaga
kerahasiaannya.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian


Penelitian mengenai karakteristik penderita tuberkulosis paru dan lingkungan
rumah di wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat telah
dilakukan kepada seluruh penderita TB Paru sejumlah 42 orang yang tercatat di
puskesmas pada kurun waktu Mei Juli 2012.

4.1.1. Karakteristik Penderita TB Paru


Gambaran umum karakteristik 42 penderita TB Paru di wilayah kerja
Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, ditunjukkan pada tabel 4.1 di
bawah. Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa sebesar 73,8% penderita TB Paru
berada di kelompok umur dewasa dan sebanyak 54,8% berjenis kelamin laki-laki.
Sedangkan ditinjau dari tingkat pendidikan dan status ekonomi penderita TB Paru,
sebanyak 59,5% berpendidikan menengah dan sebanyak 80,9% dikategorikan
berstatus ekonomi rendah. Pekerjaan yang paling banyak dimiliki oleh penderita
TB Paru adalah sebagai buruh yaitu sebanyak 38,1%. Berdasarkan riwayat TB
Paru yang sama di orang-orang sekitar penderita TB Paru, diketahui bahwa
sebanyak 71,4% penderita TB Paru memiliki anggota keluarga yang pernah
menderita TB Paru. Diantara 42 subjek penelitian, didapatkan bahwa sebanyak
71,4% telah menjalani pengobatan lengkap untuk TB Paru yang semuanya
berobat di Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

32

33

Tabel 4.1. Karakteristik Demografi Penderita TB Paru


No.

Karakteristik

1.

Kelompok Umur
Anak-anak
Remaja
Dewasa
Lanjut Usia
Total
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Pendidikan
Rendah
Menengah
Tinggi
Total
Status Ekonomi
Rendah
Tinggi
Total
Pekerjaan
Pelajar / Mahasiswa
PNS / POLRI / TNI / Pensiunan
Wiraswasta / Pegawai Swasta
Buruh
Petani
Lain-lain
Total
Riwayat Penyakit TB Paru yang Sama
Ada
Tidak Ada
Total
Riwayat Pengobatan
Masih Menjalani
Pengobatan Lengkap
Total

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Hasil Penelitian
Jumlah
Persentase (%)
1
8
31
2
42

2,4
19,0
73,8
4,8
100

23
19
42

54,8
45,2
100

17
25
0
42

40,5
59,5
0
100

34
8
42

80,9
19,1
100

1
0
10
16
2
13
42

2,4
0
23,8
38,1
4,8
30,9
100

30
12
42

71,4
28,6
100

12
30
42

28,6
71,4
100

34

4.1.2. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan observasi yang telah dilakukan kepada 42 lingkungan rumah
penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung
Barat, didapatkan hasil gambaran umum karakteristik lingkungan rumah penderita
TB Paru yang terbagi dalam komponen fisik, sanitasi, dan perilaku.
1) Komponen Fisik Rumah
Berdasarkan tabel 4.2 di bawah mengenai karakteristik lingkungan rumah
penderita TB Paru berdasarkan komponen fisik rumah, diketahui bahwa dari
segi komponen fisik rumah yang memiliki jendela pada kamar tidur dan pada
ruang keluarga dengan persentase masing-masing 57,1% dan 52,4%.
Komponen fisik rumah berupa ventilasi ruangan, sebanyak 76,2% rumah
penderita TB Paru memiliki luas ventilasi yang tidak baik atau tidak
memenuhi syarat. Serta sebanyak 42,9% rumah penderita TB Paru memiliki
pencahayaan ruangan yang kurang terang. Selain itu untuk karakteristik
kepadatan ruangan, sebanyak 78,6% penderita TB Paru memiliki kepadatan
ruangan yang tidak baik. Sedangkan untuk komponen fisik rumah berupa
pekarangan rumah, sebanyak 38,1% rumah penderita TB Paru tidak memiliki
pekarangan dan juga memiliki pekarangan yang bersih. Mayoritas rumah
penderita TB Paru terletak di dalam gang sebesar 85,5% dan jarak antar rumah
saling berhimpitan sebesar 54,8%.

35

Tabel 4.2. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Komponen Fisik Rumah
No.
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Karakteristik
Jendela Kamar
Ada
Tidak Ada
Total
Jendela Ruang Keluarga
Ada
Tidak Ada
Total
Ventilasi Ruangan
Baik
Tidak Baik
Total
Pencahayaan Ruangan
Tidak Terang
Kurang Terang
Terang
Total
Kepadatan Hunian Rumah
Baik
Tidak Baik
Total
Pekarangan Rumah
Tidak Ada
Ada dan Kotor
Ada dan Bersih
Total
Letak Rumah
Berhimpitan
Ada Jarak
Total
Jalan Depan Rumah
2 meter
> 2 meter
Total

Hasil Pengamatan
Jumlah
Persentase
24
18
42

57,1
42,9
100

22
20
42

52,4
47,6
100

10
32
42

23,8
76,2
100

0
18
24
42

0
42,9
57,1
100

9
33
42

21,4
78,6
100

16
10
16
42

38,1
23,8
38,1
100

23
19
42

54,8
45,2
100

36
6
42

85,7
14,3
100

2) Komponen Sanitasi Rumah


Gambaran umum karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru
berdasarkan komponen sanitasi rumah ditunjukkan pada tabel 4.3.

36

4.3. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru Berdasarkan


Komponen Sanitasi Rumah
No.
1.

Hasil Pengamatan
Jumlah
Persentase

Karakteristik
Sanitasi Air Limbah
Tidak Ada
Sumur Resapan yang Dekat dari Sumber Air
Selokan Terbuka
Sumur Resapan yang Jauh dari Sumber Air
Selokan Tertutup
Total

Berdasarkan

tabel

4.3

mengenai

2
0
33
5
2
42

karakteristik

4,8
0
78,5
11,9
4,8
100

lingkungan

rumah

berdasarkan komponen sanitasi rumah, sebanyak 78,5% rumah penderita TB


Paru membuang limbah air rumah tangga ke selokan terbuka.
3) Komponen Perilaku Penghuni Rumah
Gambaran umum karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru
berdasarkan komponen perilaku penghuni rumah ditunjukkan pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Komponen Perilaku Penghuni Rumah
No.
1.

2.

Karakteristik
Membuka Jendela Kamar Tidur
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Setiap Hari
Total
Membuka Jendela Ruang Keluarga
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Setiap Hari
Total

Hasil Pengamatan
Jumlah
Persentase
23
18
1
42

54,8
42,9
2,3
100

23
17
2
42

54,8
40,5
4,7
100

Berdasarkan tabel 4.4 mengenai karakteristik lingkungan rumah penderita


TB Paru berdasarkan komponen perilaku penghuni rumah, diketahui sebanyak

37

54,8% penderita TB Paru memiliki kebiasaan tidak pernah membuka jendela


pada kamar tidur dan juga jendela pada ruang keluarga.
4) Penilaian Rumah Sehat
Gambaran umum karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru
berdasarkan penilaian rumah sehat ditunjukkan pada tabel 4.5.

Tabel 4.5. Karakteristik Lingkungan Rumah Penderita TB Paru


Berdasarkan Penilaian Rumah Sehat
No.
1.

2.

3.

4.

Karakteristik
Komponen Fisik
Baik
Tidak Baik
Total
Komponen Sanitasi
Baik
Tidak Baik
Total
Komponen Perilaku
Baik
Tidak Baik
Total
Rumah Sehat
Memenuhi Syarat
Tidak Memenuhi Syarat
Total

Hasil Pengamatan
Jumlah
Persentase
9
33
42

21,4
78,6
100

4
38
42

9,5
90,5
100

5
37
42

11,9
88,1
100

2
40
42

4,7
95,3
100

Karakteristik rumah sehat dinilai berdasarkan total penilaian komponen


fisik rumah, komponen sanitasi, dan komponen perilaku penghuni.
Berdasarkan tabel 4.5 untuk penilaian komponen fisik rumah, sebanyak 78,6%
rumah penderita TB Paru memiliki komponen rumah yang tidak memenuhi
syarat rumah sehat. Selain itu untuk komponen sanitasi, sebanyak 90,5%
rumah penderita TB Paru memiliki komponen sanitasi yang tidak memenuhi

38

syarat. Sedangkan untuk komponen perilaku penghuni rumah, sebanyak


88,1% memiliki perilaku sehari-hari yang tidak memenuhi syarat. Berdasarkan
penilaian ketiga komponen tersebut, maka rumah penderita TB Paru yang
memenuhi syarat penilaian rumah sehat hanya sebesar 4,7%. Sedangkan
sisanya sebesar 95,3% memiliki rumah yang dikategorikan sebagai rumah
tidak sehat.

4.2. Pembahasan
Penelitian karakteristik penderita tuberkulosis paru dan lingkungan rumah di
wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat telah dilakukan
kepada 42 penderita TB Paru. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen
kuesioner untuk mengetahui karakteristik penderita TB Paru dan observasi
langsung lingkungan rumah penderita TB Paru dengan menggunakan daftar tilik
pada saat yang bersamaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita TB Paru
berada di kelompok umur dewasa 25-64 tahun, sebanyak 31 orang (73,8%). Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan
bahwa kelompok usia penderita TB Paru berada di kelompok usia produktif yaitu
berusia antara 15-50 tahun. Responden di Kabupaten Bandung Barat berada di
kelompok usia produktif sehingga akan menghabiskan waktunya lebih banyak di
luar rumah untuk bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Risiko paparan
menjadi lebih besar karena kemungkinan kontak dengan orang yang menderita TB
Paru menjadi lebih sering. Penelitian ini juga sesuai dengan pernyataan WHO

39

bahwa penderita tuberkulosis paru di negara berkembang adalah kelompok usia


produktif.10,13
Penelitian yang mendukung penelitian sebelumnya, yaitu penelitian Bambang
dkk di Kabupaten Karo yang menyatakan bahwa sebagian besar penderita berada
pada kelompok usia 31-50 tahun sebanyak 45%.10 Kemudian penelitian Suswati
di Kabupaten Jember, diketahui bahwa penderita TB Paru yang berada di usia
produktif sebesar 87,5%.13 Penelitian selanjutnya yang mendukung adalah
penelitian Wildan dkk di Sidoarjo, dalam penelitianya diketahui sebanyak 81%
berada di kelompok usia 20-54 tahun, begitu pula pada penelitian Ogboi S.J. dkk
di Nigeria, diketahui bahwa sebagian besar berada di kelompok usia 20-39 tahun
sebanyak 63% laki-laki dan 61,6% perempuan.12,15
Angka kejadian TB Paru berdasarkan jenis kelamin adalah 23 orang laki-laki
(54,8%). Hampir seluruh responden laki-laki di Kabupaten Bandung Barat,
berada di kelompok usia produktif sehingga akan menghabiskan waktunya lebih
banyak di luar rumah untuk bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Risiko
paparan menjadi lebih besar karena kemungkinan kontak dengan orang yang
menderita TB Paru.
Hal ini mendukung penelitian lain yang menyatakan penderita laki-laki lebih
banyak dari pada penderita perempuan, seperti pada penelitian Bambang dkk di
Kabupaten Karo yang menyatakan bahwa penderita TB Paru laki-laki sebanyak
60,4%.10 Kemudian penelitian Wildan dkk di Sidoarjo, yang memaparkan bahwa
penderita TB Paru laki-laki sebanyak 58,1%.12 Penelitian Ajis dkk di Kabupaten
Kuantan Singingi mengungkapkan bahwa sebagian besar penderita TB Paru

40

adalah laki-laki sebanyak 51,38%.14 Penelitian Ogboi dkk di Nigeria mempertegas


bahwa penderita TB Paru laki-laki sebanyak 58,4%.15 Tetapi terdapat hasil
penelitian yang tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya, yaitu hasil
penelitian Suswati di Kabupaten Jember yang menyatakan bahwa sebanyak 55%
adalah penderita perempuan.13 Perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian
Suswati karena hampir seluruh responden perempuan di Kabupaten Bandung
Barat berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sehingga tidak banyak berkontak
dengan orang lain di luar rumah yang kemungkinan menderita TB Paru.
Angka kejadian TB Paru berdasarkan karakteristik pendidikan adalah
responden paling banyak berpendidikan menengah sebanyak 25 orang (59,5%).
WHO menyatakan bahwa TB Paru menyerang masyarakat dengan pendidikan
rendah. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi perilaku. Semakin tinggi
pendidikan,

maka semakin

mudah menerima

informasi.10

Tetapi pada

kenyataannya tidak demikian, karena mayoritas responden di Kabupaten Bandung


Barat adalah berpendidikan menengah. Hal ini kemungkinan karena sebelum
penderita TB Paru menjalani pengobatan, mereka kurang mendapat informasi atau
pengetahuan mengenai penyakit TB Paru.
Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya, yaitu penelitian Wildan dkk
di Sidoarjo yang menyatakan bahwa pendidikan terbanyak yang dimiliki adalah
pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 58,1%.12 Penelitian lainnya
adalah penelitian Ajis dkk di Kabupaten Kuantan Singingi yang memaparkan
bahwa sebagian besar pendidikan penderita TB Paru adalah pendidikan SMA
yaitu 38,53%.14 Selain itu, penelitian yang mendukung adalah penelitian Bambang

41

dkk di Kabupaten Karo yang menyatakan bahwa 51,6% penderita TB Paru


berpendidikan SMA.10
Berdasarkan status ekonomi penderita TB Paru adalah sebanyak 34 orang
penderita TB Paru (80,9%) memiliki status ekonomi rendah. Dengan penghasilan
di bawah upah minimum regional Kabupaten Bandung Barat tahun 2011 sebesar
Rp. 1.236.991. Sebagian besar bekerja sebagai buruh, petani, dan pedagang.
Sehingga penghasilannya berada di bawah upah minimum regional kabupaten.
Hal ini menyebabkan responden di Kabupaten Bandung Barat memiliki
keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama kebutuhan gizi,
lingkungan rumah yang sehat, dan kebutuhan akan kesehatan. Kebutuhan gizi
yang mencukupi akan menjamin status kekebalan tubuh yang baik dan lingkungan
rumah yang sehat akan menurunkan risiko berkembangnya kuman M.
tuberculosis, serta melindungi orang-orang dari penularan kuman. Sedangkan
kebutuhan kesehatan yang tidak dapat dipenuhi akan menunda kesembuhan dan
meningkatkan risiko penularan kepada orang lain. Oleh karena itu,

status

ekonomi rendah akan meningkatkan risiko terinfeksi dan risiko menularkan TB


Paru.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Davidow dkk di New Jersey
yang menyatakan bahwa sebanyak 41,1% penderita TB Paru memiliki pendapatan
yang rendah.16 Penelitian Bambang dkk di Kabupaten Karo membuktikan bahwa
penderita TB Paru yang berada di kelompok status ekonomi rendah sebanyak
71,4%.10 Penelitian lainnya yang mendukung adalah penelitian Wildan dkk di
Sidoarjo yang menyatakan penderita TB Paru yang memiliki status ekonomi

42

rendah sebanyak 58,1%.12 Selanjutnya penelitian Ajis dkk di Kabupaten Kuantan


Singingi memperkuat penelitian sebelumnya dengan menyatakan bahwa sebanyak
57,8% penderita TB Paru memiliki status ekonomi rendah.14
Karakteristik penderita TB Paru berdasarkan pekerjaannya menyatakan bahwa
pekerjaan yang banyak dimiliki berupa pekerjaan sebagai buruh, yaitu 16 orang
(38,1%). Pekerjaan sebagai buruh memiliki pendapatan yang rendah, sehingga
pemenuhan kebutuhan untuk memiliki rumah yang sehat akan diabaikan untuk
pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain itu pekerjaan dengan penghasilan
rendah akan berdampak kepada pola konsumsi makanan dan pemeliharaan
kesehatan. Oleh karena itu, pekerjaan berpengaruh kepada tingkat kesehatan
karena jenis pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pendapatan keluarganya.
Penelitian lain yang mendukung penelitian ini adalah penelitian Bambang dkk di
Kabupaten Karo dengan hasil berupa pekerjaan yang banyak dimiliki adalah
pekerjaan sebagai buruh sebesar 41,8%.10
Penderita TB Paru memiliki kemampuan untuk menularkan kuman M.
tuberculosis kepada 2-3 orang disekitarnya. Pernyataan ini dapat dibuktikan
dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa 30 orang (71,4%) responden
memiliki keluarga atau orang disekitarnya yang menderita gejala yang sama atau
pernah didiagnosis TB. Dari 30 penderita TB Paru tersebut, didapatkan sebanyak
28 penderita memiliki riwayat TB Paru yang sama dengan anggota keluarganya,
sedangkan dua penderita TB Paru lainnya memiliki riwayat TB Paru yang sama
dengan tetangga dan juga teman kerjanya. Riwayat pengobatan dari semua
penderita TB Paru diketahui sebanyak 12 orang (28,6%) responden sedang

43

menjalani pengobatan, sedangkan 30 orang (71,4%) responden lainnya telah


selesai menjalani pengobatan. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran
kemungkinan bahwa penderita TB Paru yang sedang menjalani pengobatan
ditularkan oleh orang disekitarnya yang telah terlebih dahulu terinfeksi. Penularan
ini dapat diakibatkan karena kemungkinan anggota keluarga atau orang
disekitarnya tidak menjalani pengobatan TB Paru dengan baik. Serta tidak
berjalannya peran pengawas minum obat (PMO) untuk mendampingi penderita
menjalani masa pengobatannya. Sehingga pengobatan menjadi tidak efektif dan
meningkatkan risiko penularan pada orang sekitarnya. Jadi penelitian ini
mendukung teori bahwa penularan TB Paru berasal dari orang sekitar yang
memiliki riwayat TB Paru.12,13
Karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru berdasarkan komponen
fisik dinilai dari ventilasi ruangan, pencahayaan ruangan, kepadatan hunian,
pekarangan rumah, letak rumah, dan jalan depan rumah. Karakteristik berdasarkan
ventilasi ruangan dinilai dari kepemilikan jendela dan luas ventilasi yang
memenuhi persyaratan. Berdasarkan kepemilikan ada atau tidaknya jendela
terdapat 24 orang (57,1%) responden yang memiliki jendela pada kamar tidurnya
dan terdapat 22 orang (52,4%) responden yang memiliki jendela pada ruang
keluarga. Mayoritas responden memiliki jendela pada kamar dan ruang keluarga,
tetapi jendela tersebut tidak memenuhi syarat luas ventilasi yang baik minimal
sebesar 10%.8 Rumah penderita TB Paru yang memiliki luas ventilasi yang tidak
baik sebanyak 32 orang (76,2%) responden. Luas ventilasi yang tidak memadai
untuk kesehatan, akan mengakibatkan fungsi dari jendela sebagai ventilasi

44

menjadi tidak maksimal. Sehingga besar kemungkinan kuman M. tuberkulosis


tidak tereliminasi dengan cara dikeluarkan melalui ventilasi menuju keluar rumah
dan meningkatkan risiko infeksi pada ruangan tersebut.
Penelitian yang mendukung adalah penelitian Sudarso di Kabupaten Sidoardjo
yang menyatakan bahwa luas ventilasi yang tidak baik menjadi faktor risiko
kejadian TB Paru dan dibuktikan dengan hasil penelitiannya yang memiliki Odds
Ratio sebesar 8,05 atau lebih dari satu.18 Tetapi terdapat penelitian lain yang
bertentangan dengan penelitian Sudarso, yaitu penelitian Bambang di Kabupaten
Karo yang menyatakan bahwa sebanyak 57,1% penderita TB Paru memiliki luas
ventilasi yang baik.10 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya dapat
disebabkan karena faktor lain, yaitu faktor perilaku dari penghuni rumah.
Faktor lingkungan rumah lainnya yang diteliti adalah faktor pencahayaan
ruangan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa sebanyak 24 orang (57,1%)
responden memiliki ruangan dengan pencahayaan yang baik dan tidak
membutuhkan bantuan lampu untuk dapat membaca di ruangan tersebut. Hal ini
karena mayoritas rumah penderita TB Paru memiliki jendela pada kamar dan pada
ruang keluarga, sehingga cahaya dapat masuk dan menerangi ruangan.
Penelitian ini bertentangan dengan penelitian Bambang di Kabupaten Karo
yang menyatakan bahwa sebanyak 49,5% penderita TB Paru memiliki
pencahayaan ruangan yang tidak baik.10 Sedangkan penelitian Sudarso dkk di
Kabupaten Sidoardjo menyatakan bahwa hasil penelitiannya memiliki Odds Ratio
5,06 dan memiliki makna bahwa pencahayaan ruangan menjadi faktor risiko dari
kejadian TB Paru.18

45

Karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru berdasarkan kepadatan


hunian, didapatkan hasil penelitian dengan 33 orang (78,6%) responden memiliki
rumah dengan kepadatan hunian yang tidak baik. Hal ini karena rata-rata
responden di Kabupaten Bandung Barat memiliki ruangan sebesar empat sampai
delapan meter persegi, tetapi dihuni oleh lebih dari dua orang untuk satu ruangan.
Kepadatan hunian ruangan ini akan meningkatkan risiko penularan kuman M.
tuberculosis dari penderita TB Paru kepada orang-orang yang tidur dalam satu
ruangan yang sama. Karena rata-rata penderita TB Paru dapat menularkan kuman
M. tuberculosis kepada dua sampai tiga orang yang tinggal serumah, sehingga
kepadatan hunian yang tidak baik akan lebih memudahkan penularan kuman
tuberculosis kepada orang di sekitarnya.8
Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian Hill dkk di Gambia yang
menyatakan bahwa sebanyak 75,3% penderita TB Paru memiliki kepadatan yang
tidak baik.11 Penelitian lainnya adalah penelitian Sudarso dkk di Kabupaten
Sidoardjo yang mengungkapkan bahwa hasil penelitiannya memiliki Odds ratio
sebesar 5,07 yang memiliki makna bahwa kepadatan hunian rumah merupakan
faktor risiko terjadinya kasus TB Paru. 18 Penelitian Bambang di Kabupaten Karo
juga menyatakan bahwa sebanyak 52,7% rumah penderita TB Paru memiliki
ruangan yang padat penghuni.10
Hasil penelitian mengenai karakteristik lingkungan rumah penderita TB Paru
berdasarkan lebar jalan depan rumah adalah hampir semua responden yang
berjumlah 36 rumah (85,7%) memiliki lebar jalan kurang dari sama dengan dua
meter. Hal ini berarti bahwa 36 orang penderita TB Paru tinggal di rumah yang

46

terletak di dalam gang serta memiliki kualitas udara yang tidak baik karena tidak
memiliki lahan terbuka hijau sebagai penyedia udara yang bersih dan juga akibat
dari rumah yang tidak memiliki jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya.
Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian mengenai letak rumah yang
mengungkapkan bahwa sebanyak 23 rumah (54,8%) penderita TB Paru tidak
memiliki jarak dengan rumah lainnya atau berhimpitan. Rumah yang tidak
memiliki jarak dengan rumah lainnya membuat rumah tersebut tidak memiliki
banyak ventilasi untuk pertukaran udara. Sehingga penularan kuman M.
tuberculosis akan lebih mudah dan juga telah dibuktikan dengan luas ventilasi
yang tidak memenuhi syarat.
Hasil komponen fisik rumah berdasarkan pekarangan rumah didapatkan hasil
bahwa penderita TB Paru yang memiliki pekarangan rumah sebanyak 26 orang
responden dan 16 orang responden (38,1%) diantaranya memiliki pekarangan
yang bersih, sedangkan 10 orang responden (23,8%) lainnya memiliki pekarangan
yang kotor. Pekarangan rumah berfungsi sebagai sumber penghasil udara bersih
bagi ruangan di dalam rumah. Udara bersih tersebut akan masuk melalui jendela
dan ventilasi untuk menggantikan udara di dalam ruangan. Sedangkan udara di
dalam rumah yang kemungkinan mengandung bakteri M. tuberkulosis akan
tereliminasi dan disalurkan melalui ventilasi serta jendela ke luar ruangan. Pada
penelitian ini walaupun terdapat pekarangan rumah yang berfungsi sebagai
sumber udara bersih bagi ruangan di dalam rumah, tetapi ventilasi sebagai media
penyalur udara ke dalam ruangan tidak memenuhi syarat kesehatan, sehingga
udara bersih dan udara yang kemungkinan mengandung bakteri tidak tertukar

47

secara optimal. Serta meningkatkan resiko berkembangnya bakteri di dalam


ruangan rumah.
Pada penelitian ini komponen sanitasi yang dinilai adalah komponen sarana
pembuangan air limbah. Hasil penelitian ini menemukan sebanyak 33 rumah
(78,5%) responden membuang air limbah rumah tangga ke selokan terbuka.
Pembuangan air limbah yang baik adalah pembuangan yang tidak mencemari
sumber air, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah. 8
Pembuangan air limbah yang tidak semestinya dapat menjadi sumber bau busuk
dan menjadi sumber penyakit. Pada penderita TB yang membuang dahak melalui
saluran air, maka air limbah tersebut akan terbawa pada saluran sanitasi. Jika
saluran sanitasi berupa selokan terbuka ataupun bahkan tidak memilikinya, maka
air limbah tersebut menjadi sumber infeksi baru dan menyebabkan kuman M.
tuberkulosis menyebar melalui udara. Selain itu, bau busuk dari saluran sanitasi
terbuka akan berdampak pada sistem pernafasan berupa menurunkan fungsi
pertahanan pada saluran nafas. Sehingga meningkatkan risiko penyakit infeksi
saluran pernafasan, terutama infeksi kuman M. tuberkulosis.
Komponen perilaku dari penderita TB Paru terdiri dari kebiasaan membuka
jendela pada kamar tidur dan juga jendela pada ruang keluarga. Dari hasil
penelitian diketahui bahwa 23 orang (54,8%) responden memiliki kebiasaan tidak
pernah membuka jendela pada kamar tidur dan juga ruang keluarga. Perilaku
merupakan faktor penting kedua setelah lingkungan yang menentukan kesehatan
seseorang dan komunitasnya. Oleh karena itu walaupun pada penelitian diketahui
mayoritas rumah penderita memiliki jendela di kamar tidur dan ruang keluarga.

48

Tetapi jika memiliki perilaku yang tidak mendukung komponen fisik tersebut
seperti tidak pernah membuka jendela, fungsi dari komponen fisik berupa jendela
menjadi tidak optimal.
Penelitian ini menilai karakteristik rumah sehat yang ditinjau dari tiga aspek,
yaitu komponen fisik, komponen sanitasi, dan komponen perilaku. Kriteria baik
untuk setiap komponen dan juga penilaian secara keseluruhan adalah jika
terpenuhi minimal nilai sebesar 80% dari total skor. Rumah penderita TB Paru
yang tidak memenuhi syarat kesehatan dalam komponen fisik adalah sebanyak 33
rumah (78,6%). Rumah penderita TB Paru yang tidak memenuhi standar kriteria
sanitasi sebanyak 38 rumah (90,5%). Serta Perilaku penderita TB Paru yang tidak
memenuhi syarat berjumlah 37 orang (88,1%). Berdasarkan ketiga komponen
tersebut maka rumah penderita TB Paru yang tidak memenuhi syarat rumah sehat
sebanyak 95,3%.

4.3. Keterbatasan Penelitian


Keterbatasan penelitian yang didapat selama pelaksanaan penelitian ini adalah
keterbatasan jumlah data. Hal ini karena belum tercapainya target cakupan
penderita TB di Puskesmas Padalarang. Sehingga jumlah data yang tersedia
sedikit untuk dilakukan penelitian. Jumlah data yang sedikit ini membuat peneliti
menggunakan seluruh populasi penderita TB Paru sebagai subjek penelitian.
Keterbatasan lainnya adalah sebagian subjek penelitian yang diambil dari data
laporan penemuan TB tahun 2011 sudah tidak tinggal di alamat yang tercantum
dalam data Puskesmas. Karena sebagian besar subjek penelitian tinggal di rumah

49

kos dan sudah habis waktu huniannya. Hal ini mengakibatkan semakin sedikit
subjek penelitian yang akan di teliti. Sehingga peneliti melakukan penambahan
subjek penelitian dari data laporan penemuan TB tahun 2012 semester 1.
Dalam pelaksanaan penelitian, kuesioner yang akan digunakan oleh peneliti
untuk pengambilan data subjek penelitian memiliki kekurangan, yaitu tidak
adanya poin untuk menanyakan riwayat orang disekitar yang memiliki riwayat TB
Paru. Sehingga peneliti melakukan adaptasi kuesioner supaya sesuai dengan
karakteristik yang akan diteliti.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka
dapat disimpulkan :
1) Gambaran umum karakteristik penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja
Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat adalah sebagian besar lakilaki usia produktif dengan pendidikan sekolah menengah dan berstatus
ekonomi rendah dengan pekerjaan sebagai buruh, yang telah menjalani
pengobatan lengkap, serta memiliki riwayat orang di sekitar dengan TB Paru
sebelumnya.
2) Gambaran umum karakteristik lingkungan rumah penderita tuberkulosis paru
di wilayah kerja Puskesmas Padalarang, Kabupaten Bandung Barat adalah
rumah yang memiliki jendela pada kamar tidur dan ruang keluarga, tetapi
memiliki luas ventilasi yang tidak baik atau tidak memenuhi syarat. Rumah
memiliki pencahayaan ruangan yang terang dan dihuni oleh lebih dari dua
orang dalam satu ruangan. Sebagian besar rumah terletak di dalam gang dan
berhimpitan dengan rumah lainnya, serta rumah memiliki pekarangan yang
bersih. Sedangkan pembuangan limbah cair rumah tangga dibuang ke sanitasi
terbuka berupa selokan. Penghuni rumah memiliki kebiasaan tidak pernah
membuka jendela pada kamar tidur dan ruang keluarga. Sehingga secara
keseluruhan rumah penderita TB Paru dikategorikan rumah tidak sehat.

50

51

5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka peneliti
memberikan saran untuk mencegah dan mengurangi penyebaran TB Paru kepada
masyarakat Kabupaten Bandung barat sebagai berikut :

5.2.1. Bagi Penderita Tuberkulosis Paru


1. Penderita TB Paru melakukan tindakan pencegahan dengan menutup mulut
ketika bersin dan batuk, ketika bersama orang lain, baik di dalam atau di luar
ruangan. Selain itu penderita TB Paru dapat menggunakan masker untuk
mencegah penularan ke orang lain sampai masa pengobatan selesai.
2. Meningkatkan perilaku hidup sehat yang menjadi faktor yang mempengaruhi
kesehatan seperti membuka jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga, dan
membersihkan rumah, sehingga rumah menjadi tempat tinggal yang sehat
serta tidak menjadi tempat berkembangbiaknya kuman M. tuberkulosis.

5.2.2. Bagi Puskesmas dan Pemerintah


1. Perlu dilakukan penyuluhan kesehatan masyarakat secara berkesinambungan
yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai segala
sesuatu yang berkaitan dengan TB Paru.
2. Perlu dilakukan penguatan fungsi pengawas minum obat (PMO) penderita TB
Paru selama masa pengobatan.

52

3. Perlu dilakukannya peningkatan penjaringan terutama orang disekitar


penderita TB Paru sehingga dapat dilakukan pencegahan dan pengobatan
sedini mungkin kepada orang yang berisiko tertular TB Paru.
4. Peningkatan kerjasama lintas sektoral Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan
Umum, maupun Tata Kota dalam bidang perencanaan rancang bangun
perumahan penduduk di Kabupaten Bandung Barat.

5.2.3. Bagi Penelitian Selanjutnya


1. Sebaiknya memastikan data puskesmas dan subjek penelitian banyak tersedia
untuk dilakukan penelitian dan pastikan juga bahwa subjek penelitian berada
dalam wilayah kerja puskesmas tersebut. Serta sebaiknya dilakukan
penambahan subjek penelitian dari puskesmas yang lainnya.
2. Sebaiknya memastikan isi pertanyaan kuesioner telah mencakup pertanyaan
yang luas dan dalam mengenai data yang akan diambil dalam penelitian,
sehingga tidak terjadi pengambilan data ulang dikemudian hari.
3. Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan meneliti faktor-faktor lainnya seperti
faktor pengetahuan dan perilaku yang mungkin mempengaruhi kejadian
tuberkulosis paru.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Tuberculosis. 2010. Tersedia di :


http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/ [diakses 10 Januari
2012, 19.21 WIB].
2. World Health Organization. Global Tuberculosis Control 2011. 2012.
Tersedia di : http://www.who.int/tb/publications/global_report/en/ [diakses 3
September 2012, 17.33 WIB].
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2010.
2011. Jakarta. Tersedia di : http://www.depkes.go.id [diakses 2 Januari 2012,
19.21 WIB].
4. Dinas Kesehatan Jawa Barat. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2007.
2008.
Tersedia
di
:
http://www.depkes.go.id/downloads/profil/prov%20jabar%202007.pdf
[21
Februari 2012, 16.17 WIB].
5. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat. Laporan Penemuan Pasien
Tuberkulosis 2011. 2012.
6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
2007. Edisi 2. Tersedia di www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2007.pdf [10
Januari 2012, 19.23 WIB].
7. Department of Environtment Malaysia. Guidance Document on Health Impact
Assessment (HIA) in Environmental Impact Assessment (EIA). 2009.
8. Kristianto, Wirawan. Tentang Rumah Sehat. 2010. Tersedia di
http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=3049&catid=2& [diakses 14 Maret
2012, 10.42].
9. Marsito. Informasi Tentang Tuberkulosis. Balai Pelatihan Kesehatan
Lemhabang. 2010. Tersedia di : http//bapelkes-lemhabang.go.id [diakses 2
Januari 2012, 19.15 WIB].
10. Soejadi, T.B., Apsari, D.A., Suprapto. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kejadian Kasus Tuberkulosis Paru. Jurusan Kesehatan
Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Medan. 2006.

53

54

11. Hill, P.C., Jackson-Sillah, D., Donkor, S.A., Otu, J., Adegbola, R.A.,
Lienhardt, C. Risk Factors For Pulmonary Tuberculosis: A Clinic-Based Case
Control Study in The Gambia. BMC Public Health. 2006, 6:156.
12. Wildan, Y., Fatimah, S., Kuspiatiningsih, T., Sumardi. Hubungan Sosial
Ekonomi Dengan Angka Kejadian TB Paru BTA Positif Di Puskesmas Sedati.
Buletin Penelitian RSU Dr Soetomo; Vol 10, No 2, Juni 2008.
13. Suswati, E. Karakteristik Penderita Tuberkulosis Paru di Kabupaten Jember.
Biomedis. 2007, Vol. 1, No. 1.
14. Ajis, E., Mulyani, N.S., Pramono, D. Hubungan Antara Faktor-Faktor
Eksternal Dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis pada Balita. Berita
Kedokteran Masyarakat. 2009, Vol. 25, No. 3.
15. Ogboi S.J., Idris S.H., Olayinka A.T., Junaid, I. Socio-Demographic
Characteristics of Patients Presenting Pulmonary Tuberculosis in Primary
Health Center, Zaria, Nigeria. Jurnal of Medical Laboratory and Diagnosis.
2010, Vol. 1(2) pp. 11-14.
16. Davidow, A.L., Mangura, B.T., Napolitano, E.C., Reichman, L.B. Rethinking
The Sosioeconomics and Geography of Tuberculosis Among Foreign-Born
Residents of New Jersey, 1994-1999. American Journal of Public Helath.
2003, Vol. 93, No. 6.
17. Coker, R., McKee, M., Atun, R., Dimitrova, B., Dodonova, E., Kuznetsov, S.,
Drobniewski, F. Risk Factors For Pulmonary Tuberculosis in Russia: Case
Control Study. BMJ. 2006, Vol. 332.
18. Sudarso. Keadaan Lingkungan Fisik Rumah Penderita Tuberkulosis Paru di
Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Infokes STIKES Insan
Unggul Surabaya. 2008.
19. Kementerian Kesehatan RI. Data Kabupaten atau Kota. 2010. Jakarta.
Tersedia
di
:
http://www.bankdata.depkes.go.id/propinsi/public/report/createtablepti
[diakses 12 Januari 2012, 16.39].

55

20. Anonymous. Pulmonary Tuberculosis. Pubmedhealth. 2010. Tersedia di :


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001141/
[diakses
10
Januari 2012, 18.35 WIB].
21. Fauci AS, Kasper DL, Braundwald E, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL,
Loscalzo J. Harrisons Principle of Internal Medicine, 17th Edition. New
York. 2009, Chapter 158.
22. Kementerian Kesehatan RI. Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang
perumahan dan pemukiman.
23. California department of public health. What Is A Cross Sectional Study. 2009.
State of California. Tersedia di : http://www.ehib.org/faq.jsp?faq_key=41
[diakses 15 Maret 2012, 18.18].
24. Trochim, William M.K. Reliability and Validity. Research Method Knowledge
Base.
2006.
Tersedia
di
:
http://www.socialresearchmethods.net/kb/relandval.php [diakses 15 Maret
2012, 18.38].

LAMPIRAN

1. Lembar Persetujuan
LEMBAR PERSETUJUAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama

: .............................................................................................

Alamat

: .............................................................................................

menyatakan bahwa saya telah mendapat penjelasan dari peneliti mengenai


pengisian kuesioner untuk penelitian tuberkulosis paru. Saya mengerti dengan
penjelasan tersebut, serta saya bersedia mengisi kuesioner dan mengizinkan
rumah saya untuk diobservasi oleh peneliti yang di bawah ini :
Peneliti

: Andhika Yudi Hartono

Instansi

: Fakultas Kedokteran Unisba

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa
paksaan dari pihak manapun.

Bandung, ................................2012

(........................................)

56

57

2. Lembar Kuesioner
KUESIONER
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN RUMAH PENDERITA
TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG
KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2012

I. Data Identitas Responden


1. Nomor

: ...........................................................................................

2. Tanggal

: ...........................................................................................

3. Nama

: ...........................................................................................

4. Umur

: ...........................................................................................

5. Jenis

: L/P

Kelamin
6. Alamat

: ................................................................. RT ..... RW .....

6. Pendidikan

: 1. Tidak sekolah
2. Tamat SD

4. Tamat SMA
5. Tamat D3 / PT

3. Tamat SMP
7. Pekerjaan

: 1. PNS / Pensiunan PNS


2. POLRI / TNI / Pensiunan

6. Buruh

3. Pegawai Swasta / Wiraswata

7. Lain-lain

4. Pedagang
8. Penghasilan
Keluarga

5. Petani

: 1. < Rp. 1.236.991


2. Rp. 1.236.991

58

II. Data Penghuni Rumah


1. Berapa jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah responden ?
............................................................................................................
2. Apakah terdapat orang disekitar responden yang memiliki riwayat batuk
berdahak lebih dari 2-3 minggu?
a. Tidak ada.
b. Ada (anggota keluarga).
c. Ada (teman kerja).
d. Ada (tetangga).

Jika ada,
1) Berapa orang disekitar yang memiliki riwayat batuk berdahak lebih
dari 2-3 minggu? ................................................................................
2) Siapa dan berapa umur orang disekitar yang memiliki riwayat batuk
berdahak lebih dari 2-3 minggu?
............................................................................................................
3) Apa pendidikan dan pekerjaan dari orang tersebut?
.............................................................................................................
4) Apakah orang tersebut pernah diperiksa untuk gejala tersebut dan
dimana dilakukan pemeriksaan serta pengobatannya?
...........................................................................................................

3. Apakah terdapat orang disekitar responden yang memiliki riwayat pernah


didiagnosis TB Paru?
a. Tidak ada.

59

b. Ada (anggota keluarga).


c. Ada (teman kerja).
d. Ada (tetangga).

Jika ada,
1) Berapa orang disekitar yang memiliki riwayat batuk berdahak
lebih dari 2-3 minggu? ....................................................................
2) Siapa dan berapa umur orang disekitar yang memiliki riwayat
batuk berdahak lebih dari 2-3 minggu?
..........................................................................................................
3) Apa pendidikan dan pekerjaan dari orang tersebut?
..........................................................................................................
4) Apakah orang tersebut pernah diobati dan dimana dilakukan
pengobatannya?
...........................................................................................................
5) Jika telah dilakukan pengobatan, apakah orang tersebut telah
sembuh dari TB Paru? ......................................................................

III. Observasi Lingkungan Sekitar Rumah


1. Apakah terdapat pekarangan di rumah responden ?
a. Tidak ada.
b. Ada dan bersih.
c. Ada dan tidak bersih.
2. Bagaimana jarak antara rumah responden dengan rumah di sekitarnya?
a. Berhimpitan.

60

b. Ada jarak.
3. Berapa lebar jalan umum yang terletak di depan rumah responden ?
a. < 1 m.
b. 1,5 2 m.
c. > 2 m.
IV. Pengukuran Kondisi Fisik Rumah
No.
1.

2.

3.

4.

Objek Pengukuran

Hasil

Ruang Tamu / Keluarga :


1) Luas ruang tamu / keluarga

.......................... m2

2) Jumlah penghuni rumah

.......................... Orang

3) Luas ventilasi ruang tamu / keluarga

.......................... m2

Ruang Tidur :
1) Luas ruang tidur

.......................... m2

2) Jumlah penghuni ruang tidur

.......................... Orang

3) Luas ventilasi ruang tidur

.......................... m2

Ruang Dapur :
1) Luas ruang dapur

........................... m2

2) Luas ventilasi ruang dapur

........................... m2

Rumah :
1) Total luas rumah

........................... m2

2) Total luas ventilasi

........................... m2

61

4. Daftar Penilaian Rumah Sehat


NO

Komponen Rumah

Kriteria

Yang Dinilai
I. Komponen Rumah
1.

Langit-langit

a. Tidak ada
b. Ada, kotor, sulit
dibersihkan, rawan
kecelakaan
c. Ada, bersih, tidak rawan
kecelakaan

2.

Dinding

a. Bukan tembok (terbuat dari


anyaman)
b. Semi permanen/Setengah
tembok
c. Permanen

3.

Lantai

a. Tanah
b. Papan/Anyaman/Plesteran
dari papan dan berdebu
c. Ubin/Keramik/Rumah
Panggung

4.

Jendela Kamar Tidur

a. Tidak ada
b. Ada

5.

Jendela Ruang

a. Tidak ada

Ada

Tidak

62

6.

Keluarga

b. Ada

Ventilasi

a. Tidak ada
b. Ada, lubang ventilasi <10%
dari luas lantai
c. Ada, lubang ventilasi >10%
dari luas lantai

7.

Lubang Asap Dapur

a. Tidak ada
b. Ada, lubang ventilasi dapur
< 10% dari luas permukaan
lantai dapur
c. Ada, lubang ventilasi dapur
> 10% dari luas permukaan
lantai dapur (asap keluar
dengan sempurna) atau ada
exhaust fan.

8.

Pencahayaan

a. Tidak terang, tidak dapat


dipergunakan untuk
membaca.
b. Kurang terang, kurang jelas
untuk dipakai membaca.
c. Terang dan tidak silau, bisa
digunakan untuk membaca
normal.

63

II. Sarana Sanitasi


1.

Sarana Air Bersih

a. Tidak ada
b. Ada, bukan milik sendiri dan
tidak memenuhi syarat
kesehatan.
c. Ada, milik sendiri dan tidak
memenuhi syarat kesehatan.
d. Ada, milik sendiri dan
memenuhi syarat kesehatan.
e. Ada, bukan milik sendiri dan
memenuhi syarat kesehatan.

2.

Jamban (sarana

a. Tidak ada

pembuangan

b. Ada, bukan leher angsa,

kotoran)

tidak ada tutup, disalurkan


ke sungai/kolam.
c. Ada, bukan leher angsa, ada
tutp, disalurkan ke
sungai/kolam.
d. Ada, bukan leher angsa, ada
tutup, septic tank.
e. Ada, leher angsa, septic tank.

3.

Sarana Pembuangan
Air Limbah

a. Tidak ada, sehingga


tergenang tidak teratur di

64

halaman.
b. Ada, diresapkan tetapi
mencemari sumber air (jarak
sumber ai < 10 m).
c. Ada, dialirkan ke selokan
terbuka.
d. Ada, diresapkan dan tidak
mencemari sumber air (jarak
sumber air > 10 m).
e. Ada dialirkan ke selokan
tertutup untuk diolah lebih
lanjut.
4.

Sarana Pembuangan

a. Tidak ada

Sampah

b. Ada, tetapi tidak kedap air


dan tidak ada tutup.
c. Ada, kedap air dan tertutup.
d. Ada, kedap air dan tertutup.

III. Perilaku Penghuni


1.

Membuka Jendela

a. Tidak pernah dibuka

Kamar Tidur

b. Kadang-kadang
c. Setiap hari dibuka

2.

Membuka Jendela

a. Tidak pernah dibuka

Ruang Keluarga

b. Kadang-kadang

65

c. Setiap hari
3.

Membersihkan

a. Tidak pernah

Rumah dan Halaman

b. Kadang-kadang
c. Setiap hari

4.

Membuang Tinja
Bayi/Balita ke
Jamban

a. Dibuang ke
sungai/kolam/sembarangan
b. Kadang-kadang ke tempat
sampah.
c. Setiap hari dibuang ke
tempat sampah

5.

Membuang Sampah
Pada Tempat Sampah

a. Dibuang ke
sungai/kolam/sembarangan
b. Kadang-kadang ke tempat
sampah
c. Setiap hari di buang ke
tempat sampah

4. Hasil Rekapan Kuesioner Data Demografi


DATA DEMOGRAFI HASIL KUESIONER PENDERITA TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Jenis Kelamin Usia Pendidikan


Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan

21
62
27
25
38
35
21
65
30
21
28
21
39
30
21
27
27

SD
SD
SMA
SMP
SMA
SMA
SD
SD
SMP
SMA
SMP
SD
SMP
SMP
SD
SMP
SMP

Status
Ekonomi

Pekerjaan

Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah

Buruh
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Ibu Rumah Tangga
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Petani
Petani
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Buruh
Buruh
Wiraswasta
Ibu Rumah Tangga
Wiraswasta
Buruh
Ibu Rumah Tangga

Riwayat
TB Paru yang Sama
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

Pengobatan

Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Lengkap
Masih Pengobatan
Masih Pengobatan

66

No
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Jenis Kelamin Usia Pendidikan


Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki

39
57
20
42
31
49
47
44
41
40
39
68
26
25
55
16
30
25
24
50
35
52

SMA
SD
SD
SMP
SD
SD
SMP
SMP
SMA
SMA
SD
SD
SMA
SD
SD
SMP
SMA
SMA
SD
SMP
SMA
SMP

Status
ekonomi

Pekerjaan

Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah

Ibu Rumah Tangga


Ibu Rumah Tangga
Buruh
Wiraswasta
Ibu Rumah Tangga
Wiraswasta
Wiraswasta
Buruh
Wiraswasta
Wiraswasta
Buruh
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Buruh
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Wiraswasta
Buruh
Ibu Rumah Tangga
Ibu Rumah Tangga
Buruh
Wiraswasta

Riwayat
TB Paru yang Sama
Pengobatan
Ada
Masih Pengobatan
Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Tidak Ada
Masih Pengobatan
Ada
Masih Pengobatan
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
Ada
Lengkap
67

No
40
41
42

Jenis Kelamin Usia Pendidikan


Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki

35
8
55

SD
SD
SMA

Status
ekonomi

Pekerjaan

Rendah
Rendah
Rendah

Buruh
Pelajar
Wiraswasta

Riwayat
TB Paru yang Sama
Ada
Ada
Ada

Pengobatan
Lengkap
Lengkap
Lengkap

68

5. Hasil Rekapan Kuesioner Data Komponen Rumah


DATA KOMPONEN FISIK RUMAH HASIL KUESIONER PENDERITA TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT

No.

Langitlangit

Dinding

Lantai

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Bersih
Tidak Ada
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Kotor
Ada Bersih

Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Anyaman
Permanen
Permanen
Permanen

Papan
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Papan
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Papan
Keramik
Keramik
Papan
Papan

Jendela
Ruang
Kamar
Keluarga
Tidak Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak Ada

Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada

Ventilasi

Pencahayaan
Ruangan

Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Terang
Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Kurang Terang
Kurang Terang
Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Kurang Terang
Kurang Terang

Lubang Asap
Dapur
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

69

No.

Langitlangit

Dinding

Lantai

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

Tidak Ada
Tidak Ada
Ada Kotor
Tidak Ada
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Bersih
Tidak Ada
Ada Bersih
Ada Kotor
Ada Kotor
Ada Bersih

Permanen
Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Semi Permanen
Permanen
Permanen
Anyaman
Permanen
Permanen
Permanen

Keramik
Keramik
Papan
Papan
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Keramik
Papan
Keramik
Keramik
Papan
Keramik
Papan
Keramik
Keramik
Papan
Papan

Jendela
Ruang
Kamar
Keluarga
Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

Ventilasi

Pencahayaan
Ruangan

Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Kurang Terang
Kurang Terang
Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Kurang Terang
Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Kurang Terang
Kurang Terang

Lubang Asap
Dapur
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

70

38
39
40
41
42

Tidak Ada
Tidak Ada
Ada Kotor
Ada Bersih
Ada Bersih

Permanen
Permanen
Permanen
Permanen
Permanen

Keramik
Keramik
Papan
Keramik
Keramik

Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada

Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada

Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik

Terang
Terang
Terang
Kurang Terang
Kurang Terang

Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

71

6. Hasil Rekapan Data Komponen Sanitasi


DATA SARANA SANITASI HASIL KUESIONER PENDERITA TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT
NO.

Sarana Air Bersih

Sarana Pembuangan Kotoran

1
2

Tidak Ada
Tidak Baik, Pribadi

Tidak Ada
Kakus Cemplung

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Sarana Pembuangan Air


Limbah
Tidak Ada
Selokan Terbuka
Diresapkan, Aman dari
Sumber Air
Selokan Terbuka

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

Baik, Pribadi

Kakus Cemplung

Selokan Terbuka

Tidak Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

8
9
10
11
12
13

Baik, Pribadi
Baik, Umum
Baik, Pribadi
Baik, Pribadi
Baik, Umum
Baik, Pribadi

Tidak Ada
Tidak Ada
Kakus Cemplung
Bukan Leher Angsa, Septic Tank
Leher Angsa, Septic Tank
Leher Angsa, Septic Tank

14

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Diresapkan, Aman dari


Sumber Air
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Diresapkan, Aman dari
Sumber Air

Saranan Pembuangan
Sampah
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
72

NO.

Sarana Air Bersih

Sarana Pembuangan Kotoran

Sarana Pembuangan Air


Limbah

15

Tidak Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

16

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

17

Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

18

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

19

Tidak Baik, Umum

Kakus Cemplung

Selokan Terbuka

20

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

21

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

22

Tidak Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

23

Baik, Umum

Bukan Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

24

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

25

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

26
27
28

Baik, Pribadi
Baik, Pribadi
Tidak Ada

Leher Angsa, Septic Tank


Leher Angsa, Septic Tank
Tidak Ada

Selokan Terbuka
Selokan Tertutup
Tidak Ada

Saranan Pembuangan
Sampah
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Kedap Air, Tidak Tertutup
Kedap Air, Tidak Tertutup
Tidak Ada

73

NO.

Sarana Air Bersih

Sarana Pembuangan Kotoran

Sarana Pembuangan Air


Limbah

29

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

30

Baik, Pribadi

Kakus Cemplung

Selokan Terbuka

31

Tidak Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

32
33
34

Baik, Pribadi
Baik, Umum
Baik, Pribadi

Tidak Ada
Leher Angsa, Septic Tank
Leher Angsa, Septic Tank

35

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

36

Tidak Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

37

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

38

Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

39

Tidak Baik, Umum

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

40

Tidak Baik, Umum

Kakus Cemplung

Selokan Terbuka

41

Baik, Umum

Bukan Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Terbuka

42

Baik, Pribadi

Leher Angsa, Septic Tank

Selokan Tertutup

Diresapkan, Aman dari


Sumber Air
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Selokan Terbuka
Diresapkan, Aman dari
Sumber Air

Saranan Pembuangan
Sampah
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Tidak Kedap Air, Tidak
Tertutup
Kedap Air, Tidak Tertutup

74

7. Hasil Kuesioner Komponen Perilaku


DATA PERILAKU PENGHUNI HASIL KUESIONER PENDERITA TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT

NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Membuka Jendela
Kamar Tidur

Ruang Keluarga

Membersihkan
Rumah & Halaman

Tidak Pernah
Dibuka Setiap Hari
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang

Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang

Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari

Membuang Tinja Bayi


Ke Jamban

Membuang Sampah
Pada Tempatnya

Sungai/Kolam/Sembarangan
Sungai/Kolam/Sembarangan
Kadang-kadang Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Kadang-kadang Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban

Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Sungai/Kolam/Sembarangan
Kadang-kadang
Tempat Sampah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Sungai/Kolam/Sembarangan
Tempat Sampah
Sungai/Kolam/Sembarangan
Sungai/Kolam/Sembarangan
Kadang-kadang
Tempat Sampah

75

NO.
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Membuka Jendela
Kamar Tidur
Ruang Keluarga
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang

Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Setiap Hari
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Tidak Pernah

Membersihkan
Rumah & Halaman

Membuang Tinja Bayi Ke


Jamban

Membuang Sampah Pada


Tempatnya

Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Kadang-kadang
Setiap Hari
Setiap Hari
Setiap Hari

Selalu Ke Jamban
Kadang-kadang Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Kadang-kadang Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Sungai/Kolam/Sembarangan
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban

Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Tempat Sampah
Kadang-kadang
Kadang-kadang
Sungai/Kolam/Sembarangan
Kadang-kadang
Sungai/Kolam/Sembarangan
Tempat Sampah
Sungai/Kolam/Sembarangan
Sungai/Kolam/Sembarangan
Kadang-kadang
Tempat Sampah
Kadang-kadang
76

NO.
40
41
42

Membuka Jendela
Kamar Tidur
Ruang Keluarga
Kadang-kadang
Tidak Pernah
Tidak Pernah

Kadang-kadang
Tidak Pernah
Setiap Hari

Membersihkan
Rumah & Halaman

Membuang Tinja Bayi Ke


Jamban

Membuang Sampah Pada


Tempatnya

Kadang-kadang
Kadang-kadang
Setiap Hari

Kadang-kadang Ke Jamban
Selalu Ke Jamban
Selalu Ke Jamban

Kadang-kadang
Tempat Sampah
Tempat Sampah

77

8. Hasil Kuesioner Lingkungan Rumah


DATA LINGKUNGAN RUMAH HASIL KUESIONER PENDERITA TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT

NO.

Pekarangan
Rumah

Letak
Rumah

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tidak Ada
Tidak Ada
Bersih
Tidak Ada
Tidak Ada
Bersih
Kotor
Bersih
Kotor
Tidak Ada
Bersih
Kotor
Kotor
Bersih
Kotor
Bersih
Tidak Ada

Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak

Jalan Depan
Rumah
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m

Kepadatan
Hunian
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik

Komponen
Fisik

Sanitasi

Perilaku

Rumah
Sehat

Tidak Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik

Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat

78

NO.

Pekarangan
Rumah

Letak
Rumah

Jalan Depan
Rumah

Kepadatan
Hunian

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Bersih
Tidak Ada
Bersih
Tidak Ada
Kotor
Tidak Ada
Bersih
Bersih
Bersih
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Bersih
Kotor
Bersih
Kotor
Kotor
Bersih
Kotor
Bersih
Tidak Ada
Bersih

Berhimpitan
Ada Jarak
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Berhimpitan
Ada Jarak
Ada Jarak
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Berhimpitan
Berhimpitan
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak
Ada Jarak
Berhimpitan

Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Lebih Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m

Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik

Fisik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Komponen
Sanitasi
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Perilaku
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik

Rumah
Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat

79

NO.

Pekarangan
Rumah

Letak
Rumah

Jalan Depan
Rumah

Kepadatan
Hunian

40
41
42

Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

Ada Jarak
Ada Jarak
Berhimpitan

Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m
Kurang Dari 2 m

Tidak Baik
Tidak Baik
Tidak Baik

Komponen
Fisik
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik

Sanitasi
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik

Perilaku
Tidak Baik
Tidak Baik
Baik

Rumah
Sehat
Tidak Sehat
Tidak Sehat
Sehat

80

81

9. Dokumentasi

Ventilasi Ruangan

Pencahayaan Ruangan

Pekarangan Rumah

Kamar Tidur

82

10. Hasil Validitas


Case Processing Summary
Cases
Valid
N

Missing

Percent

Total

Percent

Percent

Usia * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Jenis Kelamin * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Pendidikan * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Pekerjaan * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Status Ekonomi * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Riwayat TB Paru * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Riwayat Pengobatan * TB

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Jendela Kamar * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Jendela Ruang Keluarga *

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Luas Ventilasi * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Pencahayaan Ruangan *

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Letak_Rumah * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Jalan Depan Rumah * TB

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Komponen_Fisik * TB Paru

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Komponen Sanitasi * TB

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

42

97.7%

2.3%

43

100.0%

Paru

TB Paru

TB Paru
Kepadatan Ruangan * TB
Paru
Pekarangan_Rumah * TB
Paru

Paru
Sanitasi Air Limbah * TB
Paru
Membuka Jendela Kamar *
TB Paru
Membuka Jendela Ruang
Keluarga * TB Paru

Paru
Komponen Perilaku * TB
Paru
Rumah Sehat * TB Paru

83

11. Surat Perizinan

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Andhika Yudi Hartono yang lahir di Bandung pada 5 Maret
1990. Penulis pernah bersekolah di Taman Kanak-kanak Aisyah I Cimahi pada
tahun 1995 sampai 1996 dan dilanjutkan di Sekolah Dasar Negeri XII Cimahi
pada tahun 1996 sampai 2002. Penulis juga bersekolah di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 2 Cimahi pada tahun 2002 sampai 2005 dan selanjutnya
bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bandung dari tahun 2005 sampai
2005. Penulis melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedoteran Unisba dari
tahun 2008 sampai 2012.
Pengalaan organisasi yang pernah penulis jalani adalah sebagai bendahara
umum Majelis Permusyawaratan Kelas SMPN 2 Cimahi pada tahun 2006, Ketua
OSIS SMPN 2 Cimahi pada tahun 2007, dan Ketua UKS SMPN 2 Cimahi pada
tahun 2007 sampai 2008. Penulis pernah menjuarai lomba cerdas cermat se-Kota
Cimahi pada tahun 2007 dan berhasil menjadi juara pertama se-Kota Cimahi.
Selanjutnya penulis pernah mejadi anggota Dewan Amanah Mahasiswa FK
Unisba pada Tahun 2008 sampai 2011 dan menjadi Ketua Dewan Amanah
Mahasiswa FK Unisba pada tahun 2009 sampai 2010. Selain itu penulis pernah
mejadi Kepala Bagian Acara Taaruf dan PPMB FK Unisba pada tahun 2010.

84