Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN ANALISIS MASALAH KOMUNITAS

TENTANGCAKUPAN ASI EKSKLUSIF


DIPOSKESDES BANUA ANYAR
WILAYAH KERJA PUSKESMAS 9 NOVEMBER
BANJARMASIN

1.
2.
3.
4.

Disusun Oleh :
Anita Purnama Sari (S.D IV.15.381)
Raudatul Jannah
(S.D IV.15.444)
Sheyla Anjani
(S.D IV.15.421)
Siti Zulaiha
(S.D IV.15.431)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV BIDAN PENDIDIK


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA
BANJARMASIN
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME karena atas segala
limpahan Rahmat, Hidayah dan Karunia-Nya makalah ini dapat diselesaikan
dengan judul LAPORAN ANALISIS MASALAH KOMUNITAS TENTANG
CAKUPAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS INDUK 9 NOVEMBER.Harapan
dari hasil penyusunan makalah ini adalah memberikan manfaat yang besar bagi
penulis dan semua pembaca.Penyusunan makalah ini dapat diselesaikan berkat
bantuan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, petunjuk
dan dorongan kepada penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucakan terima
kasih kepada:
1. Bapak Dr.H.R.Soedarto WW. Sp.OG, selaku ketua STIKES Sari Mulia
2. Ibu RR.Dwi Sogi Sri Redjeki, SKG., M.Pd selaku Pembina Yayasan Indah
Banjarmasin.
3. Ibu Adriana palimbo, S.SiT., M.Kes selaku kaprodi DIV bidan pendidikan
Sari Mulia Banjarmasin.
4. Ibu Anggrita Sari, S.Si.T., M.Pd., M.Kes, ibu Elvine Ivana Kabuhung,SST,
ibu Novita Dewi Iswandari,S.Si.T dan bapak Ravenalla AASPS,SKM.,
MPH selaku pembimbing di pendidikan DIV bidan pendidikan Sari Mulia
Banjarmasin.
5. Ibu Yulvie Arnie, Am.Keb selaku pembimbing klinik di Puskesmas
Terminal Induk
6. Seluruh staff Puskesmas Terminal Induk.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Banjarmasin,

Desember 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan

merupakan

salah

satu

aspek

dari

kehidupan

masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan


kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja
fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung
atau tidak langsung dari masalah gizi kurang. Sebagaimana diketahui
bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di
Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan
anak yang masih kecil dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut
kesundulan artinya terdorong lagi oleh kepala adiknya yang telah
muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak dan bayi merupakan
golongan rentan.
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia
harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah
satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas
manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI
semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan
anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini
sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI.
Pemberian ASI eksklusif sangat banyak manfaatnya bagi bayi dan
ibu.Walaupun demikian masih banyak ibu tidak berhasil bahkan tidak
memberikan ASI eksklusif. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
ketidak berhasilan pemberian ASI eksklusif terdiri dari faktor internal
seperti: ketersediaan ASI, pekerjaan, pengetahuan, kelainan payudara,
kondisi kesehatan dan faktor eksternal antara lain : status ekonomi,
petugas kesehatan, kondisi kesehatan bayi, pengganti ASI, keyakinan
yang keliru.
Data

Riset

Kesehatan

Dasar

(Riskesdas)

tahun

2010

menunjukkan pemberian ASI di Indonesia saat ini memprihatinkan,


persentase bayi yang menyusu eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya
15,3 persen. Masalah utama penyebab rendahnya penggunaan ASI di
Indonesia adalah faktor sosial budaya, kurangnya pengetahuan ibu hamil,

keluarga dan masyarakat akan pentingnya ASI, serta jajaran kesehatan


yang belum sepenuhnya mendukung Peningkatan Pemberian ASI (PPASI). Masalah ini diperparah dengan gencarnya promosi susu formula
dan kurangnya dukungan dari masyarakat, termasuk institusi yang
memperkerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan
kesempatan bagi ibu menyusui di tempat kerja (seperti ruang ASI).
Menurut data Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 2010
pencapaian ASI Eksklusif umur 0-6 bulan sebesar 35,9% sangat jauh dari
harapan yang ditargetkan 80% dan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah
pencapaian ASI Eksklusif pada tahun 2010 sebanyak 957 orang (39%)
dari jumlah ibu menyusui sebanyak 2620 dari target 80% (Dinkes Kalsel,
2010).Disampaikan

Penjabat

Bupati

Banjar

Rachmadi

Kurdi,

berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) pada acara Deklarasi Ibu


Hamil di Aula Kantor Kecamatan Martapura), pemberian ASI ekslusif
minimal enam bulan warga Kabupaten Banjar hanya sebesar 59,7
persen.
Pemerintah meningkatkan cakupan ASI eksklusif, dibuktikan
dengan dikeluarkannya Kepmenkes RI No.450/MENKES/SK/VI/2004
tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di
Indonesia.Dalam rekomendasi tersebut dijelaskan bahwa untuk mencapai
pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan yang optimal, bayi harus
diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Selanjutnya, demi
tercukupinya nutrisi bayi, maka ibu mulai memberikan makanan
pendamping ASI hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih (Depkes RI,
2005)

B. PERUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan
masalah dalam penulisan ini adalah Bagaimana pemberian ASI secara
eksklusif saai umur bayi 0-6 bulan dan faktor-faktor apa yang
mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui tentang pentingnya pemberian asi ekslusif


pada bayi dari usia 0-6 bulan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
pemberian asi ekslusif
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian asi ekslusif
b. Untuk mengetahui manfaat dan kelebihan

pemberian

asi

ekslusif pada bayi dari usia 0-6 bulan.


c. Untuk mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam asi
d. Untuk mengetahuifaktor apa saja yang mempengaruhi pemberian
asi ekslusif pada bayi dari usia 0-6 bulan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP MASYARAKAT
1. Pengertian
Beberapa pengertian yang berhubungan dengan proses kebidanan,
antara lain:
a. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa
organime yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki
ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia,
individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud,
kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko,
kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas
berasal dari bahasa latin communitas yang berarti "kesamaan",
kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama,
publik, dibagi oleh semua atau banyak".
b. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang diamati teritorial
tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung, adanya
pembagian kerja dan kebudayaan bersama (Moc. Lever, 1957).
c. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang cukup lama hidup
dan bekerja sama, sehingga dapat mengorganisasikan diri dan
berpikir tentang dirinya sebagai suatu kesatuan sosial dengan
batas-batas tertentu. (Linton, 2004)
2. Ciri-Ciri Masyarakat
Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa masyarakat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Interaksi
Interaksi sosial diantara anggota masyarakat yang meliputi
kontak sosial dan komunikasi.
b. Wilayah Tertentu
Suatu kelompok masyarakat menempati suatu wilayah tertentu
dengan batas-batas tertentu (geografis).
c. Saling Ketergantungan

Anggota masyarakat yang hidup di suatu wilayah tertentu saling


tergantung

satu

dengan

kebutuhan hidup.

yang

lainnya

dalam

memenuhi

d. Adat-Istiadat dan Kebiasaan


Adat istiadat diciptakan untuk

mengatur

tatanan

hidup

bermasyarakat.
e. Identitas
Suatu kelompok masyarakat memiliki identitas yang dapat
dikenali oleh anggota masyarakat yang lainnya.
3. Tipe-Tipe Masyarakat
Menurut Gilin dan Gilin lembaga masyarakat dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
a. Dilihat dari sudut perkembangannya
b. Cresive Institution
Lembaga masyarakat yang paling primer, merupakan lembaga
yang secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat.
c. Enacted Institution
Lembaga masyarakat yang secara sengaja dibentuk untuk
memenuhi tujuan tertentu.
Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat
a. Basic Institution
Lembaga masyarakat yang sangat penting untuk memelihara
dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat.
b. Subsidiary Institution
Lembaga masyarakat yang muncul tapi dianggap kurang
penting.
Dari sudut penerimaan masyarakat
a. Aproved atau sosial sactional Institution
Lembaga yang diterima masyarakat yang didasarkan atas dasar
penyebarannya.
b. Unsanctioned Institution
Lembaga agama yang dianut oleh masyarakat tertentu saja.
Dari sudut penyebaran
a. General Institution
Lembaga
masyarakat

yang

didasarkan

atas

dasar

penyebarannya.
b. Restrided Institution
Lembaga agama yang dianut oleh masyarakat tertentu saja.
Dari sudut fungsi
a. Lembaga masyarakat yang menghimpun pola-pola atau tata cara
yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
b. Regulatif Institution

Lembaga yang bertujuan mengawasi adat istiadat/tata kelakuan


yang tidak menjadi bagian yang mutlak dari lembaga itu.
4. Ciri Masyarakat Sehat
a. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.
b. Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui

upaya

peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan penulisan


kesehatan terutama untuk ibu dan anak.
c. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan
sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup.
d. Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan
peningkatan status ekonomi masyarakat.
e. Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab
dan penyakit.

B. TIPE-TIPE KOMUNITAS
Menurut GILIN and GILIN, lembaga masyarakat dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Berdasarkan perkembangannya
a) Cresive Institution
Merupakan lembaga masyarakat yang paling Primer, yang
secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakatnya.
Misalnya : yang berkaitan dengan hak milik, perkawinan, agama
dsb.
b) Enacted Institution
Lembaga masyarakat yang secara sengaja dibentuk untuk
memenuhi tujuan tertentu. Misalnya : lembaga utang-piutang,
perdagangan, pertanian, pendidikan.
2. Berdasarkan sistem nilai yang diterima oleh masyarakat
a) Basic Institution

Merupakan lembaga masyarakat yang sangat penting untuk


memelihara

dan

mempertahankan

tata

tertib

dalam

masyarakat, diantaranya adalah keluarga dan sekolahsekolah yang dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.

b) Subsidiary Institution
Yaitu

lembaga-lembaga

masyarakat

yang

muncul

tetapi

dianggap kurang penting karena hanya untuk memenuhi


kegiatan-kegiatan tertentu saja. Misalnya : pembentukan panitia,
pelantikan, dsb.
3. Berdasarkan sudut penerimaan masyarakat
a) Approved / Social Sanctioned Institution
Sebuah lembaga masyarakat yang memang diterima oleh
masyarakat yang lain. Misalnya : Sekolah-sekolah, Koperasi tau
Perusahaan dsb.
b) UnSanctioned Institution
Merupakan lembaga-lembaga masyarakat yang ditolak oleh
masyarakat yang lain, walaupun kadang-kadang tidak mungkin
untuk diberantas. Misalnya : kelompok penjahat, gelandangan
dan pengemis, kelompok tuna susila, dsb.
4. Berdasarkan penyebarannya
a) General Institution
Merupakan lembaga masyarakat yang didasarkan atas faktor
penyebarannya, seperti agama, karena dapat dikenal semua
masyarakat dunia.
b) Restricted Institution
Lembaga masyarakat yang banyak menganut agama-agama
tertentu saja, seperti Budha banyak dianut oleh masyarakat
Thailand, Vietnam ; Kristen-Katolik banyak dianut masyarakat Itali,
perancis dan Islam banyak dianut masyarakat Arab, dsb.
5. Berdasarkan fungsinya
a) Operative Institution

Yaitu lembaga masyarakat yang menghimpun pola-pola atau


tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga
yang bersangkutan, seperti misalnya lembaga industri.
b) Regulative Institution

Adalah lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat


atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak dari
lembaga itu sendiri. Misalnya : lembaga-lembaga hokum.

10

BAB III
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS 9 NOPEMBER

A. GEOGRAFI
Puskesmas

Nopember

dalam

sejarahnya

merupakan

BalaiKesehatan Ibu dan Anak yang dibangun pada tahun 1965.Kemudian


seiring bertambahnya problematika kesehatan di wilayah kerjanya yakni
kelurahan Pengambangan sehingga menjadi puskesmas pada tahun
1979.Selama kurang lebih 35 tahun Puskesmas 9 Nopember berperan aktif
dalam pembangunan kesehatan di wilayah Pengambangan dan pada tahun
2001 wilayah kerja bertambah dengan kelurahan Benua Anyar. Pada tahun
2004 dilakukan rehabilitasi total gedung Puskesmas 9 Nopember.
Kondisi geografis wilayah kerja Puskesmas 9 Nopember yang terletak
pada ketinggian 0,16 m di bawah permukaan laut, berada di daerah
berpaya-paya serta relatif datar yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Iklim yang berpengaruh terhadap Puskesmas 9 Nopember adalah iklim
tropis, dengan curah hujan rata-rata 2000 3000 mm/tahun, keadaan suhu
sekitar 25 -34 C.
Puskesmas

Nopember

berada

dalam

wilayah

Kecamatan

Banjarmasin Timur dengan membawahi dua kelurahan yakni : Kelurahan


Pengambangan

dan

Kelurahan

Benua

Anyar,

mempunyai

buah

Puskesmas Pembantu, 18 buah Posyandu Bayi/Balita dan 2 buah Posyandu


Lansia.
Wilayah kerja Puskesmas 9 Nopember berada di sebelah Timur Kota
Banjarmasin dengan batas-batas wilayah kerja sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Sei Jingah
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Kebun Bunga dan
Kuripan
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan SeiLulut
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Sei Bilu
Gambar 3.1

11

Peta Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember

B. LUAS WILAYAH KERJA


Luas wilayah kerja Puskesmas 9 Nopember 2,88 Km 2 yang mencakup
24,95 % wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan. Wilayah kerja Puskesmas
9 Nopember terdiri dari 2 (dua) Kelurahan, yaitu:.
a. Kelurahan Pengambangan
: 1,10 Km2
b. Kelurahan Benua Anyar : 1,78 Km2
Grafik 3.1
Luas Wilayah Puskesmas 9 Nopember(km2)

12

Kelurahan Pengambangan; 38%


Kelurahan Benua Anyar; 62%

Tabel 3.1
Luas Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember dan
Persentase terhadap Luas Kecamatan

Luas

N
o

Kelurahan

(km2)

Persentase terhadapluas
Kecamatan (%)

Pengambangan

1,10

9,53

Benua Anyar

1,78

15,42

2,88

24,95

TOTAL

C. DEMOGRAFI
Jumlah

Penduduk

wilayah

kerja

Puskesmas

9 Nopember sebanyak

19.834 jiwa yang terdiri dari laki-laki 9.912 jiwa (49,9%) dan perempuan

13

9.740 jiwa (50,1%), kepadatan penduduk tidak merata. Untuk mengetahui


kepadatan penduduk setiap kelurahan dapat kita lihat pada tabel 3.2 berikut :

Tabel 3.2
Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk dan Kepadatan Penduduk
Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember

No
1

Luas

Kelurahan
Benua Anyar

(km2)

Banyaknya
Penduduk

Kepadatan
(/km2)

1,78

7.147

4.016

Tabel 3.3
Banyaknya Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
di Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember

No
1

Kelurahan
Benua Anyar

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

3.651

3.494

7.147

14

Grafik 3.2
Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember
19832
20000
18000
16000

12687

14000
10000
8000

9920

9912

12000

6000

7145

6426

6261
3651

3494

4000
2000
0

Laki-laki

Perempuan

Pengambangan

Benua Anyar

Jumlah
Total

Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Benua Anyar

No

Kelompok Umur
(Tahun)

04

699

9,87

59

773

10,82

10 19

1.422

19,90

20 44

2.782

38,93

45 59

915

12,80

60 ke atas

556

7,78

7.147

100,00

Jumlah

Total

Grafik 3.3

15

Prosentase

Jumlah Penduduk di Kelurahan Benua Anyar


Berdasarkan Kelompok Umur

8000

7147

7000
6000
5000
4000

2782

3000
2000
1000

1422
699

773

04

59

915

556

0
10 19

20 44

45 59 60 ke atas

Total

D. SOSIAL EKONOMI
Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Kelurahan Benua
Anyar sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tidak Bekerja
Ibu Rumah Tangga
Sekolah
Pensiunan
Pegawai Negeri
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Pengusaha
Buruh/Tani

:
:
:
:
:
:
:
:
:

16

172
762
2.901
32
229
1.198
901
132
820

orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang

Grafik 3.4
Persentasi Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Benua Anyar

Tidak Bekerja; 172


Buruh/Tani; 820
Ibu Rumah Tangga; 762
Pengusaha; 132
Wiraswasta; 901
Pegawai Swasta; 1198
Pegawai Negeri; 229

Sekolah; 2901
Pensiunan; 32

Untuk mencapai derajat kesehatan yang makin optimal perlu di


dukung adanya sarana dan sumber daya manusia yang makin berkualitas.
Dengan adanya sumber daya yang berkualitas akan membantu pengertian
akan hidup sehat secara mandiri. Adapun sarana pendukung tingkat
pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas 9 Nopember dapat dilihat
pada grafik 3.5 berikut
Grafik 3.5

17

Jumlah Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember


13

12

3
0
TK

SD

SMP

SMA

Jumlah

Tabel 3.5
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Wilayah Puskesmas 9 Nopember

1.986

1.849

2.293

2.216

1.323

632

304

75

911

1.627

1.807

1.240

1.244

265

2.897

3.476

4.100

3.456

2.567

632

569

80

Grafik 3.6
Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Wilayah Kerja Puskesmas 9 Nopember

18

S2/S3

S1

Total

DIPLOMA

Benua Anyar

SMA

SMP

Pengambangan

SD

TIDAK

KELURAHAN

TAMAT SD

NO

BELUM SEKOLAH

Tingkat Pendidikan (Orang)

4500
4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0

Pengambangan

Benua Anyar

Total

Tabel 3.6
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
DiWilayahPuskesmas 9 Nopember
Jumlah Pemeluk Agama (Orang)
No

Kelurahan

Pengambangan

Benua Anyar
Total

Islam

Kristen

Katolik

Hindu

Budha

Kong
Hu Cu

11.364

491

266

78

363

125

7.137

10

18.501

501

266

78

363

125

Grafik 3.7
Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
DiWilayahPuskesmas 9 Nopember

19

18501
20000
15000
10000

11364
7137
501

5000
491

10

0
Islam

Kristen

266

266
0
Katolik

Kelurahan Pengambangan

78

78
0
Hindu

363

363

125
0
0
Budha
Kong Hu Cu

Kelurahan Benua Anyar

TOTAL

E. SARANA DAN PRASARANA


Bangunan gedung Puskesmas 9 Nopember terdiri dari :
1.

Ruang Kepala Puskesmas

2.

Ruang Loket

3.

Ruang Poli Umum/Akupressur/Tindakan

4.

Ruang MTBS, Anak & Remaja

5.

Ruang Poli Gigi

6.

Ruang Poli KIA / KB

7.

Ruang Poli Gizi/Imunisasi

8.

Ruang Laboratorium

9.

Ruang Verifikator/Kepegawaian

10.

Ruang Apotek

11.

Ruang Gudang Obat

12.

Ruang Tata Usaha/Kesling

13.

Aula / Rapat

14.

Mushalla/Ruang Laktasi

15.

Gudang

16.

Dapur

20

125

17.

WC Karyawan

18.

WC Pasien

Sarana transportasi yang dimiliki Puskesmas 9 Nopember 1 (satu)


buah mobil Pusling, 1 (satu)buah sepeda motor Kawasaki, 1 (satu)buah
sepeda motor Yamaha Vega, 2 (dua) buah sepeda motor Honda Star, 1
(satu)buah sepeda motor Yamaha Alfa dan Sarana telekomunikasi berupa 1
(satu)buah pesawat telepon: (0511)3254509, fasilitas speedy dengan Wifi,
serta 2 (dua) buah Handy Talky Alinco DJ 196.
Puskesmas 9 Nopember memiliki 2 (dua) buah Puskesmas
Pembantu (Pustu), yaitu :
1.

Pustu Benua Anyar

2.

Pustu Al Muddakir
Puskesmas 9 Nopember memiliki 2 (dua) buah Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes) yaitu:
1. Poskesdes Pengambangan (Belum ada bangunan)
2. Poskesdes Benua Anyar (Belum ada bangunan)
3.

F. KEPEGAWAIAN
Puskesmas 9 Nopember memiliki 36karyawan yang terdiri dari
tenaga medis, paramedis dan tenaga fungsional lainnya. Data ketenagaan
yang ada pada Puskesmas 9 Nopember, adalah sebagai berikut :

Jumlah
No

Jenis Ketenagaan

Ada

Tubel,
Titipan

Jumlah
Seluruhnya

Kepala Puskesmas (Dokter)

Kasubbag Tata Usaha

Dokter Umum

Dokter Gigi

21

Apoteker

Perawat

Perawat Gigi

Bidan

Asisten Apoteker

10

Analis Laboratorium

11

Sanitarian

12

Nutrisionis

13

Verifikator Keuangan

14

Pekarya Kesehatan

15

Administrasi Umum/Loket

16

Cleaning servis

17

Petugas Keamanan / Satpam

32

36

Jumlah

1. Pengkajian Data
Pada pengkajian data yang dilakukan pada tanggal 30 desember 2015 2
januari 2016 di wilayah Poskesdes banua anyar wilayah kerja puskesmas 9
novemberdi wilayah RT.15 , maka didapatkan hasil yaitu :
a) Data Bayi

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama Bayi
An. M
An. R
An. M
An. L
An. R
An. X
An. A
An. M
An. M

Umur Bayi
6 bulan
2 bulan
3 bulan
5 bulan
4 bulan
13 hari
24 hari
8 bulan
6 bulan

22

Nama Orang Tua/ Wali


Ayah
Ibu
Tn. S (wali)
Ny. B (wali)
Tn. M
Ny. F
Tn. A
Ny. R
Tn. A
Ny. S
Tn. M
Ny. Hf
Tn. M
Ny. H
Tn. S
Ny. J
Tn. H
Ny. F
Tn. A
Ny. R

b) Data Cakupan Asi Eksklusif

No.
1.

Nama Bayi

Lamanya Asi
Eksklusif

An. M

15 hari

2.
3.

An. R

1 bulan

An. M

Tidak ada

4.
5.

An. L

4 bulan

An. R

Asi Eksklusif

6.
7.
8.
9.

An. X
An. A
An. M
An. M

3 hari
Tidak Ada
Asi Eksklusif
Asi Eksklusif

Ibu Bekerja/
Tidak Bekerja
Ya
(Pedagang)
Tidak (IRT)
Ya
(Pedagang)
Tidak (IRT)
Ya
(PNS/Guru)
Tidak (IRT)
Tidak (IRT)
Tidak (IRT)
Tidak (IRT)

Pengetahuan
Tentang Asi
Kurang Tahu
Tahu
Tahu
Tahu
Tahu
Tidak Tahu
Tahu
Tahu
Tahu

c) Data Alasan Ibu Memberikan/ Tidak Memberikan Asi Ekslusif

No.
1.
2.

3.
4.

5.
6.

Nama Bayi
An. M

Asi Ekslusif
Ya
Tidak

An. R

An. M

An. L

An. R

An. X

An. A

7.

8.
9.

An. M
An. M

Alasan Ibu Memberikan/ Tidak


Memberikan Asi Eksklusif
Ibu kandungnya pergi
Sibuk mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, seperti
mencuci, mengepel, dll
Sibuk berdagang
Sibuk mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, seperti
mencuci, mengepel, dll
Pentingnya asi bagi anak
Tidak tahu tentang asi
eksklusif
Sibuk mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, seperti
mencuci, mengepel, dll
Menghemat biaya susu
formula
Menghemat biaya susu
formula

2. Deskripsi Temuan Masalah


Dari deskriptif masalah yang ditemukan, maka kelompok menggunakan
analisis pohon masalah. Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil
pengkajian data yang dilakukan pada tanggal 30 desember 2015 2 januari

23

2016 di Poskesdes Banua Anyar Wilayah Kerja Puskesmas 9 November di


RT. 15, dari 9 anak yang mendapatkan asi eksklusif hanya 3 anak dan 6 anak
tidak mendapatkan asi ekslusif. Dari 9 ibu sebanyak 7 ibu mengetahui tentang
manfaat asi eksklusif dan 4 diantaranya tidak memberikan asi eksklusif,
sedangkan 1 orang ibu kurang mengetahui tentang asi ekslusif, 1 orang
lainnya tidak tahu mengenai asi eksklusif.
Maka dari hasil pengkajian tersebut kelompok mengambil masalah
tentang kurangnya pemberian asi eksklusif pada bayi 0-6 bulan.
4. Analisa Data
Dari masalah

yang

didapatkan

maka

dilakukan

analisis

yang

menggunakan pohon masalah. Adapun langkah-langkah penyusunan problem


tree dari masalah kurangnya pemberian asi eksklusif pada bayi 0-6 bulan
sebagai berikut :

Boros Biaya

Rentan Alergi

Bendungan ASI

Diare

EFEK TERHADAP IBU


Kurang Asupan
Gizi

Hubungan Ibu/
anak kurang
Budaya

EFEK TERHADAP BAYI


Sikap

Sosial
Ekonomi

Kurangnya KIE
dari NAKES
Pengetahuan

Pekerjaan

FAKTOR EKSTERNAL
FAKTOR INTERNAL

24

kurangnya pemberian asi eksklusif


pada bayi 0-6 bulan

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengkajian data yang dilakukan dari tanggal 30 Desember
2015 2 Januari 2016, di Poskesdes Banua Anyar Wilayah Kerja Puskesmas 9
November di RT. 15, dari 9 anak yang mendapatkan asi eksklusif hanya 3 anak
dan 6 anak tidak mendapatkan asi ekslusif. Dari 9 ibu sebanyak 7 ibu
mengetahui tentang manfaat asi eksklusif dan 4 diantaranya tidak memberikan
asi eksklusif, sedangkan 1 orang ibu kurang mengetahui tentang asi ekslusif, 1
orang lainnya tidak tahu mengenai asi eksklusif.
Kurangnya kesadaran ibu untuk memberikan asi eksklusif kepada
anaknya dikarenakan alasan kesibukan ibu terhadap pekerjaan masing-masing
sehingga ibu tidak sempat memberikan anaknya asi, padahal sebagian besar ibu
sudah mengetahui tentang manfaat dari asi eksklusif.
Didalam pohon masalah terdapat 2 faktor yang mempengaruhi rendahnya
cakupan asi eksklusif di Poskesdes Banua Anyar Wilayah Kerja Puskesmas 9
November di RT. 15, yaitu ; faktor internal (pengetahuan, sikap, dan pekerjaan),
dan faktor eksternal (sosial-ekonomi, budaya, dan kurangnya KIE dari tenaga
kesehatan). Apabila ibu tidak memberikan asi eksklusif maka terdapat dampak
terhadap bayi dan ibu. Dampak terhadap bayi, yaitu : kurangnya asupan gizi
yang diperlukan bayi, bayi rentan terkena alergi terhadap susu formula, dan
rentan terhadap diare. Sedangkan dampak bagi ibu, yaitu; boros biaya susu
formula, hubungan ibu dan bayi kurang terjalin, dan dapat terjadi bendungan air
susu karena asi tidak dikeluarkan.

25

26

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan didapatkan masalah kurangnya cakupan asi
eksklusif diPoskesdes Banua Anyar Wilayah Kerja Puskesmas 9 November
RT.15, karena dari 9 anak hanya 3 anak yang mendapatkan asi eksklusif dan
dari 9 ibu, sebanyak 7 orang ibu yang mengetahui tentang manfaat asi eksklusif
tetapi 4 orang ibu tidak memberikan asi eksklusif.
Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran para ibu untuk memberikan asi
eksklusif kepada anaknya, dimana faktor yang paling mempengaruhi pemberian
asi eksklusif adalah alasan pekerjaan/ kesibukan ibu padahal ibu mengetahui
tentang manfaat asi eksklusif.
B. Saran
1 Instansi Pendidikan
Instansi pendidikan

diharapkan

mampu

memberikan

fasilitas

pembelajaran yang mampu memfasilitasi peserta didik untuk lebih


mendalami masalah kurangnya cakupan asi eksklusif menggunakan
2

analisa Pohon Masalah.


Puskesmas
Diharapkan Puskesmas dapat mendukung dan memberi arahan serta
dapat memeriksa kembali data yang telah didapatkan terutama tentang
kejadian kurangnya cakupan asi eksklusifdiPoskesdes Banua Anyar

Wilayah Kerja Puskesmas 9 November RT.15


Penulis
Diharapkan lebih mendalami materi tentang laporan masalah komunitas
kurangnya cakupan asi eksklusifdengan Analisis Pohon Masalah.

27

DAFTAR PUSTAKA
Depkes, RI, 2007. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2006. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Depkes, RI, 2005. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan tentang Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita. Pusat Kesehatan
Kerja, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Depkes, RI, 1997. Petunjuk Pelaksanaan ASI Eksklusif Bagi Petugas Kesehatan
Puskesmas. Direktorat Jendral Binkesmas, Direktorat Bina Gizi
Masyarakat Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Maulana, H. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta. EGC.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2002. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Prasetyono, Sunar, Dwi. 2009. Cara menyusui yang Baik. . Arcan. Jakarta
Roesli, Utami. 2000. Buku Pintar ASI Eksklusif. Diva Press. Yogyakarta.
Roesli, Utami. 2007. Mengenal ASI Eksklusif. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC.Jakarta.
Soeparmanto, P dan Rahayu, S.C. (2001), Faktor-faktor Pemberian ASI.
Hubungan Antara Pola Pemberian ASI dengan Faktor Sosial
Ekonomi, Demografi, dan Perawatan Kesehatan. [internet] dari:
http://www.twmpo.co.id/ [akses tanggal 14 Januari 2012]
Sri Purwanti, Hubertin. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. EGC. Jakarta.

28