Anda di halaman 1dari 11

Tugas

Dosen Pembimbing

MASAILUL FIQHIYAH

NURLIANA ,MA
BUNUH DIRI DAN EUTHANASIA
Dalam Pendidikan Islam

DISUSUN
KELOMPOK DELAPAN
MUHAMMAD RIDWAN
ENDANG SURYANI
HERLINA
ERNILAWATI

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )
DINIYAH PEKANBARU
1436 H / 2015 M

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....... .........................................................................................i
DAFTAR ISI ......... ...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN

..................................................................................................1

A. Latar belakang ....................................................................................................1


B. Rumusan Masalah
.................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.

...................... .........................................................................3

Pengertian Bunuh Diri


.....................................4
Pandangan Islam Terhadap Bunuh Diri
...5
Pengertian Euthanasia
................................................................ ...6
Pandangan Islam Terhadap Euthanasia
............................................7
Euthanasia menurut KUHP dan kode etik Kedokteran .........................8

BAB III PENUTUP .............................................................................................................19


KESIMPULAN

.............................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA

.........................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Adalah suatu tugas yang sangat mulia sekali bagi kita sebagai hamba
Allah,yaitu dengan berjuang pada jalan Agama Allah .Tugas dan tanggung jawab kita
adalah mengembangkan Dawah ,membangun akhlak yang sangat Mulia dengan
banyak pengaruh era Globalisasi dunia sekarang.Maka sangat banyak masalah
masalah yang timbul dalam masyarakat ,dengan berbagai macam masalah inilah maka
ada yang galau.Akhirnya ada yang bunuh diri,dan bagi sang dokter karena tidak bisa
lagi untuk ditangani maka terjadilah euthanasia
Padahal diri dan ruh kita adalah anugerah dan amanah dari Allah Swt yang
harus di pertanggung-jawabkan oleh setiap orang manusia dalam berbagai aspek
kehidupannya.Diantaranya bertanggung jawab dalam pendidikan,kesehatan,kasih
sayang,perlindungan yang baik,dan berbagai aspek lainnya.
Pendidikan perlu dilihat sebagai suatu proses yang berterusan,berkembang,dan
serentak dengan perkembangan individu seorang anak yang mempelajari apa saja
yang ada di lingkungannya.Dengan kemahiran yang diperolehnya anak akan
mengaplikasikannya dalam konteks yang bermacam-macam dalam hidup
kesehariannya di saat itu ataupun sebagai persiapan untuk kehidupannya dimasa yang
akan datang.
Dalam Islam orangtua bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan
sesuai dengan fitrahnya,yaitu keimanan kepada Allah Swt.Fitrah ini merupakan
kerangka dasar operasional dari proses penciptaan manusia.Di dalamnya terkandung
kekuatan potensial untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan
mengarahkannya untuk mencapai tujuan penciptaannya.Konsep dasar keimanan ini
telah digambarkan dalam Al-Quran ketika Luqmanul Hakim memberikan pendidikan
dasar terhadap anaknya
Anak merupakan amanah dari Allah Swt yang diberikan kepada setiap
orangtua,anak juga buah hati,anak juga cahaya mata,tumpuan harapan serta
kebanggaan keluarga.Anak adalah generasi mendatang yang mewarnai masa kini dan
diharapkan dapat membawa kemajuan dimasa mendatang.Anak juga merupakan

ujian bagi setiap orangtua sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surah al-Anfal
ayat 28 yang berbunyi :


Artinya :Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai
cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar. (QS.al-Anfal ayat 28).

B. Rumusan maslah
1. Apa pengertian bunuh diri ?
2. Apa penebab manusia bunuh diri ?
3. Apakah hukum bunuh diri yang dilakukan oleh
sebahagian manusia ?
4. Apa pengertian Aethanasia ?
5. Apa sebabnya dodter melakukan tindakan tersebut ?

Bab II
Pembahasan
A. Pengertian Bunuh Diri
Bunuh diri adalah perbuatan menghentikan hidup sendiri yang dilakukan oleh individu
itu sendiri atau atas permintaannya. Pada dasarnya, segala sesuatu itu memiliki hubungan
sebab akibat (ini adalah sistematika). Dalam hubungan sebab akibat ini akan menghasilkan
suatu alasan atau sebab tindakan yang disebut motif.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Bunuh diri adalah kesengajaan mematikan diri sendiri .
Motif bunuh diri ada banyak macamnya. Disini penyusun menggolongkan dalam kategori
sebab, misalkan :

Dilanda keputusasaan dan depresi

Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.

Gangguan kejiwaan / tidak waras (gila).

Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta / Iman / Ilmu)

Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.


Dalam ilmu sosiologi, ada tiga penyebab bunuh diri dalam masyarakat, yaitu

Egoistic suicide (bunuh diri karena urusan pribadi),

Altruistic suicide (bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain), dan

Anomic suicide (bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan).

B. Pandangan Islam Tentang Bunuh Diri


Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi, seorang ulama terkemuka dunia, berpendapat
tentang bunuh diri, bahwa sesungguhnya kehidupan manusia bukan menjadi hak milik
pribadi sebab dia tidak dapat membuat dirinya, anggotanya, ataupun sel-selnya. Diri manusia
pada hakikatnya hanyalah sebagai barang titipan yang diberikan Allah. Oleh karena itu, tidak
boleh titipan ini diabaikannya, apalagi memusuhinya atau melepaskannya dari hidup.
Allah SWT berfirman:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah
Maha Penyayang kepadamu. ( Q.S An-Nissa: 29)
Ada beberapa hadist pula yang menyebutkan bahwa bunuh diri itu merupakan suatu
tindakan yang salah, diantaranya yaitu:
1. Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah saw., bersabda : Siapa yang bunuh diri dengan
senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke
perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka
dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya;
dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan
menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.
2. Dari Tsabit bin Dhahhak ra, dari Nabi saw., sabdanya : Tidak wajib bagi seseorang
melaksanakan nazar apabila dia tidak sanggup melaksanakannya. Mengutuk orang
Mumin sama halnya dengan membunuhnya. Mengadakan tuduhan bohong atau
sumpah palsu untuk menambah kekayaannya dengan menguasai harta orang lain, maka
Allah tidak akan menambah baginya, bahkan akan mengurangi hartanya.
3. Dari Tsabit bin Dhahhak ra, katanya Nabi saw., sabdanya : Siapa yang bersumpah
menurut cara suatu agama selain Islam, baik sumpahnya itu dusta maupun sengaja, maka
orang itu akan mengalami sumpahnya sendiri. Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara,
Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.
4. Dari Abu Hurairah ra, katanya : Kami ikut perang bersama-sama Rasulullah saw., dalam
perang Hunain. Rasulullah saw., berkata kepada seorang laki-laki yang mengaku Islam,
Orang ini penghuni neraka. Ketika kami berperang, orang itu pun ikut berperang
dengan gagah berani, sehingga dia terluka. Maka dilaporkan orang hal itu kepada
Rasulullah saw., katanya Orang yang tadi anda katakan penghuni neraka, ternyata dia
berperang dengan gagah berani dan sekarang dia tewas. Jawab Nabi saw., Dia ke
neraka. Hampir saja sebahagian kaum muslimin menjadi ragu-ragu. Ketika mereka
sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba diterima berita bahwa dia belum mati, tetapi
luka parah. Apabila malam telah tiba, orang itu tidak sabar menahan sakit karena lukanya
itu. Lalu dia bunuh diri. Peristiwa itu dilaporkan orang pula kepada Nabi saw. Nabi saw.,
bersabda, : Kemudian beliau memerintahkan Bilal supaya menyiarkan kepada orang
banyak, bahwa tidak akan dapat masuk surga melainkan orang muslim (orang yang
tunduk patuh).

5. Dari Syaiban ra., katanya dia mendengar Hasan ra, bercerita : Masa dulu, ada seorang
laki-laki keluar bisul. Ketika ia tidak dapat lagi menahan sakit, ditusuknya bisulnya itu
dengan anak panah, menyebabkan darah banyak keluar sehingga ia meninggal. Lalu
Tuhanmu berfirman : Aku haramkan baginya surga. (Karena dia sengaja bunuh diri.)
Kemudian Hasan menunjuk ke masjid sambil berkata, Demi Allah! Jundab
menyampaikan hadits itu kepadaku dari Rasulullah saw., di dalam masjid ini.
C.

Pengertian Euthanasia
Euthanasia berasal dari kata eu berarti baik, dan thanatos artinya mati. Maksudnya

adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa rasa sakit. Oleh karena itu,
euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing (mati dengan tenang)
Dilihat dari segi orang yang berkehendak, euthanasia bisa muncul dari keinginan pasien
sendiri, permintaan dari keluarga dengan persetujuan pasien (bila pasien masih sadar), atau
tanpa persetujuan pasien (bila pasien sudah tidak sadar). Tetapi tidak pernah di temukan
tindakan authanasia yang dikehendaki oleh dokter tanpa persetujuan pasien ataupun pihak
keluarga, karma hal ini berkait dengan kode etik kedokteran.
Dilihat dari kondisi pasien, tindakan euthanasia bias dikategorikan menjadi dua macam,
yaitu aktif dan pasif . Euthanasia aktif adalah suatu tindakan mempercepat proses kematian,
baik dengan memberikan suntikan ataupun melepaskan alat-alat pembantu medika,seperti
sebagainya. Yang termasuk tindakan mempercepat proses kematian di sini adalah jika kondisi
pasien, berdasarkan ukuran dan pengalalman medis masih menunjukan adanya harapan
hidup. Dengan kata lain, tanda-tanda kehidupan masih terdapat pada penderita ketika
tindakan itu dilakukan. Apalagi jika penderita ketika itu masih sadar.
Sedangkan yang dimaksud dengan euthanasia pasif adalah suatu tindakan membiarkan
pasien atau penderita yang dalam keadaan tidak sadar (comma), berdasarkan pengalaman
maupun ukuran medis sudah tidak ada harapan hidup, atau tanda-tanda kehidupan tidak
terdapat lagi padanya, mungkin karena salah satu organ pentingnya sudah rusak atau lemah,
seperti bocornya pembuluh darah yang menghubungkan ke otak (stroke) akibat tekanan darah
yang terlalu tinggi, tidak berfungsinya jantung dan sebagainya. Kondisi seperti sering disebut
dengan fase antara,yang dikalangan masyarakat umum diistilahkan dengan antara hidup
dan mati.
Dalam perspektif medis,terdapat dua tipe euthanasia dikenal dalam dunia kedokteran ada
positif dan negatif.Terhadap dua tipe ini Yusuf Al Qordowi memberikan beberapa contoh

1 . Yang Positif : Seseorang menderita kanker ganas ,maka doktor memberikan obat kepada
pasien over dosis maka ini yang tugas dokter aktif.
2. Yang negatif : misal diatas ,maka doktor tidak memberikan apa-apa atas permintaan pasien
dan keluarganya.
D. Pandangan Islam Tentang Euthanasia
Parah tokoh Islam di Indonesia sangat menentang dilakukannya euthanasia. Prof. Dr.
Amir syarifuddin menyebutkan bahwa pembunuhan untuk menghilangkan penderita si sakit,
sama dengan larangan Allah membunuh anak untuk tujuan menghilangkan kemiskinan1[2].
Tindakan dokter dengan memberi obat atau suntikan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup
pasien adalah termasuk pembunuhan disengaja.
Ia berarti mendahului takdir Tuhan, meskipun niatnya adalah untuk melepaskan
penderitaan pasien atau juga melepaskan tanggungan keluarga. Akan tetapi apabila dokter
tidak lagi memberi pasien obat, karena yakin obat yang ada sudah tidak bisa menolong, atau
sekalian mengizinkan si pasien di bawa pulang, andaikata pasien itu meninggal, maka sikap
dokter itu tidaklah termasuk perbuatan pembunuhan.Berarti Hukumnya sama dengan
pembunuhan yng sangat dilarang ,dalam Firman Allah . Q.S .Annisa 28-29

Artinya Janganlah kamu membunuh diri kamu sendiri ,sesungguhnya Allah Maha
Penyayang kepadamu,Dan barang siapa yang berbuat demikian dengan melanggar dan
berbuat aniaya,maka Kami akan kelak memasukan kedalam negaraka.
K.H Syukron Makmun juga berpendapat bahwa kematian itu adalah urusan Allah,
manusia tidak mengetahui kapan kematian itu akan menimpa dirinya. Soal sakit, menderita
dan tidak kunjung sembuh adalah qudratullah. Kewajiban kita hanya berikhtiar.
Mempercepat kematian tidak dibenarkan. Tugas dokter adalah menyembuhkan, bukan
membunuh. Kalau dokter tidak sanggup kembalikan kepada keluarga.
Jadi apapun alasanya, apabila tindakan itu berupa euthanasia aktif, yang berarti suatu
tindakan mengakhiri hidup manusia pada saat yang bersangkutan masih menunjukan adanya
tanda-tanda kehidupan, Islam mengharamkanya.
Sedangkan terhadap euthanasia pasif, para ahli, baik dari kalangan kedokteran, ahli
hukum pidana, maupun para ulama sepakat membolehkanya.
1
8

E. Euthanasia Menurut KUHP Dan Kode Etik Kedokteran


Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan: Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain
atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sunguh-sunguh,
dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.2 Berdasarkan pasal ini, seorang dokter
bisa dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas
permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan
perbuatan melawan hukum.
Hanya saja isi pasal 344 KUHP itu masih mengandung masalah. Sebagai terlihat pada
pasal itu, bahwa permintaan menghilangkan nyawa itu harus disebut dengan nyata dan
sungguh-sungguh. Maka bagaimanakah pasien yang sakit jiwa, anak-anak, atau penderita
yang sedang comma. Mereka itu tidaklah mungkin membuat pernyataan secara tertulis
sebagai tanda bukti sungguh-sungguh. Sekiranya euthanasia dilakukan juga, mungkin saja
dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan pasal 344 itu, tetapi ia tidak bias melepaskan diri
dari tuntutan pasal 388 yang berbunyi: Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa
orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima
belas tahun. Dokter melakukan tindakan euthanasia (aktif khususnya), bisa diberhantikan
dari jabatannya, karena melanggar etik kedokteran.
Di dalam Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor:
434/Men.Kes./SK/X/1983 disebutkan pada pasal 10: Setiap dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani. Kemudian di dalam
penjelasan pasal 10 itu dengan tegas disebutkan bahwa naluri yang kuat pada setiap makhluk
yang bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. Usaha untuk itu
merupakan tugas seorang dokter. Dokter harus berusaha memelihara dan mempertahankan
hidup makhluk insani, berarti bahwa baik menurut agama dan undang-undang Negara,
maupun menurut Etika Kedokteran, seorang dokter tidak dibolehkan:
a) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus).
b) Mengakhiri hidup seseorang penderita, yang menurut ilmu dan pengalaman tidak
mungkin akan sembuh lagi (euthanasia)3[4].
Jadi sangat tegas, para dokter di Indinesia dilarang melakukan euthanasia. Di dalam
kode etika itu tersirat suatu pengertian, bahwa seorang dokter harus mengerahkan segala
2
3[4]Keputusan Mentri Kesehatan RI nomor : 434/Men.Kes/SK/X/1983 Tentang, belakunya
kode etik kedokteran indonesia bagi para dokter indonesia, Jakarta:yayasan penerbit Ikatan
Dokter Indonesia, 1988, Hal 392
9

kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan memelihara hidup


manusia (pasien), tetapi tidak untuk mengakhirinya.

Bab III
Penutup
Kesimpulan
Dari pemaparan makalah di atas dapat ditarik kesimpulan di antaranya adalah:
1. Bunuh diri merupakan suatu tindakan yang tidak baik dan sangat tidak terpuji baik menurut
pandangan islam mau pun menurut pandangan sosial atau moral.
2. Ada banyak motiv seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
3. Yang berhak mengakhiri hidup seseorang hanya Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang
mengakhiri hidup dengan cara atau alas an yang bertentangan dengan ketentuan Agama
(Laisa bi al-haq), seperti Euthanasia Aktif adalah perbuatan bunuh diri, yang diharamkan dan
diancam Allah dengan hukuman neraka selama-lamanya.
4. Euthana Aktif tetap dilarang, baik dilihat dari segi kode etik kedokteran, undang-undang
hukum pidana, lebih-lebih menurut islam yang menghukuminya haram.
5. Euthanasia Pasif diperbolehkan, yaitu sepanjang kondisi utama penderita sudah tidak ada
harapan untuk hidup, bisa dikatakan berada pada fase di antara hidup dan mati.

DAFTAR PUSTAKA
Abdulah ibn Abdu ar-Rahman Al Darimi ,sunana Al darimi ,Beirut:Dar Alkitab al Arabi,1987
Abu Daud Sulaiman ibn Asyasy,Sunan Abu Daud,Beirut: Maktabah al-Ashiriyah,tt.

Fauzi Aseri, Akhmad. 2002. Problematika Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
10

Keputusan Mentri Kesehatan RI nomor : 434/Men.Kes/SK/X/1983 Tentang,


belakunya kode etik kedokteran indonesia bagi para dokter indonesia, Jakarta:yayasan
penerbit Ikatan Dokter Indonesia, 1988.
T.Erwan,Cs. 1979. Himpunan Undang-undang dan Peraturan-peraturan Hukum
Pidana. Jakarta: Aksara Baru
Van Hoeve, Eksiklopedia Indonesia, Vol 2, Topik Euthanasia, Jakarta, Ikhtiar Baru,
1987
Yusuf Qardhawi, Muhammad. 2007. Halal dan Haram Dalam Islam. Surabaya: PT.
Bina Ilmu
Drs.T.Erwan,Cs. Himpunan Undang-undang dan Peraturan-peraturan Hukum Pidana,
Jakarta, Aksara Baru, 1979, hal 137

11