Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

KERATITIS HERPES SIMPLEKS OS

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Di Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Diajukan kepada :
Pembimbing : dr. Retno Wahyuningsih, Sp.M

Disusun oleh :
Elita Purnama

H2A010015

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT MATA
Presentasi kasus dengan judul :
KERATITIS HERPES SIMPLEKS OS
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh:

Elita Purnama

H2A010015

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Nama pembimbing

dr. Retno Wahyuningsih, Sp.M

Tanda Tangan

Tanggal

.............................

.............................

Mengesahkan:
Koordinator Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

dr. Retno Wahyuningsih, Sp.M


NIP. 19620721 1990 10 1

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. R

Usia

: 66 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Kebondowo RT 2 RW 9

No. Telp

:-

Pekerjaan

: Buruh

Pendidikan Tertinggi

:-

No. RM

: 085

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada hari Senin 28 Septenber 2015 pukul 11.00
WIB

Keluhan Utama : penglihatan mata kiri terasa kabur

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Rumah Sakit dengan keluhan penglihatan mata kiri terasa
kabur seperti bergoyang-goyang sejak 1 bulan yang lalu yang tidak disertai rasa nyeri.
Keluhan tersebut membuat pasien agak susah dalam melakukan aktifitas sehari-hari
seperti berjalan, membaca. Awalnya mata pasien merah dan berair. serta pandangan
sedikit kabur dan silau bila terkena sinar matahari. Pasien mengaku sudah berobat
kedokter saraf sebelumnya namun tidak ada perubahan pada matanya sehingga pasien
memutuskan untuk berobat kedokter mata.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Penyakit yang sama

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat alergi obat

: Disangkal

Riwayat trauma mata

: Disangkal

Riwayat operasi mata

: Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat sakit yang sama dalam keluarga

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai seorang buruh. Biaya pengobatan ditanggung BPJS. Kesan
sosial ekonomi cukup.

PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 6 Juli 2015 pukul 11.30
Keadaan umum

: Tampak kesakitan

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital sign

TD

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit ( Reguler, isi dan tegangan kuat)

RR

: 16x/menit

Suhu

: afebris

Status Generalis

: Tidak diperiksa

Status Oftalmologis
NO

Pemeriksaan

OD

OS

1.

Sekitar Mata
Negatif

Negatif

o Rontok

Negatif

Negatif

o Trikiasis

Negatif

Negatif

Benjolan

Negatif

Negatif

Oedem

Negatif

Negatif

Hiperemis

Negatif

Negatif

Cobblestone

Negatif

Negatif

Supercilia
o Rontok
Cilia

2.

Palpebrae superior

3.

Palpebrae inferior
Benjolan

Negatif

Negatif

Oedem

Negatif

Negatif

Hiperemis

Negatif

Negatif

Cobblestone

Negatif

Negatif

4.

Margo palpebra sup et inf

Normal

Normal

5.

Punctum Lakrimal sup et inf

Normal

Normal

6.

Saccus Lakrimal

Normal

Normal

7.

Konjungtiva
Injeksi siliar

Negatif

Positif

Injeksi konjungtiva

Negatif

Negatif

Hiperemis

Negatif

Positif

Oedem

Negatif

Negatif

Folikel

Negatif

Negatif

Papil

Negatif

Negatif

Kemotik

Negatif

Negatif

Sub.konj. bleeding

Negatif

Negatif

Eksof/endoftalmos

Normal

Normal

Gerakan

Normal

Normal

Nistagmus

Negatif

Negatif

Strabismus

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

(palpebra,bulbi,forniks)

8.

9.

Bulbus Okuli

Sklera
Ikterik

10.

Kornea
Warna

Bening,transparan,mengk Keruh
ilat

Sikatrik

Negatif

Negatif

Infiltrat

Negatif

Positif

Oedem

Negatif

Positif

Neovaskularisasi

Negatif

Negatif

11.

COA

12.

Iris

13.

Jernih

Jernih

Warna

Coklat normal

Coklat normal

Sinekia

Negatif

Negatif

Bentuk

Normal

Normal

Kriptae

Normal

Normal

3 mm

2-3mm

Pupil
Anisokor

Reflek pupil (direct & +/+

-/-

Indirect

14.

Letak

Sentral

Sentral

Bentuk

Bulat

Ireguler

Ada

Ada

Lensa
Ada/Tidak
Terletak

pada Terletak pada tempatnya

Terletak pada tempatnya

tempatnya/ Tidak
Warna

Jernih

Keruh

15.

Sekret

Negatif

Negatif

16.

Visus

6/12

6/15

17.

Koreksi

Tidak dikoreksi

Tidak dikoreksi

Dilakukan tetes mata Flourescein di slit lamp kornea keruh serta ditemukan infiltrat
RESUME
Tn. R datang ke rumah sakit dengan keluhan sejak 1 bulan yang lalu OS hiperemis, injeksi
siliar (+),injeksi konjungtiva (+), tidak nyeri, fotofobia, kornea keruh, terdapat infiltrat. Ny. R
sudah memberikan obat tetes mata Cendo Xytrol namun belum sembuh. OD tidak
mengalami keluhan.

DIAGNOSIS BANDING
-

Uveitis Anterior OS

DIAGNOSIS : Suspect Keratitis Herpes Simpleks dengan Katarak OS


INITIAL PLAN
Suspect Keratitis Herpes Simpleks dengan Katarak OS

IpDx
Subyektif : Obyektif

:-

IpTx
Cendo xytrol Ed Fls 3x1 OS
Midriatil 1% Ed Fls 3 X 1 OS
Neurodex Tab 1x1

IpMx

IpEx

Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya

Istirahat, tidak terlalu banyak aktifitas

Bila bepergian menggunakan kacamata pelindung

Meningkatkan daya tahan tubuh (makan bergizi, istirahat cukup)

Kontrol 1 minggu

PROGNOSIS

Quo ad Vitam

: dubia ad bonam

Quo ad visam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam

Quo ad cosmeticam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Kornea 2,3,4


Kornea merupakan bagian selaput mata yang tembus cahaya, bersifat transparan,
berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, tebal 0,6-1 mm. Indeks bias kornea
1,375 dengan kekuatan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini
disebabkan oleh struktur kornea yang uniform, avaskuler dan diturgesens atau keadaan
dehidrasi relatif jaringan kornea yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada
endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting dari pada epitel dalam
mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat dari pada

cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat transparan hilang dan
edema kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena
akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel.
Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa
cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Jika kornea oedem karena suatu
sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga
penderita akan melihat halo.
Kornea bersifat avaskuler, maka sumber-sumber nutrisi kornea berasal dari pembuluhpembuluh darah limbus, humor aquaeus dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatkan
oksigen sebagian besar dari atmosfer. Kornea dipersarafi oleh banyak serat saraf sensorik
yang didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V yang berjalan
supra koroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membran bowman dan melepaskan
selubung schwannya. Bulbus Krauseuntuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya
regenerasi saraf sesudah dipotong didaerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.
Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri
atas lima lapisan dari anterior ke posterior yaitu: lapisan epitel (yang bersambung dengan
lapisan epitel konjungtiva bulbaris),membran bowman, stroma, membran descemet dan
lapisan endotel.
Gambar 1. Anatomi Kornea 5
1. Epitel
2. Lapisan epitel kornea tebalnya 50 m berbentuk pipih berlapist anpa tanduk, ada satu
lapis sel basal dan sel polygonal. Sel bersifat fat soluble substance. Pada sel basal sering
terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan
semakin maju kedepan menjadi sel pipih, sel basal berikatan erat dengan sel basal
disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden.
Ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barrier. Sel basal
menghasilkan membran basal yang saling melekat erat. Bila terjadi gangguan akan
menjadi erosi rekuren. Ujung saraf kornea berakhir di epitel, oleh karena itu kelainan
pada epitel akan menyebabkan gangguan sensibilitas korena dan rasa sakit dan
mengganjal. Daya regenerasi epitel juga cukup besar.

2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak
mempunyai daya regenerasi. Kerusakan pada lapisan ini akan berakhir dengan terbentuknya
jaringan parut.
3.Stroma
Stroma merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea, mencakup sekitar 90% dari
ketebalan kornea. Bersifat water soluble substance. Terdiri atas jaringan kolagen yang
tersusun atas lamel - lamel, pada permukaannya terlihat anyaman yang teratur sedang
dibagian perifer serat kolagen bercabang. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air, kadar
air diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh sel epitel. Terbentuknya kembali
serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit
merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen
stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan
embrio atau sesudah trauma.
4.Membran Descemet
Merupakan membran aselular yang tipis, kenyal, kuat dan bening, terletak dibawah
stroma dan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya pembuluh darah. Membran ini
sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40m.
5.Endotel
Merupakan lapisan kornea yang penting untuk mempertahankan kejernihan kornea,
mengatur cairan didalam stroma kornea dan tidak mempunyai daya regenerasi, sehingga
endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh endotel
dan memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga
keseimbangan cairan akibat gangguan sistem pompa endotel, maka stroma akan bengkak
karena kelebihan cairan (edema kornea) dan hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi.
Dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit intraokuler dan usia
lanjut. Lapisan endotel berasal dari mesotalium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk
heksagonal dengan tebal 20-40 m yang melekat pada membran descmet melalui hemi
desmosom dan zonula okluden.

10

B. Definisi
Keratitis adalah radang pada kornea atau infiltrasi sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam penglihatan menurun. Infeksi pada
kornea bisa mengenai lapisan superficial yaitu pada lapisan epitel atau membran bowman dan
lapisan profunda jika sudah mengenai lapisan stroma. 2
C. Epidemiologi
Frekuensi keratitis

di Amerika Serikat sebesar 5% di antara seluruh kasus

kelainan mata. Di negara-negara berkembang insidensi keratitis berkisar antara 5,9-20,7


per 100.000 orang tiap tahun. Insidensi keratitis pada tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000
penduduk di Indonesia, perbandingan laki-laki dan perempuan tidak begitu bermakna
pada angka kejadian keratitis. Sedangkan predisposisi terjadinya keratitis antara lain
terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak dan perawatan lensa kontak yang buruk,
penggunaan lensa kontak yang berlebihan, Herpes genital atau infeksi virus lain,
kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain, serta higienis dan nutrisi yang tidak
baik, dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya.
D. Etiologi 1,2,3
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1.Virus
2.Bakteri
3.Jamur
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari atau sunlamps. Hubungan ke
sumber cahaya yang kuat lainnya seperti pengelasan busur
5.Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidakcukupnya
pembentukan air mata7.Adanya benda asing di mata

11

8. Reaksi terhadap obat tetes mata, kosmetik, polusi, atau partikeludara seperti
debu, serbuk sari, jamur, atau ragi
9. Efek samping obat tertentu
E. Patofisiologi 4
Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagaipertahanan
imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah
mengalami dilatasi, kemudian terjadi kebocoran serum dan elemen darah yang
meningkat dan masuk ke dalam ruang ekstra seluler. Elemen-elemen darah makrofag,
leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein C-reaktif imunoglobulin pada permukaan
jaringan yang utuh membentuk garis pertahanan yang pertama. Karena tidak
mengandung vaskularisasi, mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen
yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau dikornea terjadi vaskularisasi.
Rangsangan untuk vaskularisasi timbul oleh adanya jaringan nekrosis yang dapat
dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal kornea yang
avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi vaskularisasi terjadi juga
pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel. Reaksi imunologik di kornea dan
konjungtiva kadang-kadang disertai dengan kegiatan imunologik dalam nodus limfe
yang masuk limbus (kornea perifer) dan sklera yang letaknya berdekatan dapat ikut
terkait dalam sindrom iskhemik kornea perifer, suatu kelainan yang jarang terjadi,
tetapi merupakan kelainan yang serius. Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, Antigen
cenderung ditahan oleh komponen polisakarida dimembrana basalis. Dengan
demikian antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lama akan
menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di limbus. Selsel ini bergerak kearah sumber antigen di kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun
di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat dimulai oleh berbagai stimuli. Bahwa pada
proses imunologik secara histologik terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang
berdekatan dengan ulkus. Penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses
imunologik. Pada keratitis herpetika yang khonik dan disertai dengan neovaskularisasi akan timbul limfosityang sensitif terhadap jaringan kornea.
F. Klasifikasi 2,3
Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal.

12

Berdasarkan lapisan yang terkena, keratitis dibagi menjadi:


1.Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan KeratitisPungtata Subepitel)
2.Keratitis Marginal
3.Keratitis Interstisial
Berdasarkan penyebabnya, keratitis diklasifikasikan menjadi:
1.Keratitis Bakteri
2.Keratitis Jamur
3.Keratitis Virus
4.Keratitis Herpetika.
a.Keratitis Infeksi Herpes Zoster
b.Keratitis Infeksi Herpes Simplek :
5.Keratitis Alergia.
a. Keratokonjungtivitisb.
b. Keratokonjungtivitis epidemi
c. Tukak atau ulkus fliktenular
d.Keratitis fasikularise.
e. Keratokonjungtivitis vernal
Berdasarkan bentuk klinisnya, keratitis diklasifikasikan menjadi:
1.Keratitis Flikten
2.Keratitis Sika
3.Keratitis Neuroparalitik
4.Keratitis Numuralis
Klasifikasi keratitis berdasarkan lapisan kornea yang terkena, yaitu:

13

A. Keratitis Pungtata 5
Keratitis yang terkumpul di daerah Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus.
Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada
permukaan kornea. Merupakan cacat halus kornea superfisial dan hijau bila diwarnai
fluoresein. Sedangkan keratitis pungtata subepitel adalah keratitis yang terkumpul di daerah
membran Bowman.
B. Keratitis Marginal 6
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi
lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitiskataral atau keratitis marginal ini. Keratitis
marginal kataral biasanya

terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya

blefarokonjungtivitis.
C. Keratitis Interstitial3
Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh darah ke dalam kornea
dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut
menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari keratitis interstitial.
Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebabnya, yaitu:
A. Keratitis Bakteri 1,2
1.Faktor Risiko
Setiap faktor atau agen yang menciptakan kerusakan pada epitel kornea adalah potensi
penyebab atau faktor risiko bakteri keratitis, beberapa faktor risiko terjadinya keratitis bakteri
diantaranya:
Penggunaan lensa kontak
Trauma
Kontaminasi pengobatan mata
Riwayat keratitis bakteri sebelumnya
Riwayat operasi mata sebelumnya

14

Gangguan defense mechanism


Perubahan struktur permukaan kornea2.Etiologi
2. Etiologi
Tabel 1. Etiologi Keratitis Bakteri1
3. Manifestasi Klinis
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri padamata yang terinfeksi,
penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur. Pada pemeriksaan bola mata
eksternal ditemukan hiperemis perikornea, blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea.
4. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkuskornea dan bagian tepinya
dengan menggunakan spatula sterilkemudian ditanam di media cokelat, darah dan agar
Sabouraud,kemudian dilakukan pengecatan dengan Gram.
Biopsy kornea dilakukan jika kultur negatif dan tidak adaperbaikan secara klinis dengan
menggunakan blade kornea biladitemukan infiltrat dalam di stroma.
5. TerapiDapat diberikan inisial antibiotik spektrum luas sambil menungguhasil kultur
bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yangdapat diberikan:
B. Keratitis Fungi (Jamur) 1,2,3
1.Etiologi
Keratitis jamur dapat disebabkan oleh:
a.Jamur berfilamen (filamentous fungi )
Bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa, terdiri dari:
Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillussp, Cladosporium sp, Penicillium
sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
Jamur tidak bersepta :Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.

15

b. Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dantunas : Candida albicans,
Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
c. Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media pembiakan membentuk
miselium : Blastomices sp,Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp, Sporothrix sp.
2.Patologi
Hifa jamur cenderung masuk stroma secara paralel ke lamella kornea. Mungkin ada nekrosis
koagulatif stroma kornea yang meluas dengan edema serat kolagen dan keratosit. Reaksi
inflamasi yang menyertai kurang terlihat dari pada keratitis bakterialis. Abses cincin steril
mungkin ada yang terpisah pusatulkus. Mikroabses yang multipel dapat mengelilingi lesi
utama. Hifa berpotensi masuk ke membran descemet yang intak dan menyebar ke kamera
okuli anterior.
3.Manifestasi Klinis
Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur dalam bentuk
mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan antigen jamur yang larut. Agen-agen ini dapat
menyebabkan nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut , respon antigenik dengan
formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat. Ulkus kornea yang disebabkan oleh
jamur berfilamen dapat menunjukkan infiltrasi abu-abu sampai putih dengan permukaan
kasar, dan bagian kornea yang tidak meradang tampak elevasikeatas. Lesi satelit yang timbul
terpisah dengan lesi utama dan berhubungan dengan mikro abses stroma. Plak endotel dapat
terlihat paralel terhadap ulkus. Cincin imun dapat mengelilingi lesiutama, yang merupakan
reaksi antara antigen jamur dan respon antibodi tubuh. Sebagai tambahan, hipopion dan
sekret yang purulen dapat juga timbul. Reaksi injeksi konjungtiva dan kamera okuli anterior
dapat cukup parah. Untuk menegakkan diagnosisklinik dapat dipakai pedoman berikut :
Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama
Lesi satelit
Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di
bawah endotel utuh
Plak endotel
Hypopyon, kadang-kadang rekuren
16

Formasi cincin sekeliling ulkus


Lesi kornea yang indolen
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan
spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan
pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India.
Biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau Methenamine
Silver.
5.Terapi
Obat-obat anti jamur yang dapat diberikan meliputi:
Polyenes termasuk natamycin, nistatin, dan amfoterisin B.
Azoles (imidazoles dan triazoles) termasuk ketoconazole, Miconazole, flukonazol,
itraconazole, econazole, dan clotrimazole
C. Keratitis Virus 2,4
1.Etiologi
Herpes Simpleks Virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering pada kornea.
Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan parasit intraselular
obligat, dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung,
mulut, alat kelamin yang mengandung virus.
2.Patofisiologi
Patofisiologi keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk :
Pada epitelial : kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial mengakibatkan
kerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea superfisial.
Pada stromal : terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi

antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan

17

bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak stroma

di

sekitarnya.3.Manifestasi Klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri, fotofobia, penglihatan kabur, mata berair,

mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena. Infeksi
primer herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut disertai
blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfe regional. Kebanyakan
penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat mengenai stroma tetapi jarang. Pada
dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu di mana
daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma
4. Pemeriksaan Penunjang
Usapan epitel dengan Giemsa multinuklear noda dapatmenunjukkan sel-sel raksasa, yang
dihasilkan dari perpaduan darisel-sel epitel kornea yang terinfeksi dan virus intranuclear
inklusi
5.Terapi
Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial, karena virus

berlokasi didalam epithelial. Debridement juga mengurangi beban antigenic virus pada
stroma kornea.
Epitel sehat melekat erat pada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan.

Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti
atropine 1% atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup
dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai
defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.
Terapi Obat
IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan1% dan diberikan setiap jam,
salep 0,5% diberikan setiap 4 jam)
Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep
Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1%setiap 4 jam

18

Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.


Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada orang atopi
yang rentan terhadappenyakit herpes mata dan kulit agresif.
Terapi Bedah
Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang

mempunyai parut kornea yang berat namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah
penyakit herpes non aktif.
D. Keratitis Alergi 2,3,4
1.Etiologi
Reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata, biasanya penderita sering
menunjukkan gejala alergi terhadaptepung sari rumput-rumputan.
2.Manifestasi Klinis
Bentuk palpebra: cobble stone (pertumbuhan papil yang besar),diliputi sekret mukoid.
Bentuk limbus: tantras dot (penonjolan berwarna abu-abu,seperti lilin)
Gatal
Fotofobia
Sensasi benda asing
Mata berair dan blefarospasme
3.Terapi

Biasanya sembuh sendiri tanpa diobati


Steroid topikal dan sistemik
Kompres dingin
Obat vasokonstriktor
Cromolyn sodium topikal

19

Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk klinisnya, yaitu:


A. Keratitis Flikten/Skrofulosa/Eksemtosa 3
Flikten merupakan benjolan berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu pada lapisan superfisial
kornea. Epitel diatasnya mudah pecah dan membentuk ulkus. Ulkus ini dapat sembuh atau
tanpa meninggalkan sikatrik. Adapula ulkus yang menjalar dari pinggir ketengah, dengan
pinggir meninggalkan sikatrik sedangkan bagian tengahnya masih aktif, yang disebut wander
phlyctaen. Keadaan ini merupakan proses yang mudah sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi
di tempat lain bila penyebabnya masih ada dan dapat menyebabkan kelainan kornea
berbentuk bercak-bercak sikatrik, menyerupai pulau-pulau yang disertai geographic pattern.
B. Keratitis Sika 6
Merupakan peradangan konjungtiva dan kornea akibat keringnya permukaan kornea dan
konjungtiva. Penyebab keringnya permukaan konjungtiva dan kornea, yaitu:
Berkurangnya komponen lemak, seperti pada blefaritis
Berkurangnya airmata, seperti pada syndrome syrogen, setelah memakai obat diuretik,
atropin atau dijumpai pada usia tua.
Berkurangnya komponen musin, dijumpai pada keadaana vitaminosis A, penyakitpenyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva, seperti trauma kimia, Sindrom Steven
Johnson, trakoma.
Penguapan yang berlebihan seperti pada kehidupan gurun pasir, lagoftalmus, keratitis
neuroparalitika.
Adanya sikatrik pada kornea.
Gejala klinis yang sering timbul yaitu mengeluh mata terasa gatal, terasa seperti ada
pasir, fotopobi, visus menurun, secret lengket, mata terasa kering. Dari hasil pemeriksaan
didapatkan sekret mukus dengan tanda-tanda konjungtivitis dengan xerosis konjuntiva,
sehingga konjungtiva bulbi edema, hiperemi, menebal, kering, tak mengkilat, warnanya
mengkilat. Terdapat infiltrat-infiltrat kecil,letak epiteleal,tesfluoresen (+). Terdapat juga
benang-benang (filamen) yang sebenarnya sekret yang menempel, karena itu, disebut juga
keratitis filamentosa.

20

C. Keratitis Numularis 6
Diduga dari virus. Pada klinis, tanda-tanda radang tidak jelas, terdapat infiltrat bulat-bulat sub
epitelial di kornea, dimana tengahnya lebih jernih, disebut halo (diduga terjadi karena
resorpsi dari infiltrat yang dimulai di tengah). Tes fluoresen (-). Keratitis ini kalau sembuh
meninggalkan sikatrik yang ringan.
2.2.6 Komplikasi 2,3
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan akhirnya perforasi
kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai hilangnya penglihatan (kebutaan).
Beberapa komplikasi yang lain diantaranya:
Gangguan refraksi
Jaringan parut permanent
Ulkus kornea
Perforasi kornea
Glaukoma sekunder
2.2.7 Prognosis
2 Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepatdan jika tidak diobati
dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat mengakibatkan
hilang penglihatan selamanya. Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung
dari:
Virulensi organisme
Luas dan lokasi keratitis
Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen

21

22

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease and Cornea. SanFransisco


2008-2009. p. 179-902.Roderick B. Kornea. In: Vaughan & Asbury. Oftalmologi
Umum Edisi 17. Jakarta :EGC. 2009. p. 125-49.
3.
Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata edisi2
.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002. p.113 116
4.
Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media AesculapiusFKUI. Hal:
56
5.
Thygeson

P.

"Superficial

Punctate

Keratitis".

Journal

of

the

American

MedicalAssociation.1997. 144:1544-1549. Available at :


http://webeye. ophth.uiowa.edu/ dept/service/cornea/cornea.htm
(accessed: Juli 2011)
6.
Reed,

KK. 2007. Thygeson's SPK photos. Nova Southeastern University College of Optometry
3200 South University Drive Ft. Lauderdale, Florida.

Available at:http://www.fechter.com/Thygesons.htm.(accessed: Juli 2011)

23

ce/cornea/cornea.htm
(accessed: Juli 2011)
6.
Reed,

KK. 2007. Thygeson's SPK photos. Nova Southeastern University College of Optometry
3200 South University Drive Ft. Lauderdale, Florida.

Available at:http://www.fechter.com/Thygesons.htm.(accessed: Juli 2011)

24