Anda di halaman 1dari 17

Kepemimpinan Pendidikan

dalam Perspektif Islam


Oleh:
Amsal Amri
Abstrak
Kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi selalu dihubungkan dengan
kepemimpinan. Secara umum, fungsi pemimpin adalah memudahkan
pencapaian tujuan organisasi. Fungsi yang sangat singkat namun padat sehingga
Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pemimpin yang baik haruslah
menjalankan fungsi seperti Ing Ngarso Sung Tulodo berarti di depan memberi
teladan, Ing Madyo Mangun Karso berarti di tengah menciptakan peluang
berkarya dan Tut Wuri Handayani yang berarti dari belakang memberikan
dorongan dan arahan. Kepemimpinan tidak lain daripada kesiapan mental yang
terwujudkan dalam bentuk kemampuan seseorang untuk memberikan
bimbingan, mengarahkan dan mengatur serta menguasai orang lain agar mereka
berbuat sesuatu, kesiapan dan kemampuan kepada pemimpin tersebut untuk
memainkan peranan sebagai juru tafsir atau pembagi penjelasan tentang
kepentingan, minat, kemauan cita-cita atau tujuan-tujuan yang diinginkan untuk
dicapai oleh sekelompok individu. Dalam Islam sendiri, kepemimpinan (leader)
merupakan sebuah keniscayaan dalam menuntun, membimbing, mengarahkan
dan memberikan keteladanan dalam menjalankan berbagai aktifitas dan
rutinitasnya sesuai dengan tugas masing-masing sehingga dengan berbagai
alasan maka kepemimpinan (khalifah) menjadi sesuatu yang tidak dapat
dilepaskan dan ditinggalkan. Demikian juga dalam pendidikan, kepemimpinan
ini sangat menentukan arah sebuah orientasi pendidikan yang akan dijalankan
sehingga dalam kepemimpinan ini muncul berbagai model kepemimpinan
seperti tipe otoriter, tipe Laissez-Faire, Tipe Demokratis dan Tipe PseudoDemokratis yang mempengaruhi model pendidikan yang dipimpinnya.
Kata kunci: Kepemimpinan, Pendidikan, Tipe Kepemimpinan

Amsal Amri

I.

Pendahuluan
Kepemimpinan berdiri di atas dasar kepercayaan. Saat kepercayaan

rapuh, maka pemimpinnya akan segera runtuh. Sama halnya dengan sebuah
kepemimpinan dalam pendidikan yang berdiri atas dasarkepercayaan. Maka dari
itu, hal yang paling mendasar dan terpenting ketika menjadi seorang pemimpin
adalah memberikan kepada anggota atau bawahannya. Karena dengan cara
seperti itulah seorang pemimpin akan disegani dan dihormati dalam sebuah
organisasi. Biasanya tipe kepemimpinan seseorang tergantung pada gaya orang
tersebut.1
Penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa untuk menjadi seorang
pemimpin dalam dunia pendidikan harus memiliki karakteristik atau gaya
memimpin yang pada akhirnya adalah memberikan kepercayaan kepada
anggotanya demi terciptanya tujuan organisasi tersebut.
Kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi selalu dihubungkan dengan
kepemimpinan.

Secara

umum,

fungsi

pemimpin

adalah

memudahkan

pencapaian tujuan organisasi. Fungsi yang sangat singka namun padat


dikemukakan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, bahwa
pemimpin yang baik haruslah menjalankan fungsi seperti berikut :
a. Ing Ngarso Sung Tulodo (berarti di depan memberi teladan)
b. Ing Madyo Mangun Karso (berarti di tengah menciptakan peluang
berkarya)
c. Tut Wuri Handayani (berarti dari belakang memberikan dorongan dan
arahan).
II. Pengertian Kepemimpinan
Sebelum kita menjelaskan secara komprehensif mengenai macammacam tipe atau gaya kepemimpinan dalam pendidikan, sudah seharusnya kita
1

Nanang, Fatah. 2011. Landasan Manaejemen Pendidikan. (Bandung. Remaja Rosdakarya), hal.
88

104

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

mengetahui pengertian dari kepemimpinan itu sendiri. Agar nantinya


memudahkan kita dalam memahami berbagai tipe kepemimpinan, maka dari itu
pada bagian awal kita jelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian dan hakikat
kepemimpinan.
Davis (1977) mengartikan, kepemimpinan sebagai kemampuan untuk
mengajak orang lain untuk mencapai tujuan yang sudah ditetukan dengan penuh
semangat. Selanjutnya kepemimpinan menurut E. Mulyasa (2003) adalah
kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan untuk pencapaian
tujuan bersama atau organisasi.2 Menurut Mardjin Syam (1966), kepemimpinan
adalah proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan orang
lain yang terorganisir dalam organisasi formal guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.3
Carter V. Good memberikan pengertian yang lebih luas tentang apa
sebenarnya hakikat kepemimpinan itu dalam dua batasan yang menurutnya,
kepemimpinan tidak lain daripada kesiapan mental yang terwujudkan dalam
bentuk kemampuan seseorang untuk memberikan bimbingan, mengarahkan dan
mengatur serta menguasai orang lain agar mereka berbuat sesuatu, kesiapan dan
kemampuan kepada pemimpin tersebut untuk memainkan peranan sebagai juru
tafsir atau pembagi penjelasan tentang kepentingan, minat, kemauan cita-cita
atau tujuan-tujuan yang diinginkan untuk dicapai oleh sekelompok individu.
Dengan

demikian,

hakekat

kepemimpinan

pendidikan

adalah

kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk


mencapai tujuan pendidikan.
Di sini nampak bahwa unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam
kepemimpinan pendidikan adalah (1) Pengikut, (2) Tujuan, dan (3) Kegiatan
mempengaruhi. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang anggotanya dapat
2

E. Mulyasa, 2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. (Bandung : Remaja Rosdakarya),


hal.23
3
H.Afifuddin, 2005. Administrasi Pendidikan. (Bandung: Insan Mandiri), hlm. 10

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

105

Amsal Amri

merasakan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi, baik kebutuhan bekerja,


motivasi, rekreasi, kesehatan, sandang, pangan, papan, tempat tinggal, maupun
kebutuhan lainnya yang pantas didapatkannya.
Peran pemimpin dalam lembaga pendidikan sebagai figur sangat
diperlukan dalam mengambil kebijakan dan keputusan sehingga berbagai
persoalan dapat diatasi dalam keadaan yang paling rumit pun. Hal-hal penting
yang perlu dicatat mengenai komponen kepemimpinan pendidikan adalah :
1) Proses rangkaian tindakan dalam sistem pendidikan;
2) Mempengaruhi dan memberi teladan;
3) Memberi perintah dengan cara persuasif dan manusiawi, tetapi tetap
menjunjung tinggi disiplin dan aturan yang dipedomani;
4) Pengikut mematuhi perintah sesuai kewenangan dan tanggung jawab
masing-masing;
5) Menggunakan authority dan power dalam batas yang dibenarkan;
6) Menggerakkan atau mengerahkan semua personel dalam institusi guna
menyelesaikan tugas sehingga tercapai tujuan, meningkatkan hubungan
kerja diantara personel, membina kerjasama, menggerakkan sumber daya
organisasi dan memberi motivasi kerja.

III.

Teori-Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan

mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia


bekerjasama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam menjalankan
kepemimpinannya, seorang pemimpin memiliki gaya-gaya tersendiri. Gaya
(style) adalah suatu cara berperilaku yang khas dari seorang pemimpin terhadap
para anggota kelompoknya.
Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin (leader) tentang bagaimana menjalankan kepemimpinannya
106

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

(to lead) sehingga bawahan dapat bergerak sesuai dengan yang diinginkan
dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Bergeraknya orang-orang
harus mengikuti jalur tujuan organisasi yang hendak dicapai dan bukan
merupakan

kamuplase

(kepura-puraan/keinginan

pemimpin)

dari

kepemimpinannya itu sendiri, karena bagaimanapun pemimpin itu adalah bagian


dari anggota organisasi itu sendiri. Adapun pergerakan dalam pencapaian tujuan
adalah legitimasi dari sebuah kekuasan yang dimiliki oleh pemimpin, karena
bagaimanapun bukan hanya sebuah simbol atau kedudukan semata.
Ada delapan jenis Teori Kepemimpinan yang dikemukakan
Sudarwan Danim dalam bukunya Kepemimpinan Pendidikan:4
a. Teori Genetis
Teori ini sering disebut dengan the greatmen Theory. Teori ini berasumsi
bahwa kapasitas kepemimpinan itu bersifat inheren, bahwa pemimpin
besar (great leader) dilahirkan, bukan dibuat (leader are born, not
made). Teori ini menggambarkan bahwa pemimpin besar sebagai heroik,
mitos, dan ditakdirkan untuk naik ke tampuk kepemimpinan ketika
diperlukan..
b. Teori Sifat
Serupa dengan teori great men teori sifat mengasumsikan bahwa
manusia yang mewarisi sifat-sifat tertentu dan sifat-sifat yang membuat
mereka lebih cocok untuk menjalankan fungsi kepemimpinan. Teori sifat
tertentu sering mengidentifikasi karakteristik kepribadian atau perilaku
yang dimiliki oleh pemimpin.
c. Teori Kontingensi
Teori kepemimpinan kontingensi (contingency theory of leadership)
memfokuskan pada variabel tertentu yang berhubungan dengan
lingkungan yang bisa menentukan gaya kepemimpinan yang paling
4

. D. Sudarwan, 2010. Kepemimpinan Pendidikan. (Bandung. Alfabeta), hal. 7-8

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

107

Amsal Amri

cocok untuk situasi yang cocok pula. Menurut teori ini tidak ada gaya
kepemimpinan yang terbaik dalam segala situasi . sukses kerja pemimpin
dengan kepemimpinannya itu sendiri tergantung pada sejumlah variabel,
termasuk gaya kepemimpinan, kualitas pengikut, dan situasi yang
mengitarinya.
d. Teori Situasional
Teori kepemimpinan situasional (situasional theory of leadership)
mengusulkan bahwa pemimpin memilih tindakan terbaik berdasarkan
variabel situasional. Gaya kepemimpinan yang berbeda mungkin lebih
cocok untuk membuat keputusan jenis tertentu pada situasi yang tertentu
pula. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan guru (teacher leadership),
tradisi sekolah kita tidak membolehkan guru bertindak keras dalam
menghukum siswa. Tapi, bagaimana jika siswa bertubi-tubi memukul
gurunya atau mengancam dengan senjata tajam, apakah guru akan
memelukkan tangan di dada saja atau dimungkinkan bertindak keras
secara fisik sekalipun demi sebuah pembelaan.
e. Teori Perilaku
Teori behavioral theory of leadership didasari pada keyakinan bahwa
pemimpin uyang hebat merupakan hasil bentukan atau dapat dibentuk,
bukan dilahirkan (leader are made, not born). Berakar pada teori
behaviorisme, teori kepemimpinan ini berfokus pada tindakan pemimpin,
bukan pada kualitas mental inernal. Menurut teori ini, orang bisa belajar
untuk menjadi pemimpin, misalnya melalui pelatihan atau observasi.
f. Teori partisipatif
Teori-teori kepemimpinan partisipatif (participative teori of leadership)
menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang ideal adalah mengambil
prakarsa bagi pelibatan orang lain, sehingga pada setiap pembuatan
keputusan, antara pemimpin dan pengikutnya seperti memilik rekening
108

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

bersama meski jumlah yang disetor ke rekening tersebut itu, tidak harus
bahkan tidak boleh selalu sama. Ilustrasi ini menggambarkan, meski
sangat partisipatif sifatnya, sangat dimungkinkan dan pasti ada yang
memberikan sumbangsih lebih besar.
g. Teori transaksional
Teori ini sering disebut juga sebagai teori-teori manajemen (management
theory). Teori transaksional (transactional theory of leadership)
berfokus pada peran pengawasan, organisasi, ddan kinerja kelompok.
Dasar teori-teori kepemimpinan ini pada sistem ganjaran dan hukuman.
Teori-teori manajerial pun sering digunakan dalam bisnis; ketika
karyawan sukses, mereka dihargai; dan ketika mereka gagal, mereka
ditegur atau dihukum. Karena teori transaksional dipandang identik
dengan teori manajemen.
h. Teori transformasional
Teori ini sering disebut sebagai teori-teori relasional kepemimpinan
(relational theories of leadership). Teori ini berfokus pada hubungan
yang

terbentuk

antara

pemimpin

dan

pengikutnya.

Pemimpin

memotivasi dan mengilhami atau menginspirasi orang dengan membantu


anggota

kelompok

memahami

potensinya

untuk

kemudian

ditransformasikan menjadi perilaku nyata dalam rangka penyelsaian


tugas pokok dan fungsi dalam kebersamaan. Pemimpin transformasional
biasanya memiliki etika yang tinggi dan standar moral.

IV.

Gaya Kepemimpinan dalam Pendidikan


Konsep seorang pemimpin Pendidikan tentang kepemimpinan dari

kekuasaan yang memproyeksikan diri dalam bentuk sikap memimpin, tingkah


laku dan sifat kegiatan pemimpin yang dikembangkan dalam lembaga
pendidikannya akan mempengaruhi situasi kerja, semangat kerja anggota Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

109

Amsal Amri

anggota staf, sifat hubungan kemanusiaan diantara sesamanya, dan akan


mempengaruhi kualitas hasil kerja yang mungkin dapat dicapai oleh lembaga
Pendidikan tersebut. Kepemimpinan dapat diklasifikasikan menjadi empat gaya
atau tipr, yaitu otoriter, laissez-faire, demokrasi, pseudo demokrasi.

1. Tipe Otoriter
Disebut juga tipe kepemimpinan authoritarian. Dalam kepemimpinan ini,
pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya.
Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan
kekuasaan dari pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undangundang. Bawahan
hanya bersifat sebagai pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan
menjalankan perintah dan tidak boleh membantah atau mengajukan saran.
Mereka

harus

patuh

dan

setia

kepada

pemimpin

secara

mutlak.

Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat atau musyawarah.


Setiap perbedaan diantara anggota kelompoknya diartikan sebagai
kelicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau
instruksi yang telah diberikan. Inisiatif dan daya pikir anggota sangat dibatasi,
sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter hanyalah berarti mengontrol, apakah
segala perintah yang telah diberikan ditaati atau dijalankan dengan baik oleh
anggotanya. Mereka melaksanakan inspeksi, mencari kesalahan dan meneliti
orang - orang yang dianggap tidak taat kepada pemimpin, kemudian orang orang tersebut diancam dengan hukuman, dipecat, dsb. Sebaliknya, orang orang yang berlaku taat dan menyenangkan pribadinya, dijadikan anak emas dan
bahkan diberi penghargaan. Kekuasaan berlebih ini dapat menimbulkan sikap
menyerah tanpa kritik dan kecenderungan untuk mengabaikan perintah dan
tugas jika tidak ada pengawasan langsung. Selain itu, dominasi yang berlebihan
mudah menghidupkan oposisi atau menimbulkan sifat apatis.
110

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

2. Tipe Laissez-faire
Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan
kepemimpinannya, dia membiarkan bawahannya berbuat sekehendaknya.
Pemimpin sama sekali tidak memberikan control dan koreksi terhadap pekerjaan
bawahannya. Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan sepenuhnya kepada
bawahannya tanpa petunjuk atau saran - saran dari pemimpin. Dengan demikian
mudah

terjadi

kekacauan-kekacauan

dan

bentrokan-bentrokan.

Tingkat

keberhasilan anggota dan kelompok semata - mata disebabkan karena kesadaran


dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari
pemimpin. Struktur organisasinya tidak jelas atau kabur, segala kegiatan
dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pimpinan.

3. Tipe Demokratis
Pemimpin ikut berbaur di tengah anggota-anggota kelompoknya.
Hubungan pemimpin dengan anggota bukan sebagai majikan dengan bawahan,
tetapi lebih seperti kakak dengan saudara-saudaranya. Dalam tindakan dan
usahausahanya ia selalu berpangkal kepada kepentingan dan kebutuhan
kelompoknya,

dan

mempertimbangkan

kesanggupan

dan

kemampuan

kelompoknya.
Dalam melaksanalan tugasnya, ia mau menerima dan bahkan
mengharapkan pendapat dan saran-saran dari kelompoknya. Ia mempunyai
kepercayaan pula pada anggota-anggotanya bahwa mereka mempunyai
kesanggupan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Ia selalu berusaha
membangun

semangat

anggota

kelompok

dalam

menjalankan

dan

mengembangkan daya kerjanya dengan cara memupuk rasa kekeluargaan dan


persatuan. Di samping itu, ia juga memberi kesempatan kepada anggota
kelompoknya

agar

mempunyai

kecakapan

memimpin

dengan

jalan

mendelegasikan sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya.


Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

111

Amsal Amri

4. Tipe Pseudo-demokratis
Tipe ini disebut juga semi demokratis atau manipulasi diplomatic.
Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratis hanya tampaknya saja bersikap
demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Misalnya jika ia
mempunyai ide-ide, pikiran, atau konsep yang ingin diterapkan di lembaga
Pendidikannya, maka hal tersebut akan dibicarakan dan dimusyawarahkan
dengan bawahannya, tetapi situasi diatur dan diciptakan sedemikian rupa
sehingga pada akhirnya bawahan didesak agar menerima ide atau pikiran
tersebut sebagai keputusan bersama. Pemimpin ini menganut demokrasi semu
dan lebih mengarah kepada kegiatan pemimpin yang otoriter dalam bentuk yang
halus, samar - samar, dan yang mungkin dilaksanakan tanpa disadari bahwa
tindakan itu bukan tindakan pimpinan yang demokratis.

V.

Kepemimpinan Dalam Peningkatan Kinerja


Pola

Kepemimpinan

mencerminkan

model

kepemimpinan

yang

diterapkan dalam mengelola karyawan. Ada sekelompok pemimpin menerapkan


praktek kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian tugas (task
oriented). Pada golongan pemimpin ini, aspek-aspek individual karyawan
kurang mendapat perhatian. Pola ini menekankan, apapun yang dilakukan
karyawan dan bagaimanapun kondisi yang terjadi pada karyawan tidak menjadi
masalah. Asalkan tugas-tugas dapat diselesaikan.
Pola-pola kepemimpiman demikian dapat berpengaruh pada penciptaan
lingkungan kerja yang kurang baik bagi karyawan. Akibatnya ada perasaan
tertekan pada karyawan. Lingkungan kerja yang tercipta penuh ketakutan
mengarah ke frustasi. Jika ini berlangsung lama, maka yang terjadi adalah
tingkat absensi karyawan tinggi, permintaan pindah antar unit kerja,
bahkan puncaknya adalah permintaan keluar dari perusahaan dan pindah ke peru
sahaan yang lain.
112

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

Pada sekelompok pemimpin lainnya menerapkan pola kepemimpinan


yang berorientasi pada manusia (human oriented). Pemimpin memusatkan
perhatiannya pada kegiatan dan masalah kemanusiaan yang dihadapi, baik bagi
dirinya maupun bagi karyawan. Kepemimpinan pada golongan ini lebih populis
dibanding pola yang terdahulu, karena dipandang memperhatikan masalahmasalah riil yang dihadapi karyawan. Dari masalah anak sakit sampai dengan
kondisi keluarga. Dari masalah stamina sampai dengan nonton bola. Akibatnya,
lingkungan kerja dapat mengarah pada budaya gosip, tetapi mengesampingkan
penyelesaian tugas dan standar kinerja.
Pada pola yang ekstrim, kedua orientasi kepemimpinan di atas tidak ada
yang efektif mengelola karyawan. Dengan kemampuan meramu dan
menggabungkan keduanya, dalam banyak hal terbukti lebih efektif dalam
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi peningkatan kinerja
karyawan.

VI.

Konsep Islam tentang Kepemimpinan


Dalam nash al-Quran maupun Hadis menujukkan tentang siapa

pemimpin, tugas dan tanggung jawabnya, maupun mengenai sifat-sifat dan


perlaku yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 30











Artinya:

Ingatlah

ketika

Tuhanmu

berfirman

kepada

para

malaikat:

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.


Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

113

Amsal Amri

Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak


kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Pada ayat tersebut jelas, bahwa manusia adalah pemangku kepemimpinan di
muka bumi, sehingga Allah memerintahkan semua ciptaannya untuk patuh dan
taat, bahkan Malaikatpun diperintahkan untuk tunduk pada manusia (Adam).
Lebih lanjut Al-Quran dalam Q.S. an-Nisa: 30 menerangkan bahwa
pemimpin dioersyaratkan seorang laki-laki karena memiliki beberapa kelebihan
sebagaimana Allah telah berikan.













Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(Q.S. an-Nisa: 30).
Kemudian tugas seorang pemimpin harus mampu membawa di bawah
kepemimpinannya untuk meninggalkan sesuatu yang dapat membawa bencana,
baik di dunia maupun diakhirat, singkatnya seorang pemimpin harus dapat
mengendalikan kepemimpinannya untuk selalu taat pada Allah.
Firman Allah:

114

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka.(Q.S. al-Tahrim: 6)
Adapun

sifat

yang

harus

dimiliki

seorang

pemimpin,

maka

kepemimpinan yang baik adalah sebagaimana kepemimpinan model Rasulullah,


yaitu dengan musyawarah sebagaimana firman Allah Swt.









Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imron 159).
Ayat tersebut dinyatakan bahwa seorang pemimpin harus memilki sifat
lemah lembut dalam menghadapi pihak yang dipimpinnya, karena jika hal itu
dilupakan niscaya mereka satu persatu akan meninggalkannya, atau paling tidak
enggan melaksanakan perintah-perintahnya. Jika demikian apa yang akan
dicapai akan menghadapi kesulitan.
Jika menemui kebuntuan dan kesulitan maka dianjurkan untuk ijtihad,
yaitu usaha dengan sepenuh hati untuk menetapkan sesuatu ketetapan yang
belum ada dalam nash;
Sabda Rasulullah SAW.

Artinya: apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan ijtihad
kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika dia memutuskan
dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka ia hanya mendapat satu pahala (H.R.
Bukhari Muslim).
Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

115

Amsal Amri

Sikap tegas dan terhadap kemungkaran juga harus diterapkan dalam


kepemiminannya, sebagaimana Allah menyatakan dalam Q.S. Al-Fath : 29










Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mumin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. Al-Fath: 29)
Pernyataan di atas (Quran dan Hadits), tampak bahwa konsep
kepemimpinan di dalam ajaran Islam hanya berdasar musyawarah dan mufakat,
namun demikian ada suatu perintah yang tidak boleh lagi dimusyawarahkan
dalam memutuskan sesuatu yaitu dalil-dalil yang qathi.
Pada masa kepemimpinan Rasul, memang selalu dituntun oleh wahyu,
jika tidak ada wahyu maka rasul berijtihad baik melalui musyawarah maupun
inisiatif beliau sendiri. Jika keputusan itu benar, Allah membiarkannya dalam
arti tidak ada teguran wahyu, tapi jika ketetapan Rasul atau ijtihad nya itu tidak
tepat maka turnlah wahyu.
Berdasarkan dasar tersebut, maka segala keputusan yang diambil masa
kepemimpinan Rasul selalu benar. Lalu bagaimana generasi setelah rasulullah ?
116

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

maka ijtihadlah salah satunya, karena terdapat jaminan dan motifasi hasilnya
sebagaimana disebutkan hadits di atas.
Menurut konsep Al-Quran, sebagimana ditulis oleh Khatib Pahlawan
Kayo, bahwa seorang pemimpin harus memilki beberapa persyaratan sebagi
berikut:
1. Beriman dan bertaqwa. (Al-Araf: 96)
2. Berilmu pengetahuan. (Al-Mujadalah: 11)
3. Mampu menyusun perencanaan dan evaluasi. (Al-Hasyr: 18)
4. Memiiki kekuatan mental melaksanakan kegiatan. (Al-Baqarah: 147)
5. Memilki kesadaran dan tanggung jawab moral, serta mau menerima kritik.
(Ash-Shaf:147).5
Di sisi lain, musyawarah melenyapkan kediktatoran, keakuan dan
arogansi yang seringkali menghambat kelancaran proses manajemen Tuhan juga
mencontohkan dalam banyak firmannya yang menggunakan kata Kami dari
pada kata Aku. Penggunaan kata Kami tersebut adalah pengakuan adanya
keterlibatan pihak lain. Musyawarah dapat memperkuat proses transformasi
input menjadi output, sesuai penegasan Howard S. Gitlow, dkk (2005:3) yaitu
A process is a collection of interacting components that transform inputs into
outputs toward a common aim, called a mission statement. It is the job of
management to optimize the entire process toward its aim.6
Wallahu alam bishshawab.
VII.

Kesimpulan
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang

diarahkan untuk pencapaian tujuan bersama dalam organisasi.

Ada

teori

. Pahlawan Kayo, Khatib RB, Kepemimpinan Islam & Dakwah, Jakarta, Amzah, cet I,
2005, hal.75
6
.Buseri, Kamrani, Peran Spiritualitas (Agama) Dalam Penyelenggaraan
Kepemimpinan, makalah disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis
ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 & Pascasarjana ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15
dan 16 September 2006.

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

117

Amsal Amri

kepemimpinan pendidikan: Teori Genetis, Teori Sifat, Teori Kontingensi, Teori


Situasional,

Teori

Perilaku,

Teori

partisipatif,

Teori

transaksional,

Teori Transformasional.
Selain

itu

ada

Gaya

Kepemimpinan

dalam

Pendidikan

Tipe Otoriter, Tipe Laissez-faire, Tipe Demokratis, Tipe Pseudo-demokratis dan


2 pola kepemimpinan dalam meningkatkan kinerja: Pertama, Pada sekelompok
pemimpin lainnya menerapkan pola kepemimpinan yang berorientasi pada
manusia (human oriented). Pemimpin memusatkan perhatiannya pada kegiatan
dan masalah kemanusiaan yang dihadapi, baik bagi dirinya maupun bagi
karyawan. Kedua orientasi kepemimpinan di atas tidak ada yang efektif
mengelola karyawan. Dengan kemampuan meramu dan menggabungkan keduanya, dalam banyak hal terbukti lebih efektif dalam menciptakan lingkungan
kerja yang kondusif bagi peningkatan kinerja karyawan.
Dalam Islam peran kepemimpinan dijabarkan oleh Rasulullah Saw
dengan Sabdanya:

Artinya: apabila seorang hakim memutuskan masalah dengan jalan ijtihad
kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika dia memutuskan
dengan jalan ijtihad kemudian keliru, maka ia hanya mendapat satu pahala (H.R.
Bukhari dan Muslim).

118

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

Kepemimpinan Pendidikan dalam Perspektif Islam

Referensi

Abdoel Kadir, Abdul Wahab, Organisasi Konsep Dan Aplikasi, Tangerang,


Pramita Press,cet.pertama, 2006,.
Afifuddin, H.. Administrasi Pendidikan. Bandung: Insan Mandiri, 2005
Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.
Buseri, Kamrani, Peran Spiritualitas (Agama) Dalam Penyelenggaraan
Kepemimpinan, makalah disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah
dalam rangka Dies Natalis ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 &
Pascasarjana
ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15 dan 16
September 2006.
Husaini Usman,.. Manajemen Teori Praktik Dan Riset Pendidikan. jakarta, Bina
Aksara, cet I, 2006
Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2006
Nanang, Fatah. 2011. Landasan Manaejemen Pendidikan. Bandung. Remaja
Rosdakarya.
Pahlawan Kayo, Khatib RB, Kepemimpinan Islam & Dakwah, Jakarta, Amzah,
cet I, 2005
Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Manajemen Sekolah, Jakarta, edisi II, cet III,tt
Sopiah, Perilaku Organisasi, Yogyakarta, Andi, tt,
Sudarwan, D.. Kepemimpinan Pendidikan. Bandung. Alfabeta. 2010
Terry, Georga R. Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj. Smith DFM. Jakarta, Bumi
Aksara, Cet.Kedelapan, 2006.

Islamic Studies Journal | Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2013

119