Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Laporan Kerja Pelatihan ini berdasarkan pada Pelatihan Berbasis Kompetensi
sebagai pendekatan untuk mendapatkan ketrampilan yang sesuai di tempat kerja.
Pelatihan kerja berbasis kompetensi berfokus pada ketrampilan seseorang yang harus
dimiliki di tempat kerja. Fokusnya adalah pada pencapaian ketrampilan dan bukan
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengikuti pelatihan.Pada Pelatihan ini
disusun berdasarkan pada Standar Kompetensi Nasional . Standar Kompetensi adalah
pernyataan Pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap yang diakui secara nasional. Laporan
pelatihan ini terdiri dari satu unit kompetensi yaitu Rangkaian Kontrol LIFT .Buku Kerja
pelatihan ini adalah sumber untuk pelatih dan peserta pelatihan. Informasi yang
dibutuhkan peserta pelatihan pada waktu melaksanakan praktek kerja Memasang
Rangkaian kontrol dan rangkaian utama.Buku Kerja Pelatihan ini digunakan sebagai
Kriteria atau langkah-langkah pelaksanaan pelatihan terhadap standar kompetensi
1.2 Latar Belakang Masalah
Dari masa ke masa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
kemajuan teknologi, manusia menghendaki kehidupan yang lebih nyaman. Oleh sebab
itu keberadaan ilmu strategi pengajaran dalam system pendidikan memerlukan upaya
serius untuk tercapainya perkembangan yang optimal dari setiap mahasiswa teknik
elektro. Dengan demikian kita dapat bersaing di kancah industri yang semakin pesat
perkembangannya. Dewasa ini ilmu strategi pengajaran sudah berkembang seiring
dengan berkembangnya teknologi dan

industri-industri yang ada. Maka sebagai

seorang mahasiswa teknik elektro kita harus dapat memenuhi permintaan yang telah
ditentukan oleh masing-masing industri tersebut. Maka dari itu latihan merancang,
tugas

dan

evaluasi

merupakan

salah

satu

bahasan

dan

ilmu

strategi

pelajaran.Keberhasilan pengajar atau dosen merancang materi pengajaran termasuk


merancang latihan,tugas dan evaluasi yang merupakan alat untuk menunjang
mahasiswanya untuk dapat menguasai Rangkaian Kontrol LIFT agar dapat bersaing di
1

dunia industri namun yang di titik beratkan bukan hanya menguasai tetapi memahami
keseluruhan dari Rangkaian Kontrol LIFT
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan laporan ini merupakan sebagai pernyataan bahwa mahasiswa
Politeknik Negri Jakarta telah melaksanakan mata kuliah

Rangkaian Kontrol

LIFT.sesuai silabus semester empat.Penulisan laporan ini juga merupakan indikasi


mahasiswa di dalam melaksanakan tugas yang diberikan.Dengan demikian tugas yang
sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa sudah terbukti dengan adanya laporan ini
dan oleh karena itu tidak ada lagi kata yang menyatakan bahwa mahasiswa belum
menyelesaikan tugas yang terdapat pada silabus pendidikan.
1.4 Pembatasan Penulisan
Dalam setiap langkah sudah tentu ada batasannya begitu juga di setiap
penulisan terdapat batasan-batasan. Batasan ini merupakan keterbatasan suatu
laporan di dalam penulisannya. Untuk laporan ini di batasi dengan teori yang hanya
menerangkan spesifikasi keseluruhan dari Rangkaian Kontrol LIFT. Walaupun ada
pembahasan itu,merupakan sedikit dari kutipan.
1.5 Mata Kuliah Penunjang
Sebelum menyelesaikan laporan ini diperlukan teori-teori yang dapat mendukung
selesainya laporan ini.Untuk menunjang selesainya laporan ini ,ada mata kuliah yang
saling terkait satu sama lain.Dan hal ini sangat bersinergi untuk melengkapi
pembahasan yang ada.
1.6 Metodelogi Penulisan
Sistem penulisan laporan ini berdasarkan ilmu kepustakaan, yaitu dari beberapa
sumber baik buku, maupun internet dalam membantu penulisan isi laporan
ini.Disamping itu penulisan laporan ini tidak terlepas dari materi Rangkaian Kontrol LIFT
sebagaimana panduan yang telah diberikan oleh dosen pembimbing

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1 Sejarah perkembangan lift atau elevator


Elevator atau yang lebih akrab dikenal oleh masyarakat luas dengan nama
lift. Lift adalah salah satu alat Bantu dalam kehidupan manusia yang berfungsi untuk
mempermudah aktifitas manusia yang rutinitasnya lebih sering berada didalam
gedung-gedung

bertingkat.

Elevator

merupakan

alat

transportasi

yang

pengendaliannya tidak dilakukan oleh manusia secara langsung, sehingga semua


pengguna elevator sepenuhnya tergantung pada kehandalan teknologi dari alat
transportasi vertikal ini.
Keberadaan dari elevator ini merupakan sebagai pengganti fungsi dari pada tangga
dalam mencapai tiap-tiap lantai berikutnya pada suatu gedung bertingkat, dengan
demikian

keberadaan

elevator

tidak

dikesampingkan

ini

dikarenakan

dapat

mengefisienkan energi dan waktu sipengguna elevator tersebut. Sistem keberadaan


elevator dan segala kemajuan dan kehandalannya tidak serta merta mengalami
perkembangan-perkembangan secara bertahap, sejak keberadaannya pertama kali
dibangun.
Perkembangan elevator sangat lambat pada awal tahun 1970-an, namun sejak
diperkenalkannya transistor dan alat pendukung elektronik lainnya pada sistem kontrol
elevator pada saat itulah perkembangan kontroller elevator begitu pesat.
Elevator dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.

Elevator penumpang

2.

Elevator barang atau dumb waiter

3.

Elevator service

4.

Elevator hidraulik

2.2

Peralatan-peralatan Dalam Control lift (Bentuk, Fungsi dan


Simbolnya)

1. Button Switch
Switch button ini digunakan untuk pengendalian/pengaturan peralatan guna
memberikan tanda-tanda hubung putus dsb. dan sakelar terhubung/terputus dengan
cara menekan/menarik dengan tangan.

a. Macam-macam Button Switch dan Simbolnya


Ditinjau dari titik kontaknya, ada 3 jenis button switch yaitu Normally Open (NO)
button switch, Normally Close (NC) button switch, dan NO/NC button switch.
NO Button Switch.
NO Button Switch sesuai dengan namanya berada dalam posisi Open (terbuka) pada
keadaan normal (button switch tidak ditekan) dan baru akan tersambung apabila
ditekan (lihat gambar).

Gambar : Kerja dan simbol NO Button


Switch

NC Button Switch.

NC Button Switch sesuai dengan namanya berada dalam posisi Closed


(tertutup/tersambung) pada keadaan normal (button switch tidak ditekan) dan akan
terputus/terbuka apabila ditekan (lihat gambar).

Gambar : Bermacam bentuk Button switch.

b. Penggunaan
Contoh penggunaan button switch sesuai dengan typenya (bentuk tombolnya).
Type

Button

Switch
Type Flat

Penggunaanya
Type

konvensional

dan

banyak

digunakan untuk start, stop dsb.


Type Proyek

Dapat

digunakan

dengan

beban,

seperti diproyeksikan untuk start dan


stop
Type Mushroom

Mudah

ditempatkan

dijalankan,

untuk

dan

mudah

penghentian

mendadak (emergency stop)


Type Pull

Untuk tempat seperti pengoperasian


dengan menghindarkan pengerjaan
yang salah, seperti interlocking dsb.

Contoh penggunaan button switch sesuai dengan klasifikasi warna.

Warna

Fungsi

Pemakaian
Satu

atau

motor

stop,

tanpa

menggunakan

Stop

Merah

sebagian
chuk

magnet,

untuk

penghenti,

penghenti

putaran
Emergenci Stop

Semua stop

Start kembali urutan


normal

Kuning

Kembali pada putaran


start

pada

keadaan

putaran belum sempurna

Start kembali dari

Dapat merusak fungsi

henti mendadak

lain
Star putaran pada urutan
tertentu,

Hitam
Hijau

start

sebuah

atau sebagian dengan


Star

peralatan
pada

tambahan

rangkaian,

unit

start, menambah chuk


magnetik
Putih

Keadaan lain selain


warna diatas

2. Select Switch
Switching kontak ini dilakukan melalui perputaran pada sudut batas tertentu dari
bagian push button (bagian yang bergerak).

a. Bentuk nyata dan simbolnya:

CS
6

Automatic

Interlock

COS

Indenpendent

On Bentuk dan simbol dari select switch.


Of b. Jumlah notch:

Ditinjau dari penggunaan/pembuatannya select switch ada yang mempunyai 2 atau 3


notchs seperti pada gambar dibawah.

Gambar : notchs pada select switch


c. Kegunaan
Select switch dapat digunakan sebagai switch control (CS), yaitu untuk ON dan OFF sumber
daya dsb. Selain itu dapat sebagai pemilihan tempat pengoperasian (change over switch / COS),
contoh pemilihan methode pengerjaan seperti manual, otomatis, interlock atau independent.

3. Switch batas (micro switch)


Switch batas dan switch micro banyak digunakan sebagai pendeteksi posisi dari objek yang
diukur.
7

Bagian kontaknya terdiri dari kontak c dan sebelum bekerja keadaanya ON antara C-NC dan
akan OFF sesudah bekerja. Sedangkan antara C-NO, akan OFF sebelum bekerja dan ON
sesudah bekerja.

Gambar : Micro switch / switch batas.

Gambar : Struktur dan simbol micro switch / switch batas.

4. Rele Magnet

Gambar : Rele Magnet


8

Rele magnet merupakan switch yang bekerja secara otomatis karena efek medan
magnet. Ada dua type rele magnet yaitu rele type hinge, dimana titik kontaknya type C
(change over contact) dan rele type plunger, dimana titik kontaknya type A / B (NO /
NC).

2.3 Macam - macam Titik Kontak


Titik kontak merupakan sejenis sakelar untuk membuka menutup atau
menghubungkan memutuskan sebagian atau seluruh rangkaian listrik seperti terlihat
pada gambar di bawah
Titk kontak pada sebuah switch terdiri dari bagian yang bergerak dan bagianb yang
diam seperti pada gambar B

Gambar: Titik kontak a.

Adapun kerja dari titik kontak a dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar : Kerja titik kontak a.


Sedangkan simbol dari titik kontak a dapat dilihat pada gambar dibawah, dimana
kontak gerak (bagian yang bergerak) diperlihatkan terpisah disebelah kanan dari
lingkaran terminal (kontak diam).

Gambar : Simbol dari titik kontak a (NO).

Dikarenakan sifat titik kontak a yang pada kondisi normal berada dalam kondisi
terbuka, titik kontak a dinamakan juga titik kontak NO (Normally Opened).
10

Titik Kontak b
Titik kontak b merupakan titik kontak yang berada dalam kondisi terbuka apabila
diberi energi dari luar dan berada dalam posisi tertutup dalam keadaan normal atau
tidak mendapat energi dari luar. Dengan kata lain kontak b merupakan kontak pemutus.

Gambar : Titik kontak b.

Kerja dari kontak b dapat dilihat pada gambar berikut.

11

Gambar : Kerja titik kontak b.

Adapun simbol untuk kontak b diperlihatkan pada gambar dibawah ini, dimana
bagian yang bergerak (kontak gerak) diperlihatkan bersentuhan dengan bagian kiri dari
titik terminal (kontak diam).

Gambar : Simbol titik kontak b (NC).

Dikarenakan sifat titik kontak b yang pada kondisi normal berada dalam kondisi
tertutup, titik kontak b dinamakan juga titik kontak NC (Normally Closed).

Titik Kontak c
Titik kontak c merupakan gabungan dari titik kontak a dan titik kontak b. Titik kontak
ini mempunyai 3 terminal yaitu: terminal C (Common), Terminal NC (kontak b) dan
terminal NO (kontak a). Pada keadaan normal C-NC terhubung dan C-NO berada
dalam kondisi terputus. Dan apabila titik kontak ini mendapat energi dari luar, C-NO akan
terhubung dan C-NC menjadi terputus. Oleh karena itu kontak c dinamakan juga kontak ganti.

12

Gambar : Titik kontak c.

Kerja dari kontak c dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar : Kerja titik kontak c.


Sedangkan simbol gambar dari kontak c diperlihatkan seperti gambar dibawah,
dimana kontak gerak bersentuhan dengan terminal NC dan akan beralih ke terminal NO
apabila diberi energi.

Gambar : Simbol Titik kontak c.

2.4

Motor Satu Phasa dan Motor Servo


Motor Servo 100v

13

Motor servo adalah sebuah


motor DC yang dilengkapi rangkaian
kendali dengan sistem closed feedback
yang terintegrasi dalam motor tersebut.
Pada motor servo posisi putaran sumbu
(axis) dari motor akan diinformasikan
kembali ke rangkaian kontrol yang ada di dalam motor servo. Contoh Motor Servo
Motor servo disusun dari sebuah motor DC, gearbox, variabel resistor (VR) atau
potensiometer dan rangkaian kontrol. Potensiometer berfungsi untuk menentukan batas
maksimum putaran sumbu (axis) motor servo. Sedangkan sudut dari sumbu motor
servo diatur berdasarkan lebar pulsa yang pada pin kontrol motor servo.

Konstruksi Motor Servo Motor servo adalah motor yang mampu bekerja dua
arah (CW dan CCW) dimana arah dan sudut pergerakan rotornya dapat dikendalikan
dengan memberikan variasi lebar pulsa (duty cycle) sinyal PWM pada bagian pin
kontrolnya. Jenis Motor Servo Motor Servo Standar 180 Motor servo jenis ini hanya
mampu bergerak dua arah (CW dan CCW) dengan defleksi masing-masing sudut
mencapai 90 sehingga total defleksi sudut dari kanan tengah kiri adalah 180.
Motor Servo Continuous Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah (CW dan
CCW) tanpa batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara kontinyu). Pulsa
14

Kontrol Motor Servo Operasional motor servo dikendalikan oleh sebuah pulsa selebar
20 ms, dimana lebar pulsa antara 0.5 ms dan 2 ms menyatakan akhir dari range sudut
maksimum. Apabila motor servo diberikan pulsa dengan besar 1.5 ms mencapai
gerakan 90, maka bila kita berikan pulsa kurang dari 1.5 ms maka posisi mendekati 0
dan bila kita berikan pulsa lebih dari 1.5 ms maka posisi mendekati 180.

Pulsa

Kendali Motor Servo Motor Servo akan bekerja secara baik jika pada bagian pin
kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50 Hz. Dimana pada saat sinyal
dengan frekuensi 50 Hz tersebut dicapai pada kondisi Ton duty cycle 1.5 ms, maka
rotor dari motor akan berhenti tepat di tengah-tengah (sudut 0/ netral). Pada saat Ton
duty cycle dari sinyal yang diberikan kurang dari 1.5 ms, maka rotor akan berputar ke
berlawanan arah jarum jam (Counter Clock wise, CCW) dengan membentuk sudut yang
besarnya linier terhadap besarnya Ton duty cycle, dan akan bertahan diposisi tersebut,
dan sebaliknya

Jenis - Jenis Motor Servo


Motor Servo Standar 180 Motor servo jenis ini hanya mampu bergerak dua
arah (CW dan CCW) dengan defleksi masing-masing sudut mencapai 90
sehingga total defleksi sudut dari kanan tengah kiri adalah 180.
Motor Servo Continuous Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah (CW
dan CCW) tanpa batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara kontinyu).
Pulsa Kontrol Motor Servo Operasional motor servo dikendalikan oleh sebuah
pulsa selebar 20 ms, dimana lebar pulsa antara 0.5 ms dan 2 ms menyatakan
akhir dari range sudut maksimum. Apabila motor servo diberikan pulsa dengan
besar 1.5 ms mencapai gerakan 90, maka bila kita berikan pulsa kurang dari
1.5 ms maka posisi mendekati 0 dan bila kita berikan pulsa lebih dari 1.5 ms
maka posisi mendekati 180.

15

Pulsa Kendali Motor Servo Motor Servo akan bekerja secara baik jika pada
bagian pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50 Hz. Dimana
pada saat sinyal dengan frekuensi 50 Hz tersebut dicapai pada kondisi Ton duty
cycle 1.5 ms, maka rotor dari motor akan berhenti tepat di tengah-tengah (sudut
0/ netral).
Pada saat Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan kurang dari 1.5 ms,
maka rotor akan berputar ke berlawanan arah jarum jam (Counter Clock wise,
CCW) dengan membentuk sudut yang besarnya linier terhadap besarnya Ton
duty cycle, dan akan bertahan diposisi tersebut. Dan sebaliknya, jika Ton duty
cycle dari sinyal yang diberikan lebih dari 1.5 ms, maka rotor akan berputar
searah jarum jam (Clock Wise, CW) dengan membentuk sudut yang linier pula
terhadap

besarnya

Ton

duty

Belitan Motor 1 Phasa

Gambar 2.4.1: Motor 1 phasa.

16

cycle,

dan

bertahan

diposisi

C
x
10

50

Kum.
Kum.
pembantu utama

60

Kum. pembantu
Kum. utama

Gambar 2.4.2: Terminal motor.

Misalnya pada terminal diatas yang tertera pada gambar kita ukur antara common
dengan starting sebagai contoh didapat dengan nilai 50 Ohm. Kemudian kita ukur lagi
antara common dengan running diperoleh nilai 10 Ohm. Maka apabila kita ukur antara
kumparan starting dengan running adalah hasil penjumlahan antara kumparan starting
dan running atau 50 Ohm + 10 Ohm = 60 Ohm.
Apabila kita menemukan motor yang tidak ada nama-nama terminalnya kita bisa
menentukan nama terminal-terminal motor tsb. dengan cara melakukan pengukuran
hambatan dari masing-masing terminal.

Dari hasil pengukuran itu kita biasanya

memperoleh tiga jenis hasil pengukuran. Langkah pertama adalah menentukan terminal
common, yaitu berada didepan nilai hambatan yang paling besar. Sedangkan kumparan
starting adalah urutan terbesar kedua. Dan untuk hambatan kumparan running adalah
nilainya terkecil.

17

NC

NC

2.5 Relay Batas Waktu (Timer)

NO

Gambar 39 Timer
NO

Timer merupakan sakelar yang bekerja berdasar elektromagnetis dan


memerlukan waktu dalam menggerakkan titik kontaknya. Pada hakekatnya timer
sama dengan magnetic kontaktor, hanya pada timer terdapat titik kontak delay
yang bekerjanya memerlukan waktu sesuai dengan setting waktunya.
T

Prinsip kerja timer dapat dijelaskan sbb:

Coil

Titik kontakTitik kontak Instant


Delay

Gambar 40 Terminal-terminal pada timer.


Pada kondisi netral atau coil tidak bertegangan maka kondisi titik kontak
NO pada posisi terbuka dan titik kontak NC pada posisi terhubung. Jika coil
diberi tegangan listrik maka titik kontak instant langsung bergerak (titik kontak
NO akan menutup dan NC akan membuka), sedang titik kontak delay akan
bekerja/bergerak beberapa saat kemudian sesuai dengan setting waktunya (titik
kontak NO akan menutup dan NC akan membuka).

18

2.6 LIFT DAN CARA KERJANYA


Lift

adalah

alat

pengangkat

yang

ditujukan

khusus

untuk

mengangkat/memindahkan barang atau orang secara vertical didalam sangkar


yang begerak pada rel penuntun tetap.
Adapun cara kerja dari lift ini adalah dengan gerakan naik turun (hoist) dimana
sangkar yang berisi barang atau orang dan beban engimbang digantungkan pada
tali yag ditarik naik atau turun dengan menggunakan pully, dimana pully ini
berputara sesuai dengan kebutuhan. Pully digerakkan oleh motor listrik dan
gerakan pully dihentikan oleh rem, sehingga barang atau orang tidak akan naik atau
turun setelah posisi angkat yang diingin tercapai.

Pemakaian Lift dapat dibagi atas beberapa klasifikasi, yaitu :


1. Pemakaian umum atau perniagaan (General Purpose or Comercial) yaitu
tipe lift yang digunakan pada pemakaian yang bersifat umum. Contohnya :
Pada kantor kantor atau perusahaan.
2. Pemakaian pada tempat tinggal (Residential) Yaitu tipe lift yang digunakan
pada rumah tempat tinggal Contohnya : pada rumah tempat tinggal
3. Pemakaian pada supermarket (Store) Yaitu tipe lift yang dipergunakan
pada swalayan atau pusat perbelanjaan.
4. Pemakaian pada lembaga-lembaga (Institutional) Yaitu tipe lift yang
dipakai pada bangunan untuk suatu bentuk kelembagaan Contohnya:
Pada lembaga Pendidikan

Pemasangan Lift
Ditinjau dari segi pemasangan, ada dua cara pemasangan lift, yaitu:
1. Pemasangan dengan satu sangkar (Single Car) Didalam suatu gedung
hanya terdapat satu sangkar saja atau dengan kata lain gedung tersebut
hanya dilayani oleh satu unit lift saja. Pemasangan ini biasanya terdapat
pada gedung yag tidak beitu tinggi dan tidak luas serta lalau lintas
pemakaiannya tidak ramai.
19

2. Pemasangan dengan lebih dari satu sangkar Pada bangunan tersebut


terdapat lebih dari satu sangkar. Jika ada panggilan akan terjadi respond
an interaksi antara beberapa sangkar tersebut. Sangkar yang paling dekat
dan tidak sedang bekerjalah yang akan melayani panggilan tersebut.
System ini dipakai pada gedung bertingkat banyak serta luas dan
mempunyai lalu lintas pemakaian yang ramai.
Ruang Peletakan Mesin
Bila ditinjau dari ruang tempat peletakan mesin utama dari lift, terdapat dua
tipe system peletakannya yaitu :
1. Penthous Machine Room Type Mesin lift ditempatkan pada bagian atas
sangkar lift.
2. Basement Machine Room Type Mesin lift ditempatkan pada bagian bawah
sangkar lift.
Sistem Penggerak Lift Bila ditinjau dari system penggerak lift, terdapat
dua system yang digunakan pada gedung gedung:
1.

Penggerak Lift System Warp

2.

Penggerak Lift system Hidrolik

Penggerak Lift Sistem Warp


Pada system ini penggerak utama dari sangkar lift tersebut adalah
motor listrik, dari motor tesebut akan dikopelkan ke poros mesin lift
(driving Machine), yaitu suatu alat yang menggerakkan puli penggerak
dan selanjutnya pully penggerak akan menarik tali yang diikat pada
sangkar lift dan beban peimbang. Dengan demikian sangkar lift dan

20

beban pengimbang akan bergerak naik atau turun sesuai dengan


putaran pully penggerak.
System pemasangan tali pada istem Wrap dapat dibedakan
berdasarkan peletakan ruang mesin. Penthouse Mechine Room
Pemasangan tali pada system warp pada Penthouse Mechine Room
type dapat dilihat pada gambar 1.1.
Single Wrap Roping
Tali dipasang satu kali jalan, tanpa lilitan diletakkan diatas puli dan
melalui katrol, kemudian tali diikatkan diatas sangkar lift dan beban
pengimbang (gambar a )

Double wrap Roping


Ada dua cara pemasangan tali pada jenis Doble Wrap Roping ii yaitu
tali dipasang satu kali lilit pada pully dan katrol, kemudian tali
diikatkan diatas. sangkar lift dan beban pengimbang (gambar c) atau
tali dipasang dua kali lilit tali diletakkan diatas puli diatas pully dan
dililitkan ke katrol, selanjutnya ke atas sebagai titik tumpuan beban
(Point Support).
(Lihat gambar 2.1.berikut ini )

Gambar 2.1. Pemasangan tali pada system Wrap Penthouse Machine


Room Type
- Basement Machine Room
Pemasangan tali pada system wrap pada basement Machine Room
Type dapat dilihat pada gambar 1.2
- Roping Under Slung
21

Sangkar lift dan beban pengimbang ditahan oleh dua buah katrol,
selanjutnya pulli penggerak yang berada dibawah sangkar akan
memutar kedua katrol yang menggerakkna sangkar lift dan beban
pengimbang dalam arah yang saling berlawanan ( gambar a dan b )
(Lihat gambar 2.2. di bawah ini )

Gambar 2.2. Pemasangan Tali pada Sistem Wrap Basement


Machine Room Type.
Penggerak Lift Sistem Hidrolik
Lift system hidrolik memerlukan daya lebih kecil dibandingkan
dengan system wrap. Nama hidrolik diberikan karena sangkar ini
digerakkan oleh sebuah pompa yang dilayani oleh sebuah motor
penggerak, sehingga dengan perubahan tekanan pada minyak (oil)
akan menyebabkan aik atau turunnya sangkar lift.
System hidrolik dan cara kerjanya persis sama dengan dongkrak
mobil hidrolik, minyak dari penampung dipompakan oleh plunyer untuk
22

mengangkat sangkar lift tersebut. Pompa dihentikan sampai titik


terbawah, selanjutnya sangkar lift tersebut diturunkan dengan gaya
gravitasi dan Bypass control yang juga mengotrol posisi dari sangkar lift
tersebut sampai pada titik tertinggi. System control yang digunakan
pada lift dengan system pengerak hidrolik biasanya sama dengan yang
tedapat pada system penggerak wrap. Namun pada system penggerak
hidrolik ini tidak diberikan beban pengimbang sehingga memerlukan
motor dengan daya yang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan
motor untuk keperluan yang sama pada system Wrap.
Berdasarkan

pertimbangan

dari

uraian

diatas

maka

pada

perencanaan ini system pengerak lift yang akan dipergunakan adalah


system Wrap dengan peletkana motor pada bagian atas sangkar
(Penthouse Machine Room Type) dengan pemasangan tali satu kali
jalan ( single Wrap Roping).
Methode pengoperasian Lift
Methode pengoperasian Lift adalah cara kerja lift dalam memberikan respon
terhadap panggilan yang diberikan penumpang. Methode operasi lift secra
umum dibedakan atas dua cara, yaitu:
1. Pengoperasian Manual
Pengoperasian manual merupakan system pengoperasian sangkar lift
dengankecepatan renda dan dapat berhenti pada posisi sembarangn titik
yang dikehendaki,
misalnya nutk kondisi perawatan atau untuk keperluan khusus, Dalam
pengoperasiannya lift diatur oleh seorang operator. Dengan demikian
semua panggilan harus dikirim ke meja operator, kemudan operator
mengatur

gerakan

sangkar

lift

ke

posisi

level

lantai

yang

diinginkan/dipesan penumpang methode ini jarang digunakan mengingat


kurang praktisnya di dalam penggunaanya.
2. Pengoperasian Otomatis
23

Pengoperasian lift secara otomatis memberikan respon secara langsung


kepada penumpang yang memanggil sangkar lift. Berdasarkan prinsip
kerjanya, methode ini dibedakan atas:
a. Metode Single Automatic Push Bottom
Pada metode operasi ini, pada setiap lantai hanya terdapat satu buah
tombol untuk memanggil sangkar sedangkan didalam sangkar lift
terdapat tujuan level lantai yang diinginkan. Selama lift bekerja, lift
tidak melayani panggilan dari penumpang lain. Lift akan memberikan
tanggapannya setelah lift selesai melaksankan tugasnya. Dengan kata
lain lift baru dapat dipanggil apabila sangkar lift dalam keadaan tidak
bekerja.
Dari penjelasan diatas prinisp kerja diatas, dapat dikatakan bahwa
methode Single Automatic Push Bottom ini hanya dapat melayani
panggilan satu persatu, artinya sangkar baru dapat dipanggil apabila
lift dalam keadaan diam. Dengan demikian metode ini hanya efektif
digunakan untuk gedung dengan dua atau tiga lantai. Dengan
pemakaian lift yang tidak terlalu mendesak, misalnya untuk lift
pengangkat barang.
b. Metode Selective Collective
Pada metode ini terdapat dua buah tombol panggilan pada setiap
lantai yaitu tombol panggilan naik dan tombol panggilan turun. Kecuali
pada lantai terendah dan tertinggi yang masing masing hanya terdapat
satu tombol panggilan.
Didalam sangkar lift terdapat tombol tujuan level lantai yang
digunakan.
Metode operasi selective collective ini lebih praktis dan efisien dalam
menangani panggilan dibandingkan dengan Single Automatic Push
Bottom.

24

Pada methode ini, secara otomatis sangkar lift akan melanyai semua
panggilan naik pada saat sangkar llift naik dan melaani semua
panggilan turun pada lantai yang dilaluinya.
Dengan demikian methode ini lebih efisien dalam menanggapi
panggilan dibanding dengan metode Single Automatic Push Bottom
karena sangkar lift dapat dipanggil walaupun lift dalam keadaan
sedang bekerja.
c. Metoded Duplex-Collective
Pada prinsipnya metode duplex collective ini hampir sama dengan
metode selective-Collective merupakan operasi gabungan dari dua
atau lebih lift yang bekerja secara Selective-Collective.
Pada metode ini, pada tiap lantai terdapat tombol bersama untuk
memanggil sangkar lift. Apabila tombol panggilan ditekan maka
sangkar dengan posisi paling dekat dan dengan arah yang sesuai
dengan panggilan, akan melayani panggilan tersebut. Hal ini
merupakan keistimewaan metode ini dibanding dengan metode
Selective-Collective. Tombol tujuan terdapat pada setiap sangkar yang
berfungsi untuk mengoperasikan sangkarnya masing-masing.

BAGIAN

BAGIAN

UTAMA LIFT

Bagian-bagian

(Phenthouse Mechine Rooms)


25

pada

Luar

atas

sangkar

Sebagian besar peralatan lift type Phenthouse Mechine Rooms ditempatkan dibagian
atas sangkar lift. (dapat lihat gambar 2.4. di bawah ini)

Komponen-komponen utama peralatan lift type Phenthouse Mechine Room yang


ditempatkan dibagian atas sangkar lift adalah :
1. Electro motor
2. Mechine Lift
3. Rem Lift
26

4. Lemari Panel Relay


5. Governor

1. Electro Motor
Penggerak utama lift adalah sebuah electromotor yang digerakkan oleh listrik
PLN atau generator listrik yang dilengkapi dengan pengatur medan (Field Control)
yang dikontrol secara numeric (Numerical Control). Electro Motor dikopel ke rangkai
Gear Box yang berfungsi untuk mereduksi putaran electromotor dengan mesin lift
(Elevator Driving Mechine), Pulli dan rem Listrik.
2. Mesin Lift
Design lift disini digunakan mesin pengangkat jenis pulli dan roda pulli
penggerak. Pada design dengan drum, tali yang menahan sangkar diikatkan pada
drum dan dililitkan pada permukaannya sedangkan pada desingn pada roda pully
penggerak, penggerak tali melewati roda pulli yang digerakkan oleh gaya gesek.
Dalam perencanaan ini dipilih mesin pengangkat dengan pulli penggerak karena
memiliki beberapa kelebihan diataranya:
1) Dapat digunakan untuk mengangkat pada segala macam ketinggian
2) Ukurannya lebih kompak
3) Lebih efektif karena gaya teraksi pada roda pulli penggerak akan hilang bila
sangkar yang sedang turun terbentuk hambatan. Dalam hal ini, kelonggaran pada
bagian tali yang keluar dari pulli akan menyebabkan tergelincirnya oleh pulli pada
tali sehingga tali akan mengencang kembali
4) Penggunaan mesin pengangkat jenis roda pulli ini telah mengurangi kecelakaan
secara drastris akibat putusnya tali.
Mesin Lift penggerak roda pulli untuk elevator penumpang ditunjukkan pada gambar
2.5. dibawah ini :

27

Gambar 2.5 Mesin Lift dan Electro Motor

3. Rem Lift
Prinsip Kerja Rem Lift sama dengan kontak NC dari suatu relay atau kontaktor,
dimana rem dalam keadaan menjepit poros mesin lift pada saat sangkar lift tidak
bekerja, sebaliknya rem akan melepaskan poros lift apabila coil rem listrik tersebut
terenergi. Dengan demikian apabila sumber arus dari panel utama putus pada saat
lift bergerak, penumpang akan aman dari bahaya benturan yang timbul apabila rem
tidak menjepit poros mesin tersebut. Di bawah ini gambar 2.6. akan diperlihatkan
konstruksi rem listrik untuk lift.

28

Gambar 2.6. Rem Lift


4. Lemari Panel
Lemari panel merupakan tempat sebagian besar peralatan listrik (komponen
komponen control) disambungkan seperti relay, transformator dan penyearah. Tiap
unit lift memiliki masing masing satu buah lemari panel.
5. Governor
Governor adalah merupakan pengaman kecepatan lebih (Over Speed). Prinsip
kerjanya adalah berdasarkan gaya sentrifugal. Tali (Rope) governor dihubungkan
kebagian atas dan bawah sangkar melalui dua buah pulli governor. Pulli governor
ditempatkan diruang machine atas dan yang lainnya ditempatkan pada bagian bawah
(basement) instalasi lift, sehingga pulli governor akan bergerak apabila sangkar lift
bergerak.

29

BAB III
KEGIATAN DI WORKSHOP

Menentukan input dan output pada 1 set trainer LIFT

JOB 1

NO
1
2
3
4

INPUT
Button switch
Relay 24VDC
Sumber DC 24V
Sumber AC 100V

OUTPUT
Motor 100v
Limit Switch
Timer
Buzzer

KET :
- 3 buah button swicth berwarna Hijau Merah Hitam

30

Relay
:
roduct Range: OMRON - MY Series
Coil Voltage: 24VDC
Contact Current: 5A
Contact Voltage VAC: 250V
Contact Voltage VDC: 30V
Contact Configuration: 4PDT
Coil Resistance: 650ohm
Relay Mounting: Quick Connect

Timer adalah Sebagai pengatur waktu berhentinya lift disetiap lantai

KESIMPULAN:

Komponen input adalah peralatan yang memberikan perintah langsung atau data

ke peralatan proses
Komponen proses adalah peralatan yang memproses data dari input dan akan

mengeluarkan data tersebut ke komponen output


Komponen output adalah peralatan untuk mengeluarkan data atau informasi

31

Rangkaian Naik Turun bebas pada LIFT


JOB 2
A. Tujuan Praktek
Mahasiswa dapat menerapkan hasil pembelajaran tentang sistem kontrol
mekanik pada rangkaian lift naik turun secara bebas.
Mahasiswa dapat melakukan pengawatan rangkaian lift naik turun secara bebas
di tempat kerja.
Mahasiswa dapat menganalisa permasalahan yang mungkin terjadi pada
rangkaian .

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja
Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar
Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan pada
rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :
32

E. DESKRIPSI KERJA
33

:
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 1 ditekan maka lift akan berada di lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 2 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1

F. MASALAH
Push button pada call 2 tidak berfungsi dengan baik karena harus di tekan ke
dalam
G. Solusi Masalah
34

Pertama melaukan pengecekan dengan AVO lalu sudah diketahui maslahanya


push button , jadi ganti/pindah push button untuk push button call 2

Ran
gkaian Kontrol Lift Secara Acak Jilid 1

JOB 3
A. Tujuan Praktek
Mahasiswa dapat menerapkan hasil pembelajaran tentang sistem kontrol
mekanik pada Rangkaian Kontrol Lift Secara Acak.
Mahasiswa dapat melakukan pengawatan Rangkaian Kontrol Lift Secara Acak.di
tempat kerja.
Mahasiswa dapat menganalisa permasalahan yang mungkin terjadi pada
rangkaian .
B . Keselamatan Kerja
35

Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.


Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja
Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar
Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan pada
rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D.Gambar Kerja :

36

E. DESKRIPSI KERJA :

Posisi lift pada lantai 1


1 Pada saat Call 2 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2
2 Pada saat Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
3 Pada saat Call 2 dan Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2
kemudian naik ke lantai 3
4 Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 1 di tekan maka lift akan naik
terlebih dahulu ke lantai 3 lalu akan turun ke lantai 1.
37

5 Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 1 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 2 lalu akan turun ke lantai 1
6 Pada saat Call 2 dan Call 3 ditekan kemudia Call 1 ditekan maka lift akan
naik terlebih dahulu ke lantai 2 lalu ke lantai 3 kemudian akan turun ke
lantai 1

Posisi lift pada lantai 2


1. Pada saat Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
2. Pada saat Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
3. Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 2 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 kemudian turun ke lantai 2
4. Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 2 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 1 kemudian akan naik ke lantai 2
5. Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 2 dan Call 1 ditekan maka lift
akan naik ke lantai 3 lalu akan turun ke lantai 2 kemudian turun ke lantai 1
6. Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 2 dan Call 3 ditekan maka lift

akan turun ke lantai 1 lalu akan naik ke lantai 2 kemudian naik ke lantai 3
Posisi lift pada lantai 3
1 Pada saat Call 2 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2
2 Pada saat Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
3 Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 3 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 2 kemudian akan naik ke lantai 3
4 Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 3 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 1 kemudian akan naik ke lantai 3
5 Pada saat Call 2 dan Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2
kemudian akan turun ke lantai 1
6 Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 1 dan Call 3 ditekan maka lift
akan turun terlebih dahulu ke lantai 2 lalu akan turun ke lantai 1 kemudian
akan naik ke lantai 3
F. MASALAH :
Pada saat praktek terdapat kesalahan pembacaan gambar dengan hasil
yang di praktekan. Akibat dari salah pembacaan gambar rangkaian pada saat
call 3 di tekan maka tidak bisa UP dan merusak dari fungsi call yang lain

38

G. SOLUSI MASALAH :
Memeriksa kembali gambar rangkaian dan meneliti setiap rangkaian pada
panel terdapat pada titik kontak NC k4 yang seharusnya NC K3

39

Rangk
aian Kontrol Lift Secara acak menggunakan timer

JOB 4
A. Tujuan Praktek
Mahasiswa dapat menerapkan hasil pembelajaran tentang sistem kontrol
mekanik pada Rangkaian Kontrol Lift Secara Acak.
Mahasiswa dapat melakukan pengawatan Rangkaian Kontrol Lift Secara Acak.di
tempat kerja.
Mahasiswa dapat menganalisa permasalahan yang mungkin terjadi pada
rangkaian .

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja
Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar
Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan pada
rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D.Gambar Kerja :

40

E. DESKRIPSI KERJA :

41

Posisi lift pada lantai 1


1. Pada saat Call 2 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2
2. Pada saat Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
3. Pada saat Call 2 dan Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2 dan
berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan kemudian naik ke lantai 3
4. Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 1 di tekan maka lift akan naik
terlebih dahulu ke lantai 3 dan berhenti sesuai dengan waktu yang
ditentukan lalu akan turun ke lantai 1.
5. Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 1 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 2 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan lalu akan turun
ke lantai 1
6. Pada saat Call 2 dan Call 3 ditekan kemudia Call 1 ditekan maka lift akan
naik terlebih dahulu ke lantai 2 dan berhenti sesuai dengan waktu yang
ditentukan lalu ke lantai 3 dan berhenti sesuai dengan waktu yang
ditentukan kemudian akan turun ke lantai 1

Posisi lift pada lantai 2


1. Pada saat Call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3
2. Pada saat Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
42

3. Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 2 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan kemudian
turun ke lantai 2
4. Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 2 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 1 dan berhenti sesuai waktu yang ditentukan kemudian akan naik ke
lantai 2
5. Pada saat Call 3 ditekan kemudian Call 2 dan Call 1 ditekan maka lift
akan naik ke lantai 3 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan
lalu akan turun ke lantai 2 dan berhenti sesuai dengan waktu yang
ditentukan kemudian turun ke lantai 1
6. Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 2 dan Call 3 ditekan maka lift
akan turun ke lantai 1 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan
lalu akan naik ke lantai 2 dan berhenti sesuai waktu yang ditentukan

kemudian naik ke lantai 3


Posisi lift pada lantai 3
1. Pada saat Call 2 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2
2. Pada saat Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
3. Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 3 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 2 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan kemudian
akan naik ke lantai 3
4. Pada saat Call 1 ditekan kemudian Call 3 ditekan maka lift akan turun ke
lantai 1 dan berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan kemudian
akan naik ke lantai 3
5. Pada saat Call 2 dan Call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2 dan
berhenti sesuai dengan waktu yang ditentukan kemudian akan turun ke
lantai 1
6. Pada saat Call 2 ditekan kemudian Call 1 dan Call 3 ditekan maka lift
akan turun terlebih dahulu ke lantai 2 dan berhenti sesuai dengan waktu
yang ditentukan lalu akan turun ke lantai 1 dan berhemti sesuai dengan
waktu yang ditentukan kemudian akan naik ke lantai 3
F. MASALAH :
Pada saat praktek terdapat kesalahan pembacaan gambar dengan hasil
yang di praktekan. Akibat dari salah pembacaan gambar rangkaian pada saat
43

lift di lantai 2, di call lantai satu tidak akan berfungsi karena tidak ada arus
yang masuk yang disebabkan pada NO k4

G. SOLUSI MASALAH :
Memeriksa kembali gambar rangkaian dan meneliti setiap rangkaian pada
panel setelah di analisa terdapat pada titik kontak NOk4 yang seharusnya
NC K4

44

BAB IV
PENUTUP
4.1 Penutup
laporan ini menyimpulkan bahwa sebelum praktikum mahasiswa harus memakai
alat pelindung diri, Serta mengetahui dan memahami cara kerja dari setiap
komponen yang akan digunakan. Mahasiswa dapat memahami rangkaian control
dari setiap job rangkaian agar mudah untuk menganalisa apabila terjadi kesalahan
pada pengawatan rangkaian. Sebelum merancang pada panel harus memeriksa
alat terlebih dahulu dan teliti dalam melakukan pengawatan agar tidak terjadi
kesalahan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain maupun peralatan
disekeliling area kerja.
45

4.2 KESIMPULAN DAN SARAN


Dari praktek yang telah dilakukan penyusun, penyusun dapat menarik
beberapa kesimpulan diantaranya :
1. Rancangan lift ini menggunakan penggabungan rangkaian self holding dan
interlock
2. Didalam melakukan perencanaan penginstalasian dibutuhkan perencanaan
yang matang, baik dalam hal mempersiapkan alat dan bahan, rancangan
yang benar benar baik dan perhitungan biaya.
3. Gunakanlah semua peralatan dan bahan secara efisien dan baik dalam
melakukan penginstalasian.
4. Mampu membaca diagram lokasi maupun diagram kontrol. Karena dengan
mampu membaca diagram kontrol penginstalsian akan dapat dengan mudah
dikerjakan.
5. Hal yang terpenting dalam penginstalasian adalah pengawatan, karena jika
terdapat kesalahan dalam pengawatan,
maka penginstalasian tidak akan bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
6. Jika terjadi trouble dalam melakukan penginstalasian, dan terjadi kesalahan
pengoperasian anda harus mampu mencari kesalahan dan memperbaikinya,
sehingga penginstalasian anda dapat dikatakan handal.
7. Usahakan dalam bekerja harus memperhatikan keselamatan sekitar dan diri
anda sendiri.

46

DAFTAR PUSTAKA
http://kahael.com/product.php?cid=220
http://overseas.sanwa-meter.co.jp/
http://www.google.com.2012.lift atau elevator.
http://www.ia.omron.com/
JICA, 1986. Pengaturan Urutan Kerja.
Pengaturan Urutan Kerja (Sequence Control): MAR.LS.002.06.01.2005. Versi:
November .

http://www.google.com.2012.lift atau elevator.


JICA, 1986. Pengaturan Urutan Kerja.
Pengaturan Urutan Kerja (Sequence Control): MAR.LS.002.06.01.2005. Versi:
Nopember .

47

48